To Love naRUto
Disclaimer: Semua karakter dari anime "Naruto" dan "To Love Ru" bukan milik saya, saya hanya meminjamnya saja.
Main Cast: Naruto .U.
Pair: Naruto .U x Harem (Permanent!)
Summary:
Niatnya untuk kembali ke masa lalu harus gagal ketika mengetahui jika dia sudah berpindah dimensi dengan tubuhnya yang juga ikut menyusut, diadopsi oleh Keluarga Yuuki sebagai kakak tertua untuk dua adiknya. Masalah-masalah tak masuk akal mulai menghampirinya, bisakah dia menyelesaikannya? Atau kembali ke tujuan awalnya?
Warning: Author Newbie, Abal-abal, Semi-Canon, Typo, Miss Typo, Echhi, Soft-Lime, Human!Naruto, God-Like!Naruto, Smart!Naruto, Fem!Rito(Riko), Read 'n Review and Not Like Don't Read.
Chapter 04
Dunia yang Sempit
Tak terasa pagi hari sudah kembali menaungi Kota Sainan, langit biru itu menyambut sang mentari dengan penuh suka cita seolah dirinya tak ingin terlepas dari salah satu bintang yang berpijar yang mampu menerangi seluruh bagian dari Galaksi Bima Sakti, cahayanya sama sekali belum redup walaupun sudah bersinar selama miliyaran tahun semenjak bintang itu tercipta. Arak-arakan awan putih terus bergerak mengikuti kemanapun arah angin membawanya seperti orang yang tak memiliki tujuan dan hanya mengandalkan arus, bobot awan yang ringan hanya membawa jutaan partikel uap air yang berhasil mereka serap dari beberapa tempat yang nantinya akan turun di suatu tempat jika mereka sudah kelebihan muatan.
Sekolah Menengah Atas Sainan adalah satu-satunya sekolah menengah atas yang ada di Kota Sainan membuat sekolah itu menjadi sekolah unggulan yang juga sangat diminati oleh hampir semua orang yang ada di kota itu, letaknya yang jauh dari keramaian membuat sekolah itu sangat damai, tentram dan sejahtera. Tidak termasuk dengan pelajaran merepotkan di dalamnya.
Di kelas 1-A dimana murid laki-laki yang memiliki rambut yang paling mencolok daripada murid yang lainnya hanya memasang wajah bosan dengan tangan kanannya yang memainkan bolpoin miliknya sambil menikmati sinar matahari yang menerobos jendela yang ada di sampingnya, entah kenapa moodnya sekarang terasa sangat bercampur aduk tak karuan seperti rambutnya. Matanya melirik kearah depan dimana Profesor Honekawa yang terlihat sangat semangat itu sudah masuk ke dalam kelasnya dan menyimpan seluruh buku bawaannya di meja yang dikhususkan untuk para guru.
"Baiklah, kita mulai saja pelajarannya," ucap Profesor Honekawa sedikit menjeda perkataannya sambil membenarkan letak kacamata bulatnya itu "Oh ya, sebelum itu, aku ingin memperkenalkan murid pindahan baru kepada kalian," sambung sang Profesor membuat semua murid yang ada disana terlihat kebingungan.
'Hah~ Omong kosong dengan murid baru, palingan juga murid pintar lagi,'batin Naruto yang masih memainkan bolpoin miliknya itu di tangan kanannya tanpa memperhatikan lagi ke depan, dia masih bisa mendengar tanpa perlu melihat murid baru itu.
"Ayo masuk!" titah Profesor Honekawa -dengan tubuhnya yang tak pernah berhenti bergetar- kepada murid yang sudah menunggu panggilannya di depan pintu kelas 1-A itu.
Sreek!
Pintu kelas paling depan kelas tersebut bergeser dengan perlahan menampakan pelaku pembuka pintu tersebut, semua murid laki-laki yang ada disana hanya bisa ternganga lebar ketika melihat murid pindahan baru yang memasuki kelas mereka kecuali Naruto yang masih saja berkonsentrasi memainkan bolpoinnya sementara murid perempuannya hanya terbengong saja di tempat. Murid pindahan itu yang ternyata adalah perempuan yang sempat menggemparkan seluruh penghuni sekolah saat kedatangannya karena memakai pakaian cosplay yang aneh.
Tapi sekarang tubuh perempuan itu sudah terbalut dengan kemeja putih dengan dasi kupu-kupu hijau dilapis sweater tanpa lengan berwarna kuning seperti jeruk lemon memakai rok hijau pendek dengan kotak-kotak kuning lalu kaki jenjangnya yang dilapisi dengan stocking hitam panjang yang mencapai setengah paha putihnya, semua murid laki-laki yang ada disana kecuali Naruto terlihat sangat terpesona dengan perempuan yang berdiri di depan kelas 1-A itu.
"Sekarang perkenalkan dirimu," perintah Profesor Honekawa pada perempuan yang menjadi murid baru di kelasnya itu.
"Baik," ucap perempuan itu dengan ekspresi ceria selalu saja terpasang di wajahnya kemudian dia menatap kearah seluruh penghuni kelas itu dengan pandangan ramah "Namaku Lala, senang bisa bertemu kalian semua," ucap perempuan itu yang mulai memperkenalkan namanya pada seluruh murid yang ada disana.
'Eh? Tunggu dulu? Lala?!'
Dengan gerakan kepala yang sedikit patah-patah, dia berusaha sekuat mungkin untuk tidak terkejut dan berharap jika murid yang baru saja memperkenalkan dirinya itu bukanlah perempuan alien merepotkan yang mengaku-ngaku sebagai tunangannya itu "Aaaaa~!" Pemuda pirang itu hanya bisa jawdrop ketika iris biru langitnya itu saling bertatapan dengan sepasang iris hijau layaknya batu emerald, suaranya seolah tercekat di dalam tenggorokannya seolah tak mau keluar dari mulutnya yang terus saja ternganga lebar.
"Ya~ Hoo~ Naruto! Mulai sekarang, aku juga akan bersekolah disini," ujar perempuan itu dengan nada cerianya yang selalu ia tunjukan pada semua orang serta jari dari salah satu tangannya sudah membentuk huruf V tepat kearah Naruto.
Glup!
Pemuda pirang itu hanya meneguk ludahnya dengan kasar setelah mulutnya kembali tertutup dengan sempurna setelah dirinya sadar dari keterkejutannya kemudian dia menarik napasnya dalam-dalam berusaha menenangkan dirinya yang ingin sekali berteriak sekeras mungkin di kelas yang penuh dengan murid-murid itu "Ini sangat mengejutkan bagiku," gumam Naruto pelan dengan kepalanya yang sudah ia letakan diatas meja disusul air mata yang mengalir deras dari mata kanannya karena dia harus bertemu lagi dengan Lala baik di Sekolah maupun di Rumah mulai sekarang.
Sementara dengan perempuan berambut ungu gelap pendek dengan dua jepit rambut merah di poninya itu hanya menatap kearah perempuan bersurai merah muda panjang yang dibiarkan terurai itu dengan pandangan sedikit menyelidik "Bukankah itu...," perempuan itu sedikit menjeda perkataannya sambil mengingat kembali apa yang terjadi malam sebelumnya "...gadis itu yang bersama Yuuki-kun kemarin, ternyata dia juga bersekolah disini," sambungnya kemudian menolehkan kepalanya kearah Naruto yang sudah menundukan kepala di meja "Tapi kenapa Yuuki-kun seperti tak senang seperti itu?" ucap Haruna yang sedikit bertanya-tanya.
"Baiklah, Lala-san. Silahkan menduduki bangku kosong disana," perintah Profesor Honekawa yang sudah menunjuk salah satu tempat duduk yang kosong di dekat Naruto.
"Baik, Sensei," jawab Lala sambil melangkahkan kakinya kearah bangku yang ditunjuk oleh pria tua yang menjadi gurunya sekarang.
"Baiklah, kita lanjutkan pelajaran yang sempat tertunda kemarin," ajak Profesor Honekawa yang berusaha memerintahkan kepada semua murid yang ada disana untuk membuka bukunya dengan cara yang halus, dia merasakan jika suasana kelas memang sudah kondusif seperti biasanya dan dia juga tak begitu peduli jika ada murid yang memperhatikan pelajarannya atau tidak, asalkan jangan menyusahkan saja ketika pembagian laporan nilainya nanti.
-0-0-0-
Tang! Teng! Ting! Tong!
Seluruh murid yang ada di kelas 1-A mulai menghembuskan napas mereka dengan penuh kemenangan ketika mendengar suara bel sudah menggema di seluruh kawasan SMA Sainan itu kecuali pemuda pirang jabrik yang sudah membenamkan wajahnya di dalam bantalan tangannya, suasana kelas hari ini tidak membuat perasaan hatinya lebih baik lagi. Semangat belajarnya berada pada titik terendahnya membuatnya cepat bosan dengan selama pelajaran hari ini berlangsung, ditambah dengan sumber masalah yang malah mengikutinya sampai ke sekolah ini.
"Sampai kapan ini harus berlangsung? Rasanya semangatku terus menurun setiap harinya," ucap pemuda pirang jabrik itu dengan nada pelan dan hanya bisa di dengar olehnya, ingin sekali dirinya memejamkan mata untuk sesaat dan melupakan masalah yang sekarang membuat kehidupannya itu tambah runyam. Seandainya melupakan sebuah masalah semudah itu.
Meja yang ditempati oleh kepala kuning itu berderit pelan saat seseorang sudah menduduki pinggiran meja tersebut sementara pemiliknya tak bergeming sama sekali seolah sosok yang menduduki mejanya itu hanyalah fantasi belaka baginya, sosok itu hanya merengut melihat pemuda yang sedang ditatapinya itu sama sekali tak mengangkat kepalanya. Ekor hitam yang ujungnya berbentuk hati terbalik mulai bergerak kearah kepala pemuda yang masih terbenam di bantalan kedua tangannya "Na~ ru~ to~" panggil perempuan itu sambil menggerakan ujung ekornya itu hingga menusuk-nusuk kepala pirang Naruto.
"Hmmm...," merasa terganggu dengan benda yang menusuk-nusuk kepalanya membuat Naruto melenguh pelan sambil mengangkat kepalanya itu perlahan berusaha melihat siapa yang mencoba mengganggu waktu santainya ini...
'P-paha?' Iris mata kanan Naruto membulat sempurna ketika melihat kaki jenjang milik seseorang yang dibalut dengan stocking hitam panjang dan rok hijau bergaris kotak-kotak kuning menjadi yang pertama menyita perhatiannya, kepala kuning itu akhirnya terangkat sepenuhnya dengan matanya yang saling bertatapan dengan sepasang iris hijau emerald dari perempuan yang menduduki mejanya "Lala?!"
Gubrak!
Seharusnya Naruto sudah terbiasa dengan kehadiran dari perempuan yang selalu menempel dengannya itu tapi batinnya yang belum siap membuat dirinya harus terkejut membuatnya mendorong kuat tubuh beserta dengan kursinya itu hingga terjungkal ke belakang menghantam lantai kelas yang sangat dingin dan keras itu, sementara perempuan yang menduduki mejanya hanya memasang wajah polosnya ketika melihat laki-laki yang ingin disapanya itu malah terjungkal ke belakang.
'Tidak di kamarku, tidak di sekolah, dia selalu saja mengagetkanku,' ucap Naruto dalam hatinya sambil membangkitkan tubuh dan kursinya kembali seperti sedia kala.
Iris mata kanannya menatap kearah Lala yang masih memasang tampang polosnya kepada Naruto "Lala, sudah kubilang 'kan jangan muncul tiba-tiba seperti itu," ucap Naruto yang tidak bosan-bosannya untuk mengingatkan perempuan itu tentang kebiasaan buruknya "Untung saja aku tak punya penyakit jantung," sambung pemuda pirang itu sambil memegangi dada sebelah kirinya.
"Tehe~ sebenarnya aku ingin menyapamu tapi melihat Naruto yang sepertinya tak semangat, tak ada salahnya juga menghiburmu," jawab perempuan bersurai merah muda panjang terjuntai itu dengan senyuman bahagia sudah terpasang di bibir tipisnya, membuat beberapa siswa yang memperhatikan Lala malah berteriak-teriak tak jelas karena senyuman itu.
Pemuda pirang itu menghembuskan napasnya perlahan berusaha menenangkan pikirannya yang sempat campur aduk sebelumnya, dia memandang kembali kearah Lala yang masih memasang ekspresi yang sama kepadanya "Sepertinya ada yang harus kita bicarakan, Lala," ucap Naruto yang sebenarnya itu adalah berupa sebuah permintaan secara tidak langsung.
"Memangnya apa?" ucap Lala yang sudah menurunkan tubuhnya dari meja milik Naruto dan berdiri tepat berhadap-hadapan dengan si pirang.
"Tentang hal pribadi sih, kurasa ini tempat yang buruk untuk membicarakannya," Naruto menjawab sambil mengusap tengkuknya yang terasa sangat merinding karena aura-aura tak mengenakan dari beberapa siswa yang ada di belakangnya.
"Jika Naruto memang ingin melakukan 'itu', aku sama sekali tak masalah," balas Lala dengan ekspresi malu-malu kucing disertai rona merah di kedua pipinya.
Naruto hanya menaikan sebelah alisnya menandakan jika dirinya sama sekali tak mengerti dengan balasan yang dikatakan oleh perempuan di hadapannya tapi dia bisa merasakan jika bulu kuduknya semakin menegang karena aura membunuh yang sangat kental di belakangnya, salah satu tangan Naruto langsung menggenggam tangan Lala lalu menariknya pelan keluar dari kelas tersebut "Ayo, sebelum semua orang yang ada disini malah membunuhku," ajak Naruto.
"Baik!" Lala begitu terlihat bersemangat seperti hari-hari biasanya.
Pusat perhatian seolah berpusat pada pasangan kuning dan merah muda itu setiap mereka melewati kelas atau menelusuri koridor sekolah yang penuh dengan murid-murid dari tingkat satu sampai tingkat tiga, sebagian perhatian itu berisi pandangan iri terhadap laki-laki bersurai jabrik yang sedang bergandengan tangan dengan perempuan bersurai merah muda panjang terurai dan pandangan-pandangan itu berasal dari murid laki-laki.
Beberapa menit mereka berjalan sambil bergandengan tangan, akhirnya mereka telah sampai di tempat yang sudah ditetapkan oleh murid pirang itu yaitu di atas atap sekolah yang sangat terbuka dan sangat sepi. Tempat yang sangat cocok untuk membicarakan hal-hal pribadi tanpa adanya gangguan.
"Ne~ kenapa kita ke tempat ini lagi?" tanya Lala yang sudah kembali memasang wajah polosnya ketika Naruto malah membawa dirinya ke tempat yang sama seperti kemarin.
"Tentu saja untuk berbicara, lagipula tempat ini salah satu tempat kesukaanku yang bisa membuat diriku tenang, setidaknya tak akan ada orang yang menguping," jelas Naruto yang sudah membalikan tubuhnya kearah Lala hingga berdiri berhadap-hadapan.
"Begitu ya, memang sangat menenangkan sekali," senyum kecil sudah tersunging di bibir tipis milik perempuan bersurai merah muda itu ketika berusaha menikmati hembusan angin yang menerpa tubuhnya "Lalu apa yang ingin Naruto bicarakan denganku?" tanya perempuan itu sambil menatap laki-laki di hadapannya dengan lekat.
Wajah Naruto hanya bisa memerah ketika pandangannya tak sengaja tersita oleh benda yang ada di balik rok hijau yang terus berkibar-kibar terbawa oleh angin yang terus berhembus tak ada habisnya bahkan konsentrasi yang sempat ia rasakan sudah menghilang entah kemana 'Sialan! 'Segitiga Pengaman'nya menggangguku,' gerutu pemuda itu dalam hatinya dan berusaha fokus dengan tujuan awalnya membawa Lala ke atap ini.
"K-kenapa kau malah bersekolah disini? Bukankah sudah kubilang agar tidak menarik perhatian orang lain?" ucap Naruto yang berusaha sekeras mungkin agar pandangannya itu tidak berbelok ke hal yang lain, setidaknya dia harus mendapatkan titik terang yang jelas.
"Aku hanya ingin terus bersamamu, Naruto," jawab Lala dengan kedua tangannya yang sudah memegangi pipinya yang merona karena malu saat mengutara alasannya "Apa itu salah bagimu?" sepasang iris hijau emerald itu menatap kearah iris biru laut dari laki-laki di hadapannya.
Salah satu tangan Naruto mulai menggaruk kepala bagian belakangnya sambil memikirkan sesuatu di dalam kepala 'kuning'nya, semua makhluk memang diberi kesempatan untuk mencari ilmu -mungkin termasuk juga Alien-, tapi jika alasan Lala untuk mencari ilmu adalah karena dirinya maka itu sungguh terlalu "Aku tak bisa mengatakan itu salah, Lala. Tapi cobalah untuk tidak menarik perhatian orang lain, kau mengerti 'kan maksudku," jelas Naruto agar perempuan itu mengerti.
"Kenapa aku tak boleh menarik perhatian orang lain?"
Pemuda pirang itu hanya menghembuskan napasnya perlahan menandakan perkiraannya itu terbukti benar terjadi, Lala pasti tak akan mengerti dengan penjelasan sederhana yang sempat dikatakan olehnya dan ini akan menjadi penjelasan yang panjang menurutnya "Begini, pada dasarnya kau ini adalah makhluk yang bukan berasal dari Planet Bumi ini, Lala. Apa yang terjadi jika semua murid yang ada disini tahu tentang jati dirimu yang sebenarnya? Kau bisa dibawa ke suatu tempat yang membuatmu tak akan pernah kembali lagi ke Planet Deviluke, bisa saja kau dijadikan bahan percobaan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab," jelas laki-laki itu dengan sedikit raut khawatir di wajahnya.
"Betul dengan apa yang dikatakan oleh Naruto-dono, Lala-sama harus menyembunyikan jati diri Lala-sama sebagai Putri Pertama dari Raja Deviluke selama tinggal disini karena itu sangat berbahaya juga jika jati diri anda diketahui oleh orang lain," ucap Peke yang sependapat dengan penjelasan dari tunangan majikannya.
"Baiklah, aku mengerti sekarang," jawab Lala yang sudah mengerti dengan apa yang dijelaskan oleh Naruto dan Peke.
Naruto hanya mengelus dadanya perlahan merasakan kelegaan di dalam hatinya, setidaknya perempuan di hadapannya ini tak akan melakukan hal-hal yang aneh ketika di SMA Sainan. Sekarang dia hanya perlu melihat hasil dari apa yang ia jelaskan kepada Lala, jika apa yang dilakukan oleh Lala berdampak positif selama di sekolah ini berarti perempuan itu memang sudah mengerti dengan 'Tidak menarik perhatian dari orang lain'. Seperti dirinya yang menyembunyikan jati dirinya sebagai Shinobi selama dirinya tinggal disini.
-0-0-0-
Lima hari berlalu, lima hari juga Lala bersekolah di SMA Sainan...
Kepribadian Lala yang sangat ceria dan mudah bergaul membuat perempuan itu bisa dengan mudahnya mendapatkan beberapa teman dari berbagai tingkat baik itu laki-laki ataupun perempuan bahkan hampir semua murid dan guru yang ada di SMA Sainan mengenal perempuan alien itu, memang tak ada yang salah dengan apa yang dilakukan oleh Lala karena interaksi memang kebutuhan yang sangat diperlukan bagi semua makhluk hidup. Tapi ada yang membuat Naruto tak henti-hentinya menggelengkan kepalanya dengan posisi mulut terbuka dengan lebar, contohnya seperti...
Membuat karikatur aneh ketika pelajaran seni berlangsung membuat semua murid dan guru seni yang ada di kelas seni terlihat kebingungan dengan apa yang digambar Lala...
Atau...
Melemparkan bola baseball dengan kekuatan setara dengan menggunakan senjutsu hingga siapapun tak berani memukul bola yang meluncur dengan kecepatan penuh itu...
Atau...
Sepertinya yang terakhir tak perlu dijelaskan, 'Masa Depan'nya hampir hancur lagi karena dilempari beberapa barang-barang yang dikategorikan tak masuk akal yang ada di dalam ruang ganti perempuan itu. Sebenarnya dia hanya ingin mencegah Lala agar tidak melakukan sesuatu yang aneh lagi, tetapi dia tak tahu akan seperti itu jadinya. Rambut kuningnya serasa ingin rontok dari kepalanya karena tingkah laku Lala yang sedikit berlebihan menurutnya, sepertinya perempuan itu memang belum mengerti betul dengan apa yang dikatakannya kemarin.
"Aku lebih memilih untuk melawan seribu Shiro-Zetsu daripada aku harus dititipi perempuan yang menyandang status alien itu," gerutunya sambil menaiki tangga yang akan menuntunnya menuju lantai dua dimana kelasnya itu terletak, pemuda itu seperti sudah tak memiliki gairah untuk hidup lagi.
"Yo, Naruto!" sapa seseorang dari belakangnya.
Dengan ekspresi malas dan tak memiliki gairah hidup, Naruto menolehkan kepalanya dan menatap si penyapa yang ternyata adalah sahabat yang menempati kelas yang sama dengannya, senyum kecil terukir di bibirnya ketika melihat sahabatnya itu sudah mendekat kearahnya "Saruyama... Tumben kau ada di sekitar sini?" tanya Naruto ketika melihat Saruyama yang sudah berdiri di dekatnya.
"Ini waktunya istirahat, Naruto. Siapapun boleh berkeliaran dimanapun selama istirahat belum berakhir," jawab Saruyama dengan menyungingkan senyum lebarnya "Dimana Lala-san? Biasanya dia selalu menempel denganmu, Naruto?"
Naruto hanya menggedikan bahunya perlahan menandakan dirinya tak tahu menahu tentang keberadaan Lala sekarang, dari semenjak bel istirahat berbunyi dia sama sekali tak bersama dengan perempuan itu "Aku tak tahu, mungkin dia bersama teman-temannya yang lain. Kau tahu 'kan sejak kedatangannya kesini dia sudah populer di kalangan murid-murid," jawab Naruto yang terlihat sangat lesu sekali.
"Lelaki macam apa kau ini yang tidak tahu dimana tunangannya sendiri?"
"Aku tahu maksudmu bertanya seperti itu, setelah kau tahu dia ada dimana, kau pasti akan kesana dan menggodanya lagi. Gerak-gerikmu sudah bisa aku baca," ucap Naruto dengan ekspresi kesal di wajahnya.
"Darimana kau tahu rencanaku?" tanya Saruyama sedikit kaget dengan tebakan Naruto.
"Dari ekspresi wajahmu yang mencurigakan itu," jawab Naruto dengan jari telunjuknya yang menunjuk tepat kearah wajah Saruyama.
"Naruto!"
Suara teriakan tersebut membuat kedua laki-laki yang bersahabat itu menolehkan kepalanya kearah suara itu berasal dan melihat perempuan yang sedari tadi mereka bicarakan sudah berlari kearah mereka, mungkin tepatnya kearah pemuda pirang yang dipanggilnya.
"Akhirnya aku bisa menemukanmu!" ujar Lala yang langsung menerjang kearah Naruto dengan kecepatan yang tak biasa.
Brukkk!
Laki-laki bersurai hitam jabrik yang menantang gravitasi itu hanya melebarkan matanya dengan mulutnya yang terbuka lebar ketika melihat sepasang manusia yang sangat aneh itu sudah saling menindih satu sama lain dengan sang perempuan diatas dan sang lelaki di bawahnya, siapapun yang menatap kejadian itu pasti akan memikirkan hal yang tidak karena posisi mereka.
"L-lala? Bisakah kau menghampiriku sewajarnya saja maksudku tidak menerjangku seperti itu?" ucap Naruto yang menatap datar kearah sang pemiliki manik hijau yang berada di atasnya.
Lala hanya tersenyum menanggapi pertanyaan dari Naruto "Jika tidak seperti ini, aku yakin kau akan kabur lagi seperti sebelum-sebelumnya," perempuan itu seakan-akan tak memiliki beban apapun ketika menjawab pertanyaan yang diajukan oleh laki-laki di bawahnya, itu karena prilaku Naruto yang mulai terlihat aneh belakangan ini.
"Tapi jika kau terus melakukannya bisa-bisa tulang punggungku patah semua karena terus membentur lantai, Lala," ucap pemuda pirang itu dengan nada kesal, entah sudah berapa kali dirinya harus jatuh menghantam lantai karena ulah Lala. Dia sudah lupa berada di hitungan berapa dirinya terjatuh sekarang.
"Tak apa-apa, aku akan menciptakan alat yang bisa membuat tulang punggungmu itu beres lagi, Naruto. Asalkan aku bisa bersamamu terus seperti ini," ucap Lala dengan kedua tangannya yang sudah memeluk leher Naruto lalu menempelkan pipinya sendiri dengan pipi berguratan tipis milik Naruto, dia memang tak pernah memperdulikan keadaan sekitarnya asalkan dirinya terus bersama dengan pemuda 'kuning' itu.
Pemuda pirang itu hanya menarik napasnya dalam-dalam ketika mendengar pernyataan yang keluar dari mulut Lala dan sepertinya perempuan itu memang tak mengalami perubahan "Perempuan memang makhluk yang merepotkan," ujar Naruto dengan nada yang hanya didengar oleh dirinya saja, matanya melirik kearah Lala yang masih menggesekan pipi mulusnya dengan pipi yang dihiasi tiga guratan tipis itu "Bangunlah, Lala. Bel masuk akan berbunyi sebentar lagi dan...," Naruto sedikit menggantungkan perkataannya dan melihat hampir semua murid di koridor itu menatap mereka berdua "...aku tak suka jadi pusat perhatian," lanjutnya.
"Tidak, sebelum kau berjanji sesuatu padaku," ucap perempuan itu yang masih melakukan hal yang sama pada laki-laki yang ada di bawahnya.
'Pasti Riko atau Mikan yang membocorkan rahasiaku tentang janji.'
Kemudian Naruto menganggukan kepalanya menandakan dirinya akan menyetujui permintaan janji itu "Lalu aku harus berjanji apa padamu?" ucap Naruto dengan nada malasnya.
"Jangan kabur dariku lagi, oke?"
Pemuda pirang itu menghembuskan napasnya mendengar permintaan dari perempuan bersurai merah muda yang terdengar sedikit kekanak-kanakan tapi jika tidak dituruti malah Naruto sendiri yang akan kerepotan "Itu soal mudah, Lala," ucap Naruto yang sedikit menoleh kearah Lala ketika kulit yang bertempelan dengan pipinya itu sudah tidak terasa lagi.
"Benarkah kau mau melakukannya?" ucap Lala dengan sepasang mata hijau jadenya sudah berbinar mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh laki-laki pirang itu.
Bola mata sebelah kanan milik Naruto menatap sepasang mata hijau jade milik Lala dengan penuh keyakinan agar perempuan itu percaya perihal janjinya "Tentu saja, aku tak pernah melanggar janji yang kubuat sendiri," entah kenapa dia malah teringat masa lalu ketika mengatakannya.
Grep!
Nyutt!
"Mmmpphh..."
"Aku semakin sayang kepadamu, Naruto!" ujar Lala yang sudah memeluk kepala kuning milik Naruto dengan erat lalu membenamkannya tepat di dadanya yang memiliki ukuran lumayan besar untuk ukuran remaja seusianya.
Sementara Naruto tak tahu harus berbuat apa sekarang, dia harus memilih antara bersyukur karena diperlakukan sangat istimewa oleh perempuan alien yang memiliki wajah cantik itu atau merutuki apa yang sedang terjadi padanya bahkan dia bisa merasakan beberapa pasang mata menatap kearahnya dengan pandangan membunuh 'Ini sungguh bukan keinginanku,' ucap Naruto dalam hatinya dengan kelopak mata kanannya yang sudah terpejam, otak pintar yang terkadang bebal itu belum bisa memikirkan jalan keluar dari permasalahan ini.
-0-0-0-
"Kami pulang!"
Ekspresi wajah yang dikeluarkan oleh laki-laki bersurai pirang jabrik itu terlihat sangat kacau sekali ditambah dengan perempuan bersurai merah muda panjang yang terus menempel padanya dengan merangkul tangannya itu sangat erat membuat perempuan bersurai oranye gelap itu terkekeh pelan melihat tingkah kakak angkat dengan tunangan yang belum diakui sepenuhnya, lelaki pirang itu hanya menoleh kepada sang adik yang masih terkekeh dengan memberikan tatapan datar disertai sedikit aura membunuh membuat adik angkatnya itu terdiam.
"Selamat datang! Naruto, Riko-nee, Lala-san," sahut seseorang yang sudah keluar dari pintu ruang keluarga dengan menggunakan apron putih sebagai lapisan bajunya dan sendok sayur di tangan kanannya, sepasang iris emas kecoklatan itu menatap sekilas kearah kakak angkatnya lalu mengalihkan pandangannya kearah kakak kandungnya seolah bertanya apa yang terjadi dengan kakak angkatnya, tapi yang ditanya malah menggedikan bahunya seolah tak tahu.
"Makan malam akan siap sebentar lagi, pastikan jika tubuh kalian sudah bebas dari keringat saat makan," ucap Mikan layaknya seorang ibu yang sedang memperingati anaknya ditambah dengan sendok sayur yang teracung-acung kearah ketiga orang itu.
"Baik!" seru ketiga orang tersebut dengan nada yang berbeda-beda.
Setelah melepaskan sepatunya dan meletakannya di tempat penyimpanan sepatu, satu-satunya laki-laki yang ada disana melangkahkan kakinya dengan gontai kearah tangga yang akan menuntunnya ke lantai dua, tujuannya kali ini adalah kamarnya. Dia juga ingin segera berendam dengan air hangat untuk menyantaikan otot-ototnya yang sedikit menegang itu, dia tak menyangka jika perempuan alien itu sangat agresif ditambah dengan sifat polosnya yang sangat menyusahkan, siapa sangka kehidupannya di dunia ini malah lebih menyusahkan daripada di Dunia Shinobi dulu.
Bukan tindakan jantan jika dirinya malah lari dari masalah yang sedang ia hadapi sekarang, jika dirinya malah kabur maka nasib Bumi ada dalam ambang bahaya. Raja penguasa Planet Deviluke itu tak akan diam sepenuhnya jika melihat anaknya disakiti oleh manusia bumi sepertinya, dia hanya bisa menjambak rambut pirang jabriknya itu kuat-kuat seolah ingin melepaskan masalah itu dari kepalanya saat itu juga. Tapi melepaskan diri dari masalah tidak semudah membalikan telapak tangan.
"Naruto kenapa ya?" tanya Lala sambil memiringkan kepalanya pertanda ia sedang bingung dengan ekspresi lesu yang dikeluarkan oleh Naruto.
"Tenang saja, Lala-san. Mungkin Naruto ingin menenangkan dirinya terlebih dulu, sebaiknya Lala-san ikut denganku saja membantu Mikan, ya?" pinta Riko dengan kedua tangannya saling bertautan di depan dadanya.
"Baik, Riko-chan!" seru Lala yang terlihat masih bersemangat.
Keduanya pun akhirnya memilih untuk melangkahkan kakinya menuju dapur dimana Mikan yang sedang menyiapkan makanan agar bisa disantap malam ini juga, itu memang sudah kebiasaan Mikan semenjak orang tua mereka sibuk dengan pekerjaannya. Walaupun Mikan masih duduk di kelas 5 Sekolah Dasar, tetapi kemampuan memasaknya bahkan jauh diatas Riko yang merupakan kakak kandungnya yang duduk di Sekolah Menengah Atas itu. Mikan hanya ingin dirinya bisa diandalkan oleh kedua kakaknya agar dia tak terus bergantung pada mereka berdua, dia juga ingin mandiri seperti kedua kakaknya itu.
-0-0-0-
"Huuuhh..."
Jika saja udara memiliki wujud layaknya benda padat atau cair, aku pasti bisa melihat bagaimana udara itu keluar dari mulutku dengan jumlah volume yang sangat besar. Selama kelangsungan hidupku yang terus berjalan setiap detiknya, masalah yang sedang kuhadapi sekarang ini lebih rumit daripada memikirkan cara menyeret Sasuke kembali ke tanah para pendahulunya berasal yaitu Desa Konoha. Jika saja aku salah sedikit saja dalam mengambil keputusan, maka taruhannya adalah nasib bumi yang malah akan musnah layaknya Duniaku yang sebelumnya.
Mungkin aku harus mengikuti alurnya terlebih dahulu, dimana status laki-lakiku jika diriku malah lari dari tanggung jawab. Tapi tanggung jawabnya yang sewajarnya saja, bukan seperti ini...
Dasar memusingkan saja!
Otot-ototku yang sempat tegang dan kelelahan itu mulai merenggang dan rileks seperti biasanya saat kutenggelamkan tubuhku di dalam bathub yang diisi air hangat yang sangat nyaman di tubuhku, bisa dibilang ini terapi kecil-kecilan agar tubuh lebih santai setelah beberapa lama digunakan untuk beraktivitas berat. Jika saja aku masih ada di Dunia Shinobi dan Si Pertapa Genit masih ada, dia pasti akan mengajakku berendam di onsen setelah latihan berat yang selalu kujalani. Otakku selalu saja bernostalgia ke masa lalu, bagaimana aku bisa melupakannya, itu kenangan yang terlalu indah untuk dilupakan.
Sreek!
Jantungku hampir saja melompat dari tempatnya ketika mendengar suara gesekan antara kayu dan tembok, kepalaku langsung menoleh kearah pintu kamar mandi yang sempat kututup dengan rapat...
"Lala!"
Perempuan alien itu sudah berdiri diambang pintu tanpa mengenakan sehelai benang apapun, jika dia perempuan yang normal, pasti Lala akan berteriak ketika melihatku ada di dalam kamar mandi ini karena diriku tak sengaja melihat tubuhnya. Tapi, itu Lala, perempuan alien yang polosnya minta ampun. Dia malah tersenyum ketika aku menyebut namanya "Ah, kebetulan juga Naruto ada disini," dia menutup pintu kamar mandi itu dengan rapat seperti sebelumnya, dia melangkahkan kakinya dengan cepat kearah bathub yang sedang kutempati.
"K-kenapa kau malah masuk kesini, Lala?"
Byur!
Lala malah dengan sengaja masuk ke dalam bathub yang sedang kutempati sehingga diriku dan perempuan itu saling berhadapan satu sama lain "Tentu saja untuk mandi dan aku tak mengira jika Naruto ada disini," jawabnya dengan nada senang.
Kuteguk ludahku dengan susah payah, dia memang berendam tapi dia berendam hanya setengah badan saja. Kedua dadanya yang terlihat berkembang pesat daripada remaja perempuan seusianya terlihat menggoda dan anehnya Lala sama sekali tak ingin menutupinya atau menurunkan tubuhnya agar terendal seluruhnya, ini godaan dari iblis alien berwajah cantik di depanku.
"Tapi kau bisa menungguku selesai dulu, jangan asal terobos begitu saja," Lala memang selalu seperti itu, terkadang dia menyelinap ke kamarku lalu tidur di sampingku dengan keadaan telanjang dan pemandangan itulah yang selalu saja mengawali hariku.
"Memang apa salahnya mandi bersama? Bukankah kita sudah bertunangan? Jadi, tak masalah, ya 'kan?"
Kepalaku tertunduk mendengar Lala yang malah mengungkit-ngungkit masalah tentang pertunangan yang tidak disengaja itu, reflekku sebagai seorang ninja belumlah tumpul sepenuhnya karena aku mengira jika percikan listrik itu serangan dari seseorang. Jadi, aku berusaha menghindar tapi tanganku malah mendarat di payudaranya. Jadi, siapa yang harus disalahkan dalam masalah ini? Dasar peraturan planet yang menyebalkan.
Kepalaku kembali terangkat lalu menatap Lala yang masih tersenyum bahagia sambil membalas tatapanku, sepertinya ada yang ingin dia sampaikan padaku "Ada apa, Lala? Sepertinya kau terlihat bahagia sekali," mengambil inisiatif untuk bertanya terlebih dahulu adalah salah satu cara agar perempuan mengatakan apa yang terjadi sebenarnya dan itu berkaitan juga dengan ekspresinya.
"Tentu saja, dikarenakan besok sekolah libur jadi Mikan dan Riko mengajakku untuk jalan-jalan berkeliling Kota Sainan ini. Naruto juga ikut, 'kan?"
"Eh? Jalan-jalan?"
Tunggu dulu... Kenapa aku tak pernah tahu jika Mikan dan Riko mengajak Lala untuk berjalan-jalan? Apalagi rencana mereka kali ini?
"Yap, kami baru membicarakannya tadi dan karena Naruto tidak ada disana, jadi aku menyusulmu kesini sekalian mandi bersama denganmu," dia mengatakannya dengan nada ceria, sebenarnya dia tahu batasan antara perempuan dan laki-laki atau tidak sih?
Sepertinya aku harus berbicara lagi dengan mereka, dasar adik-adik menyusahkan!
"Kalau begitu bagaimana kalau aku gosok punggungmu? Aku ingin sekali melakukannya padamu, katanya itu bisa mempererat hubungan antara laki-laki dan perempuan yang sudah menjalin hubungan."
"Menggosok punggung...?"
Itu berarti...
Aku melihat Lala mulai merangkak mendekati tubuhku yang terpojok di salah satu sisi bathub itu, tubuhku benar-benar terkunci sekarang ditambah tubuh menggodanya ada di hadapanku.
"Tidak!"
[To Be Continued...]
Maaf atas keterlambatan update-nya, minna!
Ya karena kesibukan saya yang lumayan padat kemarin membuat pikiran saya kocar-kacir entah kemana dan membuat cerita ini terbengkalai beberapa minggu lamanya, semoga kalian menikmati chapter kali ini.
Terima kasih sudah meluangkan waktunya untuk membaca cerita saya ini, walaupun humornya terkadang gagal.
Dan saya juga punya cerita baru, mungkin menggantikan Archers Element. Itu juga cerita X-Over, entah kapan saya publish-nya, saya belum tahu tapi saya rasa dalam waktu dekat ini bisa.
Silahkan disimak...
Shizen no Yōso no Supiritto
(Naruto X Date a Live)
Summary:
Ksatria, sebutan bagi roh pertama yang menginjakan kakinya di bumi ketika gempa luar angkasa terjadi untuk pertama kalinya yang hampir meratakan seluruh benua Asia. Menjadi penengah antara manusia dan roh memang mustahil tapi bisa saja itu terjadi.
