Kiku meletakkan peralatan makannya karena ia merasa cukup kenyang. Padahal, ia belum benar-benar menghabiskan makan malamnya itu. Lagipula, ini salah Kakek Tara yang membuat nafsu makannya semakin down karena mengingatkannya pada escargot dan membuatnya penasaran akan cerita yang dipendam kakek tua ini.
Kakek Tara bilang ia akan cerita setelah mereka selesai makan malam. Alasannya, beliau tidak mau membuat rasa makan malam di restoran bintang tiga ini menjadi hambar. Namun tetap saja, cerita atau pun tidak, mereka berdua tetap tidak menghabiskan makan malam mereka. Terutama Kakek Tara yang kini larut dalam pemikirannya sendiri ketimbang menghabiskan main dish-nya yang masih utuh tak tersentuh itu.
"Tara-jiisan..." panggil Kiku lirih, "Apakah anda baik-baik saja?"
"Mnh? Oh... Ya... Tentu..." jawab Kakek Tara, "Kau sudah selesai?"
"Ya..."
Kakek Tara tersenyum tipis sembari meletakkan alat makan dan mengambil gelas berisikan air putihnya. Ia meneguknya beberapa kali, namun tidak menghabiskannya, "Pada akhirnya kita tidak menikmati makan malam ini, ya?" gumamnya kecewa.
"Tara-jiisan... Mungkin saya sudah terlalu jauh... Kalau ini terlalu berat..."
"Tidak... Tidak... Aku ingin cerita padamu... Lagi pula, kalau kita akan bekerja sama, kau harus tahu apa masalahnya bukan?"
"Kalau begitu... Saya akan mendengarkan..." ucap Kiku.
HETALIA AXIS POWERS © HIDEKAZU HIMARUYA
In
- ALTER EGO –
LittleOrchids045
Bunyi ketukan meja cukup membuat Kiku khawatir. Kakek Tara terlihat cukup gelisah dan takut untuk membicarakannya. Kiku kira Kakek Tara belum siap untuk hal seperti ini. Mengungkap masa lalu menyakitkan, membuka luka lama, adalah hal yang sulit dilakukan untuk semua orang. Ditambah lagi menceritakannya kepada orang tak dikenal. Namun, saat Kiku akan mengalihkan pembicaraan, Kakek Tara mulai bersuara.
"Group Nusantara itu, sebenarnya berumur tidak terlalu tua... Tidak setua keluarga besarku dan juga bukanlah Group keluarga besarku... Namun sebuah Group yang kurintis sendiri dari perusahaan kecil, dari nol, bersama dengan istriku..." jelas Kakek Tara membuka ceritanya, "Namun demikian, dengan strategi yang bagus, perusahaan itu berubah menjadi besar... Kemudian kita mengajak saudara-saudara kami, relasi-relasi kami untuk semakin mengembangkan perusahaan itu sampai bercabang banyak... bahkan hulu sampai hilir semuanya kami kembangkan dengan bantuan saudara-relasi-kenalan yang bisa kami percaya... Maka dalam 20 tahun saja Group besar ini sudah berdiri kokoh dan sangat kuat..."
-tte?! Hountou desu ka?! –yang benar saja?!
Kiku cukup terkejut. Ia kira Group sebesar Nusantara Group sudah didirikan sejak jaman kolonial Belanda atau apa. Akan tetapi, mengingat tempat di mana Group itu berkembang pesat –Indonesia, yah... Itu mungkin terjadi dan ini selalu menjadi pertimbangan positif untuknya, lagi pula.
"Aku dan istriku dianugerahi dua orang anak... Pertama adalah Dirgantara, pangeran kecilku yang sangat sempurna dalam hal apa saja..." lanjut Kakek Tara dengan kebanggaan yang terpampang jelas di sorot mata tuanya, "Dia memiliki apa saja dan merupakan harapan terbesarku untuk melanjutkan semua usahaku... Kedua, Maharani, ia adalah putri kami yang sangat kami sayangi dan seperti kakaknya, ia sangat berbakat... Mereka besar bersama dengan Group Nusantara sehingga mereka telah terbiasa dan mengerti tentang Group kami ini..."
"Aku dulu adalah seseorang yang sangat ambisius... Yah, itulah yang membuat Group kami setiap harinya semakin besar dan besar..." ungkapnya sembari menatap Kiku lekat, "Kami memasuki seluruh sektor; pertanian, perkebunan, perikanan, peternakan, koperasi, perbankan, infrastruktur, properti, tambang, telekomunikasi, jurnalistik... macam-macam lah..."
"Dirgantara juga membantuku, dia yang membuat semuanya semakin kuat dan berkualitas... Juga membuat rekanan dan cabang di seluruh Indonesia... Saat ini, Group Nusantara itu bagaikan kopian Indonesia sendiri... Bahkan kami bisa dibilang hampir memegang seluruh Indonesia tanpa politik, tanpa harus memegang pemerintahannya..." lanjut Kakek Tara disertai menghela nafas panjang.
.
.
KOWAI DESU! –Itu mengerikan!
Kiku tidak percaya ini. Maksudnya; sebuah perusahaan yang hampir memegang sebuah negara? Perusahaan raksasa macam apa itu?!
"Lalu? Apa yang menjadi masalahnya, Tara-jiisan?" tanya Kiku mencoba tenang dan menyambung pembicaraan. Ia menunggu Kakek Tara yang tak kunjung melanjutkan ceritanya dengan sedikit cemas.
"Mungkin... Ini karena aku terlalu ambisius... Aku menghancurkan segalanya..." ucap Kakek Tara penuh dengan kekecewaan dan umpatan terhadap dirinya sendiri, "Semuanya dimulai ketika Dirgantara menemukan seseorang yang spesial untuknya..."
"Seseorang yang spesial...?" gumam Kiku lirih, mengulangi. Ia mulai merasakan firasat buruk.
"Para penasihat dan jajaran direksiku bilang bahwa Dirgantara adalah aset terbesarku... Aku tidak boleh melepaskannya dan menyia-siakan pada orang yang salah... Paling tidak Dirgantara harus mendapatkan wanita yang sepadan dengannya atau yang bisa mengangkat derajat dirinya..." ucap Kakek Tara lambat-lambat.
Kiku terdiam meresapi kata-kata Kakek Tara. Ia melirik ke arah lain dengan tidak percaya.
Aset.
Yang benar saja.
Kiku tahu persis apa arti kata itu. Ia sendiri merupakan 'aset'. Hidupnya selama ini selalu berputar di sana dan hingga saat ini, detik ini, ia masih menjadi aset berharga ayahnya. Entah kapan ia bisa terlepas dari semua jeratan itu. Kini ia mulai khawatir jika ia ayahnya berpikiran sama dengan Kakek Tara yang dulu. Kalau sampai ayahnya itu menjodohkannya dengan orang lain...
Kalau sampai itu terjadi...
"Aku mengatakan tidak... Bahkan sebelum aku menemui wanita spesial yang telah membuat anakku jatuh hati itu... Bodohnya aku... Aku juga sungguh keras kepala sampai akhirnya aku bertengkar hebat dengan Dirgantara dan ia pergi dari kediaman utama..." lanjut Kakek Tara sembari mengambil gelas berisikan air putihnya. Ia meneguknya perlahan, mencoba menahan serangan panik yang mulai muncul.
Ya... Mungkin aku akan melakukan hal yang sama...
Kakek Tara menghela nafas lelah, "Andai saja istriku masih ada saat itu... Ia pasti tahu apa yang harus diperbuat..." lirih Kakek Tara.
"Dirgantara benar-benar pergi dan menghilang... Bahkan intelijen pribadiku tak bisa menemukannya... Aku hampir tidak peduli pada apapun lagi saat itu... Bahkan aku membiarkan anak perempuanku menikahi siapa pun sesukanya asalkan ia tidak menghilang dariku seperti Dirgantara... Sampai suatu hari ada seorang relasi yang menyatakan ia tahu di mana anakku itu berada... Relasi itu berkata bahwa anakku sudah menikahi wanita itu dan memiliki seorang anak perempuan..." ucap Kakek Tara.
"Aku merasa... Entahlah... Waktu itu aku merasa senang mengetahui di mana keberadaan Dirgantara... bahwa aku memiliki cucu... Tapi aku juga merasa marah akan semua keadaan ini... Tetapi yang paling kurasakan adalah takut... Aku takut jika Dirgantara tidak mau memaafkanku... Aku tidak peduli lagi pada kawin lari itu atau cucu dan lainnya... Asalkan Dirgantara mau kembali, aku... Aku pasti berbuat apa saja..."
Kiku terus memperhatikan Kakek Tara yang mulai tidak nyaman. Ia kira ini bukanlah cerita yang cukup mengerikan dan fatal –kecuali Dirgantara menjadi anak kurang ajar dan tidak mau kembali semudah itu.
"Relasiku bilang bahwa aku tidak boleh langsung menemui Dirgantara karena bisa saja Dirgantara kabur lagi... Dia bilang biar dia saja yang membujuk Dirgantara... Aku menyetujuinya..." ucap Kakek Tara sembari menggenggam erat gelasnya, "Bodohnya aku... Aku menyetujuinya... Seharusnya aku tetap keras kepala dan menemuinya sendiri..." bisiknya penuh penyesalan.
"Apakah... Dirgantara-san kembali?"
"Mnh? Ya... Pada akhirnya... Relasiku itu ternyata tidak pernah meminta Dirgantara untuk pulang secara baik-baik... Ia menjebak Dirgantara dan membuatnya tidak punya pilihan selain pulang... Ia kembali ke Dalem Ageng –rumah utamaku, namun semakin membenciku..." ucapnya getir, menyembunyikan hal lain.
"Bersama istrinya dan anaknya?" tanya Kiku hati-hati.
.
.
"Tidak... Aku tidak menerima istri dan anaknya..." jawab Kakek Tara, mengakui dengan lirih.
"K-kenapa? Bukankah Tara-jiisan sudah tidak peduli?" tanya Kiku lagi dengan sedikit kejengkelan yang berhasil lolos dari bendungannya.
"Ya... Hanya saja waktu itu... Aku terbawa emosi Dirgantara... Aku menyalahkan mereka... Apalagi ketika aku tahu latar belakang wanita pilihan Dirgantara... Dan aku benar-benar tidak bisa menerimanya..."
"D-doushite?"
"Waktu itu yang kutahu... Latar belakang istri Dirgantara sangat buruk... Ia dari keluarga bawah dan backgroundnya mengerikan... Aku yang terbawa amarah langsung menghakiminya sebagai musuh... Ia akan memasuki keluargaku, masuk ke dalam Group Nusantara dan mungkin akan menghancurkan segalanya, menghancurkan anakku..." ungkap Kakek Tara, "Aku tidak bisa membiarkannya... Biarlah aku di benci oleh Dirgantara asalkan aku bisa menyelamatkannya..."
"Tapi bisa saja istri Dirgantara-san sebenarnya adalah orang baik..." celetuk Kiku yang membuat Kakek Tara tersenyum getir. Setelah itu Kiku hanya bisa menutup mulutnya rapat-rapat dan merasa sangat bersalah karena mengucapkan kalimat tadi.
"Menurut laporan Intelejenku waktu itu; Tidak... Tidak cukup baik untuk Dirgantara..." jawab Kakek Tara, "Itu juga yang membuatku tak menerima anak Dirgantara... Aku tak yakin darah mana yang lebih kental mengalir di dalam nadinya..."
"Sou ka..."
"Aku sempat membenci anak itu... Karena adanya anak itu, Dirgantara tidak bisa lepas dari wanita itu... Mereka juga bilang bahwa anak itu sungguh nakal dan tidak tahu terima kasih... Bahkan sebuah laporan menyebutkan anak itu memiliki gangguan psikologis dan mengarah ke psikopat..." tambah Kakek Tara, "Pada waktu itu, aku menganggap wanita itu dan anaknya benar-benar sebagai ancaman dan musuh... Aku benar-benar harus menyelamatkan Dirgantara dari mereka..."
"Dirgantara memohon padaku untuk memberi mereka tempat... Dengan dalih, istrinya bertubuh rentan dan anaknya masih sangat kecil dan tidak tahu apapun... Ia juga sempat mengancam akan pergi lagi jika permintaannya ini tidak dituruti... Maka aku pun menyanggupinya, walaupun aku sendiri tidak ikhlas waktu itu..."
"Aku memberikan mereka perlindungan di salah satu rumahku yang paling kecil, memberikan mereka fasilitas kehidupan, pendidikan dan lainnya yang mereka butuhkan... Tapi sepertinya mereka tidak tahu terima kasih... Uang yang mereka habiskan hampir setara dengan salah satu aset perusahaan menengah yang kita naungi... Mereka tidak memberikan kabar selain laporan uang yang mereka habiskan... Aku juga tidak peduli, asalkan mereka menjauh dari Dirgantara... Dan kabar terakhir dari mereka adalah wanita itu meninggal..."
"Sore wa..." Kiku tidak sanggup berkata-kata, juga tidak sanggup berpikir walau sekeras apapun ia mencoba untuk melogikakan apa yang terjadi.
"Mengetahui hal itu, aku merasa lega... Kau boleh menganggapku jahat... Tapi aku benar-benar merasa lega karena satu masalah Dirgantara menghilang... Sedangkan anak itu... Akhirnya ia berubah menjadi sedikit jinak... Waktu itu kami juga sempat menghadapi masalah dengan perusahaan saudaraku... Jadi untuk mendamaikannya aku memanfaatkan anak itu dalam pernikahan bisnis... Setidaknya untuk mendamaikan sementara sampai kami mengatasi semuanya... Aku tak ingin keluarga mereka dimasuki oleh anak mengerikan itu..."
"Sedangkan Dirgantara... Akhirnya ia melupakan wanita itu dan menurut padaku..." imbuh Kakek Tara, "Ia akhirnya mau menikahi wanita yang kupilihkan..."
"Sou ka? Apakah beliau bahagia?"
"..."
"T-tara-jiisan?"
"Dirgantara..." ucap Kakek Tara sendu, berusaha untuk tidak menangis, "Dia mengalami kecelakaan beberapa hari setelah menikah..."
"Umh... Sumimasen... Tara-jiisan..."
"Ia bersama dengan anaknya mengendarai mobil... Aku tidak tahu mengapa dan untuk apa... Padahal tidak ada acara semacam itu di jadwalnya..." ujar Kakek Tara lirih dan penuh kemarahan serta penyesalan, "Dirgantara... Ia tidak selamat... Tapi anak itu selamat... Itulah yang membuatku sangat marah dan benci... Mengapa anak itu yang selamat? Mengapa bukan Dirgantara?"
"Aku tidak mengakui anak Dirgantara, tidak mengakui cucuku... Dan aku membiarkannya menghilang..."
"Huh?" Kiku membelalakkan matanya lebar-lebar.
"Aku tidak tahu apa yang terjadi... mungkin ia berakhir di panti asuhan... Atau diadopsi oleh orang... Aku tidak peduli... Mati pun aku tidak akan memikirkannya..." ucap Kakek Tara lagi, "Sampai aku menemukan fakta mengerikan yang membuatku memecat seluruh Intelejen pribadiku serta relasiku yang aku tahu, tersangkut kasus ini... Bahkan aku bersumpah untuk membunuh mereka degan tanganku sendiri jika tidak sengaja bertemu mereka di tengah jalan..." imbuhnya dengan intonasi yang tidak bisa Kiku jabarkan; terluka, sedih, kecewa, marah, jengkel, menyesal, frustrasi –lebih dari semua itu.
Muka Kakek Tara sangat pucat dan dirundungi penyesalan yang amat dalam, "Jika bunuh diri setara dengan semua dosaku, aku akan melakukannya..." lanjutnya geram, "Tapi aku tidak bisa membayar semua itu hanya dengan nyawaku... Bahkan nyawaku pun sangat murah harganya dan bahkan tidak bisa membayar apapun... Hanya fakta itu yang membuatku tetap sadar dan melanjutkan hidup... Setidaknya, aku tak akan membiarkan musuhku sebenarnya untuk menang..."
.
.
"Fakta apa itu?" tanya Kiku hati-hati.
Kakek Tara hanya tersenyum tipis, senyum yang rusak dan menyedihkan, "Aku menemukannya saat memeriksa ulang dengan lebih rinci semua masalah yang telah ditimbulkan oleh istri Dirgantara itu... Aku sebenarnya tidak mau memeriksanya karena masih terbawa dendam dan merasa bahwa istri Dirgantaralah yang membuat Dirgantara mengalami kecelakaan... Bahwa ia tidak rela, ia mati sendirian sehingga ikut membawa anakku..."
"Aku sedang menghitung semua kerugian dan memikirkan bagaimana aku akan memperbaiki itu semua... " ucapnya getir dan jijik, "Yang aku temukan bahkan lebih mengerikan daripada membayangkan ketika Group Nusantara akan hancur..."
"Aku mendadak menyewa konsultan hukum, keamanan dan intelijen tanpa memberi tahu siapa pun... Dan... mereka melaporkan bahwa semua yang anak buahku laporkan selama ini hanyalah rekayasa... Semuanya adalah strategi untuk menyingkirkan anggota Dalem Ageng..." ungkapnya geram, "Bahkan... Sampai saat ini, aku belum berhasil melacak siapa sutradaranya... Siapa dalang dibalik semua ini..."
Ini mimpi buruk –tapi sayangnya, ini adalah kenyataan yang telah terjadi. Kiku tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan Kakek Tara saat itu...
"Aku melakukan background check berulang kali setelah itu sampai menemukan siapa identitas asli Istri Dirgantara yang sebenarnya..." ucapnya miris, "Wanita pilihan Dirgantara adalah wanita berpendidikan tinggi yang memiliki kepribadian kuat dan sangat baik... Meskipun keluarganya jahat, ia adalah individual yang berbeda dan tahan terhadap semua tekanan itu... Hal ini dibuktikan dengan prestasinya... Ia sedang menempuh S2, dan itu beasiswa full, saat bertemu dengan Dirgantara di Den Haag... Ia juga merupakan wanita yang setia dan selalu menjaga nama baik Dirgantara... Ia sangat mencintai Dirgantara, dengan tulus – bukan karena harta. Bahkan, ia tidak tahu nama keluarga besar Dirgantara sampai anaknya diculik oleh relasiku demi memojokkan Dirgantara sehingga ia kembali ke Dalem Ageng..." ucap Kakek tara penuh penyesalan.
Iie... Iie... Iie desu...
Kiku hanya bisa mengulang kata-kata penolakannya terhadap kenyataan di dalam kepalanya. Ini lebih mengerikan daripada apa yang ada di dalam perkiraan Kiku saat melihat senyum getir Kakek Tara tadi.
"Aku tidak bisa meminta lebih dari itu... Wanita itu sempurna... Aku seharusnya melihatnya sendiri dan memberikan restuku... Betapa bodohnya aku... Pantas saja Dirgantara begitu membenciku..."
"T-tara jiisan..."
"Sedangkan anak mereka... Ternyata aku pernah bertemu dengannya... Dia sangat manis serta berhati lembut... Sungguh cerdas juga berbakat... Bukan anak nakal dan psikopat yang selama ini mereka jabarkan..."
Kiku mengerti betapa kecewanya Kakek Tara. Terlihat dari raut wajah tua itu, seluruh penderitaan, kekecewaan, penyesalan dan kepahitan hidup yang telah dilaluinya. Kiku sendiri tidak tahu apa yang harus ia lakukan ketika mengetahui berita yang sungguh membuat syok ini.
Padahal ia hanya mendengarkannya –bukan mengalaminya dan harus mengambil keputusan. Namun tetap saja, Kiku merasakan kecewa, penyesalan, rasa bersalah dan syok yang Kakek Tara rasakan. Ia paham betapa kesalnya, ketika melakukan sesuatu yang sangat salah namun sudah sangat terlambat untuk membenahinya. Penyesalan itu akan terus membayangi seumur hidup.
"Dan... Wanita itu bukan meninggal tanpa alasan... Ia dibunuh..." ungkap Kakek Tara lirih, namun berhasil membuat Kiku terlonjak kaget, "Aku tidak bisa melindunginya... Aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri ketika mendengarnya..."
Dibunuh? Sekejam itukah?
"Dirgantara dan anaknya... Kemungkinan besar, kecelakaan itu adalah hal sengaja... Laporan terakhir dari intelejenku yang baru dan dapat dipercaya mengatakan bahwa ada tanda-tanda rem tidak berfungsi... Namun kenyataan ini selalu ditutupi dan disembunyikan dariku oleh para penjilat itu... Walaupun begitu, kami masih membutuhkan bukti untuk membukanya dan mengajukannya ke pengadilan... Sampai hari di mana aku bisa membuat mereka membayar semua ini... kami hanya bisa bergerak sembunyi-sembunyi..."
"Strategi mereka berhasil... Mereka berhasil membunuh dua... Berhasil melenyapkan cucuku... Perhitungan mereka yang meleset hanyalah ketika penyakit jantungku belum berhasil membunuhku... Aku masih ingin hidup dan aku akan hidup... Sampai dendamku terbalaskan..."
Kiku dapat merasakan kemarahan dan dendam yang sangat kental dari raut wajah Kakek Tara. Beliau tidak main-main saat menyebutkan ancamannya. Namun Kiku juga merasakan kekecewaan dan peyesalan – serta mungkin kebencian Kakek Tara terhadap dirinya sendiri yang sangat naif.
Naif.
Sesuatu yang sebenarnya bukan dosa besar, namun bisa membuat keadaan dan masalah menjadi semakin parah. Juga bisa memancing orang-orang jahat dan egois untuk menjebakmu. Atau hal lain, seperti melukai orang-orang yang tak bersalah. Untungnya sifat itu telah dibuang jauh-jauh dari akal dan cara berpikir Kiku sejak ia masih kecil –walaupun hasil akhirnya, ia menjadi orang yang cukup mengerikan di mata keluarga dan relasinya.
Melihat Kakek Tara yang semakin murung, Kiku ikut merasa iba dan prihatin. Namun di sini ia hanyalah orang luar yang tidak bisa sembarang membantu. Terutama karena ia sendiri memiliki orang-orang yang selalu 'mengawasi'nya.
"Lalu anak itu... Cucuku... Aku mencarinya diam-diam ke seluruh penjuru dunia... Apa yang musuh tahu dan inginkan adalah anak itu sudah meninggal... Namun aku yang waktu itu menelantarkannya yakin bahwa cucuku masih hidup di suatu tempat... Pasti... Walaupun 17 psikiater telah meyakinkanku selama 10 tahun ini bahwa ia telah meninggal... Aku percaya ia masih hidup di suatu tempat..."
"Tara jiisan... Apakah anda ingin aku membantu mencarikannya?" tanya Kiku berempati.
"Tidak... Itu sudah terlalu terlambat... Skenario mereka sudah lebih tiga perempat jalan... Aku sudah berada di ambang skakmat dan tidak punya banyak waktu... Ditambah mata-mata mereka... Bahkan aku hanya bisa melancarkan pencarian informasi secara sangat rahasia dan menggunakan server pribadi yang sangat tersembunyi... Satu tindakan mencurigakan saja, aku tak tahu apa imbasnya nanti, mungkin putriku... mungkin orang-orang yang dekat denganku... mungkin saudaraku..." ucap Kakek Tara, "Lagipula... Anak itu mungkin membenciku sampai mati... Aku membiarkan orang tuanya terbunuh, dan aku juga menelantarkannya..."
"Lalu?" tanya Kiku datar, sembari menyisip teh hijaunya kembali. Mencoba membasahi tenggorokannya yang mengering dan memisahkan perasaannya yang porak-poranda dengan logika profesionalnya.
"Aku ingin... Nak Nesia berpura-pura menjadi cucuku yang tak sengaja kutemukan di Eropa... Membuat posisiku menjadi sangat kuat di Group –dengan adanya pewaris... Mereka yang tidak tersangkut hal ini akan kembali percaya padaku, sehingga aku bisa menguasai kembali bagian besar jaringan perusahaan dan menemukan serta menghukum para pengkhianat itu sebelum ajalku tiba..." ucap Kakek Tara sembari membuka smartphonenya, "Apalagi, kau akan ada di sana memback-up Nak Nesia kan? Shachou-san?"
"!" Kiku tersedak ketika mendengar panggilan dari Kakek Tara dan sontak terbatuk-batuk, berusaha mengeluarkan cairan yang kiranya telah salah masuk saluran ke saluran pernafasan.
"Heh..." Kakek Tara menghela nafas kesal sembari membuang pandang, "Aku tidak akan pernah percaya bahwa akulah yang mengundangmu makan malam, Tuan Presiden Direktur... Bahkan untuk curhat..." canda Kakek Tara, namun masih sedikit getir.
"Dan kau yang terkenal selalu menolak undangan makan, bahkan dengan jajaran direktur perusahaanmu sendiri, hadir di sini dengan sangat mudah dan hanya satu permintaan... Bahkan menungguiku selama 15 menit... Kau sangat menyukaiku ya?" goda Kakek Tara lagi, "Ini sebuah kehormatan... Tidak... Aku merasa aku memecahkan sebuah rekor –atau mungkin lebih besar daripada itu..."
Kiku hanya bisa menatap Kakek Tara sengit sembari mengelap mulutnya. Jika Kakek tua ini sudah tahu siapa dirinya sebenarnya, seharusnya ia bilang sedari tadi.
"Saya datang ke sini hanya sebagai seorang siswa Senior High di Hetalia School dan penanggung jawab dari Nesia-san..." ucap Kiku datar, "Kecuali jika anda ingin itu berubah..." sambungnya dengan intonasi dingin dan kuat.
"Tidak, terimakasih..." ucap Kakek Tara mengerti, bahwa ia harus berhenti menggoda Kiku sekarang juga jika tidak ingin masalahnya tambah runyam dan musuhnya bertambah banyak.
"Nak Kiku... Aku benar-benar harus melakukan background check... Aku harus yakin bahwa kau bukan salah satu musuh yang harus kuhadapi... Maaf kalau ini membuatmu marah dan tidak nyaman..." sambung Kakek Tara lagi.
Kiku tidak peduli sebenarnya. Apa yang ada di pikirannya saat ini adalah menghubungi langsung siapa saja yang bertanggung jawab di keamanan perusahaannya –dan mungkin memecatnya malam ini juga.
"Apa saja informasi yang Tara-jiisan sudah ketahui?"
"Perusahaanmu... Keluarga besarmu... Reputasimu..." ucap Kakek Tara sembari mengecek smartphonenya, "Ah... Kalau reputasi sih tidak perlu pakai intelijen... Semua orang tahu tangan-dinginmu..."
"Saya tidak mau mendengarnya dari anda..." potong Kiku sarkatis.
"Oh... Tapi menurutku ini menarik..." ucap Kakek Tara, "Ah... Aku juga tahu tentang hobi yang kau sembunyikan..."
"?!" Kiku menatap Kakek Tara heran dan juga kaget. Jika kakek Tara ini sampai tahu hobi Para-gliding, soaring, jet-ski, diving, sailing dan apapun itu yang ditulis oleh asistennya untuk membuat imagenya sebagai pimpinan tertinggi perusahaan, berarti intelijen Kakek Tara cukup ahli.
"Kau Otaku kan? Tidak pernah absen memberikan review ke anime, Games, dan teknologi terup-date... Juga menulis beberapa doujinshi... –apakah itu semacam Novel?" tanya Kakek Tara tidak mengerti, "Hmm... Fudanshi? Apa itu?" lanjutnya polos sembari terus membaca catatan di smartphone-nya. Beliau tidak tahu bahwa seluruh ucapannya hampir membuat Kiku memuncratkan tehnya dan tersedak untuk yang kedua kalinya.
"Baru itu yang sudah kuketahui..."
'Baru itu'?! 'Baru itu' anda bilang?! Anda sudah sangat jauh melanggar privasiku! Kakek-kakek stalker!
Kiku mendengus jengkel. Namun juga bertanya-tanya. Dari mana, angin apa, atau lebih tepatnya, setan apa yang telah memberi tahu Kakek tua ini tentang hobi paling terselubungnya itu?! Ia bahkan tidak pernah memberi tahu siapa pun –termasuk ibunya, adiknya, apalagi ayahnya-God forbid that, tentang hobinya itu. Ingin ia marah pada Kakek Tara dan perbuatannya. Namun, Kiku menahan diri. Jika ia marah, berarti ia membenarkan semua laporan yang tertulis di handphone Kakek Tara itu.
Yah, Setidaknya Kakek Tara belum menemukan kenyataan bahwa ia sebenarnya belum menikah.
.
.
Belum kan?
"Tetapi... Aku tidak menemukan apapun tentang Nak Nesia..." ucap Kakek Tara bingung, "Itu cukup mencurigakan..."
"B-benarkah?"
"Banyak sekali nama Nesia –Nesya atau Dirgantari atau Dirgantara... Namun pasti ada nama ketiga atau keempat... Itu yang kami temukan di data kependudukan Indonesia... Dan umur, latar belakang serta aktivitas mereka tidak seperti Nak Nesia di sini..."
"Begitukah?" Kiku cukup terkejut, maksudnya, seseorang seperti Kakek Tara saja tidak mendapatkan identitas asli Nesia. Apakah itu berarti Kiku bisa men-skip jadwalnya untuk melakukan intervensi maya dan harus mencari identitas asli Nesia secara manual?
"Karena Nak Nesia adalah pemain utama, kami harus memastikan identitas Nak Nesia sebenar-benarnya... Kami akhirnya menyusup ke data server pribadi keluargamu..." ucapnya lagi sembari menyisip teh hitamnya yang mulai dingin.
Bahkan sampai ke server priba-... NANI?!
.
.
.
.
"A-anda... Anda mencari semua datanya?" tanya Kiku cemas, juga sedikit marah.
Dalam hati, Kiku bersumpah. Hari ini bukan hanya kepala keamanan perusahaannya saja yang harus ia pastikan untuk hengkang. Walaupun itu berarti akan ada gelombang PHK yang cukup besar tanpa ada alasan yang jelas dan ia akan ditegur oleh Chairman –serta mungkin, Pemerintah Jepang.
"Ya... Dan aku benar-benar merasa menyesal, marah, jengkel dan malu... Maafkan aku..." ucap Kakek Tara datar, "Tapi... Itu tak mengubah keharusanmu untuk menjelaskan padaku tentang sandiwara suami-istri ini..."
.
.
Okay... I'm dead...
Kiku mengerang frustrasi di dalam kepalanya. Ia merasakan seluruh tubuhnya basah akan keringat dingin dan kecemasan. Ia tidak tahu harus melakukan apa saat ini. Apakah ia akan membuka semuanya? Ataukah ia harus mengarang hal lain? Atau...
"Aku pikir kau memiliki cerita yang sangat panjang dan alasan yang sangat kuat sehingga kau berani berbohong Nak Kiku... Jika kau sudah siap menceritakannya, aku akan mendengarkannya..." ucap kakek tara tenang dan inosen.
Ini semua dimulai karena anda! Dan akal gila Roman-sensei dan Germania-sensei!
"Tapi aku butuh tahu... Siapa sebenarnya Nak Nesia itu?" tanya Kakek Tara lagi.
"Sebenarnya itu yang sedang saya cari tahu selama ini..." ucap Kiku, "Tara-jiisan... Saya tidak tahu siapa dan bagaimana keluarganya... Bagaimana ia tumbuh sampai saat ini..."
Bagaimana ia bertahan sampai saat ini...
"Saat anda menginginkan Nesia-san menjadi cucu anda, saya cukup senang... Ia akan memiliki keluarga..."
"Begitu..." jawab Kakek Tara datar, "Nak Nesia terlihat baik dan manis... Mungkin aku benar-benar bisa mengangkatnya sebagai cucu... Namun dia harus tetap berpura-pura menjadi cucu asliku karena itulah yang dibutuhkan untuk memperkuat posisiku..."
"Dan untuk keselamatannya... Aku akan masuk ke dalam Group Nusantara dan bila perlu menggunakan perusahaanku untuk intervensi... Dengan cara apapun..." lanjut Kiku memberikan syarat, "Keselamatan Nesia-san adalah yang paling penting..." ujarnya lagi, ia kira dengan syarat seperti ini Kakek Tara akan berpikir dua kali.
"Deal... Dan aku menunggu pernikahan asli kalian..." ucap Kakek tua itu sembari meneguk tehnya.
-Tte! Anda langsung menjawabnya tanpa pikir panjang?! Aku bilang aku akan intervensi loh... Intervensi...
"K-kalau cucu anda yang asli muncul?!" tanya Kiku tak yakin, "Jika ia muncul... Aku akan berada di posisi yang sangat merugikan... Mereka bisa menuduhku menginvasi dan take-over perusahaan anda..."
"Kemungkinannya kecil... Mereka tidak mungkin mencari cucuku yang asli... Mereka yang selalu meyakinkanku bahwa ia sudah meninggal... Lagipula, dengan hadirnya cucuku yang asli, mereka yang akan merugi..." jawab Kakek Tara panjang lebar.
"Tapi... Bagaimana meyakinkan mereka bahwa Nesia-san adalah cucu anda?"
"Aku sudah mengambil sampel DNA Nak Nesia... Aku akan memasukkannya untuk tes kecocokan DNA denganku... Aku sudah membuatnya agar hasilnya cocok..."
PEMALSUAN IDENTITAS, KAH?!
"T-tapi Nesia-san berumur 16 tahun dan cucu anda berumur 14 tahun... Ini perbedaan dua tahun yang sangat signifikan, apalagi-..."
"Tapi Nak Nesia kan bertubuh mungil..."
"Hai... Demo-..." Kiku menghentikan ucapannya, merasakan semua alasannya akan sia-sia, "Tara jiisan... Anda akan melakukan hal kriminal, anda tahu itu?!"
"Mereka yang melakukannya terlebih dahulu... Ini hanya untuk membersihkan perusahaanku... Jika nanti cucuku yang asli benar-benar ditemukan, aku yang akan mengaturnya... Ketika semua ini berakhir, aku akan berikan imbalan dan seluruh fasilitas yang kau mau, Nak Kiku... Bahkan fasilitas ke pemerintahan Indonesia..."
"A-apakah anda sedang menjual negara anda?"
"Tidak, tentu saja... Tapi itu lebih baik daripada membiarkan Group Nusantara hancur... Perekonomian Indonesia akan langsung hancur seketika jika itu terjadi..." jawab Kakek Tara.
Heee... Sugoi na... Percaya diri sekali...
Kiku mengambil ocha-nya yang sudah hampir habis. Meneguknya beberapa kali sebagai upaya menenangkan diri.
Ini adalah tawaran yang sangat besar, tapi dengan bayaran yang –Kiku tidak bisa membayarnya. Ia akan melakukan tindakan pemalsuan identitas –ia bisa berurusan dengan penegak hukum. Ia harus mengintervensi perusahaan lain –Kiku tidak yakin perusahaannya, termasuk keluarga besarnya tak akan curiga. Jika ini seburuk perkiraannya; musuh Kakek Tara bekerjasama dengan 'dunia bawah' atau perusahaan Internasional lain, atau blacklist organization, maka ia bisa memicu hal yang lebih buruk daripada Company War. Mengingat Indonesia juga berada di jantung pasar dunia yang rentan akan Money laundring, juga perekonomian global yang sedang tidak stabil, ditambah persaingan yang mulai tidak sehat. Jika ia melakukannya, maka ia bisa diburu oleh semua lapisan, mulai dari organisasi pemerintah, InterPol sampai organisasi Underground seperti Yakuza dan para mafia.
Ini gila... Sejak kapan dan bagaimana bisa cerita romance-ku kini berubah menjadi Company War?! Ini terlalu mengerikan...
.
.
Oh! Tolong hentikan semua ini! Tidak bisakah aku mendapatkan kisah percintaan yang normal-normal saja? Seperti; kita bertemu, lalu ada cinta segitiga, kemudian aku yang mendapatkan Nesia-san?! Bukan kisah percintaan dengan aku memiliki, berapa? Dua saingan? Ditambah penyakit Dissociative Identity Disorder dicampur tawaran drama perang perusahaan...
Okay, I'm so done with all of this!
.
.
.
"Nak Kiku?"
"Bisa aku pikirkan dulu?" tanya Kiku lirih sembari memijat keningnya, "Semua ini terlalu riskan... Kita bahkan bisa memicu hal yang sangat buruk..."
"Ya... Aku tahu itu... Itulah tujuan mereka dan mereka hampir sampai..." ucap Kakek Tara, "Mereka menggiringku untuk menyerahkan Group besar ini pada tangan luar negeri, atau tangan dalam negeri yang dikuasai oknum luar negeri, kemudian mereka akan membagi-bagikannya... 10 tahun ini berhasil kuhambat... Tapi umurku sepertinya tak akan lama lagi..." sebut Kakek tua itu, "Andai saja aku memiliki penerus... Aku akan bisa menekan balik mereka..."
"Tapi saya juga oknum luar negeri bukan?" ucap Kiku mengingatkan.
"Tapi kau tidak bermaksud menghancurkan Group ini bukan?" jawab kakek Tara, "Kau menghancurkannya dan membagikannya ke perusahaan lain memang akan sangat menguntungkanmu... Tetapi kalau kau bisa menguasainya sendiri secara utuh, aku yakin itu tak akan ditandingi apapun..."
"Maa... Seikai desu ne..." gumam Kiku lagi.
"Bagaimana? Deal?"
Ugh...
"M-mungkin seharusnya aku tanya pada Nesia-san dulu? B-bagaimana pun juga Nesia-san yang akan berada di posisi berbahaya..." jelas Kiku, "Jangan lupa bahwa kita benar-benar orang luar yang tidak berkaitan dengan hal ini sama sekali..." tandas Kiku lagi.
.
.
Kakek Tara terlihat melakukan perhitungan, namun kemudian ia menghela nafas pasrah, "Yah... Kau benar... Aku mengerti... Terima kasih telah mau mendengarkanku, Nak Kiku..."
"Un... Doitashimashita..." balas Kiku sembari melemparkan senyum lembut dan meraih ochanya serta menghabiskannya, "O-oh ya... Tara-jiisan..."
"Ada apa, Nak Kiku?"
"Eh... itu..." Ucap Kiku tidak yakin, tapi ia masih penasaran, "Bagaimana Tara-jiisan bisa mendapatkan informasi hobiku?"
"Kau benar-benar Otaku?" tanya Kakek Tara.
"Bukan!" sergah Kiku tidak jujur.
Ayolah. Di negaranya, menjadi Otaku itu identik dengan Hikikomori dan makhluk-makhluk anti sosial serta pervert. Ini semua bisa mengganggu reputasi dan dignity-nya.
"Memang apa salahnya mengakuinya?" tanya Kakek Tara, "Ini hanya di antara kita... Ah... dan satu agenku..."
"A-agen anda itu yang saya tidak percaya..." ucap Kiku tidak nyaman.
"Dia pasti jaga rahasia ini sampai mati..." ucap Kakek Tara menenangkan, "Lagipula... Sebenarnya ada pesan di akhir laporannya..." ucap Kakek Tara sembari membuka smartphonenya kembali dan memberikannya pada Kiku.
-PS:
Tuan Besar, saya tahu ini permintaan yang tidak penting, menyusahkan dan mengganggu anda. Akan tetapi, jika anda benar akan menemui Honda Kiku-Sensei, tolong sampaikan permintaan maaf saya yang sedalam-dalamnya karena telah menggunakan ilmu hackingnya untuk mencari data Honda-sensei sendiri.
Juga, tolong sampaikan salam saya padanya dan betapa terkejutnya saya ketika mengetahui siapa sensei sebenarnya. Rasa kagum dan respect saya bertambah besar. Saya akan terus menjadi penggemar beratnya. Saya tidak pernah melewatkan update websitenya –bahkan di setiap detik aku menunggunya. Sampaikan juga pada Honda-sensei, terima kasih banyak atas semua review Games, anime dan ilmu lainnya yang telah dibagikan. Juga tidak lupa, seluruh doujinshi-doujinshinya. Aku menantikan kelanjutan doujinshi: 'Waiting in The Rain' –nya yang sudah terhenti selama beberapa bulan ini. Juga emailku yang saat ini sudah jarang dibalas –padahal dulu cepat sekali. Saya mohon sekali lagi, Tuan Besar, tolong sampaikan walaupun hanya sebatas sapaan dan harapan dari akun Jaka; Th34nj4y35t4nj4y, dan email; Cm1wc1yu5 ITech. com , semoga Honda-sensei sehat selalu dan terima kasih atas tuntunannya selama ini.
Terimakasih, Tuan Besar.
Jaka Marzuki Saputra
CTO, Nusa Media Utama, InaTech 1, Nusantara Group
.
.
.
-TTE?! DIA SEORANG CTO?!
#QuotesOfTheDay: Dunia itu ternyata sempit sekali ya... -Kiku
Kiku sempat syok dan hampir menjatuhkan smartphone milik Kakek Tara ketika membaca nama akun dan alamat email itu; ia sering melihatnya. Bukan hanya sekedar melihat, ia sangat sering bertukar pemikiran melalui replying dan e-mail dengan pemilik nama akun yang tidak bisa ia baca itu. Ia semakin syok ketika tahu otaku yang sudah menganggapnya dan memanggilnya sebagai guru ini adalah seorang CTO.
CTO! DEMI APA?!
Kiku kira pemilik akun itu hanyalah seorang bocah sekolah menengah, otaku kelas berat penggemar tulisan-tulisan di Web isengnya, sesama Fudanshi, dan murid paling getol untuk ingin tahu dan paling semangat untuk eksperimen teknologi, virus komputer, sampai software tidak jelas. Tidak pernah menyangka dan tidak pernah terlintas di benaknya sama sekali bahwa pemilik akun aneh itu adalah seorang CTO (Chief Technology Officer).
Sejenak, ada satu kesimpulan yang bisa dipahami oleh Kiku;
Ah... pantas saja dia bisa tahu hobiku... Seharusnya aku tidak perlu mengajarkan trik hacking-ku...
Kiku hanya bisa menghela nafas lelah. Ini bukan kesalahan CTO itu, ini adalah perintah Kakek Tara, Kiku bisa memahami posisinya. Lagipula, dengan adanya kejadian ini, Kiku mendapatkan bukti bahwa ia lebih ahli dan bisa mengalahkan sistem proteksi perusahaannya sendiri –mengalahkan programer yang ia bayar beberapa juta Yen dalam sebulan.
Tapi hanya sampai bulan ini saja.
"Tara-jiisan... CTO-mu ini... berapa umurnya?" tanya Kiku penasaran.
"Dia CTO sekaligus programer terbaikku... Jangan macam-macam..." ancam Kakek Tara penuh canda.
"Aku hanya ingin tahu umurnya..." tanyanya lagi.
"Yah... Dia... Masih 27 tahun kalau tidak salah..."
"S-sou ka?" balas Kiku, "Anda harus mendisiplinkan CTO anda, Tara-jiisan... Ia punya waktu untuk membaca doujin –maksudku 'novel' karanganku..."
"Aku tidak mau mendengarnya dari Presiden Direktur yang sempat membuat... 'novel' itu..." balas kakek Tara datar, "Aku tidak perlu memberi tahu Chairman-mu kan, Nak Kiku?"
"Baiklah... Kita impas..." balas Kiku sebal.
"Oh ya... Nak Kiku..."
"?"
"Aku akan kembali ke Indonesia..." sambung Kakek Tara, "Aku sudah terlalu lama di sini..."
"S-sou ka?"
"Nak Kiku bisa telepon jika sudah yakin akan jawabanmu..." ucap Kakek Tara, "Atau kalau sudah siap menceritakan pernikahan palsu ini... Atau jika akan mengubah status palsu ini menjadi asli dan legal... Aku pasti datang..."
"H-hai... Wakarimashita..." jawab Kiku kagok dengan muka yang memerah, "Saya akan memikirkannya..." lanjut Kiku lagi sebagai formalitas.
Kiku sendiri sudah yakin ia tidak mau berurusan dengan masalah Kakek Tara. Ia juga tidak akan membiarkan Nesia menghadapi musuh Kakek Tara, musuh yang bahkan telah membunuh dua orang; anak Kakek Tara dan istrinya. Meskipun Kakek Tara pasti tak akan membiarkan Nesia terancam bahaya dan ia bisa melindungi Nesia dengan kekuatannya, namun tetap saja, Kiku tak akan pernah menempatkan Nesia di situasi yang berbahaya.
Akan tetapi, jika apa yang Kakek Tara bicarakan benar, jika Indonesia benar-benar akan kolaps, ia harus mulai mencari ladang investasi baru, dan itu tidak akan mudah.
Tidak, tidak. Ini bukan saatnya memikirkan hal seperti ini. Pokoknya, Kiku tidak mau tahu. Ia tidak akan menerima permintaan Kakek Tara dan membahayakan Nesia. Masa bodoh dengan apa yang akan terjadi selanjutnya bila ia bersikap tidak peduli seperti ini.
Namun, entah mengapa di sudut hatinya yang terdalam, Kiku merasa tidak tenang.
Mungkin, ia harus mempercayakan jawaban ini pada Nesia saja.
*O*
N/A:
Chapitra 34!
Author : Yeah... Sudah sampai di sini... Uwooooooh :D :D
Nesia : Author... Genrenya Drama-Romance, kan? Bukan Tragedy-Company, kan?!
Author: Ya, itukan bagian dari dramanya... Oh, I Love drama; it's so dramatic!
Nesia: Dasar Author aneh...
Author: Sudahlah! Ayo balas review~~!
Kiku: Author-san... Etto... Reviewnya... Dicuri sama Nether-san...
Author : Apa?! NETHER!
*O*
Neth : *Sulk di dalam kamar* Dasar Author! Syukurin Reviewnya aku ambil! Hahaha! Coba lihat... Dari Saudara Sabila Foster...
.
.
Neth: Kenapa jatuh cinta sama Kiku?! Kenapa tidak sama aku saja?! Aku kurang apa coba? Aku kan lebih cakep... Mataku hijau, rambutku pirang dan stylish... Aku juga suami-able... Ya sudah... Kalau kau tetap milih Kiku... :P Gimana kalau kita kerja sama? Saudara Sabila Foster bisa dapat Kiku, dan aku dapat Nesia? Deal? Oke, Deal!
Author: NETHEEER! *gedor pintu*
Neth: Apaan, -thor?!
Author : Balikin reviewnya!
Neth: Ti-dak... Aku sudah nggak muncul-muncul... Di Author's Note juga dikorupsi keluarnya... Sekarang aku yang balesin semuanya! HA! Kau suka itu Author?!
Neth: Lanjut... Saudara Tomo... Jangan suka sama kakek-kakek... Suka sama aku saja gimana? *wink Misteri masa lalu Nesia? Keungkap sih, tapi dari sudut pandang lain... Titisan Nyi Roro Kidul? Hmmm... *bisik* Cantikan Nesia, sih... Jadi sepertinya bukan... *sweetsmiley*
Author: Apaan tuh bisik-bisik?!
Neth: "Author jelek banget...", puas?!
Author: Woooy!
Neth : Tes DNA-nya... Nanti... Ini di tes saja belum... Dan... Ini aku keluar :D Saudara Tomo menantikanku ya?
.
Neth : Sial... Ganti! Selanjutnya... Saudara Yuki Shirosaki...
.
Neth : Mau seberapa lama adegan kamar mandinya, memang?! *ngedumel* Nesia itu milikku.. Seharusnya aku yang bersama dengannya di kamar mandi!
Nesia: Woooi, Neth! Aku bisa dengar dari luar sini! *gedor pintu*
Neth: Semuanya punya masalah masing-masing... Aku juga... Masalahku malah berat banget... Nesia selingkuh...
Nesia : Haaaah?!
Neth: Ayah Kiku? Aku tak akan membiarkan dia muncul! Nesia akan menikah denganku! Tidak ada gunanya memunculkan ayahnya Kiku!
Author: Neth... Neth... Kalau mutung nggak usah gini juga... Ayahnya Kiku muncul kok... Aku akan menikahkan mereka...
Neth: Nggak! Aku tak akan membiarkannya!
Kiku: Eh... Tapi... Yang jadi ayahku siapa, Author-san?
Author : Ya siapa, kek? Si Edo juga bisa...
Kiku: Etto...?
Neth: Aku tidak dengar! Aku tidak dengar! Selanjutnya! Saudara Veria-313... Ya... Dan aku akan lebih senang lagi jika ada drama pembunuhan di sana...
Author: Woooooy! Woooy! Jangan ngarang kau Neth!
Neth: Si Kiku peran ganda? Heh... Dia memang gitu kan? Dia bahkan jadi Seme sekaligus Uke-nya si Arthur...
Kiku: Nether-san... Sore wa chigau desu!
Author: Kiku ka-...
Kiku: CHI-GAU-DE-SU!
Author: H-h-h-hai... Wa-wakarimashita...
Neth : terakhir... Saudara Kuroi Uso...
.
.
Neth: Sialan Author! Kau ganti rating?!
Author : lah... Si do'ii baru nyadar...
Neth: Nesia no.1... Kalau dia cinta padaku, aku juga dukung dia jadi alter las bos...
Author: Lah, si Nesia no.1 kan udah percaya sama Kiku... Juga udah melewati tahap curcol... Di kamar mandi pula...
Neth: Kenapa Kamar mandi?! Author doyan banget kamar mandi apa?!
Author: Kan itu emang basecamp cewek buat curcol...
Neth: Mana aku tahu... Aku kan Gentleman... Umnh... Ya... Suatu saat mereka akan menyatu kembali... dan happy gending bersamaku! Bersamaku!
Author: Udahlah... Iya-in saja...
*O*
Kiku: Author-san... Apakah sebaiknya kita bujuk Nether-san lagi?
Author: Udahlah... biarin aja... Nanti juga dia balik seperti semula... Tuh si Nesia juga lagi bujuk-bujuk buat keluar... yah... Si Nether pintar juga, mengurung diri di kamarnya Nesia...
Kiku: A-ah... Sou...
Author: Ya sudah... Sekian dulu chapter ini... Mohon maaf atas ketidak sopanan Nether... dan mohon maaf bila ada kesalahan... terimakasih bagi para pembaca sekaligus pendukung :D
Terakhir... Mohon Kritik, saran dan review-nya yaaaaaaa :D
.
.
.
.
.
Kiku : Nesia-san... Nesia-san bisa pakai kamarku untuk istirahat... *sweetsmiley*
Nesia : Tapi, Kiku... Umnh... temani aku istirahat, ya?
*pintu kebuka dengan keras*
Neth : Heh, Jepang! Mundur! Jangan macam-macam kau! Nesia itu milikku! Kau harus tahu itu! Kau juga, Nes! Apa maksudmu meminta dia untuk menemanimu?!
Kiku: Kan? Nether-san keluar, kan?
Nesia: Iya... Terimakasih ya, Kiku :D
Neth: Heeeeh!
Author: Dasar mereka itu...
