Karena kau, ibumu mati!

.

Kau tidak sanggup melakukan apapun! Kau sungguh lemah!

.

Kau setan kecil tak tahu diuntung!

.

Aku akan menghabisimu!

.

Teriak! Menangislah, dasar cengeng! Tidak akan ada yang akan mendengarkanmu!

.

Kau sungguh bodoh! IDIOT!

.

Kau bedebah kecil yang menggelikan!

.

Semua orang membencimu! Tidak akan pernah ada yang menyayangimu!

.

KAU KUTUKAN!

.

Jika kau tidak mau menurut, Ayah mu berikutnya!

Inesia sontak terbangun dengan sentakkan yang sangat kuat hingga ia terduduk di tempat tidurnya. Ia tidak berteriak. Ia 'telah dibiasakan' untuk tidak berteriak saat mimpi buruk yang selalu menghantuinya datang. Sesaat, ia lupa bagaimana caranya bernafas. Sesaat, pikirannya kalut. Hanya dipenuhi dengan ketakutan dan kecemasan akan keselamatan ayahnya. Sampai akhirnya gadis itu kembali mengingat dan menyadari bahwa semua itu telah lama terjadi;

Mereka pun telah membunuh ayahnya.

Air matanya mulai membasahi pipi, namun tidak ada kata ataupun suara yang ia keluarkan –hanya sengguk kecil karena nafasnya tercekat. Ia ingin berteriak, namun tidak bisa. Sama sekali tidak bisa –ia tidak tahu caranya. Ia telah melupakan cara berteriak sejak lama seperti ia melupakan cara meminta tolong untuk diselamatkan. Apa yang bisa gadis itu lakukan, hanyalah memeluk tubuhnya sendiri yang gemetar ketakutan dengan erat untuk meredam paksa seluruh perasaan.

Ia harus kembali menjadi 'Inesia'. Ia harus menjadi 'Inesia' agar dirinya bisa bertahan dan selamat. Walaupun seluruh jiwa raganya berteriak bahwa semua ini tidak adil, namun pilihan tidak pernah ada di tangannya.

Ia hanya harus melakukannya.


HETALIA AXIS POWERS © HIDEKAZU HIMARUYA

In

- ALTER EGO –

LittleOrchids045


Kiku membuka pintu kamar tempat Nesia dirawat. Pemuda itu tersenyum lembut saat menemukan Nesia masih tertidur nyenyak. Mendekati Nesia, ia kemudian menggenggam tangan mungil gadis tersebut dan meletakkannya di pipinya. Selagi ia bersender di telapak tangan gadis yang masih berada di alam mimpinya itu, ia menenangkan diri.

Hampir saja. Ia hampir kembali tenang saat tiba-tiba smartphone-nya kembali bergetar karena E-mail yang masuk. Inginnya Kiku mengabaikan pesan pengganggu itu, namun ia tidak bisa karena getaran handphone-nya yang tidak kunjung berhenti. Tanda pesan-pesan elektronik itu tengah menghujani handphone-nya lagi.

Seharusnya aku tak terpancing untuk mengaktifkan E-mail kantorku sebelum sampai di rumah...

Kiku mendesah penuh sesal. Dengan berat hati ia menyeret tubuhnya untuk kembali ke luar ruangan dan membalas email-email yang membuat mood-nya loncat indah ke dasar jurang pagi ini.

Kiku sempat kaget saat membuka mailbox-nya. Terdapat pesan dari Sakura, adiknya. Segera ia membuka pesan tersebut, mengabaikan pesan-pesan lain yang datang dari rekan kerjanya maupun Private Assistant-nya sendiri. Jika adiknya sampai ikut mengirimi pesan seperti ini, maka pasti, keadaan di rumah sedang gawat.

Sedang sangat gawat.

Aniue, uchi ni kaerimasu yo. Chichiue wa okotte imasu. Kowai yo. –Kakak, pulanglah ke rumah. Ayah marah. Sungguh menakutkan.

Setelah menuliskan balasan, Kiku menutup email dari adiknya tersebut. Ia kemudian beralih pada email-email lain dari para dewan direksi, rekan bisnis, keluarga dan lainnya yang berisi 'pekerjaannya' sebagai seorang Presdir, juga kandidat kepala keluarga terkuat.

Padahal kesepakatannya tidak seperti ini. Kesepakatan yang telah disetujui (sepihak) oleh ayahnya dan Kiku adalah ia 'mengamankan' posisi Presiden Direktur, posisi pengganti Chairman terkuat, serta posisi Kepala Keluarga terkuat. Kemudian ayahnya yang akan mengambil alih semua itu sebagai ganti 'kebebasan'nya bersekolah di luar negeri. Kebebasan penuh, dan ayahnya akan memakai namanya untuk menggerakkan perusahaan dan keluarga mereka.

Ya. Begitulah kira-kira modus operandi yang selama ini 'direncanakan' berlaku, setidaknya sejak ia berhasil merebut jabatan General Manager saat ia berada di kelas 2 SMP. Ia akan bersekolah di luar negeri, sedangkan ayahnya akan menduduki posisi itu dengan kedok menggantikan dirinya dan menjadi penyambung lidah antara dirinya dan perusahaan. Padahal sebenarnya ia tidak pernah diberikan kabar, laporan atau bahkan dimintai pertimbangan oleh ayahnya.

Kebebasan penuh–salah, dibuang penuh. Itu perjanjiannya.

Tapi perjanjian itu hanyalah sepihak dan Kiku tidak menandatangani apapun tentang ini. Kiku merasa ia tidak boleh cuci tangan begitu saja dari semua ini. Ia bukanlah seseorang yang tidak bertanggung jawab dan membiarkan apa yang sudah dipercayakan padanya tanpa pengawasan. Walaupun itu adalah kepercayaan yang hanya setengah-setengah dari orang-orang sinis, menjengkelkan ataupun yang memiliki ambisi untuk menjatuhkannya.

Tidak.

Ia memang harus peduli dan terus mengawasi semua gerak-gerik di perusahaan dan kediaman utama keluarga besarnya. Jika perlu, menyuruh Private Assistant-nya untuk membereskan beberapa keadaan di bawah komandonya. Kalau tidak begitu, ia tidak akan mungkin untuk bertahan, bersaing, apalagi berhasil duduk di kursi Presiden Direktur seperti sekarang ini. Ia tidak mungkin terkenal sebagai tuan muda absolut ataupun direktur muda jenius bertangan dingin yang sangat menakutkan, bukan?

.

.

Oke, sekarang Kiku mulai menyesali hal itu.

Semua julukan itu terdengar sangat berlebihan di telinganya. Semua gelar itu membuat dirinya terdengar sangat mengerikan. Perspektif orang luar memang sungguh berbeda dengan dirinya. Jika orang lain tahu bahwa dirinyalah yang dieksploitasi oleh ayahnya untuk mencapai kekuasaan, maka tidak akan ada titel seperti itu. Akan tetapi, orang lain tidak tahu apapun. Apa yang mereka tahu dan lebih dipercayai, adalah rumor tak bertanggung jawab yang menyebutkan bahwa Kiku adalah seorang anak yang terlalu ambisius dan sadis sampai-sampai menggunakan ayahnya sendiri sebagai boneka untuk mencengkeram dan menjalankan perusahaan dari jauh.

#QuotesOfTheDay: Dunia memang kejam... Aku paham itu... –Kiku

Akan tetapi, karena Kiku sendiri mengawasi, memegang kendali penuh perusahaan, memberi komando dan mengantarkan perusahaan mencapai target-targetnya, serta melakukan semua tindakan yang mencerminkan bahwa ia adalah seorang yang benar-benar bertangan dingin, ambisius, absolut, tegas –bukan sadis-, dan tindakan kepemimpinan lainnya, sepertinya titel yang melenceng jauh tersebut lama kelamaan dirasa memang lebih pantas dipercayai oleh orang lain. Walaupun Kiku berusaha untuk menjelaskan fakta dan kejadian yang sebenarnya, hal itu hanya akan ditanggapi sebagai candaan yang gagal –namun orang yang mendengar harus mencoba tetap tertawa, sarkasme kepada keluarganya sendiri, atau bahkan mungkin ancaman kepada keluarga lain.

Jangan tanya kenapa. Kiku sendiri tidak paham mengapa mereka mengartikan itu sebagai ancaman.

.

.

Yah, menurut PA-nya, sih, ketika Kiku membicarakan bahwa ia dieksploitasi oleh ayahnya, apa yang tergambar di benak para pendengar adalah bahwa Kiku tengah bersumpah untuk mengeksploitasi anaknya–dan bahkan seluruh keluarganya nanti agar bisa menjadi seperti dirinya.

Hal ini membuat keluarga lain yang mencoba mendekatinya dan menawarkan anak gadis mereka yang manis, imut dan baik, lari pontang-panting, terbirit-birit sejuta langkah ke belakang. Ini juga menjadi alasan mengapa Kiku lebih seringnya disisakan dengan wanita-wanita yang hanya memandang harta dan gelarnya dan tidak tertarik pada definisi kekeluargaan.

Sebagai imbas semua itu, walaupun Kiku (katanya) memiliki semua; tampang, suara, sikap, otak, harta, jabatan, dan lainnya yang membuat seorang 'cowok' berubah menjadi 'pria idaman', Kiku masih juga jomblo.

Ah, lupakan. Bagi Kiku cewek 2D memang lebih menarik, baik dan sesuai idamannya daripada cewek 3D yang menyusahkan dan menyebalkan.

Sebagai catatan; Ya, Nesia juga termasuk menyusahkan dan menyebalkan. Namun dalam arti yang positif, sebagai catatan tambahannya.

.

.

Hehehe... Eh?!

Kiku terhenyak saat sadar bahwa ia mulai tidak konsentrasi pada E-mailnya dan bahkan tersenyum-senyum aneh sendirian. Pemuda itu kemudian menutupi mukanya yang panas dan memerah karena malu. Tidak cukup dengan itu, ia pun berjongkok dan mulai menenggelamkan kepalanya di antara dengkulnya.

Memikirkan Nesia dan mulai tersenyum-senyum sendiri! Saat ia di tengah pekerjaan pula! Apakah ia sudah sebegitu tak bisa diselamatkannya?! Mungkin ini adalah salah satu perubahan dirinya yang paling mengerikan. Bagaimana nanti ketika ia sedang berada di satu rapat penting dan serius, kemudian tiba-tiba ia ingat pada Nesia? Apakah ia akan senyum-senyum tidak jelas seperti ini juga?! Seluruh keluarga dan relasinya pasti akan berpikir bahwa dia sudah tidak waras.

Kiku menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Ia harus bisa mengontrol semua ini. Di rumah ia harus bisa memasang topeng 'pewaris utama'-nya dengan sempurna. Jika tidak, bukan hanya ia yang berada di posisi berbahaya.

Kiku menepuk-nepuk mukanya sebagai usaha agar kesadaran dan pengendalian dirinya kembali. Ia terus menyugesti dirinya sendiri untuk tetap tenang. Ia harus mulai membiasakan dirinya lagi untuk bersikap dengan kepala dingin.

Tidak boleh ada senyum-senyum tanpa alasan yang absurd!

Kiku menarik nafas dalam-dalam dan melepaskannya perlahan sebelum kembali pada sisa E-mail yang belum di baca olehnya. Tidak ada yang betul-betul menarik. Hanya laporan progres perusahaan, penawaran dari beberapa rekanan dan pemberitahuan acara keluarga. Kiku menghela nafas lelah setelah membaca email terakhir; laporan dari PA-nya. Ia segera menuliskan komando singkat untuk dijadikan fokus setidaknya beberapa hari sampai ia pulang.

.

Sell All Out. Bilang itu pada direktur pemasaran, aku ingin lusa harus ada perubahan. Jika tidak, hal pertama yang akan kulakukan sesampainya di Jepang adalah 'berburu' di sarangnya. Aku akan berikan jawaban tentang 10 proposal proyek itu besok jam 18:00. Pastikan pada rapat direksi lusa kau membawa material yang akan kukirimkan. Dan bilang ini pada bagian keuangan, "Kalau kalian tidak bisa menghitung dengan benar, mundur saja...". Kalau belum mau mundur, bilang padanya mereka untuk lebih hati-hati dan awasi pasar dengan lebih cermat, kalau perlu 24/7 sekalian. Sekali lagi mereka salah, aku akan 'berburu' juga di sana.

Jangan biarkan chichiue memecat siapa pun lagi sampai aku kembali, itu hanyalah tindakan kemarahannya agar aku pulang. Kau PA ku, seharusnya kaulah orang paling profesional dan ahli dalam acara membujuk chichiue, bahkan melebihiku, kan?

Oh, ya. Server baru saja dibobol. Suruh departemen R and D untuk re-check data hilang atau tercuri. Cari programer baru yang lebih berbakat. Biar aku sendiri yang mengujinya.

.

Setelah Kiku memencet tombol send, ia pun melangkah untuk masuk kembali ke dalam kamar rawat Nesia. Pemuda itu meletakkan smartphone-nya di meja kecil di seberang tempat tidur pasien. Ia kemudian merebahkan tubuhnya di sofa terdekat sembari memijat pangkal hidungnya.

Dou suru desu ka?

Ayahnya sudah berada di ujung kemarahan. Ia harus segera pulang sebelum perusahaan keluarganya itu digiring ke posisi yang lebih konyol, Kiku tahu itu. Lagipula, keabsenan dirinya di rapat-rapat saat liburan musim panas bisa mengganggu posisinya saat ini. Walaupun ia sudah menjadi kandidat terkuat. Salah, karena ia adalah kandidat terkuat, sikap seperti ini dapat digunakan oleh para musuhnya untuk menjatuhkannya. Mereka dan para petinggi keluarga, tidak mau menerima telekonferensi lagi saat mengetahui dirinya sudah di 'masa liburan'.

Yasumi desu yo ne...? –Ini liburan kan, ya?

Kiku menertawakan keironisan ini. Saat-saat ia liburan sekolah, adalah saat-saat ia harus sibuk bekerja keras di perusahaan dan ia tidak akan memiliki waktu otaku-nya yang santai seperti di sini. Ia bahkan hampir tidak bisa membedakan, mana yang sebenarnya 'liburan' bagi dirinya.

Tidak. Bahkan saat ia sekolahpun terkadang masih diganggu dengan permintaan meeting lewat telekonferensi oleh para petinggi perusahaan atau tetua keluarga. Tidak sering, akan tetapi, karena biasanya itu adalah dari orang-orang yang sangat memusuhi dan tidak mau berurusan sama sekali dengan ayahnya, Kiku harus ekstra hati-hati, sabar dan bijaksana dalam menghadapi orang-orang itu.

Intinya, tidak ada yang namanya liburan untuknya. Yah, kecuali saat ia berkilah dengan 'mengunjungi klan Wang' atau 'mencoba memahami sistem kerja yang sangat dinamis di perusahaan milik keluarga Im' atau 'urusan dengan perusahaan Eropa dan Amerika', saat otaku time atau saat menatap Nesia, atau saat ditatap balik oleh kedua bola mata penuh tanda tanya itu.

"N-nani?" tanya Kiku spontan karena kaget.

Kiku terus memperhatikan gerak Nesia yang mencoba untuk duduk. Ia sempat beranjak dari sofanya untuk membantu. Namun tidak jadi, Nesia menyuruhnya untuk tetap duduk dengan tatapan matanya.

"Nesia-san?" tanya Kiku kebingungan saat gadis itu mulai menarik tiang infusnya dan berjalan menuju Kiku.

Jangan bilang ini Garuda-san?

"A-ano..." Kiku bermaksud coretkaburcoret menghindar jika Garuda benar bangun. Akan tetapi tatapan di wajah Nesia membuatnya terpaku.

Saat tangan-tangan Nesia menyentuh dan mengelus pipinya lembut, Kiku semakin kebingungan, namun juga merasa nyaman.

"N-nandesu ka?" tanya Kiku lembut, sekali lagi sebelum tubuhnya direngkuh dengan hangat oleh Nesia.

Etto... K-kore wa dare desu ka?–I-ini siapa ya?

"Umnh? Pertiwi-san ka?" tanya Kiku menebak. Hanya Pertiwi yang mungkin untuk memeluknya seperti ini selain, yah, Garuda atau mungkin Nesia no.3.

"Maaf..." bisik gadis itu lirih.

"Huh?"

"Syukurlah..." isak gadis itu, "Syukurlah..."

"A-ano...?" Kiku semakin kebingungan. Apa yang perlu disyukuri? Ada apa sebenarnya ini? Namun sedetik kemudian Kiku mulai menebak-nebak.

Apakah ini tentang Ina-san? Tentang kejadian kemarin malam atau...

Kiku tidak terlalu yakin. Akan tetapi, kemungkinan terbesar yang menjadikan gadis ini menjadi sangat khawatir adalah Ina. Mungkinkah alter yang tengah bangun ini...

"Nesia-san?" panggil Kiku lirih, entah mengapa di detik ini Kiku merasa ingin menangis terharu. Mungkin ia terlalu rindu, mungkin perkataan Tara kemarin bahwa Nesia no.2 bukan alter sangat mengganggunya lebih dari yang ia sadari, mungkin ia telah marah dan frustrasi karena alter ini tidak pernah muncul lagi, kemudian muncul sebentar dan akhirnya kali ini ia bisa bertemu lagi. Kali ini ia bisa bicara dengan Nesia no.2. "N-nesia-san... desu yo ne?"

"Syukurlah Kiku-sama tidak apa-apa..." ucap gadis itu tidak menghiraukan Kiku. Apa yang ada di pikirannya hanyalah bahwa Kiku selamat dari Ina.

Sedangkan Kiku yang tadinya bergembira, kini merasa seperti kalah dibanting. Ia tak tahu perasaan apa yang sedang bergelayut merasuki dirinya sekarang. Seperti kecewa karena mengetahui bahwa bukan Nesia no.2 yang muncul, melainkan Nesia no.3. Akan tetapi, ia tidak boleh seperti itu bukan? Maksudnya, sudah syukur gadis ini bangun.

Pada akhirnya, Kiku hanya bisa tersenyum kecil dan menepuk kepala Nesia lembut, "Watashi wa daijoubu desu... –Aku baik-baik saja..."

"Aku akan membunuh Ina..." ucap gadis itu datar dan dingin.

"C-chotto! Nesia-san!" sergah Kiku panik.

"Dia sudah berani melukai Kiku-sama..." Nesia no.3 melepaskan pelukannya dan menatap Kiku serius, meminta –memaksakan persetujuan.

"Dame desu! –Tidak boleh!" ucap Kiku tegas menolak sembari menggelengkan kepalanya. Menurutmu apa yang akan terjadi bila di dalam raga itu ada pertempuran saling bunuh? Bukan sesuatu yang baik menurut Kiku.

"Tapi..."

"Tidak boleh, Nesia-san... Sama sekali tidak boleh... Kau dengar perkataanku, kan?" ucap Kiku lagi, "Kalau Nesia-san tidak mau menurut... Aku akan marah pada Nesia-san..." ancam Kiku karena ia melihat Nesia no.3 tidak mau mengalah.

"T-tapi kan..."

"Lagipula, Nesia-san... Aku tidak apa-apa... Benar-benar tidak apa-apa..." terang Kiku lagi, kali ini dengan intonasi yang lebih lembut untuk meyakinkan Nesia.

"Baiklah... Kalau Kiku-sama memaksa..." ucap Nesia no.3 tidak rela.

"Bagus..." Kiku menghela nafas lega sembari menepuk kepala Nesia lembut, "Mnh... Kenapa Nesia no. 3-san bangun? Bagaimana dengan Garuda-san?" tanya Kiku khawatir. Seingatnya Nesia no. 3 bertugas untuk menjaga Garuda agar Alter gila itu tidak seenak jidatnya merebut kesadaran dan melakukan tindakan asusila padanya.

"Kiku-sama tidak perlu khawatir... Garuda sedang adu mulut dengan Tara... Lagi..." ucap Nesia no. 3 polos.

Iie... Itu malah membuatku lebih khawatir... Yah... Setidaknya dia tidak nganggur kemudian keluar tiba-tiba...

"Kenapa aku bangun..." Nesia no. 3 melanjutkan perkataannya, "Karena tidak ada yang mau mengambil alih tubuh ini lagi..."

Huh?

"M-maksud Nesia-san?" ucap Kiku kaget sekaligus heran.

"Kiku-sama..." ucap Nesia no. 3 sembari menangkup wajah Kiku dengan kedua tangannya, "Jangan khawatir, aku ada di sini dan aku akan selalu memihak pada Kiku-sama..."

"T-tapi... Kenapa tidak ada yang mau mengambil alih lagi?" ucap Kiku hati-hati, "Ada masalah apa lagi, Nesia-san?"

Nesia no. 3 menggeleng, "Tidak ada masalah... Tidak ada masalah... Mereka hanya ketakutan... Tapi aku tidak... Jadi Kiku-sama tenang saja..." serunya mencoba menenangkan Kiku yang malah berbuah sebaliknya.

"Ketakutan?" tanya Kiku mulai gusar, "Apa yang mereka takutkan, Nesia-san?"

"Uh... Kiku-sama..."

.

.

.

"Nesia-san? Katakan saja..." tanya Kiku lagi, tidak mengerti akan jawaban Nesia no. 3, "Apa yang mereka takutkan?"

"Mereka takut... pada Kiku-sama..."

*O*


Kakek Tara menatap serius layar smartphone-nya. Sesuatu yang sangat gawat tengah berlangsung di layar itu. Ia mencoba untuk mengusap-usap layar buah teknologi canggih itu. Namun usahanya sia-sia belaka. Kakek Tara merasa sangat kesal. Hampir. Hampir saja ia berhasil menyelamatkan nyawa heroin dan menyelesaikan quest yang sudah seminggu ini tidak bisa ia selesaikan itu.

"Tuan... Tolong jangan main game di sini..." tegur seorang perawat wanita bermuka masam.

"Er... I-iya... maafkan saya..." ucap Kakek Tara kagok sembari menyembunyikan HPnya.

"Ini administrasi dari Nona Honda Nesia..." ucap perawat itu lagi sembari memberikan kertas-kertas administrasi. "Ini kartu anda dan slip pembayaran..." ucapnya lagi sembari mengembalikan kartu debit VISA Kakek Tara beserta selembar struk.

Huh? Kenapa Honda Nesia?! Mereka kan hanya menikah bohongan! Nak Kiku itu! Dasar! Awas-...

.

.

.

O-oh iya, ya... Aku sendiri yang mendaftarkan Nak Nesia dengan nama itu... Aku lupa...

"Tuan? Tuan?!" seru perawat itu memanggil-manggil Kakek Tara yang tengah terpaku.

"I-i-iya... T-terimakasih..." ucap Kakek Tara kagok sembari menerima kertas-kertas tersebut. Setelah meneliti dan menandatangani urusan administrasi Nesia, Kakek Tara pun mengembalikan kertas-kertas yang tadi di terimanya itu kepada sang perawat serta mengamankan berkas pembayarannya, "Apa sudah selesai semua?"

"Ya..." jawab perawat tersebut dingin.

Kakek Tara hanya bisa mendengus lelah. Ia beranjak dari tempatnya untuk melangkah menuju ke kamar Nesia dirawat. Di tengah jalan, ia kembali mengeluarkan HP-nya yang tadi ia sembunyikan.

Galak amat... Aku kan hanya ingin menyelesaikan game menyebalkan ini sambil menunggu... Huh... Sesampainya aku di Indonesia, aku akan suruh Jaka saja untuk menyelesaikannya... Aku sudah menyerah dengan quest ini...

-Ping-

Kakek Tara berkedip saat ada E-mail masuk. E-mail itu dari Surya, salah satu anak muda berbakat yang sangat baik dan berhasil mendapatkan kepercayaan darinya. Sejak seluruh tragedi yang menimpa keluarganya terjadi, Kakek Tara tidak bisa mempercayai siapa pun lagi. Hanya ada delapan orang saja yang bisa ia percayai dan tidak ada dari mereka yang merupakan 'orang lama' di perusahaan. Delapan orang bukan orang-orang sembarangan, dan hanya Kakek Tara yang tahu dari mana asal mereka. Mereka merupakan 'titipan negara' yang juga telah lolos uji standarnya yang sangat ketat. Semua ini karena Kakek Tara tidak akan membiarkan ada tikus menyusup di dalam 'lingkaran'nya.


Mahendra Surya W
17/08/2014 07:21

Subject : Perkembangan
To : Anggabaya A. N. R

Keadaan di HQ standar, pak. Kami belum menemukan celah, akan tetapi Jaka melihat kemungkinan ada jawaban di Den Haag. Mungkin kita perlu ke TKP. Beberapa nama telah kami catat dan tandai sesuai besaran potensi terlibatnya dan kecurigaan kami terhadap orang-orang tersebut. Kami akan salin data ini juga untuk server.

Daftar Pegawai Nusantara Group. pdf

Mahendra Surya Wibisono
Head of Logistic Departement, Nusantara Group


Kakek Tara terdiam sejenak ketika membaca email itu. Ia menghentikan langkahnya dan mulai melihat daftar nama pegawai yang telah ditandai oleh Surya dan Jaka. Ia menemukan beberapa nama yang memang telah ia curigai, beberapa yang baru dan membuatnya kecewa, serta beberapa yang membuatnya bersedih.

Surya dan Jaka jahat sekali... Menandai nama Maharani seperti ini... Apalagi dengan warna kuning...

Kakek Tara hanya bisa tersenyum getir. Ia ingin percaya bahwa putrinya itu tidak ada sangkut pautnya dengan semua ini dan kalau ada, ia hanya diperalat. Kakek Tara kira, ia sudah cukup adil membagi kasih antara Dirgantara dan Maharani agar perselisihan seperti perebutan kekuasaan tidak pernah terjadi di Group-nya. Namun demikian, siapa yang tahu apa isi hati orang lain? Bahkan dalam hal ini, isi hati anaknya. Kakek Tara pun terpaku saat ia menemukan nama Razak. Mungkin cucunya itu juga di dalam posisi dimanfaatkan. Jika tidak, dengan wajah lugu dan tak mengerti apapun yang kemarin diperlihatkan, Razak akan menjadi individu yang sangat mengerikan.

Hanya mereka berdua sisa keluarganya, dan mereka dicurigai oleh dua orang kepercayaannya.

Orang-orang yang kupercayai, yah?

Kakek Tara tidak ingin mempercayai hasil ini. Akan tetapi, di sisi lain Kakek Tara juga tidak bisa menemukan alasan untuk mempertanyakan penyelidikan Jaka dan Surya.

Mental kerja mereka itu demi kepentingan negara... Kalau Group ku hancur, negara pasti akan terkena imbas yang sangat kuat... Mereka sebagai intelijen harus mencegahnya, bukan? Itu juga alasan mengapa negara memasukkan mereka ke Group-ku... Walaupun sebenarnya mungkin aku yang lebih membutuhkan mereka...

.

.

.

Mnh? Nak Kiku?

Kakek Tara segera mendekati pemuda yang baru saja keluar dari kamar rawat Nesia dengan muka pucat. Ia tidak ingin berspekulasi. Akan tetapi, Kakek Tara membaca bahwa keadaan sedang sangat gawat. Ia tidak bisa menahan dirinya untuk bertanya lagi.

"Nak Kiku, ada apa? Apakah ada sesuatu yang terjadi kepada Nak Nesia?" tanya Kakek Tara cemas.

"I-iie... nandemo arimasen... –tidak ada apa-apa..." elak Kiku berusaha menutupi.

Kakek Tara hanya bisa menaikkan alisnya, "Tapi raut wajahmu tidak mengatakan demikian... Apakah keadaan Nak Nesia memburuk?"

"Iie... Sou dewa arimasen... Nesia-san sudah bangun... Bahkan sekarang sedang makan sendiri..." ungkapnya.

"Lalu?" tanya Kakek Tara lagi, penuh selidik.

"E-etto... Keluargaku menyuruhku pulang..." jawab Kiku berkilah.

"Begitu... Tapi kenapa kau pucat?"

"Karena... Rumah..." Kiku memutus perkataannya, tidak yakin akan membawa masalah pribadi ini untuk menutupi kecemasannya yang sesungguhnya.

.

.

"Nak Kiku bisa main ke rumahku..." ucap Kakek Tara sembari menepuk kepala Kiku, "Kita bisa main nanti... Kau suka ke mana? Bali? Orang Jepang cuma tahu Bali saja ya? Sayang sekali..." sambung Kakek Tara menggoda Kiku.

"Sumimasen deshita..." balas Kiku sarkastis. Bukan salahnya kalau orang Jepang hanya tahu Bali dan tidak dengan destinasi lainnya. Lagi pula faktanya bukan hanya orang Jepang yang seperti itu.

"Oh ya... Aku sudah mengurus administrasi rumah sakit..." ucap Kakek Tara mengubah perbincangan.

"Eh? Tapi Nesia-san kan..."

"Aku mengurusnya sampai besok, tenang saja... Kalau besok Nak Nesia baru bisa pulang ya sudah... Kalau hari ini bisa pulang, ya syukur..." ucap Kakek Tara tanpa beban, "Habisnya aku pulang hari ini sih... Pesawatku nanti malam..."

"Begitu..."

"Boleh aku melihat Nak Nesia?" tanya Kakek Tara meminta izin.

"? Tentu..." jawab Kiku heran, namun tetap membukakan pintu kamar Nesia.

"Nak Nesia... Aku dengar kau sudah bangun..." seru Kakek Tara riang menyapa gadis kecil yang tengah menghabiskan sarapannya.

.

.

"Ini pagi yang indah bukan?" serunya lagi pada gadis cilik yang masih sibuk mengunyah sesuatu itu.

.

.

"Eh... uh? Nak Nesia?" Kakek Tara mulai tidak mengerti karena salamnya tidak ditanggapi sama sekali, "N-nak Kiku... Apakah Nak Nesia semarah itu?"

"M-maa..." ucap Kiku sembari memalingkan wajah.

Kiku tahu Nesia tidak marah. Nesia no. 3 tidak marah, dia hanya tidak mengenal Kakek Tara. Tapi Kiku tidak tahu bahwa Nesia no. 3 akan mengabaikan kakek Tara seperti ini. Untungnya kakek ini salah paham, mengira bahwa Nesia sedang kesal dan mengabaikan Kakek Tara sebagai bentuk kemarahannya atas perbuatan Kakek kurang kerjaan ini kemarin.

"Nesia-san..." panggil Kiku sembari mendekati Nesia. "Kakek Tara datang... Ucapkanlah sesuatu?" pinta Kiku dengan nada lembut.

"Kakek Tara? " tanya Nesia no. 3.

.

.

"Kiku-sama..." bisik Nesia no. 3, "Dia tidak mungkin Tara... Tara masih bertengkar dengan Garuda... Lagi pula Tara tidak setua itu..."

Uh... Kore wa... yappari muzukashii desu... –Ini tentu sulit...

"B-beliau bukan 'Dirgantara'... Beliau 'Nusantara'..." Kiku balik berbisik, pemuda itu mulai tidak enak dengan Kakek Tara yang kini kebingungan dan harap-harap cemas di ambang pintu. Kiranya sebentar lagi kakek tua itu akan mulai menggerogoti kusen pintu sebagai pelampiasan rasa nervous-nya.

"Apakah orang itu membuat Kiku-sama tidak nyaman?" tanya Nesia no. 3 serius.

"Tidak... sama sekali tidak... Beliau sudah seperti keluarga... Nesia-san tahu keluarga itu apa kan?"

.

.

.

"Aku akan tanya Pertiwi... Dia lebih tahu hal tentang 'keluarga' ini..." jawab Nesia no. 3 pada akhirnya. Selanjutnya, gadis itu terlihat menutup matanya dan berkonsentrasi.

-tte... Maksudmu kau tidak tahu apa itu keluarga?

.

.

M-maa... Nesia no. 3-san memang hadir tanpa semua itu sih...

"Nak Kiku... Apakah aku boleh masuk?" tanya Kakek Tara memelas.

"T-tentu saja boleh, Tara-jiisan..." jawab Kiku kagok saat melihat Kakek Tara, "Tapi sepertinya Nesia-san... Dia... tertidur lagi?" jawab Kiku lagi yang kini sedikit kebingungan.

Bukankah mereka bisa berpindah tempat tanpa pingsan lagi? Kenapa mereka kembali seperti ini? Harusnya hanya kedip kan? Begitu kan?

"Oh... Begitu ya... Sayang sekali..." ucap Kakek Tara kecewa sembari berjalan mendekat.

.

.

"Mnh? Nak Nesia tidak tidur Nak Kiku..." ucap Kakek Tara lagi, "Kalau kalian sebenci itu denganku... Aku akan pergi!" lanjutnya mendramatisir.

"Iie... Iie... Kami tidak-..." bantah Kiku.

"Bahkan sampai berpura-pura tidur seperti itu..." tuduh Kakek Tara sembari menangis dibuat-buat.

"T-tara–jiisan..." Kiku menghela nafas lelah, "Nesia-san tidak-... uh..."

"Hiks..."

Kiku terpaku sesaat setelah melihat keadaan Nesia. Gadis itu telah membuka matanya. Akan tetapi bukan senyuman yang mengiringi, melainkan isakan dan elakkan yang membuat Kiku kebingungan setengah mati.

"N-nesia-san?" panggil Kiku tak yakin.

Jangan-jangan ini Pertiwi-san?

"Kenapa..." isak Pertiwi, "Kenapa senpai melakukan hal itu?!" seru Pertiwi kecewa.

Eh... P-pertiwi-san... Tara-jiisan akan...

"Nak Kiku... Hal apa yang sebenarnya telah kau lakukan? Kenapa Nak Nesia sampai menangis?" tanya Kakek Tara dengan aura ungu yang tampaknya mengundang roh jahat untuk mendekat (?).

Ah... kan...

Kiku menghela nafas lelah. Namun, sebelum Kiku mencoba menenangkan Pertiwi, gadis itu berhenti terisak dan berusaha untuk menjauhi Kiku dengan segala macam cara. Saat menyadari adanya orang lain, ia menatap dan mencoba mengenali orang itu –Kakek Tara. Sedetik kemudian gadis itu mulai bangkit dari kasurnya dan berlari ke arah Kakek Tara.

"Kakek!" serunya saat menghambur dan memeluk Kakek Tara kemudian melanjutkan isakannya.

"Perti-... Maksudku... Nesia-san?!" seru Kiku kebingungan pada tingkah Pertiwi.

Tidak. Tidak. Tadi Nesia no. 3 sudah bilang padanya bahwa seluruh alter Nesia ketakutan padanya dan hanya Nesia no. 3 yang tidak. Ini adalah apa yang akan Kiku dapatkan setelah ini; reaksi ketakutan kepadanya. Akan tetapi, kenapa juga Pertiwi malah lari ke arah Kakek Tara dan seolah meminta perlindungan dari dirinya pada Kakek stalker aneh yang sedang tersenyum mengejeknya saat ini.

Apakah Tara-jiisan ingin aku cemburu padanya? Serius?

"Kakek... Kakek..." seru Pertiwi sembari terus memeluk Kakek Tara yang akhirnya juga turut kebingungan.

"Nak Nesia... Nak Nesia tenanglah... Ada apa? Apa yang sebenarnya Nak Kiku lakukan?" tanya Kakek Tara mencoba menenangkan.

"Senpai menakutkan... Jahat... Aku takut..." isak Pertiwi lagi.

"Sudah... sudah... Tidak apa-apa... Tidak apa-apa... Ada Kakek Tara di sini..."ucap Kakek Tara lembut pada Nesia. Namun demikian, tatapannya tetap tajam meminta penjelasan dari Kiku.

-tte... Sekarang ia malah marah kepadaku?!

"E-etto... w-watashi wa nani mo shimasen... –Saya tidak melakukan apapun..."

"Ah, sou..." jawab Kakek Tara tak percaya.

"Hontou ni! –Beneran!"

"Ah, sou..." jawabnya kakek tua itu lagi dengan nada yang lebih sadis.

"Shinjite kudasai! –Percayalah!" balas Kiku jengkel.

*O*


Kiku telah memikirkannya berulang kali. Ia benar-benar berusaha untuk mengerti apa yang sedang terjadi saat ini. Namun sayang, sekeras apapun Kiku berusaha untuk mengerti keadaan, ia tetap tidak bisa memahami apapun. Ditambah lagi kantung belanjaan berat yang berada di kedua genggaman tangannya. Juga, ia harus terus bergerak cepat untuk mengejar dua orang aneh yang terus-terusan mondar-mandir tanpa arah yang jelas. Membuatnya tidak memiliki banyak waktu tenang untuk memproses satu pertanyaan simpel ini;

What the f*** is going on here?!

"Nak Nesia... Maukah kau menjadi cucuku?" ucap Kakek Tara romantis sembari mengecup punggung tangan Nesia.

Oh, ya. Kelakuan Kakek Tara yang absurd itu juga membuat Kiku bertambah bingung.

"Jadilah cucuku... Jika kau mau menjadi cucuku, aku akan belikan pakaian manapun yang kau sukai di toko ini..." ucap Kakek Tara menawarkan 'proposal-nya'.

"Ya!" jawab Nesia, –tapi Kiku tebak Alter yang saat ini bangun masih Pertiwi.

"Kalau begitu pilihlah yang kau sukai!" seru Kakek Tara penuh kemenangan.

"Ya!" jawab Pertiwi lagi dengan riang.

Namun hanya itu. Selanjutnya Pertiwi tidak melakukan hal-hal yang berbau 'memilih baju'. Ia hanya berdiri di sana, menatap Kakek Tara dengan ceria dan mata berbinar serta ikutan heboh dengan Kakek coretnorakcoret aneh itu.

"Yang ini terlalu pendek..." gumam Kakek Tara saat melihat salah satu mini-skirt, "Nak Nesia, kau tidak boleh menggunakannya!"

"Ya!" jawab Pertiwi setuju dengan riangnya.

"Kalau yang ini terlalu mencolok!" keluh Kakek Tara.

"Ya!" sahut Pertiwi lagi.

"Ih... Yang ini kekurangan bahan apa?!" seru kakek tua itu lagi sembari memandang sengit sebuah baju.

"Ya!" seru Pertiwi sembari ikut memandang sengit.

"Yang ini warnanya terlalu glamor... seperti tante cabe-cabean saja!" seru Kakek Tara sembari melempar baju yang baru di ambilnya itu.

"Ya!" ucap Pertiwi sembari ikut-ikutan melempar baju yang tadi diambil oleh Kakek Tara.

"Baju yang mengerikan, ya?"

"Ya!"

.

.

Entah mengapa, Kiku menjadi ingin kabur dan berpura-pura tidak mengenal mereka.

"Nak Kiku... Sepertinya kita harus serahkan pilihan ini kepadamu lagi!" ucap Kakek Tara serius sembari melihat ke arah Kiku.

"Ya!" ucap Pertiwi menyetujui sembari mengikuti gestur coretmenggelikancoret Kakek Tara.

"Tara-jiisan... Mou yamette kudasai... –sudahlah..." ucap Kiku lelah.

"Tidak! Ini belum cukup! Nak Nesia mau pakaian yang ada di sini!" seru Kakek Tara.

ITU ANDA YANG MENGINGINKANNYA!

Kiku mencoba untuk tidak mendengus jengkel. Ia sudah lelah. Ia sudah melakukan semua rangkaian hal aneh ini sejak Pertiwi bangun dan ia tidak bisa menghentikannya. Hal ini karena Pertiwi sama sekali tidak mau lepas dari Kakek Tara dan terus mengikutinya. Bahkan seharusnya, hari ini Pertiwi tetap beristirahat di rumah sakit, bukannya jalan-jalan di Bandara dan melakukan shopping tidak jelas sambil menunggu pesawat Kakek Tara untuk datang.

Mana ini juga masih jam 10 pagi, sedangkan pesawat Kakek Tara datang nanti malam. Apakah itu berarti Kiku harus bertahan dengan semua tingkah aneh mereka berdua seharian?!

Oke, kalau itu Pertiwi, Kiku masih bisa menganggapnya lucu dan menggemaskan. Lah, kalau yang bertingkah aneh dan kekanakkan itu adalah kakek-kakek berumur sekitar 60 tahunan? Apa nggak kesal?

"T-tara-jiisan... Nesia-san tidak peduli dengan semua pakaian-pakaian ini..." ucap Kiku datar, mencoba mengingatkan dengan sehalus mungkin.

"Kata siapa? Nak Nesia, kau mau pakaian di sini juga kan?"

"Ya!"

.

.

Oke, Fix. Biarkan Kiku tepok jidat sekarang juga.

Kiku menatap sebal ke arah Pertiwi dan langsung dibalas dengan Pertiwi yang melarikan diri dan bersembunyi lagi di belakang Kakek Tara. Kiku sungguh heran, mengapa Pertiwi selalu meng-iya-kan keinginan tidak wajar Kakek Tara seperti burung beo yang baru belajar kata 'ya'?! Apakah Pertiwi sebegitu antusiasnya menjadi cucu Kakek Tara sehingga meng-iya-kan seluruh skema gila kakek itu? Atau Pertiwi mulai belajar arti kata balas dendam? Karena sepertinya acara inilah yang kini tengah berlangsung.

"Tara-jiisan... Tolong berhenti... Ini sudah berulang puluhan kali, aku sudah memilihkan dan kita sudah membeli tujuh pakaian dan dua sepatu sejauh ini!" seru Kiku sembari mengangkat kantung belanjaan yang membuat tangannya sibuk, "Per- maksudku, Nesia-san bahkan tidak memilihnya sendiri! Nesia-san tidak peduli dengan barang-barang ini..."

"Benarkah begitu?" tanya Kakek Tara pada Pertiwi.

Pertiwi mengangguk dengan kencang, "Ya!"

"N-nak Nesia... tidak mau jadi cucuku?" ucap Kakek Tara sedih.

"Aku mau jadi cucu Kakek!" jawab Pertiwi ceria sehingga membuat semangat Kakek Tara kembali.

"Tanpa barang-barang itu? Berarti aku tidak perlu menyuapmu?" ucap Kakek Tara terharu.

-tte?! Itu yang sedang terjadi di sini?!

"Aku mau jadi cucu Kakek!" ulang Pertiwi lagi.

Kakek Tara meraih tangan-tangan mungil Pertiwi, ia masih tak percaya akan jawaban yang sangat tulus itu, "Benarkah?"

"Ya!" sahut Pertiwi sembari tersenyum lebar.

"Oh... Nak Nesia..." Kakek Tara mengelus kepala Nesia dengan penuh kasih sayang, "Nak Kiku... Kau bisa kembalikan semua itu..."

C-chotto mattaaaaaaaaa!

"Tara-jiisan... Kumohon berhentilah bercanda..." ucap Kiku mulai kehabisan kesabaran.

"Nak Nesia anak yang baik... Ia tidak membutuhkannya..." ucap Kakek Tara, "Oh... Kalau kau mau, kau boleh mengambilnya..."

Ini semuanya pakaian dan sepatu perempuan! Aku tak mungkin memakainya!

"Nak Nesia... Biarkan aku membelikanmu sebuah gelang atau kalung sebagai tanda kau masuk ke keluargaku... Habisnya aku tidak membawa gelang dan kalung peninggalan istriku... Dia sangat menginginkan anak cucunya menggunakannya... Ah ya... Nak Kiku... Atur perjalanan Nak Nesia ke Indonesia, kalau kau mau kau bisa menemaninya juga..."

.

.

Atur perjalanan.

Kiku sama sekali tidak tahu caranya.

Jangan tertawa! Selama ini ia hanya tinggal menyebutkan tujuan, kemudian secepatnya akan tersedia mobil, helikopter atau pesawat yang dipersiapkan oleh asisten pribadinya. Masalahnya, Kiku saat ini tidak mungkin menyuruh asisten pribadinya itu untuk 'memesankan tiket' ke Indonesia.

Bisa heboh satu perusahaan nanti.

Bukan, bukan karena Kiku ke Indonesia, atau karena Kiku minta dipesankan pesawat komersial untuk entah pergi ke mana. Akan tetapi, karena mereka memperhitungkan kepulangan Kiku yang akan tertunda lebih lama lagi dan jatah 'stand-by' Kiku di perusahaan yang seharusnya sudah dimulai dari Minggu lalu akan semakin terpangkas. Mereka akan lebih dari sekedar protes berat –terutama yang sering dibuat jengkel oleh ayahnya.

"Nak Kiku... Jangan bengong saja di situ! Oh, apakah kau sudah mulai memesan tiket pesawat? Ya ampun... Nanti saja! Sekarang tolong temani Nak Nesia memilih onepiece... Nak Nesia mau onepice, kan?"

"Ya!"

"Tara-jiisan... Ini akan menjadi onepiece ke tiga..." ucap Kiku sembari berusaha untuk tetap lembut dan sopan.

"Aku akan ke toko sebelah, sepertinya mereka menjual barang-barang menarik!" ucap Kakek Tara sembari ngeloyor pergi.

Yang kemudian diikuti oleh Pertiwi, sehingga Kiku tidak bisa memilihkan onepiece untuk gadis itu sesuai dengan instruksi dari Kakek Tara. Pemuda itu hanya bisa menghela nafas lelah.

Sejenak, Kiku mengerti. Ia tidak akan bisa menghentikan mereka berdua hanya dengan kata-kata. Kiku pun melepaskan kantong belanjaan yang ia bawa dan membiarkannya terjatuh di lantai bandara. Apa yang ia lakukan setelahnya adalah mencari smartphone-nya dan melakukan beberapa usapan di layar gadget canggih itu.

"Cucuku tersayang, kau mau makan siang apa? Apakah kau mau es krim?" tawar Kakek Tara.

"Ya!" Pertiwi mengangguk antusias. Matanya berbinar pada kata 'es krim'.

"Nak Kiku... Setelah kau membayar onepice tadi, carikan tempat makan yang ada es krim-nya, ya!" seru Kakek Tara tanpa melihat apa yang sedang Kiku kerjakan karena terlalu sibuk membuka dompetnya sendiri untuk mencari kartu VISA-nya, "Kita akan jalan-jalan mencari toko jewelry... mungkin agak lama, jadi setelah kau reservasi tempat makan untuk kita, jemput kita ya..."

Kalian ingin aku membiarkan kalian melalang buana berdua saja tanpa kuawasi? Kalian mau menghancurkan bandara ini atau apa?! Apalagi kelakuan kalian berdua seperti itu! Tidak, Pertiwi mungkin masih masuk akal... Tapi anda... ANDA, Tara-jiisan!

"Tidak..." jawab Kiku kesal.

"Nak Kiku..."

"Tara-jiisan..." Kiku mengangkat smartphone-nya, "Aku yang menentukan ke mana kita akan pergi selanjutnya, atau aku akan menghancurkan perusahaan anda, detik ini juga dengan memencet tombol sell ini..." ucap Kiku dingin, hilang sudah semua nada lembut dan sopan dari intonasinya, "Saa.. Erabe... –Jadi... Pilihlah..."

*O*

Pertiwi duduk dengan manis di bangkunya. Di lehernya terpasang sebuah kalung cantik dengan bandul berbentuk bunga sebagai bukti kerja keras dan upaya ekstra Kakek Tara membujuk Kiku untuk setidaknya mampir ke toko jewelry sebentar sebelum ke tempat makan. Ia kini dihadapkan pada segelas parfait yang tadi dipilihnya. Tidak pernah Pertiwi sangka, porsi parfait akan sebesar ini. Ia menjadi tidak yakin bisa menghabiskannya sendiri.

Diliriknya Kakek Tara yang tengah duduk dalam diam di sampingnya. Pertiwi ingin membagi parfait ini dengan kakek barunya itu. Akan tetapi, karena Kakek Tara tidak meresponnya, Pertiwi hanya bisa bolak-balik menoleh dengan cemas tanpa bisa menawarkan.

"Nesia-san... Kau tidak menghabiskan parfaitnya?" tanya Kiku sembari menaruh cangkir teh-nya, "Apakah gigi Nesia-san sensitif?"

Pertiwi menggelengkan kepalanya cepat sembari mulai menghabiskan parfait-nya itu dengan perlahan.

.

.

.

"Sialan, Presiden Direktur tak berperasaan... Menghancurkan momenku dengan cucuku..." bisik Kakek Tara selirih mungkin sembari mengambil cangkir teh-nya dan membuang muka ke arah jendela di sampingnya, "Tak kurestui untuk menjadi suami cucu baruku baru tahu rasa dia..."

Kiku memutar bola matanya lelah. "Setidaknya ia lebih baik daripada kakek-kakek yang tak sadar umur..." bisiknya lirih sebelum menyeruput teh-nya lagi.

.

.

"Bocah..."

"Tua..."

"Sadis..."

"Kekanakkan..."

"Kurang ajar..."

"Diragukan untuk dihormati..."

"Hiks..."

"N-nak Nesia?" Kakek Tara sontak menghentikan 'pertengkaran'-nya dengan Kiku saat gadis cilik di sebelahnya, entah mengapa mulai terisak.

"N-nesia-san..." panggil Kiku khawatir, "Umnh... Sumimasen deshita... Kita tidak sedang bertengkar kok... "

"Uh... Ya... Maafkan kakek dan Nak Kiku... Kita tidak sedang bertengkar, beneran deh..."

"Tapi... Tapi... Kakek marah pada Honda-senpai... dan Honda-senpai juga marah pada Kakek..."

"I-itu karena dia tahu-tahu sudah mengambil saham sebanyak itu dan ia berencana mengkolapskannya hanya karena kita bersenang-senang..." Kakek Tara membela dirinya.

"Aku harus melakukannya agar anda tidak berbuat hal-hal yang aneh..."

"Apakah kau gila? Perusahaan itu menyangkut hajat hidup orang banyak!"

"Anda bisa menyelamatkan mereka jika anda tidak berbuat hal-hal absurd..."

"Lihat Nak Nesia? Ini... Ini yang membuat semuanya rumit... Lagian kenapa kau harus menguasai saham sampai sebanyak itu?! Dapat dari mana... Siapa yang berani menjualnya kepadamu?!"

"Aku punya caraku sendiri... Dan, ya... Aku butuh menguasai sebanyak ini agar anda mau mendengarkanku... Ini juga balas dendamku karena anda membobol server kemarin..."

"Oh... Jadi Tuan Presiden Direktur ini berani juga, ya..."

"Dengan segala hormat, Tuan Chairman..."

"Ahahahahahaha..." Kakek Tara tertawa dengan aneh, ia merasa tertantang setelah sekian lama tak ada orang yang berani menantangnya secara terbuka seperti Kiku.

"Ohohohohohoho..." Kiku membalas dengan tawa yang licik, ia sudah mempersiapkan banyak cara untuk mengantisipasi Kakek Tara.

"Hiks... Kan... Hiks... Kalian bertengkar..." isak Pertiwi sedih.

"N-nak Nesia... Tidak... kami... Kami cuma bercanda... Ya, kan Nak Kiku?" seru Kakek Tara gelagapan.

"I-itu benar, N-nesia-san..." ucap Kiku kagok.

Kakek Tara dan Kiku saling melirik penuh arti, mereka mengirimkan sinyal perdamaian sementara dengan tidak rela.

Untuk sekarang, kita gencatan senjata... – Kakek Tara

Tidak ada pilihan lain... Baiklah, kita gencatan senjata... – Kiku

"Kalau begitu... Habiskan es krim ini bersama-sama, ya..." pinta Pertiwi manis pada Kakek Tara dan Kiku.

"U-un..." jawab Kiku sembari tersenyum lembut dan malu.

"Aaa..." ucap Pertiwi sembari menyuapi es krim parfait kepada Kakek Tara yang menerimanya dengan senang hati.

Pertiwi kemudian menyendokkan es krim untuk dirinya sendiri, kemudian untuk Kakek Tara lagi, dan begitu seterusnya sampai Kakek Tara menyadari bahwa Nesia tidak menyuapi Kiku dan membiarkan pemuda itu menggunakan sendok teh-nya sendiri untuk ikut membantu menghabiskan es krim parfait Nesia, "Kau tidak menyuapi Nak Kiku, Nak Nesia?"

"Uh..." Pertiwi mengedipkan matanya kaget. Sedangkan Kiku hanya bisa membeku.

.

.

.

"Nggak usah malu-malu..." ucap Kakek Tara, "Aku malah senang kalau melihat kalian intim..." lanjutnya lagi.

"Intim?" tanya Pertiwi bingung, ia tak tahu arti kata itu. Sedangkan Kiku malah tersedak dan mulai terbatuk-batuk.

"Iya... Ayo suapi Nak Kiku..." ujar Kakek Tara mendorong Pertiwi yang malah dibalas dengan gelengan kuat.

"Tidak?" tanya Kakek Tara bingung, "Loh? Ada apa dengan kalian? Kalian bertengkar lagi?"

"Tidak..." jawab Kiku yang bersamaan dengan Pertiwi yang malah menjawab, "Ya..."

Pertiwi-san... Aku tahu kau memiliki kosakata lain selain 'ya'!

Kakek Tara yang lebih mendengarkan jawaban Pertiwi langsung melayangkan pandangan meminta penjelasan kepada Kiku. Kali ini kakek tua itu serius, dan Kakek Tara yang serius adalah seorang Chairman veteran dan profesional yang membuat Kiku berasa tengah mempertanggungjawabkan kebijakannya pada Chairman Group-nya sendiri.

"Saya marah karena Nesia-san menyebutkan nama laki-laki lain... Dan sepertinya ia lebih bergantung padanya daripada pada saya..." jawab Kiku singkat, padat dan langsung pada alasan tindakannya yang membuat Pertiwi dan seluruh alter lainnya ketakutan padanya. Ia tidak akan memutar-mutar dan mencari aman jika sudah berhadapan dengan sikap seperti yang Kakek Tara tunjukkan.

Kini giliran Kakek Tara yang meminta penjelasan kepada Pertiwi dengan tatapan yang sama. Sayangnya, Pertiwi yang polos tidak mengerti maksud 'pandangan' itu seperti Kiku memahaminya. Pertiwi hanya berkedip memandangi Kakek Tara sembari mengemut sendok parfait-nya.

"Kenapa Nak Nesia menyebut nama laki-laki lain? Bukannya ada Nak Kiku?"

"Hmm..." Pertiwi tidak langsung menjawab, ia melihat ke arah Kiku dan berpikir sebentar, "Soalnya... Nesia waktu itu, yang ia-aku kenal dengan baik hanya Au-... Uh, laki-laki itu..." jawab Pertiwi tidak tenang. Gadis itu terus-terusan melirik Kiku. Ia takut, apalagi tadi ia hampir menyebutkan nama laki-laki lain itu.

"Apakah ini sebelum kalian saling kenal?" tanya Kakek Tara lagi.

"Iie... Ini kejadian kemarin... Nesia-san bertemu kembali dengan teman lamanya... Lalu pada saat Nesia-san takut akan petir, yang dipanggil adalah nama teman lamanya itu..." jelas Kiku datar yang malah ditanggapi dengan tatapan are-you-seriously-nuts?!- oleh Kakek Tara.

"Lalu kau melakukan apa?" tanya Kakek Tara mulai menguliti Kiku yang langsung panas dingin.

Kenapa harus Kakek Tara yang serius sangat ahli membaca dirinya?! Kenapa ia tahu kalau masalah mereka tidak berhenti di situ saja?! Kalau sudah begini akan sangat sulit! Mana mungkin Kiku jujur dan bilang kalau dia lepas kendali kemudian...

"Honda-senpai melakukan... Sekual hamasmen..." celetuk Pertiwi polos dan tidak paham, "Kata Kak... uh... Pokoknya, katanya itu sekual hamasmen..."

.

.

"Sexual harassment?" ulang Kakek Tara sembari melirik Kiku yang mulai memainkan cangkirnya dengan nervous.

"K-kore wa..." entah mengapa, Kiku merasa ia harus menyelamatkan diri. Akan tetapi, ia tidak menemukan jalan kabur manapun.

"Apa saja yang sudah dilakukan Nak Kiku, Nak Nesia?" tanya Kakek Tara sembari tersenyum penuh arti ke arah Kiku.

"Hmm..." Pertiwi berpikir sejenak, "Pokoknya..." gadis itu kemudian berdiri dari tempat duduknya kemudian berpindah ke samping Kiku, "Honda-senpai melakukan ini..."

Jantung Kiku hampir copot saat Pertiwi menyudutkannya di tembok di samping ia duduk. Kedua tangan Pertiwi menguncinya di kanan-kiri Kiku. Saat salah satu tangan mungil Nesia menangkup kedua sisi pipi Kiku, saat itu pulalah Kiku merasa sangat-sangat panik. Sedangkan Kakek Tara hanya bisa terpaku melihat Nesia (Pertiwi) mempraktekkan apa yang kemarin dilakukan oleh Kiku padanya.

Pertiwi menempelkan bibirnya ke bibir Kiku.

"Hng!" Kiku sontak menutup mulutnya rapat-rapat. Ia juga otomatis menahan nafasnya dan menahan tubuh Pertiwi. Inginnya ia menegur Pertiwi yang kelewat polos. Namun Pertiwi benar-benar berdedikasi untuk mempraktekkan apa yang Kiku lakukan pada Kirana; membungkam mulut dengan paksa, dengan mulutnya.

Ya, itu yang Pertiwi lakukan. Pertiwi mana tahu maksud lainnya.

"Nak Nesia... Kalau kau masih berniat melanjutkan itu, Nak Kiku akan segera kehilangan kesadarannya..." ucap Kakek Tara sembari menaikkan alisnya.

"Hmm? Apakah aku keterlaluan melakukannya?" tanya Pertiwi polos sembari menoleh ke Kakek Tara tanpa menggeser posisinya yang menurut Kakek Tara sangat 'menyerang'.

"Ya... dan Nak Nesia bisa kembali lagi ke sini dan habiskan parfait Nak Nesia..." ucap Kakek Tara dengan intonasi yang aneh.

"Pokoknya seperti itu..." ucap Pertiwi sembari kembali duduk di samping Kakek Tara.

"I-iya... Kakek paham... Nak Kiku menutup mulut Nak Nesia dengan paksa..." ucap Kakek Tara kagok. Namun ia cukup heran pada Nak Nesia yang di umurnya sekarang, sepertinya tidak tahu bahwa yang ia lakukan adalah sebuah gestur yang sangat... bermakna.

Pertiwi mengangguk senang karena Kakek Tara telah mengerti, "Honda-senpai waktu itu sangat menakutkan... Nesia tidak bisa menggambarkannya... Aku sangat-sangat ketakutan waktu itu... jantungku berdetak sangat cepat..."

"I-iya... iya..." Kakek Tara mencoba menyudahi Pertiwi yang tampaknya semakin gencar melaporkan apa yang telah terjadi. Sesaat ia melirik ke arah Kiku yang tampaknya sedang sangat sibuk memutihkan kembali mukanya yang merah padam.

Kakek Tara kira, harga diri Kiku sangat terluka saat ini.

"Nak Kiku... Sebaiknya kau minta maaf..." ucap Kakek Tara datar, ia kira mereka sudah sama-sama impas karena barusan Nesia membalas perlakuan Kiku dengan sangat kejam.

Yah, kau membicarakan Nesia yang dengan entengnya mencium Kiku tanpa perasaan apa-apa, sedangkan Kiku butuh mencium Nesia karena rasa cemburu yang membakar. Bukankah ini sama saja dengan bertepuk sebelah tangan dengan cara yang menyedihkan?

"Maaf..." ucap Kiku lirih, namun masih bisa didengar oleh Pertiwi, "Maaf karena sudah menakutimu..." ucap Kiku lagi sembari mengangkat kepalanya dan menatap Pertiwi dengan bersungguh-sungguh.

"Nak Nesia mau memaafkannya, kan?" ucap Kakek Tara sedikit harap-harap cemas. Beliau berpikir bahwa Nesia pasti cukup kecewa karena Kiku tidak sehalus dan sedewasa yang terlihat. Nesia harus merasakan ego dan 'kekasaran' Kiku. Akan tetapi sebagai seorang laki-laki, Kakek Tara tak menyalahkan Kiku sepenuhnya. Ia tahu bagaimana rasanya terlanjur cinta dan terlanjur terobsesi pada seseorang.

"Ya!" ucap Pertiwi lugu dan ringan yang refleks membuat Kakek Tara meringis sakit. Kakek Tara tidak bisa tidak melihat ekspresi Kiku walaupun ia tahu kalau ia melihatnya ia akan merasa bersalah dan sakit.

Karena Kakek Tara berpikir, kalau Nesia memiliki rasa kepada Kiku, setidaknya Nesia akan sedikit gamang untuk memaafkannya, bukan? Dimaafkan semudah ini, dengan ceria, dan tanpa kata 'tapi', bukankah secara tidak langsung Nesia sedang menyatakan bahwa ia tidak memedulikannya sama sekali?

Namun saat Kakek Tara melihat Kiku, yang ditampakkan oleh wajah Kiku adalah senyum yang sangat lembut dan penuh syukur serta kelegaan. Tidak tampak kekecewaan ataupun tanda tanya karena ia bisa dimaafkan begitu mudahnya seperti tak terjadi apa-apa.

.

.

"Nak Kiku... Berjuanglah..." ucap Kakek Tara sembari memijat pelipisnya, "Aku mendukungmu... Dan maafkan tindakanku, Nak Hong dan Nak Yong Soo kemarin... Kau pasti sangat tersiksa..." Kakek Tara mulai membayangkan bagaimana perasaan Kiku, nervousnya Kiku dan sakit hatinya Kiku saat mereka dikunci berdua saja. Kakek Tara mengira Nesia yang sepertinya tidak mempertimbangkan Kiku ini pasti membuat Kiku sangat kecewa karena tidak merasakan canggung, malu atau apapun yang bisa Kiku gunakan sebagai harapan untuk mungkin satu saat mendapatkan Nesia.

Kakek Tara mengingat lagi, bahkan Kiku tadi malam secara tidak langsung mengatakan akan mempertaruhkan perusahaannya demi keselamatan Nesia. Itu berarti, Kiku sudah sangat mencintai Nesia dan rasa sakitnya pasti akan berlipat-lipat ganda.

"Maaf... Benar-benar maaf... Aku bahkan tak membantumu sama sekali..."

"E-etto... Sumimasen?" Kiku mengernyit bingung.

.

.

.

"Nak Nesia..."

"Ya, Kakek?" jawab Pertiwi ceria dan antusias.

"Dengarkan aku baik-baik, oke?" ucapnya serius yang membuat Pertiwi meletakkan sendok Parfait-nya dan sekaligus mencuri perhatian Kiku, "Di depanmu ini adalah seorang pria yang sangat baik..." ucapnya sembari menghadapkan Nesia ke arah Kiku dan membuat Kiku tertegun.

"Kau harus cepat sadar..." ucap Kakek Tara lembut, "Pria-" ucap Kakek Tara lagi, memilih dan menekan kata itu dengan kuat, "–seperti Nak Kiku itu sangat jarang... bahkan belum tentu muncul 100 tahun sekali..."

E-etto... T-tara-jiisan?

Kiku merasa tersanjung dan berterimakasih karena telah di promosikan ke Nesia (Pertiwi). Sayangnya Pertiwi mana paham tentang semua ini. Ingin Kiku menghentikan kakek Tara dan menjelaskan bahwa Kakek Tara tidak perlu mengkhawatirkan hal ini. Akan tetapi, sebelum Kiku sempat memotong Kakek Tara ia menjadi terdiam karena perkataan Kakek Tara selanjutnya.

"Apalagi dia sangat-sangat menyayangimu..." ucap Kakek itu dengan penuh kelembutan yang bahkan membuat hati Kiku trenyuh.

Karena itu benar adanya.

Kiku hanya bisa menundukkan mukanya yang kembali memerah. Ia merasa... Ia tidak tahu harus menyebut apa perasaan ini. Hatinya sedikit merasa sesak, matanya memanas. Ia merindukan Nesia di dekapannya, sekarang.

"Ya!" seruan Pertiwi lumayan mengagetkan Kiku dan kakek Tara, " Aku juga sangat sayaaaaaaaaaaaang sama Honda-senpai!" seru Pertiwi ceria dan kekanakan.

"Pfft... Ahahahahahahaha!" Kiku tertawa lepas saat mendengarnya.

Sangat jarang. Sangat teramat jarang. Bahkan Ludwig dan Feli pun, Kiku tak yakin, pernah melihatnya tertawa lepas seperti ini. Ia tak tahu kenapa, akan tetapi ia sangat ingin tertawa saat ini. Kiku sama sekali tidak tahu dari mana dorongan untuk tertawa ini berasal. Mungkin karena Pertiwi yang sangat polos dan jujur. Mungkin karena Kiku bahagia mendengarkan kata sayang dari Pertiwi. Mungkin... Entahlah... Kiku tidak bisa menebaknya.

Kakek Tara yang tadinya akan marah karena menganggap Nesia malah bercanda di saat-saat seperti ini, hanya bisa menoleh heran ke arah Kiku. Ia bahkan mengira Kiku sudah rusak karena patah hati. Ditatapnya bergantian, Kiku yang mencoba untuk tenang dan Pertiwi yang kebingungan.

"Nak Nesia... Kalau kakek bilang, untuk menjadi cucu kakek kau harus menikah dengan Kiku... Kau masih mau menjadi cucu Kakek?" tanya Kakek Tara setengah bergumam, namun cukup untuk kembali menarik perhatian Kiku dan memerahkan muka pemuda Jepang itu lagi.

.

.

.

"Menikah itu apa?" tanya Pertiwi polos.

.

.

.

Kakek Tara hanya bisa menatap Kiku nanar sembari meminta maaf tanpa kata-kata. Dikiranya Nesia berusaha menghindari pertanyaan itu dengan berpura-pura tidak tahu. Tapi mana ada anak Senior High yang tidak tahu arti kata menikah? Kalau bukan menolak, lantas apa lagi yang bisa diartikan dari kalimat tanya itu.

Sedangkan Kiku hanya tersenyum lembut menghadapi kocaknya wajah Nesia dan Kakek tara saat ini. Wajah yang sama-sama bingung atas reaksi lawan bicara mereka.

"Tara-jiisan..." panggil Kiku dengan suaranya yang menenangkan, "Jangan khawatir... Ini tidak seburuk yang Tara-jiisan pikirkan..." ucapnya sembari tersenyum lembut.

Namun, bukannya merasa lega wajah Kakek Tara malah terlihat semakin khawatir. Mungkin, Kakek Tara pikir Kiku tengah berubah menjadi seorang masochist.

"Masih banyak waktu..." lanjut Kiku lagi sembari menatap Pertiwi dengan sangat hangat dan penuh kasih sayang.

Tatapan itu membuat Kakek Tara terdiam dan menyerah. Ia menangkap maksud Kiku yang memintanya untuk tenang dan mundur karena ini sudah masuk ke ranah pribadinya –pribadi mereka.

Ya, lagi pula memang masih banyak waktu.

*O*

"Nak Nesia... Nak Nesia..." Kakek Tara membangunkan Nesia yang ketiduran menyender di lengannya, "Pesawatku sudah hampir sampai..." Kakek Tara tersenyum saat melihat Nesia perlahan membuka matanya.

"Nak Kiku sedang mencari kopi..." lanjutnya lagi.

Gadis itu hanya terdiam mendengarnya. Ia tidak bergerak bahkan dari menyender di lengan Kakek Tara. Kakek Tara kira Nesia terlalu kelelahan sehingga ia tidak seaktif tadi, padahal yang kali ini terbangun adalah Inesia.

"Nak Nesia... Kemarin aku berbicara pada Nak Kiku untuk menjadikanmu cucu angkatku... Tapi ia bilang semuanya tergantung pada jawaban Nak Nesia..." ucap Kakek Tara hati-hati, "Itu sebabnya seharian ini aku memintamu menjadi cucuku terus..."

"Dulu... Aku memiliki sebuah keluarga... Tapi aku menghancurkan mereka karena perusahaanku..." ucap Kakek Tara datar, "Sekarang perusahaanku hampir hancur... Mungkin ini karma... Akan tetapi aku di dalam posisi tidak bisa menerima kehancurannya... Karena, kau tahu... Banyak orang yang menggantungkan hidupnya di perusahaan itu..."

"Nak Nesia boleh menertawakanku... Tapi aku membutuhkan bantuan Nak Nesia agar perusahaan itu tetap hidup..." ucapnya lagi, "Bukan demi diriku..."

"Tapi... itu bukan satu-satunya alasan mengapa aku mau mengangkat Nak Nesia menjadi cucu..." sambung Kakek Tara lagi, "Saat pertama kali melihat Nak Nesia di makan malam itu... Entah mengapa hatiku merasa, 'gyuuuuuuuut' gitu... Rasanya sesak..." lanjut Kakek Tara, kali ini dengan sedikit sendu.

Ia mengingat, ia sedang duduk dan bercakap-cakap dengan Roman pada malam itu. Kemudian pintu ruangan terbuka dan beberapa anak muda mulai memasuki ruangan. Matanya tertuju pada satu-satunya gadis kikuk di antara para pemuda yang saling melemparkan candaan –terutama yang rambutnya perak.

Mulai dari detik itu, Kakek Tara merasa tidak pernah tenang lagi. Ia selalu ingin melihat Nesia. Ketika Nesia tersenyum, sedih, tertawa, kebingungan, bahkan bertengkar dengan Kiku atau bahkan saat gadis itu terburu-buru dan panik saat berangkat sekolah.

Kakek Tara berusaha untuk tetap tenang dan tegar, tapi entah mengapa ia merasa ia akan hancur malam ini. Ia akan hancur saat menceritakan perasaannya pada seorang gadis Senior High. Mata tuanya yang mulai rabun berkaca-kaca. Beberapa titik air mata mulai terbentuk dan hidungnya mulai berair seperti sedang flu. Tapi ini tidak mungkin flu, bukan?

Kakek Tara mengambil nafas dalam-dalam sembari menghapus air matanya. "Dulu... Aku pernah bertemu dengan seorang anak perempuan di sanggar tari di dekat rumahku... Anak perempuan itu sangat berbakat... Namun dia sering melamun dan kosong... Para guru dan teman-temannya memanggilnya Pertiwi karena saat ia menari, ia bagaikan dewi Pertiwi..."

"Beberapa Minggu, aku hanya terkagum melihatnya... Sampai suatu hari aku melihatnya berjalan-jalan sendiri... Dan mungkin karena ia suka melamun, ia terjatuh dengan sangat tidak elit..." Kakek Tara mulai tersenyum saat mengingat-ingat kejadian itu, "Padahal ia dijuluki seorang dewi, tapi berjalan dengan jarik saja dia jatuh sampai bergulung-gulung..."

"Karena aku khawatir dengannya, aku pun membantunya... Tapi percayakah? Anak itu tidak tahu terimakasih..." seru Kakek Tara menyuarakan keheranannya, "Dia benar-benar tidak tahu cara berterimakasih... Oleh sebab itu, aku jadi menceramahinya selama beberapa jam dan setelah itu ia berterimakasih padaku... Dan ia juga berterimakasih padaku karena sudah mengajarinya..."

"Pertemuan kita berikutnya tidak pernah tidak saling menyapa lagi... Perlahan, gadis cilik itu berubah menjadi lebih ceria dan aktif... Ia selalu bahagia saat aku datang melihatnya, tapi akulah yang lebih bahagia bahkan saat hanya berencana mengunjunginya..." lanjut Kakek Tara sembari tersenyum lembut, "Gadis itu tidak menceritakan banyak hal, namun entah mengapa ia yang selalu mendengarkanku... Aku sangat menikmati mengerjainya dengan kata-kata yang sulit karena ia pasti akan mengulanginya dengan cara yang lucu... Bahkan kata-kata menyebalkan yang biasanya selalu disebutkan di ruang rapat atau di berkas-berkas menyebalkan itu berubah menjadi senyuman saat aku menemukannya..."

"Suatu hari, aku mendapatkan masalah dengan keluarga jauhku yang berada di Thailand... Dan aku juga harus berurusan dengan cucu yang pada waktu itu, menyebutkannya adalah hal yang sangat tabu di kalanganku..." kakek Tara memandang jauh ke arah landasan pacu, sebuah pesawat tengah dalam proses take-off pun menjadi perhatiannya. Mata Kakek Tara terus mengikuti gerak pesawat tersebut sampai burung besi tersebut menghilang dari jangkauan.

"Aku menggunakan cucuku itu sebagai alat untuk negosiasi dengan mereka... Waktu itu aku sungguh tidak peduli, apa yang akan terjadi padanya, bagaimana masa depannya kelak, atau apakah ia bahagia... Aku sama sekali tidak urusan... Aku benar-benar membencinya..." ucap Kakek Tara, "Aku pernah berpikir... Seandainya Pertiwi adalah cucuku dan bukan seorang anak kecil yang aku tidak tahu seperti apa dia kecuali kabar buruk tentangnya... Aku pasti akan bahagia..." lanjutnya lagi, kali ini sembari menepuk lembut lengung tangan Inesia yang berada di pangkuannya.

"Maka, sebelum aku berangkat ke Thailand untuk mengurus masalah dan mengantarkan cucuku sebagai formalitas, aku mengunjungi Pertiwi sekali lagi..." ucap Kakek Tara sembari mulai memijat pangkal hidungnya dan mengambil nafas dalam-dalam, "Aku bercerita padanya tentang cucuku yang selalu buruk di mataku ini kepadanya... Aku bercerita padanya tentang negosiasi yang akan membuat cucuku itu pergi jauh... Dan aku bertanya padanya, apakah ia mau untuk menjadi cucuku... Karena, aku akan lebih bahagia jika ia yang menjadi cucuku, dan memang dialah yang lebih pantas menjadi cucuku..."

.

.

"Tapi dia hanya diam... Dia hanya mematung... Karena aku memiliki janji rapat, aku pun buru-buru membuatnya berjanji untuk memberikan jawabannya saat aku kembali dari Thailand... Saat aku telah menyelesaikan semuanya, dan menyingkirkan cucuku... Itulah yang saat itu aku pikirkan..."

"Di Thailand aku berusaha untuk menyelesaikan semuanya secepat mungkin... Aku menolak untuk menemui cucuku yang terus meminta untuk menemuiku, mungkin ia ingin penjelasan atau apa aku waktu itu tidak peduli..." ucap Kakek Tara dengan nada yang bergetar hebat.

Inesia masih diam saja, namun kali ini ia menggenggam tangan Kakek Tara yang tadi menepuk punggung tangannya dengan lembut. Hal ini cukup menguatkan Kakek Tara, membuatnya memiliki sedikit waktu lagi sebelum benar-benar hancur.

"Aku ingin segera pulang... menemui Pertiwi... mendengarkan jawaban... Itu saja..." air mata Kakek Tara mulai berjatuhan.

.

.

"Tapi... Pada akhirnya... Aku tidak pernah mendapatkan jawaban dari Pertiwi..." lirih Kakek Tara di antara senggukannya, "Pertiwi menghilang... Dan tidak ada yang tahu ke mana anak itu pergi..."

"Aku mencarinya ke mana-mana... Aku mencarinya ke seluruh penjuru Indonesia... Tapi aku tak menemukannya..." lanjutnya sembari semakin kencang menggenggam tangan Inesia.

Inesia hanya bisa membalasnya dengan menepuk dan mengelus tangan Kakek Tara yang menggenggamnya dengan kuat. Ia menyusuri urat-urat yang menonjol di tangan tua Kakek Tara, menelusuri pembuluh darah yang terlihat kontras dengan kulit kendurnya.

"Aku tidak sadar... Bahwa aku sendirilah yang telah menjauhkannya dari diriku..." ucap Kakek Tara getir, "Bahkan aku melakukannya dua kali..."

.

.

"Pernikahan anakku... Dirgantara..." Kakek Tara berhenti bercerita, ia tidak sanggup ketika harus mengungkit tentang Dirgantara. Ia tidak pernah bisa berhenti merasa bersalah pada saat nama anaknya itu muncul.

Kakek Tara, setelah ia tahu semua laporan tentang istri Dirgantara adalah palsu, selalu saja berakhir menyalahkan dirinya sendiri. Bahwa anaknya meninggal, adalah karena kesalahan dirinya. Hidup anaknya tidak berakhir dengan bahagia. Tidak ada Happily Ever After yang selalu ia bacakan di akhir cerita saat ia mendongeng pada pangeran kecilnya itu.

Dan semua itu adalah kesalahannya.

Inesia yang mengerti bahwa ini adalah masalah yang sangat berat bagi Kakek Tara melepaskan genggaman tangannya. Ia bangun dari menyender pada lengan Kakek Tara dan beralih untuk mendekap kakek tua itu dengan hangat dan kuat.

Mendapat pelukan dari Nesia, Kakek Tara tidak bisa lagi menahan tangisnya.

Untung saja, malam itu waiting room lumayan sepi. Beberapa orang memang menoleh, namun mereka hanya mengira bahwa acara lepas rindu yang biasa terjadi di bandara tengah terjadi.

Sembari menunggu Kakek Tara mereda, Inesia berusaha untuk mengatur nafasnya. Ia berusaha keras untuk mengeraskan hatinya dan wajahnya. Ia berusaha untuk tetap tenang dan diam.

"Pernikahannya... Berakhir menjadi tragedi..." bisik Kakek Tara lemah, "Itu di Den Haag... 10 tahun yang lalu... Mobilnya... Entah mengapa keluar dari jalur dan menabrak pembatas jalan... kemudian jatuh ke jurang... Itu bukan jurang yang dalam... Tapi Dirgantara..."

Kakek Tara tidak melanjutkan ceritanya. Ia hanya semakin kuat memeluk tubuh Nesia yang tetap bergeming. Inesia mulai mengelus punggung Kakek Tara. Mencoba menenangkan tubuh ringkih nan sepuh itu.

.

.

"Dirgantara... Tidak selamat... Tapi anaknya... cucuku... Dia selamat..."ucapnya tersendat-sendat karena sekarang ceritanya berlomba dengan tangisnya, "Tapi aku... membuangnya... Aku tidak mau menerimanya... Aku..."

"Aku membayar seseorang untuk membawanya... Seseorang yang sangat acak, tidak kukenali tapi sangat membutuhkan uang... Cucuku sudah hilang di keesokan harinya... Orang-orangku bilang bahwa ia juga telah meninggal... Tapi aku tahu satu hal, cucuku tidak meninggal... Aku yang membuangnya... Dan ia tidak akan pernah kembali lagi... Aku sangat puas waktu itu..."

.

.

"Aku Kakek yang jahat, kan?" tanya Kakek Tara penuh dengan keironisan, "Setelahnya, setelah aku tahu bahwa cucu yang kubuang itu adalah Pertiwi... Aku harus membayarnya dengan penyesalan seumur hidup..."

"Aku sempat histeris saat mengetahuinya... Banyak terapis didatangkan untuk menenangkanku... Terutama saat aku ingin mencari cucuku itu... Aku tahu itu mustahil, aku harus menyisir satu dunia untuk mencari satu anak kecil... Apalagi seluruh orang-orangku meyakini bahwa cucuku telah meninggal bersama dengan ayahnya... Semua mengira aku mulai gila karena kehilangan seluruh keluargaku... Dan mereka mulai meninggalkanku..."

.

.

.

"Aku menyangsikan kau masih mau menjadi cucuku setelah mendengar semua ini... Tapi... Au benar-benar membutuhkanmu, Nak Nesia..." ucap Kakek Tara lagi, "Mereka mulai meninggalkanku, yang jahat berkumpul... Yang baik tidak pernah tahu bahwa mereka akan segera dihancurkan... Perusahaan ini akan segera hancur jika posisiku tidak kuat... Apa yang akan membuat posisiku bertambah kuat, adalah jika kau mau menjadi cucuku dan mewarisi seluruh perusahaanku serta menjalankannya..."

"Tapi kali ini bukan demi ambisiku... Aku sudah menyerah dengan semua ambisiku... Kali ini... Aku hanya tidak ingin hidup ratusan ribu orang... Tidak... Kehidupan satu negara menjadi kolaps..." ucap Kakek Tara, "Jika aku tidak bisa mempertahankan perusahaanku... Berarti aku juga ikut membawa negaraku untuk jatuh karena tragedi 10 tahun silam bersama denganku... Dan aku rasa itu tidak adil bagi orang-orang awam yang tidak tahu apapun..."

"Mereka tidak tahu... Kehidupannya akan segera dihancurkan karena kebodohanku yang dulu..."

-Triiiiiiiiing-

This is the boarding call for Garuda Indonesia, flight GA-...

"Ah... Itu sepertinya pesawatku..." gumam Kakek Tara sembari melepaskan Nesia dan menghapus air matanya, "Aku tahu aku tidak bisa dimaafkan... Tapi, Nak Nesia... Ketika aku menemukanmu, aku melihat kesempatan untuk menyelamatkan mereka yang masih bisa diselamatkan... Karena itulah... Tolong, beri aku kesempatan..." ucap Kakek Tara memohon, "Maukah kau menjadi cucuku?"

.

.

.

Inesia hanya bisa diam dan mematung seperti apa yang dilakukannya 10 tahun silam saat orang yang sama menanyakan hal yang sama ini juga. Inesia tidak bisa menjawabnya bukan karena Inesia tidak mau.

Siapa yang Kakek Tara inginkan sebagai cucu adalah Pertiwi, bukan dirinya.

Seharian ini, yang menemani Kakek Tara pun adalah Pertiwi, bukan dirinya.

Mereka orang yang sama. Ya, Inesia paham akan hal ini.

.

.

.

Inesia mendongakkan kepalanya, menatap langit-langit, mencari jawaban. Ia menenangkan dirinya sembari membersihkan tenggorokannya. Mempersiapkan diri.

"Ya! Aku mau jadi cucu Kakek!" serunya riang, sempurna meniru Pertiwi tadi pagi.

Kakek Tara yang terharu langsung memeluk Nesia dengan erat. Diucapkannya kata terimakasih berulang kali sampai-sampai tak terhitung lagi. Saat Kakek Tara melepaskan tubuhnya, Inesia tersenyum ceria, seceria senyum Pertiwi yang biasanya.

"Tapi yang menikah itu nanti bagaimana?" celetuk Inesia sepolos Pertiwi tadi pagi, ia menjatuhkan kepalanya ke samping seolah-olah tidak mengerti.

Kakek Tara tertawa mendengarnya, "Itu sih, Nak Nesia yang memutuskan..." ucapnya sembari menepuk kepala Inesia dengan lembut, "Nanti tanya saja sama Nak Kiku, ya?"

"Ya!" jawab Inesia riang.

"Ngomong-ngomong di mana nih Nak Kiku? Beli kopi saja lama amat..." keluh Kakek Tara, "Masa aku mau meninggalkan Nak Nesia sendirian tanpa bodyguard-nya?" canda Kakek Tara lagi, "Jangan-jangan dia mampir di restroom terus sembelit lagi... Mungkin itu karma bagi bocah yang berani menantang orang yang lebih tua..."

"Ehm... Osokunatte sumimasen... –maaf terlambat..." tegur Kiku dari belakang Kakek Tara.

"Ah... Ini dia..." seru Kakek Tara menyambut Kiku, "Dia sudah bilang 'iya'... Berarti mulai sekarang kita bekerja sama..."

"H-hontou desu ka?" tanya Kiku tak percaya.

"Kalau begitu, Tuan Presdir... Tolong jaga Tuan Putriku ya..." ujar kakek Tara sembari menepuk kepala Kiku dengan penuh kasih sayang, "Nak Nesia... Sampai ketemu lagi... Aku akan mengabarimu lebih lanjut..." Kakek Tara memandang teduh Nesia dan meninggalkan sebuah kecupan kupu-kupu di kening Nesia, "Jaga dirimu... Aku menyayangimu..."

-Dheg-

.

.

"Nak Nesia?"

"U-uh... Ya?" Inesia hampir lupa kalau ia harus menjawab, "Hati-hati di jalan ya, Kakek! Aku juga sayang Kakek!" serunya riang.

-Dheg-

"Ih... Malam-malam masih saja full energinya... Enaknya yang masih muda..." goda Kakek Tara pada Nesia dan Kiku.

-Dheg-

"Kalau begitu aku pulang dulu, ya..." seru Kakek Tara sembari melambaikan tangannya.

"Ya! Hati-hati!" seru Inesia, berusaha sangat keras untuk riang.

-Dheg-

Kiku sendiri membungkukan badan, memberikan hormat layaknya kebanyakan orang Jepang sebelum mulai melambaikan tangannya untuk mengantarkan Kakek Tara.

-Dheg-

Kiku yang pertama menurunkan tangannya, ia tersenyum lembut pada Nesia yang masih semangat melambaikan tangan sampai mereka benar-benar kehilangan Kakek Tara yang telah membaur dengan orang lain. Setelah Nesia menurunkan tangannya, barulah Kiku mengajaknya pulang, "Kaerimashu yo... Pertiwi-san..."

-Dheg-

.

.

.

-Tes...-

"P-pertiwi-san? N-nakanaide kudasai..." seru Kiku panik karena melihat Pertiwi yang mulai menangis, "Tara-jiisan hanya pulang ke rumahnya... Uh... Pertiwi-san tadi bilang mau jadi cucunya Tara-jiisan kan? Nanti Tara-jiisan akan kembali... Makanya... Jangan..." Kiku berhenti membujuk Pertiwi yang menangis secara tiba-tiba.

Apa yang membuat Kiku berhenti adalah ia melihat cara menangis Pertiwi (Inesia) yang terlihat sangat menyakitkan. Ia sama sekali tidak mengatakan apapun yang menjadi kesedihannya. Tidak bersuara bahkan gadis itu menahan sesenggukannya. Tubuhnya bergetar hebat, dan Kiku kira Pertiwi (Inesia) bisa tumbang kapan saja.

"Pertiwi-san...?" Kiku mengernyitkan keningnya dan mulai menghapus air mata di pipi Inesia.

Sesaat hatinya bagaikan dihujam puluhan tombak. Kiku tidak sanggup. Tidak, ia sama sekali tidak suka dengan cara Pertiwi (Inesia) menangis kali ini, "Pertiwi-san..."

"Honda-senpai..." panggil Inesia lirih.

"Hai?"

Bisakah kau memelukku?

Kata-kata itu hanya terngiang di hatinya. Inesia tidak berani memintanya. Apa yang Inesia lakukan akhirnya adalah menunduk, "Beri Pertiwi waktu, yah?" ucapnya semirip mungkin dengan Pertiwi.

"Oh... Pertiwi-san..." Kiku yang sudah tidak kuat lagi melihat cara Pertiwi (Inesia) menangis akhirnya memeluk tubuh gadis itu dengan erat.

"Huh?!", Inesia menggumam kaget ketika tubuhnya dipeluk dengan erat dan hangat. Mukanya yang menabrak dada bidang Kiku menemukan kenyamanan. Ketika Kiku mulai mengelus rambutnya dengan lembut dan mengecup puncak kepala Inesia, satu persatu pertahanan diri Inesia mulai lepas.

Inesia mulai sesenggukan tak terkendali. Beberapa kali ia mencoba untuk mengeluarkan suara layaknya orang menangis pada umumnya. Namun, ia yang telah dibiasakan untuk menangis dalam diam, menangis yang hanya keluar air mata saja akhirnya malah mengeluarkan gumaman aneh yang tidak jelas. Ditambah ia harus berebutan dengan nafasnya yang tercekat. Hal ini membuat Kiku semakin bingung dan khawatir.

Ia tidak pernah menghadapi Pertiwi yang menangis seperti ini. Alter cengeng itu selalu dengan mudah mengeluarkan bunyi 'hiks' di mana pun dan kapanpun jika ia tidak menyukai sesuatu. Tapi sekarang, ia bagaikan seseorang yang sama sekali tidak bisa atau pernah menangis selagi terus menimbun sakit dan luka hatinya. Kiku mulai bergumam di telinga gadis kecil itu, mengeluarkan suara yang Kiku harapkan bisa menenangkan.

Padahal, semakin Kiku membuat suara menenangkan itu, semakin ia mengelus kepala Inesia dengan sangat lembut, semakin ia memeluk Inesia dengan erat, semakin ia membuat Inesia menghirup aromanya, semakin membuat benteng Inesia semakin runtuh. Ingin Inesia memeluk balik Kiku dengan erat, karena ia tidak memiliki tenaga untuk menumpu lagi. Namun ia berada di kebimbangan. Tangannya bergetar, menggantung di udara. Berkali-kali kepalannya membuka dan menutup, berkali kali ia ingin meraih kain di punggung Kiku, namun Inesia tidak berani. Ia tidak pernah boleh melakukannya. Ia harus mengeraskan hatinya, mengeraskan mukanya, ia harus menghentikan semua ini, ia harus...

"Berteriaklah... Berteriaklah kalau kau tidak bisa menangis!" seru Kiku lantang sembari menyembunyikan muka Nesia agar gadis itu bisa berteriak di dadanya sebagai peredam suara.

Inesia menggelengkan kepalanya cepat. Ia tidak bisa berteriak. Ia tidak diperkenankan untuk berteriak. Jika ia berteriak maka...

"Kalau kau tidak mau teriak, aku akan mulai memaksamu!"

Inesia semakin cepat menggeleng, akan tetapi Kiku menangkap kepalanya dan mulai melumat mulutnya dengan sangat kasar.

"NNN! NN!" Inesia mencoba memberontak dan menolak Kiku. Matanya menutup rapat dan tangannya mulai memukul-mukul tubuh Kiku. Kiku bergeming di tempatnya, ia tidak melepaskan Inesia sama sekali sampai sebuah pukulan panik menghantam dadanya.

Ketika akhirnya Kiku melepaskan Inesia sedikit untuk mengambil nafas, Inesia sudah mulai bisa terisak. Mungkin karena ia teriak-teriak di mulut Kiku, atau mungkin karena paru-parunya kekurangan banyak sekali oksigen, atau mungkin karena seluruh yang menahan dirinya sudah mulai lepas.

"Hiks..."

Kiku melingkarkan tangan Inesia ke punggungnya dan ia kembali memeluk Inesia dengan erat. Tangannya mendorong Inesia untuk membenamkan wajahnya di dadanya, kemudian ia memberi perintah lagi, "Sekarang, teriak! Atau aku akan memaksamu lagi!"

"Aaa... Aaaaa..."

"Kau sebut itu berteriak?!" seru Kiku yang kini mulai kesal karena frustrasi dan ketakutan akan kondisi gadis di hadapannya ini. Tidak pernah terbayangkan oleh Kiku akan ada hari di mana ia harus berteriak untuk mengajari orang berteriak karena ia tidak bisa berteriak.

Berteriak bukanlah keahlian Kiku, tapi Kiku kira, kalau gadisnya ini tidak melepaskan semuanya sekarang, maka ia akan rusak di sini, sekarang. Maka ia harus mengerahkan seluruh tenaganya untuk membantu Nesia atau siapapun alter yang bangun saat ini untuk berteriak.

"Aaaa!"

"Taruh hidupmu di sana... Panggilah orang yang sangat jauh tempatnya..." ucap Kiku lagi. Ia mulai berpikir kalau ia harus mencium gadis ini lagi, setidaknya ia berteriak di mulutnya, memukul-mukul dirinya sebagai pelampiasan dan kalau beruntung, menjadi lebih tenang.

"Panggil namaku... Panggil namaku seolah aku akan pergi jauh meninggalkanmu... Panggil namaku seolah aku akan mati..."

-Dheg-

"Kiku... Kiku..."

Tidak! Tidak!

"Kiku! KIKU!"

TIDAK!

KARENA KAU, IBUMU MATI!

Tidak! Tidak! Hentikan!

KAU TIDAK SANGGUP MELAKUKAN APAPUN! KAU SUNGGUH LEMAH!

Tidak! Aku mampu! Berikan aku kesempatan! Berikan aku satu kesempatan! Kumohon!

SEMUA ORANG MEMBENCIMU! TIDAK AKAN PERNAH ADA YANG MENYAYANGIMU!

"Jaga dirimu... Aku menyayangimu..."

Aku... Aku bukan Pertiwi...

KAU KUTUKAN!

Tidak... Aku... Bukan... Aku...

JIKA KAU TIDAK MAU MENURUT, AYAH MU BERIKUTNYA!

Tidak... Kumohon...

Panggil namaku seolah aku akan mati...

-Baaaaaaaaaaaaaaaaaaangs... Brugh...-

.

"KIKUUUUUUUUUUUUUUUUUUU!"

Teriakan terakhir Inesia membuat Kiku kaget dan bergidig. Teriakan terakhir bukan hanya sekedar teriakan benci ataupun murka. Itu adalah teriakan ketakutan yang aman sangat.

Kiku segera berusaha menenangkan Nesia, mengkonfirmasi bahwa ia ada di sini, di pelukan Nesia dan tidak terjadi apapun. Ia baik-baik saja.

"Watashi wa koko ni iru yo... daijoubu desu..." ucap Kiku dengan suara terlembut dan termenenangkannya berulang-ulang selama Inesia terus menangis dengan histeris, "daijoubu..."

"Hiks... huu... huuuu... Kiku... Kiku..."

"daijoubu desu... shinjite kudasai..." ucap Kiku lagi dengan lebih lembut, "daijoubu..."

*O*


"Kakek setelah ini ada rapat... Bisa Kakek minta jawabannya sekarang?"

.

.

"Tidak bisa ya? Kalau begitu... Bagaimana kalau Pertiwi memikirkannya dulu? Nanti Kakek akan datang lagi untuk jawaban Nak Pertiwi... Janji ya?!" seru Kakek Tara sembari mengambil tangan Inesia dan mengaitkan kelingking mereka, "Kau tahu... Kakek sangaaaaaat... sangat menyayangi Pertiwi, Kakek akan sangat bahagia kalau Pertiwi mau menjadi cucu Kakek..."

Kakek... Aku Inesia... Aku... cucu kakek yang tidak bisa apa-apa itu... Aku... cucu kakek yang psikopat itu... Aku... cucu kakek yang sangat kakek benci itu...

"Kalau begitu... Kakek tunggu jawabannya, ya, Nak Pertiwi!" ucapnya dengan senyum penuh harapan sembari meninggalkan Inesia yang masih terdiam.

Aku... bukan Pertiwi... Tapi, apa aku masih boleh menjadi cucu Kakek?

Saat mobil yang dinaiki oleh Kakek Tara menghilang dari pandangannya, tubuh Inesia mulai bergetar. Air matanya pun, mulai berjatuhan tak terkendali.

Inesia mulai memberikan jawabannya walaupun hanya lirih, terbata-bata, penuh dengan isakan dan terasa sangat menyayat dan menyaakitkan,

"Y-ya... A-aku mohon... Aku mohon... Aku... Ingin menjadi cucu kakek..."

*O*


A/N : Chapitra 35!

Author: Woooooooooh! Hiatus satu semester lebih ."

Neth : Anjir emang lu, -thor! Masih aja ni FF dilanjutin! Move on lah! Ganti cerita aku sama Nesia!

Author: Nggak... Ini dulu... Ini dulu yang tak garap...

Neth: Lu ke mana aja emang?

Author: Ah... Itu... Biasa lah... semester-semester tua... :D Oh ya, reader yang tertjintah... Maaf Author belum bisa balas review dulu ya... soalnya ini ludah 10.000 word... Nanti kalau kepanjangan bisa diprotes lagi :D Yang penting updet cerita dulu kan :D :D :D

Always waiting for your reviews, critics and coments :D