Kiku menghela nafas lega setelah berhasil memastikan keselamatan nyawa Nesia dan dirinya sendiri. Ia kemudian membetulkan posisinya sembari menahan tubuh kohai yang menjadi biang kerok acara masuk ke dalam bath tub, kepala duluan, ini. Syukurlah, kepala mereka, atau setidaknya kepalanya sendiri tidak terbentur permukaan Bath tub yang Kiku yakin berbahan marmer, sehingga ia masih sadar dan berhasil membawa kepala mereka ke permukaan sebelum hal yang lebih buruk terjadi.

Kecelakaan satu ini adalah satu hal yang harus ia catat baik-baik dalam otaknya, sebagai hal yang sangat mungkin terjadi bila ia dikunci di dalam kamar mandi yang gelap dengan makhluk berkepribadian ganda. Semuanya bisa menjadi mungkin, bahkan untuk hal se-tidak elit ini.

Kiku tidak habis pikir dengan Nesia –dan seluruh alternya yang lain. Kenapa gadis yang kini berada di dalam pelukannya ini bisa-bisa kehilangan kesadaran lagi? Apakah ada yang salah dengan kesehatannya? Ataukah ini berhubungan dengan kepribadian Nesia yang lain?

Kiku menahan tubuh Nesia sembari terus berpikir tentang apa yang harus ia perbuat setelah ini. Kiku ingin mengeluarkan dirinya dari Bath tub. Akan tetapi, jika ia keluar, siapa yang akan memegangi tubuh Nesia? Padahal gadis ini butuh sesuatu yang hangat agar tidak kedinginan. Akan tetapi, posisi ini juga sangat tidak mengenakkan, maksud Kiku,

.

.

.

Kiku sendiri tidak tahu bagaimana cara mendeskripsikan posisi yang menantang hormon adrenalin dan hormon "spesifik" lainnya ini lomba lari Marathon.

Syukurlah ruangan dalam keadaan gelap. Kiku sangat berterima kasih pada angin random yang membisikkan ide mematikan lampu kepada Hong. Walaupun Kiku tahu maksud Hong adalah memperparah penyiksaannya, nyatanya Kiku malah merasa diselamatkan berkali-kali karena lampu yang tidak menyala ini.

Yah, kecuali pada saat mereka nyungseb ke dalam Bath tub karena tergelincir dan tersandung di dalam kegelapan.

Kiku kembali menghela nafas. Ia tidak memiliki pilihan lain selain menunggu pagi dengan keadaan seperti ini. Setidaknya waktu menunggu ini akan menjadi lebih tenteram dan damai, juga menyenangkan. Setidaknya sampai tubuh yang berada di dalam dekapannya ini mulai menjerit kaget dan membuat Kiku kembali jantungan.


HETALIA AXIS POWERS © HIDEKAZU HIMARUYA

In

- ALTER EGO –

LittleOrchids045


"N-nesia-san?" panggil Kiku khawatir.

"Tidak! Tidak! Kau tidak bisa menyentuhku seperti ini!" jerit gadis yang berada di dekapannya itu.

"O-ochitsuitte kudasai! –tenanglah!" ucap Kiku sembari melepaskan tubuh Nesia, membiarkan gadis itu melompat menjauhi dirinya. Namun Kiku tahu, gadis itu masih berada di dalam Bath tub bersama dengan dirinya, "Aku hanya memegangi supaya Nesia-san tidak tenggelam..."

"Bullsh*t! Aku tahu kau punya maksud lain, makhluk rendahan! Kau seenaknya menyentuh tubuhku yang berharga ini!" seru gadis itu lantang.

.

.

.

"E-eto... D-donata desu ka? –I-ini siapa ya?" tanya Kiku kagok, ia memikirkan kemungkinan terburuk. Kiku merasakan sedikit cipratan air, Kiku kira itu berasal dari rambut yang disibakkan.

"Aku?! Kau tidak tahu siapa aku?! Kau lupa?! Ingatanmu buruk sekali!" seru suara itu lagi.

"Iie... Sepertinya... aku sudah tahu..." ucap Kiku menghindar, ia benar-benar tidak ingin berurusan dengan alter satu ini, apalagi sekarang.

"Oh... Benarkah? Aku tidak merasa demikian..." ujarnya lagi, "Aku Dirgantara!"

.

.

Yappari... –Sudah kuduga...

"Tara-san... Kumohon... Hentikan semua ini... Aku sudah mengerti..." ucap Kiku lelah, "Kita sedang tidak di dalam kondisi yang bagus untuk berdebat..."

"Huh... Siapa juga yang mau berdebat denganmu?!" seru Tara tersinggung, "Apa gunanya aku berdebat dengan makhluk pervert macam dirimu?!"

Kiku menutup mulutnya, menahan keinginannya untuk membalas Tara. Ia harus melakukannya, ia tahu kalau ia menjawab sama saja dengan meladeni alter yang menyusahkan ini.

"Heh! Diam saja! Jawab aku!" seru Tara sembari mencoba menendang ringan ke arah Kiku, namun sedetik kemudian kepribadian itu mengunci mulutnya rapat-rapat. Sedangkan Kiku dengan diam menyingkirkan kaki Tara dari perutnya.

"Kau bermain kotor rupanya..." desis Tara sebal, "Boleh juga!"

"Aku tidak mengerti maksudmu, Tara-san..." ucap Kiku datar, ia tidak boleh tersulut oleh Tara.

"Oh, aku tahu kau mau memaksaku kan?! Melakukan tindakan asusila pada Nesia! Kau bahkan mencium Kirana dengan sangat bernafsu!"

.

.

"Eto... Tara-san apa nyaman membicarakan hal seperti itu sendiri?" ucap Kiku sembari menutup mulutnya dan membuang mukanya yang memerah.

"Aku jijik sampai ingin mati, kau tahu itu!?" ralat Tara kesal sembari mencipratkan air ke arah Kiku.

"L-lantas kenapa diungkit, Tara-san?"

"A-aku tidak mengungkitnya karena aku suka! Sialan! Aku inginkan pertanggungjawabanmu! Kau juga menyebutkan kata-kata yang berbahaya untuk Kirana!" bantah Tara lagi.

"Kata-kata yang berbahaya?" gumam Kiku tertarik.

"Ya! Dan kau berhutang berjuta maaf pada Kirana karena telah mengatakannya!" lanjut Tara lagi, "Sekarang kau harus minta maaf!"

"Kata-kata apa itu?"

"Kau mendengarkanku tidak sih!?"

"Kata-kata apa, Tara-san?" seru Kiku cukup serius.

"Uh... Kau bilang 'mendisiplinkan'... Itu adalah kata-kata yang selalu diucapkan sebelum 'mereka' menyiksa Kirana..." ucap Tara terpaksa.

Kiku terdiam, ia melakukan kesalahan yang sangat fatal. Oke, ia belum tahu bahwa itu adalah sebuah kesalahan. Kata-kata itu keluar begitu saja, tidak pernah ia rencanakan. Ia tidak pernah tahu sebelumnya kalau kata-kata itu adalah kunci kehancuran Kirana.

"Kau berhutang maaf sampai mati, kau tahu itu?!" seru Tara lagi.

"Wakarimashita... –aku mengerti..."

"Huh... Dan kau juga berhutang maaf pada kami semua karena kelakuanmu tadi... Ayo minta maaf! Setelah itu kau boleh pergi dari kehidupan kami!"

"Iie..."

"Huh?! Apa?! Kau menantangku lagi?!" seru Tara naik pitam.

"Aku minta maaf atas kelakuanku... Tapi aku tidak akan pergi dari kehidupan kalian..."

"Jangan bercanda!" teriak Tara lantang, "Kau sudah selesai! Inesia membencimu! Kau tidak akan memenangkan apapun dari perjuangan sia-siamu ini!"

"Sia-sia? Benarkah seperti itu?" ucap Kiku datar.

"Huh! Tentu saja!" dengus Tara, "Memangnya kau pikir apa yang telah kau perbuat? Membantu kami? Tidak! Kau menghancurkan rencana kami untuk menjadi normal! Kau tahu itu!?" serunya berapi-api.

"Aku tahu..." balas Kiku lagi datar.

"Jadi selama ini kau memang bermaksud menghancurkan kami?!" tuduh Tara.

"Tentu saja tidak!"

"Lalu apa yang kau rencanakan?!" tanya Tara jengkel, "Jangan bilang ini ada kaitannya dengan hal abstrak itu lagi! Kalau iya, sebaiknya kau berhenti... Tidak ada hal baik yang dibawa oleh hal abstrak itu!"

Kiku mengatupkan mulutnya, menahan kalimatnya yang ia sendiri tidak meyakininya. Tara adalah seorang Alter yang powefull, ia bisa menggoyahkan jawaban Kiku dengan sangat cepat. Padahal Kiku kira ia sudah yakin pada detik ini. Ia kira ia sudah mempersiapkan apa definisi hal abstrak itu untuk Tara.

Tapi tidak ada yang keluar. Lidahnya kelu untuk menjawab Tara dan seluruh gelagat ofensifnya. Mungkin, hal yang membuat Kiku tidak bisa membantah Tara adalah emosi kuat yang menjadi pengalaman Tara.

Akan tetapi, hanya ini yang Kiku punya. Hanya hal abstrak inilah yang Kiku punya untuk Nesia. Untuk menjadi alasan mengapa ia tidak mundur sejak malam itu, walaupun dr. Greef sudah memperingatkannya.

"Ada..." ucap Kiku mematahkan kesunyian yang mulai terbangun.

"Oh ya? Apa?"

"Aku-..."

"Bukan untukmu... Untukku..." potong Tara dengan nada kecewa, "Tidak ada..."

"Itu karena Tara-san tidak memberikan kesempatan..." balas Kiku lagi.

"Tidakkah kau melihat? Alter lain sudah memberikan terlalu banyak kesempatan... Dan kau lihat apa yang terjadi pada mereka? Tersakiti, terkhianati, ketakutan setengah mati, gila, psikopat... Rusak!" ucap Tara dengan intonasi membuktikan, "Kenapa aku harus ikut-ikutan tersiksa dan menyiksa diri seperti mereka?"

"Tara-san... Yang kurasakan pada kalian-..."

"Kalian?" potong Tara, kali ini dengan nada meremehkan yang membuat Kiku meneguk ludahnya, "Siapa 'kalian' yang kau maksud itu?" lanjutnya lagi dengan intonasi kemenangan karena Tara tahu Kiku tak akan bisa menjawab pertanyaannya.

"Hei... Siapa yang kau sukai, Honda Kiku-senpai?" tanya Tara lagi, memperjelas pertanyaannya.

"A-Aku menyukai kalian semua..."

"Rakusnya... Apakah itu berarti kau tidak menginginkan kita menjadi normal? Kau menginginkan kita tetap terpecah untuk egomu sendiri?"

"Iie... Sonna mono..."

"Jadi... Siapa? Pertiwi? Ina? Kartika? Nesia? Lestari? Ayu?"

"Tara-san, yamette kudasai..."

"JAWAB!" teriak Tara kesal.

"Tara-san?"

"Apakah kau berniat menghancurkan semuanya sekaligus?! Itu tujuanmu selama ini?!"

"Tentu saja tidak..."

"Kalau begitu siapa?!" seru Tara lagi tidak sabar, "Ayo ja-..."

"Nesia-san... -desu..." jawab Kiku frustrasi dan malu, tidak memiliki pilihan lagi.

"Nesia... Huh?" ulang Tara, "Nesia..." ulangnya lagi tidak percaya Kiku akan dapat menjawabnya.

"Uh... Hai... Eto... Mungkin Tara-san mengerti... Ia makan siang denganku waktu itu... Ia baru saja hadir tadi sebelum kesadarannya Tara-san rebut..."

"Nesia... Katamu?" ucap Tara diselingi tawa tidak percaya, "Nesia?"

"Apa? Apa ada yang salah?" tanya Kiku mulai merasa tidak nyaman.

"Hahahaha! Nesia! Nesia! Yah, kau benar... Nesia!" seru Tara dengan intonasi yang sangat aneh, ia seperti sedang menertawakan sesuatu tapi di satu sisi ia sangat kecewa pada sesuatu itu.

"Kenapa, Tara-san? Apakah ada yang salah? Apakah Tara-san mengenal Nesia no.2-san? Apakah Tara-san sering bertemu dengannya? Kenapa ia jarang keluar?"

"Kau..." Tara menghentikan tawa anehnya digantikan dengan tepuk tangan, yang Kiku tahu bermaksud untuk mengejeknya, "Kau baru saja membunuh seseorang! Hebat! Hebat sekali!"

"A-apa maksud Tara-san?"

"Honda Kiku-senpai... Dari semua kebohongan ini, kau memilih hal yang paling tidak nyata... Kau baru saja memilih sampah terburuk di antara tumpukan benda rongsokan!"

"Tara-san! Kenapa Tara-san berkata seperti itu?! Bagaimanapun juga dia adalah salah satu bagian dari diri Tara-san!"

"Dia? Nesia no.2? Dia yang kau maksudkan itu bahkan tidak bisa disebut 'salah satu bagian dari diri'-ku'!" seru Tara mengejek, "Kenapa kau tidak pernah menemuinya lagi? Dia bahkan tidak pernah ada!"

"Ia hadir tadi saat sebelum kita jatuh ke dalam Bath tub!" potong Kiku cepat, "Nesia-san ada... Dan Nesia-san memanggilku 'Kiku-senpai' tadi!"

"Kiku-senpai... Aku juga bisa memanggilmu demikian..."

"Intonasimu berbeda..." balas Kiku lagi tidak terima.

"Terserah..." ucap Tara tidak peduli lagi, "Bukan masalahku kau mau percaya padaku atau tidak... Tapi gadis yang kau cari itu tidak pernah ada... Dan selamat, kau telah berhasil membunuh Ines... Untuk entah yang ke berapa kali..." ucapnya sembari kembali bertepuk tangan, "Selamat! Selamat! Haruskah kita memberimu hadiah keberhasilan?"

"Matte...", gumam Kiku tidak mengerti, "Membunuh?"

"Oh, kau baru menyadarinya sekarang? Kau sudah telat! Ahahaha... Ukh!"

"T-tara-san?!" panggil Kiku khawatir karena Tara mulai terbatuk-batuk.

"Wah... wah... Bahaya... Bahaya..." ucap Tara dengan sedikit candaan kepada dirinya sendiri, atau mungkin 'orang lain' yang berada di dalam dirinya, "Pokoknya, selesaikan masalahmu dengan Ina no.2, dan pergilah... Syuh... Syuh..."

"Aku tak akan pergi ke mana pun..."

"Aku bosan dengan hal itu..."

"Aku juga bosan, selalu Tara-san usir..."

"Kalau begitu pergilah cepat!"

"Tidak..."

"Keras kepala!"

"Tara-san juga..."

"Hei! Dengar ya! Aku ini tangan kanannya Ines! Aku mengatakan apa yang Inesia juga katakan, dan ia bilang; Pergilah Kiku-senpai, ke mana pun aku tak peduli!"

"Kalau begitu bilang pada Inesia-san; Aku tidak peduli, Aku akan tetap di mana pun kalian berada!" jawab Kiku sengit.

"Jangan memutar balikkan kata-kataku! Kenapa kau selalu saja memutar-mutar kata-kataku?!"

"Tadi Tara-san bilang itu kata-kata Inesia-san?"

"Kau mengajak bertengkar ya?!"

"Tidak... Kau terlalu percaya diri, Tara-san, kekanakkan..." ucap Kiku sembari memutar bola matanya.

"Apa?!"

"Anak kecil!" sebut Kiku lagi, mengompori Tara.

"Heh! Kau itu yang anak kecil! Aku sudah berumur 30 tahun, kau tahu itu?!" seru Tara lagi.

.

.

.

"Tua..." celetuk Kiku dengan sangat sengaja. Ia bermaksud mengompori Tara lagi. Padahal, Kiku sebenarnya sangat terkejut dengan pengakuan Tara ini, maksudnya,

APA?! 30 TAHUN?!

Kiku sendiri yakin Inesia yang merupakan Alter asli yang belum pernah ia temui sendiri saja tidak mungkin setua itu. Kau juga bisa lihat fisiknya yang dilihat dari manapun masih sangat muda! Lantas mengapa gadis ini bisa memiliki seorang bapak-bapak di dalam dirinya?! Bapak-bapak yang kekanakkan pula.

"Kau bilang apa?!" geram Tara tersinggung.

"Jadi, Tara-san adalah peran seorang figur ayah di dalam tubuh Nesia?"potong Kiku tidak peduli.

"Hei! Jangan mengalihkan pembicaraan!"

"Tara-san yang mengurusi Alter-alter yang lain? Apakah itu yang membuat Tara-san mengerti keadaan lebih baik daripada yang lainnya?" tanya Kiku lagi.

"Kalau iya, memang kenapa?"

"Heh... Pantas saja semakin berantakan..." celetuk Kiku lagi dengan sangat meremehkan.

"Yang membuat semuanya berantakan adalah kau! Aku sudah pernah bilang bukan?! Perebutan ini membuat seluruh Alter menjadi aktif... Alter-alter yang seharusnya sudah bisa tertidur dan menghilang perlahan, kembali bangun gara-gara ingin mengenalmu!"

"Kenapa tidak?" jawab Kiku singkat yang membuat Tara naik darah.

"Kita tak akan pernah menjadi satu kalau seperti ini terus! Kita tak akan bisa menjadi normal!" seru Tara geram.

"Memangnya kalian semua tahu apa yang sedang kalian lakukan? Terakhir kali kubaca, jika seseorang memiliki masalah psikologi, orang tersebut tidak mungkin mengatasinya sendiri!"

"Maaf... Tapi bukan sendiri... Kau ingat? Kita ada 13!"

"13? Bukan 12?"

Tara sontak menutup mulutnya sendiri dengan tangannya. Ia keceplosan. Ini benar-benar situasi yang sangat gawat. Sangat amat teramat gawat sekali banget. Semua ini gara-gara sikap menyebalkan Kiku! Ya, itu benar! Orang ini terlalu menyebalkan sampai-sampai memancingnya untuk ikut mengkhianati Inesia! Tapi, tidak. Ia tidak akan mengkhianati Inesia. Jika ia mengkhianati Inesia, siapa lagi yang akan mem-back up gadis kecil itu?

"A-aku hanya salah sebut... 12..." ucap Tara setelah menelan ludahnya sendiri.

"Benarkah?" tanya Kiku lagi, tidak yakin. Jelas-jelas tadi Tara melakukan gestur yang sangat 'berbeda'.

"Terserah kau mau percaya atau tidak... Aku tidak ada urusan!"

"Yah..." Kiku tidak punya pilihan lain selain menyudahi topik ini, namun ia tersenyum lembut, Nesia no.2 mungkin adalah Alter ke-13 itu...

"Daripada itu... Sampai kapan kita akan 'mandi bersama' seperti ini?" seru Tara lagi sembari mencipratkan air ke arah Kiku.

"Tara-san... Aku baru menyadari ini, tapi..." Kiku berdeham kecil, "Ternyata Tara-san sangat vulgar, ya..."

"Apa?!" seru Tara kaget, "Kau mengajak berantem, ya?!"

"Iie... Chigau desu..." potong Kiku cepat, "Tapi... Apa tidak ada topik lain sehingga kita bisa melupakan keadaan ini?" ucap Kiku lagi, "Karena kita akan seperti ini sampai pagi..."

"Apa tidak ada berita yang lebih seram daripada itu?!" tanya Tara dengan nada sinis, "Kenapa aku harus terkurung bersamamu?! Ini salah satu permainanmu, huh?!"

"Iie... Kalau aku bisa meminta pun aku tidak ingin dikurung seperti ini..." tukas Kiku.

"Lalu siapa yang mengurung kita?!" tanya Tara lagi.

"Seorang kakek kurang kerjaan dan dua, entahlah, haruskah aku menganggap mereka saudara lagi?" gumam Kiku gelap sembari melakukan beberapa perhitungan, mungkin setelah ini ia akan melakukan sesuatu pada 'saudara-saudara'nya itu.

"Hei... Seperti apa rasanya punya saudara?" tanya Tara random.

"Huh?"

"A-aku hanya ingin tahu bagaimana rasanya punya saudara... B-bukannya aku ingin tahu tentangmu, loh..." seru Tara lagi, "Jangan besar kepala!"

"Bukannya Tara-san punya saudara? Kirana-san adalah adik Tara-san, bukan?"

"Eh... Uh... I-itu benar... T-tapi aku ingin tahu saudara yang berada di luar tubuhmu sendiri..." ucap Tara lagi.

"Menjengkelkan?" ucap Kiku singkat, "Yah... Tapi terkadang hanya merekalah yang membuat kau ingat bahwa kau masih dirimu..." imbuh pemuda itu lagi.

.

.

"Apakah Tara-san paham?"

"T-tentu saja! Huh! Kau kira aku ini bodoh apa?!" seru Tara tersinggung, padahal Kiku benar, ia tidak mengerti sama sekali, "Apakah kau punya saudara perempuan?"

"Ya... Ada..."

"A-apa yang kau lakukan saat saudara perempuanmu bersedih?" tanya Tara ragu-ragu.

Kiku berpikir sejenak. Ia tidak pernah melakukan sesuatu yang berarti saat saudara perempuannya bersedih. Ketika Mei bersedih, yah, ada Hong dan Yao yang selalu bersama dengan Mei. Sedangkan ketika Sakura bersedih, Kiku hanya membiarkan gadis itu tenang sendiri. Paling setelah membaca beberapa manga gadis itu kembali senyum-senyum dan mulai mengerjainya lagi.

Sesuatu yang tidak bisa diterapkan ke Kirana. Sama sekali, tidak boleh diterapkan kepada Kirana. Untuk gadis seperti Kirana, lebih baik, "Temani dia, Tara-san..."

"Dan?"

"Dan?" tanya Kiku balik.

"Apa lagi yang harus aku lakukan?" tanya Tara lagi, cukup sebal.

"Tidak ada..." ucap Kiku lagi, "Dari kenyataan yang ada selama ini, bisa ditarik kesimpulan kalau cara berpikir perempuan berbeda dengan laki-laki... Jadi seorang laki-laki seharusnya tidak ikut-ikutan, apalagi yang tidak berpengalaman seperti kita... Bisa-bisa malah tambah kacau?"

"Hmm..."

"Setidaknya kita menemaninya... Jadi... Jika ia butuh apa-apa, kita bisa membantunya..." imbuh Kiku.

"Hooh... Ternyata kau lumayan juga..." ucap Tara tidak ikhlas, "Katakan..." ucap Tara lagi, "Apa idemu tentang hal absurd yang kau perjuangkan itu?"

"Hal absurd? Eh... Uh... T-tara-san mau mendengarkannya?"

"A-anggap saja itu kemurahan hatiku! Bukannya aku mau mendengarkan! Ini karena sudah tidak ada topik berarti lagi..." sergah Tara, "Seharusnya kau bersyukur dan berterima kasih!"

"Domo arigatou gozaimashita..." ucap Kiku sembari tersenyum simpul, "Tapi... Aku sendiri tidak yakin akan hal absurd itu..."

.

.

"B-bukannya kau sudah menyiapkan jawabannya?! Kau sangat percaya diri untuk tidak meninggalkan kami... Kukira kau punya alasan yang, walaupun menggelikan, tapi ada!" semprot Tara tidak tanggung-tanggung.

"M-maa... Aku hanya merasa... aku tidak bisa meninggalkan kalian... Aku khawatir terjadi sesuatu pada kalian jika aku tidak ada..."

"Sombong sekali..." dengus Tara sebal.

"Eh?"

"Kau pikir kita tidak bisa melakukan apapun jika tidak ada kau? Setelah semua ini?!"

Ya... malah karena 'setelah semua ini' itu yang membuatku lebih khawatir...

"Kau menganggap remeh kami?! Kau bilang kita tidak bisa melakukan apapun jika kau-..."

"Aaaah... E-etto... Aku percaya Tara-san dan Alter lain bisa melakukan apapun... Hanya saja... A-anggap saja aku seseorang yang mudah cemas dan paranoid... Jadi... Jika kalian tidak ada di sampingku, mungkin aku akan mati karena khawatir..."

"Itu berarti kau lemah..." seru Tara men-judge.

"Uh... Maksudku..." Kiku berjuang mencari kata-kata yang bisa membelanya, tapi ia tidak menemukan satu kata pun yang cocok untuk membantunya, ia hanya bisa mengakuinya, "Yah... Mungkin seperti itu..."

"Kau mengakuinya! Huh! Akhirnya kau mengakuinya!" seru Tara penuh kemenangan, "Jadi pergilah orang lemah! Mana mungkin aku menyerahkan Inesia kepadamu!"

"Yah... Mungkin seperti itu..." gumam Kiku lirih, "Tara-san..."

"Apa?"

"Aku punya beberapa pertanyaan... Jika Tara-san bisa menjawabnya dengan jawaban yang memuaskan, aku akan pergi dari kehidupan kalian..."

"Huh! Tantangan yang sangat mudah! Ayo katakan! Apa pertanyaanmu?! Biar kujawab semuanya!" seru Tara bersemangat.

Kiku tersenyum lembut sembari memeluk lututnya, "Kenapa... Aku tidak bisa meninggalkan kalian?"

.

.

.

"JANGAN BERCANDA!" semprot Tara jengkel, "Kenapa juga kau harus menanyakan hal itu padaku?!"

"Mau menjawabnya atau tidak, Tara-san?"

"Apakah kau sedang mengujiku!? Kau tak akan bisa membuatku berubah pikiran! Dasar licik! Aku tidak akan terpedaya!" tuduh Tara.

"Tara-san... Hari ini kau tampaknya terlalu bersemangat, ya?" balas Kiku datar, "Tapi sayangnya ini bukan ujian ataupun kelicikkan... Aku sendiri bertanya-tanya..." lanjut Kiku kalem, "Mungkin jika aku menemukan jawabannya dan sudah tidak penasaran lagi, aku akan segera meninggalkan kalian..."

"Hoooh... Benar juga..." ucap Tara menenang, "Kalau kau sudah tidak penasaran, kau akan pergi... Ya, itu yang selalu terjadi lagipula..."

"Jadi... Tara-san, kenapa kira-kira, aku tidak bisa meninggalkan kalian?" Kiku mengulang pertanyaannya dengan lebih lembut.

"Hmm... Biarkan aku berpikir..." gumam Tara, "Mungkin... Aku adalah seseorang yang menderita DID dan kau penasaran berapa banyak kepribadianku..."

"12 orang kan?" jawab Kiku, namun di dalam hatinya Kiku tetap mempercayai bahwa kepribadian Nesia berjumlah 13 orang.

"Y-ya... 12 orang..." ucap Tara membenarkan.

"Aku sudah tahu itu, lalu kenapa aku masih belum mau pergi?"

"Mana aku tahu!?"

"Kalau begitu aku tidak bisa pergi..."

"Egh... Biar kupikirkan dulu..." seru Tara sebal, "Hmmm... mungkin kau khawatir karena aku memiliki 12 kepribadian... Tapi tenang saja, Inesia bisa berkomunikasi dengan kita dan memahami kita... Ini hanya masalah waktu... Kau tahu? Dari buku yang kami baca, cara untuk menyatukan kami adalah dengan berkomunikasi, kompromi dan toleransi satu sama lain, membagi informasi kepada pribadi yang lain, menyatukan ingatan dan, poooof! Kita satu orang lagi..."

"Apa itu berhasil?" tanya Kiku tidak yakin.

"Tentu saja! Itu yang dituliskan di buku yang aku baca bersama dengan Kirana!" seru Tara bangga.

"Siapa yang sudah berhasil kembali?" tanya Kiku lagi. Ia semakin khawatir, jangan bilang pada awalnya Alter Nesia lebih banyak dari yang kini aktif.

"Kartika sudah kembali... Yah... meskipun dia belum hilang sepenuhnya..."

"Itu berarti belum sempurna?" gumam Kiku cukup terkejut. Lagipula, kalau itu Kartika, berarti ini karena campur tangannya juga, kan? Bukan karena teori yang tertuliskan di buku yang dibaca oleh Tara dan Kirana.

"Egh..." Tara mulai tersudut.

"Lalu siapa lagi?"

.

.

.

.

"K-kita hanya belum berhasil! Tapi kita sudah saling terbuka dan..." Tara tidak menyelesaikan kalimatnya, ia hanya diam dan berpikir lagi.

"Tara... –san?"

"Baiklah! Kau menang! Kita memang gagal! Apa yang kita usahakan belum membuahkan hasil apapun! Belum ada satu Alterpun yang kembali dan kepribadian lain malah terus menerus muncul!" seru Tara sebal, tidak rela mengakui kekalahannya.

"Tara-san... Ini bukan masalah kalah atau menang... Ini masalah kesehatan kalian..."

"Ya! Kita gila! Kita tidak normal! Aku tahu itu! Lalu kau tunggu apa lagi?! Cepat pergi sebelum kami melukaimu!" bentak Tara lagi.

"Sebenarnya, kalian sudah melukaiku..." ucap Kiku datar, "Ina no.2-san... Ina-san yang muncul setelah Kirana-san, ia menusukku menggunakan cutter dan–..."

"MAKA DARI ITU!" seru Tara berang dan frustrasi yang membuat Kiku sempat terlonjak kaget, "TIDAK BISAKAH KAU MENURUTIKU DAN PERGI SAJA SECEPATNYA?!"

.

.

.

"Tara-san... Apakah sebenarnya..." Kiku yang tadinya sempat merasa tersudut, kini entah mengapa mulai merasakan sesuatu menggelitik di hatinya. Ia tidak percaya ini, ia tidak percaya akan kata-kata yang telah berada di ujung lidahnya. Akan tetapi, ia tidak bisa menghentikan dirinya sendiri dari mengucapkannya,

"Tara-san mengkhawatirkan keselamatanku...?"

.

.

"Oleh sebab itu, Tara-san selalu bersikap dingin dan selalu mengusirku...?" Imbuh Kiku sembari berusaha menahan keinginan untuk tertawa yang tiba tiba datang menyerang.

.

.

.

"H-h-h-haaaaah?! A-a-aaapa...? A-a-a-aaapa maksudmu?! A-aa-aku khawatir padamu?! Hah! K-konyol sekali! D-dari mana kau dapatkan pikiran gila seperti itu?! Kau mabuk ya?!" seru Tara kagok, terbata-bata.

Sialan! Kenapa lidahnya terasa sangat kelu di saat ia harus menyelamatkan harga dirinya?! Mana mukanya juga ikut memanas dengan tidak jelas. Syukurlah, lampu kamar mandi ini padam sehingga Kiku tidak bisa melihatnya. Kalau sampai Kiku melihatnya, Tara bersumpah ia akan mengasingkan diri di galaksi terpencil yang tidak ada penghuninya sama sekali, setelah ia mencongkel mata Kiku.

"A-a-aku sama sekali tidak khawatir! Bahkan aku tidak peduli sama sekali padamu! Mau kau mati atau apapun yang lebih buruk, aku tak peduli! Ya! Sebaiknya kau mati saja! Apalagi setelah melakukan hal asusila pada Kirana!"

"Benarkah?" tanya Kiku datar, "Ini bukan karena Tara-san cemburu, kan?"

"C-cemburu?! Kenapa aku harus cemburu?!"

"Bukan cemburu?" tanya Kiku lagi, mempermainkan Tara.

"Huh! Tentu saja! K-kau pasti terlalu lama berendam makannya memikirkan hal gila seperti itu! Cepat keluar dari sini! Kau akan semakin gila jika terlalu lama berendam!"

Ah... Katanya ia tidak peduli...

"Tara-san itu... tsundere ya?"

"H-h-haaaah? A-apa maksudmu?! Apa itu tsundere?!"

Kiku tersenyum hangat, "Apa yang sedang Tara-san lakukan saat ini..."

"A-apa? Marah padamu? Tukang marah, maksudmu?!" seru Tara tersinggung.

"Iie..." ucap Kiku lembut, "Tara-san adalah kepribadian yang sangat baik ya?"

"H-huh! K-kau baru sadar itu?! Aku itu sangat baik dan murah hati! Oleh karena itu aku akan lupakan semua perkataanmu tadi!"

Ah... Nigerare-chatta... –Ia melarikan diri...

"S-sampai mana kita tadi?" Tara berusaha mengganti topik.

"Hmm... Siapa yang berhasil kembali kepada Alter paling asli..." ucap Kiku mengingat-ingat, "Kapan Tara-san membaca buku itu?"

"Saat waktu dari tubuh ini milikku sepenuhnya... Di sekitar panti asuhan itu ada perpustakaan umum... Aku lebih suka menghabiskan waktuku di sana daripada di panti asuhan yang penuh anak nakal itu..."

"Berarti sudah sangat lama..." Kiku menarik kesimpulan, "Tidak ada yang berhasil kembali... Malah menciptakan Kartika, Lestari, Nesia, Nesia no. 2 dan Nesia no.3..."

"Yah, maaf kalau begitu? Aku bukan psikiater!" ucap Tara masa bodoh, "Lagipula, banyak sekali Nesia yang kau sebutkan? Hanya ada dua Nesia..."

"Oke... dua..." ujar Kiku mengalah. Ia tidak mau Tara mulai menjelek-jelekkan Nesia no.2 lagi, "Pertanyaan selanjutnya... Walaupun aku sudah terluka, kenapa aku tidak merasakan takut? Kenapa aku tidak melarikan diri dan menjauhimu? Kenapa aku bahkan menjadi penanggung jawabmu?"

"I-itu..." Tara mulai berpikir lagi, "Argh! Ini kan masalahmu dan keputusanmu! Kenapa harus aku yang memikirkannya?! Kau sedang menguji-..."

"Masih belum ada jawaban yang memuaskan-..."

"Kasihan! Kau kasihan padaku! Kau hanya tidak mau aku dikeluarkan dari sekolah, kan?!" potong Tara.

"Kasihan pada seseorang yang baru saja menusukku... Membuatku kehilangan banyak darah, membuatku dirawat dan mendapat beberapa jahitan... Aku pikir tidak logis membiarkan seorang psikopat seperti itu berkeliaran di sekitarku... Apalagi menjadi penanggung jawabnya..." gumam Kiku.

"Ya, mana aku tahu?! Memangnya apa yang kau pikirkan pada saat itu sehingga bisa mengambil keputusan ini?!" seru Tara bingung.

"Aku... Juga tidak tahu..." ucap Kiku yang membuat Tara naik pitam, "Mungkin aku terlalu banyak kehilangan darah sehingga tidak berpikir logis pada waktu itu... Tapi, aku tidak pernah menyesali keputusan itu... Kenapa ya?"

"Mungkin kau sudah gila..." ujar Tara tak peduli lagi.

"Ya... Mungkin..." ucap Kiku, "Saat itulah aku berpikir... Ah, mungkin aku benar-benar sudah terjebak oleh hal abstrak tersebut..." lanjutnya sembari tertawa kecil.

Tara terdiam mendengar pernyataan itu. Ia tidak tahu harus mengatakan apa karena semua ini sudah berada di luar pemahamannya. Ia adalah kepribadian yang tidak mempercayai dan mengerti tentang hal abstrak bernama cinta itu. Apa yang ia tahu, hal abstrak tersebut hanyalah membuat Inesia semakin rusak dan ingin menyerah pada perasaan abstrak tersebut. Hal itu yang membuatnya tercipta sebagai Alter yang 'jahat', dingin, egois, dan sangat ingin membuang perasaan abstrak tersebut.

"Aku tidak mengerti semua itu... Aku tercipta saat Inesia frustrasi dan menyerah pada perasaan abstrak tersebut... Inesia ingin membuang perasaan itu jauh-jauh dan berpikir semuanya akan lebih baik tanpa perasaan seperti itu... Inesia ingin untuk tidak percaya pada hal abstrak itu sehingga menciptakan aku yang merupakan kebalikan hal abstrak tersebut..."

Tara menghela nafas pendek, "Aku adalah kebencian..."

"Chigau-desu... –bukan seperti itu..." potong Kiku cepat-cepat.

"Yah... terserah..." sahut Tara tak peduli, "Yang penting Inesia membuang perasaan absurd tersebut..."

.

.

"Apakah Inesia-san berhasil?"

"Menurutmu? Setelah aku berada di sini?"

"Tidakkah kau kesepian, Tara-san?"

"Menurutmu?" ucap Tara lirih.

"Menurutku Tara-san sangat kesepian..." jawab Kiku, "Tapi perasaan yang ada pada Tara-san... Apa yah?"

"Huh?"

"Menurutku... Tara-san dan mungkin juga Inesia-san tidak berhasil membuang perasan abstrak itu... Buktinya Tara-san tidak membunuhku..."

"Hah... Begitu ya?" ucap Tara datar, tidak mengerti standar aneh yang diterapkan oleh Kiku.

"Yang kalian hanya dan berhasil lakukan adalah membuang harapan akan ada orang lain yang mungkin mencintai kalian..."

.

.

"Kalian masih percaya dan memberikan hal abstrak itu pada orang lain... Tapi kalian sudah menyerah, tidak mau tahu, tidak mengharapkan lagi, tidak peduli pada orang lain dan tidak percaya lagi bila ada orang lain yang mungkin akan tulus mencintai kalian... Kalian percaya, bahwa kalian tidak pantas untuk dicintai..." gumam Kiku menyimpulkan, "Bagiku... Itu sangat kesepian..."

"Tidak..." elak Tara lirih.

"Tara-san diciptakan bukan untuk memusuhi ataupun menghancurkan hal abstrak tersebut... Akan tetapi, untuk tidak mengharapkan hal abstrak lagi... Dan Tara-san berhasil untuk tidak mengharapkannya... Sesuatu yang kemungkinan besar, selalu gagal Inesia-san lakukan..."

"..."

"Itu berarti... Inesia-san sendiri masih mengharapkan dan bahkan sangat mengharapkan orang lain untuk memberikannya hal abstrak yang tidak pernah ia dapatkan tersebut..."

"Sekeras apapun Inesia mencoba..." imbuh Tara lirih.

"Dan saat harapannya tak tercapai, Tara-san akan mengambil alih kesadaran Inesia-san..." lanjut Kiku, "Agar Inesia-san tidak merasakan sakit ketika hal abstrak itu tidak ia dapatkan..."

.

.

.

.

"Yah, kau memang pintar... Kau berhasil membongkar rahasiaku... Selamat..." ucap Tara menyerah, "Akan tetapi... Aku benar-benar tidak merasa kesepian..."

"Benarkah?"

"Aku hanya... Tidak peduli lagi... Lagipula, semua orang sama saja..." jawab Tara ringan, "Hanya kau yang berbeda... Itu membuatku sedikit ketakutan..."

"Kenapa?" tanya Kiku lagi.

Karena aku mulai mengharapkan apa yang tidak kupercayai...

"Y-yah... Karena... Kau sangat lemah dan rapuh juga tidak bisa diandalkan! Apa jadinya jika aku menyerahkan Inesia padamu?! Tidak! Tidak! Lupakan saja! Dan pergilah! Aku sudah menjawab seluruh pertanyaanmu!"

"Ya... Tapi tidak ada jawaban yang memuaskan... Lagipula kita ini terkunci, Tara-san..."

"Hgh... Kenapa ini harus terjadi padaku?" ujar Tara menyesali keadaan yang sangat tidak membuatnya senang ini.

"Tara-san... Boleh aku bertanya lagi?"

"Yah... Tanyakan saja... Toh kita tak ada kerjaan yang lebih baik..."

"Tara-san tadi berhenti saat membela diri..." ucap Kiku cukup serius, "Tara-san bilang kalian semua sudah saling terbuka, namun kemudian memotong kalimat itu dan menyerah... Ada apa?"

"K-kau itu sensitif sekali ya..."

"Apa yang terjadi, Tara-san?"

"Hgh... Bagaimana menjelaskannya, yah..." Tara terdiam sejenak, berpikir tentang cara menjelaskannya kepada Kiku, "Kau... Pernah membaca sesuatu yang berkaitan dengan DID?"

"Hai..."

"Kalau begitu... Apakah menurutmu kami berbeda?" tanya Tara lagi.

"Tidak ada hal yang terlalu signifikan..." ucap Kiku sembari berpikir, "Tetapi... Biasanya Alter Genuine, kesadaran pemilik asli, adalah yang paling dominan dan ia akan dominan dalam menguasai tubuh penderita... Seharusnya yang selama ini muncul adalah Inesia-san... Kemudian kalian akan mencoba saling merebut kesadaran, waktu dan ingatan Inesia-san kemudian berusaha untuk menguasai tubuh Inesia-san..."

"Tetapi kenyataannya, kau malah belum 'bertemu' dengan Inesia, bukan?" imbuh Tara.

"Hai..."

"Kau tahu tentang 'kasta kesadaran' itu, bukan? Siapa yang bisa merebut kesadaran siapa dan menidurkan siapa saja dengan mudah?"

"Inesia-san ada di kesadaran yang paling tinggi... Inesia-san selalu bangun dan bisa mengawasi kalian walaupun ia tidak menguasai tubuhnya tetapi Inesia-san malah–..." jawab Kiku, "Tunggu... Ini... Ini berlawanan dari..."

"Ya... Ini berlawanan dari konsep yang kau sebutkan tadi... dan malah, kamilah yang kehilangan sebagian ingatan kami... Malah Inesia yang merebut kesadaran kami..."

"D-doushite?"

"Entahlah... Hanya Inesia yang tahu kenapa..." ungkap Tara datar, "Mungkin... Kau bahkan lebih tahu tentang cerita puncak kehancuran Kirana daripada aku karena kau bisa menyebutkan kapan kehadiran Ina palsu itu... Inesia tidak membiarkan aku tahu akan hal itu... Ia menidurkanku dengan paksa saat kejadian itu, atau saat ada yang mengungkit kejadian itu... Sedangkan Kirana sendiri, yah... Dia tidak mau cerita apa-apa dan sepertinya beberapa ingatannya hilang seperti milikku..."

"Tara-san juga–..."

"Ya... Aku tak tahu apa yang terjadi, namun tiba-tiba aku memiliki Kirana sebagai adikku..." ucap Tara pasrah, "Terkadang aku merasa bahwa kita, kesadaran Inesia yang lain, hanyalah sebagai mainannya..."

.

.

.

"Saling terbuka itu... Bullsh*t..." imbuh Tara dengan nada jijik.

*O*


A / N:

Chappie 32!

Author: OMG! Tiga bulan lebih hiatus... OMG... *jongkok di pojokan ruangan* OMG... *masuk lemari* OMG... *sembunyi di bawah meja*

Nesia: Kau itu memangnya ngapain aja sih, -thor?!

Author: Yah, biasa lah... Nge-galau... Gara-gara chapter X itu... Kita harus ganti rate ke-M... Nanti kalau reader nggak nemuin story kita gimana? Nanti pas update chapter gimana?

Nesia : Ya salahmu juga bikin chapter seperti itu!

Author : Tapi... jika membiarkan ada adegan kiss bersliweran di pencarian normal juga berbahaya... Apalagi bagi pendatang baru...

Nesia : Makanya jangan bikin cerita yang 'serem' kayak gini! Yang normal-normal dan biasa-biasa aja sih! Bukannya tujuan sebenarnya pairing sama Kiku yang kaku dan alim itu biar nggak 'serem'!?

Author : Yah... Kiku kan juga cowok... Dan kita berhasil menyeretnya ke jalan yang sesat... Khekhekhekhe... *tawa licik*

Nesia : Aku nggak ikutan... Aku korban di sini...

Kiku: *baru datang* A-author-san... Saya sudah bawakan reviewnya... Sudah numpuk banyak nih...

Author: Oke, sip... Ayo kita balas sebelum nimbun lagi! Pertama, Sabila Foster-san... Yep, Kiku sedang bertransformasi menjadi seorang seme... Aku saja terharu... Padahal Kiku saja biasa jadi ukenya UK(e), yang berarti dia adalah uke to the core, tapi sekarang dia sudah besar... sudah bisa sedikit-dikit lah jadi seme... *nangis bombai*

Kiku : A-ano na... Author-san... Shinitai desu ka? *Dark aura*

Nesia: *ngelirik Kiku*

Kiku : Nesia-san?

Nesia : Hanya bingung, kenapa kau biasanya ditempatkan sebagai uke... Pencitraan kah? Jangan bilang ini propaganda lagi? *buang muka*

Kiku : Iie... Chigaimasu! S-saya saja tidak mengerti mengapa mereka menempatkanku di situ...

Nesia : Padahal kalau lihat sejarah, aja... Huh...

Kiku : Nesia-san... Masih tidak percaya kalau saya sudah berubah?

Nesia : ...

Author : Kiku... Kata Wikipedia sih, si Nesia itu paling pro sama kamu... Kata BBC poll 2013 & 2014 juga begitu... Jadi jangan dipikirkan, dia hanya sedang kumat tsunderenya...

Nesia : *tatapan tajam* Maaf tapi aku tidak mengidap penyakit itu!

Author : Kenapa aku meragukannya ya? *smirk* Oh ya Kiku... Coba kau bilang sekali lagi ke Nesia... "milikku"...

Kiku : *natep jijay*

Author : Oh ya sudah kalau nggak mau... Next... Veria-313-san :D Iyep, itu keluar semua Dark sidenya, mungkin? ... Entahlah, di kontrak itu Kiku... Kiku, kau tuker sama Kuro waktu kemarin?

Kiku: Iie... Sore wa...

Author : Kau les privat lagi ke Kuro?

Kiku: M-maa... Saya tidak bisa membayangkan kalau Kuro-san yang menghandel skrip kemarin... Bisa-bisa Nesia-san berada di dalam bahaya yang sebenarnya, lagi... =_="

Author : Ok, sudah aku benerin typonya... :D Haha, Neth demang trademark-nya pedofil kali ya... #ditabok Tapi untuk kemunculan Neth masih dipikir-pikir dulu ya... Soalnya kemarin baru kesambet sebuah ide dan biar bisa jalan bareng... Begitulah, hahaha :D :D

Author : Next, Ren-san :D Terimakasih sudah mau mereview... Ah, memang dari Sybil itu si ide cerita muncul, setidaknya beberapa persen... Ini saya memang nggak bisa pakai bahasa yang berbelit dan nggak bisa juga pakai bahasa yang sastra-sastra gitu... Diksi saya terbatas... T_T" Dan karakter Kiku itu... *ngelirik*

Kiku : ?

Author : Yah, di Fanfic ini dia... Pada mulanya, chapter-chapter awal, saya hati-hati sekali biar nggak OOC... Pas di akhiran gini... Yah, Fanfic kan tempat para fans menistakan karakter-karakter anime... Jadinya yah, seperti itulah...

Kiku : ... Ren-san, tolong tonton anime-nya saja, deskripsi Author itu mengarang bebas... Nanti Ren-san bisa bandingkan apakah saya sebegitu OOCnya atau tidak...

Author: Next... kisetsu. Aimai-san... :D Hohoho iya, ini udah 30-an lebih... Tidak pernah merencanakan sampai sepanjang ini... T_T" mungkin karena doa di chapter awal tentang kelanggengan cerita-nya banyak diamini... mungkin? Updetnya... Eh...

.

.

Author : M-maunya sih, seminggu sekali setiap Jumat atau Sabtu... Tapi, yah... Sejadinya deh... Tapi kalau dalam kondisi normal dalam satu bulan paling nggak ada 2-3 chapter keluar... mungkin? Hehehe... Ikutin dan tungguin ceritanya terus ya :D Kami akan berjuang... :D

Kiku : Hai... Ganbarimasu... :D

Nesia : Yah... seperti itulah... tapi jangan banyak-banyak juga ya –thor... Inget tugas negara loh!

Author : I-iya... iya... Next... Ritsu Fujisaki-san... Terimakasih banyak :D Terimakasih juga sudah me-review :D Itu Tara sudah muncul di atas :D semoga tidak mengecewakan :D

Nesia : Next, Kak Qwerty-chan...

.

.

.

Author : Nesia? Nesia? Wooooi?

Kiku : Doushita yo?

Author : Tau nih... Tahu-tahu diam gitu...

Nesia: *ngasih surat ke Author* A-aku pengen nangis! *mojok di sudut ruangan*

Author: Kenapa sih? *membaca*

Kiku : ?

Author : Jadi kau sudah diikhlaskan untuk Kiku, Nes?

Kiku: *nelenludah*mukamerah

Nesia : A-aku salah apa, coba?!

Author: Kok salah apa sih? Yaudah nanti tak carikan janur kuning...

Nesia : Nggaaaaaaaaaaaaaaaaaaak!

Kiku : Janur kuning?

Author : Untuk Neth... Dia... Yah, nanti kayaknya dia telat keluar... Eh, Nesia... Si Peddo-bunny lagi kemana sih? Biasanya dia nongol? Staff ada yang tahu nggak?

Staff A : Nggak tahu Author...

Staff Kamera : Author... Saya tadi lihat Neth saat editing gambar... Sepertinya dia masih syok dan belum berhasil mengumpulkan nyawanya lagi...

Staff B : Iya tadi mukanya sampai pucat banget... Kukira masa hidupnya sudah berakhir tadi...

Staff C : Mungkin Neth trauma...

Author : ... Oh, ya sudah... Nanti bawakan saja dia kopi hitam atau susu... Atau kalau kalian punya, keju edam... Kalau nggak sadar-sadar, bilang saja kelincinya yang cokelat itu mau aku sate sore nanti...

Kiku : A-author-san...

Author : Kalau nggak gitu dia pasti bakalan jadi dedemit jadi-jadian di sini... Udahlah... Next... Tomo-san...

.

.

Author : Tomo-san... Maaf banget ini updatenya telat banget... 3 bulan, ya ampun... ini rekor... Y_Y" Maaf... Dan semoga nggak terulang lagi... Adegan uhuk-ehem-huk-huk itu... Eh... Entahlah... Mungkin gagal... """"OTL

Kiku: Tolong jangan ada yang seperti itu lagi, Author-san... Kasihan Nesia-san...

Author : *grin* Heeee... Oke deh...

Kiku : Kenapa aku malah dapat firasat buruk?

Author : Kiku... Emangnya pas KAA kamu ngapain Nesia? Nglamar ya?

.

.

Kiku : Iie... Itu tidak mungkin... Uh... Y-yang mana ya? Pas KAA aku ngapain ya?

Author: Halah... pura-pura lupa dia... Padahal dapat banyak banget, termasuk Private Meeting juga kok...

Kiku: A-ah... itu... Eh... Itu hanya Bos-ku saja...

Author : Heh... Mana percaya... Oke... Next... Azukihazl-san... Udah... Nggak apa-apa... Semoga berhasil di ujian dan tryoutnya ya :D (walaupun udah telat, tetap ngucapin aja lah... :D) Apakah ini klimaksnya? Hmmm...

Kiku : Sepertinya bukan... Sepertinya ini masih dalam tahap reveal... Semoga nanti pas tahap klimaks tidak ada tragedi...

Author : Yah... Di dalam sebuah cerita kan ada berbagai klimaks, mungkin ini salah satunya... :"D Haha, Iya itu si Kiku... Nesia main dicium gitu...

Kiku : Itu ada di dalam skrip!

Author : Dan kau curi-curi... aku tahu itu!

Kiku : Kalau begitu hentikan rate T+++++++ ini!

Author : Dan melagkah ke M? Sepertinya sudah ¾ jalan...

Kiku : Jangan ke arah sesat itu!

Author : Sudahlah... Ah, kata-kata itu, malam yang indah... :D Aku sendiri merasa aneh pas mengetiknya... Ambigu banget... Next! Yuki Hiiro-san... Sabar... Kalem... Kalem... Iya... Perjalanan yang sudah cukup jauh ya... Saya berasa tambah tua... #Digeplak Mohon bantuannya sampai cerita ini berakhir ya :D Ganbarimasu :D

Kiku : Sugi wa... kuroshiropika-san...

.

.

Kiku : *mbayangin doujin *mukanya memerah

Author : Berani taruhan... Kiku sedang memikirkan yang nggak-nggak...

Kiku : Iie... boku... uh...

Author: Sudahlah, Kiku... Itu sudah menjadi rahasia umum... Apalagi setelah Feli menemukan buku *piiiip* itu...

Kiku : EEEEEEEEEEH?!

Author : Chapter bonus ya? Nanti saya usahakan... Tapi mungkin itu pair serem baget ya... *mikirin skenario sadis* mungkin Ina x Kuro kolaborasi menyiksa Neth?

Nesia: Author... Kau sudah lelah...

Author : Ya sudah... Salam Ganteng juga :D Next, fiv-san...

.

.

.

.

Author : Oke... Kita ganti! Ada twist story... Ternyata Kiku lah yang menderita DID!

Staff, Kiku, Nesia : JANGAN BERCANDA!

Author : katanya seruan kalau cowoknya yang kena DID!

Nesia : terus kita mau re-take lagi? Dari awal?

Author : Ya... Kan...

Kiku : Author-san terlalu mudah terpengaruh orang lain...

Author : Tapi kemarin aku juga melihat drama yang dibawa Yong Soo tentang DID juga... yang kena cowoknya dan itu bagus... Atau... Nesia! Ternyata kau itu cowok tulen!

Nesia : *Bawa-bawa golok*

Kiku : *menahan Nesia mati-matian* Nesia-san... Nesia-san... Tolong hentikan... walaupun ia durhaka... tapi membunuh juga tidak menyelesaikan masalah... Baca saja Review selanjutnya... Review dari Eqa Skylight-san...

Nesia : Apa yang akan dilakukan Kiku... *atap tajam Author

Author : Hiiiiiyyyy...

Nesia : Bersumpahlah tidak akan ada Garuda ataupun hal-hal menjurus setelah ini...

Author : O-o-o-oooke... Beberapa chapter...

Nesia : ... *balikin golok

Author : Eqa-san, mungkin Garuda beberapa chapter ini akan off dulu... Yah, gantian lah dengan alter lain... :D Oke, fav aja :D Terimakasih ya... :D

Author : Next, kuroi uso-san... Domo arigatou... Ini dilanjut, hehe :D Maaf lama banget ya lanjutannya... T_T" Next, Codename Sailor D-san... Terimakasih karena sudah me-review :D Saya tidak begitu yakin apakah itu Dark!Kiku atau Kiku yang OOC karena salah sarapan pagi tadi... Atau mungkin twist story-nya Kiku akan punya Alter Ego? Mungkin karena terlalu stres menghadapi Nesia? #abaikan

Kiku : A-ano na...

Author : Maaf karena ini telat sekali, sampai 3 bulan juga... Sekali lagi Terimakasih banyak :D

Segini dulu ya, chapternya :D Semoga besok disambungnya nggak telat lagi... :D Sekali lagi maaf atas keterlambatan dan hijrah rate-nya yang berpindah dari T ke M (karena cerita ini memang sudah termasuk ranah M bagi orang Indonesia, walaupun kalau di luar negeri mungkin masih T)... Tapi walaupun hijrah, Author tetap tidak akan memberikan konten M, paling T++++++ seperti biasa, ini hanya sebagai cari aman saja :D :D :D

Sekali lagi Maaf dan Terimakasih. Juga tetep minta kritik, review, dan sarannya ya :D

See You Next Time :D