Kuroko no Basuke hanya milik Fujimaki Tadatoshi.
Cerita ini hanya milik saya seorang.
Warning: AU, Real! Akashi, brotherly love! a lot of them I think, cuteness ahead(?), OOC, typo, DLDR!
Tipikal upacara pemakaman lainnya, upacara pemakaman seorang Akashi Seijiro pun berlangsung dengan suasana suram dan kelam yang menggelayuti. Satu-satunya anggota keluarga yang tak menangis di pemakaman tersebut hanyalah Akashi Seijuurou, putra sulung sekaligus satu-satunya putra kandung Akashi Seijiro.
Kelima adik Seijuurou, Shintarou, Atsushi, Ryouta, Daiki, dan Tetsuya –anak berusia tiga tahun—yang baru menjadi anggota keluarga mereka, menangis saat itu dan tak mau jauh-jauh dari Seijuurou sama sekali. Bagai semut mengerubungi gula.
Tetsuya, sebagai yang paling kecil dan anggota baru keluarga mereka, digendong Seijuurou dengan tangan kanannya, dagu anak itu bertumpu pada bahu Seijuurou dan tangan kecilnya melingkari leher Seijuurou. Ia terlihat tenang, mungkin ia sudah tertidur karena kelelahan menangis.
Daiki berdiri di samping kanan Seijuurou, tangannya menjumput sebagian kecil celana panjang hitam yang Seijuurou kenakan dan meski pun anak itu berusaha menahan isak tangis sebisanya karena ia pikir ia sudah mengalami ini dua kali sebelumhya, tetap saja Seijuurou bisa mendengarnya.
Ryouta berdiri di samping kiri Seijuurou, anak itu menangis terisak-isak secara terbuka dan sebelah tangan Seijuurou yang tak ia gunakan untuk menopang berat Tetsuya ia gunakan untuk mengelus puncak kepala kuning Ryouta. Tangan anak itu memeluk erat kaki kiri Seijuurou.
Atsushi membenamkan wajahnya di bahu kiri Seijuurou, sebelah tangannya melingkar di pinggang pemuda itu dari belakang, dan meski ia yang terlihat paling tenang, ia pun ikut menangis secara diam-diam. Terbukti dari bagian bahu jas hitam Seijuurou yang terasa basah dan bahunya yang berguncang.
Midorima terus-terusan menyembunyikan wajahnya dengan menunduk. Tapi sesekali bahunya berguncang dan terdengar isakan yang tertahan. Bintik-bintik air mata juga bisa terlihat menggenang di lantai di bawahnya. Sebelah tangan Midorima sama seperti Daiki, menjumput sebagian kecil jasnya di bagian belakang.
Mereka berlima seakan takut jika Seijuurou melangkahkan kaki satu langkah saja dari mereka, maka Seijuurou juga akan pergi selamanya seperti anggota keluarga mereka yang terus-terusan pergi. Tapi tak akan pernah kembali.
Beberapa kenalan dekat Akashi Seijiro menghampiri Seijuurou dan kelima adiknya untuk mengucapkan belasungkawa mereka. Beberapa bahkan menuturkan betapa baiknya seorang Akashi Seijiro pada kelima anak tersebut. Seijuurou hanya menganggukkan kepala di beberapa bagian yang menurutnya pas dan sesekali memberikan kalimat penenang pada mereka yang menangisi kepergian ayahnya.
Begitu upacara pemakaman selesai dan orang-orang mulai mengosongkan rumah mereka, paman Seijuurou dari pihak ibu, Kiyoshi Teppei, dan istrinya, Kiyoshi Riko, terlihat tengah berjalan tergesa mendatangi mereka berlima. "Seijuurou..."
Langkah kaki Teppei melambat hingga berubah menjadi berhenti ketika ia telah sampai di hadapan Seijuurou dan kelima adiknya. Sekilas, tatapan iba memancar dari mata Teppei dan Riko melihat Seijuurou –dengan wajah tenangnya, tanpa ada tanda kalau ia sedih sedikit pun—tengah dikelilingi adik-adiknya.
Tapi pancaran iba itu segera menghilang, tergantikan binaran ceria-cenderung-bodoh yang biasa dikeluarkan oleh sang paman. "Adik-adik Kak Seijuurou yang manis, boleh Paman pinjam kakaknya sebentar?"
Awalnya mereka semua enggan. Ryouta mengeluarkan'eeeeeh?' panjang dan Tetsuya tak mau turun dari gendongan Seijuurou; ia baru sehari tinggal di rumah itu dan Seijuurou lah yang paling ia kenal. Tapi dengan lembut, Seijuurou akhirnya berhasil meyakinkan adik-adiknya dengan mengatakan 'Kakak akan kembali' dan 'sebentar saja. Kakak janji'.
Setelah menitipkan adik-adiknya pada Riko dan berpesan macam-macam pada sang bibi mengenai adik-adiknya, sang anak yang masih berusia empat belas tahun mengikuti pamannya menuju kamarnya. Tempat di mana mereka bisa berbicara berdua saja tanpa ada seorang pun mendengarkan.
"Seijuurou, bagaimana kalau setelah ini kalian ikut dengan Paman?" tanya Teppei lembut setelah mendudukkan diri di atas ranjang di kamar tersebut. Di sebelahnya telah duduk Seijuurou dengan sikap sempurna.
Anak berambut merah itu mengalihkan pandangannya sejenak dari Teppei. Kelihatannya sedang menimang-nimang antara menyetujui ajakan Teppei dengan menolaknya dan memutuskan tetap tinggal bersama kelima adiknya di rumah mereka itu.
Ini pilihan sulit bagi Seijuurou. Tinggal di rumah pamannya tentu akan mempermudah berbagai hal untuknya. Tapi pamannya sudah memiliki seorang anak angkat yang usianya lebih tua satu tahun dari Seijuurou dan mengurus anak remaja yang mulai memasuki masa pemberontakan pasti sulit. Apa lagi jika harus ditambah dengan lima anak lagi.
Tidak mungkin Seijuurou menambah beban paman dan bibinya.
Sesaat kemudian Seijuurou nampak menutup mata dan menghela napas dengan sangat perlahan. Hal yang biasa ia lakukan saat sudah mengambil keputusan berat. "Terima kasih, tapi tidak, Paman. Aku rasa lebih baik aku dan adikku tetap tinggal di sini."
"Tapi kalian masih muda, Seijuurou. Tinggallah dengan kami, paling tidak hingga kau cukup umur—"
Seijuurou menggeleng. Pewaris tunggal keluarga Akashi tersebut tersenyum simpul, "Tidak, Paman. Lagi pula Paman sudah punya Junpei. Akan sangat menyusahkan jika kami ikut Paman. Aku bisa mengurus mereka semua. Lagi pula ada banyak yang maid di rumah ini yang akan membantuku mengurus mereka. Paman tidak usah khawatir—"
"—Aku seorang Akashi."
Alis Teppei berkerut dan mulutnya terbuka, tampak siap untuk membantah kata-kata Seijuurou. Tapi ia tahu lebih baik tidak membantah kata-kata Seijuurou ketika ia sudah mengatakan 'aku seorang Akashi' karena tak akan ada gunanya. Anak itu tak akan mengubah pikirannya. Tak peduli sekeras apa pun Teppei membujuknya.
Seijuurou terkekeh melihat pamannya yang gusar melihat keponakan satu-satunya yang sudah tak bisa lagi dibantah.
"Baiklah. Tapi kalau kau perlu sesuatu, jangan segan menelepon Paman atau Bibi. Mengerti?" Teppei menghela napas dan mengacak-acak rambut Seijuurou dengan penuh kasih sayang. Seijuurou menutup matanya dan menikmati sepotong kecil bentuk kasih sayang pamannya tersebut.
"Kalau begitu, Paman, aku ingin minta tolong. Bisakah?"
Teppei menarik tangannya dari puncak kepala Seijuurou dan berkata, "Tentu. Apa itu?"
"Jadilah wali kami, dan tolong datanglah saat pembacaan surat wasiat Ayah."
"Baiklah. Kami pulang dulu, Seijuurou," Riko memindahkan Tetsuya di gendongannya pada Seijuurou. Si sulung Akashi menerimanya dan menyesuaikan posisi Tetsuya yang kelihatannya sudah mengantuk di gendongannya. Terbukti dari kepalanya yang berkali-kali bertemu dengan dadanya sendiri dan sebelah tangannya yang terus menggosok mata, "Jangan segan untuk menelepon kami kalau butuh sesuatu."
"Baik, Bibi." Seijuurou tersenyum.
Bibinya memang benar-benar orang baik yang tak bisa berhenti khawatir.
Riko memasuki mobil yang di kursi pengemudinya telah duduk Teppei. Di kursi penumpang belakang mereka terdapat putra tunggal mereka, Junpei, yang tertidur pulas dengan kepala yang jatuh ke satu sisi dan mulut terbuka lebar.
Riko dan Teppei menatap Seijuurou dengan pandangan yang seakan memertanyakan keputusan Seijuurou. Si anak berambut merah tersenyum lembut ke arah mereka. Dengan mantap ia mengangguk, seakan mengerti pertanyaan kedua orang tersebut tanpa mereka perlu menyuarakannya.
Sepasang suami istri tersebut saling pandang melihat keponakan mereka yang benar-benar keras kepala. Persis sekali dengan ayahnya. Yah, walau bagaimana pun, orang-orang memang bilang anak lelaki mirip dengan ayah mereka bukan?
"Jaga dirimu, Seijuurou. Besok Paman akan datang lagi. Sekitar jam tujuh malam bukan?"
"Ya. Terima kasih, Paman," kata Seijuurou sambil mengangguk sekali. Pandangannya beralih ke adiknya, diciumnya pipi Tetsuya. Tetsuya tersentak bangun. Beberapa kali ia berkedip untuk mengusir rasa kantuk yang bergantung di matanya. Mereka bertemu pandang.
Seijuurou berbisik tepat di samping telinga Tetsuya. Sesaat kemudian anak berambut biru langit tersebut menatap Paman dan Bibi barunya dengan mata yang siap tertutup kapan saja.
"Hati-hati di jalan, Paman, Bibi," kata Tetsuya lirih. Kuapan mengikuti kata-katanya dan sebelah tangannya lagi-lagi ia gunakan untuk menggosok mata kanannya.
Seijuurou terkekeh. Si sulung kemudian mengambil sebelah tangan adiknya dan melambaikannya pada dua orang dalam mobil tersebut.
Alhasil, dua dari tiga orang dalam mobil tersebut tersenyum melihat tingkah kedua si kakak-beradik angkat. Setelah mengucapkan salam perpisahan sekali lagi pada kedua saudara angkat tersebut, Teppei menginjak pedal gas dan melaju pulang.
Mungkin, semuanya akan baik-baik saja dalam kendali Seijuurou.
Seijuurou melangkah masuk ke dalam rumah dengan Tetsuya yang kepalanya terjatuh-jatuh karena kantuk. Sebelah tangan Seijuurou yang bebas, melingkarkan diri di sekeliling Tetsuya. Menjaga agar anak tersebut tak terjatuh jika ia benar-benar tertidur nantinya.
"Yang lain mana, Tetsuya?"
"Mmh, sudah tidur," jawab Tetsuya dengan sebelah tangan menggosok mata kirinya. Lucu sekali.
"Di?" tanya Seijuurou lagi dengan sebelah alis terangkat. Entah kenapa ia merasa kalau ia akan maklum jika ia menemukan keempat adiknya yang lain tengah tergeletak seperti mayat di atas kasur-kasur yang digelar sembarangan di kamar Seijuurou yang luas.
Walau bagaimana pun, mereka baru saja kehilangan seorang anggota keluarga penting setelah mereka semua kehilangan orang tua mereka dengan cara yang cukup tragis; orang yang notabene terpenting dalam hidup seorang anak.
Dan pada akhirnya mereka menjadikan si sulung sebagai tumpuan mereka kini. Sejak kemarin, mereka sama sekali enggan berpisah jauh-jauh dari Seijuurou. Bahkan kemarin malam pesta menginap dadakan diadakan di kamar Seijuurou dengan keenam bersaudara tersebut tidur di lantai dengan kasur-kasur lipat.
Tetsuya menggeleng pelan.
"Di kamar masing-masing, katanya."
Seijuurou mengangguk dan menggumam pelan. Sesaat kemudian ia seakan teringat sesuatu, "Oh ya, Tetsuya berani tidur sendiri?"
Mata biru muda Tetsuya sontak terbuka lebar begitu telinganya menangkap kata-kata kakaknya. Anak itu menggigit bibirnya, seakan ingin mengatakan sesuatu tapi tidak berani atau segan. Tapi ekspresinya seperti anak anjing yang ditendang keluar oleh majikannya dan itu sudah cukup menjadi jawaban bagi Seijuurou.
"Baiklah, baiklah. Sampai usia Tetsuya lima tahun, atau paling tidak sampai Tetsuya berani tidur sendiri, Tetsuya akan tidur dengan Kakak. Jadi jangan pasang wajah seperti itu." Seijuurou tertawa pelan melihat wajah adik bungsunya –yang baru berusia tiga tahun—yang langsung berbinar. Sebelah tangan Seijuurou mencubit pipi Tetsuya gemas.
Meski sebenarnya wajah anak itu tak jauh berbeda dengan biasanya. Sekilas terlihat tetap datar.
Perbincangan kedua kakak-beradik tersebut berlanjut. Si sulung menanyakan bagaimana kesan si bungsu tentang Bibi Riko, Paman Teppei, Junpei –yang usianya setahun lebih tua dibandingkan Seijuurou—yang tadi sempat bermain sedikit dengan si bungsu dan adik Seijuurou lainnya, tentang apa yang mereka mainkan tadi, dan apakah Tetsuya menikmatinya.
Langkah kaki Seijuurou akhirnya membawa mereka ke depan pintu kamar si sulung. Sebelah tangan Seijuurou ia gunakan untuk memutar kenop pintu dan membukanya. Setelah beberapa saat meraba-raba sisi dinding untuk mencari saklar, Seijuurou akhirnya menemukannya dan menekannya.
Kosong. Lantai kamar Seijuurou yang luas ternyata bersih dari segala macam kasur lipat dan empat buah kepala berbeda warna. Benar apa yang dikatakan Tetsuya.
Dengan lembut, didudukkannya Tetsuya di sisi ranjang selagi si sulung mencari baju piyama untuk dirinya sendiri. Baju piyama Tetsuya sudah disiapkan oleh kepala pengurus rumah mereka, Araki Masako, di atas ranjang Seijuurou.
Seijuurou tersenyum sendiri mengingat kepala rumah tangga yang sudah seperti ibunya sendiri, dilihat dari bagaimana wanita itu mengerti Seijuurou luar dalam hingga tahu kalau si sulung Akashi akan membiarkan adik bungsunya tidur bersamanya hingga satu pasang piyama lengkap sudah terlipat rapi siap digunakan di atas ranjangnya.
"Ayo, ke mari, Tetsuya. Kita ganti baju dan sikat gigi dulu."
Tetsuya melompat turun dari kasur dan berjalan santai ke arah Seijuurou yang telah selesai berganti baju dan hanya tinggal mengacingkan beberapa buah baju teratas. Setelah selesai berkutat dengan piyamanya, ia berbalik dan mengambil piyama biru langit milik Tetsuya.
"Tetsuya sudah bisa ganti baju sendiri?"
Tetsuya menggeleng, "Belum terlalu pandai."
Seijuurou tersenyum. Tiba-tiba saja ia teringat Daiki ketika anak berambut biru tua itu baru menjadi anggota keluarga Akashi. Keadaannya tak jauh berbeda dengan Tetsuya saat ini. Bahkan mungkin lebih parah. Atsushi juga sama. Hingga usia anak berambut ungu itu enam tahun, ia tak bisa memakai baju sendiri hingga Seijuurou harus selalu membantunya.
Daiki masuk ke keluarga kecil mereka ketika berusia lima tahun dan ia masih salah memasukkan kancing bajunya. Pada akhirnya setiap malam, Seijuurou membantunya mengganti ke dalam piyama. Hingga akhirnya suatu hari Ryouta meledeknya dengan berkata 'sudah lima tahun belum pandai pakai piyama sendiri' dengan lidah terjulur dan Daiki panas mendengarnya.
Setelah kejadian itu, Daiki meminta Seijuurou mengajarinya memasang kancing dengan benar dan kini ia sudah bisa berganti baju sendiri.
Di luar dugaan Seijuurou, Tetsuya sudah pandai memakai celananya sendiri. Jadi Seijuurou hanya perlu memasangkan piyama Tetsuya saja.
Dengan cekatan, kedua tangan Seijuurou bergerak membuka jas hitam yang dipakai Tetsuya, membuka kemeja putih di baliknya sebelum melonggarkan dasi kupu-kupu di leher Tetsuya dan melepasnya.
Terlihatlah tubuh kecil Tetsuya yang... di luar dugaan ternyata sangat kurus. Tulang-tulang rusuknya tercetak jelas di sisi tubuh kecil anak usia tiga tahun tersebut. Dan... apa itu memar yang dilihat Seijuurou berserakan di sekujur tubuhnya?
Seijuurou berusaha untuk tidak mengeluarkan reaksi lain selain mata yang melebar sedikit agar adik bungsunya tak merasa risih. Dengan cepat, tangan Seijuurou meraih piyama Tetsuya dan membuka kancingnya satu per satu sebelum membantu Tetsuya memasukkan tangannya.
Sepertinya, sama seperti keempat adiknya yang lain, Tetsuya pun punya kisahnya sendiri sebelum ia masuk menjadi keluarga Akashi.
Seijuurou memutuskan untuk tak menanyakan perihal luka-luka di sekujur tubuh Tetsuya. Si sulung yakin luka-luka itu membawa kenangan buruk di setiap buahnya. Mungkin orang tua Tetsuya bukanlah orang tua terbaik yang ada di dunia. Mungkin memang tidak keduanya, tapi salah satunya mungkin bukanlah orang tua yang baik.
Maka dari itu, Seijuurou akan menunggu Tetsuya yang mengatakannya sendiri. Mengatakan tentang apa yang dialaminya selama ia ada dalam pengasuhan orangtua biologisnya. Atau paling tidak, ia akan bertanya jika Tetsuya sudah lebih besar.
Setelah selesai berurusan dengan piyama, Seijuurou membimbing Tetsuya untuk menyikat gigi. Lagi-lagi di luar dugaan Seijuurou, anak berusia tiga tahun tersebut sudah pintar menyikat giginya sendiri.
Anak itu bisa terbilang mandiri untuk anak seusianya yang biasanya masih melakukan berbagai macam hal dengan dibantu orang dewasa.
"Menurut Tetsuya, bagaimana Kakak-Kakak Tetsuya yang lain?" tanya Seijuurou begitu mereka keluar dari kamar mandi –yang menyambung dengan salah satu sudut kamar Seijuurou—dengan Tetsuya dalam gendongannya.
"Mmh, baik." Tetsuya menunduk saat menjawabnya.
Entah kenapa sejak membawanya pulang dari rumah sakit kemarin, Seijuurou selalu merasa kalau Tetsuya seakan menahan diri di sekelilingnya dan adik-adik Seijuurou yang lain. Mungkin ini juga ada hubungannya dengan kehidupan Tetsuya sebelum ia menjadi seorang Akashi.
Seijuurou merebahkan Tetsuya di salah satu sisi tempat tidur dan membalutnya dengan selimut hangat sebelum ia mematikan lampu kamar mereka. Akhirnya ia berhasil menemukan ranjang setelah berjalan dengan hati-hati, ia merebahkan diri ke atas ranjang di sisi lainnya.
"Tetsuya biasanya melakukan apa supaya bisa tidur?" tanya Seijuurou lembut. Sebelah tangannya menjangkau lampu meja di sampingnya dan menyalakannya. Memberikan mereka ruang penglihatan yang lebih luas dalam gelapnya kamar Seijuurou tersebut.
Seijuurou berbalik menghadap Tetsuya. Mata merahnya bertemu pandang dengan mata biru langit besar Tetsuya dan sebelah tangannya ia gunakan untuk menopang kepala merahnya. Tangan si sulung yang bebas ia gunakan untuk mengelus kepala bersurai biru milik Tetsuya serta mengesampingkan beberapa surai biru yang mungkin menghalangi pandangan anak itu.
"Tidak ada. Ibu tidak pernah melakukan apa-apa untuk menidurkan Tetsuya." Jawaban jujur nan polos dari Tetsuya membuat hati Seijuurou seakan tertusuk. Sepertinya dugaannya benar. Orang tua biologis Tetsuya memang bukan orangtua yang baik.
Dalam hati si sulung berjanji akan memberikan perhatian dan segala bentuk kasih sayang yang ia bisa untuk Tetsuya. Tidak, bukan hanya untuk Tetsuya, tapi juga keempat adiknya yang lain. Karena mereka semua memiliki masa lalu yang tak jauh berbeda. Sama-sama tragis.
"Hmm, begitu..." Seijuurou meneruskan kegiatannya mengelus kepala Tetsuya.
Keheningan mengisi atmosfer di sekitar mereka. Seijuurou masih memerhatikan si bungsu dengan mata yang setengah terbuka. Tapi pikiran si sulung tak tertuju untuk menidurkan sang adik semata. Otaknya berputar untuk memikirkan apa yang harus ia lakukan untuk mengurus semua hal di rumah ke depannya.
Walau bagaimana pun, kini Seijuurou sudah menjadi kepala keluarga Akashi. Dan besok hal itu akan disahkan. Tepat ketika wasiat ayahnya dibacakan.
"Kakak?" panggil Tetsuya, membuyarkan segala macam hal yang berkelebat di pikiran Seijuurou. Si sulung berjengit.
"Hm?" gumam Seijuurou. Ia tadi benar-benar berpikir adiknya itu sudah tertidur. Entah sejak kapan, tangan Seijuurou sudah berhenti mengelus kepala adiknya. Cepat-cepat ia gerakkan tangannya lagi. "Apa, Tetsuya?"
"Kakak... tidak benci pada Tetsuya?" tanya Tetsuya. Kesedihan memancar dari kedua matanya yang besar. Pandangan kedua permata biru itu jatuh ke atas selimut putih yang membungkus tubuh mungil Tetsuya.
Seijuurou terdiam. Matanya berkedip beberapa kali. Mencerna maksud kata-kata Tetsuya.
"Maksud Tetsuya?" alis Seijuurou mengerut dalam. Si sulung meraa ia bisa menduga apa yang akan dikatakan adik bungsunya.
Tetsuya mencengkeram ujung selimut yang menutupi tubuhnya sampai ke bagian dada dan memain-mainkannya. Mata birunya yang cantik tak berani ia pertemukan dengan mata merah lembut Seijuurou.
Seijuurou setia menunggu kata-kata Tetsuya dalam diam.
"Maksud Tetsuya, yang membuat ayah Kakak –Maaf, maksud Tetsuya, Ayah—pergi selamanya itu... Tetsuya..." alis Tetsuya berkerut sedih. Suaranya sedikit bergetar tanda ia tengah berusaha menahan tangis.
"Kenapa Tetsuya berkata begitu?" tangan Seijuurou yang sejak tadi sibuk mengelus puncak kepala Tetsuya kontan berhenti.
"Soalnya... soalnya kalau saja Ayah tidak datang menjemput Tetsuya waktu itu, Ayah pasti masih bersama Kakak sekarang. Kak Shintarou, Kak Atsushi, Kak Daiki, dan Kak Ryouta juga tidak perlu bersedih seperti tadi." suara Tetsuya semakin lama semakin mengecil dalam hal volume. Jika saja pendengaran Seijuurou tidak tajam, ia pasti akan melewatkannya.
"Mungkin Ibu memang benar..." Pandangan Tetsuya tak lagi fokus pada selimut di bawahnya, tapi juga tak ia fokuskan pada Seijuurou. "... kalau Tetsuya anak pembawa sial—"
Telunjuk Seijuurou sudah membuat kontak dengan bibir Tetsuya. Menghentikan kata-kata anak itu sebelum kata-katanya semakin rancu. Lagi pula, hanya dengan mendengar kata-kata seperti itu keluar dari mulut adik bungsunya yang masih begitu muda membuat kepala Seijuurou berdenyut.
"Shh, jangan bilang begitu. Tetsuya bukan pembawa sial."
"Tapi buktinya—"
"Bukti apa? Ayah meninggal karena memang sudah takdir."
"Tapi, karena Tetsuya Ayah—"
"Kalau memang ingin menyalahkan seseorang, Tetsuya, maka menurut Kakak yang paling cocok untuk disalahkan adalah orang yang menabrak kalian." Seijuurou menatap mata Tetsuya yang seakan ingin protes.
Detik di mana pihak kepolisian mengabarkan padanya perihal kecelakaan itu kembali berputar dalam benak Seijuurou. Masih segar dalam ingatannya akan kronologi kecelakaan yang diceritakan pihak kepolisian padanya. Bahkan mungkin jika ia harus mengulangi kronologinya dari awal hingga akhir secara detail, ia bisa melakukannya.
Dan ia masih ingat betul bagaimana perasaannya waktu itu. Panik, sedih, marah, bingung, dan banyak lagi emosi lainnya. Semuanya bercampur menjadi satu hingga Seijuurou tak bisa lagi membedakan emosi-emosi tersebut.
Kepala Seijuurou yang awalnya ia topang dengan sebelah tangan kini rebahkan di atas bantal dan pandangannya ia arahkan ke langit-langit. Sekali lihat dan Tetsuya bisa tahu kalau pandangan kakaknya adalah padangan menerawang.
"Kakak yakin, waktu itu Tetsuya pasti sedang duduk di kursi belakang. Ayah bersama Pak Supir yang duduk di depan, bukan? Dan Kakak yakin Tetsuya duduk diam tanpa mengganggu Pak Supir hingga bisa menyebabkan kecelakaan." suara Seijuurou lirih. Sangat lirih hingga membuat Tetsuya terkejut karena Seijuurou belum pernah bicara selirih itu sebelumnya.
Seijuurou memejamkan matanya dan tergambar semua adegan tersebut di balik kelopak matanya yang tertutup.
"Benarkan jika kata-kata Kakak ada yang salah."
Tetsuya terdiam dan itu cukup bagi Seijuurou untuk dijadikan jawaban.
Seijuurou berbaring dengan bertumpu dengan bagian sisinya dan menghadap Tetsuya. "Tetsuya jangan pernah berkata begitu. Anak sebaik Tetsuya tidak mungkin pembawa sial. Kakak justru sangat senang punya adik seperti Tetsuya."
"Tapi hal bagus tak pernah terjadi pada orang-orang di sekitar Tetsuya. Ibu yang bilang begitu..."
"Kalau begitu Ibu Tetsuya salah. Tetsuya bukan anak yang seperti itu. Kalau Tetsuya terus berkata begitu, nanti Kakak marah, lho," tegas Seijuurou. Sejujurnya ia tidak bermaksud mengancam adiknya.
Tapi adik bungsunya satu itu memang harus berhenti berpikir kalau ia adalah pembawa sial.
"Tidak ada satu pun anak di dunia ini yang terlahir sebagai pembawa sial. Orang-orang saja yang menyalahkan kelahiran seorang anak atas masalah yang mereka buat sendiri," lanjut Seijuurou. Nada geram jelas terdengar di sana.
Beberapa saat kemudian, sebuah bunyi 'tap' terdengar ketika kedua tangan mungil Tetsuya membekap mulut kecilnya sendiri. Dengan suara yang teredam rapatnya kedua tangan, anak berambut biru muda itu berkata, "Tetsuya tidak mau Kakak marah..."
"Bagus. Jadi jangan pernah mengatakan hal itu lagi," Seijuurou mengelus kepala Tetsuya penuh sayang dan si bungsu pun terlihat menikmati sebentuk kasih sayang yang Seijuurou curahkan padanya. "Oh ya, bagaimana kalau Tetsuya dititipkan ke daycare?"
"Daycare?" ulang Tetsuya dengan sebelah alis terangkat. Rasa kantuknya benar-benar hilang setelah beberapa kali bertukar kata dengan kakak angkatnya.
"Ya. Sebuah tempat di mana Tetsuya bisa bermain sekaligus belajar dengan anak-anak seusia Tetsuya dari pagi hingga siang. Bagaimana menurut Tetsuya?" tanya Seijuurou.
Membiarkan adiknya bersosialisasi sedikit dengan anak-anak seusianya tak akan menyakitkan bukan? Lagi pula, Tetsuya mungkin butuh teman untuk bermain bersama agar ia bisa melupakan masa lalunya.
Tetsuya terdiam. Sesaat kemudian alisnya berkerut dan lagi-lagi wajahnya terlihat seperti anak anjing yang baru ditendang pemiliknya ke luar rumah.
"Kakak tidak suka Tetsuya di rumah?" tanya Tetsuya dengan suara yang seperti ingin menangis. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.
Anak itu berpikir, jangan-jangan sebenarnya kakaknya tak suka padanya. Tapi karena kakaknya orang yang baik, terlalu baik, jadi ia tak tega untuk mengatakannya langsung pada Tetsuya.
"Bukan begitu, Tetsuya. Kakak dan yang lainnya tak akan ada di rumah sampai siang atau sore. Memangnya Tetsuya mau sendirian di rumah? Yah, paling tidak Tetsuya di rumah dengan Masako-san." Seijuurou menepuk-nepuk tubuh Tetsuya yang tertutup selimut tebal, berusaha menenangkan adiknya sebelum ia benar-benar menangis.
"O-oh, begitu." Tetsuya menghela napas lega. Untuk sesaat tadi ia benar-benar mengira kakaknya membencinya.
"Bagaimana?" tanya Seijuurou sekali lagi. Sebelah tangannya masih sibuk menepuk-nepuk Tetsuya lembut.
"Tapi nanti anak-anak lain tidak suka pada Tetsuya," lirih Tetsuya berkata. Kedua jemari mungilnya memain-mainkan ujung selimut sekali lagi. Gugup menguasai tubuh kecil anak tersebut.
Sikap orang tua biologis Tetsuya lah yang mungkin menjadi penyebab anak ini sedikit ragu dan takut untuk bersosialisasi dengan orang luar. Dan sudah menjadi tugas seorang kakak mengubah hal semacam itu.
Dan karena inilah Seijuurou menyarankan hal semacam itu pada Tetsuya.
"Anak-anak di sana pasti akan menyukai Tetsuya. Bukankah sudah Kakak bilang Tetsuya anak baik?" kata Seijuurou lembut.
Benak Tetsuya menimang-nimang sesaat. Tapi pada akhirnya Tetsuya mengangguk mengiyakan kata-kata kakak sulungnya tersebut dengan sedikit ragu.
Seijuurou tersenyum, mengacak surai biru muda itu penuh kasih sayang sebelum menepikan beberapa helai rambut yang menutupi kening Tetsuya dan menciumnya lembut.
"Tidurlah. Sudah larut. Selamat malam, Tetsuya."
"Mmhm, malam, Kak."
Seijuurou menjulurkan tangannya ke sisi ranjang dan mematikan lampu meja di samping tempat tidur dan sekali lagi merebahkan diri dan mencari posisi ternyaman sebelum ia kembali menepuk-nepuk tubuh Tetsuya.
Mata biru langit si bungsu bergerak menutup. Ia sedikit kesulitan tidur ketika memikirkan kalau ia sebentar lagi akan masuk daycare dan bertemu beberapa orang yang bisa dijadikannya teman.
Seperti apa daycare itu? Akan menyenangkankah? Atau justru sama sekali tak menyenangkan? Apa anak-anak di sana ramah dan menyenangkan? Atau justru menyebalkan? Apa ia akan bisa membuat banyak teman nantinya?
Pikiran-pikiran tersebut terus berputar dalam benak Tetsuya.
Namun, pikiran-pikiran tersebut terputus ketika semakin lama Tetsuya semakin kehilangan kesadarannya dan pergi ke alam mimpi.
Sekolah itu menyebalkan. Shintarou selalu berpikir seperti itu. Sejak ia masuk taman kanak-kanak hingga ia masuk sekolah dasar, pemikiran itu selalu terpatri dalam benaknya. Bagai tulisan yang sudah permanen terukir dalam kepalanya.
Bukan. Bukan karena guru-guru di sekolah semuanya garang. Bukan juga karena pelajaran sekolah sangat rumit hingga Shintarou tidak mengerti. Justru pelajaran sekolah sama saja mudahnya dengan menembakkan bola basket ke dalam keranjangnya bagi anak berambut hijau lumut tersebut. Lagi pula, jika ia memang punya kesulitan ketika menghadapi pelajaran sekolah, kakaknya, Seijuurou, akan selalu ada untuk memberinya pelajaran khusus.
Jadi kenapa anak bersurai hijau lumut itu sangat tidak menyukai sekolah?
Jawabannya sederhana. Karena tak ada satu pun anak yang bersedia menjadi temannya.
Setiap kali ada pembagian kelompok dalam pembelajaran, tak ada yang mau lebih dulu mengajaknya untuk membentuk satu kelompok bersama. Terkadang malah sampai seorang guru harus membantunya mencari anak yang mau sekelompok dengannya.
Semua itu berkat mulut Shintarou yang tajam. Semua anak di kelas jadi takut mendekatinya.
Seperti halnya saat ini. Saat jam makan siang ini, Shintarou duduk sendiri di mejanya bertemankan kotak bekal sementara anak-anak lainnya berkumpul dan makan bekal bersama atau sekedar berbincang bersama. Sayang sekali, adik-adik Shintarou sedang tak bisa ikut makan bersamanya hari ini.
Shintarou memasukkan sepotong telur gulung ke dalam mulutnya dan mulai mengunyah dengan khidmat. Pandangannya yang sendu ia arahkan ke kotak bekalnya yang masih setengah penuh.
Sekolah benar-benar menyebalkan. Dan itu absolut.
Sayang seribu sayang, Shintarou masih harus menjalani sekolah yang seperti itu untuk setahun ke depan sebelum ia lulus dan masuk SMP.
Seijuurou mengetuk-ngetukkan pena merah di tagannya ke dagu. Pandangannya memang lurus ke depan dan sebuah buku terbentang di meja di hadapannya tapi pikirannya sama sekali tak terfokus ke sana.
"Akashi-kun," sapa sebuah suara feminin dari deret kursi tepat di belakangnya.
Seijuurou tersentak dari lamunannya. Ketika ia sekali lagi memfokuskan pandangannya ke papan tulis, di sana justru tertulis 'guru rapat. Belajar sendiri' besar-besar dengan kapur putih. Dan jika dilihat ke sekelilingnya, teman-teman sekelasnya sudah pergi berjamaah ke –kemungkinan besar—kantin.
Astaga, ia sama sekali tak menyadari kalau guru matematika –pelajarannya sekarang ini—hanya masuk untuk memberikan pesan tersebut pada seisi kelas sebelum melenggang pergi meninggalkan anak-anak asuhnya untuk belajar sendiri.
"Ah," Seijuurou menoleh ke belakang dan menangkap sosok gadis bermahkota merah muda lembut bernama Momoi Satsuki, manager klub basket sekolahnya, tengah terkekeh geli melihat Seijuurou yang kehilangan fokus.
Karena walau bagaimana pun, melihat seorang Akashi Seijuurou yang tak fokus di kelas adalah hal yang amat sangat langka.
"Akashi-kun sedang memikirkan apa hingga tak fokus pada kelas begitu?" tanya Momoi dengan senyum lebar terkembang di wajahnya yang cantik. Tubuhnya condong sedikit ke depan dan jemarinya bertautan di atas meja.
Seijuurou mengubah posisi duduknya menjadi menyamping agar bisa menatap lawan bicaranya lebih jelas. Pena merahnya masih bertengger di antara jari telunjuk dan jari tengahnya. "Tidak ada."
Sebuah pemikiran menghantamnya. Kepala bersurai merah Seijuurou cepat-cepat menoleh ke arah Momoi. Mata merahnya memindai sosok Momoi dengan seksama hingga yang dipandang merasa gugup, "Ah ya, Momoi. Bisa aku minta tolong?"
"Minta tolong apa?"
"Bisakah kau mencari tahu daycare yang bagus di sekitar rumahku?" tanya Seijuurou dengan mimik lembut namun serius. Ia baru teringat kalau gadis yang duduk di belakangnya itu sangat mahir dalam mengumpulkan informasi.
"Boleh. Untuk adik Akashi-kun?" tanya Momoi. Dengan segera gadis itu berbalik dan merogoh tasnya. Dikeluarkannya sebuah papan jalan berwarna kuning beserta sebuah pena. Dengan cepat, ia menggoreskan penanya di atas kertas yang dijepit di papan jalan tersebut.
Sebuah pengingat agar gadis tersebut tidak terlupa.
"Ya." Akashi melihat gadis itu mencatat apa yang perli ia lakukan, "Ah, kau tahu rumahku bukan?"
Momoi mengangguk dan berseru ceria, "Tentu saja!"
"Terima kasih, Momoi. Tapi kalau ini memberatkanmu, kau tak perlu mengerjakannya."
Momoi meletakkan papannya kembali ke dalam tas sebelum menggeleng. Rambutnya yang diikat satu di belakang kepala bergoyang-goyang lucu, "Sama sekali tidak, Akashi-kun. Aku malah senang bisa membantu."
Seijuurou mendengus dan tersenyum lembut. "Terima kasih, aku sangat menghargai bantuanmu. Aku mengharapkan hasil yang bagus darimu, manager."
"Aye aye!"
Seijuurou baru saja tiba di rumah ketika jarum jam menunjukkan pukul tujuh malam. Derap langkah kaki yang mengarah ke pintu depan terdengar jelas dari dalam ketika si sulung tengah membungkuk dan melepas sepatunya.
"Aku pulang."
"Selamat datang. Paman Teppei dan seseorang lagi sudah menunggu di ruang baca," sambut Shintarou. Ia membantu si sulung melepaskan blazer sekolahnya dan mengambil tasnya dari tangan sang kakak. Seijuurou kemudian berjalan sembari melonggarkan ikatan dasi di lehernya sedikit.
"Begitukah?"Seijuurou berjalan dengan Shintarou mengikuti di belakangnya. "Oh ya, di mana Tetsuya?"
Alis Shintarou berkedut ketika mendengar pertanyaan Seijuurou. Tapi sepertinya Seijuurou tidak menyadarinya. Atau mungkin menyadarinya, hanya saja mengabaikannya.
Baru beberapa langkah Seijuurou berjalan, derap langkah kaki lainnya datang dari arah depan Seijuurou. Dari kerasnya bunyi derap langkah tersebut, Seijuurou sudah bisa menebak siapa pelakunya. Sesaat kemudian sosok berambut biru tua dan kuning muncul.
Mereka berdua seakan tengah berpacu satu sama lain ke tempat Seijuurou berada. Atau mungkin mereka memang tengah berlomba dengan satu sama lain.
"Kak Sei, Kak Sei! Lihat! Gigiku mau tanggal!" sosok yang lebih muda, yang berambut biru tua berkata dengan suara keras pada kakaknya begitu ia sampai pada si lelaki yang lebih tua. Mulutnya terbuka lebar dan sebelah tangannya menggoyangkan gigi depannya yang memang bergoyang.
Seijuurou tersenyum melihat binar polos di kedua mata adiknya yang masing-masing masih duduk di kelas dua dan tiga sekolah dasar. Badan bagian atas si sulung dibungkukkan sedikit dan ia memerhatikan gigi Daiki yang goyang dengan mata disipitkan.
"Wah, benar. Mungkin besok giginya sudah tanggal." Sebelah tangan Seijuurou menyentuh gigi depan Daiki.
"Atau, atau, aku bisa meninjunya hingga giginya lepas-ssu!" seru Ryouta. Bersemangat seperti biasa. Kedua tangannya membulat membentuk tinju di depan dadanya. Seakan siap memberikan salah satunya kapan pun si sulung Akashi memberikan izin.
Seijuurou menoleh dan mendorong dahi Ryouta dengan telunjuknya. "Tidak boleh begitu."
Ryouta tertawa riang sambil berkata dengan suara keras, "Bercanda, bercanda-ssu!"
Shintarou yang mengikuti mereka dari belakang menghela napas dan berdeham keras-keras. Sukses membuat ketiga orang di hadapannya yang tengah membicarakan 'peri gigi' dan 'lima ratus yen' dengan semangat jadi terdiam seketika mendengarnya.
"Kakak." Shintarou berkata dengan nada mengingatkan. Kedua alis mata Shintarou berkerut. Tampak tak suka dengan sikap kakaknya yang terkesan mengulur waktu justru ketika ada orang yang tengah menunggunya.
Seijuurou membalikkan badannya menghadap Shintarou, "Ah, ya. Soal itu Shintarou. Aku ingin kau juga ikut denganku. Aku ingin kau jadi saksi kami." Seijuurou memberikan isyarat pada Shintarou dengan telunjuknya untuk ikut dengannya.
Meski banyak pertanyaan berputar di dalam kepala berambut hijau lumut Shintarou, ia sama sekali tak bertanya dan ikut saja.
"Bagaimana kalau kalian makan malam duluan? Nanti Kakak menyusul," bujuk Seijuurou. Kedua tangannya mendorong punggung adiknya yang bersurai biru tua dan kuning dengan lembut ke arah ruang makan.
Serempak keduanya mengatakan 'baiiiiik' dan melesatlah mereka menuju ruang makan.
"Hei, apa yang kubilang soal lari-lari di lorong?" seru Seijuurou.
Kontan kedua anak yang tadinya tengah berlomba lari berhenti dan melangkah kembali dengan langkah yang lebih lambat. Namun cara berjalan mereka jadi aneh. Mereka berjalan berjinjit. Seakan takut menimbulkan suara keras dan terdengar oleh kakaknya.
Seijuurou tersenyum melihat tingkah kedua adiknya yang menurutnya lucu tersebut.
Dasar anak-anak. Ada-ada saja tingkahnya.
Begitu sampai di depan ruang baca, tangan Seijuurou meraih kenop pintu dan memutarnya terbuka. Di dalamnya telah duduk dua orang pria paruh baya yang tengah berdiskusi tentang sesuatu yang tak diketahui Shintarou dan Seijuurou.
"Mari mulai pembacaan wasiatnya."
Setelah notaris ayahnya pamit undur diri dan Shintarou pergi meninggalkan ruang baca tersebut untuk memantau adik-adik mereka yang lain sebelum mereka melakukan perang makanan di meja makan, pembicaraan serius antara Seijuurou dan Teppei pun barulah dimulai.
Seijuurou menggeser posisi duduknya mendekati Teppei yang balas menatapnya dengan pandangan penuh tanya. Atau lebih tepatnya, pandangan Teppei penuh dengan rasa tidak setuju. Tidak setuju atas apa pun yang merupakan pilihan Seijuurou, "Kau yakin dengan keputusanmu ini, Seijuurou?"
Seijuurou tersenyum lembut dengan mata yang terpejam. Seakan ia sudah tahu akan pertanyaan pamannya tersebut dan sudah menyiapkan jawabannya dengan matang.
"Tentu, Paman," Seijuurou bergerak memosisikan dirinya ke dalam posisi duduk yang menurutnya paling nyaman, "sekarang ini aku ingin membicarakan tentang itu."
Seijuurou menautkan kedua jemari tangannya dan meletakkannya di atas lututnya yang telah tersilang. "Maksudku tadi, Paman, adalah Paman dan Bibi Riko yang akan mengepalai perusahaan keluarga hingga aku berusia delapan belas atau dua puluh tahun.
"Selama itu, aku akan tetap bekerja di perusahaan. Sebagai asisten pribadi Paman. Hanya saja paruh waktu." Teppei sudah membuka mulutnya untuk menyuarakan keberatannya atas pernyataan Seijuurou. Hanya saja sebelah tangan si sulung sudah terangkat untuk menahan apa pun yang Teppei ingin katakan. "Soal gaji Paman tidak usah khawatir, Paman bisa mengambil gaji Paman sebagai kepala perusahaan."
Yang dimaksud Seijuurou di sini adalah bagian di mana notaris sang ayah mengatakan kalau semua harta benda keluarga Akashi akan dibagi rata antara keenam saudara angkat tersebut kecuali perusahaan keluarga yang akan jatuh ke tangan Seijuurou saja sebagai putra kandung keluarga Akashi.
Oleh karena itu, kini Seijuurou memegang kendali penuh atas kepemimpinan perusahaan tersebut. Namun jika Seijuurou berkehendak untuk menunjuk orang lain untuk mengepalai perusahaan tersebut, maka hal itu diperbolehkan selama itu memang keinginan Seijuurou sendiri dan bukan merupakan paksaan mau pun tipuan dari orang lain.
Seijuurou mempertemukan matanya dengan mata coklat Teppei. Kepala bermahkota merahnya ia miringkan. Bibirnya tersenyum tipis bersamaan dengan matanya yang berbinar lembut. Ia seakan mengatakan 'bagaimana?'
"Tapi, Seijuurou, ini perusahaan keluargamu. Kau sangat bisa mengambil alihnya meski usiamu baru empat belas tahun." Teppei berartgumen. Seijuurou memandangnya dengan pandangan penuh rasa kecewa. Buru-buru Teppei mengangkat tangan di depan dada, "jangan salah sangka, Seijuurou. Bukannya Paman tidak mau menolongmu. Hanya saja..."
Seijuurou menganggukkan kepalanya satu kali. Tapi ia melakukannya dengan penuh keanggunan dan wibawa. Seakan yang dihadapi Teppei saat ini bukanlah anak lelaki berusia empat belas tahun yang baru saja kehilangan ayahnya, tapi pria karir berusia dua puluh tahunan.
"Aku mengerti, Paman. Tapi hukum di Jepang tak membolehkan aku menangani perusahaan ini sendiri sebelum aku melewati upacara kedewasaan. Itu artinya sebelum aku berumur dua puluh tahun, aku tak bisa memegang kendali perusahaan ini sendiri.
"Karena itulah, aku minta Paman dan Bibi yang mengurusnya, dan aku akan belajar dari Paman sebagai pekerja paruh waktu yaitu asisten pribadi Paman. Yah, bisa dikatakan aku magang di perusahaanku sendiri."
Tepat ketika itu pintu ruang baca terbuka dan sosok Araki Masako masuk dengan nampan dan sepasang cangkir di tangan. Setelah meletakkan kedua cangkir itu di depan Seijuurou dan Teppei, dan setelah mengangguk sebagai balasan ucapan terima kasih dari si sulung Akashi, wanita itu segera undur diri.
Sebelah tangan Seijuurou meraih cangkir yang tersedia di meja di hadapannya, menghirup wanginya, dan menyesap teh di dalamnya. Kontras dengan Seijuurou yang terlihat santai, Teppei di hadapannya justru tampak tengah berpikir keras menimang-nimang tawaran Seijuurou.
Walau bagaimana pun tidak benar rasanya mengambil alih perusahaan milik kakak iparnya seperti ini ketika sang pewaris sah masih segar bugar dan tengah menikmati secangkir teh dengan kaki tersilang di hadapannya dan tak kurang suatu apa pun.
Tapi ia sudah berkata pada Seijuurou untuk tidak segan-segan meminta bantuan padanya...
Teppei menarik napas dan mengembuskannya pelan. Kepalanya yang beberapa saat lalu sempat tertunduk kini kembali tegak.
"Baiklah."
"Jadi, misalnya, Atsushi memiliki enam buah kue," kata Seijuurou. Kedua tangannya memindahkan enam buah muffin ke atas meja di hadapannya.
Di seberang Seijuurou telah duduk Daiki dengan alis berkerut dan mata yang memerhatikan enam buah kue di atas meja dengan seksama bergantian seakan jika ia memalingkan perhatiannya sedetik saja, maka kue-kue tersebut akan menghilang.
Tak jauh dari sana, Atsushi, yang kuenya dipakai dalam demonstrasi yang dilakukan Seijuurou, tengah merengut karena kuenya diambil begitu saja hanya untuk jadi alat peraga operasi matematika. Tapi tangannya tetap sibuk mengaduk-aduk bungkus keripik kentang di pangkuannya.
"Lalu dari keenam kue tersebut, Atsushi ingin mengelompokkannya masing-masing dua dalam satu kelompok." Seijuurou bergerak mengelompokkan keenam muffin di atas meja masing-masing dua.
Sebelah tangan Seijuurou yang tak ia gunakan untuk memindahkan muffin ia gunakan untuk menjaga Tetsuya yang sudah terkantuk-kantuk di pangkuannya. Setelah selesai mengelompokkannya, Seijuurou berkata, "jadi, ada berapa kelompok kue?"
Seijuurou mengangkat Tetsuya sedikit dan membetulkan posisinya di pangkuan si sulung, menghasilkan erangan pelan dari sang anak berambut biru. Sebelah tangan Seijuurou mengambil gelas plastik biru muda kosong –yang tadinya berisi penuh vanilla shake pemberian Daiki—dan meletakkannya di atas meja sebelum mengelus-elus puncak kepala anak tersebut.
Daiki menggeram sembari mengacak-acak rambut biru tuanya. Matanya bergerak-gerak memerhatikan muffin-muffin yang berada di atas meja. Ryouta tertawa renyah melihat Daiki yang tengah kesusahan sedangkan Shintarou menonton televisi di samping si anak berambut pirang.
Sesekali mata hijau lumut milik Shintarou akan melirik Seijuurou dan Tetsuya di pangkuan si sulung.
"Nnnngggghh, jadi... tiga?" jawab Daiki ragu-ragu. Sebelah alisnya terangkat dan kepalanya tertunduk. Agak takut jika jawabannya salah dan ia akan mendapat omelan dari kakak sulungnya.
"Tepat sekali! Daiki pintar," puji Seijuurou. Sebelah tangannya meraih puncak kepala Daiki dan mengusapnya lembut.
Daiki yang awalnya terkejut, langsung memasang cengiran terbaiknya. "Tentu saja!"
Pelajaran singkat mengenai pembagian terus berlanjut. Tapi setelah tiga kali soal pembagian diberikan, Daiki sudah mulai menguap di sana-sini dan kepalanya mulai terjatuh. Jawaban yang diberikan anak itu juga mulai salah-salah. Pada akhirnya, Seijuurou memutuskan untuk menyelesaikan pelajaran sampai di situ saja.
"Ayo cepat sikat gigi lalu tidur." Seijuurou menurunkan muffin-muffin yang dipinjamnya dari Atsushi dan mengembalikannya ke adiknya yang berambut ungu tersebut. Setelahnya ia menggendong Tetsuya dan membimbing Daiki serta Ryouta ke kamar masing-masing.
"Oh ya, Atsushi tidak ada tugas hari ini?" Seijuurou berbalik menghadap adiknya yang gemar makan tersebut sebelum ia benar-benar melewati ambang pintu sedangkan ketiga adiknya yang termuda sibuk berbincang tentang vanilla shake dan menu makanan di restoran cepat saji Maji Burger. Karena dari kelima adiknya, adiknya yang bersurai ungu tersebut lah yang paling sering melupakan tugasnya.
Atsushi memutar mata tanda berpikir. Sesaat kemudian ia berkata, "Tidak, Kak Sei-chin."
Seijuurou, Tetsuya, Daiki, dan Ryouta berjalan meninggalkan Shintarou dan Atsushi di ruang keluarga. Mereka sepertinya masih ingin menonton televisi sebentar lagi.
Setelah menemani adiknya menyikat gigi dan mengganti baju sekaligus mengawasi ketiga adiknya untuk tak tertidur ketika melakukannya, Seijuurou membimbing Daiki dan Ryouta yang memang sekamar untuk masuk ke dalam selimut. Barulah setelah keduanya tertidur, ia menidurkan Tetsuya.
Hanya karena ia sudah selesai menidurkan ketiga adiknya yang paling kecil, lantas bukan berarti Seijuurou bisa bersantai dan merebahkan dirinya di kasurnya yang nyaman nan hangat –dan ide itu terdengar sangat menggoda—setelah seharian lelah bersekolah dan berlatih basket di klubnya.
Mengambil beberapa peran sekaligus memang bukanlah perkara mudah. Maksudnya, bagaimana bisa mudah jika di usiamu yang baru empat belas tahun kau sudah harus menjadi figur ayah, ibu, kakak, sekaligus kepala keluarga di rumah untuk kelima adikmu?
Tapi Seijuurou tidak akan mengeluh. Karena ia seorang Akashi.
Seijuurou berjalan lagi mengelilingi rumah untuk memastikan kalau-kalau Shintarou dan Atsushi sudah beranjak tidur. Sesampainya ia di ruang keluarga, yang ditangkap penglihatan Seijuurou justru hanya sosok Shintarou yang duduk di sofa tiga orang dan sedang mengganti saluran televisi dengan remote control di tangannya. Kepalanya ia tumpukan pada tangan yang bersandar pada lengan sofa dan matanya terlihat bosan.
Seijuurou tersenyum lembut.
Sudah lama rasanya sejak terakhir kali ia berbincang berdua saja dengan Shintarou. Mungkin saat ini adalah saat yang baik untuk melakukan kembali kebiasaan lama tersebut.
Maka berjalanlah Seijuurou ke arah Shintarou dan duduk tepat di sebelah Shintarou. Setelah beberapa kali berganti-ganti saluran televisi, akhirnya Shintarou memutuskan untuk menjatuhkan pilihannya pada saluran Oha-Asa.
"Jadi, bagaimana sekolahmu, Shintarou?" tanya Seijuurou. Mata merahnya yang tadi bertatapan dengan layar televisi di hadapannya kini kini sudah beralih melirik Shintarou dari ujung matanya.
Shintarou tidak mengatakan apa-apa. Ia justru membungkukkan badan dan mencari-cari sesuatu di kolong meja rendah di hadapannya. Setelah meraba-raba beberapa saat, Shintarou akhirnya menemukan apa yang dicarinya dan mengangkatnya sejajar dada.
"Shogi?" tawar Shintarou. Seijuurou tersenyum. Inilah cara mereka untuk bisa mengobrol panjang lebar tentang apa pun.
Dengan bermain shogi bersama.
Seijuurou mendongak melihat jam yang menempel di dinding. Memastikan jam berapa sekarang ini. Jarum panjangnya berada di angka dua belas dan jarum pendeknya di jam sembilan. Sudah cukup larut. Sudah waktunya bagi Shintarou untuk tidur. Karena walau bagaimana pun, ia masih kelas enam sekolah dasar.
"Satu ronde saja. Setelah itu kau pergi tidur." Seijuurou berkata dengan nada absolut. Satu telunjuknya terangkat.
Shintarou mengangguk.
Dan mulai lah kedua saudara angkat itu bermain shogi bersama. Sembari berbincang tentang berbagai hal. Mulai dari sekolah Shintarou, klub basket Seijuurou, pelajaran Daiki, dan kehebohan Ryouta tentang gigi Daiki yang sebentar lagi akan tanggal.
"Ah ya, aku ingin memasukkan Tetsuya ke sebuah daycare. Bagaimana menurutmu, Shintarou?" tanya Seijuurou. Sebelah tangannya menggerakkan sebuah biji shogi.
Mata Shintarou menyipit, salah satu sudutnya berkedut, dan bibirnya merapat membentuk sebuah garis tipis. Tentu saja hal sekecil itu tak luput dari perhatian si sulung. Mata merahnya mengawasi pergerakan Shintarou seakan adiknya itu adalah mangsa yang tak boleh lepas dari penglihatannya.
Sebelah tangan Shintarou meraih biji shogi –benteng—dan menggerakkannya.
"Hmm, terserah."
Seijuurou melirik Shintarou meski kepalanya tetap menuduk ke arah papan shogi-nya.
Jelas ada yang salah dengan adiknya ini. Ada sesuatu yang mengganggu adiknya dan tak mau ia katakan.
Hal ini justru membuat si sulung merasa ingin menekannya sedikit lagi agar adiknya bersedia bercerita.
Seijuurou mengangkat pion menterinya, "Aku berpikir tidak ada salahnya memasukkannya ke sebuah daycare. Maksudku, kita berlima tidak ada di rumah dari pagi sampai siang –aku dari pagi hingga sore—jadi akan lebih baik jika selama itu ia bermain dengan anak-anak seusianya."
Pion menteri di tangan Seijuurou ia letakkan tak jauh dari pion raja Shintarou. Menghasilkan bunyi 'klak' yang khas.
"Hee," lirih Shintarou berkata. Tapi jelas tertulis di wajahnya kalau ia tidak suka dengan sesuatu –atau lebih tepatnya, dengan topik pembicaraan mereka yang bercampur ke dalam permainan shogi mereka saat ini.
Shintarou berpikir sesaat.
Tangan kanan Shintarou yang berada di atas pahanya membulat membentuk tinju yang terlalu erat. Jari telunjuk dan ibu jarinya yang mengapit pion menteri juga menekan pion lebih keras dari yang seharusnya...
Seijuurou menghela napas. Shintarou benar-benar adiknya yang paling keras kepala. Meski sudah didesak seperti ini ia masih juga menolak keras untuk bicara. Mungkin satu dorongan lagi diperlukan untuk membuat Shintarou keluar dari tempat persembunyiannya.
Baiklah, satu langkah lagi.
"Shintarou."
"Hm?" Pada saat ini, wajah Shintarou terlihat seperti ketertarikannya akan apa pun yang akan Seijuurou katakan sudah menguap seluruhnya.
"Kenapa setiap kali membicarakan Tetsuya kau selalu terlihat aneh?" Seijuurou meletakkan pionnya.
Check mate. Baik Shintarou mau pun permainan shogi-nya sama-sama sudah berada dalam posisi check mate. Terlalu terpojok hingga tak bisa lagi ke mana-mana.
Alis Shintarou berkedut dan matanya menyipit. Sebuah reaksi yang selalu anak berambut hijau lumut itu buat setiap kali ia kesal hingga ke ubun-ubun. Meski begitu, ia menolak mempertemukan pandangan matanya dengan pandangan mata Seijuurou.
Sedetik kemudian, tanpa mengatakan apa pun, Shintarou berdiri dan berderap meninggalkan Seijuurou yang terdiam sendiri menatap punggungnya yang semakin menjauh. Papan shogi yang barusan mereka mainkan terlupakan sama sekali.
Oke, mungkin Seijuurou sudah menekannya terlalu jauh tadi.
Tapi paling tidak, kini satu hal sudah pasti. Shintarou memang sedikit sentimen dengan tambahan terbaru anggota keluarga mereka, Tetsuya.
Shintarou menangkup sejumlah air dengan telapak tangannya sebelum memasukkannya dalam mulut dan berkumur-kumur. Keran air yang masih menyala menjadi pengiring musik setia di kamar mandi Shintarou yang sepi.
Mata hijau lumutnya bertemu dengan mata yang senada dengannya di balik cermin.
Puas berkumur-kumur, Shintarou membuang air dalam mulutnya ke atas wastafel dan menutup keran.
Matanya kembali bertemu dengan mata refleksinya di cermin.
Ah, kenapa tadi ia langsung pergi begitu saja saat kakaknya bertanya seperti itu? Bodohnya ia, sekarang pasti akan jelas di mata kakaknya kalau ia tak menyukai Tetsuya.
Dan dilihat dari kedekatan kakaknya dengan si bungsu, Shintarou yakin pasti besok ia akan kena marah sang kakak.
Karena Kakak sangat sayang pada si adik baru.
Terbayang di benak Shintarou muda kata-kata yang akan kakaknya lontarkan ketika memarahinya esok pagi-pagi sebelum mereka semua berangkat ke sekolah bahkan sikap kakaknya saat memarahinya besok bisa terbayang jelas. Atau mungkin kakaknya akan sangat marah padanya hingga sama sekali tak mau bicara?
Shintarou merutuki kebodohannya sendiri dalam hati. Matanya memandang sayu ke arah cermin dan refleksi dirinya balas memandangnya dengan pandangan serupa.
Menyedihkan. Kau menyedihkan, Shintarou. Kau adik Kak Seijuurou yang paling tua, seharusnya kau bersikap dewasa dan bukannya melakukan hal tanpa alasan seperti ini...
Shintarou menepuk kedua pipinya beberapa kali. Mungkin ia harus minta maaf pada kakaknya besok pagi ketika kakaknya pergi membangunkannya. Tidak. Mungkin harus lebih pagi dari itu. Tepatnya ketika kakaknya baru bangun tidur dan bersiap-siap melakukan lari rutinnya setiap pagi.
Ya, kalau egonya yang besar tak menghalanginya untuk melakukan hal tersebut.
Seijuurou membuka pintu kamar mandi kamarnya dan penglihatannya langsung disambut dengan kondisi penerangan kamarnya yang remang-remang. Sumber penerangan kamar itu hanya rembesan cahaya lampu kamar mandi yang belum dimatikan dan dua lampu meja di nakas samping tempat tidur.
Sebelah tangan Seijuurou menjangkau saklar dan mematikan lampu kamar mandi sebelum menutup pintunya dengan gerakan pelan. Berusaha untuk tak membangunkan adik bungsunya yang tertidur lelap berbalutkan selimut hangat.
Kaki jenjang Seijuurou melangkah hati-hati menuju ke sisi tempat tidur di mana Tetsuya terbaring. Badannya membungkuk sedikit dan sebelah tangannya menarik tali lampu tersebut. Lampu pun seketika padam.
Seijuurou berjalan memutar menuju sisi tempat tidurnya sendiri. Ia merangkak masuk ke dalam selimut dan sebuah desahan senang keluar dari sela bibirnya ketika akhirnya tubuhnya yang letih di sana-sini bisa berjumpa kembali dengan kasurnya yang begitu nyaman.
Namun matanya tak langsung menutup. Justru sepasang manik merah itu menangkap sosok Tetsuya yang tampak lebih polos dari biasanya.
Pikirannya kembali memutar kejadian di ruang keluarga tadi dengan Shintarou.
Adiknya yang tertua justru membenci adiknya yang termuda.
Apa yang harus ia lakukan sekarang? Tuhan, saat ia berpikir ia akan sanggup mengurus seisi rumah sendiri, ia tak pernah berpikir kalau ia pun harus mengurus masalah-masalah semacam ini.
Ralat. Ia bahkan tak terpikir kalau masalah internal semacam ini akan terjadi dalam keluarga mereka. Tak pernah sekali pun hal itu terlintas dalam benaknya. Maka dari itu, wajar jika sekarang Seijuurou benar-benar bingung harus melakukan apa.
Karena walau bagaimana pun, sesulit apa pun Shintarou bersosialisasi dengan orang lain, ia selalu bisa menerima adik-adik mereka yang lain dengan cukup baik. Tanpa ada komplain apa pun. Inilah pertama kalinya Shintarou tak menyukai adiknya sendiri.
Tapi bukankah pepatah selalu bilang 'selalu ada yang pertama'?
Sekarang kejadian ini sudah terjadi. Jadi yang paling bisa dilakukan Seijuurou lakukan saat ini adalah menerimanya dan mulai menyelesaikannya.
Ponsel merah Seijuurou yang berada di nakas samping tempat tidur bergetar. Membuat pemiliknya tersentak kaget karenanya. Segera diambilnya ponsel tersebut dan ia sentak terbuka flip-nya. Satu pesan masuk tertulis di layarnya. Pengirimnya tidak lain dan tidak bukan adalah Momoi Satsuki.
Seijuurou membuka pesan tersebut.
From: Momoi Satsuki
Sebelumnya, maaf mengganggu malam-malam, Akashi-kun. Ini soal daycare itu.
Aku berhasil menemukan satu yang bagus dan kebetulan itu milik kenalanku! Kalau Akashi-kun bersedia, aku akan mengatakannya pada kenalanku sekarang juga dan mulai besok adikmu sudah bisa ke sana! Aku akan mengirimkanmu alamatnya jika kau setuju.
Seijuurou meneliti isinya sesaat baru ia mulai mengetikkan balasannya dengan jari-jari yang telah terlatih. Jika Tetsuya bisa secepatnya masuk, kenapa tidak?
Setelah menekan tombol send, ponsel tersebut ia tutup flip-nya. Ponsel merah tersebut ia putar-putar dengan sebelah tangan. Menunggu balasan pesan Momoi yang akan berisikan alamat daycare tersebut.
Tak perlu menunggu lama, ponsel Seijuurou kembali bergetar.
From: Momoi Satsuki
Ini dia alamatnya, Akashi-kun. Jalan XX No XX. Dekat bukan? Besok aku juga akan ke sana untuk memperkenalkan Akashi-kun dengan kenalanku itu. Jika tidak keberatan tentu saja.
Seijuurou kembali mengetikkan balasannya yang berisi persetujuan dan ucapan terima kasihnya pada manager berambut merah muda tersebut. Setelah lagi-lagi menekan tombol hijau pertanda kirim, Seijuurou meletakkan ponselnya di atas nakas.
Mulut Seijuurou terbuka, mengeluarkan desahan panjang sebelum akhirnya menutup kembali bersamaan dengan kedua kelopak matanya.
Satu masalah selesai. Kini tinggal satu masalah lagi...
Makasiiiiih banget buat yang udah review, fav, dan alert! Aku bener-bener tersanjung! Jadi sebagai hadiah buat kalian(?) aku update ini lebih cepet dari yang kurencanain! Ayeeeeeey(?) XDD
Di sini sayangnya gak akan ada yang namanya harem haha, kalo harem di mana adek-adeknya Akashi agak kurang suka berbagi kakaknya sama orang luar yaa bakal ada tapi itu cuma brotherly love, bukan romantic love. Tapi itu pun masih lama banget adanya haha
Hayoo, siapa yang bisa nebak alasan kenapa Midorima kurang suka sama Kuroko? Alasannya gak sesederhana kayak yang disebutkan di atas lo. Di prolog dan chapter ini udah aku kasih hint hehe. Yang bisa nebak nanti boleh request satu prompt untuk dijadiin bahan bonus chapter yang bakal ada abis masalah Midorin ini selesai :3
umur mereka masing-masing:
Seijuurou = 14 tahun
Shintarou = 11 tahun
Atsushi = 10 tahun
Ryouta = 8 tahun
Daiki = 7 tahun
Tetsuya = 3 tahun
Special thanks to: Hyori Sagi, Letty-Chan 19, hancf, Shirohana Yukina, elfarizy, Replushy, dan Homura Kage
Review?
