Kiku mulai mendekat ke arah Kirana, namun terhenti ketika kilatan cahaya petir dan suara guntur yang sangat keras, bagaikan mencambuk langit, mulai beradu, "Kirana... Daijoubu desu ka?"
"TIDAAAK!" teriak Kirana panik sembari menghambur ke arah Kiku.
-Bruuuukh...-
"U-ugh... K-kirana-san?"
"-ssy... Aussy... Aussy... Aussy... Aussy! Aussy!" tangis Kirana mulai pecah, gadis itu terus menerus memanggil nama Aussy ketika memeluk Kiku erat-erat, ketakutan, "Aussy... Aussy..."
"Aussy-san wa koko ni arimasen... –Aussy tidak ada di sini..." ucap Kiku dingin, mengalahkan dinginnya air hujan dan angin, bahkan kalau ada es di sana, tidak lebih dingin daripada suara Kiku yang kini sangat mematikan.
HETALIA AXIS POWERS © HIDEKAZU HIMARUYA
In
- ALTER EGO –
LittleOrchids045
-JGLAAAAAAAAAAAAAAARRRRRRRRRRRRRR...-
"Whoaa... Petir tadi sungguh besar..." Arthur berdecak kagum ketika melihat badai di luar sana melalui sebuah jendela besar yang ada di areal lobi penginapannya.
"Huh... Ini sih belum seberapa!" seru Alfred sembari menertawakan Arthur.
"Apa yang kau tertawakan, git?!"
"Di negaraku bahkan bisa lebih besar lagi! Aku bahkan pernah melihat badai twister yang membuat beberapa rumah melayang!" seru Alfred bangga.
"Termasuk rumahmu?" tanya Arthur sarkastis.
"Tidak... tidak... Rumah HERO tidak semudah itu diterbangkan oleh badai tentu saja!"
"Sayang sekali... Padahal aku harap rumahmu menghilang entah ke mana ditelan badai twister yang kau banggakan itu..." gumam Arthur cukup jengkel.
"Kau mengharapkan itu terjadi karena ingin aku "mengungsi" di rumahmu ya?" bisik Alfred sembari menyunggingkan smirk nakal.
"J-ja... Jangan bercanda! Apa yang... Apa maksudmu dengan mengungsi!?" tanya Arthur mulai gelagapan.
"Tenang saja Artie... Walaupun badai tidak menerbangkan rumahku... Aku akan tetap ke rumahmu di London setelah camp ini berakhir... Dan kita bisa, ehem... bersama..." ucap Alfred, sembari menyentuh dagu Arthur, dengan suara yang cukup berat, cukup serius, tidak cempreng dan penuh canda seperti biasanya.
"J-j-ja-jangan main-main!" seru Arthur sembari menangkis tangan Alfred dari mukanya yang mulai memerah, "Siapa juga yang mengundangmu, haaah?! Aku tidak akan membukakan pintu rumahku untukmu! Tidak akan pernah! Kau dengar itu?!"
.
.
"Bagus! Bagus sekali! Huahahahahahahaha! Ini pasti hari keberuntunganku!" bisik Elizaveta girang pada dirinya sendiri ketika mengambil foto-foto Alfred dan Arthur.
"Apa yang kau lakukan, El?" tanya Gilbert pada Elizaveta yang sedang sangaaaaaaaaaaaat sibuk itu, "Hei! Awesome sedang bertanya kepadamu! Tidak ada yang boleh mengacuhkan Awesome!"
"Diamlah! Oh! Ini akan menjadi harta karunku!" seru Elizaveta sembari menyumpal mulut Gilbert dengan benda apapun yang berhasil ditemukan oleh tangannya saat ia terus menerus mengambil foto pasangan yang diberi nama kode operasi rahasia: "USUK" oleh organisasi fujodanshinya itu.
"Cih..." Gilbert mendecak sebal, "Begitulah West... Dia perempuan yang tidak Awesome dan tidak berguna..." ucap Gilbert dongkol kepada adiknya.
-DUGH-
"Ugh..." Gilbert menahan rasa mual yang datang seketika saat Elizaveta memukul perutnya dengan keras.
"Jangan ganggu aku..." ucap Elizaveta sembari kembali mengambil beberapa foto 'pemandangan' dalam sekali tarikan nafas.
"B-broer..." panggil Ludwig khawatir pada kakaknya yang mulai jatuh terduduk.
"Dan kasar pula..." gumam Gilbert yang membuat Elizaveta melirik sadis ke arah dua cucu ketua yayasan itu.
"Kak E-li-za-ve-taaaa..." panggil Feli ceria.
"Hei, Feli!"
"Apa yang sedang kau lakukan, vee?" tanya Feli polos dan penasaran.
"Ah, Feli... Masih terlalu dini untukmu! Kau masih terlalu muda! Labih baik kau jadi objeknya saja!"
"Vee?" Feli menjatuhkan kepalanya di sisi kanannya, kebingungan.
"Sudahlah... Jadi... Ada masalah apa sampai kalian berani menggangguku?" tanya Elizaveta sembari terus Stand by mengawasi pasangan USUK yang berada jauh di sana.
"Kami mencari Kiku, vee..."
"Kiku?"
"Ya... Kiku... Dia tidak ada di mana-mana... Padahal badai seperti ini bisa dijadikan cerita untuk surat kabar nanti..." jelas Ludwig.
"Pasti menarik, vee..."
"Tanyakan saja pada mereka?" ujar Elizaveta sembari menunjuk ke arah restoran yang cukup ramai.
"Mereka? Maksudmu... Mereka yang sedang bertengkar itu?" tanya Ludwig tidak yakin.
"Iya... Mereka kan saudara-saudaranya Kiku... Terus di sana ada Yao juga..."
-A-apa hubungannya Kiku sama Yao? Ups... Oh, I see...-
"K-kalau begitu aku akan tanyakan kepada mereka..." ucap Ludwig sembari berjalan pergi.
.
.
*O*
"Uh?" Kirana menggumam kaget, tubuh dan kakinya mulai gemetar hanya karena suara yang bahkan membuatnya lupa tentang petir yang masih menyambar-nyambar di luar sana. Dengan ragu dan hati-hati, ia menengadahkan kepalanya ke atas untuk bertemu tatap dengan orang yang dipeluknya.
Bukan Aussy dan benik hijaunya yang playfull dan menyenangkan.
-JGLAAAAAAAAAARRRRRRRRRRRRRRRRR-
Benik yang menatapnya saat ini adalah benik cokelat yang sangat gelap dan tak berjiwa, sampai-sampai Kirana mengira itu adalah hitam, namun berkilat dengan kemarahan yang sangat dalam dan dreadfull.
Sangat-sangat tidak menyenangkan. Menakutkan. Lebih menakutkan daripada kilatan petir dan guntur di luar sana yang membuat kaca halte di dekatnya pun bergetar ketakutan ketika mereka beradu.
"Uh... Aku..." Kirana melepaskan pelukannya dan menarik dirinya untuk mundur beberapa langkah.
Ia tahu ia harus lari sekarang. Seluruh radar dan sensor yang ada di tubuhnya mengatakan bahwa ia harus segera, secepatnya menyingkir dari sini. Namun, belum sempurna ia membalik badan untuk lari, sebuah tangan menangkapnya dan menariknya hingga ia kehilangan keseimbangan. Hal yang Kirana tahu selanjutnya adalah ia ditarik dengan kasar hingga punggungnya menabrak tembok dengan cukup keras.
"Kau takut pada petir dan guntur, Kirana?" tanya Kiku datar dan dingin sembari mengunci kedua tangan Kirana di tembok dengan tangannya.
Kirana ingin berteriak, namun tidak ada yang keluar dari mulutnya. Akhirnya gadis itu hanya berusaha untuk terus bergerak dan melepaskan dirinya dari posisi yang sangat mengerikan ini. Namun seluruh jerih payahnya mulai terlihat sia-sia karena ia tak kunjung berhasil. Apalagi ketika Kiku semakin menghimpitnya dan menyelipkan salah satu kakinya di antara kaki Kirana sehingga gadis itu refleks berjinjit untuk menjauh, walaupun ia sebenarnya sudah tak bisa ke mana-mana lagi karena tembok tetap kokoh berdiri di belakangnya.
Pilihan yang salah, karena ini bahkan membuat kaki-kaki Kirana mulai menjauh dari menapak tanah sehingga hal yang membuatnya stabil kini hanya cengkraman pemuda mengerikan di hadapannya beserta satu kaki yang terus menghimpitnya dan beralih fungsi menjadi tempat duduk karena kaki Kirana mulai meninggalkan lantai, walaupun Kirana terus mencoba menapakkan kakinya. Membuatnya benar-benar dihimpit di tembok dan tidak bisa kabur lagi sekarang, secara literal, eksplisit dan harfiah.
"U-ukh..." Kirana mulai panik, ia telah menemukan sesuatu yang lebih menakutkan daripada petir dan guntur, bahkan mungkin kenangannya yang lalu. Celakanya lagi, ia tidak bisa lari dari hal mengerikan ini sekarang. Kirana ingin pergi, namun kakinya mulai mati rasa dan seluruh tubuhnya lemas tak berdaya. Cengkeraman yang sangat kuat di kedua tangannya pun tak bisa lagi ia lawan.
Dan sekarang, diperparah dengan tubuh Kiku yang semakin mendekat dan semakin menghimpitnya sampai tak tersisa jarak apapun.
"Kalau begitu aku akan memelukmu..." ucap Kiku tanpa nada lembut sama sekali sembari menatap dingin ke bawah, menciutkan nyali Kirana, "Dan Kirana bisa mulai memanggil namaku..."
"T-tidak... Lepaskan aku... kumohon... Jangan sentuh aku..." bisik Kirana lirih sembari mulai terisak.
"Naze ga? –Kenapa?" tanya Kiku semakin dingin, "Anata no Aussy ni wanaidesuno ka? –Karena aku bukan Aussy-mu?"
"Uh..."
"Apakah kalau Aussy boleh melakukan ini?"
.
.
"Kenapa Kirana tidak menjawabku?" tanya pemuda itu lagi sembari melepaskan salah satu tangan Kirana dan berganti menahan dagu gadis yang kini ketakutan sebelaskomasembilan-per-duabelas mati.
Kiku menyentuh dan mengusap bibir peach Kirana yang kini bergetar karena dingin juga ketakutan. Entah setan apa yang membuat Kiku malah berpikir bahwa ini sesuatu yang menarik. Namun itu semua tidak bisa dibantah oleh dirinya sendiri, Kiku tidak bisa menahan seringaiannya lagi ketika melihat Kirana begitu pasrah dan menyerahkan diri kepadanya seperti ini, "Apakah sekarang aku lebih menakutkan daripada petir dan guntur itu?" tanya Kiku lagi, masih di dalam intonasinya yang dingin dan tidak bersahabat, "Padahal, Kirana sendiri yang menerjang ke arahku bukan?"
"A-aku..."
"Kirana... Kalau aku melepaskanmu... Ada hal yang lebih menakutkan lagi bukan?" tanya Kiku sembari menangkup dagu Kirana dengan kedua tangannya dan menengadahkannya agar mereka bisa saling bertemu tatap.
Kirana tentunya mencoba untuk memalingkan pandangannya, dia sangat-sangat tidak mau menatap mata yang menakutkan itu. Mata itu sangat gelap, memandangnya dengan dingin dari atas, mendiskriminasi sampai ke dasar jiwanya dan seakan menelannya ke dalam kegelapan.
Seakan-akan menghisapnya masuk ke dalam Black hole, ia tak akan bisa lari lagi jika melihatnya.
"Contohnya... Meninggalkanmu di sini... dalam badai yang penuh dengan petir dan guntur... Kau tidak bisa ke mana-mana, tidak bisa pulang... Kedinginan dan..." Kiku tersenyum licik saat membisikkan ancamannya di telinga Kirana,
"Sendirian..."
-JGLAAAAAAAAAAAAARRRR...-
.
.
"A-aussy... Aussy akan datang..." balas Kirana lirih, gemetaran dan ketakutan.
"Oh ya?"
"Iya! A-aussy... Aussy akan datang!" seru Kirana dengan kekuatan terakhirnya sembari tidak sengaja menatap Kiku.
"Bukankah dia sudah pergi?" jawab Kiku dengan perasaan positif dan pengendalian diri yang telah menghilang seluruhnya, entah ke mana tidak ada yang tahu, dan kini hanya menyisakan perasaan negatif dan keinginan yang tak terbendung lagi.
-JGLAAAAAAAAAAAAAAAAAAR...-
"Uh... Aku..." Kirana mencoba memalingkan mukanya, namun tidak bisa.
Gadis itu tidak bisa melepaskan tatapannya pada Kiku. Ini bukan kagum atau cinta atau apapun itu yang hangat dan manis yang bisa membuat seseorang terpaku menatap mata seseorang selama berjam-jam. Tidak! Demi apapun tidak! Kirana akan sangat senang kalau tatapan seperti itu yang mengikat mereka saat ini. Namun yang diberikan Kiku, yang membuat Kirana tidak sanggup untuk sadar dan merespons apapun termasuk berkedip, adalah tatapan yang sangat dingin, penuh amarah, dengki, dan diskriminasi.
Oh! Seharusnya seseorang ingatkan Kirana untuk tidak sekali-kali mencoba menatap mata yang kini mulai membuatnya tak sanggup menarik napas.
"Aus-..."
Kiku menghentikan gumaman lemah Kirana di tengah jalan dengan ibu jarinya yang kini kembali menutup bibir Kirana.
"Jangan sebut nama pemuda lain di hadapanku... Kirana mengerti?"
.
.
Kirana mengangguk lemas, bukan karena ia setuju, anggukan itu hanyalah gerakan refleks yang sama sekali tak disadarinya karena ketakutan yang amat sangat sampai ke dasar jiwanya.
"Ii ko yo... –anak baik..." ucap Kiku disertai senyuman yang tidak bisa Kirana deskripsikan, kata 'licik' sudah tidak bisa mewakili, sudah sangat jauh terlampaui, "Saa de... Watashi no namae o yonde kudasai... –Sekarang... Panggil namaku..."
.
.
"Kenapa? Bukankah mudah? Panggil aku... Kiku..." ucap Kiku sembari menahan dagu Kirana, "Panggil aku..." perintahnya lagi dengan nada yang tidak bisa dibantah.
"K-ki... Kiku..." panggil Kirana lirih.
"Lagi..."
"Kiku..."
"Lagi..."
"Kiku... Kiku... Kiku... Kiku... Kiku..." panggil Kirana lebih kencang namun masih dengan suara yang bergetar karena isak tangis.
"Kiku... Kiku... Kiku... Ki-umnh..."
Kirana hanya bisa memejamkan matanya erat-erat ketakutan saat mulut Kiku membekap mulutnya. Kirana ingin berteriak, memanggil nama Aussy sekencang-kencangnya agar pemuda itu datang kemari dan melakukan apapun untuk melindunginya dari monster yang kini secara nyata sedang mempraktekkan sexual harassment kepadanya ini. Namun tentunya Kirana tidak bisa melakukan apa-apa, terutama saat Kiku mulai menguak mulutnya dan memilin lidahnya dengan sesuatu yang sangat asing yang Kirana sendiri tak mau tahu apa itu.
Kirana merasakan, perlahan akalnya mulai meninggalkan otaknya, namun ini tidak seperti yang pernah ia rasakan sebelumnya. Ini tidak seperti ketika ia berganti posisi dengan Tara atau yang lainnya. Kali ini, perasaan ini, lebih seperti mendorongnya untuk menyerahkan dirinya, pikirannya, hatinya, tubuhnya, jiwanya dan segalanya yang tersisa yang ia miliki kepada Kiku. Dan Kirana tahu, Tara akan sangat marah jika itu terjadi.
Namun, walaupun Kirana telah mengelak sekuat tenaga, walaupun ia berteriak-teriak dalam hati memanggil nama Tara dan Aussy, akhirnya ia tetap saja kalah pada ciuman terlarang yang sangat panas dan ironisnya kini menghangatkan tubuh basah mereka berdua.
Kiku melepaskan tangannya yang satunya lagi untuk beralih menyelinap dan menarik lembut rambut Kirana, membuka jalan untuk menguasai Kirana lebih jauh. Pemuda itu tersenyum licik di dalam hati, mengagumi hasil karyanya yang berhasil membuat Kirana menyerahkan segalanya. Kiku tahu itu benar, karena ia pun memberikan seluruh dirinya pada ikatan fisik, dan mungkin jiwa, ini. Terutama saat ia merasakan blezer bagian punggungnya diremas dengan kuat, sebagai pegangan untuk Kirana menyetabilkan diri.
Memang tidak terhormat, dan bukan dengan tindakan yang manis dan hangat seperti memberikan bunga atau cokelat, atau rayuan gombal ataupun masakan lezat. Tapi persetan dengan semua itu! Tidak ada waktu untuk semua omong kosong itu karena Kiku sangat ingin, sekarang juga, Kirana menghapus semua catatan tentang Aussy sehingga Kiku bisa leluasa menulis ulang 'catatan' itu dengan dirinya. Tidak ada pemuda lain. Tidak Aussy, tidak Razak, tidak Thai, tidak teman-temannya yang lain.
Hanya Kiku.
"Unnn!" erang Kirana parau dan lemah, namun cukup untuk memberi tahu Kiku bahwa Kirana kehabisan nafas, "Uhuk... uhuk..." Kirana sontak terbatuk dan mengambil nafas sekenanya saat Kiku akhirnya mau melepaskan bibirnya, "Ta-..."
Kiku kembali menekan ibu jarinya di bibir Kirana yang membengkak dan meminta gadis cilik itu untuk tutup mulut, "Tidak Kirana... Memanggil Tara-san, atau dirimu yang lainnya tidak akan membantu... Aku akan langsung meninggalkan kalian jika kau melakukannya... Apalagi... Tara benar-benar buta arah kan?"
Iblis.
Satu kata itu terus berputar di dalam kepala Kirana saat mau-tidak mau menatap mata Kiku. Orang ini telah berubah, orang di hadapannya ini bukan lagi seseorang yang memberikannya blazer dan senyuman hangat kepadanya.
Orang–tidak, Iblis di hadapannya ini sudah melampaui kekejaman orang-orang yang dahulu pernah menyiksanya.
"Jangan menangis... Kubilang itu sia-sia..." ucap Kiku dingin, namun lebih tenang daripada sebelumnya.
"Lepaskan aku... Kau jahat..."
Kiku menggeser dagu Kirana dan mendekat ke arah telinga Kirana, "Benarkah? Aku kira aku hanya sedang men-di-si-plin-kan Kirana..."
"Uh..." Kirana menelan ludahnya ketakutan.
Kirana tahu, di detik itu, Kiku tidak lagi bisa dibantah.
Kirana tahu kata itu, 'mendisiplinkan'.
Kata yang membawanya ke masa kelam. Kata-kata otoriter yang menarik semua ingatan yang selalu ingin ia lupakan.
Semua makian dan cacian yang pernah ia terima. Semua jambakan dan pukulan yang pernah ia alami. Semua perlakuan kasar dan hinaan yang pernah ia rasakan. Semua tawa kejam itu. Semua ingatan yang selalu berhasil menghancurkannya menjadi keping-keping kecil.
Satu kata yang mereka ucapkan sebelum merenggut semuanya.
Mendisiplinkan.
"T-t-ti-dak... K-k-ku-ku-mo-hon..." bisik Kirana dengan suara yang sangat lirih dan ketakutan.
"Tidak?" tanya Kiku menguji.
"Tidak! Tidak! TIDAK!" Kirana mulai histeris yang membuat Kiku tertegun.
.
.
"INAAAAAAAA!" jerit Kirana frustrasi dan menyerah sebelum melempar kesadarannya.
*O*
.
Slaaaaaaaaaaaaaaaaaaap...
"Kak Nesia!" panggil Pertiwi khawatir pada Nesia yang baru saja ditampar dengan sangat keras oleh Tara.
"Kau lihat sekarang?! Kau lihat apa yang terjadi sekarang?! Ini semua salahmu!" bentak Tara murka, tanpa ampun pada Nesia yang sudah gemetar dan jatuh terduduk, "Sudah kubilang kakak kelas itu bermasalah!"
Nesia hanya terdiam diteriaki oleh Tara. Ia masih tak percaya, bukan karena tamparan Tara, namun karena perlakuan Kiku yang sangat asing, yang tidak ia kenal.
Nesia tidak pernah tahu Kiku bisa menjadi semenakutkan itu. Tentu saja, selama ini Nesia telah membuat Kiku sebal, menunggu, frustrasi –Nesia tahu itu, namun tak pernah sekalipun Kiku menjadi semarah ini.
Bahkan ini lebih menakutkan daripada saat ia menyebutkan nama Razak. Situasi ini benar-benar menamparnya dan mengajarinya untuk memastikan satu hal; Jangan sebut nama pemuda lain, siapapun, di hadapan Kiku.
"Ina..." gumam Garuda yang masih di bawah penjagaan Nesia no. 3 lirih, namun cukup untuk menarik seluruh perhatian di sekelilingnya.
'Ina' terlihat keluar dari 'sangkar' yang berada di ujung menara, gadis itu mulai menuruni tangga batu yang telah rusak itu dengan 'keanggunan'nya tersendiri. 'Keanggunan' yang dingin, menyebarkan teror, aura pembunuh dan perasaan tidak enak.
Ina cukup cepat menuruni tangga batu itu, meskipun kondisi anak tangganya sangat buruk. Kini ia telah berdiri di podium utama kesadaran tubuh Inesia dan menepuk kepala Kirana dengan lembut.
Berusaha menenangkan alter Kirana yang histeris itu? Entahlah, Ina tidak memiliki kebaikan semacam itu.
"Kita harus mencegah Ina mengambil alih tubuh ini!" seru Garuda pada Nesia, namun Nesia yang masih syok akan perbedaan Kiku dan belum pernah bertemu dengan Ina hanya bisa tercengang dan membeku di tempatnya.
"Sial! Pertiwi! Cegah Ina sekarang juga!" teriak Garuda sembari mencoba melepaskan diri dari Nesia no.3 yang tak mengerti apapun selain menahan Garuda untuk bebas. Ini membuat Garuda sangat jengkel sekarang. Tidak bisakah Nesia no. 3 melihat keadaan gawat darurat saat ini?!
"A-aku... Aku akan memanggil Inesia!" ucap Pertiwi pada akhirnya.
"Cegah Ina! Tidak perlu memanggil Inesia! Gadis sialan itu pastinya sudah tahu dan ia membiarkan Ina lolos!" teriak Garuda frustrasi.
"Biarkan saja, Pertiwi! Pemuda itu mengkhianati kita! Ia melukai Kirana! Ia menyebutkan kata 'itu'!" sergah Tara dingin.
"Apakah kau gila?! Kau ingin menjadikan kita sebagai pembunuh?!" seru Garuda geram kepada Tara.
"Aku tidak meminta pendapat konyolmu Garuda..." jawab Tara tanpa perasaan.
"Hentikan, Tara! Kau tidak tahu apapun tentang Kiku!" salak Garuda lagi.
"Oh, aku cukup tahu... Dia adalah seseorang yang cukup b******k untuk menyentuh Kirana seperti tadi! Dan kini ia pantas mati!"
*O*
Ludwig hanya bisa diam di tempat. Speechless. Sesekali pemuda dengan tubuh besar itu memalingkan kepalanya, menghindar dari piring terbang.
Bukan, bukan UFO, tapi piring terbang, secara kontekstual dan harafiah.
"Ludwig... Kau sudah bertanya keberadaan Kiku, veeee?" tanya Feli polos dari belakang.
"Aku sedang berpikir bagaimana caranya bertanya kepada mereka..." ucap Ludwig lelah, "Merunduk!" serunya sembari refleks merundukkan kepala Feli saat melihat piring terbang no. 4 mengarah tepat ke kepala Feli.
"Veeee... Itu sungguh bahaya..." ucap Feli ketakutan.
"Aku tak tahu apa yang terjadi dengan mereka... Tapi ini sudah melampaui batas..." gumam Ludwig, "F-feli... A-apa yang kau lakukan?!" serunya saat melihat pemuda Italia itu menuju ke pusat pertengkaran dengan membawa bendera putih yang dikibarkan.
"Ayo... Berhenti bertengkar... Bertengkar tidak bagus, veeee..." ucap peda Italia itu sembari mengibaskan benderanya di depan muka Mei yang tengah ditahan sekuat tenaga oleh Vie.
"Minggir kau, Feli! Ini bukan urusanmu!" seru Mei sembari menatap tajam Feli yang membuat pemuda berahoge itu mundur teratur ke belakang Ludwig.
"Kita hanya ingin menanyakan keberadaan Kiku..." ucap Ludwig pada akhirnya saat perhatian Mei mengarah pada pemuda Jerman itu.
"Mana aku tahu dia di mana!?" seru Mei jengkel, tampaknya hal ini pulalah yang menjadi bahan bakar kemarahannya.
"Mungkin ia ditelan bumi..." celetuk Maria yang membuat konsentrasi Mei kembali mengarah ke adik tingkat dari Filipina itu.
"Ayolah... Hentikan ini semua, aru... Sebelum si Allastor datang... Kalian mau dimarahi olehnya?!" seru Yao mencoba menghentikan keributan itu, "Mei... Ini masalah pribadi Kiku, aru... Kau tak perlu sampai segininya juga mengurusinya..."
"Tapi, gege..."
"Lalu bagaimana dengan Hong, aru? Kalau dia ada di sini pasti dia sangat sedih!"
.
.
Mendengar nama Hong mulai disebut-sebut, Mei pun mulai berhenti melawan. Mei tahu, ia sadar bahwa dibalik muka datar Hong, sebenarnya pemuda itu marah ketika ia begitu ikut campur dengan 'urusan' Kiku ini. Akan tetapi, ia merasakan sesuatu. Mei merasa harus membuat Nesia bersama dengan Kiku bagaimanapun caranya, agar ia berhenti menoleh dan merasa kasihan kepada Kiku.
Mei kini bahagia bersama dengan Hong. Sangat bahagia karena ternyata pemuda itu begitu mau mengerti, tulus dan setia padanya. Tapi ia tidak lalu melupakan Kiku begitu saja. Sejujurnya Mei sangat khawatir dengan pemuda yang akhirnya ia 'campakkan' itu dan merasa sedikit kesal dan sedih karena ternyata dirinya tidak sanggup 'mengubah' Kiku dan memberikan dunia yang berbeda pada pemuda yang tampaknya sangat Private dan kesepian itu.
Pada saat membuat keputusan untuk memilih Hong pun, satu yang selalu Mei khawatirkan adalah; Apakah Kiku akan menemukan dirinya yang sebenarnya dan dunia yang diinginkan oleh hatinya? Apakah pemuda itu akan keluar dari lingkaran setan keluarganya dan jeratan kesepian yang mencekiknya dengan erat?
Oleh karenanya, saat Kiku menemukan Nesia, Mei sungguh merasa lega serta antusias. Ia pun menetapkan bahwa mereka berdua, Kiku dan Nesia, harus bersama. Semua itu karena Mei ingin Kiku merasakan apa yang ia rasakan ketika akhirnya ia menemukan Hong dan berhenti dari putaran menyakitkan saat mengejar Kiku.
Itu adalah perasaan yang lega dan terselamatkan. Seolah kau akhirnya menemukan tempat untuk tinggal dan menetap setelah bertahun-tahun terkatung-katung tidak jelas.
Tapi sayangnya, ada orang-orang ini, orang-orang di hadapannya yang Mei kira sangat mengancam kebahagiaan Kiku yang sebentar lagi akan dicapai. Tentu saja Mei harus mencegah mereka dari merusak kebahagiaan Kiku, dan Mei akan berusaha keras untuk itu.
Mei yakin Hong mengerti apa kata hati dan pikiran Mei tentang ini. Sebagai tanda, pemuda itu tidak melakukan apapun dan tetap diam mengawasinya, bahkan menjadi tempat curhatnya tentang masalah ini, seperti biasanya. Tapi Mei juga tidak se-dense itu, ia tentu menyadari bahwa terkadang Hong juga cemburu dibalik anggukan datarnya, dan Mei tidak tega melihatnya –walaupun hati nakalnya berpikir bahwa itu cukup lucu, dan ia selalu tertawa untuk menggoda pemuda Hongkong itu sebelum Hong melumat bibirnya dengan gemas untuk membalasnya.
Oh, tidak. Apa yang Mei pikirkan?! Sekarang waktunya untuk bertarung demi kebahagiaan Kiku, bukan blushing berat karena mengingat waktunya bersama Hong. Lihat saja! Kakaknya, Wang Yao, sudah mulai tersenyum-senyum nakal menggodanya. Ia pasti mengira Hong telah berubah menjadi titik lemahnya –walapun sebenarnya, benar.
"Dimana Hong, aru?" tanya Yao pada Mei, bermaksud mengalihkan perhatiannya.
"U-uh... H-hong... Hong kupikir pergi dengan Yong Soo... Tapi dia menyembunyikan tujuannya..." ucap Mei dengan gelagapan dan muka yang memerah karena yang terbayang di pikirannya setelah itu adalah ketika Hong pamit pergi dan mengecup hidungnya dengan romantis di depan khalayak umum.
Mei sama sekali tidak mengerti apa yang ada di pikiran Hong saat ini, salah, kelakuan 'mengumbar-umbar keromantisan' mereka tepat dimulai saat Yong Soo melaporkan kalau Kiku bad mood tingkat akut di bus. Bagaikan Hong sedang mengklaimnya dan mengumumkan pada siapa saja bahwa Mei adalah miliknya, terutama mungkin pada Kiku yang sayangnya bahkan tidak melihat sesi umbar-umbar itu.
Duh, jangan-jangan Hong sedang cemburu tingkat akut juga...
Entah mengapa, wajah Mei memanas saat memikirkannya. Ia ingin sekali menertawakan sikap kekanakkan Hong, dan mungkin menggodanya nanti, saat Hong pulang.
Tapi sekarang, ia harus bertarung dulu untuk Kiku.
"Daripada itu... Kalian seharusnya menyerah! Bukankah Kakek Tara sudah bilang bahwa mereka sudah menikah?! Kalian seharusnya malu! Mengejar-ngejar seseorang yang sudah menikah... Merusak rumah tangga orang!" seru Mei lagi pada Maria.
"Itu hanya bohong! Kami tidak tahu apa alasannya tapi itu tidak mungkin! Lagipula siapa kakek-kakek tidak jelas itu untuk Nesia?!"
"Loh?! Bukankah Kakek Tara itu Kakeknya Nesia ya?!" sergah Mei lagi.
"Eh?" Maria berkedip tak percaya.
"Itu berarti Nesia sepupunya Razak dong?" gumam Haqq spontan.
"I... Itu... Jangan bercanda! Itu tidak mungkin!" seru Razak pada akhirnya setelah terserang syok selama beberapa saat, "Abang Thai?" seru Razak meminta kejelasan pada sepupunya itu, "Abang Thai! Siapa Nesia Dirgantari itu sebenarnya?!"
"Inesia, ana..." jawab Thai kebingungan, "Inesia Lituhayu Dirgantara... Atau karena sepertinya 'Dalem Ageng' sudah mengakuinya, Inesia Lituhayu... Ranggawardhani..." lanjutnya belepotan, cukup sulit baginya mengingat dan menyebutkan nama 'Ranggawardhani'.
Sedangkan bagi Razak, penyebutan nama itu bagaikan menarik paksa jiwanya dari tubuhnya. Nama Ranggawardhani adalah nama akhir dari Atuk Nusantara, juga nama akhir dari ibunya yang tidak berubah sampai saat ini karena Malaysia tidak mengadopsi perubahan nama marga.
Nesia adalah Inesia. Gadis cilik yang selama ini menjadi aib dan disembunyikan karena merupakan masalah besar keluarga Ranggawardhani. Gadis cilik yang menghilang dan anehnya membuat Atuk Nusantara kehilangan sinar harapannya selama bertahun-tahun, padahal Kakek tua nan kolot itu jelas-jelas membencinya.
"Tapi mungkin sekarang namanya hanya Honda Nesia... Itu yang Kakek Tara ucapkan..." ucap Thai sembari mengendikkan bahunya.
Maria dan Haqq sontak memegangi tubuh Razak yang lemas dan hampir jatuh. Ia tak kuasa menahan syok yang merasukinya begitu dalam. Ia tidak sanggup mencerna kenyataan bahwa Nesia, gadis yang telah menarik hatinya adalah sepupunya sendiri, anak dari kakak ibunya.
Yang artinya, Nesia adalah kakak sepupunya.
Sedangkan Mei hanya bisa berdiri kebingungan mendengarkan 'penemuan keluarga' ini. Maksudnya, bagaimana bisa Razak tidak mengenali sepupunya sendiri? Yah, Vie juga tidak mengenali Nesia sejak awal memang, tapi itu karena Vie merupakan saudara yang cukup sangat jauh, dan Thai yang saudara jauh juga mengenalinya karena dulu Nesia pernah dijodohkan dengan Thai. Tapi Razak masih satu kakek dengan Nesia.
Keluarga yang aneh, batin Mei. Meskipun keluarganya sendiri tak kalah aneh; terpisah menjadi tiga klan ambisius berbeda yang saling bersaing menguasai ekonomi Asia Timur, tapi setidaknya mereka masih mengenal satu sama lain.
Yah, pada mulanya memang karena ada 'masalah besar' juga sih...
"Apa yang sebenarnya terjadi, aru?" tanya Yao kebingungan, tapi tidak ada yang bisa menjawab tentang apa yang sebenarnya tengah terjadi.
Sedangkan Ludwig dan Feli hanya bisa diam dan mencoba menganalisis drama yang tengah terjadi. Sepertinya semua ini mengaitkan Kiku terhadapnya. Mungkin ini adalah alasan mengapa Kiku sering terlihat tidak fokus akhir-akhir ini. Bisa jadi, karena Ludwig pikir masalah keluarga seperti ini sangat krusial terutama bagi keluarga Kiku dan keluarga seorang gadis yang bernama Nesia, atau Inesia ini yang ternyata adalah cucu dari salah satu teman kakeknya.
Tapi bukankah di jamuan makan malam waktu itu, bukankah Kakek Tara yang malah mengira bahwa mereka adalah kakak beradik? Dan malah ada cerita menggelikan seperti Romeo dan Juliet versi lebih 'bersahabat' di antara keduanya? Kalau tidak salah tentang kedua keluarga mereka yang tidak akur dan akhirnya mereka dinikahkan untuk mengakurkannya.
Ini aneh. Benar-benar aneh!
Apakah Kiku berbohong? Ataukah ada kesalahpahaman? Ludwig tidak mengerti sama sekali.
"Veee... Keluarga mereka sangat kompleks ya... Apakah seluruh keluarga Asia sekompleks ini?" celetuk Feli kebingungan.
"Entahlah..." ucap Ludwig buntu, "Mungkin kita biarkan saja mereka? Kita bisa cari Kiku nanti..."
"Baiklah, vee..." ucap Feli sembari melangkah pergi.
.
.
.
"Bagaimana?" tanya Elizaveta tanpa berpaling dari kegiatan fotonya, kali ini yang menjadi objek bidikannya adalah pertengkaran Heracles dan Sadiq sedangkan Gilbert meronta-ronta mencoba melepaskan tali yang mengikat tubuhnya jauh di pojok ruangan sana.
Feli menggeleng, "Mereka sedang meributkan masalah keluarga, vee..."
"Baiklah... Kalian berhutang padaku..." ucap Elizaveta sembari mengeluarkan ponselnya dan memencet nomor-nomor.
"E-elizaveta... Kau menelepon siapa?" tanya Ludwig bingung.
"Ssssh... Ah! Halo, KN-0012... Hmm... Hmm? Kameramu aman di luar seperti itu? Oh, ada tempat berlindung di sekitar halte itu, yah? Bagus... Hmm... Beruntung sekali! Gila! Seharusnya aku saja yang mengikuti mereka! Hmm?! Istenem! Hogy legyen nagyon meleg!"
"Vee? Apa yang terjadi?" tanya Feli heran pada Ludwig.
"Entahlah, tapi yang terakhir pakai bahasa Magyar, bahasa Hungaria..." ucap Ludwig memberi informasi yang malah membuat Feli semakin bingung, "Tanyakan ke Roderich?" ucap Ludwig lagi.
"Veeee? Kakak Roderich... Kakak Roderich..." panggil Feli ceria sembari menghambur ke arah pemuda berkacamata yang sedang memainkan piano di ujung ruangan, "Apa yang sedang Kakak Elizaveta bicarakan?"
"Humh?" Roderich menghentikan permainannya sejenak dan mendengarkan kata-kata yang sedang diucapkan oleh Elizaveta dengan penuh semangat, "Ya Tuhan! Itu pasti sangat panas!" Roderich mengartikannya dengan kebingungan namun setelah itu ia mendengar kalimat lain, dan ia pun spontan mengartikan lagi, "Apakah mereka gila?! Melakukan *piiiiiiiip* di ruang publik?"
.
.
"H-HEEEEEEEEEEEEE?!" teriak Feli tidak percaya dan muka yang memerah.
"S-sedang bicara dengan siapa Elizaveta itu?" tanya Roderich tak kalah memerah dan malu, terutama karena tidak sengaja menyebutkan *piiiiiiiip* gara-gara mentranslate omongan tanpa rem Elizaveta.
"K-ki-kiku... Kiku... Kiku melakukan..." Feli berjalan gontai menuju Ludwig, meninggalkan dan tidak menghiraukan Roderich yang masih kebingungan.
.
.
"Apa katanya?" tanya Ludwig, ia sedikit heran dengan raut wajah Feli yang bercampur antara pucat dan merona.
"Kiku... KIKU SEDANG MELAKUKAN *piiiiiiiiiiip*, VEEEE!" seru Feli sangat keras sehingga membuat orang-orang, atau tepatnya murid-murid Hetalia Academy, seluruhnya menoleh ke arah Feli.
Termasuk Elizaveta yang kini diam seribu bahasa.
.
.
#QuotesOfTheDay: FELIIIIIIIIIIIIIIIIII! -Ludwig
*O*
Kiku menggeram kesal sembari terus memegangi tubuh Kirana yang terkulai lemas. Di dalam pikirannya, perasaan jengkel mulai berkelebat, membuat badai sendiri yang tidak kalah dahsyatnya dibanding badai hujan di luar halte ini.
Ia merasa marah. Marah pada semuanya yang bisa ia salahkan saat itu. Marah pada Kakek Tara, marah pada Hong dan Yong Soo, marah pada badai yang tahu-tahu mampir -walaupun sudah 'kabar-kabar' dengan berbagai guntur dan kilat tadi, marah pada Kirana yang memanggil-manggil nama orang lain, dan terutama, marah pada dirinya sendiri yang sangat cepat tersulut amarahnya.
Kiku mulai menyumpahi dirinya sendiri. Apa yang sebenarnya tadi ia pikirkan? Kenapa ia bisa memperlakukan Kirana seperti tadi?
Apa yang sebenarnya terjadi padanya?
Padahal Kiku tahu Kirana sangatlah rapuh. Kenapa otaknya tidak mau mengingat hal sepenting itu? Kenapa ia malah seperti kerasukan, marah-marah tidak jelas karena...
Karena yang tadi dipanggil-panggil adalah Aussy, bukan dirinya.
Oh... Ya ampun! Kiku tidak mengerti apa mau dirinya sendiri!
Kiku menjedutkan kepalanya ke tembok terdekat. Salah satu upaya menghukum dirinya sendiri karena tangannya kini masih sibuk menahan tubuh Kirana. Sayangnya, tindakan ini dirasa masih belum cukup. Kiku butuh ketenangan, musik Zen yang lembut, juga waktu untuk bermeditasi selama... Satu hari?
Mungkin satu setengah hari, atau dua. Atau mungkin tiga...
Kiku mulai tidak yakin bila ritual paling mujarab untuk menenangkan dirinya itu akan berjalan mulus seperti biasanya. Pemuda itu khawatir, sangat amat teramat khawatir karena ia menyadari bahwa moodnya mulai bertindak labil, sangat-sangat absurd. Mengayun dari utara ke selatan dengan kecepatan cahaya.
Kiku menghela nafas lelah, masih menjedutkan kepalanya ke tembok. Namun sedetik kemudian mulai merengut heran. Tepatnya saat ia mengingat perkataan Hong.
Gege yang kita kenal... yang pertama; yang pendiam dan sangat tenang namun juga sangat ambisius, hampir bisa dibilang kejam, dia membungkam seluruh jajaran direktur berpengalaman di usia ke 15-nya, yang membawa Katananya hampir ke mana-mana seperti Vash membawa AK-47nya, yang auranya bahkan mungkin bisa membunuh makhluk apapun...
Yang kedua; yang kalem dan memiliki senyum simpul untuk menutupi pikirannya yang kami bertaruh tidak ada makhluk yang dapat menebaknya... yang bisa menahan emosi dan perasaannya seutuhnya... yang ternyata bisa bermain dan bercanda bersama kami... Dan yang hanya bisa kami ketahui setelah bersekolah bersama Gege di Eropa...
Kiku menghentikan seluruh kegiatannya, berusaha untuk memfokuskan pikirannya pada satu hal. Karena kenyataan yang ada di pikirannya membuat dirinya sendiri takut dan khawatir. Konsep yang ada di pikirannya ini tidak boleh terjadi.
Selama ini, sebelum Kiku mengenal hal aneh semacam Ego State, Kiku selalu mengotakkan dirinya menjadi dua hal, tepat seperti apa yang ditebak oleh Hong. Pertama adalah dirinya yang ada di bawah pengawasan 'rumah'. Kedua adalah dirinya yang mencoba untuk menjadi anak normal dan berteman dengan semua orang.
Mereka seharusnya berpisah dengan sekat yang sangat jelas dan setebal tembok beton. Mereka seharusnya menggunakan 'topeng' masing-masing yang membentengi dirinya dari orang lain.
Tapi sekarang, sesuai yang dikatakan oleh Hong, dan sayangnya baru sekarang Kiku sadari, keduanya sudah mulai melepas 'topeng' mereka masing-masing dan mulai tercampur aduk –bagaikan hilang semua sekat dan tembok beton yang seharusnya ada di antara kepribadian gelapnya serta kepribadian putihnya.
Demi kecanggihan teknologi peringatan bencana Tsunami milik Jepang! Kiku harus menghalanginya, menghalangi kedua dirinya ini agar tidak sampai bertemu dan menyatu.
Ini akan menjadi hal yang sangat gawat, maksud Kiku, ia ingin menjadi teman yang baik bagi semuanya yang ada di sini. Oleh karena itu, dia harus mencegah dirinya sendiri dari tertukar atau bahkan salah ambil antara 'Topeng Pewaris Utama' dan 'Topeng Sahabat Baik'.
Tidak heran sedari kemarin Yong Soo mengerut seperti itu di dekatku... Sedari kemarin aku pasti menggunakan Topeng Pewaris Utama itu dan mengumpulkan aura ungu yang sangat mengerikan di sekitarku...
Kiku menghela nafas panjang setelah menemukan apa yang salah pada dirinya. Berurusan dengan Nesia dan Alter-alternya menyebabkan dirinya mencampur adukan dua kepribadian itu dan membuatnya lupa untuk memilih yang mana. Membuatnya menghasilkan 'topeng' lain yang sangat abstrak.
Apakah itu sebuah topeng?
Kiku menelan ludahnya dan terdiam, bahkan di dalam hatinya. Mencoba menelaah apa yang sebenarnya tengah bertransformasi di dalam dirinya sendiri. Kiku kira ia baru saja melahirkan topeng lagi, tapi untuk menutupi apa dari siapa?
Aku tahu yang disembunyikan oleh Gege adalah hal yang sama, dan Gege memperjuangkan dua hal yang berbeda sehingga gege yang di sini tidak sama seperti yang di rumah... Gege yang di sini memperjuangkan "teman", oleh karena itu gege berubah menjadi ramah...
Ya. Kedua topeng itu adalah untuk menutupi kelemahannya dan kekurangannya yang membuat dirinya mungkin akan diremehkan ataupun tak diterima. Kedua topeng itu juga digunakan untuk menutupi perasaannya yang terdalam, agar logika dan rasionalitasnya yang menuntun tindakannya. Dirinya yang di rumah memperjuangkan kehormatan dan 'takhta' yang dituntutkan kepadanya. Sedangkan di sekolah ini, ia harus memperjuangkan "menjadi teman yang baik, berguna dan setia".
Kiku tidak pernah keberatan dengan semua itu, baginya lebih mudah seperti itu daripada harus mencoba berbagai trial and error yang bisa saja menghancurkan semuanya. Meskipun kadang pada awalnya ia juga merasa tidak enak, namun pada akhirnya toh ia bisa membuka sebagian topengnya pada beberapa orang.
Sedangkan pada kasus Nesia, semuanya menjadi sangat berbeda dan Kiku baru menyadarinya detik ini.
Pada Nesia, sejak awal sikap hati-hati dan waspada Kiku terlupakan dan menguap entah ke mana, Kiku tidak menyadarinya. Begitu pula dengan kedua topeng aneh itu, tergeletak begitu saja, menyebabkannya bertindak campur aduk seperti ini.
Marah-marah tidak jelas, kadang tersenyum seperti orang gila, kadang merasa frustrasi, kadang malu sampai ingin harakiri, kadang benar-benar menjadi manusia yang sangat simpel –yang kebahagiaannya datang begitu saja tanpa harus berhasil mengakuisisi sebuah perusahaan, ia hanya butuh Nesia di sampingnya.
Kiku baru menyadarinya sekarang, ia baru mengerti di detik ini. Bahwa ia telah melupakan aturan yang selalu ia terapkan pada orang lain ketika ia menghadapi Nesia.
Jika Kiku dulu tidak lupa memakai kedua topengnya itu saat bertemu pertama kali dengan Nesia, kejadiannya pasti tidak akan seperti ini. Ia tidak akan melirik apalagi jatuh cinta pada Nesia dan pusing karena semua keabsurdan ini. Nesia dan seluruh alternya tidak akan bisa melihatnya dan masuk sedalam ini di dalam kehidupan dan jiwanya. Semuanya karena ia melupakan 'pertahanan' dirinya itu.
Sejak detik pertama mereka bertemu, Nesia memang sudah meluluh lantakkan seluruh benteng pertahanannya, tanpa sempat membiarkan Kiku membangunnya.
Kiku berdecak kagum juga mengumpat kesal.
Sialan. Inilah jawabannya. Inilah jawaban mengapa dirinya begitu merasa terikat kepada gadis dengan banyak kepribadian ini dan apa yang sedang ia gunakan bukanlah sebuah topeng.
Bukan tuntutan untuk menjadi siapa pun.
Kiku bahkan menanyai dirinya sendiri, kalau ia memiliki topeng baru, kalau ia boleh memakai topeng lagi, topeng apa yang akan ia gunakan? Nesia dan seluruh Alternya sudah terlanjur melihat dirinya yang seutuhnya, yang sebenarnya. Tidak ada yang bisa Kiku tutupi lagi.
Itulah yang membuat Kiku ingin menguasai dan mengklaim Nesia sebagai miliknya sendiri. Ya. Kiku tak akan melepaskan Nesia untuk siapa pun. Ia tidak akan membiarkan gadis yang berhasil mengerti sampai sejauh ini untuk bahkan hanya dilirik oleh orang lain. Inilah yang menjadi tungku dan bahan bakar rasa obsesinya, posesifnya, dan mungkin, rasa cemburunya.
Kiku masih sibuk dalam pikirannya saat tiba-tiba sebuah tangan menyambar lehernya. Membuat tubuhnya terjerembab ke lantai dan tidak bisa bergerak. Tangan itu menekan lehernya kuat-kuat, mencekiknya tanpa ampun sampai membuat Kiku cukup panik karena tidak bisa bernafas lagi.
"U-ugh... K-kira... na..." Kiku tercekat hebat, bukan hanya karena ada sepasang tangan yang mencekiknya, namun juga kedua pasang mata yang tak berjiwa yang tengah menatap matanya tanpa ekspresi apapun.
Seakan kosong tanpa perasaan apapun tanpa rasa apapun. Bahkan di titik ini Kiku bisa mengklaim bahwa dirinya lebih baik daripada Alter yang sedang menguasai tubuh Inesia sekarang.
"I-ina... –san?" panggil Kiku sembari mencoba melepas cekikan gadis yang ada di atasnya ini.
Gadis itu bergeming. Tetap pada tujuannya satu, yang sangat mengerikan menurut Kiku; membunuhnya. Gadis ini tidak main-main, Kiku perlahan mulai kehilangan kesadaran karena otaknya kekurangan asupan oksigen. Namun Kiku tidak menyerah, dengan sisa-sisa tenaganya yang paling akhir, Kiku segera mengelak, melempar dan menyingkirkan tangan dan tubuh gadis yang kini sangat kaget itu entah ke mana.
Setidaknya ia bisa selamat dulu sebelum mengkhawatirkan hal lain.
"Uhuk... uhuk... uhuk..." Kiku terbatuk-batuk dengan sangat keras, memperjuangkan agar udara kembali masuk ke dalam paru-parunya.
Kiku merasakan kepalanya sangat sakit dan tubuhnya lemas serta linglung. Akan tetapi, ia tahu bahwa ia harus menyingkir. Oleh karenanya, dengan cepat ia menghambur keluar Halte dan bermandikan hujan sembari berusaha mengordinasikan kembali tubuhnya.
Kiku melihatnya dan ia sempat berpikir bahwa Nesia telah berubah menjadi zombi, atau mungkin kerasukan, Kiku tidak mengerti. Hal yang Kiku mengerti sekarang adalah gadis di hadapannya ini sangat ingin membunuhnya dan sangat berbahaya. Kiku memperhatikan senyuman yang mengukir di wajah gadis itu. Hilang sudah senyum polos, lembut nan manis milik Kirana, digantikan dengan senyum yang sangat teramat rusak bagaikan seorang psikopat.
"Ina-san..." panggil Kiku.
Kiku mencoba memastikan, Ina yang mana yang sekarang ini hadir. Apakah yang ada di hadapannya ini adalah yang asli, atau yang palsu. Akan tetapi, tidak lama bagi Kiku dalam menerka-nerka. Kiku tahu yang ada di hadapannya adalah Ina yang asli, yang harus ia hindari dengan cara apapun.
Kiku sangat setuju dengan apa yang dikatakan oleh Nesia no.2 dulu; Jangan berurusan dengan Ina.
Kiku kira, Ina yang asli akan sama saja seperti Ina palsu. Pada waktu menemukan Ina asli pertama kali, gadis itu terlihat sama, terlihat berteriak-teriak juga. Namun kali ini, gadis itu terlihat benar-benar fokus seperti seorang pemburu. Sangat menakutkan, terakhir kali Kiku menghadapi kekuatan fokus seperti ini adalah ketika ia berada di final kejuaraan Karate Internasional, bahkan fokus Ina lebih berbahaya daripada orang yang berhasil Kiku K.O kan dengan waktu yang cukup lama itu.
Tottemo yabai desu... –Ini sangat gawat...
Tidak mau meremehkan Ina, Kiku memasang kuda-kudanya, berjaga-jaga bila saja gadis itu mulai menyerang dirinya. Diaktifkannya suruh indra dan konsentrasinya, tak lupa juga seluruh intuisi dan instingnya karena Kiku tahu, ia tidak sedang menghadapi seorang gadis inosen yang manis. Akan tetapi, jujur saja, seorang psikopat yang cantik.
"Kenapa? Kau takut padaku?" tanya Ina di sela senyum anehnya, "Padahal aku hanya ingin mematahkan lehermu... Itu saja..." lanjutnya dengan tawa yang manis –namun terdengar sangat mengerikan di telinga Kiku.
Kiku harus memutar otaknya, harus. Kiku tidak boleh terlihat lemah ataupun bodoh di hadapan kepribadian seperti ini. Karena jika ia bertindak bodoh ataupun ragu sedikit saja, maka ia akan kalah saat itu juga. Sedangkan kalah bukan pilihannya karena bukan saham perusahaan ataupun keberhasilan akuisisi perusahaan yang sedang dipertaruhkan di sini, akan tetapi nyawanya. Ia harus terlihat sangat mendominasi –kalau bisa sangat mengerikan bahkan, dan sangat mengerti tentang keadaan sehingga Ina akan berpikir dua kali untuk menyerangnya.
Kiku tahu, dan ia ingin tertawa karena menyadari saat ini ia harus menggunakan 'topeng' yang selalu ia gunakan di rumah. Topeng Pewaris Utama yang menutupi dirinya terutama kelemahannya secara sempurna. Topeng yang penuh dengan ambisi dan kejam menurut Hong. Topeng yang membuatnya tenar sebagai tuan muda yang absolut, yang membuat seluruh jajaran direksi dan pemegang saham dalam dan luar perusahaannya ketar-ketir jika harus berhadapan dan negosiasi dengannya. Topeng yang bahkan membuat beberapa pimpinan Yakuza ciut ketika bersitegang dengannya.
Topeng yang sangat Kiku benci ketika harus mengenakannya.
Namun kali ini, ia begitu antusias sampai ke dasar jiwanya saat akan mulai menggunakannya. Ia ingin tahu, apakah Ina atau siapa pun Alter Inesia, bisa menghadapi dirinya yang ini? Kiku sungguh semangat, entah mengapa dirinya sendiri tidak tahu.
Akan tetapi, di detik selanjutnya ada bunyi di dalam pikirannya; bunyi retak dan pecah dari suatu benda semacam penutup wajah dari bahan porselen yang tak sengaja jatuh ke lantai. Setelah itu, entah mengapa Kiku merasa sangat bebas untuk menunjukkan sisi gelap dan terangnya secara bersamaan, tanpa peduli pada apapun lagi.
"Tidak juga... Saya hanya ingin tahu, apakah anda ingin berdansa denganku?" jawab Kiku dengan senyum kecil dan kesopanan yang sangat dingin yang membuat Ina berhenti tertawa.
Ina tersenyum lebar, ia melangkahkan kakinya mendekati Kiku dengan antusias, "Aku sering mendengarmu dan melihatmu... Kau memang benar-benar menarik..."
"Dan anda terlihat lebih pintar dan waras daripada yang saya dengar..." ucap Kiku datar namun tetap waspada pada Ina yang tengah memutari dirinya.
"Kau lupa sesuatu... Lebih licik..." ucap Ina sembari dengan cepat mengarahkan pukulan ke tengkuk Kiku.
Sayangnya pukulan yang berpotensi menghilangkan kesadaran itu gagal karena Kiku lebih gesit untuk menangkap tangan Ina dan memutar tubuh itu dengan lumayan cepat sehingga sejenak Ina kehilangan tumpuannya, selanjutnya Kiku mendekap Ina dari belakang dengan tangan yang saling bertaut dan bersilangan di depan tubuh Ina.
"Shall we dance, milady?" bisik Kiku menantang di telinga Ina.
"Yes, sure..." jawab Ina agak tidak yakin sembari mencoba menginjak kaki Kiku dan menyodok perut pemuda di belakangnya ini dengan sikunya, sayangnya semua percobaannya itu gagal dan Ina kembali berputar bagaikan berdansa bersama dengan Kiku di bawah guyuran hujan deras ini.
"Ina-san..." panggil Kiku dengan nada yang lembut dan sedikit tawa yang membuat Ina mengerutkan keningnya heran.
Segila apa orang yang bernama Honda Kiku ini sampai-sampai bisa menghadapinya dengan sangat gembira seperti ini?! Apakah Ina salah? Haruskah ia membunuh orang bernama Honda Kiku ini di tempat dan sekarang juga? Karena semua ini sudah mulai berjalan dengan sangat absurd.
Tidak pernah Ina menemui orang yang bisa menanganinya seperti ini. Ina terus menerus menyerang Kiku, melancarkan pukulan dan tendangan ke arah organ vital Kiku. Namun pemuda itu juga terus berhasil untuk menghindarinya sembari mengajaknya berdansa dan bermain. Bahkan sempat pemuda itu mengangkat tubuhnya dan memutar-mutar dirinya di udara.
Ina benar-benar tak mengerti dengan apa yang ada di dalam pikiran Kiku. Apakah otak pemuda ini sedang konslet karena diguyur air hujan? Ataukah kehilangan banyak 'sekrup' karena terbentur saat ia cekik tadi?! Apakah Kiku sudah berubah menjadi orang gila melebihi dirinya?!
Satu hal yang pasti sekarang adalah Ina mulai kewalahan dengan 'euforia' Kiku dan entah mengapa ia sangat ingin kabur dan menyerahkan tubuh ini pada siapa pun alter lain yang ada di dalam tubuh Inesia. Namun Ina tetap mencoba mempertahankan dirinya dan melawan Kiku.
Demi Panda yang tinggal beberapa ekor saja di dunia ini! Ina adalah pertahanan terakhir yang dimiliki oleh Inesia! Jika ia tidak bisa mengatasi Kiku, maka habislah semuanya, habislah segala pertahanan diri Inesia, menyerahlah ia dan semua alter Inesia pada pemuda (absurd) ini.
Tapi meskipun Inesia bilang tidak akan menyerah, ia tidak bisa melakukan apapun selain 'berdansa' di telapak tangan Kiku. Oh! Seharusnya Ina selalu siap senjata tajam. Mungkin itu akan membantunya menghadapi Kiku. Tapi nyatanya, sekarang ia tak membawa apapun dan tidak bisa melawan Kiku sama sekali.
Ataukah ia kembali ke cara lawasnya? Menyerang dengan membabi buta terhadap Kiku dan melihat apakah itu akan berhasil? Ina mengangguk di dalam hatinya dan mulai untuk mengubah temponya untuk menyerang Kiku.
Sayangnya, dan entah mengapa, hal ini malah membuat Kiku dapat mempermainkan Ina dengan lebih aktif lagi. Ketika Ina melepaskan tinju dengan tangan kanannya, seketika tangan kanan Kiku langsung menangkisnya dengan mudah, bahkan pemuda itu dengan sigap berpindah ke belakang tubuh Ina dan merangkul pinggang sang gadis serta mengajaknya untuk berputar.
Membuat Ina mengumpat dengan kesal berkali-kali yang dibalas dengan tawa oleh Kiku. Selalu seperti ini yang terjadi ketika ia menyerang Kiku, pemuda itu dengan tanpa usaha menangkisnya dan malah mengajaknya bermain. Ketika ia mencoba mencekiknya lagi, memukul, menendang, menggigit, mencakar, dan lainnya, semuanya akan sia-sia di hadapan Kiku. Bahkan seserius apapun Ina mencoba.
Ina sungguh kebingungan saat ini. Ini sungguh berbeda. Menjatuhkan Kiku sangatlah sulit! Padahal dulu saat ia melindungi Kirana dari sekitar enam orang kakak jahat bertubuh gemuk dan besar di panti asuhan terasa sangatlah mudah. Benar-benar sangat mudah. Lalu kenapa tidak dengan satu orang ini?! Ini gila! Ini benar-benar gila!
Ina menghentikan gerakannya, secara paksa Kiku pun menghentikan gerakannya. Pemuda itu tampak bingung dengan Ina yang menyerah, namun tetap tersenyum bagaikan mengejek keputus-asaan Ina. Ina mengumpat jengkel di dalam hati sampai ia melihat sebuah cahaya mobil di kejauhan yang menuju ke arah mereka. Segera ia memperkirakan timing untuk mendorong Kiku ke jalan raya agar orang gila yang satu ini enyah dari hadapannya.
"Ada apa, Ina-san? Apakah Ina-san lelah?" tanya Kiku tanpa mengetahui maksud Ina.
Kiku sempat tertegun saat memandang wajah Ina yang dipenuhi kemarahan. Kiku kira ia berhasil menyulut Ina sampai ke ubun-ubunnya. Semua serangan Ina, Kiku akui sangat berbahaya dan mematikan. Ia sempat menahan pukulan yang dilancarkan oleh Ina, dan ya, itu lebih bertenaga dan pastinya sakit daripada pukulan milik Mei ataupun Yong Soo, bahkan hampir mendekati pukulan milik Hong dan Yao.
Kiku tahu pasti itu akan menjatuhkan orang-orang awam, membuat bibir sobek, mata lembam, telinga berdengung ataupun pelipis berdarah. Pasti akan membuat orang lain ketakutan dan berpikir bahwa Ina adalah seorang petarung atau bahkan pembunuh profesional. Ditambah senyum licik yang cantik, komentar satir, tawa aneh bahkan jeritan histeris yang dari tadi terdengar–namun kini telah pudar karena terus menerus gagal-, semua orang akan mengira bahwa Ina adalah psikopat yang harus dipasung dan dikurung demi keselamatan bersama.
Namun tidak berguna bagi Kiku. Ia merasa ia ada di level yang lain daripada orang awam.
Serangan Ina bukan masalah baginya. Selama ia tetap fokus dan waspada akan gerakan Ina, ia akan bisa menghindar dari apapun serangan yang gadis itu lancarkan. Kiku sungguh bersyukur ketika mengetahui Ina tidak pernah mendapatkan pelajaran teknik bela diri, terlihat jelas dari buruknya koordinasi serangan yang dilancarkan oleh gadis itu. Sedangkan Ia menguasai Karate, Aikido, Judo, Kendo, Kyudo, bahkan sampai beberapa teknik Taijutsu yang kini berguna dengan sangat baik untuk 'mempermainkan' Ina. Membuatnya benar-benar berada di atas angin menghadapi seorang Ina.
Namun saat Ina tiba-tiba tersenyum licik. Kiku menyadari ada yang salah. Segera ia menghindar ke samping saat Ina mencoba mendorongnya sekuat tenaga. Hal ini menyebabkan tubuh Ina terjungkal ke depan.
-PIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIINNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNN-
Suara klakson mobil terdengar sangat keras di tengah hujan yang luar biasa deras ini. Sedangkan Ina yang masih belum menyadari apapun bertambah blank karena terlalu banyak informasi yang masuk dan terlewat. Gadis itu hanya bisa diam membeku di tempatnya dan memandangi mobil yang tidak bisa mengerem secara sempurna karena licinnya jalan akibat hujan.
"KUSO!"
-SHAAAAAAAAAAAAAATS-
Ina hanya bisa melihatnya dengan pandangan kosong ketika mobil itu melintas tepat di depannya dan hanya bisa memejamkan mata ketika jatuh terduduk dan terciprat air dari ban mobil yang lewat itu.
"SHINITAI DESU KA?! –Kau mau mati?!" erang Kiku penuh amarah dan ketidakpercayaan.
"U-uh..." Ina tidak bisa mengatakan sesuatu, ia masih syok karena hampir saja ia tertabrak oleh besi berkecepatan tinggi itu. Padahal seharusnya Kiku yang berada di tempatnya dan tertabrak atau paling tidak terserempet. Malah dirinya yang hampir terkena bahaya mematikan itu.
"AAAAAAAAAAAAAHHHHH!" jerit Ina histeris yang membuat Kiku kaget, "SIALAN! KAU HARUS MATI! SEMUANYA HARUS MATI! MATI!"
Kiku tak tahu apa masalahnya, namun Ina yang mulai kehilangan akalnya ini memberikannya kesempatan yang lebih besar untuk memasuki jiwa milik Ina.
"Aku tak akan membiarkannya..." ucap Kiku sembari merengkuh tubuh Ina kuat-kuat dan mengarahkan muka Ina untuk menoleh ke belakang serta mencium kening gadis yang masih syok itu dengan lembut.
"LEPASKAN! LEPASKAN AKU! KAU AKAN MENYESAL! KAU AKAN MATI! AKU PASTI AKAN MEMBUNUHMU!" serunya sembari meronta hebat, menendang-nendang dan menggelengkan kepalanya, membuat Kiku melepaskan kecupannya, namun tidak dengan pelukannya yang semakin kuat.
"SIAL! LEPASKAN AKU! UGH!" Ina mengaduh saat merasakan tubuhnya hampir remuk oleh Kiku.
Kiku tidak merespon teriakan-teriakan itu, ia hanya diam memperhatikan Ina. Ia harus melakukan ini, menetapkan dari awal bahwa sikap licik, kekerasan Ina dan ancamannya tidak berarti apapun bagi Kiku –bahkan itu adalah permainan baginya. Kiku terus diam, sampai akhirnya tenaga Ina benar-benar habis, benar-benar tak bergerak.
"Apakah Ina-san menyerah?" tanya Kiku dingin yang hanya dibalas oleh beberapa air mata yang jatuh, "Ina-san mengerti... Ina-san adalah penjaga Inesia paling akhir bukan? Bukankah bahaya jika Ina-san menyerah?"
Ina tahu hal itu. Ia sangat tahu. Tapi ia tidak bisa melakukan apa-apa, bahkan bergerak pun sulit ketika ia berada di dalam dekapan yang sangat kuat ini.
"Apakah ini berarti Ina-san tidak berguna sama sekali? Ina-san tidak bisa melindungi Inesia-san dan Pertiwi-san lagi dariku bukan?" ucap Kiku datar yang bagaikan menyiramkan air panas tepat ke seluruh tubuhnya yang dingin.
"Apa... yang... akan... kau... lakukan... pada... kami?" bisik Ina ketakutan.
Kiku tersenyum lembut dan kembali mengecup pelipis Ina, "Aku tak akan berbuat apapun... Aku tak akan membiarkan 'milikku' terluka, bahkan tergores sedikit pun... Aku akan melindungi 'milikku'... Tidak ada yang boleh dan bisa menyakitinya... Tidak ada boleh dan bisa untuk menyentuhnya..." ucap Kiku sembari membenarkan poni Ina yang acak-acakan, "Bahkan sekedar melirik 'milikku'..." lanjutnya sembari mengelus pipi tembam Ina.
"Jadi, Ina-san bisa tenang di dalam kekuasaanku..."
Ina merasakan jantungnya diremas dengan sangat kuat kali ini. Ia benar-benar kebingungan saat ini. Benar-benar tidak pernah menghadapi orang seperti Kiku sebelumnya. Belum pernah menghadapi orang yang tampak menyukai ketika ia datang. Belum pernah menghadapi orang yang mengatakan janji untuk peduli dan melindungi dirinya. Belum pernah menghadapi seseorang yang memperlakukannya dengan waras, apalagi menciumnya dengan sangat lembut seperti apa yang tengah Kiku lakukan sekarang ini. Dan yang pasti, belum pernah menghadapi orang yang bisa mengalahkannya dengan sangat mudah.
Teringat ia pada orang-orang terdahulu yang menanganinya. Semuanya akan mengatasi dirinya dengan pukulan, ikatan, pasungan, atau bahkan suntikan yang membuatnya lemas dan tak berdaya. Tapi orang ini menahannya begitu saja dengan memeluknya. Walaupun Ina merasa beberapa bagian tubuhnya sakit, namun ini adalah perlakuan terhalus yang pernah ia rasakan.
"Uh!" Ina mengerang ketika Kiku semakin gemas memeluk dan mencium pipinya, diperhatikannya dengan keheranan yang sangat luar biasa, kenapa pemuda ini bisa berubah begitu cepat?
Seingatnya tadi ia sedang marah-marah dan melampiaskan semuanya kepada Kirana. Ia tidak akan salah, lagi pula itu juga yang menjadi alasan kehadirannya di sini; untuk melindungi Kirana. Kemudian bahagia dan mengajaknya menari-nari yang jujur saja, membuat Ina jengkel setengah mati. Kemudian kini kembali emosi dan menggelap?
Jangan-jangan Kiku adalah pengidap Bipolar Syndrome*?!
-Duk!-
"Ugh!" erang Kiku saat merasakan sebuah pukulan di kepalanya, memaksanya untuk menoleh ke belakang. Pemuda itu mengerutkan kening, heran saat menemukan Hong dan Yong Soo yang berdiri dengan payung masing-masing.
"Dasar, gege... Dicariin ke mana-mana, tahunya pacaran di sini..." sungut Hong datar dan tidak percaya.
Ina mengerjap bingung kepada kedua pemuda yang ada di belakangnya ini dan semakin kebingungan ketika kedua orang itu bergidik ngeri bagaikan melihat sesuatu yang horor. Gadis itu baru menyadarinya sedetik kemudian; mereka sedang menatap mata Kiku. Persepsi itu langsung muncul begitu saja di otak Ina. Bahwa Kiku adalah orang yang sangat menyeramkan dan sangat rusak melebihi dirinya, bahkan Kiku mungkin bukan tandingan Ina.
Kiku sebanding dengan Inesia.
Ina meneguk ludahnya menyadari kenyataan ini. Antara takut dan berharap. Akan tetapi, Ina tidak mau bertaruh. Ia tidak seberani itu untuk bertaruh bahwa Kiku mungkin bisa menyelamatkan Inesia. Itu taruhan yang sangat besar dan Inesia terlalu kompleks untuk dimengerti.
"Kalian kira ini karena siapa?" tanya Kiku dengan nada yang sangat dingin dan membuat Yong Soo menciut.
"Kami bisa antarkan gege ke Hotel Kakek Tara..." ucap Hong setelah mengumpulkan nyalinya.
"Tidak... Kalian yang bawa barang-barang kami kemari!" seru Kiku tidak mau jatuh ke dalam perangkap mereka.
"Terserah..." jawab Hong tidak peduli.
-Hatsiiii...-
"Baikah..." Kiku mengalah dengan tidak rela, kalau bukan karena Ina yang bersin tadi, ia pasti sudah membanting sepupunya ini dan melakukan kekerasan agar Hong mau menurut.
*O*
"Akhirnya Nak Kiku datang..." sahut Kakek Tara girang saat menemukan Kiku dan Ina memasuki lobby hotel, sayangnya sapaan itu hanya dibalas dengan muka masam milik Kiku, "Yah... Barangmu ada di kamarku... Nak Hong... antarkan Nak Kiku dan Nak Nesia, yah?"
Hong hanya mengangguk kecil sembari menunggu Kiku dan Nesia yang tengah mengeringkan diri dengan handuk yang disediakan oleh bellboy hotel itu. Ia tidak ingin berbicara sama sekali karena takut menyulut mood labil Kiku. Hong segera memasuki lift saat mendapatkan sinyal "cepat tunjukkan saja jalannya, Nesia sudah kedinginan" dari tatapan mata Kiku.
"A-aku di sini saja ya, Kakek Tara?" ujar Yong Soo dengan wajah pucat.
"Loh? Memang kenapa Nak Yong Soo?"
"Hyung di tengah jalan sudah begitu menakutkan..." ucap Yong Soo memelas sembari melirik Kiku yang mulai memasuki lift, "Aku di sini saja ya?"
"Ya sudah... Pesanlah cokelat hangat atau apa... untuk Nak Hong juga..."
Yong Soo pun mengangguk riang dan berlari menuju kafe hotel.
*O*
Tugas Hong sebenarnya hanya satu; mengurung Kiku dan Nesia di dalam kamar Kakek Tara. Tidak kurang, tidak lebih. Tapi Hong kini tengah merasa jengkel hebat. Alasannya banyak;
Pertama karena Kiku sudah membuat Mei khawatir.
Kedua, karena Kiku membuat Mei bersedih dan takut.
Ketiga, karena Kiku membuat Mei bertengkar dengan seorang adik kelas hanya untuk membela urusannya.
Keempat, karena Kiku sudah membuatnya cemburu.
Kelima, karena Kiku sudah menghilang seenak jidatnya.
Keenam, karena Kiku sudah membuatnya cemas akan rencananya yang bisa-bisa gagal.
Ketujuh, karena Kiku terus-terusan memelototinya sepanjang perjalanan ke hotel dan mengancam hidupnya.
Kedelapan, karena Kiku masih saja memelototinya sepanjang perjalanan lift ini.
Kesembilan, karena Kiku mulai mengumpat dalam bahasa Jepang –Hong tidak tahu artinya apa, tapi Hong tahu itu pasti umpatan yang sangat kasar.
Kesepuluh, karena Kiku tidak menghargainya dan tidak mengucapkan kata 'Terimakasih' padanya ketika ia membukakan pintu kamar Kakek Tara yang berada di lantai 20 dan langsung pergi begitu saja untuk membuka keran air panas agar memenuhi bak mandi, kemudian sibuk mencari handuk serta sibuk mengeringkan Nesia, juga menenangkan Nesia yang mulai bersin-bersin dan batuk-batuk karena kedinginan.
Cukup.
Sepuluh alasan itu sudah cukup bagi Hong untuk menutup pintu kamar mandi dan menguncinya dari luar.
-DUG! DUG! DUG!-
"FUZAKENNAA! HONG! TEME NI KOROSHITE!" –jangan bercanda! Hong! Kau akan kubunuh! (sangat kasar)
Hong hanya diam memperhatikan gantungan kunci kamar mandi yang bergoyang-goyang karena kuncinya masih menggantung di pintu kamar mandi yang terus digedor keras. Ya, lebih baik ia biarkan saja menggantung agar Kiku tidak bisa membukanya menggunakan pin dan peniti dari dalam. Ia tidak menggubris apalagi khawatir sama sekali pada keadaan pintu yang terus digedor dengan tenaga luar biasa itu. Yah, Hong percaya, semonster-monsternya kekuatan Kiku, Hong yakin Kiku tidak akan berhasil menjebol pintu kamar mandi yang berbahan cukup tebal itu. Ditambah lagi, arah bukaannya adalah ke dalam kamar mandi dengan engsel di dalam juga, membuat Kiku tidak akan bisa mendobraknya keluar.
Hong tahu apa yang membuat Kiku begitu marah dan panik; malam ini ia terancam terkunci berdua begitu saja di kamar mandi bersama dengan Nesia, dengan keadaan basah, sedikit handuk dan tanpa baju ganti mengingat semua pakaian kering ada di kloset di belakang tempatnya berdiri sekarang. Akan tetapi, sekali lagi, memangnya ia peduli pada nasib sepupunya itu nanti malam?
Tidak.
Mungkin kakek Tara bermaksud menghadiahkan kamar VIP ini untuk Kiku dan Nesia, tapi Hong sendiri menilai kamar mandi sudah cukup bagi mereka. Terutama setelah Kiku membuatnya jengkel dengan sepuluh perkara tadi.
Masa bodoh dengan amarah Kakek Tara besok pagi. Toh ia sudah menjalankan misinya; mengunci Kiku dan Nesia.
Merasa jengah dan berisik karena gedoran-gedoran dan makian Kiku, Hong akhirnya keluar kamar dengan tampang datar dan inosen. Bagaikan tidak terjadi apapun. Bagaikan ia tidak seperti habis mengurung siapa pun di kamar mandi. Setelah ia menutup pintu kamar dan menguncinya dengan kartu RFid, barulah gedoran Kiku tidak terdengar lagi. Hong mendesahkan nafas lelah. Yah, semoga dengan ini Kiku bisa menenangkan diri serta berpikir dua kali ketika menghadapinya. Atau mungkin, setelah ini Hong harus lebih berhati-hati karena Hong sendiri yakin Kiku sudah bersumpah akan membunuhnya. Tapi itu masalah nanti. Sekarang biarkanlah ia menikmati waktunya untuk balas dendam dan menyiksa Kiku.
Dengan tampang datar, ia berjalan lurus menyusuri koridor sampai ke ujungnya. Ia menemukan sebuah pintu yang akan membawanya ke ruangan kecil di sana. Segera ia mengeluarkan kunci yang ia 'pinjam' dari seorang bellboy dan membuka ruangan yang diberi nama ruangan shaff itu. Hong segera masuk dan mencari tombol lampu. Setelah berhasil menyalakan lampu, terpampanglah semua yang ada di ruangan shaff itu, mulai dari pipa-pipa pembuangan air kotor, pipa air bersih, peralatan mekanik, dan utilitas lainnya.
Di sebelahnya, Hong melihat satu ruangan lagi yang merupakan ruang tujuannya. Segera ia buka pintu ruangan yang bertitelkan ruang panel itu. Kemudian Hong mulai membuka sebuah kotak yang berisikan berapa tombol dan sakelar. Dengan sedikit bersenandung riang, Hong mematikan salah satu sakelar yang ada di sana, sakelar yang bertuliskan A16 – 872.
Sakelar yang pasti akan membuat Kiku berteriak jengkel dan ngeri karena lampu dan AC di kamar hotelnya padam.
.
.
Oke. Pekerjaannya sudah selesai. Kini waktunya ia pulang dan menghabiskan malam yang indah serta romantis dengan Mei.
*O*
*Bipolar Syndrome : Kelainan atau gangguan mental yang menyerang kondisi psikis seseorang, ditandai dengan perubahan mood yang sangat cepat dan sangat ekstrem.
A/N:
Chappiiieeeeee 30!
Neth: Author! Keluarkan mereka berdua!
Author: Ahaha... Akhirnya bisa updet juga... Tapi aku nggak yakin dengan chapter ini... Kayaknya bahasanya susah... Dan OOC banget Kikunya...
Neth: Author! Mereka berdua masih kekurung!
Author: Ahahaha... Malah Kiku yang kayaknya psikopat ya... Ina-nya malah nggak terlalu... Habisnya aku merasakan ada yang ganjal dengan Ina dan jalan cerita berikutnya... Tapi yang terpenting dari karakter Ina tetap sama kok : Dorongan untuk membunuh...
Neth: THOOOOR! Mereka masih kekunci di dalam kamar mandi!
Author: Oke... Balas review! Pertama... Sabila Foster-san... Tidak apa-apa kok... :D Bebas aja untuk nge-review... :D Kirana nanti dulu ya move on-nya... Step by Step... Iya, pas jongkok itu, sebenarnya agak nggak yakin... Tapi syukurlah kalau bisa bikin gigit jari... :D Garuda nanti dulu... Ini biar giliran alter-alter lain dulu yang keluar, ya... :D Nanti kusampaikan kalau Kiku sekseh sekali pas bad mood... Pas dia berhasil keluar...
Neth: Woi –thor! Mereka jangan-jangan lagi ngapa-ngapain di dalam!
Author: Ye... Nggak tahu... yang bawa kartu RFid-nya kan si Hong...
Neth: HOOOOOOOOOOOONG! *kabur nyari Hong
Author: Oke Next! Veria-313-san... Sama-sama #bow Haqq itu dari Brunei, Lee itu dari Singapura... :D Maaf itu namanya nggak kreatif banget, waktu itu muncul begitu saja sih... :P Oke... Idenya biar aku tampung dan pertimbangkan kemudian semedikan dan coba masukkan ya :D :D Tapi kalau jadi guru berarti dia tua banget ya? Allastor, Ludwig, Antonio bahkan Yao aja jadi murid...
.
.
Jangan-jangan Neth lebih tua daripada Yao?! Gila... Pedofil level akut memang ya dia itu... #geleng2gakpercaya #bercanda #plak
Author: Yah... Nanti coba aku pikirkan deh... Mungkin teman Lestari pas SMP dulu atau bagaimana... Hahaha... *wink*
.
Author: Selanjutnya... kat. mini. 718-san, maaf kalau semakin rumit ya... T_T ini soalnya lagi membangun klimaks... :D :D Kalau ada yang nggak ngerti, tanyain aja di review... Ntar penjelasannya kalau nggak ketampung di cerita, akan dijawab di Author's Note... gimana? *wink* Cerita ini memang dibuat agar agak membingungkan (dan penasaran) kok, seperti apa yang dituliskan di summary... :P Terimakasih sudah mau mereview :D :D
Neth: Aku dapet kuncinya! Aku dapet! Aku dapet! *mencoba membuka pintu* Kenapa tidak bisa?!
Author: Lah, kan listriknya mati Neth?
Neth: Sialan!
Author: *geleng2* Oke... Kemudian... qwerty-chan... Maaf ya... nggak bisa lebih cepat daripada ini... Soalnya banyak sekali tugas negara yang harus dirampungkan... T_T" Tapi Author akan tetap berusaha untuk updet secepatnya... Ratenya T+++++++++++ saja ya... Soalnya Author masih polos... #plaaaaaaak #apaiya? Oke... Ganbarimasu :D
Neth: *dateng, main lewat aja* HOOOONG! KUNCI RUANGAN SHAAFF!
Author: Ya ampun, Neth... Kemudian... Tomo-san... Maaf karena updetnya lama gini ya... Soalnya waktunya yang emang susah... Apa? Fic-nya kurang panjang? Perasaan ini udah panjang banget... Coba liat Fic Hetalia lain pakai yang Bahasa Indonesia, kurasa yang chapternya sampai 30an baru ini... T_T" Ya, bukan problem juga sih pakai nama orang nyasar, hanya saja... Masa nyasar sih... udah nggak dong ya? Hehehehe... #plaaak Abang Ned kayaknya masih 50:50 keluarnya... Adegan 'ehem' kayaknya banyak deh... yang belum tinggal adegan 'uhuk-uhuk-uhuk'... #halahiningomongapa KuroXNesia? Kurasa tadi ada di atas... :D Adegan Kiku cemburu? Yah... mungkin akan diperbanyak meskipun Kiku nanti semakin OOC... Karena kupikir Kiku itu karakter aslinya (yang Papzki Hide inginkan) itu adalah karakter yang kalem... Tapi nggak papa sih... FF ini kan ajang penistaan #HUAHAHAHA! Enggak Didiscontinued kok... Cuma telat updet aja biasanya... :P
Neth: *lari tergopoh2 ke ruang shaff*
Author: Kemudian... nanameRukicchi-san... Uweeeh :D Terimakasih sudah ngereview :D :D :D Garuda ya... Disimpen dulu, yah... Nanti kalau sudah waktunya bakalan muncul kok :D Oke :D Ganbarimasu :D
Neth: Udah nyala! *nyanyiin lagu We Are The Champion
Author: Halah... Bahagianya... Selanjutnya... Manusia Bumi-san... Iya... Kiku menggelap... Entahlah, tapi sepertinya Kiku bukan tipikal Yandere... hanya Do-S (sadistic)... #malahtambahparah Wah... Author tidak bisa menjawab apakah itu susah atau tidak... Tergantung orangnya, sih... Yang Author tahu sih kalau –san itu sampai hilang berarti keduanya itu sudah sangat dekat sekali banget... :D Mungkin Kikunya saja yang lebay... Hahahaha :D
Neth: *membuka pintu kamar dan kamar mandi* Nesia!
Nesia: Jangan dekat-dekat!
Kiku: Hgh... Hong! *bersungut-sungut*
Author: Ah! Kiku! Kebetulan nih!
Kiku: Apa?! *tatapan kejam*
Author: Hubunganmu didukung loh... :D Terus kata berita, Pak SBY meminta Pak Jokowi untuk menjaga hubungan Indonesia-Jepang... Bagaimana tanggapanmu?
Kiku: *menatap diskriminasi* Tidak ada... yang pasti 2016 aku akan menguasai pasar investasi Indonesia dan Nesia akan menjadi milikku... *pergimemburuHong*
Nesia: ... Gawat! Gawat! Aku harus bagaimana ini?!
Author: Ya sudah... Minta Bang Ivan atau Bang Yao atau saingan Kiku saat ini; si Lee untuk perbanyak investasi juga kali, Nes... Biar kau tidak dikuasai dan dimonopoli sendiri oleh Kiku... *ngelirik Neth* Eramu berakhir Neth... Sekarang gantian Kiku yang main monopoli... Lu sih... Main mutung-mutungan nggak mau mengakui kemerdekaan Nesia...
Neth: T-t-t-ta-ta-tapi kan! Tapi...
Author: Yah... itu sih biarin jadi urusan pemerintah saja... Sekian dulu ya... Mohon maaf apabila ada kesalahan, atau karena telat updet... Kalau ada yang perlu dibenerin, atau nggak jelas, atau terlalu OOC, atau kurang berkenan, bilang saja... Nanti Author edit... :D Terimakasih atas dukungannya :D
Terakhir, mohon kritik, saran dan reviewnya yaaaa! :D :D :D #lambai2tangan
