To Love naRUto

Disclaimer: Semua karakter dari anime "Naruto" dan "To Love Ru" bukan milik saya, saya hanya meminjamnya saja.

Main Cast: Naruto .U.

Pair: Naruto .U x Harem (Permanent!)

Summary:

Niatnya untuk kembali ke masa lalu harus gagal ketika mengetahui jika dia sudah berpindah dimensi dengan tubuhnya yang juga ikut menyusut, diadopsi oleh Keluarga Yuuki sebagai kakak tertua untuk dua adiknya. Masalah-masalah tak masuk akal mulai menghampirinya, bersama dengan tujuan barunya, ia yakin jika dia bisa menyelesaikannya.

Warning: Author Newbie, Abal-abal, Semi-Canon, Typo, Miss Typo, Echhi, Soft-Lime, Human!Naruto, God-Like!Naruto, Smart!Naruto, Fem!Rito(Riko), Read 'n Review and Not Like Don't Read.

Chapter 07

Tentang Semuanya...

Ketiga perempuan yang ada di ruang keluarga itu mendadak bungkam dan terkejut setelah melihat mata kiri laki-laki pirang yang ada di hadapannya, mereka bertiga sama sekali belum pernah melihat mata seaneh itu. Mata berwarna ungu terang berpola layaknya riak air dengan sembilan bintik yang menempati setiap garis riak air tersebut.

"Lalu kenapa Naruto-nii baru memberitahukan ini kepada kami sekarang?" tanya perempuan yang terlihat tomboy dengan rambut oranye kecoklatan pendeknya, rasa penasarannya terhadap mata kiri kakak angkatnya itu sudah terjawab sekarang dan malah digantikan dengan rasa penasarannya yang baru.

"Aku tahu jika tindakanku ini memang salah, tapi seperti alasanku sebelumnya. Jika aku langsung menunjukannya kepada kalian maka kalian pasti akan membenciku karena aku berbeda dari yang lainnya, jadi aku memutuskan untuk merahasiakannya dulu dari kalian," jawab laki-laki pirang itu dengan menatap semua orang yang ada disana, terkadang suatu perbedaan kecil saja bisa membuat sesuatu yang baik menjadi buruk.

"Maaf."

Apalagi yang bisa dikatakan oleh pemuda pirang itu selain kata tersebut, dia sudah menyembunyikan semuanya dari adik-adik angkatnya dan juga sahabat masa kecilnya. Baru sekarang ini dia memiliki keberanian untuk berterus terang kepada semuanya, lagipula hampir semua orang yang ada disana akan tahu perihal matanya ini.

Perempuan bersurai ungu gelap pendek itu hanya menggelengkan kepalanya setelah mendengar permintaan maaf dari laki-laki pirang itu "Naruto-kun tak seharusnya meminta maaf, seharusnya kami semua yang meminta maaf kepada Naruto-kun. Terkadang kami sering penasaran dengan apa yang Naruto-kun sembunyikan dan syukurlah Naruto-kun bisa berterus terang sekarang," ucap perempuan itu sambil tersenyum manis kepada lelaki pirang itu.

Perempuan bersurai merah muda panjang yang ada di samping pemuda pirang itu melepaskan pelukannya lalu menatap pemuda itu dengan senyuman lebarnya "Benar apa yang dikatakan oleh Haruna-chan, Naruto. Setidaknya tak ada lagi kesalahpahaman diantara kita," tambah perempuan itu.

Naruto hanya menyungingkan senyum kecilnya ketika mendengar perkataan dari kedua perempuan itu "Meskipun begitu, aku tetap salah disini. Terima kasih atas pengertian kalian," ucap Naruto yang merasa senang karena penjelasannya bisa diterima oleh semua orang yang ada disana.

"Lalu apa yang kau maksud jika dirimu ini adalah Shinobi, Naruto-nii?" tanya perempuan bersurai coklat agak gelap bergelombang yang dibiarkan terurai begitu saja, sepasang iris mata keemasan itu menatap kearah kakak angkatnya dengan penuh kebingungan.

Sepasang iris berbeda itu saling bertatapan dengan iris keemasan milik adik angkatnya "Apa kalian tahu dengan istilah ninja?" tanya Naruto kepada semua orang yang ada disana.

Keempat perempuan yang ada di ruangan itu hanya berpandangan satu sama lain ketika mendengar pertanyaan dari laki-laki pirang itu "Tentu saja kami tahu, tapi hal semacam itu hanyalah mitos dan terjadi beberapa ratus tahun ke belakang," jawab salah satu perempuan yang ada disana.

"Shinobi dan Ninja itu adalah suatu hal yang sama," ucap Naruto yang tak bisa menyalahkan jawaban tersebut. Di jaman yang serba canggih ini memang bisa dipastikan jika ninja atau shinobi sudah musnah bahkan menjadi mitos bagi penduduk yang ada disana, tak ada namanya manusia yang memiliki bakat istimewa untuk menjadi ninja di masa penuh dengan teknologi ini.

"J-jadi, Naruto-nii adalah seorang ninja? Maksudku Shinobi?" tanya Mikan yang seakan tak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya, meskipun kakak angkatnya itu hanya menanyakan ninja tapi dia tahu maksudnya dan tentunya dia sama sekali tak percaya.

"Mustahil sekali masih ada seorang ninja di jaman yang sudah modern ini," ucap Riko yang memegangi dagunya dan dia berusaha mempercayai apa yang dikatakan oleh laki-laki pirang itu tetapi tetap saja otaknya masih saja menolak untuk percaya.

"Yah, memang begitu kenyataannya. Lagipula aku bukan berasal dari dunia ini," ucap Naruto sambil tersenyum kecil tetapi senyum itu mengandung makna yang sangat pahit di dalamnya, dia masih teringat dengan masa lalunya yang sangat kelam yang terkadang terbawa dalam mimpi.

Haruna yang mengetahui maksud dari perkataan Naruto sedikit terkejut mendengarnya "Maksud Naruto-kun, kau berasal dari luar angkasa?" tebak Haruna diiringi dengan ekspresi penasarannya.

"Eh? Aku tak pernah mendengar jika ada Ninja Luar Angkasa di Galaksi manapun," sambung Lala sambil meletakan telunjuknya di bibir bawahnya sambil berusaha berpikir dan mengingat perihal 'Ninja Luar Angkasa' ini.

Pemuda pirang itu hanya menggelengkan kepalanya pertanda tebakan dari Haruna itu kurang tepat "Aku berasal dari dimensi lain yang sama sekali tak ada sangkut pautnya dengan dunia ini," jelas Naruto dengan senyuman yang masih tertahan di bibirnya.

"Aku lemah... Aku sangat lemah saat itu... Aku bahkan tak bisa melindungi semuanya," ucap Naruto sambil menundukan kepalanya dalam-dalam agar keempat orang yang ada disana tak bisa melihat ekspresinya saat ini, dia berusaha kuat untuk menyelesaikan penjelasan ini tapi dia rasa dirinya tak bisa melakukannya.

Meskipun semua itu sudah lama terjadi tapi dirinya tetap bisa mengingatnya dengan jelas, perasaannya yang sekarang semakin tak menentu setelah mengingatnya "Aku gagal... Aku orang yang gagal...," gumam Naruto dengan kedua tangannya mulai meremas surai pirangnya, dia berusaha untuk melampiaskan semua kekesalannya kepada dirinya sendiri dan tanpa ia sadari air mata mulai keluar dari kedua sudut matanya.

Lala yang melihat itu sedikit khawatir ketika melihat prilaku Naruto saat ini "Memangnya apa yang terjadi dengan duniamu, Naruto?" tanya perempuan itu sambil mendekatkan tubuhnya kearah tubuh Naruto dengan salah satu tangan halusnya memegang pundak Naruto.

"Hancur... Semuanya hancur... Musnah tanpa tersisa...," kata Naruto dengan nada bicaranya yang sedikit bergetar ditambah tubuhnya yang juga ikut bergetar, sudah sangat lama sekali ia ingin meluapkan semua masalah yang membebaninya dan baru sekarang keinginan itu terwujud.

Riko mulai beranjak dari sofa tunggal yang sempat di tempatinya lalu duduk bersila di atas bentangan karpet yang hampir menutupi seluruh lantai ruangan tersebut "Jika Naruto-nii memang memiliki masalah, Naruto-nii bisa menceritakannya kepada kami. Tak baik jika menyimpannya sendirian saja," ucap Riko yang memberi saran kepada kakak angkatnya itu.

Naruto mulai mengangkat kepalanya perlahan setelah mendengar perkataan dari salah satu adiknya itu, dia langsung mengusap kasar air mata yang mengalir melalui pipinya menggunakan punggung tangannya "M-maaf, a-aku hanya terbawa emosi saja," katanya sambil berusaha menghilangkan air matanya.

"Memang apa yang sebenarnya terjadi dengan dimensi yang ditinggali, Naruto-nii? Sampai-sampai Naruto-nii terbawa emosi seperti itu," tanya Mikan yang sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan dengan tatapan serius terarah pada pemuda pirang itu.

Setelah berhasil membersihkan wajahnya dari air matanya sendiri, Naruto kembali menatap lurus ke depan "Saat itu, dimensi yang kutinggali sedang mengalami perang yang dinamai dengan Perang Besar Dunia Shinobi Ke-4 dan tentunya aku ikut di dalamnya," jelas Naruto.

"Bahkan aku pernah hampir mati saat melawan musuhku yang sangat tangguh itu, tapi aku berhasil diselamatkan oleh leluhur yang menciptakan Dunia Shinobi. Semua orang mengharapkan jika diriku dan sahabatku bisa memenangkan pertempuran itu, tapi segala sesuatu yang besar harus disertai dengan pengorbanan yang besar pula," kata Naruto sambil berusaha mengingat apa yang dirinya lalui dahulu.

Keempat perempuan yang ada disana mendengarkan penjelasan dari pemuda pirang itu dengan seksama sampai salah satu diantara mereka mulai angkat suara "Bagaimana selanjutnya? Naruto-nii menang, bukan?" tebak Mikan dengan didukung anggukan oleh Haruna, Lala dan Riko.

Naruto menganggukan kepalanya "Aku memang menang, tapi itu adalah kemenangan terpahit yang pernah kudapatkan," jawab Naruto dengan senyum pahit terpasang di bibirnya.

"Kenapa Naruto bilang seperti itu? Bukankah seharusnya Naruto bahagia karena bisa memenangkan perang itu?" tanya Lala yang memiringkan kepalanya pertanda jika dirinya sedang dilanda kebingungan karena perkataan Naruto barusan.

"Kemenangan itu sama sekali tak akan berarti jika hanya dirimu saja yang merasakannya, dunia itu sudah layaknya planet mati dimana tak ada kehidupan apapun disana. Aku bermaksud untuk melakukan jurus yang bisa membawaku ke masa lalu dan mencegah semua itu terjadi, tapi Kami-sama berhendak lain. Jurus itu sama sekali tak berhasil dan malah membuatku terlempar ke Dimensi ini tepat di Kota Sainan dengan tubuhku yang juga ikut menyusut hingga aku bisa bertemu dengan Kaa-san dan Tou-san serta Mikan dan Riko," kata Naruto dengan panjang lebar sambil tersenyum kearah Mikan dan Riko.

"...Dan Haruna-san, namamu hampir mirip sekali dengan orang yang kusukai. Jadi aku tak begitu canggung jika berada di dekatmu. Dan Lala, kau memiliki warna rambut dan warna mata yang sama dengannya dan untungnya kau tak memiliki sifatnya yang suka memukulku seenaknya," ucap Naruto yang masih mencurahkan semua isi hatinya hingga tak ada yang tersisa di dalamnya.

"Tehe, aku tak mungkin memukulmu seenaknya, Naruto. Kau bahkan sudah sangat baik kepadaku," timpal Lala dengan tangan kanannya menggaruk kepala bagian belakangnya.

Semburat merah tipis menghiasi kedua pipi perempuan bersurai ungu gelap pendek itu setelah mendengar perkataan dari Naruto, dia juga sedikit bersyukur karena namanya hampir sama dengan orang yang disukai oleh Naruto. Jika saja itu juga terjadi padanya, pasti dirinya juga akan sangat senang sekali.

"Hmm... Ternyata Nii-san angkatku ini sangat hebat ya, Mikan," ucap Riko sambil menatap kearah adiknya yang masih duduk di sofanya.

"Ya, sesekali tunjukan kemampuanmu itu kepada kami. Kami juga ingin tahu kemampuan shinobi itu seperti apa," ucap Mikan dengan diiringi seringai jahilnya.

Naruto yang melihat respon mereka berempat hanya bisa tersenyum kecil sambil berkata "Sepertinya aku memang menemukan rumah keduaku disini," gumam Naruto sambil terus memperhatikan Lala, Haruna, Riko dan Mikan.

"T-tapi, Naruto-kun...," Haruna yang sedari tadi diam mulai bersuara sekarang membuat orang yang dipanggilnya juga menatap kearahnya "...Apa kau masih mau menggunakan jurus memutar balikan waktu itu?" tanya Haruna yang sedikit was-was, dia tak mau kehilangan laki-laki itu jika itu sampai terjadi.

Naruto menggelengkan kepalanya perlahan "Tidak, mungkin untuk saat ini tidak akan. Resikonya jauh lebih besar sekarang, jika kemungkinan gagal lagi aku pasti akan mati," jawabnya sambil tertawa gugup, lagipula dia sudah lupa dengan segelnya karena sudah terlalu lama tidak dipakai.

"Maka dari itu, jangan melakukan hal yang bodoh seperti kemarin lagi," ucap Riko yang duduk tepat di samping Naruto dengan kedua tangannya yang bertolak pinggang.

"Ahaha... Mau bagaimana lagi, sudah lama sekali aku tidak memakai kekuatanku," balas pemuda pirang itu dengan tawa aneh dan jawaban yang lumayan aneh juga keluar dari mulutnya.

"Ano... Maaf mengganggu, tapi aku harus pulang dulu. Ini sudah cukup larut, Nee-chan pasti khawatir," intrupsi Haruna yang membuat semua orang yang ada di ruangan tersebut menatapnya dengan lekat, perempuan itu mulai berdiri dari sofa yang didudukinya.

"Kau tak mau menginap disini, Haruna-chan?" tanya Lala pada Haruna.

Haruna menggelengkan kepalanya "Terima kasih atas tawarannya, tapi aku tak tega meninggalkan Nee-chan sendirian di rumah," tolak Haruna dengan halus, lagipula ia memang tak berniat untuk menginap di rumah keluarga Yuuki.

"Hmm... Sayang sekali ya."

Naruto langsung bangkit dari duduk bersilanya sambil menatap kearah Haruna "Biarkan aku mengantarmu, Haruna-san. Tak baik jika perempuan dibiarkan sendirian pulang jam segini," tawar Naruto kepada Haruna, dia mulai melangkahkan kakinya kearah Haruna.

"T-tapi itu sangat merepotkanmu, Naruto-kun. Lagipula kau baru sembuh."

"Aku sudah sembuh, Haruna-san. Jadi, tak perlu khawatir lagi," ujar Naruto yang sudah berada di dekat Haruna "Kau ingin cepat sampai rumahmu 'kan, Haruna-san?" tanya Naruto dan dijawab anggukan singkat oleh perempuan bersurai ungu gelap itu.

Naruto hanya tersenyum lebar mendengar jawaban dari Haruna "Baiklah, pegangan yang kuat," titah Naruto dengan salah satu tangannya bertumpu pada salah satu bahu Haruna membuat perempuan itu kebingungan karenanya.

"K-kau mau apa, Naruto-kun?" tanya Haruna yang sedikit takut dengan apa yang dilakukan Naruto.

"Aku akan menggunakan Hiraishin no Jutsu untuk mengantarmu pulang dan sebaiknya pegangan yang erat, ya," jawab Naruto sambil mengingatkan perempuan itu agar tidak lengah, salah sedikit saja bisa fatal akibatnya.

Haruna menganggukan kepalanya lalu menumpukan salah satu tangannya di bahu Naruto dengan tangannya yang memegang kaos pemuda itu dengan kuat dengan matanya yang terpejam kuat, mungkin baru pertama kali dirinya melakukan ini dengan laki-laki pirang itu.

"Hum... Hiraishin!"

Flash!

Ketiga pasang mata langsung melebar ketika melihat laki-laki kuning dan perempuan ungu itu menghilang dengan meninggalkan kilatan kuning setelah Naruto menyebutkan sesuatu seperti mantra itu, sekarang mereka mulai percaya jika Naruto memang bukan orang yang sembarangan. Pemuda itu sudah membuktikan kepada semua orang yang ada di ruangan itu jika dirinya memang seorang Shinobi.

"S-shinobi memang hebat."

"Tapi kemana mereka pergi ya?"

-0-0-0-

Flash!

Kilatan berwarna kuning tercipta tepat di depan pintu apartemen yang ditempati oleh Haruna beserta dengan kakaknya itu menampilkan seorang laki-laki dan perempuan yang saling berpegangan pada pundaknya. Sang laki-laki hanya tersenyum ketika melihat perempuan itu masih memejamkan matanya dengan tubuhnya yang bergetar ketakutan.

"Buka matamu, Haruna-san. Kita sudah sampai," titah Naruto pada Haruna lalu dengan tangannya yang sudah melepaskan genggamannya pada pundak perempuan itu.

"B-benarkah?" tanya Haruna yang tak menuruti apa yang dikatakan oleh Naruto, dia agak sedikit takut jika mereka berdua malah tersesat di suatu tempat yang tidak dikenalnya.

"Jika kau ingin memastikan, makanya buka matamu sekarang juga," ucap Naruto yang mengulangi perintah yang sama, dia rasa dirinya memang tidak salah tempat sedikitpun.

Kedua kelopak mata itu berkedut perlahan sebelum akhirnya terbuka dengan tempo perlahan menampilkan manik yang senada dengan rambutnya, manik itu sedikit melebar ketika menyadari jika lantai dan suasananya sudah berbeda dari yang sebelumnya. Pandangannya terarah pada laki-laki yang ada dihadapannya saat ini, pemuda itu tersenyum seolah tidak terjadi apa-apa padanya.

Haruna memperhatikan suasana yang ada di sekitarnya dan berusaha memastikan jika mereka memang sudah sampai di apartemen yang ditematinya bersama dengan kakak perempuannya "K-kita benar-benar sampai, tapi bagaimana bisa?" tanya Haruna yang penasaran.

"Hiraishin no Jutsu adalah jurus teleportasi yang diciptakan oleh Hokage kedua dan dikembangkan oleh ayah kandungku. Aku sendiri diajarkan oleh ayahku, walaupun pengajarannya cukup singkat. Intinya, aku bisa memindahkan apapun dan siapapun dengan jurus itu," jawab Naruto.

"Begitu ya," Haruna mengangguk mengerti dengan penjelasan singkat yang diberikan oleh Naruto lalu senyum manis tersunging di bibir tipisnya "Kalau begitu terima kasih sudah mengantarkanku sampai ke rumahku, Naruto-kun," ujarnya sambil membungkukan badannya sedikit.

"Tak masalah dan maaf jika membuatmu ketakutan," balas Naruto dengan salah satu tangannya menggaruk kepala bagian belakangnya yang sama sekali tak gatal diakhiri dengan cengiran lebarnya.

Senyum manis itu masih terpasang di bibir tipis milik Haruna menandakan jika dia menerima permintaan maaf dari Naruto "Mau mampir dulu, Naruto-kun?" tawar Haruna agar Naruto beristirahat dulu disini.

"Terima kasih tapi kurasa lain kali saja, Haruna-san. Aku takut jika Nee-san-mu ada di rumah dan melihat mata anehku ini, bisa gawat jika dia tahu," tolak Naruto dengan halus.

"Baiklah jika itu pilihanmu."

"Haruna-san?"

"Ya, Naruto-kun?"

"Aku mohon padamu agar tidak membeberkan rahasiaku ini kepada orang lain, apa kau bisa melakukannya?" pinta Naruto, dia tak mau jika rahasianya itu tersebar luas dan menggegerkan bagi semua orang yang ada di sekitarnya.

Haruna menganggukan kepalanya perlahan "Tentu saja, Naruto-kun. Aku tak akan pernah memberitahukan rahasiamu ini kepada orang lain," tanggap Haruna, dia tipe orang yang sangat tidak tegaan ketika melihat seseorang memohon kepadanya.

"Hmm... Terima kasih banyak, Haruna-san. Kalau begitu aku pulang dulu, sampai ketemu besok di sekolah," pamit Naruto dengan tangan kanannya yang melakukan segel tangan.

"Ya, sampai jumpa besok, Naruto-kun," balas Haruna sambil melambaikan tangannya kearah Naruto.

"Hiraishin!"

Flash!

Kilatan berwarna kuning kembali tercipta disertai dengan tubuh laki-laki pirang itu yang menghilang dari tempat berdirinya saat itu, perempuan itu sedikit terkagum ketika melihatnya 'D-dia memang laki-laki yang sangat hebat,' batin Haruna yang terkagum dengan kemampuan yang dimiliki oleh Naruto.

Perlahan-lahan ia membalikan tubuhnya lalu meraih kenop pintu apartemennya lalu membukanya perlahan "Aku pulang!" sahutnya yang berusaha memberitahu orang yang ada di dalam jika dirinya sudah pulang.

-0-0-0-

"Mou~ Kenapa Naruto-nii tidak pakai jurus itu saja? Aku ingin merasakannya juga," perempuan bersurai oranye kecoklatan itu melipat kedua tangannya tepat di bawah dadanya yang berkembang itu dengan masing-masing pipinya yang mengembung dan dia sama sekali tak mau memandang kearah laki-laki pirang yang ada di sampingnya.

Laki-laki pirang itu hanya mengusap wajahnya dengan kasar ketika mendengar rajukan dari adik angkatnya itu "Sudah kubilang sebelumnya jika aku ingin berpindah ke suatu tempat yang jauh maka aku harus meninggalkan tanda dulu disana, sekarang jarak antara rumah kita dan SMA Sainan lumayan jauh. Jadi, aku harus meninggalkan tanda dulu disana sebelum memindahkan kalian semua kesana. Mengerti?" jelas Naruto dengan panjang lebar.

"Lalu kenapa Naruto-nii bisa memindahkan Haruna-chan tepat ke rumahnya?" tanya Riko yang masih memasang ekspresi sebalnya.

"Aku sudah meninggalkan tanda disana saat kita berkunjung ke apartemennya, harus berapa kali aku menjelaskannya padamu, Riko," Naruto sendiri sudah lelah menjelaskan apa yang ditanyakan oleh Riko sedari mereka keluar dari rumahnya.

Pertengkaran antara kakak beradik itu terus berlanjut sepanjang perjalanan mereka menuju sekolah yang dituju, sementara Lala yang juga berangkat bersama kedua kakak beradik itu hanya bisa tersenyum senang melihat suasana keberangkatan mereka seramai kemarin-kemarin.

"Hehehe... Suasananya jadi lebih ramai sekarang," gumam Lala yang bahagia melihat pertengkaran antara Naruto dan Riko.

"Bukankah mereka berdua memang selalu seperti itu, Lala-sama?"

"Iya, tapi yang sekarang cukup berbeda dengan sebelumnya," kata Lala yang menjawab pertanyaan dari Peke, suasananya jadi seru kembali.

Keduanya akhirnya terdiam setelah mereka semua hampir memasuki kawasan SMA Sainan menciptakan suasana hening yang membuat Lala memiringkan kepalanya keheranan "Kenapa kalian diam seperti itu?" tanya Lala dengan polosnya.

"Lihat saja sekitarmu, Lala. Mereka memperhatikan kita seperti buronan saja," jawab Naruto dengan Riko yang menganggukan kepalanya setuju walaupun dirinya masih sebal dengan laki-laki kuning yang ada di sampingnya "Lagipula itu masalah sepele yang tak perlu dibesar-besarkan," sambungnya.

Sepasang mata berwarna coklat itu berkilat tajam kearah Naruto yang ada di sampingnya "Maksudmu aku yang membesar-besarkan masalah ini? Hmm?!" tanya Riko yang tersinggung dengan perkataan Naruto.

"Hey, aku tak bilang seperti itu!"

"Lalu apa?"

"Ah, mereka mulai lagi," gumam Peke yang sweatdrop melihat kedua kakak beradik itu kembali bertengkar seperti tadi.

"Ohohoho... Akhirnya kita bertemu lagi, Lala."

Baru saja mereka memasuki gerbang SMA Sainan, mereka bertiga sudah dihadang oleh tiga orang perempuan yang salah satu dari mereka tertawa seperti seorang penyihir yang sangat jahat di dalam dongeng. Kejadian itu hampir menyita seluruh perhatian semua siswa yang ada disana, sekolah ini akan kembali ramai karenanya.

"Lala, kau kenal dengan mereka?" tanya Naruto dengan nada berbisik kepada Lala yang ada disebelahnya.

Lala mulai berpikir untuk menjawab pertanyaan Naruto dengan jari telunjuk tangan kanannya berada di bibir bagian bawahnya "Aku sama sekali tak mengenal mereka, Naruto. Tapi aku akan menanyakannya," jawab Lala dengan senyum senang di bibirnya.

"Hei! Kalian bertiga siapa ya?" teriak Lala sambil melambaikan tangan kanannya kearah ketiga perempuan yang menghadang mereka.

Twicth!

Urat-urat kekesalan tercipta di dahinya hingga membuat bentuk seperti perempatan jalan setelah mendengar teriakan dari perempuan bersurai merah muda itu, baru kemarin mereka bertemu dan perempuan itu sudah melupakannya. Orang macam apa dia ini? Itulah yang ada di dalam pikiran perempuan itu.

"Tenjouin Saki! Kenapa kau bisa lupa dengan nama 'Ratu Sekolahan' ini?!" ucap perempuan bersurai pirang pucat lurus yang dibiarkan terurai, dua cepol di masing-masing bagian atas kepalanya dan rambut yang membingkai wajahnya terlihat layaknya mata bor yang mengarah ke bawah.

"Ratu sekolahan? Memangnya ada gelar seperti itu di sekolah ini?" gumam Naruto yang sweatdrop mendengar jawaban dari perempuan tersebut.

"Ketiga perempuan itu adalah kakak kelas kita, Naruto-nii. Orang yang bernama Tenjouin Saki itu adalah anak bangsawan yang sangat kaya di kota ini dan kemungkinan besar keluarganya menjadi donatur terbesar di sekolah ini, lalu dua perempuan di belakangnya adalah pelayan setianya yaitu Rin Koujo dan Aya Fujisaki," jelas Riko.

"Begitu ya," Naruto menganggukan kepalanya mengerti setelah Riko menjelaskan ketiga perempuan itu secara rinci "Tapi apa hubungannya dengan Lala?" tanya Naruto.

"Tenjouin Saki-senpai merasa jika pamornya sebagai ratu di sekolah ini tersaingi oleh Lala, jadi kemarin terjadi persaingan antara mereka berdua. Untungnya Lala tidak menanggapi tantangan dari Saki-senpai dengan serius," Riko sekali lagi menjawab pertanyaan Naruto.

"Ternyata banyak sekali yang kulewatkan ketika tidak berada di sekolah," gumam si ninja pirang itu.

Dahinya sedikit berkerut karena ada yang mengganggunya sedari tadi, meskipun ini aura manusia biasa tetapi niatan jahat yang akan dilakukannya cukup besar. Kepalanya sedikit menoleh kearah rerimbunan semak-semak dan pepohonan yang berada di dekat pagar pembatas sekolah yang cukup tinggi itu, dia mulai melepaskan tas yang tersandang di bahunya lalu memberikannya kepada Riko.

"Apa ini, Naruto-nii?" tanya Riko ketika menerima tas milik Naruto.

"Pegang dulu! Ada sesuatu yang harus kuurus sebentar. Jangan kemana-mana ya," titah Naruto yang sedikit berbisik kepada Riko lalu ia mulai berlari kecil kearah semak-semak yang ia curigai jika ada seseorang disana, setidaknya dia harus membuktikan jika perasaannya tak salah.

"Bidik yang benar."

"Aku sudah membidiknya dengan betul, tapi kau terus saja berbicara."

"Aku hanya ingin misi ini berjalan dengan lancar."

"Makanya tutup mulutmu."

Pendengarannya sangat peka terhadap rangsangan suara setelah pelatihan yang ia jalani selama dirinya berada di Elemental Nation, jadi suara sekecil apapun bisa ia dengar ditambah lagi dengan kemampuan sensornya yang berkembang pesat setelah dirinya berlatih senjutsu. Makhluk apapun tak akan bisa bersembunyi darinya apalagi manusia biasa.

Kakinya melangkah dengan perlahan kearah asal suara tersebut agar tak menimbulkan kecurigaan dari orang-orang yang ada disana dan benar saja kecurigaannya itu terbukti, dua orang pria berpakaian serba hitam bersembunyi di balik semak-semak itu dengan salah satu pria yang memakai topi memegangi senapan laras panjang. Mereka pasti pembunuh bayaran yang ditugaskan untuk membunuh salah satu dari murid yang berkerumun disana.

'Ini tak bisa dibiarkan,' batinnya sambil berlutut di belakang kedua pria tersebut dengan salah satu tangannya yang sudah melepaskan penutup mata kirinya dan memasukannya ke dalam saku depan baju seragamnya.

Trep!

"Hoi, singkirkan tanganmu dari bahuku. Aku tak bisa berkonsentrasi kalau seperti ini," ujar pria bertopi yang memegang senapan.

"Seharusnya kau yang singkirkan tanganmu dari bahuku, memangnya kau bisa menembak dengan satu tangan," balas pria berambut tipis yang sedang mengamati semua orang yang ada di depan gedung utama sekolah tersebut.

"Kedua tanganku sedang memegang senapan, bodoh."

"Lalu?"

Keduanya berpandangan satu sama lain dan memastikan jika tangan itu bukanlah milik rekannya, mereka berdua memutar kepalanya kearah asal tangan yang memegang pundak mereka. Kedua pasang mata itu melebar sempurna setelah melihat seseorang dengan mata ungu menyala menatap mereka dengan lekat.

"Apa yang kalian berdua lakukan disini?"

"Waaa!"

Dooor!

Suara tembakan memecah keributan yang sempat tercipta di depan gedung utama sekolah di SMA Sainan itu, hampir semua murid yang ada disana langsung mencari kearah asal suara. Mereka bertanya-tanya tentang tembakan yang terdengar sangat dekat tersebut, pasti ada sesuatu yang terjadi di kawasan sekolah tersebut.

Sreek!

Sreet!

Kedua pria yang sempat menyembunyikan dirinya diantara semak-semak belukar itu mulai keluar dari tempat persembunyiannya menuju lapangan terbuka yang ada di depan tempat persembunyiannya "S-siapa kau?!" tanya salah satu pria itu yang bergetar ketakutan karena mereka belum pernah melihat mata semengerikan itu.

"Hanya seorang murid yang tak sengaja lewat dan melihat kalian berdua sedang melakukan sesuatu dengan senapan itu," ucap remaja pirang itu yang juga ikut keluar dari semak-semak tempat kedua pembunuh bayaran itu lalu berdiri tepat beberapa meter di hadapan kedua pria misterius itu.

"Kau pasti sudah mengikuti kami 'kan?"

Naruto hanya mendengus pelan saat mendengar pertanyaan dari pria botak itu "Mengikuti kalian? Padahal aku baru saja tiba disini dengan adikku sekitar lima menit yang lalu, lagipula apa untungnya aku mengikuti kalian berdua," ucapnya sambil menggaruk kepala bagian belakangnya yang sama sekali tak gatal.

"Dasar Bocah!" umpat pria botak itu dengan tangan kanannya mulai mengambil sesuatu dari balik tubuhnya "Akan kuhabisi kau sekarang juga," pria itu langsung berlari kearah Naruto dengan pisau yang tajam dan mengkilat sudah digenggam menggunakan tangan kanannya.

"Naruto-nii, awas!" sahut Riko ketika melihat pria yang sepertinya seumuran dengan ayahnya bersiap menghunuskan pisau tajamnya itu kearah sekitar dada kiri kakak angkatnya itu.

Syat!

Pisau itu hanya mengenai udara kosong setelah orang yang menjadi sasarannya setelah tubuh bagian kirinya mundur secepat pisau yang siap merobek dadanya, mungkin dia harus berterima kasih pada mata kiri pemberian sahabatnya itu. Dia bisa melihat serangan seseorang tiga detik lebih cepat dari yang seharusnya.

Buagh!

"Gufu!"

Sikut kanannya yang ia lapisi dengan chakra berhasil menghantam punggung pria yang membawa pisau itu dengan keras hingga tubuh pria itu tersungkur ke tanah dengan keras, debu yang bercampur tanah itu berterbangan ke segala arah setelah tubuh itu menghantam tanah. Pria itu sama sekali tak bisa bergerak lagi.

Sepasang manik berbeda itu kembali menatap kearah rekannya yang masih tersisa, matanya sedikit melebar ketika melihat pria bertopi itu sudah mengarahkan senapan laras panjang itu kearahnya...

Dooor!

Moncong berbentuk tabung berwarna hitam itu kembali memuntahkan isinya yaitu berupa peluru tajam dengan warna keemasan gelap yang melesat dengan cepat melebihi kecepatan mobil tercepat di dunia ini, peluru itu siap menembus apapun yang akan menjadi sasarannya.

Tap!

Sret!

Naruto berhasil melompat dan menghindari lintasan peluru tajam berkecepatan tinggi itu lalu mendarat kembali dengan mulus di tanah lapang penuh dengan debu itu, sebenarnya ini pagi yang sangat indah tetapi kejadian ini malah memperburuk keindahan tersebut.

'Masih untung hanya menggores saja,' batin lelaki pirang itu yang sedikit meringis ketika pipi sebelah kirinya terasa sangat sakit dengan sesuatu yang mulai mengalir dari pipinya, dia memang berhasil menghindarinya tapi peluru itu masih bisa sedikit menggores pipinya.

Naruto berlari secepat mungkin kearah pria bertopi itu sebelum pria itu berhasil mengokang kembali senapannya, dia memang bisa menghindarinya untuk kesekian kalinya tapi reflek gerakannya masih lebih lambat daripada kecepatan peluru tersebut. Kemungkinan besar hanya keberuntungan saja jika itu terjadi lagi.

Trep!

Dooor!

"Gukh! L-lepaskan aku, b-bocah sialan," ucap pria itu dengan terbata-bata setelah senapan yang menjadi senjatanya dipegang dan diarahkan keatas oleh pemuda pirang itu sementara lehernya berhasil dikunci oleh tangan kiri pemuda itu.

"Aku akan melepaskanmu setelah kau memberitahuku siapa yang menyuruhmu untuk melakukan ini?" tanya Naruto yang mulai menginterogasi salah satu pembunuh bayaran tersebut.

"Cih... M-memangnya k-kau ini siapa?" tanya balik pria itu, dalam hatinya sebenarnya dia takut dengan remaja pirang yang ada di depannya. Bagaimana tidak? Mata ungu mengerikan itu mulai bersinar dengan bintiknya yang berputar sesuai arah jarum jam dan aura mengintimidasi dari remaja itu lumayan besar, tapi demi harga dirinya yang tinggi ia menelan bulat-bulat rasa takut itu.

"Kau tak perlu tahu siapa aku," jawab Naruto dengan nada datarnya, jika sudah menyangkut keselamatan orang lain, dia tak bisa main-main begitu saja.

Pria itu berusaha untuk melepaskan cengkraman tangan pemuda itu dari lehernya bahkan dirinya sama sekali tak bisa bernapas karena jalur pernapasannya terjepit cengkraman tersebut, tapi ekspresi kesakitan itu berubah menjadi seringai kecil di bibirnya setelah melihat rekannya bisa kembali bangkit.

"K-kurasa k-kau yang akan tamat sekarang," ucap pria bertopi itu dengan seringai kecil yang masih terpampang di bibirnya.

""Naruto/Naruto-nii, awas di belakangmu!"" sahut Lala dan Riko dari jauh, pria botak itu berhasil bangkit kembali dan bersiap menusukan pisau yang dibawanya itu kearah Naruto.

Grep!

Pemuda itu mengalihkan pegangan tangan kanannya itu pada senapan laras panjang yang dipegang oleh pria bertopi itu lalu menariknya dengan paksa hingga terlepas dari genggamannya...

Brak!

Gubrak!

Senapan laras panjang itu hancur dan terbagi menjadi dua setelah Naruto memukulkan senapan itu sekuat tenaga kearah belakangnya layaknya pemukul baseball yang ia pukulkan agar mendapatkan bola Home Run, begitulah yang terjadi pada pria botak itu, tapi karena massanya yang sangat berat maka tubuhnya hanya terseret kearah semak-semak itu kembali.

Semua yang melihatnya hanya bisa membisu dengan mulut mereka yang menganga lebar tak percaya jika siswa yang terkadang semberono itu berhasil mengalahkan salah satu dari pria bersenjata itu, sementara pria bertopi itu hanya bisa terduduk di tanah lapang tersebut sambil menatap kearah Naruto dengan pandangan tak percaya.

Krak!

Pemuda pirang itu hanya melemparkan potongan senapan itu ke tanah setelah memastikan jika pria botak itu tak akan bangkit lagi, itu adalah pukulan terbaiknya tanpa harus menggunakan chakra alam. Kepalanya kembali menoleh kearah pria yang sempat ia cekik lehernya lalu berlutut di hadapannya dengan tangan kanannya yang sudah menarik kerah depan baju pria itu agar lebih dekat kearahnya.

"A-ampuni aku, k-kami hanya disuruh untuk menembak mati perempuan yang ada disana karena orang itu tak suka dengan ayah dari perempuan yang ada disana. T-tolong j-jangan apa-apakan aku," ucap pria bertopi itu sambil menunjuk kearah Tenjouin Saki yang ditemani kedua pelayan setianya.

Pemuda itu sama sekali tak memiliki pilihan lain selain melepaskan pria itu dari cengkramannya lalu ia kembali berdiri seperti biasanya sambil merogoh sesuatu yang ada di saku baju seragamnya "Baik, aku mengampuni kalian berdua," ujar Naruto sambil mengeluarkan penutup mata kirinya dan ucapan itu membuat pria bertopi itu terlihat senang.

"Tapi...," pria itu meneguk ludahnya dengan susah payah sambil menunggu apa yang akan dikatakan oleh remaja pirang itu selanjutnya "...jika kalian menunjukan diri kalian yang masih melakukan pekerjaan seperti ini sedikit saja padaku, maka aku tak akan segan-segan melakukan sesuatu yang belum pernah kalian alami. Mengerti?" pria itu mengangguk dengan segera setelah mendengar ancaman dari laki-laki itu.

"Bawa temanmu itu pergi darisini, sebelum aku berubah pikiran," titah Naruto yang sudah memasang kembali penutup mata kirinya seperti biasanya kemudian melangkahkan kakinya meninggalkan pria bertopi itu.

"B-ba-baik!" dengan terbirit-birit, pria itu langsung berlari kearah semak-semak dimana temannya itu masih terbujur kaku disana. Kemungkinan besar rekannya itu tak sadarkan diri karena pukulan pemuda itu yang menggunakan senapannya.

Plok! Plok! Plok!

"Wah, Naruto memang hebat!" ujar Lala yang menyambut kedatangan Naruto dengan tepuk tangannya dan disusul dengan tepuk tangan dari semua murid yang berkumpul disana.

"Naruto-nii, tak apa 'kan?" tanya Riko yang khawatir dengan keadaan kakak angkatnya.

Naruto hanya menggaruk kepala bagian belakangnya yang sama sekali tak gatal dengan cengiran lebar di wajahnya "Yah, aku baik-baik saja, Riko. Dan sebenarnya ini terlalu berlebihan," ucap Naruto yang sedikit malu karena tepuk tangan dari murid yang berkumpul disana.

Grep!

Manik biru langit itu menatap kearah tangannya yang sekarang di pegang oleh adik angkatnya itu dengan erat "Kau bilang 'Baik-baik saja', tapi pipimu sendiri berdarah seperti itu," raut wajah kekhawatiran tercetak jelas di wajahnya "Ayo, ikut aku ke ruang UKS," ujar Riko sambil menarik tangan Naruto dengan paksa untuk masuk ke dalam gedung utama sekolah.

"Hoi, jangan menarikku seenaknya, Riko," protes Naruto yang tak terima jika dirinya diseret-seret oleh adik angkatnya itu.

"Salah sendiri karena mengatakan sesuatu yang tidak sesuai dengan keadaanmu," sanggah Riko yang masih menarik tangan Naruto menuju ruang UKS yang ditujunya kali ini.

"Tunggu aku, Riko-chan, Naruto," sahut Lala yang juga melangkahkan kakinya untuk menyusul kedua orang tersebut.

Naruto hanya bisa pasrah dan mengikuti Riko yang terus menarik tangannya menuju ruang UKS, baru kali ini dia melihat adik angkatnya itu sangat khawatir seperti ini kepadanya. Biasanya dia sangat acuh tak acuh, tapi goresan peluru itu lumayan sakit juga.

'Bahkan aku sampai lupa untuk memberitahukan perempuan itu tentang pembicaraanku dengan orang itu, tapi biarlah, dia juga akan bertanya kepadaku nanti."

[To Be Continued...]