Title: The Break Roses
Rating: M
Main character: France
Characters: Roma-jiisan, fem!Romano, Spain, England, America, Prussia
Pairing: actually this is will being France x all
.
.
.
Hari pernikahanku dengan Lovinapun tiba. Kutatap wajah Lovina yang sangat cantik terlapisi make up yang sangat rapi. Aku terpesona dibuatnya. Wajahnya yang cetus bagai bunga dandelion itu membuatku tidak bisa berpaling. Aku sangat bahagia, ternyata ia mencintaiku juga. Penderitaanku membuahkan hasil. aku sangat bahagia dan tidak terbayang. Rasanya bagaikan mimpi mendapatkannya.
Kamipun mengucapkan janji masing-masing didepan pastur diacara pernikahan kami. Kami melakukan ciuman pertama kami setelah kami bertukar cincin, dan kami merayakan pesta dan mengucapkan terimakasih kepada tamu-tamu yang datang ke acara kami. Tidak banyak orang yang kami undang karena pernikahan ini begitu cepat dilaksanakannya. Aku melihat kearah sekitar mencari sosok Antonio dan Gilbert. Aku tidak menemukan mereka di hari yang membahagiakan ini. Apakah Antonio marah kepadaku karena aku telah mengambil Lovina darinya? Tapi bukankah kata Lovina mereka sudah berpisah sejak lama karena ia mencintaiku? Aku merasa bersalah kepada sahabatku, tapi Lovina memilihku. Sejujurnya aku akan menyerah apabila memang Lovina memilih Antonio. Aku tidak akan maju apabila Lovina tetap bersamanya.
"Francis? Ada apa?" tanya Lovina menatapku khawatir. Aku menatapnya balik dan sedikit tersenyum.
"Aku mencari Antonio dan Gilbert. Kedua sahabatku tidak datang padahal aku mengharapkan mereka disini" jawabku sedikit mendesah sedih.
"Oh Francis, mereka pasti datang dan mungkin mereka sedang menikmati makanannya diam-diam?" ucapnya dengan senyuman kecil dibibirnya. "Sudahlah, jangan pikirkan mereka, masih banyak tamu disini yang harus kita sambut"
Aku tersenyum dan memeluknya erat. "Ya, kau benar Lovina"
Kami akhirnya berbincang-bincang dengan tamu dan menikmati pesta pernikahan kami. Kutatap wajah Lovina yang tersenyum terhadap tamu-tamu tersebut.
"Lovina aku ingin bertanya padamu" ucapku. Bibirku bergetar karena aku takut mengetahui kenyataannya. Ia menatapku dengan penasaran. "Apa kau benar-benar putus dengan Antonio?"
Ia menunduk dan lalu tersenyum padaku "Kenapa kau meragukannya? Ia bahkan yang memutuskanku kala itu"
"Kenapa?" tanyaku penasaran.
"—" ia terdiam menatap kearah lain. "—Ia bilang aku selalu saja memarahinya"
Aku terdiam dan kutatap mata hijau itu. "Kau masih mencintainya?"
"A—Aku kan sudah bilang, aku mencintaimu dari awal" ucapnya gugup dan malu. Aku tersenyum melihat kegugupannya dan menciumnya dengan kasih.
"Oh Lovina. Aku juga mencintaimu"
Aku tidak tahu bahwa ini hanyalah sandiwara. Aku berfikir bahwa ia memang benar mencintaiku apa adanya. Aku tidak pernah berfikir bahwa aku telah merusak persahabatan kami dan hubungan asmara Antonio dan dirinya. Aku terbawa oleh sandiwara ini.
.
.
.
Aku memeluk istriku, Lovina Varg—ah bukan, sekarang ia menjadi Lovina Bonnefoy, dari belakang. Aku begitu senang dan tersenyum kearahnya.
"Lovina aku bahagia kau memilihku. Aku bahagia kau milikku. Kita akan punya berapa anak ya—"
"—Ah masalah anak" ucapnya memotong kalimatku. "Francis sebenarnya aku belum siap melakukan malam pertamaku"
Dirinya tampak malu-malu dan menatap kearah lain. Hatiku dibuatnya mencair dan tak berdaya. Aku tersenyum kecil padanya dan menciumnya.
"Aku akan menunggumu sampai siap, Lovina" ucapku lembut. "Jangan paksakan dirimu. Kau bisa mengatakannya padaku apabila kau sudah siap"
Ia tersenyum dan memelukku lalu mengkecup pipiku. "terimakasih Francis"
Aku tertawa geli melihat wajahnya yang merona itu dan kupeluk tubuhnya. "baiklah, bagaimana kalau malam ini kita tidur?"
"Iya. Buona notte, Francis" ucapnya seraya mematikan lampu.
"Bonne nuit, Lovina" kami pejamkan mata kami dan kami tertidur dengan lelapnya.
Keesokan paginya aku terbangun dan mendapatkan Lovina sedang menyiapkan sarapan. Ia lalu memberiku roti baguette dan sop yang lezat. Ia menatapku dengan mata bitter lemonnya.
"Ada apa?" tanyaku penasaran dengan pandangannya.
"—" ia terdiam sejenak lalu bertanya. "Apa aku boleh meminta padamu?"
"Katakanlah, apa yang ingin kau pinta? Aku akan memberikannya untukmu" jawabku.
"Aku ingin ruangan kerja pribadi" ucapnya meragu dan malu. "Kau tahu kan, aku ini membuat perusahaan sendiri. Aku ingin ada ruang kerjaku agar aku bisa nyaman mengerjakan dan menaruh barang-barang kerjaku"
"Oh begitukah?" ucapku tersenyum. "baiklah, bagaimana kalau ruangan sebelah kamar kita dijadikan ruang kerjamu? Kebetulan kamar tersebut kosong dan tidak terpakai"
"Benarkah tidak apa-apa?" tanyanya dengan senyuman sumringah.
"Apapun akan kuberikan untukmu, Lovina" jawabku tersenyum bahagia melihat senyumannya.
"Terimakasih, Francis, aku mencintaimu" ucapnya mencium pipiku.
Kami segera membereskan kamar tersebut agar dia bisa segera memakai kamar itu untuk pekerjaannya. Aku akan selalu mendukung apapun yang ia lakukan. Istriku yang kucinta, cintaku hanya untukmu.
"Well, Lovina, aku berangkat kerja dulu ya" ucapku setelah merapikan barang-barangnya didalam ruangan pribadinya. Ia mengangguk dan mengkecup pipiku dan tersenyum padaku. Kusegera berangkat kekantor meninggalkannya.
.
.
Berhari-hari dan berminggu-minggu kami lalui. Sampai saat ini ia masih belum mau melakukan malam pertama dengan alasan masih takut. Aku mengerti kondisinya karena kami menikah terlalu dini. Aku mengerti bahwa ia masih takut untuk melakukan malam pertama. Aku mengerti karena aku sendiri mengetahui bagaimana rasanya malam pertama itu direngut dengan paksa. Aku tidak mau memaksanya untuk melakukan hal itu. Namun yang berubah dari Lovina saat ini adalah ia lebih sering menghabiskan waktunya diruang kerjanya dan bahkan tidur diruang kerjanya. Saat aku ingin membuka ruang kerja tersebut, ternyata ruang kerjanya dikunci olehnya sehingga aku tidak bisa masuk keruangan tersebut. Ia seakan menutup dirinya untukku.
"Lovina, kau akan tidur dikamar, bukan?" tanyaku memastikan.
Ia menatapku dengan wajah sedih. "Oh maaf Francis, aku ingin sekali, tapi akhir-akhir ini kerjaanku banyak sekali sehingga aku harus menyelesaikannya dalam waktu yang dekat ini"
"Apakah tidak ada yang bisa kubantu?" tanyaku lagi. "Pekerjaan kita hampir mirip kan?"
"Oh tidak apa, Francis" ia tersenyum lembut kearahku. "Aku bisa mengatasinya sendiri"
Berkali-kali ia selalu menjawab hal yang sama. Aku merasa kesepian. Semenjak ia mempunyai ruangan pribadinya, ia selalu menghabiskan waktunya didalam sana dan meinggalkanku sendiri. Setiap hari- setiap hari ia mulai sering membawa makanannya kedalam ruangan tersebut dan meninggalkanku makan sendirian diruang makan. Aku begitu kesepian dan merasa sedih. Ia bahkan hampir tidak pernah keluar dari ruangan tersebut.
Aku merasa ada sesuatu yang aneh. Setiap aku mengetuk pintu kamarnya untuk berbicara padanya ia bahkan tidak keluar dan hanya menjawab dari dalam. Hampir setiap hari aku tidak melihat wajahnya. Aku bertanya-tanya apakah benar ia sedang melakukan pekerjaannya? Ataukah ia sedang menyembunyikan sesuatu?
.
.
Pagi itu aku melihatnya sedang menyiapkan makanan untuk kami. Aku melihat roti untuknya lebih besar dibanding milikku.
"Lovina, bisakah kita bicara sebentar?" tanyaku.
"Maaf Francis, aku tidak bisa lama-lama, kalau mau kau bisa katakan sekarang, karena pekerjaanku masih banyak"
"Lovina—" aku terdiam sejenak berfikir tentang hubungan kita. "kenapa kau mengunci pintunya? Apa aku segitu mengganggunya hingga kau mengunci pintu itu?"
Ia tersentak dan menatapku dengan bola mata bitter lemonnya. Menatapku cetus. "kenapa? Aku menguncinya agar aku tidak terganggu tapi itu bukan berarti kamu pengganggu, Francis"
"Tapi aku kesepian Lovina!" lanjutku. "Kau bahkan hampir tidak pernah keluar dan kau bahkan membawa makananmu kedalam"
"Oh Francis, kau tahu pekerjaanku amatlah sangat banyak" ucapnya sedikit membentak. "Pekerjaan kita berbeda Francis! Perusahaanmu sudah lama berdiri dan sangat terkenal, sedangkan perusahaanku? Aku baru mendirikan perusahaanku dan aku ingin perusahaanku juga menjadi berkembang layaknya perusahaanmu"
Ia membentakku dan menatapku tajam penuh kesal. Aku tahu aku salah menanyakan itu, aku tidak bisa memenagkan perdebatan ini, karena semua yang ia sebut ada benarnya. Aku tidak bisa menyalahkannya. Aku terdiam dan tak kuasa berkata-kata.
"Sudahlah Francis, aku tidak ingin ribut denganmu. Kau harus mengerti kondisiku!" ucapnya seraya membawa makanannya kedalam ruangannya dan segera ia mengunci ruangan tersebut untuk kesekian kalinya.
"—lalu kapan kau akan mengerti kondisiku, Lovina" gumamku sendu dan sedih menunduk tanpa bisa menatap keatas. Perasaanku pilu mengetahui bahwa diriku selalu sendiri. Kukira dikehidupan baruku aku akan merasakan bahagia, namun ternyata aku hanya terlalu banyak berharap. Lovina apakah kau sungguh-sungguh mencintaiku?
.
.
.
Setiap hari kami mulai jarang bertemu. Aku kesepian tiada teman menemani di kala makan pagi dan makan malamku.
Malam ini aku berniat mengetuk pintu ruangannya dan mengajaknya makan bersama, namun samar-samar dari dalam terdengar sebuah suara yang seakan familiar dikupingku. Aku berusaha mendengarkan percakapan mereka.
"Oh Toni, aku mencintaimu. Aku menderita aku ingin bersamamu" desah Lovina. Mendesah, sepertinya ia sedang melakukan sesuatu didalam ruangan tersebut bersama dengan—Antonio, sahabatku. Aku begitu terkejut mendengar suara itu.
"Oh Lovina, akupun juga mencintaimu" desah Antonio. "Aku tidak bisa hidup tanpamu"
"Seandainya Francis tidak mengkhianatimu. Aku membencinya, ia telah membuat kita jadi seperti ini"
"Sshh Lovina tidak apa-apa. Ia bahkan tidak tahu bahwa aku tinggal dirumah kalian" ucapnya seraya terkekeh. "Francis brengsek. Beraninya ia mengambil kekasih jiwaku"
Aku terdiam tak percaya apa yang kudengar. Aku tak kuasa menahan rasa sakitku dihati. Aku tak tahu bahwa semua ini adalah sandiwara yang dibuat oleh mereka. Mereka menipuku dengan sengaja. Lovina tidak mencintaiku tetapi Antonio. Aku merasa sangat bodoh. Bodoh seperti keledai yang bisa-bisanya termakan tipu daya ini. Tubuhku lemas tak dapat berdiri, kuterjatuh seakan tulangku sudah tidak sanggup menopang. Mengapa mereka melakukan hal ini padaku? Mengapa mereka berbohong? Padahal berkali-kali kutanya tentang perasaannya, mengapa ia berbohong padaku?
Aku tak kuasa lagi, kutinggalkan secarik kertas dimeja dan kubereskan sebagian barangku. Aku berusaha untuk kabur dari kenyataan ini. Aku tidak sanggup berada dirumah itu. Kuputuskan untuk tinggal dikantorku dan berfikir sejenak. Aku tak dapat menanggung beban ini. Semua terasa begitu cepat. Diriku kini hanya bisa berangan-angan. Cintaku tandas dan hidupku hancur. Seharusnya dari awal aku sudah mengetahui bahwa cinta ini tidak akan pernah bisa kuraih. Aku seakan merindukan sang bulan.
.
Xxx
Hampir setahunan aku tidak pulang dan berpura-pura tidak terjadi apa-apa dengan memberi kabar pada Lovina bahwa pekerjaanku banyak. Perasaanku sakit, darahku seakan berhenti mengalir sejak kejadian itu. Sungguh bodoh dariku adalah meninggalkan dirinya dirumah yang kubeli dahulu. Aku tersenyum kecut berfikir alangkah indahnya pikiranku dulu saat membeli rumah itu bersamanya yang bersandiwara mencintaiku. Aku menarik nafasku dalam-dalam mendesah menghilangkan rasa gundahku. Namun rasa gundahku tetap saja tidak bisa hilang. Hampir setahun aku meninggalkan rumah dan aku masih tetap memikirkan Lovina dan mencintainya. Pfft—diriku payah tidak bisa melupakan rasa cintaku yang hingga sekarang meluap-luap itu. Alangkah bagusnya apabila sedari awal diriku ditolak olehnya daripada dikhianati oleh sahabat dan wanita yang kusuka.
Aku terduduk di bangku kerjaku menatap layar komputer dengan tatapan kosong memikirkan apa yang harus kulakukan sekarang. Sudah setahun aku pergi dari rumah tersebut dan meninggalkan gadis yang kusukai itu tinggal bersama sahabatku. Sudah tidak ada secercah harapan diriku bisa masuk kedalam hati gadis yang kusukai itu. Perlukah aku menyatakan perceraian kepadanya dab membiarkan kebahagiaan mereka? Aku sadar bahwa akulah pengganggu hubungan mereka. Aku telah menghancurkan kebahagiaan mereka.
Dengan tangan yang gemetar segera kuraih telpon genggamku dan kutekan angka-angka tersebut, menelpon sekretarisku untuk mempersiapkan dokumen-dokumen perceraian ke hukum. Diriku tidak sanggup mengkhianati sahabatku, diriku tidak sanggup mempertahankan hubungan kami, diriku tidak sanggup melihat sahabatku sedih karena diriku.
Setelah menelpon sekretarisku, kusegera menelpon Roma untuk membicarakan hal ini. Aku butuh keterangannya. Mengapa ia sengaja berbohong padaku? Dan mengapa Lovina sengaja membohongiku?. Segera kuraih kunci mobilku dan beranjak dari ruanganku. Kuambil surat perceraian itu dan ku taruh di deks mobil. Kulaju mobilku kerumah dimana Roma berada. Aku memerlukan keterangan yang pasti.
Sesampainya dirumah itu, aku segera masuk kedalam dengan diantar seorang butler sebuah ruangan dimana ruangan tersebut tampak seperti ruangan kerja. Disana duduklah seorang pria separuh baya dan tersenyum kearahku.
"Roma, jelaskan semua ini!" pintaku. aku segera mendekat padanya untuk meminta penjelasannya. Pria itu seraya berdiri kedepanku dengan senyuman yang tersirat dibibirnya.
"Oh Francis, duduklah" ucapnya membimbingku untuk duduk disofa yang panjang itu. Aku mengikuti bimbingannya dan duduk disebelahnya. "minum?"
Ia memberikanku segelas wine yang seakan telah disediakan untukku. Aku menatapnya. "Kenapa kau berbohong padaku, Roma?"
"—" Roma menatapku tanpa mengucapkan sepatah kata. Ia hanya menyodorkanku segelas wine yang ia pegang. Kupikir mungkin apabila aku meminumnya, ia akan berbicara padaku. Segeralah kuraih gelas itu dan menyeruputnya. Perasaanku tidak karuan. Aku begitu sedih mengingat sandiwara ini.
"Katakan padaku, Roma?" ucapku rilih dengan wajah pucat dan kembali menyeruput wine tersebut. diriku seakan dibuat mabuk oleh wine tersebut walau aku hanya menyeruput dua kali. Rasanya perasaanku terbakar oleh wine tersebut. tubuhku mulai melemah dan pandanganku sedikit kabur seakan-akan aku dibuatnya mengantuk. Roma menatapku dan tiba-tiba mengkecup pipiku sebagaimana Lovina mengkecup pipiku dahulu. Tubuhku lemah untuk mendorong dirinya yang memelukku tiba-tiba dan mengkecup leherku dengan nafsu.
"Oh, Francis" rilihnya sembari membuka kancing kemejaku dan mengelus bagian tubuhku. Aku tak kuasa mendorongnya. Rasanya badanku tidak bisa kugerakan seperti yang kuharapkan. Apa ini? Ia memasukan apa kedalam wine tersebut? aku hanya bisa melihatnya yang kini mulai mengkecup puting susuku dan menghisapnya. Aku mendesah seakan menikmatinya. Apa ini? Mengapa aku bisa begini?
Tangannya kini mulai nakal menyentuh bagian selangkanganku, mengelusnya seraya bibirnya masih memanjakan putingku. Diriku dibuat mabuk kepayang dengan kecupan dan sentuhan itu. Aku tak kuasa mendorong dan tak kuasa mengatakan sepatahkatapun. Aku hanya bisa mendesah menatap dan memegang tangannya tanpa tenaga. Kini ia menatapku dengan tersenyum bahagia dan menciumku dengan penuh nafsu sementara tangannya mengelus bagian penisku yang sudah mengeras akibat kenikmatan ini. Aku menerima ciuman ini dan lidah kami bertautan satu sama lain. Tubuhku terasa sangat panas dan seakan aku dibawa untuk melakukan hubungan ini lagi.
"Oh Francis, kau anak nakal" ucapnya seraya mengangkat tubuhku dan ia membawaku ke sebuah ruangan yang berisikan tempat tidur.
Ia menaruh tubuhku diatas tempat tidur itu dan segera membuka satu persatu pakaianku sehingga diriku tanpa busana sehelaipun. Ia menatapku dengan senyumannya dan ia segera mengkecup manja tubuhku. Tubuhku dibuatnya bergeliat kenikmatan oleh kecupan dan tangannya yang menyentuh penisku dan memainkannya.
"Ah—" desahku. Aku ingin sekali berteriak menghentikannya, tapi suaraku seakan hilang tertelan. Tubuhku tidak bergerak sesuai apa yang kuingin mereka lakukan. Tubuhku menerima perlakuan manjanya.
"Francis, kenapa kau tidak pernah melihatku? Diriku yang selalu mabuk kepayang" ia mengkecup bibirku kembali tanpa memikirkan perasaanku yang mulai ketakutan. "Kau harus dihukum, Frannie"
Ia segera mengambil sesuatu dari dalam laci meja kecilnya. Kumencoba melihat kearahnya dan mataku mulai membesar menemukan ia memegan benda-benda untuk melakukan BDSM. Ia menyeringa melihatku dengan benda-benda tersebut ditangannya. Rasanya aku ingin sekali kabur, namun tubuhku benar-benar dibuatnya seakan mati rasa. Aku hanya bisa pasrah dengan keadaan ini.
Ia segera mengikat kedua tanganku dengan kedua kakiku hingga kakiku dibuatnya terlipat. Ia segera memasukan sebuah vibrator kedalam lubang duburku hingga aku dibuatnya mendesah.
"Ini hukuman untukmu Francis! Hukuman karena kau menikahi cucuku" ucapnya seraya menekan tombol on vibrator tersebut sehingga tubuhku dibuatnya tersentak. Aku mendesah kenikmatan dan menggeliat seakan-akan aku menikmati hukuman ini. Airmataku mulai berjatuhan.
"Kau menikmatinya, Francis? Aku tahu kau menyukainya" ucapnya seraya menjilati airmataku. "Wine tersebut telah kuberi obat bius agar kau tidak bisa kabur dariku lagi, Amore"
Kenapa kau lakukan ini padaku? Apa motifmu Roma?
.
Xxx
ROMA Love Story
Hari itu aku membawa masuk tamu wanita pujaanku kedalam ruanganku di gedung sekolah ini. Wanita ini mempunyai umur dibawahku sekian belas tahun. Rambut blondenya yang panjang itu tergurai dengan indahnya layaknya bintang sampo. Kuhidangkan teh earl grey untuknya dan ia menyeruput teh tersebut.
"Bagaimana dengan perusahaanmu?" tanyaku padanya dengan tersenyum.
"Seperti biasa, Romulus" ucapnya tersenyum. "Sepertinya sekolahanmu semakin lama semakin terkenal saja"
"Ya, semua ini berkat kerja kerasku" ucapku sedikit menggombal.
Ia menatapku dengan tersenyum dan menaruh teh Earl greynya diatas meja. "Maksud kedatanganku kesini adalah ingin mendaftarkan anakku masuk kesekolahmu ini. Kau tahu dia adalah asset masa depan perusahaanku. Setelah lulus dari sini, ia adalah penerus perusahaan. Kuharap ia di didik dengan bagus disini"
Ia memberikan sebuah formulir namun aku tidak segera melihatnya karena aku masih menatap kearahnya. "Well, kau tahu anakmu pasti bisa menjadi assetmu dengan baik nanti apabila belajar disini"
Kami tertawa bersama. "Jadi aku ingin sekali melihat anakmu, Gallia"
Ya, Gallia, wanita pujaanku dulu. saat itu aku memang telah menikah dan mempunyai anak, namun hawa nafsuku saat muda tidak dapat terbendung. Aku bermain wanita sehingga membuat istriku pergi meninggalkanku bersama anakku dan mencampakkanku. Gallia wanita cantik pujaanku dimana aku mencintainya. Aku bermain cinta dengannya namun aku terlalu bodoh untuk mengenal cinta sejati sehingga ia menikah dengan orang lain disaat diriku telah menyadari arti cinta sejati. Aku menyesalinya namun aku tidak bisa kembali ke waktu itu lagi. setelah mengetahui ia menikah dengan pria lain, kamipun sudah lama tidak bertemu sapa. Dan kini, kami bertemu setelah sekian lamanya. Wajahnya sekarang sudah tampak sedikit keriput namun kecantikannya masih tersirat diwajahnya.
"Frannie" panggilnya dan seraya seseorang membuka pintu ruangan tersebut. masuklah seorang anak perempuan berambut blonde bergelombang layaknya rambut bintang sampo terkenal dengan bentuk tubuh yang feminine. Mata birunya yang sebiru lautan itu menatapku dan senyumannya yang manis itu tersenyum kearahku. Ia membungkukan tubuhnya layaknya tuan putri yang ingin mulai menari kearahku. Aku terpana melihat dirinya. Aku dibuatnya kembali kejaman remajaku dimana aku mengenal arti cinta dalam hidupku.
"Bonjour, monsieur" ucapnya lalu mendekatiku dan mengangkat tangannya seakan memintaku untuk mengkecupnya. Aku meraih tangan tersebut dan tersenyum padanya. Menatapnya seakan angin musim semi datang kepadaku.
"Romulus, ini adalah anak lelakiku, namanya Francis. Francis Bonnefoy" ucap Gallia sembari merangkul pundak anaknya.
"Oh, Francis—" aku terdiam dengan wajah masih tersenyum dan mentelaah kalimat Gallia saat memperkenalkan anaknya dan aku tersentak kaget saat kalimat itu terpecahkan layaknya puzzle didalam otakku "Cozza? Anak lelaki? Francis?"
Gallia tertawa menatapku dan tetap merangkul tubuh anaknya. "Ya. Anak lelakiku, Francis"
Aku menatap kembali kearah Francis yang terlihat seperti gadis belia pada umumnya yang tampak cantik seperti mawar yang dipajang di taman umum dan melihatnya dengan tatapan tidak percaya. Wajahku pucat sekali mengetahui bahwa kenyataannya Francis layak mawar berduri yang mana orang melihatnya bagaikan mawar namun saat ingin memetiknya ia melukai orang dengan memberitahu identitasnya bahwa ia bukanlah perempuan.
"Kuharap kau dapat mengikuti pelajaran disini, Frannie" ucap wanita itu kepada anaknya.
"Oui, mamant" jawabnya tersenyum lebar. Wajahnya yang tersenyum mengingatkanku kepada Gallia saat masih muda. Mengingatkanku pada cinta sejatiku.
"—oh Gallia" ucapku rilih.
Kami bercakap-cakap tentang pendaftarannya disekolah ini namun tatapanku selalu tertuju kepadanya, Francis. Tatapanku tidak dapat terlepas darinya. Sepertinya aku mencintainya. Tidak peduli bahwa dia lelaki ataupun perempuan. Wajahnya yang menyejukan itu membuatku tidak bisa teringat masa mudaku yang penuh dengan penyesalan.
.
.
.
"Kalau gitu Romulus, aku berharap banyak padamu" ucap Gallia sembari pamit dan membawa anaknya.
"Sampai bertemu saat penerimaan murid, kakek" ucap anak lelaki itu dengan tersenyum cerah.
"Ka—kakek?!" ucapku jengkel mendengarnya "Kakek katamu? Apa aku terlihat setua itu untuk kau panggil kakek?!"
Ia tersenyum kearahku dan terkekeh. "Panggil aku Roma. Semua orang disini mengenalku demikian"
"Baiklah, Roma" ucapnya seraya berjalan meninggalkanku. Kutatap tangannya yang melambai kearahku. Ingin sekali kunodai tangan mungil itu namun aku ingin menjaganya didalam hati ini.
Mawar berduri, setajam apapun durimu menusuk reluku, aku akan tetap memelukmu walau jantung ini tertusuk durimu.
.
.
Hari itu kutatap dirinya yang menatap cucuku tanpa berkedip dari kejauhan. Aku melihatnya dan kuketahui bahwa dirinya dibuat terpana oleh kecantikan cucuku. Dapat kuketahui bahwa ia mencintainya. Aku berpikir sejenak, apabila ia bersama dengan cucuku, aku bisa terus menatapnya melihatnya dan memilikinya. Namun disisi lain, aku terbakar cemburu tidak ingin dia diambil oleh siapapun, walaupun itu adalah cucuku sendiri.
Setiap hari yang bisa kulakukan adalah menatapnya dari kaca gedung lantai dua kearah dirinya yang sedang jalan menuju gedung. Ku tak dapat menyapanya dikarenakan posisiku yang mana adalah kepala sekolah juga pemilik yayasan ini.
Kuberjalan dilorong gedung dengan perasaan yang hampa. Rasanya ingin sekali melihatnya yang sedang belajar dikelas. Dengan iseng kudatangi kelas tersebut dan menatap dirinya. Dari situlah aku mengetahui bahwa ia mempunya dua teman, Carriedo, Beillschmidth dan tentu aku tahu iapun mempunyai Rival, Kirkland. Dan aku mengetahui bahwa iapun sering membolos pelajaran bersama kedua temannya dan tidak jarang kulihat ia bertengkar dengan Kirkland.
Dari beberapa temannya, aku sedikit cemburu dengan rivalnya yang satu ini. Ia seakan-akan memperhatikan dan mengetahui semua tentang rivalnya. Aku sangat cemburu. Namun tidak disangka-sangka, aku menemukan sesuatu yang bagus dan bisa kuambil kesempatan ini.
Kupanggil dirinya datang ke ruanganku dan kubuat sebuah permainan untuk mengambil kesempatan ini. Aku akan membuatmu menjadi milikku walau sekotor itu salah. Salahkah aku menginginkanmu walau dengan cara yang kotor untuk mendapatkanmu?
Kau bersedia menerima rintangan dariku untuk mendapatkan cucuku. Sejujurnya perih rasanya mengetahui dirimu siap menerima itu demi cucuku. Aku begitu kesal! Sangat kesal!
.
.
"Jones" Panggilku kepada pria berambut blonde dengan sebuat jambul lancipnya yang sedang memakan burgernya. "Bisa datang ke ruanganku?"
Aku mulai menjalankan misiku dengan memperalat bocah berkacamata ini yang tampaknya suka sekali mengekori Kirkland Arthur diam-diam.
"Kau suka Arthur Kirkland?" tanyaku padanya tanpa basa-basi saat ia memasuki ruangannya. Kulihat wajanya memerah padam dan tanpa sengaja ia menjatuhkan burger dan colanya. Ia tampak panik melihat lantaiku berserakan cola dan burger tersebut. "Tidak apa! Nanti kusuruh orang untuk membereskannya"
"Jadi kau suka Arthur huh?" tanyaku kembali dan jawabannya tersirat jelas diwajahnya.
"—"
"Aku mengerti dengan jelas kau menyukainya tapi dia selalu memperhatikan Bonnefoy tanpa memperdulikan dirimu yang selalu mengekorinya" jelasku. "Dengar-dengar tentang Bonnefoy, apakah kau tahu aku mendapatkan gossip bahwa dia pernah melakukan hubungan terlarang dengan lelaki lain?"
Aku mulai menjalankan misiku dengan menyebarkan gossip fitnah tersebut yang dimulai darinya. "Mungkin kalau gossip ini tersebar keorang lain satu sekolah, Arthur Kirkland akan jijik padanya hingga menjauhi Bonnefoy dan berpaling padamu. Maukah kau membantu menyebar gossip itu?"
"—Ke—kenapa kau menyuruhku menyebarkan gossip itu?"
"Kau mencintai Arthur bukan?" jawabku dan kupandangi jendela kaca ruanganku. "Aku mencintai Bonnefoy, aku tidak suka ia dekat-dekat dengan Kirkland"
"Maukah kau membuat deal denganku? Kau akan mendapatkan Kirkland apabila aku bisa menjauhkan Bonnefoy darinya"
Alfred F Jones tampak terdiam memikirkan kalimatku dan kemudian ia menerima tawaranku. Kini diriku dan dirinya adalah partner in crime. Kami menjalankan misi demi cinta kami walau kami tahu misi kami adalah misi kotor.
"Andaikan kau tahu perasaanku padamu, Francis" gumamku rilih menatapnya yang sedang berjalan diluar dari jendela ruanganku di lantai dua. "Ti amo tanto, Francis"
To Be Continued..
Gw baru sekarang kepikiran ide baru tentang motif Roma haha.. tadinya mau gw skip aja nih motif, tp ntar adanya orang bingung kenapa Roma melakukan hal keji gitu tanpa alasan... trus karena gw biasanya pake POV France, jadi klo mau bikin pemikiran Roma harus bikin pake POV dia ga bisa saat POV France sih... jadi gw bikin omake dimana alasan Roma melakukan hal yg keji itu.. gw harap lu suka sih ama POV-nya... dan maaf POV Roma ini terkesan kaya maksa dan tulisannya kurang wah... coz gw biingung milih pemilihan kata-katanya... jujur aja.. stress juga kepikiran dalam seharian motifnya biar nyambung..
FYI: POV Roma itu kaya Flashback kembali dimana ia pertama kali bertemu Francis. Jadi bukan lanjutin POV-nya France yg lg kena raep yak,... wkwkwk... gw sengaja ngegantungin dia kena raep gara2 cape gw bikin kalimat2 vulgar wkwkwkwk #digeplakmassa... dan sorry banget ya kalau cerita ini Vulgar banget.. karena dulu gw ngayalnya buat dia menderita sih wkwkwkk ffffff... dulu buat ini gw karena galau.. sekarang gw tuanginnya disaat gw lagi ga galau... walakh mak... gw tuangin ni cerita emang sebenernya niat dah lama... tp sering males aja gw tuanginnya... Cuma gw mau berbagi cerita gitu ke kalian wkwkwk #plakplak
Semoga kalian pada suka yaaaa~~~ btw review dund jeleknya dimana wkwkwkwk... mangap ya...
