Title: The Break Roses
Rating: M
Main character: France
Characters: Roma-jiisan, fem!Romano, Spain, England, America, Prussia
Pairing: actually this is will being France x all
.
.
Arthur berjalan dilorong gedung dengan membawa buku-bukunya mencari kelas untuk pelajaran berikutnya. Pelajaran berikutnya adalah Kimia dan semua murid harus pindah ke laboratorium. Ia berjalan sendirian tanpa teman. Hal itu sudah biasa dalam kehidupannya. Ia jarang mempunyai teman akrab, hanya adiknya, Alice Kirkland tempat ia berkeluh kesah dan Francis-lah yang selama ini menerima keadaannya walau mereka adalah rival sejak dulu. Ia tidak pernah mempedulikan omongan orang-orang tentang kesendiriannya.
Dalam perjalanannya menuju kelas berikutnya, dari kejauhan ia melihat Alfred, orang yang dikenalnya sedang berbicara dengan seseorang. Ia sangat penasaran sehingga ia berusaha untuk mendekati mereka untuk mendengarkan pembicaraan mereka.
"Kemaren aku melihat Francis Bonnefoy pergi ke sebuah hotel dengan gadis cantik" ucap pria berkacamata dan berambut blonde yang bernama Alfred kepada lawan bicaranya.
"Eh? Serius? Wah, Francis sudah tidak bisa dipercaya, lelaki busuk itu" ucap lawan bicaranya tampak ketakutan.
Mereka seakan menggosipkan Francis disaat orangnya tidak ada. Arthur mendengar kalimat tersebut dan menahan emosinya kepada Alfred. Ia tetap mendengarkan pembicaraan mereka sampai mereka pergi meninggalkan Alfred. Arthur sudah tidak peduli dengan kelas berikutnya, iapun segera menghampiri Alfred dan menahannya.
"Alfred!" panggilnya. Alfred melihat kearahnya dan tersenyum ceria.
"Arthur?!" ucapnya senang melihat Arthur didepan matanya. "Kenapa kamu ada disini?"
Arthur tidak dapat membendung amarahnya pada Alfred dan segeralah ia mendaratkan kepalan tangannya ke wajah polos Alfred. Alfred tersentak kaget saat mengetahui Arthur memukulnya hingga terjatuh.
"Aw, apa yang kau lakukan, Arthur?" ia tampak bingung dan melihat Arthur dengan wajah imutnya.
"Apa yang kau lakukan? Kau menyebar gossip tentang Francis keorang-orang?!" bentak Arthur kecewa kepadanya. Ia begitu kesal mendengar Alfred melakukan hal ini dibalik semuanya. "Kenapa kau lakukan hal itu, Al?"
Alfred terdiam dan memandang ke arah lain. Ia tidak mau mengucapkan sepatah katapun. Arthur kembali ingin menamparnya. Namun tangannya terhenti saat Alfred berucap.
"Karena kau tidak pernah memandangku!" ucapnya sebal. "Kau selalu memandang Francis!"
Arthur terdiam tersentak kaget mendengar kalimat tersebut dari mulut adik kelasnya yang ia kenal sejak kecil. ia berusaha menenangkan dirinya dan bertanya baik-baik pada Alfred.
"Apa maksudmu?" tanyanya dengan nada sedikit tenang. "Siapa yang menyuruhmu melakukan ini?"
Alfred terdiam tidak mau mengatakannya. Ia melihat kearah lain berusaha untuk mencari topik lain agar tidak ketahuan.
"ALFRED!" bentak Arthur geram. Alfred terhenyak dan ia menunduk sedih.
"Kepala sekolah memintaku untuk menyebarkan gossip tentang Francis" ucapnya sedikit rilih ketakutan.
"Kenapa kau lakukan itu, Al?!"
"Itu karena kamu, Art! Karena kamu tidak pernah berpaling padaku!" Alfred membentak Arthur. "Kau selalu melihat Francis dan selalu peduli padanya, tapi kau tidak peduli padaku"
Arthur terdiam kaget mendengarnya.
"Betapa aku sayang padamu, Art! Kau tidak pernah memandangku dan selalu menganggapku bocah menyebalkan yang selalu mengganggumu"
"—"
"Aku memanfaatkan momen ini! Kupikir apabila aku membuat gossip itu, kau akan berpaling darinya dan memandangku! Aku menerima tawaran kepala sekolah karena aku benci Francis!" ucapnya rilih. "aku mencintaimu Art!"
Arthur terdiam dan wajahnya memerah padam mendengar pernyataan cinta dari Alfred. Ia terdiam dan tak dapat berpikir. Ia tak dapat menjawab pernyataannya. Ini begitu tiba-tiba. Ia tidak bisa menjawabnya.
"Maaf Al, aku—" ucapan Arthur terpotong. Alfred mengkecup bibirnya yang lembut itu dengan paksa. Ia sudah tidak peduli apakah ada yang melihat mereka atau tidak.
"Lihatlah aku Arthur! Jangan kau lihat orang yang tidak pernha melihatmu! Francis tidak akan pernah melihatmu, Art! Tidak akan pernah karena ia mencintai Lovina!"
Arthur terdiam dan menatap Alfred pucat. Ia tidak bisa membalas kalimat Alfred dan ia berlari tanpa arah meninggalkan Alfred. Dari kejauhan, Alice melihat kejadian tersebut. Ia berdiri menatap mereka dari kejauhan. Ia tahu bahwa semua dibalik gossip ini adalah Alfred yang melakukan hal kotor demi mendapatkan kakaknya, dan iapun tahu bahwa Francis menyukai Lovina Vargas, bahkan ia tahu bahwa sebenarnya kakaknyapun menyukai Alfred diam-diam.
.
.
Xxx
Berhari-hari hidup neraka ini kujalani. Tidak terasa sebentar lagi kelulusan, aku mengharapkan kelulusan tersebut dan penderitaan ini berakhir disaat itu juga. Aku harus bersabar menghadapi semuanya walau sakit hatiku menerima semuanya. Namun, perasaan gundahku selalu kucurahkan kepada Arthur. Tanpa Arthur, mungkin sekarang aku sudah tidak mungkin pergi ke sekolah seperti ini. Tanpa Arthur, mungkin aku sudah menggantungkan diriku di atas pohon. Bebanku sedikit berkurang dengan adanya Arthur disisiku menemaniku. Aku sangat berterimakasih padanya. Ia adalah rival terbaikku.
Aku berjalan masuk ke kelasku dan mendapatkan Antonio dan Gilbert tertawa bersama. Kulihat wajah Antonio begitu cerah dan ceria. Gilbert mengusap-usap kepalanya dan ia tampak malu. Aku berjalan mendekatinya.
"Yo, Francis" ucap Gilbert yang melihatku. "Kau tahu, ada kabar gembira"
"Apa itu?" tanyaku ikut tersenyum mendengarnya.
"Cowok ini habis menyatakan perasaannya kepada seseorang dan diterima" ucap Gilbert serasa mengelus-elus kepala Antonio. Aku turut bahagia kalau Antonio bahagia. Bagaimana tidak? Teman seperjuanganku akhirnya bisa mendapatkan gadis kesayangannya.
"Wah, selamat dong!" ucapku seraya mengusap-usap kepalanya. Wajahnya tampak malu dan bahagia. Ia terlihat bersinar dimataku. "Jadi siapa gadis yang jadi pacarmu, Toni?"
"Ah, itu—" ucapnya malu-malu dan tersenyum bahagia. "Lovina Vargas"
Aku tersentak kaget dan terdiam seribu bahasa. Tubuhku terasa kelu dan hatiku sakit mendengar nama Lovina dari mulut Antonio. Pikirku pun melayang dan ku mencoba untuk berpikir positif bahwa aku salah mendengar nama seseorang, namun tidak bisa karena telingaku dengan jelas mendengar nama Lovina. Aku memucat pasi antara senang dan sedih. Aku tidak tahu aku harus bagaimana dan melakukan apa. Gadis yang selama ini kusuka diambil oleh temanku sendiri yang tidak pernah tahu bahwa aku menyukainya. Gadis yang selama ini aku korbankan diriku untuknya kini menjadi milik orang lain. Aku terdiam rasanya pahit sekali bibirku tersenyum. Aku tidak bisa tersenyum secara wajar. Hatiku hancur. Terbesit dipikiranku tak ada gunanya usahaku bersabar menghadapi neraka ini untuk mendapatkannya. Tapi aku tidak ingin merebutnya dari temanku. Aku kacau, sangat kacau. Aku bingung harus bagaimana.
"—kau dengar Francis?" tanya Gilbert tersenyum. Aku terhenyak dan kucoba tersenyum kepadanya.
"—Ya? Ah, ya" ucapku mencoba untuk berusaha bersikap normal dan lagi aku membohongi diriku lagi.
Aku begitu payah. Aku tidak tahu bahwa temanku menyukai Lovina juga. Aku tidak tahu apakah aku harus mendukungnya atau menghentikannya, rasanya ingin sekali aku berteriak menghentikannya, namun disisi lain, aku tidak ingin merusak hubungan mereka. Aku merasa sedih namun airmataku tidak bisa keluar. Aku berpikir dan berpikir.
Aku berpikir untuk menyerah dan membiarkan mereka bersama. Namun disisi lain aku berpikir bahwa aku menginginkan hasil dari pengorbananku. Aku bingung, aku linglung, aku tidak tahu harus bagaimana? Semua sudah terlanjur berjalan. Aku mulai pasrah dengan semuanya. Aku tidak bisa mengatakan semua ini kepada Antonio. Mengingat wajahnya yang ceria itu, aku tidak bisa merusaknya. Aku tidak ingin persahabatan kita rusak karena hal ini. Tapi untuk apa aku berkorban selama ini?
Aku terdiam memikirkan semuanya sehingga tidak ada satupun pelajaran masuk kedalam otakku. Aku kecewa namun aku tidak bisa mengatakannya. Aku berusaha untuk menerima semuanya tanpa keberatan. Aku tidak ingin kehilangan persahabatanku dengan Antonio dan Gilbert.
.
.
.
Kuputuskan. Kuputuskan untuk mundur, demi sahabatku. Demi kebahagiaan sahabatku dan Lovina. Aku rela diperlakukan seperti sampah walau hal itu tidak membuahkan hasil. Aku akan mengatakan masalah ini pada Roma, agar menyelesaikan ujiannya padaku. Aku memutuskan untuk menyerah menggapai Lovina.
Aku masuk ke sebuah lift yang terbuka dengan membawa dua kuntum mawar merah yang kurawat baik-baik. Aku berniat untuk mengucapkan selamat kepada Lovina atas jadiannya dengan Antonio, sahabatku. Aku turut bahagia apabila ia bahagia. Untukku, kebahagiaan sahabatku diatas segalanya dibanding pengorbananku. Aku segera naik ke dalam lift tersebut. saat pintu lift akan tertutup, sebuah tangan muncul sehingga membuatku memencet tombol buka pintu lift. Kulihat wajah familiar didepan mataku berusaha masuk kedalam lift tersebut. orang yang ingin kutemui saat itu juga. Wajahnya yang anggun layaknya bunga dandelion itu menatapku.
"Ah, terimakasih, Bonnefoy" ucapnya dengan wajah juteknya dan lift tersebut mulai tertutup. Kami terdiam seribu bahasa namun aku berusaha untuk mengucapkannya.
Dengan segera bunga mawar tersebut kuberi kepadanya yang berdiri disebelahku dan kulihat dirinya menatap bunga tersebut dengan bingung. Aku tersenyum kecil.
"Selamat atas jadianmu dengan Antonio" ucapku dengan nada yang berat, namun aku berusaha untuk merelakannya. Ia tersentak dan wajahnya menjadi merah maroon.
"Kau tahu?"
Aku terdiam sejenak lalu tersenyum kecil mengatakan "Sebenarnya aku selalu menyukaimu tapi, semoga kamu berbahagia dengannya. Ia orang yang baik"
Ia terdiam dan menerima mawar dariku. Wajahnya yang jutek itu memerah padam dan menatapku dengan imutnya. Aku tersenyum dan keluar dari lift tersebut saat lift tersebut sampai ketempat tujuannya. Aku memutuskan untuk menyerah dan mengatakannya ke Roma setelah ini. Aku berjalan keruangan Roma dan saat ingin kuketuk pintu tersebut, aku mendengar suara Arthur didalam ruangan bersama dengan Roma.
"Ini semua sudah menjelaskan bukti bahwa engkaulah orang dibalik semua ini, Roma!" ucap Arthur dengan nada dingin. Ia tampak memberikan sesuatu bukti kepada Roma.
"Aku tidak mengerti, Kirkland" jawab Roma dengan nada suara yang seakan dibuat. "Kau menuduhku telah menyakiti Francis dengan bukti yang aneh ini?"
"sudahlah jangan mengelak lagi, Roma! Aku tahu dibalik semua ini" ucap Arthur. "Kau mencintai Francis, bukan?"
Aku tersentak mendengar ucapan Arthur dan tidak ada jawaban dari Roma sekalipun.
"Kau mencintai Francis dan tidak ingin Francis memiliki cucumu dan melakukan semua ini kepadanya untuk mendapatkan dirinya"
"—Apa yang kau katakan? Aku benar-benar akan menikahkan mereka setelah ia menjalani ujian dariku—" suara Roma terhenti dan terdengar gugup.
"Jauh-jauh dari Francis! Jangan pernah dekati Francis lagi!" ucap Arthur dengan nada suara yang lancang. Aku bergidik mendengarnya dan hanya terdiam. "Jangan pernah kau sentuh ia seujung jaripun! Atau aku akan menutup sekolahan ini dengan paksa!"
Arthur kemudian keluar ruangan dengan mata yang tajam seakan singa menerkam mangsanya. Ia tersentak mendapatku didepan ruangan. Kutatap wajahnya lalu wajah Roma yang terlihat bergeming menatapnya.
"Francis?! Ayo Francis, keluar dari sini!" ucap Arthur menarik tanganku menjauh dari ruangannya. Aku tampak tidak percaya dengan semua ini. Aku tidak pernah tahu bahwa Roma mencintaiku sehingga membuatku demikian menderita. Kenapa ia tidak memberitahuku dan malah membuatku menderita? Aku hanya terdiam mengikuti Arthur yang menuntunku jauh-jauh dari ruangan tersebut. aku sudah tidak tahu apa yang harus kulakukan. Apa aku harus membalas cinta Roma atau bahkan menghindarinya?
To Be Continue...
Editnya kelamaan astajim wkwkwk xDD.. sorry all, aku ribet.. hampir mau tulis desu setiap akhir kalimat.. syukur inget klo ini bukan bahasa Jepang wkwkwk xDD
