Kuroko no Basuke hanya milik Fujimaki Tadatoshi. Lirik lagu di sini milik Robert Lopez dan istrinya. DDR juga bukan punyaku.
Cerita ini hanya milik saya seorang.
Warning: AU, Real&Nice! Akashi, brotherly love! a lot of them I think, cuteness ahead(?), alur kecepetan, OOC, typo, DLDR!
pengingat mulai dari chapter ini:
Seijuurou = 16 tahun
Shintarou = 13 tahun
Atsushi = 12 tahun
Ryouta = 10 tahun
Daiki = 9 tahun
Tetsuya = 5 tahun
Enjoy!
Chapter 6: As a Mere Teen, Stressed Out
Ryouta menjejakkan kakinya sedikit terlalu kuat ke atas lantai permainan Dance Dance Revolution yang menyala terang. Anak berambut pirang itu berusaha untuk tidak merengut kesal selagi dirinya menari mengikuti instruksi di layar, tapi sepertinya usahanya percuma saja. Sepasang alis pirangnya berkerut hingga bertemu di tengah-tengah.
Dalam waktu sekitar dua menit, hari terbaik dalam hidupnya langsung berbalik seratus delapan puluh derajat menjadi hari terburuk.
Siang tadi, ketika ia dan kakak sulungnya, Seijuurou, tengah makan siang di Maji Burger, tiba-tiba saja ponsel merah Seijuurou bergetar. Waktunya tepat ketika Ryouta baru akan melahap burgernya yang kedua. Awalnya mereka kira itu hanya sebuah pesan, tapi begitu getarannya sudah memasuki getaran ketiga, Seijuurou buru-buru mengangkatnya.
Ryouta tak begitu mengerti apa yang Seijuurou bicarakan dalam telepon tersebut. Tapi yang pasti, Ryouta tahu kalau yang menelepon adalah paman mereka, Teppei, dan telah terjadi sesuatu yang sepertinya cukup gawat di perusahaan serta paman mereka tak bisa menanganinya secara langsung sekarang ini.
Dan kalau Ryouta tidak salah dengar, sesuatu itu berhubungan dengan keuangan perusahaan yang sepertinya tidak ditangani dengan baik oleh bagian akuntansi dan keuangan.
Setelah mematikan teleponnya, Seijuurou bergegas membersihkan sisa makanannya dan nyaris berderap meninggalkannya begitu saja di sana.
"Ryouta, Kakak ada urusan mendadak di perusahaan. Penting. Ryouta bisa pulang sendiri, kan? Maaf ya. Lain kali kita jalan-jalan lagi."
Begitulah yang dikatakan kakaknya sebelum mengelus kepala pirang Ryouta dengan cepat dan melesat pergi melewati pintu berdaun kembar restoran tempat mereka makan siang bersama. Ryouta memang mengatakan kalau ia bisa pulang sendiri, tapi bukan berarti ia suka ditinggal pergi begitu saja di sebuah restoran cepat saji.
Bibir Ryouta merapat membentuk selengkung garis tipis yang lengkungannya lebih mengarah ke bawah. Anak itu justru jadi semakin kesal setelah kata-kata kakaknya sebelum pergi mengiang kembali dalam tempurung kepalanya.
Ryouta mengikuti gerakan terakhir dalam permainan menari tersebut dengan sentakan yang sedikit berlebihan. Layar permainan di hadapannya menampilkan nilai sempurna atas permainan yang baru saja ia lakukan tapi mata keemasan Ryouta sama sekali tak berminat meliriknya dan ia justru melompat turun dari permainan tersebut.
Hari sudah menunjukkan hampir pukul lima sore dan sepertinya sebentar lagi malam akan turun, anak berambut pirang tersebut memutuskan untuk pulang sebelum kakak-kakaknya mengkhawatirkan dirinya.
Meski sebenarnya hatinya masih sangat kesal karena ditinggal sendirian tiba-tiba di acara jalan-jalannya bersama sang kakak.
Tepat ketika Ryouta menjejakkan kakinya turun dari permainan tersebut, seorang anak berambut hitam dan bermata hitam khas orang Jepang tengah menatapnya dengan mata berbinar. Sepertinya anak itu menyaksikan penampilan sempurna dari Ryouta mulai dari awal hingga akhir. Anak itu tampaknya seumuran dengan Tetsuya, yang mana artinya ia baru berusia lima tahun.
Apa yang anak lima tahun lakukan sendirian di arcade seperti ini? Ke mana orangtuanya?
Ryouta memutuskan untuk menghampiri si anak. Memiliki dua orang adik di rumah membuatnya tak bisa tinggal diam saat melihat ada anak tanpa orangtua untuk mengawasi. Kaki jenjang Ryouta melangkah mendekati anak tersebut.
"Halo! Namaku Akashi Ryouta! Siapa namamu-ssu?" tanya Ryouta setelah ia sampai di depan anak tersebut dan membungkukkan badannya agar ia bisa menatap anak itu tepat di mata.
Anak itu berjengit ketika wajah Ryouta berada begitu dekat dengan wajahnya. Tanpa sadar, ia mengambil satu langkah pendek ke belakang. Kedua tangan mungilnya bertaut di depan dadanya dan dimain-mainkannya dengan gugup. Kedua pandangannya ia fokuskan ke ujung kaki mungilnya.
"Umm, namaku Tanaka..."
"Hee, Tanaka ya? Kenapa Tanaka sendirian di sini? Tanaka ke sini bersama siapa-ssu?" tanya Ryouta dengan nada yang lembut. Nada yang biasanya ia gunakan ketika tengah bicara dengan adik bungsunya. Tak lupa seulas senyum lembut ia persembahkan pada anak tersebut.
Tiba-tiba saja Tanaka terlihat semakin gugup dan gelisah. Seperti ada sesuatu yang tengah mengganggunya.
"Eh, emm, Tanaka pergi sama Ibu. Tapi Ibu hilang di stasiun sana," kata Tanaka polos dan dengan sengaja membuat kesan seakan ibunya lah yang tersesat dan bukan dirinya. Jemarinya yang gemuk-gemuk menunjuk ke arah stasiun yang tak begitu jauh lokasinya dari arcade tempat mereka berada.
Stasiun tempat Ryouta dan Seijuurou makan es krim berdua tadi pagi.
Ryouta memiringkan kepalanya sejenak. Jadi anak ini sudah pasti tersesat. Meninggalkannya di sini tentu bukan pilihan bagi Ryouta. Apa sebaiknya ia membantu anak ini mencari ibunya dulu baru ia pulang ke rumah?
Anak kelas lima sekolah dasar itu menimang-nimang sejenak sebelum akhirnya ia menegakkan punggungnya kembali. Kepala Tanaka ikut mengikuti pergerakan tubuh Ryouta dan kini jadi mendongak menatap anak berambut pirang tersebut.
"Bagaimana kalau kita cari ibu Tanaka? Ibu Tanaka pasti sedang khawatir sekarang-ssu," tawar Ryouta. Sebelah tangannya terulur ke arah anak tersebut.
Tangan mungil Tanaka terulur. Untuk sesaat ia sempat ragu dan menarik tangannya kembali sebelum akhirnya menyambut uluran tangan Ryouta yang lebih besar dan menggenggamnya erat. Ryouta tersenyum simpul dan membungkus tangan mungil anak itu dalam balutan tangannya yang lebih besar.
Keduanya mulai berjalan keluar dari arcade tersebut. Langkah kaki Ryouta yang panjang-panjang ia usahakan untuk samakan dengan langkah kaki Tanaka yang jauh lebih kecil di sampingnya. Agar suasana di antara mereka jadi tidak sepi dan berubah canggung, Ryouta berusaha membuka topik pembicaraan.
"Tanaka sekarang umurnya berapa-ssu?"
Kepala bersurai hitam Tanaka menoleh cepat ke arah Ryouta yang juga tengah menatapnya. Coklat keemasan bertemu dengan hitam obsidian.
"Lima tahun..." malu-malu Tanaka menjawab.
"Hee, benarkah? Adikku juga ada yang seumuran dengan Tanaka, lho. Oh ya, berarti Tanaka sekarang sudah masuk TK ya?" tanya Ryouta ramah. Berusaha –tanpa benar-benar berusaha—membuat es di antara mereka meleleh setetes demi setetes.
Tanaka mengangguk. Tepat saat itu mereka sudah sampai di depan stasiun.
Jam besar yang berdiri tegak di depan stasiun menunjukkan pukul lima sore tepat dengan kedua tangan kembarnya yang berbeda ukuran. Iris keemasan Ryouta melirik jam besar itu sesaat dan berharap dalam hati kalau ibu Tanaka akan datang dalam waktu tak lebih dari lima menit.
Kedua anak tersebut berdiri di depan stasiun dengan tangan yang saling terhubung dan kepala yang menoleh ke sana ke mari mencari sesosok wanita yang jika dilihat dari ciri fisik, mungkin adalah ibu dari Tanaka.
Tanpa terasa, lima belas menit telah terlewati tanpa ada hasil yang berhasil mereka raih. Ryouta mulai khawatir kakak-kakaknya tengah menunggu di rumah. Jika ibu Tanaka tak datang dalam waktu lima belas menit, maka sepertinya Ryouta terpaksa menitipkan anak tersebut pada petugas stasiun saja dan pulang.
Sebelah telinga Ryouta berjengit ketika suara isak tertahan memasuki ruang lingkup pendengaran sang anak berambut pirang. Kepalanya menoleh ke asal suara dan terlihatlah oleh kedua matanya sosok Tanaka yang tengah menunduk dengan sisi wajah yang memerah dan bahu yang bergetar.
Sangat jelas tengah berusaha menahan tangis yang sebentar lagi mungkin tak akan terbendung.
Ryouta menelan ludah.
Salah satu hal yang paling tidak disukainya adalah menangis dan melihat seseorang menangis. Terutama jika seseorang itu adalah orang yang penting baginya dan anak kecil.
Secara naluri, Ryouta mengeratkan genggaman tangannya pada sang anak dan menghirup napas dalam-dalam. Dalam satu napas, Ryouta keluarkan semuanya.
"Heeeei, ibunya Tanaka! Tanaka sedang mencarimu-ssu!"
Tanaka menghentikan isakannya dan refleks menoleh ke arah sang anak berambut pirang. Mata hitam bulat besar dan basahnya terlihat beberapa kali lebih besar ketika ia membelalak. Sementara itu, Ryouta kembali menarik napas.
"Hei, Ibu Tanaka! Cepatlah kembali! Anakmu khawatir, tahu-ssu!"
Orang-orang yang berlalu-lalang dari dalam mau pun luar stasiun memusatkan perhatian mereka ke pada dua orang dengan warna rambut yang kontras tersebut. Tanaka sendiri terlalu terkejut dengan sikap yang diambil Ryouta hingga tak bisa berkata apa-apa. Sedangkan Ryouta sepertinya sudah sangat terbiasa menjadi pusat perhatian seperti itu.
Tepat ketika Ryouta akan membuka mulutnya dan berteriak untuk yang ketiga kali, seorang wanita dengan tergesa-gesa berlari ke arah mereka. Ia memiliki rambut dan mata yang sama dengan milik Tanaka. Dan bentuk wajah mereka pun samar-samar terlihat mirip.
Wajah Tanaka yang sejak tadi dirundung kesedihan langsung berubah cerah ketika melihat wajah wanita itu.
"Ibu!"
Seakan lupa dengan Ryouta di sampingnya, Tanaka langsung berlari dan memeluk ibunya yang menerimanya dengan kedua tangan terentang lebar. Dari kejauhan, Ryouta memandang ibu dan anak itu dengan wajah tersenyum. Lega karena sudah melakukan tugasnya juga karena ia akhirnya bisa pulang.
Meski sudah berusaha ia acuhkan, tetap saja ada sesuatu dalam hatinya yang seakan tengah menarik-narik sisi hatinya tersebut ketika melihat sepasang ibu dan anak tersebut saling berpelukan dan bertukar kata.
Kaki Ryouta sudah melangkah ke arah yang berlawanan ketika ada suara wanita yang memanggilnya. Kontan anak tersebut langsung berbalik.
"Ryouta-kun? Terima kasih sudah menjaga Tanaka saat aku tidak ada. Anak ini memang suka menghilang begitu saja," sebelah tangan ibu Tanaka mengelus kepala hitam putranya lembut, "aku benar-benar tidak menyangka kalau ada anak SMP sepertimu yang begitu baik hati."
Ryouta tersenyum kikuk. Disebut anak SMP bukan pengalaman baru baginya tapi tetap saja di telinganya terdengar aneh.
"Sama-sama-ssu. Tapi saya masih SD. Kelas lima, tepatnya-ssu," sanggah Ryouta dengan senyuman canggung dan sebelah tangan yang mengusap bagian belakang kepalanya. Kepala berambut kuningnya ia rendahkan beberapa kali ke pada sang ibu.
"Eh? Sungguh? Kalau begitu apa yang sedang kau lakukan di sini? Bukankah seharusnya anak seumuranmu sudah di rumah?" tanya ibu Tanaka. Ekspresi khawatir sekaligus curiga menghiasi wajahnya yang masih terlihat cantik. Sebelah tangannya terangkat di depan mulutnya.
Oh sial, Ryouta mengutuk dalam hati. Ia bisa kena masalah jika lama-lama di sini. Ryouta mulai gugup dan otaknya mulai berputar mencari-cari alasan untuk dilontarkan pada ibu di depannya.
"Eeeh, iyaa, saya sebentar lagi juga akan pulang-ssu..."
"Tapi tidak seharusnya anak SD sepertimu masih berkeliaran jam segini. Mana orangtuamu?"
Tepat ketika itu Ryouta berjengit dan ia mulai bergerak-gerak gelisah. Tapi tentu saja hal itu tak masuk dalam pengamatan seorang ibu di hadapannya. Wanita itu terus mengoceh tentang 'orangtua yang tak bertanggung jawab', 'jam pulang', dan 'jam main yang seharusnya diatur di rumah' serta berbagai hal lainnya yang tak begitu masuk dalam telinga Ryouta.
Tubuh tinggi Ryouta kembali berjengit hebat ketika sang ibu di hadapannya tiba-tiba saja menggenggam pergelangan tangannya.
"Ayo, saya antar ke rumahmu. Atau kamu jangan-jangan tersesat juga? Kalau begitu mungkin sebaiknya kita ke kantor polisi..."
Ah, bagaimana ini? Jika ia ikut dengan ibu Tanaka, pasti masalah akan jadi panjang dan rumit. Tapi sepertinya ia juga tak bisa lepas begitu saja dari cengkeraman ibu satu ini. Ryouta terus berpikir keras tapi otaknya tak juga menemukan jalan keluar.
Lagi pula, bagaimana bisa otakmu berpikir lurus jika keadaan hatimu tengah kacau balau?
"Ryou-chan?"
Mata keemasan Ryouta melebar. Ketiga kepala yang berada di sana secara bersamaan menoleh ke arah di mana suara yang memanggil nama Ryouta berasal. Dan berdirilah sesosok gadis muda berambut merah muda melambai sepanjang punggung yang tengah menatap mereka keheranan.
Melihat Ryouta yang tak bereaksi, ibu Tanaka justru berubah menjadi overprotektif. Ibu satu anak tersebut berpikir jika saja mungkin gadis di hadapannya ini adalah penculik atau orang-orang dengan niat jahat, atau semacamnya.
Insting keibuannya menendang masuk dan ia bertanya, "Dan siapa kau?"
"Ah, Kak Momoi..." Ryouta yang justru menjawab pertanyaan ibu Tanaka dengan gumaman yang berhasil melesak keluar dari sela bibirnya. Melihat Ryouta akhirnya bereaksi terhadap panggilannya, Momoi menjadi lebih berani dan melangkah maju. Sebelah tangan gadis itu menggenggam tangan Ryouta yang bebas.
"Umm, saya Momoi Satsuki. Kakak sepupunya anak ini. Apa ia tadi merepotkan Anda?" tanya Momoi dengan nada serta ekspresi khawatir.
Melihat kalau Ryouta nyatanya memang mengenali gadis tersebut, ekspresi ibu Tanaka melunak sedikit. Sebelah tangannya yang ia gunakan untuk menggenggam pergelangan tangan Ryouta pun ia lepaskan.
"Duh, Ryou-chan, makanya jangan suka pergi-pergi sembarangan! Aku sudah mencarimu dari tadi, Dasar!" omel Satsuki pada Ryouta yang menunduk. Menolak memertemukan wajahnya yang kini kacau dengan wajah Momoi.
Momoi mengalihkan wajahnya dari Ryouta dan kembali menatap ibu dan anak di hadapannya dengan pandangan minta maaf, "Maaf, kuharap ia tidak membuat masalah."
Ibu Tanaka terlihat jauh lebih lega dari yang tadi. Mungkin lega karena akhirnya Ryouta berada di tangan yang seharusnya. Sebuah desahan senang keluar dari bibir sang wanita.
"Tidak, ia sama sekali tidak membuat masalah. Justru aku sangat berterima kasih karena ia telah menjaga anakku." Ibu Tanaka kembali mengusap kepala Tanaka yang kini memeluk pinggang ibunya manja. Anak itu menatap Momoi dengan pandagan malu sekaligus takut. "Syukurlah, ia sudah bertemu denganmu. Lain kali jaga ia baik-baik, ya? Saya permisi dulu."
Dan sepasang ibu dan anak itu membalikkan badan dan berjalan pergi menjauhi mereka berdua. Momoi mengucapkan terima kasih seraya melambai pada sosok punggung mereka yang menjauh hingga benar-benar hilang ketika mereka berbelok di pertigaan tak jauh dari sana.
Momoi menoleh ke arah Ryouta yang sepertinya masih sibuk menata kembali perasaannya yang tadi sempat kacau. Meski gadis itu tahu Ryouta tak akan melihatnya, ia tetap menyunggingkan senyum hangat pada sang anak. Ia menarik tangan Ryouta yang ada dalam bungkusan tangannya dengan lembut.
"Mari kuantar pulang, Ryou-chan."
"Ya ampun, aku sempat gugup tadi. Untung saja Ryou-chan merespon. Kalau tidak, gemetar di kakiku pasti akan terlihat jelas tadi," kata Momoi. Ia bicara persis seperti orang tua yang baru selesai menenggak alkohol dan langsung membicarakan apa yang ada dalam pikirannya.
Mata merah muda gelap milik Momoi melirik Ryouta di sebelahnya yang tetap memilih untuk bungkam. Keringat mengalir di pelipis putih gadis manis tersebut. Astaga, ia mulai kehabisan topik. Apa yang harus dilakukannya agar suasana mereka tak terasa aneh?
"A, ah, Ryou-chan, tahu tidak kalau di dekat stasiun tadi ada kedai sup gratin yang enak?" kata Momoi yang mulai kehilangan postur tenangnya tadi dan berusaha sebisa mungkin memecahkan es yang justru sepertinya bersikeras untuk terus membeku.
Ryouta tetap diam seribu bahasa. Kedua bahu Momoi melemas melihatnya. Sebuah helaan napas berat lepas dari kurungan bibir tipis gadis tersebut. Kali ini, Momoi sudah angkat tangan dalam mencoba untuk membuat percakapan tetap bergulir di antara mereka.
"Kak Momoi... Terima kasih. Untuk yang tadi-ssu." Tiba-tiba saja Ryouta buka mulut dan itu berhasil membuat Momoi terkejut. Terlebih karena suaranya terengar tercekat di tenggorokan. Rambut merah muda panjangnya berkibar seiring gerakan menoleh yang dibuat kepalanya.
Kelembutan menggantikan ekspresi terkejut yang tadi sempat mewarnai wajah manisnya. Gadis itu menggumam, "Mmhm, sama-sama."
Keduanya terus berjalan bersisian di trotoar menuju ke rumah keluarga Akashi. Lampu-lampu jalan di samping mereka mulai menyala seiring dengan bertambah pekatnya kegelapan yang menyelimuti bumi Jepang.
"Ah, aku sama sekali tak mengira Kak Momoi akan menolongku tadi. Soalnya kita, kan, baru kenal-ssu..." kata Ryouta lagi. Kedua matanya ia fokuskan ke depan dan wajah ceria yang tadi siang ia tampilkan di depan Momoi seolah menghilang tanpa jejak.
Momoi tersenyum simpul. Binar mata merah muda gelapnya berubah lembut ketika ia sekali lagi menatap Ryouta di sampingnya.
"Aku menolong Ryou-chan," kedua tangan Momoi kini terpaut di belakang tubuhnya dan kepalanya ia arahkan ke langit yang mulai memunculkan bulan, "karena kulihat Ryou-chan sedang merasa tidak nyaman di dekat wanita tadi. Ryou-chan tidak mau menatap wanita itu dan badan Ryou-chan bergerak gelisah. Seperti sedang punya masalah."
Ryouta menolehkan kepalanya dengan kecepatan yang mungkin sanggup mematahkan leher seseorang. Kedua matanya melebar. Dalam hati ia bertanya-tanya, bagaimana bisa gadis ini tahu? Apa jangan-jangan gadis ini juga sama sepertinya?
Seorang pengamat?
"Bagaimana Kakak bisa tahu-ssu?"
Momoi memiringkan kepalanya dan kedua matanya bergerak ke sisi. Senyuman simpul nan manis menghiasi paras cantiknya. Seraya mengerling jenaka, ia berkata, "Intuisi wanita."
Jujur saja, baru sekali ini ia melihat ada pengamat lain selain dirinya. Tak ada satu pun saudaranya di rumah yang benar-benar memerhatikan seseorang seperti dirinya. Dan tidak perlu ditanya apakah ada saudaranya yang menyadari kalau ia memang memiliki masalah.
Yah, itulah sebabnya Ryouta bisa memendam perasaannya selama dua tahun penuh tanpa saudara-saudaranya sadari sama sekali.
Mata keemasan Ryouta berbinar kagum melihat sosok gadis remaja di sampingnya. Bibir anak berambut pirang tersebut terbuka sedikit tanpa anak itu sadari. Untuk sekarang ini, terlupakan sudah ketidaksukaan karena dipanggil 'Ryou-chan' oleh gadis berambut merah muda itu.
"Tapi Ryou-chan, kalau misalnya Ryou-chan memang punya masalah, kenapa tidak cerita pada Akashi-kun saja?" tanya Momoi. Sebelah alisnya terangkat. Kelihatannya topik ini begitu menarik perhatian sang gadis.
Dan mungkin, tanpa Ryouta sadari, gadis itu tengah berusaha memberikan dorongan lembut agar ia bersedia berbagi cerita mengenai masalahnya secara langsung.
Ryouta mendengus tapi ia tersenyum pilu. Kepalanya ia gelengkan pelan, "Nah, tidak. Aku tak mau menyulitkan Kakak-ssu."
Anak itu sudah kembali seperti semula sedikit demi sedikit. Momoi tersenyum puas ketika ia melihat keberhasilan dirinya dalam membawa diri Ryouta yang sebelumnya kembali tanpa anak itu sendiri sadari. Kedua tangan Ryouta bergerak masuk ke dalam saku celananya.
"Tapi aku yakin Akashi-kun justru tak akan merasa disulitkan. Kurasa ia malah akan merasa senang karena Ryou-chan mau terbuka padanya," kata Momoi dengan sebelah telunjuk menyentuh dagunya. Sepasang mata gadis itu bergerak ke atas dalam aksi membayangkan bagaimana reaksi Seijuurou nanti jika Ryouta menceritakan masalahnya padanya.
Ryouta tersenyum pahit ke arah trotoar di hadapannya. Entah bagaimana trotoar dengan warna ambigu serta ujung-ujung sepatunya jadi terasa lebih menarik dipandang menurut perspektif anak berambut pirang tersebut.
"Kakak sudah banyak masalah... Aku tak seharusnya menambah masalahnya lagi dengan membuatnya khawatir dengan masalahku yang tak seberapa-ssu." Ryouta berkata seraya mengangkat kedua bahunya sebelum kedua bahunya melemas kembali. Kedua mata keemasan anak itu justru menyinarkan kesenduan.
Momoi menatap Ryouta dengan pandangan yang sulit dijelaskan. Di satu sisi gadis itu merasa kasihan dengan sang anak yang sepertinya terperangkap dalam masalahnya sendiri tanpa memiliki tempat untuk bicara, tapi di sisi lain ia sangat terkejut melihat jati diri Ryouta yang ternyata begitu dewasa dan pengertian.
"Aku sampai di sini saja. Kak Momoicchi –boleh aku memanggil Kakak begitu?—sebaiknya pulang. Tidak baik kalau perempuan jalan malam-malam, bukan-ssu?" tawar Ryouta. Anak itu menghentikan langkahnya ketika mereka berdua mencapai sebuah perempatan. Dari perempatan tersebut, rumah keluarga Akashi memang sangatlah dekat.
"Eh, tidak apa, aku akan mengantarmu pulang sampai rumah," tolak Momoi halus. Kedua tangannya mengibas di depan dada. Gadis itu keheranan, kenapa tiba-tiba Ryouta berubah pikiran mengenai nama panggilan dirinya. Tapi gadis itu memutuskan untuk tak begitu ambil pusing dalam masalah sepele seperti itu.
Mendengar penolakan Momoi membuat sepasang alis pirang milik Ryouta berkerut. Ia tampak tak setuju dengan ide penolakan Momoi. Hari sudah gelap. Akan berbahaya jika Momoi pulang lebih telat dari ini.
"Tidak. Atau Kak Momoicchi ingin aku antar ke rumah-ssu?" kata Ryouta lagi. Kali ini dengan nada lebih tegas. Anak itu sengaja meniru nada tegas yang dipakai Seijuurou ketika memeringatkan mereka untuk tak main-main dengan makanan atau ketika berlari di koridor rumah.
Momoi menatapnya dengan pandangan tak percaya. Hei, ia berjalan hingga ke sini untuk mengantar anak itu bukan? Tidak akan ada artinya usahanya barusan jika anak itu justru berbalik dan mengantar gadis itu hingga ke rumah.
Apa yang salah dengan anak ini?
Akhirnya Momoi menghela napas pasrah dan berkata, "Baiklah. Jaga dirimu baik-baik. Langsung pulang ke rumah, oke? Jangan ke mana-mana dulu."
Gadis berambut merah muda panjang menjuntai itu memeringatkannya dengan telunjuk teracung. Ryouta tertawa melihat tingkah gadis tersebut.
Dasar perempuan, sering sekali khawatir berlebihan.
Momoi tersenyum dan membalikkan badannya. Ryouta menatap punggung gadis itu dengan pandangan lembut yang sedikit sulit untuk dijelaskan. Dalam hati anak berambut pirang itu bersyukur dengan yang dilakukan gadis ini di stasiun tadi.
Tiba-tiba saja Momoi balik kanan dan kembali menghadap Ryouta. Sebelah tangannya menepuk bahu Ryouta. Mata merah mudanya yang selalu terlihat ramah dan hampir selalu berbinar jenaka, kini memancarkan keseriusan sekaligus empati. Ryouta hingga terkejut ketika melihatnya.
"Ryou-chan, jika memang ada masalah, jangan segan bercerita pada orang lain—Jangan segan kalau ingin bercerita padaku. Lihat saja nomor ponselku di ponsel Akashi-kun—mengerti?"
Ryouta menganggukkan kepalanya. Gadis ini ternyata penuh dengan kejutan. Untuk yang kesekian kalinya hari itu, Ryouta mengubah impresinya akan gadis ini.
Setelah gadis itu berbalik dan pergi, Ryouta kembali berjalan menuju rumahnya. Masih dengan kedua tangan yang menempel dalam saku celananya. Di dalam kepala bersurai kuning anak itu kini tengah diputar kata-kata Momoi tadi dengan pengaturan 'repeat'.
Sebuah desahan yang biasa dikeluarkan orang yang penuh dengan masalah, Ryouta memejamkan matanya.
Jangan segan bercerita pada orang lain... ya?
Seijuurou membuka sepatunya setelah ia memasuki pintu depan dan berkata 'aku pulang'. Sejujurnya, kepala bersurai merah miliknya berdenyut sakit setelah ia sampai di perusahaan keluarganya tadi siang dan Teppei selesai menjelaskan masalah yang tengah dihadapi perusahaan tersebut.
Ada seorang anak magang bernama Haizaki Shougo. Baru dua bulan magang di perusahaan keluarga Akashi, anak berambut sewarna abu itu telah membuat masalah dengan malas-malasan datang ke kantor dan mengerjakan tugasnya.
Meski begitu, Teppei dan Seijuurou harus mengakui kalau pekerjaan hasil karya anak tersebut memang rapi, mudah dipahami serta memenuhi standar Seijuurou. Singkat kata, hasil pekerjaan anak itu bisa dibilang bagus. Karena itulah Teppei masih membiarkan anak itu bekerja.
Tapi masalah yang ditimbulkannya kali ini benar-benar keterlaluan. Anak itu benar-benar malas hingga meski pun ia ditempatkan di bagian akuntansi keuangan, ia tak menuliskan laporan tentang keuangan perusahaan dengan benar. Ada pemasukan mau pun pengeluaran yang ia tuliskan tapi lebih sering tidak ia tuliskan.
Teppei baru menyadari hal ini ketika ia tengah memeriksa keuangan perusahaan dan menemukan laporan keuangan selama dua bulan terakhir yang bolong-bolong di sana-sini. Sayang sekali, Teppei terperangkap dalam sebuah kecelakaan pagi tadi yang berhasil membuat persendian lututnya bermasalah. Maka terpaksalah Teppei menelepon Seijuurou meski sedang Golden Week dan memanggilnya ke kantor.
Begitu Seijuurou sampai di kantor, Teppei segera meneleponnya, menjelaskan apa yang terjadi padanya serta menjelaskan apa yang harus ia lakukan; me-review laporan dari bagian akuntansi sekaligus keuangan bersama dengan Haizaki sendiri beserta dengan orang dari bagian keuangan bernama Nijimura Shuuzou.
Sisa hari itu ia gunakan untuk membahas keuangan perusahaan yang banyak dihiasi angka nol yang mencapai enam bahkan tujuh digit. Bayangkan bagaimana pusingnya kepala si sulung Akashi ketika ia saja tak pernah memelajari akuntansi secara resmi di sekolahnya.
Dan lagi, ia harus bekerja sama dengan Haizaki yang begitu sulit untuk diajak kerja sama serta Nijimura yang begitu emosional hingga benar-benar tak segan memukul Haizaki –yang merupakan juniornya—hingga babak belur; lelaki berambut hitam itu nyaris meninju wajah Haizaki tadi jika saja Seijuurou tak menghentikannya.
Sebelah tangan Seijuurou bergerak memijat pelipisnya yang benar-benar terasa pusing sekarang. Setelah melihat lembaran-lembaran keuangan seharian, entah bagaimana ia jadi kehilangan selera makannya. Mungkin ia tak akan ikut makan malam bersama malam ini.
Masih banyak yang harus ia kerjakan. Ia ingin masalah ini cepat selesai jadi seandainya saja ada sejumlah uang yang hilang atau lebih, mereka bisa menanganinya dengan cepat. Untuk yang kesekian kalinya hari itu, Seijuurou melirik sebelah tangannya yang tengah mencengkeram laporan dari Haizaki serta Nijimura yang akan ia teliti malam ini juga.
Seijuurou berjalan meniti koridor hingga menuju ke dapur. Sepasang mata merah kembarnya mencari-cari sosok wanita berambut hitam panjang dan menemukannya tengah memasak sesuatu di sudut lain dapur rumah keluarga Akashi tersebut.
"Masako-san," panggil Seijuurou lirih. Pemuda itu berdiri di ambang pintu dengan sebelah tangan yang mencengkeram rangka pintu tersebut.
Masako menoleh cepat dan penglihatannya mendapati sosok tuan muda yang ia layani tengah bertampang kusut dan sepertinya tengah banyak pikiran. Meski pikirannya bertanya-tanya kenapa ia bertampang seperti itu setelah pamit tadi pagi untuk jalan-jalan berdua dengan Ryouta, Masako memutuskan untuk tetap diam dan meletakkan sendok sup di tangannya dan segera menghampiri sang tuan muda.
"Ya?"
Seijuuruou menunduk sedikit dan kembali memijat pelipisnya, "Tolong antarkan makan malamku ke kamar, ada pekerjaan yang harus kuurus malam ini juga. Terima kasih."
Meski sedikit bingung kenapa tiba-tiba Seijuurou memiliki 'pekerjaan yang harus diurus' di tengah Golden Week seperti ini, wanita itu tetap mengangguk patuh sembari berkata, "Baik."
Ryouta berjalan ke ruang makan dan alisnya langsung berkerut ketika mendapati kursi di kepala meja makan mereka yang panjang ternyata kosong. Sedangkan saudara-saudaranya yang lain justru makan dengan tenang seperti biasa tanpa peduli kalau mereka kekurangan satu badan malam ini.
"Kakak mana-ssu?" tanya Ryouta ketika ia tengah mendudukkan diri di kursinya. Shintarou mengangkat wajahnya dan menghentikan kegiatannya menyendokkan sup miso ke mulutnya. Sebelah tangan anak itu yang bebas ia gunakan untuk menaikkan gagang kacamatanya.
"Kakak sibuk, jadi tidak bisa makan malam dengan kita malam ini," jawab Shintarou sebelum ia kembali menunduk dan menikmati hidangan di depannya. Nada kecewa jelas terlampir pada kalimatnya meski ia sudah susah payah menyembunyikannya.
Ryouta mengedarkan pandangannya ke sekitar untuk mendapatkan reaksi lainnya dari saudara-saudaranya. Tapi hasilnya nihil, mereka terlalu sibuk dengan urusan masing-masing kala itu. Bahkan Daiki yang biasanya berisik di meja makan, kini tengah makan dengan mata yang terpancang ke kertas dialog di hadapannya sedangkan tangannya terus menyuapkan makanan ke mulut.
Paling tidak, anak berkulit hitam itu melakukannya hingga ia ditegur Shintarou karena melakukan aktivitas lain di meja makan selain makan. Daiki buru-buru meletakkan kertas dialog itu di pangkuannya dan memasang cengiran lebar sebagai permintaan maaf. Shintarou hanya mendengus melihatnya.
Melihat kini Daiki tak lagi sibuk –paling tidak, tidak sesibuk tadi—Ryouta segera menyikut pinggang Daiki. Anak berambut biru tua itu menoleh ke arah Ryouta dengan pandangan geram. Bagaimana tidak? Pasalnya Daiki hampir dibuat tersedak tadi karena sikutan kakaknya satu itu.
"Daikicchi, benar Kakak tidak mau ikut makan dengan kita karena sibuk?" bisik Ryouta yang telah mencondongkan badannya ke arah Daiki. Matanya melirik ke sana ke mari dan sebelah tangannya terangkat di samping mulut, seakan tengah mencoba merahasiakan percakapan mereka.
Daiki yang masih kesal dengan sikutan Ryouta tadi meliriknya tajam, sebelum kembali menatap supnya. Hanya saja kali ini dengan pandangan sendu. Anak itu mengangguk.
"Mmhm, Masako-san yang bilang. Dia juga berpesan untuk tidak mengganggu Kakak sementara waktu," kata Daiki sebelum memasukkan sebuah selada ke dalam mulutnya.
Ryouta terdiam. Dari apa yang dilihat Daiki dari sudut matanya, nampaknya kakaknya satu itu tengah berpikir sejenak.
Sayangnya, kapan pun Ryouta berpikir, Daiki selalu punya firasat tidak enak.
Tiba-tiba saja, Ryouta mendorong kursinya ke belakang dan melompat berdiri. Nasi –yang mulai dingin—yang sudah terhidang di depannya sama sekali ia acuhkan. Keempat kepala berbeda warna yang ada di ruangan itu kontan terangkat dan menatap Ryouta yang balas menatap mereka dengan tatapan jenaka serta penuh misteri.
"Aku akan membujuk Kakak untuk turun-ssu!" Ryouta berdeklarasi dengan kedua tangan di pinggang. Senyum lebar menghiasi wajahnya. Kebalikan dari Ryouta, saudaranya yang lain justru berwajah terkejut dan sama sekali tak ada tanda-tanda akan berubah menjadi ekspresi senang.
Mereka semua –bahkan Atsushi yang gila makan—berhenti mengunyah makanan mereka ketika Ryouta berdeklarasi.
Benar bukan firasat Daiki? Firasat Daiki memang sangat kuat hingga tak pernah salah.
"Hei, hei, lebih baik jangan ganggu dia dan makan saja. Masako-san sudah jelas memeringatkan tadi," kata Daiki memeringati sekaligus membujuk kakaknya yang berambut pirang tersebut untuk tak benar-benar mengeksekusi rencana kacaunya tersebut.
Ryouta menolak untuk mengikuti saran dari Daiki. Kali ini, Shintarou yang merupakan anak kedua keluarga tersebut lah yang merasa harus angkat bicara.
"Daiki benar, Ryouta. Kalau Kakak sampai tak mau ikut makan malam, berarti memang ada masalah mendesak dan penting yang harus segera diselesaikan," kata Shintarou dengan mata yang memancarkan kalau ia tak setuju dengan ide gila Ryouta, "Jangan memancing kemarahan Kak Seijuurou."
Namun sayangnya, sekali Ryouta sudah memutuskan, ia benar-benar akan melakukannya. Itulah salah satu sifat yang berhasil diambilnya dari Seijuurou setelah bertahun-tahun mereka tinggal bersama.
Ryouta menggeleng, "Percayalah padaku-ssu! Aku akan membawa Kak Seijuuroucchi ke sini dalam waktu singkat-ssu!"
Anak itu berkata seraya menunjuk dirinya sendiri dengan ibu jarinya. Begitu percaya dirinya ia hingga sama sekali tak memikirkan kemungkinan kalau ia akan gagal. Sementara itu, Tetsuya si bungsu tak begitu tertarik sepertinya dengan apa pun yang akan dilakukan sang kakak dan melanjutkan sesi makan malamnya.
Shintarou baru saja akan membuka mulutnya dan mencoba membujuk adiknya satu itu sekali lagi ketika Ryouta langsung saja melesat ke luar dari ruang makan dengan begitu semangatnya. Kalau sudah seperti ini, apa pun yang dikatakan mereka tak akan benar-benar masuk ke dalam otak anak tersebut.
Shintarou mendesah sebelum kembali makan.
Sementara itu, setelah menaiki tangga, Ryouta sampai di depan pintu kamar Seijuurou yang tertutup rapat. Ada aura yang memancar dari dalamnya yang seakan mengatakan pada orang-orang di sekelilingnya untuk menjauh.
Tapi Ryouta tak akan mundur. Ia sudah memikirkan cara unik untuk bisa mengeluarkan kakaknya dari dalam kurungan kamarnya sendiri. Sebelah tangan Ryouta terangkat ke pintu sementara yang lainnya berada di belakang tubuhnya.
Buku jari anak itu bertemu dengan permukaan pintu dan dengan sengaja Ryouta buat untuk menghasilkan irama tertentu. Setelahnya, tangannya yang tadi ia gunakan untuk mengetuk ia tautkan dengan tangannya yang berada di belakang tubuh.
Anak itu menghirup napas dalam ketika didengarnya suara kakaknya bertanya 'siapa?' dari dalam kamar.
"Do you want to build a snowman?"
Ryouta mengatakannya dengan nada. Seakan ia tengah menyanyi atau mungkin ia memang menyanyi. Entah bagaimana ketika ia berpikir akan mengajak kakak sulungnya turun dan makan malam dengan mereka, ia justru terpikirkan untuk mengutip lirik lagu Do You Want to Build a Snowman? Dari sebuah film yang mereka sekeluarga tonton musim dingin kemarin.
Terdengar suara dari dalam yang mengatakan dengan nada tertekan serta kesal yang ditahan, "We can't build a snowman without snow, Ryouta. Don't be silly."
Ryouta memasang ekspresi tidak percaya. Kalau kakaknya bahkan tidak sadar kalau ia tengah mengajaknya ikut berkumpul bersama di bawah dengan cara mengutip lagu dari film yang mereka tonton musim dingin kemarin, maka kakak sulungnya itu pasti sudah sangat stress.
Dan itu semakin menguatkan alasan kenapa Ryouta tengah berdiri di depan pintu kamar Seijuurou.
"Come on let's go and play."
Ryouta melanjutkan. Masih dengan nada yang sama. Kali ini ia berharap kakaknya benar-benar menangkap sinyal yang tengah berusaha ia pancarkan pada sosok kakaknya di balik pintu. Kedua tangan anak berambut pirang itu kini sudah terpaut di depan tubuhnya, persis seperti karakter utama dalam film yang mereka tonton.
Terdengar desahan panjang dari dalam kamar. Dan Ryouta di sisi lain pintu harus menelan bulat-bulat rasa kecewa yang mulai melayang-layang dalam dadanya setelah mendengar desahan tersebut. Setelah ditinggalkan sendirian tadi siang, sekarang kakaknya juga akan mengacuhkannya?
Padahal ia justru tengah butuh sekali perhatian kakaknya untuk menghilangkan perasaan aneh dalam hatinya yang muncul sejak ibu Tanaka menyinggung orangtuanya.
"I'm very sorry, but I can't. Please... go play with the others, Ryouta," balas kakaknya dari balik pintu masih dengan frustrasi yang tak bisa kabur dari pendengaran tajam Ryouta. Kurva ke atas yang tadi sempat membentuk di wajah Ryouta kini berubah menjadi lengkung ke bawah, "maybe next time."
Jelas anak itu kecewa dengan jawaban kakaknya. Meski berusaha untuk memahami apa yang tengah dilakukan kakaknya sekarang, tapi tetap saja ia tak bisa menahan kecewa yang sekarang benar-benar sudah melesak keluar dan menginvasi wajahnya hingga wajah tampan anak itu berubah sendu.
"Okay, bye..."
Dan dengan itu, Ryouta berjalan lesu menjauh dari pintu kamar kakaknya.
Tidak apa, sebentar lagi Kakak akan segera menyelesaikan apa pun itu masalah yang sedang dihadapi perusahaan. Semuanya akan baik-baik saja... Benar begitu, kan?
Ryouta meluruskan bajunya yang tadi sempat sedikit terlipat. Setelah merapikan rambutnya yang sedikit mencuat akibat efek bangun tidur dan puas mematut diri di depan cermin, kaki jenjang anak tersebut membawanya keluar kamarnya dan meniti tangga menuju ke ruang makan.
Rasa kecewa karena penolakan kakaknya beberapa malam lalu sekaligus karena ditinggal di tengah acara jalan-jalan mereka di hari yang sama masih terus bersikeras mengiang di relung hati kecilnya. Tapi anak berwajah cantik itu memutuskan untuk mengacuhkan perasaan itu. Kakaknya pasti tak benar-benar bermaksud melakukannya.
Ryouta memasang cengiran terbaiknya ketika kakinya menapaki lantai kayu ruang makan yang terasa dingin. Kelima saudara-saudaranya telah berkumpul di tempat duduk masing-masing. Tengah sibuk melahap roti bakar selai mereka dan tenggelam dalam apa pun yang tengah mereka pikirkan.
Ryouta melempar pandangannya sekilas ke arah si sulung yang duduk di kursinya di ujung meja makan mereka. Terlihat rambut kakaknya yang lebih acak-acakan dari biasanya; rambut kakaknya memang terkenal sulit diatur, tapi pagi ini sepertinya lebih sulit diatur dari biasanya. Ada kantung hitam tipis di bawah sepasang mata kakaknya.
Dan, ini hanya firasat Ryouta saja atau memang sebelah mata kakaknya berubah warna menjadi sedikit kekuningan?
Anak berambut pirang itu mencoba untuk mengacuhkannya. Walau bagaimana pun, tidak mungkin mata seseorang berubah warna hanya dalam semalam bukan? Hingga kemarin, warna mata kakaknya masih merah kembar. Kakaknya yang memakai kontak lens juga bukan suatu kemungkinan.
Lagi pula tidak mungkin kakaknya memakai kontak lens sebelah saja? Maaf saja tapi kakak sulungnya bukan seorang chuunibyou.
Ryouta mendudukkan dirinya di atas kursi yang entah bagaimana berada di sebelah Shintarou hari ini. Sepertinya Daiki tengah ingin duduk dekat dengan Tetsuya yang sembari makan, mencoba membantu kakaknya menghapal dialog dalam naskah.
Ryouta mengambil selembar roti dari tengah meja dan setelah menimang-nimang selai apa yang akan dipakainya, ia memutuskan untuk meraih selai coklat dan mulai mengoleskannya banyak-banyak di atas rotinya dengan pisau roti.
Diambilnya satu gigitan dan ia kunyah dalam diam. Mencoba untuk mehayati ketika rasa manis pahit selai coklat tersebut menempel di lidahnya.
"Ryou-chan, jika memang ada masalah, jangan segan bercerita pada orang lain—Jangan segan kalau ingin bercerita padaku. Lihat saja nomor ponselku di ponsel Akashi-kun—mengerti?"
Entah bagaimana, kata-kata Momoi beberapa hari lalu kembali mengiang di tempurung kepala bersurai kuning milik sang anak. Tanpa sadar ia berhenti mengunyah dan kepalanya dipenuhi dengan gadis itu. Sempat terpikir olehnya untuk menceritakan apa yang terjadi ketika kakaknya menolaknya pada sang gadis berambut merah muda. Lagi pula dari kelihatannya, Momoi sepertinya orang yang bisa dititipi rahasia.
Sesaat kemudian ia menggelengkan kepalanya pelan. Bagaimana mungkin ia menceritakan masalah pribadi seperti itu pada orang yang baru ia kenal? Meski pun orang itu adalah teman –cukup—baik kakaknya sendiri, tetap saja rasanya tidak benar.
Gelengan kepala Ryouta berhasil menarik perhatian Shintarou di sampingnya yang kini menoleh dengan pandangan heran ke arahnya. "Kau kenapa, Ryouta? Ada yang salah?"
Ryouta menolehkan kepalanya dan membalas pandangan mata hijau Shintarou yang menatapnya dengan pandangan penuh selidik. Ryouta mengambil gelas susu di samping piring rotinya dan menenggaknya hingga seperempat gelas.
Ryouta menyeka sisi bibirnya yang kini terdapat bekas susu berwarna putih. Kelihatan lucu jika saja mereka tidak tengah bicara serius, "Tidak ada. Tapi... ada satu hal yang membuatku penasaran-ssu."
Jika ada seorang yang sangat mengenal Seijuurou dari mereka berlima, maka orang itu adalah Shintarou. Berhubung Shintarou adalah anak angkat pertama keluarga Akashi dan jelas ialah yang paling lama berinteraksi dengan si sulung.
Maka dari itu, jika ingin mengetahui sesuatu yang berhubungan dengan Seijuurou, ada baiknya bertanya pada Shintarou atau pada Masako.
"Apa itu?"
Ryouta menggumam. Kakinya yang berada di bawah kursi ia gerakkan ke depan dan belakang, "Hmmm, Kakak tahu tentang Momoicchi? Mungkin teman satu sekolahnya Kak Seijuuroucchi itu-ssu."
Sepasang alis Shintarou berkerut. Tidak mengerti kenapa ketika tak ada angin mau pun hujan, tiba-tiba saja Ryouta menanyakan tentag gadis itu. Tapi jangan berpikir kalau ia tak bersedia menjawabnya.
"Kak Momoi? Yang aku tahu, ia teman sejak SMP Kak Seijuurou. Dia juga pandai mengumpulkan informasi. Makanya ia selalu jadi manager dari SMP hingga sekarang. Data informasi darinya tak pernah salah. Itu yang kudengar," jawab Shintarou seraya mengangkat kedua bahunya sebelum kembali mengambil satu gigitan dari roti isi selai kacang merah; hasil buatan tangan Masako. Shintarou membuka mulutnya sekali lagi setelah selesai menelan rotinya untuk bertaya 'kenapa?'
"Kenapa memangnya? Ryouta tertarik dengan Momoi?" tapi Shintarou justru keduluan oleh si sulung yang entah sejak kapan telah mencuri dengar percakapan mereka. Ryouta berjengit kaget dan segera mengarahkan badannya ke arah si sulung. Sebelah alis Seijuurou terangkat karena heran.
Sebelah tangannya yang tak memegang roti ia gunakan untuk mengusap belakang kepalanya. Ryouta memberikan cengiran kikuk, "Ah, tidak. Aku hanya penasaran karena waktu itu aku sempat diantar pulang olehnya sampai di perempatan depan sana sambil ngobrol-ngobrol sedikit-ssu."
Binar curiga masih tak terlepas dari mata Seijuurou. Entah kenapa Ryouta punya firasat kalau kakaknya itu tengah berpikir 'sepertinya adikku sudah besar' dalam kepalanya yang dihiasi surai merah itu.
"Oh... begitu," respon Seijuurou datar sebelum kembali menyantap sarapannya. Mungkin kakaknya sedang tidak fokus atau apa, tapi ia baru menegur Daiki yang berlatih skenarionya di meja makan sekarang meski anak itu sudah melakukannya sejak mereka memulai sarapan pagi mereka tadi.
Hal tersebut pun masuk dalam pengamatan tajam Ryouta. Satu hal yang berhasil disimpulkan anak itu pagi ini adalah, kakak sulung mereka memang sedang aneh hari ini.
Ryouta menghirup napas dalam. Diambilnya satu gigitan rotinya dan dalam hati ia berkata, Kakak pasti akan segera kembali seperti semula dan segera membanjirinya dengan perhatian seperti biasa. Semuanya akan baik-baik saja. Bibir tipis Ryouta merapalkan motto hidupnya dalam diam. Mulutnya bicara tapi hatinya hampa.
"Hidupku terasa begitu sempurna."
Momoi melirik sosok Seijuurou yang duduk tak jauh darinya dengan tatapan yang sulit untuk dijelaskan. Beberapa kali gadis bermbut merah muda lembut tersebut membuka mulut. Niat hati ingin memanggil temannya yang berambut merah dan menceritakan apa yang berhasil diungkapnya dari adik sang teman.
Karena sepertinya Ryouta benar-benar tidak mau bercerita pada Seijuurou. Maka dari itu, Momoi berpikir akan baik jika Momoi membantunya diam-diam. Manager tim basket SMA Rakuzan tersebut sudah beberapa kali mencoba membicarakannya dengan Seijuurou. Ia sudah mencoba mengetikkannya lewat e-mail. Tapi akhirnya ia selalu menghapusnya sebelum sempat terkirim.
Dan sekarang, gadis berambut merah muda tersebut ingin mencoba bicara langsung pada Seijuurou. Tapi keberanian dan keyakinan tak kunjung terkumpul dalam hatinya.
Karena, ada satu hal yang menahan Momoi sejak tadi untuk memanggil sosok berambut merah yang tengah sibuk makan siang dengan teman-teman satu klubnya di klub basket SMA Rakuzan tersebut. Hal tersebut adalah fakta kalau Momoi adalah orang luar yang tak seharusnya ikut campur dalam urusan keluarga Akashi.
Momoi akhirnya mengurungkan niatnya dan menghela napas dalam. Gadis itu mengeluarkan kotak bekal dari dalam lacinya dan mulai memakan bekalnya dalam diam. Matanya masih melirik sekelompok anak remaja berbeda kelas yang masih sibuk bercengkerama dengan pandangan berat.
Mungkin ia harus menunggu saat yang tepat untuk menceritakan hal itu pada Seijuurou. Karena entah entah ini hanya perasaan Momoi saja entah hari ini sosok pemuda berusia enam belas tahun tersebut memang terus mengeluarkan aura menyeramkan.
Aura yang sepertinya merupakan campuran stress, kekesalan, ketidakpuasan, serta arogansi. Singkat cerita, sosok Seijuurou yang ini benar-benar berbeda dari sosok Akashi Seijuurou yang biasa dihadapinya selama lima tahun belakangan.
Terlalu kuatnya aura tersebut, hingga membuat Momoi sendiri merasa takut-takut untuk mendekati pemuda itu. Momoi kembali mendesah.
Maaf, Ryou-chan. Tapi mungkin lain kali...
Ryouta buru-buru kembali ke kursinya setelah selesai bercengkerama dengan teman-temannya –terutama yang perempuan—ketika pintu geser kelasnya terbuka tiba-tiba dan wali kelasnya tiba-tiba masuk. Dalam hati anak berambut pirang itu bertanya-tanya, kenapa wali kelasnya masuk ketika ini bukan jam wali kelas mau pun jam pelajaran guru tersebut.
Sebelah tangan Ryouta menopang dagunya dan mata coklat keemasannya menatap guru di depan dengan pandangan malas.
"Ayo, semuanya duduk! Ibu punya pengumuman penting untuk kalian semua," seru guru tersebut, terutama pada anak-anak lelaki yang duduk di pojok belakang yang masih sibuk melempar-lempar potongan penghapus ke arah satu sama lain sambil tertawa iseng.
Guru yang mungkin baru berusia tiga puluh tahun tersebut menepuk sisi papan tulis beberapa kali keras-keras untuk menenangkan kelasnya yang masih ribut. Dan berhasil. Sikap yang diambilnya tadi berhasil menangkap perhatian anak-anak nakal di belakang kelas.
"Sekolah kita akan membuka sekolah untuk umum dua minggu dari sekarang. Tepatnya pada hari Jumat. Nah, sekarang, semua kelas diharapkan untuk membuat sesuatu untuk berpartisipasi dalam acara tersebut," jelas guru tersebut sembari mengambil kapur putih dan mulai menuliskan besar-besar 'Open School' di papan tulis dalam huruf katakana.
Guru tersebut berbalik kembali menghadap anak-anak muridnya dan menatap mata mereka satu per satu. Beberapa ada yang balas menatap guru tersebut, ada yang bersemangat, ada yang justru menguap, ada yang gugup, ada yang terlihat tidak peduli, dan ada yang terlihat seakan pikirannya tidak tengah berada di kelas tersebut.
Dan Ryouta merupakan anak yang termasuk dalam kelompok anak yang terlihat tidak peduli.
Seorang anak, yang ternyata ketua kelas di sana, mengangkat tangannya.
"Ya! Hayakawa-kun!" kata guru tersebut sembari menunjuk anak tadi dengan semangat.
Anak itu berdiri dan dengan tak kalah bersemangatnya dengan sang wali kelas, bahkan alisnya berkerut di tengah dan senyumnya begitu lebar. Sepertinya ia termasuk golongan anak yang bersemangat mendengar pengumuman tersebut. Ia berkata, "Bu, apa itu a(r)tinya sepe(r)ti saat festiva(l) kebudayaan?"
Ryouta mendengus ketika mendengar anak itu bicara. Anak itu selalu tertukar antara huruf L dengan R dan begitu juga sebaliknya ketika bicara hingga kata-kata anak itu justru terdengar aneh dan sedikit sulit dimengerti. Tapi ia selalu bersemangat jika diberitahu sesuatu hingga anak-anak lelaki di kelas sepakat untuk menunjuknya menjadi ketua kelas mereka.
Anak-anak yang jahat.
Wali kelas mereka menggelengkan kepala sembari menggumam.
"Bukan, Hayakawa-kun, kita tak akan membuat event besar-besaran seperti saat festival kebudayaan," guru tersebut menjelaskan dengan sebelah telunjuk terangkat, "kita hanya akan menampilkan sesuatu untuk orangtua dan wali kalian yang akan melihat bagaimana kalian belajar di sekolah."
Anak-anak kelas ber-ooh ria. Tentu saja Ryouta tidak termasuk. Kata-kata guru itu masih belum berhasil menarik anak berambut pirang tersebut untuk tertarik dan ikut berpartisipasi.
"Anak kelas 4-4 akan menampilkan drama tentang Ubasuteyama, yang lainnya ada yang membuat prakarya yang akan ditunjukkan dan diberikan pada orangtua masing-masing nantinya," jelas guru tersebut lagi. Kali ini telinga Ryouta berkedut mendengarnya. Itu kelas Daikicchi, pikir anak tersebut. "Kalau kalian..."
Wali kelas mereka sepertinya memiliki jiwa yang terlalu muda. Lihat saja sekarang, wanita tersebut sengaja menambahkan efek dramatis dengan menahan kata-katanya. Meski jujur saja, menurut Ryouta, usaha guru itu sama sekali gagal.
"... akan membuat karangan!"
Kali ini anak-anak mengerang sebagai bentuk protes. Bagaimana bisa mereka justru mendapat tugas untuk anak kelas satu dan dua begitu? Tugas itu terlalu mudah hingga setengah dari kelas tersebut mungkin bisa melakukannya dengan mata terpejam.
Sama sekali tidak ada tantangannya, pikir Ryouta sembari anak itu mendengus. Bibir Ryouta mengerucut dan ia memandang tak suka ke arah depan kelas di mana wali kelasnya berada. Ia meniup poninya –yang sempat menutupi mata—dengan sebal.
Sayangnya, guru itu justru sepertinya tak menyadari protes tak langsung dari anak-anak asuhnya dan justru menatap mereka satu per satu dengan mata berbinar senang. Seperti seorang anak yang baru saja dibelikan sesuatu yang diidam-idamkannya sejak lama.
"Ibu ingin kalian membuat karangan sebagus mungkin! Dikumpulkan dua hari sebelum hari Jumat nanti. Dan kabar baiknya, kalian akan membacakannya di depan orangtua kalian!"
Anak-anak kembali mengerang tak suka. Memalukan. Bagaimana mungkin anak kelas lima hanya membuat karangan sedangkan anak kelas empat justru menampilkan drama? Wali kelasnya tidak bisa memikirkan ide yang lebih baik dari membuat karangan?
Jika beberapa hari lalu ia justru mengejek Daiki karena mendapat peran utama dalam drama anak durhaka tersebut, maka kini Ryouta justru iri karena hal itu terdengar jauh lebih menarik dari hanya duduk di depan meja belajar sembari menuangkan kata-kata setengah hati ke atas kertas.
Telah mengenal baik tabiat guru mereka selama dua bulan terakhir, anak-anak tersebut akhirnya menyerah untuk mengeluh akan tugas mereka dan salah satu anak perempuan yang duduk dua meja di sebelah kiri Ryouta mengacungkan tangannya.
Bedanya dengan Hayakawa, anak tersebut tak menunggu hingga dirinya diizinkan bicara oleh sang guru dan langsung saja menyuarakan isi pikirannya.
"Karangannya tentang apa, Bu?"
Wali kelas Ryouta menoleh ke arah anak perempuan tersebut. Binar semangat di matanya masih belum menghilang. Meredup pun tidak.
"Pertanyaan bagus!" Wanita tersebut memutar badannya kembali menghadap seluruh kelas. Ujung-ujung jemarinya ditempelkan satu sama lain di depan dadanya. Senyum lebar menempel di wajahnya yang masih terlihat cantik tak dimakan usia.
"Kalian akan membuat karangan tentang Ibu karena acara ini juga dibuat sekaligus untuk merayakan Hari Ibu."
Ryouta mengerang dalam hati. Ia tak punya ibu. Oke, dulu memang punya. Tapi sekarang tidak lagi. Apa yang harus dituliskannya? Apa ia harus menuliskan kalau ibunya cantik dan pandai masak? Ia sudah menuliskan itu ketika ia duduk di kelas satu dan dua.
Apa ia harus menuliskan hal yang persis sama dalam karangan ini?
Menuliskan tentang ibu angkatnya juga bukan suatu pilihan. Ibu Seijuurou sudah meninggal sejak ia melahirkan Seijuurou. Bertemu muka saja tidak pernah, bagaimana bisa ia menuliskan ibu angkatnya itu sekarang?
Seorang anak lelaki yang duduk di bagian pojok belakang dan merupakan salah satu anak-anak nakal yang tadi sulit untuk diatur, mengangkat tangannya. Bibirnya membentuk selengkung senyum jahil.
"Ya, Hara-kun?"
Anak itu tampak mengunyah permen karet di mulutnya beberapa kali. Guru di depan kelas itu meringis melihat kelakuan salah satu anak muridnya yang sama sekali tak bisa diperingati tersebut. Ia sudah pernah mencoba memeringati anak tersebut untuk tak memakan permen karet di kelas. Tapi tentu saja hasilnya nihil.
"Kalau misalnya tidak punya ibu seperti Ryouta bagaimana, Bu?" tanya anak itu. Nada bercanda jelas terdengar dalam setiap kata dalam kalimatnya. Beberapa kikik tawa terdengar sebagai pengisi latar belakang.
Ryouta berjengit mendengarnya. Anak itu berusaha untuk menutupi lubang besar yang terasa seperti semacam black hole yang tiba-tiba muncul di hatinya dan mengisap semua perasaan baiknya hari itu ketika mendengar pertanyaan anak tersebut.
Wali kelas Ryouta tersentak kaget mendengar pertanyaan tak sopan anak tersebut, "Hara-kun, tidak baik berkata seperti itu. Semua orang pasti punya ibu. Meski sudah meninggal. Begitu pun dengan Akashi-kun."
Wali kelas Ryouta menatap Ryouta dengan pandangan khawatir setelah memarahi anak bernama Hara tadi sembari berkacak pinggang. Wanita itu berkata lirih pada Ryouta, "Akashi-kun tidak apa-apa?"
Ryouta memberikan senyum palsu terbaiknya serta anggukan mantap pada wali kelasnya tersebut dan seperti orang-orang lainnya di sekitar Ryouta, guru muda itu tertipu dan tersenyum sekaligus mendesah lega.
"Baiklah, intinya kalian harus mencurahkan segala kemampuan kalian dalam membuat karangan tersebut, mengerti? Ibu permisi dulu," kata wanita tersebut sembari berjalan ke arah mimbar di depan kelas dan mengambil beberapa barangnya di sana. Ia berjalan cepat ke arah pintu. Ketika ia sampai di bibir pintu, wanita tersebut berhenti, "dan Hara-kun, Ibu ingin bicara denganmu sebentar sepulang sekolah nanti."
Begitu sosok wali kelas mereka menghilang ditelan pintu kelas, kelas tersebut kembali ricuh. Anak-anak tak lagi duduk di kursi masing-masing dan mulai menghampiri teman-teman mereka untuk berbincang sembari menunggu guru lain masuk mengisi jadwal.
Tak ubahnya Ryouta. Anak tersebut berjalan ke arah kursi di mana anak bernama Hara tadi berada dengan kedua tangan masuk ke dalam saku celananya. Hara sendiri tengah duduk dikelilingi teman-temannya dan kini mereka tengah membicarakan entah apa.
Ryouta berhenti ketika ia hanya tinggal satu langkah lagi dari meja anak tersebut. Hara yang menyadari kedatangannya, menoleh dan senyum jahil kembali terkembang di wajahnya.
"Yo, Ryouta! Aku tadi hanya bercanda. Jangan dimasukkan hati, oke?" kata anak tersebut dengan sedikit ramah tetapi juga meledek dengan kedua tangan terangkat.
Ryouta menatap anak itu. Sayangnya mata coklat keemasan Ryouta tak bisa menatap anak itu tepat di mata karena mata Hara tertutup poninya yang panjang. Mata coklat keemasan Ryouta menatap anak itu dingin.
Hara terlihat tak begitu peduli atau mungkin tidak menyadarinya, ia tetap mengunyah permen karetnya dan meniupnya hingga meletus. Teman-teman Hara yang justru menyadari mencekamnya aura di sekeliling mereka mulai menelan ludah gugup.
Mereka semua menatap Ryouta takut-takut minus Hara.
Sebelah tangan Ryouta terangkat. Anak-anak lelaki di sekeliling Hara mengira kalau sebentar lagi akan ada suara tinju menyentuh permukaan kulit seseorang dan mereka semua mulai memicingkan mata dan mengalihkan kepala tanpa sadar. Mengantisipasi hal yang mungkin akan terjadi selanjutnya.
Tapi apa yang mereka kira tak pernah terjadi.
Ryouta justru mengalungkan sebelah tangannya di bahu Hara dan sebelah tangannya yang lain mulai menjitak kepala Hara dan menggosok-gosokkan tinjunya di puncak kepala anak itu dengan jahil. Senyum Ryouta begitu lebar dan terlihat seakan pandangan dingin Ryouta tadi itu hanya imajinasi mereka belaka.
"Dasar kau ini-ssu! Aku juga punya ibu, tahu-ssu!"
Hara tertawa renyah menerima jitakan lembut dari Ryouta tersebut. Walau bagaimana pun, Hara sudah mengira kalau Ryouta akan melakukan ini padanya dari pada meninjunya karena sudah berkata sembarangan tadi.
Lagi pula memangnya Ryouta bisa meninjunya yang merupakan teman dekat Ryouta sejak kelas dua?
"Bercanda, aku bercanda. Hei, hentikan, Ryouta! Sakit tahu!" seru Hara lagi-lagi dengan nada bercanda.
Ryouta hanya tertawa sebelum pelan-pelan melepaskan tinjunya dari puncak kepala anak tersebut.
Tak diketahui oleh anak-anak lelaki di sekelilingnya, Ryouta tengah bertanya-tanya dalam hati.
Ryouta sudah berusaha tersenyum lebar, bahkan tertawa dan bersikap seriang mungkin. Tapi kenapa perasaan aneh –yang terasa seperti campuran perasaan sedih, kecewa, dan entahlah Ryouta tak bisa menjelaskannya—dalam hatinya tak kunjung hilang?
Ketauan deh kan, Ryouta gak nyaman kalo udah ngomongin soal orangtua dan ibunya. Coba tebak kenapa X3
Aku kena WB, sekadar pengen ngasih tau aja, makanya baru update sekarang. Mungkin ini karena efek masuk sekolah juga kali ya? /alasan/
saatnya bales review~
scarletjacket: ini cepet? wkwkwwkwk ini aja udah molor empat hari dari jadwal update biasanya. Aku kena WB sih hiks, jadi ada selama 3 hari gitu aku gak nulis sama sekali ._. thanks ya reviewnya! XD
BlueBubbleBoom: wkwkwkwwk kebanyakan yang baca fic ini jadi tertular pedo yah /itukansalahlu/ wkwkwwkwk hayoo, kan udah kubilang gak akan ada incest di fic ini wkwkwkwk maaf ya tapi gak bisa update kilat nih TAT, serius? aku mau bikin dia sampe nangis lo wkwkwkwk thaks ya reviewnya!
yuukihanami.5: hehehe gak apa kok, ngomong-ngomong apa itu MOPD? Haha setelah baca chap ini apa yuuki yakin dia masih bakal jadi kakak yang sempurna? Arigatou! Thanks reviewnya ya! xD
Eqa Skylight: diapain cobaa~? wkwkwkwk mari kita liat aja nanti haha /digaplokrame-rame/ Hue, soal motto itu juga gimana yaa? Eh, masa? kenapa? karena eqa-san gak begitu diperhatiin lagi kah? Ini dia lanjutannya! Thanks ya reviewnya! X3
Hana Kijimuta: Wkwkwk thank youuu iya, dia kan emang tampangnya urakan gimana gitu dan pas buat jadi karakter yang pembangkang haha /digaplokAo/ hehe thanks ya karena udah penasaran, ini dia lanjutannya! Thanks juga untuk reviewnya! XD
Shiraumemachida: wkwkwk itu mah satu kalimat XD huehehe kalo aku gak tega, aku gak akan bikin fic ini hehehe ini dia lanjutannya! Thanks reviewnya ya! XD
Letty-Chan19: Thanks youuuu pantesan pas liat review itu aku juga mikir 'Letty-chan mana ya? Tumben gak review, apa lagi sibuk?' hehe ternyata karena error, thanks banget ya Letty-chan karena udah setia review! Di sini belom ada pairing kok XD
el Cierto: gak apa kok! Semuanya disambut baik di sini! aku juga baca fic itu! Yap, itu dia judulnya, tapi menurut aku kurang feel kebersamaannya hehe, makanya aku bikin fic ini. Hehe nope! aku gak akan nambahin gunting karena sejujurnya aku kurang suka sama bagian Akashi yang itu. Entahlah, waktu itu aku lagi rada kena WB jadi bingung apa yang mau ditulis hehe. Nah, soalnya Ki-chan itu ganteng, jadi reaksi wajar seorang cewek pas digoda cowok ganteng itu ya blushing mueheheh. Douitashimashitee and thanks for reviewing! XD
UchiHarunoKid: yang penting update wkwkwkwk iya, tapi kayaknya bakal lebih lama nih updatenya soalnya sekolah udah mulai dan aku nambah sibuk :( Ini TBC kok, ini dia lanjutannya. Thanks karena udah setia review! XD
Fujiwara Kumiko024: Hai Miiko! Iya, emang jarang sih, aku udah muter-muter(?) nyari tapi gak ketemu. Iya, ngilangin typo itu susah ya, mungkin aku perlu nyari beta kali ya? Silahkan! Dan thanks ya untuk reviewnya! X3
Tsukkika Fleur: Arigatouuuu kayaknya kok aku nambah dosa ya karena bikin orang nangis mulu dari kemaren /eh/ Eh Tsukkika-san dunia itu cara kerjanya lucu ya? Masa pas Tsukkika-san bilang semoga aku gak kena wb aku malah kena wb ;w; btw, thanks reviewnya! X3
Guest: wkwkwkwk udah banyak yang bilang begitu /itungjari/ makasih juga lo karena udah nyempetin nge-review fic ini! XD
biyachan: Aduuh aku tersipu! Thanks banget ya pujiannya! Ini updatenya dan thanks untuk reviewnya! XD
Anon: aku juga selalu tergelitik untuk baca review-mu sampe-sampe aku tungguin lo reviewnya! /ketauandeh/ iya, cara ngilangin wb itu gimana ya? Kalo kena wb jadi gitu deh, ide tersendat. haha kalo soal OOC itu, aku rasa masih akan kupake sampe karakterisasi Akashi pas menurut Anon ;) /kedipnajong/ Okee, diterima keritiknya! Thanks ya untuk masukan-masukannya sekaligus reviewnya! XD
midoaka: wkwkwkwk kalo aku udah jadi full-fujo baru ya keinginan mido akan terkabulkan. Sayangnya, entah sampe kapan mido bakal menunggu. Gak sadis kok paling cuma kubikin sampe nangis-nangis /itujugasadisitungannya/ aku juga makin cintah sama kamu X* /ditepok/ thanks ya reviewnya! X3
Aka Shagatta: diapa-apain /evillaugh/ dia karakternya enak dibully sih jadi ya apa boleh buat lah. Haha kalo soal 'pass' itu, di Jepang kata itu sering banget dipake sebagai slang kayak kita make kata 'kemon', coba perhatiin kalo lagi nonton anime deh, jadi kurasa anak-anak kecil pun udah biasa pake itu hahaha. Iyaa, bagian Tetsuya masih jauh, mungkin pas dia remaja nanti baru ada. Aku juga makin tjintah sama kamu X* /balespelukcium/ iyaa, ini dia chap lanjutannya! Thanks ya! XD
Harpgirl: iyaa, tapi sayangnya kebanyakan orang kayaknya gak suka sama Momoi karena dia itu kayak penghalang :( uwah! ada orang yang sepikiran sama aku ternyata! XD kayaknya bakal kendur dikit nih, tapi gak apa kan yaa? /kedipgenit/ thanks ya reviewnya! X3
Yunjou: punya saudara juga gak selalu enak kok, apalagi kalo udah berantem beuh :I aku juga sama! tapi coba aja untuk sabar soalnya sepupu aku kan masih kecil, namanya juga anak-anak. Wakakakak silahkan ucapkan itu ke Akashi karena dia yang akan nanganin semuanya! Hehe bisa dipertimbangkan itu, thanks untuk reviewnya sekaligus masukan idenya XD
yaoiHunhan: Jangan sedih dulu dong, masalahnya aja belom dimulai hehe wah gimana yaaa? liat aja deh yaa. Aku gak yakin deh soalnya aku mau bikin dia nangis /senyumjahat/ Ini dia lanjutannya! Thanks ya! XD
ini reviewnya berapa ya? Aku lupa chap kemaren jumlah reviewnya berapa, 19 bukan sih semuanya? Yang penting thanks buat kalian semua yang udah review! /ketauanpayahngitungnya/
Special thanks: scarletjacket, BlueBubbleBoom, yuukihanami.5, Eqa Skylight, Hana Kijimuta, Shiraumemachida, Letty-Chan19, el Cierto, UchiHarunoKid, Fujiwara Kumiko024, Tsukkika Fleur, Guest, biyachan, Anon, midoaka, Aka Shagatta, Harpgirl, Yunjou, yaoiHunhan, KUROUJI, kiiroiyuuri, witchsong, Byun baekzizi.
FYI, aku berusaha sebisa mungkin untuk bikin fic ini sedekat mungkin latarnya yaitu Jepang dan sedeket mungkin karakter mereka sama di manga, termasuk hal-hal kecil kayak Ryouta yang pinter , Akashi yang suka sup tahu, Midorin yang suka kacang merah, bahkan Hayakawa yang L sama R-nya terbalik-balik. Hehe, jadi mungkin bakal ada yang sedikit kebingungan sama karakter dan setting-nya. Btw, Tanaka itu bukan OC, coba aja cari di wikia, pasti ketemu deh.
Sore ja! Review please?
