Title: The Break Roses

Rating: M

Main character: France

Characters: Roma-jiisan, fem!Romano, Spain, England, America, Prussia

Pairing: actually this is will being France x all

.

.

Sejak hari dimana Arthur mengancam Roma, tidak pernah lagi Roma datang kekamarku untuk memperkosaku dan tidak ada lagi gossip terbaru tentang keburukanku. Namun tetap saja nasi yang sudah menjadi bubur tidak akan kembali lagi menjadi nasi. Teman-teman hingga satu sekolah tetap memandangku jijik seperti diriku adalah kuman disekolah ini.

Hari kelulusanpun tiba. Aku berpikir kini saatnya memulai kehidupan baru, dimana aku meninggalkan masa laluku yang buruk digedung ini. Aku akan meninggalkan gedung ini. Selamat tinggal hidup kelamku, begitu pikirku. Aku akan bisa bernafas lega setelah sekian lama.

"Sebentar lagi pesta perpisahan akan dimulai" ucap Gilbert. "kau pasti datang, kan, Francis?"

Aku tersenyum dan mengangguk. "Ya, aku akan datang"

"Kami akan melindungimu apabila ada yang menjahatimu di pesta, Francis" ucap Antonio merangkul pundakku.

Aku hanya bisa tersenyum. Semenjak Antonio berpacaran dengan Lovina, ia selalu membawa Lovina dimanapun ia berada dan itu membuatku selalu menghindari mereka. Sejujurnya aku masih mencintai Lovina dan tidak bisa melupakan perasaanku padanya. Itulah alasanku menghindari mereka. Namun aku tidak bisa begitu selalu. Aku akan menghadapi semuanya. Aku harus bisa menerima kenyataan ini.

"Aku akan memakai baju yang kemaren kubeli kesesese" ucap Gilbert terkekeh bahagia.

"Baju yang kau beli itu? Kau yakin? Itu terlalu nyentrik" ucapku tersenyum.

"Baju itu bagus dan akan membuat aku terlihat awesome" jawabnya.

Kami tertawa bertiga dan kemudian berjalan kearah asrama. Kami ingin bersiap-siap untuk pesta perpisahan malam ini dan berpisah ditengah dan pergi kekamar masing-masing. Saat kubuka pintu kamarku, aku tampak tersentak melihat Roma duduk diatas sofa merahku. Aku terdiam dan tanpa sengaja menjatuhkan tasku. Wajahku pucat dan tubuhku gemetaran teringat kejadian yang selama ini ia lakukan terhadapku.

"Oh, take it easy, Fran" ucapnya tersenyum padaku. Senyuman penuh makna tersirat diwajahnya. "Aku tidak akan menyentuhmu, jujur"

Aku tetap terdiam memicingkan mataku padanya tanda tidak percaya "Mau apa kau?"

Ia tersenyum dan lalu berdiri dari sofa merahku. "Aku hanya ingin bicara padamu tentang cucuku, Lovina"

Aku terdiam mendengarkannya.

"Sesuai janjiku, Frannie, kau telah lulus menghadapi ujian dariku tanpa memberitahu siapapun, uh, kecuali Arthur" ia melihatku tersenyum. "Aku akan menikahkan kau dengan Lovina, cucuku"

Aku terhenyak dan kaget mendengar kalimatnya. "—Tapi Lovina sudah mempunyai pacar dan itu adalah sahabatku!"

"Oh Frannie, aku tahu hal itu. Tapi kau tahu apa yang Lovina katakan padaku?" lanjutnya. "Ia bilang padaku bahwa sebenarnya ia mencintaimu dan menginginkanmu. Aku begitu kaget mendengar ucapannya"

Aku terdiam tidak percaya bahwa Lovina juga mencintaiku? Apakah aku bermimpi? Tapi bolehkah aku mengharapkan kalimat itu?

"Kau akan melanjutkan usaha ibumu kan? Aku mempercayaimu dibanding temanmu itu. Setelah lulus dari sini, kau akan mendapatkan perusahaan ibumu dan masa depanmu terjamin untuk cucuku. Aku ingin cucuku bahagia mendapatkan suami yang bisa menghidupinya dan mencintainya" lanjut Roma. "Aku berharap padamu, kita akan mengadakan pesta pernikahan ini secepat mungkin"

Ia berlalu dengan wajah tersenyum yang biasa. Aku tidak dapat mempercayainya. Benarkah Lovina mengatakan hal itu? Aku tidak pernah sadar bahwa ia juga mencintaiku. Tapi ia sudah menjadi milik Antonio. Aku harus bagaimana? Aku tidak mengerti. Apabila Lovina mencintaiku, kenapa ia memilih Antonio dan tidak putus dengannya? Roma, tolong jelaskan padaku!

.

.

Pesta perpisahanpun akhirnya tiba dan aku juga Gilbert dan Antonio memakai baju baru kita. Kami tertawa bertiga dan mengambil makanan bersama-sama. Aku merasa bahagia, sangat bahagia tapi aku tidak dapat mengungkapkannya karena aku masih tidak percaya dengan semua ini.

"Bersulang, Francis" ucap Antonio sambil menaikan gelasnya ke atas dan diikuti Gilbert. "Mulai hari ini kita mungkin sudah akan jarang bertemu karena kita akan sibuk dengan kehidupan kita. Kuharap kita masih tetap bisa bersahabat selamanya"

Kunaikan gelasku dan kami bersulang dan bersorak bersama "Demi sahabat"

Kami meminum air dari gelas kami dan tertawa bersama-sama. Aku melihat Arthur dan Alice berduaan dari kejauhan dan tersenyum kepada mereka dari kejauhan.

"Bagaimana hubunganmu dengan cucu kepala sekolah itu, Antonio?" ucap Gilbert tiba-tiba sehingga membuat jantungku terhenti, kaget.

"Kami baik-baik saja, ia selalu cetus padaku" ucap Antonio tersenyum paksa kepada kami. "Tapi dia itu bagaikan bunga Lotus yang merekah. Ucapan-ucapan ketusnya itu membuatku ingin memeluknya"

Aku tersenyum kecil dan mengiyakan kalimat terakhirnya. Aku begitu mengerti perasaan itu. Akupun juga ingin sekali memeluknya yang begitu manis saat ia sedang mengomel. Dia begitu aanggun, karena itu aku mencintainya sepenuh hatiku.

"Ah, dia datang" ucap Gilbert melihat kearah Lovina.

Lovina memakai baby doll dress berwarna hijau limau yang indah membuat mataku terpanah menatapnya tanpa berkedip sedetikpun.

"Wow, kau cantik sekali Lovina" ucap Gilbert menghentikan keheningan suasana antara aku dan Antonio. Dan kami ikut memujinya hingga membuat wajahnya memerah padam dan berteriak kepada kami karena malu. Kami tertawa melihat keimutannya.

"Ah, kau ingin makan, Lovina? Kuambilkan ya" ucap Antonio dan berlalu untuk mengambilkannya makanan.

"Ah, aku ikut untuk mengambil minum" ucap Gilbert.

Dan kini tinggallah kami berdua dan kami terdiam seribu bahasa. Aku bingung untuk memulai kalimatku. Apakah aku harus bertanya tentang ucapannya kepada kakeknya tentangku, ataukah aku harus bertanya tentang mengapa ia masih bersama Antonio. Suasana kami disitu terasa canggung, ia bahkan seakan malu-malu untuk melihatku.

"—tentang perasaanmu kepadaku, Francis" tiba-tiba ia mengatakan kalimat pertamanya padaku dengan suara yang bergetar dan canggung. "—Te—terimakasih pernah mencintaiku"

Aku tercengang kulihat senyuman di wajahnya yang memerah padam melihat kearahku. Wajah yang ingin sekali kupeluk. Manis sekali, sangat manis. Wajahku ikutan memerah melihatnya. Seketika sejenak aku mempercayai ucapan Roma. Aku mencintai gadis ini. Aku percaya bahwa Lovina juga mencintaiku. Aku terdiam menatapnya dengan malu dan tersenyum padanya.

"Ya" ucapku singkat seraya menaruh gelas yang ada ditanganku. Wajahnya tampak malu-malu menatapku. Aku tidak pernah menyangka bahwa kalimatnya mempunyai makna yang lain dari yang ada di benakku.

Antonio datang membawa makanan untuk Lovina. Aku tidak sanggup melihat mereka dan aku pamit dan pergi menghampiri Arthur yang sedari tadi bersama Alice menikmati makanannya.

"Menikmati pesta ini berdua saja?" ucapku seraya merangkul pundak Alice dengan jahil.

"Kau! Jangan menjahili adikku!" Arthur menjauhkan Alice dari tanganku dan aku tertawa melihatnya.

"Kau tidak berubah tetap ketus" ucapku sambil mengambil minuman baru dan menyeruputnya perlahan. "Arthur, aku ingin bicara berdua denganmu"

.

.

Xxx

"Apa? Menikah dengan Francis? Kenapa nonno?" ucap Lovina kepada kakeknya. Wajahnya memucat bagaikan kertas berwarna putih. "Tapi aku mencintai Antonio!"

"Oh Lovina, nonno tahu kau mencintai Antonio, tapi ini harus"

"Tapi nonno—" Lovina tampak gusar dan sedih mendengar hal ini. "—Lelaki yang ingin kunikahkan adalah Antonio. Aku tidak ingin menikah dengan orang lain"

Roma mengelus pipi cucunya yang tertunduk sedih itu dan mencium pipinya. "Oh Lovina nonno memohon padamu. Demi nonno?"

"Demi nonno? Tapi mengapa?"

"Itu karena—" ucapan Roma terputus saat mendengar suara bel rumah berbunyi.

"Ah, itu pasti Toni" ucap Lovina segera berlari menuju pintu masuk dan membuka pintu tersebut. "Toni!"

Ia segera memeluk Antonio dengan eratnya dan ia sangat sedih ia harus berpisah dengan Antonio, pria yang ia sukai.

"Lovina?" Antonio tersenyum dan menciumnya. "kenapa wajahmu tampak sedih?"

"Nonno—"

"—Kau datang tepat waktu Carriedo" ucap Roma yang datang menyusul cucunya ke pintu depan. "Aku ada permintaan padamu"

.

.

"Apa? Melepaskan Lovina menikah dengan orang lain?!" Antonio tampak sangat pucat dan sedih "Tapi mengapa? Saya mencintai cucu anda, Roma. Saya akan bertanggung jawab dan akan segera mencari pekerjaan untuk membahagiakan cucu anda"

"Aku tahu hal itu. Akupun menginginkan kau untuk menikahi cucuku, Lovina, namun aku terpaksa menikahkannya dengan orang ini"

"Apakah tidak bisa anda katakan tidak kepadanya?"

"Sayangnya aku tidak kuasa mengatakan tidak padanya. Karena ia mengancamku akan menggusur sekolah ini kalau aku tidak memberikan Lovina kepadanya" ucap Roma dengan wajah tertunduk sedih.

"Apa?!" Lovina tersentak kaget mendengar alasan tersebut. "Palle! Kenapa ia lakukan itu kepadamu, nonno?!"

"Oh Lovina, kamu tahu Francis mempunyai segalanya—"

"Francis?" tanya Antonio kaget mendengar nama sahabatnya disebut. Roma melihat Antonio dan ia mengambil kesempatan ini utnuk menjadi senjatanya.

"Ya, Francis Bonnefoy, sahabatmu mengancamku untuk menggusur sekolahan apabila aku tidak memberikan Lovina padanya" ucapnya dengan wajah sedih dan dengusan kesah.

Antonio begitu kaget dan tidak mempercayainya. Ia tidak percaya bahwa sahabatnya dari dulu selalu bersamanya melakukan hal ini kepada kakek dari wanita yang ia sukai.

"Aku tidak mau menikahinya nonno! Aku mencintai Antonio! Aku tidak mencintai Francis!" jerit Lovina menangis memohon pada kakeknya.

"Aku tidak bisa berbuat apa-apa, Lovina. Aku sudah berusaha namun ia akan menggusur dan menggulingkanku" ucap Roma.

Lovina menangis memeluk Antonio. Terasa sedih dan perih hati kedua sejoli itu untuk menghadapi masa depan mereka yang tidak bisa bersatu. Antonio memeluknya dengan erat dan kasih.

"Toni, kenapa Francis melakukan hal ini pada kita?" ia menangis memeluk pria yang ia kasih. "Ia tahu aku mencintaimu begitu juga kamu"

Antonio hanya terdiam pucat dan ia merasa sangat marah. Ya ia marah karena sahabat yang selama ini ia percayai telah mengkhianati dirinya. Semua janji-janji yang terucap oleh Francis hanyalah bohong belaka baginya. Ia begitu membenci pria ini hingga ingin sekali ia menghajarnya. Francis telah membuat ia kehilangan keparcayaannya kepada Francis.

"Kapan pernikahannya dilaksanakan?" tanya Antonio dengan amarah yang membara. Ia membenci Francis sedalam-dalamnya. Ia tidak mempercayai Francis dan menganggap pria itu adalah musuhnya.

"Selasa minggu depan" ucap Roma

"—A—aku tidak percaya Francis melakukan hal ini kepadaku. Padahal kami sudah bersumpah sahabat dan sahabat tidak akan mengkhianati sahabatnya" ucap Antonio sedih dan marah. "Ia mengkhianati sahabatnya sendiri dan mengambil pacar sahabatnya"

Roma menatap Antonio yang sedang penuh dengan kebimbangan dan amarah dengan tersenyum kecil. ia menikmati momen ini. Menikmati saat persahabatan mereka mulai retak dan runtuh. Ia sangat menikmati dimana Francis berada diujung tanduk di adu domba dengan sahabat yang ia percayai.

"Francis, aku tidak akan tinggal diam kau mengkhianatiku seperti ini" sumpah Antonio dengan penuh amarah.

"Kumohon kalian tidak mengatakan hal ini kepadanya, karena apabila ia tahu aku memberitahu kalian tentang rencananya, ia akan tetap menggusurku" ucap Roma bersikap sedih dan Lovina memeluknya.

"Oh nonno"

"Kuharap kalian bilang kepadanya bahwa kalian putus dan Lovina mencintainya agar ia tidak menggusurku. Aku masih menginginkan sekolah ini ada"

"Roma, anda tidak perlu khawatir dengan ini. Kami akan bersandiwara agar ia tidak menjahatimu" ucap Antonio padanya dengan tegas. "Kami akan membantumu"

"Oh Carriedo, terimakasih banyak" ucap Roma tersenyum dan ia memeluknya. "Aku berjanji sekolah itu akan menjadi milikmu seutuhnya kalau ia tidak menggusurnya"

.

.

"Francis, Lovina baru saja mengatakan bahwa ia sudah putus dengan Antonio karena memang ia mencintaimu" ucap Roma diujung telpon. "Mulai sekarang Lovina adalah milikmu dan pernikahan itu akan tetap berjalan. Kau bersedia menerima Lovina kan?"

"Ya, saya bersedia"

.

To be continue...