A / N:
Author: Ehem... Oke... Part ini... kayaknya rate M... Part ini bisa di skip bagi yang merasa tidak menginginkannya... Rate keseluruhan juga mungkin kuganti M setelah dua chapter berikutnya, cari aman saja... Tapi nggak ada *piiip*... Maaf bagi yang sudah mengharapkan, tapi Author tidak sanggup menginjakkan kaki di areal itu...
Nesia: WHUAT?!
Kiku: A-author-san bercanda kan...
Author: Tapi ini juga sudah lebih dari areal T kayaknya...
Nesia: A-aku nggak mau melakukan... melakukan... melakukan hal-hal yang aneh! Ya kan, Kiku?!
Kiku: H-hai! Seikai desu! – Y-ya! Benar!
Author: Apa benar, Kiku? *hela nafas* Nggak ada agenda 'membuat anak' kok... hanya apa itu namanya? CPR? Pertolongan Pertama?
Kiku: Iie... iie... iie... Author-san... Ini sudah keterlaluan... Karakterku nanti jadi OOC sekali!
Nesia: Itu benar!
Author: Kalau kau nggak mau Kiku, aku telepon Kuro... bentar mana nomor teleponnya, ya...
Nesia: Jangan bercanda! Lagipula kalau bisa di skip kenapa dipublish?!
Author: Aku mau menyiksa Nether... Itu aja, simpel... *inosen
Nesia: Padahal yang kau mau siksa itu Nether! Kenapa malah aku yang jadi korban!? Apa kesalahanku sebenarnya padamu?! Kau nggak sayang padaku –thor?
Author: Tentu saja sayang... hanya saja...
Nesia: Hanya saja?
Author: *ngelihat ke Nesia *Ngelihat ke Kiku
Nesia: Uh...
Kiku: ...
Author: *tersenyum lembut dan keibuan* Aku hanya ingin kau bahagia, anakku... Move on-lah...
.
.
.
*Author dilarikan ke IGD
*O*
Kiku menyerah. Benar-benar menyerah setelah sekitar lima menit menggedor-gedor pintu kamar mandi itu. Tidak akan ada jawaban, Hong tidak akan membukakan pintu ini. Bahkan kemungkinan besar, pemuda yang sangat ingin Kiku santet itu telah pergi, meninggalkannya dan Nesia di kamar mandi yang sangat gelap ini.
Sangat gelap tentu saja. Tidak ada bouvenlight, ventilasi, apalagi jendela karena sistem penghawaannya menggunakan blower, dan Kiku tidak yakin blower bisa memasukkan cahaya, terutama saat listrik dimatikan seperti ini sehingga blower itu pun tidak menyala dan tak berguna. Apa yang bisa blower itu lakukan kini hanyalah memperparah keadaan ruangan kamar mandi ini, di mana, saat blower tersebut tidak menyala, maka tidak akan ada pergantian udara. Hanya membuat Kiku semakin panik saja.
Kiku menghela nafas lelah. Ia merasa sangat bodoh, lebih bodoh bahkan dari seekor keledai. Maksudnya, seekor keledai saja tidak akan jatuh ke lubang yang sama dua kali. Sedangkan Kiku terkunci dua kali. Ia mengulangi kesalahan kemarin –kesalahan karena perhatiannya terlalu tertuju pada Nesia, tidak pada pihak ketiga yang memegang kunci yang membuat dirinya dan Nesia terkunci (lagi) di dalam ruangan.
Bahkan kali ini ia terkunci di kamar mandi, lubang yang bahkan lebih dalam. Apakah itu artinya ia telah menjadi makhluk yang dua kali lipat lebih bodoh dari seekor keledai?
Hgh... Apa yang harus aku lakukan? Bagaimana dengan Ina-san? Kenapa sunyi sekali?
"Ina-san? Ina-san? Daijoubu desu ka?" ucap Kiku sembari mulai meraba sekelilingnya, "Ina-san... Henjishite kudasai? – Ina, tolong jawab aku..."
Namun tidak ada jawaban sama sekali. Apa yang terdengar di telinga Kiku hanyalah suara air panas yang masih mengalir di bak mandi. Hanya itu saja, dan kondisi ini membuat Kiku semakin khawatir.
"Ina-san..." panggil Kiku mulai panik sembari terus meraba sekelilingnya dan mencoba berjalan mengikuti suara air karena seingat Kiku, terakhir kali ia melihat Ina, gadis itu berdiri di sekitar Bath-tub, menunggu air penuh dan bersiap memasukinya.
Ina-san... Apakah dia... Apakah dia pingsan? Kenapa tidak ada jawaban... Atau jangan-jangan, Ina-san akan menyerangku dengan memanfaatkan kondisi gelap ini?
Kiku yang tadinya panik dan khawatir mulai waspada. Kemungkinan itu ada, mengingat Ina adalah Alter yang sangat berbahaya. Kiku pun menaikkan tingkat kewaspadaan dan penjagaan dirinya sembari terus melangkah mendekati Bath tub.
Kemungkinan Ina-san akan menyerang memang tinggi... Tapi, bahkan aku sendiri pun tidak bisa melihat apa-apa... Bagaimana Ina-san akan menyerangku? Dari mana? Dari mana?
Kiku terus berusaha menebak keberadaan Ina. Pemuda itu terus berkonsentrasi dan menutup matanya untuk mencoba membaca hawa keberadaan Ina.
-Tep...-
"Huh?" Kiku bergumam heran saat kakinya seperti menyentuh sesuatu yang dingin.
Apa ini?
Kiku mulai menyentuhkan kakinya lagi dan lagi di benda aneh itu. Ia berpikir keras dan berusaha meraba sekelilingnya lagi. Saat meraba itulah tangan Kiku akhirnya menemukan Bath tub yang menjadi tempat tujuannya. Airnya yang panas terasa hangat di jemari Kiku yang kedinginan. Bath tub tersebut telah setengah penuh, Ina bisa masuk sekarang untuk menghangatkan dirinya.
Tapi masalahnya, di mana gadis itu berada sekarang?!
"Ina-san? Ina-san?"
Apakah Ina sudah masuk ke dalam Bath tub? Kiku mulai meraba air Bath tub, mencari makhluk yang kemungkinan besar telah masuk ke dalamnya. Saat kata 'Ina mungkin pingsan' melintas di pikiran Kiku, dirinya mulai panik dan memasukkan tangannya lebih dalam. Takut jika Ina ternyata tenggelam.
Tapi ia tidak menemukan apapun, dan tidak mungkin tenggelam di Bath tub yang isinya hanya setengahnya bukan?
"Ina-san... Asobu dewa arimasen... –Jangan main-main..." seru Kiku mulai panik.
Kiku berpikir keras. Di mana sebenarnya Ina berada?! Kiku turun dari Bath tub, pada saat itulah ia merasakan kakinya menyentuh sesuatu yang dingin lagi saat menapakannya kakinya di lantai kamar mandi.
Moushikashite... –Apa mungkin...
"Ina-san? Ina-san?" panggil Kiku hati-hati saat ia berjongkok dan tangannya mencari benda aneh yang sedari tadi menyandung kakinya itu, "Ina-san! Nee!" serunya saat menyentuh sebuah –yang Kiku kira- tubuh yang sangat dingin.
Yabai! Apakah... Apakah Ina-san hipotermia?
"Ina-san! Kikoemasu ka? Kau bisa mendengarku?! Ina-san! Jangan kehilangan kesadaranmu!" seru Kiku panik karena merasakan tubuh Ina yang kaku. Kiku mencoba mencari di mana kepala milik Ina berada, "Nee! Ina-san! Henjishite!"
Ini sungguh gawat, maksud Kiku, benar-benar gawat! Kalau kau terkena hipotermia dan kehilangan kesadaranmu, sama saja kau sedang berhadapan dan bertatapan mata dengan malaikat pencabut nyawa. Singkatnya, sekarat.
Kuso! Nanimo mitenai! –Sial! Tidak terlihat apapun!
"Ina-san?!" seru Kiku saat tangannya merasakan helai rambut panjang, "Ina-san?!"
HETALIA AXIS POWERS © HIDEKAZU HIMARUYA
In
- ALTER EGO –
LittleOrchids045
"Ini kartunya..." ucap Hong datar.
"Ah... Terimakasih, nak Hong..." balas Kakek Tara sembari tersenyum simpul, "Duduklah..."
"Tidak... Aku ingin langsung kembali..." ucap Hong datar.
"Ayolah... Hujan masih deras..."
"Hyuung! Mau cokelat panas?!" tawar Yong Soo yang baru saja datang dan membawa dua gelas cokelat panas, "Dingin sekali, kan, da ze? Padahal tadi siang seperti oven begitu..."
"Umnh..."
"Dan sayang cokelat panasnya, kan?" imbuh Kakek Tara lagi.
Hong hanya menghela nafas sembari menerima cokelat panas dan duduk di hadapan kakek Tara. Inginnya ia bisa langsung pulang dan menemui Mei, tapi apa mau dikata? Selama Yong Soo masih menyeruput cokelat panas itu pelan-pelan, ia tidak akan punya alasan untuk menyeret saudara itu pergi juga.
"Apakah tadi sulit?" tanya kakek Tara.
"Tidak... Tidak sama sekali... Gege terlalu fokus pada Nesia..." jawab Hong datar.
"Yah... Nak Nesia memang terlihat sangat pucat dan kedinginan tadi..." ucap kakek Tara.
"Sepertinya mereka bermain terlalu lama di bawah hujan..." gumam Hong sembari memutar bola matanya.
"Hahaha... dasar mereka itu... Tapi kalau mereka sudah baikkan seperti itu maka tidak ada masalah..." imbuh kakek Tara, "Sedang apa ya mereka sekarang? Mungkin sedang mandi bareng?"
"H-heeee?!" sontak muka Yong Soo memerah malu.
"Yang penting mereka tidak menggagu Mei lagi..." bisik Hong dingin sebelum menyeruput cokelat panasnya lagi.
*O*
"Ina-san! Ina-san!" panggil Kiku panik saat jarinya menyentuh pipi Ina. Ditepuk-tepuknya pipi Ina dengan agak keras, berharap kesadaran Ina semakin tinggi.
Iie! Ini tidak cukup... Dou suru desu ka?!
Kiku tidak ahli dalam menghadapi masalah seperti ini, maksudnya, Ina adalah manusia pertama yang mengalami hipotermia di hadapannya! Tidak ada orang lain juga yang menemaninya dan mengatakan harus berbuat apa. Apa yang Kiku tahu tentang Hipotermia adalah kondisi suhu tubuh yang menurun dan berada di bawah angka 35 derajat celsius –dan ia harus membuat suhu tubuh Ina naik sekarang tanpa memandikannya dengan air panas!
Kenapa dan demi apa ia tidak boleh memandikan Ina dengan air panas di saat genting seperti ini! Air panas melimpah ruah di sampingnya dan ia tidak boleh memakainya!
Tetapi untungnya uap panas dari air panas itu kini telah membuat suhu ruangan menjadi panas dan syukurlah blower yang sedari tadi Kiku maki-maki tidak menyala serta tidak menghapus kondisi hangat dan lembab ruangan ini.
Kiku mengumpat sangat keras dalam hati saat merasakan nafas dan denyut nadi lambat Nesia mulai menghilang. Tanpa pikir panjang –dan memang tidak sempat untuk berpikir panjang, Kiku mengangkat leher Ina dan membuatnya lurus sehingga pernafasan buatan yang diberikannya bisa mencapai paru-paru gadis itu. Ia melakukan dua kali nafas buatan sebelum melakukan kompresi jantung.
Ina-san!
Kiku terus mengawasi Ina yang mulai bernafas dengan sangat lamban sembari terus memanggil-manggil namanya agar kesadaran Ina tidak pudar sepenuhnya. Kiku tahu ia tidak boleh berhenti di sini. Hal yang paling krusial sekarang adalah menghangatkan tubuh Ina.
Menghangatkan... Tubuh...
.
.
.
GAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAHHHHHHH!
Kiku berteriak histeris di dalam hati saat jawaban bagaimana cara menghangatkan tubuh muncul di dalam kepalanya. Kembali ia menyumpah-serapahi pikirannya yang sudah terlalu banyak terkontaminasi oleh shoujo manga. Tetapi, memangnya pilihan apa yang Kiku miliki? Ia hanya punya dua; membiarkan Nesia mati, atau melakukan hal yang sangat...
Ugh...
Ini gila. Ini sangat amat teramat gila! Kiku kira acara;
Camp musim panas bersama ataupun tidak bersama rombongan sekolah atau teman, kemudian secara tidak sengaja terjadi kecelakaan bodoh; entah itu tersesat, salah satu teman menghilang kemudian berpencar mencari, terdampar di pulau tak berpenghuni karena entah kenapa terseret arus pantai, terjebak di hutan kemudian menemukan goa, terjebak di dalam gudang, atau lainnya yang membuat dua tokoh utama harus bersama-sama mempertahankan diri sampai teman lainnya atau bantuan datang, dan selagi menunggu itu akan terbangun ikatan di antara kedua tokoh melalui saling menghangatkan dan menjaga
hanyalah khayalan tingkat tinggi yang sangat klise di dalam sebuah fiksi bernama shoujo manga. Kiku tidak pernah membayangkan dan memperkirakan akan ada hari di mana posisinya menjadi seperti karakter utama manga-manga yang dibaca oleh adiknya itu!
Apakah ini yang dinamakan 'kutukan survival musim panas dan liburan dalam kisah romance Jepang'?! Kenapa juga Kiku harus melewati tahapan bodoh ini?! Apakah karena dia berkewarganegaraan Jepang?!
Oke, ini bukanlah sebuah kecelakaan bodoh yang membuat mereka terkurung dan harus melakukan survival. Ini semua terjadi karena konspirasi Kakek Tara, Hong dan Yong Soo! Lagipula PEMBEBASAN –bukan bantuan, tidak akan datang sampai besok!
Sayangnya, manga adalah manga, dan kenyataan adalah kenyataan. Kiku tidak memiliki pilihan lain jika tidak ingin Nesia mati. Kiku menepukkan kedua tangannya sekali dan meminta maaf sebesar-besarnya.
Hountou ni sumimasen! Nesia-san! Nesia-san! Pertiwi-san! Ina-san! Kirana-san! Nesia sanban-san! Kartika-san! Lestari-san! Inesia-san!
Segera ia meraba, mencari kerah baju Ina. Kiku tidak peduli lagi pada baju basah yang akhirnya ia koyak dan robek itu demi mempercepat pertolongan darurat pada Ina. Kiku berusaha untuk tetap fokus sembari mulai melepas seluruh bajunya yang basah dan mencari beberapa lembar handuk yang seingatnya dan seharusnya disediakan di sekitar Bath tub untuk mengeringkan seluruh tubuhnya di dalam kegelapan itu. Kiku juga melakukan gerakan-gerakan pemanasan yang kiranya bisa membuat suhu tubuhnya sendiri naik.
Sulit tentu saja, Kiku harus cepat-cepat membuat keadaan tubuhnya kering dan hangat sebelum menghangatkan tubuh Ina. Untungnya suhu tubuhnya telah lumayan naik karena marah-marah, mencoba mendobrak pintu berkali-kali, memasukkan tangannya di Bath tub penuh air panas, suhu ruangan yang menghangat dan panik. Tapi belum cukup hangat karena tadi ia masih memakai pakaian basahnya. Ia juga harus melakukan semua ini sembari tetap mengawasi nafas lambat yang sangat mengkhawatirkan milik Ina yang lagi-lagi tak terasa.
Kuso!
Kiku kembali melakukan CPR sampai nafas Ina yang lambat itu kembali dan mulai berfungsi lagi. Setelah itu ia mempercepat acara mengerikan tubuhnya karena kondisi Ina yang semakin memburuk. Setelah kering, Kiku kembali merogoh handuk lain. Ia menemukan satu; handuk bekas yang tadi ia gunakan untuk mengeringkan rambut Ina. Dengan sangat perlahan sekali, Kiku mengangkat tubuh Ina yang kaku dan dingin dengan sangat hati-hati sembari terus berusaha memanggil nama Ina dan mulai melepas seluruh baju basah yang gadis itu kenakan. Kiku membungkus tubuh Ina dengan handuk sisa itu dan mulai mengeringkan tubuh gadis itu. Ia harus mengeringkan seluruh tubuh Ina, juga rambut basahnya yang kini Kiku gelung dan bungkus juga dengan handuk yang telah ia pakai untuk mengeringkan tubuh Ina.
Seharusnya tidak boleh, seharusnya ia menggunakan handuk kering untuk melakukan semua ini, tapi apa daya, tidak ada fasilitas semewah itu di sini.
Kiku mengambil handuk yang ia pakai sendiri tadi dan menggelarnya di lantai. Kemudian, pemuda itu mengangkat dan memindahkan tubuh dingin Ina ke atas handuk itu. Kiku sedikit meremang saat kulit lengannya menyentuh kulit punggung Ina yang dingin. Namun ia harus tetap fokus, karena bagian selanjutnya adalah bagian terpenting, terabsurd dan termengerikan dalam sejarah kehidupannya. Setelah ia menarik nafas panjang sebanyak dua kali, ia berpindah posisi coretmenggerayangicoret ke atas tubuh Ina.
Ia meletakkan tangannya di bawah leher gadis itu agar saluran nafasnya tetap terbuka serta di bawah pinggang mungil milik Ina. Menarik nafas panjang lagi, Kiku menurunkan tubuhnya sehingga menindih dan menjepit tubuh mungil yang sangat dingin di bawahnya itu.
Jangan berpikir apapun... Jangan merasakan apapun...
Pemuda itu terus menerus menyugesti dirinya sendiri dalam hati. Ini adalah saat-saat paling mengerikan dan pastinya akan selalu menghantui hari-harinya setelah ini sebagai sejarah kehidupan yang mustahil ia lupakan. Cukup sulit untuk fokus, maksud Kiku, kau berpelukan erat dengan orang yang kau sukai tanpa memakai baju.
Selembar kain pun tidak.
Iie... Iie... Jangan ingat hal itu! Jangan ingat hal itu! Ini keadaan darurat! Demi apapun! Nesia-san sedang sekarat!
Kiku menindihnya, memeluknya erat, menghirup aroma lezat dan manisnya, merasakan halus dan lembutnya kulit serta–...
IIIIEEEEEEEEEEEEEE!
#QuotesOfTheDay: WOOOI! AUTHOR-SAN! NARASINYA! –Kiku
Kiku terus (mencoba dan berusaha sangat keras untuk) waspada serta mengawasi nafas Ina, memanggil-manggil namanya dan berdoa agar tubuh yang sudah kaku dan dingin ini tidak kehilangan nyawanya.
*O*
Hangat...
Inesia mengedipkan matanya perlahan. Kesadarannya yang tadi hilang telah berangsur kembali. Namun demikian, ia hanya bisa menatap keadaan di sekelilingnya. Ia masih berada di dalam ruangan pribadi miliknya yang gelap, masih mengapung di dalam gelembung pikiran di jiwanya yang paling dasar.
Tidak perlu ada yang ditakutkan, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Ia baik-baik saja.
Meskipun demikian, ia merasa cukup kesal pada alter-alter yang ada 'di atas'. Inesia tahu ini memang harga yang harus ia bayar ketika mempercayakan tubuhnya pada 'diri' lain, ketika ia mengambil keputusan untuk beristirahat sejenak dari mengawasi. Namun demikian, Inesia tak berhenti bertanya-tanya; Apa yang sebenarnya bocah-bocah itu lakukan sampai ia bisa ikut kehilangan kesadaran dan tidak bisa bangun seperti tadi?!
Inesia menoleh, seketika ruangan gelap itu berubah menjadi terang dan memperlihatkan apa yang telah dilihat oleh kepribadian lain.
Jadi... Kirana menemukan Aussy... dan...
Inesia tersenyum tipis saat melihat memori bagaimana Kiku memperlakukan Kirana di lobby itu dan kegiatan menggelikan apa yang mereka lakukan di sana. Namun setelah itu, Inesia mengerutkan alisnya, mukanya pun memerah, antara malu dan marah atas sikap Kiku pada Kirana di Halte itu.
Apa yang sebenarnya pemuda itu pikirkan?!
Inesia tidak habis pikir, selama ini ia selalu mengawasi pemuda bernama Kiku ini dan menganugerahi Kiku predikat istimewa sebagai makhluk paling labil di seluruh jagat raya yang pernah ia kenal. Inesia tidak tahu di kategori mana ia akan memasukkan Kiku. Dengan kelakuannya yang terkesan kaku, lambat, lemot, enggan, namun juga bisa menjadi sangat kasar, keras kepala, menjengkelkan, kejam dan licik seperti itu, Inesia pasti akan memasukkan Kiku dalam kategori penjahat kelas paus dan harus ia hindari dengan cara apapun.
Tidak stabil. Sangat amat tidak stabil, sangat amat tidak menenangkan, sangat amat tidak baik.
Akan tetapi, dengan kepedulian, perhatian, kasih sayang, suara lembut dan senyum hangat itu...
.
.
.
Oke, Absurd. Inesia sama sekali tidak tahu harus mengambil keputusan apa untuk pemuda yang membuat semua rencananya berantakan itu.
Inesia kembali mengerutkan alisnya saat menyadari Kirana memanggil Ina. Inesia tidak sadar bahwa ia sangat khawatir sampai-sampai ia dengan panik menyentuh 'gelembung pikiran' yang masih mengurungnya. Tetapi ternyata kekhawatirannya sia-sia karena apa yang diperlihatkan kepadanya bukanlah pemandangan tragis.
Hgh... Garuda... Tak perlu memanggilku 'gadis sialan' juga... Memangnya aku tidak butuh istirahat?! Apa yang dilakukan Ina baru kuketahui sekarang... Lagipula ini tidak berakhir tragedi...
Inesia tersenyum tipis saat ia diperlihatkan bagaimana tubuhnya diangkat dan diputar-putar oleh Kiku di udara. Apa yang terlihat adalah wajah ceria Kiku yang dengan bangga membuat Ina kelimpungan.
Bodoh... Kau tidak perlu melakukan hal itu...
Inesia kembali memperhatikan apa yang telah dialami oleh Ina, juga pikiran yang mengatakan bahwa Kiku mungkin mengidap Bipolar Syndrome dan mungkin setara dengannya serta mungkin bisa menyelamatkan dirinya.
Jadi... Ina juga sudah mulai mempercayainya ya?
Inesia mulai menghitung, berapa banyak alter yang telah percaya pada 'keabsurdan' di hadapannya ini. Pertiwi ada di list pertama. Garuda, walaupun diri itu tidak mau mengakuinya, ada di peringkat ke dua. Kini Ina juga mulai memikirkan untuk percaya pada Kiku, mungkin karena Kiku berhasil mengalahkan Ina dengan mudah? Entahlah.
Ina no.2, dia percaya dan kini dengan setia menunggu untuk Kiku panggil. Inesia menghela nafas lelah. Ia berdoa semoga tidak berakhir menjadi tragedi lagi. Seluruh Alternya sudah terlalu banyak menunggu dan berharap kepada banyak orang, termasuk dirinya...
Kartika, yah, gadis itu hanya ingin ada seseorang yang mampu mengerti dirinya, berbagi dunia dengannya, seseorang yang percaya padanya dan memberikan kasih sayang yang nyata. Perasaan yang sebenarnya selalu Inesia rasakan, namun belum bisa tersalurkan.
Karena yang berbagi dunia dengan Kiku hanyalah Kartika, bukan dirinya –dan entah mengapa kenyataan ini semakin membuatnya merasa kesepian.
Inesia yakin, Kiku tak akan mampu berbagi dunia dengan dirinya. Sialnya, keyakinan ini juga yang menjadi sebab Kartika masih rutin mengganggu hidupnya yang tenang di dasar jiwa ini dengan permohonan agar dirinya menemui Kiku sehingga ia bisa berbagi, dan Kartika bisa pergi.
Tapi tidak, ia tidak yakin Kiku bisa dan ia sendiri tidak merasa pantas.
Kemudian, Nesia. Gadis yang keluar dari aturan dan rencana yang ia buat. Yah, semua ini karena salah Kiku. Jika pemuda itu tidak datang pada Nesia, jika pemuda itu tidak penasaran, jika pemuda itu tidak keras kepala, jika pemuda itu tidak peduli, semuanya pasti akan berjalan sempurna.
Namun ini juga salah Nesia. Inesia tidak tahu di bagian mana gerakan Nesia yang menarik perhatian Kiku, tapi nyatanya Kiku menjadi tertarik dan sekarang sedang mengacak-acak tatanan yang telah susah payah ia buat selama bertahun-tahun.
Terakhir, Nesia no.3. Nama yang membuat Inesia pusing karena "Nesia no.3" tetap mempertahankan nama pemberian Kiku itu. Padahal Inesia sudah membujuknya berkali-kali, sayang, ia selalu ditolak. Terakhir kali Inesia membujuk, setidaknya gunakan no.2, seperti Ina dan Ina no.2, tapi tetap saja ditolak.
Sudahlah, Inesia menyerah. Lagipula apalah arti sebuah nama, sedangkan mereka satu orang yang sama?
Tujuh. Wow. Kurang beberapa lagi sebelum kehidupan tenteram Inesia terusik?
Heh... Boleh juga... padahal baru beberapa bulan saja, namun sudah sampai seperti ini...
Perhatian Inesia kembali pada ingatan terakhir sebelum Ina pingsan. Ruangan yang Inesia lihat itu seperti kamar mandi, namun tiba-tiba semuanya gelap. Ia semakin merasakan kedinginan, linglung, bingung, mengantuk, kesulitan bergerak, dan kemudian semuanya menghilang.
Dan kesadaran semua alter pun turut menghilang.
Ya ampun, Ina... Tidak perlu sampai kena hipotermia juga kali...
Inesia menghela nafas lelah saat mengetahui tidak ada kepribadian lain yang kini mengontrol tubuhnya.
.
.
.
.
Mungkin... Mungkin aku akan mengingatkan pemuda ini untuk memanggil Ina no. 2...
*O*
"Ina-san... kumohon... tetaplah bersamaku... Ina-san..."
-Degh...-
Suara Kiku terus berbisik di telinga Inesia saat gadis itu mulai berangsur membuka matanya. Namun sama saja, ruangan ini terlalu gelap sehingga tidak ada perbedaan berarti antara menutup mata ataupun membukanya.
"Ina-san..."
Ina? Kenapa orang ini memanggil-manggil Ina? Selain itu...
Inesia mulai mengerutkan keningnya saat ia merasakan banyak hal yang ganjil; ia dipeluk dengan sangat erat, ia merasakan tangan Kiku di leher dan punggungnya, ia juga bisa merasakan kaki Kiku di kakinya, ia merasakan nafas Kiku di lehernya.
Ia bisa merasakan Kiku di mana-mana.
Dari semua hal aneh tersebut yang paling aneh adalah ia bisa merasakan kulitnya menyentuh langsung kulit Kiku tanpa... sekat dan penghalang...
A-apakah aku...
Inesia mulai mencoba menggerakkan tangannya yang kaku. Namun tidak bisa, ia tidak memiliki tenaga apapun.
Ini gila... Ini gila... Ini gila! Apa yang terjadi denganku?! Kenapa aku tidak memakai baju... satupun dan... dan... dan orang ini memeluk-gyaaaaaaaaaaaaaah!
Ina menutup kembali matanya, mencoba untuk menenangkan diri dan menampik seluruh fakta yang tengah terjadi.
Tidak... tidak... tidak... tidak... ini tidak boleh terjadi! Dia boleh mengidap Bipolar Syndrome, dia boleh mengidap "labil"-litas tingkat dewa, dia boleh mengidap penyakit kejiwaan lainnya, tapi tidak dengan Parafilia* apalagi Necrofilia**!
"Uh..." Inesia menggeram parau, mencoba untuk menarik perhatian Kiku.
"Huh?! I-ina-san?! Ina-san?! Jawablah aku! Kumohon!" seru Kiku penuh harap saat terdengar erangan dari mulut Ina.
"U-ukh..."
Itu adalah jawaban pertama sejak dua jam yang lalu, jawaban itu kini membuat Kiku hampir menangis lega dan terharu. Inesia tidak menjawab apapun selain itu, ia tidak bisa. Ia hanya bisa membeku dan ketakutan karena kesadarannya semakin kuat, terutama tentang masalah 'ia tidak menemukan apapun sebagai penutup tubuhnya'.
"I-ina-san? Maaf, a-aku harus menghangatkan tubuhmu... Apakah kau bisa bergerak?"
Inesia tidak tahu harus berbuat apa sekarang. Sebenarnya ia tahu; Ia akan membunuh Kiku saat ini juga. Tapi bergerak pun ia tidak bisa. Ia merasa seluruh sendinya kaku dan sakit, juga merasa sangat lemas. Apa yang ia bisa lakukan saat ini hanyalah diam, bernafas dan mencoba untuk menghilangkan kesadaran juga memori yang sangat traumatis ini. Mungkin ia akan menciptakan alter lain untuk lari?
"Ina-san! Tolong, jangan kehilangan kesadaran..." seru Kiku lagi, "Kondisi Ina-san bisa semakin memburuk kalau Ina-san kehilangan kesadaran... Kumohon! Tetaplah bersamaku!"
"Ukh...?" Inesia tertegun pada kalimat terakhir itu.
"Ina-san... Jawab aku..." seru Kiku lagi, "Apakah Ina-san mengalami radang dingin?"
Inesia mengedipkan matanya, menyadarkan dirinya dari lamunannya sendiri, ia menggeleng pelan, "A-ku... bu-kan... Ina..."
"Eh?" ucap Kiku tetegun, "Kalau begitu... Siapa?"
.
.
.
"Les... Lestari..."
"L-lestari-san?" ucap Kiku memastikan.
"Ya...?" jawab Inesia pendek sembari menggigit bibirnya karena canggung, takut, dan merasa bersalah.
K-kenapa aku harus merasa bersalah?! Ukh... Mungkin aku harus cepat-cepat pergi sebelum kejadian itu terulang... Tapi... Siapa yang akan kubangunkan dengan kondisi seperti ini?
"M-maaf... Lestari-san bangun dengan kondisi seperti ini..." ucap Kiku kagok.
Hgh... Pilihan apa yang kupunya? Bahkan tubuhku kaku dan tak bisa digerakkan dengan kemauanku sendiri... Ini lebih mengerikan daripada saat alter lain menguasai tubuh ini...
"Apakah Lestari-san masih merasa kedinginan?" tanya Kiku hati-hati sembari menarik tangannya yang ada di bawah punggung Inesia dan menyentuh lengan Inesia. Ia merasa lega, walaupun tubuh Inesia masih dingin, namun tidak sedingin tadi dan kesadaran Inesia lebih baik dari pada yang tadi. Perlahan Kiku menyentuh leher Inesia yang membuat gadis itu sedikit berjengit kaget.
"Aku hanya mengecek denyut nadi Lestari-san..." ucap Kiku salah tingkah.
Siapa memangnya yang tidak akan salah tingkah di kondisi seperti ini!? Lagipula kenapa tidak mengecek di pergelngan tangan saja, coba?!
"Lestari-san bisa menggerakkan tangan dan kaki Lestari-san? Tolong gerakkan walau sedikit... Itu akan membantu darah mengalir ke tangan dan kaki Lestari-san..."
Inesia hanya bisa mengikuti apa saran Kiku. Ia dengan perlahan menggerakkan jari jemari tangan dan kakinya yang terasa sangat kaku. Setelah mencoba selama setidaknya 2-3 menit, barulah ia bisa menggerakkan jari jemarinya itu dengan leluasa.
Setelahnya, Inesia mencoba untuk mengangkat tangannya yang masih kaku. Namun gadis itu terkejut saat tubuh Kiku kembali menindihnya.
"Shikatanai ka? –Tidak ada pilihan lain, ya?" gumam Kiku datar.
"H-hei?!" seru Inesia panik dan kaget.
.
.
.
"A-apa yang...?"
"Lestari-san... Tolong tampar aku sebelum terlambat..." bisik Kiku menggelap yang membuat Inesia bertanya-tanya. Namun, hanya sebentar.
Di detik berikutnya ia mulai merasakan kecupan di pangkal lehernya yang membuat jantungnya serasa berhenti berdetak. Kecupan selanjutnya menembakkan pistol start kepanikan dan membuat jantungnya berpacu dengan sangat cepat.
A-apa... Apa yang dia lakukan?!
"T-tunggu... Ugh..." ucap Inesia lirih saat Kiku mengecup bagian belakang telinganya yang membuat otaknya kini pusing dan mukanya memanas.
"Aroma Lestari-san sungguh lezat..." bisik Kiku sensual yang membuat tubuh Inesia meremang hebat.
"Tidak... tidak... jangan lakukan ini! Aku... Ukh... Tolong..." rintih Inesia saat Kiku menjilat daun telinganya.
"Aku sedang menolongmu..." bisik Kiku lagi sembari meniupkan udara di telinga Inesia.
"Tidak... kumohon... uh... berhenti..." rengek Inesia sembari memejamkan matanya kuat-kuat saat merasakan ringan sentuhan di dadanya.
Kiku mulai menyentuh dirinya, membangunkan setiap syaraf kurang ajar yang ada di permukaan kulitnya yang kini entah kenapa mulai mengantisipasi dengan antusias akan rangsangan dari jemari itu.
"Berusahalah lebih keras lagi, Lestari-san... Tubuh Lestari-san masih mengatakan 'iya'..."
"Apa? Mn!" Inesia menahan erangan saat merasakan tangan Kiku di perutnya.
"Sensitif sekali..." ejek Kiku sensual saat merasakan tubuh Inesia menggelenyar di bawah sentuhannya.
Ia kembali menelusuri pinggang Inesia sebelum menggigit telinga gadis itu, membuat seluruh darah di tubuh Inesia mendidih dan lari ke wajah cantik gadis mungil itu. Sayangnya, Kiku tidak bisa melihatnya, ia hanya bisa merasakan respons tubuh Inesia yang sangat aktif terhadap rangsangan darinya.
"Minggir! Sialan! Lepaskan aku! Kurang ajar! Kukira kau seseorang yang sangat sopan, pemalu dan enggan!" jerit Inesia ngeri saat jemari Kiku mulai menjalari pahanya.
"Ah... Itu benar..." ucap Kiku lembut.
"APANYA?!" seru Inesia geram sembari terus mencoba menggerakkan tangannya untuk menahan tangan Kiku dan mungkin memitingnya, kemudian melempar Kiku ke suatu tempat yang lebih jauh dari pada 'dimensi lain'. Sialnya, tangan-tangan Inesia tidak cukup kuat untuk menolong dirinya, bahkan untuk mendorong tubuh Kiku satu langkah kaki semut saja tidak mampu. Inesia semakin panik, terutama saat Kiku mengecup begitu rendah di belahan dadanya.
"Setidaknya sampai kalian datang dan membuatku kebingungan... Seperti apa aku yang sebenarnya? Aku bahkan tidak mengerti... Apakah Lestari-san tahu?"
"M-MANA AKU TAHU?! KA-Ukh!" Inesia terpaksa menahan sumpah serapahnya saat merasakan kecupan Kiku yang cukup keras dan pastinya nanti akan meninggalkan kiss mark selama berhari-hari.
Inesia bersumpah ia tidak akan mengambil alih tubuhnya lagi setelah ini! Setidaknya sampai tanda itu menghilang!
"Kalau begitu, biar ini menjadi misteri di antara kita..."
Inesia merasakan darahnya mulai berlari-lari di dalam tubuhnya terutama saat tangan Kiku kembali ke pipi untuk menahan kepalanya saat pemuda itu mulai melumat bibirnya dengan rakus. Akal dan pikirannya mulai terpecah saat tangan itu mulai berjalan ke arah selatan lagi. Membuatnya kebingungan harus bereaksi seperti apa dan kepada siapa dulu; kecupan Kiku atau jemari Kiku yang mulai melenggang ke tempat-tempat yang terlarang.
"T-tidak... Uh..."
"Lestari-san... Konya wa... Watashi no mono ni natte kudasai..." bisik Kiku lembut sembari mengecup leher Inesia.
"Uuh...?"
Kiku tersenyum lembut seraya menggeser tangannya menyusup ke areal intim Inesia, "Be mine, tonight..." bisiknya sensual.
"Huh?!"
GAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAHHHHHHHHHHHHHHH!
-PLAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAK!-
*O*
Kiku mengelus pipinya. Ya, ia merasa pantas mendapatkannya dan ia bersyukur telah berhasil mendapatkannya, karena jika tidak ia pasti telah sukses meraep anak orang.
Oke, mungkin akan menjadi malam yang indah. Tapi Kiku yakin hanya akan berlangsung pada malam ini saja. Kemudian, pasti menjadi awal dari bencana, musibah dan tragedi di antara mereka berdua. Kiku tidak mau hal seperti itu terjadi, karena rencananya lebih besar daripada 'hanya' satu malam yang 'indah'.
Pertaruhan yang sangat besar memang. Tapi Kiku kira ia harus melakukannya karena suhu tubuh Nesia tidak kunjung menghangat dan normal. Alasan kenapa tidak kunjung menghangat itu, menurut Kiku dan buku Cardiovascular's Systematic yang membuat ia salah memilih pasangan di game Dating Sims E*yuu*S*nki, hal ini terjadi karena darah tidak mengalir secara sempurna ke seluruh bagian tubuh Nesia.
Kiku harus membuat darah itu mengalir lebih kencang, lebih cepat sebelum ada jaringan tubuh yang mati karena kekurangan asupan oksigen. Naasnya, cara yang terpikirkan di kondisi seperti itu, ya hanya seputar itu. Jadi silahkan adukan Kiku ke pengadilan, atau kalau perlu ke Mahkamah Internasional karena cara yang muncul di otaknya tadi hanya itu!
"Lestari-san..."
"APA?!" jawab Inesia super galak.
"Iie... Kalau Lestari-san sudah bisa menggerakkan semuanya dan tidak kesemutan lagi, sebaiknya Lestari-san berendam... Setidaknya suhu tubuh Lestari-san sudah tidak akan meningkat secara mendadak dan menimbulkan syok, serangan jantung ataupun kesalahan metabolisme..." ucap Kiku hati-hati, "Uh... Lestari-san?"
"Apakah kau kira aku ini bodoh?!" balas Inesia geram.
"T-tentu tidak seperti itu... A-aku hanya..." Kiku menghela nafas lelah, "Aku hanya berusaha untuk membantu... bukan sok tahu..."
"Aku tahu itu... Masalahnya, aku juga tahu kalau kau ada di dekat Bath tub! Kau kira aku akan mendekati tempat paling berbahaya di seantero jagat raya ini dan membiarkan kau menangkapku dan melakukan hal berbahaya lagi padaku?! Tidak, terima kasih!"
"Aku hanya berusaha membantu, Lestari-san... Aku tidak berbahaya..." balas Kiku sembari menghadap ke sumber suara, satu-satunya yang menjadi tanda di mana Nesia berada di kegelapan ini.
"Oh ya?! Katakan hal itu pada perbuatanmu tadi!" sungut Inesia kesal.
"Ii yo! Aku akan menyingkir!" balas Kiku frustrasi sembari menggaruk kepalanya kesal dan menyingkir.
.
.
.
"Lestari-san... Aku sudah menyingkir..."
"Haha, lucu... bagaimana aku akan mengetahuinya?! Idiot!" jawab Inesia sarkastis.
Kiku sangat jengkel sekarang. Oh ya, pemuda itu sedang menaiki tangga emosinya sehingga mungkin bisa saja meninggalkan logikanya dan mulai melakukan tindakan irasional; memburu Nesia.
No clothes, no lights, in the middle of the night, preying after an innocent-frustrating girl. Fine, that works.
Kalau ada kamera Infra-Red, adegan ini mungkin bisa menjadi klimaks dari film ero-thriller Rate-MA+++, dan Kiku akan mengeluarkan bakat terpendamnya; menjadi antagonis sekseh paling sadis di dunia.
"Cepat masuk sebelum aku benar-benar memburumu sendiri!" seru Kiku setelah berhasil mengendalikan setengah dirinya.
"Apa kau bercanda?!"
"Tidak, aku tidak bercanda, Lestari-san... Aku akan menghitung sampai tiga... Jika aku tidak mendengarkan suara air yang meluap, kau bisa persiapkan jeritan terkerasmu..." balas Kiku sebal.
"Sh*t!" umpat Inesia kesal.
"Apa Lestari-san bilang?!"
"O-oke..."
"Satu..." Kiku mulai menghitung, "Dua..."
"D-dua seperempat!" potong Inesia yang membuat Kiku tertegun, "A-aku tidak tahu Bath tub-nya di mana!"
"Menurutku, Lestari-san tinggal lurus saja..." ucap Kiku datar. Kiku berpikir demikian karena ia merasa bahwa suara "Lestari" berasal dari seberang ruangan,"Dua setengah..."
"Kau masih menghitungnya?! Dengan keadaan seperti ini?!" seru Inesia berang dan tidak percaya.
"Dua tiga perempat..."
"Hei! Kau kira mudah apa berjalan lurus di dalam kegelapan?!"
Inesia sungguh yakin sekarang; Kiku akan ia tempatkan tepat di golongan penjahat kelas Hiu Paus, atau jika ada hewan hidup yang lebih besar dari pada Hiu Paus itu, maka itulah golongan kejahatan Kiku. Meskipun pemuda itu memiliki senyum dan intonasi selembut sutra dan sehangat katun tebal.
"Tiga..."
"U-ukh!" Inesia sontak berjongkok dan memeluk tubuhnya sendiri dengan erat, ia benar-benar telah siap untuk menjerit sekencang-kencangnya saat sebuah tangan mengetuk kepalanya lembut.
"Siapa yang menyuruh Lestari-san berjongkok?" tanya Kiku datar, namun ia tidak bisa menyembunyikan rasa geli yang kini mengobati rasa frustrasinya. Hanya kegelapan yang dengan sempurna menutupi senyuman dan tawa kecilnya.
"U-uh... Uh..."
"Jangan menangis... Mana tangan Lestari-san?" ucap Kiku sembari terus menempelkan tangannya di kepala Inesia, menunggu tangan mungil Inesia menyentuhnya, "Tangan..."
"U-uh..." Inesia hanya bisa menuruti dan menggapai tangan Kiku, "Menyebalkan..." bisik Inesia lirih.
"Tolong hentikan komentar Lestari-san jika Lestari-san tidak ingin semua ini berubah menjadi tragedi..."
"Kau menantangku?! Perlu kupanggilkan Garuda apa?!" ancam Inesia kesal.
"Silahkan... Lestari-san sendiri yang akan rugi..." balas Kiku lelah.
"Aku-... Uh..." Inesia memotong perkataannya. Ia pikir tidak ada gunanya berdebat lagi, ia tidak bisa mengingkari posisinya yang memang tidak menguntungkan. Terutama ketika tubuhnya tidak berada di kondisi prima. Bahkan untuk berjalan pun ia masih kepayahan.
"Kiku-senpai..."
"Mnh?!" Kiku yang kaget menghentikan langkahnya secara mendadak sehingga Inesia menabraknya dari belakang, "W-warui... –maaf..."
Namun tidak ada jawaban maupun teriakan kekesalan yang menyalahkannya walaupun Kiku sudah menunggu, hanya pernyataan, "Ina no.2... Jangan lupa memanggilnya ya..."
"Ina no.2-san? Hai... Wakarimashita..." jawab Kiku sembari kembali meraba arah dan berjalan.
"Dia menunggumu... Jangan biarkan ia menjadi seperti Ayu..." ucap Inesia lirih, namun masih bisa Kiku dengar, "Kiku-senpai tahu harus bagaimana dengan Ina no.2 bukan? Apa yang ia inginkan... Sebaiknya secepatnya... Gadis itu menderita..."
"Maaf..." ucap Kiku lirih.
"Tidak... Inesia lah yang salah... Dan dia tidak bertanggung jawab pula..." ucap Inesia, "Malah Kiku-senpai yang harus menanggungnya dan memperbaikinya..."
"Tidak apa-apa, Nesia-san... Aku menginginkannya dan siap untuk itu..." balas Kiku lembut yang membuat Inesia kebingungan.
"Nesia...-san?" eja Inesia lagi, memastikan pendengarannya.
"Apakah aku salah? Nesia-san?" ucap Kiku bingung karena ia sangat yakin dengan alter yang kini sedang ia hadapi, "Nesia-san... Kapan kita akan makan siang bersama lagi?" tanya Kiku lembut.
Huh!? K-kenapa... Kenapa pemuda ini...
"Nesia-san? Bath tubnya... Uh!? Abunai! –Bahaya!" seru Kiku panik saat merasakan sesuatu yang berat melintasi bagian tubuh sebelah kanannya. Kiku pikir Nesia tengah pingsan dengan arah jatuh ke depan. Sayangnya, ruangan yang gelap membuat Kiku hampir terlambat menangkap tubuh Nesia. Keterlambatan itu pula-lah yang membuat dirinya refleks menangkap ke arah depan. Kebodohan selanjutnya adalah ketika tulang keringnya terbentur sesuatu –yang Kiku kira tanjakkan ke Bath-tub dan dirinya terjungkal karena menahan beban pada saat tersandung.
Suara luapan air panas dan rintihan adalah dua suara yang mendominasi kemudian. Setidaknya, sampai Kiku sadar dan mulai panik dengan keadaan Nesia.
*O*
*Parafilia : gangguan ketertarikan seksual pada objek yang tidak wajar atau aktivitas seksual yang tidak pada umumnya
**Nekrofolia : ketertarikan atau perlakuan seksual pada subjek yang tak bergerak atau mayat dikarenakan takut adanya penolakkan dari subjek.
A /N :
Author: Jadi... Pada akhirnya kalian melakukannya juga...
Nesia: Huh... Kita sudah nggak publish selama tiga bulan lebih!
Kiku: Uh...
Author: Sampai ikut-ikut masuk rumah sakit segala...
Nesia: Menyebalkan... *tangannya diperban
Kiku: Sumimasen, Nesia-san... Aku tidak menangkapmu dengan benar sehingga kita jatuh dengan sangat tidak elit... *pergelangan kaki sampai betisnya diperban
Nesia: Tidak... Tidak... Ini kecelakaan... Kalau harus ada yang disalahkan, itu Author!
Author: Lah kok? Aku kan di rumah sakit selama kalian melakukan... "EUUUHEEEEMMMMM"
Nesia: *tatapan sadis* Kau ingin upgrade ke ICU?!
Author: Itu bukan perbuatan yang baik, anakku...
Nesia: *menjewerAuthor* Kau tidak belajar, Huh?! Berani sekali memanggil Aku sebagai anakmu walaupun hanya bercanda?! Berapa nilai PPKn-mu?!
Author: Aduh... aduh... Sakit... Sudah lupa lah, Nes...
Nesia: Pantas saja... Biar aku ingatkan kau sekali lagi... Di lagu kebangsaanmu itu, liriknya 'jadi pandu ibuku' atau 'jadi pandu anakku'?!
Author: Ana-aaaaaw... aww... aww...
Kiku: N-nesia-san...
Nesia: Diam! Anak ini perlu diberi pelajaran! Dia harusnya memanggilku Ibu!
Author: Iya... iya... Aku mengerti... Ibu Pertiwi...
Nesia: Huh!
Author: Papah Amaterasu kenapa nggak mbelain aku sih?!
Kiku: H-huh?
.
.
Kiku: Eh? Eh?
EEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEHHHH?!
Author: Telat amat... Aaaw!
Nesia: *balik njewer lagi* Kau ini momong apa –thor?!
Author: Ya... Kan nggak enak kalau cuma punya ibu... Mau dong punya papah?! Aw...
Nesia: No!
Author: Ih... Kan ngepas, ibu bumi *nunjuk Nesia*... Ayah matahari *unjuk Kiku*...
Kiku & Nesia: *Speechless*Memerahmalu*Salingtatap*Salahtingkah*Nyadar
Nesia: Gah! Dodol banget ini anak, Pertiwi (Dewi Bumi) itu punya suami namanya Dyaus Pita (Dewa Angkasa)!
Author: Jadi kau selingkuh?! Aaaaaaaaaaaaw!
Nesia: *menjewer lebih keras*
Kiku: Anoo... Author-san... Maaf mengecewakanmu, tapi Amaterasu itu seorang Dewi (Matahari)... Juga sudah punya suami; Tsukuyomi (Dewa Bulan)...
Author: Jadi kalian berdua sudah selingkuh terus main yuri juga? Tunggu, Kiku kau itu perempuan?!
Kiku & Nesia : *Speechless*Ill-feeltingkatdewa
Nesia: Ini tidak ada sangkut pautnya dengan semua itu! Dan kau juga minta kualat apa?!
Kiku: *mengurut kening* Author-san... Ini sangat berbeda... Pertiwi mungkin menjadi personifikasi Indonesia, tapi Amaterasu tidak menjadi Personifikasi Jepang... Kita hanya keturunan matahari... Ni: Matahari, Hon: Asal... Nihon itu artinya 'berasal dari matahari'...
Author: Ya kita bangsa Indonesia juga merasa jadi "keturunnya" Ibu Pertiwi, Alien... Itu juga sebab dia bersikeras minta dipanggil ibu...
Kiku: Uh... Alien?
Author: Kau barusan mengaku berasal dari matahari... Bukan makhluk bumi asli, kan... Alien dong namanya...
Kiku: *tepok jidat* Author-san, anda lelah...
Nesia: *memutarbolamata
