Title: The Break Roses

Rating: M

Main character: France

Characters: Englands, Spain, America, Romano

Pairing: Look at the story

.

.

Setelah menikah, mereka menghabiskan waktu bersama selalu. Rumah Alice tidak begitu besar namun Francis segera menghafal denah dalam rumah tersebut. Dia pikir apabila Alice tidak ada, ia tidak akan kesusahan saat ingin melakukan sesuatu. Merekapun hidup dalam ketentraman.

"Francis" panggil wanita itu. "Aku akan berhenti menjadi suster dan aku akan menjadi suster pribadimu"

Mendengar hal itu membuat Francis merasa bersalah. Ia berfikir karena dirinya, istri yang ia cintai kini memutuskan akan berhenti kerja.

"Tapi, bagaimana dengan pekerjaanmu? Kau sangat mencintai pekerjaanmu dari dulu" ucapnya. "Maaf, karena aku—"

"Aku memang mencintai pekerjaanku, tapi aku sangat ingin sekali fokus kepadamu dan buah hati kita"

"—" Francis terdiam mendengarnya dan menatap Alice. "—Buah hati?"

Alice cekikikan dengan bahagia. "Iya, aku hamil, Francis"

Alice menarik tangan Francis untuk menyentuh tubuhnya yang sedikit membuncit itu dan tersenyum kecil. Mendengar hal itu, Francis begitu bahagia dan tersenyum.

"Kau akan menjadi pere dan aku akan menjadi mamant" ucap Alice cekikikan.

"Aku tidak menyangka aku akan menjadi seorang ayah" ucap Francis tak percaya. Ia memeluk Alice dengan eratnya dan tertawa. "Kuharap buah hati kita cantik seperti mamant-nya"

.

Berhari-hari mereka lalui dengan bahagia dan tidak sabar menanti buah hati mereka yang pertama. Francis telah melupakan masa-masa lalunya dan meraih masa depannya walaupun matanya tidak bisa melihat lagi. Bersama Alice, ia meraih kehidupan yang bahagia.

Hari yang dibangga-banggakanpun datang. Alice lalu akan melahirkan. Arthur dan Alfred datang membantu mereka dan dokter-susterpun datang untuk membantu Alice melahirkan dirumah. Arthur, Alfred dan Francis menunggu mereka diluar dengan amat sangat khawatir. Suasana hening dan merekapun berdoa akan keselamatan Alice dan bayinya. Mereka terdiam dan hanya menelan air liur mereka, tegang yang dirasakan oleh mereka.

"Sedikit lagi, Kirkland!" seru sang dokter. "Push! Push!"

Alice terus mendorong perutnya dan teriak kesakitan. "Aaaahh!"

Yang diluar hanya terdiam saling khawatir dengan kondisi yang didalam. Tidak lama, mereka mendengar suara tangisan bayi dari dalam ruangan. Mereka bernafas lega dan bersorak ria. Arthur menuntun Francis untuk masuk kedalam ruangan setelah dokter memberi izin.

"Selamat tuan Bonnefoy, anda sudah menjadi ayah" ucap sang dokter tersenyum dan bersalaman dengan Francis. Francis tidak menyangka dirinya telah menjadi seorang ayah. "Anaknya perempuan"

Francis sangat bahagia dan ia segera mendekati Alice dan mencium keningnya. "kau telah berjuang keras, Alice"

Alice tersenyum bahagia dan meremas tangan suaminya itu.

"Kita beri nama Rose" ujarnya. "Rose Bonnefoy"

Mereka lalui kehidupan baru mereka dengan anak mereka satu-satunya. Mereka membesarkan anak mereka dengan penuh kasih dan begitu memanjakannya.

.

.

Rose berumur lima tahun dan memeluk papanya dengan senang. Bagi Rose, sosok ayahnya ini seperti sosok pangeran. Ya bagi anak perempuan, ayah adalah sosok pangeran dimatanya. Ia memeluk ayahnya dengan tertawa kecil.

"Pere, Rose ingin pere membacakan buku dongeng untuk Rose" ucapnya cekikikan dan menarik tangan Francis untuk duduk didepan api unggun bersamanya.

"Eh?" Francis tampak tertegun dan bingung. "Dongeng?"

"Iya, dongeng tentang Cinderella" ucapnya seraya memberikan buku itu kepada Francis. Francis terdiam bingung. Ia tidak mau membuat harapan anaknya hilang tapi ia tidak bisa membohonginya.

"Rose!" seru Alice sembari mengelus pipi anaknya itu. "Sini biar mamant saja yang bacakan ya?"

Rose merengut kesal. "Tapi Rose maunya pere! Mamant sudah sering menceritakannya, tapi pere tidak pernah!"

Alice mendecak kecil lalu menghela nafas. "Oh, Rose, pere tidak bisa menceritakan dongeng dibuku ini untukmu"

"Kenapa?"

"Karena Pere matanya sakit, ia tidak bisa membacakan dongeng untukmu"

"Kenapa sakit?" Alice menghela nafasnya lalu tersenyum kecil pada anaknya.

"Oh, Rose, pere sakit saat muda, karena itu matanya sakit sampai sekarang dan untuk seterusnya" jelas Alice lembut. "Karena itu kalau kamu ingin dibacakan cerita, minta mamant saja ya"

Rose tampak sedikit kesal karena ayahnya tidak pernah menceritakan sebuah dongeng untuknya. Tapi ia senang saat mendengar ayahnya bercerita dengan imajinasinya. Ia sangat menyayangi kedua orang tuanya.

"Kalau begitu apa pere bisa main denganku?" tanyanya penasaran.

"Mainpun tidak bisa" ujar Alice tegas.

"Ah, kalau sekedar main—"

"Tidak, Francis! Itu akan membahayakan kamu!" ucap Alice cepat seraya membungkam mulut Francis dengan jari telunjuknya. "Kalau berlari-larian kamu tidak bisa melihat—kecuali main masak-masakan"

Francis terkekeh diikuti oleh Rose. "Kalau gitu aku main masak-masakan sama pere"

.

Hari demi hari mereka lalui dan Rose beranjak menjadi mirip seperti Alice. Penerimaan masuk SMP dimana dihari itu anak-anak diantar oleh keluarganya ke sekolah. Alice sudah siap-siap untuk mengantar anak itu bersama dengan Francis.

"Pere tidak usah mengantarku!" ujarnya dengan wajah dinginnya. Francis dan Alice terdiam menatap kearah gadis belia itu.

"Rose—" ucapan Alice terhenti saat gadis belia itu melangkahkan kakinya keluar dengan segera. Ia tampak dingin seperti tidak ingin didekati oleh orang-orang.

Rose menjalani kehidupan SMP-nya dengan sangat bahagia. Ia mempunyai banyak teman yang baik kepadanya, namun sikapnya kepada Francis begitu dingin. Setiap Francis bertanya tentang sekolahannya, ia hanya menjawabnya dengan dingin dan judes, seperti Alice saat remaja. Apabila jawaban itu keluar dari mulut gadis itu, sang ibu mulai sedikit membentaknya. Rose begitu tidak acuh terhadap keluarganya. Ia begitu mementingkan dirinya sendiri dan teman-temannya. Hal ini membuat Alice merasa sedih.

"Aku sudah tidak tahu pada anak itu" ucap Alice kesal dan mendesah resah. "Siapa yang mengajari anak itu untuk bersikap dingin?!"

"Sudahlah Alice" ucap Francis memakluminya.

"Tidak bisa disudahkan, Francis!" bantah Alice. "Ia sudah kurang ajar padamu yang mana adalah papanya!"

"Tapi—"

"Aku tidak pernah mengajarinya berlaku kasar terhadapmu!" lanjutnya.

Francis hanya tersenyum lembut dan menenangkan istrinya yang sedang dilanda amarah. Ia memegang tangan kecil istrinya tersebut dan tersenyum kearahnya.

"Sudahlah Alice, aku tahu mungkin Rose malu mempunyai ayah sepertiku"Ucapnya. "Selama ini aku tidak bisa melakukan apapun yang terbaik untuknya. Aku mengerti, ia pasti menginginkan sosok ayah yang sempurna"

"Tapi, Francis—"

"Tidak apa-apa" Francis tersenyum. "Beri ia waktu. Ia pasti akan mengerti suatu hari nanti"

"Francis—"

"Seandainya, aku bisa menjadi ayah yang normal untuknya" ucap Francis dengan tarik nafas yang lumayan dalam.

"Oh Francis, kau sudah menjadi ayah yang baik—" ucapan Alice terputus saat melihat sosok anaknya di ambang pintu. "—R—Rose?!"

Rose mendengar semua percakapan orangtuanya tersebut dan merasa bersalah. Ia tampak malu dan kecewa pada dirinya sendiri.

"Pere!" ucapnya sesunggukan dan menangis deras lalu ia memeluk Francis dengan eratnya. "Ma—maafkan aku. Aku tidak bermaksud menyakitimu"

Francis tampak sedikit tersentak lalu tersenyum kepada anaknya semata wayang dan memeluknya. "Aku tidak bermaksud menyakiti Pere, aku sayang sekali sama pere. Maafkan aku pere" lanjut gadis itu menangis sesunggukan dipelukan Francis.

"Oh Rose" Francis memeluknya dan mengelus rambut gadis itu dengan bahagia. Ia bahagia mempunyai anak yang sangat cantik dan sangat baik hati. "Pere sayang Rose juga. Maafkan pere tidak bisa berlaku selayaknya ayah-ayah teman-temanmu"

"Tidak. Pere sudah cukup. Rose menyayangi pere apa adanya. Pere begini juga bukan karena keinginan pere, pere sakit kan?"

Francis terdiam tapi ia mengangguk kecil. Selama ini ia tidak pernah menceritakan semua kejadian ini kepada mereka. Ia tidak pernah menceritakan bagaimana matanya bisa menjadi buta seperti itu. Ia menutupi semua bukan karena ia malu menceritakan, ia hanya berfikir bahwa ingin memulai kehidupan baru dan melupakan semua kejadian lama itu.

Francis mengelus rambut gadis itu dan Alice pun juga mengelusnya. "Aku menyayangi pere dan mere" Rose memeluk Francis dan Alice berbarengan.

"Kami menyayangimu, Rose"

.

.

Xxx

.

.

Rose, gadis belia itu kini beranjak menjadi murid SMA. Ia gadis yang baik dan sangat berbakti kepada orang tuanya. Ia sangat menyayangi keduanya dan tidak ingin melakukan kesalahan untuk kedua kalinya kepada orang tuanya. Ia menjadi anak yang sangat pintar dan cantik hingga disegani para lelaki disekolahnya. Namun pesona Alice turun kepadanya. Ia bagai mawar berduri tajam, cantik namun susah didekati. Itulah mengapa Rose sangat terkenal dikalangan lelaki.

Kala itu Rose yang baru duduk di kelas dua dipilih menjadi ketua kelas oleh teman-temannya yang memujanya. Begitu juga ia mendapat dukungan dari wali kelasnya yang sangat tampan dan muda yang bernama Juan.

Siapa gadis belia yang tidak jatuh hati pada guru bahasa Spanyol disekolah, Juan? Bisa dikatakan banyak sekali gadis-gadis remaja itu jatuh hati kepada pria itu. Juan, guru yang sangat baik dan murah senyum juga tampan. Kulitnya yang sawo matang itu membuat para wanita kelepak-kelepek layaknya ikan yang tertangkap kedarat. Pria seperti itu tidak mungkin digossipkan single kan?.

Sore itu diruangan yang kosong dengan cahaya mentari senja, Rose yang baru saja selesai mengerjakan piketnya, bersiap-siap untuk pulang. Ia memikirkan tentang makan malam apa yang akan dimasak oleh mamant-nya hari ini. ia berjalan dilorong sembari bersenandung riang. Namun diperjalanannya itu, ia bertemu dengan guru bahasa Spanyol-nya itu.

"Ah, mister Juan. Sudah mau pulang?" tanyanya tanpa menunjukan senyuman manis diwajahnya. Juan yang melihatnya tersenyum riang kearah gadis itu.

"Si, kamu juga baru mau pulang?" tanyanya balik. Rose mengangguk kecil dan mereka jalan bareng. "Kau selalu saja sendirian"

"well, aku tidak keberatan dengan kesendirian ini" ujar Rose. "Lagipula aku sudah terbiasa"

"Aku sering melihatmu melakukan piket sendiri. Kau tampak menikmati semuanya" senyum Juan kepadanya. "kau mengagumkan"

Seketika wajah Rose mulai memerah padam mendengar pujian itu, namun ia mencoba untuk menutupinya dengan memalingkan wajahnya yang merona itu.

"Bi—biasa saja" ucapnya malu.

Juan tertawa dan menatap gadis itu dengan wajah yang merona. "Aku—menyukai kamu, Kirkland. Maukah kau menikah denganku?"

.

.

Xxx

.

.

"Rose" panggil Alice saat melihat anaknya melamun ditengah acara makan malam itu. "kenapa kau tidak makan makanan favoritemu?"

Rose tersadar dan menatap wajah ibunya. "Eh? Ah—iya aku akan memakannya"

"Kau kenapa?" tanya sang ayah khawatir.

Rose terdiam dan berusaha menenangkan dirinya yang gugup dan malu itu. "—"

"— pere, mamant, hari minggu ini guruku meminta pere dan mamant untuk datang kerumahnya" lanjutnya dengan wajah yang merona.

"Gurumu? Kau berbuat nakal? Atau di skors?" tanya Alice kaget dan tidak percaya.

"Bu—bukan!" bantah gadis itu dengan cepat. "—ceritanya begitu cepat—"

Kedua orangtuanya tetap mendengarkannya. "Ia—ingin bertemu pere dan mamant untuk melamarku dan menikahiku—" ucap Rose malu-malu dan ragu.

"—" Francis dan Alice kini terdiam membisu tanpa bisa berkata. Mereka begitu kaget dan shock dengan kalimat anaknya. Anaknya yang masih kelas 2SMA itu dilamar oleh gurunya. Bagaimana mereka bisa menjawab pernyataan yang aneh itu?

"Apa maksudmu, young lady?" tanya Alice yang sedang berusaha mencerna kalimat anaknya.

"Guruku tiba-tiba melamarku dan ia ingin kita datang kerumahnya untuk bertemu dengan orangtuanya untuk membicarakan tentang pernikahan kami"

"Tunggu young lady! Kau ini masih kelas 2 SMA! Kau tidak mungkin menikah dalam waktu dekat ini!" Alice sedikit membentak karena ia tidak mempercayai apa yang ia dengar itu.

"Tapi itu betul mamant!" Rose tampak ragu tapi ia berusaha untuk meyakinkan orangtuanya dengan ucapannya.

"Apa kau mencintainya, Rose?" tanya Francis meyakinkan putri semata wayangnya itu.

Rose tampak malu-malu, wajahnya merona merah dan ia mengangguk. "I—iya. Kami saling mencintai, pere"

"Kalau begitu kita bicarakan dahulu dengan gurumu dan keluarganya. Kemungkinan mereka harus menunggu kamu hingga lulus sekolah!" ujar Francis.

"Francis!" Alice tampak tidak senang dengan jawaban yang dilontarkan oleh suaminya.

"Tidak apa-apa, Alice. Apabila mereka saling mencintai, aku menyetujuinya. Tapi Rose dan gurunya harus menunggu hingga hari kelulusan"

"Baiklah kalau memang itu pilihanmu" Alice mendesah dan tersenyum kepada anak semata wayangnya. "Apabila ia bahagia"

Wajah Rose tampak berseri dan bahagia mendengar persetujuan orangtuanya. Ia bahkan menghubungi Juan tentang persetujuan orangtuanya. Juan pun menceritakan kepada Rose tentand dirinya yang mendapatkan restu dari orangtuanya juga.

.

To be continued

Maaf dengan telatnya update chapter 8, berhubung komputerku sering banget mati sendiri hingga membuatku malas banget buka laptop ;;;;;;;;;;;... betewe all... HETALIA GATHERING AKAN DIADAKAN TANGGAL 22 OKTOBER 2017 INI.. BURUAN DAFTAR YAAA! Untuk informasi lebih lanjut silahkan lihat Facebook: Marseilly Yasmin Rezky (Seillua)

Atau line / IG : Seillua.. bisa tanya-tanya tentang Hetalia Gath..

Dan ini kali pertamanya Gathering ini diadakan di 6 tempat sekaligus.. JAKARTA, DENPASAR, SURABAYA, MAKASSAR, JOGJA, DAN BANDUNG

Daftar bisa dilihat di FB yang tertera dan daftar ke panitia masing-masing daerah :D.. terimakasih~~