To Love naRUto

Disclaimer: Semua karakter dari anime "Naruto" dan "To Love Ru" bukan milik saya, saya hanya meminjamnya saja.

Main Cast: Naruto .U.

Pair: Naruto .U x Harem (Permanent!)

Summary:

Niatnya untuk kembali ke masa lalu harus gagal ketika mengetahui jika dia sudah berpindah dimensi dengan tubuhnya yang juga ikut menyusut, diadopsi oleh Keluarga Yuuki sebagai kakak tertua untuk dua adiknya. Masalah-masalah tak masuk akal mulai menghampirinya, bersama dengan tujuan barunya, ia yakin jika dia bisa menyelesaikannya.

Warning: Author Newbie, Abal-abal, Semi-Canon, Typo, Miss Typo, Echhi, Soft-Lime, Human!Naruto, God-Like!Naruto, Smart!Naruto, Fem!Rito(Riko), Read 'n Review and Not Like Don't Read.

Chapter 06

Siapa sebenarnya Kakakku?

Sang penguasa siang sudah menempatkan dirinya di ufuk timur dengan sinarnya yang berpijar menerangi Kota Sainan yang mulai ramai dan padat akan jutaan manusia yang kembali melakukan aktivitas rutinnya di awal pekan ini, suara klakson yang memekakan telinga saling bersahutan satu sama lain layaknya simponi buatan yang terus berbunyi setiap kali fajar menyingsing. Ada pula beberapa manusia yang memilih untuk berangkat menggunakan kakinya sendiri untuk pergi ke tempat tujuannya, mereka sudah tahu kendaraan-kendaraan besi itu pasti akan memenuhi jalan raya. Bergerak leluasa layaknya di jalan tol sepertinya sangat mustahil dilakukan.

Jauh dari kawasan kota yang sangat padat akan manusia dihiasi gedung-gedung tinggi yang menjulang ke langit...

Dua makhluk bergender sama dengan warna rambut yang berbeda satu sama lain dan satu makhluk diantara mereka memiliki ekor hitam berujung hati terbalik, keduanya memakai seragam siswi SMA Sainan membawa tas selempang hitam yang sejenis dan mereka berjalan beriringan menuju sekolah mereka yaitu SMA Sainan. Perjalanan mereka terasa sangat membosankan ketika menyadari ada satu orang lagi yang seharusnya berangkat bersama mereka, orang itu sedang beristirahat di rumah untuk memulihkan kondisinya setelah dia berusaha menghentikan insiden yang terjadi kemarin.

"Hey, Riko-chan?" Perempuan bersurai merah muda panjang sebokongnya membuka pembicaraannya dengan perempuan bersurai oranye gelap pendek yang terlihat sangat tomboy tapi wajahnya yang cantik dan tubuhnya yang menggoda malah menjadi daya tarik tersendiri bagi lawan jenisnya.

"Ada apa, Lala-san?" sahut perempuan bernama Riko itu, kepalanya menoleh kearah Lala yang berjalan beriringan di sampingnya.

"Apa tak apa-apa jika Naruto ditinggalkan sendirian di rumah?" tanya Lala dengan raut khawatir terlihat jelas di wajah cantiknya, si kuning jabrik itu memang tidak akan masuk sekolah hari ini karena kejadian di aquarium kemarin.

"Tentu saja, lagipula ada Zastin-san dan kedua pengawalnya yang menunggui Naruto di rumah. Jadi, kau tak perlu khawatir seperti itu, Lala-san," jawab Riko dengan senyum menenangkan tercipta di bibir tipisnya.

"Sudah semalaman ini Naruto tak bangun-bangun, aku takut jika..."

"Lala-san, dengar! Naruto-nii tak mungkin selemah itu, aku yakin Naruto-nii itu sangat kuat walaupun baru kali ini aku melihatnya seperti itu. Tapi, kita harus yakin jika Naruto-nii akan tersadar nanti," perkataan Lala langsung terpotong oleh Riko dan dia berusaha untuk meyakinkan perempuan di sampingnya bahwa kejadian yang menimpa Naruto murni bukan kesalahannya.

Lala berusaha mencerna apa yang dikatakan oleh Riko dengan seksama, sedetik kemudian senyuman ceria tercipta di bibirnya menandakan suasana hatinya mulai berubah ketika mendengar perkataan dari Riko "Hmm... Maaf, maaf, Riko-chan. Aku akan menuruti apa yang dikatakan oleh Riko-chan dan yakin jika Naruto akan sadar ketika kita pulang sekolah nanti, aku akan memeluknya dengan erat jika itu terjadi," ucap Lala dengan pikirannya yang sudah melayang entah kemana.

Perempuan yang sedikit tomboy itu tertawa pelan mendengar ucapan yang keluar dari mulut Lala "Aku hanya ingin memukul kepala 'kuning'nya itu setelah dia sadar," sebenarnya Riko juga menaruh harapan jika kakak angkatnya itu akan tersadar ketika mereka pulang nanti sama seperti apa yang Lala harapkan, tapi itu malah terkesan lebih kejam.

"Kenapa Riko-chan ingin memukul Naruto?" tanya Lala dengan tampang polosnya.

"Karena dia sudah membuat kita semua khawatir setengah mati, kurasa memukulnya saja belum cukup," jawab Riko yang berusaha berpikir apalagi yang akan dia lakukan jika si 'pirang' itu bangun.

"Riko-sama memang kejam, ya?" celetuk Peke setelah mendengar perkataan dari perempuan berambut oranye gelap itu.

"Katakan sekali lagi, Peke!" titah Riko dengan nada mengintimidasi pada Peke yang membentuk dirinya seperti jepit rambut bulat dengan dua bulatan berputar layaknya obat nyamuk diatasnya.

"Tolong, Lala-sama!" ucap Peke yang ketakutan mendengar perkataan mengintimidasi dari perempuan itu.

Sementara Lala hanya tertawa melihat interaksi antara Riko dan robot kostumnya, Peke. Jika saja Naruto ada disini, pasti perjalanan menuju sekolah ini akan lebih seru lagi.

Tanpa mereka sadari, mereka berdua sudah berada di kawasan SMA Sainan dengan bangunan tingkat 4 yang dihiasi jam dinding besar di bagian tengahnya. Murid-murid dari berbagai tingkatan berbondong-bondong memasuki gerbang sekolah yang masih terbuka sangat lebar mengijinkan murid-murid itu masuk sampai waktu bel berbunyi itu tiba.

Riko dan Lala sudah masuk ke dalam bangunan utama SMA Sainan itu melewati pintu depan yang langsung terhubung dengan ruang loker yang dikhususkan untuk murid-murid di sekolah Sainan, loker murid laki-laki dan perempuan sengaja dibuat terpisah mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan di sekolah tersebut.

"Eh? Itu 'kan Haruna-chan?" ujar Lala sambil menunjuk kearah perempuan bersurai ungu gelap pendek yang memakai seragam siswi SMA Sainan sedang membuka loker miliknya sendiri, sepertinya dia ingin membawa sesuatu dari dalamnya. Lala langsung berlari menghampiri Haruna yang belum menyadari keberadaan murid lain di sekitarnya "Haruna-chan! Selamat Pagi!" sapa Lala dengan nada ceria.

Perempuan yang disapa sedikit terperanjat mendengar sapaan tiba-tiba dari seseorang yang di sampingnya yang ternyata adalah Lala dengan Riko juga yang sudah berjalan menghampirinya "Ah, selamat pagi, Lala-san, Riko-chan," balas Haruna sambil menutup lokernya rapat-rapat agar barang berharga yang ada di dalamnya tidak diambil orang.

Riko hanya tersenyum kecil membalas sapaan dari teman semasa kecilnya yang sekarang menempati kelas yang sama, bahkan Riko juga yang pertama kali menyadari jika Haruna menyimpan perasaan kepada kakak angkatnya sampai sekarang. Tetapi karena kakak angkatnya itu sama sekali tidak peka dengan perasaan seseorang yang menyukainya membuat Haruna sedikit kesusahan untuk mendekatinya dan perempuan itu juga tak mau jika jalinan persahabatan dengan lelaki pirang itu hancur karena hal sepele seperti itu.

"Tumben kalian datang ke sekolah sepagi ini?" tanya Haruna yang sedikit heran dengan kedatangan mereka yang sedikit tak biasa itu.

"Naruto-nii tidak ikut berangkat ke sekolah hari ini, jadi kami bisa berangkat pagi-pagi seperti sekarang ini, Haruna-chan," jawab Riko dengan senyuman masih tertahan di bibirnya.

"Umm... Jadi, Naruto-kun belum sadarkan diri juga semenjak kejadian itu, Riko-chan?" tanya Haruna yang berusaha memastikan keadaan pemuda pirang itu.

"Ya, begitulah. Kemarin malam tak ada tanda-tanda jika dia akan bangun. Tapi kau tak perlu khawatir, sore nanti dia pasti akan bangun. Naruto-nii tak pernah suka jika ada seseorang yang mengkhawatirkan dirinya berlebihan," senyum kecil masih tertahan di bibir Riko, dia tak menyangka jika kakak angkatnya itu malah dikhawatirkan oleh dua perempuan sekaligus. Dia juga sempat khawatir dengan keadaan kakak angkatnya itu. Eh..?! Apa yang baru saja ia pikirkan?

"Hey, hey, Haruna-chan. Bagaimana kalau sore ini Haruna-chan ikut kami ke rumah sekalian menjenguk Naruto? Dia pasti akan senang," ajak Lala dengan nada cerianya.

"Anda yakin untuk mengajak Haruna-sama ke rumah, Lala-sama?" bisik Peke yang sedikit khawatir dengan ajakan majikannya pada perempuan itu.

"Tentu saja, Peke. Lagipula Haruna-chan adalah temannya Naruto, jadi tak masalah," jawab Lala tanpa beban sedikitpun.

"Eh...?! Apa tak akan mengganggu jika aku berkunjung ke rumah kalian? Aku takut mengganggu Naruto-kun juga," bukannya Haruna ingin menolak ajakan dari Lala untuk berkunjung ke rumahnya tapi dia takut jika kunjungannya malah mengganggu Naruto yang sedang memulihkan kondisinya, tapi dia juga ingin tahu kondisinya sekarang.

"Kurasa dia juga akan memaklumi kedatanganmu kesana, Haruna-chan. Tak ada salahnya kau datang kesana untuk mengobati rasa khawatirmu itu," goda Riko.

Rona merah tercipta di kedua pipi Haruna ketika otaknya langsung mengerti dengan perkataan yang baru saja keluar dari mulut Riko "B-bukan seperti itu, R-riko-chan...," Haruna berusaha mengelak tapi tetap saja ekspresi wajahnya tak bisa membantah apa yang dirasakan olehnya.

"Baiklah! Kalau begitu kita bertemu lagi sepulang sekolah nanti," ujar Lala yang terlihat sangat senang ketika mendengar jawaban dari Haruna, padahal Haruna sendiri belum memutuskan mau atau tidak.

...Ini akan menjadi hari yang mendebarkan bagi Haruna.

-0-0-0-

"Gyaa! Ha-hantu!"

Pemuda bersurai pirang jabrik itu langsung terbangun dari tidurnya ketika dirinya malah bermimpi buruk bertemu dengan hantu yang tak memiliki wajah dengan kepalanya yang terpisah dari badannya, bulir-bulir keringat terlihat sangat jelas di hampir sebagian wajahnya terutama di bagian dahi 'S-sial! Kenapa harus bermimpi tentang hantu segala sih? Justru aku sangat takut sekali dengan hantu tanpa wajah,' batin pemuda itu sambil bergidik ngeri dan berusaha menyingkirkan bayangan hantu itu dari benaknya.

Tangan kirinya menyentuh kain yang sangat halus dan menempel tepat di kepala bagian kirinya hingga mata sebelah kirinya itu tertutupi oleh kain halus tersebut, dia menghembuskan napasnya ketika mengetahui ingatan terakhirnya sebelum tak sadarkan diri. Dia terlalu memaksakan diri untuk memakai kekuatan mata kirinya hanya untuk menyerap air bervolume yang cukup besar menurutnya, yang terakhir ia ingat adalah ikan-ikan laut yang sebelumnya ada di dalam aquarium besar itu sudah bergelimpangan di hadapannya, pandangannya langsung mengabur setelah itu terjadi dan dia tak ingat apa-apa lagi setelahnya.

Kruyuk~

Pemuda itu memegangi perutnya yang mulai berbunyi seolah menjadi pengingat bahwa perutnya itu harus diisi dengan sesuatu agar tidak terus berbunyi seperti orang-orang yang sedang berdemo "Tak perlu diingatkan juga aku akan langsung makan," ujar Naruto sambil menyeret kakinya lalu menurunkannya di lantai kamarnya, dia sedikit bergidik pelan ketika telapak kakinya menyentuh lantai.

Ketika tubuhnya sudah berdiri dengan benar, dia mulai melangkahkan kakinya keluar dari kamar pribadinya dan ia juga baru menyadari jika dirinya ada di dalam kamarnya. Walaupun dia berjalan agak sedikit gontai, tapi dia masih berusaha untuk mencapai dapur yang ada di lantai bawah. Dahinya sedikit berkerut ketika mendengar suara televisi dari ruang keluarganya menandakan di dalam ruang keluarganya ada seseorang yang sedang menonton televisi, dia langsung berdiri di ambang pintu setelah menapakan kakinya di lantai bawah.

"Zastin?" panggil Naruto dengan raut heran di wajahnya ketika melihat lelaki bersurai abu-abu lurus pendek yang merupakan pengawal pribadi yang dikirim oleh Raja Deviluke untuk menjaga Lala selama ada di Bumi dengan ditemani dua pria berbadan kekar berpakaian serba hitam rapi di belakangnya, mereka bertiga menolehkan kepalanya bersamaan kearah Naruto yang sempat memanggilnya.

"Oh, Muko-dono. Akhirnya kau bangun juga," ujar Zastin dengan senyum kecil di bibirnya.

"Yah, walaupun masih sedikit pusing," balas Naruto, dia melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruang keluarga itu lalu mendudukan dirinya di sofa yang tersedia disana "Kenapa kau ada disini? Dan dimana yang lainnya?" tanya Naruto berturut-turut tanpa jeda.

"Lala-sama, Riko-sama dan Mikan-sama pergi ke sekolahnya, jadi Lala-sama memerintahkanku untuk menjagamu selagi mereka tak ada di rumah. Mereka takut terjadi sesuatu padamu," jelas Zastin yang menumpangkan salah satu kakinya di atas pahanya yang lain.

"Hah... Mereka itu... Memangnya aku ini anak kecil apa," gumam pemuda pirang itu sambil menggelengkan kepalanya, dia tak menyangka akan dijaga oleh ketiga pria aneh yang sempat berselisih paham dengannya.

"Lalu apa kalian sudah sarapan...?" Naruto melirikan kepalanya kearah jam dinding yang terpasang di dinding yang ada di belakang kedua pengawal yang terus berdiri di belakang Zastin "He... Ini sudah termasuk makan siang," jam dinding itu sudah menunjukan jam sepuluh tepat, terlalu siang untuk disebut sarapan.

Ketiga pria itu hanya menggelengkan kepalanya pertanda mereka belum makan apapun semenjak di undang kesini pagi tadi.

"Kalau begitu duduk yang manis saja disini dan itu berlaku untuk kalian berdua," titah Naruto dengan pandangannya terarah pada kedua pengawal yang masih setia berdiri di belakang Zastin.

"Baik, Naruto-sama!" jawab kedua pria itu dengan serempak, lalu mendudukan dirinya di sofa panjang yang sempat diduduki oleh Naruto.

"Aku akan membuatkannya untuk kalian."

"Tunggu, Muko-dono," ucap Zastin yang berusaha menahan Naruto yang akan berjalan menuju dapur yang ada di sebelah ruang keluarga tersebut "Apa kondisi anda sudah baik-baik saja? Anda tak perlu repot-repot memasak untuk kami, istirahat saja yang cukup," ucap Zastin yang berusaha melarang niatan pemuda pirang itu.

"Siapa bilang aku akan memasak, aku bukan Mikan atau Riko yang bisa memasak apa saja. Lagipula aku sudah kelaparan, mana mungkin aku berdiam dirinya. Makanan tak akan datang dengan sendirinya," ucap Naruto yang melangkahkan kakinya menuju dapur membuat tanda tanya besar di benak ketiga pria itu.

Pemuda pirang itu menghampiri salah satu laci yang lumayan tinggi yang berada di paling ujung ruang dapur tersebut, salah satu tangannya sudah menarik salah satu pintu laci tersebut hingga menampakan isinya "Nah, mumpung mereka semua tak ada disini. Tak ada salahnya 'kan memakan ramen," ucap Naruto yang kegirangan lalu membawa empat cup ramen siap saji dari dalam laci tersebut dan menutupnya dengan rapat agar tak ada yang mengambil simpanan berharganya.

Dia meletakan ke-empat cup ramen itu diatas nampan yang terbuat dari plastik keras dan membuka setiap penutup bagian atasnya sedikit lalu mengambil setiap bumbu ramen yang tersedia di dalamnya plus dengan sayurannya juga, pemuda itu membuka dan memasukan semua bumbu itu ke masing-masing cup-nya lalu mengambil air panas yang tersedia di dalam teko "Ini cukup banyak," ujarnya sambil menuangkan air panas itu secukupnya ke dalam cup ramen lalu menutup lagi penutup ramen itu rapat-rapat agar ramennya cepat melembek dan meletakan empat garpu di samping cup ramen tersebut.

"Yosh, tinggal menunggunya saja," kedua tangan Naruto mulai mengangkat nampan yang menampung ke-empat cup ramen tersebut lalu membawanya menuju ruang keluarga dimana Zastin dan kedua pengawalnya berada.

"Maaf menunggu lama," sahut Naruto sambil meletakan nampan yang ia bawa di atas meja kayu yang ada di hadapan Zastin dan yang lainnya.

"Muko-dono, apa itu?" tanya Zastin dengan menatap bingung kearah benda aneh yang dibawa oleh Naruto dari dapur dengan asap-asap tipis keluar dari penutup yang sedikit terbuka.

"Ramen," jawab Naruto dengan singkat lalu mendudukan dirinya di sebelah pria kekar berambut merah gelap lurus itu, dia baru ingat jika pria itu pernah merasakan bogeman mentahnya.

"Ramen? Apa itu sejenis senjata pembunuh?" tanya Zastin yang masih terlihat bingung dengan jawaban dari Naruto.

Naruto yang sempat memegangi pinggiran sofa yang didudukinya hampir saja terjatuh setelah mendengar pertanyaan lanjutan dari Zastin dan menganggap ramen instan itu adalah senjata pembunuh "Mereka bukan senjata pembunuh, Zastin. Ramen adalah tepung rebus yang memiliki rasa yang khas di lidah manusia dan terkadang ramen juga sering dilengkapi dengan sayuran," jelas Naruto dan semoga saja alien-alien yang bersama dengannya ini mengerti.

"Oh, makanan di Planet Bumi memang sangat aneh ya," gumam Zastin diiringi pose berpikir ala profesor.

Pemuda pirang itu hanya memutar matanya dengan malas, tangan kirinya mulai terulur ke depan mengambil salah satu cup ramen yang berada diatas nampan lalu merobek penutup cup-nya hingga asap yang sempat berkumpul di dalamnya malah menguap ke udara "Akhirnya matang juga," ucap Naruto yang terlihat senang kemudia tangan kanannya dengan sigap mengambil garpu yang sudah disediakan, dia meniup semua asap yang masih tersisa.

Manik biru yang ada di sebelah kanannya melirik kearah Zastin dan kedua pengawalnya yang malah memperhatikan dirinya "Silahkan diambil, ramennya sudah matang dan kalian bisa memakannya. Tapi hati-hati, airnya masih panas," titah Naruto yang sudah menggulung mie ramen itu dengan garpu lalu memasukannya ke dalam mulut.

Zastin dan kedua pengawalnya memilih untuk menurut dengan apa yang diperintahkan oleh Naruto dan melakukan apa yang dilakukan oleh Naruto sebelumnya, mereka sempat ragu untuk memakan ramen itu tetapi melihat Naruto yang memakannya dengan lahap membuat mereka tergugah untuk mencobanya.

Ketiganya membeku di tempat duduknya setelah mereka memasukan segulungan ramen itu ke dalam mulut mereka membuat Naruto menghentikan acara menikmati ramennya dan memicingkan matanya kearah Zastin dan yang lainnya "Adwa apwaah?" dengan mulut yang penuh dengan makanan pemuda itu masih juga memaksakan untuk bertanya.

"""I-ini sangat enak, Muko-dono/Naruto-sama!"""

Naruto hanya sweatdrop mendengar reaksi yang terlalu berlebihan dari ketiga pria alien itu dan sedetik kemudian ekspresi sweatdrop itu digantikan dengan senyuman kecil di bibir pemuda itu "Baguslah kalau kalian memang suka," ucapnya, dia bisa melihat bagaimana ketiga pria itu memakan ramen instan itu dengan lahapnya.

Naruto menghentikan acara memakan ramennya lalu menolehkan pandangannya kearah Zastin yang masih menikmati ramennya "Ano... Zastin, ada yang ingin aku tanyakan padamu sebelumnya?" ucap Naruto yang terkesan seperti sedang meminta ijin.

"Tanyakan saja Muko-dono, tak perlu sungkan," balas Zastin yang masih menikmati makanan yang terbuat dari tepung itu.

"Kau ingat ketika kau berkata jika seseorang yang akan menikah dengan putri pertama Raja Deviluke maka akan dijadikan Raja selanjutnya di Planet Deviluke dan mengambil alih kekuasaannya di alam semesta. Jujur, aku belum mengerti dengan hal itu. Bisa kau jelaskan lebih spesifik lagi?" Dia hanya ingin tahu apa seorang Raja memiliki hak dan kewajiban yang sama seperti Hokage yang selalu ia idamkan itu.

"Ya, semua pernyataanmu itu betul semua. Pada dasarnya Raja Deviluke merupakan raja yang paling ditakuti di seluruh alam semesta dan tak ada yang berani menantangnya sekuat apapun makhluk itu, Raja Deviluke juga memiliki tugas lain diantaranya yaitu mengambil alih suatu Galaksi untuk memperluas kekuasaannya di alam semesta ini," jelas Zastin, dia merupakan komandan tertinggi di Planet Deviluke jadi sebagian besar dia mengetahui apa tugas Raja Devilukenya.

"Mengambil alih sebuah galaksi? Maksudmu?" Naruto sendiri tak percaya seratus persen dengan apa yang dikatakan oleh Zastin, sangat mustahil sekali bagi seseorang untuk mengambil alih sebuah galaksi.

Pria bersurai abu-abu itu berusaha untuk menelan semua mie ramen yang ada di dalam mulutnya lalu menatap kearah Naruto lagi "Mengambil alih sebuah galaksi adalah sesuatu yang mutlak dan harus dilakukan oleh pemimpin Planet Deviluke, Raja Deviluke sendiri memiliki rencana untuk mempersatukan seluruh alam semesta," jawab Zastin.

Remaja pirang itu menganggukan kepalanya pertanda jika dirinya mengerti dengan penjelasan dari Zastin '...Tapi bukankah mengambil alih itu sedikit agak memaksa dan jika mereka tak mau...'

"Zastin, apa yang terjadi jika penghuni galaksi tersebut menolak pengambilalihan yang direncanakan oleh Raja Deviluke?"

"Jika mereka bersikeras untuk tidak mau tunduk pada Raja Deviluke maka beliau akan melakukan 'pembersihan masal' dengan kata lain galaksi itu akan... Musnah."

Manik biru sebelah kanannya melebar dengan sempurna hingga menyaingi ukuran bola pingpong dengan tubuhnya yang sudah membeku di tempat duduknya, itu termasuk kejahatan yang sangat fatal. Ini sangat berbeda jauh dengan prinsip raja yang sebenarnya, seharusnya raja mengayomi seluruh rakyatnya hingga kehidupan mereka terjamin. Bukannya menghilangkan nyawa orang lain sampai menghilangkan tempat tinggal mereka, dia tahu bagaimana rasanya menjadi yang terakhir bertahan hidup membuat dadanya terasa sesak.

"Muko-dono? Apa anda tidak apa-apa?" tanya Zastin, dia sedikit khawatir ketika melihat Naruto yang malah diam setelah mendengar jawaban darinya.

"Aku... Aku tak apa-apa, Zastin," ucap Naruto yang kembali meneruskan menikmati ramen instannya. Hatinya selalu berbisik 'Apa yang terjadi jika dirinya nanti benar-benar dinobatkan menjadi Raja Deviluke karena menikahi Putri Pertama Raja Deviluke? Apa dia juga akan dituntut untuk berprilaku seperti itu nantinya?' Jawabannya adalah...

...Tidak mungkin dan Mustahil baginya melakukan hal keji seperti itu.

-0-0-0-

Waktu berjalan dengan sangat cepat, sang raja siang sudah menggerakan dirinya kearah ufuk barat dimana dia akan menenggelamkan dirinya disana. Sinarnya yang mulai berubah menjadi keoranye-an seolah menjadi kata perpisahan bagi semua makhluk yang ia sinari selama lebih dari sembilan jam lebih itu, tapi mau bagaimana lagi jatahnya untuk menyinari belahan bumi bagian tersebut sudah hampir selesai dan dia juga masih memiliki tugas lain di belahan bumi lainnya. Seorang penguasa harus memperhatikan kesejahteraan apa yang dinaungi olehnya.

"Kami pulang!"

Ke-empat perempuan dengan tiga diantaranya memakai pakaian SMA Sainan berteriak kepada penghuni rumah yang ada di dalamnya memberitahukan bahwa mereka berempat sudah pulang dari kegiatan mereka di sekolah, ke-empatnya saling berpandangan satu sama lain menandakan kebingungan di masing-masing kepala mereka. Lampu-lampu yang ada di dalam rumah tersebut sudah menyala dan menerangi setiap ruangan yang ada di rumah tersebut dan yang menjadi kebingungan mereka adalah siapa yang menyalakan semua lampu ini? Mereka berpikir jika Zastin yang melakukan semua itu, tapi darimana Zastin mengetahui seluruh saklar lampu yang ada di rumah itu?

Mereka pun akhirnya memutuskan untuk melepaskan alas kaki yang mereka pakai dan meletakannya di rak sepatu yang ada di dekat pintu masuk rumah tersebut lalu masuk lebih dalam dengan hati-hati.

"Jangan sungkan-sungkan, Haruna-chan. Anggap saja rumah sendiri," ujar Riko yang memulai pembicaraan diantara mereka berempat.

Haruna tersenyum kecil sambil menganggukan kepalanya "Ya, terima kasih, Riko-chan," balas Haruna.

"He... Kemana Zastin ya? Aku tak melihatnya dari tadi," ujar Lala, dia membelokan dirinya kearah ruang keluarga dimana televisi yang ada di ruangan itu masih menyala dan berharap jika orang yang ia cari ada disana. Dia menghentikan langkah kakinya ketika melihat seseorang yang duduk di atas sofa tunggal dan tak menyadari keberadaannya "Naruto?"

Riko, Mikan dan Haruna yang berencana untuk naik ke lantai atas untuk melihat keadaan remaja pirang itu langsung menghentikan langkahnya dan menatap Lala yang masih ada di ambang pintu menuju ruang keluarga, mereka bertiga kembali turun dan ingin melihat dengan mata kepala mereka sendiri bahwa si pirang itu memang ada disana.

Baik Riko, Mikan ataupun Haruna, mereka bertiga sama-sama membeku di ambang pintu ketika melihat si pirang itu memang ada disana dengan kelopak matanya yang masih terpejam bahkan dia juga tak menyadari kedatangan mereka berempat.

"He... Siapa yang memindahkannya kesini?" Perempuan berambut merah muda panjang itu sudah menghampiri tempat dimana laki-laki pirang itu tertidur dan dia juga tak bisa menemukan orang yang ia cari sedari tadi.

"Lala-san, sepertinya dia memindahkan dirinya sendiri kesini. Lagipula Zastin-san tak mungkin berbuat jahil pada Naruto-nii," ujar perempuan berambut oranye gelap pendek yang sudah meletakan tas selempangnya di atas meja yang disediakan di ruang keluarga tersebut lalu mendudukan bokongnya di sofa panjang.

"Maksud Riko-chan?" tanya Lala yang tak mengerti dengan apa yang dikatakan Riko ditambah dengan tampang polosnya yang bisa membuat laki-laki bisa berteriak kesetanan.

"Dia sudah sadar tapi sepertinya dia malah ketiduran disini," bukannya Riko yang menjawab, malah gadis berambut coklat bergelombang yang bagian atasnya diikat seperti buah nanas dengan tatapannya tertuju pada Naruto yang masih tertidur di tempatnya.

"Mungkin Naruto-kun bosan dengan suasana kamarnya, jadi dia memilih untuk pindah ke ruang keluarga dan beristirahat disini," perempuan bersurai ungu gelap lurus pendek itu berusaha mengemukakan perkiraannya saja, dia juga pernah mengalami apa itu 'sakit' dan rasanya sangat membosankan sekali jika harus terus menerus berada di kamar seharian penuh.

"Kalau begitu, bagaimana kalau kita bangunkan saja Naruto?" ucap Lala yang memberi usulan kepada ketiga perempuan yang ada disana.

"Ha! Itu ide yang sangat bagus, Lala-san," jawab Riko sambil menjetikan kedua jarinya tanda menyetujui apa yang diusulkan oleh tunangan kakak angkatnya itu, dia sudah berdiri dan berdiri tepat di samping sofa yang diduduki oleh kakak angkatnya.

"Tapi kupikir, ini bukan ide yang bagus, Riko-chan," Haruna tak tega melihat seseorang dibangunkan secara paksa menggunakan teriakan tepat di telinganya, tapi sepertinya itu tak berlaku bagi seseorang yang tidurnya seperti kerbau.

"Tenang saja, Haruna-san. Kami sudah sering menjahilinya seperti itu, jadi meskipun dia marah, pasti kemarahannya itu hanyalah semenara saja," ucap Mikan yang berusaha menenangkan Haruna dan seolah mendukung apa yang akan dilakukan oleh Riko, sementara Lala menatap tertarik kearah Riko yang akan melakukan sesuatu pada Naruto.

Mikan menganggukan kepalanya seolah mengijinkan kakak perempuannya itu untuk melakukan aksinya pada Naruto dan Riko mulai mendekatkan bibirnya tepat di telinga kanan milik remaja pirang itu "Tolong! Rumah kita kebakaran, Naruto-nii!" teriak Riko dengan nada panik yang ia buat-buat tepat di samping telinga kakak angkatnya itu.

"Hah?!" Pemuda pirang yang mendengar suara teriakan dari Riko langsung membelalakan mata kanannya dan membangkitkan dirinya dari sofa yang sedang ia duduki lalu mengedarkan pandangannya ke kanan dan ke kiri berusaha untuk mencari dimana kebakaran itu berasal "Dimana kebakarannya?! Dan dimana apinya? Aku akan~...," rentetan pertanyaan itu terhenti kala telinganya mendengar suara orang yang sedang tertawa dan cekikikan di belakangnya.

"Riko?!" panggil Naruto dengan hatinya yang sudah kesal setengah mati, dia menatap kearah perempuan bersurai oranye gelap tertawa terbahak-bahak karena berhasil mengerjai dan membangunkan kakaknya itu "Sini kau! Sudah kubilang beberapa kali agar membangunkanku sewajarnya saja," ucap Naruto yang sudah melangkahkan kakinya untuk menangkap adik angkatnya yang seusia dengannya.

"Jika aku tak membangunkan Naruto-nii seperti itu, Naruto-nii tak akan pernah bangun sampai kapanpun," ucap Riko dengan nada yang setengah meledek, kakak angkatnya itu tak akan bisa menggapainya selama masih ada sofa di depan tubuhnya.

"Memangnya aku ini mayat apa," sungut Naruto dengan tingkat kekesalannya yang sudah berada di puncaknya.

"Naruto!"

Naruto menolehkan kearah suara yang memanggil namanya itu berasal dan manik biru itu menatap perempuan berambut merah muda panjang itu sudah berlari dan bersiap untuk menerjangnya dengan kedua tangan perempuan itu terbentang. Sebelum itu terjadi, Naruto sudah menyalurkan sebagian chakranya ke telapak kakinya yang bersentuhan langsung dengan lantai ruang keluarga lalu agar dirinya bisa berdiri kokoh tanpa harus takut terjatuh karena terjangan perempuan alien itu.

Grep!

Lala berhasil mendekap tubuh pemuda pirang itu dengan erat ditambah dengan pipinya yang ia gesekan pada pipi Naruto yang dihiasi dengan goresan mirip kumis kucing "Aku rindu padamu, Naruto," ujar Lala sambil terus melakukan kegiatannya pada Naruto.

Naruto hanya menarik napasnya dalam-dalam ketika mendengar perkataan dari Lala "Prilakumu seperti yang tidak bertemu satu tahun saja, padahal kau pergi hanya beberapa jam saja," dia juga agak risih dengan apa yang dilakukan oleh Lala, dia malah seperti hewan peliharaan jika terus diperlakukan seperti ini "Emm... Haruna-san ada disini juga ya?" ucap Naruto yang baru menyadari jika teman sekelasnya itu ada disana juga.

"A-ah, ya," jawab Haruna agak terbata-bata ketika mendengar pertanyaan dari Naruto "Bagaimana keadaanmu sekarang, Naruto-kun?" tanya Haruna, walaupun sebenarnya dia tahu jika kondisi si pirang itu baik-baik saja kali ini.

Naruto hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Haruna "Yah, kondisiku sudah membaik saat ini, walaupun mata kiriku masih terasa nyeri dan ngilu," jawab Naruto dan sepertinya dia memang harus menjelaskan perihal mata itu kepada mereka semua karena cepat atau lambat mereka juga akan mengetahuinya dan ia rasa hari ini adalah waktu yang tepat untuk memberitahukan rahasia terbesar yang selalu ia sembunyikan kepada semua orang termasuk keluarganya sendiri.

"Sebaiknya kau duduk dulu, Haruna-san. Tak baik jika tamu terus berdiri seperti itu, aku akan membawakan air minum untukmu," sebagai tuan rumah yang baik, dia harus membuat tamunya merasakan nyaman di rumahnya karena jarang-jarang dia memiliki tamu.

"Biar aku saja, Naruto. Tak baik meninggalkan Lala-san yang sedang merindukanmu itu," ucap Mikan dengan nada jahil dan melangkahkan kakinya menuju dapur untuk menyediakan air bagi semua orang yang ada di ruangan itu.

"Terima kasih, Naruto-kun," ucap Haruna yang sudah mendudukan dirinya diatas sofa panjang dengan tas selempang yang ada diatas pangkuannya.

Sementara Riko sudah mengambil alih sofa tunggal yang sempat diduduki oleh Naruto dengan punggungnya bersandar santai di bantalan sofa yang sangat empuk itu "Cukup melelahkan sekali hari ini," gumam perempuan itu.

Naruto memilih untuk mendudukan bokongnya diatas karpet tebal yang menutupi sebagian lantai ruang keluarga tersebut ditemani oleh Lala yang masih menempel dengannya "Bisa kau lepaskan pelukanmu, Lala? Pelukanmu mulai membuatku sesak," ucap Naruto, sebenarnya dia tak mempermasalahkan pelukan erat itu tetapi kedua dada berisi milik Lala terus bergesekan dengan lengannya membuat rangsangan tersendiri baginya.

"Baiklah, Naruto," Lala memang melepaskan pelukannya di tubuh Naruto, tapi dia malah memindahkan pelukannya itu ke lengan kiri milik Naruto dan pelukan di lengan itu lebih erat dari sebelumnya.

'Sial! Jika saja disini tak ada orang lain, sudah pasti jika Lala akan langsung ku'terkam' sekarang juga,' batin si ninja blonde yang berhasil bertahan hidup sampai sekarang.

"Nah, silahkan," ucap Mikan yang sudah membawa lima gelas bening diatas nampan yang diisi dengan air bening pula, dia sedikit menggeser tas selempang milik Riko yang ada diatas meja itu.

Naruto mengangkat kepalanya dan memandang setiap orang yang ada di dalam ruangan tersebut sambil berusaha untuk mengumpulkan keberaniannya untuk berterus terang perihal dirinya sendiri "S-semuanya! Sebenarnya ada yang ingin kubicarakan pada kalian semua dan ini masih ada sangkut pautnya dengan kejadian kemarin," shinobi pirang itu sudah yakin dengan keputusannya dan tak mungkin dia untuk menarik apa yang sudah ia putuskan.

Semua atensi yang ada disana tertuju pada Naruto termasuk Lala yang sudah melonggarkan pelukannya di lengan kiri Naruto dan memilih untuk menatap Naruto, raut wajah serius terlihat di wajah remaja pirang itu "Sebenarnya aku menyembunyikan sesuatu dari kalian dalam jangka waktu yang sangat lama, tapi aku ingin bertanya sesuatu kepada kalian," ujar Naruto yang terlihat lebih serius sekarang.

""""Apa itu, Naruto/Naruto-kun/Naruto-nii?"""" tanya Mikan, Lala, Haruna dan Riko secara bersamaan, rasa penasaran sudah menghinggapi hati mereka. Ini yang sebenarnya mereka inginkan semenjak kejadian kemarin dan sangat bagus sekali jika pemuda pirang itu berterus terang.

"Apa kalian akan membenciku jika kalian tahu kebenarannya? Terutama Mikan dan Riko yang notabenenya adalah keluarga angkatku," tanya Naruto pada ke-empat perempuan yang ada disana.

"Kami sama sekali tak ada niatan membenci Naruto-nii jika Naruto-nii memang berterus terang kepada kami," jawab Riko dengan bibirnya yang menyungingkan senyum kecilnya.

"Lagipula Naruto sudah menjadi kakak kami selama bertahun-tahun dan menjaga kami, jadi mana mungkin kami membencimu," jawab Mikan yang mendudukan dirinya di sebelah Haruna.

"Kita sudah berteman lumayan lama, jadi tak ada alasan apapun untukku membencimu, Naruto-kun," Haruna juga memberikan jawaban yang sama seperti Riko dan Mikan.

"Aku tak mungkin membenci Naruto karena Naruto adalah tunanganku dan orang yang selalu menepati janjinya," meskipun agak sedikit menyimpang tetapi jawaban Lala memang ada benarnya.

Naruto hanya tersenyum kecil mendengar jawaban dari ke-empat perempuan yang ada disana, kedua tangannya sudah meraih simpul perban yang ada di belakang kepalanya dan berniat untuk membukanya "Selama ini, kalian selalu ingin tahu kenapa mata kiriku selalu ditutup dan tak memperbolehkan siapapun untuk melepasnya, 'kan?" tanya pemuda pirang itu.

Simpul perbannya mulai terlepas membuat perban putih itu mulai melonggar dari kepala si pirang "Aku selalu beralasan jika mata kiriku ini tidak bekerja dengan baik, tapi apa kalian tahu? Itu hanya kebohonganku semata," ekspresi bersalah sudah tercipta di wajah Naruto, berbohong pada orang-orang terdekatnya adalah kejahatan terbesar yang pernah ia lakukan selama dirinya hidup.

Beberapa lapis perban yang menutupi mata kiri Naruto mulai ditarik oleh sang pemiliknya tanpa ragu lagi "Lala pernah melihat apa yang disembunyikan oleh penutup mata itu dan kelopak mataku ini, dia juga sudah merasakan efeknya karena melihatnya," jelas Naruto dengan perban yang menutupi matanya hanya tinggal satu lapis lagi.

"""Lala-san pernah melihatnya?""" ucap ketiga perempuan bersamaan sambil menatap kearah perempuan bersurai merah muda panjang itu.

"Yah, begitulah, hehe...," jawab Lala diakhiri dengan cengengesan tak jelas.

Sret!

Pemuda itu menarik perban putih itu dan membiarkannya berserakan diatas karpet, dia belum berani membuka kelopak matanya yang masih tertutup rapat-rapat "Jangan pernah memberitahukan hal ini pada siapapun bahkan Kaa-chan dan Tou-chan karena ini bukanlah masalah yang bisa dianggap sepele," ujarnya, dia tak mau jika semua orang tahu tentang rahasianya ini.

"Kenapa Naruto-nii tak mau Kaa-chan dan Tou-chan tahu? Mereka juga berhak tahu atas rahasia Naruto-nii," Riko hanya bingung saja kenapa Naruto tak mau jika kedua orang tua angkatnya itu tahu tentang rahasia anaknya.

"Karena aku belum siap melihat wajah terkejut mereka, Riko," ucap Naruto dengan nada pelan.

Kelopak mata kiri pemuda pirang itu mulai berkedut perlahan dan mulai terbuka dengan tempo lambat ketiga perempuan itu bisa melihat warna ungu terang di dalamnya "Sebelum aku diasopsi oleh keluarga Yuuki, margaku sebelumnya adalah Uzumaki..."

"...dan sebelum kehidupan tenangku dimulai disini, dulunya aku adalah seorang...," kelopak mata kiri itu terbuka sempurna menampilkan mata ungu yang tak banyak diketahui oleh orang banyak "...Shinobi," mata Rinnengan Chaku Tomoe itu bersinar sekilas seolah ingin menyapa orang-orang yang baru melihatnya dengan diiringi aura mistis.

Tiga dari empat perempuan yang ada disana memasang wajah sangat kaget, terkejut dan tak percaya dengan apa yang mereka lihat saat ini. Mereka baru mengerti sekarang, mata aneh itu menjadi alasan dasar kenapa Naruto tak pernah mau menunjukan mata kirinya kepada siapapun termasuk keluarga angkatnya sendiri.

[To Be Continued...]