Minhyun terbangun dengan rasa sakit di kepalanya, sekujur tubuhnya, dan keributan di sekitarnya.

Dadanya terasa sangat sakit.

Ia membuka mata perlahan, menyesuaikan dengan cahaya. Dimana ia sekarang? Ah, tak perlu ia memeriksa sekitar, ia sudah tau mereka sedang berada di mana. Mereka selalu berkumpul disini setiap menyelesaikan misi. Lampu-lampu warna-warni dari jembatan terpantulkan oleh aliran Sungai Han di hadapannya.

Ia baru sadar tangannya tidak bebas, keduanya digenggam dengan sangat erat ia hampir tak bisa merasakan aliran darah mengalir ke sana.

"Minhyun ah,"

Minhyun menoleh ke arah suara dan bertemu mata dengan Jonghyun.

Minhyun tersenyum.

"Aku kembali, Jonghyun ah."

Jonghyun terdiam lama, tak membalas ucapannya, hanya memandang mata Minhyun. Bola mata Jonghyun kemudian bergerak, memandang perban di kepala, dada, dan perut Minhyun.

"Tapi kau hampir tidak kembali, Min."

Minhyun membalas genggaman erat Jonhyun di tangannya, berusaha meyakinkan Jonghyun bahwa ia baik-baik saja.

"Daniel, Seongwoo dan Woojin bagaimana?," tanya Minhyun. Jonghyun menunjuk ke arah tepian sungai Han. "Jinyoung melakukan operasi kecil kepada mereka, dan sekarang mereka sudah membuat keributan seperti biasa." Daniel tampak duduk di atas kursi, dengan kaki diperban, tertawa terbahak bahak ke arah perkelahian kecil Woojin dan Jaehwan yang dikompori Seongwoo. Seongwoo juga terlihat memakai perban di pahanya, tapi ia bisa bergerak lincah kesana kemari. Di samping mereka terlihat Jisung dan Sungwoon sibuk dengan panggangan; Daehwi, Jihoon, Jinyoung dan Guanlin asik bermain kembang api.

"Lalu misinya? Sukses kan?"

Jonghyun mengangguk. "Kim telah berhasil kita singkirkan sesuai rencana. Dongho tetap datang ke lokasi sesuai laporan yang masuk ke kantor kepolisian, namun seperti biasa, ia datang dan membereskannya untuk kita." Minhyun tersenyum mendengarnya. "Oh iya, keadaanmu parah sekali Minhyun ah, kata Jinyoung kau harus dirawat di rumah sakit minimal 2 minggu. Jadi Dongho sudah mengaturkan kecelakaan lalu lintas untukmu, mungkin sekarang beritanya sudah ditayangkan di tv nasional," tambah Jonghyun.

Mata Minhyun kembali kepada Jonghyun, tapi temannya itu tertunduk.

"Sebelumnya Daniel, Seongwoo. Sekarang kau…," Jonghyun menggumam lirih, "Apa ini peringatan untuk kita segera berhenti, Min?"

Minhyun menarik pelan tangan Jonghyun agar temannya itu kembali bertemu pandangan dengannya. "Ssssh, Jonghyun. Kau yang paling tau kalau kita tidak bisa berhenti di sini, tidak disini, tidak sekarang. Kau tidak kasihan dengan anak-anak?" Jonghyun terlihat akan memotong kata-katanya, namun Minhyun bersuara lebih cepat, "Ini semua bukan salahmu Jonghyun, bukan kesalahan pada rencanamu. Target kita semakin lama semakin besar, semakin sulit. Semakin tidak terduga. Tidak mungkin kita selalu bisa melewatinya dengan mudah. Tapi ini artinya kita tidak stagnan, kita semakin dekat dengan tujuan kita."

Minhyun menatap tajam kedua mata Jonghyun, berusaha meyakinkan teman dekatnya itu.

"Minhyun ah! Jonghyun ah! Ayo kesini, kita bersulang!" Jisung melambaikan botol champagne ke arah mereka, mendistraksi, mencairkan suasana. Ah, pikir Minhyun, ia mendongak dan melihat ke arah langit. Sebentar lagi matahari akan terbit. Dan sebentar lagi mereka harus kembali ke kehidupan mereka yang lain. Guanlin berjalan mendekat, lalu tanpa basa basi menggendong Minhyun dari tempatnya berbaring.

"AW AW AW GUANLIN PELAN PELAN INI AKU CIDERA WOY"

Jinyoung tersenyum ke arah mereka. "Pelan-pelan Guanlin ah, memang peluru-peluru dalam tubuh Minhyun sudah aku keluarkan dan operasinya berhasil, tapi hyung masih lemah dan jahitannya rentan terbuka. Setelah ini hyung masih harus dirawat intensif di rumah sakit untuk mengembalikan kondisinya. Jadi jangan kasar-kasar."

Guanlin melembutkan cengkramannya, Minhyun tertawa dan mengusrak rambut maknae team mereka ini.

Si maknae meletakkan Minhyun ke sebuah kursi dekat dengan anak-anak yang sedang bermain kembang api. Jihoon mendekat dan memberikan satu gelas jus buah kepadanya. Jonghyun melempar pandangannya ke rekan-rekannya yang kini bergerak mengelilinginya. Ia tersenyum.

"Terima kasih atas hari ini, guys," ia mengangkat gelas champagne nya. Yang lain mengikuti gerakannya dan meminum isi gelas yang mereka pegang. Jaehwan terlihat mengangkat beberapa lembar kertas ke atas. "Siapa mau tiket Solo konser Kim Jaehwan yang terbaru?!" Yang lain hanya menatapnya terdiam. Jaehwan menghentakkan kakinya sambil cemberut. "Ok fine kalian gitu ya!?"

Jisung tertawa dan mengambil satu tiket dari tangan Jaehwan. "Ya ampun hwaaan kita bercanda kali, mana mungkin kita menolak tiket Solois terkenal kita Kim Jaehwan!" Woojin mengambil semua tiket di tangan Jaehwan dan membagikannya ke yang lain. "Guest starnya siapa Jae?" Daniel menyenggol pinggang Jaehwan. "Hmmmm ada IU, Heize, 10 cm, ada Soyou juga, eh iya sama Sewoon,"

Daniel dan Seongwu langsung menempel ke Jaehwan. "IU?! KITA PASTI DATENG!"

Yang lain tertawa melihat dua orang dengan tubuh besar itu menenggelamkan Jaehwan dalam pelukan mereka.

"Eoh? No. Seatku terpisah dari Jinyoung?" Guanlin menatap tiketnya dan Jihoon yang ia pegang. Jaehwan mengangguk. "Aku memang sudah mengatur seat numbernya agar kalian terpencar, seperti biasa," Jaehwan tersenyum datar. Yang lain hanya terdiam mendengarnya. Di dunia mereka yang lain, mereka tidak saling kenal, mereka tidak pernah bertemu, mereka tidak dekat; hanya Jonghyun dan Jisung si tukang bunga, Woojin si mahasiswa yang bersembunyi di balik kostum untuk menghibur orang, Jinyoung dan Guanlin mahasiswa jenius di jurusannya masing-masing, Sungwoon, Jihoon, Daehwi pengurus cafe yang tidak diketahui backgroundnya, Minhyun pewaris perusahaan multinasional, serta Seongwoo dan Daniel yang selalu berganti-ganti peran.

Daehwi memeluk Jisung erat, hyung kesayangannya itu hanya mengelus rambutnya pelan. Jinyoung, Jihoon dan Guanlin saling bertatapan dan menghela nafas berat. Sungwoon mencebik dan memeluk Minhyun dari belakang. Woojin mencubit pipi Jaehwan sambil manyun sementara Seongwoo dan Daniel mencubit pipi dan hidung Minhyun juga sambil cemberut.

"Aku gak bisa nafas Daniel!" Minhyun teriak, suasana yang muram berubah kembali menjadi ringan dan mereka tertawa.

Jonghyun menatap teman-temannya masih sambil tertawa. "Jangan khawatir teman-teman, aku sudah menerima target berikutnya dari Dongho."

Kompak mereka menatap Jonghyun dengan mata berbinar-binar.

"BENAR?!"

Jonghyun tersenyum. "Berikan waktu padaku untuk merancangnya, kita akan bertemu lagi secepatnya."

—-

17 Juni 2017

Pagi yang cerah di kota Seoul. Jonghyun tersenyum kecil ke arah awan yang membumbung tinggi di langit, bersih putih tanpa noda sedikit pun. Angkasa biru luas membentang di atas kota, dan sang pemuda berusaha mengikutinya dengan bola matanya sampai di batas atap gedung yang mengakhiri pandangan matanya. Dari layar televisi sebagai satu-satunya sumber suara di ruangan itu sedang menayangkan channel berita. Terlihat seorang polisi tua memperlihatkan kertas putih bertuliskan 101 yang katanya ditemukan ditempat kejadian.

"Selamat Pagi Jonghyun-sshi," sang pemuda langsung berbalik begitu namanya disebut. Ia memamerkan senyumnya yang terbaik pada pengunjung pertama hari ini.

"Oh, pelanggan pertama ya, seperti biasa, Soojung-sshi," ia tersenyum. "Bunga matahari lagi pagi ini?" ia bertanya ramah pada pelanggan tokonya. Nona Soojung mengangguk, dan tanpa banyak bicara Jonghyun langsung masuk kedalam tokonya,

"Ah, kau juga sedang menonton berita ya Jonghyun-sshi. Mengerikan sekali ya kasus Tuan Kim. Mengerikan sekali kelompok 101 itu, mereka tanpa ragu-ragu membunuh banyak orang hanya untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan," nona Soojung bergidik. "Kerja mereka juga sangat rapi, rekaman kamera pengawas terhapus, tidak ada sisa sidik jari bahkan darah yang ditemukan hanya darah korban. Penghuni rumah di buat tertidur. Benar-benar licin!" Soojung mengacungkan jarinya ke hadapan sang pemilik toko bunga, "Hati-hatilah Jonghyun-sshi, orang baik sepertimu biasanya menjadi incaran penjahat, pastikan pintu terkunci setiap malam. kami pelangganmu akan sedih kalau sampai kau kenapa-napa," seru nona Soojung perhatian. Jonghyun hanya tersenyum mendengarnya.

"Terima kasih nona Soojung, tapi apa yang kau lihat di luar belum tentu sebuah kebenaran."

Nona Soojung menatap Jonghyun dengan ekspresi bingung mendengarkan jawaban yang ia dapat. Jonghyun bertemu pandang dengan Jisung, kembali tersenyum, lalu menghampiri pelanggan lain yang mulai berdatangan.

THE END