To Love naRUto
Disclaimer: Semua karakter dari anime "Naruto" dan "To Love Ru" bukan milik saya, saya hanya meminjamnya saja.
Main Cast: Naruto .U.
Pair: Naruto .U x Harem (Permanent!)
Summary:
Niatnya untuk kembali ke masa lalu harus gagal ketika mengetahui jika dia sudah berpindah dimensi dengan tubuhnya yang juga ikut menyusut, diadopsi oleh Keluarga Yuuki sebagai kakak tertua untuk dua adiknya. Masalah-masalah tak masuk akal mulai menghampirinya, bisakah dia menyelesaikannya? Atau kembali ke tujuan awalnya?
Warning: Author Newbie, Abal-abal, Semi-Canon, Typo, Miss Typo, Echhi, Soft-Lime, Human!Naruto, God-Like!Naruto, Smart!Naruto, Fem!Rito(Riko), Read 'n Review and Not Like Don't Read.
Chapter 03
Ikatan yang Rumit
Klap! Klap! Klap!
Suara gesekan antara lantai kayu yang sangat bersih mengkilap itu dengan sepatu sport hitam-putih yang digerakan oleh pemiliknya, sementara pemuda bersurai pirang jabrik itu hanya menundukan kepalanya sepanjang dirinya menelusuri koridor sekolah yang sudah ramai dengan para siswa yang sedang menikmati pagi hari yang sangat cerah itu sebaik mungkin. Pancaran kosong dari sorot mata kanan berwarna biru langit itu membuat bingung sebagian murid yang ada disana, pemuda itu sepertinya sedang ada masalah.
Dia masih bergelut dengan semua pemikiran yang ada di dalam otaknya bahkan kedua tangannya sudah ia masukan ke dalam saku celana hijau panjangnya berusaha berkonsentrasi dengan pikirannya sendiri, jika saja kejadian semalam dan tadi pagi itu tak terjadi dalam hidupnya pasti ketentraman hidupnya yang selalu ia rasakan tak akan hancur berantakan seperti sekarang.
"Pertunangan, kah?" gumamnya pelan dengan nada yang terkesan datar, berbanding terbalik dengan kepribadiannya sehari-hari. Perempuan bersurai merah muda yang berasal dari planet lain itu malah mengklaim jika dia dan Naruto sudah bertunangan tepat malam kemarin, sebenarnya itu tidak disengaja sama sekali tetapi nasi sudah menjadi bubur dan bubur tak enak dimakan jika terlalu banyak garam, eh?! Maksudnya sesuatu yang sudah terjadi tak bisa dikembalikan lagi.
Dia masih ingat dengan apa yang terjadi tadi pagi...
Flashback Start!
Setelah kepergian Mikan yang terkaget karena keberadaan Lala, pemuda pirang itu hanya bisa menarik-narik surai pirangnya dengan penuh kekesalan dan penyesalan sambil berteriak seperti orang kesurupan. Awan hitam dengan petir yang menyambar-nyambar tercipta diatas kepada pemuda dengan aura hitam di sekitarnya, sementara perempuan bersurai merah muda hanya memiringkan kepalanya pertanda bingung dengan keadaan laki-laki bersurai pirang jabrik itu.
"Kau tak apa-apa 'kan, Naruto?" tanya Lala dengan penuh kecemasan karena pemuda itu malah diam seribu bahasa setelah berteriak keras tadi, kemungkinan pemuda itu mengalami konslet.
"Aku... Aku tak tahu harus berkata apa," jawab Naruto tanpa mengubah posisinya lagi.
Kepala merah muda itu menoleh kearah Peke yang masih melayang tepat di sampingnya "Peke, tolong ya," titah Lala pada robot kostum ciptaannya itu.
"Baik, Lala-sama!"
Cahaya yang sangat terang benderang menyelimuti tubuh Lala yang masih berada diatas kasur tempat Naruto mengistirahatkan tubuhnya, sementara Naruto hanya menolehkan kepalanya ke belakang ketika melihat sinar yang memancar dari belakangnya hingga membuat bayangan dirinya terlihat sangat jelas. Iris mata sebelah kanannya menatap kearah Lala yang sudah memakai pakaian seperti yang dia pakai malam kemarin.
"Sepertinya kau harus menjelaskan sesuatu padaku?" pinta Naruto kepada Lala yang tengah berdiri tepat di belakangnya dilengkapi dengan pakaian anehnya.
"Menjelaskan apa maksudmu?" ucap Lala dengan nada yang sangat antusias sambil mendudukan dirinya diatas karpet kamar milik Naruto.
"Menjelaskan kenapa kau bisa ada di kamarku lalu tidur bersamaku dengan keadaan telanjang seperti barusan?" Naruto hanya menggaruk kepalanya yang tak gatal sama sekali pertanda dia sedang dirundung kebingungan "Ini masih membingungkan bagiku," ucap Naruto dengan menarik napasnya dalam-dalam.
"Itu wajar saja, 'kan," mendengar ucapan seperti itu dari Lala membuat kedua alis pemuda pirang itu terangkat keheranan, berarti tidur bersama dengan orang yang tidak memiliki hubungan apa-apa bukanlah hal yang dilarang di Planet Deviluke "Setelah kejadian kemarin, kita 'kan sudah bertunangan," lanjut perempuan itu.
"Apa?!" Naruto tak tahu harus berekspresi seperti apalagi selain terkejut dengan jantungnya yang hampir copot dari tempatnya "Kenapa kau berpikiran seperti itu? Aku 'kan tak melakukan apa-apa padamu," tanya Naruto yang masih tak percaya dengan apa yang didengarnya.
"Bukankah wajar bagi manusia bumi yang sudah bertunangan untuk hidup di bawah atap yang sama?" ungkap Lala yang menyatakan pendapatnya, Naruto sendiri juga tak yakin dengan perihal itu karena dia belum pernah mengalaminya.
"Aku juga menjadi saksi atas hal itu," ucap Peke yang menyetujui pendapat dari majikannya sendiri.
"Mungkin itu yang dilakukan oleh orang dewasa, tetapi aku ini berbeda."
"Apa kau tak ingin bersamaku lagi?" tanya Lala dengan kedua matanya yang sudah berkaca-kaca ditambah ekspresi sedihnya bisa membuat siapa saja iba melihatnya.
Naruto hanya menghela napasnya perlahan menandakan masalah ini membuat otak bebalnya sedikit pusing "Aku tidak berkata seperti itu, Lala," ucap Naruto yang berusaha mematahkan prasangka perempuan itu padanya.
"Begitukah? Yah, kurasa sekarang itu tak akan menjadi masalah," ujar Lala dengan ekspresinya yang sudah ceria kembali setelah mendengar jawaban dari Naruto.
"Biar aku luruskan sebentar, Lala," ucap Naruto yang berusaha memfokuskan atensi perempuan itu padanya dengan kedua tangannya memegang kedua pundak Lala "Aku masih menyandang status pelajar sekolahan dan aku juga tak memiliki niatan untuk menikah di usia sedini ini, lagipula aku belum tahu sistem rumit yang ada di planetmu itu hingga aku malah dinyatakan bertunangan denganmu. Jujur, kepalaku serasa ingin meledak sekarang," jelas Naruto sambil menatap sepasang mata hijau jade itu dengan serius.
Sreek!
"Biar aku yang menjelaskan semuanya," ucap seseorang yang sudah menggeserkan jendela kamar milik Naruto dengan lebar lalu masuk melalui jendela tersebut dan menginjakan kedua kakinya di ranjang milik Naruto yang masih belum dibereskan itu.
"Hey! Pintunya ada disana," tunjuk Naruto kearah pintu yang ada di belakangnya dengan kondisi yang masih tertutup dengan rapat "Kenapa kau malah masuk lewat sana?" tanya Naruto dengan nada tinggi pada pria berambut abu-abu yang menggunakan baju besi itu.
"Maafkan diriku atas tindakanku yang kemarin," ucap pria bernama Zastin itu yang masih berdiri dengan tegaknya diatas kasur milik Naruto "Aku tak menyangka jika remaja labil sepertimu bisa menjadi tunangan dari Lala-sama, Sungguh terlalu," kata Zastin melanjutkan.
"Pada intinya kau tak menyesal sama sekali, 'kan? Sekarang copot sepatumu itu dari selimutku, butuh seharian untuk membersihkannya," ucap Naruto yang sudah kesal dengan tindakan tak sopan dari pria yang baru dikenalnya kemarin.
"Perlu kau ingat, Naruto Yuuki," ujar Zastin yang sudah berjongkok beralaskan kasur Naruto yang sangat empuk itu, sepasang mata biru keabuan itu menatap serius mata kanan berwarna biru langit dari remaja di hadapannya, berbeda sekali dengan sebelumnya saat pertama kali mereka bertemu "Kau sudah terlibat dengan tata cara dan adat formal dari Planet Deviluke," jelas Zastin dengan nada serius.
"Tata cara dan adat formal?" beo Naruto yang sama sekali tak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Zastin.
"Aku juga tak bisa melupakan kejadian itu sampai kapanpun," ucap Lala dengan kedua tangannya yang sudah ia tautkan bersamaan dan meletakannya di depan dadanya "Dimana Naruto-kun menyentuh dan meremas kedua payudaraku dengan tatapan penuh gairah sambil mengatakan suka padaku," jelas Lala yang sedikit dibumbui garam-garam kebohongan.
'Penuh gairah apanya, masa depanku hampir hancur karena dirimu,' ucap Naruto yang mengingat apa yang terjadi setelah itu.
"Dengan kejadian itu, tepat pada jam 20:43 malam kemarin, ketika kau menyentuh payudara Lala-sama, kau sudah terlibat upacara pertunangan resmi dengan Lala-sama dan Lala-sama pun menyetujuinya," jelas Zastin yang sudah berlutut di depan Naruto sambil memberikan hormat keformalan padanya.
Naruto hanya membulatkan matanya tak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Zastin "Tolong benturkan kepalaku ke dinding."
Flashback End!
Naruto masih menundukan kepalanya sepanjang koridor yang ditelusuri olehnya, pikirannya seolah sedang terbagi dua sekarang antara menerima kenyataan jika dirinya memang sudah bertunangan dengan Lala atau berusaha menolak pertunangan itu yang malah akan berimbas pada perang antar galaksi dan membuat nasib Planet Bumi ini malah ada di tangannya. Dia sudah lelah dengan tanggung jawab sebelumnya yang tidak bisa ia wujudkan sesuai dengan keinginannya dan sekarang tanggung jawab itu malah terasa berat kembali di kedua pundaknya.
"Kami-sama, cobaan apalagi yang kau ingin ujikan padaku?" gumam Naruto yang berniat melangkahkan kakinya untuk berbelok menuju tangga yang akan mengantarkannya pada lantai selanjutnya.
"Kyaaa!"
Naruto mendongakan kepalanya perlahan ketika sebuah teriakan keras dari tangga teratas yang baru saja ditapaki olehnya, mata kanan biru langitnya melebar dengan sempurna ketika melihat sesosok tubuh yang dibalut dengan seragam sekolah sepertinya berlapis sweater kuning lemon dengan rok hijau berkotak-kotak kuning sudah melayang kearahnya tanpa laki-laki itu sadari "Masalah lagi?"
Brukkhh!
Pemuda itu bisa merasakan jika punggung lebarnya itu berhasil membentur lantai koridor sekolah itu dengan keras ditambah dengan berat badan sosok yang jatuh tadi membuat benturan itu semakin keras, tapi setidaknya siswi yang tadi jatuh dari atas tangga itu tidak merasakan apa yang dirasakan olehnya. Mata biru langitnya itu kembali membulat sebesar bola pingpong ketika menyadari jika yang menimpa tubuhnya itu adalah tubuh perempuan...
Nyuuut! Nyuut!
Remaja pirang itu sudah tak enak hati dengan apa yang dipegang kedua tangannya saat ini, rasa lembut, mulus dan sangat kenyal ketika meremasnya membuat sekujur tubuhnya merinding tak karuan ditambah dengan kain halus yang sempat menyita sentuhan tangannya membuat Naruto ingin segera bangkit dari acara jatuhnya sekarang. Tapi dua buah benda kenyal yang terbalut dengan kain malah menahan wajahnya dari atas dan siapapun tahu itu bukan agar-agar yang bisa dimakan.
Dia terus menggerakan kedua tangannya dengan gerakan meremas benda yang bersentuhan dengan telapak tangannya yang ia yakini jika itu adalah kulit manusia dan dia juga terus menekan kepalanya kearah dua benda kenyal itu agar pemiliknya segera bangkit dari atasnya, jika Naruto mau dia bisa saja langsung mendorong tubuh perempuan yang diatasnya dengan kasar tapi Naruto tak bisa melakukan hal sekasar itu pada orang diatasnya.
"Ahhhnn~..."
Naruto ingin sekali menepuk jidatnya dengan kasar dan sekuat mungkin karena orang diatasnya malah mendesah erotis dan bisa terjadi kesalahpahaman jika ada yang melihatnya dengan posisi seperti itu, padahal dia hanya ingin bermaksud untuk menyingkirkan tubuh itu dari atasnya tapi kenapa malah seperti ini.
"Eh?!"
Naruto hanya mendesah lega ketika mendengar suara itu dari orang yang diatasnya menandakan jika orang itu sudah sadar dengan posisinya kali ini dan pastinya akan menyingkir dari atasnya sesegera mungkin, pemuda itu merasakan rasa pengap di wajahnya sudah menghilang digantikan dengan sinar yang membuat pandangannya menjelas. Dia menatap kearah seorang perempuan bersurai ungu gelap pendek dihiasi dua penjepit rambut di poni sebelah kirinya dengan kedua iris senada warna rambutnya sudah menatap lelaki itu dengan pandangan terkejut, wajahnya sudah memerah sempurna karena laki-laki itu berani-beraninya menggerayangi tubuhnya.
"H-haruna-san?" panggil Naruto agar perempuan itu bangun dan tak menduduki perutnya lagi.
"Kyaaa! Hentai!" teriak perempuan bernama Haruna itu dengan tangan kanannya yang sudah ia layangkan menuju pipi sebelah kiri Naruto.
Plak!
-0-0-0-
Bel sekolah berbunyi sangat nyaring membelah kesunyian setiap kelas yang sedang melakukan pembelajaran dengan guru yang memberi mereka materi, itu pertanda bahwa sudah waktunya pada murid ataupun guru untuk istirahat dari kegiatan mereka untuk sejenak dengan jangka waktu yang telah ditentukan agar konsentrasi mereka juga kembali seperti sebelumnya.
Seorang perempuan bersurai ungu gelap pendek terlihat duduk terdiam di bangku yang ditempatinya sekarang ini dengan pikirannya yang terbang entah kemana, sebenarnya pikirannya terpaku pada kejadian yang terjadi pagi tadi dimana dirinya hampir jatuh dari tangga karena terpeleset saat ingin menapaki salah satu tangga menuju lantai satu. Padahal dia sudah pasrah untuk membiarkan tubuhnya membentur lantai kayu yang sangat keras itu, tetapi sepertinya dewi keberuntungan selalu saja berpihak padanya.
Pangeran pirang yang dia taksirnya itu kebetulan juga ada disana sehingga tubuhnya malah mendarat tepat pada tubuh pemuda pirang itu dan menjadikan tubuh laki-laki itu menjadi bantalan jatuhnya, rasa sakit yang siap ia terima teredam oleh tubuh itu tapi tetap saja dia merasa kesakitan saat tubuhnya berbenturan dengan tubuh di bawahnya.
Salah satu kesalahan yang sepenuhnya ada pada dirinya adalah dia tak segera bangun setelah dirinya mendarat dengan sempurna diatas tubuh Naruto padahal dirinya juga lumayan pusing karena jatuh dari tempat yang lumayan tinggi, dia bisa merasakan bagaimana tangan kasar Naruto mengelus bokongnya yang tak tertutupi apapun itu dengan bebasnya serta dadanya malah menjadi sarang bagi kepala kuning itu.
Haruna bisa merasakan jika darahnya berdesir dengan perlahan ketika memikirkan apa yang dilakukan oleh pemuda pirang itu padanya dan dia masih bisa merasakan sensasi sentuhannya sampai sekarang juga 'A-apa yang aku pikirkan? Aku menyukainya, tapi tak perlu seperti ini juga,' ucap Haruna di dalam hatinya dengan menggelengkan kepalanya perlahan berusaha menyingkirkan pikiran negatif yang bersarang di otaknya, tapi dia juga tak bisa otomatis menyalahkan laki-laki pirang itu karena kejadian tadi.
"Aakkhhh~..."
Desahan pelan meluncur begitu saja dari mulut Haruna yang sedari tadi tertutup dengan rapat ketika merasakan ada dua tangan asing yang meraba-raba dadanya yang masih dalam tahap pertumbuhan itu dan dia tahu siapa yang selalu melakukan ini padanya atau pada murid perempuan lainnya, perempuan itu menggunakan salah satu tangannya untuk meredam desahannya untuk tidak keluar karena itu bisa menjadi bahan perhatian bagi seluruh penghuni kelas yang masih ada disana.
"Jangan melamun terus lho, atau pertumbuhan dadamu itu tak akan berkembang dengan baik," ucap seseorang dari belakangnya yang sudah ia tahu jika itu adalah perempuan dengan nada bicara untuk menggoda seseorang.
"Mo-momioka-sanhh... Hentikanhh...," ucap Haruna dengan kepalanya yang sudah menoleh ke belakangnya dan menatap perempuan bersurai coklat cerah pendek bergelombang dengan memakai seragam sepertinya itu dari sudut matanya, adegan ini memang selalu saja terjadi setiap harinya jika bertemu dengan perempuan bermarga Momioka itu ditambah satu orang lagi yang sering bersamanya.
"Hum... Sepertinya tak ada yang berubah dengan dadamu, Haruna. Seharusnya kau lebih sering meremasnya agar semakin tumbuh," ucap perempuan bersurai coklat gelap pendek dengan dua ikatan pig-tail di kepalanya sudah berdiri tepat di depan Haruna sambil memegangi kacamatanya yang selalu bertengger di atas hidungnya.
"S-sawada-sanhhh...," ucap Haruna dengan nada tergagap.
"Sepertinya ada yang aneh denganmu akhir-akhir ini, Haruna-chan? Apa kau sedang ada masalah?" tanya Riko yang sudah menarik satu kursi dari meja yang ada di samping meja Haruna "Dan Risa-chan, Mio-chan, bisakah kalian hentikan kegiatan kalian itu?" pinta Riko kepada dua perempuan yang pasti selalu melakukan hal yang tidak senonoh pada perempuan lainnya dan itu memang sudah terbiasa di kelas 1-A ini.
"Kenapa? Apa kau mau juga?" tanya Risa yang sudah menghentikan rabaannya di dada Haruna disertai dengan anggukan dari Mio.
"Tidak, terima kasih," ucap Riko dengan kedua tangannya yang sudah terlipat di depan dada sambil mengalihkan pandangannya dari Risa dan Mio.
"Kau tak asik."
"Benar, Riko-chan."
Perempuan bersurai oranye gelap itu hanya mendesah pasrah ketika mendengar kelakuan dari kedua temannya semenjak SMP itu, mereka memiliki kebiasaan buruk jika mereka sudah bersama-sama dengan perempuan lainnya dan pastinya perempuan itu akan menjadi objek kejahilan dari mereka berdua. Kejahilan mereka bisa dikategorikan sangat ekstrim yaitu meraba-raba dada milik temannya sendiri sambil menggodanya menggunakan kata-kata, terkadang sangat memalukan jika membawa teman-teman seperti itu.
"Haruna-chan, apa kau sedang ada masalah? Apa ini ada hubungannya dengan Naruto-nii?" tanya Riko yang meruntunkan pertanyaannya kepada perempuan bersurai ungu gelap pendek itu, Riko sendiri sudah berteman lumayan lama dengan Haruna jadi dirinya tahu apa yang dipikirkan oleh sahabatnya itu.
"Eh?! Jadi Haruna-chan benar-benar menyukai si 'Kucing Pirang' itu," ucap Risa yang sama sekali tak percaya dengan apa yang baru saja ditanyakan oleh Riko pada Haruna tapi sedetik kemudian perempuan itu malah menyeringai kecil "Kau tahu, si pirang itu lebih suka perempuan berdada besar," ujar Risa dengan nada jahilnya.
"Risa-chan! Aku sedang berbicara serius dengan Haruna-chan, jadi mohon pengertiannya sedikit," ucap siswa berambut oranye gelap itu yang sedikit kesal dengan perkataan Risa yang sebenarnya bisa saja memperkeruh suasana hati Haruna lalu menatap kembali kearah sahabatnya dengan pandangan meminta jawaban.
"A-aahh~... Tidak ada masalah apa-apa kok, Riko-chan. Yah, mungkin karena tugas yang diberikan minggu ini lumayan banyak," jawab Haruna dengan senyuman ceria yang selalu ditunjukannya setiap hari kepada siapapun, ekspresinya yang dikeluarkannya beberapa menit yang lalu dengan sekarang sangat jauh berbeda.
Riko hanya mendengar pelan mendengar penuturan jawaban yang keluar dari sahabatnya itu "Ya, aku tahu jika perkataanmu itu tidak sesuai dengan isi hatimu kali ini, Haruna-chan. Tapi Naruto-nii no Baka itu memang sama sekali tak peka dengan perasaan perempuan yang menaruh hati padanya, jadi kuharap kau sabar menghadapi salah satu kebodohannya itu, tapi sekarang sepertinya dia sedang ada dalam masalah yang sulit" ucap Riko yang berusaha menyemangati sahabatnya itu, dia sama sekali tak keberatan jika Haruna suka kepada kakak angkatnya tetapi kebodohan kakak angkatnya itu membuatnya tak tahu harus berkata apalagi.
Sementara Haruna hanya menundukan pandangannya berusaha untuk mencerna setiap perkataan yang keluar dari mulut Riko yang notabenenya adalah adik angkat dari Naruto 'Aku tidak keberatan dengan kebodohannya, tapi yang menjadi masalah adalah siapa perempuan yang bersamanya kemarin malam? Itu yang ingin kutahu,' batin Haruna yang mulai penasaran sekarang.
Sementara dengan perempuan berambut hitam panjang terjuntai yang duduk di bangkunya tepat di belakang Haruna hanya mendengus pelan ketika tak sengaja mendengar (dibaca: Menguping) pembicaraan dari keempat perempuan itu yang intinya membicarakan seorang laki-laki "Dasar tak tahu malu," ucapnya dengan nada yang hanya bisa di dengar oleh dirinya sendiri kemudian matanya kembali terarah pada buku yang digenggamnya dan membacanya kembali, acara membacanya tersita dengan pembicaraan sekelompok perempuan yang ada di depannya.
-0-0-0-
"Hhmmmhh..."
Geraman pelan keluar dari mulut pemuda bersurai pirang jabrik yang mendudukan dirinya diatas pagar pembatas bangunan sekolah tersebut tanpa rasa takut sedikitpun padahal dirinya bisa saja terpeleset dan jatuh dari atap sekolah yang sangat tinggi itu, tangan tannya mengelus pelan pipi sebelah kirinya dimana cetakan merah berbentuk tangan masih ada disana "Tulang pipiku bisa bergeser jika terus ditampar seperti tadi," gumam Naruto yang masih bisa merasakan panasnya tamparan dari Haruna.
Mata sebelah kanan yang tak ditutupi apapun itu hanya menatap lurus ke depan dimana perumahan atau bangunan-bangunan megah yang menjulang tinggi menghiasi Kota Sainan, dia tak menyangka jika dirinya akan sepenuhnya tinggal di tempat yang sangat damai dan tentram ini tanpa harus takut dengan ancaman atau terbunuh oleh seseorang. Menjadi shinobi yang disegani dan dikagumi oleh semua orang bukanlah hal yang mudah, jalan yang harus ditempuhnya juga tak bisa dibilang mudah, sudah beberapa kali dirinya hampir meregang nyawa karena terus mempertahankan apa yang menurut dirinya benar tapi dia masih beruntung bisa diberi kehidupan sampai saat ini padahal sudah beberapa kali dirinya sekarat.
Lengkungan senyum bulan sabit tercipta di bibir pemuda pirang itu ketika mengingat masa lalunya yang penuh dengan rintangan berat; jiwa, raga dan mentalnya sudah tertempa dengan baik karena dia memiliki satu tujuan pasti yang ingin sekali ia capai yaitu diakui oleh semua orang dan berhenti menganggapnya layaknya pecundang. Tekad api yang selalu ia kobarkan seperti layaknya baja yang sangat keras selalu membukakan jalan keluar baginya.
"Kenangan masa lalu memang sangatlah indah, tapi kehidupan yang sedang kujalani ini lebih berarti dan berharga dari emas sekalipun, aku bisa merasakan rasanya memiliki saudara," Naruto hanya bermonolog saja tak memperdulikan jika dirinya dianggap gila oleh orang lain, lagipula di atap itu hanya ada dirinya sendiri.
Sreeek!
Kepala 'kuning' itu menoleh sejenak kearah belakangnya dimana satu-satunya pintu atap itu bergeser menandakan jika ada seseorang yang akan keluar darisana dan sedetik kemudian seorang murid laki-laki sudah berjalan keluar dari balik pintu atap tersebut dengan napasnya yang terengah-engah padahal hari ini tak ada jadwal olahraga apapun di kelas manapun, mungkin murid itu sedang memulai inovasi baru dalam olahraganya jadi dia menggunakan tangga untuk menguatkan kakinya.
"Naruto-san?" panggil murid laki-laki itu sambil menatap kearah pemuda pirang yang sudah berdiri di dekat pagar pembatas atap.
Naruto hanya menaikan alisnya perlahan menandakan rasa heran yang teramat sangat di kepalanya "Ada perlu apa sampai kau menemuiku dengan berlarian seperti itu?" tanggap Naruto yang sudah sangat penasaran.
"Itu... Disana... Ada orang mencarimu," jawab siswa itu sambil berusaha untuk menormal deru napasnya yang masih memburu.
"Mencariku? Siapa?" tanya Naruto yang memandang bingung kearah siswa itu, jika dirinya dipanggil oleh seseorang berarti seseorang itu adalah seorang guru atau kepala sekolah.
"Seorang perempuan cantik dengan rambut merah muda yang terjuntai hingga pinggulnya memakai pakaian cosplay yang lumayan aneh, tapi meskipun begitu dia sangat manis," ucap siswa itu dengan matanya yang sudah berubah menjadi gambar hari berwarna merah muda "Apa hubunganmu dengannya?" tanya siswa itu lagi.
'Rambut merah muda dan pakaian cosplay?' beo Naruto dalam hatinya sambil berusaha menerka-nerka seperti apa perempuan itu dan dia juga bisa menyimpulkan jika perempuan itu bukan siswi di sekolah ini 'Apa-apaan dia malah datang kesini? Ini akan menjadi masalah besar,' ucap Naruto dalam hatinya yang sudah menyadari siapa yang sedang mencarinya.
"L-lalu dimana dia sekarang?" tanya Naruto sambil mendekati siswa itu.
"Dia ada di lantai dua dan sepertinya dia masih terus mencarimu," jawab murid laki-laki itu dengan nada sebal karena iri.
"Terima kasih atas informasinya," ucap Naruto dengan ramah sambil menepuk pundak siswa itu dengan perlahan, kakinya melangkah dengan terburu-buru memasuki bangunan sekolahan itu lagi.
'Semoga saja dia tak berkata yang aneh-aneh kepada orang lain,' batin Naruto yang berharap jika do'anya tadi itu terkabul sementara kakinya terus melangkah dengan cepat menapaki setiap anak tangga yang akan membawanya menuju lantai yang ada di bawahnya.
"Naruto! Kau ada dimana?"
Dia hanya menghela napasnya perlahan ketika mendengar suara perempuan yang meneriakan namanya dengan lantang, meskipun dia dan perempuan itu sudah saling kenal tapi tetap saja ada rasa malu ketika didengan oleh orang lain 'Sekarang aku tahu alasanmu kenapa kau selalu mengatakan merepotkan setiap saat, Shikamaru,' batin Naruto sambil mengingat salah satu teman seangkatannya yang memiliki sifat pemalas yang sangat tinggi.
Sepasang sepatu milik pemuda pirang itu akhirnya menapakan alasnya di lantai dua dimana -menurut informasi- perempuan yang mencarinya itu ada disana, iris birunya berusaha mencari perempuan itu di koridor lantai dua itu "Hey! Lala!" Naruto memanggil nama perempuan itu membuatnya berbalik.
"Ah! Naruto!" sahut Lala yang terlihat sangat sumeringah ketika mendengar orang yang dicarinya sudah ketemu, kaki jenjangnya itu melangkah dengan terburu-buru kearah Naruto saking senangnya.
Entah hitungan ke berapa Naruto harus menghela napasnya karena masalah yang dihadapinya sekarang ini ditambah perempuan itu terkadang memperkeruh suasana yang berusaha ia kondusifkan, mungkin mulai dari sekarang dia tak akan bisa hidup dengan tenang.
Grep!
Pemuda pirang itu bisa merasakan jika Lala menabrakan tubuhnya sendiri dengan kedua tangannya yang sudah memeluknya dengan erat diiringi sensasi kenyal, padat dan berisi menumpu pada dada bidangnya membuat tubuhnya bergetar tak karuan, mata kanannya menatap kepala merah muda yang ditutupi topi bersayap kelelawar itu dengan intens "Lala, apa yang kau lakukan disini?" tanya Naruto yang penasaran dengan kedatangan perempuan alien itu ke sekolahnya.
Perempuan itu hanya mendongakan kepalanya dengan senyum ceria tercipta di bibir tipisnya "Tehe... Aku hanya ingin melihat sekolahmu saja," jawab Lala yang tertawa cengengesan.
Laki-laki pirang itu hanya tertunduk lemas di tempatnya "Mengejutkan sekali mendapat kunjungan darimu, Lala," ucap Naruto disertai sedikit nada tak ikhlas, perempuan itu terlalu menarik perhatian orang-orang yang ada di sekitarnya.
"Apa kau senang?" tanya Lala yang semakin mendekatkan wajahnya kearah Naruto dengan ekspresi antusiasnya.
"Yah, mungkin bisa dibilang seperti itu," balasnya dengan nada yang masih sama seperti sebelumnya, entah kenapa dia merasakan jika tanggung jawabnya sedikit bertambah karena kedatangan Lala ke Planet Bumi ini.
"Benarkah?" tanya Lala yang semakin mendekatkan wajahnya kearah Naruto.
Naruto hanya menganggukan kepalanya sambil sedikit memundurkan letak kepalanya agar wajah Lala tak terlalu dekat dengannya sementara salah satu tangannya menggaruk pipinya perlahan, dia tak masalah dengan sifat polos yang ada pada diri Lala tapi sifatnya yang tidak memperdulikan orang lain selain dirinya bisa menjadi merepotkan bagi dirinya 'Dirimu dan Planetmu itu membuat otakku serasa mau meledak,' batin Naruto yang masih menatap perempuan itu.
"Hoy! Naruto!"
Kepala 'kuning'nya menoleh kearah asal suara dimana laki-laki berambut hitam yang menantang hukum gravitasi sudah menatapnya dengan intens ditambah aura keirian yang mengguar dari tubuhnya membuat Naruto sedikit sweatdrop melihatnya "Ada apa, Saru? Aku sedang ada tamu disini," ujar Naruto yang masih membiarkan Lala untuk memeluk tubuhnya walaupun dia tahu jika mereka berdua sedang menjadi pusat perhatian di sekolah itu.
"Siapa perempuan yang bersamamu itu, kapten bajak laut? Aku tak pernah melihatnya bersamamu," tanya Saruyama yang sudah sangat penasaran dengan perempuan yang sudah merubah posisinya menjadi memeluk salah satu tangan Naruto dengan eratnya.
Tangan Naruto yang masih terbebas hanya menggaruk kepala bagian belakangnya yang sama sekali tak gatal karena otaknya mulai kebingungan untuk menjelaskan dasar alasannya tentang perempuan alien yang ada di sampingnya, tak mungkin 'kan jika dirinya menjelaskan bahwa perempuan itu adalah alien yang tiba-tiba saja muncul di kamar mandinya lalu membuatnya berurusan dengan alien lainnya kemudian mengklaim bahwa mereka sudah melakukan acara pertunangan resmi menurut adat Planet Deviluke. Wajahnya akan ditaruh dimana? Di bagian bawah wajan?
"Aku? Aku tunangan Naruto," bukannya Naruto yang menjawab tetapi Lala-lah yang menjawabnya, memang jujur itu bagus tapi harus dalam penempatan yang tepat juga.
"APA?!"
Naruto hanya bisa menutup salah satu telinganya menggunakan tangan ketika mendengar teriakan tingkat tinggi dari semua murid yang ada di koridor sekolah itu terutama para kaum adam yang sempat terpesona dengan kecantikan dan kemanisan Lala yang ternyata malah sudah bertunangan dengan Naruto, memang tak bisa dipercaya bahkan Naruto pun masih berharap jika pertunangan itu hanyalah mimpi belaka. Sebenarnya dia juga tak mau tapi dia juga berpikir dua kali tentang nasib Planet Bumi jika penolakannya itu sampai di telinga Raja Planet Deviluke itu.
"Lala, aku sudah bilang 'kan, jangan memutuskannya secara sepihak," Naruto memang belum sepenuhnya menerima keputusan itu, tapi perempuan itu terus saja ngotot.
"Apa kau menyesal? Apa kau tak mau bertanggung jawab dengan apa yang kemarin kau lakukan padaku, Naruto?" ujar Lala dengan ekspresi sedih yang dibuat-buat tentunya, dia memang pandai berakting.
"Ada yang punya racun tikus? Kurasa kepalaku mulai berputar," gumam Naruto dengan ekspresinya yang sudah pasrah, dunia indah yang selama ini dia rasakan perlahan memudar karena perkataan yang baru saja meluncur dari bibir tipis yang manis sekali ucapannya itu.
"Sebenarnya kami tak punya hak untuk ikut campur dengan urusan kalian berdua..."
"Tapi entah kenapa ini sangat menjengkelkan sekali untukku..."
"Bagaimana kalau kita beri pelajaran saja pada si 'kuning' sialan itu?"
Aura keunguan sudah mengguar diantara beberapa murid laki-laki yang ada disana dengan keinginan membunuh yang sangat kuat menandakan mereka semua sudah mulai serius menanggapi kelakuan si murid pirang yang memiliki 'kesialan yang sangat menguntungkan', mereka tak akan segan-segan lagi kali ini.
'Aku sudah memperkirakannya jika hal seperti ini akan terjadi, tapi jika aku tak melawan pasti mereka akan merencanakan sesuatu padaku. Ya, aku akan menggertak mereka sedikit,' ucap Naruto dalam hatinya sambil memejamkan matanya berusaha setenang mungkin karena dia baru akan mencobanya dan ini akan menjadi yang pertama kali baginya.
"Uwwooohh!"
"Hajar dia!"
Pemuda pirang itu hanya diam tanpa melakukan apapun dengan seringai kecil sudah mulai tercipta di bibirnya membiarkan para murid yang kesal padanya itu melakukan apa yang mereka ingin lakukan padanya, kepalan-kepalan tangan juga sudah bersiap terarah padanya...
Swuuushh!
Beberapa kepalan tangan itu tiba-tiba saja berhenti dengan sendirinya tepat beberapa inchi dari tubuhnya ketika Naruto membuka kelopak mata kanannya membuat murid laki-laki yang akan menghajarnya itu terkejut, mereka sama sekali tak bisa menggerakan tubuh mereka sendiri sedikitpun seolah terkunci oleh sesuatu yang tak kasat mata. Seberapa keras pun energi yang dikeluarkan tetap saja mereka tak bisa bergerak.
"Kenapa tubuhku tak bisa bergerak?"
"Apa yang terjadi?"
"Padahal sedikit lagi kita bisa menghajarnya."
Laki-laki bersurai pirang jabrik itu hanya tersenyum kecil mendengar kepanikan yang terjadi diantara beberapa murid laki-laki itu "Kuharap kalian punya energi ekstra untuk menahan posisi kalian hingga jam istirahat ini berakhir, aku punya urusan yang harus kuselesaikan dulu tanpa adanya gangguan," ujar Naruto dengan nada jahilnya tanpa memperdulikan teriakan-teriakan yang berisi protesan, memohon dan hujatan tak jelas dari para siswa itu.
"Naruto memang hebat, tak salah aku memilihmu sebagai tunanganku," puji Lala yang memeluk tangan Naruto itu begitu erat hingga tertanam sangat dalam di belahan dadanya yang lumayan besar itu.
"K-kita ke atap, a-aku ingin membicarakan sesuatu denganmu," ucap Naruto dengan tergagap ditambah wajahnya yang sedikit memerah karena tekanan benda kenyal itu di lengannya, lalu sedetik kemudian Naruto sudah menarik tubuh perempuan itu menaiki kembali setiap anak tangga yang akan menuntun mereka menuju atap.
-0-0-0-
Sang surya sudah menggerakan dirinya sendiri menuju ufuk barat menandakan jika tugasnya untuk satu hari ini sudah selesai dan membiarkan makhluk-makhluk yang ada di belahan bumi itu beristirahat, meninggalkan sinar kejinggaan di langit dan awan yang menjadi kekuasaannya. Sinar itu merupakan tanda perpisahan kepada semua makhluk yang ada di belahan bumi tersebut.
"Aku pulang!" seru laki-laki bersurai pirang jabrik itu dengan nada lemas menandakan jika pikiran dan tenaganya sudah terkuras habis untuk satu hari ini, ditambah dengan perempuan bersurai merah muda dengan pakaian anehnya terus saja menempeli lengannya sebegitu eratnya. Kucing juga tak akan se-protektif seperti itu pada majikannya, tapi apa hubungannya Lala dengan kucing?
"Selamat datang, Naruto-nii," balas kedua adiknya yang sudah berkumpul di ruang keluarga dengan ditemani oleh seorang lelaki bersurai abu-abu pendek dengan memakai baju besi putih layaknya tulang dilengkapi jubah berwarna ungu gelap di belakangnya.
"Kau? Kenapa kau ada disini?" tanya Naruto pada laki-laki yang sempat menemuinya pagi tadi di kamarnya yang masuk melalui jendela kamarnya.
"Mungkin kami akan mengawasimu untuk beberapa saat, jadi aku berpikir jika aku juga harus memperkenalkan diriku pada keluarga kecilmu ini," jawab Zastin yang sudah meletakan teh yang sempat dinikmati olehnya lalu mengambil sesuatu dari dalam kantong yang dibawanya dan memberikannya pada Riko dan Mikan.
"Onii-chan? Kenapa Onii-chan tak bilang jika Onii-chan sudah bertunangan dan akan menikah dengan perempuan asing?" ucap Mikan yang sudah menerima hadiah pemberian dari Zastin dengan senang hati.
"Benar, kau selalu saja merahasiakan sesuatu dari kami berdua," ucap Riko yang setuju dengan pernyataan yang dikemukakan oleh adiknya, Mikan.
"M-masalah ini jadi tambah runyam," gumam Naruto dengan nada sangat pelan.
"Namaku Lala, senang bisa bertemu denganmu," ucap Lala yang memperkenalkan dirinya pada kedua adik -angkat- Naruto.
"Namaku Mikan, adik angkat dari Naruto-nii. Maaf jika Onii-chanku yang sangat bodoh itu selalu merepotkanmu," ucap Mikan yang sudah berdiri dan membungkukan tubuhnya sangat sopan.
"Dan Aku Riko, adik angkat dari Naruto-nii juga. Jangan sungkan untuk memukulnya jika dia melakukan sesuatu yang tidak-tidak padamu," ucap Riko yang sudah melakukan hal yang sama dengan Mikan.
Lala langsung melepaskan rangkulannya pada lengan Naruto lalu melompat kearah Mikan dan memeluknya lumayan erat "Kau sangat lucu juga ternyata," ujar Lala yang sepertinya sangat senang bertemu dengan adik-adik Naruto.
Riko hanya menatap kearah Naruto yang masih mematung di tempat disertai ekspresi yang sulit diartikan di wajahnya 'Sepertinya Naruto-nii memang terlibat dengan masalah yang sangat rumit, tapi kurasa Onii-chan no Baka itu sedang memikirkan jalan keluarnya,' batin Riko yang juga sedikit kasihan melihat ekspresi yang dikeluarkan oleh Naruto.
"Muko-dono?" panggil Zastin sambil menatap kearah Naruto.
"Apa kau baru saja memanggilku?" tanya Naruto pada Zastin sambil menunjukan jarinya kearah dirinya sendiri.
"Hanya kita berdua yang berjenis kelamin laki-laki disini, jadi aku bermaksud memanggilmu," ucap Zastin yang mulai serius menatap kearah Naruto "Ada yang ingin aku tanyakan padamu?" pinta lelaki itu pada remaja labil yang ada di depannya.
"Boleh saja, tapi jangan yang aneh-aneh," jawab Naruto yang seolah tak peduli dengan apa yang akan ditanyakan oleh pria tinggi itu.
"Aku selalu memikirkan ini setelah bertemu denganmu kemarin dan aku ingin menanyakannya sekarang padamu," ucap Zastin yang menjeda perkataannya sambil menatap kearah mata kanan Naruto "Kau mendapatkan mata aneh itu darimana?"
Semua netra yang ada disana langsung menatap kearah Naruto dengan penuh rasa heran dan penasaran karena hampir seluruh penghuni yang menempati ruang keluarga ini belum mengetahui perihal mata aneh itu terkecuali Zastin, sementara yang ditatap hanya menarik napasnya dalam-dalam.
"Merepotkan."
[To Be Continued...]
Terima kasih bagi kalian yang sudah memberikan pujian, saran dan kritik untuk cerita saya ini. Saya senang bisa mendapatkan respon positif seperti itu.
Saya mohon maaf yang sebesar-besarnya bagi kalian yang menunggu update-an dari salah satu karya saya yang lainnya, saya hanya mengikuti alur dan ide yang ada di dalam otak saja. Sesekali sih saya juga berusaha untuk memikirkan kelanjutan dari salah satu cerita saya, tapi sepertinya saya akan fokus dulu pada satu cerita saja untuk saat ini. Saya hanya bisa meminta maaf pada kalian semua.
Tentang sifat Naruto memang terkesan mirip sekali dengan Rito tapi itu sih dalam beberapa aspek saja misalnya pada Komedinya, Ecchi tanpa Komedi malah berasa kayak lagi ngerjain cerita Lemon. Karena saya gak bisa bikin komedi yang bikin ngakak, jadi beginilah ceritanya, sedikit terkesan garing, ya 'kan?
Terima kasih kepada kalian yang sudah meluangkan waktunya untuk membaca cerita saya ini atau sekedar mampir saja.
Saya tunggu saran, kritik, pesan dan kesan dari kalian semua, flame juga boleh, agar saya bisa introspeksi diri dengan kekurangan saya atas penilaian dari kalian semua.
Terima kasih sekali lagi...
