Title: The Break Roses
Rating: M
Main character: France
Characters: Englands, Spain, Prussia, America, Romano
Pairing: actually this is will being France x all
.
.
Aku merasakan sebuah tangan menyentuh wajahku dengan lembut sehingga aku siuman dari pingsanku. Aku melihat sekeliling dan tampak sangat gelap dan tidak ada cahaya sedikitpun yang dapat kulihat. Aku mulai panik dan mencoba meraih apapun disekelilingku. Aku menggenggam sesuatu yang halus dan kugenggam erat sekali.
"Ah?!" rintihnya seketika. Aku menoleh suara tersebut dan mencari-carinya. "Francis, kau dengar aku?"
"—Si—siapa?" aku mulai panik dan takut dengan suara itu. Memang suara itu terdengar seakan suara wanita yang lembut tapi bisa saja ia akan memperkosaku. "Ja—jangan lakukan!"
"—Lakukan apa?" tanyanya. "Ssshh, tenang Francis. Tidak apa-apa" ucapnya seraya menyentuh wajahku dengan lembut
"—S—siapa? Kumohon nyalakan lampunya? Kenapa kau taruh aku diruangan yang gelap seperti ini?" tanyaku takut dan tanganku sangat gemetaran hebat. "Kumohon! Aku takut"
"Francis, ini aku, Alice, kau ingat aku?" Ucapnya seraya menggenggam tanganku erat. "Ruangan ini terang kok"
"—C—Copot benda ini—" ucapku seraya menangis dan mencoba meraba mataku "?!"
"Benda apa, Francis?" Alice tampak kebingungan dan ia menyentuh wajahku. "Kupanggilkan dokter"
"Ja—jangan tinggalkan aku" ucapku seraya mencari tangannya. Aku sangat ketakutan dan tubuhku bergetar sehingga ingin sekali kumuntahkan sesuatu dari mulutku.
"Tenang Francis" ucapnya memeluk tubuhku. "Tidak apa, kau ada di rumah sakit"
Tubuhnya begitu hangat dan membuatku sedikit tenang walau airmataku tetap mengalir. Ia memelukku dan tangannya mengusap tubuhku dengan lembut. "Ssshh, dokter akan kesini. Tenanglah Francis"
Aku terdiam menangis dipelukannya. Aku tidak mengerti mengapa semua menjadi gelap? Tidak ada setitik cahaya yang masuk. Ada apa ini? pikiranku kacau dan tidak dapat berpikir jernih. Aku hanya bisa meringkuk menangis ketakutan.
"Ada apa miss Kirkland?" tanya seseorang pria yang sepertinya sudah separuh baya.
"Pasien Bonnefoy bilang bahwa pandangnya gelap" ucapnya seraya meniduri tubuhku. "Francis tidak apa, kau pasti akan sembuh. Biar dokter periksa matamu"
Seseorang dengan tangan agak kasar menyentuh mataku. Dan menanyai kondisi mataku. Lalu mereka membawaku pergi ke sebuah tempat. Entah agak berapa lama aku dibawanya pergi. Aku tidak menghitung waktunya. Aku hanya memeluk tangan Alice, entahlah, kuperkirakan itu adalah tangannya. Aku begitu takut karena semua seakan asing olehku. Setelah sepertinya selesai pria itu berkata untuk membawaku kembali ketempat semula dan aku dibawanya untuk tidur ditempat tidurku semula. Alice menyemangatiku seraya mengelus rambutku.
"Ah, dokter bagaimana hasilnya?" ucap Alice tiba-tiba dan hal itu membuatku mencoba melihat kearahnya.
"Hasil sudah kudapatkan" ucap dokter itu dengan sedikit mendesah. "Saya meminta maaf untuk tuan Bonnefoy, bahwa anda mengalami buta permanent"
Aku tersentak kaget dan mencoba untuk memandang kearah asal suara. "Dokter, tidak bisakah kau sembuhkan?"
Dokter itu mendesah kembali. "Maaf, tuan Bonnefoy. Kami tidak bisa sembuhkan mata anda. Karena urat syaraf mata anda sudah putus dan kami tidak bisa menjanjikan kesembuhan pada mata anda"
Aku tertunduk sedih dan meringkuk kembali. Aku begitu takut. Semua begitu tiba-tiba sehingga aku tidak dapat berpikir jernih. Kenapa ini terjadi padaku? Dari cobaan Roma hingga kebutaan ini. mengapa? Mengapa harus kualami? Aku menangis kembali dan meratapi nasibku.
"Oh, Francis jangan sedih" ucap Alice seeraya mengelus pundakku. "Aku ada disini menjagamu. Terimakasih dokter atas informasinya"
Kudengar suara pintu lalu tertutup dan Alice masih mengelus pundakku yang sedang tertunduk sedih.
"Kau tahu Francis" lanjutnya. "Aku bisa menjadi suster pribadimu. Kalau kau ada apa-apa, kau bisa memanggilku. Aku tidak akan kemana-mana"
Aku tetap tertunduk dan mencoba untuk bangkit, namun hatiku seakan menyerah dengan semuanya. Aku menyerah dengan hidupku. Aku tidak bisa mempercayai semuanya. Aku takut mempercayai semua ini.
.
.
Setiap malam dikala tidurku, aku selalu bermimpi buruk. Mimpi buruk yang sama dengan selama ini yang kujalani. Aku mulai gelisah. Mimpiku seakan sangat nyata. Mereka mencoba untuk memperkosa diriku kembali dan mereka memberiku ganja dan lainnya mengingatkanku dengan kejadian lalu. Aku gelisah, gemetaran dan keringat bercucuran ditubuhku. Aku tidak sanggup melihat mimpi ini. kenapa mimpi ini selalu saja datang disetiap malamku? Aku begitu takut.
"Shhh, tidak apa-apa Francis" ucap suara lembut yang membuatku tenang dikala mimpiku. "Aku disini bersamamu"
Suara merdu tersebut membuat mimpi burukku menghilang seketika dan seketika itu juga aku seakan melihat taman bunga yang indah dan berkilauan dengan peri-peri berterbangan di taman itu. Suara merdu itu seakan suara dewi yang sedang berayun di taman bunga membuat tidurku tenang disetiap malamnya.
.
"Francis, waktunya mandi" ucap Alice seraya menyentuhku. Aku tersentak kaget dan segera menghindari tangannya yang sangat tiba-tiba menyentuhku.
"Ja—jangan mendekat" ucapku ketakutan. Aku sangat tidak biasa tersentuh oleh sesuatu karena teringat kejadian dimana blindfold itu masih terpasang dikedua mataku hingga aku tidak bisa percaya pada orang lain.
"Ah maaf" ucap Alice kembali menyentuhku dengan lembut. "Tidak apa-apa, aku tidak akan menyakitimu. Mandi yuk"
Aku terdiam tidak percaya padanya. Tampaknya ia tahu bahwa aku tidak mempercayainya namun ia tetap bersikeras untuk membuatku percaya. "Aku hanya memandikanmu. Aku tidak akan mengapa-apai kamu"
"Ti—tidak mandi tidak apa-apa" ucapku malu. Bagaimana tidak? Alice seorang wanita dan aku seorang pria masa harus dimandiin olehnya? "Nanti bisa terlihat"
"Aku ini perawat jadi tidak apa-apa" ucapnya seraya membuka bajuku. Suaranya seakan ragu dan tangannya sedikit bergetar. "Perawat mana kalau begini saja tidak bisa"
Aku tersenyum mendengar kalimatnya. Ia menanggalkan busanaku tanpa sehelaipun dan menuntunku berjalan ke kamar mandi. "Diingat-ingatlah Francis bahwa kamar mandi ada disini"
Ia lalu menyentuh tubuhku dan mengguyur air kebadanku. Saat ia sedang memberikan sabun ketubuhku aku sedikit sangat malu.
"A—Alice, biar aku saja yang menyabuni bagian itu" ucapku malu.
"Tidak apa-apa, aku bisa—" ia tampak malu dan lalu memberikan sabun itu ketanganku. "—kerjakan se—sendiri"
Aku tersenyum dan segera kusabuni tubuhku. Aku bertaruh bahwa saat ini wajahnya tampak memerah padam karena malu. Sesaat aku selesai menyabuni tubuhku, ia segera membasahi tubuhku dengan air. Aku terdiam dan membiarkan diriku dibasahi olehnya. Sekiranya selesai, ia segera menghanduki diriku dan mengeringkannya dan lalu memakaikanku baju.
"Setelah ini kau harus makan dan minum obatmu" ucapnya seraya menuntunku kekasurku kembali.
"—Alice" panggilku. "Kenapa aku bisa ada disini?"
"Aku menemukanmu di tong sampah jalan dan kau terlihat berdarah, maka dari itu aku membawamu kesini, Francis" ucapnya. "Apa yang terjadi padamu?"
"—Tidak ada apa-apa" jawabku tertunduk kembali.
"Kau bisa menceritakannya padaku" ujarnya seraya menepuk kecil kepalaku. "Ayo buka mulutmu, aku akan menyuapimu"
Aku membuka mulutku dan mencoba melihat kearah suara Alice. Ia segera memasukan makanan kedalam mulutku dan segera kukunyah makanan tersebut.
"Kenapa kau baik padaku?" tanyaku sembari mengunyah. Ia terdiam seketika.
"—Karena itu kamu, Francis bodoh!" ucapnya dengan nada yang seakan malu. Aku tersenyum kecil padanya. Ia begitu baik padaku padahal ia pernah mengetahui gossip tentangku. Mengapa Alice? Kau sangat baik sekali.
.
.
Sehari-hariku di rumah sakit ini diurus oleh Alice tanpa ia rasakan lelah. Ia menemaniku dan menenangkanku dari mimpi burukku. Ia juga selalu berusaha untuk membuatku mempercayai manusia kembali. Ia tampak begitu tegar dan berjuang keras. Aku berterimakasih padanya. Ia berusaha keras demi diriku. Aku tidak bisa apa-apa tanpanya. Ia membantuku sendirian tanpa gantian. Aku harus membalas usahanya padaku. Aku harus menegarkan diriku untuk mempercayainya dan percaya akan semuanya. Aku tidak boleh menyerah dan aku akan berusaha agar usaha yang dilakukan Alice membuahkan hasil.
"Kau tidak pulang, Alice?" tanyaku padanya yang sedang mengupas apel yang akan diberikan padaku.
"Aku ini perawat, Francis. Perawat tidak akan pulang"
"Perawatpun juga mempunyai rumah, Alice" jawabku tersenyum.
"Ya tapi kau membutuhkanku" jawabnya tenang. "Kalau aku tidak ada, kau akan tidur gelisah dan siapa yang akan menyuapimu?"
Aku tertegun dengan kalimatnya. Tanpa kusadari, perasaanku seakan berdebar-debar mendengar ucapannya. Aku tahu mimpinya jadi perawat sedari kecil namun aku tidak menyangka bahwa ia begitu bertanggungjawab. Aku tersenyum dan menatap kearah suaranya.
"Kau perawat yang cantik. Suatu hari pasti mendapatkan pangeran yang sangat gagah" ucapku seraya tersenyum padanya.
"—A—aku tidak butuh pangeran yang gagah" ucapnya malu-malu. "Asal aku bisa merawatmu, itu semua sudah cukup"
Aku tersentak dan tersipu dengan kalimatnya. Sejak kapan Alice pandai menggombal seperti ini? aku tidak pernah memperhatikannya selama ini. selama ini dipikiranku hanyalah Lovina yang terbayang. Aku hanya fokus kepada satu wanita dan tidak pernah melihat gadis lain disekitarku. Selama ini apa saja yang kulakukan? Aku membuang kesempatan lain di kehidupanku selama ini. aku terlalu bodoh dan naif.
"Buka mulutmu, Francis" ucapnya dan lalu kubuka mulutku seketika ia memasukan apel tersebut kemulutku. Aku mengunyah apel tersebut, namun seketika juga kurasakan sesuatu menyentuh bibirku. Aku terdiam dan berhenti mengunyah, kaget sekali. Wajahku mulai merona dan kurasakan perasaan yang sudah lama sekali kurindukan.
"Aku akan selalu merawatmu, Francis" seru Alice dengan nada seakan malu-malu. Aku menelan apel didalam mulutku dan meraih tangannya yang menyentuh pipiku.
"Maafkan aku Alice. Maafkan aku selama ini dibutakan cinta semu" ucapku rilih dan Alice kembali mengkecup bibirku berkali-kali. Kukecup balik bibirnya yang lembut itu dan memeluknya.
"Aku mencintaimu, Francis" ucapnya kembali.
Suara pintu terbuka dengan kencangnya sehingga membuat kami tersentak kaget dan melepaskan kecupan kami. Seseorang berdeham dijauh sana yang sekiranya ada di dekat pintu.
"Ada apa in—"
"Kami polisi mendapat sebuah laporan bahwa Francis Bonnefoy adalah seorang tersangka" tiba-tiba suara itu memotong kalimat Alice.
"—A—apa maksud anda? Francis tidak melakukan apapun"
"Kami mendapat informasi bahwa dirinya adalah pemakai" balas suara tersebut. "Atas dasar tersebut, kami selaku polisi daerah sini akan menahan anda, tuan Bonnefoy"
Aku tersentak dan aku berusaha untuk menjelaskan.
"—Ta—tapi saya bukan pemakai—"
"Tangkap!"
Kurasakan genggaman-genggaman di lenganku dan menggeretku untuk keluar dari kamar tersebut. Kudengar suara jeritan Alice yang parau memohon pada polisi tersebut untuk tidak menahanku. Tapi apa daya, polisi tersebut tetap membawaku walau aku tidak mau sekalipun. Aku hanya pasrah mengikuti mereka.
Aku dibawa ke kantor polisi dan dimasukkan ke sebuah penjara. Aku tidak tahu apakah ada orang didalam tempat tersebut atau tidak. Aku tidak tahu seberapa luasnya penjara tersebut. Aku hanya bisa terdiam berdiri ditempat itu.
"Ada orang baru" ucap seseorang yang sepertinya ada dibelakangku. Aku tersentak dan mencoba menatap kebelakang. Kudengar ada beberapa suara seakan tertawa terkekeh menatapku.
"—ah—" aku tidak tahu harus berkata apa.
"Jadi siapa namamu orang baru?" tanya seseorang seraya merangkul pundakku. Kurasakan tubuhnya kekar seperti Roma, namun ia lebih dari Roma.
"F—Francis" jawabku bingung.
"Hmm, nama yang indah" ucapnya mendengus dirambutku seakan ia menghirupi rambutku. Aku mulai bergidik ketakutan dan sedikit menghindarinya.
"Kapan kita mulai pestanya, boss?" ucap seseorang yang lain yang ada dibelakangku terkekeh-kekeh.
"Pesta? Ya! Pesta! Kau harus join di pesta ini!" ucap pria kekar itu. "Karena pesta ini diadakan khusus untukmu, anak baru"
Ia lalu menarik tanganku untuk berjalan sepertinya agak mendalam dari pintu. Mereka tertawa terkekeh-kekeh dan tiba-tiba pria berotot kekar itu menciumku dengan paksa dan tangan seseorang lagi tiba-tiba membuka bajuku.
"Ma-mau apa kalian?" tanyaku panik dan roman wajahku kini menjadi biru lalu ketakutan.
"Tentu saja berpesta denganmu, anak baru" ucapnya terkekeh. "Kau harus memuaskan kami berlima belas disini"
Aku tersentak dan berusaha untuk kabur. Aku menggeliat dan ingin sekali berlari kearah pintu. Namum sepertinya aku salah jalan sehingga mereka mendapatkanku dan kemudian meraba-raba tubuhku dengan bahagianya. Aku berusaha menjerit minta tolong namun seseorang memasukan penisnya kedalam mulutku dan tangan juga kakiku dipegang erat oleh yang lainnya. Tak lama kurasakan bahwa seseorang memasukan penisnya kedalam lubang duburku. Aku diperkosa kembali setelah sekian lamanya. Dan yang lebih parahnya aku harus melayani limabelas orang tanpa henti. Aku tak sanggup menerima mereka semua.
.
.
Xxx
Alice menangis saat mengetahui bahwa Francis dibawa oleh polisi tersebut. Ia terduduk lemas memikirkan pria itu. Sejak lama ia mencintai pria itu walau pria itu mencintai Lovina. Ia selalu memikirkan pria itu walau sudah tidak pernah bertemu dengannya. saat ia menemukan pria yang ia cintai dulu di tempat sampah dengan bersimbah darah, ia berpikir bahwa ini adalah takdir. Ia tidak pernah tahu apa yang dijalani Francis setelah lulus sekolah itu dan ia tidak mau memaksa Francis untuk menceritakannya. Pikirnya sepertinya berat mengingat hidup Francis untuk diceritakan kepadanya. Ia dapat mengetahui beratnya tersebut dari igauan-igauan yang terucap dibibir pria itu sewaktu tidurnya.
Kini ia duduk termenung memikirkan pria itu yang dipenjara dikarenakan pria itu dianggap pemakai. Ia tidak tahu mengapa Francis memakai benda-benda itu tapi ia sangat yakin bahwa Francis tidak pernah memakai benda itu. Ia memikirkan untuk mengeluarkan Francis dari penjara itu.
Ia lalu teringat sesosok yang ia bisa percaya untuk bisa mengeluarkan Francis dari bangunan gelap itu. Ia segera menuju mobilnya dan melajukan mobil tersebut kearah rumah sosok yang ia kenal. Sesampainya dirumah tersebut, ia segera masuk kedalamnya tanpa memikirkan bahwa dirumah itu ada orangnya atau tidak. Ia melihat sosok yang ia ingin temui sedang berkecupan dengan pria lain dengan kacamata dimatanya di dalam ruang tamu tanpa busana sekalipun. Ia bergidik dan segera meneriaki sosok tersebut.
"Arthur!" pekiknya dengan sedikit kesal dan sedih diwajahnya.
Sosok yang dipanggil Arthur itu menghentikan ciuman dari pria itu dan menatap Alice dengan malu. Ia lalu menutup tubuhnya yang sekiranya telanjang dada bersama pria didepannya.
"Yo, Alice!" jawab pria yang bersama Arthur tersebut. Ia tersenyum senang menatapnya hingga dapat tatapan Glare dari Alice.
"Ce—cepat pakai baju kalian, bodoh!" teriak Alice menatap kearah lain dengan wajah yang merona malu. Ia melempar pakaian kepada mereka. "Dasar Arthur dan Alfred bloody wanker!"
Mereka segera memakai baju mereka dan lalu Arthur mendekati adiknya tersebut.
"Ada apa kau datang kesini sampai tidak mengetuk pintu?" tanyanya penasaran. "Kenapa matamu sembab seperti itu?"
"Francis!" ucapnya teringat dan wajahnya kembali sedih dan menggenggam tangan kakak lelakinya.
"Francis? Ada apa dengan Francis?" tanya Arthur makin penasaran. "Kau bertemu Francis?"
"Kumohon, keluarkan dia dari penjara, Arthur!" ucap Alice tidak tenang.
"Penjara?!" seru Arthur dan Alfred berbarengan.
Alice kemudian menceritakan kejadiannya kepada mereka dan memberitahu kondisi Francis kepada mereka. Yang benar saja, mereka tersentak kaget berbarengan mendengar kondisi tersebut.
"Jadi kumohon Arthur. Sebagai pengacara, aku ingin kau membebaskan Francis" ucapnya menahan tangisan. Arthur segera beranjak dari duduknya dan menyiapkan dirinya.
"Kalau gitu kau bisa tunggu disini bersama Al" ujarnya seraya mengambil kunci mobilnya dan segera menghubungi sekretarisnya untuk mempersiapkan semua berkas-berkas.
Alice menunggu Arthur dan ia duduk lemas memikirkan Francis. Alfred yang melihatnya merangkul bahunya dan tersenyum padanya.
"Tenang saja, Alice! Francis pasti akan baik-baik saja" ujarnya menyemangati Alice. Alice hanya tersenyum kecil dan tetap memikirkan Francis.
.
.
Arthur berusaha mengurus semua yang dibutuhkan dan ia mencoba untuk membebaskan Francis sebisanya. Ia berusaha demi Alice. Ia tahu seberapa dalam Alice mencintai pria itu sejak kecil, tapi pria itu selalu saja tidak menyadari kecantikan adiknya itu. Ia berjalan dibelakang polisi tersebut kearah sel dimana Francis ditahan. Ia tersentak kaget mendapatkan Francis tersungkur dilantai dengan pakaian yang compang-camping dan tergeletak seakan tidak bernyawa. Polisi tersebut dengan segera membuka sel tersebut dan meneriaki orang-orang yang memperkosa Francis. Arthur segera berlari kearah Francis.
"Francis!" panggilnya. Namun pria didepan matanya tampak pingsan. Wajah Francis tampak biru pucat dan tubuhnya terasa dingin. Arthur menyuruh polisi-polisi itu memanggil ambulans dan segera membawa rivalnya ke rumah sakit segera.
Francis tersungkur koma dirumah sakit. Kondisinya kritis diambang hidup dan mati. Arthur segera menelpon Alice dan memberitahukan tentang kondisi Francis saat ini. Alfred mengantar Alice kerumah sakit. Sesampainya dirumahsakit itu, Alice berlari keruangan Francis dengan panik. Ia tidak bisa santai mengetahui pria yang ia suka itu terdapati koma dikasurnya. Ia menangis memeluki tubuh Francis.
"Francis" panggilnya sedih sedan. Ia mengelus wajah pria tersebut dengan kasih. Pria itu tetap tertidur dikasurnya dan tidak terbangun. Alice memeluknya erat dan menyesalinya. "Maaf aku tidak menolongmu segera, Francis"
Arthur menepuk pundak adiknya dan segera memeluknya. "Sshh, Francis tidak akan apa-apa. percayalah padaku"
.
.
Setiap hari Alice merawat tubuh Francis yang tertidur lelapnya layaknya putri salju. Tubuhnya semakin lama semakin mendingin dan nafas yang terdeteksi oleh ventilatorpun tampak tidak teratur. Alice hanya mengharapkan keajaiban dimana Francis membuka matanya tersadar dari komanya. Ia tidak mengenal lelah, menggenggam tangan Francis yang dingin itu dan menghangatkannya.
"Francis, aku disini" ucapnya membisikkan kalimat dikuping pria itu walau ia tahu bahwa pria itu tidak akan terbangun dengan bisikannya.
Ia terus berdoa untuk Francis dan terus merawatnya hingga makannya tidak teratur dan tidurnya tidak tenang. Ia mengharapkan keajaiban itu.
"Kau merawatnya tanpa mengenal waktu. Kau harus pulang" seru Arthur yang baru saja datang dengan membawa sekuntum mawar berduri.
"Arthur" ucap Alice menatapnya sendu. "Aku tidak bisa. Aku begitu mengkhawatirkannya"
"Kau sudah makan? Aku bawakan Fish and Chips yang dibuat oleh Alfred"
"Terimakasih tapi aku tidak lapar"
"Setidaknya kamu harus makan!" pekik Arthur sembari menaruh bunga mawar itu di vas yang ada diatas meja. "Aku akan menjaganya, kau istirahat dulu!"
"Mawar itu—"
"—Ya, ini mawar kesukaannya" ucap Arthur tersenyum dengan sebuah dengusan kecil. "Sudahlah kau makan saja dulu"
Alice tersenyum kecil dan mengangguk. "Baiklah"
Alice segera pergi sembari membawa bekal dari Arthur dan ia pergi keruang suster untuk makan. Arthur berdiri menatap Francis lalu menatap kearah ventilator. Ia mendengus kecil menatap pria itu.
"Asal kau tahu, Francis!" serunya. "Jangan membuat adikku bersedih! Kalau kau tidak sadar juga, aku akan menghajarmu di alam sana!"
Suasana lalu hening setelah ia bicara seperti itu. Ia menatap tubuh Francis yang tampak tertidur itu. Beberapa menit ia berdiri menatap Francis tanpa henti tanpa bicara. Ia begitu resah dan sedih melihat adiknya rela sakit demi rivalnya itu. Ia sedih melihat adiknya terus-terusan terjaga dan menghkawatirkan rivalnya tersebut.
"—Lice—" tiba-tiba Francis menyebut sesuatu. "—Al—lice—"
Arthur tersentak akan kesadaran Francis dan ia segera menekan tombol panggilan kepada Alice. Alice segera berlari kearah kamar. Francis berkali-kali memanggil nama Alice dikala tidurnya dan membuat Alice memeluk tubuhnya dan mengkecup pipinya dengan airmata bahagia dipipinya.
"Iya aku disini Francis" serunya sembari mengkecup pipi pria itu. Ia begitu bahagia mengetahui bahwa pria yang ia sayangi ini kini telah sadar, dan ia begitu bahagia bahwa namanya dipanggil pertama kali oleh pria itu. "Francis, ini aku. Aku disini"
Francis membuka matanya yang buta tersebut dan dapat merasakan aroma wangi Alice yang mengkecup pipinya tersebut dan memeluknya erat-erat. Ia mendengar suara Alice yang memanggilnya dan meraih tubuhnya yang sedang memeluknya erat.
"—Alice—" ucapnya lalu menangis.
"Sshh tenang Francis, aku akan selalu bersamamu" serunya. "Kamu sekarang aman bersamaku"
Ia berkali-kali mengkecup pria yang ia sayangi itu. Arthur melihatnya ikutan terharu dan tersenyum bahagia. Ia bahagia melihat adik perempuan yang ia sayangi bahagia, iapun bahagia mengetahui bahwa Francis sudah siuman. Ia menelpon Alfred memberitahu keadaan mereka berdua dan itu membuat Alfred bernafas lega mendengarnya.
.
.
Sejak saat itu, Alice berusaha kembali dari nol membuat Francis mempercayai manusia kembali. Ia merawat Francis dengan setulus hatinya hingga Francis mulai terbuka kembali padanya.
"Alice terimakasih" ucap Francis tersenyum kepadanya hingga Alice dibuatnya berdebar-debar melihat senyumannya. "Tanpa kamu, mungkin aku sudah tidak akan ada disini"
"Ssshh jangan bicara seperti itu!" ucapnya seraya menaruh telunjuknya kebibir Francis. "Aku akan selalu membantumu, Francis"
Francis tersenyum kecil lalu menyentuh tangannya. "Alice, mungkin aku tidak sempurna dan aku akan menyusahkanmu, tapi maukah kau menerimaku yang seperti ini menjadi suamimu?"
Alice terdiam dan wajahnya memerah padam layaknya bunga mawar yang dibawakan oleh Arthur setiap harinya. Debaran didadanya terasa begitu membara dan nafasnya memburu. Ia tidak menyangka akan dilamar oleh pria yang ia sukai itu.
"—Alice? Ah, maaf aku memang tidak pant—"
"Iya! Aku mau!" ucapnya seraya mengkecup bibir Francis dan memeluknya bahagia. "Oh Francis, aku tidak menyangka kau akan mengatakan kalimat itu padaku"
Francis memeluknya dan mengkecup keningnya. "mungkin aku akan menyusahkanmu"
"Aku tidak pernah merasa disusahkan olehmu, Francis" ucapnya tersenyum kecil. "Aku hanya ingin pernikahan kecil-kecilan, Francis"
Ia mengangguk dan mencium gadis itu dengan lembutnya. Alice segera memberitahu Alfred dan Arthur tentang pernikahannya. Mereka melaksanakan pernikahan tersebut dirumah sakit itu. Tidak banyak orang yang menghadiri pernikahan mereka. Hanya suster-suster dan dokter juga Arthur dan Alfred yang menghadiri pernikahan tersebut. Alice sangat bahagia begitu juga Francis. Francis tidak menyangka bahwa dirinya bisa mendapatkan kebahagiaan ini.
"Francis, kau sudah boleh pulang" ucap Alice mencium manja pria yang kini telah menjadi suaminya. Francis tersenyum dan megangguk namun ia teringat bahwa rumah yang dibeli olehnya telah lama ia berikan untuk Lovina. Ia terdiam.
"Tapi aku tidak punya rumah, Alice"
"Kita akan tinggal dirumahku, Francis" ucap Alice tersenyum kecil. Ia membantu pria itu duduk dikursi rodanya. "Rumahku lumayan kecil sehingga kamu bisa mengingat-ingat posisinya"
Francis tersenyum. "Terimakasih Alice"
"Kini aku adalah istrimu, Alice Bonnefoy" ucapnya tersenyum geli. Francis tertawa dan ia segera menyentuh tangan wanita itu.
Alice mengendarai mobilnya diiringi oleh Francis disebelahnya. Saat sampai dirumahnya ia segera membantu Francis turun dari mobilnya dan masuk kedalam rumahnya. Ia menaruh Francis kekasurnya yang sangat empuk itu.
"Aku akan membantumu kalau kau ingin sesuatu. Katakan saja" ucap Alice tersenyum lalu menjatuhkan tubuh pria itu ke kasur dengan perlahan.
Ia menatap Francis yang terlentang dari atas dan ia lalu menduduki tubuh pria itu.
"Wah" sentak pria itu seketika yang merasakan dirinya diduduki oleh gadis itu. Gadis itu menyentuh tangan Francis dan menaruh tangan tersebut didadanya.
"Francis, kau boleh melakukannya denganku" ucapnya seraya membuat tangan Francis mengelus payudara kecilnya. Francis tampak tersipu dan lalu ia mengelus dada wanita yang ia cintai itu.
Mereka lalu melakukan hubungan intim itu dengan Alice yang selalu membantunya. Hari itu adalah hari bahagia mereka. Mereka yang saling mencintai, mereka yang saling menyayangi. Francis merasa kembali bahagia. Seakan kebahagiaan itu sudah lama tidak ia dapatkan. Ia mempercayai gadis pilihannya sekarang. Alice Bonnefoy.
.
To be continued
HAHAHAHAHA KALIAN PASTI PIKIR INI ENDING CERITANYA YA? SALAH!1 SALAH BESAR! Maybe bisa dibilang ending dr season 1? Wkwwkk kagak kagak... kagak ada season2an... ntar malah jadi kaya tuk*ng bub*r na*k ha*i lagi wkwkwk xDD... terimakasih udah baca sampe chapter 7... rencanaku mau kutamatin di ch 10 sih tp kayaknya ga nyampe deh wkwkkw xDD soalnya sengaja kupanjangin per chapter xDD wkwkwk... jadi mohon reviewnya yaaa... xDD
