Juni 2017

Pagi yang cerah di kota Seoul. Jonghyun tersenyum kecil ke arah awan yang membumbung tinggi di langit, bersih putih tanpa noda sedikit pun. Angkasa biru luas membentang di atas kota, dan sang pemuda berusaha mengikutinya dengan bola matanya sampai di sebuah atap gedung membatasi pandangan matanya.

"Selamat Pagi Jonghyun-sshi," sang pemuda langsung berbalik begitu namanya disebut. Ia memamerkan senyumnya yang terbaik pada pengunjung pertama hari ini.

"Oh, Soojung-sshi," ia tersenyum. "Bunga matahari lagi pagi ini?" ia bertanya ramah pada pelanggan tokonya. Nona Soojung mengangguk, dan tanpa banyak bicara Jonghyun langsung masuk kedalam tokonya,

"Kak Jisung, bunga matahari!" ia memanggil satu pekerjanya, dan seorang pemuda bertubuh tinggi dengan senyum lebar yang tersungging di bibirnya menyahut cepat dan langsung mengerjakan perintah bossnya itu, Jisung menggeser satu pot bunga mawar merah ke kiri, lalu pot bunga mawar putih ke kanan dan ia temukan satu pot bunga matahari yang segar. Tak lama kemudian ia sudah hadir kembali di hadapan sang pembeli dengan rangkaian bunga dipelukannya.

"Ini bunganya Soojung-sshi," dan ia pun menyebutkan harga. Nona Soojung mengambil bungkusan bunga dari tangan Jisung setelah menyerahkan uang. "Terima kasih, selamat datang kembali!" seru Jisung riang sambil membungkukkan badan. Ia pun bergegas mendatangi Jonghyun melayani tamu yang mulai berdatangan.

Soojung menatap paket bunga. Matahari di tangannya. Bunga yang cantik dan segar. Toko ini memang tidak pernah mengecewakan pelanggannya. Toko bunga kecil yang terhimpit dua bangunan megah disampingnya. Toko bunga kecil yang berani sedikit memberi kehidupan yang alami pada kota Seoul yang modern. Apalagi sang pemilik toko terkenal tampan, ramah, dan baik hati serta pekerja keras. Sudah sulit menemukan pemuda seperti ini di Seoul. Soojung berjanji dalam hati ia akan kembali ke sini besok.

Juni 2017

"Oh my GOD! Itu Guanlin kan!?" seorang mahasiswi wanita berteriak tertahan. Teman-temannya mengangkat alis ke arahnya dan wanita itu pun menunjuk ke suatu arah dengan agresif. "Itu, itu di pojokan itu!" ia menunjuk ke sebuah meja di dekat rak buku Sejarah dunia, seorang pemuda tinggi dengan kacamata bertengger di batang hidungnya sedang membaca dengan tenang.

"OMO! Iya! Itu Guanlin! Ya ampun lucu banget sih dedek astagaa", sahut temannya histeris tertahan. Apa boleh buat, mereka sedang berada di perpustakaan kampus. "Aku benar-benar fans beratnya. Maksudku,! Ganteng, tinggi, pendiam, tapi otaknya luar biasa sampai dengan umur semuda itu sudah bisa masuk universitas ini!" cewe itu nyengir-nyengir dengan pandangan dreamy. Teman-temannya mengangguk mengiyakan.

"Silahkan saja kalian berebut si Lai Guanlin itu, aku tidak tertarik," satu wanita itu tertawa kecil melihat temannya bingung. "Kalian lupa Bae Jinyoung?"

"Ahhh!" sekelompok wanita itu histeris bersamaan. "Iya, Bae Jinyoung, yang nilainya tertinggi di jurusan kita kan? Anak dari pemilik Rumah sakit ternama di Seoul itu kan? Dia terlalu kutu buku ah! Jarang senyum, jarang ngomong, pandangannya selalu kebawah, belom pernah ngerasain nabrak tiang bendera kali tu anak," fans Guanlin tidak terima. "Tapi begitu dia senyum, aduuuuuh kalah ampu pilip seratus watt!" temannya tidak mau kalah.

Dan sekelompok wanita itu pun kembali cekikikan membicarakan dua orang dedek gemes idola di kampus mereka itu sebelum akhirnya penjaga perpustakaan menyuruh mereka untuk tenang.

Juni 2017

"Aku mau balon ituuu!" beberapa anak melompat-lompat dihadapan satu boneka berukuran manusia yang dari tadi menari-nari sambil membagikan balon. Boneka beruang besar itu mengulurkan satu balon berwarna tosca ke genggaman tangan anak itu, yang langsung berseru berterimakasih lalu kembali berlari ke orang tuanya.

"Woojin-ah, shiftmu sudah selesai, ayo istirahat dulu," seru seorang pria tua dari dalam kafe tempat ia bekerja kearah beruang besar. Yang dipanggil hanya mengangguk, melepas kostum bonekanya sambil menghela nafas.

"Pasti panas sekali di dalam situ ya, Woojin-ah," sapa pria tua tadi, menepuk pundak Woojin sambil tertawa bangga. "Yah, tidak juga. Apa boleh buat , aku menyukai pekerjaan ini," Woojin tersenyum ke arah sang pria tua yang juga bossnya itu. Orang itu tertawa lagi sambil meletakkan senampan es jeruk dan kue di samping Woojin sebagai menu istirahat siang. "Terima kasih atas kerjamu hari ini Woojin-ah."

Woojin mengangguk sambil menyeruput es jeruknya dengan cepat.

Juni 2017

"HYUUUNGGG!" beberapa anak kecil berlarian dan semuanya berusaha memeluk melompat ke gendongan salah satu pemuda dengan apron warna biru yang membuka lebar tangannya untuk menyambut anak-anak kecil yang hiperaktif itu dan sukses terjengkang ke belakang karenanya.

Temannya yang berapron pink berdiri berkacak pinggang disampingnya sambil tertawa kecil.

"Graaawww.. aku bukan Daniel hyuuung.. graaw.. aku adalah Raksasa!" sang pemuda menggerakkan kedua tangan disamping wajahnya dengan gerakan mencengkram sambil menggeram-geram lucu. Anak-anak itu tertawa melihatnya sambil pura-pura ketakutan dan berlarian ke sana kemari.

"Seongwoo hyung!" satu anak melompat ke gendongan pemuda berapron pink yang langsung sigap merengkuhnya. "Ya Seonho ah?"

"Selamatkan kami dari Raksasa~~!" ia mengenggam erat leher Seongwoo. Sang pemuda tertawa. Ia mengambil pedang mainan yang tergeletak di lantai dan menyerahkan satu ke Seonho, menunjuk ke arah pemuda lain yang masih asyik mengejar anak-anak sambil menggeram-geram. "Ayo, kita serang Daniel hyung! Kita selamatkan kelas Matahari!"

Seonho pun bersorak sambil mengangkat pedangnya dan bersama Seongwoo mereka mulai menyerang sang Raksasa. Beberapa wanita paruh baya tertawa melihat adegan yang menggemaskan tersebut.

"Sepertinya anak-anak sangat menyukai dua orang itu," satu wanita tua berkacamata berucap sambil tersenyum. Seorang wanita lagi disebelahnya hanya mengangguk. "Jarang sekali ada anak seusia mereka yang mau menjadi relawan di Taman Kanak-kanak seperti ini. mereka benar-benar pemuda yang baik. Anak-anak bisa membedakan mana orang yang baik dan tidak. Mereka sangat senang mendapat dua orang hyung yang hyper seperti itu."

Juni 2017

"Hey, bagaimana dengan café ini?" seru Yoojung sambil menarik dua temannya yang lain, menunjuk ke sebuah café di pinggir jalan. Tangan mereka penuh dengan tas hasil belanja dan sekarang mereka sedang mencari tempat beristirahat.

"Oh, WannaOne café? Ayo kita kesana, aku sering mendengar tentang café ini dari teman-temanku, mereka sangat merekomendasikan tempat ini!" sahut Somi sambil menyeret kedua temannya masuk ke dalam café. Tempatnya memang nyaman, ruangan yang didominasi warna biru dengan taman kecil dan air mancur dibagian luar. Suara yang merdu mengalun lembut dari panggung kecil di tengah ruangan, dimana seorang pemuda tinggi yang mengingatkan mereka pada seekor rubah, sedang memainkan sebuah piano. Seorang pelayan yang sangat manis terlihat sedang melayani beberapa wanita umur 30an dengan dandanan yang wow yang duduk melingkari beberapa meja yang digabung menjadi satu, sepertinya sedang ada acara khusus. Mereka terlihat beberapa kali tertawa, menambah ramainya café tersebut.

"Daehwi!" Somi berteriak ke salah satu waiter yang melewati mereka. Yang dipanggil langsung tersenyum melihat siapa yang memanggil. "Somi! Kalian disini!"

"Dia teman kampusku," seru Somi pada Yoojung dan Mina disampingnya yang langsung mengulurkan tangan pada Daehwi. Mereka pun memberitahukan pesanan mereka pada Daehwi yang langsung menyampaikannya pada seseorang berapron putih di counter.

"Sungwoon hyung, pesanan untuk meja 5!" teriak Daehwi dan Sungwoon pun mengangguk dan melangkah masuk ke dapur.

"Sepertinya aku akan kesini lagi, tempat ini benar-benar cozy," ucap Mina sambil menikmati makanan mereka. "Makanannya enak, tempatnya nyaman, dan waiternya imut." Somi dan Yoojung tertawa sependapat dengan Mina. "Kalian lihat pelayan tadi?" tambah Mina bersuara, "Eh eh dia mendekat!" Pemuda yang sebelumnya melayani wanita-wanita paruh baya tadi berjalan melewati meja Somi dkk. Pemuda itu tersenyum sangat manis pada mereka bertiga, sambil menunduk sopan. Name tagnya tertulis nama, Park Jihoon. Ia kemudian menghilang di balik counter. "Ya ampuuun manis sekaliii deeeeek nuna lemah imaaaaan," Mina meremas-remas tangannya gemas. Yoojung mengangguk, dagunya yang tertopang di tanganya naik turun, sambil menatap ke arah perginya pemuda itu dengan pandangan terpana. "Aku juga pasti datang lagi, aku jatuh cinta dengan permainan piano dan suara penyanyi disini," Yoojung turut berkomentar sambil mengangkat jempolnya. "Aku sering melihat dia tampil di Panti Jompo, ternyata dia juga main disini?" Somi mengangguk. "Seperti yang kubilang kan? Tempat ini special!"

Juni 2017

"Selamat Tuan Muda Hwang Minhyun, lagi-lagi anda memenangkan tender yang besar!"

Pemuda tinggi bersuara lembut yang disebut namanya itu hanya tersenyum pada pria-pria tua berjas yang menatap kagum ke arahnya. Ia tersenyum hingga mata rubahnya tinggal segaris, "Ah, tidak seberapa Jaesook-sshi. Aku hanya beruntung." Orang-orang disekitarnya tertawa mendengar ucapannya itu. "Ah, ayahmu pasti bangga sekali padamu ya, di usia yang muda seperti ini kau sudah mahir sekali berbisnis, kau masih kuliah kan? Mereka pasti sangat senang. Rasanya pesta ini pantas sekali untuk diadakan untuk merayakan keberhasilanmu." Minhyun lagi-lagi hanya tersenyum sopan mendengar pujian yang diarahkan padanya itu. "Terima kasih Juri-sshi, aku sangat tersanjung. Silahkan menikmati malam ini saudara-saudara sekalian." Ia membungkuk sopan. Orang-orang disekitarnya tertawa, satu diantara mereka mengangkat gelas winenya tinggi. "Mari bersulang untuk kesuksesan Hwang corp!"

"Oh, Dongho-sshi!" Minhyun berteriak ke arah seseorang yang baru datang. Orang-orang disekitarnya terkejut. "Kau mengenal kepala Polisi Seoul?" Tanya satu dari mereka. Minhyun tersenyum. "Ya, aku pernah bertemu dengannya berkat suatu kasus. "Anda sangat beruntung Minhyun-sshi, Dongho terkenal merupakan polisi teladan dan hebat." Dongho yang mendengar hal itu hanya menepuk pundak orang yang memujinya dengan keras. "Jangan terlalu memuji Wonbin-sshi, itu sudah merupakan kenyataan!" dan orang-orang pun tertawa mendengarnya.

Tiba-tiba Dongho menyadari sesuatu, matanya melirik ke arah penyanyi yang mengisi acara di atas panggung, "Bukankah dia artis terkenal Kim Jaehwan? Kau hebat sekali Minhyun-sshi bisa membuatnya mau bernyanyi di acaramu seperti ini. bayaran dia tidak mungkin murah kan?"

"Bisa saja kau Dongho," Minhyun tersenyum, saat orang-orang disekitarnya mengangguk sependapat dengan Dongho. Orang bernama Minhyun ini memang terlalu sempurna bahkan saat ia mengadakan sebuah pesta pun sempurna.

"Wah, benar-benar Minhyun-sshi, rasanya tidak ada ruginya kenal dengan orang sehebat anda."

Dan lagi-lagi Minhyun hanya tersenyum mendengarnya.

Little did they know…