"Inesia..."
Inesia menoleh lembut ke arah panggilan Dirgantara yang penuh kasih sayang. Ayahnya dengan hati-hati menyentuh sudut bibir Inesia yang membiru.
Sakit...
Inesia menolehkan mukanya sedikit agar luka tersebut tak tersentuh. Hal itu membuat Dirgantara terlihat sangat menyesal. Ayahnya tidak pernah tahu apa yang telah terjadi pada dirinya dan bundanya selama ini. Beliau tidak tahu. Oleh karena itu, ini bukan salahnya.
"Inesia... Maafkan Ayah... Semua ini karena ketidakberdayaan ayah..."
Inesia tidak bergerak sama sekali. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Hatinya telah kebas, pikirannya telah lelah dan sekujur tubuhnya nyeri tak tertahankan menahan sakit.
Sakit...
"Maaf..." ucap Dirgantara getir sembari terisak, "Ayah tidak bisa melindungimu dan bunda..."
Kumohon... Jangan menangis...
"Maaf... Maaf... Inesia, maafkan ayah... Maafkan ayah..." seru ayahnya sembari memeluk tubuh Inesia dengan hati-hati, "Bunda..."
Bunda?
-Ngiiiiiiiiiing-
"UGH!"
"Inesia... Sayang..." Dirgantara sontak melepaskan pelukannya, "Sayang..."
"UGH!"
-Ngiiiiiiiiiing-
Huh! Akhirnya istri Dirgantara meninggal juga...
.
Perempuan semacam itu tidak pantas menjadi salah satu dari Ranggawardhani...
.
Apa sih yang Dirgantara pikirkan? Memilih perempuan rendahan semacam itu?!
.
Lalu ia mati begitu saja meninggalkan anak kecil itu?
.
Anak itu traumatis dan punya gangguan kejiwaan?!
.
Kau pasti bercanda! Keluarga kita benar-benar dikutuk!
.
Anaknya juga tidak pantas menjadi Ranggawardhani!
.
Anaknya, tidak pantas menjadi anak dari Dirgantara!
"Inesia! Sayang! Inesia!"
.
"Inesia-san!" seru Kiku khawatir sembari mengguncangkan tubuh Inesia dengan sangat kuat.
"U-uh? Ya? A-ada apa?" jawab Inesia kebingungan.
Kiku mengerutkan keningnya tidak percaya. Ia telah menghabiskan lima menit sendiri untuk menyadarkan Inesia yang tenggelam dalam lamunannya.
"Apa yang Inesia-san pikirkan?"
"Uh... Tidak... Bukan apa-apa..." Inesia menolehkan kepalanya, mengecek keberadaannya saat ini. Sebuah kafe di pinggir pantai, mereka sedang memakan makan siang mereka sebelum pulang ke sekolah.
Bukan di Dalem Ageng.
"Beri tahu aku..." ucap Kiku penuh dengan nada khawatir dan penekanan.
Inesia terdiam. Ia tidak mungkin menceritakan lamunannya.
"Jangan berkata bukan apa-apa! Tidak ada orang yang melamun sampai pucat pasi seperti Inesia-san..." lanjut Kiku menginterogasi.
"Uh? Eh?" Inesia mengusap mukanya sendiri, "Uh..."
"Dan jangan berbohong padaku..." tambahnya lagi.
"A-aku sudah di cap pembohong ya?" tanya Inesia kebingungan.
"... Tolong... Aku tidak suka kebohongan..."
.
.
.
"Yah..." Inesia menghela nafas, "Jadi... Seperti apa gadis yang Kiku-senpai harapkan?"
HETALIA AXIS POWERS © HIDEKAZU HIMARUYA
In
- ALTER EGO –
LittleOrchids045
"Un? Ano...?" Kiku mengernyitkan alisnya sembari melepaskan tangannya dari pundak Inesia dan duduk kembali di kursinya, kursi di hadapan Inesia.
Apa... Apa yang harus aku katakan?
Terlihat Inesia masih menunggu jawaban Kiku dengan sangat atensi yang tinggi. Hal ini menambah kebingungan Kiku, "Maksud Inesia-san?"
"Kiku senpai tidak menyukaiku kan? Jadi, seperti apa yang Kiku senpai sukai? Aku akan melakukannya..." ucap Inesia sembari melanjutkan sarapannya, salah, makan siangnya.
Entah bagaimana, namun kebingungan Kiku kini berubah menjadi kejengkelan. Kiku tidak habis pikir, bagaimana, maksudnya, ada apa dengan Inesia menanyakan hal seperti itu kepadanya? Apakah maksud Inesia, gadis itu harus menyesuaikan dirinya sesuai dengan keinginannya agar...
Agar Kiku mau menerimanya?
.
.
Seburuk itukah persepsi Inesia terhadap Kiku?
.
.
Atau pada diri Inesia sendiri?
"Aku tidak peduli kau seperti apa, Inesia-san... Hanya... Jangan berbohong padaku... Onegai-shimasu..." ucap Kiku lirih, namun ia memastikan bahwa Inesia dapat mendengarnya.
"Tidak berbohong..." ucap Inesia mengulangi, "Meskipun itu kebohongan baik?"
.
.
"Kenapa? Apa yang membuat Inesia-san sampai harus membuat kebohongan baik?" ucap Kiku.
"Tidak boleh?"
"Tentu saja tidak!" jawab Kiku spontan.
"Tidak boleh... Huh? Baiklah..." ucap Inesia sembari mengangguk setuju. Meskipun begitu, entah mengapa Kiku merasa tidak puas, karena sepertinya Inesia menyembunyikan dan menghindari banyak hal dengan anggukan itu.
"Dan jangan menyembunyikan apapun dariku..." tambah Kiku, namun kali ini hanya ditatap dengan datar oleh Inesia.
"Hmm..." gumam Inesia sembari menyuapi dirinya sendiri sesendok omellet.
"Inesia-san..." panggil Kiku meminta jawaban.
"Aku akan ke toilet sebentar..." ucap Inesia setelah meneguk segelas jus jeruk dan meninggalkan Kiku di mejanya tanpa sempat pemuda itu mencegahnya.
.
.
.
A-apa yang salah dengannya?!
Kiku mengacak rambutnya frustrasi. Ia sama sekali tidak mengerti bagaimana ia harus menghadapi Inesia. Ada apa sebenarnya dengan gadis itu?! Atau cara pendekatannya salah? Apakah ia sudah membuat Inesia tidak nyaman?
Hgh... Dou surundesu ka?
Kiku terus mengutak-atik handphone-nya sembari mencoba berkali-kali menghubungi dr. Greef. Namun, dokter jiwa tak bertanggung jawab itu tak kunjung menjawabnya. Apa yang sebenarnya terjadi? Apakah dokter itu sedang sangat sibuk? Tapi ia juga pasien di sini dan dokter itu memiliki tanggung jawab terhadapnya juga!
Sekali lagi Kiku memencel tombol dial dan menunggu teleponnya tersambung. Baru saat Kiku mulai menyerah, dokter jiwa itu mengangkatnya, "Ya, Nak Kiku... Ada apa?" jawabnya santai.
INI TENTANG INESIA!
"Kenapa sensei baru angkat sekarang?!"
"Oh... Aku sedikit sibuk... Istriku sepertinya hamil..."
.
.
.
Ingin Kiku berteriak kencang sebagai balasan. Namun demikian, ia tengah berada di area publik dan tidak mungkin melakukannya, "Greef sensei... Onegai... Jangan bercanda lagi... Ini serius dan aku tak tahu harus berbuat apa dalam menghadapi Inesia-san! Atmosfer di antara kita sepertinya sangat salah... Aku tidak tahu harus melakukan apa..."
"Aku tidak sedang bercanda... Lagipula, nak Nesia baik-baik saja bukan?"
"Yah... Baru saja ia melamun selama hampir 10 menit..." ucap Kiku khawatir, "Muka Inesia-san begitu pucat... dan... seakan Inesia-san lupa untuk bernafas..."
"Apa yang kau lakukan padanya?" ucap dr. Greef mulai tertarik.
"A-aku tidak melakukan apapun..."
"Mungkin Nak Inesia memang suka melamun... Sepertinya ia alter yang paling banyak berpikir..."
"Sampai sepucat itu?"
"Yah... Kita tidak tahu apa yang dipikirkannya..." ucap dr. Greef, "Bagaimana kalau kau mengganggu pikirannya? Distraksi agar Nak Inesia tidak berpikir hal-hal buruk?"
"Bagaimana caranya?"
"Banyak... Peluk, cium-..."
"Sensei..." Kiku merasakan darahnya berdesir dan memerintahkannya untuk membunuh seserang.
"Bicaralah..."
"Inesia-san menyembunyikannya..."
"Yah... itu berarti kau belum mendapatkan kepercayaannya..."
-cleeeeeb...-
Sebuah Katana imajiner menusuk tepat ke jantung Kiku.
"K-ke-kepercayaan..."
"Yah... kau adalah seorang troublemaker di kehidupannya... Aku bahkan tidak heran jika Nak Inesia membencimu..."
-cleeeeb... cleeeb...-
"Mungkin kali ini adalah usaha terbesarnya untuk menyingkirkanmu, Nak Kiku... Kau kan pengganggu terbesar di rencana Nak Inesia..."
-cleeeeeeeeb...-
Kiku merasa dirinya sedang dicabik-cabik oleh perkataan dr. Greef. Akan tetapi, apa yang dikatakan oleh Psikiater tersebut memang masuk akal. Sekarang, bagaimana caranya ia harus mendapatkan kepercayaan Inesia. Itulah yang terpenting.
*O*
-splaaaassss...-
Inesia meletakkan tangannya di bawah keran wastafel otomatis dan mencuci tangannya dengan perlahan. Dilihatnya pantulan dirinya sendiri di sebuah kaca yang seakan berbicara padanya,
"Apakah kau akan mengakhirinya?" ucap seorang Alter di belakang pikirannya.
"Ya... Ini sudah terlalu bahaya..." jawab Inesia.
"Tak bisakah kau memberikannya kesempatan?" ucap alter itu lagi, "Kau tahu kau tidak sanggup berbohong padanya..."
"Maka dari itu!" ucap Inesia sembari menggebrak meja wastafel dan membuat wanita di sampingnya kaget dan pergi ketakutan.
"Kau hanya tak mau mencobanya! Aku tidak pernah tahu kau sepengecut ini!" ucap Alter lain itu marah sebagai jawaban kejengkelan Inesia, "Biarkan dia mengenalmu... Senpai akan menerimamu apa adanya... Bukankah kau telah berjanji untuk mempercayainya?!"
"Inesia! Kita. Punya. Kewajiban. Untuk. Kembali. Ke. Dalem. Ageng!" ucap Inesia sembari memberikan penekanan penuh pada setiap Kosta kata yang terucap, "Dan kita tak akan membawa senpai itu bersama kita! Aku mempercayainya! Tapi bukan seperti ini... Kita hanya akan mengulang masa lalu!"
"Apakah ini karena kakek tua itu telah mengakui kesalahannya?! Apakah ini karena kakek tua itu memohon kepadamu?!" ucap alter tersebut sinis, "Dia bahkan tak mengenalimu!"
Hentikan...
"Dia hanya ingin Pertiwi yang kembali!"
Hentikan...
"Dan jika kita kembali dengan caramu, Inesia... Tidak akan ada yang bahagia..." ucap alter itu lagi, membuat Inesia terdiam seribu bahasa.
.
.
.
"Nesia tidak akan bahagia menanggung beban seberat itu... Maka dari itu ia terus lari bersama Garuda dan kawan-kawannya..." ucap alter tersebut memberi pengertian, "Nesia tidak sanggup untuk semua ini, Inesia... Kehidupan ini, tubuh ini milikmu-..."
"HENTIKAN!"
"JANGAN LARI, PENGECUT! AKU TAK AKAN MEMBIARKANMU BERSEMBUNYI LAGI!"
-degh...-
"H-hei? Apakah kau tidak apa-apa?" tanya seseorang sembari menyentuh pundak Inesia.
"Aku tidak apa-apa... Terimakasih..." ucap Inesia sembari tersenyum kecil dan meninggalkan wastafel untuk keluar dari restroom.
"K-kau sangat pucat..."
Inesia hanya bisa tersenyum membalasnya sembari menyeret kakinya keluar dari restroom. Oh, bagus. Sekarang dia harus menghadapi senpainya lagi. Inesia tidak ingin, sangat-sangat tidak ingin bertemu dengan Kiku setelah ini. Ia ingin pergi. Menjauh. Menghilang dari sini.
Tapi, sialan. Ia tidak tahu di mana dirinya sekarang atau bagaimana caranya ia bisa kembali ke sekolah. Senpainyabilang mereka sudah ditinggal oleh rombongan sekolah mereka kemarin. Oh, dia bisa meminta tolong pada 'orang itu' untuk pergi menjauh dari sini.
Tidak.
Ia harus sampai di sekolah terlebih dahulu.
"Jangan lari, pengecut!"
Tubuh Inesia menegang. Tidak. Ia tidak berusaha melarikan diri. Ia bukanlah seorang pengecut. Ia tidak akan lari.
Sakit...
Inesia meremas kain baju di bagian dadanya. Ia menyeret langkahnya dan merapat ke tembok terdekat. Mencoba untuk bernafas dengan tenang walaupun keadaan di sekitarnya berubah menjadi panik karena dirinya yang mulai merosot dan terduduk di lantai kafe. Beberapa pelanggan kafe memandanginya bertanya-tanya dan seorang pramusaji mendekatinya.
"Kau tidak apa-apa, nona?" tanya pramusaji tersebut khawatir.
Orang-orang pun terambil perhatiannya dan mulai mendekatinya. Akan tetapi, yang menjadi fokus utama Inesia sekarang adalah seorang pemuda yang paniknya bukan main dan terus memanggil-manggil namanya sejak dari kejauhan. Bahkan pemuda itu tampaknya tak peduli akan ujung meja yang sempat membentur pinggangnya dan menghalangi jalannya, saat pemuda oriental itu berlari menghampiri dirinya.
"I-Inesia-san?! D-daijoubu desu ka?" tanya pemuda itu panik saat berhasil mencapai tempatnya berdiri, "Inesia-san...?"
"A-aku baik-baik saja..." ucap Inesia kagok. Ia masih memikirkan keadaan pinggang Kiku yang tampaknya mulai sakit, "Apakah Kiku senpai tidak apa-apa?"
"Uh... ya?" jawab Kiku mencoba menutupi.
"Hmmmft..." Inesia mencoba menahan tawanya, akan tetapi melihat muka Kiku yang semakin pucat menahan sakit, ia tak memiliki pilihan lain selain tertawa, "Puh! Hihihihihi... Itu pasti sakit sekali..." ucap Inesia riang, lupa sudah ia tentang perdebatan batinnya dan ingatan buruknya yang sedari tadi menghantui.
"Sakit pergi yang jauh-jauh, ya..." lanjutnya sembari mengelus pinggang Kiku yang membentur meja, "Hmm? Oh... Maaf...", Inesia menggigit bibir bagian bawahnya canggung ketika mendapatkan Kiku tertegun bingung.
"Hgh..." Kiku menghela nafas lega, "Tolong jangan menakutiku seperti ini, Inesia-san... Kau sangat buruk bagi kesehatanku..."
.
.
"A-aku minta maaf..." ucap Inesia tegang yang membuat Kiku menyadari satu hal.
Dia pernah.
Dia pernah menghadapi alter ini.
Alter yang selalu takut akan penolakan.
Alter yang selalu takut jika membuat kesalahan.
Alter yang selalu dihantui oleh over-ekspektasi.
Tanpa menunggu sedetikpun, saat pikiran Kiku menemukan jawaban bahwa yang hadir saat kini adalah Nesia no. 2, ia tidak bisa menghentikan tanggannya dari merengkuh gadis di hadapannya ini.
"Huh?" Inesia mengedipkan matanya bingung, "S-senpai?"
"Nesia-san... Sangat sangat sangat sangat buruk bagi kesehatanku..."
"Y-yah... Maaf?" ucap Inesia lagi, lebih bingung daripada sebelumnya.
"Apakah Nesia-san bisa berdiri?"
"Huh? Y-ya?! WakH!" tidak sempat jawaban Inesia sampai ke telinga Kiku, pemuda itu keburu mengangkatnya dan membawanya ke tempat duduk mereka semula.
"T-turunkan aku... Ini memalukan! Kiku-senpai!" bisik Inesia sembari berusaha meronta di dalam bopongan Kiku.
"Iie desu..." ucapnya sembari menyunggingkan senyum kekanakkan.
APA YANG SALAH DENGAN ISI KEPALAMU, SENPAI?!
Inesia hanya bisa mengerutkan dahinya kebingungan. Betapa Kiku bisa berubah dengan sangat cepat. Oh ya, tentu saja, Inesia tahu bahwa Kiku diindikasikan mengidap penyakit Bipolar Syndrome. Tapi ini sangat ekstrem! Beberapa menit yang lalu pemuda ini tegang dan sangat berjaga-jaga dalam menghadapinya! Berkeringat dingin dan sangat canggung bagaikan seorang pelamar kerja yang CV nya biasa-biasa saja dan tidak memiliki keahlian apapun! Namun lihat sekarang! Kakak tingkatnya ini kini bergumam riang dengan konyolnya sembari membawanya melewati puluhan tatapan jijik 'please, get a room, you lovebirds!' dari seluruh penghuni kafe.
"Kau bisa berdiri?" tanya Kiku saat mereka sampai di meja mereka. Pemuda itu sangat ingin tertawa ketika melihat muka gadisnya yang merah padam tak karuan di dekapannya. Yah, apa yang baru saja ia lakukan memang sangat memalukan, Kiku baru sadar sekarang.
Demi apa?! Ia baru saja membopong seorang gadis di ruang publik! Oh, dia sangat tidak akan berani melakukan ini di Jepang, atau untuk yang kedua kalinya karena, ya, ini sangat memalukan.
Jangan salahkan Kiku! Salahkan hormon kebahagiannya yang tiba-tiba membuncah keluar dan membuat logika dan persepsi lingkungannya menjadi kacau mendadak.
"Te-tentu saja aku bisa berdiri... T-turunkan aku..." ucap Inesia sembari memaksa turun.
Kuso... Lupakan soal membuat malu di ruang publik! Kali ini aku menang dan membuat mukanya memerah... manis sekali...
"? Kiku-senpai?" ucap Inesia kebingungan saat kakak tingkatnya itu mengelus pipinya lembut dan tersenyum hangat.
"A-apakah aku boleh melanjutkan makan siangku?" tanya Inesia heran, mencoba tidak menghiraukan perbuatan aneh senpainya itu dan duduk di kursinya sendiri. Apa sebenarnya yang terjadi saat ia ke kamar mandi tadi? Apakah senpainya ini salah makan atau minum sesuatu? Apakah ada alkohol di dalam Green tea yang dipesan olehnya?
"Mochiron... –tentu saja..." jawab Kiku sembari tersenyum manis.
.
.
Huuh? Nesia-san tahu kita sedang makan siang?
Sesaat setelah Kiku kembali ke kursinya, pemuda itu berubah menatap Inesia dengan rasa ingin tahu. Hal ini membuat Inesia menjadi kagok dan tidak nyaman, "Er... Senpai mau?" ucapnya sembari menyendokkan omeletnya ke arah Kiku.
"Ittadakuyo...", Kiku tersenyum lembut sekali lagi sebelum memajukan tubuhnya dan memakan omelet yang ada di sendok Inesia.
Hmmh! Aku sudah kebal pada trik ini Nesia-san!
Kiku tersenyum penuh kemenangan dalam hati walaupun sebenarnya jantungnya masih melompat-lompat tak karuan dan kepalanya entah melayang ke mana.
"Pfft... Dasar aneh..." ejek Inesia sembari tertawa pada kelakuan Kiku yang tiba-tiba berubah menjadi begitu kekanakkan.
"Daripada itu... Sudah lama aku tidak bertemu denganmu... Nesia-san..." ucap Kiku ceria.
.
.
.
"U-uh... Y-ya...?" Nafas Inesia tercekat hebat. "K-kiku senpai..."
"Hai?"
Ingin Inesia bertanya pada kakak tingkatnya ini, siapa yang ia maksud dengan 'Nesia-san' yang baru saja dipanggilnya. Namun, ia tidak memiliki keberanian. Apakah senpainya ini berpikir bahwa ia adalah orang lain sekarang? Oleh karena itu ia menurunkan penjagaannya dan lebih bersahabat?
.
.
"Tidak jadi..." ucap Inesia sembari tersenyum manis, menyembunyikan hatinya yang tersayat sangat dalam, "Setelah ini, apakah kita akan langsung pulang ke sekolah?"
"Uh... Ya..." jawab Kiku sedikit terkejut.
Bagaimana ia bisa tahu keadaan sebaik ini?
*O*
"Pilih, Inesia!" ucap alter itu sekali lagi mengganggu ketenangan Inesia.
Inesia hanya terdiam. Ia sendiri tidak bisa memutuskan apa yang akan ia lakukan. Apakah ia akan melanjutkan rencananya? Atau membuangnya? Atau...
Tidak...
"Kita harus kembali ke Ranggawardhani..." ucap Inesia.
"Dan kau memberi harapan pada senpai itu! Kau membimbingnya untuk sampai ke sini!"
"Aku tidak! Aku tidak pernah melakukan apapun padanya!"
"Katakan itu di depan mukanya!"
"Bukankah sudah sering? Berkali-kali malah?!" seru Inesia gemas, ia sangat-sangat tidak suka kalau kedaulatannya sudah diganggu seperti ini oleh alter tersebut, "Aku menginginkannya pergi!"
"Apa yang kau lakukan tadi malam adalah menangis histeris di dalam dekapannya! Bukan menyuruhnya pergi! Kau jelas membutuhkannya di dalam kehidupanmu! Dia adalah seseorang yang kita perlukan! Seseorang yang kita inginkan! Seseorang yang membuatmu bahagia!"
"Hentikan! Hentikan!" seru Inesia mencoba menutupi tuduhan benar itu dengan suaranya sendiri, "Hentikan Inesia!"
"Tidak! Kau tidak akan memanggilku dengan nama itu lagi Inesia! Itu adalah milikmu!"
"Tidak... Kumohon biarkan aku kembali... Biarkan aku kembali... Aku akan melakukan apapun... Aku akan menghadapi apapun... Aku sudah menghadapi apapun... Tapi jangan ini... Jangan dia..." isak Inesia memohon pada alter tersebut.
Namun alter itu bergeming bagaikan batu. Ia tidak membiarkan Inesia melepaskan kesadarannya dan melemparkannya pada kesadaran lain! Selama ia menidur-paksakan seluruh alter yang ada di bawahnya, Inesia tidak akan bisa berganti kesadaran dengan alter lain. Dirinya juga tidak akan kalah! Ia akan menjaga agar alter-alter di bawahnya tidak bisa dibangunkan oleh Inesia, meskipun Inesia menidur-paksakan dirinya.
Inesia harus menghadapi Kiku. Sekarang.
"Nesia-san!" ucap Kiku sembari mengguncangkan tubuh Inesia.
"H-huh? Kiku-senpai?"
"Apa yang terjadi?" ucap Kiku khawatir, "Apakah Nesia-san mabuk kendaraan?" tanya Kiku lagi. Apakah satu alter dapat mabuk kendaraan dan yang lainnya tidak? Karena seingat Kiku, Nesia no. 1 tidak mabuk kendaraan saat perjalanan berangkat.
Inesia hanya bisa menggeleng lemah, "Tidak..."
"L-lalu kenapa?" ucap Kiku lagi, semakin khawatir ketika menyadari ada titik-titik air yang terbentuk di mata Inesia.
"Hanya sedikit pertengkaran..." ucap Inesia sembari tersenyum simpul.
"Dengan Inesia-san?"
Inesia tidak menjawab Kiku. Oh, ia memiliki jawabannya. Ya, dia baru saja bertengkar dengan Inesia yang itu. Tapi jika ia menjawab pertanyaan itu dengan kata 'ya'. Entah siapa yang akan Kiku antagoniskan setelah ini.
Kemungkinan besar dirinya.
Bukankah ini sangat ironis?
.
.
Inesia mempertimbangkannya. Jika Kiku membencinya, mungkin ia akan menjauh. Ya, mungkin. Inesia tidak membiarkannya melepaskan kesadaran saat ini, dan ia sangat keras kepala sekarang, melebihi apapun. Ia bisa menggunakan waktunya aktif saat ini untuk membuat Kiku membencinya.
"Inesia... Kau tidak akan berani melakukan ini!" ucap Alter di dalam dirinya marah dan panik.
Kalau kau berpikirian seperti itu, jelas kau tidak mengenalku...
Inesia tersenyum kecil sembari menghela nafas, "Ya..." ucap Inesia getir saat memandang ke luar jendela.
"Sialan! Sampai kapan kau akan seperti ini, Inesia?!" seru Alter tersebut naik darah.
Sampai kau membiarkanku kembali ke tempatku... Atau... Karena sudah sampai sini... Bagaimana kalau kau tidur saja, Inesia?
"Kau! Ugh!"
Selamat beristirahat...
Inesia kembali menghela nafas lelah. Ia berhasil menidurkan alter cerewet itu pada akhirnya. Akan tetapi ia tidak merasakan keberadaan Alter lain. Sialan. Sekarang ia harus menghadapi senpainya ini sendirian.
Tapi, ia sudah memiliki rencana lain. Ia akan membuat pemuda bersurai raven ini membenci mereka semua.
Inesia membalikkan tubuhnya untuk menatap Kiku. Ditemukannya wajah Kiku yang putih, seperti kebanyakan wajah Asia Timur lainnya, semakin memutih bagaikan terkena bleaching atau merkuri. Gadis itu tersenyum. Namun dirinya sendiri tidak tahu, apakah itu senyum geli, atau senyum pahit.
Apakah senpai se-syok itu?
Kiku yang mendengar jawaban bahwa Inesia sedang mengganggu Nesia(nya) berubah menjadi sedikit panik. Namun tidak, ia harus tetap tenang. Ia harus tenang.
"Apa yang Inesia inginkan?"
"Dia menginginkan kesadaran ini..." ucap Inesia datar, "Sekarang..."
"Tapi..." Kiku menghentikan ucapannya, "Apakah kau akan memberikannya kesadaran ini?" lanjut pemuda itu lagi.
"Ya..."
"K-kalau begitu... Tunggu... sebentar... Biarkan aku bertanya pada Nesia-san!" ucap Kiku panik.
"Hmm? Pertanyaan?" tanya Inesia sembari mengedipkan mata bingung. Namun wajah heran Inesia melembut saat melihat kelakuan Kiku. Sepertinya pemuda itu sibuk memilah pertanyaan penting mana yang harus ia tanyakan.
"Ugh! Siapa Nesia-san sebenarnya?!" seru Kiku desperate.
Inesia menaikkan alisnya. Siapa dirinya sebenarnya? Jawabannya sangat panjang. Namun, ia bukanlah siapa-siapa.
"Tara-san bilang bahwa Nesia-san... Nesia-san..."
Tara... Huh...
"Sampah di antara benda rongsokkan?" ucap Inesia datar.
"Tapi... Aku tidak menganggap Nesia-san demikian... Nesia-san..."
-tep...-
Inesia menangkup kedua pipi Kiku dan menghentikan pemuda itu dari berbicara lebih lanjut, "Yah... Itu cocok denganku..."
"Tidak..."
"Kiku-senpai..." Inesia tersenyum getir, "Aku selalu bersembunyi... Alter lain selalu menghadapinya sampai mereka rusak... Bukankah mereka pemberani?"
Mereka rusak karena aku...
"Sedangkan aku tidak seperti itu..." lanjut Inesia lagi.
Sepertinya ada satu lagi keberadaan yang sangat tidak suka ketika ia berbicara kenyataan. Inesia hanya bisa tersenyumsimpul menghadapi wajah Kiku yang berubah menjadi kelabu. Kiku sama seperti alter itu,
"Dan ketika mereka rusak, kau yang bertanggung jawab akan semua masalah mereka! Kau yang..."
Aku yang menghancurkan mereka... Mengambil memori mereka... memaksa mereka untuk tidur... mengambil hak mereka...
"Bagaimana cerita Nesia-san kalau begitu?" tanya Kiku lagi, menangkap Inesia yang lengah "Garuda-san bahkan tidak tahu tentangmu... Pertiwi-san..." Kiku menghentikan pertanyaannya. Sebuah teori menghantam kepalanya.
Bagaimana Pertiwi dan Garuda tidak tahu tentang Nesia no.2? Ya. Ya. Itu pertanyaan yang paling Kiku herankan.
"Bagaimana bisa Garuda-san dan Pertiwi-san tidak tahu tentangmu?" ucap Kiku sembari menyusun potongan puzzel di dalam kepalanya, "Padahal mereka alter-alter..."
Inesia menutup mulut Kiku dengan ibu jarinya, "Sudah kubilang... Aku selalu bersembunyi, kan?" ucapnya sembari tersenyum lagi.
Tidak! Tidak mungkin seperti itu! Nesia-san menghadapi ujian... ia yang bertanggung jawab akan semua nilai bagus Nesia no.1-san... Apakah itu syarat munculnya Nesia-san? Ujian? Akan tetapi... kenapa tiba-tiba ia muncul di sini?
"Bagaimana kau bisa muncul saat ini, Nesia-san? Bagaimana caranya kau mengambil kesadaran dari Inesia-san?"
Apakah Nesia-san adalah entitas yang lebih tinggi dibandingkan Inesia-san?
"Karena Kiku-senpai menginginkan Nesia yang hadir di hadapan senpai..." ucap Inesia dengan senyum lembut untuk menutupi nada pasrahnya.
Bukan Inesia...
*O*
"Surya? Hmm... Dia sedang ke sebuah tempat untuk beberapa keperluan Bos besar... Beliau sampai besok..." Jaka menggunakan headphone untuk menjawab pertanyaan orang di seberang sambungan. Tangannya terlalu sibuk mengetik command sebuah program untuk membobol beberapa data rahasia.
-"Kau yakin memberitahukan hal ini padaku?"-
"Bukankah kau meneleponku untuk mengetahui hal ini?"
-"Pesta penyambutan itu?"-
"Surya akan bilang pada Bos Besar... Kau datang?" tanyanya sebelum menyeruput kopi Torajanya yang tinggal setengah.
-"Kau ingin ada pertumpahan darah?"-
"Seburuk itukah?" Jaka memutar bola matanya.
-"Aku akan mempertimbangkan kalau tuan putri datang... Kau bilang Bos besar menemukannya?"-
"Ya... Dan mungkin rencana kita harus dipercepat... sangat cepat..."
-"Aku akan ke sana sekarang..."-
"Eh? Tidak ada orang di sana... Mereka sedang liburan musim panas, paling dia dibawa oleh orang itu..."
-"Orang itu?"-
"Uh-huh..." ucap Jaka, "Sensei..."
-"Tuan putri itu!"-
Jaka spontan menarik headset-nya menjauh dari telinganya. Kaget boleh, tapi teriak seperti itu?! Huh! Awas saja, ia akan membalasnya.
"Ah... Surya datang... Aku akan menon-aktifkan sistem..." ucap Jaka datar.
-"Tunggu!"-
-ckleeeek...-
"Daaaaah... kakak... aku mencintaimu..." ucap Jaka dengan muka datar.
-piiiiiip...-
"Serius?" ucap Surya sembari menatap heran terhadap Jaka.
"Apa? Aku tidak boleh menelepon kakakku? Dia akan menikah dua bulan lagi... Dan dia terkena sindrom pra nikah..."
Surya hanya bisa mengangkat kedua tangannya ke udara dengan heran, "Tidak saat jam kerja!"
"Aku tetap bekerja... Kau lihat jari-jariku tetap di atas keyboard?" lanjut Jaka sembari terus mengetik, "Oke... sistem menyala... Kau bisa bicara..."
"Sialan! Sepertinya ada pengkhianat di antara kita!"
"Kenapa? Tuan besar ketahuan balik lebih cepat?" tanya Jaka sembari terus mengetikkan sesuatu.
"Yah... tidak... hanya saja... Ugh! Mereka ada di mana-mana sekarang... Seperti sudah tahu saja bahwa Bos balik lebih cepat... Kalau mereka tahu tujuan bos bisa-bisa runyam semua..."
"Hmmmh..."
"Kenapa kau santai sekali?!"
"Yah... Kalaupun tahu mereka akan melakukan apa? Mencelakai bos? Mengacaukan tes DNA? Memburu nona-calon-cucu-baru?" tebak Jaka malas, "Mereka sudah mempersiapkan cucu gadungan itu... Apalagi yang akan mereka lakukan?"
"Tidakkah kau merasa... Ugh... Setelah semua ini... Tidakkah kau mengerti bahwa pikiran mereka semua itu sangat kotor?" ucap Surya, "Ya! Mereka akan mencelakai Bos! Ya! Mereka akan mengaacaukan tes DNA! Ya! Mereka akan memburu nona-calon-cucu-baru dan lainnya yang tak terpikirkan oleh kita! Sedangkan kau malah mengetik sesuatu tidak jelas di sini!"
"Monang dan Sutan akan bersama dengan Bos besar, Itu lebih dari cukup... Lawan akan kabur sendiri... Tes DNA itu, asalkan bukan kau pengkhainatnya, tampaknya akan aman... Sedangkan nona itu... Yah, semoga berhasil..." Jaka menutup kalimatnya dengan tawa mengejek.
"? Maksudmu?"
"Yah... Sensei bersamanya..." ucap Jaka.
"Oh... Uh... Tapi bukankah orang Jepang itu tidak tahu?"
"Tapi beliau sudah tahu bahwa beliau memiliki bisnis dengan Kakek Tara... Jika beliau benar-benar seorang jenius, beliau pasti mengerti dan tengah mempersiapkan banyak hal untuk melindungi nona kecil..."
Lagipula 'orang itu' pasti akan langsung membuntuti tuan putri...
*O*
"Inesia! Jangan lari! Nanti kau jatuh!"
"Bunda! Bunda! Mereka sedang apa?" seru Inesia kecil sembari menunjuk ke arah orang-orang dengan keranjang dan topi rotan.
"Menurut Inesia, mereka sedang apa?" tanya Dirgantara sembari mengangkat putri kesayangannya untuk duduk di bahunya.
"Bunda! Inesia sangat tinggi!" seru Inesia riang yang membuat bundanya tertawa geli, "Mereka... Mereka... Mereka ngapain sih, om?"
"Jangan panggil aku, om!" sungut orang yang Inesia panggil itu, "Aku masih SMA!"
"Tapi kan kau adik kesayanganku..."
"Kesayanganku juga..." imbuh Dirgantara.
"Huh..."
"Ayo... Itu keponakanmu tanya... Dijawab dong, mereka lagi ngapain?"
"Kita di kebun teh... Tentu saja mereka lagi memetik teh..."
"Teh ada buahnya?" tanya Inesia polos, yang mau tidak mau membuat semua orang tertawa, kecuali Inesia sendiri yang masih kebingungan.
.
.
"Nesia-san... Nesia-san..." ucap Kiku lembut membangunkan, yang ia harap, masih Nesia no. 2, "Kita sudah sampai..."
"Uh? Huh? Oh..." Inesia mengedipkan matanya, mencoba untuk melawan perpaduan rasa nyaman dan kantuk yang membuatnya mager akut. Ia tidak sadar, sejak kapan ia tertidur.
Mimpi itu lagi...
Inesia masih enggan untuk bangun. Ingin ia kembali tertidur dan melanjutkan mimpi indahnya seperti tadi pagi. Ya, jarang-jarang ia bisa bermimpi indah seperti ini dan tidak terbangun karena syok dan panik karena mimpi buruk.
Ya, mimpi yang sangat indah. Tentang ingatannya sebelum semua itu terjadi. Tentang kebun teh. Tentang keluarganya. Mungkin ia bisa menutup mata sebentar lagi? Sembari menunggu penumpang lainnya turun? Ya, ia mungkin bisa. Lagipula mereka berdiri sekarang pun percuma, terlalu banyak yang sudah mengantri keluar. Oleh karena itu, Inesia memilih untuk tetap diam tak bergerak dari posisi tidurnya dan semakin merapat ke dekapan Kiku.
Hmm?
.
.
"K-kita sudah sampai ya?!" ucap Inesia kagok sembari meluruskan duduknya, selurus papan. Keringat dingin mengucur deras di tengkuknya, sedangkan matanya berputar. Inesia mencoba sekeras mungkin menyangkal apa yang baru saja terjadi.
"Ya... Nesia-san tidur lelap sekali..." senyum Kiku yang lembut membuat Inesia merasa jengkel pada dirinya sendiri.
Bagaimana bisa aku melakukannya?! Tertidur seperti itu?! Di dalam dekapan pervert satu ini... Ugh... Tunggu... Berapa jam aku tertidur?
.
.
HAMPIR SEPANJANG PERJALANAN! ARGH!
Sialan. Bagaimana bisa ia tertidur selelap itu! Selama itu?! Dengan semua mimpi itu?!
Demi langit dan bumi beserta seluruh isinya! Apa yang telah terjadi padanya?! Bagaimana ia bisa lengah sekali seperti ini?! Tunggu... Dia belum diraep kan?!
"N-nesia... san?" panggil Kiku tidak yakin, "Atau... Inesia-san?"
"Inesia..." jawab Inesia berat tanpa sempat berpikir sembari berusaha menyembunyikan mukanya yang memerah.
.
.
.
Eee? Inesia-san? Eee? M-masaka! N-na-nani? Nani kore?
"Hmft!"Kiku menahan ledakan tawanya. Entah mengapa, tapi Kiku kira Inesia saat ini sangat manis dan sangat normal.
Normal? Iie... Kanojo... –Gadis ini...
Teringat Kiku saat ia membangunkan Inesia siang tadi di Hotel. Ya, benar. Yang tadi siang bangun di atasnya adalah Inesia. Bagaimana Kiku bisa lupa bahwa itu adalah Inesia? Bagaimana gadis itu bereaksi saat menyadari tidurnya yang terlalu lelap?Saat gadis itu sadar di mana ia tertidur? Saat ia terbangun dan mencoba menyembunyikan dirinya sendiri karena malu luar biasa?
Kawai sugiru... – manis sekali...
"Fufufufu..." Kiku memalingkan wajahnya dan berusaha keras menahan tawanya. Ia mengingatkan dirinya berkali-kali bahwa tidak sopan menertawai orang.
Demi apa, Kiku Honda! Jangan tertawa!
Tapi apa daya, Kiku tidak bisa menghentikan tawanya yang entah berasal dari mana. Mungkin karena ia lega bahwa Inesia ternyata bukanlah seorang alter yang menakutkan. Mungkin karena sikap Inesia yang ternyata sangat manis. Mungkin karena ia mengetahui sisi lucu dari diri Inesia.
"Su-sumimasen deshita... c-chotto..." ucap Kiku sembari menenangkan dirinya. Ia menatap Inesia yang menatapnya balik dengan wajah bingung. Mungkin bingung karena ia menggunakan bahasa Jepang. Atau kebingungan karena dirinya tertawa tanpa alasan yang masuk akal.
"Inesia-san... Tukang tidur ya?" lanjut pemuda itu inosen, tidak menyadari damage yang dihasilkan dari celetukan dan senyum lembutnya yang membuat Inesia menganga tidak percaya.
Seketika, Inesia merasa dunianya runtuh bersama dengan pride-nya sebagai seorang perempuan.
*O*
Kiku mengejar Inesia sembari menyeret kopernya dengan kencang. Berusaha untuk mendahului gadis yang tengah melewati jalan setapak menuju gerbang utama akademi dengan bersungut-sungut. Untungnya, langkah gadis itu tidak begitu cepat sehingga ia bisa menyusulnya dan berhenti tepat di depan Inesia.
"Aku minta maaf..." mohon Kiku sembari menunduk, namun tidak bisa menghentikan senyumannya yang telah berubah menjadi seringaian yang sangat panjang.
"Tidak ada orang yang meminta maaf sambil tertawa!" dengus Inesia jengkel setengah mati.
Ada... Ada banyak... salah satu contohnya Tara-jiisan...
"Aku tidak tertawa..." ucap Kiku datar sembari memasang muka stoic a la Ludwig dan mengangkat tubuhnya.
"Aku bukan tukang tidur, oke?! A-aku hanya kelelahan!" seru Inesia desperate membela diri, "Lagipula, memangnya tidur sebuah kejahatan? Tidak baik?"
"Tidak ada yang salah... Tidur bukan kejahatan, Inesia-san benar..." ucap Kiku membenarkan.
Lagipula, Inesia-san... Saat kau tidur, aku bisa memandangimu sampai puas...
"Tidak! Aku tidak bisa mempercayai senpai! Lagipula, ada apa dengan senyum itu?" ucap Inesia merasa tidak aman.
"Senyum apa?"
"Senpai tersenyum!" seru Inesia sembari menyeret kopernya sendiri dan melangkah menjauh. Berusaha untuk mencapai kamarnya dan, entahlah, mengunci dirinya sendiri? Pokoknya mengisolir dirinya jauh-jauh dari Kiku!
"Senyum bukanlah hal yang salah, Inesia-san, sama seperti tidur... Orang Jepang adalah orang-orang yang sangat ramah... Oleh karena itu kami sangat suka tersenyum..." kejar Kiku dengan nada informatif sembari tersenyum ramah namun penuh misteri.
Ingin Inesia menjawab Kiku, namun otaknya terlalu kesal untuk memikirkan balasan dan ia merasa tidak ada gunanya. Lagipula, ia tidur selelap itu karena Kiku! Jadi jangan salahkan dirinya!
Oh, sialan.
Apakah ia baru saja mengakui bahwa ia bisa tidur lelap karena Kiku di sisinya?
"Ugh!" Inesia berhenti mendadak dan membenamkan mukanya yang panas dengan cepat sehingga membuat Kiku yang tengah mengejarnya menjadi kebingungan.
"I-inesia-san?"
"Tinggalkan aku!" erang Inesia frustrasi, "Dan aku tidak bermimpi indah karena senpai!" sangkal Inesia desperate.
"Hai?" jawab Kiku kebingungan. Apa maksud Inesia dengan mimpi indah?
.
.
Ah... Sou desu ka?
Kiku tersenyum sangat lembut dan hangat saat kiranya ia berhasil memecahkan maksud tersirat sang gadis, "Etto... Inesia-san... Kita di tengah jalan..." ucap Kiku lembut, "Dan bahaya kalau ada kendaraan yang akan lewat..."
"Uuh..." Inesia mendengus kesal, namun ia tetap berjongkok dan membenamkan mukanya di dalam dengkulnya.
"Inesia-san..."
"Aku mengerti!" sungut Inesia namun tetap menyembunyikan mukanya. Apa yang gadis itu lakukan kemudian, semua di luar dari seluruh bayangan liar Kiku.
Inesia bergeser pelan dengan posisi yang masih berjongkok dan menyembunyikan mukanya ke tepi jalan. Meninggalkan Kiku yang speechless dan tidak mengerti harus tertawa karena kekonyolan yang Inesia buat atau tertawa karena apa yang Inesia lakukan sangat konyol.
Tunggu. Itu dua hal yang sama.
.
.
"Inesia-san... Kopermu tertinggal..." ucap Kiku saat Inesia berhasil sampai di tepian jalan.
.
.
Kiku hanya menyatakan fakta, oke?
"Inesia-san..." panggil Kiku sembari menarik koper kecil milik Inesia, mendekati empunya yang membeku di pinggir jalan, "Dousaremashitaka?" ucap Kiku lembut sembari ikut berjongkok.
"Ukh..."
"Ne..." panggil Kiku sembari menghela nafas lembut,"Suimasendeshita..." ucap Kiku bersungguh-sungguh, "Maaf kalau aku keterlaluan... Hanya saja... Aku menemukan satu sisi Inesia-san yang membuatku berpikir... Gadis ini manis sekali..."
-degh...-
.
.
.
Inesia terdiam. Lupa sudah tentang muka panasnya yang harus disembunyikan karena ia terlalu syok. Tubuhnya berhenti bergetar. Ia hanya terdiam, dan berusaha keras mencerna kata-kata Kiku menjadi last blow yang sangat mematikan.
Inesia bersyukur ia tetap mempertahankan posisinya yang menyembunyikan mukanya. Jika tidak, butir-butir air mata yang sudah terlanjur jatuh ini akan membuat senpainya bertanya-tanya dan khawatir.
Tidak. Jangan terisak. Jangan terisak. Jangan.
"Inesia-san?" Kiku tersenyum datar saat tidak ada tanggapan dari Inesia. Pemuda itu kini memasang posisi duduk seiza di hadapan Inesia. Menunggu gadis itu untuk mau menatapnya, "Inesia-san... Aku pikir, kita harus bicara di dalam Mansion milik Germania-sensei... Tapi kalau seperti ini..."
.
.
"Inesia-san... Bersama denganmu adalah yang paling sulit..." ungkap Kiku lembut, "Jadi aku meminta maaf atas tindakanku yang melukai pride Inesia-san... Dan aku juga meminta maaf karena aku tidak akan membantu Inesia-san dalam menjalankan rencana awal Inesia-san..."
"Huh?"
"Bukan karena aku ingin Inesia-san bertambah rusak atau terpisah lebih parah atau lainnya... Ideku juga mungkin lebih buruk daripada Ide Inesia-san, tapi..."
Tapi apa? Biarkan aku mengetahui karena aku penasaran dengan kalian?
Kiku menelan ludah.
"Biarkan aku mencintai kalian semua..." ucap Kiku lembut, namun tegas.
Inesia spontan mengangkat wajahnya, menatap Kiku tidak percaya bagaikan pemuda itu memiliki dua kepala sekarang.
Mencintai... siapa?
Inesia sangat tidak ingin mendengar ini. Tidak. Ia tidak ingin membicarakan hal ini.
Dengan tergesa, Inesia mencari dan berusaha meraih kopernya. Ia sangat ingin pergi dari sini, sekarang juga. Namun pemuda di hadapannya menahannya.
"Keputusan siapa yang akan menjadi alter utama kalian... Atau apapun yang terjadi di dalam diri kalian... Aku akan berusaha untuk mengingat batasanku..." lanjut Kiku, "Hanya... Biarkan aku melindungi kalian..."
.
.
"Kenapa?" Inesia menaikan alisnya bingung.
"Bukankah senpai mencintai seseorang di antara kita? Karena itu senpai bertahan sampai seperti ini dan ingin melindungi alter itu?" ucap Inesia tidak mengerti dengan logika Kiku. Bukankah selama ini Kiku menanti Nesia no.2 sehingga pemuda ini selalu ingin melindunginya dan bersamanya?
Mengapa sekarang Kiku berubah menjadi menyerahkan pilihan kepada nasib? Bukankah hal ini nantinya akan melukai Kiku sendiri?
Inesia tidak ingin melukai Kiku.
"Apa yang terjadi kalau bukan Nesia no. 2 yang terpilih menjadi alter utama? Apa yang akan senpai lakukan jika aku, yang paling sulit menurutmu, memilih untuk menjadi alter utama?"
Apakah senpai akan meninggalkannya? Ya. Karena Inesia bukan Nesia no.2 bagi senpai.
"Yah... Aku tidak tahu... Siapa yang bisa menebak masa depan?" ucap Kiku sembari tersenyum lembut, "Tapi, Inesia-san... Aku minta maaf jika ini melukai seluruh alter yang ada... Selama ini... Sepertinya aku selalu menganggap kalian sebagai satu orang yang sama..."
.
.
Satu orang yang sama?
Sedetik setelah Kiku mengatakannya, ribuan ingatan menyakitkan langsung menghujani pikiran Inesia. Menyiksanya berkali-kali dan berlipat ganda, kali ini karena seorang Kiku Honda yang mengatakannya.
"Kiku senpai... Kau mungkin kebingungan dan salah paham mengartikan perasaanmu... Tetapi mungkin, perasaan senpai tidak seperti yang senpai bayangkan..." ucap Inesia sembari mencoba melepaskan tangan Kiku yang menahannya, "Senpai hanya seseorang yang sangat baik yang kebetulan menemukan kucing liar yang hampir mati kelaparan..."
"Huh?! Tidak begitu..."
"Kalau begitu... Katakan padaku, senpai... Jika aku, Inesia, tidak memiliki alter lain... Apa yang akan senpai lakukan? Aku adalah seseorang yang mandiri, kuat dan tidak butuh belas kasihan... Aku adalah seseorang yang normal, tidak kekurangan dan tidak kelebihan apapun... Apakah bayanganku masih akan berada di matamu?" tanya Inesia, namun sebelum Kiku sempat menjawabnya, pertanyaan itu sudah terjawab, "Aku tidak akan ada, bahkan di sudut paling pinggir matamu..."
"Inesia-san... Apa yang sedang Inesia-san katakan? Aku..."
"Aku tidak bisa mengikuti idemu, senpai..." ucap Inesia tegas dan tajam, "Apa yang kau katakan sudah sangat jelas mengarah ke alter-alter yang semakin terpecah..."
"Tapi-..."
"Sepertinya menyenangkan, senpai, permaianan ini... Dan mungkin terlihat lucu di luar..." ucap Inesia, "Tapi semua ini melelahkan dan seringnya menyakitkan..."
"Misalkan... Siapa dari alterku yang menciummu pertama kali, senpai?"
"Uh...? Mnh..."
"12 sisanya akan berpikir... 'Kenapa bukan aku duluan, padahal rasa sayangku yang paling dalam?'" lanjut Inesia, "Dan jangan memulai dengan 'siapa cepat, dia dapat'..."
.
.
"Kumohon, senpai... Biarkan kami menjadi orang normal yang hanya memiliki satu kesadaran... Menjadi orang normal, yang bahkan tidak pantas berada di sudut mata senpai..." pinta Inesia sedih, "Pergilah..."
"Aku tidak akan pergi..." ucap Kiku lembut namun ketegasan tidak menghilang dari intonasi per katanya.
"?! Sen-..."
"Kenapa kita selalu bertengkar tentang hal ini?!" ucap Kiku mencoba untuk tidak termakan kekesalannya, "Tidak adakah hal lain yang bisa kita ributkan, dan di penghujung hari kita masih bersama?"
"Mnh?"
"Aku hanya... Tidak bisa kehilangan dirimu..." ucap Kiku lelah sembari menarik Inesia dan menempelkan keningnya ke kening Inesia, "Kalian tumbuh di dalam diriku! Kalian sudah menjadi fokus utamaku! Kalian sudah menjadi bagian inti di dalam universe-ku... Kalian semua..."
Kuso... kenapa kita seakan-akan bicara tentang putus dan perpisahan?! Padahal kita bukan kekasih dan semua ini bahkan belum dimulai... Tidakkah Inesia-san merasa ini hal yang sangat aneh?
"Yah..." Inesia hanya bisa menghela nafas lelah, "Bersama dengan senpai sudah menjadi sesuatu yang sangat natural..."
"Kalau begitu kenapa Inesia-san menolaknya?"
"Karena ini melelahkan dan menyakitkan..." ucap Inesia lagi.
Inesia menghela nafas, mencoba menenangkan diri. Kalau senpainya ini tidak mau mundur, maka ia yang harus mengganti strategi.
Ya. Hanya itu jalannya. Namun, siapkah ia?
.
.
Yah, itu semua tidak penting.
"Apakah senpai tahu...? Aku akan menguasai tubuh ini mulai dari sekarang..." ucap Inesia sembari menarik tubuhnya menjauh dari Kiku.
"Eh?"
"Dan aku tidak akan menukarnya dengan siapapun... Aku akan menghadapi semuanya sendiri... dan aku akan membuat seluruh alterku terintegrasi..." ucap Inesia penuh dengan keseriusan, "Aku tidak akan lari..."
"Inesia-san..."
"Aku bisa, jangan lupa aku bisa menidurkan seluruh alter..." potong Inesia tidak mau Kiku membantahnya, "Dan aku serius untuk menguasai tubuh ini... Aku tidak akan memberikannya pada Nesia..." lanjut Inesia, "Aku akan menjadi seseorang normal yang sangat normal seperti apa yang telah aku katakan... Dan ini menjadi detik pertama seluruh alterku yang lain menghilang... Apakah senpai keberatan?"
Kiku tertegun.
Apakah ia keberatan?
Tentu ia merasa keberatan. Akan tetapi, apakah ia punya hak untuk keberatan? Bukankah jika ia merasa keberatan, itu berarti ia tidak mendukung Inesia sembuh?
"Iie..." Kiku menggeleng dengan tidak yakin, "Jika itu keputusan Inesia-san... Akan tetapi, aku akan tetap berada di samping Inesia-san..."
"Terserah senpai..." ucap Inesia sembari berdiri dan meraih kopernya.
Kiku hanya bisa terdiam. Ia merasa bingung, akan tetapi ia tidak bisa melakukan apapun. Apa yang membuat Inesia berubah secepat ini? Apakah ia membuat kesalahan lagi? Kenapa berbicara dengan Inesia sangat sulit? Di satu saat semuanya lucu dan sangat manis, di detik berikutnya, mereka membicarakan tentang perpisahan dan semua hal yang membuat hati mereka sakit seperti ini.
*O*
Inesia hanya bisa terdiam mematung di depan pintu Mansion Kepala Yayasan Hetalia Academy. Alasannya satu; sebuah kertas putih yang tertempel di pintu masuk Manson yang bertuliskan, 'Liburan di Italia, kembali 2 hari sebelum masuk'.
"Inesia-san? Dousaremashitaka?"
Inesia hanya bisa menatap Kiku dengan tatapan bingung. Kini ia tidak bisa kembali ke kamarnya, ia tidak bisa mengisolir dirinya sendiri dari Kiku. Ia tidak... Tunggu! Di mana ia akan tinggal sekarang?! Apakah dorm akan mau menerimanya?!
Inesia melirik kakak tingkatnya yang sepertinya tengah berusaha keras untuk tidak mendengus kesal dan menyumpahi banyak orang karena membaca surat yang notabene memang menyebalkan.
"Sekarang di mana kita akan tinggal?" ucap Kiku sembari menghela nafas lelah.
"Yah... Senpai bisa pulang ke rumah senpai..."
"Lalu bagaimana dengan Inesia-san?" ucap Kiku khawatir. Tidak, baru saja ia membulatkan tekad untuk tidak pulang ke rumah dan terus bersama dengan Inesia liburan musim panas ini. Kenapa situasi menjadi seperti ini?!
"Aku bisa tinggal di dorm... Mungkin?" ucap Inesia sembari berjalan menuju arah dorm.
"C-chotto matte! Inesia-san!"
*O*
"Inesia-san!" panggil Kiku lagi, mencoba menghentikan Inesia dan membicarakan tentang tempat tinggal mereka baik-baik.
"Aku akan tinggal di dorm... Senpai silahkan pulang saja ke Jepang... Pasti ada urusan di rumah bukan?" ucap Inesia jengkel. Ia sudah sampai di depan dorm putri. Sebentar lagi. Sebentar lagi ia akan sampai di dalam, meminta kamar kosong kemudian ia bisa mengunci dirinya jauh dari kakak tingkatnya ini!
"Aku tak akan meninggalkanmu!"
"KIRANA!"
-degh!-
Suara yang sangat nyaring itu bukan saja mengagetkan Kiku, namun juga Inesia yang menghentikan langkahnya mendadak. Gadis itu menolehkan mukanya ke seluruh penjuru arah dengan khawatir. Ditemukannya pemuda Australia itu tengah melambaikan tangannya di depan dorm putra. Sepertinya pemuda itu tengah bersiap-siap untuk liburan bersama dengan teman-temannya.
Inesia tidak membalas lambaian tangan itu, maupun mendekati pemuda playfull tersebut seperti Kirana. Wajah Inesia bahkan berubah pucat bagaikan ia melihat sesuatu yang horor.
Apakah Inesia tidak akur dengan Aussy? Apakah gadis itu tidak ingin bertemu dengan Aussy?
Yah, bukan hal yang buruk bagi Kiku, sih. Hal yang sangat-sangat baik malah.
Tidak. Bukan saatnya Kiku memikirkan hal ini.
"Inesia-san..."
Inesia sedikit tersentak saat Kiku memanggilnya. Gadis itu beringsut mendekati dan bersembunyi di belakang Kiku.
Eee? Naze?
"KIRANA!" seru pemuda Australia tersebut sembari berlari ke arah mereka, "Akhirnya aku menemukan kalian! Apakah kalian akan pulang ke rumah kalian masing-masing?"
"Ee... Hai... Aussy-senpai..."
"Apakah kau ingin ikut kita liburan? Kita akan pergi mengelilingi Eropa!" seru pemuda itu riang, "Ada banyak cowok ganteng bersamaku juga-..."
"Iie... Arigatou gozaimasu..." ucap Kiku tegas dan tanpa bisa ditawar lagi.
"Eeeh? Tapi kalian kelihatannya akan tetap di dorm... Bukankah membosankan?" lanjut pemuda ber-bandaid itu lagi, "Dan..."
Kalimat Aussy terpotong. Ia baru menyadari satu hal yang amat kontras kali ini. Yah, Kirana masih tidak banyak bicara, seperti biasa. Namun, kali ini gadis itu bersembunyi bukan di belakangnya.
"Aku ingin berbicara dengan..." Aussy menelan ludahnya, sangat sulit mengakui Kiku sebagai suami Kirana. Lagipula, bagaimana ini bisa terjadi?!
"Aku ingin bicara denganmu, sebentar, Honda..."
"Ee? Watashi?" ucap Kiku kaget. Bukan Kirana yang ia inginkan untuk bicara? Kenapa dirinya?
"Sebentar!" ujar Aussy memohon, "Aku pinjam Honda sebentar ya, Kirana!"
Kiku menoleh ke arah Inesia. Ia mengharapkan gadis itu menolaknya, dan tetap mempertahankan dirinya sebagai perisai. Namun demikian, sang gadis malah mengangguk dan cepat-cepat masuk ke dalam dorm putri.
"Terimakasih Kirana!" seru Aussy sembari menarik Kiku menuju dorm putra.
C-ch-chotto!
"A-aussy-senpai!" ucap Kiku mencoba mengimbangi jalan Aussy.
"Austen... Bus akademi sudah hampir sampai... Apa yang kau lakukan? Malah membully adik kelas..." keluh Roderich.
"Sebentar... sebentar..." ucap Aussy sembari terus menarik Kiku. Melewati segerombolan anak-anak kelas 3 yang sedang menunggu bus akademi untuk membawa 'kelompok liburan' mereka keluar dari area sekolah yang cukup luas.
Uwaaa... Senpai kelas tiga!
"Yah... Kita akan menunggu... Asalkan, jangan sampai ketahuan oleh penjaga dorm... Bisa-bisa kita tidak jadi berangkat..." ucap Francis dengan nada melambai, "Atau aku ikutan juga? Hmm..." lanjutnya dengan lirikan nakal.
"Kau kira aku mau ngapain?!" seru Aussy sebal sembari menambah kecepatan berjalan untuk menghindari orang mesum satu itu.
Iie... Iie... Iie... Iie... Watashi no jinsei wa abunai... –kehidupanku dalam bahaya...
"Apakah yang ada di pikiranmu selalu tentang 'itu', Francis?" ucap Antonio heran, "Apakah kau tidak bosan?"
"Non... non... Mon amour... Dunia ini akan sangat hambar jika tidak ada-..."
#QuotesOfTheDay: Cut! Cut! Francis! Cut! Hentikan! -Author
"Oke! Oke! Kami mengerti! Kami mengerti!" seru anak-anak kelas 3 lainnya memotong omongan vulgar Francis. Beberapa dari mereka bahkan sudah mengeluarkan suara sensor untuk menutupi kata-kata penuh noda milik pemuda berambut pirang itu sebelum jiwa mereka ikutan ternodai.
"Hgh... Bagaimana kalau kita melewati Italia di liburan ini dan langsung ke England menjemput Allastor..." ucap Roderich sembari membetulkan letak kacamatanya.
"Eeeeeeh? Kenapa?" seru Antonio tidak setuju.
"Yah... Si Prussen itu ada di sana... Aku sudah bisa membayangkan apabila kalian bertiga bertemu.." ucap Roderich sembari mencoba menyangkal mimpi buruk apa yang akan terjadi di musim panas ini apabila BTT bertemu.
Yah, demi global warming yang selalu menjadi isu dunia! Akan terjadi hal yang sangat buruk di luar imajinasi terliar mereka!
"Eeeh? Apakah separah itu? Sepertinya tidak begitu..." gumam Antonio mencoba menebak apa yang sedang dipikirkan oleh Roderich.
"Daripada itu... Apakah semuanya sudah berkumpul? Ini liburan seangkatan terakhir kita sebelum ujian... Aku tidak mau ada yang ketinggalan.."
"Kalau begitu jangan tinggalkan Gilbert..." balas Antonio datar.
"Itu dan ini berbeda!"
"Yah... Sepertinya semua sudah berkumpul... Oh, orang itu menghilang lagi..."
"Apa? Hgh... Antonio..."
"A-aku tidak mau mencarinya... Paling dia juga nanti kembali lagi..." elak Antonio sembari menggelengkan kepalanya kencang.
*O*
"Honda... Kau... Kau, ugh..." Aussy mengeluh kesal karena ia tidak dapat mengeluarkan unek-uneknya, padahal ia sudah berhasil menyeret adik tingkatnya itu ke sini, "Well... Jaga Kirana, Oke?"
"H-hai?" Kiku menjawab heran. Apa maksud senpainya ini memohon sesuatu yang sudah pasti?
"Hgh... Aku..." Aussy memotong kalimatnya lagi, "Kau tahu, Kirana adalah anak yang sangat kompleks..."
"Maa..."
"Kau... Kau harus sabar menghadapinya ya?" ucap Aussy, "Dia adalah anak yang penuh misteri... Tapi, bukan karena ia tidak percaya padamu, ia tidak menceritakan apapun padamu..."
"Aussy-senpai?"
"Terkadang... Ada hal-hal yang baiknya disimpan sebagai rahasia saja..." ucap Aussy akhirnya menemukan ketegasan dalam perkataannya, "Sampai kau siap... Saat kau siap, ia akan memberi tahumu..."
"Apa yang Aussy-senpai ketahui?" tanya Kiku curiga.
"Honda... Berjanjilah kau akan selalu menjadi pendukungnya... Dan selalu berpihak kepadanya..." ucap Aussy lagi, "Apapun yang terjadi... Apapun..."
"B-baik... Tapi ada apa memangnya?" tanya Kiku bertambah bingung.
"Itu bukan sesuatu yang kuketahui juga... Karena aku mundur sebelum mengetahuinya..." ucap Aussy dengan wajah serius. Sangat jarang bagi pemuda cheerful seperti Aussy menampakkan wajah seperti ini, "Yah... Tepatnya, aku diadopsi sebelum sempat mengetahuinya... Tapi... Aku bersyukur aku tidak mengetahuinya... Dan karena aku tidak mengetahuinya, aku masih bisa berteman dengan Kirana..."
"Senpai..."
"Honda..." panggil Aussy tegas, "Apapun yang terjadi... Selalu berpihaklah pada Inesia..."
Sesaat Kiku merasa jantungnya terlambat satu degupan.
*O*
A-apa yang orang itu lakukan di sini?! Ini dorm putri!
Inesia menundukkan mukanya. Ia meremas gagang handle kopernya dengan kuat. Tubuhnya tidak mau bergerak. Bergerak untuk pergi, kabur, menjauh. Oh, Inesia memiliki segudang alasan untuk lari dari orang ini. Namun tidak. Ia tidak bisa bergerak selama orang itu ada di hadapannya. Tubuhnya membeku karena segudang alasan yang membekukan tubuhnya.
"Aku kira dia orang Malaysia... Apakah aku salah dengar?" ucap pemuda yang tingginya membuat Inesia semakin terintimidasi, "Bagaimana bisa orang Malaysia menjadi seoriental itu? Dan bermarga Honda..."
"Govert... Dia..." Inesia terlalu panik untuk memilih kata-kata, "Dia tidak ada sangkut pautnya..."
Pemuda itu tersenyum dan menggeleng, "Neee... –Tidak..." ucap pemuda berambut pirang spike itu datar, "Kau melindunginya, itu berarti dia orang yang penting..." lanjutnya, "Kalau itu seukuran Honda... Aku berada di level yang sama, kau tahu itu..." ucapnya sembari menarik dagu Inesia agar gadis itu mau menengadah dan menatap mata hijaunya.
"Ukh..."
"Aku lebih mengenalmu dan semua resiko yang mungkin terjadi bila aku berada di sampingmu..." ucapnya lagi, kali ini disertai senyum yang membuat Inesia mengerutkan keningnya.
"Govert..."
"Aku mengenalnya..." ucap pemuda itu melepaskan Inesia, "Aku melakukan bisnis dengan Honda... Dia rekan yang hebat... Aku tak menyangka aku harus berhadapan dengannya... Ini akan menjadi pertarungan sampai penghabisan..." ucapnya sembari melangkah pergi.
"Govert! Tunggu!"
"Inesia... ini bukan masalah Malaysia itu lagi bukan?" ucap Govert di ambang pintu, "Jika orang Jepang itu bahkan memiliki kesempatan, maka orang Belanda ini... Akan memenangkannya..."
A/N:
Nether : People I'm IIIIINNNNN!
Kiku : Naze desu ka? Author-san?!
Author : *Tidak bernyawa setelah marathor nggarap kelanjutan cerita*
Nesia : *Ngipasin Author
Nether : Tapi apa-apaan nama Govert itu Author?
Author : Hooh? Oh... Itu... Yah... Catchy saja... Govert Van Leeuwen?
Nether : N-nama siapa itu, Author? =.=a
Author : Atau Govert de Groot... Khh... Khho... Aku nggak bisa bacanya... Uhuk-uhuk *Author batuk-batuk* *G belanda dibaca Khhrr*
Nesia : Nggak nama biasa saja, sih, Author? Lars? Janssen? Willem?
Author : Kudu ada G nya! Itu yang membedakan nama Belanda dengan Jerman ataupun Denmark...
Nesia : Egbert?
Author : Ugh... J-jangan... Nanti orangnya datang terus aku dibunuh bagaimana?
Nether : I see what you did there...
Author : Oke... Oke... Author Updatenya sampe sini dulu... Balas reviewnya... Nanti yah... Author ngumpulin tenaga dulu... Ini habis marathon... =.=a
Terimakasih atas semua dukungan selama ini... Walaupun Author hiatus 1 tahun... *Author terharu*
Yah, pokoknya terimakasih, terimakasih banyak... Dan,
Mohon kritik, saran dan reviewnya untuk chapter ini juga ya...
