15 Juni 2017

Jisung sedang menarik pintu besi toko bunga menutup saat ia melihat duo Ongniel berjalan ke arahnya dari kejauhan.

"Hyuuung!" Seongwoo berteriak dari jauh, berlari diikuti Daniel di belakangnya. "Ayo cepat masuk," Jisung menendang kedua orang itu masuk ke dalam ruangan. Setelah menggembok pintu toko, Jisung masuk ke dalam, mengikuti langkah teman-temannya menuju ruangan kecil terletak di sudut dengan tangga melingkar ke bawah. Ia menuruni tangga dan akhirnya ia pun disambut oleh beberapa orang yang sudah duduk menanti disana.

"Minhyun sudah masuk?" Jonghyun berdiri disamping seseorang yang sedang menghadapi banyak layar monitor dan sibuk berkutat dengan beberapa keyboard. Ia terlihat mendengarkan sesuatu di earphone-nya, lalu menjawab, "Yup, Minhyun sudah masuk. Ia sedang menuju kantor utama." Ia menyenggol seseorang disampingnya yang juga sibuk dengan keyboard dan monitor, "Jinyoung, bagaimana dengan Sungwoon hyung?"

"Sungwoon hyung juga sudah memberikan isyarat untuk segera masuk," jawab Jinyoung masih berkonsentrasi dengan monitor. Jonghyun mengangguk. "Bagus, lalu Jaehwan?"

Kali ini Guanlin yang menjawab. "Ia sudah bersiaga di lokasi hyung," Guanlin kemudian tertawa kecil. "Dari tadi ia ribut di earphone jadi aku mute dia sebentar,"

Tiba-tiba Jinyoung tertawa, "Jaehwan hyung baru saja bicara padaku, katanya ia tidak apa-apa selama ia masih ditemani Mary dan Jane." Jonghyun memutar mata mendengar hal itu. Ia melirik ke belakang. "Jisung, kau juga cepat bersiap." Yang dipanggil mengangguk, ia menggotong senapan panjangnya dan melangkah ke luar. Ia harus mendampingi pekerjaan Jaehwan. Jika biasanya mereka tinggal menyiapkan sandaran untuk senapan, khusus kali ini mereka malah menyiapkan banyak tali temali. Istana Kim botak terletak di area yang cukup terpencil, tidak ada bangunan yang lebih tinggi yang dapat mereka gunakan untuk menngawasi dari jauh. Karena itu mereka memanfaatkan beberapa pohon yang cukup tinggi, sejajar dengan bangunan. Untuk menaikinya, mereka dibantu mobil maintenance perusahaan listrik yang dilengkapi alat angkat crane.

"Mana Seongwoo dan Daniel?" Tanya Jonghyun lagi, dan seolah menjawabnya Daniel keluar dari sebuah ruangan belakang, "Kami siap hyung! Coba liat mainan baru kami yang disiapkan Daehwi," ia mengangkat dua buah pistol berperedam keluaran terbaru. "Kami tidak sabar!" sahut Seongwoo dari belakangnya. Woojin mengikuti mereka keluar dari balik ruang gudang sambil cemberut. "Aku masih tidak mengerti kenapa aku harus baby sitiing dua orang hyung hyper begini, biasanya juga mereka bisa menjaga diri sendiri kan hyung," gerutunya. Jonghyun tersenyum ke arahnya. Daehwi membuntutinya sambil tertawa. " Maksud Woojin dia sangat berterima kasih karena diberi kesempatan jadi eksekutor lagi setelah sekian lama jadi driver, Jonghyun hyung," Woojin menggetok kepala Daehwi yang menertawainya dengan gagang pistol yang ia pegang. Daehwi melotot sambil memegangi kepalanya, "Yah hyung! Jangan menciderai otak jeniusku ini! Siapa lagi yang akan merangkaikan senjata kalian kalau tak ada aku!" Woojin menjulurkan lidahnya, "Masih ada Sungwoon hyung, weeee, lagian aku bukan driver, I'M A ROAD MONSTERRR"

"Sudah, sudah," potong Jonghyun. "Cepat, kalian ke lokasi, Minhyun tidak akan bisa mengalihkan perhatian Kim botak lebih lama dari rencana kita."

Mereka pun bersiap-siap dengan cepat dan bergerak meninggalkan ruangan. Jonghyun mengalihkan pandangan ke sudut lain ruangan tersebut dan menggeleng kepala. Jihoon sedang duduk di sofa ruangan sambil memainkan handphonenya. Menyadari pandangan ke arahnya, Jihoon menghentikan permainan lalu mendongak. "Apa hyung? Bagianku sudah selesai kan?" Jonghyun hanya menghela nafas kecil sambil tersenyum. Pandangannya kembali ke layar monitor bersama Daehwi yang sudah duduk di samping Jinyoung.

"Hyung cemas?" Jihoon bertanya sambil masih memainkan handphonenya. "Percayakan saja pada mereka seperti biasa hyung.."

"Yah, tetap saja," Jonghyun mendesah, "Apapun bisa terjadi," gumamnya lagi sambil mengigit bibir.

—-

Sungwoon menyeka darah yang menempel di tangannya ke apron putih yang ia pakai, kemudian menutup pintu kloset dimana ia menyembunyikan mayat penjaga rumah tersebut. Ia kontan menyunggingkan senyum saat melihat sebuah mobil tak dikenal di depan gerbang, ia menekan tombol membuka gerbang dan mereka pun masuk.

"Tak ada jalan masuk yang paling baik selain pintu utama," Sungwoon tertawa kecil. Ia berkacak pinggang, "Hmm seluruh penghuni rumah sudah tenang oleh obat tidur yang kumasukkan ke makanan, penjaga di gerbang sudah ku lumpuhkan," ia melirik ke arah bangunan besar tempat ia tinggal 2 minggu ini sebagai koki utama, "Tapi masih banyak penjaga lain berjaga di gedung utama, mereka harus bisa menyelesaikan ini sesuai waktu yang diberikan oleh Jonghyun hyung," Sungwoon mendesah. "Sepertinya lagi-lagi hari ini menang mudah."

—–

"Jadi Tuan Kim, bagaimana dengan tawaran kerja sama ini?" Minhyun tersenyum dari tempat ia duduk ke arah Direktur Kim yang duduk dengan dahi berkerut di mejanya. Disampingnya berdiri dua orang tua yang tampak sibuk memberinya nasihat-nasihat dan pendapat tentang dokumen di tangannya.

"Sebentar Tuan Hwang, ada beberapa hal yang tidak saya mengerti dalam tawaran kontrak ini," Direktur Kim tersenyum ke arah Minhyun yang hanya menjawabnya sambil tertawa, "Tanyakan saja, Direktur Kim, kita punya banyak waktu sepanjang malam ini bukan?"

Daniel, Seongwoo dan Woojin memasang kaca mata infra red mereka, dan terlihat banyak garis berwarna hijau menyala menyilang ke berbagai arah di seantero ruangan besar itu, menyentuhkan sedikit saja, alarm keamanan akan berbunyi. Tapi trio itu sudah biasa menghadapi alarm model begini.

Woojin mengambil langkah pertama dengan melompat berputar melangkahi salah satu garis. Daniel mengikutinya dengan melakukan sliding rendah lalu backsplit dan mendarat dengan aman di antara dua buah garis. Ia melirik ke kanan, dan sepertinya sudah ada beberapa penjaga yang menyadari kehadiran mereka. Daniel menarik pistol di pinggangnya dengan satu tangan, dan sambil melompat melepaskan tembakan tanpa suara ke satu arah. Woojin sigap berbaring dengan punggungnya dan menembak ke satu arah, lalu kembali bangkit berdiri dengan back split. Seongwoo melakukan pivot ke kiri dengan sigap saat ia merasakan satu tembakan dilepaskan kearahnya, lalu dengan cepat pula ia jungkir balik ke kiri menghindari sinar hijau yang lain.

"Wow, kalian tak pernah tidak membuatku kagum, kalian terlihat seperti menari." Seongwoo tertawa kecil mendengar suara di earphone yang ia pakai. "We ARE dancing, Jinyoung ah," gumamnya menjawab. Ia melompat dan melakukan hand stand diatas meja kayu besar, melompat dua kali di udara dan mendarat tepat di ujung semua garis-garis hijau berhenti. Woojin menangkap kedua tangan Daniel dan membantunya melompati sebuah kursi dan garis hijau yang cukup tinggi. Daniel mendarat di samping Seongwoo, Woojin menyusul disampingnya. Mereka pun melakukan high five.

"Yang menjaga hanya segini? Aish, tidak seru," Daniel mendecak. Woojin mengangkat bahu. "Kita segera menuju ruang utama tempat Minhyun berada, Guanlin, Jinyoung tunjukkan jalan kami," desisnya pada mic mini di pakaiannya. Mereka segera berlari melewati hall panjang menuju tangga ke atas.

"Kalian sedang melewati ruang makan, ruang baca, dan ruang pertemuan, ruang utama Direktur berada di lantai tiga. Sampai disini masih mudah hyung, di lantai dua nanti kalian harus ekstra hati-hati karena disana ada penghuninya, jangan sampai membuat mereka terbangun. Ingat ingat kembali map yang sudah kalian baca. Jumlah penjaga disana juga lebih banyak, tapi harus kalian lumpuhkan tanpa suara, oke hyung!?"

"Roger!," sahut ketiganya bersamaan. Sampai ke lantai dua mereka langsung berpencar, setiap ada penjaga memergoki mereka langsung ditaklukan dengan mudah dan tanpa suara. Seongwoo mengendap dibelakang satu orang penjaga, menyiapkan pisau lipatnya dan sreeeettt! Darah menyemburat dari leher penjaga itu seketika. Seongwoo tertawa kecil menatap pisau lipatnya yang kini terselimuti warna merah.

"Seongwoo, ayo cepat," Daniel menusukkan pisau tepat ke dada lawannya dan mencabutnya dengan cepat hingga darah menyemburat hingga wajahnya. Daniel menyeka wajahnya dengan lengan bajunya, "Guanlin bilang Minhyun mulai terdesak, sepertinya Kim botak mulai curiga bahwa kontrak itu hanya pengalihan."

Seongwoo mengangguk, mereka bergerak cepat seperti ninja di kegelapan ruangan.

Beberapa langkah sebelum mencapai tangga ke dua, tiba-tiba seorang wanita berjalan dihadapan mereka masih dengan piyama, mengusap wajah dengan ekspresi ngantuk. "Penjagaaa… ada telepon dari kantor ayah…" ia menyalakan lampu hall, dan serta merta melihat langsung ketiga pria yang terpaku di tempat.

Teriakan keras pun terdengar membelah malam yang sunyi itu. Alarm pun berbunyi nyaring. Woojin dengan sigap membekap mulut wanita itu, menekan dengan keras pada suatu titik dibelakang leher wanita itu sehingga ia pun lemas dan tersungkur. Derap langkah kaki mengisyaratkan banyak penjaga yang menuju kesana. Prang! Praangg! Terdengar bunyi kaca pecah dan geram kesakitan. Ketiga pria dalam ruangan itu menahan senyum, mereka hampir lupa kalau mereka punya pelindung Jisung dan Jaehwan di luar bangunan.

Tanpa banyak bicara mereka berlari cepat menuju tangga, sambil melepaskan tembakan dengan akurat ke penjaga-penjaga yang mendekat. Dengan gesit mereka menghindari peluru yang diluncurkan ke arah mereka dan menaiki tangga menuju ruang utama direktur. Dor! Terdengar suara tembakan dari lantai 3. Minhyun berada dalam bahaya sekarang, jelas sekali. Ketiga pria berbaju hitam tersebut akhirnya memasuki ruangan terakhir sebelum ruangan direktur, ruangan tanpa kamera pengawas. Seongwoo mendengar bunyi bunyi keyboard ditekan dengan panic diseberang jalur earphone mereka. "Akhhh!" tiba-tiba Daniel tersungkur di lantai, kakinya mengeluarkan darah. Rasa sakit yang sangat kuat menjalar dengan cepat dari lukanya. "Daniel ah!" "Hyung!" Woojin dan Seongwoo histeris, tapi kemudian mereka menyusul tersungkur ke lantai, Seongwoo memegangi pahanya dan Woojin memegangi lengannya. Beberapa vas bunga dalam ruangan pecah berantakan.

Hyung! Bahaya! Aku mendeteksi adanya mesin-mesin otomatis yang mengeluarkan peluru di ruangan itu. Kemungkinan itulah alasan kenapa Kim botak tidak repot-repot memasang kamera disana!" Mereka mendengar teriakan histeris Jinyoung dari earphone mereka dan suara-suara ketikan keyboard terdengar samar sebagai background.

Seongwoo menggigit bibir, tersenyum. "Ini baru seru," ia nyengir kecil. Ia berusaha bangkit dan menarik kedua temannya dengan sekuat tenaga. Mereka bertiga kembali melangkah dan peluru-peluru itu kembali menyerang mereka dari berbagai arah. "Mereka mendeteksi gerakan," desis Woojin, ia mempercayakan pada instingnya dan bergerak dengan lebih cepat diikuti beberapa split di udara yang tampak dengan mudah ia lakukan meskipun satu tangannya terluka. Peluru-peluru melesat ke arahnya namun tidak ada yang berhasil mengenai tubuh Woojin. Dari mereka bertiga, Woojin memang yang paling gesit dan cepat. Sampai di tempat aman Woojin mengitarkan pandangannya ke sekitar dan menembaki mesin-mesin itu satu persatu. Daniel yang mulai terkejar para penjaga sibuk menembak ke arah belakang dan Seongwoo pun harus memapahnya agar ia bisa bergerak.

Saat mereka berdua sampai di ruang direktur, mereka menemukan Woojin berdiri diam di depan pintu ruangan direktur Kim. "Woojin ah kenapa berhen…."

Mereka melongok ke dalam ruangan, dan disana Minhyun tersenyum ke arah mereka, kedua tangannya dipegangi erat dibelakang, dalam posisi berlutut. dan beberapa pistol diarahkan tepat ke kepalanya. Darah mengalir dari pelipis Minhyun. Bibirnya pucat. Woojin terbelalak melihat darah menyebar dengan cepat dari perut Hwang Minhyun dan menetes kemana-mana. Direktur Kim tampak sangat murka.

"Daniel Seongwoo Woojin tenang, pelurunya tidak kena bagian vital," bisik Minhyun kepada mic di bajunya agar didengar oleh semua rekannya.

Ketiga pemuda yang baru datang meneguk ludah bersamaan. Mereka memasuki ruangan dengan perlahan, sementara seluruh senjata di ruangan kini diarahkan pada mereka.

"Tuan Hwang Minhyun, apa maksud semua ini?" geram Direktur Kim. Ia membanting dokumen kontrak ke meja. "Apa yang sebenarnya kau inginkan Tuan Hwang!?"

Minhyun mengangkat bahu tidak menjawab.

"Lemparkan senjata kalian! Angkat tangan!" Ketiganya saling berpandangan, dan melempar senjata yang mereka bawa ke lantai lalu mengangkat tangan ke belakang kepala. Tapi tanpa diketahui siapapun di ruangan itu, baik Woojin, Daniel, Seongwoo, dan juga Minhyun sedang menyimak aba-aba dari earphone mereka.

"3…2…1!"

Tiba-tiba kaca jendela di ruangan tersebut pecah berurutan dan beberapa penjaga tumbang ke lantai. Daniel, Seongwoo dan Woojin langsung dengan sigap meraih senjata mereka masing-masing dari lantai dan menyerang penjaga disekitar ruangan.

Minhyun menarik penjaga yang memegangi tangannya yang terikat hingga mereka tersungkur ke depan. Ia menangkap pistol yang dilemparkan ke arahnya dan menembak penjaga itu tepat di kepala. Ia berusaha berdiri untuk membantu teman-temannya tapii kemudian gerakannya terhenti, ia merasakan sakit yang amat sangat di dadanya. Ia menoleh ke belakang dan menemukan Direktur Kim mengarahkan pistol ke arahnya. Tubuh Minhyun langsung ambruk ke belakang dan ia pun tak sadarkan diri.