Kiku menatap wajah Aussy yang masih memohon dalam diam. Di dalam hatinya, ia bertanya-tanya. Apakah Aussy salah menyebutkan nama? Tapi, dari mana Aussy tahu nama Inesia? Apakah ia yang salah dengar?
"Hei... Honda... Aku butuh jawabanmu..." seru Aussy kebingungan karena Kiku tak lantas menjawabnya.
"Ano... Aussy-senpai... Inesia-san no koto..." Kiku mengoreksi kalimatnya, "Tentang Inesia-san..."
"O-oh... Ya... Uh... Mungkin agak sulit menjelaskannya padamu... Dan aku tidak bohong... Tapi..." Aussy mencoba untuk menyusun kalimatnya, karena ia tahu Kiku akan berpikir bahwa ia adalah orang aneh jika menyatakan hal ini, "Kirana... Sepertinya... Memiliki kepribadian lain..."
"K-kau mungkin berpikir kalau aku gila... Alter Ego itu hanyalah teori psikologis... Akan tetapi... Kirana benar-benar..." Aussy yang menyadari Kiku tetap tidak merespon menjadi semakin panik, "Aku mengatakannya bukan untuk memisahkanmu dengan Kirana... Tapi... Argh! Katakan sesuatu!"
"M-maa... Saya sedang menunggu Aussy-senpai menyelesaikan untuk kalimat...?"
"Kau tidak kaget? Freak out? Sangkalan?! Apapun!" tuntut Aussy.
"M-maa... Tentang kepribadian ganda ini... Saya mengetahuinya, Aussy-senpai..."
.
.
.
"O-oh... Begitu...?" ucap Aussy kagok, "Kau sudah tahu... Tunggu... Kau sudah tahu?!"
"H-hai..."
"Kenapa kau tidak bilang?! Kau membuatku khawatir, mate!"
"Maa... Saya sedang bertanya-tanya... Mengapa Aussy-senpai ingin saya memihak Inesia-san... Bukan Kirana-san..." Kiku menangkap gestur Aussy yang berubah menjadi tidak nyaman, akan tetapi ia tetap meminta penjelasan.
"Well... Aku tidak benar-benar mengenalnya... Setidaknya tidak seperti aku mengenal Kirana... Kau tahu, aku keluar dari sana sebelum mengenalnya... Akan tetapi..." Aussy menghentikan kalimatnya, "Jika aku diberikan pilihan antara mereka berdua... Aku akan lebih memilih menyelamatkan Inesia... Tapi itu mungkin hanya insting..." ucap Aussy dengan tatapan yang sulit untuk diartikan, "Meskipun yang selalu Inesia lakukan adalah menyingkirkanku dari dalam hidup mereka..."
Kiku tertegun. Bukan hanya ia yang Inesia coba singkirkan.
Orang ini juga mengalaminya.
"Apakah Aussy-senpai..." Kiku mencoba menebak, "Melakukan sesuatu?"
"Nope, Mate..." jawab Aussy memasang wajah heran dan senyum aneh, "Mungkin itu yang selalu dipikirkan oleh Inesia? Menyingkirkan orang yang mendekat dan ingin membantunya?" lanjutnya dengan helaan nafas pasrah, "Aku bahkan baru mengetahuinya di akhir, saat ia berhasil menyingkirkanku..."
.
.
"Eh? Ano... Kalau tidak salah... Bukankah Aussy-san diadopsi?" tanya Kiku bingung. Ia tidak mengerti di bagian mana Inesia 'menyingkirkan' Aussy.
Aussy tersenyum pahit sembari menatap langit, "Mate... Satu-satunya alasan yang berhasil membuatku diinginkan dan diadopsi adalah Inesia... Jika tidak, mungkin aku akan membusuk di sana selamanya dan tidak mengenal keluargaku sekarang yang sempurna..."
.
.
"Jangan tanyakan padaku bagaimana cara gadis itu melakukannya, hal terakhir yang aku dengar dari Kirana adalah permintaan maaf karena ia tidak berhasil menghentikan Inesia..."
HETALIA AXIS POWERS © HIDEKAZU HIMARUYA
In
- ALTER EGO –
LittleOrchids045
Kiku tersenyum kagok saat Aussy diseret paksa oleh Roderich. Tampaknya, bus yang akan membawa mereka semua sudah datang untuk menjemput mereka. Kiku berjalan lambat di belakang, mengikuti kakak tingkatnya itu. Yah, arah jalan mereka sama, ia butuh menemui Inesia di Asrama Putri untuk membicarakan bagaimana mereka akan menghabiskan sisa liburan musim panas. Semoga saja mereka tidak akan bertengkar lagi.
Dalam langkahnya, Kiku terdiam. Ia butuh berpikir.
Ia butuh untuk mengerti mengapa Aussy memperingatkannya.
"Aku lebih memilih menyelamatkan Inesia bukan karena ia yang membuatku diadopsi... Hanya saja..." tampak Aussy mengingat-ingat masa lalu di jeda kalimatnya, "Setelah aku memikirkannya lagi... Semua kepingan misteri tampak pas... Sepertinya aku mengenali Inesia..."
"Gadis itu sangat samar, Honda... Aku berpikir bahwa aku selalu menghadapi Kirana... Namun mungkin itu adalah Inesia, berkali-kali... Inesia tidak akan bilang,'aku Inesia'... Tapi, aku menebak, Inesia adalah gadis yang selalu memikirkan kebaikan orang lain dengan caranya sendiri..." lanjutnya sembari mengedikan bahu, tanda kata 'dengan caranya sendiri' memiliki arti yang kompleks dan tidak bisa Aussy jelaskan.
"Dan ia memiliki senyum yang berbeda... Yah, setidaknya berbeda dari Kirana..."
Inesia berbeda. Kiku tahu itu. Bukan hanya dari Kirana, namun dari seluruh Alter yang Kiku temui. Kiku kira, ia bisa mengatasi dan berdamai dengan seluruh alter-alter Nesia jika ia tahu apa keinginan mereka. Bersama dengan Inesia, Kiku selalu merasakan jalan buntu. Ia tidak tahu keinginan Inesia.
.
.
Salah. Ia tahu keinginan Inesia. Pergi.
.
.
Haruskah ia mencoba melakukannya? Akan tetapi, jika ia benar melakukannya, apakah akan ada jalan kembali?
"Honda..."
"Huh?" Kiku yang masih terjebak di dalam pikirannya sendiri terperanjat saat menemukan seseorang di hadapannya, "Govert-san?" gumam Kiku mengenali pemuda di hadapannya, "Ah! Iie... A-ano.. Govert-senpai... Dousaremashitaka"
Kiku merasa tidak nyaman karena Govert tak kunjung menjawabnya. Namun demikian, setahu Kiku orang satu ini memang irit bicara dan dingin. Pemuda yang tingginya membuat Kiku menengadah untuk bertemu tatapannya ini hanya diam di hadapannya dengan sedikit pandangan meneliti. Membuat Kiku mengerutkan keningnya heran.
"Akhirnya kau dipecat, Honda?" ucap Govert dengan muka datar.
Kalimat itu mungkin akan menyinggung banyak orang. Namun, Kiku tahu maksud Govert. Pemuda itu ingin Kiku menghadapinya sebagai kolega bisnis, bukan teman sekolah.
"Iie... Aku hanya mengambil libur lebih panjang..."
Jawaban Kiku membuat Govert menaikkan alisnya. Bukan karena kaget ataupun bingung, Govert tahu alasan sesungguhnya kenapa Kiku masih di sini, namun karena pilihan jawaban Kiku yang tak memiliki nada dingin di pengucapannya. Kiku yang kali ini ia hadapi tak pernah ia kenal.
"Fokusmu terpencar..." ucap Govert sembari melangkah pergi. Ia harus mengejar bus yang akan membawa murid kelas 3 berlibur bersama, "Kau akan kalah dan kehilangan sesuatu..."
-Degh-
Kiku terhenyak saat mendengar peringatan Govert.
Ya. Ia tahu fokusnya kini terpencar. Pada saat-saat seperti ini fokusnya seharusnya tertuju pada rumah dan perusahaan, pada sesuatu yang dikenali oleh Govert sebagai karakter dirinya. Bukan pada Inesia.
Kiku sangat paham. Memikirkan Inesia, memecah konsentrasinya, akan melemahkannya dan membuatnya mudah untuk diserang dan kehilangan sesuatu. Itu bukan karakter yang Kiku bangun dengan keringat dan darah.
Kiku menghela nafas. Mungkin itu yang membuat pemuda Belanda tadi menaikkan alis.
Sialan. Kalau Govert saja menyadarinya sampai seperti ini, bagaimana orang-orang di perusahaan akan membantainya nanti?
Ingin Kiku melupakan lagi. Barang sebentar, saja. Namun ia tidak bisa lagi menampikkan bahwa ada dua tempat yang membutuhkan keberadaannya sekarang. Keduanya sangat penting
Inesia atau keluarganya.
Ia kembali ke perusahaan dan meninggalkan Inesia atau Ia bersama Inesia dan meninggalkan keluarganya.
Kiku melangkah dengan tidak yakin. Apakah ini detik-detik di mana ia akan melepaskan gadis itu? Inesia tidak menginginkannya dan perusahaan serta keluarganya mengharuskan ia kembali sekarang. Apakah sampai di sini saja? Inikah akhirnya?
Ia tidak menginginkannya.
.
.
Tapi, kali ini ia harus menyerah.
Kiku berhenti di pintu utama asrama putri. Tersenyum kecil, ketika memikirkan berapa kali ia membuka pintu di hadapannya ini.
Ada sedikit kesan ironi, namun banyaknya merupakan pengharapan.
Namun mungkin Kiku harus kecewa sekali lagi karena yang ia temukan di dalam entrance hall saat ini adalah Inesia yang bertingkah aneh. Gadis itu duduk dengan muka pucat di salah satu kursi tanpa menyadari Kiku yang mendekat.
"Dousaremashitaka?" tanya Kiku lembut sembari berlutut di hadapan Inesia.
.
.
Kiku menghela nafas. Inesia tidak akan menjawabnya. Digenggamnya tangan Inesia yang mendingin sembari mencoba bertahan.
"Kumohon... Tinggalkan aku..." ucap Inesia lirih sembari mencoba melepaskan tangannya.
Kiku menggeleng.
"Senpai harus meninggalkan aku... Sekarang..." pinta Inesia dengan suara yang pecah dan nada jengkel. Ia mulai menggunakan tenaga dalam usahanya melepaskan tangan.
Kiku menggeleng lagi.
"Aku benar-benar akan menyeret senpai dalam neraka, apa senpai tahu itu?!"
Kiku mengangguk.
Pemuda beriris cokelat gelap itu mencoba tersenyum hangat untuk meyakinkan Inesia. Walaupun demikian, apa yang Kiku dapatkan adalah harapan yang runtuh.
"Senpai sangat bodoh... Keras kepala!" Inesia mendengus kecewa, "Aku tak bisa melakukan ini..."
Kiku menghela nafas, mencoba menenangkan diri, "Aku mengerti, Inesia-san... Aku mengerti..." ucapnya sembari mencegah Inesia yang berubah menegang dan bersiap untuk meledakkan kata 'tidak, kau tidak mengerti' di wajahnya dengan tatapan tenang.
Inesia hanya bisa mendengus lagi dan mengalah. Ia sudah lelah.
"Aku mengerti, Inesia-san ingin aku pergi..." ucap Kiku tenang sembari menatap tangan-tangan mungil Inesia yang berada di dalam genggamannya, "Hanya saja... Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan setelah aku meninggalkanmu..." lanjutnya, "Kita tidak punya kesempatan ya?"
"Ya..."
"0,0001% mungkin?"
Inesia menggelengkan kepalanya.
"Apakah hubungan kita sangat tidak sehat?" tanya Kiku lagi.
"Ya..."
Kiku mengambil nafas panjang, "Apakah ada yang bisa kuperbaiki, Inesia-san?"
"Tidak..." jawab Inesia sembari menggeleng lemah, "Ini bukan tentang Kiku-senpai... Masalahnya ada padaku..."
"Apakah aku tidak bisa membantu apapun?" tanya Kiku lagi, semakin kehabisan harapan.
Inesia kembali menggeleng.
Kiku mencoba tersenyum lembut. Namun senyum itu berakhir menjadi senyum kaku karena menahan hatinya yang tersayat-sayat sangat dalam. Di dalam nafas terakhirnya, ia membisikkan doa sembari mengajukan pertanyaan terakhir, "Apakah ada kemungkinan aku bisa kembali saat Inesia-san telah menyelesaikan masalah Inesia-san?"
"Mnh...?"
Inesia sangat jelas terkejut, Kiku tahu itu. Namun ia tetap menggenggam tangan Inesia sembari terus berharap ia bisa kembali.
Berharap Inesia menginginkannya kembali.
Inesia terdiam. Menatap keping cokelat pemuda yang keras kepalanya tidak pernah Inesia perkirakan dengan sejuta kekaguman yang coba ia tutupi. Sayangnya, air mata itu tetap lolos. Air mata yang membuat Kiku menjadi cukup panik karena pemuda berhati lembut itu mengira bahwa ia kembali membuat Inesia bersedih.
Ya, memang. Inesia memang bersedih karena ia tidak bisa berada di samping Kiku dan ia tidak yakin apakah ia akan bisa bersama dengan pemuda ini setelah semuanya selesai.
Mungkin tidak.
Inesia sudah tahu akan kenyataan ini, dan ia sudah siap. Ia yakin ia tak akan menangis.
Akan tetapi, di sinilah ia. Menangis sesenggukan dan Kiku kembali mencoba membuatnya menangis dengan wajar karena tak yakin dapat menghentikannya. Bukan karena ia harus berpisah dengan Kiku, namun karena ia memahami sesuatu.
Bahwa ia sangat ingin menjawab dengan kata 'ya' pada seseorang yang benar-benar menginginkannya.
Kiku menginginkannya. Dia yang pertama, menginginkan Inesia. Dan ia akan kembali membisu.
"Ya... Aku ingin menjadi cucu kakek..."
.
"Ya... Aku selalu ingin bersama denganmu..."
.
"Aku tidak tahu..." ucap Inesia di sela senggukannya.
"Sou desu ka..." lirih Kiku lembut disertai senyuman hangat.
Setidaknya bukan kata 'tidak'.
Kiku mengusap air mata Inesia. Ingin Kiku mengatakan 'jangan menangis'. Namun, Kiku mengerti, Inesia menangis karena hal yang sangat menyakitkan, berat dan menakutkan. Mungkin gadis ini sebenarnya sangat takut akan perpisahan?
Kiku mengingat kembali Alter yang menangis secara histeris setelah ia paksa untuk mengeluarkan semuanya di bandara malam itu. Ia menyadari dua hal.
Ah... Sou desu ka... Kanojo mo Inesia-san desu... Sore dewa...
"Chansu ga arimasu..." bisik Kiku lirih.
"Huh?"
"Iie..." ucap Kiku mematahkan kecurigaan Inesia sebelum terbentuk, "Inesia-san... Apakah Inesia-san akan tinggal di asrama selama liburan?"
"Ya...?"
"Kalau begitu... Biarkan aku mengantar Inesia-san..." ucap Kiku lembut sembari mengambil sapu tangannya dan menyeka air mata Inesia sebelum mereka menghadap penjaga asrama.
*O*
"TIDAK!" ucap ibu penjaga asrama putri sembari menyeret tas koper Inesia dan Kiku keluar dari asrama putri.
Ch-chotto matte!
"Ibu asrama... Nesia-san-..." belum sempat Kiku menyelesaikan kalimatnya, namun ia tahu ia harus tutup mulut. Sekarang, ketika jari telunjuk ibu asrama berada tepat di mukanya.
"Apalagi kau! Kau laki-laki! Siapa yang memberikanmu izin untuk sekedar masuk ke hall?!" seru ibu penjaga asrama berteriak di hadapan Kiku.
Yah, Kiku memang salah. Kiku tahu itu. Maksudnya, Kiku tidak memiliki izin sebelumnya untuk masuk asrama putri sampai naik ke lantai 2 di mana kantor penjaga asrama putri –dan hall utama asrama putri– berada. Sudah cukup ia diteriaki perempuan sekampung karena kaget dan panik tadi, tidak perlu ibu penjaga asrama menambahi.
"Tapi, Nesia-san butuh-..."
"Tidak! Dan Germania sudah menyatakan dia tidak akan masuk asrama lagi! Dengan alasan apapun! Dia berbahaya!" ucapnya sembari mendorong Kiku dan Inesia keluar beserta kopernya, "Good day..." ucapnya sebelum menutup pintu asrama putri dan menguncinya dari dalam.
IIE... IIE... IIE! CHOTTO!
Kiku hanya bisa menatap pintu asrama dengan tatapan hampa. Sayup-sayup ia merasakan kejengkelan dan frustrasi berbisik di hatinya.
Dan perasaan ingin menangis.
Kembalikan kesiapan mentalku untuk berpisah dengan Inesia-san tadi!
Kuso! Aku sudah siap untuk bilang 'ini bukan selamat tinggal, maka dari itu... sampai jumpa...' dan melangkah dengan tegar untuk membuat Inesia-san kagum! Ugh...
"I-inesia-san? Tampaknya..." Kiku menggigit bibirnya canggung, mengantisipasi reaksi Inesia yang mungkin meledak, menangis atau apa.
Tapi gadis itu hanya melongo. Kiku kira, Inesia masih belum bisa menerima kenyataan bahwa ia tidak bisa lagi tinggal di asrama.
"Inesia-san...?" Kiku mengguncangkan tubuh Inesia pelan, "O-oi... I-Inesia-san!"
"S-senpai..." Inesia menatap Kiku serius, "Ini semua berakhir-..."
"Iie... Iie... Chotto! Nanika o kangaeta! –Aku akan memikirkan sesuatu!" seru Kiku memotong pikiran negatif Inesia.
*O*
"BWAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA!"
Kiku menghela nafas lelah sembari memijat pelipisnya. Ia tahu, ia baru saja melakukan kesalahan. Akan tetapi, ia tidak pernah tahu bahwa kesalahan itu akan sefatal ini.
Maksudnya, ia hanya sweet-talking sebelum meminta bantuan, dokter jiwa ini malah minta laporan apa saja yang terjadi di camp kemarin dan tak bisa berhenti tertawa sekarang. Kini dia hanya bisa bersabar dan menunggu dr. Greef untuk menyelesaikan tawa masifnya sebelum ia bisa kembali bercerita.
"A-aku minta maaf, Nak Kiku... Sungguh... Tapi semua itu sungguh... Hmffft!" kembali menahan tawanya bahkan sebelum selesai meminta maaf.
Kiku mengambil cangkir tehnya. Ia menghirup aroma teh yang telah disuguhkan padanya itu demi menambah kesabaran dan pengendalian dirinya.
Earl Grey... Salah satu teh kesukaan Arthur-san ya...
"Hahahaha... Kakek Tara memang hebat... sayang sekali aku sedang sibuk dan tidak ada di sana..." ucap dokter itu lagi masih terpingkal.
Sialan. Untung saja Kiku meminta Inesia menunggu di luar, kalau tidak bisa-bisa gadis itu tambah syok karena menghadapi dokter gila ini.
"Jadi... Kenapa kau meneleponku dan sampai datang ke rumahku dengan panik seperti ini?" tanya dr. Greef sembari menghapus titik-titik air mata tawanya.
"Saya harus pulang ke rumah..." jawab Kiku setelah menyeruput sedikit teh-nya. Ia tidak mungkin bilang bahwa ia digantungkan dan hampir 'selesai', bukan?
"Lalu?" ucap dr. Greef tidak menangkap maksud Kiku.
"Saya ingin menitipkan Nesia-san..."
.
.
"Apa?" dr. Greef menaikkan alisnya tidak percaya.
"Sensei... Nesia-san tidak bisa tinggal di Mansion Germania-sensei... Mereka semua pergi berlibur... Termasuk Roman-sensei..."
"Nak Kiku... Saya psikiatri, bukan tempat penitipan anak... Kenapa tak kau bawa saja Nak Nesia ke Jepang?" tanya dr. Greef, "Kalian bisa berlibur bersama dan membuat uji nyali camp musim panas season 2..." sambungnya sembari tertawa terbahak-bahak.
"Oke... Tolong berhenti dengan camp musim panas, Greef-sensei!" ucap Kiku kesal, "Lagi pula, saya pulang ke rumah bukan untuk liburan..."
"Oh, ya? Untuk apa kalau begitu?" tanya dr. Greef lagi.
"Saya harus mengurus perusahaan..." terang Kiku, "Dan saya mungkin tidak akan memiliki waktu luang untuk Nesia-san..."
"Hgh... Malangnya Nesia-san... Harus bertahan dengan workaholic ini..."
"Sumimasen?!" ucap Kiku tersinggung.
"Err... Oke... Oke... Jangan marah..." ucap dr. Greef menenangkan Kiku, "Tapi bagaimana kalau Ina bangun? Calon anak dan istriku bisa dalam bahaya..."
"Anda seorang psikiatri, sensei... Kalau saat itu datang, bertindaklah sebagai seorang psikiatri..." dengusan Kiku tertahan, ia mencoba untuk tetap sopan karena ia berada di posisi meminta.
"Benarkah kau tidak bisa membawanya bersamamu?" tanya dr. Greef, "Nak Kiku... Terlalu banyak bekerja itu tidak baik, kau bisa stres... Walaupun kau ingin perusahaanmu cepat besar, tapi kau tidak boleh gegabah... Bawa saja Nak Nesia, oke? Untuk 'beristirahat'..."
"Sensei... Bukan seperti itu masalahnya..." ucap Kiku sembari mengambil dompetnya dan mengeluarkan dua buah kartu.
"Apa ini?" tanya sembari menerima kartu-kartu tersebut. Satu kartu mirip dengan kartu kredit, akan tetapi dr. Greef tidak pernah melihat yang seperti ini. Kartu itu terlihat sangat sakti, sangat VVIP dengan warnanya yang hitam elegan bertatahkan logo, huruf dan angka berwarna platina. Sedangkan kartu satunya lagi merupakan kartu nama yang entah mengapa juga memancarkan aura VVIP, apalagi dengan huruf kanji bertinta emas itu.
"AmEx ya?" canda dr. Greef, "Merrill Lynch? Citigroup? Centurian?" lanjutnya menebak disertai tawa.
Sedangkan Kiku hanya bisa mengendikan bahunya, "Semacam itulah..." ucap pemuda itu datar yang ditangkap dr. Greef sebagai balasan candaannya. Selanjutnya dr. Greef hanya bisa bolak-balik memandang Kiku dan kartu-kartu tersebut. Tatapannya terus menanyakan, apa yang sebenarnya dimaksud oleh Kiku dengan memberikannya kartu-kartu yang tampaknya ajaib ini.
"Kartu kredit jika Nesia-san butuh membeli apapun, sedangkan satunya jika Nesia-san dalam kesulitan apapun..." ucap Kiku menjelaskan kegunaan dua kartu tersebut.
"Tunggu... Tunggu, Nak Kiku... Saya belum setuju untuk menampung Nak Nesia, loh..." seru dr. Greef, "Lagipula apa ini sebenarnya?" tanya dr. Greef lagi sembari menunjukkan dua kartu yang tadi diberikan oleh Kiku, "Kau dapat dari mana?"
"Anda sudah menebaknya tadi..." ucap Kiku, "Semacam itu..."
.
.
.
"Eh?" dr. Greef hanya bisa menaikkan alis dan mengedipkan matanya tidak percaya, "Eh? Semacam itu? Maksudmu 'semacam itu'?"
Kiku mengangguk bingung, "Ya, semacam itu..."
"M-mi-milik siapa ini?"
"Itu milik saya..." jawab Kiku, "Greef-sensei, saya mohon... Saya tidak bisa memikirkan siapa pun lagi untuk dimintai tolong tentang hal ini..."
"Ini milikmu?" ujar dr. Greef yang tak percaya mengabaikan permohonan Kiku.
"Di sana ada nama saya..." ucap Kiku lagi, "Oh... Maaf... Aku memberikan yang kanji ya?" sahut Kiku sembari mengambil kartu namanya lagi, kali ini yang 'cetakan Internasional', yang ditulis dengan huruf latin.
Kiku memberikan kartu namanya pada dr. Greef. Namun sedetik kemudian, wajah kalem Kiku berubah menjadi syok ketika melihat dr. Greef melempar ketiga kartu yang diberikannya dan memanjat kursi yang didudukinya, bagaikan seorang gadis yang ketakutan karena tikus atau kecoa tengah berlari-lari di bawah kaki kursinya.
"S-sensei? D-daijoubu desu ka?" Kiku yang tadinya bermaksud untuk marah karena dr. Greef melemparkan kartu namanya, hanya bisa memandang tak percaya ke arah dr. Greef dan kartu-kartu yang baru saja di lontarkan oleh dokter jiwa itu.
"A-apa... Apa-apaan dengan Presiden direktur itu?! Mana mungkin seorang siswa Senior High menjadi Presiden direktur! Kau kira ini shoujo manga, apa?!" seru .
"Eh... Akan sangat menyenangkan kalau benar... Sayangnya... Tidak... Ini nyata..." ucap Kiku hambar, dia sendiri pun kadang tidak percaya akan nasib yang menimpanya ini.
"Apakah kau sudah gila, Nak Kiku? Karena kalau iya, kau datang ke tempat yang tepat!"
Kiku hanya bisa memandang dr. Greef dengan lelah, "Saya memang seorang presiden direktur... Dan tolong jangan lempar-lempar kartu nama orang, apalagi tepat di depan mukanya, sensei... Itu sikap yang sangat buruk... Di Jepang tindakan tersebut akan–..."
"Oh, just shut up, you freakin' Asian! Aku tidak mau berdebat tentang sikap atau kebudayaan sekarang ini!" seru dr. Greef gemetaran, "Lebih baik kau jelaskan semua ini! Dan maksud dari presiden direktur perusahaan sebesar itu! Kau hanya seorang murid Senior High!" ucapnya tidak terima.
.
.
"Hgh..." Kiku menghela nafas lelah.
"Anda kira selama ini saya, hanya seorang 'siswa Senior High', membayar jasa seorang dokter spesialis kejiwaan seperti anda dengan apa dan dari mana?" ucap Kiku setengah sebal. Membayar jasa dokter tidak jelas inilah yang paling banyak memotong uang sakunya yang seharusnya ia alokasikan untuk membeli video game dan anime blue-ray.
"Hacking akun bank seseorang mungkin? Aku tahu kau seorang ekspert di bagian itu..." jawab dr. Greef penuh sarkasme sembari melarikan pandangannya.
"Dan anda menerima uang yang anda asumsikan ilegal itu dengan tenang dan senang hati?" tanya Kiku tidak percaya.
"I-ini beneran uang ilegal?"
"Tentu saja tidak! Sensei bisa cek sendiri kalau belum percaya bahwa saya seorang presdir..."
"Berikan aku lima menit..." ucap dr. Greef sembari mengecek sesuatu di smartphone-nya. Setelah beberapa saat mengutak-atik gadget tersebut, akhirnya dr. Greef menatap Kiku dan meringis kecil.
"J-jadi... Ehm... A-anda sungguh hebat, Tuan Honda... Bisa menduduki jabatan presiden direktur di usia semuda ini... Hampir-hampir tidak mungkin... Uh... Masa muda Anda sungguh berat, namun Anda melaluinya dengan sangat baik... Saya tidak mengiranya saat pertama kali bertemu dengan Anda..."
.
.
"Bukankah Anda memanggilku 'Nak Kiku', sensei?" tanya Kiku sembari mengernyitkan keningnya, kebingungan atas perubahan sikap .
"S-saya minta maaf atas sikap saya kemarin..."
"Sensei... Onegai, jangan merubah sikap Anda..." ucap Kiku tidak nyaman, "Saya akan menganggapnya sebagai pertanda buruk..."
"K-kenapa seperti itu?"
"Sensei biasa mengerjai saya bukan?" tanya Kiku lagi, "Kalau sensei tidak kembali, saya malah akan membenci sensei..."
"H-habisnya kau mengagetkanku... Kau pikir bagaimana perasaanku ketika mengetahui bahan bully-anku yang berharga adalah seorang presdir dari perusahaan yang hingga kini aku masih menyicil pembayaran produknya?!"
"Menyedihkan..." bisik Kiku sembari melirikkan tatapannya.
"Shut up!" teriak dr. Greef dengan muka merah, "Aku masih konsumenmu!"
"Saya tahu itu... Dan saya juga konsumen jasa Anda... Setidaknya sekarang ini, sensei..." ucap Kiku tenang, "Anda memiliki kewajiban untuk membantu saya sekarang secara profesional..."
"A-aku mengerti..." jawab dr. Greef.
"Pokoknya, kembali ke masalah Nesia-san..."
"Tidak... Tidak... Nak Nesia adalah hal yang berbeda, Nak – eer... Tuan Honda..."
"Nesia-san tidak berbahaya, sensei... Percayalah padaku dan Nesia-san butuh tempat tinggal... Terutama sekarang... Saat Inesia-san bangun..."
"Ini tidak ada di dalam perjanjian!"
"Tidak pernah ada perjanjian apapun di antara kita, sensei! Ini memang tanggungan anda sejak awal!" sahut Kiku mulai kehilangan nada kalemnya.
"Kau mau aku memasukkan Nak Nesia ke Rumah Sakit Jiwa?"
"Tidak! Demi apapun tidak! Maka dari itu aku menitipkannya pada Anda agar Nesia-san bisa diperlakukan dengan lebih baik!" serunya tegas.
"Ini sulit... Biarkan aku berpikir..." ucap dr. Greef sembari memasang tampang serius yang membuat Kiku mendesah lelah.
*O*
"Sekarang kau membangunkanku, Inesia?" sarkasme tidak hilang walaupun alter tersebut baru terbangun, "Apa yang kau inginkan?"
"Tidak ada..." ucap Inesia lirih.
"Kau sudah berhasil menyingkirkannya?" lanjutnya mencoba untuk membuat Inesia marah atau setidaknya terusik.
Namun, tidak. Inesia hanya terdiam dan merengkuh lututnya, "Aku merasa aku berada di persimpangan jalan dan hampir saja membuat keputusan yang fatal..."
"Oh ya? Di luar perencanaanmu?"
"Ya..."
.
"Apakah ada kemungkinan aku bisa kembali saat Inesia-san telah menyelesaikan masalah Inesia-san?"
.
"Apakah kau butuh aku mengambil alih dan menjadi dirimu seperti biasa?" ucap alter itu lagi.
Inesia menaikkan alis matanya heran, "Kau tidak marah..."
"Yah... tidur sebentar menenangkanku... Itu, kan, yang kau butuhkan sekarang?"
"Ya... Mungkin..." ucap Inesia sebelum berdiri dan berjalan ke tepian panggung.
"Selamat beristirahat..."
.
.
"Mnh? Apa lagi?" tanya alter di belakang Inesia kebingungan karena Inesia tak lekas pergi.
"Oh, ya... Govert kembali..."
"?!"
"Sebaiknya kita berhati-hati... Jika tidak... Semuanya akan terulang lagi..." ucap Inesia sebelum melangkah keluar dari panggung, tidak peduli tubuhnya langsung terjun bebas ke bawah.
Alter yang ia tinggalkan kini mengepalkan tangannya kuat, "Sialan..."
"Inesia-san?"
.
"H-huh?! Eh?! Huh?!" Inesia mengedipkan matanya, "Kiku-senpai? Eh..."
"Apa yang Inesia-san lamunkan?" tanya Kiku lembut.
"Y-yah... Beberapa hal..."
Inesia sialan! Apa yang sedang terjadi saat ini?!
"Greef-sensei ingin berbicara padamu..." lanjut Kiku dalam nada yang masih penuh dengan keheranan.
Psikiatri itu lagi! Sialan! Seharusnya aku tahu kenapa Inesia membangunkanku!
"B-baiklah... Ahahaha..." ucap Inesia sembari tertawa kaku yang membuat Kiku semakin heran.
Entah mengapa, tapi insting Kiku menyatakan bahwa ada yang salah dan berbeda dari Inesia yang sekarang. Akan tetapi, Kiku ingat, Inesia mengatakan bahwa ia tidak akan memberikan kesadaran pada alternya yang lain.
Atau itu hanyalah ancaman tanpa tindakan?
"Inesia-san..."
"Ya?"
"..." Kiku tidak punya kalimat yang tepat untuk menanyakannya, maka ia berhenti, "Iie..." ucapnya sembari menyodorkan tangan, "Kochira e..."
Inesia tertegun. Ditautnya tangan Kiku yang kini menuntunnya ke tempat psikiatri itu berada.
"Nak Inesia..." sambut dr. Greef ketika Inesia memasuki ruangan dr. Greef, "Silahkan masuk..."
Inesia tersenyum simpul kepada dr. Greef, kemudian menuju ke kursi relaks di seberang meja kerja dr. Greef.
Dr. Greef sedikit tertegun melihat keputusan Inesia, "Apakah Nak Inesia sering ke psikiatri?"
"Eh... Tidak...?" jawab Inesia tidak yakin, "Bukankah dokter ingin berbicara... Maksudnya..." Inesia yang kebingungan kini menatap Kiku meminta penjelasan.
"Yah... Sebenarnya yang akan kita bicarakan bukan konsultasi..." ucap dr. Greef sembari beranjak dari mejanya, "Tapi karena kau sudah mengambil tempat di sana...", dr. Greef menoleh ke arah rak buku di belakang tempatnya duduk. Ia mencari folder tempat ia meletakkan informasi tentang pasiennya yang satu ini.
"Eh... Apa yang sebenarnya akan dibicarakan?" tanya Inesia kepada keduanya.
"Sebenarnya aku meminta tolong Greef-sensei agar mau memberikanmu tempat untuk tinggal selama liburan... Greef-sensei akhirnya menyetujuinya..." jawab Kiku sembari menarik kursi ke sebelah Inesia dan duduk di sana.
"Nak Inesia... Bisa bantu aku...?" tanya dr. Greef, "Apakah kau Nak Nesia yang bangun pertama kali di rumah sakit dulu?"
-dheg-
"Bukan..." jawab Inesia tanpa jeda. Hampir dengan seluruh penjagaan dirinya.
"Hmm... Oke..." ucap dr. Greef ringan sembari menarik sebuah map, "Ah! Ini dia!" ucapnya kembali bertingkah kekanakkan.
Kiku hanya bisa mengerutkan keningnya. Di pikirannya ia bertanya-tanya bagaimana dr. Greef memiliki pemikiran bahwa Inesia adalah alter yang bangun pertama di rumah sakit waktu itu. Kalau tidak salah yang dulu bangun pertama kali adalah Garuda.
Tunggu.
Tentu saja bukan Garuda. Mereka bisa dibedakan dengan jelas. Apa mungkin maksud dr. Greef yang bangun pertama kali setelahnya?
Nesia no.2-san?
Kiku menggelengkan kepala dalam hati. Apakah sekarang yang sedang bangun adalah Nesia no.2? Dirinya mencoba untuk membantah karena ia tahu watak Nesia no.2. Gadis itu tidak akan bertindak seperti ini. Namun sepertinya gadis ini juga bukan Inesia.
Kanojo no kotae kata... Kanojo ga Inesia-san dattara... –caranya menjawab... Jika ia adalah Inesia...
Kiku membayangkan Inesia yang tahu segala yang terjadi akan berpikir bahwa maksud dr. Greef adalah Garuda seperti dirinya tadi. Mempertimbangkan kelakuan Inesia selama ini, ia akan menjawab 'bukan' namun dengan sedikit berpikir dan mengingat-ingat.
Bukan jawaban tanpa jeda dan penjagaan diri yang naik.
Itu berarti, gadis ini menangkap apa maksud dr. Greef dengan baik. Bahwa yang ditanyakan padanya adalah kepribadian pertama setelah ia dibangunkan. Tebakan dr. Greef sangat benar, alter yang sekarang hadir adalah yang waktu itu bangun pertama, dan alter ini mencoba menyembunyikannya.
K-kanojo wa... Demo...
"Kenapa sensei berpikir demikian?" tanya Kiku tidak yakin. Pikirannya tiba-tiba meruwet tidak karuan.
"Huh?" dr. Greef menaikkan alisnya menatap Kiku yang tampak khawatir, "Penasaran saja..." jawab dr. Greef disusul tawa yang tidak jelas.
"O-oh..." Kiku memberikan tatapan kecewa.
"Nak Inesia, kita bertemu untuk yang pertama kali ya?" ucap dr. Greef sembari menarik tempat duduk di hadapan Inesia dan duduk dengan gestur yang sangat rileks. Ketika penjagaan Inesia sudah mulai menurun, ia kembali mengajukan pertanyaan, "Nak Kiku bilang, Nak Inesia adalah alter genuine... Benar?" ucapnya lagi memprovokasi Inesia.
Inesia hanya terdiam. Ia menunduk.
"Ano... Greef-sensei... Saya hanya menarik kesimpulan karena Pertiwi-san mengisyaratkan demikian..." ucap Kiku, "Bukankah saya sudah membahas akan hal ini?"
Namun pertanyaan Kiku tidak dapat mengambil perhatian dr. Greef yang terus mengamati Inesia. Dokter jiwa itu memajukan tubuhnya mendekati Inesia dan menggunakan kedua tangannya untuk menyangga tubuh bagian atasnya.
"A-ano? Greef-sensei?" panggil Kiku tidak yakin.
Dr. Greef menghela nafas dan melepaskan pose mengamatinya. Dilemparnya folder Inesia ke meja kerjanya dan kemudian ia merebahkan tubuhnya di kursi, "Apakah Nak Kiku mengganggu?"
"E-etto?" Kiku memandang dr. Greef dan Inesia bolak-balik.
"Tidak..." jawab Inesia pada akhirnya.
"Apakah aku bisa menanyakan apa saja?" tanya dr. Greef sembari melihat ke arah Kiku yang masih kebingungan.
Inesia meremas rok onepiece-nya, "Ya..."
"Nak Inesia tenang saja... Aku tidak akan menggigitmu..." ucap dr. Greef masih menatap Kiku, "Reaksimu terlalu kuat..." ucap dr. Greef.
.
.
.
Keheningan bertahan beberapa menit sampai akhirnya Inesia melepas remasan roknya. Dilihatnya dengan hati-hati dr. Greef yang masih menatap Kiku. Hal ini membuat Inesia melihat ke arah Kiku juga.
Ditemukannya Kiku yang memasang wajah kebingungan, namun lebih banyaknya adalah raut khawatir. Inesia menyadari keinginan dr. Greef dan sejauh apa keahlian dokter ini.
Ia benar-benar tertangkap basah.
"Apa yang sebenarnya kalian berdua bicarakan?" tanya Kiku khawatir, "Apakah aku mengganggu? Kalau iya, aku akan pergi... Tidak apa-apa..."
"Tidak... tidak... Kau kan asistenku dalam kasus ini..." ucap dr. Greef dengan nada riang, dan mengambil kembali folder informasi Inesia, "Kau bisa membantu mendengarkan, atau kalau perlu mencatat..."
"H-hai... Wakarimashita..."ucap Kiku sembari mengeluarkan notesnya.
"Nak Inesia..." panggil dr. Greef, "Aku berjanji tidak akan membuatmu kewalahan... Sebagai seorang psikiatri, aku tahu kode etikku...". Dr. Greef menatap Kiku, "Sebagai permulaan biar aku menjelaskan kepada Nak Kiku, sehingga ia tidak merasa tertinggal..."
"Uh...? Apakah tidak apa-apa, Inesia-san?"
Inesia hanya mengangguk. Namun pandangannya tetap mengawasi dr. Greef.
"Barusan... Aku menguji Nak Inesia... Aku tahu Nak Kiku paham akan hal ini..." ungkap dr. Greef.
"Ya... Jawaban Inesia-san memang agak aneh... Seperti ia ingin menyangkal sesuatu..." balas Kiku, "Apakah... Inesia-san... Adalah Nesia no.2-san?" tanya Kiku hati-hati pada akhirnya.
Inesia terdiam, ia tampak enggan menjawab.
"Katakan saja yang sebenarnya, Nak Inesia..." ucap dr. Greef.
"Tidak... Aku bukan Nesia no.2..." jawab Inesia sembari menatap dr. Greef.
"Lalu mengapa penjagaanmu naik semua, Nak Inesia?" tanya dr. Greef.
Inesia membuang mukanya ke arah lain, "Aku tidak ingin disamakan dengan alter itu... Aku tidak ingin mendengar namanya..." ucap Inesia berkilah, namun hanya dr. Greef yang bisa membaca gesturnya.
Kiku sendiri merasa kecewa, ia pikir Inesia adalah alter dewasa yang dapat menerima Nesia no.2. Namun tampaknya seluruh Alter Inesia membenci Nesia no. 2 tersebut.
"Mengapa kalian semua tidak menyukainya?" tanya Kiku.
"Karena kau menyukainya..."
"A... Apa?!" wajah Kiku sontak memerah.
"Sudah jelas sekarang Nak Kiku?"
"Y-ya..." ucap Kiku sedikit kesal, entah mengapa ia merasakan bahwa Inesia sedang mempermainkannya.
"Nak Inesia..." panggil dr. Greef, "Kau bisa membangunkan alter-altermu, kan?" ucap dr. Greef, "Bisa aku bicara dengan mereka secara bergantian nanti?"
"Ya..."
"Bisakah kau mengisi tes ini sekarang?" ucap dr. Greef sembari mencari sebuah berkas di laci dekat tempat ia duduk.
Inesia menerima berkas tersebut dan mulai membacanya. Beberapa kali gadis itu sempat menatap dr. Greef sebelum kembali membaca dan mulai menggarap soal-soal tes tersebut.
"Tes apa yang sedang anda lakukan, sensei?" tanya Kiku.
"Yah..." dr. Greef mengalihkan perhatiannya pada KIku, "Nak Inesia seharusnya tidak mengambil tes lagi karena sudah jelas apa yang terjadi padanya... Ini hanya pertanyaan-pertanyaan kecilku saja..."
"Nak Kiku... Kau tahu apa yang harus dilakukan oleh para konselor?"
Kiku mencoba menebak, namun ia tidak tahu pasti.
"Membantu mengumpulkan informasi puzzle dan menyusunnya... Setelah itu baru kita bisa menghadapi klien..."
"Aku selesai..." ucap Inesia.
.
.
"Huh? Cepat sekali?" dr. Greef mengedipkan mata tak percaya.
"Apakah selanjutnya Pertiwi?" tanya Inesia memastikan sembari memberikan kertas jawabannya pada dr. Greef.
"Ya... Tolong, ya?" ucap dr. Greef sembari tersenyum lembut.
Inesia merebahkan tubuhnya di kursi. Ia mengambil nafas panjang dan menutup matanya. Saat mata itu terbuka, seluruh atmosfer tiba-tiba berubah.
"Honda-senpai!" panggil pertiwi riang saat menemukan Kiku di sampingnya, "Ah! Dokter yang waktu itu! Selamat siang!" ucap Pertiwi sopan dan inosen, "Huh? Apa ini?" tanyanya clueless saat menemukan bahwa ia sedang memegang seberkas kertas dan pena.
"Nak Pertiwi... Dokter boleh memberikanmu tugas?" tanya dr. Greef merubah intonasinya menjadi sangat ramah.
"Ya!" jawab Pertiwi penuh energi.
"Nak Pertiwi sudah bisa baca tulis?" tanya dr. Greef lagi.
Pertiwi mengangguk dengan antusias.
"Coba Nak Pertiwi tuliskan 10 saja hal-hal yang Nak pertiwi sukai..." seru dr. Greef tidak kalah antusias.
Pertiwi mengangguk dan mulai menulis dengan bangga. Bahkan, tidak hanya menuliskan, ia juga menggambarkan apa yang ia sukai, "Ice Cream, Apples, Macarons..."
Kiku mengawasi ketika Pertiwi mulai menuliskan dan menggambar apa yang gadis itu eja. Kekehan kecil sempat keluar ketika gambar Macarons yang Pertiwi buat lebih terlihat seperti Hamburger yang sering dibawa oleh Alfred.
"Rainbow Cake..." ucap Pertiwi lagi, "Honda-senpai! Katanya Rainbow cake punya tujuh warna... Dan katanya enak sekali!" seru Pertiwi melaporkan pengetahuannya.
"Apakah Pertiwi-san pernah memakan Rainbow Cake?"
Pertiwi menggelengkan kepalanya, "Tapi, katanya enak!" serunya lagi sembari terus berusaha menggambar tujuh lapis kue yang berbeda arsiran sebagai pengganti berbeda warna. Gadis itu juga mulai mengeja warna pelangi yang ia ketahui.
"Angel..." eja Pertiwi lagi sembari menggambar sesuatu yang berbentuk seperti orang-batang dan diberi sayap.
"Angel?"
Pertiwi mengangguk, tak sempat membalas Kiku karena terlalu seriusnya menggambar. Baru setelah gadis itu selesai ia menjelaskan, "Mereka makan Rainbow Cake!"
E-etto... S-sou desu ka?
"Di sebelahnya... Nixie..."
Nani sore?
"Pertiwi-san... Apa itu Nixie?"
"Peri air!" seru Pertiwi, "Kan, pelangi adanya kalau hujan... Berarti ada peri air... Mereka makan Rainbowa Cake dengan Angel... Kalau makan sendirian kan sepi..."
Oke... Pertiwi sudah berada di Lala-land saat ini...
"Lalu... Mereka makan... Gingerbread..." ucap Pertiwi sembari mengukir sebuah kue jahe yang besar. Kiku tidak mengerti lagi dongeng apa yang sedang berlangsung di kepala Pertiwi. Pemuda itu hanya bisa terkekeh sampai ia menemukan gadis di sampingnya berubah menjadi kurang semangat.
"Grandfather..." ucap Pertiwi agak melemah.
Kiku menaikkan alisnya, "Ada apa, Pertiwi-san?"
Menggelengkan kepalanya dengan cepat, Pertiwi mulai menggambar sesosok kakek-kakek, "Pertiwi kangen kakek..."
Oh, Pertiwi-san...
Kiku tersenyum lembut sembari mengelus kepala Pertiwi, "Kakek Tara akan datang, tapi sekarang Kakek Tara sedang sibuk..."
Pertiwi mengangguk dalam diam, ia sangat menikmati ketika Kiku mengelus kepalanya, "Affection..." tulisnya sembari menggambarkan bagaimana Kiku mengelus kepala Pertiwi. Ketika gambar itu jadi, gadis cilik itu memamerkannya pada Kiku dan dr. Greef.
"Yang terakhir... Uuh..." Pertiwi melihat ke arah Kiku, "Honda-senpai..."
Sontak wajah Kiku dihiasi dengan rona merah. Kiku tersenyum hangat sembari terus memperhatikan ketika Pertiwi menuliskan namanya dan mencoba menggambarnya.
"Selesai!" seru Pertiwi riang sembari memberikan hasilnya pada dr. Greef.
"Terimakasih banyak, Nak Pertiwi..." ucap dr. Greef, "Sekarang giliran Nak Tara, boleh?"
"Ya!" seru Pertiwi lagi sembari duduk di kursinya. Gadis itu melihat ke arah Kiku.
"Ada apa, Pertiwi-san?" tanya Kiku saat Pertiwi tidak melepaskan pandangannya. Pemuda itu menaikkan alisnya kaget saat tubuhnya ditubruk dan dipeluk oleh Pertiwi.
"P-pertiwi-san!" seru Kiku dengan muka membara. Ia kira jantungnya baru saja copot.
"Hehe..." Pertiwi terkekeh inosen sebelum tubuh gadis tersebut berubah menegang. Gadis itu mendengakkan kepalanya dan menemukan muka Kiku yang memerah.
"Gyaaaaaaaaaaaaaah!" teriak gadis tersebut sembari melarikan diri menjauh dari Kiku, "Apa yang kau pikirkan, pervert!"
P-pertiwi-san... Kau membuat ini menjadi sulit...
"T-tara-san..." panggil Kiku mencoba menenangkan Tara.
"Berhenti di sana! Jangan mendekat!" ucap alter yang masih mencoba bersembunyi di belakang gorden itu lagi.
"Nak Tara sangat bersemangat, Huh?" ucap dr. Greef menahan tawanya.
"Sensei!"
"Apa maumu?! Kenapa kau membawaku ke dokter ini lagi?!" seru Tara masih bersembunyi.
"Tara-san... Kami hanya ingin menanyakan sesuatu..."
"Lantas mengapa kau memelukku?!" serunya lagi tidak terima. Dengan muka merah yang membuat Kiku bertambah malu lagi.
Bagaimana tidak?! Bayangkan saja, gadis yang kau sukai bersembunyi di balik tirai. Apa yang tampak hanyalah mukanya yang memerah dan matanya menatapmu malu-malu. Tubuhnya bergetar ketakutan namun ia mencoba untuk tetap berani. Bagaikan anak kucing yang ketakutan dan belum pernah disentuh manusia.
Menggemaskan. Ia bisa mati saat ini juga.
"Aku tidak takut padamu, kau tahu itu?! Huh!"
Kuso... Tsundere satu ini...
Kiku mencoba menenangkan dirinya. Tidak. Tara tidak seharusnya berbuat seperti ini.
Ah... Sou ka...
Kiku kembali duduk di kursinya dengan muka datar, "Aku tak tahu apa yang kau rencanakan, orang tua... Tapi aku butuh kau untuk serius saat ini!" ucap Kiku tegas sembari menunjuk ke kursi relaks di sampingnya.
"Cih..." Tara menghentikan aktingnya dan keluar dari gorden sembari menghempaskannya.
"Jangan memberikanku 'cih...'!" seru Kiku gemas, namun kali ini bukan ia yang akan mati.
"Halo, Nak Tara..." sapa dr. Greef saat Tara duduk di hadapannya. Ia mencoba untuk tersenyum dan bersahabat.
"Jangan memanggilku nak... Toh umur kita tidak jauh, Greef..." ucap Tara santai pada dr. Greef yang masih tersenyum.
.
.
Dr. Greef melayangkan pandangan cepat penuh tanya kepada Kiku.
"Ah... Tara-san berumur 30 tahunan, sensei... Beliau ayah dari Alter-alter Nesia-san..." jelas Kiku sembari menaikkan alis dan mencoba untuk tidak memutar matanya.
"Begitu..." ucap dr. Greef mengerti, "Anda berumur 30 tahunan... Apakah anda bekerja, Tuan Tara?" tanya dr. Greef lagi.
"Ya..." jawab Tara dengan penuh percaya diri, "Aku seorang CEO..."
Untung. Untung saja Kiku tidak sedang meminum teh earl grey-nya atau cairan lain, karena kalau iya, ia pasti tengah memuncratkannya dengan sangat tidak elegan saat ini. Sebagai gantinya, Kiku hanya bisa menatap Tara dengan pandangan bingung yang bercampur dengan kejengkelan.
Apakah Tara-san sedang mengejekku? Tapi dari mana Tara-san atau alter yang lainnya... Tunggu... Apakah mereka tahu siapa aku?
Sedangkan dr. Greef hanya bisa menatap Tara dengan tatapan menyelidik sebelum melihat ke arah Kiku dengan tatapan yang sama.
"Ini mungkin introject-mu... Nak Kiku..." dr. Greef mengeluarkan deduksinya.
Kiku ingin membantah dr. Greef, akan tetapi ia tidak tahu harus berkata apa.
Sejenak, sebuah teori merambat pelan di otak Kiku;
Tara-san.
Dirgantara.
Nesia-san no Otou-sama... – Ayah dari Nesia...
Dochira... Dochira sama ga... sono namae o motte imasu... – Siapa... Siapa yang... memiliki nama itu?
Huh!?
Nusantara-Jii-san no... musuko! – Anak laki-laki Kakek Nusantara!
Nusantara-jii-san wa... Kaichou... – Kakek Nusantara... seorang Chairman...
Dirgantara-san wa... Sachou... – Dirgantara... seorang Presdir...
Sore dewa... – Kalau begitu...
"T-tara-san! Apakah... Apakah perusahaan tempat Tara-san bekerja... Nusantara Group?!" tanya Kiku panik. Hal ini memicu ingatan dr. Greef tentang Kakek Tara yang pernah bercerita bahwa ia kehilangan cucu perempuannya.
"Tara-san?!" desak Kiku lagi.
"Nusantara Group?" Tara mengulang pertanyaan Kiku, "Bukan... Bukan... Aku tidak bekerja di Nusantara Group..." lanjutnya.
"Eh? Demo..."
"Aku punya perusahaan sendiri..." ucap Tara sembari tersenyum membanggakan, "Meskipun baru berjalan berapa tahun, tapi omzetnya lumayan, loh..."
"O-oh..." ucap Kiku kehilangan petunjuk karena teorinya telah hancur.
Heeeeeee?! N-nani... Nan... Ch-chotto?! Eeh?!
"Tara-san benar-benar memiliki perusahaan?!" tanya Kiku kagok.
"Yep... Kau mau berguru padaku? Atau menjadi pegawaiku?" seru Tara bersemangat.
"Iie... Arigatou gozaimasu..." tolak Kiku datar.
"Tuan Tara, apa Anda tahu? Nak Kiku ini juga seorang CEO, loh..." bisik dr. Greef, entah kepada siapa, karena Kiku masih bisa mendengarnya.
"Huuuh?" Tara menaikkan alisnya, sedangkan Kiku meminta dr. Greef untuk tutup mulut.
"Sensei... Lakukan saja tes itu..." pinta Kiku cukup memaksa.
"Oke... oke..." dr. Greef terkekeh karena kelakuan Kiku. Dokter itu kemudian menyerahkan lagi lembar pertanyaan-pertanyaan yang tadi ditinggalkan oleh Pertiwi.
"Hmm... Ini mudah..." ucap Tara, "Apa yang akan didapatkan dengan menjawab ini semua?"
"Yah, tujuan Anda..." ucap dr. Greef, "Hal penting bagi Anda sekarang, watak Anda... Bagi seseorang sepertiku, banyak..."
"Hmm..." Tara bergumam kecil sembari mulai mengisi lembar soal yang diberikan dr. Greef, "Yah... Sepuluh hal..."
"Nak Kiku... Kau ingin melakukannya juga?" tawar dr. Greef.
"Iie... Watashi wa..."
"Habis ini Kirana?" tanya Tara memotong Kiku sembari menyerahkan kertas jawabannya.
"Yep... Tolong ya..." ucap dr. Greef dengan raut wajah bingung karena apa yang Tara isi bukannya hal-hal yang ia minta. Akan tetapi sebuah puisi yang dr. Greef sendiri tidak pahami.
Kenapa tidak ada nama Kirana, atau apapun hal penting yang mengisyaratkan tentang dirinya? Apakah adiknya tidak penting? Apakah tidak ada yang penting bagi dirinya? Tunggu... Apa yang sebenarnya ia isi?
I am the owner of my will.
A never-ending struggle will begin.
My only opponent is my other self.
Regardless of what they will do, I will stay on my pace.
A way to find my own happiness.
Nothing will be left behind.
Get over from your frail self
Get over from your whiny self, for
A better tommorow will come.
Have a nice day, dr. Greef.:D
"Mnh? Tuan Tara..." dr. Greef terlambat. Padahal ia ingin menanyakan banyak hal pada Tara. Akan tetapi yang kini berada di hadapannya telah berubah.
"Huh?" gadis itu mengedipkan matanya, "Kiku..." gumamnya sebelum akhirnya sadar bahwa Kiku tengah duduk di sampingnya. Gadis itu melarikan diri ketakutan, "TIDAK! TARA! TARA!"
"K-Kirana-s... Kirana... Tunggu..." seru Kiku mengingat apa yang terakhir kali terjadi di antara mereka berdua.
Ya, gadis itu pantas lari.
Namun bukan berarti Kiku tak akan mengejarnya.
"N-nak... Nak Kirana!" seru dr. Greef mencoba menenangkan Kirana, "Nak Kiku! Jangan berlarian di kantorku!"
"TIDAK!" erang Kirana saat Kiku berhasil menangkap gadis tersebut, "TIDAK! TIDAK! Au-Ukh..." Kirana menghentikan kalimatnya. Terakhir kali ia memanggil Aussy, apa yang terjadi sungguh mengerikan.
"Saa de... Watashi no namae o yonde kudasai... "
"Ukh... K-Ki-Kiku..." panggil Kirana ketakutan.
"Hai?"
"Kiku... Hiks... Kiku... Kiku..."
"K-kirana..." Kiku mencoba memutar tubuh Kirana yang gemetar hebat. Gadis itu masih memanggil-manggil namanya dengan ketakutan, "Kirana... Nee..."
"Apa yang terjadi di antara kalian berdua?" tanya dr. Greef sembari mendekati mereka.
"Mnh... Maaf..." ucap Kiku, "Kirana... Maafkan aku... Aku tidak seharusnya berbuat seperti itu... Nee... Kirana..." lanjutnya lagi dengan suara yang lembut dan hangat, "Aku janji, aku tak akan melakukannya lagi... Nee..."
Kiku tersenyum lembut saat Kirana menganggukkan kepalanya. Saat Kirana memeluknya, ia sedikit terkejut karena ia tidak mengantisipasi akan hal ini sama sekali. Namun, syukurlah, kali ini Kirana memanggil-manggil namanya bukan karena ketakutan seperti tadi.
"Hai... Watashi wa koko ni iru yo..." bisik Kiku lembut sembari mengelus kepala Kirana.
"Oke... Kalian bisa menghentikan seluruh drama ini dan kembali duduk di tempat kalian masing-masing..." ucap dr. Greef lelah.
*O*
"Monang... Kau sendirian?" tanya Kakek Tara sembari menghampiri penjemputnya di bandara, "Mana Nak Sutan?"
"Sutan menengok istrinya di Wina, Tuan Besar..." jawab Monang dengan muka datar.
"Eeeeh? Lagi?"
"Mari, saya bawakan..." ucap Monang sembari mengambil tas dan barang bawaan Kakek Tara yang lainnya.
"Terimakasih, ya, Nak Monang..." ucap Kakek Tara sembari tersenyum, "Ada cokelat Belgia untuk kamu... Dan simpankan yang punya Sutan ya... Tapi kalau dia tidak balik-balik, habiskan saja..."
"O-oh... Baik..." jawab Monang kagok, tak menyangka kakek Tara membelikannya oleh-oleh, "Uh... Tuan Besar... Kita mungkin akan mengganti rencana..."
"Hmm?" Kakek Tara memandang Monang dengan tatapan bingung, "Ganti rencana? Maksudmu?"
"Saya akan menjelaskannya di dalam mobil... Mari..."
*O*
"Bolehkah aku menanyakan beberapa hal, Nak Kirana?"
"Hmm?" gumam Kirana yang masih sibuk menuliskan jawaban tes dari dr. Greef.
"Berapa umur Nak Kirana?"
"Uh... 10..." jawab Kirana sembari menatap dr. Greef bingung.
Sedangkan Kiku menyumpahi dirinya sendiri.
Apa yang telah aku lakukan pada anak berumur 10 tahun?!
"Nak Kirana... Berada di ruangan yang berbentuk seperti perpustakaan, kan?"
Kirana mengangguk.
"Apa yang ada di dalam perpustakaan itu, Nak Kirana?"
"Uh... Perpustakaan itu... ingatan milik Kak Inesia..." ucap Kirana ragu.
"Oh... Apakah Nak Kirana pernah melihat isinya?"
Kirana menggeleng kencang.
"Kak Inesia... Menakutkan... Jika marah..." ucap Kirana ketakutan.
"Apakah pernah ada yang masuk ke sana selain Nak Kirana dan Nak Inesia?" tanya dr. Greef.
Kirana menggeleng lagi, "Kak Inesia... juga... tidak pernah datang..." jawab Kirana, "Kirana hanya sendirian di sana..."
Eh?
"Hanya Kak Tara yang berada di luar... Kak Tara selalu menjaga Kirana..."
"Apakah Tara tidak memiliki ruangan sendiri?" tanya dr. Greef lagi.
.
.
"Kita tidak memiliki ruangan... Kirana dan Kak Tara... " jawab Kirana pada akhirnya.
"Kenapa?" tanya dr. Greef bingung.
Namun, Kirana kembali terdiam. Gadis itu kemudian melihat ke arah Kiku, "Ruangan kita telah lama melebur, seperti Kartika..." ucapnya lagi, "Namun seperti Kartika, kita tidak bisa menyatu pada Kak Inesia..."
"K-kalau begitu... di mana Kartika-san sekarang?"
"Hmm... Bersama Pertiwi dan Kak Ina... mungkin? Kirana tidak tahu kenapa... Tapi... Kak Inesia tidak mau menerima kita..."
.
.
Naze... desu ka? Shikashi, Inesia-san wa...
"Kirana... Tapi... Inesia-san, kan, ingin kalian menyatu...?" tanya Kiku kebingungan, "Inesia-san memiliki rencana... dan..."
Saat Kirana kembali menggelengkan kepalanya, Kiku tahu, rencana Inesia tidak serapi apa yang gadis itu utarakan. Rencana gadis tersebut tidak benar-benar berjalan dengan baik dan...
Dan Inesia tidak berhak untuk mengusir Kiku dari kehidupannya.
Tapi...
"Kirana... Apakah... Apakah keberadaanku... Mengganggu pemulihan kalian?" tanya Kiku tidak yakin, "Apakah keberadaanku mengganggu kalian semua?"
"?" Kirana hanya menjatuhkan kepalanya ke samping dengan bingung, "Kirana tidak tahu hal seperti itu... Tapi... Kirana senang memiliki teman baru..." ucapnya sembari tersenyum bahagia ke arah Kiku, "Setelah ini... Kak Ina?"
"Y-ya... Apakah bisa..." tanya dr. Greef.
Kirana menggeleng, "Sebaiknya jangan! Kak Ina sangat menyeramkan... Kak Inesia tak akan mengizinkannya..."
"Ina no.2?"tanya dr. Greef lagi yang disambut dengan gelengan kencang.
"Kalau begitu... Garuda?" tanya dr. Greef yang disambut gelengan kencang dari dua orang di hadapannya.
Nak Kiku... Aku membutuhkan ini...
"Kalau begitu... Nesia... Nesia no.1..." ucap dr. Greef pada akhirnya.
"Kak Nesia... Uh... Oke... Kak Nesia..." ucap Kirana sembari berkonsentrasi.
"Hmm... Aku akan sulit mengumpulkan ketiga alter itu..." keluh dr. Greef pada Kiku.
"Yah... Mau bagaimana lagi... Mereka dijaga oleh Inesia-san..." ucap Kiku.
"Dan mungkin bukan hanya mereka bertiga..." lanjut dr. Greef sembari mengambil kertas-kertas pertanyaannya.
"Hmm?"
"Ayu... Lestari... Kartika..." ucap dr. Greef, "Mengapa mereka tidak pernah keluar lagi? Pasti ada alasannya..." lanjutnya sembari melihat jawaban Kirana dan mengerutkan keningnya.
"Enam alter tidak bisa kita tanyai ya?" gumam Kiku membalas, "Kita sudah mendapatkan tiga... Itu berarti kurang tiga lagi... Nesia no. 1... Nesia no.2... dan Nesia no.3..."
"Eh?" dr. Greef terhenyak kaget.
"N-nan desu ka? Sensei?"
"Kau bilang alter Inesia hanya 12 kan?" ucap dr. Greef, "Inesia, Pertiwi, Tara, Kirana... Ina no.1, Ina no.2, Garuda... Ayu, Lestari, Kartika... Nesia no.1, Nesia no.2, Nesia no.3..." ucap dr. Greef sembari melakukan presensi, "Hei... Hei... Mereka..."
"13 alter... Tara-san pernah mengatakan bahwa mereka ada bertiga belas, namun kemudian mengoreksinya menjadi 12... Mereka tidak mau mengakui Nesia no.2..."
"Apa yang terjadi sebenarnya?"
"Itu karena Nesia no.2 memang tidak ada..." jawab Nesia no.1 mengalihkan perhatian Kiku dan dr. Greef.
Kiku tahu, ia harus tenang dan berpikir jernih untuk menghadapi kalimat-kalimat seperti ini.
"Kalau begitu, siapa dia di antara 12 Alter yang lainnya, Nesia-san?"
"Ya... Mana kutahu!" ucap Nesia jengkel.
"Apakah dia Lestari-san?" tanya Kiku, "Atau Ayu-san..."
"Tentu saja bukan... Dua alter itu terlalu berbeda..." jawab Nesia.
"Nesia-san pernah menemui mereka?"
"Eh... Tidak..."
Kiku ingin meledak, ingin. Namun ia terus mengulang kata 'sabar' di dalam hatinya. Kiku tahu, Nesia benar. Gadis itu benar walaupun tidak pernah menemui Lestari maupun Ayu. Yah, setidaknya Ayu, karena Kiku pernah bertemu dengan alter tersebut.
Namun, Lestari? Siapa dia? Siapa alter yang bernama Lestari itu?
"Nesia-san... Apakah... Lestari-san seperti Kartika-san? Ruangannya telah melebur?" tanya Kiku.
Namun, jawaban Nesia tidak seperti yang Kiku harapkan. Gadis itu menggeleng, "Tidak ruangan Lestari masih utuh, bahkan yang paling tidak dapat ditembus oleh siapa pun..." jawab Nesia, "Malah, Inesia sendiri mungkin kesulitan menghadapinya... Menguasai seluruh kesadaran? Omong kosong..."
He?
"Oh, ya... Nak Nesia... Aku ingin kau menjawab pertanyaan-pertanyaan ini..." dr. Greef menyerahkan lembar pertanyaan kepada Nesia, "Dengan serius ya..."
"Oh... Oke..." jawab Nesia sembari mulai membaca pertanyaan yang tertulis.
Sedangkan dr. Greef menatap Kiku dengan muka bingung.
Siapa sebenarnya Lestari ini?!
"N-nak Kiku... Kau benar-benar tidak pernah bertemu dengan Nak Lestari? Dia bilang kesulitan loh... Kesulitan... Apakah itu berarti... Nak Lestari tidak pernah muncul karena menutup dirinya sendiri? Dan tidak ada yang bisa memicunya untuk keluar? Apakah itu yang terjadi pada Ayu juga?!" bisik dr. Greef panjang lebar.
"Mana saya mengerti? Saya juga baru mendengar kemungkinan ini sekarang... Dan... Ugh... Kita harus menanyakannya pada Inesia-san..."
"Uh... tapi... daripada itu... Aku penasaran... Jika setelah ini kita memanggil Nesia no.2... Apakah akan ada yang menjawab?"
.
.
"Saya malah takut Nesia no.2-san tidak dibiarkan keluar, dr. Greef... Tapi Inesia-san mengenal Nesia no.2-san..." jawab Kiku tidak yakin.
"Apakah kita harus membangunkan Nesia no.3 kemudian kembali ke Inesia?"
"M-mungkin...?"
"Nak Nesia..." panggil dr. Greef, "Apakah Nesia no.3 bisa dipanggil setelah ini?"
"Eeeeh? Kenapa? Aku akhirnya menguasai tubuh ini lagi..."
"Sebentar saja..." ucap dr. Greef memohon.
"Hgh... Yah... tapi... Nesia no.3 menjaga Garuda agar tidak keluar..."
B-benar juga... Ada yang seperti itu ya...
"Lagipula... Kalau pertanyaan seperti ini sih, tanyakan saja pada si Inesia itu saja... Dia melihat seluruh ingatan kami lagipula... Pertanyaan seperti ini sih... dia bisa menjawabnya dengan mudah..."
B-BENARKAH?!
"Kalau begitu.. Kami ingin bertemu dengan Inesia lagi, sebentar saja... Ya, Nak Nesia?"
"Huh... Baiklah..." ucap Nesia cukup berat sembari menyerahkan lembar pertanyaan yang telah terjawab dari dr. Greef dan mulai menyender di kursi relaks. Gadis itu memejamkan matanya.
Sedangkan dr. Greef memeriksa kertas jawaban itu dengan seksama.
.
.
Oh... God...
"Kau yakin akan meninggalkannya di sini?" tanya dr. Greef tidak yakin pada Kiku.
"Jika aku membawanya pulang, hal ini akan semakin rumit..." jawab Kiku sembari menghela nafas lelah. Ia teringat pada handphone-nya yang sedari tadi ia silent.
Uwaaaah... Aku tidak mau membuka handphone-ku lagi... Pasti banyak sekali email yang masuk...
"Kapan penerbanganmu?" tanya dr. Greef.
"Nanti sore..."
"Bukankah seharusnya kau pergi sekarang?! Apa jadinya jika kau terlambat boarding?!"
"Sebentar... Sebentar lagi..." ucap Kiku sembari memasang muka serius menanti Inesia.
-Paaaaaakk...-
Dr. Greef menggeplak kepala Kiku dengan kertas jawaban di tangannya, "Pergi, kau, Nak Kiku... Jangan mentang-mentang kau bisa dengan mudah menyewa pesawat pribadi atau bahkan membeli pesawat..."
"Tapi Inesia-san..." sanggah Kiku khawatir.
Eh? Kau tidak menyangkal bagian 'beli pesawat'nya?
"Biar aku yang atasi..." ucap dr. Greef.
"Maa... Demo..." Kiku bergumam tidak yakin, "Biarkan aku pamit...?" pintanya.
"Oke... Baiklah..." dr. Greef memutar bola matanya lelah.
"Ah... Inesia-san..." sapa Kiku saat Inesia membuka matanya, "O-kaerinasai..."
Inesia membetulkan duduknya. Gadis itu tampak bertanya-tanya, "Bukankah kalian ingin bertemu dengan alter-alterku yang lain? Apakah sudah selesai? Cepat sekali?"
"Tidak... Nak Kiku mau pulang... Ia ingin berpamitan padamu..." jawab dr. Greef.
"O-oh... Hati-hati di jalan..." balas Inesia datar.
.
.
.
Soredake?! Soredake?! –Hanya itu?!
Kiku merasakan hatinya ditusuk-tusuk oleh ribuan anak panah, disayat-sayat oleh jutaan pisau, dibumbui dengan garam dan lada hitam kemudian dibakar dengan api yang membara.
"Perlu kita antar sampai depan, Nak Kiku?" tanya dr. Greef.
"Iie... Sore wa hitsuyou dewa arimasen... –Itu tidak perlu..." ucap Kiku lesu. Diliriknya Inesia dengan tatapan mengharapkan sesuatu.
Tapi tidak ada.
Kuso... Dia lebih clueless daripada aku...
Dengan gemas Kiku menangkup wajah Inesia yang masih tertegun. Dikecupnya kening Inesia cukup lama. Ditepuknya kepala Inesia dengan kasih sayang seraya tersenyum hangat, "Watashi o mattete kudasai..." -Tunggu aku...
Inesia merasa ia harus mengangguk, oleh karena itu ia mengangguk. Namun ia tidak tahu apa arti kalimat Kiku. Mungkin pemuda itu sedang menyuruhnya untuk bersikap baik?
Tapi ia tidak perlu mencium keningnya pula!
"Kalau begitu, Greef-sensei... Onegaishimasu..." ucap Kiku sebelum berjalan menuju pintu keluar dan meninggalkan Inesia bersama dengan dr. Greef untuk mengejar pesawat.
.
.
.
.
"Jadi... Nak Inesia..." ucap dr. Greef saat Kiku telah meninggalkan ruangannya, "Atau... Nak Ranggah?"
"Rangga... Hanya Rangga... Anda membuat 10 spaces, jadi aku harus menuliskan Ranggah dalam I am Ranggah..." ucapnya datar sambil terus menatap pintu yang barusan ditutup oleh Kiku.
"Jadi... Kau tidak serius menjawab semua ini? Hanya ingin membuat kode denganku?" tanya dr. Greef, "Itu pintar... dan juga cepat... Huruf pertama di setiap jawaban, huh... Kau sampai membuat puisi juga..."
"Bukankah fokusmu salah, Dokter?"
"Huh?"
"Seharusnya yang Anda pertimbangkan..." Rangga menatap dr. Greef dengan tatapan meremehkan, "Aku bisa menjadi siapa pun, bukan?"
*O*
A/N:
17/07/17
Tanggalnya bagus ya... \(`o')/
