Kiku tengah duduk di lantai dan nyaris tertidur saat lampu kamar mandi menyala. Inginnya ia segera mendobrak pintu dan memarahi setiap jiwa yang nanti nongol di hadapannya. Namun ia tidak bisa bergerak karena, selain terlalu lelah, Nesia tengah tertidur lelap dan menyender padanya. Apa yang bisa ia lakukan sekarang adalah bernafas menenangkan diri sendiri dan mempersiapkan muka tebal serta menunggu pintu kamar mandi dibuka.
"Ah! Di sana kalian rupanya..." ucap Kakek Tara setelah membuka pintu kamar mandi sembari menyengir aneh, menertawakan keadaan Kiku dan Nesia.
HETALIA AXIS POWERS © HIDEKAZU HIMARUYA
In
- ALTER EGO –
LittleOrchids045
"Kondisinya normal... Dia baik-baik saja dan tidak perlu melakukan penghangatan... Tapi kita memberinya beberapa tindakan untuk berjaga-jaga..." ucap seorang dokter kepada Kiku.
Kiku menghela nafas lega setelah mendengarnya. Ia takut terjadi apa-apa pada Nesia, maka dari itu sekarang ia membawa Nesia ke rumah sakit terdekat. Maksudnya, mereka berdua terkurung pada waktu basah dan kedinginan. Nesia juga sempat pingsan juga karena itu. Jika Nesia menderita gangguan karena hipotermia, maka keadaan tubuhnya harus diperiksa sesegera mungkin untuk memastikan tidak ada syaraf atau bagian tubuh yang rusak.
Kiku pun tersenyum tulus, "Terima kasih, dokter..."
"Daripada itu... Kau terlihat sangat pucat... Apakah kau baik-baik saja?" tanya dokter itu lagi.
"Iie... Saya hanya terlalu lelah..."
"Begitu... Kalau begitu istirahatlah..." ucap dokter tersebut sambil lalu.
"Hai... Sekali lagi, terima kasih banyak, dokter..." ucap Kiku sembari membungkuk memberi hormat sebelum memasuki kamar di mana Nesia ditempatkan.
"Jangan menakut-nakuti aku, Nak Kiku... Kau tiba-tiba panik dan berteriak minta ambulans atau taksi untuk ke rumah sakit... Kukira salah satu dari kalian sedang meregang nyawa!" seru Kakek Tara sebal.
"Nesia-san memang dalam keadaan yang berbahaya! Tara-jiisan... Sebaiknya hentikan perbuatan kurang kerjaan yang berbahaya ini... Kami baik-baik saja, tidak bertengkar, tidak marah-marahan apalagi main selingkuh-selingkuhan... Tidak perlu mengunci kami di sebuah kamar, apalagi kamar mandi seperti kemarin... Nesia-san sempat terkena hipotermia dan tidak sadarkan diri!" balas Kiku tak kalah sebal kepada seorang kakek tua yang tengah duduk di sofa.
"Y-ya... Kami kan tidak tahu... lagipula aku hanya bilang untuk mengurung kalian di kamar hotel, bukan kamar mandinya..."
"Sama saja..."
"Yah, maaf..." ucap Kakek Tara lagi, semakin menciut karena kemarahan Kiku.
"Lagipula, kenapa anda mengurung kami? Kalau ini karena masalah yang ada di antara kami... Saya kira anda tidak berhak untuk ikut campur... Apalagi sampai membahayakan nyawa kami..."
"U-ugh... Jangan bilang membahayakan nyawa dong, Nak Kiku... Aku benar-benar menyesal..." ucap Kakek Tara, "Habisnya... Kalian itu lucu..."
Apakah "lucu" kini berpotensi untuk membunuh kami?!
"Tolong maafkan kami? Ya? Ya?" Kakek Tara kembali memohon.
Kiku menghela nafas lelah, "Pokoknya... Jangan ulangi lagi... Saya mohon, bercanda seperti itu sudah tidak lucu lagi, Tara-jiisan..."
"Baiklah... Aku janji!" ucap Kakek Tara, "Aku dimaafkan kan?"
"Ya..." balas Kiku datar.
.
.
"Kau tahu, Nak Kiku..." Kakek Tara membuka sebuah cerita, "Di detik pertama aku melihat Nak Nesia saat makan malam itu... Ada sebuah perasaan yang aneh yang menyesak di dada ini..."
.
.
"Nak Kiku... Tolong jangan tatap aku demikian... Tentu saja ini bukan perasaan jatuh cinta pada pandangan pertama atau sebangsanya..." seru Kakek Tara menegur Kiku yang tengah melihatnya dengan tatapan aneh.
"Ah... E-etto... Ini..." Kiku memalingkan mukanya kagok, pada akhirnya ia lebih memilih menunduk dan memperhatikan wajah tidur Nesia.
"Nak Kiku ingat? Aku pernah bilang bahwa Nesia mirip dengan istriku?"
"Eeeh... Hai..."
"Ya... Saat aku pertama bertemu dengan Nak Nesia... Aku merasakan getaran yang kukenal, atmosfer dan perasaan yang tidak asing... Itulah sebabnya aku bilang Nak Nesia mirip dengan istriku..."
Sou desu ka? Kukira itu hanya bercanda saja...
Kiku mengingat-ingat kembali percakapannya dengan Kakek Tara pada malam itu. Kiku ingat Kakek Tara tertarik pada Nesia. Juga beberapa penggal cerita tentang cucunya dan kesendiriannya.
"Nak Kiku... Boleh aku bertanya... Seperti apa keluarga Nak Nesia dan keluargamu?"
.
.
"Eeeeeh?! Eeee-etto... na... Ano..." gumam Kiku terbata-bata, tidak mengerti bagaimana harus menjelaskannya pada Kakek Tara. Keluarga yang ia sebutkan pada waktu makan malam itu adalah rekayasa, tentunya itu tidak bisa diceritakan lebih lanjut bukan?
"Katakan saja, Nak Kiku..." ucap Kakek Tara, "Apakah kalian memiliki basis pengusaha? Darah enterpreneur?"
Kiku terdiam. Menebak-nebak apa yang tengah ada di dalam pikiran Kakek Tara ini, "E-etto... M-ma... Keluargaku berbisnis... sedikit..."
"Nak Kiku... Jika dasar keluargamu itu bisnis dan kau bersekolah di sekolah besutan Germania ini, maka itu adalah bisnis yang cukup besar..." ucap Kakek Tara tak percaya.
Ugh... Yabai...
Ucapan Kakek Tara benar-benar menusuk dan menguliti dirinya. Kini Kiku benar-benar menyesal, mengapa ia tak mengaku anak salah satu walikota saja atau apapun itu selain membawa nama perusahaannya. Jika Kakek Tara bertanya pada Kiku apa nama perusahaan yang dikelola oleh keluarga Kiku, kemudian Kiku menjawab jujur, maka terbongkarlah semua kebohongan tentang dirinya, Nesia, pernikahan palsu mereka, dan semuanya yang ia rekayasa sampai saat ini.
Sangat mudah melacak dirinya; seorang tuan muda yang mengelola perusahaan yang cukup sangat besar dengan tangan dingin. Apalagi liburan kenaikan kelas kemarin Kiku sempat 'mencolok' di rapat Keidanren (Federasi Bisnis Jepang) dan juga sempat membuat 'percikan' saat pertemuan dengan JCCI (Japan Chamber of Commerce and Industry).
Sekarang ia menyesal, kalau ia tahu bakal bertemu dengan Kakek Tara dan terjebak dalam drama aneh di semester ini, mungkin sebaiknya ia diam dan menurut saja saat pemerintah Jepang mulai memperhitungkan ketidakseimbangan antara pajak yang diterima dengan modal perusahaan yang ditanggung.
Ini tidak bagus. Kiku berpikir ini adalah detik-detik yang sangat gawat di dalam hidupnya. Kiku harus tenang, ia harus bisa keluar dari masalah ini. Kakek Tara memang kelihatannya menakutkan. Jika berbicara sebagai pengusaha, Kiku bisa melihat beliau adalah seorang veteran. Mungkin perusahaan Kakek ini cukup besar di Indonesia. Akan tetapi, Kiku tidak pernah mengenal Kakek Tara sebelum ini...
I-Iie! Chigau desu! Nusantara Group... Nusantara Group wa...
Muka Kiku pucat seketika saat mengingat kartu nama yang diberikan Kakek Tara waktu itu dan saat otaknya berhasil mengingat apa arti dari 'Nusantara Group'; anak emas –bukan, bahkan "orang tua" pelindung dan pengarah KADIN (Kamar Dagang dan Industri) Indonesia. Group yang besar, bahkan sangat besar dengan berbagai macam anak perusahaan di seluruh pelosok Indonesia. Perusahaan yang Group Ownner-nya tidak pernah kelihatan saat pertemuan Jetro (Japan External Trade Organization), bahkan kabarnya saat acara sebesar APEC juga tidak keluar. Sangat sulit mengurusi 'deal' dengan owner Nusantara Group, sesulit menemuinya.
Namun sekarang, di detik ini dan sedari kemarin, Kiku berhadapan dengan pengusaha paling misterius namun juga paling berpengaruh di Indonesia itu.
Yang memegang Indonesia. Di depannya. Cengengesan.
.
.
Honda Kiku, jangan panik... Jangan panik sekarang... Bernafas! Bernafas! Ingat... Ini pembicaraan antara seorang anak Senior High dengan Kakek-kakek... Bukan antara pengusaha profesional... Jangan pikirkan tentang energi, SDA, SDM... Kuso... Aku jadi ingin bertanya tentang investasi LNG, infrastruktur, perikanan... Kalau aku bisa menggandeng Kakek Tara, mungkin pemerintah Indonesia tak akan rewel lagi dan mungkin pembebasan lahan akan lebih cepat dan mudah...
"Nak Kiku?"
Ini kesempatan sekali seumur hidup... Lagi pula tren investasi saat ini adalah ke Asia, terutama ASEAN... Kalau bisa pegang Indonesia dan Group Nusantara... Kalau bisa memegang mereka... Kemenangan mutlak...
"Oooi... Nak Kiku?"
Aku harus telepon jajaran direksi sekarang dan menyuruh mereka membuat MoU dan Agreement... Tunggu... Apa ada FAX di rumah sakit ini?! Atau email, kita bisa pakai stylus untuk tanda tangan... Tapi sebelum itu aku harus bisa meyakinkan Tara-jiisan...
"Nak Kiku? Kau tidak apa-apa?" panggil Kakek Tara lagi, kali ini sembari melambaikan tangan.
"A-ah... Hai? Ada apa Tara-jiisan?" jawab Kiku datar dan kalem, menyembunyikan tornado yang sedang memorak-porandakan pikirannya.
"Aku yang seharusnya bertanya, ada apa? Kenapa kau melamun?" ucap Kakek Tara heran.
Chigau desu! Ini bukan saatnya ekspansi perusahaan! Aku seharusnya khawatir kalau hubungan Nesia-san dan diriku ketahuan rekayasanya! Jika ketahuan... Jika sampai ketahuan...
.
.
.
Jangan-jangan nanti kita disuruh menikah sekarang juga... Bagaimana aku akan menghadapi chichiue?!
"Iie... N-n-n-na-nandemo arimasen..."
"Mukamu merah, Nak Kiku..."
"Haha... S-sou ka?" Kiku mengelak sembari berusaha menenangkan pikirannya, "S-saya hanya... Mengkhawatirkan Nesia-san... K-kenapa tidak bangun-bangun ya? Hahaha..."
"Jadi benar... Perusahaan Nak Kiku 'cukup' besar?"
-Glek-
"Oh! Jangan-jangan perusahaan Honda itu ya?!" seru Kakek Tara riang.
Wajah panik Kiku sontak berubah facepalm.
.
.
.
"Yang membuat mobil dan motor itu kan?" imbuh Kakek Tara mengecek karena Kiku hanya diam saja, "Kenapa kau malah tidak berekspresi begitu?"
"Eh... Etto... H-hai... Saya, umnh... cabang... Relasi yang sangat jauh dari pusat... jadi..." ucap Kiku kagok karena harus berbohong. Ia tidak mau membayangkan apa kata 'Honda yang itu' saat mengetahui bahwa dirinya harus mencatut nama mereka untuk bisa selamat dari Kakek aneh ini. Kemungkinan terbesar, mereka akan tertawa.
Kenapa aku tidak mengaku sebagai anak politisi saja tadi? Hgh...
"Kalau begitu setidaknya kau memiliki basis bisnis, yah... Apakah Nesia juga begitu?"
"Iie... Nesia-san... Setahuku keluarga mereka biasa saja... Uh... Ayah Nesia-san adalah seorang... Penegak hukum!" ucap Kiku mengarang bebas.
.
.
"Hmm... Keluargamu bermusuhan dengan keluarga Nesia..." gumam Kakek Tara, "Jangan-jangan kau ini Yakuza?"
"C-chigau desu!" elak Kiku lagi. Kenapa Kakek Tara bisa berpikir sampai sana?
Kiku harus memutar otak, membenarkan semua prasangka yang telah terbangun di kepala Kakek Tara, "A-ayahnya Nesia-san... Adalah penegak hukum... yang sekarang menjadi... sedang kuliah... di sebuah universitas... di Tokyo... dan menjadi saingan Ayah saya... karena sama-sama keras kepalanya!" seru Kiku bangga menyelesaikan cerita absurdnya itu.
Jika ayahnya mendengar cerita ini, ia pasti akan dibunuh.
"Ayahmu orang hukum juga?" gumam Kakek Tara, "Tunggu... Itu berarti permusuhan antara keluarga ini baru-baru saja?"
"Eh... A-anehnya... Kakek dan kakeknya kakek kami juga terlibat hal serupa... Tapi tidak sama... Eh... Ini bermula tahun... Hmmm... Mungkin sebelum perang dunia ke 2?"
"Benarkah?" tanya Kakek Tara heran, "Lantas siapa yang berbisnis dan menjadi relasi keluarga Honda?"
.
.
"... Ibu?" ucap Kiku lirih sembari melirik ke arah lain.
"Hmm... Begitu yah... Tapi setidaknya kau tahu manajemen bukan?"
"E-eh? T-tidak... S-saya... Saya berencana untuk menjadi ilmuwan... Saya ingin menciptakan..." Kiku tidak yakin, "Mobil listrik yang hanya butuh di charge selama 5 menit namun bisa menempuh perjalanan 10.000 km?"
"Ambisius, hmmm...?" Kakek Tara menatap Kiku dengan penuh penilaian.
Sedangkan Kiku hanya bisa menelan ludahnya dengan usaha sekuat tenaga.
"Nak Kiku tahu Nusantara Group?"
.
.
"Perusahaan milik Tara-jiisan?" jawab Kiku khawatir. Ia tidak mengerti mengapa ia begitu panik dan berkeringat dingin.
"Aku tidak memiliki penerus dan aku tidak mau menyerahkannya pada Datuk dari Malaysia itu walaupun ia menikah dengan anak perempuanku..." ucap Kakek Tara dingin.
"T-tara-jiisan memiliki anak perempuan?"
"Ya... Tapi aku lebih mirip dan selalu merasa sebagai kakek-kakek sebatang kara..." ucap Kakek Tara, "Maka dari itu aku berpikir untuk mengangkat Nak Nesia sebagai cucu angkatku dan aku bisa menyerahkan Groupku pada kalian... Setidaknya aku lebih ikhlas jika itu kalian..."
Heh?!
.
.
.
.
.
.
.
HEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEE?!
"Nak Kiku kaget ya? Hehehe..." goda Kakek Tara, "Tapi ini serius..."
.
.
A-A-APA... APA YANG SEBENARNYA TERJADI DI SINI?!
"E-etto... Ano... Tara-jii san... Demo ne... W-watashi wa... Anata no kazoku dewa arimasen... –Saya bukan keluarga anda..." ucap Kiku mulai ketakutan.
"Aku hanya tinggal menuliskan wasiatku dan tidak akan ada yang membantah... Perusahaanku cukup besar, loh..." ujar Kakek Tara enteng.
W-watashi wa shitemasu! –A-aku tahu itu!
Kiku tidak menduga sama sekali akan hal ini. Maksudnya, ada seseorang seperti Kakek Tara menawarkan perusahaan besarnya padanya secara cuma-cuma.
Ini mengerikan. Benar-benar mengerikan. Selama ini, sampai detik ini tidak ada yang mau menyerahkan perusahaannya secara cuma-cuma kepada Kiku. Dari seluruh pengalaman mengakuisisi perusahaan, merger dan mengurusi 'kerajaannya' selama ini, tidak ada referensi untuk menghadapi masalah satu ini.
"Eh... Tapi, Tara-jiisan kan masih punya keluarga..." ujar Kiku mengingatkan.
Ia tahu, bahkan hafal. Group sebesar Nusantara Group, pasti akan ada perselisihan atau 'perebutan takhta'. Apalagi ketika dirinya, sebagai orang asing, tiba-tiba muncul dan seolah ingin merebut Group itu. Sudah cukup ia berada di dalam drama perebutan kekuasaan perusahaan milik keluarganya sendiri, drama persaingan menjadi Group terkemuka di Asia Timur, serta satu lagi yang menjadi PR-nya, tuntutan drama Perusahaan Internasional. Jadi, tolong, tolong sekali, jangan ikut-sertakan ia dalam drama perusahaan lain seperti ini. Apalagi yang berpotensi masalah besar.
Bisa-bisa ia ditertawakan oleh Yong Soo, lagi, karena terlalu banyak drama perusahaan. Masih mending kalau ada romansa-romansa seperti di drama Korea yang selama ini digarap oleh makhluk menjengkelkan itu! Lah, yang terjadi padanya kan tidak seperti itu!
"Yah... Keluarga..." Kakek Tara menghela nafas dengan pesimis.
"T-tara-jiisan? Dousaremashita ka?" tanya Kiku harap-harap cemas.
"Keluargaku dan aku sudah hancur sejak lama..." jawab Kakek Tara.
"S-sou? T-tara-jiisan... Jangan bilang seperti itu... Mungkin saja..."
"Anak perempuanku tidak pernah kembali ke rumah ataupun mengkhawatirkan keadaan ayahnya yang hampir gila karena anak laki-lakinya... Masih bisakah aku menyerahkan apa yang selama ini aku perjuangkan dan pertahankan pada anak dari anak perempuanku yang bahkan baru kuketahui sekitar 4 tahun belakangan ini?" ucap Kakek Tara penuh pertimbangan, "Kau kenal Razak?"
"Eh... M-ma..." perasaan Kiku langsung tak enak ketika mendengar nama itu.
"Sejujurnya aku tahu anak itu bersekolah di sini..." ungkap Kakek Tara, "Itulah kenapa aku mau datang dan terus menetap di rumah Germania... untuk mengawasinya..."
Jadi bukan untuk mengerjaiku? Yokatta...
"Tapi aku malah menemukan kegiatan yang lebih menyenangkan daripada menilai cucu yang masih belum kukenal dengan baik itu..." Kakek Tara menyunggingkan smirk nakal.
Tunggu sampai aku beli 90% saham Group Nusantara itu!
Kiku mendengus sebal ketika mempertimbangkan pembelian saham itu. Group Nusantara lumayan besar dan ia tidak begitu yakin akan mengeluarkan uang sebanyak itu hanya untuk balas dendam. Mungkin ia akan menguasai 55% saja –setidaknya ia sudah bisa menang di rapat pemegang saham dan membuat Kakek aneh ini berhenti melakukan hal-hal absurd.
"Lalu... Bagaimana menurutmu, Nak Kiku?" tanya Kakek Tara.
"Etto... Tara-jiisan... Saya kira sekarang bukan saat yang tepat... Nesia-san sedang istirahat dan saya juga lelah... Jadi..."
"Begitukah? Ya sudahlah..." ucap Kakek Tara mengalah sembari bersiap untuk keluar ruangan, "Nak Kiku... Makan malam denganku?" tanya Kakek Tara dengan nada yang tak bisa Kiku bantah.
Itu adalah nada yang sangat tegas, sangat kuat serta menjanjikan kerja sama penting atau pemikiran brilian. Selama ini baru 3-4 orang yang Kiku kenal bisa menggunakan nada yang membuatnya langsung bersikap hormat sebagai sesama pengusaha itu.
"Hai... Yorokonde... –dengan senang hati..." jawab Kiku dengan nada yang sama.
"Mnh... Istirahatlah Nak Kiku..." imbuhnya di ambang pintu sembari tersenyum lembut, "Jangan terlalu tegang... Aku menyukaimu lagi pula..."
"U-un... D-doumo arigatou gozaimashita..." ucap Kiku heran, namun tetap memberikan hormat sesempurna biasanya.
-kriet-
Kakek Tara menutup pintu kamar Nesia dirawat dengan rapat. Setelah ia berjalan beberapa langkah, ia mulai mengambil handphone dan menekan sebuah nomor telepon. Tidak perlu menunggu lama, nada tunggu telepon itu bahkan belum sempat berdering saat seseorang di ujung sana menjawabnya.
"Tuan Besar?"
"Surya... Kau di mana sekarang?" tanya Kakek Tara sembari duduk di salah satu bangku taman.
"Saya berada di Manokwari... Logistik yang anda keluhkan baru saja kami atasi... " balas pemuda itu hormat di ujung telepon.
"Itu cukup cepat... Bagus..." ucap Kakek Tara memberikan pujian, "Bagaimana kabar Nak Papare?"
"Baik... Dan semakin baik dengan kedatangan logistik yang anda kirimkan..." jawab Surya kalem, namun Kakek Tara tahu pemuda di ujung telepon tersebut sedang menahan senyum.
"Bilang padanya untuk hati-hati lain kali..." pesan Kakek Tara, "Kau langsung pulang ke Surabaya?"
"Jika tidak ada masalah lagi, pak..." jawabnya, "Tetapi anda menelepon saya dari device khusus... Apa yang bisa saya bantu?"
"Maaf kakek tua ini selalu merepotkanmu..." ujar Kakek Tara bercanda, "Tapi aku ingin kau cari penerbangan tercepat ke Jakarta, temui Jaka... Aku ingin kalian mencari identitas dan latar belakang, dua orang... Pastikan ini hanya di antar kita bertiga... Aku akan kirimkan data singkatnya..."
"Baik, Tuan Besar..." ucap Surya serius di ujung sana, "Ada lagi?"
"Buat juga janji dengan rumah sakit, aku ingin tes DNA... Sekali lagi, ini rahasia tingkat tinggi... Pastikan pihak rumah sakit paham akan hal ini..."
"Baik, Tuan Besar... Saya akan memastikannya... Kapan anda berencana sampai di Indonesia?"
"Mnh... Apakah seminar di Makassar masih berlangsung sampai lusa?"
"Sebentar, pak..." jawab Surya meminta waktu untuk membuka buku catatannya, "Ya, pak... Seminar itu berakhir lima hari lagi..."
"Bagus... Kau boleh pesankan tiketku, Nak Surya... Pesankan tiket ke Hasanuddin dan beri tahu Nak Makatenga kedatanganku ke Makassar besok... Pesankan tiket ke Amsterdam di hari yang sama di detik-detik terakhir... Carikan aku biro wisata keluarga ke Sumut... Ah, bilang sama Nak Sutan atau Nak Monang untuk menjemputku di Kualanamu... Lalu pesankan dari Fisabilillah ke Achmad Yani, ekonomi... Aku akan naik Gumarang, kau tahu kapan dan di mana menjemputku... "
"Baik, pak..." ucap Surya agak khawatir. Tiket ekonomi, perjalanan sangat jauh, posisi Kakek Tara sebagai Owner Nusantara Group dan terutama, umur Kakek Tara bukanlah hal-hal yang bisa bekerja sama dengan baik.
"Kita langsung ke rumah sakit hari itu juga sebelum sampel yang kubawa hilang atau seseorang mengetahui aku pulang lebih awal... Pesankan kamar di Aryaduta Menteng... aku akan tinggal di sana sampai waktu pulangku yang sebenarnya... Atau setidaknya sampai mereka sadar bahwa aku sudah pulang..."
"Baik..." jawab Surya lagi. Ia membuat mental note untuk mengatur jadwal chek-up kesehatan Kakek Tara setelah melakukan tes DNA.
"Oh ya... Ini tugas terakhir yang paling penting..." Kakek Tara mengingatkan dengan nada seriusnya, "Aku ingin kau waspada terhadap apa saja, siapa saja, dan keadaan apa saja yang ada di perusahaan terutama pada orang-orang yang mungkin saja mata-mata dari para dewan direksi atau siapapun ketika menjalankan tugas ini... katakan ini juga pada Jaka..."
"Baik, Tuan besar..."
"Aku ingin kalian mempelajari seluruh relasi keluarga Ranggawardhani... Siapa memiliki masalah dengan siapa... Apa yang mereka sembunyikan dariku... Cari gosip apapun dari siapapun... jangan sampai mencurigakan..."
"Baik..." ucap Surya dengan sedikit penasaran. Apa sebenarnya yang tengah Kakek Tara lakukan saat ini. Mana ada tes DNA segala.
"Cari juga latar belakang dan seluruh relasi dari menantu-menantuku... Terutama Istri Dirgantara..."
"T-tuan Besar... Kita tidak sedang..."
"Terakhir, Surya... Selidiki kematian menantuku dan selidiki kecelakaan 10 tahun lalu..." ucap Kakek Tara sembari menahan serangan panik karena emosi, "Kecelakaan yang merenggut anakku dan cucu perempuanku..."
.
.
"Baik, Tuan Besar..."
*O*
Kiku mengetuk-ngetuk meja makan sembari melirik jam tangannya. Ini sudah lebih 15 menit dari waktu perjanjian dengan Kakek Tara. Kiku tak habis pikir, bagaimana pengusaha sekaliber Kakek Tara bisa terlambat pada janji yang ia atur sendiri? Apakah ini yang namanya pengusaha veteran; bebas membuat orang lain menunggu? Yah, dalam suatu segi pandang orang yang ditunggu terlihat lebih berkuasa daripada yang menunggu. Akan tetapi, itu memperlihatkan ketidak-profesionalan dan ketidak-niatan. Bisa saja kan, ia sebagai penunggu merasa bosan dan akhirnya malah membatalkan janji atau yang lebih gawat lagi, perjanjian kerja sama?
Kiku tersenyum kecil mengingat saat ia baru masuk ke perusahaan dan diserahi jabatan GM. Beberapa kali ia meninggalkan pertemuan karena lawannya meremehkannya dan tidak menghormatinya. Akhirnya mereka juga yang kelimpungan mengejar-ngejar dirinya untuk banyak alasan, terutama meminta penjelasan karena perubahan kebijakan yang sangat signifikan, 'merayu' – jika Kiku tidak mau menyebutkan kata 'menjilat' dan menyerahkan surat pengunduran diri karena syukurlah, mereka masih punya harga diri.
Kemudian, kadang-kadang seminggu setelah itu ia akan mendengar kasus bunuh diri.
Maa... Hari-hari yang cukup menyebalkan...
Kiku pun mulai menebak-nebak, apa yang sebenarnya terjadi pada Kakek tua itu sehingga ia terlambat. Kalau tahu begini jadinya, seharusnya ia tetap di rumah sakit saja menunggui Nesia.
Namun tepat sebelum ia beranjak dari tempat duduknya, ia melihat seseorang tua yang berjalan menuju ke arahnya sembari cengar-cengir tidak jelas. Mungkin meminta maaf, Kiku menebak – tapi ia tidak yakin. Seharusnya seseorang yang meminta maaf memperlihatkan wajah menyesal bukan? Kenapa ini malah cengar-cengir?
"Lama menungguku, Nak Kiku?" tanya Kakek Tara sembari mengambil tempat duduk di hadapan Kiku yang masih cemberut, "Oh, ya... Maaf... Sudah telat... Hahaha..."
"Apakah anda menjalankan perusahaan dengan cara seperti ini?" selidik Kiku.
"Tentu saja tidak... Aku ada sedikit urusan tadi..."
"Kalau begitu anda seharusnya memberi tahu bukan?"
"Yah... Kan baru 15 menit..."
Baru 15 menit katamu?! Itu sudah lebih dari setengah durasi satu episode anime! Kalau itu anime Hetalia, kita bahkan sudah ketinggalan 3 episode!
"Ayolah... Maafkan aku..." bujuk Kakek Tara lagi.
Kakek Tara tidak bisa memberitahukan alasan sebenarnya mengapa ia terlambat; ia harus mengambil sampel DNA milik Nesia. Hal ini harus ia lakukan di belakang Kiku, setidaknya untuk saat ini karena Kiku belum mau menyatakan persetujuan kepada rencananya.
Yah, tapi di makan malam inilah ia dan bercerita semua rencananya. Malam untuk melihat, apakah mereka bisa bekerja sama atau tidak.
"Sudah memesan makanan, Nak Kiku?" tanya Kakek Tara sembari memanggil seorang pelayan.
"Iie... Mada..." jawab Kiku.
"Mau makan apa?" tanya Kakek Tara lagi sembari menerima daftar menu yang diberikan oleh pelayan restoran itu, "Pesan saja... Aku yang traktir..."
"Etto..." gumam Kiku berpikir sembari melihat ke buku menu yang baru saja ia terima, "Aku pesan apa yang anda pesan saja..."
"Escargot?" tanya Kakek Tara bermaksud menggoda. Kebanyakan orang awam akan merasa tidak nyaman jika harus memakan masakan siput itu, walaupun itu adalah makanan mewah sekalipun.
.
.
.
"Eh... A-aku tarik kata-kataku..." ucap Kiku merinding.
Kiku punya pengalaman yang kurang menyenangkan dengan siput kesukaan Francis-senpai itu. Meskipun katanya Escargot adalah makanan mahal yang sangat enak, nikmat, berseni-berkelas-atau-apalah-itu-Kiku-tidak-peduli, tetapi tetap saja. Jika ia harus memakan makanan itu kemudian mengingat tragedi tahun lalu, tragedi di mana Francis-senpai mengejar-ngejar hampir seisi sekolah untuk dicekoki masakan siput yang baru saja ia buat di dapur Gourmet Club itu –dan ia tidak memakai baju kecuali setangkai mawar merah pada saat misinya berlangsung pula, Kiku pun akan kehilangan nafsu makannya, mual-mual atau bahkan, mungkin muntah.
FIX! Itu adalah kejadian horor paling traumatis seumur hidup Kiku.
Kiku jadi ingat akan jeritan Arthur ketika pemuda Inggris tersebut berhasil ditangkap oleh dedemit Prancis tak tahu malu itu. Bahkan Alfred yang biasanya berteriak-teriak menjadi Hero dan akan menyelamatkan siapa saja pun hanya bisa sembunyi dengannya di salah satu loker di ruang guru sembari menunggu tembakan-tembakan AK-47 yang terus menggema bersamaan dengan suara besi keran air yang dipukulkan ke lantai, suara Chopin Etude Op.25, no. 11, Le vent d'hiver dan Chopin Piano Sonata, Op. 35 No.2, Funeral March kemudian teriakan seorang Jerman yang hampir kalap disusul pukulan teflon dan terakhir bel pemadam kebakaran untuk mereda.
.
.
"Nak Kiku? Kau kenapa?" tegur Kakek Tara membuyarkan lamunan mengerikan Kiku, "Kenapa kau sangat pucat? Sebegitu bencinya, kah, pada Escargot?"
"Iie... W-watashi... Etto... Warui yume o omoidashita... –H-hanya teringat mimpi buruk..." ucap Kiku kagok, "T-tara-jiisan sudah pesan?"
"Ya... Aku harap kau tidak keberatan dengan coalfish sebagai appetizer... Atau kau mau Oysters? Caviar?"
"Eh... Tidak... Saya tidak keberatan..."jawab Kiku sebelum Kakek Tara mulai menawarkan hal-hal aneh.
Sebenarnya Kiku sendiri tidak peduli. Jujur saja, ia bahkan tidak lapar. Apalagi setelah Kakek Tara mengingatkannya kepada tragedi Escargot itu. Sama sekali, tidak ada nafsu makan yang menghampiri dirinya.
"Kami merekomendasikan Sancerre-..."
"Tidak... Tidak... Bawakan saya air putih -bubble dan teh hitam saja ya..."potong Kakek Tara saat pelayan itu menawarkan salah satu jenis wine.
"O-oh... Baik..." ujar pelayan itu kebingungan
"Occha... Teh Hijau kalau ada..." imbuh Kiku yang sepertinya menambah heran si pelayan.
Kakek Tara terus mengamati saat pelayan tersebut membaca ulang pesanannya. Setelah pelayan tersebut pergi, Kakek Tara lantas tersenyum kecil pada Kiku, "Mana ada yang pesan Occha di makan malam? Seharusnya kau pesan wine..."
"Anda sendiri memesan air putih dan teh hitam..." jawab Kiku, "Lagipula aku masih di bawah umur... Jika ada yang aneh, itu hanya anda..."
"Aku tidak mengonsumsi alkohol, Nak Kiku... Jadi, jangan bawakan aku sake ya..."
"Hai... Wakarimashita..." ucap Kiku mengonfirmasi, "Jadi... yang ingin anda bicarakan?" lanjutnya serius.
"Kita nggak nunggu makan malam dulu nih?" seru Kakek Tara menggoda, "Atau tidak, yah..." ucapnya lagi saat melihat keseriusan Kiku, "Kenapa pengusaha Asia Timur selalu tidak bisa santai... Kalau sudah menyangkut bisnis saja, watak kalian langsung kelihatan, loh..." lanjut Kakek Tara mulai serius.
"Mungkin karena kita lebih profesional daripada orang selatan?"
"Uwah... Dinginnya..." sindir Kakek Tara, "Kalau aku tidak mau cerita sebelum makan malam, bagaimana?"
Kiku tersenyum kecil, senyum yang licik, "Anda tahu posisi kita dan apa yang akan saya lakukan..."
"Hmmft..." Kakek Tara tersenyum dan mencoba menahan tawanya, "Oke... Oke... Kau menang... Super Strict and Professional-san..."
Huh?
"Aku hanya ingin pembicaraan antar teman saja..." Kakek Tara menghela nafas lelah, "Seharusnya tadi siang aku tak perlu membawa-bawa perusahaan kalau tahu kau akan menjadi setegang dan... "seprofesional" ini..." ejek Kakek Tara sembari mulai tertawa kecil.
A-apa yang salah dengan bersikap profesional? Bukankah anda yang menyuruhku datang ke sini untuk mendengarkan sesuatu yang mungkin cukup serius dan menyangkut bisnis anda? Aku kira... Aku... Argh! Ngapain juga aku harus menghadapi orang tua bau ini dengan serius sejak awal?!
Entah mengapa Kiku merasa malu pada dirinya sendiri. Ia terlalu terbawa suasana dan mungkin terlalu antusias pada apa yang akan disampaikan oleh Kakek Tara. Atau mungkin karena ia jarang bertemu dengan pengusaha setipe Kakek Tara; playfull, namun Kiku tahu di belakang semua kesopanan dan canda tawa ini, beliau adalah orang yang sangat mengerikan. Bukankah itu menarik?
"Ah... ya... Kau tahu, Nak Kiku?"
"Hmm?"
"Rombongan sekolahmu baru saja meninggalkan tempat ini... Bagaimana kau akan pulang ke Academy?"
.
.
.
.
HEEEEEEEEEEEEEEEEEEE?!
Kepala Kiku tiba-tiba kosong melompong. Itu benar. Kenapa ia tidak menyadarinya? Kenapa ia baru sadar sekarang? Kenapa ia tidak memperhatikan jadwal camp musim panasnya?!
"Oii... Nak Kiku? Kau tidak apa-apa?!"
Tidak. Tidak. Bukan itu masalahnya! Kenapa ia malah harus berurusan dengan kakek tua ini?! Kenapa ia bisa terjebak di sini, di makan malam ini sekarang?!
"Oh ya... Nak Hong bilang ia akan mengurus perizinanmu untuk tetap tinggal di sini pada OSIS... Katanya kau harus berterima kasih padanya nanti..."
No. Way. In. Hell! Kalaupun ada yang ingin Kiku lakukan pada Hong, itu adalah mencekik, mencabik-cabik pemuda Hongkong itu dan melemparkannya ke jamban terdekat. Yong Soo ada di urutan selanjutnya!
Tapi sebelum itu, pertama, biar aku hancurkan dulu 'kerajaan' mereka...
"Fufufufufu..."
"Nak Kiku... Kau sungguh mengerikan..." ucap Kakek Tara mengingatkan Kiku.
"Itu juga berlaku bagi anda, Tara-jiisan... Tolong jangan buat waktuku yang terbuang sia-sia ini, menjadi lebih tidak bermakna..."
"?", kakek Tara memandang Kiku dengan heran, namun ia akhirnya membuka ceritanya, "Saya ingin bertaruh, Nak Kiku..."
"Bertaruh, ya?" gumam Kiku antusias.
"Seperti yang mungkin telah kau ketahui, aku adalah owner sebuah Group yang sangat besar di Indonesia... Dan aku ingin Nak Nesia yang melanjutkannya karena aku tidak ingin groupku ini jatuh ke tangan Razak..."
"Kenapa?"
"Karena itu berarti Group terbesar di Indonesia akan dimiliki oleh orang Malaysia itu..." jawab Kakek Tara dingin.
"Bukankah itu juga sama halnya denganku? Nesia menikah denganku, tidakkah anda berpikir Group ini akan dimiliki bangsa kuning ini?"
"Setidaknya Nak Nesia bukan blasteran..."
"Setelah kami juga akan blasteran... Ini hanya menunggu waktu..."
"Tapi masih ada kemungkinan salah satu dari anak kalian memilih berkewarganegaraan Indonesia... Kalau tidak, ya buatlah sampai ada yang mau, walaupun itu berarti sampai anak yang ke 20..."
"K-kenapa sampai segitunya?!" seru Kiku dengan muka memerah.
"Negara kami rapuh... Indonesia terlihat kuat dari luar, terlihat menguasai ASEAN, tapi sebenarnya tidak seperti itu... Ini menyangkut politik pengusaha yang aku yakin Nak Kiku sudah hafal..." ujar Kakek Tara, "Setidaknya kalau Groupku harus jatuh... Ia tak akan jatuh ke tangan salah satu dari 10 negara ASEAN lainnya... Ataupun ke relasiku yang ada di sana..."
Kakek Tara meletakkan tangannya di atas meja dan memasang pose berpikirnya, "Kalau ini hanya membahayakan Groupku... Aku tak masalah... Aku bisa dengan mudah menghancurkan Group ini dan hidup tenang sebagai orang biasa di kampung... Sayangnya, ini menyangkut negara yang kucintai juga, menghancurkan Groupku juga berarti PHK besar-besaran..." lanjut Kakek Tara, "Sudah menjadi rahasia umum bahwa Nusantara Group adalah pilar tak kasat mata yang ikut menopang ekonomi negeri kami..."
"Dan anda akan memberikan itu pada saya? Apakah ini bukan suatu pengkhianatan?"
"Aku tidak memberikannya padamu... Aku memberikannya pada Nak Nesia..." sahut Kakek Tara mengoreksi.
"Sama saja bukan? Saya kepala keluarganya..."
"Umur manusia ada batasnya... Salah satu anak kalian akan mengembalikannya pada Indonesia..."
"Jika saya mengingkari perjanjian ini saat anda berada di batas umur anda?" ucap Kiku sembari tersenyum kecil.
"Itulah mengapa aku bilang aku bertaruh, Nak Kiku..." balas Kakek Tara sembari tersenyum pula.
"Apakah anda yakin dengan Game ini? Bukankah terlalu berisiko?" tanya Kiku lagi. Ia sangat ingin tertawa atas keyakinan dan keberanian Kakek Tara, mempertaruhkan semuanya seperti ini.
"Yah... Kau belum mendengarkan ceritaku, Nak Kiku..." ucap Kakek Tara datar.
"Saya masih di sini dan memiliki banyak waktu luang..." Kiku mengingatkan.
Kakek Tara tersenyum tipis, "Sewaktu aku datang ke acara Germania, pilihanku hanya tiga..."
"Pertama, memberikan Groupku pada Nak Razak dengan syarat Nak Razak berpindah kewarganegaraan... Tapi tampaknya itu mustahil, terutama mengingat watak menantuku..."
"Kedua, mendiamkan semua ini sampai Group kami terbelah berkeping-keping menjadi beberapa kepentingan dan mudah dipengaruhi dan dikuasai asing... Atau dalam hal ini, saudara-saudara dan relasiku yang menginginkan Nusantara Group..." ucap Kakek Tara, "Atau ingin menghancurkan Nusantara Group sehingga mereka bisa bebas berkeliaran di Indonesia..."
"Ketiga... Langsung memecah belah Nusantara Group dengan tanganku sendiri, membagikannya pada orang-orang yang kupercaya... Itu pilihan terbaik, dan negara mungkin bisa bertahan... Ini seperti konsep desentralisasi, konsep otonomi daerah..." jelas Kakek Tara, "Akan tetapi, yang kutakutkan adalah setelah itu..." Kakek Tara melanjutkan ceritanya, "Kemudian aku akan menjadi setan yang menghancurkan kehidupan mereka dengan kekuasaan, harta, iri, kebencian –listnya panjang... Karena tidak bisa dipungkiri lagi... Group ini terlalu besar..."
.
.
"Dan setelah bertemu dengan saya... Anda memiliki pilihan keempat, memberikannya pada Nesia-san..." ucap Kiku, "Apa yang membuat anda yakin menyerahkan masalah berbahaya dan mengerikan ini pada Nesia-san? Nesia-san, atau kami... Akan menjadi bensin yang bahkan akan membesarkan bara api..."
"Aku bilang aku bertaruh bukan?"
"Tara-jiisan... Ini masalah serius... Ini tidak semudah masalah kekurangan modal atau terjebak dalam hutang besar atau ada perusahaan yang ingin menghancurkan anda..." jawab Kiku yang entah mengapa mulai merasa marah dan kebingungan. Padahal ia tahu, ia harus tetap berpikiran jernih, "Kami tidak bisa membantu anda... Ini masalah yang terlalu riskan... Memikirkannya saja membuatku frustrasi..."
"Begitu ya..." ucap Kakek Tara, "Aku hidup di dalam kefrustrasian ini selama 10 tahun... Harus berakhir seperti ini, yah?"
"10 tahun?"
"Ya... 10 tahun yang lalu aku kehilangan anak laki-lakiku... Satu-satunya penerus dan harapanku, juga cucu perempuanku di benua biru ini... Tapi itu hanyalah awal mula dari karmaku..."
"Jii-san..."
"Tanyakan saja, Nak Kiku... Itulah mengapa aku mengundangmu kemari.."
"Apa yang terjadi?" tanya Kiku pada akhirnya, "Apa yang terjadi sampai anda menyebut bahwa ini adalah Karma?"
.
.
"T-tara-jiisan?"
"Eh? Tidak... Aku hanya kaget kau bertanya sampai sejauh itu... Kukira kau hanya akan bertanya tentang kecelakaan itu dan seterusnya..."
"Y-yah... Maafkan saya... Tapi..."
"Baiklah... Dari mana aku harus memulainya ya?" sambung Kakek Tara dengan nada getir yang ditutup-tutupi.
A/N:
Chapitra 33, vroooohhhh... :D
Author : Okeh... Langsung balas repiuw! Pertamax, Sabila Foster-san... Kami juga kangen :'D
Nesia : Ih, Kakak Sabila mah nggak kangen sama lu, -thor... Kangennya sama aku...
Author : Ah, Kepedean kau, Nes... Ya kan Kiku?
Kiku : Maa...
Author : Next, somebody-san... Iya akhirnya update juga, hahaha... Terima kasih sudah mau mereview... Om Nether... Eh... Staff, dia udah sadar belom?
Staff 1 : *lagingipasinNether* Sebentar lagi –thor...
Author : Yaudah... Take your time... Om Nether ngerebut Nesia-chan dari Om Kiku-nya nanti kalau dia sudah sadar... BTW... Ini pake om-om gini, berasa mereka pedofil akut...
Kiku : Sugi wa... kuroi uso-san...
.
.
Kiku : Saya bahkan mulai curiga sejak masalah rebutan celana itu... =_=a
Author : Tapi katanya Rate-M nggak buruk...
Kiku : NANI GA?! –APANYA?!
Author : Nesia no.1 ya... Oke... Nanti saya pikirkan... Yuki Shirosaki-san... Benarkah? #abaikan :P Terimakasih kembali :D Apa yang terjadi di pagi hari? Itu sudah dijawab di atas :D
Nesia : Next... Kakak Tomo... Kami juga rindu Kakak Tomo... Ini semua gara-gara Author...
Author : Kok aku?
Nesia : Terus... Kiku Y U SO SEME? *bingung
Author : Soalnya yang dihadapinya itu kamu, Nes... Mungkin... *Nglirik Kiku
Kiku : Itu skript!
Author : Udah deh... Jangan bersembunyi di belakang skript! :P Iya... Di chapter itu banyak sesi curcol... Mungkin nanti juga banyak sesi curcol dan menyingkap kegelapan yang selama ini dipendam oleh Nesia selama beratus-ratus tahun lamanya... hihihihi..
Nesia : -thor... Plis, nggak usah alay... umurku di cerita ini baru belasan...
Author : Yep 13 Alter... Setelah dulu berencana mau 8, 17, 19 kemudian 45... Kemudian sebanyak pulau-pulaunya dan provinsinya... Akhirnya... 13 saja...
Nesia : "saja"?!
Kiku : Tapi, Author-san... Kenapa harus 13?
Author : Itu angka seremnya kamu kan? 4, 9, 13...
Kiku : Ugh...
Author : Jangan menyerah ya Kiku... Kalau kau menyerah, nanti buat si PedoTulip kalau nggak Aussy katanya...
Kiku : B-baiklah...
Author : Next... kisetsu. aimai-san... Kapan Inesia membuka diri? Mungkin di akhir cerita; Last Boss... Nesia no. 2... Entahlah...
Kiku & Nesia & Staff : WOOOOOOOOOI!
Author: Ya nanti kalau sudah waktunya juga akan ada inspirasi dan sebagainya... #abaikan... Itu jadwal update idealnya... Tapi agak susah akhir-akhir ini untuk nulis cepat... penyakit writer's block juga nggak membantu... Syukurlah emosinya kesampaian... Author agak bingung nulisnya kemarin... :P Saya juga dulu mirip sama Tara, jadinya tahu perasaan itu... :"D
Nesia : Oke, Next... =_=a kakak kuroshiropika... Iya... Sepertinya begitu... Sepertinya... Akan masuk M... T_Ta
Author : Habisnya bahaya... Ini sah T+++++++++... Sebelum di flame orang dan diblokir sama FF... #Akutakyakin:P Twist story NethPan... Wuuuh...
Kiku : Author-san... Author-san lihat apa yang sedang saya pegang? *menghunuskanKatana
Author : Kiku... NethPan itu riil... Buktinya ada Nesia, anak kalian... Tidakkah kau mengerti?
Nesia : AKU BUKAN ANAK MEREKA!
Author : Nih... Ibaratnya Hongkong... Dia anaknya Yao sama Arthur, kan? Berarti kau itu-...
Nesia : *ngacunginKeris*marahbesar* Aku keturunan Sriwijaya dan Majapahit... Jangan mengarang bebas, -thor!
Author : O-o-oke...
Kiku : Ah... Author-san membakar sumbunya...
Nesia : Lanjutkan... *darkaura
Author : I-iya... S-sate... Sate kelinci enak... iya... apalagi kalau sama bumbu kacang dan lontong... Oke... Chapter berikutnya yang Kiku lebih frustrasi...
Kiku : H-HEEE?!
Author : Next... Veria-313 –san... Iya ganti ranting... Tapi konten tetep T+++ aja... Emang itu ambigu banget...
Kiku : Author-san yang nulis...
Author : Kalian yang akting...
Nesia : Habisnya nggak update2!
Author : Huh... Tara... Yah, Kalau Garuda jadi semenya Kiku, si Tara itu Ukenya...
Nesia : WHAT?!
Author : Si Inesia ya... Last Boss harus misterius dong... #berasamafia Lestari/Nesia no.2 itu... Entahlah... Mungkin habis ini dibahasnya... Hmm... *ngevek* Oh iya... #tepokjidat nanti aku benerin deh :D
Kiku : Kapan?
Author : N-nanti... Pokoknya akan aku benerin... Dan Allastor itu Scotlandia... Kakaknya Arthur, yang rambutnya warna merah dan kelihatan paling cakep+badass di jajaran UK... Aku nggak tahu itu official atau belum... Tapi pada pakai nama itu, jadinya aku ngikut ajah... #dasar
Oke... Sekian dulu chapter kali ini...
Mohon kritik, saran dan review nya yaaaa... :D
See ya!
