To Love naRUto

Disclaimer: Semua karakter dari anime "Naruto" dan "To Love Ru" bukan milik saya, saya hanya meminjamnya saja.

Main Cast: Naruto .U.

Pair: Naruto .U x Harem (Permanent!)

Summary:

Niatnya untuk kembali ke masa lalu harus gagal ketika mengetahui jika dia sudah berpindah dimensi dengan tubuhnya yang juga ikut menyusut, diadopsi oleh Keluarga Yuuki sebagai kakak tertua untuk dua adiknya. Masalah-masalah tak masuk akal mulai menghampirinya, bersama dengan tujuan barunya, ia yakin jika dia bisa menyelesaikannya.

Warning: Author Newbie, Abal-abal, Semi-Canon, Typo, Miss Typo, Echhi, Soft-Lime, Human!Naruto, God-Like!Naruto, Smart!Naruto, Fem!Rito(Riko), Read 'n Review and Not Like Don't Read.

Chapter 08

Rintangan Pertama.

"Ouch... Sakit, Riko! Pelan-pelan sedikit," ringis laki-laki pirang itu setelah kapas yang ditetesi alkohol itu menekan luka di pipi kirinya itu lumayan kuat, siapapun pasti akan memberikan respon yang sama jika lukanya ditekan dengan kuat apalagi menggunakan alkohol.

"Makanya diam sebentar, kau mau jika pipimu itu infeksi karena tergores besi itu," ucap perempuan yang sedang mengobati pipi laki-laki pirang yang duduk di sampingnya, tangan kanannya yang memegang kapas beralkohol itu terus mengusap luka itu agar bersih dari kuman.

"Peluru itu terbuat dari timah, bukannya besi, Riko."

Perempuan bersurai oranye kecoklatan pendek itu hanya mendengus mendengar sanggahan dari laki-laki yang ada di sampingnya dengan sepasang manik coklatnya terfokus untuk membersihkan luka tersebut. Setelah ia rasa jika pembersihannya sudah cukup, dia langsung membuang kapas yang penuh dengan darah segar itu ke tempat sampah yang tersedia di ruang UKS itu dan langsung mencari sesuatu di dalam kotak P3K yang ada di dekatnya.

"Ngomong-ngomong, terima kasih sudah mau mengobatiku," ujar Naruto yang memecah keheningan antara dirinya dengan Riko, sebenarnya Lala juga ada disini beberapa menit yang lalu tapi Naruto menyuruh Putri dari Planet Deviluke itu untuk masuk ke kelasnya. Bukannya ia mengusir, tapi dia tak mau jika perempuan itu ketinggalan pelajaran jika menemaninya disini.

"Hmm... Sama-sama, Naruto-nii. Seorang adik pasti akan sangat khawatir jika kakaknya terluka, maka dari itu aku hanya melakukan apa yang harus kulakukan," balas Riko yang sudah menemukan plester sewarna dengan kulit tan Naruto yang panjangnya sekitar 5 cm.

Riko dengan teliti memasangkan plester itu diatas permukaan pipi Naruto yang terluka hingga plester itu menutupi luka tersebut, ibu jarinya terus menekan-nekan plester itu agar tidak terlepas dari tempatnya "Sudah selesai, Naruto-nii," ujar Riko dengan senyum manis terukir di bibirnya.

Salah satu tangan lelaki itu menyentuh plester yang menutupi luka yang ada di pipi kirinya "Ah... Terima kasih sekali lagi," Naruto membalas senyuman dari adik angkatnya itu dengan cengirannya.

"Hmm... Tak masalah," balas Riko sambil membereskan kotak P3K yang ada di sampingnya lalu meletakannya diatas meja yang tak jauh dari tempat duduknya, dia menatap kembali kearah Naruto "Apa Naruto-nii memang sudah terbiasa dengan pertarungan dan luka seperti itu?" tanya Riko yang penasaran.

"Yah, begitulah. Seorang Shinobi memang harus mampu bertahan hidup dan harus mampu bertarung dalam situasi dan kondisi apapun, meskipun kemampuan lawan itu berada diatasmu, kau harus tetap bertahan dan mengimbangi kemampuan lawanmu itu," jawab Naruto yang masih menampakan cengirannya kepada Riko.

"Sepertinya Naruto-nii memang berlatih dengan keras sehingga bisa menghindari tembakan sedekat dan secepat itu, padahal kalau manusia biasa pasti tembakan itu sudah mengenainya," baru kali ini dia bisa sangat kagum kepada kakak angkatnya itu, kakaknya itu seolah tak takut dengan apapun meskipun sesuatu yang dihadapinya itu membahayakan nyawanya sendiri.

"Memangnya kau kira aku ini manusia super apa," timpal lelaki pirang itu atas pernyataan dari Riko tadi "Plester ini menandakan jika aku ini juga manusia biasa, aku juga bisa terluka dimanapun dan kapanpun. Sebut saja itu hanya bakat istimewa," sambungnya sambil menyentuh plester yang menempel di pipi kirinya.

Riko bersidekap sambil menatap kearah kakaknya "Apa bedanya antara Manusia Super dengan Manusia Istimewa? Mereka juga sama-sama memiliki sesuatu yang tidak dimiliki oleh manusia biasa, Naruto-nii," ungkapnya, kakak angkatnya itu bisa masuk ke dalam kategori tersebut.

Naruto hanya cengengesan di tempat sambil menggaruk kepala kuningnya itu "Sebaiknya kita kembali saja ke kelas, pasti disana sudah masuk jam pelajaran," ajak Naruto yang sebenarnya agak canggung juga jika berdua terus dengan Riko di tempat yang sepi seperti ini.

Riko sendiri sudah bangkit berdiri dari kursi putar yang ia duduki tadi lalu menyandang tas selempang miliknya dengan pandangannya terarah pada Naruto "Semoga saja kita tidak terlalu jauh tertinggal pelajarannya," ucap Riko dengan tangan kanannya menjinjing tas milik Naruto.

Naruto juga ikut bangkit dari kursi yang di dudukinya "Ya, kau benar. Apa aku bisa meminta tas milikku itu kembali?" pinta lelaki pirang itu dengan pandangannya terarah pada tas yang dijinjing oleh Riko, dia tak mau menyusahkan adik angkatnya itu lebih lama lagi.

"Baiklah... Ini, Naruto-nii," ucap Riko yang melangkahkan kakinya mendekat kearah Naruto untuk menyerahkan tas itu.

"Riko!" Naruto langsung menyahut ketika salah satu kaki perempuan itu malah tersandung dengan kakinya yang lain dan pemuda itu juga tahu, siapapun pasti akan terjatuh jika kedua kakinya tersandung.

Gubrak!

Lantai ruang UKS itu bergetar pelan ketika dua tubuh remaja tanggung berbeda gender itu menghantam lantai dengan posisi sang perempuan diatas dan menindih tubuh laki-laki pirang yangada dibawahnya dengan posisi berhadap-hadapan, lebih parahnya lagi kedua tangan lelaki itu mendarat di tempat yang tidak seharusnya disentuh oleh laki-laki.

Sepasang manik coklat itu membeku ketika melihat manik safir yang tertanam di kelopak kanan milik laki-laki yang ada dibawahnya, keduanya juga sama-sama kaget saat mengetahui posisi mereka saat ini tapi entah kenapa suara mereka seolah menghilang begitu saja. Masih untung jika ruang UKS itu sedang sepi karena guru yang akan menjaga ruangan itu akan digantikan oleh guru yang baru.

Semburat merah tipis menghiasi masing-masing pipi milik Naruto maupun Riko, mulut remaja pirang itu terkatup-katup layaknya ikan yang sedang bernapas di dalam air padahal dirinya sangat ingin sekali berbicara. Tangan kanannya bisa merasakan kekenyalan dada kiri yang terbalut seragam dan rompi kuning itu sementara tangan kirinya bisa merasakan bagaimana halusnya kulit yang ada di balik roknya yang tersingkap.

"N-naruto-nii... J-ja-jangan lakukan itu disini, jika ada yang lihat bagaimana," ujar sang perempuan yang berusaha mencegah kedua tangan laki-laki itu untuk tidak melakukan hal yang lebih jauh lagi daripada ini.

Pemuda pirang itu langsung menyingkirkan kedua tangannya dari tubuh perempuan yang menindihnya "M-maaf, Riko! A-aku tak sengaja," dengan spontan Naruto langsung berkata seperti itu kepada Riko, dia memang benar-benar tak sengaja. Lagipula siapa juga yang jatuh menimpa dirinya.

Riko memalingkan wajahnya yang memerah malu itu dari pandangan Naruto, dia tak mau jika lelaki itu menatapnya lebih lama lagi "A-aku juga m-minta maaf karena tidak hati-hati ketika melangkahkan kaki," ucapnya yang juga meminta maaf kepada kakaknya, ini juga karena keteledorannya.

"Aaaa~... Itu tak masalah, Riko. Y-yang penting kau tidak apa-apa," Naruto hanya bisa memaklumi kejadian ini karena jika dirinya bertemu dengan perempuan, pastinya perempuan itu akan jatuh dengan tak sengaja atau dirinya yang menabrak perempuan itu karena kesalahannya sendiri.

"Apa Naruto-nii menikmatinya?" tanya Riko dengan nada yang sangat pelan yang bahkan tak dapat didengar oleh ninja pirang yang ada di hadapannya, dia masih memalingkan wajahnya karena dia tak mau jika Naruto melihat wajahnya yang memerah.

Dahi ninja pirang itu berkerut kecil karena ingin memfokuskan telinganya atas apa yang Riko katakan "Bisa kau ulangi lagi, Riko. Aku tak bisa mendengarnya barusan," titah Naruto yang sudah siap mendengarkan apa yang akan dikatakan oleh Riko.

Perempuan itu hanya menggelengkan kepalanya lalu bangkit berdiri agar tubuhnya tidak menindih tubuh kakaknya lagi, sepasang manik coklat itu menatap kearah Naruto dengan lekat "D-dasar mesum!" umpatnya dengan tatapannya yang berubah menjadi tatapan kesal.

Sementara laki-laki pirang itu hanya bisa sweatdrop mendengar umpatan yang ditunjukan kepadanya 'Ujung-ujungnya aku juga yang disalahkan, dasar wanita,' ucap Naruto dalam hatinya yang juga ikut bangkit sambil mengambil tasnya yang tergeletak di lantai.

-0-0-0-

Teng! Tong! Ting! Tong!

"Dikarenakan suara bel istirahat sudah berbunyi, maka pelajaran dicukupkan sampai disini saja. Kalian boleh beristirahat," ujar Profesor Honekawa yang sudah membawa semua buku pelajarannya lalu melangkahkan kakinya keluar dari kelas 1-A, kebanyakan murid terdengar bersorak sorai setelah dirinya keluar.

"Dia sangat hebat, bisa melumpuhkan kedua pria bersenjata itu hanya dengan tangan kosong."

"Dia juga bisa menghindari tembakan itu, benar-benar tak bisa dipercaya."

"Meskipun dia terkadang tak senonoh kepada perempuan, tapi dia adalah laki-laki paling pemberani yang pernah kulihat."

Si ninja pirang itu tahu jika orang-orang yang ada di kelasnya itu sedang membicarakan kejadian tadi pagi yang jelas-jelas berhubungan dengannya tetapi dia lebih memilih untuk mengacuhkan pembicaraan itu, pujian yang disertai celaan terkadang dapat ia dengar dan kebanyakan keluar dari mulut murid perempuan. Jujur saja dia sangat tersinggung dengan pembicaraan itu, tapi dia tak mau mendapatkan masalah lagi.

"Naruto!"

Mendengar sahutan tersebut membuat remaja pirang itu menghadapkan kepalanya kearah Lala yang duduk tepat di depannya, manik hijau dan biru itu saling berpandangan satu sama lain "Ada apa, Lala?" tanya Naruto dengan nada penasaran.

"Mau makan siang?" tawar Lala sambil menunjukan kotak bekal yang biasa dibawa oleh Naruto ke sekolah, tetapi sekarang dia jarang sekali membawanya karena kotak bekal itu karena Lala yang selalu membawanya ditambah dia juga sangat malas untuk membelinya lagi.

Naruto bisa merasakan jika hampir sebagian orang di kelas itu menatapnya dengan tatapan tak suka dan benci setelah Lala mengatakan tawaran itu padanya "Boleh, tapi isinya bukan makanan aneh itu, 'kan?" ujar Naruto takut-takut jika isinya adalah makanan aneh buatan Lala.

"Makanan aneh? Apa maksudmu, Naruto?" tanya Lala yang bingung dengan pertanyaan Naruto tadi.

"Ah, lupakan. Buka saja penutupnya, aku penasaran dengan isinya," titah Naruto sambil menopang dagunya menggunakan telapak tangan kirinya yang ia tumpu diatas bangku yang di tempatinya, mata kanannya menatap kotak bekal itu dengan lekat.

"Baiklah!" jawab Lala dengan semangat lalu tangan kanannya membuka penutup kotak bekal yang ada di hadapannya "Tada~...!" sahut Lala setelah membuka kotak itu dan memperlihatkan isi yang ada di dalam kotak itu.

Pemuda pirang itu hanya mengedipkan matanya beberapa kali berusaha memperjelas atau mempercayai apa yang dilihatnya saat ini "Lala, m-makanan apa itu?" tanya Naruto yang ragu-ragu ketika melihat makanan itu ditambah dengan asap hitam yang keluar dari dalamnya.

'Ini sama buruknya dengan sup ulat yang dibuat oleh Shima-baachan di Myobokuzan dulu,' batin Naruto yang sebenarnya sangat enggan memakan makanan aneh itu lagi, tapi dia juga memikirkan perasaan Lala jika dirinya tidak memakannya 'Mungkin satu suapan tak apa,' sambungnya dalam hati.

Lala tersenyum manis mendengar pertanyaan dari Naruto "Ini makanan khas dari Planet Deviluke dan kau harus mencobanya, Naruto," jawab Lala yang sudah mengambil sumpit dan menyumpit salah satu makanan yang ada di dalam kotak bekal tersebut.

"Baiklah, cuma satu suapan saja ya," ucap Naruto yang menyanggupi permintaan dari Lala.

"Eh... Kenapa hanya satu suapan saja?" tanya Lala yang penasaran.

"Ya... Aku tidak terlalu lapar saat ini, jadi cukup satu suapan saja," jawab pemuda pirang itu yang tersenyum canggung kearah Lala.

"Oh, dua suapan saja ya, Naruto," pinta Lala dengan tatapan puppy eyes-nya agar Naruto menuruti permintaannya.

"Baiklah, dua."

"Yeay!" Lala langsung bersorak ketika mendengar permintaannya itu dituruti oleh laki-laki yang ada di hadapannya, dengan semangat ia langsung menyodorkan makanan yang sudah ada diantara himpitan sumpit tersebut "Buka mulutmu, Naruto," titahnya.

Naruto sendiri tak memiliki pilihan lain selain menuruti apa yang dikatakan oleh Lala, mulutnya mulai terbuka perlahan membiarkan Lala memasukan makanan itu ke dalam mulutnya. Dia harus siap dengan resiko yang akan ia dapat sesudah memakan makanan tersebut.

"Ump!"

Perempuan bersurai merah muda panjang itu memasukan makanan buatannya ke dalam mulut Naruto dengan penuh semangat dan berharap Naruto menikmati makanan buatannya itu, walaupun lidahnya tak bisa menerima makanan itu tetapi laki-laki bersurai pirang jabrik itu terus mengunyahnya lalu menelan makanan itu untuk masuk ke dalam perutnya.

'R-rasanya s-seperti sup ulat,' batin Naruto dengan tubuhnya yang sedikit bergetar, sepertinya Planet Deviluke dan Gunung Myobokuzan memiliki selera makanan yang sama dan sejenis.

"Bagaimana rasanya, Naruto?" tanya perempuan itu dengan antusias.

"C-cukup enak, Lala. Kau memang pintar memasak ya," bohong Naruto, jika dia mengatakan yang sebenarnya pastinya Lala akan sangat sakit hati. Biarlah seperti ini, lagipula ini hanya sementara saja.

"Begitukah?" tanya Lala atas pernyataan Naruto tadi dan dijawab anggukan oleh pemuda pirang itu "Baiklah, satu suapan lagi untukmu," katanya sambil menyodorkan kembali makanan yang sudah ada diantara himpitan sumpit itu.

Nasi sudah menjadi bubur...

Dia harus menerima konsekuensi dari apa yang diputuskan olehnya, mau tak mau ia harus membuka mulutnya seperti sebelumnya agar makanan itu dapat masuk ke dalam mulutnya. Jika benar ia akan menjadi Raja Deviluke selanjutnya, dia tak yakin jika ia dapat bertahan dengan masakan khas planet itu.

"Ump!" mengunyah dan menelan adalah hal yang bisa dilakukan oleh Naruto saat ini, rasa tak karuan masakan itu yang lebih cenderung ke pahit agak pedas membuat isi perutnya terasa bergolak. Satu suapan lagi, pasti dirinya akan tepar di tempat.

"A-ah, te-terima kasih atas makanannya, Lala," walaupun lidahnya terasa sangat kelu karena rasa makanan tersebut, tapi ia masih berusaha untuk berterima kasih kepada perempuan yang ada di hadapannya.

"Hehe... Sama-sama, Naruto," ucap Lala yang tertawa senang melihat Naruto menikmati masakannya.

Remaja pirang itu berdiri dari kursi yang didudukinya membuat perempuan yang ada di hadapannya itu memiringkan kepalanya penasaran "Naruto mau kemana?" tanya Lala dengan nada penasaran.

Naruto hanya tersenyum kecil ketika menanggapi pertanyaan dari Lala "H-hanya ingin membeli minuman saja, tenggorokanku selalu kering sesudah makan. Jadi, tunggu saja disini bersama Riko, ya," ucap Naruto yang mulai melangkahkan kakinya menjauhi bangkunya sambil melambaikan tangan kearah Lala.

"Baiklah, aku mengerti," sahut perempuan itu dengan senyum lebar terpasang di bibirnya.

Setelah menghela napas perlahan, Naruto mulai melangkahkan kakinya keluar dari kelas 1-A dengan ekspresi lemas tercetak di wajahnya. Dia bisa merasakan berbagai tatapan dari orang-orang yang disekitarnya bahkan ada yang terasa sampai menusuk-nusuk kulitnya, dirinya sendiri tahu bahwa tatapan itu berasal dari laki-laki yang iri padanya.

'Hidupku tak akan tenang jika mereka terus saja seperti itu,' ucap Naruto dalam hatinya sambil meneruskan perjalanannya menuju tempat yang ingin ia tuju yaitu mesin minuman yang disediakan oleh pihak sekolah untuk kepentingan murid-murid yang ada bersekolah disana dan biasanya mesin itu terletak di sudut-sudut sekolah di setiap lantainya.

Jika mengingat rasa masakan yang Lala buat, dia malah teringat dengan pelatihannya dulu saat di Gunung Myobokuzan. Seharusnya dia tahu bahwa meskipun mereka itu Katak Kuchiyose, tapi mereka juga tak berbeda jauh dengan katak pada umumnya. Makanan mereka pasti sejenis serangga seperti ulat ataupun larva.

Tubuh pemuda pirang itu bergidik ngeri ketika mengingatnya bahkan dia tak mau mencicipinya lagi, dia lebih baik tak makan daripada harus memakan makanan Para Katak Gunung Myobokuzan. Dan pada akhirnya, Nenek Shima membuatkan makanan yang bisa diterima oleh Naruto. Padahal saat itu dirinya sangat ingin sekali memakan ramen buatan Katak Betina tertua disana.

Dia baru menyadari jika dirinya sudah sampai di tempat yang sangat ingin ia tuju, salah satu tangannya merogoh saku celananya dan mencari sesuatu di dalam sana. Sebuah koin yang terbuat dari campuran perak itu sudah ada di dalam genggamannya, untuk mengeluarkan salah satu minuman yang ada di dalam mesin itu maka dirinya harus memasukan koin itu ke dalam mesin minuman tersebut.

Dia selalu menyisihkannya di dalam sakunya dan terkadang koin itu sangat bermanfaat jika dirinya sedang terdesak apalagi dengan masalah dehidrasi setelah pelajaran olahraga berlangsung, minuman favoritnya sendiri adalah sekotak jus jeruk yang ada di dalam mesin di hadapannya sekarang.

Srek!

Naruto tersadar dari lamunannya setelah mendengar suara sesuatu jatuh dari bagian bawah mesin minuman tersebut, dia sedikit membungkukan tubuhnya dan mengambil kotak jus yang keluar dari mesin tersebut. dengan sedikit terburu-buru, dia mulai memasang sedotan pada kotak jus tersebut lalu meminumnya dengan tergesa-gesa.

"Ah... Akhirnya...," ucap remaja pirang itu yang merasakan tenggorokannya sangat lega ketika dilewati oleh air jus jeruk tersebut, rasa pahit dan pedas yang sempat ia rasakan sudah berganti dengan rasa manis dari jus kotakan yang ada di dalam genggamannya.

Jujur saja, baru kali ini dia selega ini selain sesudah buang air kecil. Seharusnya dia tolak saja saat Lala memintanya untuk makan satu suapan lagi, terkadang terlalu baik kepada orang lain malah membuat dirinya rugi. Contohnya saja apa yang dialaminya saat ini.

Naruto membalikan tubuhnya setengah putaran membuatnya membelakangi mesin minuman yang sempat dipakainya tetapi matanya langsung tersita oleh seseorang... bukan, lebih tepatnya tiga orang perempuan yang terlihat familiar dalam ingatannya. Dia hanya bisa menatap bingung ketiga perempuan itu sambil menghabiskan jusnya.

"Naruto Yuuki, ya 'kan?" tanya perempuan bersurai pirang pucat yang melipat kedua tangan di bawah dadanya, dilihat dari sisi manapun perempuan itu memang terlihat sombong.

Remaja pirang itu hanya menganggukan kepalanya ketika tebakan dari perempuan itu benar dan ia baru ingat tentang ketiga perempuan itu. Setelah dia menyeruput semua jus yang ada di dalam kotak itu sampai tak tersisa, tangannya langsung membuang kotak jus itu ke dalam tong sampah yang tak jauh dari tempat berdirinya sekarang lalu tatapannya kembali terarah pada ketiga perempuan tersebut.

"Ada apa Senpai menemuiku?" tanya Naruto yang sebenarnya mengetahui niatan dari ketiga perempuan itu, dia hanya ingin sekedar basa-basi saja.

"Jangan banyak basa-basi, sebenarnya Saki-sama tak memiliki waktu untuk berbicara dengan laki-laki sepertimu," ucap perempuan bersurai hitam lurus yang diikat seperti ekor kuda, dia berdiri tepat di sebelah kanan perempuan bersurai pirang pucat itu.

Naruto hanya memberikan tatapan aneh kepada tiga perempuan yang merupakan kakak kelasnya itu 'Lalu untuk apa menemuiku jika tak punya waktu untuk bicara denganku? Semua perempuan memang aneh,' ucap Naruto yang tetap bungkam dan mendengarkan lanjutan dari pembicaraan itu.

"Kau pasti terlibat dengan para penjahat itu, 'kan? Kami tahu jika kau menyewa pembunuh bayaran itu agar membunuh Saki-sama agar popularitas tunanganmu itu tetap berada diatas Saki-sama, 'kan?" tanya perempuan bersurai hitam kebiruan lurus panjang sepunggungnya, dia bertanya seolah-olah dirinya adalah seseorang yang ditugaskan untuk mengintrogasi penjahat.

"Pfft~... AHAHA!" tawa keras meledak di koridor sekolah tersebut membuat beberapa siswa yang mendengarnya langsung tertarik kearah asal suara tawa tersebut, remaja pirang jabrik itu memegangi perutnya sambil tertawa dengan keras setelah mendengar pertanyaan dari perempuan berkacamata yang ada di hadapannya. Bahkan sekarang, dirinya tak tahu bagaimana caranya berhenti tertawa.

"Apanya yang lucu? Jadi, benar kau terlibat dengan para penjahat itu?" ucap perempuan bersurai hitam itu sambil mengacungkan pedang kayunya kearah Naruto yang masih tertawa terbahak-bahak di tempat berdirinya sekarang ini.

Naruto sendiri berusaha untuk menghentikan tawanya sambil menatap pedang kayu yang terarah padanya "Jika aku memang terlibat dengan mereka, pastinya aku akan melakukan sesuatu yang membuat Saki-sama-mu itu tidak menyadari dengan bahaya yang mengintai dirinya. Lagipula untuk menyewa pembunuh bayaran setingkat mereka, aku harus memerlukan uang yang banyak dan aku sama sekali tak punya uang sebanyak itu," jelasnya panjang lebar.

"Aku menyesal menyelamatkan 'Ratu' kalian itu, kenapa aku tak biarkan saja kepalanya berlubang karena tertembus peluru?" Naruto sendiri sangat kesal dengan ketiga perempuan yang ada di depannya, bukannya berterima kasih, mereka malah menuduhnya berkomplot dengan kedua penjahat itu.

Ekspresi yang ditunjukan oleh ketiga perempuan itu mulai berubah –tidak setegang sebelumnya- setelah mendengar pernyataan yang keluar dari mulut adik kelas yang ada di hadapan mereka, jadi tuduhan yang sempat ada di dalam otak mereka itu tidak terbukti benar.

"Tetapi aku tak akan pernah membiarkan itu terjadi," ujarnya yang membuyarkan pemikiran dari ketiga perempuan tersebut "Akan menjadi penyesalan seumur hidupku jika seseorang mati tepat di hadapanku, maka dari itu lebih baik aku saja yang mendapatkan lukanya," sambungnya, ekspresinya juga sudah berubah drastis tidak seperti sebelumnya.

"M-maaf, k-kami hanya~..."

"Tak apa-apa, aku memakluminya. Yang terpenting sekarang adalah Tenjouin-senpai harus berhati-hati karena keselamatan Tenjouin-senpai bisa terancam oleh seseorang yang membenci Tou-san anda, mereka bisa saja melakukan hal yang lebih ekstrim lagi daripada yang tadi pagi," potong Naruto dengan cepat.

Jika dirinya sudah serius kemungkinan besar apa yang ingin disampaikannya ketika bertemu dengan mereka bertiga akan hilang dari otaknya, maka dari itu dia ingin menyampaikannya sekarang juga. Hatinya juga sedikit lebih lega setelah mengatakan hal itu.

"A-ah... A-aku mengerti," ucap perempuan bermarga Tenjouin itu sambil menganggukan kepalanya bahkan dirinya sangat malu jika menatap mata kanan bermanik biru laut milik adik kelasnya itu, dia sudah berburuk sangka kepadanya "Tapi, Yuuki Naruto...?"

Naruto menatap lekat kearah kakak kelasnya berambut pirang pucat itu seolah panggilan dari perempuan itu berhasil menarik perhatiannya agar mendengarkan apa yang akan disampaikan perempuan di depannya, rasanya aneh juga dipanggil dengan nama selengkap itu.

"Te-terima kasih atas yang tadi pagi dan informasinya," ujar Tenjouin Saki yang mendapatkan tatapan tak percaya dari kedua pelayannya bahkan orang-orang yang ada di sekitarnya, jarang-jarang ratu sekolahan yang sangat terkenal lumayan angkuh dan sombong itu berterima kasih kepada seseorang apalagi kepada seorang laki-laki.

Naruto tersenyum kecil ketika mendengar ucapan terima kasih dari kakak kelasnya "Sama-sama, senpai. Lebih baik Tenjouin-senpai membicarakannya dengan Tou-san anda agar keselamatan anda juga lebih diperhatikan lagi," katanya yang memberikan saran kepada Saki.

"Maaf, senpai. Aku masih ada urusan, aku pamit ke kelas terlebih dahulu."

Setelah membungkukan tubuhnya dengan hormat kearah tiga kakak kelasnya itu, remaja pirang itu melangkahkan kedua kakinya menuju kelasnya lagi. Perasaannya mengatakan bahwa dirinya harus kembali lagi ke kelas karena ada sesuatu hal yang buruk terjadi disana, semoga saja bukan berhubungan dengan alien atau lain sebagainya.

"Saki-sama..."

"Ya, aku tahu, Rin. Kita juga harus kembali," ujar Saki yang langsung membalikan tubuhnya berlawanan arah dengan arah perginya Naruto, dia masih melipat kedua tangannya itu di bawah dadanya 'Yuuki Naruto... Lelaki yang sangat menarik.'

-0-0-0-

"Kenapa Haruna-chan lama sekali ya? Memangnya apa yang dibicarakan oleh Kouchou-sensei padanya?" gumam perempuan bersurai coklat cerah pendek bergelombang, raut khawatir nampak jelas di wajahnya.

"Dan tidak biasanya juga Kouchou-sensei turun tangan untuk memanggil seseorang, dilihat-lihat juga Kouchou-sensei agak aneh," tambah perempuan bersurai hitam pendek yang diikat twinstail. Sambil membenarkan kacamatanya yang terasa miring menurutnya, dia juga berpikir ada urusan apa antara Haruna dan Kepala Sekolah.

"Mungkin Kouchou-sensei ada perlu dengan Haruna-chan," ujar perempuan bersurai merah muda panjang yang dibiarkan terjuntai begitu saja. Hanya dirinya saja yang terlihat tenang-tenang saja, berbeda dengan yang lainnya.

"Mungkin itu menurutmu, Lala-san. Tapi kau tahu 'kan Kouchou-sensei itu seperti apa, ditambah dengan sifat anehnya sekarang," ucap perempuan bersurai oranye kecoklatan yang terlihat acak-acakan. Dia juga mengkhawatirkan sahabat masa kecilnya itu, apalagi Kepala Sekolahnya itu terkenal sangat mesum sekali pada muridnya sendiri.

Sebenarnya mereka berempat ingin pergi ke ruangan Kepala Sekolah dan memastikan jika salah satu temannya itu baik-baik saja, tetapi mereka mengurungkan niatnya karena mereka sendiri takut jika sesuatu yang tidak diinginkan terjadi kepada mereka. Mereka bisa saja meminta tolong kepada murid laki-laki yang ada di kelas mereka, tapi mereka meminta imbalan yang aneh sebagai balasannya.

"Lalu bagaimana sekarang?" tanya Risa dengan rasa khawatir yang tak mau beranjak dari hatinya.

Disaat yang bersamaan, laki-laki bersurai pirang jabrik dengan salah satu matanya yang ditutup disertai ekspresi serius tercetak di wajahnya. Orang-orang yang melihat ekspresinya terlihat keheranan bahkan ada yang bergetar ketakutan, biasanya si pirang itu tak pernah seserius ini sebelumnya tapi sekarang terlihat sangat berbeda.

'Naruto, sepertinya ini bukan dari manusia yang ada di sekitar sini, tapi ini berasal dari makhluk asing. Dari niatan jahatnya, makhluk itu berada tak jauh dari gedung ini.'

'Ini pasti ada hubungannya dengan Lala, alien-alien dari planet lain pasti mencari keberadaannya. Secara, dia itu adalah Putri Pertama dari Raja Deviluke yang terkenal itu. Meskipun Zastin sudah tak memaksanya untuk pulang lagi, tapi orang yang melarikan diri tetaplah orang yang melarikan diri jika dia tak kembali,' ucap Naruto yang menjadi penjelasan panjang dalam telepatinya, tapi dia sangat berterima kasih pada Si Gurita berekor delapan itu.

"Naruto!"

Sret!

Sepasang sepatu hitam yang menjadi alas kedua kaki itu melakukan rem dadakan saat dirinya akan masuk ke dalam kelas melewati pintu bagian belakang kelasnya, dia jelas-jelas mendengar jika namanya dipanggil oleh seseorang. Remaja pirang itu memundurkan langkahnya untuk keluar dari kelas tersebut lalu menolehkan kepalanya kearah koridor yang ada di sebelah kanannya dan menatap Lala yang sudah berlari menghampirinya.

"Hmm... Kukira siapa," ucap Naruto yang bernapas lega karena perempuan alien itu tidak apa-apa.

'Yah, yang terpenting dia tidak apa-apa. Jika makhluk itu tidak menargetkan Lala, berarti ada orang lain yang menjadi targetnya. Jika bukan aku, maka...'

"Kebetulan Naruto sudah kembali," ujar Lala yang sudah berdiri berhadap-hadapan dengan Naruto diiringi dengan senyuman lebar yang terlihat manis bagi siapa saja yang melihatnya "Bolehkah aku meminta tolong sesuatu padamu?" pinta Lala.

Naruto sedikit memiringkan kepalanya pertanda jika dirinya sangat penasaran dengan permintaan yang akan dipintakan oleh Lala "Apa itu, Lala? Selama aku bisa mengerjakannya, aku akan melakukannya," jawabnya yang menyanggupi permintaan dari perempuan di depannya.

"Begini, semenjak Naruto pergi untuk membeli minuman, Kouchou-sensei datang ke kelas kita dan memanggil Haruna-chan. Aku tak tahu tentang urusan Kouchou-sensei pada Haruna, tapi yang jelas Riko-chan, Risa-chan dan Mio-chan terlihat khawatir pada Haruna-chan. Jadi..."

"Setahuku, Kouchou-sensei tak pernah memanggil muridnya secara langsung. Sepertinya ada yang aneh...," Naruto langsung memotong perkataan Lala 'Si Pendek itu pasti melakukan sesuatu yang buruk pada Haruna-san,' tambahnya dalam hati, dia sendiri tahu kebiasaan Kepala Sekolahnya itu lebih parah daripada Si Pertapa Genit.

"Naruto-dono juga mengatakan hal yang sama dengan Riko-sama," timpal Peke setelah mendengar perkataan dari Naruto.

Naruto juga mulai khawatir dengan keadaan Haruna sekarang "Aku harus segera mencarinya, bisa gawat jika dibiarkan terlalu lama. Aku juga merasakan sesuatu yang aneh," ucap Naruto yang sedikit pelan di bagian akhirnya lalu tatapannya terarah pada Riko, Risa dan Mio yang juga menatap kearahnya.

"Apa aku boleh ikut, Naruto?" tanya Lala dengan nada yang terdengar seperti memaksa agar laki-laki yang ada di hadapannya ini menerima permintaannya.

"Baiklah, baiklah, tapi pastikan jika Riko dan yang lainnya tidak mengikuti kita. Itu malah terlalu beresiko," jawab Naruto sambil menatap kembali kearah Lala yang ada di hadapannya. Jika ini memang urusan alien, berarti Lala juga harus ikut.

"Baik, Naruto!" ujar Lala dengan ibu jari tangan kanannya teracung kearah Naruto pertanda ia sangat mengerti dengan apa yang Naruto katakan. Setelah itu, Lala berlari terburu-buru kearah Riko dan teman-temannya yang ada disana "Riko-chan, aku dan Naruto akan mencari Haruna-chan. Jadi, bisa tolong ijinkan kami jika kami terlambat masuk ke kelas?" pinta Lala disertai dengan ekspresi memohon terpasang di wajahnya.

"Umm... Kalian tak usah khawatir tentang masalah itu, tapi apa tidak masalah jika hanya kalian berdua saja yang mencari Haruna-chan?" tanya Riko yang sedikit khawatir dengan Lala dan Naruto.

Lala hanya tersenyum mendengar pertanyaan dari Riko "Tak masalah, aku punya alat yang bisa menemukan keberadaan Haruna-chan. Lagipula ada Naruto yang melindungiku," jawabnya dengan yakin "Kalau begitu kami pergi dulu," ucap Lala yang melambaikan tangan kearah Riko lalu berlari kecil kearah Naruto.

Naruto sedikit sweatdrop dengan apa yang dilakukan oleh Lala tetapi ekspresi itu berubah menjadi senyuman kecil yang terpasang di bibirnya 'Itu malah akan menarik rasa perhatian mereka, tapi lebih baik jujur. Berbohong hanya akan mengundang masalah yang lain.'

Pigmen kulit kelopak mata kanannya itu mulai berubah warna menjadi oranye gelap ditambah dengan manik biru langitnya yang digantikan dengan manik yang sama seperti pigmen di kelopak matanya serta pupil hitam gabungan dari mata katak dan rubah, energi alam sudah merasuk ke dalam dirinya agar mempermudah dirinya untuk mencari Haruna.

"Apa sudah?" tanya Naruto dengan singkat setelah Lala sudah kembali berada di dekatnya.

Lala menganggukan kepalanya merespon pertanyaan Naruto "Yap, sudah. Tapi...," perempuan itu menghentikan perkataannya sambil menempelkan jari telunjuknya di bibir bagian bawahnya "...ada sesuatu yang berbeda denganmu, Naruto," sambungnya.

Remaja pirang itu langsung menggenggam tangan milik Lala dan menarik perempuan itu agar menjauh dari keramaian "Aku akan menjelaskannya nanti, Lala. Yang terpenting kita harus bergegas sekarang juga," ucapnya yang berjalan menuju lantai dasar.

"Memangnya Naruto tahu dimana Haruna-chan berada? Aku bisa mengeluarkan alat penemuanku supaya kita bisa menemukannya lebih cepat," ujar Lala sambil mengimbangi langkah kaki Naruto.

"Tidak perlu, itu hanya akan menyusahkan saja. Lagipula aku sudah tahu dimana Haruna-san," ucap Naruto tanpa melambatkan kecepatan berlarinya, tangannya memegang lembut tangan halus milik Lala. Baru kali ini dia melakukan hal seperti ini pada Lala, tapi kenapa harus dalam situasi yang tidak memungkinkan seperti ini.

Riko, Risa dan Mio hanya memandang heran kearah sepasang manusia aneh itu, tapi dari gerak-geriknya mereka seolah tahu tentang keberadaan Haruna. Keberadaan Naruto seolah-olah bisa mewujudkan hal yang mustahil dilakukan oleh manusia biasa, itulah yang ada dipikiran Riko.

"Sepertinya ada yang mengidap penyakit 'Brother Complex' nih," ucap Risa yang sedikit berbisik pada Mio yang ada di sampingnya, tapi tetap saja bisa di dengar oleh orang yang berada 1 meter darinya.

Mio hanya cekikikan mendengar bisikan dari teman sehobinya itu "Ya, aku tak menyangka jika Riko-chi bisa seperti itu," ucap Mio yang setuju dengan perkataan Risa.

"Kalian kira aku tak mendengar percakapan kalian, hm?" ucap Riko yang memberikan tatapan membunuh kepada dua temannya itu, kedua tangannya terlipat di bawah dadanya seolah ingin mengintimidasi kedua temannya itu 'Semoga saja Naruto-nii bisa menemukan Haruna-chan,' batinnya meskipun ekspresi tak suka terlihat sekali di wajahnya.

-0-0-0-

"Naruto? Kenapa kita malah datang kesini?" tanya perempuan bersurai merah muda panjang yang berdiri tepat di samping laki-laki bersurai pirang jabrik dengan kedua mata aneh itu menatap lurus kearah pintu gudang dekat lapangan olahraga yang tertutup dengan rapat.

Ekspresi Naruto berubah menjadi serius karena aura yang dirasakannya dari dalam gudang tersebut "Karena aku yakin jika Haruna-san dibawa kesini oleh Kouchou-sensei atau bisa dibilang makhluk yang menyamar menjadi Kouchou-sensei," jawab Naruto dengan serius.

"Kenapa Naruto berpikiran seperti itu?" tanya Lala sambil memiringkan kepalanya bingung.

"Itu hanya instingku saja," jawab Naruto dengan singkat tapi pandangannya masih tertuju pada pintu yang tertutup sangat rapat itu 'Bertahanlah, Haruna-san,' batinnya sambil mengalirkan chakra alamnya menuju kaki kanannya.

Brak!

Tendangan yang dipenuhi dengan kekuatan senjutsu itu membuat pintu yang ada di depan laki-laki pirang jabrik itu terlepas dari engselnya hingga menampakan ruangan yang sangat minim sekali pencahayaan di dalamnya, gudang tersebut adalah tempat penyimpanan alat olahraga yang terkadang dipakai dalam kegiatan pembelajaran olahraga.

"Wah! Naruto memang hebat!" ujar Lala yang terkagum-kagum dengan apa yang dilakukan oleh Naruto.

Remaja pirang itu mengabaikan perkataan dari Lala dan memutuskan untuk masuk terlebih dahulu ke dalam gudang tersebut serta memeriksa setiap sudut ruangan gudang tersebut, dibantu dengan chakra alamnya, dia berusaha untuk menyisir setiap sudut ruangan tersebut.

"Hehehe... Akhirnya kau datang juga kesini, fshu."

Naruto langsung menolehkan kepalanya kearah suara itu berasal kemudian melihat sesosok makhluk asing dengan tubuhnya yang membelakangi dirinya "Siapa kau? Dan mau apa kau datang kesini?" tanya remaja pirang itu dengan nada serius.

"Namaku Ghi Blee, aku datang kesini untuk menjemput Lala karena dia adalah calon istriku. Aku sudah memutuskannya sedari dulu," ucap makhluk hijau itu sambil membalikan tubuhnya kearah Naruto.

Jika dilihat-lihat dari sudut pandang manusia, wajah makhluk tersebut lebih mirip dengan bunglon atau iguana bahkan lebih parah dari hewan yang disebutkan tadi. Melihat ekspresi di wajahnya saja membuat Naruto ingin segera menonjok wajah itu sekuat-kuatnya dengan chakra senjutsunya, tapi dia tak mau memancing keributan di sekolah ini.

Kedua kelopak mata itu terbelalak lebar saat melihat perempuan yang dicarinya sedang dalam kondisi terikat dengan pakaian seragamnya yang sobek di bagian depannya membuat tubuhnya sedikit terekspos "Teme! Apa yang kau lakukan pada Haruna-san?" tanya Naruto dengan tensi amarahnya yang mulai naik, siapa yang tak akan marah jika temannya dilakukan seperti itu.

"Hehe... Aku hanya bermain-main saja dengan orang yang menaruh hati padamu ini, seharusnya kau melihatku bagaimana aku bermain dengannya," ucap alien bernama Ghi Blee itu dengan seringai terpasang di bibirnya menunjukan deretan gigi putihnya yang sangat runcing menambah kesan menakutkan bagi orang yang menatapnya.

Ekspresi tak suka terpancar jelas dari kedua manik yang berbeda warna itu menunjukan betapa mengerikannya kekuatan yang ada di dalam tubuh remaja pirang tersebut, aura jingga dan ungu mengguar dari dalam tubuhnya seolah ingin mengintimidasi makhluk yang ada di dalam ruangan tersebut.

"Ghi Blee, apa yang kau lakukan disini?" tanya Lala yang sudah memasuki gudang yang minim dengan pencahayaan itu, dia hanya ingin tahu apa yang dilakukan Alien dari Planet Balke itu di Planet Bumi.

"Ah... Lala-chan, akhirnya aku bisa menemukanmu, fshu," ucap Ghi Blee dengan lidah panjangnya yang terjulur keluar sesekali, sepasang manik kuning gelap itu menatap senang kearah perempuan bersurai merah muda panjang itu.

Perempuan itu sedikit terkejut saat melihat Haruna dalam kondisi pingsan dan terikat oleh sesuatu yang lembek dengan pakaiannya yang sobek "Apa yang kau lakukan pada Haruna-chan, Ghi Blee?" tanya Lala yang marah dengan apa yang dilakukan oleh makhluk hijau itu kepada teman sekelasnya.

"Kau masih tetap saja cantik walaupun sedang marah, fshu," ujar Ghi Blee yang seolah-olah mengabaikan pertanyaan dari Lala "Aku menculiknya kesini untuk bisa bertemu denganmu dan membawamu kembali pulang, karena aku tahu jika orang pirang disana ada disini maka Lala-chan juga akan ikut," jelas Ghi Blee.

"Membawaku pulang? Itu hanya dalam mimpimu, Ghi Blee," ujar Lala sambil memeletkan lidahnya berniat mengejek alien dari Planet Balke itu.

"Jika memang seperti itu, kau seolah tak memberiku pilihan lain," Ghi Blee mengerang seolah sedang merasakan kesakitan, tubuhnya perlahan-lahan membesar dengan serat-serat otot yang membesar di sebagian tubuhnya dan benda-benda runcing di bahu, punggung dan lututnya.

"Kau kira dengan memperbesar ukuranmu seperti itu, aku akan takut denganmu?" ucap Naruto dengan sakratis, aura yang dikeluarkannya perlahan-lahan mulai membesar seolah ingin mengimbangi ukuran tubuh makhluk bernama Ghi Blee itu "Aku sama sekali tak terpengaruh dengan itu," sambungnya.

Tatapan sepasang mata kuning itu semakin menajam setelah mendengar perkataan dari remaja pirang jabrik yang jaraknya hanya beberapa meter darinya "Kau punya nyali juga," Ghi Blee memperbesar kembali ukuran tubuhnya beserta dengan ototnya hingga tingginya tiga kali lebih besar dari tinggi Naruto.

"Lala, jika aku sudah berhasil mengalihkan perhatiannya, tolong bawa Haruna-san menjauh dari sini. Jangan pernah mendekatiku apapun yang terjadi. Mengerti?" perintah Naruto tanpa menolehkan kepalanya kearah lawan bicaranya, tatapannya sudah terkunci pada sasaran yang ada di depannya.

"Aku mengerti, Naruto," jawab Lala sambil menganggukan kepalanya, dia tak kuasa menolaknya jika Naruto sudah dalam mode seriusnya seperti sekarang ini.

Naruto memejamkan kedua kelopak matanya dalam waktu yang singkat "Sekarang!" ujarnya setelah kedua kelopak matanya terbuka kemudian melesat dengan kekuatan penuh kearah Ghi Blee yang terlihat terkejut dengan kemampuannya.

Buugh!

"Ohok!"

Kepalan tangan kanan milik remaja pirang itu berhasil mendarat di perut Ghi Blee sebelum memposisikan dirinya untuk bertahan, pemuda itu belum selesai dengan serangan miliknya. Naruto sedikit menyeret tubuh itu menggunakan kepalan tangannya sebelum mendorongnya kearah tembok gudang tersebut.

Swush!

Blar!

Tembok gudang tersebut tertembus oleh tubuh makhluk hijau tersebut yang terus melesat tanpa tahu kapan berhenti, sementara pemuda pirang itu mengisyaratkan pada Lala agar membawa Haruna pergi dari sini sebelum akhirnya mengikuti makhluk itu keluar melalui lubang di tembok gudang tersebut.

Debu yang bercampur partikel tanah itu berterbangan membentuk jalur lurus menuju lapangan olahraga yang kebetulan tak ada siapapun disana, pemuda itu berlari secepat mungkin kearah lapangan dan memperhatikan bayangan yang ada di balik debu yang bercampur tanah tersebut. Makhluk hijau bertubuh besar itu bisa kembali berdiri dengan kedua kakinya, padahal siapapun yang terkena pukulannya yang disertai chakra alam bisa dipastikan tak akan bisa bangun lagi.

"Kukira semua makhluk yang ada di planet ini lemah, tapi ternyata...," Ghi Blee memutar gelang bahunya hingga mengeluarkan suara karena tulangnya bergeser karena pukulan dari makhluk berambut pirang itu "...Aku belum pernah merasakan pukulan sekuat itu, fshu," ujar Ghi Blee dengan seringai yang masih tampak di wajahnya.

Naruto menghentikan laju larinya dengan jarak yang cukup jauh dari makhluk hijau itu "Aku tak akan pernah memaafkan siapapun yang berani menyakiti teman-temanku, apalagi melakukan hal seperti tadi pada Haruna-san. Ukuranmu yang sekarang tidak ada apa-apanya dengan apa yang kulawan dulu," ucapnya dengan kedua tangannya mulai merangkai segel tangan yang lumayan rumit.

Tap!

Kubah transparan melingkupi area lapangan olahraga tersebut bermaksud agar pertarungan yang terjadi antara dirinya dengan makhluk hijau itu tidak diketahui oleh semua siswa yang ada di sekolah ini, siapapun yang ada di luar kubah tersebut tak akan bisa melihat apa yang terjadi di dalam kubah tersebut.

"Ghiblee... Jadi, kau berniat mengurungku di tempat ini? Itu percuma saja, fshu."

"Aku tak mau jika dunia luar tahu tentang kita berdua dan jika kau memang ingin membawa Lala pulang ke planet asalnya, maka kau harus mengalahkanku karena keinginanmu itu akan menjadi angan-angan saja jika aku masih ada," tantang Naruto pada Ghi Blee.

Makhluk hijau itu tertawa lepas mendengar perkataan dari Naruto "Jika itu yang kau mau, bersiaplah untuk hancur berkeping-keping layaknya butiran debu yang terbawa angin," dia berusaha untuk merenggangkan semua ototnya dan melenturkan semua persendiannya, tubuh kekar nan besarnya menjadi keuntungan tersendiri baginya.

Drap!

Drap!

Drap!

Ninja pirang itu langsung memasang kuda-kudanya ketika melihat makhluk hijau itu mulai melangkahkan kaki besar menuju arahnya sampai-sampai dia juga bisa merasakan getarannya pada tanah lapang tersebut, tangan besar yang penuh dengan otot itu ditarik ke belakang mengumpulkan segenap kekuatannya disana "Terima ini!"

Swush!

Tangan itu mulai didorong ke depan dengan kekuatan penuh kearah sasarannya yaitu manusia yang masih menginjak remaja itu, dia juga ingin membalas pukulan dari manusia itu sebelumnya.

Tap!

Sret!

Iris kuning itu terbelalak lebar melihat kepalan tinjunya ditahan begitu saja oleh manusia yang ada di depannya menggunakan tangan kosongnya, dia tak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini "Kau terlalu meremehkan manusia yang ada di Bumi," ucap Naruto yang menarik tangan Ghi Blee dengan satu tangannya, sementara tangan yang lain sudah bersiap menyerang alien itu.

Buk!

"Ghok!"

Mulut makhluk hijau itu harus kembali ternganga dengan paksa setelah perutnya disikut oleh Naruto, itu memang terlihat sikutan biasa tetapi rasanya seperti bagian dalam perutnya itu hancur berantakan. Padahal pertahanan tubuhnya sudah sangat bagus bahkan melebihi kerasnya batu, tapi remaja pirang itu tetap bisa memukulnya.

Ghi Blee memundurkan tubuhnya sambil memegangi perutnya yang terasa sangat sakit karena sikutan itu "Sialan kau!" umpatnya sambil meringis kesakitan, isi perutnya memang terasa hancur.

Naruto sama sekali tak menggubris umpatan dari makhluk aneh itu, dia memilih untuk menyerang makhluk itu ketika lengah dengan menggunakan seni bela diri yang pernah diajarkan oleh Kakek Fukasaku ketika dirinya berlatih Senjutsu di Gunung Myobokuzan. Kekuatan tambahan yang diberikan oleh chakra alam dapat membantunya dalam situasi seperti ini.

Ghi Blee sendiri sudah kewalahan menghadapi serangan membabi buta dari Naruto, setiap kali dia memblokir serangan yang dilancarkan oleh Naruto pasti bagian tubuhnya yang memblokir serangan tersebut malah akan kesakitan dan membuat gerakannya perlahan-lahan melambat. Alhasil, beberapa pukulan dan tendangan bersarang di sebagian besar tubuh kekarnya itu.

"Guh!" tubuhnya kembali terdorong ke belakang setelah dia berusaha memblokir telapak kaki kanan Naruto yang berbalut sepatu berusaha menendang perutnya. Dia berlutut kelelahan, baru kali ini dirinya dibuat bertarung selama ini dalam bentuk maksimalnya oleh makhluk yang dianggapnya lemah.

"Bersiaplah untuk menerima hukuman atas tindakanmu yang menyekap Haruna-san dan melakukan hal yang tidak senonoh padanya," ucap Naruto sambil membentuk segel tangan tunggal dengan jari telunjuk dan jari tengah dari kedua tangannya saling bersilang dengan posisi vertikal dan horizontal.

Booft!

Ledakan kecil yang disertai kepulan asap tercipta disamping kanan tubuh Naruto, satu replika tubuh yang sama persis seperti remaja pirang itu menatap kearah Ghi Blee. Naruto yang asli mengulurkan tangannya kearah replika yang ada disamping kanannya, sang replika seolah sudah mengerti dan mulai memutar chakranya diatas telapak tangan kanan Naruto yang asli.

Angin berkecepatan sedang berputar di sekitar tubuh ninja pirang itu disertai bola biru yang tercipta di tangan kanannya dengan suara aneh keluar dari bola berputar itu, siapapun yang melihatnya pasti bisa memastikan jika bola itu sangat berbahaya.

Booft!

Sang replika menghilang begitu saja setelah tugasnya selesai, sisanya dia serahkan pada pemilik tubuh aslinya "Sekarang terima ini!" Naruto melesat begitu saja kearah Ghi Blee berada, dia akan mengakhiri semua ini dengan cepat.

Makhluk hijau itu terkejut bukan main setelah melihat manusia itu berlari kearahnya sambil membawa bola biru berputarnya "A-aku menyerah! Aku menyerah! Tolong ampuni aku," teriak dan pinta Ghi Blee yang sudah membenarkan posisinya berlututnya menjadi bersujud kearah Naruto yang berlari kearahnya.

Kecepatan lari Naruto perlahan-lahan melambat setelah mendengar pernyataan menyerah dari makhluk hijau besar itu kemudian berhenti tepat di depan Ghi Blee yang bersujud padanya, bola energi biru yang ada di tangan kanannya sudah menghilang "Apa kau bilang?" tanya Naruto dengan singkat.

"Aku menyerah! Aku minta maaf yang sebesar-besarnya padamu! Tolong jangan bunuh aku," Ghi Blee berteriak-teriak memohon sambil bersujud kearah remaja pirang itu, dia sudah tak tahan lagi bertarung dengan manusia di depannya ini.

Pemuda pirang itu sweatdrop seketika setelah mendengar permohonan maaf dari alien asing itu "Apa-apaan ini? Aku sudah habis-habisan melawannya, tapi dia malah mengatakan menyerah begitu saja," gumam Naruto dengan salah satu alisnya yang berkedut "Kenapa kau tidak bilang saja daritadi?! Aku tak perlu susah-susah melawanmu," teriak Naruto.

Ghi Blee mengangkat kepalanya dan menatap Naruto "Aku sudah tak bisa bertahan lagi bertarung denganmu, kukira aku bisa menang begitu saja darimu. Tapi ternyata Lala-chan memang sudah memiliki calon yang hebat untuk menjadi pendampingnya, sepertinya aku tak punya kesempatan lagi untuk memenangkan sayembara ini," jawab Ghi Blee.

Dahi pemuda pirang itu berkerut mendengar perkataan dari Ghi Blee "Sayembara? Sayembara apa maksudmu?" tanya Naruto yang penasaran.

"Gid Lucian Deviluke-sama mengadakan sayembara dan mengumumkannya kepada seluruh penjuru alam semesta bagi siapa saja yang bisa membawa Putri Sulungnya itu pulang ke Planet Deviluke maka orang itu akan dinikahkan dengan Putrinya itu, dan tentunya siapapun yang dinikahkan dengan Putri Sulung Deviluke-sama maka akan dipastikan dia akan menjadi penerus tahta dan menjadi Raja Deviluke," jelas Ghi Blee sambil bangkit berdiri dari posisi bersujudnya.

"Begitukah? Ternyata Ayahnya Lala melakukan sesuatu hal yang gila, pantas saja Putrinya kabur," gumam Naruto menanggapi penjelasan Ghi Blee, dia berpikir bahwa Lala mungkin akan merasa tertekan jika terus di planetnya.

"Alien-alien kuat yang tersebar di alam semesta sana pasti akan datang kesini dan berusaha memenangkan sayembara ini, mereka pasti akan melakukan apa saja untuk memenangkannya. Melihat kemampuanmu, aku yakin kau bisa bertahan dalam situasi ini," ujar Ghi Blee.

"Terima kasih atas informasinya, Ghi Blee. Maafkan aku juga yang sudah membuatmu babak belur seperti itu, tapi itu balasannya karena sudah berbuat yang tidak-tidak pada temanku," ucap Naruto dengan senyum kecil terukir di bibirnya.

"Bolehkah aku pergi sekarang?" tanya Ghi Blee yang sudah tidak tahan dengan rasa sakit yang mendera tubuhnya karena serangan yang dilancarkan oleh Naruto.

"Tunggu sebentar," salah satu tangan Naruto mengeluarkan aura jingga lalu terulur dan menyentuh tubuh besar Ghi Blee yang dipenuhi otot, dia berusaha memulihkan kondisi makhluk hijau itu. Lagipula Ghi Blee memang sudah menyerah total "Kau bisa pergi sekarang," jawabnya sambil melepaskan sentuhannya pada tubuh Ghi Blee.

"Terima kasih," ucap Ghi Blee dengan singkat lalu melangkahkan kakinya menjauhi Naruto, dia sudah bertekad untuk tidak kembali mengusik ketenangan Putri Sulung Raja Deviluke itu karena dia tak akan menang melawan makhluk pirang itu.

"Hmm... Selesai juga akhirnya," ujar Naruto sambil menatap kepergian Ghi Blee "Jika situasinya terus bertahan seperti ini, maka kemungkinan besar Raja Deviluke itu juga akan datang kesini dan pastinya menemuiku suatu saat nanti," sambungnya.

Mata kanannya yang sudah berubah kembali menjadi biru langit dan mata kirinya yang berwarna ungu itu menatap langit biru yang dihiasi awan putih yang ada di atasnya "Sepertinya aku dihadapkan kembali dengan masalah besar," ujarnya disertai senyuman kecil di bibirnya.

Lepas dari satu masalah, dirinya harus kembali lagi berhadapan dengan masalah. Sampai mana kehidupan rumitnya ini akan berjalan? Hanya Kami-sama saja yang sudah menentukan jalan takdirnya seperti apa.

[To Be Continued...]

Maaf kalau saya updatenya kelamaan karena habis lebaran banyak sekali kegiatan, lebih banyak sih silaturahim ke saudara.

Maaf juga jika chapter kali ini kurang memuaskan atau aneh dan sejenisnya, terkadang idenya muncul dan terkadang juga tak ada. Jadi, scenenya lompat-lompat kayak kangguru.

Saya membuat Ghi Blee agak berbeda dari canon-nya. Di canon, Ghi Blee lemah sekali, diteriakin sekali aja sudah kalah. Tapi disini saya membuatnya lebih kuat, tak akan menarik jika lawannya kalah begitu aja, walaupun pada akhirnya menyerah juga sih. Naruto juga akan mendapatkan lawan yang seimbang, mungkin kalian bisa menebak jika Konjiki no Yami dan Gid Lucian Deviluke pasti akan menjadi kandidat lawan yang seimbang untuk Naruto.

Terima kasih sudah mau meluangkan waktunya untuk membaca cerita ciptaan saya ini. Untuk cerita saya yang lain kemungkinan besar updatenya akan agak lama, jadi dimohon untuk bisa sabar.

Tolong Kritik dan Sarannya ya...