To Love naRUto

Disclaimer: Semua karakter dari anime "Naruto" dan "To Love Ru" bukan milik saya, saya hanya meminjamnya saja.

Main Cast: Naruto .U.

Pair: Naruto .U x Harem (Permanent!)

Summary:

Niatnya untuk kembali ke masa lalu harus gagal ketika mengetahui jika dia sudah berpindah dimensi dengan tubuhnya yang juga ikut menyusut, diadopsi oleh Keluarga Yuuki sebagai kakak tertua untuk dua adiknya. Masalah-masalah tak masuk akal mulai menghampirinya, bersama dengan tujuan barunya, ia yakin jika dia bisa menyelesaikannya.

Warning: Author Newbie, Abal-abal, Semi-Canon, Typo, Miss Typo, Echhi, Soft-Lime, Human!Naruto, God-Like!Naruto, Smart!Naruto, Fem!Rito(Riko), Read 'n Review and Not Like Don't Read.

Chapter 05

Tujuan, Kencan dan Rahasiaku

Dengan dua kelopak matanya yang masih tertutup, pemuda bersurai pirang jabrik itu tersenyum sambil menikmati angin pelan yang berhembus menerpa tubuhnya. Tak perlu melihat pun, laki-laki itu sudah tahu tempat yang sedang ia pijak saat ini bahkan telapak kakinya sudah lama tak merasakan rerumputan lembut yang sedang ia pijak saat ini.

"Sudah lama sekali ya, aku tidak kesini," ujarnya yang sama sekali tak mengubah posisinya atau ekspresinya, dia menghirup udara yang berkumpul di sekitarnya. Perasaan nyaman dan tenang yang tak akan pernah tergantikan oleh apapun.

"Selamat datang kembali, bocah!"

Pemuda yang disebut 'Bocah' itu mulai membuka kelopak matanya menampakan iris biru yang menenangkan di sebelah kanan dan iris ungu beraura mistis di sebelah kirinya, senyuman itu semakin lebar ketika mendengar suara bariton nan mengerikan itu "Terima kasih atas sambutannya," ucapnya sambil mengadahkan pandangannya menatap sosok rubah oranye besar yang sedang duduk bersila tepat di depannya, baik pemuda itu ataupun sang rubah, mereka menunjukan seringai rubahnya.

"Sepertinya rasa khawatirku ini sudah terobati ketika kondisi kalian saat ini terlihat baik-baik saja," dia tersenyum lalu mengedarkan pandangannya pada ke delapan bijuu yang mengelilingi tubuhnya. Shukaku, Matatabi, Isobu, Son Goku, Kokuo, Saiken, Choumei dan Gyuuki terlihat sangat senang ketika melihat pemuda itu.

"Gara-gara kelelahan dan kehabisan chakra, kami harus tertidur dan beristirahat untuk waktu yang lama untuk mengisi chakra kami kembali. Terima kasih sudah mengkhawatirkan kami," bijuu berekor empat berwujud kera merah itu kembali bisa berinteraksi dengan Jinchuuriki-nya saat ini.

"Yah, kalian terlalu memaksakan untuk membantuku setelah chakra kalian terkuras begitu banyak. Tak heran jika kalian semua kelelahan setelahnya, termasuk juga kau, Kurama," ucap Naruto yang memandang kearah rubah kolosal yang berdiri di hadapannya "Kau selalu saja memprovokasi yang lainnya," lanjutnya dengan seringai rubah terpasang di bibirnya.

"Kondisimu kala itu juga sangat memprihatikan, Naruto. Kau hampir sekarat karena mengeluarkan jurus pemusnah hanya untuk mengalahkan Kaguya, bukankah Rikudo-jiji sudah memberitahumu untuk menyegelnya?" Kurama hanya tak mau terjadi apa-apa pada Jinchuuriki-nya, sudah banyak kesulitan yang dihadapi oleh Naruto. Dia tak mau jika si pirang itu mati sebelum dirinya merasakan bagaimana rasanya bahagia di dalam kehidupannya.

Naruto hanya cengengesan mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut rubah itu "Ehehe... Saat itu, aku sedang kalap dan terbawa emosi karena dia membunuh Sasuke tepat di hadapanku," ekspresi pemuda pirang itu berubah drastis ketika menyadari jawaban yang keluar dari mulutnya "Maka dari itu, aku berniat untuk melenyapkannya dengan tanganku sendiri," sambungnya sorot mata yang terlihat sangat sedih.

Tatapan-tatapan membunuh dari ke-delapan bijuu terarah pada Kurama yang malah menyinggung kejadian itu kembali, rubah itu malah mendengus pelan karena dirinya malah membahas topik yang sangat tidak tepat "Hmm, sudahlah. Yang terpenting kau sudah mengalahkannya dengan segenap kekuatan yang kau miliki, kau memang mirip sekali dengan Rikudo-jiji dan salah satu cucunya itu," Kurama harus mencari topik pembicaraan yang lain.

Pemuda pirang itu hanya menggosokan punggung tangan kanannya itu pada kedua matanya lalu mendongakan kepalanya menatap Kurama yang masih ada di hadapannya "Dengan begitu, aku sudah menepati janjiku pada seluruh pasukan Aliansi Shinobi," ujar Naruto yang sudah kembali ceria seperti sedia kala.

Semua bijuu yang ada disana bernapas lega ketika melihat Naruto yang sudah kembali pada kepribadian asalnya.

"Oh ya, Naruto-kun?" panggil bijuu berekor dua berwujud kucing dengan aksen api biru di sekujur tubuhnya.

"Ada apa, Matatabi?" Naruto menolehkan kepalanya kearah bijuu berekor dua, ekspresi keheranan terlihat jelas dari raut wajahnya saat ini.

"Apa kau masih mau untuk melaksanakan rencana itu?" Para bijuu juga ingin tahu apa yang akan dilakukan oleh host mereka ini ke depannya nanti, tapi melihat kesalahan yang terjadi pada jurus perpindahan ruang dan waktu itu, mereka jadi tak yakin untuk meneruskannya.

Naruto hanya tersenyum mendengar pertanyaan dari 'si kucing berekor dua' itu "Entahlah, itu yang selalu saja membuatku dilema ketika memejamkan mata ini. Diriku yang lain ingin melaksanakan rencana itu dan menyelamatkan Dunia Shinobi dari kehancuran yang dibuat oleh Kaguya, tapi diriku yang satunya sudah nyaman berada di dunia ini dan merasakan apa yang sebelumnya belum pernah kurasakan disana. Apa yang harus kulakukan sekarang, semuanya?" Ya, itu adalah pilihan tersulit yang harus diambil olehnya.

"Kau tahu, kami lebih senang melihat Jinchuuriki kami bahagia daripada melihatnya menderita lagi dan merasakan masa kelamnya untuk kedua kalinya. Lagipula mereka sudah bahagia di alam sana dan lebih bahagia lagi melihatmu mengalahkan Kaguya, itu sudah cukup bagi mereka," ujar bijuu berekor lima berwujud perpaduan antara kuda dan lumba-lumba itu, sementara ke-delapan bijuu yang mendengarnya hanya mengangguk pertanda setuju.

Pupil biru langit itu melebar ketika mendengar pernyataan yang keluar dari mulut Kokuo, mereka menginginkan kebahagiaan Jinchuuriki-nya, itu berarti kebahagiaan dirinya "K-kalian...," kedua matanya mulai berkaca-kaca pertanda dia sangat terharu dengan dukungan yang diberikan oleh ke-sembilan bijuu itu. Kepalanya langsung menunduk dengan lengan kanannya yang sudah menutupi kedua matanya, tubuh itu bergetar pelan.

"Dasar cengeng, begitu saja sudah nangis," ejek Kurama pada pemuda Kuning yang ada di hadapannya.

"Apa katamu, bola bulu?" Dia menggosok-gosokan lengannya itu di kedua matanya kemudian pandangan tajam sudah terarah pada rubah berukuran besar itu "Ngajak berantem ya!" teriaknya yang tak terima dengan ejekan dari Kurama.

'Terima kasih, semuanya,' batin Naruto, dia tak bisa menyembunyikan kesenangannya. Dukungan dari bijuu yang sudah ia anggap seperti keluarga sendiri memang sangat berarti baginya.

"Umm?" Naruto mengadahkan pandangannya keatas ketika melihat salah satu tangan dari ke-sembilan bijuu itu sudah saling bertumpuk satu sama lain diatas kepalanya, dia sudah tahu dengan apa yang dilakukan oleh mereka bersembilan itu.

Tep!

Kepalan tangan Naruto menyentuh telapak tangan Kurama yang berada di bagian paling bawah dari tumpukan tangan tersebut, cengiran lebar sudah kembali terpasang di bibirnya "Aku senang bisa bertemu dengan kalian semua, kalian sudah kuanggap seperti keluargaku sendiri. Jadi, kita harus terus berjuang bersama... selamanya," ucapan semangat dari sang Jinchuuriki ke-sembilan bijuu itu yang bisa membuat siapa saja tersenyum.

"Yah, walaupun kekuatan seorang Shinobi tak akan terpakai di dunia ini," sambung Naruto yang sudah cengengesan tak jelas.

"Itu tak masalah bagiku."

"Kerja sama kita tak akan pernah terpisahkan."

"Kita bisa melakukannya."

"Memang sudah seharusnya kita bersama-sama seperti dulu."

Naruto mengedipkan matanya beberapa kali setelah pandangannya terasa mengabur, dia tahu sebentar lagi dirinya akan sadar dari tidur lelapnya "Maaf, semuanya. Aku harus pergi dulu, ada urusan yang harus kuurus hari ini," pamit pemuda pirang pada seluruh bijuu yang ada disana.

"Uuuu... Bilang saja kau ingin kencan dengan kedua adik angkatmu dan perempuan misterius itu, Naruto-kun," goda Matatabi.

"I-itu hanya jalan-jalan biasa, bukan kencan," ucap Naruto yang tiba-tiba saja gelagapan ketika mendengar godaan dari kucing berekor dua itu.

"Kami tahu apa yang kau rasakan lho, Naruto-kun," Matatabi melancarkan godaannya pada si pirang itu.

"Terserah kalian!"

"Hahahaha!"

-0-0-0-

"Naruto! Ayo bangun!"

Suara lembut nan menggoda itu menggema di kamar pribadi milik pemuda pirang yang masih menyelam di alam mimpinya, seorang perempuan berambut merah muda panjang sudah mendudukan bokongnya diatas perut laki-laki yang masih saja memejamkan matanya dengan kedua tangan perempuan itu bertumpu pada dada bidang di bawahnya.

"Naruto! Ayo bangun! Naruto sudah janji akan ikut jalan-jalan hari ini," ujar perempuan itu dengan tubuhnya yang bergerak ke atas dan ke bawah seolah tubuh laki-laki itu adalah trampolin, memang tidak biasanya laki-laki itu belum bangun sepagi ini.

Pemuda yang namanya disebut oleh perempuan itu mulai membuka kedua kelopak matanya menampakan iris biru langit dan bola mata ungu yang memiliki pola yang sangat aneh, langit-langit kamar dan silaunya matahari menjadi sesuatu yang pertama kali ia lihat ketika kedua matanya terbuka. Bibirnya menyungingkan senyum kecil karena ia bisa bertemu dengan ke-sembilan bijuu yang tersegel di dalam tubuhnya, rasa khawatir yang sempat hinggap di hatinya sudah menghilang tak berbekas setelah melihat semua bijuu itu dalam keadaan baik-baik saja.

"Akhirnya... Naruto bangun juga!"

Pandangannya mulai turun dari langit-langit kamar itu menuju asal suara yang ia dengar dan beban yang ia rasakan diatas perutnya "Lala, kenapa kau ada disini?" tanya Naruto dengan nada lemah, dia belum sepenuhnya sadar.

"Tehe~ tentu saja membangunkanmu, Naruto sudah berjanji akan ikut jalan-jalan hari ini," Lala terlihat sangat senang saat ini, hari ini adalah hari yang spesial untuknya yaitu jalan-jalan dengan Naruto dan yang lainnya. Dia juga ingin tahu seperti apa Kota Sainan itu.

Tubuh Naruto sedikit membeku sebentar ketika mendengar jawaban yang keluar dari mulut Lala "Jalan-jalan?" beo Naruto yang mulai tersadar, kedua pupil mata yang berbeda satu sama lain itu menatap wajah cantik dari perempuan yang menindih tubuhnya dengan jaraknya yang lumayan dekat "Lala, sudah berapa kali kubilang untuk memakai pakaian ketika tidur. Apa kau tidak kedinginan?" Salah satu kegiatan rutin Naruto semenjak ada Lala disini adalah mengingatkan perempuan itu untuk memakai baju ketika tidur dan itu terjadi di pagi hari.

"Naruto?" panggil perempuan itu dengan pandangannya terfokus pada salah satu mata Naruto yang terlihat aneh.

"Ada apa, Lala?" tanggap laki-laki pirang itu, sudah beberapa kali dia menarik dan menghembuskan napasnya melalui mulutnya 'Tahan, Naruto. Tahan! Jangan sampai insting hewanimu menguasai tubuhmu. Eh... Hewan?' bahkan dia tak fokus dengan pikirannya sendiri.

"Itu mata yang sangat indah," mata hijau bak batu emerald itu terpaku pada mata ungu berpola aneh milik Naruto.

"Eh?" Pemuda sedikit tersentak kaget mendengar pujian dari mulut perempuan yang menindih tubuhnya, tangan kirinya meraba-raba kepalanya. Benar saja dengan apa yang diperkirakannya sekarang, penutup mata kirinya itu sudah menghilang entah kemana dan dengan segera pemuda itu menutup mata sebelah kirinya "Lala, jangan tatap mataku seperti itu!" titah Naruto.

Terlambat!

Yang terlihat dalam mata hijau jade itu hanyalah kekosongan menandakan jika kesadaran pemiliknya sedang teralihkan oleh sesuatu setelah menatap mata ungu berpola riak air dengan tiga bintik di setiap garisnya...

-0-0-0-

"I-ini ada dimana?"

Setelah berhasil mengambil kesadarannya kembali, Lala baru menyadari jika dirinya sekarang bukan berada di dalam kamar pribadi milik Naruto bersama dengan pemiliknya. Tapi sebuah padang rumput yang cukup luas dengan pepohonan berukuran besar sebagai pinggiran padang rumput tersebut, dia juga sedikit bingung kenapa dirinya ada disini dengan tubuh yang tidak ditutupi sehelai benang apapun karena Peke sendiri masih beristirahat untuk mengisi energinya.

Sekarang kebingungan melanda otaknya, ia tak tahu harus pergi kemana karena dirinya sama sekali tak mengenal tempat itu bahkan di Planet Deviluke sekalipun "Naruto?" nama itulah yang otomatis langsung muncul di dalam otaknya sehingga mulutnya tanpa sadar memanggil nama itu. Dia tak tahu harus meminta tolong kepada siapa lagi selain pemuda pirang yang sudah menjadi tunangannya itu, dia tak menemukan pemuda itu dimanapun.

"Grrrr...!"

Kepala merah muda itu menoleh kearah suara itu berasal dan menemukan sosok makhluk seperti manusia berkulit putih atau dalam istilahnya adalah albino memiliki warna rambut dan pupil mata yang sama yaitu hijau gelap, melangkahkan kakinya dengan gontai kearah Lala dengan ekspresi membunuh terlihat jelas di wajahnya.

"Permisi, tuan. Apa kau tahu ini dimana? Dan apa kau bertemu dengan tunanganku -Naruto?" tanya Lala dengan polosnya tanpa menyadari seringai di bibir makhluk putih itu.

"Graaaa!"

Iris serupa batu emerald itu melebar sempurna ketika melihat makhluk putih itu malah melompat menuju kearahnya dengan ekspresi menyeramkan di wajahnya, dia sama sekali tak memiliki niatan untuk menghindari terjangan makhluk putih itu dan malah terbengong di tempat berdirinya.

"Rasengan!"

Teriakan seseorang menyadarkan kembali kesadarannya dan dia melihat makhluk kuning terang yang sudah menabrakan bola biru di tangan kanannya itu pada tubuh makhluk putih yang akan menerjang kearahnya...

Blaaar!

Suara ledakan itu menggelegar di padang rumput tersebut itu dan mendorong tubuh makhluk putih itu menuju arah rerimbunan pohon yang ada disana, sudah dipastikan jika makhluk putih itu akan berhenti setelah menabrak beberapa pohon besar yang ada disana.

Tap!

Sosok kuning itu mendarat dengan selamat diatas permukaan padang rumput tersebut dan membalikan tubuhnya kearah Lala yang masih berdiri mematung di tempatnya "Kau baik-baik saja 'kan, Lala?" tanya sosok itu yang terlihat sangat khawatir dengan perempuan bersurai merah muda itu, tapi dilihat dari manapun perempuan itu tak tergores sedikitpun.

"Wah!" Dengan matanya yang berbinar, dia menatap kagum kearah sosok kuning yang ada di depannya walaupun dia sedikit familiar dengan wajah sosok kuning itu "Hebat sekali! Kau seperti peramal saja yang langsung tahu namaku walaupun baru satu kali bertemu," ucap Lala yang masih terkagum-kagum dengan kemampuan sosok kuning itu, mirip sekali dengan kemampuan ayahnya.

Sosok kuning itu hanya menepuk dahinya perlahan setelah mendengar pujian dari perempuan yang ada dihadapannya "Apa kau tidak ingat aku, Lala? Ini aku, Naruto," memang sangat susah jika berhadapan dengan perempuan yang polosnya sudah melewati batas. Contohnya saja tadi, bukannya menghindar ketika diterjang Shiro-Zetsu, dia malah terbengong di tempat seperti orang bodoh. Sepertinya perempuan itu memang tidak tahu jika dirinya sedang terancam tadi.

"Eh? Naruto?" beo Lala yang sedikit tak percaya dengan sosok yang ada di depannya, dia memperhatikan setiap inchi dari tubuh sosok kuning yang ada di depannya. Dia memukulkan kepalan tangan kanannya keatas telapak tangannya dengan perlahan setelah menyadari jika sosok itu memang sangat mirip sekali dengan Naruto, atau sosok di depannya itu memang Naruto(?).

"Tapi kenapa Naruto berpakaian seperti itu?" Perempuan bersurai merah muda itu sudah melangkahkan kakinya kearah Naruto dengan raut kebingungan di wajahnya.

"Hm?" Kepala Naruto sedikit menunduk perlahan untuk melihat apa yang terjadi dengan tubuhnya sekarang ini, dia bisa melihat kedua tangannya menjadi kuning karena terselimuti oleh chakra yang pernah ia dapatkan setelah mengalahkan Kurama. Sepertinya Lala memang masuk ke dalam salah satu ingatan masa lalunya ketika menatap mata Rinnengannya "Bisa dibilang jika ini adalah salah satu kemampuanku dan kau orang pertama yang melihat diriku dalam balutan chakra bijuu ini," jelasnya.

Lala tersenyum senang mendengar penjelasan dari Naruto "Benarkah aku adalah orang pertama yang melihat Naruto seperti ini?"

Pemuda pirang itu menganggukan kepalanya, setidaknya itu dihitung sejak dirinya sampai di dunia tak dikenal ini.

"Lalu ini ada dimana, Naruto?" tanya Lala lagi.

'Rasa ingin tahunya kumat lagi, aku harus segera mengeluarkannya dari sini,' tanggap Naruto ketika mendengar pertanyaan dari perempuan itu.

"Itu tidak penting sekarang, Lala. Kau harus pergi secepatnya dari sini, sangat berbahaya jika kau terlama di dalam dunia Ilusi ini," Naruto berusaha membelokan topik permbicaraan, kedua tangannya sudah bertumpu pada kedua bahu milik Lala agar perempuan itu bisa mendengarkannya dengan seksama.

"A-apa Naruto mengusirku?" tanya Lala dengan matanya yang sudah berkaca-kaca seperti ingin menangis.

Naruto hanya menundukan kepalanya melihat reaksi berlebihan dari Lala "Aku bukannya ingin mengusirmu, tapi aku ingin membawamu lagi ke dunia yang sebenarnya. Ini bukan tempat yang aman bagi orang sepertimu," ucap Naruto yang berusaha meyakinkan Lala agar membuang jauh-jauh pemikiran menyimpangnya itu.

"Jadi, Naruto mengkhawatirkanku?" tanya Lala lagi yang terlihat sangat senang mendengar jawaban dari Naruto.

"Tentu saja, selama kau ada disini, kau menjadi tanggung jawabku, Lala," bisa sangat gawat jika terjadi sesuatu pada Lala, Planet Bumi yang ditinggalinya ini bisa dalam bahaya besar "Sekarang tutup matamu dan berkonsentrasilah agar kau bisa kembali ke dunia nyata, Lala," perintah Naruto.

"Umm... Baiklah," ucap Lala yang menyanggupi perintah dari Naruto lalu memejamkan kedua kelopak matanya rapat-rapat dengan senyum terpasang di bibir ranumnya.

Naruto mengerutkan dahinya menandakan jika dirinya sedikit bingung kenapa Lala masih ada di depannya, seharusnya tubuh Lala sudah menghilang jika memang perempuan itu menuruti perintahnya untuk berkonsentrasi "Lala?" panggil Naruto.

"Ya?" sahut Lala dengan kedua matanya masih terpejam.

"Kurasa kau gagal melakukannya," Naruto menghembuskan napasnya perlahan karena dia tahu jika perempuan itu tak akan bisa melakukannya dengan benar "Pada akhirnya, harus aku juga yang turun tangan," sambungnya dengan nada pelan.

Dia menempelkan dahinya dengan dahi milik Lala membuat Lala membuka matanya kembali dan menatap wajah Naruto yang sangat berdekatan dengannya, wajahnya merona tipis karena baru kali ini pemuda itu melakukan hal ini padanya "N-naruto?"

"Sekarang pejamkan matamu lagi dan berkonsentrasi, kita akan keluar sama-sama dari sini," titah pemuda pirang itu dengan senyuman menenangkan tercipta di bibirnya, kedua kelopak matanya juga sudah tertutup dengan rapat seperti apa yang dilakukan oleh Lala sebelumnya.

"Baiklah, Naruto," Lala juga kembali memejamkan matanya rapat-rapat lalu berkonsentrasi penuh seperti yang diperintahkan oleh Naruto, hatinya terasa sangat tenang bila berada di dekat Naruto seperti dengan apa yang ia rasakan sekarang.

-0-0-0-

"Uhhh?"

Perempuan bersurai merah muda panjang itu membuka matanya kembali setelah merasakan rasa panas yang menyengat pada tubuhnya, hal pertama yang ia lihat adalah sepasang mata denga pupil berbeda lalu salah satu kelopak matanya tertutup menyembunyikan mata berpola unik itu dari siapapun yang melihatnya.

"Selamat datang kembali, Lala," laki-laki pirang itu terlihat senang melihat Lala kembali membuka matanya menandakan kesadarannya kembali pada pemiliknya.

"N-naruto? T-tadi 'kan kita berada di padang rumput itu, K-kenapa sekarang kita ada disini lagi?" tanya Lala yang sudah dilanda kebingungan.

"Hmm... Kau tak perlu tahu, Lala," Naruto membalas kebingungan Lala dengan cengiran lebarnya "Hanya satu pesanku padamu: Jangan menatap mata kiriku terlalu dalam, atau bisa-bisa kau terlempar ke masa laluku lagi," salah satu tangannya mengelus puncak kepala Lala dengan lembut, dia sedikit tak percaya jika Lala malah masuk ke dalam Dunia Genjutsu-nya. Untung saja dia hanya masuk ke dalam kilasan masa lalunya, dia tak tahu apa yang terjadi jika perempuan itu salah masuk.

"Eh? Baiklah jika Naruto bilang seperti itu," ucap Lala dengan senyum di bibir tipisnya, dia tak mau menyinggung hal itu lagi sekarang.

Krieet!

Naruto dan Lala menolehkan kepalanya kearah pintu yang sudah berderit menandakan ada seseorang yang membukanya, di ambang pintu sana sudah ada Mikan yang memasang wajah terkejut karena melihat kakak angkatnya itu sedang memangku perempuan yang menyebut dirinya adalah tunangan kakaknya tanpa mengenakan busana sama sekali. Ekspresi Mikan berubah menjadi datar seolah dia tak melihat apa yang dilakukan oleh kakak angkatnya itu "Maaf mengganggu pagi kalian yang indah, tapi kalian harus segera mandi dan sarapan atau acara jalan-jalannya tak akan jadi," ucap Mikan yang tadinya ingin membangunkan kakaknya, tapi melihat posisi yang dilakukan kakaknya, dia tak tahu harus berkata apa.

Blam!

Pintu bercat coklat itu kembali tertutup dengan paksa setelah gadis bersurai coklat panjang dengan bagian atasnya yang diikat menariknya dengan kekuatan penuh...

Naruto bisa merasakan jika Lala sudah turun dari pangkuannya membuat beban di tubuhnya sedikit berkurang "Acara jalan-jalan, kami datang!" seru perempuan itu dengan nada bahagia lalu berlari menuju pintu keluar tanpa memperdulikan tubuhnya yang tidak ditutupi sehelai benang apapun dengan ekor hitamnya yang bergerak kesana-kemari, dia sudah keluar lalu menuruni tangga yang tak jauh dari kamarnya.

"Ada-ada saja, dia seperti anak kecil," gumam Naruto tanpa sadar, sifat polos dan kekanak-kanakannya membuat siapa saja tersenyum. Tapi kenapa tubuhnya juga harus polos seperti tadi?

"Eh? Tumben aku bisa bertahan melihat dirinya telanjang," Naruto langsung menepuk-nepukan kedua tangannya di masing-masing pipinya "Sadar, Naruto. Dia bukan ramen yang bisa kau makan."

Setelah itu, Naruto bangkit dari ranjang kesayangannya dan membereskan sedikit kekacauan yang terjadi diatasnya. Dia memasangkan penutup mata yang terbuat dari kapas putih itu diatas kelopak mata kirinya, dia masih belum siap untuk menunjukannya pada orang lain bahkan adiknya sendiri. Walaupun Zastin sempat menyinggung perihal itu tempo hari.

'Menyusahkan sekali.'

-0-0-0-

Kota Sainan adalah Kota maju yang sangat besar dengan populasi penduduknya yang sanga banyak dihiasi dengan gedung-gedung bertingkat baik itu Komersil, Resident ataupun Industri. Hari ini adalah hari libur dimana para pekerja dan murid sekolah mendapatkan cuti mingguan mereka, makanya tak heran jika hari ini Kota Sainan sangat ramai dengan lautan manusia yang menikmati hari libur mereka dengan berjalan-jalan mengelilingi kota.

"Wah, jadi inikah kota yang ada di bumi, sangat ramai ya," perkataan itu meluncur dari bibir ranum perempuan bersurai merah muda panjang dengan memakai pakaian aneh yang biasa dipakai olehnya, itu salah satu kemampuan robot kostum milik Lala.

"Pakaiannya sangat aneh ya."

"Apa mungkin dia itu Cosplayer?"

Entah kenapa pemuda bersurai pirang jabrik itu merasa risih dengan perkataan-perkataan dari orang di sekitarnya tentang penampilan Lala sekarang ini, tapi orang yang dibicarakan seolah tak mendengar perkataan orang lain tentang dirinya, sepertinya Lala memang sedang terbuai oleh dunianya sendiri. Tak mungkin juga jika Planet Deviluke tak memiliki kota, disana pastinya lebih maju daripada kota-kota yang ada di Bumi ini.

"Lala-san terlihat sangat senang sekali ya," ucap Riko yang berdiri tepat di samping Naruto, perempuan itu hanya tersenyum melihat reaksi Lala tentang Kota Sainan itu.

"Yang sekarang aku pedulikan adalah 'Kenapa Lala malah memakai pakaian anehnya itu?' Bukankah aku sudah bilang untuk berpakaian normal seperti yang dipakai manusia bumi?" Jujur, rasa risih itu malah menggelitik hatinya sekarang ini. Dia harus mengubah penampilan Lala senormal mungkin layaknya perempuan di Bumi pada umumnya.

"Tapi menurutnya itu adalah pakaian normal di Planetnya dan penduduk di Planetnya tidak mempermasalahkan itu," ucap Mikan yang mengemukakan alasan yang ia dengar langsung dari Lala ketika memakai pakaian itu.

"Kebudayaan disana dan disini berbeda, Mikan. Mereka tahu jika Lala itu putri dari Raja Deviluke yang menguasai seluruh Galaksi, kebanyakan penduduk di Bumi sangat naif dan tak pernah percaya dengan adanya alien," setidaknya dia harus membereskan masalah ini dulu sebelum melanjutkan acara jalan-jalan mereka "Biar aku yang urus," ucapnya dengan kakinya yang melangkah kearah Lala.

"Lala?"

Perempuan itu membalikan badannya ketika namanya dipanggil oleh seseorang dari belakangnya "Ya, Naruto?" Dia menatap kearah laki-laki pirang yang sangat dikenalnya, dia sangat bahagia bisa melihat-lihat kota yang ada di Bumi bersama dengan tunangannya beserta kedua adiknya.

"Ikut aku sebentar," pinta Naruto dengan tangan kanannya yang sudah menggenggam pergelangan tangan kiri milik Lala lalu menariknya menuju suatu tempat dengan perlahan dengan Riko dan Mikan yang mengekor di belakang mereka berdua.

Mereka semua langsung berbelok kearah gang yang tidak terlalu besar tapi cukup sepi untuk mengobrolkan sesuatu yang sangat pribadi, Naruto memperhatikan kembali keadaan yang ada di sekitar gang tersebut. Setelah dirasa sangat aman untuk memulai pembicaraan, dia menatap kearah Lala yang menatapnya dengan pandangan bingung dan heran.

"Lala, sepertinya kau harus mengubah pakaianmu itu. Terlalu mencolok jika kau memakai pakaian dari planetmu untuk berjalan-jalan disini," Naruto berusaha untuk memberitahu Lala dengan perlahan agar perempuan itu mengerti dengan apa yang dimaksudkan olehnya.

"Mengubahnya? Lalu aku harus berpakaian seperti apa, Naruto?"

"Peke, bukankah kau bisa mengubah dirimu menjadi pakaian apapun, ya 'kan?" tanya Naruto pada robot kostum milik Lala.

"Tentu saja, Naruto-dono," jawab Peke, itulah kegunaannya saat dirinya diciptakan oleh Lala.

"Bisa kau ambil salah satu contoh dari orang-orang yang ada disana? Salah satunya pasti ada yang cocok dengan Lala, bisa 'kan?" pinta Naruto sambil menunjukan kearah segerombolan orang yang sedang menikmati liburannya hari ini.

Perempuan merah muda itu menatap kearah gerombolan orang yang ditunjukan oleh Naruto "Bagaimana, Peke?" tanya Lala dengan matanya yang melirik topi besar yang menutupi kepalanya.

"Analisis Kostum sudah selesai, Lala-sama," ucap Peke, robot itu memang perlu menganalisis data tentang pakaian yang dipakai oleh sekelompok manusia yang ada disana sebelum mengubah dirinya menjadi pakaian yang diinginkan oleh majikannya sendiri.

"Tolong ya, Peke," pinta Lala pada robot Kostumnya.

"Baiklah, Lala-sama. Berubah!"

Cahaya yang menyilaukan mata menyelimuti tubuh Lala membuat Naruto, Riko dan Mikan harus menutupi matanya menggunakan lengannya, mereka tak tahan jika terus dipaksakan untuk melihat sinar seterang itu secara langsung.

"Bagaimana, Naruto, Riko-chan, Mikan-chan?"

Orang-orang yang disebutkan namanya itu mulai menyingkirkan lengan mereka dari matanya lalu menatap kearah Lala yang masih berdiri di tempat dengan memakai pakaian seragam kantoran untuk laki-laki. Naruto hanya menepuk dahinya perlahan ketika melihat perubahan pakaian Lala yang malah terlihat makin aneh sekarang "Setidaknya ubahlah pakaian yang sesuai dengan jenis kelaminmu, Lala," dia tak bisa menyalahkan Lala sepenuhnya karena dia juga yang menyuruh Peke untuk mengambil contoh pakaian dari orang yang berlalu lalang, berarti itu termasuk laki-laki juga.

"Memangnya ini tak boleh ya?" tanya Lala dengan polosnya seolah dia tak berbuat salah.

"Bukan begitu, Lala-san. Itu pakaian khusus untuk laki-laki dan mana mungkin kita berjalan-jalan menggunakan pakaian kantoran seperti itu," jelas Mikan, sebenarnya dia ingin sekali tertawa saat itu juga "Bisa kau ubah lagi dengan pakaian yang lebih normal lagi?" pinta adik angkat Naruto yang bungsu itu.

"Oh, baiklah. Peke!" dia memerintahkan kembali pada robot kostumnya itu untuk mengubah pakaiannya lagi.

"Baik, Lala-sama!"

Pemuda pirang itu hanya bisa memijit kepalanya yang terasa sangat pusing karena ulah gadis alien yang ada di hadapannya ini, semua perubahan pakaian yang dikenakan oleh perempuan itu aneh semua bahkan terlalu vulgar untuk dipakai di muka umum. Pakaian polisi lah, pakaian penyihir lah, pakaian bunny-girl, pakaian perawat lah, waktu jalan-jalan ini akan terbuang sia-sia jika Lala terus mencoba berbagai pakaian yang sempat di analisa oleh robot kostumnya itu.

"Kalau sekarang bagaimana, Naruto?" tanya Lala yang meminta pendapat pada satu-satunya laki-laki yang ada disana.

Naruto mendongakan kepalanya lalu menatap kearah Lala, iris mata kanannya itu melebar sempurna seperti ingin keluar dari tempatnya. Tubuh Lala yang sangat proporsional untuk remaja seusianya sudah dibalut dengan Dress One-Piece dengan rok pendek dengan perpaduan warna antara biru langit pucat dan putih serta kain ungu menutupi bagian dadanya, pemuda itu sedikit terpesona dengan penampilan Lala saat ini "M-manis sekali," tanpa sadar mulutnya malah mengatakan kata itu.

"Eh? Benarkah?" ucap Lala yang sedikit tersipu karena pujian yang diberikan oleh Naruto sekaligus dia sangat senang mendengarnya.

"Tentu saja, itu terlihat sangat normal," ucap Naruto dengan senyum kecil tercipta di bibirnya.

"Baiklah!"

Trep!

"Lala?"

Naruto sedikit terkaget ketika tangan kiri Lala sudah memegang pergelangan tangan kanannya, tubuhnya sedikit terhuyung-huyung ke depan karena Lala sudah menariknya dengan paksa keluar dari gang tersebut dan menerobos keramaian yang ada di depannya. Pemuda itu akhirnya pasrah membiarkan perempuan itu menarik tubuhnya kemanapun yang dia mau, entah kenapa dia mulai nyaman ketika berada di dekat Lala.

"Ternyata rencananya berhasil, semoga saja mereka semakin dekat," ucap Riko yang sudah melangkahkan kakinya keluar dari gang tersebut.

"Seharusnya kita juga tak ikut," ucap Mikan yang berjalan beriringan dengan kakak perempuannya, dia hanya tersenyum melihat Naruto yang terus ditarik oleh Lala.

"Ya, mau bagaimana lagi. Naruto-nii tak akan mau jika hanya berduaan saja dengan Lala-san, dia sangat payah sekali jika berurusan dengan perempuan."

"Hmm... Aku setuju denganmu, Riko-nee."

Pada hari itu, mereka berempat menghabiskan waktu liburan mereka untuk menyingkirkan kejenuhan yang menumpuk di kepala mereka selama seminggu itu. Aura kebahagiaan terpancar dari mereka berempat, mereka sangat menikmatinya dengan penuh canda dan tawa. Sesekali mereka menghampiri stand penjual aksesoris yang mereka temui sepanjang perjalanan mereka bahkan mereka tak segan-segan untuk membeli aksesoris yang terlihat sangat lucu di mata ketiga gadis itu. Satu-satunya laki-laki yang menemani mereka tak kuasa untuk menolaknya karena kesenangan mereka bertiga adalah kesenangan dirinya juga.

'Aku sangat bersyukur bisa tinggal di dunia yang sangat indah ini, aku bisa merasakan apa yang tidak pernah kudapatkan di duniaku sebelumnya. Terima kasih, Kami-sama,' batin Naruto, apakah ini adalah balasan yang diberikan oleh Kami-sama padanya karena telah berjuang selama dirinya berada di Dunia Shinobi? Jika iya, ini balasan yang cukup setimpal baginya.

"Na~ ru~ to~"

Pemuda yang disebutkan namanya itu terperanjat kaget ketika melihat wajah Lala yang begitu sangat dekat dengannya, mungkin hanya berjarak beberapa sentimeter lagi dari wajahnya "A-ada apa, Lala?" tanya Naruto yang berusaha untuk menormalkan jantungnya yang berdegup sangat kencang karena keterkagetan itu, matanya menatap kearah Riko dan Mikan yang memandangnya penuh kecurigaan.

"Mesin apa ini?" tanya Lala sambil menatap salah satu dari sekian banyak Catching Machine yang ada di Game Center itu, perjalanan mereka masih berlanjut.

"Itu namanya Mesin Penangkap, Lala-san. Jika kau memasukan koin ke dalamnya maka kau bisa mengambil salah satu boneka yang ada di dalamnya, tapi faktor keberuntungan juga bekerja disini," jelas Riko.

"Heh? Begitukah?" ucap Lala seolah tak percaya dengan penjelasan yang keluar dari mulut Riko, matanya terpaku pada boneka berbentuk robot kelinci dengan tampang lumayan menyeramkan "Boneka itu sangat manis sekali," kedua matanya berbinar-binar seolah dia menginginkan boneka itu.

"Tapi boneka itu cukup besar dan lumayan berat juga untuk mengangkatnya," Mikan hanya mengira-ngira saja karena untuk mengangkat dan mengeluarkan boneka Mecha-Rabbit itu harus hati-hati dalam melakukannya dan faktor keberuntungan juga harus bermain disini.

"Kalau begitu biar aku saja yang mengambilnya," ucap Naruto yang merogoh saku celananya lalu mengeluarkan beberapa koin agar bisa menggerakan Cacthing Machine tersebut kemudian memasukan dua koin pertama ke dalam mesin tersebut "Aku hanya perlu konsentrasi untuk mendapatkannya," gumamnya.

Capit besi yang ada di dalam Cacthing Machine itu mulai bergerak seiring tangan Naruto yang mulai menekan tombol-tombol yang ada disana, pemuda itu langsung menekan tombol lainnya untuk menurunkan capit besi itu tepat diatas boneka robot kelinci yang ada di tengah-tengah gerombolan boneka itu. Ketiga perempuan yang ada disana menatap kagum kearah Naruto yang berhasil menyapit kepala boneka kelinci itu dan berhasil menariknya keatas, selanjutnya hanya tinggal memasukannya ke dalam lubang agar boneka itu bisa keluar.

Sreek!

"Yay!"

Lala langsung mengambil boneka kelinci itu setelah keluar dari lubang yang tersedia di bagian luar mesin tersebut lalu mengangkatnya tinggi-tinggi dengan ekspresi bahagia terlihat di wajahnya karena boneka yang diinginkannya bisa didapatkan "Terima kasih, Naruto! Aku akan selalu menjaganya," ucap Lala sambil mendekap boneka itu dengan erat di dadanya.

Naruto hanya menganggukan kepalanya dengan senyuman kecil tercipta di bibirnya ketika melihat Lala yang terlihat sangat kegirangan "Apa kalian juga mau?" tanya laki-laki pirang itu pada Riko dan Mikan.

"Aku bukan anak kecil lagi, Naruto."

"Melihat Lala-san senang saja, itu sudah cukup kok."

"He... Ya sudah, aku hanya menawarkan saja," entah kenapa dia malah menyesal menawarkannya pada kedua adiknya itu.

-0-0-0-

Setelah puas bermain-main di Game Center, ketiga perempuan dan satu laki-laki itu melanjutkan acara jalan-jalan mereka dengan berjalan kaki menuju tempat tujuan yang selanjutnya. Senang dan bahagia terlihat di wajah mereka berempat, acara jalan-jalan mereka memang berjalan dengan lancar hingga saat ini.

"Selanjutnya kita akan kemana? Ini masih terlalu siang untuk kita pulang," tanya Naruto yang meminta pendapat pada kedua adik angkatnya dan perempuan alien itu, jarang-jarang mereka menghabiskan liburan bersama-sama seperti sekarang.

Semuanya terlihat bingung ketika mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut Naruto, mereka bingung karena mereka tak tahu harus berkunjung kemana lagi. Mereka sudah mengunjungi beberapa tempat yang sangat asyik selama seharian ini, mungkin sambil berjalan mereka akan menemukan tempat yang seru lagi.

Telinga Naruto yang sedikit sensitiv terhadap suara sekecil apapun itu mendengar suara sesuatu yang terbakar tak jauh dari tempat berdirinya saat ini, kepalanya menengok kearah kanan dan kiri dengan seksama. Dia tak menemukan hal yang mencurigakan di sekitarnya bahkan dia tak menemukan penjual disana, dia mengira jika ada penjual makanan bakar disana.

"Lala-san... B-bajumu...," Riko yang berjalan tepat di belakang Lala melihat pakaian yang dipakai oleh Lala mulai terkoyak dan berlubang seperti tersiram oleh cairan korosif yang merusak kain, pakaian itu mulai melebur tak tersisa dengan tempo yang sangat lambat.

Mendadak mereka menjadi pusat perhatian karena kejadian itu, pakaian Lala terus melebur layaknya kantong plastik yang bisa hancur sendiri. Jika ini dibiarkan bisa-bisa...

"K-kenapa ini bisa terjadi?" ucap Naruto yang menatap horor kearah pakaian Lala, dia tak bisa membiarkannya terus menerus seperti ini apalagi mereka berempat sekarang ada di muka umum.

"Maaf, Lala-sama, Naruto-dono. Aku sudah kehabisan energi karena perubahan pakaian yang sebelumnya, aku tak menyangka jika itu akan menguras energi yang sangat banyak," jawab Peke yang mempersonifikasikan dirinya menjadi jepit rambut berbentuk bulat yang menempel di poni kiri milik Lala.

'Jika terus seperti ini, pakaian Lala pasti akan melebur hingga tak tersisa. Bisa-bisa dia... telanjang bulat di muka umum!'

"Lala, kita harus pergi dari sini," pinta Naruto sambil menatap kearah Lala dengan pandangan was-was dan khawatir.

"Eh? Kenapa?" tanya Lala dengan polosnya, dia sama sekali tak mengkhawatirkan apa yang akan terjadi ke depannya nanti.

"Pokoknya kita pergi!" Tanpa aba-aba, Naruto langsung menggendong perempuan bersurai merah muda panjang itu dengan gaya bridal. Kedua kakinya yang sudah ia selimuti dengan chakra miliknya mulai berlari sangat kencang meninggalkan kedua adiknya yang masih terbengong di tempat "Ayo, Riko! Mikan!" teriak Naruto karena jaraknya yang lumayan jauh dari kedua adiknya.

""B-baik, Naruto-nii/Naruto!"" jawab Riko dan Mikan bersamaan, mereka berdua langsung berlari menyusul kakak angkatnya yang melesat bagaikan mobil balap.

"Sejak kapan Naruto-nii bisa berlari sekencang itu?" tanya Riko yang baru kali ini melihat laki-laki pirang itu berlari sekencang itu bahkan melebihi rata-rata manusia biasa untuk berlari.

"Entahlah, Riko-nee. Aku juga baru melihatnya, apa itu karena rasa khawatirnya?" Mikan juga tak pernah tahu jika Naruto bisa berlari sekencang itu jika dirinya sedang khawatir.

Mereka berdua langsung berbelok lalu masuk ke salah satu bangunan yang berjejer di sebelah kanan mereka setelah melihat Naruto juga masuk ke dalam bangunan itu terlebih dahulu, berbagai jenis dan macam pakaian baik untuk laki-laki ataupun perempuan menyapa atensi kedua perempuan kakak-beradik itu. Dia akui jika kakak angkat mereka lumayan cerdik dengan langsung membawa Lala ke toko penjual pakaian, dengan begitu mereka bisa membeli beberapa setel pakaian untuk Lala.

"Hoy! Riko! Mikan!" teriak Naruto sambil melambaikan tangan kanannya tinggi-tinggi agar kedua adik angkatnya bisa melihatnya, dia sudah berdiri di salah satu ruang ganti yang sudah tertutup rapat menandakan jika ada yang mengisinya, yang tak lain adalah Lala.

"Dimana Lala-san?" tanya Riko ketika dirinya sudah sampai di depan Naruto.

"Dia ada di dalam dan tolong pilihkan pakaian untuknya, ya. Aku tak tahu selera perempuan perihal pakaian," ucap Naruto yang malah cengengesan tak jelas disana.

"Kami mengerti, Naruto. Pada dasarnya, kau memang tak punya pengetahuan apapun tentang perempuan. Jadi, serahkan saja pada kami. Benarkan, Riko-nee?" ucap Mikan yang setengah mengejek pada laki-laki pirang itu.

"Hum... Sebaiknya Naruto-nii tunggu saja disini," Riko melangkahkan kakinya menyusul Mikan yang sudah berlari meninggalkan Naruto, mereka berdua harus secepatnya menemukan pakaian yang cocok untuk dipakai oleh Lala.

"Hah... Merepotkan saja," gumam Naruto dengan nada pelan, tangan kanannya ia gunakan untuk mengusap dadanya berusaha menormalkan napasnya yang sedikit memburu karena berlari lumayan kencang. Dia tak menyangka jika harus memakai kemampuan ninjanya karena terlalu mengkhawatirkan Lala.

"Y-yuuki-kun?"

Pemuda pirang itu membalikan tubuhnya ke belakang setelah mendengar marga keluarganya disebut oleh seseorang, manik biru langitu itu saling bertemu dengan sepasang manik ungu gelap yang sewarna dengan rambut pendeknya memakai baju ungu pucat berlengan pendek yang dipadukan dengan rok kuning selutut "Haruna-san...?" dia sedikit bingung kenapa teman sekelasnya itu berada di toko baju ini "Sedang apa disini?" tanya Naruto sambil melangkahkan kakinya mendekati perempuan bernama Haruna itu.

Haruna tersenyum kecil mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut laki-laki bermarga Yuuki itu "Hanya sedang berjalan-jalan dan sebenarnya ada sesuatu yang ingin kubeli disini," jawab Haruna, dia cukup senang juga bisa bertemu dengan Naruto disini walaupun ini tempat umum.

"Begitukah? Kebetulan sekali kita bertemu disini," ucap Naruto.

"Iya...," balas Haruna dengan singkat "Oh ya, Yuuki-kun juga sedang apa disini?" dia juga sedikit penasaran dengan keberadaan Naruto di toko pakaian seperti ini dan malah ada di kawasan pakaian khusus wanita, bukannya dia curiga atau buruk sangka tapi dia hanya ingin tahu saja.

"Hanya sedang..."

"Yaa~ hoo~ Naruto, bagaimana pendapatmu tentang pakaianku?"

Mendengar namanya diseru oleh seseorang membuat Naruto menggerakan tubuhnya ke kiri membentuk sudut 90 derajat, kepalanya menoleh kearah Lala yang sudah dibalut dengan pakaian Dress One-Piece dengan rok pendek juga berwarna putih. Itu terlihat sangat cocok di tubuhnya "Itu sangat cocok untukmu, Lala."

Haruna hanya terdiam ketika mendengar interaksi dari Naruto dan Lala, entah kenapa perasaannya malah bercampur aduk karena melihat mereka berdua yang terlihat sangat dekat. Dia kira Naruto hanya sendirian datang kesini, tapi itu tidak mungkin juga dan siapa juga yang datang ke toko pakaian seorang diri.

"Ah, Haruna-chan ada disini juga?" tanya Lala yang sangat antusias sambil menatap kearah Haruna yang berdiri berdampingan dengan Naruto.

"Hmm... Kebetulan sekali ya, Lala-san," jawab Haruna dengan senyum manis di bibir ranumnya.

-0-0-0-

"Indah sekali, jadi ini yang dinamakan Aquarium?"

Perempuan cantik yang ternyata adalah alien itu menatap keadaan sekitarnya dengan mata berbinar, dia bisa melihat berbagai jenis makhluk laut yang sangat mengagumkan itu dari balik kaca transparan sehingga siapapun bisa melihat kehidupan yang terjadi pada makhluk laut yang ada disana. Perempuan itu sama sekali tak sendirian, dia ditemani oleh tiga perempuan yang salah satunya masih terlihat seperti anak-anak dan satu laki-laki. Menurut rencana, ini adalah tempat terakhir yang akan mereka kunjungi sebelum pulang dan menempatkan tempat yang bagus diakhir memang sangat mengesankan.

"Terima kasih sudah mengajakku berjalan-jalan bersama kalian semua, maaf kalau merepotkan kalian," ucap Haruna yang berjalan beriringan dengan Naruto.

"Tak perlu dipikirkan, Haruna-san. Semakin banyak orang yang ikut jalan-jalan, semakin ramai pula acara jalan-jalan ini," ucap Naruto yang menikmati pemandangan aquarium yang sangat menakjubkan itu, baru kali ini dirinya melihat pemandangan bawah air dari dalam suatu bangunan.

Beragam jenis ikan melintas dengan bebasnya di dalam air tersebut seolah ingin memamerkan ke-eksotisan mereka kepada manusia yang sedang menonton dari dalam bangunan tersebut, semua orang yang ada disana bisa melihat hewan-hewan buas penguasa laut tanpa rasa khawatir di hati mereka karena tingkat pengamanan aquarium itu sangatlah tinggi bahkan kaca transparan itu tak akan bisa ditembus oleh hewan apapun.

"Eh? Dimana Lala?" ucap Riko yang baru menyadari jika suara tunangan Naruto itu sudah tak terdengar lagi di sekitar mereka, kemungkinan besar perempuan itu menelusuri bangunan aquarium lebih jauh lagi dan memisahkan diri dari kelompoknya.

"Bukankah dia ada disini tadi?" tanya Naruto yang berusaha mencari keberadaan Lala di tempat mereka berdiri saat ini dan tak ada tanda-tanda jika Lala berada disana.

"Kalau begitu aku dan Riko-nee akan mencari Lala-san, kau temani Sairenji-san saja disini ya," ucap Mikan disertai dengan senyuman jahil di bibirnya "Ayo, Riko-nee!" ajak Mikan pada kakak perempuannya itu sambil berlari meninggalkan Naruto bersama dengan Haruna.

"Semoga berhasil ya!" timpal Riko yang sudah menyusul Mikan untuk mencari keberadaan Lala di bangunan aquarium tersebut.

"Hoy! Kalian berdua...!" Laki-laki pirang itu berusaha untuk menghentikan kedua adiknya itu tapi mereka berdua sama sekali tak menggubris panggilan kakak angkatnya dan terus berlari untuk mencari Lala "Mereka itu selalu saja seperti itu," gumam Naruto pelan, kedua adiknya itu sudah menghilang diantara kerumunan lautan manusia itu.

Sementara dengan Haruna, dia hanya menundukan wajahnya yang mulai merona karena perkataan terakhir yang diteriakan oleh Riko. Ia tahu jika ini adalah akal-akalan dari Riko dengan meninggalkannya berduaan dengan Naruto, entah dia harus senang atau menyesal karena menerima ajakan Riko untuk ikut ke dalam bangunan aquarium itu bersama dengan Naruto, Lala dan Mikan. Dan pada akhirnya, dia malah terjebak ke dalam rencana yang dibuat oleh Riko dan dia tak tahu harus berbuat apa sekarang.

"A-ano... Yuuki-kun?" panggil Haruna pada Naruto yang masih berdiri di sampingnya.

Naruto menolehkan kepalanya kearah Haruna yang menundukan kepalanya seperti sedang memperhatikan lantai aquarium tersebut "Ya, Haruna-san?" sahut Naruto dengan senyuman ramah tercipta di bibirnya.

"A-aku minta maaf karena mengganggu acara kalian berempat," ucap Haruna, meskipun dengan nada pelan tetapi dia yakin Naruto bisa mendengar perkataannya itu.

"Apa yang kau bicarakan, Haruna-san? Kau sama sekali tak mengganggu acara kami kok, lagipula jalan-jalan sendirian di hari libur seperti ini malah akan membosankan," balas Naruto, bukannya ia sudah mengatakan itu sebelumnya pada Haruna.

Kepala Haruna mendongak perlahan dengan sepasang mata ungu gelap itu menatap wajah Naruto yang dihiasi senyuman ramahnya, senyuman itu tak pernah berubah dari bibir pemuda itu walaupun sudah beberapa tahun berlalu semenjak Haruna melihat senyuman pertama darinya. Dia yakin jika wajahnya sekarang sudah memerah karena terlalu lama melihat senyuman yang ada di bibir Naruto.

Salah satu tangan Naruto menggaruk kepala belakangnya yang sama sekali tak terasa gatal menandakan jika dirinya sedang gugup kali ini "Sebenarnya aku juga ingin meminta maaf padamu, Haruna-san," senyuman ramah itu malah berubah menjadi senyuman kikuk, itulah yang terjadi jika Naruto sedang gugup.

"Minta maaf? Untuk apa, Yuuki-kun?" Haruna sendiri cukup bingung dengan perkataan Naruto, perasaan pemuda itu tak pernah melakukan kesalahan apapun padanya. Jadi, untuk apa pemuda itu meminta maaf.

"Untuk hal tak senonoh yang pernah kulakukan padamu, tapi aku benar-benar tak sengaja melakukannya. Kesialan itu, entah kenapa harus berhubungan dengan perempuan saja. Aku bahkan tak menginginkannya sama sekali," jelas Naruto dengan wajahnya yang menatap kearah lain, ini tempat yang terlalu umum untuk membicarakan hal yang seperti itu.

Perempuan itu sempat tersentak mendengar pernyataan yang keluar dari mulut laki-laki yang ada di sampingnya, entah kenapa setiap kali mereka bertemu secara tak sengaja, mereka selalu saja terlibat dengan situasi yang sangat absurb dan sebenarnya itu sedikit menguntungkan kedua belah pihak tapi mereka tak menyadarinya sama sekali.

Haruna menggelengkan kepalanya sambil berkata "Yuuki-kun tak perlu meminta maaf seperti itu, aku tahu jika itu hanya ketidak sengajaan dan Yuuki-kun juga pasti tak akan pernah melakukan hal tak senonoh seperti itu. Terkadang aku juga kurang hati-hati dan malah berimbas padamu," senyuman yang ditunjukan oleh Haruna pada Naruto seolah memiliki maksud jika kesalahan itu bukan murni kesalahannya semata.

"Terima kasih atas pengertiannya, Haruna-san," ujar Naruto, dia senang jika perempuan itu sudah mengerti dengan penjelasannya barusan. Sebenarnya dia berencana untuk membicarakan ini jauh-jauh hari dengan Haruna tapi dia baru diberi kesempatannya sekarang "Bisa kau panggil aku 'Naruto' saja, rasanya itu terlalu formal untuk seorang remaja seperti kita," penyebutan marga dalam pemanggilan seseorang memang terlalu formal baginya.

"T-tapi... Yuuki-kun..."

"Kita sudah mengenal lumayan lama, ya 'kan? Seharusnya orang yang sudah mengenal orang lain sekian lama itu tidak akan segan memanggil nama belakang orang itu seperti panggilanku padamu, Haruna-san," potong Naruto, dia lebih suka dengan nama 'kue ikan'nya itu daripada harus dipanggil terus menggunakan marga keluarga angkatnya.

"B-baiklah, Naruto-..."

"Lari!"

"Apa air aquariumnya meluap?"

"Kita harus keluar dari sini sebelum air itu mencapai tempat ini."

Semua pengunjung aquarium yang sedang menikmati suasana di bawah air itu langsung panik seketika dan mereka juga bisa mendengar teriakan-teriakan kepanikan yang berasal dari bagian terdalam bangunan aquarium tersebut, semua pengunjung yang ada disana langsung berhamburan menuju pintu keluar dari bangunan tersebut.

'K-kenapa bisa...?' ucap Naruto di dalam hatinya dan melihat beberapa pengunjung yang berlari terbirit-birit dari bagian terdalam aquarium tersebut.

"Naruto-kun, bagaimana ini? Lala-san, Riko-chan dan Mikan-chan belum kembali sedari tadi," ucap Haruna yang sedikit khawatir dengan teman-temannya yang masih ada di dalam.

"Kau pergi saja dulu dan cari tempat yang aman, aku akan menyusul mereka bertiga. Aku takut jika terjadi apa-apa pada mereka semua," Naruto berusaha menenangkan Haruna yang sudah khawatir dengan keadaan kedua adik angkatnya dan perempuan alien itu, perasaannya memang tak enak sedari tadi.

"Naruto-nii! Cepat lari! Airnya akan segera datang!" Riko berteriak sekeras mungkin agar pemuda pirang itu bisa mendengar teriakannya, dia bersama dengan Mikan juga sudah melarikan dirinya dari air aquarium yang tiba-tiba saja meluap entah berasal darimana "Ayo, Haruna-chan," ucap Riko yang langsung menarik tangan Haruna agar menjauh dari sana.

"T-tapi bagaimana dengan Lala?" tanya Naruto yang terlihat masih khawatir.

"Yaa~ hoo~ Lihat! Ini sangat seru!"

Brussh!

Air berskala banyak itu mulai muncul dari bagian terdalam bangunan aquarium tersebut dengan seorang perempuan bersurai merah muda panjang tanpa mengenakan busananya sedang menaiki ikan bersirip biru yang Naruto sendiri tidak yakin jika itu adalah ikan hiu atau lumba-lumba "Lala!" teriak pemuda itu "Dia selalu saja mencari masalah," gumam Naruto yang sudah berlari kearah yang berlawanan dengan arah yang dituju oleh para pengunjung yang ada disana.

Pemuda itu melepaskan penutup mata kirinya dengan paksa memperlihatkan manik ungu berpola riak air dengan tiga bintik di setiap garis pola riak airnya 'Jika aku memakai elemen es, aku takut jika Lala malah terkena imbasnya, lagipula aku belum memasterinya dengan benar. Skala air itu terlalu besar untuk di sedot ke dalam dimensi Kamui. Ah... Peduli setan, ini keadaannya sudah sangat genting,' batin Naruto yang sudah berdiri dengan tepat di jalur terjangan air itu.

Naruto merentangkan kedua tangannya ke depan tubuhnya hingga sejajar dengan dadanya dengan matanya yang berkonsentrasi pada air yang terus bergerak kearahnya tanpa memperdulikan teriakan-teriakan dari orang yang ada di belakangnya "Gakidō!" teriak Naruto.

Brushh!

Air yang menerjang kearah Naruto langsung tersedot oleh suatu energi yang tak kasat mata diantara kedua tangan pemuda pirang itu, tubuhnya terseret beberapa sentimeter karena kekuatan air yang lumayan besar itu 'Tekanan airnya tidak bisa dianggap remeh, sebenarnya darimana air ini datang?' Air itu terus tersedot oleh energi tak kasat mata itu, dia tak akan berhenti sebelum air ini habis.

"Ugh! P-panas," gumam Naruto ketika merasakan mata kirinya terasa terbakar bahkan liquid berwarna merah dengan aroma amis sudah mengalir melewati pipi kirinya yang dihiasi tiga goresan tipis itu dan membasahi lantai bangunan tersebut, dia mengalihkan pandangannya kearah Lala yang masih duduk diatas ikan bersirip itu, sepasang manik hijau itu menatap khawatir kearah Naruto "Dasar merepotkan," ucapnya yang ia tunjukan pada perempuan itu diiringi dengan senyum kecilnya.

"Haaa!" Naruto berteriak keras membuat daya sedot energi tak kasat mata itu semakin besar, sebenarnya dia bisa saja lari dari gedung ini. Tapi entah kenapa otaknya malah memikirkan hal gila untuk mencoba salah satu kemampuan Rinnengan yang sangat legendaris itu, dia juga ingin tahu bagaimana sensasinya dan apa jutsu juga akan bekerja padanya.

...Dan sekarang dia tahu jawabannya.

[To Be Continued...]

Terima kasih sudah meluangkan waktunya untuk membaca cerita ini dan terima kasih juga atas ulasannya di chapter sebelumnya.

Bagi yang menanyakan kapan 'Konjiki no Yami' datang? Tolong sabar dulu ya! Saya tahu banyak yang nge-fans sama Konjiki no Yami dan menanti kedatangannya, kemungkinan cuma beberapa chapter lagi sih dia bakalan datang. Pertarungan yang patut dinantikan antara Pembunuh Bayaran yang kekuatannya sangat terkenal se-alam semesta melawan Sang kontainer para bijuu dengan kekuatan setara dengan pendahulu di Dunia Shinobi. Pasti penuh dengan kejutan nantinya.

Mohon kritik, saran, kesan dan pesannya, semuanya. Saya tahu jika saya masih memiliki kekurangan dalam membuat cerita ini agar saya bisa mengoreksinya dengan secepat mungkin.

Sekali lagi, terima kasih...