Title: The Break Roses
Rating: M
Main character: France
Characters: Roma-jiisan, fem!Romano, Spain, England, America, Prussia
Pairing: actually this is will being France x all
.
.
Kubuka mataku dan menatap kelangit-langit kamar. Tubuhku terasa sangat lemas dan tidak bertenaga. Kulihat kesekeliling dan mataku terbuka dengan lebarnya. Bagaimana tidak, didalam ruangan ini terpajanglah beberapa fotoku dari diriku yang masih kecil dan foto diam-diam. Aku berusaha untuk bangun dari tidurku namun rasanya tubuh ini tidak bisa bergerak dengan cepat. Kupegang kepalaku yang sedikit sakit akibat pusing seakan aku tengah mabuk sebelum tidur. Aku lalu teringat kejadian kemaren dimana Roma memperkosaku kembali dan kucoba segera beranjak dari kasur itu dengan segala kemampuanku.
"Kau sudah bangun, Frannie?" ucap seseorang yang sangat tiba-tiba. Aku tersentak dan menatap orang tersebut. Kupandang pria separuh baya itu berdiri didepan pintu dengan membawa sebuah makanan ditangannya. Ia tersenyum kearahku. "Aku membawakan makanan untukmu"
Ia menaruh makanan tersebut diatas meja dan ia duduk diatas kasur, sebelahku. Ia menatapku dan tersenyum dengan penuh makna. Aku terdiam menatapnya dengan sedikit ketakutan.
"Kau tampak menikmati hubungan kita kemaren, Frannie" ucapnya seraya mengelus pipiku dengan lembut.
"Apa maumu Roma?" ucapku dengan segera menepis tangannya dengan seluruh kekuatanku.
Ia terkekeh dan memelukku dengan eratnya. Aku tersentak dan berusaha untuk menjauhkannya. Namun tenagaku kurang kuat untuk mendorongnya. Ia mengkecup bahuku dan leherku bergantian. Aku merintih. "Roma—"
"Oh Frannie, kau cantik seperti ibumu saat muda" ucapnya dengan nada rilih. "Seandainya saat itu aku segera mengerti apa arti cinta sejati, mungkin aku tak akan melakukan hal ini padamu"
"—Apa maksudmu?"
"Aku mencintaimu dan aku tidak ingin melepaskanmu, Francis" ucapnya seraya membuka bibirku dan mengkulumnya. Aku tersentak dan memalingkan mukaku dari ciumannya.
"Kau mencintai ibuku?" teriakku dan berusaha menjauhkan diriku darinya. Ia terkekeh dan kembali mendekap diriku.
"Tidak setelah aku melihatmu, mawar duriku" ucapnya mencium tanganku. "Aku lebih mencintaimu daripada Gallia"
Aku merasa jijik mendengarnya dan menatapnya dengan penuh kebencian. "Kalau kau mencintaiku, kenapa kau lakukan hal ini padaku?"
"Karena aku tidak ingin kau dimiliki siapapun, mau itu cucuku ataupun Kirkland" ucapnya rilih. "Kau adalah milikku, Francis. Aku tidak ingin menyesal kembali, dimana aku ditinggal menikah oleh Gallia. sekotor apapun caraku, aku ingin kau"
"Brengsek kau, Roma!" teriakku dan segera kutampar dengan sekuat tenagaku. "Kau mempermainkanku! Kau membuat hidupku berantakan! Kau yang membuat sandiwara ini?!"
Airmataku tidak dapat kubendung dan perasaanku sangat sakit. Hatiku sakit saat mengetahui semuanya. Roma mendekapku dengan penuh kasih dan menciumiku. Airmataku jatuh tak dapat berhenti mengalir dan kupeluk tubuhnya erat. Aku tak kuasa. Kembalikan semua keindahan masa remajaku, Roma! Kau telah merebut segalanya dariku dengan tanpa rasa bersalah kini kau memelukku dan mengatakan kau mencintaiku? Apa yang harus kulakukan sekarang? Aku kehilangan kebahagiaanku, aku kehilangan sahabat-sahabatku, aku kehilangan kepercayaan dari mereka semua. Puaskah kau melakukan hal ini padaku, Roma?
"—Maaf" ucapku rilih. Reluku tak dapat kutahan. "—Maaf aku tidak bisa mencintaimu Roma"
Ia terdiam dan tetap memelukku. "Dihatiku hanya ada Lovina. Walau aku tahu ia mencintai sahabatku—"
"—Aku masih tetap mencintainya. Aku tidak bisa menerima cintamu" ucapku tertunduk dan terisak.
"Francis" ia lalu menyentuh pipiku lembut dan penuh kasih. "Tak bisakah kau memandangku?"
Aku menggelengkan wajahku dan kutatap bola matanya dengan sendu. Aku masih mencintai Lovina walau aku harus menerima ia bersama dengan sahabatku. Aku tidak ingin mengkhianati sahabatku. Aku ingin kebahagiaan sahabatku walau aku tahu diriku akan menderita. Aku bisa mengerti perasaanmu Roma, karena kita ada didalam posisi yang sama.
"Bolehkah aku menciummu, Francis? Untuk terakhir kalinya" ucapnya sendu. Aku tak bisa menolaknya, segera kusentuh wajahnya dan kulayangkan bibirku kebibirnya. Ia menerima ciumanku dan mengulum lidahku dengan penuh nafsu dan ia memelukku dengan eratnya seakan tidak mau melepaskanku.
"—Maukah kau melepaskan diriku sekarang, Roma?" ucapku rilih dan memohon padanya. Ia menatapku dan memelukku dengan erat. Anggukan dikepalanya menandakan bahwa ia telah menyerah mendapatkanku. "Terimakasih, Roma"
.
.
Aku segera pulang kerumahku. Telah lama aku tidak pulang kerumah itu. Kututup pintu mobilku dan segera kukunci pintu mobilku. Aku berusaha menyiapkan diriku untuk berpura-pura tidak terjadi apa-apa saat bertemu dengannya dan memberikan surat perceraian tersebut padanya, namun tanpa kusadari, aku meninggalkan surat perceraian itu dimobil dan segera masuk kedalam rumah tersebut.
"—Aku pulang" ucapku dan kudapati sesosok anak kecil sedang duduk diatas lantai. Sosok balita yang sangat mirip dengan Lovina dan sahabatku, Antonio. Aku begitu shock melihat hal ini dan rasanya pikiranku semakin kacau. Aku mendekati anak itu dan kugendong dirinya. Lovina datang dari dapur dan tersentak melihatku yang tengah menggendong anaknya.
"—F—Francis?! Kau pulang?" ucapnya dengan nada yang sangat kaget. Aku menatapnya dengan perasaan yang sakit.
"—Anak siapa ini?" tanyaku tidak percaya. Rasanya pikiranku menjadi kosong. Walau aku mengatakan bahwa aku akan menyerahkan Lovina pada sahabatku, tapi hatiku berkata lain. Sakit yang sangat dalam yang kurasakan saat ini.
"—Tentu saja itu anakmu, Francis" ucap Lovina berbohong. Aku mengerti kebohonganmu, Lovina. Suaramu yang bergetar dan ragu mengucapkan kalimat tersebut. Aku sudah tahu semua sandiwara ini.
"Katakan padaku, anak siapa ini!" ucapku kembali menatapnya dengan perasaan yang sakit.
"—Ma—masa kau lupa dengan anakmu? Dia anakmu Francis!" ucapnya ragu dan bergetar. "Kau melupakan malam pertama kita?"
Kenapa kau berbohong padaku? Kenapa kau tidak katakan hal yang sebenarnya? Sampai kapankah kau ingin menyakiti hatiku? Hatiku seakan tersayat dengan kebohonganmu.
Kutatap bola mata hijau limau anak ini dan tersenyum kecut padanya dan kuelus pipi kecilnya. Ia tampak tersenyum kearahku. Senyumannya sangat mirip dengan ayahnya. Aku hanya ingin kejujuran dari mulutmu Lovina.
"Francis, mau kau apakan anak itu?" ucap Lovina panik saat ia melihatku menatap anaknya. Ia begitu takut anaknya kusakiti. Ia tiba-tiba berteriak. "Francis! Jangan sakiti anak itu!"
Mendengar teriakan itu, sosok yang ingin sekali kutemui pun akhirnya keluar juga dari sebuah ruangan yang selalu terkunci olehku. Sosok yang selama ini kuhormati sebagai sahabat. Ia membawa sebuah kapak dan menatapku dengan amarahnya.
Kutersenyum kecut menatap mereka yang akhirnya terkupas rahasianya. Padahal aku hanya menatap anak mereka, tapi mereka berfikir aku akan menyakitinya karena mereka tahu bahwa aku tahu rahasia mereka.
"Francis, kembalikan anak itu pada kami, kau brengsek" teriak pria itu kearahku dan bersiap-siap dengan kapaknya.
"—" aku terdiam menatap mereka dengan perasaan yang sakit. "—kenapa kalian tidak berterus terang padaku bahwa kalian tidak berpisah?"
"—kenapa kalian harus berbohong padaku?" tanyaku rilih dan berusaha untuk menahan tangisanku.
Mereka menatapku dengan perasaan kesal dan benci.
"Kenapa kau bilang?!" teriak Lovina. "Itu semua karena kamu! Kalau kau tidak mengancam nonno, aku pasti tidak akan menikahimu! Karena kamu, hidup kami sengsara! Karena kamu kami tidak bisa bersatu sebagaimana semestinya!"
Aku tersentak kaget mendengarnya mengatakan hal itu. Aku? Mengancam Roma? Sejak kapan? Kenapa? Aku bahkan tidak mengerti apa-apa. Roma hanya mengatakan bahwa Lovina mengatakan bahwa sebenarnya ia mencintaiku juga, bukan Antonio. Tapi mengapa mereka mengatakan bahwa aku mengancam Roma? Aku tidak megerti. Apa maksudnya ini?
Kusentuh kepalaku tanda kebingungan. Aku tidak mengerti mengapa begitu.
"Tunggu! Apa maksud kalian?" tanyaku kebingungan.
"Tidak usah pura-pura tidak tahu! Kau memaksa nonno untuk menikahkanku dan tidak ngomong ke kita, kan! Kalau nonno tidak mau, kau akan menggusur sekolahan itu" jelas Lovina dengan nada amarah. Aku hanya bisa terdiam karena bingung dengan semua ini. Kenapa Roma mengatakan hal demikian? Mengapa ia memutarbalikkan fakta?.
"—Kalian salah sangka—"
Tiba-tiba Antonio memukulku dengan kerasnya hingga diriku terjatuh. Dengan segera ia mengambil anaknya dari tanganku dan memberikannya pada Lovina.
"Apa yang salah sangka dari kami? Kamu telah mengkhianati persahabatan kita, Francis!" teriaknya dengan kesal dan penuh kebencian. Ia segera meninjuku berkali-kali hingga aku dibuatnya tidak dapat menghindarinya.
.
.
.
Xxx
Aku tersadar dari pingsanku dan kulihat kesekelilingku. Ruangan dengan cahaya yang remang-remang yang ada hanyalah sebuah meja dan bangku. Dapat kudengar sebuah musik DJ dari luar ruangan dan kuyakin aku ada didalam sebuah PUB. Kugerakan tubuhku dan kudapati tanganku terikat kebelakang dan kulihat kakiku terikat rantai yang menyatu dengan dinding.
"Hmph—" aku tersadar bahwa diriku terikat dan mulutku terbungkam. Aku melihat kesana kemari berusaha melepaskan ikatan ini, tapi ikatan ini terlalu kencang. Aku mencoba meminta bantuan tapi apa daya, mulutkupun tak dapat berteriak.
Seseorang lalu membuka pintu tersebut. Aku berusaha untuk meminta tolong, dan kulihat didepanku adalah Gilbert menatapku. Aku berusaha meneriaki dirinya untuk minta pertolongan untuk dibukakan ikatan ini, tapi ia hanya menatapku saja dan segera menutup pintu itu seakan-akan ini adalah hal yang wajar. Aku tetap berusaha memanggilnya yang kemudian mulai duduk di bangku yang ada diruangan itu.
"Hmph! Hmpphh!" ucapku meminta pertolongan darinya. Ia lalu membaca buku yang ada di atas meja yang terletak didepannya. Aku tetap berusaha memanggilnya.
Ada apa ini? Kenapa Gilbert pura-pura tidak melihatku yang terikat ini? Mengapa ia tidak menggubrisku? Ada apa dengan Gilbert? Ia berubah.
Seseorang masuk kedalam ruangan dan kudapati itu adalah Antonio. Aku masih berusaha untuk memanggil mereka.
"Toni, kau lama sekali" ucap Gilbert seraya menutup buku tersebut dan menaruhnya keatas meja kembali.
"Maaf" jawab Toni tersenyum. Ia lalu menatapku dengan dingin. "Gil, kau punya itu?"
"Ya, aku membawanya seperti yang kau minta" jawab Gilbert lalu menatapku dengan tatapan yang sama dengan Antonio.
Ada apa ini? Mengapa Gilbert seperti ini? Aku tidak mengerti kenapa begini.
Antonio lalu tersenyum dengan wajah dinginnya kearahku. "Oh, Francis. Kau tahu betapa aku membencimu yang telah mengkhianati persahabatan kita"
Aku tersentak dan berusaha untuk menjelaskan padanya tentang kesalahpahaman ini. "HMPH!"
"Kau telah merusak hidupku dan merusak kebahagiaanku, Francis. Kau telah mengambil pacar sahabatmu tanpa rasa bersalah dan kau mengancam Roma. Tahukah kau rasa dendamku sebesar apa? aku akan merengut semua kebahagiaanmu dahulu diatas penderitaanku, Francis"
"Hmpph! Hmmppphh!" aku berusaha meminta lepas bagian mulutku aku berusaha untuk menjelaskan semuanya. Antonio tolong beri aku kesempatan!
Ia tersenyum dan lalu menjambak rambutku dengan kencangnya. Lalu Gilbert mendekatiku dan ia mengeluarkan sebuah suntikan dari kantongnya.
"Kalau kau mau lagi, aku masih ada banyak" ucapnya kepada Antonio. Antonio tersenyum. "Butuh apa saja, semua ada"
"Aku butuh semuanya. Barang-barang Narkotika dan Opium itu juga sabu-sabu itu" ucap Antonio dan lalu menatapku yang sedang gelisah.
"Baiklah Francis, ucapkan selamat tinggal pada tubuhmu yang indah ini" ucapnya seraya menusukan suntikan tersebut dengan kasarnya ke lenganku. Aku merintih dan menahannya. "selamat datang didunia Narkotika, Francis"
Mataku terbelalak kaget dan segera kugerakkan tubuhku untuk menghindarinya namun Antonio masih terus menancapkannya kedalam tubuhku.
"Rasakan penderitaanku, Francis! Kau pikir aku bisa menerima dirimu yang bersenang-senang mengkecup Lovina di hari pernikahan kalian? Kau pikir aku senang mendengar dirimu yang mengkhianati sumpah persahabatan kita?" teriaknya sembari berkali-kali menancapkan suntikan itu.
Aku merintih kesakitan dan kurasakan tubuhku yang terasa sangat pusing dan tidak bisa dikendalikan. Kulihat Gilbert berusaha menenangkan amarah Antonio.
"Kau pikir aku bisa menerima kebahagiaanmu yang dengan asiknya merebut Lovina?" teriaknya penuh amarah. "ini belum seberapa, Francis! Aku akan membuatmu lebih terpuruk daripada diriku!"
Aku tertunduk lemas merasakan tubuhku yang seakan melayang. Aku tidak dapat menghindari suntikan itu dan aku tidak dapat berteriak minta tolong. Tubuhku mulai tergeletak dan rasanya otakku kosong sekali.
"Berikan yang lain!" teriak Antonio.
"Sudah Toni! Sudah!" ucap Gilbert merangkul tubuh sahabatnya agar menjauh dariku. "Lebih baik kau sisakan semua itu untuk besok lagi! Kau pikir harganya murah untuk kau berikan padanya sehari ini!"
"Aku membencinya! Ia telah mengkhianati kita, Gil!" teriak Antonio dengan parau. Airmatanya keluar dengan derasnya. "Padahal aku selalu mempercayainya. Tapi ia bermain mata dibelakangku"
Tubuhku tergeletak dan kutatap wajah tangis Antonio dengan perasaan bersalah. Maafkan aku, Toni. Aku tidak bermaksud melakukan hal ini padaku. Tapi aku dibutakan oleh cinta. Aku dipermainkan oleh Roma. Antonio, kumohon dengarkan penjelasanku.
Airmataku tak dapat kubendung. Tubuhku tampak sakit dan pikiranku makin kacau. Aku tak sanggup menahan narkotika ini didalam tubuhku. Aku tidak berdaya. Apakah aku harus menanggung semuanya dengan ini?
.
.
Sudah berhari-hari aku berada disini diperlakukan seperti anjing oleh mereka. Aku sudah tidak tahu berapa lama aku berada disini. Duniaku seakan terhenti disini. Aku sudah tidak tahu apakah sekarang pagi atau malam. Dan lebih parahnya, mereka memakaikanku sebuah blindfold di mataku. Mereka memaksaku untuk menghirup sabu-sabu itu dan menyuntikan narkoba itu kedalam tubuhku setiap harinya. Antonio seakan dirasuki oleh sesuatu. Ia terlihat bahagia membuatku terpuruk seperti ini. Gilbertpun juga membantunya. Bahkan aku tidak diberi makan oleh mereka.
Ckrek
Suara pintu terdengar. Aku bisa mendengar suara Antonio yang sedang ngobrol bersama Gilbert dan sepertinya mereka tidak hanya berdua.
"Kau boleh melakukan apapun terhadapnya" ucap Gilbert "Asal jangan kau nodai tubuhnya karena kami masih ingin menjualnya kepada yang lain!"
Aku terdiam dan mentelaah apa yang terjadi disini. Tak lama kemudian aku merasakan ada sebuah tangan menyentuhku. Aku tersentak kaget dan mencoba menghindari tangan tersebut.
"Hei, apa boleh kami merobek bajunya?" ucap seorang pria asing sembari masih menyentuhku.
"Ya"
Aku tersentak mendengar jawaban Antonio dan Gilbert. Aku berusaha menggeliat agar ia menjauh dariku namun kurasakan tangannya yang tidak mau menyerah menggapaiku. Ia lalu merobek pakaianku dan celana panjangku.
"Tubuh yang indah" serunya seraya terkekeh. Aku mulai ketakutan dan berusaha menggeliat menjauh.
"HMPH" aku berusaha memanggil Antonio dan Gilbert namun sepertinya mereka sudah tidak ada disini. Aku begitu takut dan tak dapat membayangkan apa yang terjadi.
Tiba-tiba orang itu menyentuh penisku dan menkecup tubuhku. Kini aku sadar apa yang sedang terjadi disini. Aku diperkosa oleh orang yang tidak kukenal dan tidak kuketahui wajahnya. Aku tersentak dan menggeliat kesana kemari mencoba meminta pertolongan. Tapi apa daya, bibirkupun terbungkam. Aku hanya bisa menangis pasrah menunggu pria ini selesai menyentuhku. Dapat kurasakan saat ia memasukan penisnya kedalam lubang duburku. Aku begitu ketakutan dan hanya bisa pasrah. Ia melakukan klimaks berkali-kali didalam tubuhku. Aku merasa sangat jijik dengan perlakuan ini. Aku merasa tubuhku sangat kotor.
Antonio, segitu membencinyakah kau padaku? Kenapa kau lakukan ini padaku? Ini semua kesalahpahaman saja. Seandainya kau memberiku kesempatan untuk bicara. Aku tidak mengkhianati persahabatan kita. Aku selalu menghormatimu selama ini. Aku bahkan berniat bercerai dengan Lovina demi dirimu.
Aku menangis menjerit dalam hatiku. Apa kau akan bahagia dengan memperlakukanku demikian? Aku menerima nasibku seperti ini apabila memang kau puas dengan semua ini. Antonio, sebencinya dirimu padaku, aku tetap menyayangimu sebagai sahabatku. Tidak dapatkah kita kembali seperti dulu lagi, tertawa bersama, bercanda dan tidak memikirkan satu wanita?.
.
.
.
Berhari-hari kudiperlakukan seperti ini oleh mereka. Mereka menjualku kepada wanita dan pria untuk memperkosaku dan mereka sering mendorong kepalaku untuk menghisap sabu-sabu dan menyuntikan narkotika ke tubuhku, tak peduli bahwa tubuhku tidak sanggup lagi menerimanya sehingga air keluar dari hidungku berkali-kali. Setiap mulutku dibuka saat aku di perkosa beberapa orang untuk mengulum penis ataupun vagina mereka. Tubuhku kini sangat kotor dibanding saat diperkosa oleh Roma. Mereka tidak menghiraukan rasa ketakutanku dan permohonanku untuk berhenti. Mereka malah tertawa bahagia melihat diriku terpuruk layaknya kutu. Mereka seakan berfikir bahwa ini adalah sesuatu yang wajar. Entah sudah berapa lama aku tidak melihat cahaya dan sudah berapa lama diriku tergeletak diruangan ini.
"Francis" ucap suara yang sangat familiar ditelingaku. Aku mencoba menoleh kearah suara tersebut walau aku tidak dapat melihatnya.
Ia lalu membuka blindfold yang menutupi mataku. Begitu terang cahaya ruangan tersebut masuk kemataku menusuk pupil. Sejenak mataku dibutakan cahaya namun akhirnya aku bisa melihat pria berambut albino itu menatap kearahku. ia menggeret sebuah bangku dan menaruh tubuhku dibangku tersebut. Ia menatapku dengan dingin namun tersirat kesedihan dimatanya. Aku menatapnya dengan perasaan sedih dan tertunduk.
"—Kau tahu, Francis. Aku kecewa padamu" ucapnya seraya duduk dibangku didepanku. "Kau tahu bahwa Antonio dan Lovina saling mencintai, tapi kau merusak hubungan mereka. Tahukah kau, bahwa mereka menderita tidak bisa menikah karena kau memaksa Roma untuk mendapatkan Lovina dari Antonio"
Aku tertunduk, rasanya ingin sekali kusampaikan apa yang sebenarnya terjadi, namun mulutku tak dapat terbuka karena bungkaman ini.
"Kenapa kau lakukan hal itu Francis? Kau tahu Toni sangat sedih saat mengetahui kau merebut Lovina seperti itu" lanjutnya. "Sebenarnya ia mau merelakan Lovina untukmu apabila kau memang mengatakannya secara terang-terangan padanya, bukan dengan mengancam Roma. Ia menangis sebenarnya Francis. Ia menangis kecewa dengan tindakanmu yang seperti itu"
"—" aku hanya terdiam mendengarkan kalimat Gilbert. Aku hanya bisa tertunduk sedih. Semua sudah terjadi dan tak akan bisa kembali lagi. Seberapa banyaknya aku ucapkan maaf kepada Antonio, itu tidak akan mengubah situasi ini. Akupun tidak ada niatan merebut Lovina darinya. Karena akupun juga memikirkan persahabatan kita. Aku memikirkan kebahagiaan Antonio daripada kebahagiaanku.
Gilbert membuka bungkamanku dan memberiku segelas air. Aku meminumnya seakan sudah lama aku tidak merasakan kenikmatan air tersebut. Aku meneguknya hingga gelas tersebut kosong. Kutatap wajah Gilbert dan mencoba untuk berbicara.
"—M—maaf" ucapku rilih tertunduk. "—aku tidak bermaksud merebut Lovina darinya—"
"Kenapa kau buka mulutnya? Dia tidak berhak mengatakan sepatah katapun" tiba-tiba Antonio masuk kedalam ruangan dengan sebuah kapaknya. "Mendengar suaranya saja sudah membuatku mual"
"Antonio—" ucapku rilih dan berusaha menjelaskan. "—Kumohon dengarkan aku, Toni—"
"Diam!"
"—Aku tidak bermaksud untuk merebutnya, dan aku tidak bermaksud mengkhianatimu—"
"Diam!"
"—Tapi semua ini hanya kesalahpahaman—"
"Aku bilang diam!" teriaknya.
"—aku menghargaimu sebagai sahabatku, Antonio—"
"Berisik! Diam kau brengsek!" teriaknya seraya mengayunkan kapaknya dengan cepat dan keras kearah kepalaku hingga aku dibuatnya terjatuh dari dudukku dan tersentak kaget. "Aku muak mendengar suaramu"
"A—" ucapanku terhenti dan pandanganku terasa kabur. Aku berusaha untuk tetap sadar. Kutatap mata kebencian milik Antonio sebelum kukehilangan kesadaranku.
Antonio, apakah kau tidak bisa memaafkanku? Kenapa kau tidak memberikanku kesempatan untuk berbicara? Apakah kau segitu membenci diriku hingga kau memukul diriku dengan bagian tengah kapakmu?
"Gilbert, buang dia! Jangan sampai wajahnya terlihat lagi oleh mataku" ucap Antonio dengan nada yang dingin.
.
.
To be continued..
Sayang banget ada beberapa adegan ke skip disini.. sengaja ku skip soalnya bener2 menjijikan kalo aku tulis detilnya.. dimana saat francis di perkosa gangbang gitu2, kalo kujelasin detil, gawat itu.. pas saat francis disodori sabu2, ingusnya keluar kan jijik ya kudetilin wkwkwk xDD.. ah maafkan aku kalo part ini bikin kalian kecewa.. apalagi tata bahasaku bukan makin bagus malah makin ancur... jujur sebenernya bingung ini mau bikin kalimatnya gimana... haha.. apalagi tadinya sebelum antonio pukul francis pake kapaknya, mau buat si gil kasih video toni ama lovina lagi begituan tp kok berasa si gil bokep amet nyimpen video mereka wkwkwk xDD...
NB:
Gil pemilik Pub dan dia punya Klien yg jual narkotika n narkoba gitu jadi bukan karena gil pemakai yaaaa... soalnya aku ga mau Gil yang awesome itu jadi pemakai
Tolong jangan benci Antonio dan Gilbert disini krn charanya jadi jahat... jangan benci Romulus juga.. tp intinya jangan benci saya karena buat chara hetalia jadi sebusuk ini.. maklum fetish author ttg angst sih... jadi biar itu bisa jadi angst, harus ada chara yg mau ga mau kubuat jahat... :""D...
