"Inesia... Ayo kita pergi dari sini... Ayah akan menyelamatkanmu..." ucap Dirgantara sembari menyunggingkan senyum bahagia dan bangga setelah berhasil menculik putrinya sendiri dari penjagaan orang-orang jahat.

Inesia yang berada di bopongan ayahnya hanya bisa tertawa heran sebelum memeluk ayahnya erat-erat sebagai luapan rasa rindu. Ia teringat pada sebuah cerita dongeng tentang seorang ksatria yang menculik sang putri demi untuk menyelamatkannya. Ksatria tampan, tulis buku tersebut. Namun, Inesia kira tak ada yang lebih tampan menyaingi ayahnya saat ini. Dalam balutan tuxedo putih dan senyum yang cemerlang, dengan bersemangat dan ceria ia membawa kabur Inesia dengan gaun merahnya.

Romantis. Itulah yang membuat Inesia semakin mengembangkan senyumnya dan tertawa geli.

Inesia memandang ke arah belakang. Menyampaikan selamat tinggal dalam hati pada orang-orang yang kebingungan. Terutama pada seorang wanita yang mengenakan gaun pengantin dan meneriakkan nama 'Dirgantara' agar ayahnya mau berhenti dan mengakhiri tindakan gilanya ini. Inesia juga menyampaikan selamat tinggal pada kehidupannya yang menyakitkan dan melelahkan sebelum ini. Karena sekarang, saat ini, ia akan pergi bersama dengan ayahnya.

Sesampainya di luar, dengan cekatan ayahnya membuka pintu mobil dan meletakkan Inesia di bangku penumpang. Setelah menutup pintu mobil, pria itu pun bergegas menuju pintu kemudi dan membukanya.

Dirgantara melayangkan senyum 1000 megawatt sebelum memasangkan sabuk pengaman Inesia dan memasang sabuk pengamannya sendiri. Inesia kira ayahnya terlalu bersemangat dan bahagia sampai lupa akan segalanya, kecuali melarikan diri bersama. Setelahnya, ia menyalakan mesin mobil dan meluncur dengan kecepatan cukup tinggi. Meninggalkan orang-orang yang panik, jengkel dan kacau di belakang.

Inesia sedikit khawatir. Jalanan yang cukup ramai ini memacu adrenalinnya. Akan tetapi, saat ia akan memperingatkan ayahnya, Inesia hanya terdiam. Mata ayahnya yang berbinar menunjukkan bahwa rencananya telah tiga per empat selesai. Ayahnya telah mempersiapkan pelarian ini dengan matang.

Ayahnya telah merencanakannya dan melakukan latihan untuk ini berulang kali.

Inesia tersenyum bangga saat ayahnya meliriknya dengan pandangan mata menantang. Berulang kali ayahnya melakukan drift kecil saat berbelok di persimpangan jalan. Inesia kira, dulu ayahnya mungkin adalah seorang pembalap jalanan.

Inesia tertawa bahagia bersama ayahnya. Sampai pada sebuah tikungan di mana tawanya berhenti saat sorotan laser mengenai matanya, membuatnya silau. Apa yang ia ingat kemudian adalah kaca dashboard yang pecah dan tawa ayahnya berhenti seketika.

Mungkin karena ada darah mengalir dari dahi ayahnya yang tertembus peluru, mungkin karena dua sampai tiga tembakan lagi yang bersarang di dada dan perut ayahnya, beliau tidak dapat lagi tertawa atau bahkan mengendalikan kemudi. Ayahnya pun tidak pernah bisa menginjak rem lagi sehingga mobil mereka menabrak pembatas jalan dengan kecepatan yang sangat tinggi.

Dan semuanya menjadi gelap.

.

.

.

.

"INESIA!" seru seseorang dengan geram sembari mendekati gelembung pikiran yang melingkupinya di dasar jiwanya ini, "Apakah kau seorang masochist?! Ingatan ini lagi?!" decak alter yang mirip dengan dirinya itu jengkel.

Inesia hanya terdiam, tetap mengapung di gelombang pikirannya tanpa memedulikan salah satu alternya yang akan memarahinya habis-habisan itu.

"Katakan padaku! Kenapa?! Kenapa kau ingat-ingat kenangan ini lagi?! Setidaknya tidak di hari ini!"

"Karena..." Inesia menoleh ke arah alter yang tengah mengisi ulang nafasnya itu, sebelum memarahinya lagi, "Di ingatan ini... Ayah tersenyum... Satu-satunya ingatan bahagiaku..."

Inesia tidak melihat alter tersebut menelan ludahnya, ia merasakannya. Suasana selalu menjadi sulit saat ia berbicara tentang satu-satunya ingatan bahagia yang berubah menjadi salah satu ingatan paling tragis dari sekian banyak ingatan tragis di hidupnya itu.

Ingatan di mana ayahnya di bunuh tepat di depan matanya, di saat-saat mereka akan menggapai kebahagiaan mereka.

"Tolong... jangan lakukan ini pada dirimu sendiri..."

"Aku tak melakukan apapun..." bantah Inesia datar, "Apa yang kau lakukan di sini, Inesia? Kau tidak seharusnya berada di sini... Kau seharusnya ada di atas sana, di dalam sangkar itu..."

Alter itu tercekat, "Inesia..." seru Alter tersebut tidak terima.

Inesia hanya menoleh lelah, "Kau Inesia... Dan aku bukan siapa-siapa..." ucapnya lagi sembari membalik badan, tidak mau lagi menatap alter yang kini hanya bisa menunduk itu, "Apa yang membuatmu datang kemari, Inesia?" ulangnyai.

"Kakek-..."

"Oh..." potong Inesia tidak bersemangat.

"Inesia... Tolonglah... Dengarkan aku..." ucap alter itu lagi, memohon pada Inesia.

"Tolong jangan angkat masalah ini... Aku tidak mau membicarakannya..." tolak Inesia lagi.

"Tapi..."

"Tolong tinggalkan diskusi ini..." sergah Inesia lagi pada Alter yang masih bersikeras di belakangnya itu, "Aku lelah... Kembalilah ke atas, Inesia..."

"Tapi..."

.

.

.

"... Baiklah..." ucap alter tersebut menyerah.

"Selamat ulang tahun, Inesia..." ucap Inesia pada alter yang masih jengkel itu sembari menghilang pergi.

"Ah!" seru alter itu teringat, "Selamat... ulang tahun..." ucap Alter tersebut sembari mengepalkan tangannya. Ia terlambat, ia tahu itu. Inesia sudah lenyap, masuk lebih dalam ke dasar jiwanya yang tidak mungkin ia capai lagi.

Ia terus mengutuki dirinya sendiri. Mengapa ia sampai lupa hal terpenting yang harus ia sampaikan kepada Inesia?! Hanya karena ingatan itu, dan seorang Kakek tidak bertanggung jawab yang menghancurkan hati cucunya untuk yang ke sekian kali tepat di hari ulang tahunnya.

"Inesia..." gumamnya sendiri, "Sejujurnya... Aku lebih memilihmu..." lanjutnya sembari membalik badan, "Tidak bisakah kau... bahagia? Sedikit saja..." gumamnya lagi penuh penyesalan sebelum mengambil nafas dalam-dalam dan bersiap untuk menempati posisinya lagi; sebagai 'Inesia'.

-Zhaaaaaaaaaatss...-

"Huh?" alter tersebut terhenyak saat melihat 'panggung' tempat para alter mengendalikan kesadaran Nesia mengeluarkan percikan cahaya. Segera ia berlari menyusuri tangga dan jalan rapuh demi mendekati 'panggung' yang lama tidak ia tempati itu.

Namun, sesampainya ia di pinggir 'panggung' ia tidak berani menginjakkan kakinya. Ia akan menguasai tubuh Nesia jika menginjakkan kaki di sana, dan ia tidak menginginkannya. Meskipun demikian, ia harus memastikan tidak ada yang salah dengan 'panggung' ini. Setelah berkali-kali menghelakan nafas panjang dan menenangkan diri, alter tersebut pun mencoba untuk menapakkan kaki di sana dan mengontrol 'panggung' tersebut.

.

.

"Huh?!"


HETALIA AXIS POWERS © HIDEKAZU HIMARUYA

In

- ALTER EGO –

LittleOrchids045


Kiku terbangun dari tidur saat ia merasakan seseorang naik ke kasur dan meringkuk di belakangnya. Sejenak ia merenungkan niat untuk pergi berpindah ke kasur lain di kamar Twinroom ini (kamar dengan 2 bed). Akan tetapi, ia tidak tega meninggalkan Nesia yang tampaknya masih dihantui oleh mimpi dan kenangan buruknya sendiri hingga gadis itu berpindah ke kasurnya.

Kiku sudah mencoba untuk bertanya pada gadis mungil ini akan apa yang sebenarnya telah terjadi pada -entahlah, Kiku pun tidak yakin siapa yang kini tengah bangun. Kenapa alter ini begitu terluka?

Kenapa, hanya dengan melihatnya, Kiku pun ikut terluka?

Mungkin, mungkin ia ikut terluka karena ia tidak sanggup untuk melakukan apapun saat alter ini menangis histeris di bandara tadi. Ia hanya bisa memeluk erat tubuh rapuhnya sembari menggigit bibir. Juga, sesekali mengeluarkan janji bahwa semuanya akan baik-baik saja -yang kini Kiku sesali karena ia sendiri tidak tahu, jangankan untuk menghadapi alter yang terluka ini, bahkan apa yang harus ia lakukan sekarang pun ia tidak memiliki petunjuk sama sekali.

Kiku memejamkan matanya dan mulai berkhayal. Andaikan ia tahu, apa yang sebenarnya menghantui gadis di belakangnya ini? Apa yang bisa ia lakukan untuknya? Apa yang...

"Maaf..." bisik Inesia lirih.

Iie... Watashi ni shazai shimasen… -Jangan meminta maaf padaku...

Kiku mengerutkan alisnya menahan hatinya yang sakit. Mengapa, dan bagaimana bisa emosinya terpengaruh sekuat ini? Andaikan ia lebih dewasa dan bijaksana, andaikan ia tahu apa yang harus ia lakukan, andaikan ada satu saja dari ratusan anime dan manga yang ia tonton bisa memberi tahu pada dirinya, apa yang sebaiknya ia lakukan sekarang.

Mungkin saat pulang besok ia harus meminjam banyak komik Shoujo pada adiknya walaupun ia tidak begitu suka dengan seluruh klise di dalamnya.

"Terimakasih..." bisik Inesia lagi, kali ini dengan lembut dan hangat yang membuat Kiku sedikit terhenyak, "Suatu saat... Aku harap kau juga bisa mengeluarkan semuanya..." lanjutnya lagi.

"Apakah kau sudah baik-baik saja sekarang?" tanya Kiku lirih, berharap jawaban positif dari Alter yang sepertinya juga kaget karena mungkin ia mengira Kiku masih tertidur.

"Uh... Aku..." Inesia sontak mundur dan beranjak pergi. Namun, sebelum ia berhasil meninggalkan tempat tidur Kiku, ia tertahan oleh genggaman tangan pemuda yang masih membelakanginya itu.

"Aku hanya... Uh... Aku baik-baik saja sekarang... Terimakasih..." ucap Inesia mencoba memberikan penjelasan.

"Aku..." Kiku menahan kalimatnya, ia berusaha mencari kata-kata yang pantas untuk situasi seperti ini, "Aku akan berusaha melakukan apapun agar kau baik-baik saja..."

Inesia mengedipkan matanya kaget atas pernyataan Kiku, "Kau tidak harus melakukan apapun, sungguh... Aku..."

"Ini untuk diriku sendiri..." potong Kiku, "Onegai... Beri tahu aku semua tentangmu..." ucapnya lagi sembari kini menatap keping coklat di hadapannya, "Aku tidak ingin menebak-nebak lagi... Setidaknya... Siapa dirimu? Dengan apa aku harus memanggilmu?"

.

.

"Les-..."

"Tolong, jangan berbohong padaku lagi..." potong Kiku lembut namun tetap tegas. Ia tahu Nesia berbohong saat ini, setidaknya itulah yang dikatakan oleh dua keping oak di hadapannya.

Inesia cukup terkejut atas pernyataan Kiku. Ia sedikit curiga apabila Kiku menyadari kebohongannya. Jangan-jangan Kiku telah sadar bahwa ia adalah Inesia. Namun gadis itu hanya bisa menatap balik iris mahoni Kiku yang penuh harapan dengan keraguan, "Aku... bukan siapa-siapa..." ucap Inesia sembari menggeleng.

"Siapa namamu?" tanya Kiku lagi. Namun bukan jawaban yang didapatnya, melainkan sebuah gelengan yang lebih kencang.

"Kenapa?" ucap Kiku kebingungan, "Kau tidak memiliki nama? Atau kau tidak ingin memberitahukan namamu?"

"Aku..." Inesia mencoba menarik tangannya untuk menghindar. Hal ini malah membuat Kiku bangun dan duduk di tempat tidurnya.

"A-apa yang kau lakukan?!" pekik Inesia saat Kiku menariknya untuk mendekat, "Ugh..." Inesia mencoba melarikan mukanya yang cukup memerah saat Kiku menuntunnya untuk kembali naik ke kasur dan duduk di hadapannya, "Apa yang kau inginkan?"

"'Aku harap kau juga bisa mengeluarkan semuanya...' - apa maksud dari kalimat ini?" ucap Kiku mengganti pertanyaan.

"Uh... Itu..." Inesia masih mencoba mencari jalan untuk melarikan diri.

"Tatap aku dan coba jawablah..." ucap Kiku cukup kecewa karena gadis di hadapanya ini sama sekali tidak mau terbuka padanya, "Itu jika kau benar-benar berterimakasih padaku..."

Inesia yang memalingkan muka langsung memutar kepalanya menghadap Kiku dengan panik, "Aku..." suara Inesia tertahan saat ia menatap mata Kiku yang teduh dan sedih, "Aku hanya... Aku tidak ingin kau mengenalku... Aku... Tidak ingin menyeretmu dalam hal ini...", serunya resah, "Kumohon... Mengertilah..."

"Bagaimana?" tanya Kiku sedikit emosi, "Bagaimana aku harus mengerti jika kau tidak membiarkanku tahu?" ucapnya lagi sembari menggenggam kedua tangan Inesia.

"Aku..." Inesia menundukkan kepalanya, mencoba menimbang-nimbang pilihan yang ia punya, "Oke... Aku akan cerita... Tapi, kumohon... Berjanjilah... Jangan terlibat dengan semua ini..." pinta Inesia, "Pergilah... Jauhi kami atau apapun..." ucapnya lirih sembari mencoba menarik tangannya.

Kiku merasa hatinya terkoyak-koyak saat mendengar permintaan Nesia. Saat ini, apa yang ingin ia lakukan adalah membentak –atau paling tidak mengeluarkan kalimat keras dan keluar dari kamar ini untuk mencari udara segar. Setidaknya, agar alter keras kepala di hadapannya ini menyadari bahwa permintaannya tadi sangat salah. Ia ada di sini, siap untuk membantu gadis yang sangat ia sayangi ini. Apa yang harus Kiku lakukan agar Nesia dapat mengerti? Haruskah ia melaksanakan rencananya? Membentak dan pergi agar Nesia berpikir ulang dan mengejarnya?

Namun apa jaminannya?

Kiku tidak memiliki apapun sebagai kepastian yang akan membuat gadis ini berbalik kepadanya dan mengejarnya. Faktanya, ia bahkan tidak tahu apa isi hati Alter di hadapannya ini. Jangankan Alter di hadapannya ini, isi hati dan keberadaan Kiku di dalam alter-alter yang lain pun Kiku tidak begitu meyakini. Apakah mereka menganggap keberadaan Kiku benar-benar penting di dalam hidup mereka? Ataukah keberadaannya dapat dihapuskan dengan mudah oleh orang lain atau alter lain yang lebih berkuasa? Atau bahkan, mungkinkah keberadaannya sama sekali tidak berharga?

Ditambah lagi, alter yang kini tengah sadar, sepertinya lebih negatif daripada dirinya yang selalu paranoid.

Gadis ini tak akan mengejarnya.

.

.

Sialan. Mengapa Kiku harus berubah menjadi sangat negatif dan paranoid seperti ini sekarang? Saat mereka berdua di posisi terendah mereka.

Ya, penyakit ini lagi. Kiku belum bisa menyingkirkannya walaupun ia tahu ia harus berubah menjadi positif untuk dapat menolong Nesia. Seharusnya ia memiliki, setidaknya sedikit saja, keberanian untuk mencoba menopang Nesia. Terlebih di saat genting seperti ini. Bukan malah ikut kehilangan harapan.

Ataukah inilah titik di mana aku harus menyerah? Di sinikah?

Nyeri kembali menikam ulu hatinya. Kiku tidak pernah merasakan sakit yang amat sangat seperti ini sebelumnya. Haruskah ia melepaskan genggaman tangannya dan benar-benar pergi?

Demo... Watashi wa...

Inesia yang masih menunduk mulai kebingungan karena Kiku tak kunjung menjawab. Ia memberanikan diri untuk mengintip. Apa yang sebenarnya tengah dipertimbangkan oleh Kiku. Adakah jalan lain yang kini tengah dipersiapkan oleh pemuda yang selalu menghancurkan rencananya ini?

Namun, saat Inesia berhasil menatap wajah Kiku yang sedih dan kecewa, Ia hanya bisa terdiam. Di dalam hatinya ia bertanya-tanya, apa yang membuat pemuda ini memasang wajah sedemikian rupa? Apakah karena kesalahannya? Apakah karena permintaannya? Namun, Inesia meminta semua ini pun untuk kebaikan Kiku sendiri. Ia bukanlah seseorang yang cukup berharga dan setimpal untuk wajah sedih Kiku, dan seluruh mimpi buruk di masa depan jika mereka melanjutkan semua ini. Lagipula, siapa dirinya untuk berani melukai Kiku?

Ah, ia mulai dengan kebiasaannya lagi. Kebiasaan yang membuatnya harus menyerah akan segalanya. Mereka yang tidak memperjuangkan apapun, akan kehilangan segalanya. Inesia tahu hal ini.

Tapi... Aku...

-tes...-

Air mata Inesia yang jatuh di punggung tangan Kiku membuat pemuda itu sadar bahwa kini Inesia sedang menatapnya. Ia mengusahakan sebuah senyuman lembut, namun gagal total.

Apakah seserius itu Nesia-san memintaku untuk pergi? Ataukah ia ketakutan jika aku benar-benar pergi?

"Naze... Anata wa naite imasu?" ucap Kiku parau sembari melepaskan satu tangannya yang menggenggam tangan Nesia untuk menghapus air mata gadis itu. Gemuruh emosi yang sedari tadi ia tahan, mulai menemukan celah-celah pelarian. Hampir saja, ia ikut meneteskan air mata. Namun, hanya senyum kecil penuh ironilah yang berhasil lolos saat Kiku menatap mata Nesia yang berubah membesar karena kebingungan.

Mattaku mou... Kanojo ga Nihongo o shiranakatta no ne... –Ya ampun... Dia kan tidak tahu bahasa Jepang, kan, ya...

Kenapa, di tengah-tengah kehancuran hatinya, Nesia masih tetap saja bisa untuk menggelitik sanubarinya dan menghangatkan jiwanya?

Ia melepaskan tawa kecil penuh kehangatan, kemudian berdeham kecil dan mengulangi pertanyaannya dengan lebih lembut dan tenang, "Kenapa kau menangis?"

Mata yang membesar karena bingung kini berubah menjadi kaget. Inesia tidak menjawab apapun. Ia tidak bisa menjawab Kiku dengan kata 'tidak' yang sudah berada di ujung lidahnya. Suaranya menghilang begitu saja dihapus oleh air matanya yang malah semakin deras.

.

.

Mengapa, berbohong kepadanya selalu begitu menyakitkan?

.

.

"Uh?" Inesia terhenyak saat Kiku mendorong tubuhnya lembut untuk berbaring di tempat tidur. Namun ia terlambat untuk memberontak, karena sedetik kemudian Kiku yang ikut berbaring di sampingnya telah memeluknya dengan kuat dan hangat.

"Sudah terlalu larut... Kita juga sudah lelah, ini hari yang panjang..." ucap Kiku lirih, ia tahu ia sedang melarikan diri dari sebuah keputusan dan mungkin jawaban menyakitkan dari alter yang kini bangun, "Kita jadi terlalu emosional... Maaf, jika aku melukaimu..." lanjutnya sembari mengecup dahi Nesia sebelum menarik gadis itu lebih dalam ke pelukannya.

"Uuuh..."

"Jangan menangis terus... Tidurlah..." ucap Kiku lirih sembari mengelus rambut Nesia.

Ini mungkin menjadi yang terakhir kalinya ia bisa memeluk Nesia. Seluruh kondisi dan kenyataan bertentangan dengan keinginannya dan apa yang ia bayangkan. Nesia terlalu jauh dari jangkauannya, dan gadis ini semakin menjauh. Kiku tak akan pernah bisa untuk menggapainya. Saat-saat seperti ini jugalah yang membuatnya menyesal karena harus mengingat bahwa ia memiliki rantainya sendiri yang mengekangnya dan menghalanginya. Tentang peringatan dr. Greef, tentang masalah pribadinya, tentang DID yang Nesia alami, tentang ia yang juga sama sekali tidak tahu harus bagaimana dan ke mana ia akan mengarahkan semua ini kalaupun Nesia memilihnya.

Benar-benar tidak bertanggung jawab...

Kiku tersenyum kecut menghadapi ketidaksanggupannya, bahkan ia jengkel sendiri pada dirinya yang mengatakan, "Besok semuanya akan membaik..."

Tidak menyelesaikan apapun, dan besok bisa saja semakin memburuk.

"Um..." angguk Inesia kecil. Ia ingin percaya, ia sangat ingin percaya bahwa besok akan menjadi lebih baik.

Mungkin. Mungkin karena inilah berbohong pada Kiku merupakan hal yang sangat menyakitkan bagi Inesia. Kiku selalu memberikan harapan padanya, pada alter-alternya yang lain. Ia memberikan keberanian pada dirinya untuk berpikir bahwa mungkin ada sesuatu yang berharga yang tersisa di dalam dirinya. Keberanian untuk mulai menatap dirinya sendiri, dan keluar –menguasai dirinya sendiri dengan kemauannya sendiri, bukan karena alter lain. Namun karena ia ingin membuat ingatan seperti apa yang selalu ia saksikan dari dasar kesadarannya yang gelap dan kosong.

Ia ingin membuat seluruh ingatan itu. Tentang Kiku yang tenang –dan selalu mencoba untuk tenang. Kiku yang kebingungan. Kiku yang kerepotan. Kiku yang canggung. Kiku yang tegas namun tetap lembut kepadanya. Kiku yang marah dengan cara yang aneh. Kiku yang tersenyum hangat dan menatapnya teduh. Kiku yang misterius dan menyembunyikan 'hal-hal aneh' di belakangnya. Kiku yang memutar otaknya dan jengkel karena mereka bertengkar. Kiku yang mau bersabar. Kiku yang membuat kaget seluruh alternya karena ternyata ia bisa memaksa. Kiku yang dapat membuatnya begitu ketakutan, namun hanya di dalam pelukan Kiku-lah, pikiran dan jiwanya merasa damai.

Inesia menghela nafas pasrah dan membalas memeluk Kiku dengan erat. Merapat dalam dekapan Kiku dan mencoba menikmati tempat paling sempurnanya di dunia ini, sebelum waktu untuk melepaskannya datang.

Bagaimana bisa aku menyerah tentangnya...

Bagaimana caranya aku harus melepaskannya...

Jika ia memelukku seerat ini?

Kiku akhirnya sadar. Bagaimanapun mustahilnya, lebih mustahil lagi jika ia harus melepaskan Nesia karena seluruh dirinya begitu menginginkan Nesia untuk selalu berada di dekapannya.


*O*

Razak mengatur jam tangannya kembali ke waktu Kuala Lumpur. Ia membiarkan travelator bandara membawa dirinya keluar tanpa terburu-buru. Begitu banyak pertanyaan yang ada di dalam benaknya. Begitu banyak yang ingin ia sampaikan kepada kedua orang tuanya. Akan tetapi, ia urung ketika ia kembali mengingat peringatan dari Thai, abangnya.

"Sebaiknya kau tidak mengungkit apapun tentang Inesia pada keluarga kita, Razak... Aku takut terjadi sesuatu padamu..." ucap Thai tanpa senyum manisnya pada Razak sewaktu ia berada di boarding area, "Karena, leher kita yang akan jadi taruhannya..."

Leher? Oh, yang benar saja...

Razak menghela nafas lelah sembari menatap ke arah langit-langit bandara. Ia kira liburan ini ia akan memperkenalkan seorang gadis pada orang tuanya, bukan malah patah hati karena gadis itu ternyata adalah kakak sepupunya sendiri.

Eh, tapi kalau itu sepupu dari garis ibu... Seharusnya masih boleh kan?

Razak mengusap mukanya, menghilangkan semua pikiran yang telah menebarkan harapan palsu di hatinya. Ia tetap saja tidak memiliki kesempatan.

Sepupunya itu telah menikah. Ia harus camkan itu di dalam hati dan pikirannya.

.

.

"Tuanku Razak..." panggil seorang pria saat Razak melewati pintu keluar bandara.

"Mail..." ucap Razak mengenali suara tersebut.

"Biar saya bawakan barang Tuanku..."

"Oh... ya..." ucap Razak tidak antusias sama sekali sembari memberikan kopernya pada Mail.

"Apakah tuanku mau langsung pulang ke rumah?" ucap Mail lagi.

"Ya..." ucap Razak datar, "Ada kabar dari rumah?"

"Tidak banyak tuanku... Tapi Nyonya sedang bingung karena ada sebuah undangan datang dari Dalem Ageng..."

"Undangan dari Dalem Ageng?"

"Ya... Mereka menemukan sepupu tuanku, Nona Inesia..." ucap Mail sembari menunjukkan jalan ke arah mobil mereka terparkir, "Mereka akan mengadakan pesta penyambutan kembalinya Nona Inesia..."

.

.

.

"Oh..." gumam Razak datar.

*O*

"Kau bilang seperti itu ke Razak?" tanya Vie heran pada Thai yang sedang memasang sabuk pengaman pesawat yang sebentar lagi akan landing.

"Kau tak tahu bagaimana Kiku mengancamku dan Hong waktu itu, sih, ana!" dengus Thai sembari kembali bergidig ngeri, "Aku ingin lihat Razak mengalami nasib yang sama juga, ana... Mendapatkan ancaman seperti itu dari Kiku... Tapi kalau itu berarti aku akan dibunuh oleh Kiku... Tidak usah, ana..." lanjut Thai lagi.

"Tapi memangnya apa hubungannya memberi tahu keluarga Razak denganmu?" selidik Vie bingung.

"Akhir-akhir ini keluarga kita kan kembali dekat, ana... Bahkan terlalu dekat..." ucap Thai sembari mengelus Toto-chan yang berada di pangkuannya, "Kalau para orang tua itu sampai mendengar kabar bahwa Nesia telah ditemukan dari keluarganya Razak, bisa-bisa mereka bersikeras memintaku untuk melanjutkan pertunangan itu, ana..."

"Hgh... Kakek Tara ada sekolah dan camp, tapi tidak ada pemberitahuan dari keluarga mereka... Mungkin keberadaan Nesia memang sengaja disembunyikan oleh Kakek Tara dan hanya orang-orang tertentu yang tahu keberadaannya... Atau... entahlah aku juga tidak mengerti, ana..." ucapnya lagi sembari tersenyum ceria ke arah Vie.

"Pertunangan?" tanya Vie khawatir sembari menarik kain lengan baju Thai.

"I-itu hanya kemungkinan kecil, ana..." jelas Thai kagok, "Yang penting keluargaku kan tidak tahu... Maka dari itu, aku bilang ke Razak juga biar keluarganya tidak heboh kemudian keluargaku tidak akan mengendus yang macam-macam, ana..."

"Lagipula..." Thai menggenggam tangan Vie lembut, "Mereka akan segera menemuimu dan melupakan perjanjian masa lalu itu, ana..." ucapnya sembari tersenyum lembut, "Percaya padaku, ana?" lanjutnya sembari menaikkan alis.

"Ya, Preecha..." Vie membalas dengan senyuman termanisnya, membuat Thai tertawa kecil.

"Sudah lama aku tak dipanggil seperti itu, ana..." ucapnya di sela tawa, "Kau masih ingat namaku..."

"Y-yah... Aku akan bertemu dengan keluargamu... Masa aku memanggilmu dengan nama 'Thai' di depan orang tuamu?" dengus Vie sembari memandang ke luar jendela pesawat.

"Kalau begitu, aku juga akan memanggilmu dengan nama aslimu, ana..." ucap Thai sembari tersenyum ceria yang membuat muka Vie memerah malu.

Eeeeehh...?!

.

.

"Siapa ya?" tanya Thai inosen sembari mempertahankan senyum ceria, "Aku lupa, ana..."

Vie terdiam sejenak dan menghimpun nafasnya, "MATI KAU, DASAR GAJAH–FREAK!"

*O*


Kiku membuka matanya perlahan, merasakan disorientasi dan kebingungan sesaat. Tentang di mana ia sekarang dan apa yang terjadi pada dirinya. Mungkin karena ia bangun begitu telat, kepalanya menjadi pusing dan kebingungan. Kamar hotel yang ia tempati telah berubah menjadi sangat terang akan sinar matahari siang. Walaupun ia tidak tidur di bed dekat jendela dan gordennya masih tertutup rapat, Kiku masih bisa merasakan silau yang mengganggu matanya.

Sial. Mereka tidak akan siap untuk check-out. Kiku harus menelepon resepsionis untuk memperpanjang waktu tinggal mereka.

Namun demikian, Kiku hanya bisa menatap kasur di sampingnya yang kosong karena gadis yang menempatinya telah berpindah ke dalam selimutnya. Memeluknya dengan sangat kuat seperti gurita hingga ia tidak bisa bergerak. Meski begitu, jika Nesia sendiri tidak memeluknya seperti ini pun, ia juga tidak akan pergi.

Terlalu nyaman.

Kiku tersenyum lembut saat melihat wajah tidur Nesia yang masih berusaha mengeratkan pelukan dan merapat manja padanya tanpa sadar. Tawa kecil tidak dapat Kiku tahan ketika ia menghapus air liur yang meleleh di sudut bibir mungil Nesia.

Betapa berharganya saat-saat seperti ini. Ingin Kiku menghentikan waktu untuk terus memandangi wajah inosen Nesia yang terlelap. Wajah tanpa ketakutan, tanpa kesedihan, tanpa keraguan terhadap dirinya. Hanya terlelap dalam kenyamanan, begitu pasrah dan percaya, tenang karena merasa aman di dalam pelukannya.

-Trrrrrt... Trrrrrrrt...-

Suara dering telepon membuyarkan lamunan Kiku. Kiku tahu ia harus mengangkat telepon itu. Ia menebak pihak manajemen hotel menginginkan kepastian, apakah mereka akan check-out atau tidak. Kiku berusaha untuk melepaskan diri dari Nesia karena ia harus berjalan menyebrang untuk mencapai meja bufet tempat telepon tesebut bertengger.

Kiku mengangkat telepon, dan benarlah tebakannya. Ia segera melakukan perpanjangan reservasi untuk satu hari lagi meskipun mungkin mereka akan pergi sore nanti.

Atau mungkin, ia akan mengajak gadis ini untuk dinner?

Bah! Andaikan tak ada perusahaan menjengkelkan yang harus ia urus, Kiku akan dengan senang hati untuk melakukannya. Atau bahkan menghabisakan liburan musim panas ini hanya berdua dengan Nesia, berjalan-jalan memutari Eropa.

Ah, itu terdengar seperti Honeymoon. Tiba-tiba muka Kiku terasa panas, bahkan mungkin mengalahkan terik matahari di luar sana. Sejenak Kiku tertarik untuk pergi, namun di detik selanjutnya ia berubah menyumpahserapahi, walau masih dengan muka yang membara malu.

Oh, sialan, perusahaannya.

Dengusan jengkel Kiku kembali berubah seketika saat ia menutup telepon dan memandangi Nesia. Gadis yang masih belum bangun itu mulai mencari-cari dirinya yang menghilang. Tangannya menepuk-nepuk kasur mencari Kiku yang semalaman ia peluk.

Kiku tertawa kecil melihat kelakuan gadis itu. Walaupun di dalam pikirannya ia mulai khawatir karena kewarasan, pengendalian diri dan emosinya tampaknya tidak bisa ia kendalikan lagi. Butuh berapa detik ia berubah dari nyaman-terganggu-antusias-jengkel-canggung-malu-murka-dan kini tertawa geli?

Oh, di bawah 180 detik.

Betapa penuh dengan sejuta emosi dan wajah, Kiku sekarang ini. Adiknya, Sakura, tidak perlu mengirimnya ke terapis lagi karena khawatir dan jengkel kakaknya tidak memiliki emosi dan bermuka datar. Tapi mungkin Kiku masih akan pergi sendiri karena sepertinya ia telah melangkah ke area 'over dosis'.

Inesia bergumam kecil di dalam tidurnya. Kali ini tidak hanya tangannya yang mencari-cari kehangatan Kiku, namun juga tubuhnya yang mulai bergeser dan berguling di atas kasur. Sedangkan Kiku hanya diam di tempat, memperhatikan gadis manis itu dengan ketertarikan dan rasa geli yang memuncak.

Baru sempat Kiku menutupi mulutnya dengan punggung tangannya untuk menyembunyikan sebuah tawa yang lolos, matanya yang baru saja terbuka saat menyelesaikan tawa kecil dipaksa terbelalak menyadari Nesia yang bergeser sudah hampir jatuh dari kasur. Intuisi dan reflekslah yang mengambil alih dan membuat Kiku loncat saat Nesia benar-benar jatuh dari kasur.

-duk...-

"Ugh..." erang Kiku saat kepalanya terantuk meja kecil di samping bed dan ia berhasil 'didarati' oleh Nesia, "Nesia-san... daijou..." pertanyaan Kiku terhenti saat ia menatap ke arah Nesia yang berhasil ia 'selamatkan'.

Gadis itu masih terlelap, bahkan semakin dalam karena kini ia telah menemukan Kiku(nya).

.

.

.

NAZE DESU KA?!

"Pffft!" sontak Kiku memalingkan mukanya dan menutupi mulutnya dengan kedua tangannya demi menahan tawa masif-nya.

Alasannya, karena ia tidak ingin mengganggu wajah lucu yang Nesia buat. Wajah yang kembali nyaman saat gadis itu memeluknya dan merapat manja padanya, tidak sadar sama sekali bahwa gadis itu telah jatuh dari tempat tidurnya.

Kiku mencoba melirik Nesia yang masih tertidur di atasnya dengan sangat nyaman. Di tengah senyum gelinya, pemuda itu mengacak rambutnya sendiri dengan gemas. Tidak habis pikir dengan kejadian yang selalu menimpanya saat bersama dengan gadis ini, entah yang baik maupun yang buruk.

"Baka..." bisik Kiku gemas sembari menyentuh pipi kiri Nesia yang tembam, memencet permukaan kenyal dan halus itu berkali-kali sampai Inesia melengguh dan memutar kepalanya. Menyembunyikan pipi kirinya yang diganggu oleh Kiku, namun tidak sadar telah menyediakan pipi kananya untuk menerima nasib yang sama.

Tawa kecil berhasil lolos saat Inesia menggumam panjang dan berusaha, dalam setengah kesadarannya, menyingkirkan tangan Kiku dari mengganggu tidur cantiknya.

"Baka..." lirih Kiku sembari menatap teduh ke arah sang gadis sembari membalas pelukannya dengan erat,

.

.

"Aishiteru yo..."


*O*

-Tuan Besar... Anda seharusnya sedang terbang... Apakah anda berniat membuat heboh dunia dengan kecelakaan pesawat? Kita bisa membahas tentang semuanya nanti!-

Kakek Tara tersenyum geli mendapatkan jawaban SMS bernada khawatir dari Surya. Segera ia mengetikkan balasan untuk bawahannya tersayang itu.

-Lagi transit... Surya minta oleh2 apa?-

-Tuan Besar... Apakah anda bermaksud membunuhku dengan rasa khawatir?!-

Balasan cepat dari Surya membuat Kakek Tara tertawa terpingkal-pingkal. Bahkan, ia sampai terbatuk-batuk dan hampir membuat kanker boyok-nya kumat. Kakek Tara tersenyum lembut. Ia heran pada Surya yang selalu coretparanoidcoret terlalu peduli akan keselamatannya, namun hal itulah yang membuat Kakek Tara merasa bahwa ia tidak menghadapi semua ini sendirian. Bahwa ia memiliki orang-orang yang menganggapnya sebagai keluarga.

-Surya... Baru saja kau hampir membunuhku dengan kanker boyok...-

-Apakah Tuan Besar baik-baik saja?! Sesampainya di Indonesia, kita akan langsung melakukan Medical check-up!-

Kakek Tara tersenyum simpul. Maksud hati ingin menggoda Surya lagi, akan tetapi, belum sempat Kakek Tara menulis balasan, terdapat SMS lagi dari Surya.

-Titik. Tidak ada kata 'tapi'!-

"Hmft! Ahahaha!" Kakek Tara kembali tertawa.

Surya... Surya... Ada-ada saja...

*O*

-Pip...-

"Lu lagi ngapain, sih, Sur? SMS-an sama big boss?" tanya Jaka tanpa melepaskan pandangan dari komputernya, "Hati-hati darah tinggu, lu..."

"Anjir ini kakek-kakek nyebelin banget, seh! Dikhawatirin malah nggoda! Patekna sisan-... – Bunuh sekalian..."

"Wooooooy... Nyebut, Sur! Tu Kakek sebutannya RI 3, bro..." ucap Jaka sembari akhirnya melepaskan pandangan dari layar komputernya.

"Babah!" sungut Surya kesal sembari membuka handphone-nya lagi, "Kau percaya?! Kakek ini minta laporan dari kantor utama siap saat kita bertemu! Beliau kan baru saja dari perjalanan jauh... kalau tidak istirahat-..."

"Lu aja yang parnoan sama gampang banget digodain..." ucap Jaka lelah.

"Berisik!" seru Surya sebal pada Jaka.

.

.

"Lu udah bilang ke Big Boss? Tentang desas-desus cucunya itu?" tanya Jaka membuka diskusi lain.

"Aku nggak bisa bilang..."

"Lah, napa?" kali ini Jaka benar-benar melepaskan dirinya dari komputer dan menatap Surya, "Big Boss harusnya tahu... Lagipula ini menyangkut rencananya juga..."

"Ya... Kau pikir sendiri... Mereka, yang jelas-jelas ingin menyapu bersih Dalem Ageng sekarang malah mengabari bahwa mereka menemukan cucu Tuan Besar... Bahkan saat Tuan Besar memiliki rencana untuk memperbaiki semua kesalahannya dengan rencana 'cucu palsu' itu... Kau kebayang nggak sih perasaan Tuan Besar?"

"Gua nggak paham..." jawab Jaka pendek sembari kembali ke komputernya.

"Lu aja pekok..." celetuk Surya sinis yang membuat Jaka urung untuk melanjutkan kegiatannya.

"Eh... Lu kalo ngomong direm dikit bisa?" seru Jaka sebal.

"Yo bayangno ae... Selama ini Tuan besar selalu merasa menjadi kakek yang jahat... Kalau beliau sampai tahu cucu 'asli'-nya ditemukan, sedangkan dia sedang mempersiapkan cucu palsu, apa yang beliau rasakan nanti? Itu nanti seperti dia mengkhianati cucunya lagi, kan?"

"Iya... tapi yang ditemukan ini emangnya 'asli'?" ucap Jaka sambil menampilkan gestur tanda petik, "Kalau menurut gue, sih, paling KW-lah..."

"Maka dari itu... Aku takutnya cucu yang ditemukan ini palsu... Tapi karena Tuan Besar baper, beliau jadi buta arah... Lagipula, kalau asli juga... Mereka kan yang nemuin, kali aja udah dicuci otak tuh anak..."

"Lah... Kalau gitu bukannya malah Big Boss harus tahu, nggak? Mumpung belum sampe Indonesia sama belum baper, tuh... Nanti malah keduluan dicuci otak, lagi, si Big Boss..."

"I-iya sih..." ucap Surya mempertimbangkan, "Terus bagaimana dengan Den Haag?"

"Impossible..."

"Maksudnya?"

"Nih... Lu dengerin, ya... Tanpa penyelidikan aja, lu harusnya kebayang... Geografi lu berapa sih?"

"Apaan sih?! Aku tahu Den Haag itu di Belanda..." ucap Surya, "Kedubes kita buat Belanda ada di sana..."

"Nah itu... Lu tahu kan Belanda kayak apa tanahnya? Reklamasi laut... Permukaan tanahnya di bawah permukaan laut... Jangankan nyari gunung, nyari bukit di Den Haag aja sama konyolnya sama nyari ondel-ondel di puncak Jayawijaya..." lanjut Jaka, "Plis, tu negara emangnya kebagian pegunungan Alpen, apa? Gue malahan lebih semangat kalau disuruh cari TKPnya ke Swiss... Lebih masuk akal..."

"Maksudmu?"

"Nih... Kecelakaan Dirgantara... Yang katanya masuk ke jurang yang sangat dalam, sampai katanya jasadnya rusak berat, sampai-sampai Kakek Tara tidak diperbolehkan melihatnya itu... Nggak mungkin lah kejadiannya di Den Haag... Sampe mati juga, mimpi aja nggak bakal... Gue bahkan bingung kenapa nggak ada yang nyadar..." ucap Jaka sembari menoleh sebentar dari layar komputernya, "Lu kalo bisa nemuin jurang sedalem yang mereka deskripsikan di Den Haag, gue traktir lu Haagendazs setiap hari selama dua tahun! Den Haag itu kota besar... Kota residensial... Kota istana... Kota hukum... Di Belanda, yang tukang reklamasi laut... Tanahnya rata, nggak ada bukit-bukitnya... Lu kira rumahnya si Monang apa, di Bukit Barisan?"

"Eh, bukan aku juga yang disosor, kali... Aku cuma minta tolong kali aja kau bisa nemuin TKP yang mereka jabarkan itu... Kalau TKP itu nggak ada, berarti..." Surya tidak menyelesaikan kalimatnya. Kata-katanya tertelan pikirannya tentang berbagai kemungkinan yang bisa saja terjadi.

.

.

.

"J*nc*k!" umpat Surya kesal.

"Anjiiiir... Nggak gue juga kali yang lu sumpahin..." seru Jaka sebal sekaligus kaget sembari menatap Surya dengan sengit.

"Ya, tapi... Kalau gitu Dirgantara... Terus Inesia... Bisa aja mereka benar-benar masih hidup, bernafas atau apa..." seru Surya sembari menggaruk kepalanya frustrasi.

"Ya... Bisa juga mereka membunuh mereka di TKP lain..." gumam Jaka.

"Terus kenapa kau bilang mungkin ada petunjuk di Den Haag?" tanya Surya, "Aku sudah bilang ke Tuan Besar kalau mungkin ada petunjuk di sana!"

"Eh... Itu hasil penyelidikannya si Sutan yang doyan bolak-balik nengokin calon istrinya di Wina ya..." ucap Jaka sedikit baper, "Jangan salahkan aku..."

"Itu tidak termasuk dalam TKP yang 'mereka' jabarkan?"

"Tidak..."

.

.

Aktifitas perkomputeran Jaka seketika berhenti saat ia merasakan aura yang sangat tidak mengenakkan. Ia menatap satu-satunya makhluk yang bisa mengeluarkan ancaman dengan kagok, "Gue nggak bermaksud menyembunyikannya dari elo!" balasnya membela diri, "Lagipula apa untungnya?!"

"Jadi... yang 'mereka' jabarkan adalah...?"

"D-dirgantara meninggal karena kecelakaan lalu lintas, menabrak pembatas jalan dan masuk ke jurang yang sangat dalam, mobilnya terguling menyebabkan jasadnya rusak parah sehingga Kakek Tara tidak diperkenankan melihatnya... Lalu dikubur dan sudah... selesai..."

"Yang Sutan dapatkan?" ucap Surya, "Semuanya..." tambahnya memperingatkan.

"Terdapat sebuah kecelakaan di Den Haag... Jam yang tidak terlalu sibuk dan jalan yang tidak terlalu ramai sehingga tidak banyak yang menyaksikan... Tapi ada beberapa yang masih mengingatnya karena kecelakaan itu sungguh aneh..."

"Anehnya?"

"Mobil menabrak pembatas jalan dan bahkan masuk ke sungai... Tapi ada beberapa saksi mata yang melihat bahwa sebelum kecelakaan, kaca dashboardnya sudah pecah..."

"Eh?" Surya menggumam heran, "Bagaimana?"

"Ya, nggak tau..." ucap Jaka sembari menaikkan alisnya, "Mungkin saja..." Jaka menangkupkan kedua tangannya, membentuk pistol dengan jari-jarinya dan mengarahkannya ke wajah Surya yang memucat.

Jaka tidak menyuarakannya, tapi bunyi tembakan sangat jelas terdengar di dalam kepala Surya.

"Ya ampun..." ucap Surya sembari memejamkan mata, "Ya Tuhan..."

"Kita tidak dapat mengkonfirmasi penyelidikan ini ke polisi di sana... Hanya itu permukaan akar yang kita tahu dari masalah yang sedang kita cari... Seharusnya kalau kita gali di sana, kita akan menemukan ujung terdalamnya..." ucap Jaka sembari kembali ke layar komputernya, "Atau kalau mau lebih efektif lagi, gali di kuburannya Dirgantara dan anaknya..."

"Tapi anaknya kini akan datang ke pesta 'selamat datang' itu..." celetuk Jaka sembari tertawa kecil, "Aku ingin tahu sebagai apa dia datangnya? Tuyul kah? Mengingat dia waktu itu masih sangat kecil... Eh, tempat mati mempengaruhi jenis hantunya tidak?"

"Ugh!" Surya mendecak gemas sembari mengacak rambutnya, "Sumpah ya... Ini keluarga kalau nggak jadi tiang penopang ekonomi-nya Indonesia aja... Gue tonton sambil makan popcorn!"

"Terus... Mau lu gimana lanjutannya?" tanya Jaka.

Surya mendenguskan nafas lelah sembari memijat pangkal hidungnya, "Kita harus tahu siapa 'Inesia' yang mereka bawa ini... Kalau benar tuan putri dan putera mahkota tidak dibunuh, kita harus tahu apa yang sebenarnya terjadi dan apa strategi 'mereka'... Kita juga harus menyelamatkan mereka sehingga setan-setan itu tidak bisa mengendalikan Tuan Besar lagi... Walaupun Kakek Tua itu menjengkelkan, beliau tetap aset negara yang RI 1 percayakan pada kita... Dan keluarganya, sama pentingnya..."

"Gue setuju..." ucap Jaka sambil merebahkan diri di kursinya, "Kita nggak bisa biarkan orang-orang itu menang kali ini... Sinetron ini sudah terlalu panjang dan menyedihkan...

"Saatnya happy ending..."

*O*


"Ohayou gozaimasu... Nesia-san..." suara Kiku yang lembut dan hangat menyapa Inesia yang masih setengah sadar.

Inesia mengucek matanya dan mengusap mukanya perlahan sebelum mencari sumber suara yang sangat dekat dengan dirinya, "Apakah tidur Nesia-san nyenyak?" ucap pemuda itu lagi sembari melayangkan senyum yang mengalahkan indahnya bunga Seruni.

Sejenak, Inesia merasa bahwa dirinya tengah berada di dalam suatu masalah besar karena, secara keseluruhan, ia memang berada di situasi dan kondisi yang salah. Mukanya tiba-tiba memanas saat ia menyadari dimana ia dan apa yang mungkin telah terjadi. Oleh karenanya, sebelum Kiku menyadari pergantian warna di wajahnya, Inesia buru-buru menarik selimut dan menutupi kepalanya.

Heee? Naze?!

Kiku yang tidak mengerti akan gelagat Inesia hanya bisa bertanya-tanya dalam hati. Apa kesalahannya? Apa yang terjadi? Apakah ini berkaitan dengan yang tadi malam?

"Ano..."

"Uh... Jam berapa ini?" tanya Inesia sebelum Kiku memulai kalimatnya. Ia berusaha untuk duduk, namun masih bersembunyi di balik selimutnya.

"Hampir jam 2..." jawab Kiku sembari tersenyum tipis karena geli melihat tingkah aneh Nesia, "Resepsionis memarahiku tadi, katanya mereka sudah menelepon kita berkali-kali..." canda Kiku mencoba mencairkan suasana.

"Uh..." Inesia mencoba menerjemahkan informasi yang baru saja diberikan oleh Kiku, sekejap ia panik, "Kita terlambat check-out?" serunya sembari menyibakkan selimut dan menatap Kiku meminta penjelasan.

"Ugh?!"

Gerakan cepat Inesia tidak hanya membuat jantung empunya hampir copot, namun juga milik Kiku yang sebenarnya hanya bergerak ringan untuk ikut duduk dan menatap lembut ke arah Inesia. Hal ini dikarenakan wajah mereka hampir bertabrakkan dan bibir mereka hampir bertemu.

"Gaaaah!"

-duk...-

Sekali lagi, Kiku terantuk meja kecil di samping bed itu saat meloncatkan dirinya ke belakang, yang juga gagal karena Inesia masih duduk di pangkuannya, sembari berteriak kaget bersamaan dengan Inesia yang kembali menutupi dirinya di balik selimut.

#QuotesOfTheDay: WTH is wrong with you two?! -Author

"Uh... Eh... Etto... tidak apa-apa... Kita tidak perlu terburu-buru untuk check out..." ucap Kiku kagok menahan mukanya yang marah padam dan jantungnya yang meloncat-loncat gila seperti kelinci yang melihat gundukan wortel setelah tidak makan 1 bulan, "A... Aku bilang kita akan stay satu hari lagi... Meskipun begitu, sepertinya sore ini kita akan tetap check-out... Kita harus kembali ke sekolah dan..." kata-kata Kiku terhenti, ia tidak dapat melanjutkan kalimatnya, "Pokoknya kita harus kembali ke sekolah..."

Kuso! Jantungku! Tenanglah!

"Ano... Sumimasen?" tanya Kiku meminta jawaban dari gadis yang masih membuntal di balik selimut. Ia tidak yakin harus memanggilnya dengan nama siapa, "Moshi-moshi?"

.

.

"Hgh..." Kiku menghela nafas lelah, "Kau tahu... Sangat sulit memanggilmu ketika aku tidak tahu namamu..." ucap Kiku sembari menepuk buntalan selimut itu, "Ne... O namae wa?"

Inesia hanya diam dan menatap kosong selimut yang melingkupinya. Lagi-lagi, kalimanya tertahan tepat di ujung lidahnya. Ingin Inesia mengakui namanya pada Kiku. Namun, hal itu hanya akan menimbulkan masalah yang lebih dalam lagi jika Kiku sampai tahu namanya.

"Ne..." merasa tidak dihiraukan, kini Kiku mulai gatal untuk menarik paksa selimut yang menyembunyikan Inesia, "Jawab aku..." ucapnya sembari menarik selimut dengan tiba-tiba.

Inesia yang lengah, gagal mempertahankan selimutnya. Gadis itu hanya bisa memekik kaget sebelum berteriak horor, "Tunggu! Apa yang kau lakukan?!"

Teriakan gadis tersebut tidak membuat Kiku mundur dari membalikkan posisi mereka dan mengunci tubuh Inesia di bawahnya, "Tatap aku..." ucap Kiku datar saat gadis tersebut tetap bersikeras memalingkan wajahnya.

Wajahnya yang lucu dan memerah.

"O-oke..." dengus Inesia sebal. Selanjutnya ia menggeser tubuhnya dan menatap Kiku langsung ke iris mahoninya. Membuat Kiku kaget dan malah memalingkan mukanya yang panas.

"Apa yang salah denganmu?!" teriak Inesia dengan suara bergetar sembari ikut memalingkan muka.

Sialan pemuda ini! Sudah susah payah ia mengumpulkan nyali untuk menatapnya, malah dibalas dengan memalingkan mukanya sendiri.

Kuso... Kenapa aku senervous ini?! Kenapa begini?! Kenapa aku tidak sanggup menatapnya secara langsung?!

"Sumimasen..." ucap Kiku lemas, "Aku hanya... Aku ingin tahu namamu..." ucap Kiku lembut sembari mencoba menatap mata Inesia secara langsung.

Saat Inesia kembali menatap Kiku, saat itulah Kiku tahu bahwa ia dalam masalah. Hanya sekejap, dan pemuda itu telah terperangkap keping oak yang membalas tatapannya. Membungkamnya dalam takjub dan pesona.

"Ne... Beritahu aku..." bisik Kiku sembari menempelkan pelipisnya pada pelipis Inesia dan memejamkan mata.

Kiku merasa sangat tenang ketika kepala mereka bersentuhan. Layaknya ia tengah membuat jembatan antara pikirannya dan pikiran gadis mungil yang sama sekali tidak bisa ia tebak.

Onegai...

.

.

.

.

.

"Inesia..." ucap Inesia lirih.

"Huh?"

"Setidaknya, seseorang bersikeras memanggilku demikian..." lanjutnya lagi sembari menatap Kiku dengan tatapan tegas, membuktikan bahwa ia tidak sedang berbohong.

He?

.

.

.

HEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEE?!

Kiku hanya bisa membelalakkan matanya. Kaget bercampur panik berputar di dalam dirinya ketika akhirnya ia mengetahui siapa yang kini ia hadapi.

Inesia.

Alter genuine Nesia. Alter yang paling asli yang tidak pernah ia temui selama ini.

Akhirnya dia keluar.

Mendadak Kiku tidak tahu harus bersikap seperti apa. Ia begitu bingung saat ini, begitu gugup. Ia belum mempersiapkan kata-kata mutiara, ia bahkan sedang di dalam saat-saat yang sangat buruk setelah tadi malam bertempur dengan keraguannya sendiri.

Tadi malam.

Kiku sontak berdiri, pikirannya berkelana menyangkal bahwa yang tadi malam bangun bisa jadi juga Inesia.

Oh, ya ampun... Ya ampun... Apa yang harus aku lakukan?!

"Mau sampai kapan kau di atasku terus?!" seru Inesia jengkel. Sialan. Ini sudah kedua kalinya Kiku menggerayanginya! Coba saja kalau kali ini ia berbuat hal aneh lagi! Inesia tidak akan menghitung yang tadi malam sebagai pengampunan lagi!

.

APA YANG SUDAH AKU LAKUKAN?!

Kiku sontak meloncat mundur dan membuat ruang untuk Inesia. Lupakan yang tadi malam! Saat ini ia telah membuat First impression yang sangat salah!

Saat Inesia bangkit dan mencoba berdiri, Kiku hanya memperhatikannya dalam diam dan khawatir.

"Apa?" tanya Inesia kebingungan menyadari mata Kiku selalu mengikutinya, "Aku Cuma mau ke kamar mandi!" ucapnya sembari berlalu, meninggalkan Kiku yang masih merasakan disorientasi tingkat dewa mengekang pergerakannya.

INESIA-SAN! ITU INESIA-SAN!

Kiku mulai berjalan bolak-balik di antara 2 tempat tidur di kamar tersebut. Mencoba menenangkan diri dan mencari petunjuk bagaimana ia harus bersikap.

Apa yang harus aku lakukan? Greef-sensei!

Ketika mengingat dokter aneh itu, Kiku buru-buru meraih handphone-nya. Ia memasukkan nomor yang untungnya masih berada di dalam kepalanya.

Sensei... Angkatlah... Angkatlah cepat...

-pip...-

"Halo?" ucap dr. Greef mengangkat teleponnya.

"Sensei! Ini... Ini keadaan yang sangat gawat..." bisik Kiku sembari berjalan menjauhi kamar mandi.

"Tenang... Ada apa?"

"Dia... Dia..."

"Apa yang terjadi?"

"Inesia... Inesia bangun... Ia akhirnya menemuiku!" ucap Kiku sembari menoleh ke arah kamar mandi, berharap Inesia masih sibuk di dalam dan tidak keluar.

.

.

.

"Oh... Bagus dong?" jawab dr. Greef datar.

"Apa yang harus aku lakukan?" tanya Kiku hati-hati.

"Biasa saja nak Kiku... Dia tidak berbahaya bukan? Kenapa tidak Nak Kiku temani ia seperti biasanya Nak Kiku menemani alternya yang lain?"

"Tapi ini yang paling asli... Yang paling Genuine..."

"Nak Kiku... Selamat siang..." ucap dr. Greef sebelum menutup telepon.

"S-sensei? Sensei?! Moshi-moshi?!" panggil Kiku panik.

D-doushiyou?!

*O*


A/N:

Chapitra 36, vrooooh!

Author : Fuwaaah... Aku muncul lagi... Setelah sekian lama-...

Neth : Kelamaan lu, –thor... Kita semua sudah lumutan bin jamuran... =.=a

Author : M-maaf... T-T" Aku... Aku... *ngumpet di dalam lemari*

Kiku : Author-san... Ayo balas review! Ini sudah numpuk sekali, loh...

Nesia : Iya, nih... Author!

Author : *keluar dari dalam lemari* Oke... Oke... Pertama... Uh... Mulai dari mana ini? *cari-cari* Ah, Oke... Codename Sailor D-san! Lemon atau Lime, yah? Hmm...

Nesia : YOU DON'T DARE, AUTHOR!

Kiku : Uwaaaaaaaah... Kami-sama! *blushing berat*

Neth : Hei! Ini baru membuka Review kok sudah bahas beginian sih?!

Author : Lah, emang kenapa Neth? Lagipula sudah aman kok, sudah ganti jadi Rate-M...

Nesia : Aman dengkulmu, -thor!

Neth : Neeeein!

Author : Yah, tunggu saja nanti... Ohohohoho... *darksmile* Terimakasih atas reviewnya :D Oke, lanjut... kisetsu. aimai-san... Hoyaa :D Iya... Jungkir balik... Aku sedang membuat mereka koprol... :P #badumtess Riset, ya? Hmm... Benar juga...

Nesia : Apanya yang 'benar juga'?

Author : Gue kan Jones *bangga* tapi gue malah bikin cerita romance...

Nesia : =.=a berarti Author itu Jones tingkat dewa...

Author : Sebenarnya banyak baca cerita dengan banyak genre terutama romance, memperhatikan alur drama dan merenungi realitanya saja sih... Perhatikan orang pacaran... #bedumtesss

Nesia : Lu nelangsa banget sih –thor?!

Author : Berisik! Kan nanti kita jadi terbiasa dengan banyak plot, cara berpikir atau memandang (yang jelas beda, antara pakai perasaan dan logika), cara mengambil keputusan *cieileh*, jadi logikanya kagak ngawur-ngawur amat lah... Setting-nya juga, kalau nonton satu aja drama Korea kan agak paham tuh tentang perusahaan :P :P Kalau pas sudah di uplod masih ngawur, di chapter selanjutnya kan masih ada kesempatan memperjelas... Pelintir di sana! (Pelintir = twist, Twisted Story = ( ͡° ͜ʖ ͡°) )

Nesia : SESAAAT!

Author : Ya, tapi jangan sampai ketahuan... :P dan buatlah senatural mungkin dan se-'sama' mungkin feel-nya dengan twist yang memang telah direncanakan... Di cerita Alter Ego ini sebenarnya ada coretbanyakcoret yang salah –ada yang fatal bahkan, kalau reader teliti pasti sedang smirking... =.=a

.

.

.

Neth, Nesia, Kiku : M-memangnya apa yang salah? Aku tidak sadar *membuka-buka skript lama*

Author: Yah... Balik lagi, Author sendiri untuk nggarap cerita ini banyak banget baca shoujo manga sebagai bahan riset yang you-know-what-the-plot-is (baca : klise) dan mulai berandai-andai, 'kalau terjadi pada seseorang dengan watak dan background seperti Kiku atau Nesia, apa yang terjadi?', 'kalau mau dibuat se-real mungkin apa yang harus aku lakukan?', 'biar reader senang membacanya dan tidak menganggapnya sebagai suatu klise, bagaimana ya?"

Sisanya pasrah dan baca ulang...

Neth : Wat?

Author : Ih, iya... Kepasrahan itu penting, setidaknya bagi saya, kalau tidak nanti gampang banget nemuin writer's block... Pasrah saja pada karakter tokoh dan cara dia berpikir, pada tema yang sudah ditentukan, pada kenyataan, pada apa yang kau rasakan jika menjadi tokoh itu...

Neth : Lu berarti sering galau kayak Kiku?

Author : Gue ngarep banget dicintai seperti Nesia!

Kiku, Nesia : Geeeeeeeh... =.=a

Author : Dan saat baca ulang, jangan baca ulang sebagai Author... Tapi sebagai Editor yang kritis ;D Anggap saja semuanya tidak masuk akal, jadi anda bisa menilai sejauh mana anda diyakinkan oleh logika cerita anda... Oh, ya... tukar pikiran juga oke :D Tanyakan, 'cerita kayak gini, logikanya masuk akal nggak, sih?'

Mungkin sudah menjawab pertanyaan? Maaf malah jadi panjang banget ya... Berasa pro banget padahal baru keluar dua cerita dan keduanya nggak jelas... #hanyaberbagipengalaman Terimakasih atas Reviewnya :D

Neth : Oke... Oke... Next! Saudara kuroi uso... Iya... itu... rating... Hiks...

Kiku : O-oranda-san...

Neth : Pergi kau! Aku tidak mau simpati darimu!

Nesia : Lebay amat sih, Neth...

Neth : Nesia... Mengapa kau tidak mengerti perasaanku?!

Author : =.=a daripada itu... Iya... Si Nesia... Dari kemarin khusus pembicaraan konspirasi, sih... Makanya kagak muncul...

Kakek Tara : Ohohoho...

Author : Sudah... Kakek tua itu sudah kupulangkan ke kandangnya... Ini waktunya Kiku Nesia lagi :D Oh, ya, Neth... Keep dreaming on... ;D kuroi uso-san domo arigatou :D

Neth : Waarom? –Kenapa? *mojok depresi*

Kiku : Hai... Sugi wa... Yuki Shirosaki-san...Ah... Bagian CTO itu... Itu keisengannya Author-san...

Author : I-itu untuk mempertahankan karaktermu, Kiku... Di depan cerita aku bilang kau itu Otaku kelas berat... Tapi apa yang kau urusi itu Nesia mulu... Lagipula kalau ada orang Indonesia yang bisa menembus keamanan perusahaan Jepang dengan kemampuannya sendiri...

Kiku : Aku akan memburunya *sweetsmile*

Nesia : He? Kenapa?

Kiku : Kan bahaya...

Author : Ya... ya... Lakukan apa yang kau mau... Dan QuotesOfTheDay ya... I-itu... itu impulsif sih... Kalau aku menemukan kata-kata mutiara...

Kiku, Nesia : Kata-kata mutiara...

Author : I-itu... yah, impulsif...

Kiku, Nesia : Paling kelupaan...

Author : Ok! Banyak Nesia :D Neth, katanya, relakan saja Nesia bersanding bersama Kiku :D

Kiku, Nesia : *Bluuush*

Neth : Nein! Nein! Nein! Nein!

Nesia : Ok, Terimakasih atas reviewnya :D Selanjutnya... Kak kuroshiropika... *muka merah*

Kiku : Ada apa, Nesia-san?

Nesia : T-tidak... *nyembunyiin review dari Kiku* Kenapa Author... Kenapa ini rate-M?!

Kiku : ?

Nesia : Si Neth... Uh... Lagi dipersiapkan...

Neth : *melinguk cepat*

Nesia : Ceritain tentang Kiku? Kiku... *melirik ke Kiku* Kau katanya misterius...

Kiku : S-sou ka? Tidak juga kok... Lagipula akhir-akhir ini yang sedang dikorek kan aku... Aku juga dapet sosok sebagai Presdir... Intinya peranku adalah Pemuda Jepang yang bersekolah di luar negeri, yang kebetulan juga seorang presdir, yang memiliki hobi otaku, dan sedang menghadapi... kekasih *Blush*... yang memiliki Alter Ego... Seperti itu?

Author : Yep... Kurang lebihnya... *melirik kertas review yang dibawa Nesia* Kalau diganti Kuro... Hmm...

Kiku : Eeeeh?

Author : Kuro di sini kubuat sebagai sisi manly-nya Kiku...

Kiku : Tidak... Dia hanya berbuat kekerasan... Sama sekali bukan sisi manly...

Author : Sisi gelap yang posesif dan otoriter...

Kiku : Uh... =.=a

Author : Oke :D Terimakasih ya atas reviewnya :D :D *smirk* Salam :D

Neth : Next... Saudara Just Winter... *banting review* Kagak ada! Kagak aku biarkan mereka melakukan *beeep* *beeep* Beeep* apalagi *beeep*! *ngos-ngosan* Aku tidak terima!

Author : Neth... nyebut, Neth... nyebut...

Nesia : i-ini yang frontal sebenarnya siapa sih?!

Kiku : O-oranda-san... Aku jadi berpikir yang nggak-nggak nih... *muka merah padam*

Author : Iya... misteri masih banyak... Berapa chapter lagi, yah? Hmm... Itu juga masih menjadi misteri... T-T" Neth... Neth, sih... Kayaknya... Mungkin...

Neth : *melinguk cepat*

Author : Sebagai apa aku juga masih membangun karakternya... Haruskah kujadikan ia penjahat? Atau 'masa lalu' Nesia? Huehuehue... XD

Neth : Aku adalah kekasih Nesia!

Author : Tapi itu kalau aku bisa bangun karakter dia sih... Kalau nggak ya kagak... Tapi gunting taman boleh kok disiapin :D :D Ciao, Terimakasih atas reviewnya :D

Neth : G-gunting taman?

Nesia : Selanjutnya... Kak Hanazawa Yuki :D ... :O MENIKAH?! *bingung

Neth : MENIKAH?! *syok

Author : Menikah *angguk

Kiku : M-m-m-m-me-me-menikah?! *setengahsadar

Neth : Aku tidak pernah mendengarnya!

Author : Wah... Kau pasti punya masalah pendengaran, Neth...

Nesia : Tapi... Aku kan...

Author : Tenang, nak... Percayalah sama pilihan Enyak... *puk puk kepala Nesia*

.

.

Nesia : *memiting tangan Author*

Author : N-nes... Nes... Nesia... Itu tangan bisa putus, Nes... Nes! Nesia! Nanti telat Update lebih lama...

Kiku : N-Nesia-san... Tangan Author-san... *melepaskan* Kasihan kan dia sedang semester akhir, lagi... *menepuk kepala Nesia*

Nesia : Tapi... Kiku...

Kiku : Nesia-san... *tersenyum lembut* Kalau Nesia-san tidak mau, aku akan...

Nesia : Bukan begitu! Dia seenak jidak memanggil dirinya Enyak! Author! Kau bukan Enyakku!

Author : O-oke... M-maaf... Jadi... Menikahnya tidak masalah?

.

Nesia : GAAAAAAH! *melarikan diri dengan muka merah*

Kiku : N-nesia-san!

Author : Cie...

Kiku : Author-san... Kau suka sekali, sih, menggoda Nesia-san?

Author : Dia manis bukan?

Kiku : ... maa... *blushing*

Neth : Larilah yang jauh Nesia! Larilah ke pelukanku!

Author, Kiku : *melirik ke arah Neth* Kagak ada bosennya ini orang...

Author : Staff! Tolong jemput Nesia tuh! Kita belum selesai bacain review!

Staff : Oke, -thor!

Author : Karakter Kiku... Eh... Berkembang... XD

Kiku : Sangat OOC malah... =.=a

Author : Yep... Dia memang suami-able ya... XD Terimakasih atas reviewnya, byee~!

Kiku : Sugi wa... Veria-313-san :D Reaksi dan permintaan ke siapa sudah terjawab kan di chapter kemarin :D Kalau alurnya... *melihat ke Author

Author : Alurnya... Hmm... Alur garis besarnya iya, masih di dalam jalan yang benar... Detailnya yang gampang banget berubah-ubah... Tapi endingnya masih sama, kok, Kiku Nesia :D

Kiku : E-endingnya nggak akan diubah kan, Author-san?

Author : Tenang saja, Kiku... Aku masih dendam pada Neth...

Neth : Dendam apam sih 2 tahun lebih?! Kemarin baru lebaran juga!

Author : ohohoho... :D Veria-313, Teriakasih atas reviewnya yaaaa... :D :D Selanjutnya! Saudara Tomo! :D :D :D

Kiku : Ah, Tomo-san... O-hisashiburi desu :D

Author : Rindu... Rindu :D sudah hampir setahun nggak ketemu #emangpernahketemu #dibalangsensalswallow

Kiku : Iya... waktu itu Oranda-san mencurinya, sih...

Neth : Ha! Kalian yang memotong jatah munculku!

Author : Akhirnya kebongkar... Akhirnya sudah sampai di sini... Author juga sudah lega... ;D Kakek Tara memang keren banget, Author selalu suka saat menulis bagiannya Kakek Tara... Terimakasih sudah mereview yaaaaaa :D :D :D Oke! Kolom review aja! *lirik Neth

Neth : Wat?!

Kiku : Hai... Sugi wa 01-February-san...

.

.

Kiku : mungkin sebaiknya nggak kuperlihatkan pada Author... Bisa-bisa hidungnya tambah panjang 5 meter lagi...

Author : Kiku... Dia bilang apa?! *blink-blink*

Kiku : A-author-san pasti sudah curi lihat nih! Kan... Hidungnya mulai memanjang... *sweatdrop* Er... 01-February-san merasa terjepit seperti diriku...

Author : Huh? Apaan sih? *merebut kertas* ... HUAHAHAHAHA!

Kiku : Miteimasu ka?! Author-san mulai gila!

Author : Terimakasih 01-February :D :D Aku malah nggak nyadar cerita ini se-Internasonal itu... Mana nih Nesia? Staff!

Staff : Masih di tenangkan di belakang...

Author : Geeeh?! Bilang menikah aja sudah kelabakan seperti itu... Bagaimana nanti saat waktunya skrip tentang itu?! Hmmm... Iya... dia mungkin kebanyakan peran... Tapi tak apa-apa... Dia kan Drama Queen...

Nesia : Author! Aku bisa mendengarmu!

Author : Oh, sudah balik... Liat, nih, aku lagi dipuji...

Nesia, Kiku, Neth : Plis... Siapapun... Jangan puji Author lagi... Bisa-bisa menjadi tambah kagak waras tu orang...

Author : Ih, kalian jahat... T^T" Neth masuknya... Hmmm... Kapan ya... *wink* Adegan yang benar-benar M-rate...

Nesia, Kiku : *redface* AUTHOR(-san)!

Author : *Grinning*OKE FIX! Special Chapter, incoming! All night long : Kiku vs 13-...

Neth : *kehilangan kesadaran*

Nesia : TIDAK!

Kiku : Author-san! Jangan lakukan itu!

Author : Halah... lu sebenarnya pengin kan, Kiku?

Kiku : *Narik Katana*

Author : GEEEH! T-terimakasih atas reviewnya yaaa! :D :D Selanjutnya! Saudara MikiRaven!

Kiku : Huh... *masukin katananya lagi*

Author : *smirk* Terimakasih MikiRaven :D :D \(^o^\) Hehehe... Author sedang belajar dan berusaha :D Oke, dilanjut! Terimakasih atas reviewnya ya :D :D

Nesia : Selanjutnya... Kak Shaby-chan... =_= *menyipitkan mata* membaca Marathon sebelum PPU untuk UN?! Terus bagaimana UN-nya?! Bagaimana denganku?!

Author : Lebay amat ini personifikasi...

Nesia : Tapi kan... tapi kan...

Author : Istirahat sebentar baca FF nggak apa-apa lah... #digaplokseRW *smirk* Hehehehehehe... Gue lebih Awesome daripada Gilbert!

Kiku, Nesia, Neth : H-hidungnya Author memanjang lagi!

Gilbert : ... *ngintipdengantatapanmembunuh*

Author : Egh... Uh... uh... Tapi yang paling penting! Ke Kece-an Kiku! Kiku! Kita berhasil membuatmu menjadi thamvan dan berani! *memperlihatkan review ke Kiku*

Kiku : *blushing*

Author : Ceritanya nggak disc kok... Cuma Author sedang semester tua... Jadinya susah nyari waktu buat nggarap dan Update... Terimakasih atas review dan favnya yaaa :D :D :D

Kiku : Sugi wa... Southern Light-san...

Author : Uwoooh, Kiku tumben bagus ngejanya...

Kiku : Damatte kudasai!

Author : Apa katanya...

Kiku : ... Eh... Mau tambah panjang berapa meter lagi hidung Author-san nanti?

Author : Hmm?

Kiku : Oh... *blushing*

-li dan selamat anda membuat saya jatuh cinta pada kikunesia...-

Kiku : *warmsmile* Arigatou gozaimasu...

Author : ... ?

Kiku : Kami akan berjuang terus untuk mengupdatenya *bow* Terimakasih banyak atas reviewnya... Sugi wa... Umnh... A-a-au-thor-san...

Author : Hmm?

Kiku : Review dari Detektif nyasar-san...

.

.

.

.

Author : Hmmm... This is interesting... *bersedekap*

Nesia : Apaan tuh? Battle mode?

Author : Ih... ini ada yang menganalisis, Nes! Hmm... Nesia no. 2 itu... Anda akan tahu, kelak... #badumtess

Kiku : A-ano na... Author-san...

Author : Kenapa anda mengira saat Kiku demam Nesia no. 2 yang bangun?

Nesia : Ini dikasih pertanyaan malah Nana balik sih... =.=a

Author : Nesia no. 2 antara Lestari atau Inesia... Hmmm... Hmmm... Itu juga, anda akan tahu, kelak... #bedumtess syalalalalala~~

Nesia : Author mulai gila...

Author : Oh... M-maaf... Tapi aku ingin memperlihatkan sesuatu di chapter tersebut... Ya, sebenarnya masih bisa diperhalus sih... Tapi, kenapa tidak? *smirk*

Nesia, Kiku : AKU TAHU ITU! AKU TAHU CHAPTER ITU BERMASALAH! *blushing akut*

Author : Bahahaha... Oke... Oke... Ehm... Kuro, sudah... Sudah minta maaf kemarin... Sudah baikan... :D Ini sedang membangun ulang kepercayaan... :D Oke, back... Hmmmmmm... *smirk* mungkin...

Neth : Apa yang terjadi padanya?

Kiku : Entahlah, Organda-dan...

Author : Hmm... dia dipenjara oleh Inesia? Hmm... mungkin...

Nesia : Author... dari tadi mungkin-mungkin mulu...

Author : Ya sudah... Anda akan tahu, kelak... :D :D Oh... Ada lagi lanjutannya... Ah, saya malah suka kalau ada yang mencoba menganalisis... Tapi jangan terlalu berat dipikirkannya, nikmati saja Yaa :D Oh, saya kasih satu bocoran... Iya, 13 Alter *smirk*

Nesia : Itu mbocorin atau nyesattin?

Kiku : wakaran... *geleng2*

Author : Tara itu... mungkin kedua-duanya... :D :D Ah... nggak apa-apa... \(^o^)/ nggak kok... Nggak patah semangat :D :D Walaupun reader tahu dan dapat menebak ending atau mungkin alurnya, tapi untuk menghantarkan ke ending dan membangun alur itu banyak jalannya... *wink* #Iningomongapa

Eh... J-jangan terlalu dibuat pusing cerita ini... Nikmati saja :D :D :D \(^o^)/ cerita ini dibuat untuk dinikmati kok... Terimakasih banyak ya Reviewnya :D Chapter selanjutnya mohon review lagi yaaa :D :D

Nesia : Oke! Selanjutnya! Kak Mayu Tachibana... N-nuansa kelam? O-oh... chapter 21 itu...

Author : yang ada mouth-to-mouth-dramatical-medicine-things-nya? *ISeeWhatYouDidThere

Nesia : Berisik! Uh... Lalu... Kakek Tara... Iya itu Kakek...

Kakek Tara : Ada apa, cu?

Nesia : Ternyata nggak cuma numpang... Habisnya sudah desperate dikenalkan di cerita sampai aku harus satu kamar sama Kiku lagi...

Kakek : Nak Nesia... Cepat pindah ya? Atau cepat menikah saja ya?

Nesia : KAKEK!

Kiku : A-aku dapet restu! Tara Jii-san! Arigatou gozaimashita!

Nesia : daripada itu... Terimakasih atas reviewnya :D :D

Author : Lanjutt... Wei Lien-san... *hidung memanjang*

Kiku, Nesia, Neth : Eeeeekh?

Kiku : J-jeritan hatiku...

Author : Ah, nggak apa :D :D Syukurlah kalau ceritanya disukai :D Oh, yeah... Dark!Kiku :D :D

Kiku : Author-san...

Author : Kiku dibully? Oh, yeah... Itulah isi cerita ini jika disingkat... Aku sedang mempertimbangkan mengganti judul menjadi Alter Ego : Ketika Kiku Dibully...

Kiku, Nesia, Neth : Judul macam apa itu?!

Author : Oke :D Kita lanjutkan! Terimkaasih atas reviewnya yaaa :D :D

(Selesai review chapter 35)


A/N 2 : Yosh! Berhubung review yang harus di balas banyak sekali (TERIMAKASIH! :D #CapsOy), dan daripada Author menunda update terus, balasan review selanjutnya akan dilanjutkan di chapter ini tapi mipil yaaa...

Terimakasih untuk para reader... Maaf Author kagak guna, updatenya lama banget... T^T" tapi tetap mohon kritik, saran dan reviewnya yaaa...

TERIMAKASIH BANYAK :D :D \(^o^)/