To Love naRUto

Disclaimer: Semua karakter dari anime "Naruto" dan "To Love Ru" bukan milik saya, saya hanya meminjamnya saja.

Main Cast: Naruto .U.

Pair: Naruto .U x Harem (Permanent!)

Summary:

Niatnya untuk kembali ke masa lalu harus gagal ketika mengetahui jika dia sudah berpindah dimensi dengan tubuhnya yang juga ikut menyusut, diadopsi oleh Keluarga Yuuki sebagai kakak tertua untuk dua adiknya. Masalah-masalah tak masuk akal mulai menghampirinya, bisakah dia menyelesaikannya? Atau kembali ke tujuan awalnya?

Warning: Author Newbie, Abal-abal, Semi-Canon, Typo, Miss Typo, Echhi, Soft-Lime, Human!Naruto, God-Like!Naruto, Smart!Naruto, Fem!Rito(Riko), Read 'n Review and Not Like Don't Read.

Chapter 02

Putri Alien yang Melarikan Diri

"Hwaaa!"

Kedua adiknya yang sedang menikmati acara menonton televisinya itu harus terganggu dengan sebuah teriakan kakak angkatnya yang berasal dari kamar mandi rumah tersebut, kepala mereka menoleh kearah dinding yang membatasi ruangan tersebut dengan ruangan yang lainnya dan kebetulan ruangan itu berdekatan dengan kamar mandi jadi mereka bisa mendengar teriakan keras dari kakak tertuanya itu.

"Pasti dia berhalusinasi lagi tentang hantu," ucap Mikan yang mengawali pembicaraan di antara dirinya dengan kakak kandungnya, terkadang dia sendiri tak pernah mengerti dengan jalan pikiran yang ada di kepala kakak angkatnya itu dan sebelumnya dia pernah memperingatkan Naruto agar tidak mandi malam hari agar tak berhalusinasi lagi tentang hantu. Tapi kakaknya itu tak pernah kapok meskipun beberapa kali terjadi.

"Tapi aku tak yakin jika sekarang tentang halusinasi hantu lagi, teriakannya lebih nyaring daripada biasanya," balas Riko yang sudah menatap kearah Mikan.

"Dia memang suka berteriak sekeras itu, Riko-nee," Mikan kembali berujar sambil menikmati cemilan yang dibawanya dari dapur itu, mereka memanfaatkan malam hari mereka dengan bersantai dan bercengkrama satu sama lain. Setidaknya itulah yang membuat mereka sangat dekat.

Dug! Dug! Dug!

Baik Riko ataupun Mikan bisa mendengar jika seseorang sedang berlari di koridor rumah mereka dan mereka sendiri tahu siapa pelaku yang sengaja berlari hingga membuat suara gaduh di seluruh isi rumah tersebut...

Brak!

Pintu ruang keluarga terbuka sepenuhnya oleh laki-laki bersurai pirang jabrik dengan handuk putih melingkar di pinggangnya seolah mengabaikan jika yang menempati ruang keluarga itu semuanya adalah perempuan "Riko, Mikan, d-disana... A-a-ada...," ucap Naruto yang tergesa-gesa dengan kedua tangannya yang sudah menunjuk kearah tempat dirinya berasal tadi.

"Kyaaa!"

"Pakai dulu pakaianmu, Baka!"

"Tu-tunggu dulu...," Naruto berusaha menghentikan teriakan yang keluar dari kedua adiknya tetapi semua itu terlambat, semua perabotan yang ada di dekat mereka sudah dilemparkan dengan kuat kearah Naruto yang masih berdiri di tempatnya. Mau tak mau insting ninjanya bekerja untuk menghindari setiap perabotan rumah yang terus berterbangan kearahnya bahkan untuk melarikan diri saja terasa sangat susah baginya, dia harus mencari celah untuk bisa lari dari sana.

Tuing!

"Aaaaa~...," sebuah benda persegi panjang berwarna hitam yang dilengkapi dengan beberapa tombol yang diantaranya berisi deretan nomor yang digunakan untuk mengendalikan televisi dan mengalihkan dari satu chanel televisi ke chanel lainnya itu sudah menghantam selangkangannya dengan kuat, kedua kakinya mulai bergetar perlahan karena rasa sakit yang tak tertahankan di selangkangannya "M-masa depanku... H-hancur...," ucap Naruto yang sudah berlutut di lantai koridor tersebut dengan kepalanya tertunduk.

Remot televisi yang memiliki desain yang sangat ramping dan ringan itu seolah menjadi mimpi buruk tersendiri bagi Naruto, dia belum pernah merasakan rasa sakit semenyiksakan ini seumur hidupnya bahkan ketika Kurama ditarik dari tubuhnya saja oleh Madara, dia tak sampai harus bersujud-sujud di lantai seperti saat ini. Dia sama sekali tak berdiri sama sekali, 'Masa depan'nya itu terus menerus berdenyut seolah meminta sang pemilik untuk menyelamatkannya dari malaikat maut yang menghantam dirinya.

"Aku sudah bilang sebelumnya 'kan supaya tidak mandi di malam hari jika kau masih takut pada hantu. Kenapa Naruto-nii sama sekali tak mendengar?" ucap seseorang yang sudah mendekat kearahnya, terbukti dengan suara langkah kaki yang semakin terdengar jelas di lantai disertai suara yang semakin jelas terdengar di telinganya.

Kepala kuning itu melirik kearah kamar mandi yang pintunya masih terbuka karena dirinya memang tidak sempat sama sekali untuk menutup pintu kamar mandi itu dengan rapat "Bu-bukan hantu... T-tapi... P-pe-perempuan...," ucap Naruto yang berusaha menetralisir rasa sakit di selangkangannya itu, masih untung handuknya tidak terlepas ketika berlari tadi.

Riko dan Mikan saling memandang satu sama lain dengan tatapan heran setelah mendengar pernyataan dari kakak angkatnya itu "Kau bercanda 'kan, Naruto-nii? Disini cuma ada aku dan Mikan, jadi tak mungkin ada perempuan lain tinggal disini," senyum kecil tercipta di bibir Riko, sepertinya hormon kedewasaan dari kakaknya ini terlalu besar hingga berkhayal jika dirinya mandi bersama perempuan.

"T-ta-tapi... Aku tak bohong... A-aku bahkan...," ucap pemuda pirang itu yang sudah menegakan badannya hingga duduk bersimpuh di lantai, tangan kanannya terulur ke hadapan wajahnya lalu melakukan gerakan meremas udara kosong 'Sensasi kenyal itu... Aku yakin itu nyata,' batin Naruto yang berusaha meyakinkan dirinya sendiri tentang kejadian yang baru saja dialaminya.

Dia melihat kedua adiknya sudah melangkah menuju kamar mandi yang sebelumnya ia pakai dan ia yakin jika perempuan itu masih berendam di bathub yang ditempatinya, Naruto berusaha menguatkan kedua kakinya untuk bisa menopang tubuhnya agar bisa berdiri seperti biasanya. Rasa ngilu di selangkangannya masih terasa setiap kali kakinya itu melangkah, dia juga ingin memastikan jika perempuan itu memang masih ada di dalam kamar mandi itu.

"Tak ada siapa-siapa disini, Naruto-nii. Sepertinya itu hanya khayalanmu saja," ucap Riko yang sudah menyisir sisi kamar mandi tersebut dan dirinya sama sekali tak menemukan sesuatu yang mencurigakan di dalam kamar mandi tersebut.

"Kau bercanda 'kan? Dia ada disa~...," tubuhnya membeku di posisinya sekarang tanpa bisa digerakan kembali setelah melihat kamar mandi yang dipakainya tadi sudah kosong tanpa ada siapapun di dalamnya, dia yakin jika dirinya meninggalkan perempuan itu di dalam bathub yang diisi air hangat disana tapi sekarang...

"Nii-chan, aku tahu di usiamu sekarang kau sedang mengalami masa pubertas tapi kau juga harus membedakan antara Fantasi Liarmu dan Realitas Dunia Nyata. Apa ini karena dirimu yang tak pernah kunjung mendapat pacar? Aku jadi kasihan padamu," ucap Mikan dengan ekspresi mengejek sudah terpasang di wajah imutnya, perkataannya memang terbilang sangat jujur tetapi pemilihan kata yang digunakannya pasti sangat menusuk hati.

"Tidak mungkin, padahal aku tadi..."

"Sebaiknya kau tidur saja, Naruto-nii. Masa pubertas memang sangat menyenangkan, tapi akan sangat buruk juga jika kita salah menikmatinya," Riko mendukung apa yang baru saja dikatakan oleh adiknya, dia juga sedang mengalami masa pubertasnya jadi Riko tahu apa yang dirasakan oleh kakak angkatnya "Ayo kita kembali, Mikan," ajak Riko pada Mikan lalu meninggalkan kamar mandi itu dan melanjutkan acaranya yang sempat tertunda.

Mikan hanya menganggukan kepalanya sambil menyusul kakak perempuannya menuju ruang keluarga dan menikmati kembali waktu santainya yang sempat tertunda karena Naruto.

Sementara Naruto sudah menatapi bathub itu beberapa kali dan hasilnya nihil sama sekali, perempuan bersurai merah muda itu memang sudah tak ada di kamar mandinya tapi dirinya yakin jika perempuan yang tiba-tiba muncul di kamar mandi itu memang benar-benar nyata. Laki-laki pirang itu menutup kembali kedua pintu kamar mandi itu dengan rapat kemudian melepaskan handuk yang melingkar di pinggangnya tadi dan diganti dengan pakaian ganti yang sudah ia siapkan sendiri, sepertinya dia memang harus segera mengistirahatkan dirinya.

Pikirannya masih saja terpaut pada kejadian yang terjadi beberapa menit yang lalu bahkan dirinya bisa merasakan jika perempuan itu jelas-jelas sangat nyata ditambah dengan kedua tangannya bisa merasakan kekenyalan dadanya bahkan dia masih bisa merasakan kekenyalan itu di kedua telapak tangannya "Sial! Pikiran kotorku kumat lagi," umpat Naruto sambil menarik rambut pirangnya itu seolah ingin mencabut semua pikiran kotor yang bersarang di otaknya.

Diraihnya kenop pintu kamar miliknya lalu membuka pintu kamarnya selebar mungkin agar dirinya bisa masuk ke dalam kamarnya, pemuda itu menyandarkan tubuhnya tepat setelah pintu kamar tersebut tertutup sangat rapat. Sepertinya masa remajanya sangat liar untuk dinikmati olehnya ditambah virus dari guru mesumnya, entah dia harus bersyukur atau meratapi semua yang terjadi padanya.

"Ne~ kenapa kau malah lari tadi?"

Iris mata kanan Naruto kembali membulat dengan sempurna ketika suara perempuan yang muncul di kamar mandi itu kembali menyapa gendang telinganya, mulutnya menganga lebar ketika dia melihat perempuan bersurai merah muda panjang itu sudah duduk ditepian ranjangnya dengan handuk berwarna kuning cerah sudah membalut tubuhnya "B-bu-bukankah kau perempuan yang tadi muncul di kamar mandi? K-kenapa kau ada disini?" Dia tak tahu semenjak kapan perempuan itu keluar dari kamar mandi dan masuk ke dalam kamarnya, tak mungkinkan jika perempuan berparas cantik itu adalah hantu.

"Iya, aku sempat kaget saat kau lari terbirit-birit keluar," ucap perempuan itu dengan senyum senang di bibirnya "Maaf jika aku meminjam handukmu untuk mengeringkan tubuhku," lanjutnya yang tak malu sama sekali menunjukan tubuhnya itu kepada laki-laki pemilik kamar yang ditempatinya saat ini.

"Si-siapa kau sebenarnya?"

"Aku? Aku Lala," jawab perempuan itu dengan mantap tanpa berniat sedikitpun untuk menutupi tubuhnya yang masih terbuka.

"L-Lala?" beo Naruto dengan menyebut kembali nama perempuan itu.

"Yah, aku berasal dari Planet Deviluke," Lala berucap demikian agar meyakinkan laki-laki yang masih bersandar di pintu kamar tersebut, dari ekspresinya pun Lala bisa menebak jika pemuda itu memang baru pertama kali mendengar Planet tempatnya berasal.

"Planet Deviluke? J-jangan-jangan kau ini Alien," tebak Naruto tanpa keraguan sama sekali karena makhluk yang dapat hidup di luar Planet Bumi dinamakan Alien tapi dalam hatinya dia belum yakin ada makhluk yang bisa hidup di tempat lain selain di Planet Bumi dan anehnya kenapa bentuknya harus seperti manusia pada umumnya.

"Ya, seperti itulah makhluk bumi menyebutnya," ucap Lala yang menyetujui tebakan yang Naruto ajukan beberapa saat yang lalu dan dilihat darimanapun perempuan itu sangat manis ketika tersenyum.

'Alien? Ini hanya lelucon 'kan? Apa dia datang kesini untuk mencuci atau memakan otakku?' Hati Naruto sampai bertanya-tanya tentang kedatangan salah satu penghuni Planet Deviluke itu, tidak mungkinkan itu hanya ketidaksengajaan belaka.

"Lalu siapa namamu?" tanya Lala dengan nada ramah.

"Naruto, kau bisa memanggilku seperti itu," pemuda pirang itu bisa merasakan jika rasa curiganya itu malah menghilang dengan sendirinya setelah melihat ekspresi ramah yang ditunjukan oleh Lala layaknya manusia pada umumnya, tapi tak semua manusia itu ramah ketika pertama kali bertemu.

"Hum, Naruto ya?," ucap perempuan itu yang masih memasang ekspresi ramah di wajahnya dan dia sama sekali tak terganggu dengan tubuhnya yang masih setengah telanjang itu.

Naruto menepuk jidatnya perlahan seakan otaknya belum bisa mencerna apa yang dikatakan oleh Lala "Aku masih belum percaya jika perempuan itu adalah seorang Alien," dia menarik napasnya dalam-dalam untuk menenangkan pikirannya yang kacau balau karena kejadian tak terduga di kamar mandi tadi.

"Sepertinya kau masih belum percaya jika aku ini berasal dari planet lain?" tanya Lala yang sudah melangkahkan kakinya mendekat kearah pemuda yang masih bersandar di pintu kamarnya.

"Tentu saja aku tak percaya, kau bisa berbicara layaknya manusia biasa dan tubuhmu juga sangat mirip sekali dengan manusia pada umumnya. Ini membingungkan," jawab Naruto yang sudah menatapi setiap jengkal tubuh perempuan yang ada di hadapannya dan seketika dirinya langsung mengalihkan pandangannya kearah lain.

"Begitukah," ujar Lala yang masih berusaha untuk meyakinkan laki-laki pirang itu agar percaya jika dirinya memang berasal dari planet lain "Mungkin ini bisa membuatmu percaya," ucapnya yang sudah membalikan tubuhnya hingga membelakangi Naruto dengan mendorong bokongnya kearah pemuda pirang itu "Lihat? Manusia di Bumi tak akan memiliki ekor seperti ini," tiba-tiba saja ekor hitam dengan ujungnya seperti tanda hati terbalik menyembul dari dalam handuk kuning itu.

Mulut laki-laki pirang itu menganga dengan lebar melihat perempuan yang membelakanginya itu, bukan karena ekor yang menyembul dari balik handuknya tetapi bokongnya yang terekspos sempurna karena handuknya yang tersingkap oleh ekornya "Y-ya, a-aku percaya. Sekarang tutupi bokongmu itu," dia yakin jika wajahnya sudah semerah rambut ibunya dulu, perempuan di depannya sama sekali tak kenal dengan namanya rasa malu.

"Wajahmu sangat lucu sangat memerah seperti itu ditambah kumis kucing yang ada di masing-masing pipimu," ucap Lala yang menunjukan ketertarikannya terhadap laki-laki yang ada di depannya.

Naruto kembali menatap kearah Lala yang sudah berbalik kembali berhadap-hadapan "Lalu bagaimana kau bisa muncul secara tiba-tiba di kamar mandiku? Padahal saluran air di bathub itu sangatlah kecil," tanya Naruto yang sangat penasaran dengan kemunculan perempuan misterius yang mengaku sebagai Alien itu.

"Aku menggunakan ini," jawab Lala sambil menunjukan pergelangan tangan kanannya yang sudah dilingkari oleh gelang perak gelap berbentuk aneh dengan permata ruby di bagian tengahnya "Pyon-pyon Warp-kun, ini adalah alat ciptaanku. Aku tak bisa menentukan kemana aku akan berpindah, tapi aku melakukan warp pada makhluk hidup terdekat," jelas perempuan itu sambil menggenggam gelangnya.

"Warp?"

'Kemampuan teleportasi mirip dengan Hiraishin no Jutsu yang menggunakan media untuk berpindah, aku sudah menyempurnakannya dulu. Jadi aku tak memerlukan media lagi jika berpindah, tapi aku juga harus menempelkan segel di tempat yang belum pernah kudatangi. Seberapa pesat perkembangan teknologi di Planet Deviluke itu?' batinnya terus menatap kearah Lala.

"Aku menggunakannya untuk pergi dari ruang kapal angkasaku dan kebetulan juga warp itu malah memindahkanku di kamar mandimu," ucap Lala yang berusaha menjelaskan fungsi alat yang melingkar di pergelangan tangannya.

"Ruang kapal angkasa? Kenapa kau melakukan hal itu, Lala?"

"Aku berpikir jika di Planet Bumi ini aku bisa bersembunyi dengan aman, tapi kapal itu terus saja mengikuti dan berusaha membawaku kembali," ucap Lala dengan raut wajahnya yang sudah berubah menjadi murung "Kapalku sudah rusak berat dan bisa saja aku ditangkap lalu dibawa kembali ke Planet Deviluke, jadi aku menggunakan alat ciptaanku ini untuk melarikan diri," sambungnya dengan raut wajahnya yang sudah berubah kembali menjadi ceria.

Naruto sendiri tak mengerti dengan jalan pikir yang ada di dalam otak setiap perempuan, terkadang perasaan mereka berubah-ubah tak menentu seperti apa yang dilihatnya sekarang ini "S-setidaknya pakailah pakaian, kau bisa masuk sakit jika terus seperti itu," ucap pemuda pirang itu sambil mengalihkan pandangannya kearah lain, salah satu matanya belum terbiasa melihat tubuh Lala yang masih terbalut handuk kuning polos.

"Lala-sama!"

Semua mata yang ada di ruangan itu hanya menoleh kearah suara yang menyerukan nama perempuan bersurai seperti permen kapas itu dengan lumayan keras disusul dengan sebuah benda yang tingginya sekitar 20 cm dan mirip sekali dengan boneka langsung masuk ke dalam kamar Naruto memalui jendela kamarnya yang masih terbuka, benda itu langsung menerjang kearah Lala dan memeluknya dengan erat. Begitupun dengan Lala, dia terlihat sangat bahagia ketika benda itu memeluknya.

"Peke! Syukurlah kau bisa melarikan diri juga," ucap Lala yang masih memeluk boneka bersayap kelelawar hitam itu dengan eratnya, dia memang tak bisa menyembunyikan kesenangannya karena bisa bertemu lagi dengan mahakarya unggulannya.

"Ya, aku masih sempat melarikan diri karena kapal angkasa kita belum sepenuhnya meninggalkan atmosfer bumi," boneka itu bisa berbicara dengan lancar layaknya manusia dan seharusnya boneka tak bisa berbicara kecuali boneka itu dipasangi chip suara "Lala-sama, sebenarnya aku sangat jijik melihat penduduk bumi itu apalagi rambutnya yang mirip dengan kotoran itu," ucap boneka itu sambil menunjuk kearah Naruto.

"Siapa yang kau bilang kotoran?" Siapapun pasti akan marah jika dihina seperti itu, apalagi boneka itu malah mengatai rambut kuning kebanggaannya itu mirip dengan kotoran. Menghina rambut pirangnya maka sama aja dengan menghina ayahnya yang mewariskan warna rambut itu padanya.

"Dia tinggal disini dan namanya Naruto," jelas Lala pada boneka yang masih berada dalam pelukannya "Dan Naruto, ini Peke, salah satu penemuan terbaikku yang merupakan robot yang bisa meniru berbagai macam pakaian atau dengan istilah lain, dia adalah robot kostum," ucap Lala yang juga sudah memperkenalkan boneka atau robot itu.

"Robot Kostum 'kah?" beo pemuda pirang itu yang masih berusaha mencerna apa yang baru saja dijelaskan oleh perempuan alien itu.

Wajah yang dibalut dengan kulit tan eksotis itu mulai memerah ketika melihat handuk kuning itu mendarat di lantai tepat di hadapannya "H-h-ho-ho-hoy! A-a-apa yang kau lakukan?" tanya Naruto dengan salah satu tangannya sudah memencet kedua lubang hidungnya untuk mencegah sesuatu keluar dari sana, tubuh perempuan itu sudah tak ditutupi oleh apapun selain rambut merah muda panjang yang menutupi punggung hingga bokongnya.

"Ayo lakukan, Peke!" seru Lala pada robot yang memiliki mata berputar-putar layaknya obat nyamuk atau lebih dikenal dengan swirly.

"Baik, Lala-sama. Perubahan Kostum!" Robot bernama Peke itu berseru lumayan keras hingga tubuhnya mulai bersinar menerangi kamar milik Naruto dan robot itu sudah berubah menjadi tali berukuran besar yang sangat elastis kemudian mulai membelit setiap bagian tubuh milik Lala termasuk bagian sensitifnya. Sementara yang dibelit hanya mendesah tak karuan setiap kali tali itu menyentuh tubuhnya, tubuh perempuan itu juga mulai bersinar dan beberapa detik kemudian sinar itu menghilang dari tubuhnya.

Pakaian yang sangat aneh menurut penduduk Bumi sendiri dengan didominasi warna putih kecoklatan dan ungu gelap hingga memperlihatkan setiap lekukan tubuh tercetak jelas dari pakaian yang dipakainya dengan ekor yang sudah muncul dari bokongnya dan sebagai sentuhan akhir kepala merah mudanya itu sudah dihiasi dengan topi gelembung putih kecoklatan dengan dua pola seperti obat nyamuk di bagian depannya, meskipun sudah berpakaian tapi tetap saja pakaian itu tak mengubah fakta bahwa tubuh Lala masih saja menggoda.

'Sial! Apa yang kupikirkan? Apa yang kupikirkan?' ucap Naruto dalam hatinya sambil mengetuk-ngetukan kepalanya pada dinding yang ada di sampingnya.

"Apa pakaian ini terlalu ketat, Lala-sama?" tanya robot yang sudah merubah dirinya menjadi pakaian aneh itu.

"Tidak, ini sangat sempurna. Jika saja kau tak ada disini, aku tak tahu apa yang harus kupakai, Peke," jawab Lala yang terlihat senang karena sudah menggunakan pakaian andalannya lagi.

"Lalu apa rencana Lala-sama sekarang?" tanya robot itu lagi, dia hanya ingin tahu apa rencana majikannya itu ketika sudah berada disini.

"Sepertinya aku sudah memikirkan rencananya, Peke," jawabnya yang sepertinya memang sudah mempersiapkan acara melarikan dirinya itu dengan matang.

Wushh!

Dua orang lelaki berbadan tinggi besar dengan tubuh yang sangat kekar dibalut pakaian hitam yang sangat formal seperti bodyguard dilengkapi kacamata hitam yang menutupi kedua matanya muncul secara tiba-tiba tepat di depan dan belakang Lala, raut wajah perempuan itu sudah berubah menjadi datar dan dingin dengan sebuah pertigaan merah muncul di kepalanya.

"Jujur saja, anda sudah membuat kami cukup kesusahan. Sekarang kami harus mengikat tangan dan kaki anda agar bisa membawa anda kembali ke Planet Deviluke," ucap salah satu pria bertubuh kekar itu dengan hanya menggunakan satu nada tetap saja.

"Peke?!" panggil Lala yang terlihat kesal ketika melihat kedua orang yang muncul tiba-tiba itu.

"Y-ya, L-lala-sama?" sahut Peke yang terkejut mendengar panggilan dari majikannya.

"Aku sudah bilang padamu agar memastikan jika kau tidak diikuti, kalau seperti ini acara melarikan diri kita jadi sia-sia dan percuma juga aku ada disini," Lala yang sudah kesal setengah mati dengan kelakuan robotnya yang bisa seceroboh itu hingga menuntun kedua orang itu ke tempatnya bersembunyi sekarang.

'K-kejadian macam apa ini? Kenapa kamarku tiba-tiba saja dipenuhi dengan alien-alien merepotkan? Dan lagi...,' pandangan Naruto terarah pada ketiga pasang sepatu yang terus saja menjejak pada karpet kamarnya '...aku harus membersihkan karpet itu setelah mereka pergi, kehidupan merepotkanku ditambah merepotkan lagi,' ucap Naruto dalam hatinya yang sudah sweatdrop dengan kejadian di depannya, dimana perempuan itu sudah dipegangi oleh salah satu lelaki itu dan malah mengingatkannya pada adegan penculikan pada salah satu acara televisi yang ditontonnya.

"Jangan melawan lagi, ini perintah langsung dari Deviluke-sama," ucap pria berambut merah marun agak panjang yang sudah menahan tangan dan tubuh Lala yang sudah berontak untuk melepaskan dirinya.

"Tidak! Aku tak mau ikut kalian dan kembali lagi kesana," ucap Lala yang sudah mengemukakan alasannya agar kedua orang itu melepaskan dirinya.

'Bagaimanapun Lala itu perempuan tapi apa harus aku menolongnya? Jika tidak, Riko dan Mikan bisa kesini karena kegaduhan di kamarku,' pikir Naruto yang sudah melangkahkan kakinya kearah sumber keributan di kamarnya.

Pemuda pirang itu sudah menepuk salah satu pundak lelaki berambut merah marun itu dari belakang agar menoleh kearahnya "Ada ap~guhh!" Tanpa membuang-buang waktu Naruto langsung memukul kepala lelaki itu hingga berputar beberapa kali sebelum dirinya ambruk ke lantai dengan mulut yang menganga lebar, genggamannya pada tubuh Lala pun terlepas dengan sendirinya.

"Melakukan hal seenaknya di kamarku, itu adalah satu pelanggaran yang sudah kutetapkan. Jadi, jangan sampai aku naik pitam hanya gara-gara..."

"Makhluk menjijik~aakkhh!"

Lelaki berambut hijau tua pendek itu mematung di tempat setelah dirinya berusaha membalas apa yang baru saja terjadi pada temannya tapi dia sudah tak bisa apa-apa sekarang, perutnya terasa sangat melilit karena pukulan kuat dari remaja yang usianya sama dengan Lala. Dia mulai berlutut sambil memegangi perutnya yang mulai berdenyut dengan rasa sakit yang teramat sangat.

"...kelakuan konyol kalian," ucap Naruto yang menyelesaikan kalimatnya yang sempat terpotong.

"H-hebat! Kau bisa mengalahkan mereka!" seru Lala yang takjub dengan aksi yang ditunjukan oleh Naruto.

"Sebaiknya kita pergi dari sini, aku tak mau jika kedua adikku harus terlibat dengan masalah alien ini," ucap Naruto yang langsung menyambar tubuh Lala dan menggendongnya dengan gaya bridal lalu melompat keluar dari kamarnya melalui jendela kamarnya yang masih terbuka, dia sangat berterima kasih sekali dengan kemampuannya sebagai ninja. Itu sangat berguna ketika keadaan sedang genting seperti ini.

"Kita akan pergi kemana, Naruto?" tanya Lala yang menatap wajah Naruto dengan lekat, meskipun gelapnya malam lumayan membatasi pandangannya tapi dia masih bisa melihat keseriusan yang tersirat dari wajah laki-laki yang menggendongnya.

"Tempat yang jauh dari pemukiman penduduk agar mereka tak curiga dengan keberadaanmu atau kedua orang yang mengejarmu itu," Naruto mengucapkan itu sambil menggerakan tubuhnya selincah mungkin menapaki setiap atap rumah yang menjadi jalur untuk melarikan diri.

"Sebenarnya kau ini manusia seperti apa, Naruto? Di Planet Deviluke saja tak ada yang berani memukul mereka bahkan perlu senjata untuk hanya sekedar melumpuhkan mereka," tanya Lala yang sangat penasaran, dia yakin jika Naruto memiliki sesuatu yang disembunyikan dari orang-orang di sekitarnya.

"Bagaimana mengatakannya ya? Tanganku saja masih kesemutan karena berbenturan dengan otot mereka, aku bisa saja melukai mereka lebih parah daripada itu. Tapi bukankah itu malah akan membuat masalah ini tambah runyam?" ujar Naruto yang sudah mendaratkan kedua kakinya dengan sempurna di permukaan tanah lalu menurunkan tubuh Lala yang lumayan berat menurutnya.

"Ini dimana, Naruto?" tanya Lala yang masih asing dengan apa yang baru dilihatnya kali ini.

"Ini taman bermain anak-anak," ucap Naruto yang sudah berbalik hingga membelakangi tubuh Lala membuatnya seperti tameng bagi perempuan itu "Mereka tak mengenal kata menyerah yah, padahal mereka sudah terkapar di kamarku tadi," gumam Naruto yang bisa merasakan hawa keberadaan dua orang berpenampilan bodyguard tadi sedang mendekat kearahnya "Aku akan menahan mereka selama mungkin, kau bisa lari sejauh mungkin selama aku bertarung dengan mereka," titah Naruto yang sudah membuat segel-segel tangan lumayan rumit.

"T-tidak mungkin, k-kau bisa kalah oleh mereka," tolak Lala yang menatap Naruto dengan pandangan cemas.

"Seorang laki-laki tak mungkin membiarkan perempuan harus terlibat dengan masalah berbahaya seperti ini, lagipula aku tak memiliki niatan untuk kalah dari mereka," jelas Naruto diiringi dengan senyum lima jarinya.

Buufft!

"Yosh! Persiapan sudah selesai!" seru Naruto ketika menyadari jika senjata pemberian sahabatnya itu sudah bertengger di punggungnya, dia harus melakukannya dengan cara kekerasan sekarang tak peduli jika itu merenggut nyawa mereka.

"Mundurlah, makhluk bumi menjijikan. Berikan Lala-sama kepada kami atau kau akan tahu akibatnya," ucap salah satu lelaki kekar itu, keduanya sudah mendarat dengan sempurna di permukaan tanah taman bermain tersebut.

"Jika kalian ingin mendapatkannya, kau harus melewatiku dulu. Kita lakukan dengan cara jantan," ucap Naruto dengan salah satu tangannya yang melintang di depan tubuh Lala mengisyaratkan agar perempuan itu menjauh darinya.

"Ternyata kau punya nyali juga, makhluk bumi," ucap seseorang dari atas mereka, seberkas cahaya lumayan besar menyorot tepat di depan kedua lelaki bertubuh kekar itu. Naruto bisa melihat bagaimana besarnya pesawat luar angkasa yang dipenuhi cahaya berkelip layaknya bintang, seseorang berpakaian besi dengan runcing di beberapa bagian tubuhnya, bersurai abu-abu yang sangat rapi dengan matanya yang berwarna abu-abu kebiruan yang sudah menatapnya kini sudah mendaratkan tubuhnya dengan sempurna di permukaan tanah.

"Zastin!" sahut Lala yang mengetahui siapa orang yang baru saja mendarat itu.

"Haduh, masalah ini sepertinya tak ada habisnya," ucap Naruto sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal sama sekali.

"Aku mohon dengan sangat Lala Satalin Deviluke-sama, berhentilah melarikan diri dan ikut kami kembali ke Planet Deviluke. Gid-sama sangat mengkhawatirkan keadaan anda jika Lala-sama terus saja bertindak gegabah seperti ini," ucap pria bernama Zastin itu dengan nada lantang dan tegas.

"Aku tak mau, Zastin! Aku tak mau kembali lagi kesana dan dipaksa untuk bertunangan lagi, lagipula aku sudah dapat kandidat yang cocok untukku sendiri," tolak Lala yang sudah bersembunyi tepat di balik punggung Naruto.

"Jika itu pilihan Lala-sama berarti makhluk bumi yang bersama anda itu harus mati sekarang juga," ucap Zastin dengan tangan kanannya sudah mengambil sesuatu layaknya tongkat lalu cahaya kehijauan berbentuk seperti pedang besar sudah muncul di ujung tongkat tersebut.

"Ha... Haha... Hahahahaha...!" Laki-laki itu tertawa dengan keras setelah mendengar perkataan dari pria bernama Zastin itu, membuat semua alien yang ada disana memasang ekspresi bingung.

"Kenapa kau tertawa?" tanya Zastin pada Naruto yang masih tertawa terbahak-bahak.

"Kau kira dirimu ini Tuhan yang bisa merenggut nyawa siapa saja semaumu, kata-katamu membuat perutku sakit," Entah kenapa ketika Naruto mendapatkan ancaman seperti itu, dia malah teringat pada masa lalunya ketika dirinya berusaha bertarung mati-matian diantara hidup dan mati. Dia bahkan sudah terbiasa dengan itu.

Salah satu tangannya yang bebas sudah mengalihkan penutup matanya dari sebelah kiri menuju sebelah kanannya, sudah lama dia tidak mencoba untuk menggunakan matanya istimewa itu. Mata berwarna ungu gelap berpola riak air hitam dengan tiga tomoe di setiap garis tersebut sudah menatap kearah Zastin dan kedua lelaki itu dengan pandangan datar tetapi menusuk "Kau sudah salah memilih lawan, makhluk asing," Nada bicara Naruto juga sudah berubah dari biasanya ditambah dengan seringai kecil di bibirnya.

Glup! Glup! Glup!

Ketiga lelaki yang ditugaskan untuk menangkap dan membawa Lala ke Planet Deviluke itu hanya menelan ludahnya dengan susah payah karena mereka belum pernah merasakan rasa dingin yang menusuk kulit mereka disebabkan tatapan mata ungu dari remaja labil di depannya bahkan penguasa Planet Deviluke yang notabenenya adalah Ayahnya Lala tidak pernah memiliki aura mengerikan seperti ini walaupun kekuatannya bisa menghancurkan sebuah planet, pegangan Zastin pada gagang pedangnya semakin mengerat dan menguat. Dia adalah Pengabdi dan Penjaga setiap Keluarga Deviluke yang agung, tak seharusnya dia takut dengan manusia itu.

Flash!

Kilatan berwarna kuning tercipta di depan Lala -dimana tempat Naruto berdiri sebelumnya- membuat remaja pirang tadi menghilang, baik Zastin maupun kedua bodyguard itu hanya terkaget ketika remaja pirang itu sudah berdiri tepat di depan Zastin dengan iris ungu mengerikannya yang menatap kearah Zastin "Seharusnya kau tahu dimana tempat berdirimu sekarang, biarkan Lala hidup dengan kemauannya sendiri atau kau ingin aku membuat batu nisan dengan nama kalian diatasnya, hm?" ucap Naruto dengan senyum ramah di bibirnya, tetapi ketiga orang itu malah mengartikannya dengan makna yang berbeda.

"Go Go Vacumum-kun!"

Semua pasang mata yang ada disana menatap kearah asal suara dimana sinar aneh yang berasal dari ponsel Lala sudah menjulang ke langit malam hingga beberapa saat kemudian sebuah benda berkepala bulat besar dengan banyak tentakel di bawahnya sudah melayang diatas tubuh Lala "Tolong menyingkir dari sana, Naruto. Biarkan Go Go Vacumum-kun menghisap mereka," ucap Lala yang berusaha memperingati pemuda pirang itu.

Naruto hanya mengangguk perlahan lalu menatap kearah Zastin dan yang lainnya sekilas sebelum dirinya melompat ke belakang menjauhi ketiga makhluk aneh seperti manusia itu.

"Sekarang hisap mereka," perintah perempuan itu pada robot besar salah satu ciptaannya.

Swussshhh!

Robot Gurita itu melakukan apa yang diperintahkan oleh penciptanya dengan mulutnya yang berbentuk moncong seperti corong sudah mulai menghisap apapun yang ada di hadapannya dengan tekanan hisapan yang tinggi, dia tak akan berhenti menghisap sebelum pemiliknya sendiri mematikan dirinya.

"W-waaa!"

Kedua orang itu sudah terbang dan berhasil terhisap oleh moncong robot itu dan berusaha menahan kedua orang itu di dalamnya, disusul dengan pria berpakaian besi dengan gambar layaknya iblis juga sudah melayang dan masuk ke dalam robot itu walaupun sedikit menyangkut ketika akan masuk melalui moncongnya itu.

Naruto hanya memasang ekspresi takjub sambil membenarkan kembali penutup matanya dan mengalihkannya ke matanya yang sebelah kiri "Walaupun dia ini kekanak-kanakan, tapi otaknya sangat cerdas juga," ucap Naruto yang menatap kearah Lala dengan pandangan kagum.

"Eh?!" Naruto bisa merasakan jika tubuhnya perhalan-lahan tertarik oleh hisapan Vakum pembersih besar itu, meskipun dia terus menambahkan tekanan chakranya pada telapak kakinya tetap saja alat itu semakin bertambah kuat menyedot dirinya "L-lala, bisakah kau mematikan benda ciptaanmu itu? Sepertinya mulai tak terkendali," ungkap Naruto yang menatap beberapa barang seperti tempat sampah, ayunan, jungkat-jungkit, pohon dan sapi? Hey, disini sama sekali tak ada peternakan.

"Sepertinya aku lupa bagaimana caranya untuk mematikannya, dengan kata lain benda itu tak bisa dihentikan," ucap Lala yang terlihat sangat tenang walaupun beberapa benda yang ada di sekitar taman tersebut.

"A-apa?!" ucap Naruto yang sudah kehilangan konsentrasinya hingga chakra yang ia pertahankan di telapak kakinya sudah menghilang membuatnya terseret dan tertarik oleh Vakum Penghisap Besar itu "K-Kami-sama... Cobaan apalagi ini?!" teriak pemuda pirang dengan tubuhnya yang sudah menyumpal moncong penghisapnya. Robot gurita itu sudah membesar melebihi kapasitasnya dan terus membesar dengan tidak terkendali.

Booommm!

Robot itu meledak memuntahkan semua benda yang dihisap ke dalamnya secara acak bahkan tubuh laki-laki pirang itu sudah terlempar ke salah satu pohon yang tidak tertarik oleh Vakum tersebut dengan celana dan pemiliknya yang sudah tergantung di salah satu dahan pohon itu.

"K-kenapa hidupku jadi senista ini?" tanya Naruto dengan salah satu matanya yang berubah bentuk seperti obat nyamuk yang berputar pelan, sementara Lala hanya cengengesan di tempat.

-0-0-0-

Matahari sudah kembali menampakan dirinya di ufuk timur menggunakan sinarnya yang terang benderang itu untuk membangunkan setiap makhluk hidup yang masih saja terlelap di alam mimpinya, termasuk pemuda pirang jabrik yang tertidur membelakangi cahaya matahari yang masuk melalui jendela kamarnya dengan gorden yang sudah terbuka lebar. Merasakan rasa panas yang luar biasa di punggungnya membuat pemuda pirang itu berbalik dan menggulingkan tubuhnya hingga berhadapan langsung dengan cahaya matahadi itu.

"Ehhm~...," lenguhan pelan keluar dari mulut laki-laki pirang itu setelah merasakan napas lain yang menerpa wajahnya dengan ritme yang sangat teratur, karena rasa penasarannya yang tinggi kelopak mata sebelah kanan pemuda itu terbuka perlahan menampakan bola matanya yang berwarna sebiru lautan yang sangat dalam dan luas. Dia mengerjapkan kelopak matanya berkali-kali agar matanya terbiasa dengan cahaya yang masuk ke dalam kamarnya, tapi ada sesuatu yang janggal disana.

Iris biru langit itu membulat sempurna ketika melihat sosok perempuan bersurai merah muda panjang sedang tertidur dengan manis tepat di sampingnya tapi bukan hal itu yang membuatnya kaget, dia tidur tanpa mengenakan pakaian apapun untuk menghalangi tubuhnya dan hanya mengandalkan berbagi selimut dengannya "L-lala, kenapa kau~...?"

Gubrak!

Dua hari berturut-turut dirinya harus menghadapi kenyataan bahwa kepalanya akan mengalami kegagalan berpikir karena terus saja membentur lantai yang ada di bawahnya dengan sebab yang berbeda, kemarin dengan adiknya dan sekarang dengan perempuan asing yang mengaku sebagai alien yang berasal dari Planet Deviluke.

"Apa?" Suara yang sangat lemah lembut bahkan membuat siapa saja meleleh itu meluncur bebas dari mulut perempuan yang baru saja terbangun dari tidurnya karena mendengar suara ribut di dekatnya, dia mengangkat kedua tangan keatas merenggangkan tubuhnya yang sedikit pegal karena posisi tidurnya dan dia tak tahu jika Naruto sudah menatapi dada berukuran sedangnya yang terekspos sangat jelas itu.

"Selamat pagi, Naruto," sapa Lala dengan salah satu tangannya mengucek matanya berusaha untuk menghilangkan rasa kantuk yang tertinggal di matanya sambil menghadapkan tubuhnya kearah Naruto.

"L-lupakan dengan ucapan selamat paginya! Kenapa kau ada di kamarku? Dan...," pemuda itu sedikit menjeda perkataannya, mata kanannya bisa melihat jika tubuh perempuan itu memang tak ditutupi apapun "...kenapa kau malah telanjang seperti itu?" tanya Naruto dengan memalingkan wajah memerahnya kearah lain.

"Eh? Aku 'kan ingin tidur denganmu, Naruto," jawab Lala yang sudah mewakili salah satu pertanyaan dari pemuda pirang itu.

"Dan sangat sulit untuk mempertahankan bentuk kostum untuk Lala-sama, itu memakan energi yang sangat besar," jawab Peke yang juga sudah terbangun dari tidurnya dan dengan begitu, semua pertanyaan Naruto terjawab dengan jelas.

Naruto hanya menarik napasnya dalam-dalam berusaha untuk menetralkan detak jantungnya yang berpacu sangat cepat, pagi-pagi sudah disuguhi pemandangan yang sangat mengerikan (dibaca: Indah). Lama-lama dia bisa mati berdiri jika keadaannya terus seperti ini.

"Ada apa?"

"J-jangan membalikan tubuhmu kesini," larang Naruto dengan kedua tangannya berusaha mengisyaratkan agar Lala berhenti di tempat dan jangan melakukan apapun, dia tak tahan melihat perempuan yang ada di depannya.

"Naruto! Sampai kapan kau akan terus tidur."

Klek!

Pintu kamarnya terbuka perlahan menampakan sang pelaku pendorongan pintu yang ternyata adalah Mikan yang merupakan adik angkatnya keduanya "Kau bisa terlam~...," anak perempuan yang sepertinya sudah mulai menginjak masa remaja itu hanya mematung tepat setelah membuka pintu dan melihat Naruto yang tidur dengan seorang perempuan asing.

"Maaf mengganggu kalian," ucap Mikan sambil sedikit membungkukan badannya.

Blam!

Pintu kamar Naruto tertutup rapat dengan sangat kuat disusul dengan suara langkah kaki sangat cepat menuruni anak tangga yang tak jauh dari depan kamar Naruto "Riko-nee! Naruto sudah menyetubuhi seorang perempuan!"

Mulut Naruto hanya bisa menganga lebar ketika mendengar suara teriakan Mikan yang melibatkan namanya di dalamnya dan tak seharusnya kata-kata itu keluar dari mulut Mikan yang masih menginjak Sekolah Dasar.

"Apa salahku, Kami-sama?!"

[To Be Continued...]

Terima kasih saran, kritik, kesan dan pesan yang kalian tinggalkan kemarin. Saya bersyukur jika cerita ini mendapatkan respon positif dari para pembaca sekalian dan bukan hal yang tabu lagi jika To Love-Ru emang anime Ecchi yang banyak humornya, saya rasa memang baru beberapa saja yang meng-crossover-kan Naruto dan TLR.

Saya minta maaf yang sebesar-besarnya pada Author yang bernama 'Neko Twins Kagamine', dari segi alur emang ada yang sama sih dengan cerita miliknya misalnya Rito yang diganti jadi Riko, tapi itu benar-benar tak disengaja bahkan saya juga baru buka FF-nya setelah ada yang review ceritanya agak sama. Terima kasih sudah memberitahukannya kepada saya, itu sangat membantu.

Dan tentu saja pair di cerita ini adalah Harem, suka gak suka, setuju gak setuju, telen aja sendiri. Kalau gak mau juga tinggal buang aja, memang sih protesan sepele tapi tanpa kalian sadari jika pondasi awal sebuah cerita bisa goyah karena hal sepele dan itu yang menjadi faktor utama berhentinya suatu cerita. Ya, itu hanya sekilas pandang dari saya.

Mau flame karena hal yang diatas silahkan, Dunia FanFiction memang tak akan lepas dari namanya Flamer. Tapi yang sopan aja, jangan sampai semua satwa kebun binatang di absen hanya untuk meluapkan emosi.

Terima kasih atas waktu yang kalian luangkan untuk membaca cerita saya, semoga menghibur dengan sajian humor yang garing. Itu saja dari saya.

Mohon kritik, saran, pesan dan kesan untuk chapter 2 ini.

Terima kasih sekali lagi...