Kuroko no Basuke hanya milik Fujimaki Tadatoshi.
Cerita ini hanya milik saya seorang.
Warning: AU, Real&Nice! Akashi, brotherly love! a lot of them I think, cuteness ahead(?), alur kecepetan, OOC, typo, DLDR!
pengingat:
Seijuurou = 14 tahun
Shintarou = 11 tahun
Atsushi = 10 tahun
Ryouta = 8 tahun
Daiki = 7 tahun
Tetsuya = 3 tahun
Enjoy!
Chapter 2: As Brother, Investigating
Shintarou menggigit setangkup roti berbalut mentega yang dihidangkan di hadapannya dan mulai mengunyah. Keributan yang kerap terjadi di atas meja makan ia acuhkan begitu saja. Bahkan ketika Daiki dan Ryouta mulai bertengkar ketika memilih bekal makan siang untuk dibawa hari itu, Shintarou diam saja.
Pikirannya terus melayang ke beberapa jam yang lalu. Ketika ia hanya bisa berdiri terpaku di depan pintu kamar Seijuurou dengan tangan terangkat tapi tak benar-benar punya keberanian untuk mengetuk pintu kamar tersebut.
Justru ketika kakaknya yang bersurai merah keluar dari kamar dengan memakai sepotong kaus dan celana olahraga, ia malah berlari dan sembunyi di balik dinding terdekat dengan napas tersengal dan jantung berdebar bagai seorang pencuri yang nyaris ketahuan masuk rumah orang. Pada akhirnya, rencananya untuk meminta maaf pada kakaknya pagi itu gagal.
Anak berambut hijau itu kembali ke kamarnya dan sekali lagi bergelung dalam selimut. Rencananya kali ini adalah berpura-pura tidur dan menunggu kakaknya melakukan kebiasaan barunya setiap pagi; membangunkan adik-adiknya secara pribadi.
Terima kasih kepada ego Shintarou yang ukurannya melebihi tubuhnya yang kecil, ia lagi-lagi batal meminta maaf pada Seijuurou dan justru bersikap yang sebaliknya.
Awalnya, ketika Seijuurou berseru membangunkan Shintarou sembari membuka pintu, Shintarou berpura-pura masih tidur dengan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut. Tapi ketika Seijuurou berada di sisi tempat tidur dan baru akan mengguncangkan tubuh Shintarou, tangan Shintarou justru menepis kasar tangan kakaknya.
Pikiran berteriak 'ini salah! Aku ingin meminta maaf pada Kakak! Bukannya bersikap buruk seperti ini. Tolong mengerti aku, Kak. Maaf', tapi tubuhnya justru seakan berkata 'menjauhlah dariku! Aku benci Kakak karena Kakak sangat menyayangi Tetsuya! Kakak yang terburuk!'
Ah, mengingat itu saja membuat Shintarou ingin menepukkan tangannya ke wajah dan merutuki dirinya sendiri berkali-kali. Bahkan jika bisa ia ingin membenturkan kepalanya berkali-kali ke atas meja.
"Ayo, cepat, habiskan makanannya! Sudah jam tujuh tiga puluh. Nanti kalian terlambat." Shintarou menoleh ke arah kepala meja dan melihat Seijuurou sudah berdiri sambil melirik jam tangannya.
Daiki dan Ryouta buru-buru melahap roti panggang dan menenggak susu mereka dalam sekali teguk. Atsushi menghabiskan beberapa daging yang tersisa di atas meja sedangkan Tetsuya sibuk sendiri dengan susu vanilla-nya.
Shintarou sendiri meminum susunya hingga tak bersisa dan segera berdiri. Tak ada yang bersisa dari makanannya dan anak berambut hijau lumut tersebut yakin tak ada barangnya yang terlupa. Boneka beruang yang menjadi lucky item-nya hari ini pun sudah duduk rapi dalam tas sekolahnya.
Ah, lagi-lagi sekolah...
Seijuurou mengangkat Tetsuya dan menggendongnya sembari memeriksa tas jikalau ada barang yang tertinggal. Sebelah tangan si sulung mengambil sapu tangan dan menyeka sekitar mulut Tetsuya dan Atsushi yang masih ada remah roti panggang yang menempel.
"Cepat, cepat," gumam Seijuurou pada Daiki sembari meluruskan beberapa kerutan yang ada di baju Ryouta sebelum membuka tas si anak berambut pirang dan memasukkan kotak bekal berisi onigiri ke dalam tas kuning anak tersebut.
Sayang sekali, saat suit untuk menentukan siapa yang akan membawa bekal hamburger hari ini, Ryouta kalah. Dengan berat hati anak itu menerima onigiri yang diberikan padanya dengan asal oleh Atsushi.
"Daiki sudah masukkan buku tugas dalam tas?" Seijuurou berkata dengan nada mengingatkan.
Sudah beberapa hari ini anak tertua keluarga Akashi tersebut mengambil peran seorang ibu sekaligus seorang ayah setiap pagi. Peran di mana ia mengatur jadwal bangun adik-adiknya, membangunkan mereka, menegaskan peraturan rumah pada mereka kemudian mengingatkan mereka untuk cepat selagi mengingatkan jikalau ada barang yang terlupa.
Kata 'sudaaaah' panjang keluar dari mulut Daiki. Si anak yang bersangkutan sudah memanggul tas punggungnya dengan asal di satu bahu.
Setelah memastikan kalau tidak ada yang terlupa, Seijuurou segera membimbing adik-adiknya masuk ke dalam mobil dan pergilah mereka satu per satu ke sekolah dengan Seijuurou yang akan menjadi yang terakhir diantar ke sekolah.
Seijuurou membuka flip ponselnya dan sekali lagi memeriksa alamat daycare yang Momoi katakan padanya. Sejurus kemudian, kepalanya terangkat dan memeriksa nomor dan pelat nama sebuah bangunan di hadapannya.
Nomornya tepat dan namanya juga pas seperti yang diberitahu Momoi, pikir Seijuurou. Inilah tempatnya.
Dengan sebelah tangannya yang bebas dari menggendong Tetsuya –yang sepertinya sangat gugup karena akan bertemu banyak orang hingga lemas saja sejak tadi atau mungkin ia tertidur?—Seijuurou mendorong terbuka pintu pagar besi di hadapannya dan manik merahnya segera memindai halaman bangunan tersebut untuk mencari tanda-tanda keberadaan sesosok gadis berambut merah muda yang sebaya dengannya.
Halaman daycare tersebut cukup luas. Berbagai instrumen permainan berserakan di dalamnya. Mulai dari jungkat-jungkit, seluncuran, bahkan kotak pasir pun ada. Cukup untuk media bermain anak-anak sebaya Tetsuya yang memang biasanya sangat aktif dalam bergerak.
Dan karena ini masih bulan Februari, pohon-pohon –yang diduga Seijuurou adalah pohon sakura dan beberapa pohon maple serta momiji—rata-rata masih gundul. Kecuali untuk pohon momiji yang mulai terlihat pucuk-pucuk daunnya.
"Akashi-kun!"
Mendengar nama keluarganya dipanggil, sontak kedua bersaudara Akashi tersebut menolehkan kepala mereka ke asal suara. Sosok gadis berambut merah muda lembut menyapa indra penglihatan mereka. Gadis itu berlari-lari kecil ke arah mereka dengan tangan melambai-lambai untuk menarik perhatian keduanya –atau mungkin perhatian si sulung Akashi saja.
Gadis tersebut mengenakan baju seragam SMP Teikou yang berupa baju kemeja biru yang tertutupi rompi putih dan rok hitam bergaris putih di bagian bawahnya. Pakaian yang cocok untuk dipakai di bulan Februari yang bisa dibilang masih cukup dingin ini.
"Momoi," gumam Seijuurou yang kini telah berbalik menghadap Momoi. Gadis yang rambutnya diikat satu di belakang tersebut melambatkan langkahnya hingga ia berhenti sempurna di hadapan kedua bersaudara Akashi tersebut.
Mata biru besar Tetsuya memerhatikan sosok gadis itu dalam diam. Bertanya-tanya siapa gadis bernama 'Momoi' yang kini tengah menumpukan kedua tangan di lutut dan mengatur napas yang tersengal setelah berlari. Kenapa dia yang justru menyambut mereka di sini? Mungkinkah ia salah satu staf di sini? Tapi kelihatannya ia seumuran dengan Kak Seijuurou...
Setelah napasnya kembali teratur dan detak jantungnya kembali normal, Momoi kembali berdiri tegak dan mempertemukan kedua matanya dengan dua pasang mata lelaki di hadapannya.
"Maaf merepotkanmu, Momoi. Aku sangat menghargai bantuanmu. Aku berhutang padamu," kata Seijuurou sopan seraya membetulkan posisi Tetsuya di lengannya.
Momoi Satsuki menggeleng pelan. Rambutnya yang dikuncir tersebut ikut bergoyang mengikuti gerakan kepalanya.
"Mmhmm, tidak perlu, Akashi-kun," keduanya berjengit ketika Momoi tanpa sadar memanggil nama mereka berdua."Aku sangat senang bisa membantu kalian. Ngomong-ngomong, inikah adik Akashi-kun itu? Manis sekaliiiii!"
Seijuurou mengangguk sembari tersenyum lembut. Iris merahnya melirik Tetsuya yang memerah sedikit pipinya karena malu-malu. Disentakkannya Tetsuya yang berada dalam gendongannya sedikit. "Ayo beri salam padanya, Tetsuya."
Tetsuya melirik Seijuurou ragu. Matanya seakan bertanya pada kakaknya apa ia memang harus melakukannya. Seijuurou mengangguk.
"Mm," Momoi berhenti menjeritkan kata 'manisnyaaa' dan menunggu kata-kata Tetsuya selanjutnya, "Te-Tetsuya. Akashi Tetsuya. Tiga tahun. Salam... kenal?"
"Manisnyaaaa!" pipi Momoi memerah, kedua tangannya menangkup pipi, dan ia sekali lagi memulai ritual yang biasa dilakukan para fangirl; menjerit senang. "Namaku Momoi Satsuki! Empat belas tahun! Salam kenal Tetsu-kun! Boleh aku memanggilmu begitu?"
Tetsuya tersenyum malu-malu melihat Momoi yang kini tengah pura-pura memberi hormat padanya tapi ia sama sekali tak mengeluarkan komplain atas nama panggilan barunya. Binar senang terpancar dari kedua jendela hatinya yang sewarna langit. Seijuurou tersenyum.
Syukurlah orang luar yang pertama ditemuinya adalah Momoi Satsuki yang tingkat keceriaannya sebelas-dua belas dengan Ryouta. Jika tidak, Tetsuya mungkin akan lebih lama terbiasa dengan orang luar dan justru berubah jadi makin tertutup.
Astaga, semoga saja hal itu tak akan pernah terjadi. Cukup satu saja orang tertutup di rumah mereka –Shintarou. Ya ampun, mengurus satu orang seperti itu di rumah saja sudah sulit. Apalagi jika bertambah satu lagi?
Baru membayangkannya saja sudah bisa membuat kepala Seijuurou berdenyut.
"Ngomong-ngomong Akashi-kun, mari kuantar ke tempat kenalanku itu," Momoi yang tadinya sibuk berbincang dengan Tetsuya kini mengalihkan pandangannya pada Seijuurou. Senyum lembut masih menempel di wajahnya.
"Baiklah."
Berjalanlah mereka berdua ke arah ruang staf pengajar. Kebetulan sekali pemilik daycare ini adalah kenalan yang Momoi sebutkan pada Seijuurou. Menurut kata-kata Momoi, pemiliknya adalah orang yang sangat sayang pada anak-anak meski sedikit aneh.
Pintu dengan pelat emas bertuliskan 'kepala staf' menempel didorong terbuka oleh Seijuurou dan ditahannya terbuka untuk Momoi. Ucapan 'permisi' mengiringi masuknya mereka ke dalam ruangan tersebut. Ruangan itu tidak terlalu luas, tapi paling tidak cukup untuk sebuah meja kerja lengkap beserta kursi, satu lemari dokumen, dan satu set sofa dengan meja kopinya.
Tengah duduk di seberang ruangan adalah kepala staf itu sendiri. Seorang wanita paruh baya –kata Momoi, tapi fisiknya sama sekali tak melambangkan umurnya. Ia terlihat seperti wanita usia dua puluhan bukan tiga puluh—duduk di sana dengan seorang anak lelaki berdiri tak jauh darinya. Usia anak itu sepertinya empat tahun lebih muda dari Seijuurou dan Momoi.
Dengan kata lain, seumuran dengan Atsushi.
'Alexandra Garcia' tertulis di papan nama yang duduk manis di atas mejanya. Wanita itu memiliki rambut pirang panjang yang mungkin terurai hingga ke pinggangnya –terima kasih pada meja kerja di hadapannya yang menjadi penghalang penglihatan—, matanya sewarna emerald cantik dan dibingkai kacamata berlensa persegi berwarna merah muda, beberapa tingkat lebih tua warnanya dari surai merah muda Momoi.
Anak lelaki tersebut memiliki garis wajah yang terkesan lembut. Sebelah matanya ditutupi poni dan matanya yang bebas dari surai hitam miliknya memancarkan kelembutan. Bintik hitam menghiasi salah satu sudut bawah matanya.
Anak lelaki yang berdiri di samping Alex menoleh ke arah mereka. Begitu pun dengan Alex. Air muka Alex yang awalnya terkejut, langsung berubah menjadi sebuah ekspresi keceriaan. Senyum lebar menghiasi wajah wanita itu hingga wajahnya terlihat bodoh.
Sepertinya ia memiliki kepribadian yang tak jauh berbeda dengan Paman Teppei, pikir Seijuurou.
Dalam hati, si sulung Akashi sama sekali tak merasa heran kenapa wajah wanita tersebut bisa terlihat sepuluh tahun lebih muda. Senyum lebar yang sepertinya selalu terpasang –atau mungkin memang sudah nyaris permanen?—di wajahnya itulah yang menjadi kuncinya.
"Halo, Satsuki! Lama tidak bertemu! Inikah anak yang kau maksud semalam?" katanya dengan ceria dan sedikit lebih keras dari yang disukai Seijuurou.
Mungkin ia juga memiliki kesamaan dengan Ryouta. Sama-sama senang bicara keras.
Alex berjalan memutari mejanya ke arah mereka berdua. Kedua tangannya terbuka lebar seakan siap merengkuh mereka berdua –bertiga, dengan Tetsuya dalam gendongan Seijuurou—ke dalam pelukannya yang kelihatannya akan sangat erat.
"Alex, berhenti memeluk orang seperti itu. Ini di Jepang, bukan Amerika," tegur si anak berambut hitam yang kini tengah mendesah melihat tingkah kepala staf pengajar yang seperti anak-anak.
Alex berhenti sebelum berhasil benar-benar memeluk mereka bertiga dan membalikkan tubuhnya. Wajahnya merengut, bibirnya dikerucutkan, dan ia merajuk, "Tapi Tatsuya, mereka sangat imut! Aku jadi ingin memeluk mereka!"
Sekali lagi anak itu –Tatsuya—mendesah panjang sebelum berkata, "Maaf atas kelakuannya tadi. Mungkin tadi dia membuat Kakak merasa tidak nyaman, tapi tolong dimaklumi. Ah ya, namaku Himuro Tatsuya, anak angkatnya."
Seijuurou mengamati anak itu dengan kedua matanya yang tajam. Anak yang cukup baik kelihatannya. Dan lembut.
"Dan dia adalah kepala staf di sini sekaligus pemilik tempat ini, Alexandra Garcia," jelas Himuro seraya menunjuk Alex dengan tangannya. Senyuman lembut tak berhenti menempel di wajahnya. "Salam kenal."
"Ah, namaku Akashi Seijuurou, dan ini adikku, Akashi Tetsuya. Kami di sini karena aku ingin menitipkannya dalam pengawasan kalian," jelas Seijuurou memperkenalkan dirinya dan Tetsuya. Tetsuya menatap Alex dan Himuro seraya berkata 'Halo' dan mengangguk sekali.
"Salam kenal, Tetsuya, Seijuurou!" kata Alex dengan semangat. "Oh ya, untuk Seijuurou, silahkan selesaikan administrasinya denganku."
Awalnya Tetsuya takut-takut untuk masuk ke dalam ruangan di mana anak-anak dititipkan. Ada banyak sekali anak di sana dan hal itu membuat Tetsuya menjadi gugup. Anak berambut biru langit itu memang tak benar-benar menunjukkannya dengan wajahnya. Tapi tangan mungilnya tak henti-hentinya mencengkeram baju Seijuurou.
Seakan anak itu sama sekali tak mau meninggalkan sang kakak.
Kalimat seperti 'semuanya akan baik-baik saja', 'percayalah pada Kakak', dan 'Tetsuya pasti bisa berteman dengan semuanya' terus Seijuurou bisikkan di telinga adiknya hingga kalimat-kalimat tersebut jadi lebih mirip mantra dari pada kalimat penenang karena terlalu seringnya diulang.
Setelah Seijuurou berkata kalau ia harus pergi sekolah, Tetsuya baru mau melepaskan kakaknya tersebut. Meski dengan berat hati. Terbukti dari caranya mengendurkan tarikannya pada blazer sang kakak yang terlihat mau tak mau.
Meski Tetsuya sudah melepaskannya, tapi Seijuurou masih enggan beranjak dari tempatnya dan memilih untuk sebentar lagi mengawasi adiknya hingga paling tidak ia merasa kalau adiknya itu benar-benar akan baik-baik saja.
Tetsuya pun digandeng masuk oleh Alex. Kebetulan ruangan di mana Tetsuya ditempatkan diawasi langsung oleh Alex jadi kekhawatiran Seijuurou bisa sedikit berkurang. Mata Tetsuya tak henti-hentinya melirik sekelilingnya dengan gelisah.
Ruangan tersebut cukup luas. Ada beberapa meja bundar dengan beberapa tiga atau empat kursi mengelilinginya ditempatkan di bagian yang tengah ruangan. Di sisi kanan ruangan terdapat beberapa rak untuk menyimpan tas bagi anak-anak TK yang masih menunggu dijemput orangtuanya. Tepat di atas rak tersebut terdapat berbagai instrumen pembelajaran seperti kertas, pensil warna, krayon, dan lain sebagainya.
Berbagai macam warna menodai hampir segala benda di dalam ruangan. Mulai dari meja, kursi, lantai, dan dinding. Dan termasuk baju beberapa anak yang sudah ternodai krayon dan cat air.
Untungnya anak-anak saat itu tengah sibuk dengan kegiatannya masing-masing dan ribut hingga tak begitu memerhatikan Tetsuya dan Alex yang sudah berdiri di depan kelas. Alex bertepuk tangan dua kali hingga anak-anak tersebut diam dan mengalihkan perhatian mereka ke depan.
"Halo, anak-anak, kita dapat teman baru! Namanya Akashi Tetsuya!" seru Alex dengan ceria. Alex memberikan satu dorongan pelan di bahu Tetsuya untuk menarik perhatian anak tersebut dan berbisik, "ayo, perkenalkan diri Tetsuya."
Tetsuya memain-mainkan ujung bajunya. Seijuurou dan Momoi yang memerhatikan dari balik jendela ruangan tersebut tersenyum melihatnya. Adik Seijuurou yang paling kecil itu memang sangat manis.
"Halo," Tetsuya mulai angkat bicara, dari ekspresinya ia sama sekali tak nampak gugup, tapi bahasa tubuhnya meneriakkan itu. "Aku Tetsuya. Akashi... Tetsuya. Salam kenal..."
Semua anak di ruangan tersebut menatapnya dengan mata mereka yang lebar. Tapi ada satu pun anak yang membuka suaranya. Sepertinya mereka semua sibuk memerhatikan warna rambut Tetsuya yang lain dari pada yang lain.
Sesaat kemudian, pandangan hampir semua anak beralih ke meja bundar yang berada di paling belakang. Di mana ada anak berambut merah api yang menolak untuk menurut pada gravitasi. Anak tersebut terlalu sibuk menggoreskan krayon berwarna oranye di tangannya ke atas kertas.
Ia terlalu tenggelam dalam gambarnya yang ternyata berupa potret seorang anak –atau stickman?—berambut merah dan seorang anak berambut hitam yang tengah bermain basket bersama. Tak jauh dari kedua anak tersebut, ada satu lagi gambar seorang perempuan –karena rambutnya yang kuning panjang—tengah melihat dari pinggiran.
"Warna rambut anak itu seperti Kagami! Sama-sama beda dengan yang lainnya!" seru seorang anak berambut coklat gelap dengan bentuk mulut seperti kucing yang tiba-tiba saja berdiri dari kursinya. Jari telunjuknya teracung dan menunjuk rambut Tetsuya.
"Eh?" gumam Tetsuya dan Alex bersamaan di depan kelas.
Kemudian semua anak ikut menyerukan hal yang sama. Mereka mulai menggumamkan 'rambut mereka aneh, tapi keren!' dan semacamnya. Sejujurnya, Tetsuya sama sekali tak tahu apa yang harus ia lakukan ketika menerima reaksi seperti itu.
"Ah, Tetsuya, bagaimana kalau Tetsuya duduk di sebelah anak berambut merah itu?" Alex membungkukkan badannya sedikit dan menepuk bahu Tetsuya. Telunjuknya ia arahkan untuk menunjuk si anak berambut merah yang tadi ditunjuk anak dengan mulut kucing.
Tetsuya mengangguk dalam diam dan berjalan ke arah si anak yang duduk di meja bundar paling belakang. Selain anak berambut merah tersebut, ada dua orang anak lainnya yang duduk di sana. Yang satu tak lain tak bukan adalah anak berambut coklat dan bermulut kucing, yang satunya lagi adalah anak berambut hitam dan apa sepertinya ada sebutir nasi di pipinya?
Tetsuya duduk di kursi kosong tepat di sebelah si anak berambut merah. Ketika si bungsu Akashi menjatuhkan diri di kursi di sebelahnya, barulah ia mengangkat kepalanya. Mata merahnya bertemu dengan mata biru langit Tetsuya.
"Hei, namaku Ogiwara Shigehiro! Salam kenal!" si anak dengan nasi di pipinya berkata dengan riang setelah menepuk bahunya dengan sedikit kuat. Cengiran lebar menghiasi wajahnya.
"Hei, hei, namaku Koganei Shinji! Empat tahun! Salam kenal ya!" seru si anak bermulut kucing berseru tak kalah keras dengan Ogiwara. Empat jemarinya terangkat, melambangkan jumlah usianya. Ia tak henti-hentinya mencolek punggung Tetsuya untuk menarik perhatian anak tersebut.
Tetsuya entah kenapa jadi merasa mungkin di dunia ada banyak orang yang mirip dengan kakak angkatnya, Ryouta dan Daiki. Sama-sama berisik dan punya tingkat keceriaan yang sangat tinggi.
"Yo, aku Kagami, Kagami Taiga. Salam kenal."
Untuk selanjutnya, keempat anak tersebut mulai berbicara mengenai berbagai hal, tapi rata-rata mengenai basket jalanan. Mereka bahkan sudah sepakat untuk main basket dengan bola mini milik Kagami saat istirahat nanti.
Seijuurou yang mengintip dari balik kaca jendela tersenyum lembut melihat adiknya yang terlihat berbinar dengan binar kesenangan. Topeng datar si bungsu akhirnya retak dan runtuh di hadapan teman-teman barunya. Bibirnya tak henti menyunggingkan sebuah senyum lebar pada apa pun yang tengah mereka bicarakan.
Mungkin ia memang tidak perlu khawatir berlebihan.
Shintarou sama sekali lupa kalau hari ini adalah Hari Karir. Ia baru sadar akan hal itu justru ketika seorang lelaki paruh baya yang terlihat bijaksana memasuki ruang kelasnya diikuti wali kelasnya di belakang. Lelaki itu mengaku bernama Shirogane Kouzou dan ia adalah seorang psikolog.
"Seorang psikolog, bisa melihat hati seseorang hanya dari perilakunya. Tidak. Bahkan dari apa pun yang ia lakukan mau pun tidak ia lakukan." Shirogane berjalan hingga ke belakang kelas, ke tempat di mana Shintarou duduk.
Mata Shirogane menatap satu per satu mata anak-anak di kelas. Shintarou bukanlah pengecualian. Entah kenapa, tatapan lembut tapi tajam Shirogane membuat Shintarou gugup dengan hanya berada di bawah tatapannya. Pria tua tersebut terasa seperti tengah menggali ke dalam jiwanya untuk mencari hal yang tersembunyi di dalam.
Shirogane berputar dan berjalan kembali ke depan kelas. Tangannya terpaut di belakang punggungnya. "Kami bisa melihat hampir semua orang. Orang-orang terasa seperti buku yang terbuka lebar untuk kami."
Anak-anak mulai berbisik-bisik. Telinga Shirogane, meski sudah tak lagi muda, masih bisa menangkap beberapa kalimat yang anak-anak lontarkan. Salah satunya adalah 'tidak mungkin, ia pasti bohong'.
Tiba-tiba saja Shirogane membuat putaran tajam dan kembali mengedarkan pandangannya ke seisi kelas. Matanya menajam. Sukses membuat anak-anak yang tadi sibuk dengan pembicaraan mereka sendiri kontan terdiam dan kembali memerhatikan.
Setelah puas melihat ekspresi terkejut anak-anak satu per satu, Shirogane tersenyum lembut dan berkata, "kalian tidak percaya? Aku bisa membuktikannya pada kalian. Bagaimana kalau sekarang kalian keluarkan kertas, pensil, dan alat gambar lainnya?"
Beberapa anak langsung memiringkan kepala tanda heran. Untuk apa mereka mengeluarkan itu? Memangnya mereka akan menggambar? Bukankah hari ini mereka seharusnya hanya mendengarkan penjelasan orang-orang dewasa mengenai profesi mereka?
Shintarou hanya diam memerhatikan dari belakang kelas. Ia pun sama dengan yang lainnya. Tidak mengerti maksud Shirogane sekaligus penasaran.
"Keluarkan saja dulu." Shirogane berkata dengan nada setengah membujuk setengah tak ingin dibantah. Anak-anak segera merogoh tas masing-masing. Beruntung bagi Shintarou, ia masih membawa lucky item-nya kemarin, sekotak pensil warna.
"Nah, sekarang, coba kalian gambar keluarga kalian di kertas," kata Shirogane lagi dengan jari telunjuk yang terangkat.
Shintarou benar-benar terdiam. Menggambar keluarga? Memangnya mereka anak kelas satu? Mereka sudah kelas lima! Kenapa dari begitu banyak objek yang bisa digambar di dunia ini pria tua itu justru menyuruh mereka menggambar keluarga?
"Ayo, cepat ikuti kata-kata Tuan Shirogane dan gambarlah keluarga kalian," kata wali kelas mereka dengan tangan yang ditepuk-tepukkan beberapa kali untuk mengembalikan perhatian anak-anak kelas lima sekolah dasar tersebut.
Semua anak mulai bekerja, meraih pensil dan pena mereka dan mulai menggambar sebagus yang mereka bisa. Ada yang menggambar kakak mereka beserta ayah dan ibu. Ada yang menggambar ibu saja dan ada yang menggambar ayah saja.
Shintarou sendiri tengah kebingungan. Keluarganya adalah keluarga besar dan lagi, ia punya dua keluarga. Keluarga biologis dan keluarga angkatnya. Yang mana yang sebaiknya ia gambar?
"Pak, kalau kami punya keluarga baru bagaimana?" tanya seorang anak dengan sebelah tangan terangkat yang kalau Shintarou tidak salah ingat juga sama seperti dirinya. Sama-sama anak yatim yang diadopsi oleh keluarga lain.
"Gambar saja keduanya."
"Kalau ayah dan ibu kandungku sudah meninggal bagaimana?" sahut seorang anak yang lain.
"Gambar saja. Tidak apa. Kalian boleh menggambar sesuka kalian. Dengan imajinasi kalian. Asalkan gambarnya tetap gambar keluarga kalian sendiri dengan kalian juga tentunya," jawab Shirogane. Ia kembali mondar-mandir dari satu ujung ke ujung yang lain kelas tersebut.
Shintarou meraih pensilnya, meski kemampuan menggambarnya tak lebih baik dari kebanyakan anak. Malah cenderung kurang bagus. Tapi sebelum pensilnya bersentuhan dengan kertas, ia terdiam .Siapa yang harus ia gambar terlebih dahulu? Kakaknya Seijuurou? Atau ayahnya?
Shintarou mengetuk-ngetukkan pensil di tangannya ke dagunya. Setelah beberapa saat berpikir, akhirnya ia berhasil memutuskan dan mulai menggoreskan pensilnya di atas kertas putih.
"Wah, gambarmu bagus, Nak! Apa itu kau?" tanya Shirogane ketika melihat gambar seorang anak dengan rambut yang membelah di bagian tengah. Badannya ia condongkan ke arah meja anak tersebut dan tangannya menunjuk kertas si anak.
"Yap!" kata anak itu ceria. Ia menunjukkan gambarnya dengan bangga dan mulai menjelaskan siapa-siapa saja yang ada dalam gambarnya. Shirogane mengangguk-angguk takzim.
"Nah, sekarang biar kutebak, kau pasti dekat dengan ayahmu, bukan?" tebak Shirogane dengan tangan menunjuk si anak dan matanya berbinar dengan jenaka.
Si anak terkejut. Benar-benar tak menyangka kata-kata Shirogane. "Hebat! Jawaban Bapak benar! Aku memang dekat dengan Ayahku!"
Seisi kelas berkoor 'wooow' melihat aksi Shirogane. Shintarou sama sekali tak memerhatikan. Pikirannya terlalu tertuang dalam gambarnya hingga tak menyadari kalau Shirogane sudah berjalan dari meja anak tadi dan mulai menebak-nebak hubungan anak-anak lainnya dengan anggota keluarga mereka.
Hingga akhirnya pria tua tersebut sampai ke meja Shintarou.
Shirogane terdiam. Matanya fokus memindai gambar Shintarou. Sesaat kemudian matanya melebar tapi cepat-cepat ia kembalikan ke ukuran semula sebelum Shintarou menyadarinya.
Tak lama kemudian Shintarou meletakkan pensilnya dan mengangkat gambarnya untuk diteliti sekali lagi. Betapa terkejutnya ia ketika ia mengangkat kepalanya dan sosok Shirogane sudah menyambutnya.
"Halo," sapa Shirogane ramah. Untungnya anak-anak yang lain sudah kembali sibuk menggambar hingga mengacuhkan interaksi kedua orang tersebut.
Shintarou mengangguk ragu-ragu membalas salam Shirogane dan berkata, "Halo."
"Gambarmu bagus. Aku suka. Banyak cerita di dalamnya," kata Shirogane singkat dan ia melontarkan senyuman terlembutnya pada Shintarou sebelum berbalik dan kembali ke depan kelas karena waktunya di Hari Karir sudah selesai. Meski Shintarou sama sekali tidak mengerti maksud pria itu, ia tetap mengucapkan terima kasihnya.
Semua anak disuruh mengumpulkan semua gambar mereka pada Shirogane. Sebagai kenangan katanya. Awalnya anak-anak ragu, tapi setelah Shirogane menjanjikan pada mereka untuk tak membocorkan apa pun yang bisa ia tebak dari gambar tersebut pada orang lain, anak-anak akhirnya setuju.
Semua anak termasuk Shintarou berjalan ke depan kelas dan mengumpulkan gambar mereka masing-masing. Sekilas ia sempat melihat Shirogane berbisik pada wali kelasnya sembari menunjuk dirinya.
Entah apa yang ada di pikiran pria tua itu.
"Bagaimana hari Tetsuya? Menyenangkan? Bagaimana dengan teman-teman barunya?" tanya Seijuurou ketika si bungsu menyambutnya di pintu depan tepat ketika ia memasuki pintu depan rumah mereka. Diangkatnya si bungsu dan ia gendong di lengannya.
"Menyenangkan! Kami tadi main basket bersama. Ogiwara-kun dan Kagami-kun sangat pandaaaaai bermain basket!" seru Tetsuya senang, lengan kecilnya bergerak membentuk lingkaran besar ketika ia mengatakan 'sangat pandaaaaai'. "Tapi, tapi tentu saja, Kakak lebih pandai!"
Lantas, sebuah bersin kecil menyambung kata-kata Tetsuya.
Seijuurou tertawa ketika mendengar celotehan adiknya yang lebih banyak dari pada biasanya sekaligus bersin Tetsuya yang terdengar lucu. Meski ia sama sekali tak tahu siapa itu Ogiwara-kun dan Kagami-kun.
Mendengar adiknya berceloteh senang mengenai harinya tadi membuat Seijuurou berpikir, mungkin keputusannya untuk memasukkan Tetsuya ke dalam daycare tersebut memang keputusan yang tepat.
Seijuurou membuat catatan mental, ia akan berterima kasih pada Momoi lagi setelah ini.
Langkah panjang Seijuurou membimbing mereka berdua ke ruang makan di mana adik-adik Seijuurou yang lainnya sudah berkumpul. Dan seperti biasa, meja makan tersebut tak pernah absen dari yang namanya keributan.
Atsushi sudah mulai makan, seperti yang biasa dilakukannya, Daiki tengah bercerita pada kakaknya yang berambut kuning tentang polisi yang masuk ke kelasnya untuk Hari Karir sedangkan Ryouta balas bercerita tentang seorang pilot keren yang masuk ke kelasnya siang ini.
Shintarou... hanya diam. Sebuah buku terbuka di hadapannya dan tatapannya ia fokuskan pada buku itu. Seakan keributan di sekitarnya –ya, Daiki dan Ryouta mulai adu mulut lagi tentang siapa yang lebih keren, polisi atau pilot—hanyalah sebuah angin lalu.
Seijuurou menghela napas dalam hati melihat Shintarou yang masih acuh tak acuh dengannya. Tuhan, apa yang harus ia lakukan dengan anak itu? Seijuurou baru berusia empat belas tahun dan masih perjaka tapi entah kenapa ia kini justru merasa seperti pria usia tiga puluhan yang harus mengurus anak tertuanya yang mulai sulit diurus.
Lagi pula bagaimana caranya menyelesaikan permasalahan dengan anak yang pendiam dan tertutup seperti Shintarou? Terlebih lagi, Shintarou tak pernah benar-benar bisa jujur dengan perasaannya sendiri. Saat kematian ayah mereka saja Shintarou menolak mengakui kalau ia menangis di upacara pemakaman.
Lagi pula bagaimana Shintarou bisa tidak suka pada Tetsuya? Apa karena Seijuurou terlihat seperti mencurahkan perhatian lebih pada Tetsuya? Tidak mungkin. Jika seperti itu perkaranya, maka ketika Ryouta datang ke rumah, Shintarou juga pasti akan marah dengan anak itu.
Karena mencari perhatian kakak-kakaknya –perhatian Seijuurou terutama—sudah seakan menjadi pekerjaan Ryouta dan anak berambut kuning tersebut tak akan segan untuk menunjukkannya secara terang-terangan.
Seijuurou menurunkan Tetsuya dari gendongannya dan mendudukkannya di kursi di samping kursi Seijuurou. Ketika melihat kedatangan kakak sulung mereka, keempat anak yang lainnya memulai ritual makan malam mereka.
Daiki berdiri untuk menjangkau hamburger di seberang meja. Tangan kanannya yang memegang sumpit ia arahkan pada hamburger tersebut dan ia jepit di antaranya. Setelah berhasil menjepit potongan yang terbesar, Daiki kembali duduk di kursinya.
Tepat ketika ia akan menyuapkan nasi ke dalam mulutnya, ia berhenti dan menoleh ke kakaknya di ujung meja. Sepertinya teringat akan sesuatu. Buru-buru ia telan sisa makanan yang tadi masih ia kunyah.
"Kak Sei, Kak Sei!" panggil Daiki. Ketika Seijuurou mengangkat kepalanya dari piring makanannya dengan alis terangkat dan 'hm?' pelan, ia melanjutkan, "gigiku tadi tanggal!"
Daiki membuka mulutnya lebar-lebar dan menunjukkan deretan giginya yang memang sudah berkurang satu jumlahnya. Lebih tepatnya, satu dari dua gigi depannya telah copot. Dengan bangga ia menunjuk rongga di mana seharusnya giginya berada.
Hal itu sukses menarik perhatian sisa anak di meja. Seijuurou mencondongkan badannya sedikit ke arah Daiki dan berkata, "Daiki tidak lupa membawa pulang giginya, kan?"
"Tentu saja!" Daiki memberikan cengiran terbaiknya. "Aku menyimpannya di kamarku! Hei, Kak, peri gigi akan datang lagi malam ini bukan?"
Seijuurou menyuap sepotong selada ke dalam mulutnya dan mengunyah sebelum menjawab Daiki, "tentu saja ia akan datang. Besok pagi ketika Daiki bangun, Daiki pasti akan menemukan koin lima ratus yen di bawah bantal."
Seijuurou tersenyum lembut. Meski tubuhnya lelah, tapi sepertinya ia harus tidur lebih larut malam ini –atau bangun di tengah malam—untuk meletakkan sekeping koin lima ratus yen di bawah bantal adiknya. Sesuatu yang selalu dilakukan Seijuurou sejak Shintarou pertama kali kehilangan gigi susunya.
Ada kesenangan tersendiri setiap kali adik-adik Seijuurou yang baru kehilangan giginya berlari ke kamarnya pagi-pagi sekali dan berkicau panjang lebar tentang peri gigi yang benar-benar datang atau bagaimana mereka bisa menemukan sekeping koin itu di bawah bantal mereka atau tentang bagaimana mereka akan menghabiskan uang tersebut.
"Uangnya untukku saja ya, Daikicchi?" rayu Ryouta. Refleks, Daiki yang duduk di sebelah Ryouta langsung mencondongkan tubuhnya menjauh dari anak berambut pirang tersebut. Wajah anak berkulit hitam tersebut merengut.
"Tidak mau! Enak saja! Kalau mau dapat uang dari peri gigi juga, gunakan gigimu sendiri!" seru Daiki. Kini gantian Ryouta yang merengut atas penolakan Daiki.
Kali ini Shintarou melerai mereka dengan mengatakan 'sudah, sudah' dan acara makan mereka pun kembali damai seperti sebelumnya.
Suara bersin kecil yang ditahan lagi-lagi menggema. Kali ini suara tersebut bersumber dari kamar Atsushi. Pelakunya tak lain dan tak bukan adalah sesosok anak kecil berambut biru muda dengan mata besar.
Dengan tangannya Tetsuya menyeka hidungnya yang mulai terasa berair dengan tangan setidaknya hingga Seijuurou mengeluarkan sapu tangannya dan menyeka hidung Tetsuya dengan sepotong kain tersebut. Kepala biru si bungsu terasa sedikit berdenyut.
"Tetsu-chin tidak apa-apa?" tanya Atsushi. Nada suaranya terdengar malas, seakan ia tak benar-benar menanyakannya pada si adik bungsu. Tapi tak perlu diragukan kalau sebenarnya ia benar-benar peduli pada adik bungsunya, "sejak tadi bersin-bersin terus..."
"Tetsuya baik-ba—"
"Aku rasa tidak," Seijuurou menyela jawaban Tetsuya. Sebelah tangan anak berambut merah tersebut menyeka sejumput rambut yang menutupi dahi si bungsu dan ditempelkannya dahinya sendiri dengan dahi anak itu, "Yap, kau demam, Tetsuya. Kau tentu tidak baik-baik saja."
Hidung Tetsuya kembali berair dan Seijuurou cepat-cepat menyeka hidungnya dengan tisu yang siap sedia di atas nakas sebelum ada cairan hidungnya yang menetes ke atas tempat tidur; karena sapu tangan si sulung sudah penuh dengan cairan hidung Tetsuya.
"Pergilah ke kamar duluan, ada yang ingin Kakak bicarakan dengan Atsushi sebentar," bujuk Seijuurou. Ia mengangkat Tetsuya dan menurunkan anak berusia tiga tahun tersebut dari atas tempat tidur Atsushi. Dberikannya punggung si bungsu sedikit dorongan agar anak tersebut beranjak dari sana.
Tetsuya mengangguk setelah menggumamkan 'hm' pelan dan kaki-kaki kecilnya membawanya keluar dari kamar si anak ketiga keluarga Akashi. Seijuurou dan Atsushi menatap kepergian anak tersebut dengan helaan napas yang keluar dari bibir si sulung beberapa saat setelahnya.
Baru sehari keluar rumah sudah sakit flu? Mungkin daya tahan tubuh Tetsuya tidak sebagus ia dan adik-adiknya yang lain.
Seijuurou mengalihkan pandangannya pada Atsushi yang sudah merebahkan diri di atas ranjang berbalutkan selimut hangat. Sebelah tangan Seijuurou terangkat dan mengelus rambut ungu sepanjang dagu milik Atsushi.
"Bagaimana di sekolah tadi? Kudengar kalian ada Hari Karir di sekolah hari ini," kata Seijuurou memulai sesi pengeratan hubungan antara kakak-adik tersebut di sela-sela kesibukannya hari itu; bersekolah, ikut kegiatan klub, dan bekerja paruh waktu di perusahaannya sendiri.
"Sekolah menyenangkan seperti biasa. Yang masuk ke kelasku tadi adalah seorang pembuat kue. Istilah pekerjaannya sulit sekali, aku jadi tidak ingat," aku Atsushi. Adik Seijuurou yang satu ini memang tak begitu pandai.
Dari pengamatan Seijuurou, Atsushi sepertinya adalah tipe orang yang sangat jenius di satu bidang dan sangat bodoh di bidang lainnya. Dan dari hasil pengamatan Seijuurou juga, Atsushi sepertinya pandai dalam dua bidang, fisika dan basket. Mungkin di ke depannya nanti keahliannya akan bertambah satu lagi.
"Bagaimana dengan pesan Kakak tadi pagi?" tanya Seijuurou lagi. Tangan si sulung tak henti-hentinya mengelus kepala Atsushi.
Pesan yang dimaksud Seijuurou di sini adalah permintaan tolong sang kakak yang langsung disampaikan pada Atsushi ketika pagi tadi si sulung mengantarkan adik-adiknya ke sekolah. Permintaan untuk mengawasi perilaku Shintarou di sekolah.
"Tentu aku sudah mengerjakannya. Kak Shin-chin, dia bersikap biasa saja di sekolah. Dia makan siang bersamaku tadi. Dai-chin dan Ryou-chin tidak ikut kami karena ingin makan dengan teman-teman mereka katanya," jelas Atsushi dengan tangan yang menjangkau nakas dan baru akan menarik laci paling atas –tempat ia menyimpan kudapannya—jika saja Seijuurou tak tepat waktu menepis tangannya menjauh.
"Jangan makan lagi kalau sudah sikat gigi, Atsushi." Seijuurou memeringatkan. Atsushi kembali menarik tangannya dan ia merengut. Tapi tak lama, karena anak itu segera mengembalikan ekspresinya ke semula.
"Tapi, Kak Sei-chin, sepertinya Kak Shin-chin tidak punya teman..." kata Atsushi lirih. Kedua tangannya memain-mainkan ujung selimut dengan iseng.
Tangan Seijuurou berhenti mengelus kepala Atsushi. Kedua alisnya terangkat tanda terkejut atas kata-kata Atsushi ini. Buru-buru ia kembalikan postur tenangnya. Ini benar-benar informasi baru baginya.
"Tidak punya teman? Maksud Atsushi? Atsushi tahu dari mana?" tanya Seijuurou dengan nada penuh perhatian sekaligus penuh rasa penasaran.
"Ya, seperti kataku tadi. Kak Shin-chin sepertinya tidak punya teman. Soalnya dia selalu mengajakku, Dai-chin, dan Ryou-chin makan siang sama-sama. Dia juga tidak pernah terlihat sedang bicara dengan siapa pun selain kami."
Seijuurou terdiam. Biasanya tak pernah ada hal yang luput dari pengamatan tajam seorang Akashi Seijuurou. Tapi kata-kata adiknya tadi benar-benar membuat Seijuurou terkejut. Karena setelah dipikir-pikir lagi, Shintarou memang... tidak pernah terlihat tengah bersama dengan anak lain yang bisa ia sebut sebagai 'teman'.
Dengan informasi yang baru diterimanya, ia sedikit banyak bisa menduga alasan di balik sikap permusuhan Shintarou terhadap Tetsuya. Tapi ia tak begitu yakin. Ia harus menemukan satu keping informasi lagi untuk memastikan dugaannya.
"Hmm, begitukah..." gumam Seijuurou. "Sudah, tidurlah. Sudah larut. Besok bisa-bisa Atsushi akan susah dibangunkan."
Seijuurou mengacak-acak rambut adiknya yang sangat tinggi tersebut. Tinggi anak tersebut bahkan sebentar lagi akan segera menyaingi tinggi Seijuurou meski usia mereka berbeda empat tahun.
Atsushi merengut tapi ia tetap menuruti kata-kata kakaknya. Mulutnya terbuka lebar dan mengeluarkan sebuah kuapan. Tak lama setelahnya, matanya tertutup dan dengkuran halus bisa terdengar keluar dari mulutnya yang terbuka sedikit.
Seijuurou mencondongkan tubuhnya dan mencium kening Atsushi dengan sayang. "Selamat malam, Atsushi. Mimpi indah."
Demam Tetsuya kian tinggi ketika malam kian matang. Suhu tubuh anak tersebut mungkin sebentar lagi akan mencapai empat puluh derajat celsius. Akan sangat gawat jika demamnya benar-benar mencapai suhu itu. Bisa-bisa ia akan mulai kejang-kejang.
Seijuurou meminta sebaskom air dan sebuah lap kecil pada Masako yang dengan patuh membawakannya untuk sang tuan muda.
"Biar aku saja yang mengompresnya, Tuan. Tuan tidur saja. Besok masih harus sekolah dan kerja bukan?" tawar Masako. Kedua tangannya menyerahkan baskom penuh dengan air dingin dan sepotong kain yang disampirkan di sisi baskom.
Seijuurou menerimanya, "Terima kasih. Tapi tidak. Masako-san istirahat saja. Aku yang akan mengurus Tetsuya."
"Aku akan baik-baik saja," tambah Seijuurou –yang berusaha menahan tawa—ketika Masako menyipitkan matanya dan memberinya tatapan protes. Seijuurou terkekeh kecil melihat kepala pengurus rumahnya tersebut merengut kesal.
Tapi Masako tahu lebih baik dari pada melawan kehendak tuannya yang tak akan bisa diubah sekali ia sudah memutuskan. Jadi, wanita paruh baya tersebut hanya menghela napas dan memeringati Seijuurou untuk mendapatkan sedikit tidur malam itu sebelum ia berlalu dari depan pintu kamar Seijuurou.
"Ya, terima kasih." Seijuurou berseru sedikit keras karena Masako sudah berjalan cukup jauh di lorong. Wanita tersebut hanya mengangkat sebelah tangannya tanpa berkata apa-apa.
Seijuurou berbalik dan menutup pintunya dengan sebelah kakinya; jika saja ayahnya melihatnya sekarang ini, ia pasti akan kena marah selama berjam-jam. Tapi apa mau dikata? Tangannya sudah penuh.
Seijuurou berjalan ke arah ranjang di mana Tetsuya berbaring di satu sisinya –di sisi yang biasa ditiduri Seijuurou—dan meletakkan baskom tersebut di atas nakas. Mata Tetsuya yang sebelumnya menutup langsung terbuka dan ia menoleh ke arah sosok kakaknya.
"Kak, Kakak tidur saja." Tetsuya menghirup udara dalam-dalam dengan cepat untuk mencegah cairan hidungnya menetes keluar.
Seijuurou mencelupkan sepotong kain tadi ke dalam baskom hingga basah kuyup. Tak lama, ia peras kain tersebut, melipatnya hingga cukup panjang dan meletakkannya di dahi Tetsuya. Tentu saja setelah menyeka beberapa rambut dari kening anak tersebut.
Tetsuya berjengit ketika sensasi dingin dari kain tersebut menjalar di dahinya yang terasa panas.
"Tidak. Tetsuya yang tidur saja," jawab Seijuurou dari sisi ranjang. "Oh ya, di daycare tadi siang, apa ada anak yang sedang kena flu?"
Tetsuya memutar bola matanya tanda berpikir. Sebuah 'hmmm' panjang keluar dari bibir mungilnya.
"Ada, Mitobe-kun tadi sedang flu. Dia tidak berhenti bersin-bersin," jawab Tetsuya polos.
Meski Seijuurou tidak tahu siapa itu 'Mitobe-kun' tapi sedikit banyak Seijuurou jadi tahu kalau adik bungsunya mendapatkan virus flunya dari anak tersebut.
"Tetsuya bilang, tadi Tetsuya main basket dengan Ogiwara-kun dan Kagami-kun ya?" tanya Seijuurou yang sibuk mengangkat kain dari dahi Tetsuya. Kainnya sudah menghangat meski baru sebentar ditempatkan di atas dahi anak tersebut.
"Dengan Koganei-kun juga!" seru Tetsuya sedikit terlalu bersemangat.
"Ya. Lalu apa Tetsuya mengeluarkan banyak keringat?" Tetsuya mengangguk. "Tetsuya tidak menyekanya? Atau Tetsuya langsung berdiri di depan kipas angin setelah main?"
Tetsuya menjawab kalau ia melakukan keduanya dan ia berkata kakaknya sangat hebat bisa menebak itu semua. Bagaimana ia bisa tahu? Apa kakaknya ini seorang detektif?
Terbayang kembali di benak Tetsuya ketika mereka berempat berlari masuk ke dalam daycare dan cepat-cepat mencari kipas angin untuk mengeringkan keringat mereka dan menghilangkan rasa panas yang membayangi. Ia juga ingat bagian di mana mereka berempat bersuara bersamaan di depan kipas angin karena suara mereka jadi terdengar lucu.
Dasar anak-anak...
Seijuurou mendengus pelan. Pantas saja, pikir Seijuurou. Anak itu berkeringat dan tidak diseka, lantas langsung berdiri di depan kipas angin. Tentu saja saat itu tubuhnya masih panas setelah berlari ke sana ke mari kemudian sebelum tubuhnya sempat mendingin secara natural, ia sudah dihantam oleh angin dari kipas angin.
Tentu saja ia akan sakit jika seperti itu ceritanya.
"Lain kali, Tetsuya, seka keringatmu dengan tisu atau lap atau handuk kecil dan jangan berdiri di depan kipas angin untuk mengeringkannya. Itu akan membuat daya tahan tubuh Tetsuya berkurang dan bisa membuat Tetsuya masuk angin keesokan harinya. Terlebih lagi tadi ada anak yang sedang flu, Tetsuya jadi lebih mudah tertular," jelas Seijuurou sembari si sulung meletakkan kain yang sudah kembali basah oleh air dingin ke atas kening Tetsuya.
Tetsuya mengangguk patuh dan minta maaf atas kecerobohannya dan karena ia sudah merepotkan kakaknya. Ia sungguh tidak bermaksud untuk melakukan itu. Ekspresinya meremang. Ia terlihat benar-benar menyesal.
"Tidak apa. Tapi lain kali jangan diulangi." Seijuurou tersenyum lembut dan mengacak rambut adiknya yang ikut tersenyum, "Kalau Tetsuya mau cepat sembuh, cepatlah tidur."
"Mmhmm," gumam Tetsuya dengan mata tertutup. Manisnya adik bungsu Seijuurou itu bertambah berkali-kali lipat ketika ia memejamkan mata dengan pipinya yang memerah berkat demam tinggi yang menyerangnya.
Sepanjang malam itu, Seijuurou berusaha untuk tetap terjaga dan tak hentinya-hentinya mengompres Tetsuya sampai demamnya pergi sekaligus mengawasi adik bungsunya tersebut jikalau keadaannya memburuk.
Hayo ngaku, siapa yang suka berdiri di depan kipas angin kayak Tetsuya di atas sambil ngomong-ngomong gak jelas cuma karena suaranya kedengeran lucu? haha kayaknya semua orang pernah gitu ya waktu masih kecil? Kecuali yang di rumahnya udah pake AC x3
Waktunya bales revie~w!
Letty-Chan19: eh, gak suka Kuroko? Why? OAO Mukkun beda setahun sama Midorin, jadi dia sekarang kelas lima SD. Soal pairing gimana kalo kita liat ke depannya aja? soalnya aku bikin tergantung mood sih hahaha tapi udah ada rencana kalo aku bakal masukin beberapa pair yaoi yang salah satu chara-nya kugenderbend, so... let's just see. Thanks untuk supportnya Letty-chan X3
UchiHarunoKid: haha sip! ini dia update-nya! tinggal 2 chapter lagi sampe masalah sama Shintarou selesai kok! Tunggu dengan sabar ya! Sebelum lebaran mungkin aku bakal update lagi tapi kalo setelah lebaran mungkin agak lama hehe. Thanks review-nya! XD
Hyori Sagi: Saya suka, saya suka /modeMeiMeion/ silakan diambil, paling nanti kakak-kakaknya Tetsuya marah wkwkwkwkwk iya niiih, susah banget ngilangin typo apalagi gara-gara aku ngetik ini selalu pas abis sahur, jadi mata masih merem melek(?). Maaf, karena chapter ini lebih pendek dari sebelumnya, tapi chapter selanjutnya lebih panjang dari chap 2 ini kok! Btw, cerita Tetsuya bakal terungkap sepenuhnya di chapter depan! Jadi mohon tunggu dengan sabar dan thanks review-nya! X3
nyan: maaaaakaaaaasiih revieeewwnyaaaa~ /peluk nyan/ masih ada banyak kok di ke depannya, siap-siap kena diabetes aja ya /dikemplang/. Aku sendiri belom tahu sampe chap berapa, tapi yang pasti bakalan banyak. Mungkin 10 chap ke atas. Soalnya aku mau bikin semua adek Sei di sini punya masalah, ada yang barengan masalahnya sama yang lain tapi tetep semuanya kebagian. Meski pun bakal ada time skip tapi tetep aja rasanya bakal panjang. Di akhir nanti rencananya Sei juga bakal dapet masalahnya sendiri, tapiiii masih lama banget kayaknya itu mah hahaha
special thanks to: Letty-Chan19, Hyori Sagi, nyan, BrokenWings2602, KakaknyaKurokoTetsuya, Kertas Bersih, PeenPenPonn, , UchiHarunoKid, , kazuharuna13, .5, VandQ, dan sheila-ela
kalian bener-bener bikin aku semangat untuk lanjut ngetik cerita ini! Arigatou Gozaimasuuuu!
Review?
