Kuroko no Basuke hanya milik Fujimaki Tadatoshi.

Cerita ini hanya milik saya seorang.

Warning: AU, Real&Nice! Akashi, brotherly love! a lot of them I think, cuteness ahead(?), alur kecepetan, OOC, typo, DLDR!

pengingat mulai dari chapter ini:

Seijuurou = 16 tahun

Shintarou = 13 tahun

Atsushi = 12 tahun

Ryouta = 10 tahun

Daiki = 9 tahun

Tetsuya = 5 tahun

Enjoy!


Chapter 5: As Brother, Making Them Happy


Dua tahun kemudian


Kise Ryouta. Kini lebih dikenal sebagai Akashi Ryouta, adalah anak dengan rambut pirang dan mata sewarna madu dan kepribadian yang selalu ceria alias happy-go-lucky. Ia sangat pandai bermain basket hingga di usianya yang tahun ini baru menginjak sepuluh tahun, ia bisa bermain imbang dalam one-on-one dengan kakaknya, Atsushi yang kini sudah masuk SMP.

Namun, siapa yang sangka, di balik sifatnya yang selalu ceria, yang sepertinya tak peduli pada apa pun selain untuk menjadi seceria mungkin, sebenarnya seorang Akashi Ryouta menyimpan kegelisahan mendalam?


Ryouta berjalan menyusuri jalanan kota Tokyo yang kini dipenuhi dengan guguran kelopak bunga sakura. Wajar saja jika di sekelilingnya dipadati oleh kelopak-kelopak tumbuhan berbunga merah muda dan putih tersebut, mengingat kalau sebentar lagi akan memasuki bulan Mei.

Anak berambut pirang itu kini tengah dalam perjalanan menuju ke sebuah TK. Tepat sekali. Ia pergi untuk menjemput adik bungsunya, Akashi Tetsuya, yang kini sudah berusia lima tahun dan sudah dua bulan terakhir masuk TK. Tanpa terasa, mereka berenam sudah menjalani hidup tanpa orangtua selama dua tahun berturut-turut.

Ryouta menghela napas. Sebelah bahunya ia sentakkan untuk menaikkan kembali tas yang tadi sempat turun dari bahunya.

Lagi-lagi bulan Mei...

Ryouta benci bulan Mei. Tidak, ia tidak seperti anak-anak kebanyakan yang tak menyukai sesuatu –seperti sayuran—tanpa alasan khusus. Ada sesuatu di bulan Mei yang membuatnya begitu membenci bulan kelima dalam penanggalan Masehi tersebut.

Pekarangan TK tempat Tetsuya berada masuk dalam ruang lingkup penglihatan Ryouta. Beberapa anak terlihat sedang bermain di lapangan TK, sedangkan sepertinya sebagian besar sudah dijemput ibu-ibu atau kenalan mereka.

Maklum, hari sudah menunjukkan pukul empat sore. Sudah satu jam sejak jam bubar anak-anak TK tersebut. Sembari mempercepat ayunan kakinya, dalam hati Ryouta berharap Tetsuya tidak marah karena dirinya yang terlalu lama datang menjemput.

Tapi mau bagaimana lagi? Sudah jadi peraturan kalau sekolah dasar di seluruh Jepang memang harus pulang satu jam lebih lambat dari jam pulang TK.

Ryouta memasuki pekarangan TK yang bisa dibilang cukup asri tersebut. Kepala pirangnya menoleh ke sana-ke mari demi mencari sosok anak kecil berambut biru muda seperti langit. Dan bingo! Anak itu sedang duduk berdua dengan anak berambut merah api di salah satu ayunan yang dihiasi warna-warna primer, sibuk sendiri mengulum sebatang es yang entah ia dapat dari mana.

"Tetsuyacchi!" seru Ryouta. Senyum lebar dan wajah cerah yang sudah menjadi ciri khas anak berambut kuning tersebut kembali ia tampilkan. Sebelah tangan anak itu terangkat dan dilambaikan untuk menarik perhatian sang adik. Kepala biru muda Tetsuya terangkat dan mereka berdua bertemu pandang.

"Ah, Kak Ryouta!" seru Tetsuya, hanya saja dengan suara lebih pelan. Ekspresi anak itu tak banyak berubah, hanya saja bagi orang yang sudah lama mengenalnya seperti Ryouta, Ryouta bisa tahu kalau anak itu tengah berbinar senang karena sudah dijemput.

Anak itu menoleh sebentar ke arah temannya yang berambut merah api tadi –kalau Ryouta tak salah ingat—namanya Kagami Taiga, melambai sebentar pada anak itu sebelum berlari ke arahnya dan menyambut tangan Ryouta yang terulur.

"Lama-ssu?" tanya Ryouta. Cengiran lebar terpasang di wajahnya. Sebelah tangan anak itu yang tadinya digenggam Tetsuya, ia lepaskan sebentar demi mengelus kepala sang adik dengan penuh sayang.

"Mmhm," Tetsuya menggeleng pelan. Rambut biru langitnya ikut bergoyang menggemaskan bersamaan dengan ayunan kepalanya, "Ogiwara-kun – tapi Ogiwara-kun pulang duluan—dan Kagami-kun tadi menemani, jadi tak terasa lama."

Sepasang ibu dan anak berjalan melewati sepasang kakak beradik tersebut. Keduanya sibuk membicarakan menu apa yang bagus untuk makan malam malam ini. Diam-diam Ryouta mencatat dalam hati kalau tatapan Tetsuya bertahan beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya pada sepasang ibu dan anak tadi. Kepala biru muda anak itu bahkan sempat menoleh sedikit.

Untuk sesaat mata Ryouta berubah binarnya dari binar hangat menjadi sesuatu yang sulit untuk dijelaskan, sebelah tangan anak berambut pirang tersebut kembali menggandeng tangan adiknya dan meremasnya lembut. "Tetsuyacchi mau mampir dulu ke Maji Burger-ssu?"

Tepat ketika adiknya itu mengangkat wajahnya, Ryouta buru-buru mengembalikan binar hangat di matanya.

Tetsuya mengangguk. Sebuah senyum simpul menggores wajahnya, "Kakak traktir?"

Ryouta menarik tangan adiknya pelan, seakan mengisayaratkan pada adiknya agar ia berjalan lebih cepat menjauh dari sana. Rambut pirangnya bergoyang seiring dengan kepalanya yang mengangguk.

"Ya-ssu."


Life has been so perfect for the past four years. Hidup terasa begitu sempurna selama empat tahun terakhir. Begitulah menurut seorang Akashi Ryouta. Meski anak berambut pirang itu harus kehilangan orangtua dua kali, dan harus menghadiri upacara pemakamannya tiga kali, tapi hidupnya tetap terasa sempurna.

Dengan hadirnya seorang kakak sulung yang begitu pengertian dan segala bisa seperti Akashi Seijuurou, kakak pintar tapi sedikit kaku dan menyenangkan untuk diledek seperti Akashi Shintarou, kakak yang kekanakan dan sedikit polos untuk ukuran umurnya –tapi tetap menyenangkan untuk diajak bersikap kekanakan bersama—seperti Akashi Atsushi, adik bodoh yang menyenangkan untuk dijahili tapi sangat seru untuk dijadikan rival seperti Akashi Daiki, dan, yang terakhir, adik lucu nan imut seperti Akashi Tetsuya, Ryouta merasa ia tak bisa meminta keluarga pengganti yang lebih baik pada Tuhan.

Hanya saja sayangnya, ada satu hal yang selalu mengganggu Ryouta setiap bulan Mei datang. Bukan sesuatu yang benar-benar serius menurut anak-anak lainnya. Tapi hal ini selalu berhasil membuat kegelisahan yang terpendam rapat dalam hati anak berambut pirang tersebut bangkit ke permukaan.

Dan Ryouta sangat benci jika ia tak bisa tampil ceria dan happy-go-lucky seperti biasanya di depan orang-orang. Terutama di depan kakak sulungnya.

Setelah kematian ayah mereka dua tahun yang lalu dan setelah mengetahui kalau ternyata kakak sulungnya itu harus menyelesaikan masalah yang terjadi antara Shintarou dan Tetsuya –sejujurnya, Ryouta tahu Shintarou tak menyukai Tetsuya sejak Tetsuya diperkenalkan Seijuurou hari itu dan Ryouta juga tahu kalau waktu Shintarou sempat menangis minta maaf pada Seijuurou saat mereka semua menginap di kamar si sulung—, Ryouta jadi berpikir, ia tak boleh menambah beban kakaknya lagi dengan memberitahukan kegelisahannya pada anak berambut merah itu.

Kakaknya pasti akan khawatir berkepanjangan. Si sulung sudah cukup terbebani dengan jadwal kegiatannya yang begitu penuh dan dengan berbagai urusan rumah. Tak perlu lagi Ryouta menambah beban Seijuurou.

Ryouta menumpukan dagunya di atas meja belajar, menunggu panggilan makan malam dari Shintarou. Buku-buku tugas yang berserakan di hadapanya tak ia hiraukan. Pikiran anak itu terus berputar.

Apa di kelas barunya, hal yang sama akan terulang lagi tahun ini? Jika benar-benar terjadi lagi, apa yang harus ia lakukan? Bersikap biasa saja dan memendam semuanya dalam-dalam seperti yang selama ini ia lakukan?

Sebelah tangan Ryouta yang ia letakkan di atas meja bergerak menyentil pensilnya hingga pensil tersebut berguling menjauh. Mata coklat keemasannya bergerak mengikuti pergerakan pensil tersebut.

Sampai kapan aku bisa begini terus?

Pintu kamarnya –ya, kamarnya, sekarang ia tak lagi berbagi kamar dengan Daiki—diketuk dua kali. Ketukan halus tapi keras dan mantap. Ketukan yang Ryouta tahu hanya milik Shintarou. Ryouta mengangkat kepalanya dan melompat turun dari kursi, bersiap membuka pintu kayu kamarnya.

"Ryouta, sudah waktunya makan malam."

"Baik-ssuuuu," respon Ryouta dengan sedikit malas. Anak itu bahkan tak mau ambil pusing merapikan meja belajarnya yang sudah berantakan dengan berbagai pensil dan buku-buku pelajaran.

Anak itu melompat-lompat ke depan pintu. Tahu benar kalau Shintarou masih setia berdiri kaku seperti tiang bendera menunggunya keluar kamar di sisi lain pintu kayu tersebut. Satu helaan napas keluar dari mulut Ryouta dan ekspresi ceria anak tersebut kembali ia lekatkan di wajah.

Sebelah tangannya memutar kenop pintu dan menariknya terbuka. Tanpa basa-basi, Ryouta segera melompat ke arah sang kakak kedua serta melingkarkan tangannya di leher sang kakak yang tahun ini menginjak kelas dua SMP itu.

Shintarou mengerang ketika tubuhnya harus menopang berat tubuh adiknya yang tak lagi kecil itu, tapi ia tahu lebih baik tak protes karena protesnya hanya akan masuk telinga kiri keluar telinga kanan saja. Akhirnya, si anak kedua Akashi menghela napas dan sebelah tangannya bergerak menutup pintu yang tak ditutup Ryouta tadi.

"Gendong aku sampai ke bawah-ssu!" seru Ryouta bersemangat, sekali lagi –entah ini sudah yang keberapa kali—berhasil mengelabui kakaknya.

Sebelah tangan anak itu mengepal menjadi tinju yang ia lepaskan ke udara. Suara langkah kaki di belakang terdengar dan muncullah sosok Daiki bersama dengan kakak mereka yang bersurai ungu, Atsushi.

Rasa iri sempat tersirat di wajah adik sekaligus rival Ryouta, Daiki. Sepertinya anak itu juga ingin minta digendong Atsushi. Tapi di saat yang sama ia segan atau malu-malu memintanya. Ryouta menyeringai meledek ke arah adiknya.

Salah satu hal yang menyenangkan di rumah keluarga baru Ryouta adalah, adik Ryouta yang satu itu sangat mudah dibuat marah dan dipancing-pancing. Menyenangkan melihat anak itu marah-marah sendiri nantinya setelah melihat Ryouta.

Daiki tersentak ketika melihat cengiran meledek sang kakak dan ia menggeram sedikit. Sepasang mata biru tuanya menatap tajam mata coklat keemasan sang kakak. Ryouta justru makin senang dan malah menjulurkan lidahnya ke arah sang adik.

Hingga tiba-tiba saja sebuah tangan dijatuhkan di kepalanya dengan agak keras. Ryouta mengerang.

"Ryou-chin tidak boleh begitu," kata Atsushi dengan nada malas ditambah dengan Daiki yang kini berbalik menjulurkan lidah ke arah Ryouta. Senyum penuh kemenangan tergambar di wajah berkulit hitam anak itu.

Ia seakan tengah mengatakan 'rasakan kau! Haha!'.

Shintarou menghela napas melihat kelakuan adik-adiknya. Sebelah tangannya bergerak melakukan kebiasaan barunya; menaikkan gagang kacamata. Ya, anak itu ternyata terserang mata minus sejak masuk SMP tahun lalu, alhasil Seijuurou membelikannya sebuah kacamata berbingkai hitam yang cocok dengan wajahnya.

Ruang makan memasuki ruang penglihatan empat anak tersebut setelah mereka menuruni tangga dan meniti koridor. Sosok seorang anak remaja bersurai merah telah duduk manis di ujung kepala meja makan mereka yang panjang tersebut. Kursi di samping kanannya telah diisi oleh si bungsu.

Dengan cepat, Ryouta melompat turun dari bahu sang kakak kedua dan dengan cepat berlari ke arah kursi kosong di samping kiri Seijuurou. Anak itu menarik kursinya dan langsung menjatuhkan diri di atasnya sebelum adiknya Daiki, sempat menarik kursi itu menjauh dan membuat si anak berambut kuning jatuh terduduk.

"Hari ini aku yang duduk dekat Kakak. Tidak mau tahu-ssu!" seru Ryouta, berisik seperti biasa. Daiki di sampingnya merengut, tapi tetap menerima apa yang sudah terjadi dan menjatuhkan dirinya –dengan sedikit lebih kasar dari yang seharusnya—di samping sang anak berambut pirang.

Tak punya pilihan lain selain mengalah setelah kursinya direbut paksa sang adik, Shintarou berjalan memutari meja dan duduk di samping Tetsuya. Atsushi dengan langkah malas mengikuti saja gerak kakaknya. Kursi di samping Shintarou diambil si raksasa –ya, raksasa, tinggi anak itu sudah sepuluh senti lebih tinggi dari Seijuurou—dan dijatuhkannya tubuh besarnya di sana.

Seijuurou dan Tetsuya, yang sudah duluan ada di meja makan, hanya tersenyum simpul saja melihat tingkah saudara-saudara mereka. Setelah masing-masing berdoa, mereka mulai mengambil alat makan dan prosesi makan malam mereka pun dimulai.

"Ah ya, besok sudah masuk Golden Week ya?" gumam Seijuurou, lebih pada dirinya sendiri. Sebelah tangan anak itu mengambil sepotong tahu dari dalam supnya dan memasukkannya dalam mulut.

"Kakak punya rencana saat Golden Week?" tanya Shintarou setelah menelan sempurna seluruh nasi dalam mulutnya. Anak berambut hijau itu mendesis ketika Daiki tak sengaja menyenggol mangkuk supnya dan alhasil menumpahkan beberapa tetes sup tahu ke atas meja.

Sebuah serbet melayang ke arah Daiki, tentu saja yang menjadi pelakunya tak lain tak bukan adalah Shintarou. Dengan sebuah 'yosh!' tangan hitam sang adik menangkap serbet itu dengan sempurna dan cepat-cepat melap noda di atas taplak putih meja makan tersebut sebelum nodanya menyerap ke serat kain.

"Hmm," Seijuurou mengunyah tahunya lamat-lamat. Menikmati setiap momen ketika rasa makanan kesukaannya itu meledak di ujung saraf pengecapnya. Jakun Seijuurou naik turun untuk sesaat, "Entahlah, kalian ingin pergi jalan-jalan denganku minggu-minggu ini?"

"Aku! Aku! Aku mau-ssu!" seru Ryouta kesenangan. Sebelah tangannya teracung tinggi-tinggi. Meski sebenarnya tak mengangkat tangannya pun, Seijuurou tetap akan melihat anak tersebut. Anak berambut pirang itu duduk di samping Seijuurou, ingat?

"Hmm, aku ingin, tapi aku tetap harus ke sekolah selama Golden Week," Daiki mengunyah tempuranya dan menatap ke langit-langit, mengingat-ingat jadwalnya selama Golden Week yang dimulai besok hingga seminggu ke depan. Nada kecewa dalam kalimatnya tak dilewatkan oleh telinga Ryouta dan Seijuurou, "Kelasku akan mengadakan drama katanya untuk perayaan Hari Ibu."

Kelima kepala yang ada di meja makan tersebut menoleh bersamaan ke arah Daiki. Tidak biasanya anak itu patuh-patuh saja saat disuruh latihan untuk pementasan drama sekolah, atau apa pun yang berhubungan dengan sekolah dan pelajaran. Ini... sesuatu yang baru.

Seakan mengerti pandangan aneh kelima saudaranya yang seakan mengatakan 'kau kerasukan apa?', Daiki berdeham sedikit. Menghilangkan rasa gugup yang tiba-tiba menyerang saraf anak berkulit hitam itu. Entah sejak kapan, sumpit di tangannya terasa jadi sedikit licin, "Uhh, aku tidak punya pilihan lain selain ikut latihan. Soalnya aku dipilih jadi pemeran utamanya..."

Daiki menyeruput sup tahunya untuk sedikit menghilangkan rasa gugupnya. Sesekali mata biru tuanya melirik kelima saudaranya yang masih setia menatapnya lekat-lekat. Jika tadi mereka menatapnya dengan tatapan aneh sekaligus heran, kini tatapannya sudah berganti menjadi takjub.

"Sungguh? Daiki hebat! Dramanya nanti tentang apa?" tanya Seijuurou, orang pertama yang berhasil keluar dari kekaguman –atau kekagetannya?— sendiri. Kegiatan makannya –sama seperti yang lain—sudah ditunda sejak Daiki mengatakan kalau ia harus tetap pergi ke sekolah selama Golden Week.

Kaki-kaki Daiki mulai bertautan di bawah meja. Anak itu tiba-tiba saja merasa gugup sekaligus malu. Mungkin karena inilah pertama kalinya ia memegang peran besar dalam sebuah drama yang kelasnya mainkan.

"Cerita Ubasuteyama*," jawab Daiki lirih.

"Ubasuteyama? Cerita anak durhaka yang membuang ibunya ke hutan itu?" tanya Shintarou. Lagi-lagi ia melakukan kebiasaan barunya; menaikkan gagang kacamata. Entahlah, mungkin anak berambut hijau lumut itu mengira gerakan itu sangatlah keren.

Daiki mengangguk kalem. Semburat merah yang sangat samar dapat dilihat di pipinya jika kelima saudaranya menyipitkan mata mereka dan melihat baik-baik. Maklum, kulit anak itu hitam, jadi agak sulit untuk melihat perubahan warna yang terjadi pada kulit anak itu.

Tiba-tiba saja suara tawa menggema keras di ruang makan tersebut. Siapa lagi yang membuatnya jika bukan anggota keluarga mereka yang paling berisik?

Tepat, pelakunya adalah Ryouta. Lagi-lagi, lima buah kepala berbeda warna menoleh ke satu arah. Ke arah anak berambut kuning yang masih tertawa keras-keras tersebut. Di ujung mata anak itu bisa terlihat sebutir air mata sedangkan sebelah tangannya mencengkeram perut yang sepertinya mulai sakit karena tertawa. Telunjuk anak itu teracung ke arah sang adik.

"Haha! Wajahmu pantas dengan wajah anak durhaka! Makanya mereka memilihmu jadi pemeran utama!" seru Ryouta. Volume suaranya sama sekali tidak mengecil sejak tadi.

Daiki sebenarnya mengakui kata-kata Ryouta dalam hati. Memang tadi siang, ketika jam wali kelas, mereka mengadakan rapat dan mereka memutuskan anak dengan tampang tergarang dan paling urakan akan dapat peran utamanya.

Tapi tetap saja anak berkulit hitam itu sedikit sakit hati mendengarnya.

Daiki mencondongkan tubuhnya ke arah Ryouta. Geraman kecil bisa terdengar dari tenggorokan anak itu. Sepertinya sudah siap untuk mendiamkan anak itu dengan tinjunya yang mulai mengepal di bawah meja.

Untung saja sebelum anak itu sempat benar-benar melayangkan tinjunya ke arah sang kakak, Seijuurou sudah cepat-cepat melemparkan sebuah sumpit cadangan di atas meja ke arah sang adik yang masih tertawa.

"Ugh!"

"Tidak baik menertawakan orang seperti itu, Ryouta," tegur Seijuurou dengan nada mengancam. Sukses menyampaikan pesannya yang berisi 'lakukan itu lagi dan Kakak akan benar-benar menghukummu' pada sang adik. "Lagi pula cerita Ubasuteyama juga tidak begitu buruk. Toh ia tak jadi membuang ibunya ke hutan."

Ryouta merengut, tapi memutuskan lebih baik diam dari pada memancing amarah sang kakak lebih jauh. Ia memang belum pernah melihat kakaknya marah. Tapi marahnya si sulung pasti menyeramkan. Banyak orang yang bilang marahnya orang yang jarang marah justru lebih menyeramkan dari marahnya orang yang sering marah bukan?

Sebelah tangan anak keempat keluarga Akashi itu sibuk mengelus-elus bagian belakang kepalanya yang masih terasa sakit setelah terkena ciuman sayang sumpit dari kakaknya.

"Hari itu, semua orangtua dan wali akan diundang untuk menonton drama kami. Kakak akan datang, kan?" tanya Daiki pada Seijuurou. Wajahnya ditempeli ekspresi harap-harap cemas. Tanpa anak itu sadari, tubuhnya ia condongkan sedikit ke arah sang kakak sulung.

Seijuurou membentuk mulutnya hingga menjadi satu garis tipis. Matanya terlihat berputar, tengah berpikir dan mengingat-ingat jadwalnya untuk bulan ini sepertinya. Pita suaranya bergetar menghasilkan sebuah gumaman, "bagaiman ya? Akan Kakak usahakan."

"Bagaimana dengan yang lain? Ada yang ingin ikut?" tanya Seijuurou lagi. Mencoba mengembalikan arah pembicaraan yang sempat melenceng. Mata merahnya menatap adik-adiknya yang entah sejak kapan sudah memulai kembali kegiatan mereka yang sebelumnya sempat tertunda; makan malam.

"Hmm, aku dan Atsushi ada latihan basket di sekolah. Jadi... kami berdua pass," kata Shintarou dari sisi meja. Kepala bermahkota ungu milik Atsushi bergoyang seiring dengan gerakan mengangguk si empunya kepala.

Ah, Seijuurou baru teringat kalau kurang dari tiga bulan lagi akan diselenggarakan turnamen basket nasional. SMP Shintarou dan Atsushi –yang merupakan almamater Seijuurou juga—adalah SMP Teikou yang memegang motto 'Selalu Menang'. Wajar jika mereka memulai latihan dari jauh-jauh hari seperti ini.

Seijuurou mengalihkan manik merahnya ke arah Tetsuya. Satu-satunya adiknya yang belum menjawab ajakannya. Tetsuya menyesap supnya dan mengunyah tahunya dengan lambat. Tengah menimang-nimang sesuatu sepertinya.

"Aku... diajak main sama-sama Kagami-kun dan yang lainnya, jadi... mungkin aku juga pass?" jawab Tetsuya akhirnya. Nada ragu jelas terdengar di bagian akhir kalimatnya. Mungkin anak itu agak takut kakak sulungnya tidak mengizinkan.

Seijuurou menghela napas dan kembali menatap satu per satu adik-adiknya dengan tatapan yang sedikit sendu. Dalam hati anak berambut merah itu kecewa. Golden Week adalah salah satu dari sedikit libur panjang yang dimiliki Seijuurou. Itu pun belum terhitung libur panjang yang dipakainya untuk training camp klubnya.

Tapi apa boleh buat jika adik-adiknya tak bisa menemaninya selama hari libur. Ia juga tak bisa memaksa adiknya untuk tak bersenang-senang dengan teman-teman mereka bukan? Walau bagaimana pun, sosialisasi itu penting.

Lagi pula mereka masih tetap sayang dan masih menyempatkan diri untuk berbincang dengan Seijuurou meski sudah punya teman-teman di luar rumah. Jadi... tak apa, kan?

Ah, sedikit banyak Seijuurou jadi tahu perasaan para ibu ketika ditinggalkan anak-anaknya yang sudah semakin dewasa.

Cepat-cepat ia kembalikan tatapan sendunya ke semula. Perhatiannya ia alihkan ke arah adik ketiganya yang duduk di samping kirinya. Ada binar main-main di sepasang mata merah si sulung, dan ia berkata, "Jadi sepertinya hanya kita berdua?"

Ryouta mengangguk dengan semangat. Sebelah tangannya mengepal menjadi tinju dengan sumpit terperangkap di dalamnya. Dengan keceriaan berlebihan, ia arahkan tinjunya ke udara, "Yap! Kita akan kencan-ssu!"

Satu dari sekian banyak hal yang sangat suka dilakukan Ryouta selama berada di rumah ini adalah menghabiskan waktu berdua saja dengan kakak sulungnya.

Lagi pula sepertinya Ryouta memang membutuhkan sedikit liburan untuk mengalihkan pikirannya sejenak.


Ryouta berjalan di sisi Seijuurou. Sebelah tangannya sebenarnya ingin sekali meraih dan menggandeng tangan kakaknya yang bebas. Tapi dengan tingginya yang kini akan menyaingi tinggi kakaknya, jika ia menggandeng tangan si sulung, maka mereka akan terlihat seperti pasangan yang... tidak biasa. Terlebih lagi meski mereka saudara, mereka hanya saudara angkat dan sama sekali tak memiliki kemiripan apa pun.

Seperti kata Seijuurou waktu itu, mereka akhirnya pergi berjalan-jalan keliling kota. Hanya berdua saja. Namun karena ada beberapa urusan yang perlu diselesaikan oleh kakaknya beberapa hari yang lalu, mereka berdua baru bisa pergi ketika bulan Mei sudah memasuki tanggal keempatnya.

"Bagaimana kalau kita makan es krim di kedai yang baru buka dekat stasiun itu-ssu?" usul Ryouta. Tubuhnya dicondongkan sedikit ke arah kakaknya.

"Boleh. Sudah lama rasanya sejak terakhir aku makan es krim," kata Seijuurou. Remaja kelas dua SMA itu tersenyum senang. Adalah pemandangan langka ketika seorang Akashi Seijuurou berjalan-jalan di tengah kota dengan pakaian kasual tanpa terlihat sedang memikirkan apa pun.

Kedai es krim yang dikatakan Ryouta tadi cukup ramai. Terbukti dari antriannya yang begitu panjang mengular hingga nyaris keluar toko dan tempat duduk di bagian dalam yang kelihatan sudah penuh.

"Ryouta mau menunggu?" tanya Seijuurou. Pandangannya ia arahkan pada adiknya di sampingnya. Sejujurnya, ia sama sekali tak mengira kalau antriannya akan sepanjang ini. Mungkin es krim kedai ini sangat enak dan lagi Golden Week membuat pengunjungnya semakin banyak.

"Uh, boleh. Aku ingin sekali mencoba es krim ini soalnya. Kakak tidak keberatan, kan-ssu?" tanya Ryouta. Pandangan seakan minta maaf ia lemparkan pada sang kakak. Sebelah telunjuknya teracung menunjuk kedai tersebut.

Seijuurou mengangguk. Sebuah senyum simpul menggores wajah tampannya. Apa yang tidak untuk adiknya?

"Akashi...-kun?"

Kedua bersaudara Akashi itu sama-sama menoleh mendengar nama keluarga mereka dipanggil. Dan sosok seorang perempuan berambut merah muda lembut tengah berdiri di belakang mereka. Sebelah tangannya menutup mulutnya dan tubuhnya sedikit dicondongkan ke depan. Tidak lupa Ryouta membuat catatan mental tentang kedua alis merah mudanya yang berkerut melihat mereka.

"Ah, ternyata memang benar Akashi-kun. Halo!" sapa perempuan itu. Gadis itu dengan riang berjalan mendekati mereka. Dari pakaian yang dikenakan gadis itu Ryouta bisa menarik kesimpulan kalau ia datang ke sana dengan alasan yang sama dengan mereka.

"Ah, Momoi," gumam Seijuurou dan sesaat kemudian si sulung membalas salam sang gadis. Senyum tipis tak henti-hentinya menghiasi wajah sang gadis.

"Kalian sedang menunggu antrian toko es krim ini juga?" tanya gadis itu—Momoi, Ryouta sekali lagi membuat catatan mental untuk mengingat namanya. Kepala berambut merah muda panjang remaja perempuan itu melongok melewati bahu kedua bersaudara Akashi dan melirik antrian yang tak berkurang panjangnya.

Seijuurou menggumam mengiyakan selagi mengangguk. "Kau juga? Oh ya, perkenalkan, ini adikkku, Akashi Ryouta."

Seijuurou menepuk punggung Ryouta –yang tengah sibuk memerhatikan kedua orang tersebut—hingga anak itu terdorong ke depan beberapa langkah karena tak siap menerima sikap Seijuurou. Setelah berhasil menyeimbangkan dirinya kembali, anak berambut pirang itu menyunggingkan senyuman terbaiknya untuk gadis di depannya.

"Halo! Aku Akashi Ryouta! Sepuluh tahun, kelas lima SD! Salam kenal-ssu!"

Gadis di hadapannya terkesiap. Telunjuknya ia gunakan untuk menunjuk Ryouta, "dia benar-benar baru kelas lima SD? Tinggi sekali!"

Detik itu juga, Ryouta baru sadar kalau tingginya hampir menyamai tinggi Momoi. Mungkin mereka hanya berbeda sekitar lima sentimeter. Ryouta tersenyum malu-malu ke arah sang gadis yang kelihatannya masih mengagumi tinggi badannya.

Secara tak sengaja, mata merah muda gelap Momoi melirik jam di pergelangan tangan Ryouta dan sekali lagi, gadis itu terkesiap begitu melihat jam yang ditunjukkan kedua jarum jam tangan anak berambut pirang tersebut.

"Astaga, sudah jam segini?" Momoi menolehkan kepalanya ke segala arah. Sepertinya tengah mencari-cari seseorang di tengah ramainya stasiun hari itu.

"Kalau boleh tahu, memang ada apa, Momoi?" tanya Seijuurou. Bukannya ia bermaksud untuk ikut campur urusan orang lain. Hanya saja ia berpikir mungkin ia bisa membantu sang manager –ya, lagi-lagi mereka satu sekolah dan satu klub di SMA ini—kalau ia memang sedang kesulitan.

"Tidak ada, hanya saja aku, Acchan, dan Micchan sudah janjian akan bertemu di sini jam sepuluh. Sekarang sudah jam setengah sebelas tapi mereka belum terlihat juga," jawab Momoi. Pandangan gadis itu tak ia fokuskan pada kedua bersaudara Akashi. Surai merah mudanya bergoyang ketika ia masih sibuk mencari sosok kedua temannya.

Berbagai informasi yang dikatakan Momoi tadi bergerak dan tersambung menjadi satu di kepala pintar milik si sulung Akashi. Sebuah bohlam imajiner terlihat menyala di atas kepala merah sang remaja.

"Ah ya, selamat ulang tahun, Momoi. Kalau tidak salah hari ini ulang tahunmu, bukan?"

"Benarkah-ssu? Kakak ini ulang tahun? Selamat ulang tahun Kak Momoi! Semoga makin cantik-ssu!" seru Ryouta dengan nada bercanda dan sebelah mata mengerling jenaka.

Pipi Momoi menghangat. Ia jadi salah tingkah. Ia sudah biasa diberi ucapan oleh teman-temannya yang merupakan kaum Adam. Mendapat ucapan dari Seijuurou juga sudah biasa. Yang membuatnya demam tidak karuan sekarang ini mungkin karena ada seorang anak tampan kelas lima SD yang baru dikenalnya tengah mengucapkan selamat ulang tahun padanya dengan kata-kata yang tidak biasa.

"Ah, uh, terima kasih."

"Jangan lupa traktir ya-ssu!" seru Ryouta sekali lagi mengerling jenaka. Anak berambut pirang satu ini memang sangat senang menggoda orang. Apalagi jika orang tersebut mengeluarkan reaksi persis seperti yang diharapkannya.

Kepala Momoi kini menunduk sesaat. Mungkin masih malu-malu dan mencoba membiasakan diri dengan kepribadian Ryouta yang begitu terang dan bersahabat. Sesaat kemudian gadis itu sepertinya kembali teringat kalau ia masih punya janji, jadi ia tersenyum ke arah kedua bersaudara Akashi tersebut.

"Baiklah, tapi lain kali ya. Sekarang aku pergi mencari mereka dulu. Sampai jumpa, Akashi-kun, Ryou-chan!"

Dan dengan satu lambaian tangan, gadis itu berjalan pergi meninggalkan sepasang kakak beradik itu berdua kembali. Wajah Ryouta sempat menggelap ketika telinganya mendengar nama panggilan baru yang diciptakan Momoi. Tapi anak berambut pirang tersebut tetap melambai ke arah sang gadis.

Seijuurou tertawa ketika melihat ekspresi adiknya yang sepertinya sedikit kesal karena dipanggil dengan akhiran '-chan'. Si sulung menoleh dan ternyata antrian sudah jauh lebih pendek dari yang tadi.

"Ayo, masuk, Ryouta."


Best day ever. Itulah yang dipikirkan Ryouta siang itu.

Ia dan Seijuurou pergi ke tempat-tempat yang diinginkan Ryouta. Mulai dari bioskop, karaoke, arcade, dan berbagai tempat lainnya. Satu hari itu seakan Seijuurou dedikasikan khusus untuknya. Benar-benar sesuatu yang tengah diinginkan Ryouta sekarang ini untuk membuat pikirannya teralihkan dari kegelisahan yang akhir-akhir ini sering mengetuk-ngetuk pintu hatinya.

Hal terakhir yang mereka lakukan sebelum pulang adalah makan siang bersama. Tentu saja restorannya adalah restoran yang biasa mereka sekeluarga kunjungi; Maji Burger. Untungnya hari itu restoran sedang tidak terlalu ramai. Jadi mudah bagi kedua bersaudara tersebut untuk mendapat meja dan memesan.

Life seems so perfect. Kalimat itu seakan sudah menjadi motto seorang Akashi Ryouta yang selalu diulanginya setiap pagi ketika ia bangun tidur dan setiap malam ketika ia akan terlelap. Satu hal yang tidak diketahuinya saat itu adalah kalau dalam beberapa menit lagi hingga beberapa minggu ke depan, kata-kata itu tak akan lagi sesuai untuk mendeskripsikan hidupnya.


Chap ini cuma sebagai prolog gitu, aku ingin ngegambarin gimana hidup 'perfect' dalam kamus Kise sebelum kuhancurin mulai chapter depan /ehjahatbangetnihorang/, tapi nanti akan ada hal-hal di chap ini yang nyambung ke masalah di tengah cerita dan ya, Momoi bakal dapet peran yang cukup penting, karena menurut aku kalo ada dua orang yang bisa nanganin GoM meski mereka seumuran, maka orang itu ya Akashi dan Momoi. So buat yang gak suka Momoi, please bear with it.

Ada yang kangen ya? Entah gimana ada jerawat 2 biji nongol di jidat aku dan kata orang kalo kita jerawatan berarti ada yang kangen. /ngacobangetiniorang/

wkwkwkwkwk dan 21 review? thank you very much! aku gak ngira kalo aku bakal tetep dapet review sebanyak itu pas aku lagi gak di tempat!

waktunya bales review~:

yuukihanami5: hahaha thanks ya karena udah setia mereview! masalah ini gak begitu berhubungan sama masa lalu kok haha liat aja lanjutannya ya ;D ini dia lanjutannya, thanks untuk supportnya ya! XD

Hana Kijimuta: Yap! Entah kenapa aku ngerasa di cerita ini yang pantes jadi temen pertamanya Midorin itu ya Takao haha /ahlukanemanghalfshipmereka/ dia kan ganteng jadi wajar kalo populer hahahaha waktu SD dulu sering main surat-suratan gak waktu di kelas? ya kayak gitu lah kira-kira, lempar kertas sambil nunduk-nunduk biar gak ketauan guru hahahaha, thanks ya reviewnya!

scarletjacket: OMG AKU MAKIN CINTA KAMUH! Hahaha iyaa, aku sebenernya juga sempet nunggu 3 bulan buat seseorang bikin fic kayak gini, tapi gak ada yang bikin jadi yaa kenapa gak aku buat sendiri aja? Aku juga cinta dia hahaha, ini dia updatenya! Maaf ya lama! X3

Eqa Skylight: cup cup /eluselusEqa/ begitukah? gimana sih rasanya jadi kakak? aku anak terakhir soalnya, palingan juga punyanya adek sepupu hahaha, selanjutnya waktunya Kise bersinar! Tapi gak banyak ngungkit masa lalu sih kayak di sini, hehe, thanks reviewnya ya! XD

BlueBubbleBoom: astaga, akhirnya bisa ketemu Blue lagi! Aku senyum-senyum sendiri baca kalimat pertama reviewmu hehe. Silahkan, silahkan peluk Sei-nya, tapi hati-hati dikejar adiknya hahaha, thanks ya reviewnya! X3

may: jadi nangis karena apa dong? iyaa, makasih untuk ucapannya ya! Aku di sini baik-baik aja kok! Sama-sama! Makasih juga reviewnya ya!

Lala-chan: Tetchu kan selalu imuut~ haha aku juga mau punya abang kayak si Aka, ini dia updatenya~ thaks reviewnya ya! XD

seidocamui: aww, makasih atas pujiannya! Ini dia lanjutannya dan thanks reviewnya! XD

hancf: aku gak bisa gak update lama-lama untuk readerku yang manis-manis termasuk hancf-san :D wkwkwkwk sori ya, pas lebaran gak ketiduran terus kan? Takao kan kayaknya emang gak punya malu /maksudnyaapa/, makasih banget karena udah mau mengerti yaa, ini dia lanjutannya dan thanks karena selalu nyempatin review XD

yaoiHunhan: beneran? hehehe Sei cuma flu ringan karena kecapekan kok, itu lo demam plus pusing pas abis kita capek-capekan. Setelah istirahat sehari dia sembuh kok! jadi jangan khawatir :D tergantung sih, kapan sempet atau kapan chap selanjutnya selesai aku ketik hehe, ini udah keep writing kan? thanks ya reviewnya! XD

X: hai juga! dirimu hebat, udah kayak lembaga survei aja sekaligus korban iklan wkwkwkwk, ah ya aku selalu lupa naruh itu di akhir kalimat ucapannya hahaha, dan reviewmu itu berarti banget kok buat aku! bikin aku senyum-senyum sendiri hahaha thanks ya reviewnya! X3

Anon: kita sama berarti /ngakudia/ haha sama-samaa, urutan pertama sama kedua di sini kukasih ke mereka karena menurutku usia mental mereka memang cukup untuk itu. Dari segi karakterisasi dan tata bahasa plus deskripsi akan kuusahakan buat kuperbaiki lagi, jadi thanks masukannya! Bagus banget reviewmu! Dan jujur aja waktu ngetik chap sebelumnya aku emang lagi kurang inspirasi hehe. Ini dia lanjutannya dan thanks untuk reviewnya yang sangat bermanfaat! XD

KyraAkaKuroLover: yap! Thanks banget ya untuk pujiannya! Aku jadi tersanjung nih dan ini dia lanjutannya. Thanks reviewnya ya! XD

Harpgirl: mereka kangen sama kakak mereka setelah seharian penuh gak ketemu hahaha ini udah lanjut kan? thanks reviewnya ya! X3

Aka Shagatta: Gak apa kok! Lagi pula toh akhirnya kamu review juga hahaha ada kok, aku ketemu sama beberapa yang kayak gitu, meski gak sampe separah itu juga sih. Cup cup jangan nangis sini kupeluk! X3 kalo soal masa depan adek-adeknya... itu rahasia wkwkwkwk ini dia lanjutannya! Thanks ya reviewnya!

Megumi: /balescipikacipiki/ syukurlah kalo Megumi suka thr-nya XDD yap, tebakanmu tepat sekali! Selamat gak dapet apa-apa! /tampol/ nope, mereka kan beda tiga tahun, sei lulus smp midorin lulus sd. Itu juga cukup menyenangkan hati aku kok, ini lanjutannya dan thanks reviewnya ya! XD

Alitheia: halo juga! dan silahkan panggil aku Dee aja hehe itu soalnya ide lagi mengalir lancaaaar hehe tapi kayaknya kalian akan berubah pikiran setelah masalah ini selesai deh soalnya aku mau nunjukin kalau Sei juga cuma remaja nanti. Iya, knb bikin aku panas sendiri, kadang rasanya sampe mau garuk Fujimaku /woi/ ini update-nya! Thanks reviewnya yo! X3

UchiHarunoKid: Tapi itu artinya masalah lainnya menanti hehehe, sayangnya gak bisa lebih cepet, soalnya banyak pergi silaturahim sana-sini padahal media ada. Maaf ya :( ini dia lanjutannya! Thanks karena udah setia banget review ya! X3

biya-chan: wah, kayaknya aku mengaduk-aduk(?) perasaanmu banget ya? wkwkwkwkwk tapi aku gak nyesel deng. Ini dia lanjutannya! Thanks for your review! XD

midoaka: Wkwkwwk dirimu kayaknya mendambakan banget si Akashi jadi uke ya? wkwwkwk maaf ya gak bisa kilat, tapi tetep update kok! Wah, ada sih, tapi KiKuro jatohnya ya kayaknya hehe, thanks reviewnya ya! XD

SamuraiWannabe: yeah, karakter mereka cocok banget untuk dijadiin sahabatan di sini! XD Thanks untuk pujian dan reviewnya ya! X3

special thanks: yuukihanami5, Hana Kijimuta, scarletjacket, Eqa Skylight, BlueBubbleBoom, may, Lala-chan, seidocamui, hancf, yaoiHunhan, X, Anon, KyraAkaKuroLover, Harpgirl, Aka Shagatta, Megumi, Alitheia, UchiHarunoKid, biyachan, midoaka, MinRisa91, devi no kaze, and Smaurai Wannabe.

Well, review please?