Part 2
April 2017
Jinyoung memasukkan password ke mesin pengaman dan pintu pun terbuka. Ia memasuki ruangan tempat penyimpanan bahan kimia berbahaya dan mulai memeriksa rak-rak yang memenuhi ruangan, mengambil beberapa botol yang dipesan kepadanya, memasukkan ke dalam ranselnya. "Hmmm, KCL sudah, CO2 sudah, apa tidak ada yang lebih ampuh? Mungkin aku harus mulai rutin masuk lagi ke lab dan membuat yang baru," ia menggumam-gumam sendiri diantara rak-rak dipenuhi botol-botol yang berisi bahan-bahan berbahaya itu. Tak berapa lama ia akhirnya keluar dari ruangan itu.
Begitu sampai basement Rumah Sakit, Jinyoung mengeluarkan telepon genggamnya dan memencet satu nomer. "Hyung, temui aku di markas, aku membawa barang yang biasa, Oke, sampai ketemu."
—-
April 2017
"Oh, Jihoon ah, kau sudah datang, ayo silahkan masuk, aku sudah menyiapkan makanan," perempuan umur 30an itu memeluk Jihoon sesaat lalu langsung menyeret tamunya itu ke ruang makan.
"Terima kasih Nyonya Park atas undangannya," Jihoon memamerkan senyum innocentnya yang langsung membuat Nyonya park mencubit pipi pemuda itu karena gemas. "Omoo you're so cuuute! Ayo silahkan dimakan hidangannya!" Jihoon mengangguk cepat dan mulai makan dengan antusias. Nyonya Park menontonnya makan selama beberapa saat, kemudian ia mendesah panjang. "Haaah, kau benar-benar mengingatkanku saat suamiku masih muda…." Tiba tiba ia tersentak, lalu tersenyum, "Oh iya, aku punya sesuatu untukmu," ia meninggalkan makanannya dan masuk menuju kamar. Tak lama kemudian ia keluar lagi membawa sebuah kotak besar. Jihoon menerimanya dengan pandangan berbinar.
"Nyonya Park, ini kan…?"
Wanita tua itu hanya tersenyum, sambil mengunyah makan malamnya yang tertunda. "Ya Jihoon-ah, itu adalah jas terbaik yang baru saja diluncurkan oleh Gu…akhhhh"
Mulut wanita itu berbusa, matanya membelalak. Dan tak lama, ia tersungkur ke atas makanan yang ia buat sendiri, membuat hidangan tercecer kemana-mana. Jihoon menatap adegan tersebut masih sambil tersenyum, tidak ada perubahan pada ekspresinya. Ia membereskan piringnya lalu menyeka meja dan kursi dengan lap. Ia melempar pandangan sekali lagi kepada tubuh yang teronggok di atas meja makan itu. Ia berjalan mendekat dan menunduk di samping wanita itu. "Jinyoung selalu memberikan takaran yang pas ya, dan memilihkan racun yang sangat mumpuni, " Jihoon menggumam pada dirinya sendiri. "Mungkin sebaiknya aku berhenti mencubiti pipinya untuk membuat wajah datarnya tertawa, sebelum dia kesal kemudian memakai racun ini padaku…."Jihoon bergidik.
"Hyung"
"Iya dedeek?" Jihoon tertawa ketika ia mendengar dengusan kesal di in ear yang terpasang di satu telinganya.
"Hyung, waktumu 30 menit lagi sampai maintenance kamera pengintai di area gedung itu selesai, cepat selesaikan tugasmu hyung,"
Ah iya, batin Jihoon. Dia punya batas waktu. Ia berjalan menjauhi meja makan dan berjalan memasuki kamar tidur. Jihoon membuka beberapa lemari dan tidak menemukan dokumen yang ia cari. Sampai akhirnya ia menemukan sebuah brankas besi dalam lemari pakaian utama. Ia mengarahkan kancing bajunya yang paling atas ke arah brankas tersebut, "Guanlinnie, aku menemukan brankas, tapi pakai password nih,"
Jihoon mendengar suara ketikan cepat dari earphonenya selama beberapa saat, baru kemudian Guanlin membalas, "Password biasanya angka yang mudah diingat hyung. Tanggal lahir jelas bukan. Tanggal pernikahan… hmm pasangan suami istri ini tidak dekat jadi tidak mungkin… wait, coba ini hyung, tanggal lahir anak satu-satunya keluarga Park, 081101"
Jihoon menekan angka tersebut pada tombol yang ada dan, klek! Terbuka! Dengan cepat ia mengambil tumpukan kertas yang ada didalamnya dan mulai memeriksa isinya.
"Bukan ini, ini bukan, wait ada surat talak? Lah si tante rupanya udah di talak? Pantesan main ama brondong?!"
"Hyung fokus hyung."
"Ah dapat! Desain rumah keluarga Kim yang baru saja di renovasi! Wow, lengkap dengan posisi guardnya. Ada CD juga di dalamnya Lin, sepertinya softcopy dari desain rumah tersebut. Jackpot!"
—-
Maret 2017
"Wow, noona, kau tidak perlu repot-repot membawaku ke kantormu seperti ini. Bukankah tempat ini tak seharusnya dimasuki oleh orang asing sepertiku?" Minhyun mengitari meja besar mahogany dalam ruangan, lalu duduk di pinggirnya, mengarahkan pandangan ke wanita berpakaian minim dan bermake up tebal di depannya yang kini membawa dua gelas wine di tangannya. Ia menyerahkan satu gelas ke Minhyun, dan satu untuk dirinya sendiri. Minhyun menarik tangan wanita itu dan keduanya pun bertemu dalam satu ciuman yang panas.
"Tunggu, aku punya hadiah untukmu," Minhyun menghentikan ciuman mereka, dan meraih sesuatu dari dalam kantong celananya. Ia mengeluarkan sebuah kotak kecil, membukanya di hadapan Tiffany. "Kalung? Minhyun-sshi, kau tidak perlu repot-repot," Tiffany tertawa kecil. Minhyun hanya tersenyum, "Sini, aku pasangkan," ia mengisyaratkan Tiffany untuk berputar. Ia mengalungkan untaian rantai emas putih itu di leher sang wanita yang masih tersenyum kegirangan.
"Ergh, Minhyun-sshi, apa ini, ergh, tidak terlalu erat?" Tiffany perlahan merasakan jalan udaranya mulai terhambat. Tapi ketika untaian kalung itu justru semakin erat mengikat lehernya ia menjadi panik, tangannya berusaha melepaskan kalung itu dengan mencakar-cakar tapi tidak berhasil. Tak berapa lama akhirnya tubuhnya menjadi lemas dan tak lagi bergerak.
Sebuah ketukan dari pintu terdengar, dan pintu yang awalnya terkunci terbuka dengan mudah. Seorang pemuda berbadan besar dengan rambut berwarna terang memasuki ruangan sambil memegang pistol berperedam di tangannya. Ia tertawa kencang melihat kondisi Minhyun.
"YA AMPUN HYUNG KENAPA KAYA KEPITING BEGITU"
Minhyun yang wajahnya merah padam mendengus kesal ke arah pemuda yang datang. Bibirnya belepotan lipstick warna merah, mau tak mau Kang Daniel tertawa melihatnya.
"Pakai bertanya lagi, aku kan bukan kamu yang lempeng aja sosor sana sini," Minhyun memperlihatkan ekspresi campuran sebal dan malu. Daniel mengambil sapu tangan dari kantong kemejanya dan mengusap bibir Minhyun pelan, Minhyun tersenyum lucu ke arahnya membuat Daniel gemas dan mencubit pipi tersangka.
"Ya hyung makanya cari pacar, masa yang nikmatin ciumanmu Cuma korbanmu aja,"
Minhyun mendengus kesal mendengar ucapan temannya itu. "Sudah, ayo fokus dengan misi kita." Pemuda tinggi itu kemudian menyalakan laptop di ruangan kerja tersebut dan memasukkan password. Kemudian ia mengetik ke keyboard beberapa kali dengan dibantu Jinyoung yang memberikan instruksi melalui in ear yang mereka selalu pakai saat melakukan misi.
"Gotcha," ia tersenyum ketika akhirnya mendapatkan apa yang dia cari. Susunan lengkap organisasi underground yang sedang menguasai pasar human trafficking di Korea. "What the actual fuck, lihat ini Daniel ah," Daniel mendekat ke arah laptop, "kurasa hasil investigasi kepolisian sebenarnya tidak meleset, tapi masih jauuh sekali dari target," Minhyun menggelengkan kepala pelan. "Dan lihat orang ini, lalu orang ini," Minhyun menunjuk ke layar, "Mereka punya nama baik dan pengaruh di dunia bisnis di Korea, akan lebih sulit untuk bisa menahan mereka tanpa membuat keributan". Daniel mengendikkan bahunya. "Well, itu PR Dongho hyung dan timnya, kita fokus saja dulu dengan target kita sekarang hyung, lihat, " Daniel menunjuk lagi ke layar, "Kepala keluarga Kim adalah salah satu penyokong dana besar di aktivitas mereka." Daniel melirik ke Minhyun sambil nyengir, dengan pandangan mata nakal. "Kalau kita sukses menyingkirkan Kim botak ini, apa menurutmu Dongho membolehkan kita mengambil sebagian hartanya? Kalau aku tidak salah ingat, bukannya Kim memiliki pulau pribadi di Jeju?"
Minhyun menoyor kepala Daniel pelan. "Sudah sudah, ayo fokus," ia kemudian mengeluarkan flash disk dari kantong kemejanya dan mengopy data yang ia butuhkan. Setelah selesai, Daniel menyemprot benda-benda yang mereka sentuh dengan semprotan khusus yang dapat menghilangkan bekas sidik jari, menendang meja hingga terbalik sehingga laptopnya pun terbanting dan mati. Minhyun menyempatkan diri melihat sekali lagi ke arah mayat yang terbaring dilantai.
"Dia kau apakan sih hyung, sampai mau membawamu ke kantor pribadi suaminya dengan mudah," Daniel tiba-tiba bertanya. Hwang Minhyun mengendikkan bahu, mengambil sesuatu dari jemari korbannya. Cincin perak yang sangat cantik. Ia memasangnya di salah satu jarinya. "Sepertinya wanita ini memang sedang kesepian, aku hanya beberapa kali bertemu dengannya di pesta yang diadakan ayah, lalu beberapa kali chat personal, and bam! Tiba – tiba diajak kesini. Bahkan ini terlalu cepat dari timeline yang diberi Jonghyun," Minhyun tertawa. "Aku juga awalnya bingung, tumben sekali Jonghyun menyuruhku jenis pekerjaan seperti ini, biasanya kalau tidak kau, ya Seongwoo yang lebih jago main dengan perempuan," Daniel tergelak mendengarnya, "Hyung aku anggap itu pujian ya,". "Dan kurasa, sepertinya kali ini Jonghyun ingin memanjakan kau dan Seongwoo, karena di misi sebelumnya…." Minhyun tidak berhasil melanjutkan kata-katanya. Daniel menarik tangan Minhyun, membuat pria tinggi itu menoleh ke arahnya. "Hyung jangan diingat lagi, lihat, aku disini, baik – baik saja."
Minhyun tersenyum dengan ekspresi sedih. "Ya, dan aku sangat bersyukur akan hal itu, Kang Daniel."
—
1 Juni 2017
Bunyi berdentum terdengar keras dari dalam sebuah mobil Outlander Sport berwarna hitam yang sedang parkir di bawah pohon besar. Malam itu bulan sedang sangat terang sehingga mobil tersebut tersembunyi dibalik baying-bayang pohon yang terkena sinar rembulan. Sesekali mobil tersebut bergoyang.
"Yah, Park Woojin, musikmu keras sekali!?"
Woojin tidak mengindahkan teguran dari rekannya, dan asik bergoyang di balik kemudi mobil tersebut. Popping, locking, kakinya beberapa kali terpentok pedal rem saking hebohnya ia bergerak.
"Yah Park Woojin, tugasku selesai, segera siap-siap, sebentar lagi mereka akan menyadari rekan mereka terbunuh!"
""Iya iya hyung iya, santaiii…" Woojin mengurangi volume music dalam mobil dan menekan starter mobil tersebut. Tak lama, ia melihat hyungnya dengan senapan panjang hitam tersandar di punggungnya, melompat turun dari tangga darurat dan berjalan mendekati mobil. Setelah pria tersebut masuk, mobil langsung meluncur menjauhi lokasi yang jarang kendaraan tersebut, dan masuk ke sebuah jalan besar.
Woojin mendelik melihat pemuda yang duduk di sampingnya menekan tombol lanjut di IPOD yang terpasang di mobil dan mengganti lagu dance ke lagu dengan genre ballad. Pria tersebut kemudian menyanyi dengan kencang mengikuti lirik lagu tersebut.
Jaehwan merengut di balik kemudi. " YAH JAEHWAN HYUNG, KENAPA MALAH DIGANTI BALLAD SIH ELAAH"
"Telingaku sakit dengar aliran music tidak jelasmu Woojin ah,"
"YA TAPI AKU KALO NYETIR HARUS DENGER LAGU YG NGEBEAT BIAR FOKUSSS" Woojin merengut, logat Busannya keluar.
"Denger suaraku aja dek, bakal lebih fokus," Jaehwan kemudian tertawa keras
"ANJIR JAEHWAN KALO MAU KETAWA KASI PERINGATAN DULU KEK"
Jaehwan tertawa lebih keras mendengar suara protes dari earphonenya. Tak lama terdengar suara bosnya menimpali.
"Sabar Guanlin sabar, EH HEADSETNYA JANGAN DIBANTING."
Jaehwan tertawa lagi membayangkan bosnya berusaha menenangkan maknae mereka yang gampang marah itu.
"Jaehwan? Woojin? Kami tunggu kalian di persimpangan dekat hutan utara ya, bereskan perlengkapan kalian,"
"Siap bos!" sahut Jaehwan. Ia kemudian mengambil senapan laras panjangnya dari jok belakang dan mengambil lap bersih dari dashboard mobil.
"Sayangku Mary… terima kasih hari ini ya.." ia tersenyum pada senapannya. Woojin bergidik ngeri. "Hyung, Mary siapanya Jane hyung?"
"Mainan baru yang dibuatkan Daehwi khusus untukku seorang," jawab Jaehwan tida nyambung, "Elena dan Esmeralda ku istirahatkan dulu di gudang," Jaehwan mengelus senapan tersebut dengan pipi tembemnya. Ia sedang asyik-asyik pacaran dengan si senapan, tiba tubuhnya terdorong ke depan dan mencium dashboard.
"MAKANYA SEATBELTNYA DIPAKE HYUNG PINTERR"
"YHA KAMU NGAPAIN BELOK MENDADAK BOCAH"
"Lihat kebelakang," Woojin memutar kembali kemudinya dan masuk ke jalur padat. "Ada yang berhasil mengikuti kita,"
Jaehwan langsung menoleh, dan misuh. Ia kemudian memeriksa GPS. Mereka tengah melewati high way yang cukup panjang.
"Jin, di depan kita putar arah, secepatnya kita ke seberang, lalu seperti biasa, kau jaga kecepatanmu jangan sampai berubah,"
Woojin tidak menjawab tapi langsung menginjak pedal gas lebih dalam. Mereka berputar dengan kecepatan tinggi, Woojing mengarahkan mobil mereka dengan gesit melewati pemakai jalan yang lain.
Sampai di high way, Jaehwan membuka kaca jendela mobil, dan mengarahkan ujung senapannya ke seberang jalan, ke arah satu mobil yang mengejar mereka itu. Jaehwan menekan pelatuk Mary.
Tak lama mobil yang mengikuti mereka oleng dan menabrak pagar pembatas.
—-
1 Juni 2017
"Baik, terima kasih Dongho hyung, kami mohon kerjasamanya seperti biasa,," Jonghyun tertawa ke arah teleponnya. Ia kemudian menutup telepon dan mendekati Jinyoung yang sedang menghadapi laptopnya yang memperlihatkan layar hitam dengan gambar versi 3 dimensi berwarna warni. "Jaehwan sudah menyelesaikan target terakhir. Jaringan kamera pengintai istana Kim botak sudah kita retas, alarm yang terpasang juga sudah di amankan oleh Daehwi," Jonghyun menggumam sambil menatap layar tersebut. Jinyoung menoleh ke arah bosnya yang terdiam cukup lama.
"Hyung masih memikirkan itu ya,"
Jonhyun tersentak dari pikirannya mendengar suara Jinyoung, kemudian ia tersenyum, "iya Jinyoung ah, aku masih memikirkan kemungkinan terburuk. Sangat tidak wajar rumah dengan pengamanan tinggi seperti itu, memiliki area yang tidak tercover oleh kamera pengintai. Sungwoon juga tidak bisa memberikan informasi karena jalan menuju area tersebut dijaga ketat. Aku tidak bisa memperkirakan alasannya Jinyoung ah."
"Ku rasa kita tidak perlu terlalu khawatir hyung, hyung bilang bangunan tersebut punya banyak jendela kan? Dengan kaca yang tidak anti peluru. Kalaupun terjadi sesuatu di ruangan itu, Jaehwan dan Jisung hyung akan mengcovernya." Komentar Jinyoung, iya memutar kursi kerjanya, dan menatap bosnya, "Kami percaya denganmu, hyung."
