Kuroko no Basuke hanya milik Fujimaki Tadatoshi.
Cerita ini hanya milik saya seorang.
Warning: AU, Real&Nice! Akashi, brotherly love! a lot of them I think, cuteness ahead(?), alur kecepetan, OOC, typo, DLDR!
pengingat:
Seijuurou = 14 tahun
Shintarou = 11 tahun
Atsushi = 10 tahun
Ryouta = 8 tahun
Daiki = 7 tahun
Tetsuya = 3 tahun
Maaf! Aku sempet salah menkalkulasi kelasnya Shintarou sama Atsushi, harusnya anak itu kelas enam dan kelas lima hehe, jadi yaa kesalahannya udah kuperbaiki sih di chap-chap sebelumnya. Maaf ya, tapi tolong menyesuaikan diri.
hadiah kedua! Dan selamat lebaran untuk yang merayakan!
Enjoy!
Chapter 4: As Brother And Mom, Seeing
Jam meja di atas nakas sudah menunjukkan pukul sepuluh tiga puluh malam ketika pintu kamar Seijuurou diketuk dua kali. Si empunya kamar yang tengah duduk bersandar pada kepala tempat tidur dan membaca sebuah novel sontak terkejut dan kepalanya terangkat.
Sebelah alis merah Seijuurou terangkat dan matanya menatap pintu kamarnya dengan binar heran. Benak remaja itu bertanya-tanya. Siapa yang kira-kira mengunjunginya di jam segini dan untuk apa? Masako kah? Tidak mungkin adik-adiknya. Paling tidak, tidak pada jam segini. Karena mereka pasti sudah tidur. Seharusnya mereka sudah tidur.
Suara ketukan pintu terdengar lagi. Kali ini beberapa tingkat lebih keras dari pada yang tadi. Terlalu malas untuk beranjak dari pelukan kasurnya yang hangat dan membukakan pintu untuk sang pengunjung, Seijuurou hanya menutup novel di tangannya, mengesampingkannya, dan berkata, "Masuk."
Manik merah kembar Seijuurou memerhatikan kenop pintu kamarnya berputar hingga pintu kayu tersebut didorong terbuka. Sosok pendek anak berambut biru muda muncul di sana. Tengah balas menatapnya dengan pandangan yang... sulit untuk dijelaskan.
Sebuah bantal dicengkeramnya erat dengan sebelah tangan yang tak dipakainya untuk memegang kenop pintu. Setelah ia menutup kembali pintu coklat tersebut, langkah kaki mungilnya membawa si bungsu Akashi masuk ke dalam kamar si sulung.
Seijuurou meringis dalam hati.
Ah, seharusnya Tetsuya belum boleh masuk ke dalam kamar Seijuurou mengingat si sulung belum sembuh benar. Meski hanya tinggal demam, tapi tetap saja hitungannya masih belum sembuh. Bisa-bisa Tetsuya sakit lagi nanti. Tapi Seijuurou sudah terlanjur mengatakan 'masuk' tadi pada anak itu dan adiknya itu juga sudah terlanjur melangkah masuk. Jadi ya, apa boleh buat?
Lagi pula kalau Seijuurou menyuruhnya keluar sekarang, adiknya pasti akan menangis.
Tetsuya sampai di sisi ranjang Seijuurou. Dengan wajahnya yang terlihat oh-so-cute itu, ia membalas tatapan Seijuurou. Apa ini perasaan Seijuurou saja atau memang Tetsuya tengah menatapnya dengan tatapan memohon?
"Kenapa Tetsuya belum tidur? Mana Shintarou?" tanya Seijuurou lembut. Mencoba menahan diri untuk tak menegur adiknya karena masih 'berkeliaran' jam segini dan bukannya tengah terlelap di pelukan ranjang. Dan ke mana perginya Shintarou hingga si bungsu bisa bebas berkeliaran begini?
Tetsuya, yang sepertinya sadar kalau ia salah dan sudah seharusnya dimarahi, menundukkan kepalanya. Entah kenapa ujung kakinya berubah jadi lebih menarik sekarang. Kakinya bergerak-gerak gelisah. Kedua tangannya memeluk bantal erat dan memain-mainkan sarungnya.
"Dia di kamar. Tetsuya tidak bisa tidur..." lirih Tetsuya menjawab. Dan entah kenapa Seijuurou bisa tahu apa yang akan dikatakan anak itu selanjutnya, "Boleh Tetsuya tidur di sini?"
Benar bukan? Benak Seijuurou sudah tahu kalau Tetsuya pasti akan minta tidur di sini bersamanya. Terbukti dari persiapan yang sudah ia bawa; bantal. Sepertinya anak itu sudah merencanakan ini sebelumnya tanpa memikirkan kalau Seijuurou akan menolak.
Seijuurou menghela napas pelan. Sebelah tangannya terulur ke atas puncak kepala Tetsuya dan mengusapnya lembut. Menahan diri untuk tak langsung menegur anak yang sebenarnya berbuat salah ternyata bukan perkara mudah.
"Tidak bisa. Tetsuya masih belum boleh tidur dengan Kakak. Kakak belum sembuh betul. Nanti Tetsuya bisa tertular," jelas Seijuurou dengan nada lembut tapi jelas tidak mau dibantah. Dalam hati Seijuurou mulai bertanya-tanya, apa ia sudah terlalu memanjakan adik-adiknya?
"Memangnya Tetsuya mau sakit lagi?" sambung Seijuurou mencoba meyakinkan adiknya. Masih dengan kelembutan yang sama. Ia yakin seratus persen kalau Tetsuya pasti akan segera kembali ke kamar Shintarou dan terlelap di sana.
"Tidak apa! Asal Tetsuya bisa sama-sama Kakak malam ini. Tetsuya tidak masalah kalau harus sakit lagi!" seru Tetsuya dengan volume yang sedikit terlalu keras. Kepalanya kini sudah kembali terangkat dan mata birunya yang biasanya terlihat tenang itu kini seakan tengah menantang kakaknya. Matanya sangat ekspresif sekarang. Sepasang manik biru muda anak itu seakan tengah bicara. Mengatakan 'aku akan lakukan apa saja asal boleh tidur dengan kakak malam ini'.
Satu hal yang dilupakan Seijuurou mengenai anak-anak adalah, anak-anak bukan makhluk yang bisa ditebak jalan pikirannya. Dan Tetsuya bukanlah pengecualian.
Alis Seijuurou berkerut. Ia tidak marah. Sungguh. Ia hanya kurang suka saat adiknya tidak menurutinya. Terlebih jika ia sama sekali tak mengerti alasan di balik pemberontakan adiknya tersebut.
"Tetsuya, kalau tidak mau menurut, nanti Tetsuya akan Kakak hukum, lho," kata Seijuurou dengan nada mengingatkan namun di saat yang sama juga terdengar mengancam. Secara tak langsung Seijuurou tengah mencoba mengatakan 'kalau Tetsuya tidak menurut, nanti Kakak marah'.
Pandangan mata Tetsuya terlihat meragu sesaat. Air wajahnya yang tadinya terlihat begitu keras, sekarang mulai retak, "Ng, hukumannya apa?"
Ternyata anak ini masih takut dihukum juga, pikir Seijuurou. Dalam hati si sulung tertawa menyadari kelucuan adiknya. Baiklah, Seijuurou akan sedikit serius mengancamnya kali ini. Ini untuk kepentingan Tetsuya juga, jadi... tidak apa kan?
"Hukumannya tidak boleh minum vanilla shake dua hari," kata Seijuurou dengan wajah serius bahkan kedua ujung alis merahnya bertemu. Dua jarinya terangkat untuk menekankan jumlah hari dalam hukuman Tetsuya. Seijuurou tahu betul kalau adiknya satu itu sangat suka vanilla shake. Bahkan bisa dibilang, dalam hidup Tetsuya, tiada hari tanpa vanilla shake. Baik yang buatan rumah mau pun yang dibeli di luar.
Dengan dipertaruhkannya vanilla shake kesukaannya, Tetsuya pasti tak akan berani membantah kata-kata Seijuurou lagi sekarang.
Tetsuya mengeluarkan suara 'ugh'. Wajah keras anak itu yang tadi mulai retak, setelah mendengar hukuman Seijuurou, sekarang jadi runtuh sepenuhnya. Jelas terlihat kalau anak itu barusan menelan ludah. Gigi susunya sibuk menggigit-gigit bibir.
Pertimbangkan lah Tetsuya. Lebih baik tidur denganku atau bisa minum vanilla shake dua hari?
"Uuugh, tidak apa deh! Asal bisa tidur dengan Kakak malam ini!" seru Tetsuya setelah berhasil menyelesaikan konflik batin dalam dirinya. Kedua tangannya sudah mengepal di sisi bantal yang ia cengkeram erat.
Jujur saja, Seijuurou terkejut. Dan dibuat speechless oleh adik bungsunya. Kenapa anak ini begitu bersikeras ingin tidur dengan Seijuurou? Apa Seijuurou sebegitu berharganya untuk anak itu hingga ia rela tidak minum vanilla shake kesayangannya dua hari demi tidur dengannya?
Seijuurou memiringkan kepalanya. Berpikir sejenak. Ancaman sudah terbukti tidak berhasil. Apa ia harus memaksa Tetsuya tidur di kamar Shintarou? Entah kenapa, Seijuurou merasa itu juga akan sia-sia saja.
Bisa jadi, kalau Seijuurou melakukan itu, keesokan paginya ia akan tetap menemukan Tetsuya tengah meringkuk di sampingnya dengan mata tertutup dan wajah yang begitu tenang.
Sepertinya memang tidak ada pilihan lain. Diam-diam Seijuurou menghela napas pelan.
"Baiklah, baiklah," gumam Seijuurou, akhirnya menyerah di bawah kegigihan hati Tetsuya. Tetsuya berseru senang dengan kedua mata yang berbinar ekspresif. Sesuatu yang sangat jarang terjadi. Seijuurou kemudian bergumam pelan, "Tapi Tetsuya akan tetap kena hukum."
Anak itu berlari-lari kecil memutari tempat tidur dan melompat masuk ke sisi Seijuurou. Mulut mungilnya tak henti-hentinya menyunggingkan senyum lebar bahkan sesekali terkekeh geli. Tubuh kecilnya merapat hingga bersentuhan dengan Seijuurou. Kedua tangan mungilnya pun mulai merayap di sekeliling pinggang si sulung Akashi.
Seijuurou menghela napas tapi tetap tersenyum simpul melihat tingkah menggemaskan adiknya. Sebelah tangannya terangkat dan mulai mengelus kepala bersurai biru langit tersebut.
Dasar anak-anak...
Novel yang tadi sempat terabaikan di sisi tempat tidur, Seijuurou ambil kembali. Namun, belum ada satu paragraf ia baca, pintu kamarnya sudah diketuk lagi. Kali ini jauh lebih keras dari pada ketukan yang dihasilkan Tetsuya tadi. Dan interval antar ketukannya lebih cepat.
Siapa lagi ini? Gerutu Seijuurou dalam hati.
Lagi-lagi terlalu malas untuk beranjak dari ranjangnya dan terlalu malas untuk menanggalkan perhatiannya dari novel di tangan, Seijuurou kembali berkata, "Masuk."
Kali ini pintu itu terbuka dan menampakkan sosok dua orang adiknya. Si anak cerewet berambut kuning, Ryouta, dan rival –mungkin—seumur hidupnya, Daiki. Kedua anak itu mengintip dari balik pintu untuk memastikan kalau kakaknya tidak terlihat marah pada mereka sebelum mereka benar-benar masuk dan menutup pintu.
"Kak Seijuuroucchiiiiiiii, aku kaaaaangeeeeeeeen," seru Ryouta dengan ekspresi senang –hingga nyaris menangis—yang dibuat-buat sembari berlari –atau lebih tepatnya melompat-lompat—ke arah Seijuurou dan akan benar-benar melompat menerjang si sulung jika saja sebelah tangan Daiki tak menahan kerah piyamanya.
"Kak Sei harus istirahat, bodoh. Jadi jangan berisik," tegur Daiki yang justru terlihat seperti kakaknya Ryouta dan bukannya sebaliknya.
Ryouta merengut dengan bibir mengerucut dan mulai memberontak dari cengkeraman Daiki.
"Kalian sedang apa di sini?" tanya Seijuurou dengan nada menginterogasi. Lagi-lagi ia mengatakan 'bukankah seharusnya kalian sudah di tempat tidur jam segini?' tanpa harus benar-benar mengatakannya. Sukses mendiamkan kedua anak tersebut sebelum keduanya memulai kebiasaan mereka; adu mulut.
Ryouta dan Daiki bertukar pandang. Seakan keduanya tengah berkomunikasi lewat pikiran agar Seijuurou tak tahu apa yang tengah mereka bicarakan. Setelah beberapa saat, keduanya kembali mengalihkan pandangan mereka pada kakak sulung mereka.
"Kami di sini sama seperti Tetsu..." kata Daiki. Tangannya memain-mainkan ujung piyama bermotif bola basketnya, manik biru tuanya tak berani ia pertemukan lama-lama dengan sang kakak dan Ryouta di sampingnya mengangguk. Manik emas Ryouta melirik ke sana-ke mari, mencari objek yang lebih menarik untuk dilihat sepertinya.
Seijuurou lagi-lagi menghela napas. Apa ini artinya akan ada pesta menginap dadakan di kamarnya lagi?
"Kakak tidak boleh bilang tidak boleh-ssu! Tetsuyacchi saja boleh tidur dengan Kakak, masa kami tidak boleh?" protes Ryouta bahkan sebelum si sulung sempat buka mulut untuk menyuarakan pendapatnya. Kedua tangan Ryouta mengepal menjadi tinju di samping dadanya. Hal yang sama dilakukan Daiki. Anak berkulit hitam itu pun mulai mengangguk-angguk semangat sambil menggumam 'hm, hm!'
Mungkin anak itu sudah punya firasat kalau Seijuurou akan menolak. Yah, bukannya Seijuurou mau pilih kasih, hanya saja kalau pengunjung kamarnya bertambah, itu artinya orang yang mungkin akan tertular sakitnya juga akan bertambah, dan itu artinya –lagi—akan ada banyak pasien yang akan diurus Seijuurou nantinya.
"Ya, ya, boleh ya-ssuuu?" rayu Ryouta dengan kedua tangan kini terpaut di depan wajahnya. Ekspresi anak itu sendiri terlihat memelas sekali. Daiki di sampingnya juga mulai ikut-ikutan merayu Seijuurou, meski tidak sampai menautkan tangan di depan wajah.
Setelah apa yang dialaminya dengan adik bungsunya, Seijuurou mulai merasa, hal yang sama pasti akan terulang jika Seijuurou memilih untuk mengancam kedua anak tersebut kembali ke kamar masing-masing.
Dan lagi, bagaimana bisa Seijuurou tega menyuruh mereka kembali ke kamar setelah mereka memohon padanya dengan wajah seperti itu?
Oleh sebab itu, Seijuurou hanya memberikan jawaban dengan bergeser –ikut menggeser Tetsuya di tengah prosesnya—hingga si sulung duduk di tengah ranjang, dan mengangkat selimut di sampingnya untuk dua orang tersebut. Isyarat bagi si anak untuk ikut bergabung ke dalam selimut.
Keduanya bersorak senang dan cepat-cepat melompat masuk ke dalam ranjang. Ryouta dan Daiki sempat bertengkar tentang siapa yang akan tidur tepat di samping Seijuurou –di sisi yang kosong—hingga akhirnya Daiki mengalah dan membiarkan Ryouta tidur sambil memeluk Seijuurou sedangkan dirinya tidur di samping Tetsuya.
Setelah adik-adiknya merebahkan diri, bergelung dengan nyaman di atas tempat tidur dan Seijuurou baru meraih novelnya yang –sekali lagi—terabaikan, lagi-lagi terdengar suara pintu diketuk.
Seijuurou nyaris mengerang frustrasi. Kenapa banyak sekali tamu yang berkunjung ke kamarnya hari ini? Ralat, malam ini.
"Masuk," dan sosok anak tinggi berambut ungu dengan mata setengah tertutup masuk ke dalam kamar tersebut. Kali ini Seijuurou menyerah untuk bertanya 'apa yang kau lakukan di sini?' jadi ia justru lebih memilih untuk menanyakan, "tidak bisa tidur?"
Atsushi mengangguk pelan. Rambut ungunya ikut bergoyang ketika ia mengangguk dan berjalan ke ranjang di mana saudara-saudaranya berada. Tanpa meminta persetujuan atau pun izin dari si sulung, bahkan tanpa mengeluarkan jurus apa pun untuk membuat kakaknya kasihan padanya dan membiarkan ia ikut pesta tidur mereka, Atsuhi sudah mengangkat selimut dan masuk ke dalamnya, tepat di samping Daiki.
Anak itu bahkan tak mau repot-repot menutup pintu...
Seijuurou menghela napas, tapi dalam keadaan diimpit adik-adiknya seperti ini, rasanya tidak mungkin juga ia turun dari tempat tidur sekarang dan menutup pintu kamarnya.
"Pokoknya kalau kalian besok sakit, aku tak mau tahu ya..." gumam si sulung Akashi pelan, tapi cukup bisa didengar. Suara kekehan dari keempat adiknya menjadi jawabannya.
Sebuah suara yang terdengar seperti suara langkah kaki masuk tiba-tiba dalam lingkup pendengaran Seijuurou. Kepala bersurai merahnya ia alihkan ke arah pintu. Tidak ada siapa-siapa di sana. Tidak ada siapa-siapa sepanjang yang Seijuurou bisa lihat.
"Shintarou," panggil Seijuurou. Dan benar firasat si sulung tadi. Anak berambut hijau lumut itu lantas memunculkan diri di depan pintu dengan wajah tertunduk. Persis seperti anak kecil yang tertangkap basah orangtuanya sedang makan kue tepat sebelum jam makan siang. Sebelah tangannya memegang kenop pintu. Dari bahasa tubuhnya, Seijuurou bisa tahu anak itu tengah ragu antara mau ikut masuk atau tidak.
"Kemarilah," tubuh Shintarou berjengit mendengar nada Seijuurou yang lebih terdengar seperti perintah dari pada ajakan.
Kali ini Seijuurou sudah tahu betul penyakit Shintarou yang mau tapi tidak mau mengaku. Kalau Seijuurou tidak salah ingat, dalam bahasa otaku, sifat Shintarou itu disebut tsun—tsundere? Jadi Seijuurou memastikan untuk mengambil inisiatif lebih dulu setiap kali ada hal yang berhubungan dengan adiknya satu itu.
"Kakak rindu bicara dengan Shintarou. Dan mungkin kita bisa tidur satu ranjang seperti dulu lagi malam ini?" tawar Seijuurou. Sebelah tangan si sulung terangkat dan dilambaikannya pada si anak kedua sedangkan sebelah tangannya yang lain menepuk ranjang yang didudukinya. Isyarat bagi si adik untuk mendekat.
Gambaran di mana ia dan Shintarou tidur bersama setiap malamnya kembali mendobrak masuk dalam benak si sulung. Mereka berdua sempat melakukan itu selama tiga tahun berturut-turut hingga Atsushi menjadi bagian anggota keluarga Akashi dan posisi Shintarou di sisi ranjang Seijuurou pun tergeser.
Ragu-ragu, Shintarou masuk dan menutup pintu. Dimatikannya lampu dan beranjaklah ia ke arah ranjang sembari mengira-ngira posisinya. Langkah kakinya yang begitu pelan seakan memberitahu Seijuurou kalau anak itu siap balik kanan dan lari kapan saja. Tapi untung saja anak itu sama sekali tak membalikkan badannya dan kabur dari sana.
Shintarou tiba di sisi ranjang dan Seijuurou mencondongkan badannya ke arah Ryouta, berbisik di telinga anak berambut kuning tersebut, "Bisa bergeser sedikit, Ryouta? Kakak ingin bicara sebentar dengan Shintarou malam ini, bisa?"
"Eeeh? Kok begitu-ssu?" protes Ryouta. Kepalanya yang awalnya terbaring nyaman di samping pinggang Seijuurou, langsung terangkat dan bibirnya langsung mengerucut tidak terima. Pelukannya di pinggang Seijuurou makin erat. Mengindikasikan rasa keberatan anak itu untuk menukar posisinya dengan Shintarou.
"Tolonglah, sekali ini saja," rayu Seijuurou. Sebelah telunjuknya terangkat, "besok bagaimana kalau Ryouta tidur dengan Kakak? Sebagai ganti malam ini..."
Setelah berpikir-pikir sejenak, akhirnya dengan berat hati, Ryouta meluluskan permintaan hati Seijuurou. Ryouta turun dari tempat tidur, membiarkan Shintarou naik lantas mendudukkan diri sebelum anak berambut kuning itu menyusul dan menjadikan tubuh Shintarou sebagai guling pribadinya.
Seijuurou menjulurkan tangannya ke nakas dan mematikan lampu tidur. Sekarang penerangan mereka hanyalah cahaya bulan yang menembus tirai kamar Seijuurou. Namun meski matanya kekurangan penerangan, Seijuurou masih bisa melihat wajah Shintarou yang tengah duduk di sampingnya. Wajahnya ditempeli ekspresi bersalah.
Seijuurou tak lantas merebahkan diri. Justru ia membalut mereka semua dengan selimut hangatnya sebelum menoleh ke arah Shintarou. Melemparkan pandangan penuh kelembutan pada adik pertamanya.
Diam mengisi atmosfir di sekeliling keenam bersaudara tersebut. Belum ada satu pun dari kedua bersaudara yang paling tua di sana yang bersedia membuka mulut. Mungkin masih menunggu situasi yang tepat.
Setelah memastikan adik-adiknya yang lain sudah terlelap, Seijuurou membuka mulut.
"Maaf, Kak..." gumam Shintarou lirih, mendahului apa pun yang ingin dikatakan Seijuurou. Sangat lirih anak itu bicara hingga nyaris tak terdengar Seijuurou. Seijuurou yang tadinya nyaris mengatakan sesuatu pada adiknya, sontak mengurungkan niatnya dan kembali menutup mulutnya.
Namun manik merahnya tak berhenti menatap lembut adiknya; yang masih menolak bertemu tatap dengan Seijuurou. Kedua lengan Shintarou bergerak memeluk lututnya yang ia lipat di depan dada.
"Untuk?"
"Karena sudah marah-marah pada Kakak tanpa memberikan penjelasan apa pun..." kata Shintarou lagi, tak kalah lirih dengan yang tadi. Bahkan kini kata-katanya terdengar kurang jelas karena wajahnya ia benamkan di antara lutut.
Seijuurou mendengus tapi sebuah senyum tipis tetap tercoreng di wajahnya. Tangan anak itu terangkat dan ia jatuhkan di kepala adiknya. "Tidak apa. Aku tidak marah. Aku hanya sempat bingung saja waktu itu."
Jika ditanya apa Seijuurou mengerti bagaimana perasaan Shintarou sekarang ini, maka sejujurnya, tanpa ragu Seijuurou akan menjawab ya. Si sulung mengerti sepenuhnya alasan di balik kelakuan buruk Shintarou belakangan ini.
Shintarou pernah menceritakan masa lalunya pada Seijuurou sekali. Dan dari cerita itu, si sulung bisa menyimpulkan kalau Shintarou sangat dekat dengan ayah kandungnya. Sosok ayah bagi anak itu sama dengan sebuah panutan, sebuah idola. Dan cara pandang itu sama sekali tak berubah ketika ia masuk menjadi bagian keluarga Akashi. Ayah mereka pun ia pandang dengan cara yang sama.
Lalu, beberapa hari lalu ia kehilangan ayahnya untuk yang kedua kalinya. Figur yang paling dekat dengannya selain Seijuurou sendiri. Bahkan mungkin sosok ayah bagi anak itu lebih penting dari pada figur ibu. Tiba-tiba saja, Tetsuya datang. Kematian sang ayah dalam kecelakaan maut itu bagai harga yang harus mereka bayar demi kedatangan si bungsu.
Bisa dibayangkan bagaimana kacaunya perasaan Shintarou waktu itu –bahkan mungkin hingga saat ini.
Ketidakberadaan Seijuurou –sosok penting lainnya dalam hidup Shintarou—dan teman di samping Shintarou membuat keadaan semakin parah. Anak itu sama sekali tidak memiliki tempat untuk berbagi keluh kesah atau pun tempat dijadikan sandaran, dan akhirnya Tetsuya menjadi sasaran luapan emosinya.
Paling tidak, itulah spekulasi yang berhasil dibentuk Seijuurou setelah mendengar kesaksian beberapa orang; Atsushi dan Shirogane.
Baru setelah mendapat maaf tak langsung dari Seijuurou, Shintarou berani mengangkat wajahnya dan mempertemukan mata hijau lumutnya dengan manik merah kembar si sulung Akashi. Tangan Seijuurou tak ia lepaskan dari puncak kepala adiknya dan justru dielusnya kepala adiknya satu itu dengan perlahan.
"Jadi, sudah lihat?" tanya Seijuurou. Pertanyaannya terkesan ambigu, tapi Shintarou berhasil menangkap maksud kakaknya dengan sangat baik.
Air muka anak itu kembali menggelap. Matanya kembali ia alihkan dari Seijuurou. Saat ini, wajah Seijuurou adalah hal terakhir yang ingin dilihat Shintarou.
"Sudah..."
Seijuurou memejamkan matanya dan mengangguk mengerti. Senyum di wajah si sulung menguap.
"Aku mengerti kalau Shintarou masih tidak menyukai Tetsuya setelah melihatnya. Tapi aku punya satu hal yang ingin kuminta pada Shintarou—"
"Tidak! Aku yang salah. Seharusnya aku tidak bersikap kekanakan dengan membenci Tetsuya ketika Tetsuya sama sekali tidak salah apa-apa padaku," Shintarou mengeratkan pelukannya pada kedua lututnya dan wajahnya kembali ia benamkan di sana. "Setelah dipikir-pikir lagi, bagaimana bisa aku membencinya cuma gara-gara ia ada di sana saat kecelakaan itu terjadi."
Seijuurou terdiam. Di saat Shintarou sedang punya mood untuk bercerita, mendengarkannya hingga selesai tanpa menyelanya adalah opsi terbaik. Jika tidak, mood anak itu untuk bercerita akan menguap dan ia tak akan mau mencurahkan isi hatinya lagi meski dipaksa.
Karena itulah, Seijuurou justru menawarkan elusan lembut di puncak kepala untuk adiknya sebagai tanda ia mendengarkan dan tanda bagi adiknya untuk melanjutkan.
"Waktu aku dengar Ayah kecelakaan saat menjemput Tetsuya, aku merasa sangat kesal, sangat marah. Aku mencari-cari orang untuk disalahkan atas terjadinya bencana itu. Lalu saat Kakak mengumumkan pada kami semua kalau Ayah meninggal dunia di rumah sakit dan memperkenalkan Tetsuya di gendongan Kakak, aku jadi kelepasan dan melampiaskan semuanya pada anak itu...
"Aku berpikir, kematian Ayah adalah salah Tetsuya. Seandainya Ayah tidak menjemput Tetsuya waktu itu, Ayah pasti masih hidup sekarang. Seandainya Ayah tidak mengenal Tetsuya, Ayah pasti tidak akan pergi menjemputnya. Ada banyak hal buruk yang kupikirkan yang tidak bisa aku katakan pada Kakak."
Jeda sejenak, Sepertinya Shintarou tengah berusaha menghirup napas yang habis setelah bercerita panjang lebar. Dan mungkin untuk menahan isak yang mengancam keluar dari tenggorokannya. Anak itu melanjutkan.
"Aku bahkan tidak memikirkan bagaimana perasaan Tetsuya atau bagaimana kondisi Tetsuya setelah kecelakaan itu. Lalu, setelah tadi menggantikan piyamanya, aku bertanya tentang luka-luka itu dan ia menjawab dengan polosnya kalau ibunya yang memberikan itu semua."
Seijuurou menyerap informasi baru ini beberapa detik lebih lama. Dugaan Seijuurou tepat seratus persen. Mungkin kemampuan menebaknya yang sangat bagus itu bisa menjadikannya seorang detektif handal.
Sebelah tangan si sulung tak henti-hentinya mengelus-elus kepala hijau lumut adiknya. Menawarkan sebentuk kecil perhatian dan penghiburan yang memang sedang sangat dibutuhkan oleh sang adik.
Dan dalam benak Shintarou, sebenarnya Shintarou bisa mengira kalau sebenarnya Masako tadi tak benar-benar 'lupa' memakaikan Tetsuya piyama. Mungkin wanita itu sengaja melakukannya atas perintah Seijuurou agar Shintarou bisa melihat luka Tetsuya dengan mata kepalanya sendiri. Agar si anak kedua Akashi bisa memikirkan ulang keputusannya membenci si bungsu.
Tapi saat ini, ia tak benar-benar bisa marah pada keduanya yang secara tak langsung, sudah menjebaknya. Ia justru merasa sedikit bersyukur karena sudah disadarkan.
"Seburuk-buruknya Ibuku dulu, meski ia pernah mencoba mengajakku ke alam sana bersama-sama untuk menyusul Ayah, tapi ia tak pernah memukulku dan mengatakan kalau aku pembawa sial atau meninggalkanku suatu malam dengan sengaja tanpa bilang apa-apa supaya aku hidup sendiri saat aku baru tiga tahun... Dari kami semua, mungkin orangtua Tetsuya lah yang terburuk."
Kembali terbayang di benak Shintarou detik-detik di mana ia dan ibunya menemukan jasad Tuan Midorima tengah menggantung di langit-langit ruang tengah apartemen mereka, jas dokter berwarna putih masih melekat di tubuhnya. Ibunya yang berteriak lantas menangis histeris.
Kemudian ibunya pergi ke kamar mandi dan kembali dengan dua botol di tangannya beserta sebuah ember. Shintarou baru tahu bertahun-tahun kemudian kalau yang diambil ibunya waktu itu kemungkinan adalah pemutih dan pembersih toilet.
Terjawab sudah mengapa setelah ibunya mencampurkan keduanya, uap aneh berwarna kuning kehijauan keluar, hampir mengisi seluruh ruangan dan membuat ia dan ibunya terkapar di lantai dengan dada yang terasa seperti terbakar. Jika saja tetangga mereka waktu itu tidak memanggil tim medis setelah mendengar jeritan ibunya, mungkin Shintarou tak akan berada di samping Seijuurou saat ini. Namun sayangnya nyawa ibunya tak terselamatkan.
"Setelah kehilangan kedua orangtuanya, ia harus langsung kehilangan ayah angkatnya di hari pertamanya menjadi keluarga Akashi. Kemudian aku malah menambahi beban perasaannya dengan berlaku buruk seperti itu. Baru tadi... aku benar-benar memikirkan bagaimana perasaan Tetsuya sekarang ini. Aku... memang benar-benar yang terburuk..."
Suara Shintarou di akhir kalimatnya terdengar pecah, seakan anak itu ingin menangis tapi berusaha sekuat tenaga menahannya. Isak tangis lolos dari kurungan mulutnya dan hidung Shintarou juga sudah mulai berair.
Seijuurou menghentikan elusannya dan menjangkau laci paling atas nakas. Ia menarik laci tersebut dan mengeluarkan sekotak tisu dari dalam. Setelah menutupnya kembali, Seijuurou menempatkan tisu tersebut di atas pangkuannya dan menarik selembar tisu keluar.
"Shintarou," panggil Seijuurou lembut. Ketika Shintarou justru memalingkan wajahnya –yang dibenamkan di antara lutut—dari Seijuurou dan mengeratkan pelukan tangannya pada lututnya, si sulung terpaksa menarik kedua tangan anak itu menjauh dari lututnya.
Shintarou mengangkat wajahnya sedikit dari lututnya hingga dagunya tak lagi bertemu dengan lutut dan kesempatan itu tak disia-siakan Seijuurou. Sebelah tangan Seijuurou mengangkat dagu adiknya sedangkan tangannya yang lain sibuk menyeka cairan hidung Shintarou yang mulai meleleh ke mana-mana.
Erangan keluar dari mulut anak berambut hijau tersebut dan hal itu justru mengingatkan Seijuurou akan hari-hari mereka ketika mereka masih berumur enam dan tiga tahun. Saat itu, setiap kali anak itu menangis hingga hidungnya berair, pasti Seijuurou lah yang akan menyekanya.
Seijuurou tersenyum tipis.
"Dasar anak bodoh," gumam Seijuurou ketika ia selesai menyeka hidung Shintarou dan melemparkan tisu bekasnya ke tong sampah di samping nakas. Bingo, Seijuurou berhasil mencetak three-point.
Sebelah tangannya ia pertemukan dengan pipi Shintarou, menghapus air mata yang sempat membentuk aliran sungai di sana.
Shintarou berjengit dan mengangkat kepalanya. Menatap manik merah kakaknya dengan kedua manik hijau lumutnya yang masih basah. Kedua alisnya berkerut tidak mengerti dengan kata-kata kakaknya. Seijuurou hanya tersenyum misterius sebagai jawaban dari pertanyaan tanpa suara dari adiknya.
Sebelah tangan Seijuurou menyelinap ke belakang kepala Shintarou dan dengan satu gerakan cepat, kepala Shintarou sudah bersentuhan dengan dada Seijuurou.
"Dasar anak bodoh, kalau kau punya masalah, jangan segan menceritakannya padaku. Aku ini kakakmu, Shintarou. Kau selalu bisa bersandar padaku."
Kedua mata Shintarou melebar secara bersamaan. Anak itu tak terbiasa dengan kontak fisik dan sudah sangat lama sejak terakhir kali ia berpelukan –atau lebih tepatnya ada seseorang memeluknya—seperti ini.
"Jangan pernah memendamnya sendiri. Jangan, selama aku masih ada di sini," kata Seijuurou lembut. Sebelah tangannya merayap melingkari bahu Shintarou yang terasa kaku. "Dan lagi, kalau Shintarou memang merasa bersalah pada Tetsuya dan ingin minta maaf, bagaimana kalau Shintarou menunjukkannya dengan cara menjadi kakak yang lebih baik saja? Shintarou kesulitan mengekspresikan perasaan Shintarou dengan kata-kata kan?"
Setelah beberapa saat bertahan dalam posisi seperti itu, kedua bahu Shintarou melemas. Akhirnya anak itu bisa melemaskan dirinya dalam pelukan sang tangan anak berambut hijau itu perlahan tapi pasti ikut merayap ke punggung Seijuurou dan mencengkeram bagian belakang piyama kakaknya. Erat. Kepala hijau anak itu benamkan lebih dalam ke dada kakaknya.
"...Mmmhm. Baik... Dan maaf sudah jadi adik yang bodoh..."
Seijuurou kembali mendengus. Bukan dengusan menghina, tapi dengusan senang. Sebuah ciuman lembut ia daratkan di puncak kepala bermahkota hijau adiknya.
"Oh ya, besok, Shintarou," panggil Seijuurou tanpa mengendurkan pelukannya pada adiknya. Justru tangannya kini sudah sibuk mengelus puncak kepala adiknya, "Jika ada seorang anak berambut hitam yang menghampiri Shintarou dan mengajak Shintarou mengobrol di sekolah, bersikaplah sedikit ramah padanya. Jangan lupa menanggapi kata-katanya."
Shintarou yang melepas pelukannya lebih dulu. Anak itu mengangkat kepalanya dan kedua manik hijaunya memancarkan kebingungan. Lagi-lagi, malam itu, Seijuurou hanya menyunggingkan senyum misterius untuk menjawab pertanyaan tanpa suara adiknya.
"Besok di sekolah Shintarou akan tahu," Seijuurou mengangkat selimut, "bagaimana kalau sekarang kita tidur saja?"
"Hei, hei, kau yang kemarin berhasil menembak masuk lima kali berturut-turut dari area three-point saat olahraga kemarin kan?" seru seorang anak berambut hitam dengan poni yang dibelah tengah. Wajahnya terlihat sangat bersemangat. Persis seperti anak kecil yang dijanjikan akan diberi hadiah tapi tak diberitahu hadiahnya apa.
Shintarou mengangkat wajahnya dari kotak bekal di atas mejanya. Sepasang alis hijau anak itu terangkat, matanya melebar, dan mulutnya berhenti mengunyah sepotong kacang merah yang baru ia suap. Ia seakan bertanya 'siapa kau?' dalam diam.
Awalnya ia tengah makan siang sendiri di mejanya –karena ketiga saudaranya tengah punya urusan masing-masing—hingga tiba-tiba saja anak berambut hitam ini muncul entah dari mana dan menanyainya hal yang tak biasanya ditanyakan orang saat jam makan siang.
Tanpa minta izin terlebih dulu, anak itu duduk di kursi di hadapan Shintarou dan menaruh kotak bekalnya tepat di depan kotak bekal Shintarou. Bukannya Shintarou ingin protes karena anak itu seenaknya memutuskan untuk makan siang bersamanya, hanya saja ia bingung kenapa anak itu tiba-tiba saja mendatanginya dan mengajaknya bicara.
"Kau hebat sekali kemarin itu, kau tahu! Aku benar-benar iri! Rasanya aku ingin mengalahkanmu, tapi kita satu kelas, jadi itu konyol. Ngomong-ngomong, kau akan menjadi shooting guard yang sempurna! Kalau kita bentuk tim basket, kau akan jadi SG-nya sedangkan aku... aku rasa aku akan ambil posisi PG saja," celoteh anak itu sambil mengangkat bahu tanpa mengenalkan dirinya sama sekali pada Shintarou. Anak itu bahkan sudah berani mengacungkan sumpitnya pada Shintarou saat bicara.
"Ah ya, kau mungkin lupa siapa aku, tapi aku Takao Kazunari! Aku duduk di sana," kata anak itu –Takao Kazunari sembari menunjuk kursinya –lagi-lagi dengan sumpit di tangannya—yang ternyata hanya beda dua kursi lebih depan dari kursi Shintarou dan barisannya tepat di sebelah anak berambut hijau tersebut.
"Ah, aku—"
"Ya, ya, aku tahu, kau Akashi Shintarou. Anak angkat keluarga Akashi yang sangat kaya itu kan? Tidak ada orang di sekolah ini yang tidak tahu siapa kau." Anak itu mengangkat kedua bahunya dan sibuk menyuapkan kimchi ke dalam mulut.
"Sungguh?"
"Mmhm! Siapa yang tidak kenal orang yang sering bawa-bawa barang aneh ke sekolah?" anak itu tertawa geli setelah berhasil menelan kimchi-nya. Di benaknya kembali terbayang boneka katak –yang kalau tidak salah diberi nama Kerosuke oleh anak berambut hijau itu—yang tempo hari dibawa Shintarou ke sekolah, bahkan sampai dibawanya ke ruang olahraga.
"Diamlah, Takao," kata Shintarou. Kedua matanya lari dari wujud lawan bicaranya. Tapi anak berambut hijau itu sama sekali tak bisa memungkiri kalau wajahnya sekarang terasa panas karena kata-kata anak itu—Takao. Hingga Shintarou sama sekali lupa untuk bersikap sopan di depan lawan bicaranya. Lagi pula untuk apa bersikap sopan dan canggung di depan anak yang sepertinya nyaris tidak tahu malu begitu?
Percakapan mereka pun berlanjut. Mulai dari wali kelas mereka yang ternyata punya panggilan akrab –Mabo—hingga bagaimana kalau mereka buat klub basket dengan merekrut beberapa kakak kelas kenalan Takao dan adik-adik Shintarou.
Sama sekali tak terlintas dalam benak Shintarou kalau mungkin, yang dimaksud kakaknya tadi malam dengan 'anak berambut hitam yang menghampiri Shintarou dan mengajak Shintarou mengobrol' itu adalah anak ini.
Anak berambut hijau itu terlalu tenggelam dalam obrolannya –yang terkesan satu arah—bersama dengan teman barunya yang bernama Takao Kazunari.
"Aku pulang," seru Shintarou ketika ia membuka pintu depan rumah keluarganya dan mulai mencabut sepatunya. Di belakangnya ikut pula anak berambut hitam yang tak berhenti berceloteh mengagumi rumah besar keluarga Akashi.
"Uwaah, rumah orang kaya memang beda ya! Apa mungkin di rumah ini ada banyak barang anehnya? Soalnya Shin-chan sering bawa-bawa barang aneh sih hihihi."
"Diamlah, Takao."
Suara langkah kaki bisa terdengar dari arah dalam. Dan sosok Seijuurou bisa terlihat muncul dari lorong yang menghubungkan pintu depan dengan bagian dalam rumah mereka. Si sulung masih mengenakan seragam sekolahnya, hanya saja kancing paling atas kemejanya terbuka dan dasinya sudah dilonggarkan sedikit.
Tak bisa dipungkiri kalau mata merah Seijuurou berbinar senang ketika melihat anak berambut hitam di belakang adiknya. Itu dia anak yang Seijuurou maksud beberapa hari yang lalu. Dugaannya memang selalu tepat.
"Siapa dia, Shintarou?"
"Aku temannya Shin-chan! Takao Kazunari. Salam kenal, Kak!" seru anak itu bersemangat dan langsung menghindar sebelum ia menerima sebuah sikutan cukup keras diarahkan ke bagian rusuknya oleh Shintarou. Anak itu tertawa geli meledek Shintarou yang sikutannya meleset. Tapi tentu saja ia tetap protes diperlakukan seperti itu oleh si anak berambut hijau lumut.
"Apa sih... Memangnya sejak kapan kita teman?" gerutu Shintarou. Tapi pipinya yang disepuh warna kemerahan justru mengatakan pada Seijuurou yang sebaliknya. Seijuurou tersenyum simpul.
Akhirnya adiknya berhasil membuat satu orang teman.
"Ah ya, Kak. Kami berdua mau main one-on-one di lapangan samping rumah. Boleh?" tanya Shintarou. Salah satu ibu jarinya ia gunakan untuk menunjuk halaman samping rumah mereka yang luas. Kedua tas anak itu sudah diletakkan di samping kaki-kaki mereka.
Seijuurou mengangguk sekali. Anak-anak yang melihatnya langsung berbinar wajahnya dan Takao langsung tersenyum lebar. Kata 'yes!' keluar dari mulut anak berambut hitam tersebut.
"Tapi saat jam makan malam berhenti main ya," kata Seijuurou dengan nada mengingatkan. Kedua anak itu baru akan beranjak keluar lagi kalau saja Seijuurou tidak memanggil nama Takao, "dan Takao, bagaimana kalau malam ini kau ikut makan malam bersama kami?"
Takao memberikan tanda hormat pada Seijuurou beserta kata 'ossu!' sebelum keduanya melesat keluar dari pintu depan rumah keluarga Akashi. Tas-tas kedua anak itu bahkan diletakkan begitu saja di depan pintu.
Seijuurou kembali mendengus senang hingga Daiki berjalan menghampirinya dari dalam rumah. Sebelah tangan anak itu menarik seragam kakaknya di bagian pinggang dan bertanya, "Kakak tidak masuk? Sedang apa di sini?"
Seijuurou membungkuk, menyelipkan tangannya di antara ketiak anak berkulit hitam tersebut dan mengangkat anak itu ke atas bahunya. Memberikan anak itu tumpangan gratis hingga ke ruang keluarga rumah mereka.
"Tidak ada. Hanya mencoba rasanya jadi ibu saat melihat anaknya dapat teman pertama."
Omake
Niat awal Seijuurou setelah menemui Nakatani Masaaki adalah untuk pulang sebelum Masako turun tangan dan menjemputnya langsung ke sekolah. Tapi setelah sampai di sekolah adik-adiknya, si sulung justru jadi penasaran dengan apa yang tengah dilakukan adik-adiknya.
Akhirnya anak berambut merah itu memutuskan untuk mengambil tur keliling sekolah dasar itu sebentar. Ia hanya akan melihat-lihat kelas adiknya. Itu saja tak akan membuat sakitnya jadi makin parah bukan?
Kelas pertama yang dilewatinya adalah kelas Daiki. Dari jendela kelas, manik merah Seijuurou bisa menangkap sosok Daiki yang duduk di kursi paling belakang, tengah terlelap dengan kepala yang diletakkan di atas meja. Sama sekali mengacuhkan guru di depan kelas.
Seijuurou menggelengkan kepalanya. Antara maklum dengan tak habis pikir dengan kelakuan adiknya satu itu.
Untungnya tak berapa lama berselang, guru yang tengah mengajar di depan kelas menyadari kelakuan buruk adik Seijuurou dan menegurnya dengan cara melemparkan kapur putih di tangannya ke kepala anak tersebut. Cukup keras.
Sukses membuat anak berkulit hitam itu tersentak terbangun dari tidur siangnya.
Seijuurou terkekeh melihatnya dan melanjutkan perjalanannya. Kali ini ia menyinggahi kelas Atsushi.
Anak itu... percaya atau tidak, tengah makan kudapan di tengah pelajaran. Istirahat makan siang baru berakhir, jadi mungkin kudapan itu adalah kudapan yang ia beli tadi di kantin saat jam makan siang.
Seijuurou mengalihkan pandangannya pada guru di depan kelas. Meski guru itu terlihat kesal mendengar suara renyah kudapan dikunyah, tapi sepertinya guru itu sudah menyerah memperingatkan Atsushi akan larangan makan makanan di tengah jam pelajaran.
Seijuurou mendesah pelan. Adiknya satu itu memang sulit diatur.
Si sulung Akashi kembali melangkah. Kini ia menyambangi kelas Ryouta. Anak berambut pirang tersebut tengah sibuk menanggapi satu per satu kertas-kertas yang dilemparkan gadis-gadis di kelasnya ke arahnya.
Mereka sama sekali tak memerhatikan penjelasan guru –sepertinya guru bahasa Inggris—di depan kelas sana. Ya ampun, karena kesalnya guru itu dengan anak-anak di kelasnya, guru itu bahkan sampai menekan kapur di tangannya ke papan tulis hingga kapur tersebut mendecit cukup keras.
Seijuurou membuat catatan mental untuk memarahi Ryouta nanti di rumah.
Yang terakhir, kelas Shintarou. Kelas anak itu kosong. Mungkin sedang pelajaran olahraga di gedung serba guna, pikir Seijuurou. Anak berambut merah itu melangkahkan kakinya keluar gedung sekolah dan menyeberangi lapangan sepakbola.
Ia berdiri di depan pintu gedung serba guna yang sedikit terbuka. Dan benar yang dipikirkannya. Kelas adiknya tengah melakukan pelajaran olahraga dan materinya hari ini adalah basket. Semua anak sepertinya diminta untuk memasukkan bola dari area three-point sebanyak lima kali.
Kebetulan sekali sekarang adalah giliran Shintarou. Bukan lagi hal mengejutkan bagi Seijuurou ketika kelima tembakan Shintarou masuk dengan mulus ke dalam keranjang. Setelah adiknya selesai melakukan tugasnya, ia kembali duduk dengan anak-anak lainnya, hanya saja dengan sedikit jarak.
Figur anak itu terlihat kesepian.
Tiba-tiba saja sosok anak berambut hitam dengan poni yang dibelah tengah masuk ke dalam lingkup penglihatan Seijuurou. Anak itu tengah menatapi adiknya dengan pandangan berbinar. Seakan ia tengah melihat barang yang diidam-idamkannya kini hanya berjarak sejangkauan tangan darinya.
Seijuurou tersenyum. Mungkin sebentar lagi adiknya tak akan duduk sendirian lagi setiap jam makan siang mau pun jam olahraga.
AKU GAK TAU HARUS BILANG APA, MAKSUDKU, 21 REVIEW?! Jujur aja ya, waktu aku pertama ngecek ffn itu pas Jumat pagi, tau-tau udah ada 16 review dan mataku yang masih berkabut waktu itu karena baru bangun jadi langsung BERSIH. Langsung kebuka LEBAR.
ASTAGA, KATA-KATA AJA UDAH GAK CUKUP BUAT JELASIN BETAPA AKU CINTA KALIAN QAQ
dan satu lagi, pembersih toilet plus pemutih dicampur jadi racun itu kisah nyata lo kawan, jadi hati-hati ya.
saatnya bales revie~w
Freizicers: Really? I'm so sorry /sheisn'tsorry,notatall/ Here is the continuation, hope you like it! Thank you for your review! XD
Harpgirl: wkwkwkwk Midorin mau make nama keluarga apa pun tetep aja tsun tsun /dilempatMidorimakering/ okeee, thanks reviewnya ya! XD
Eqa Skylight: /Peluk Eqa-chan/ cup cup jangan nangis, sekarang mereka udah ada di tangan yang lebih baik(?) ini dia masa lalu Midorin, gak sedih kan? :D ini dia lanjutannya! Hope you like it! Thanks reviewnya! XD
Kyo Fuurime Tsuki: Silakan diambil Tetchan-nya /serahinTetsu, digeplakkakaknya/ aww, aku tersanjung, makasih banget ya! jadi malu sendiri deh hehehe thanks ya reviewnya! XD
yuukihanami.5: abisnya kan aku harus berterima kasih sama kalian semua, tapi ffn malah gak menggampangkan(?) keinginan aku itu -,- jawabannya ada di chapter ini, silakan liat :D Hai! Ini dia update-nya, thanks ya reviewnya! XD
Hana Kijimuta: hehe, dia soalnya datang karena 'kecelakaan' makanya ortunya agak susah nerima gitu /digeplakortuTetsu/ ini dia next chappie-nya, thanks reviewnya ya! X3
hancf: abisan, ngeliat review kalian yang manis-manis bikin aku gak tahan untuk apdet lama-lama QAQ wkwkwkwk hancf anak sulung? sebenernya punya kakak juga gak selalu enak kok /duhketauadehsiauthoranakbungsu/, makanya han-san temenin shintaro dong, takao udah nongol tuh hehehe :3 ini udah kilat belom? hehe thanks ya reviewnya! X3
Just-Sky: aww, makasiiiih, Sei-chan jadi makin tegar(?) untuk ngadepin adek-adeknya tuh gara-gara kata-kata Just-Sky-san hehehe, ini dia chap barunya! Arigatou gozaimasu atas reviewnya! X3
Hyori Sagi: huahahahaha aku manusia yang lagi kerasukan pelangi bernama ide :D /digeplak/. Dirimu... psycho?! OAO hubungan mereka memang membaik tapi kalo sampe fluffy fluffy mah gimana yaa? Si midorin kan tsun tsun hehe. Ini udah kilat belom? X3 Thanks ya reviewnya! XD
BluBubbleBoom: sama sekali nggak kok, aku kalo lagi overemotional juga suka make caps hahahaha /ketauandeh/ Sei kan emang aslinya lembud sangad huehehehe /fangirlingmode/ wah, kalo langsung update mah kesannya kan gak asik /yagakasikbuatlu/ Thanks reviewnya ya!
KakaknyaKurokoTetsuya: Aamiiin XDD Arigatou gozaimasu! Thanks reviewnya ya! X3
Letty-Chan19: Panggil Dee-san aja biar pendek hehehe aku puas bisa menusuk kokoro-mu /evillaugh/ ada sih, tapi gak banyak dan emang gak difokusin ke situ. Baguslah dirimu sedang gak mood jadi fujo, soalnya aku juga lagi gak mood bayangin yang yaoi-yaoi hahaha /yaakuhalf-fujosebenernya/ Arigatou gozaimasu reviewnya! XDD
UchiHarunoKid: sama-sama! Maaf ya chap ini gak panjang hehe, soalnya ideku yaa emang cuma segini, gak bisa dipanjangin. Salam kenal juga! Ini 3 hari kan? wkwkwkwkwk aku selalu apdet 3 hari sekali looo. Btw, makasih yaa, aku bakal hati-hati di jalan kok! Ini udah kilat belom? heheh thanks ya reviewnya! XD
aadivaazzahra: wkwkwkwk soalnya review reader yang manis-manis bikin aku gak tahan untuk update lama-lama X3 iyaa, betul! Itu semua dari rise of the guardians, gak tau kenapa pikiran aku nyampe aja ke sana pas ngetik bagian itu hahaha ini dia lanjutannya! Hope you like it, thanks reviewnya ya! XD
midoaka: waaah, makaaasiiiih /pelukpeluk/ wah gimana yaaa? dipertimbangkan dulu yaa wkwkwkwk thanks reviewnya ya! XD
Haruko Hikari: aaaw, maaf udah menusuk kokoro-mu /tapiakunggaknyesel/ makasih, ini dia kelanjutannya, thanks ya reviewnya! X3
may: heheh di sini terjawab sudah kan? review kalian manis semua, jadi aku gak tahan untuk gak apdet cepet-cepet lagian sekalian ngejar waktu sebelum aku mudik hehe, mungkin adaaa, tapi masih jauuuuuh di chapter depan wkwkwk btw, thanks reviewnya ya! XD
Megumi: sip siiip diusahain /thumbsup/ wkwkwkwk soal masa depan mereka, kita liat ke depannya aja /winkwink/ yap, bakal ada, habis di chapter depan udah time skip terus masuk masalah baru. Kalo masalah akashi bakal jadi yang terakhir pas semua adeknya udah punya masalahnya sendiri wkwkwkwk thanks reviewnya ya! X3
Flow Love: anda SUGOI OAO jujur aja itu yang aku pikir waktu baca review dari flow-san wkwkwkwk let's just see /sokrahasia/ wkwkwkwkwk gak apa kok, gak apa, toh orang kan gak harus suka sama suatu fic buat review, review dari flow-san malah bikin aku terpana(?) soalnya baru sekali ini liat orang kayak flow-san yang meski gak baca cerita tapi mau repot-repot review. gak apa kok! Aku suka gayamu! Hahaha thanks reviewnya XDD
Shiraumemachida; gak apa kok, maaf ya udah bikin dikau tertusuk hatinya kayak gini /tapigaknyeseldeng/ masa iya? awww, aku tersanjung banget sampe gak bisa berenti senyum sekarang ini! ini dia lanjutannya! Semoga suka ya dan thanks untuk reviewnya! XD
scarletjacket: gak apa kok, aku terima masukannya scarlet-san hehe bisa dipertimbangkan ituuu. Sudah cepatkah ini? wkwkwkwk thanks reviewnya ya!
Special Thanks to: Freizicers, Harpgirl, Eqa Skylight, Kyo Fuurime Tsuki, yuukihanami.5, Hana Kijimuta, hancf, Just-Sky, BluBubbleBoom, KakaknyaKurokoTetsuya, Letty-Chan19, UchiHarunoKid, aadivaazzahra, midoaka, Haruko Hikari, may, Megumi, Flow Love, Shiraumemachida, scarletjacket, Kieshi, zanzchi, mimijjwkrissy, Alung, Sachi d Readers, Airi The SoGa,
sebenernya rencana apdet pas malem takbiran tapi entah kenapa punya feeling kalo malem nanti gak akan bisa apdet, akhirnya yaa dimajuin deh jadwalnya! Aku tepatin kata-kataku kaaaan? /nepokdadabangga/
setelah ini aku gak yakin bisa apdet lagi sampe tanggal 6 jadi bersabarlah yaa, chapter udah siap kok, cuma yang jadi masalah itu media yang dipake untuk apdetnya yang kemungkinan gak ada. Berdoa aja sama Tuhan lah ya biar aku bisa tetep apdet cepet hahahaha
Well, review please?
