Kuroko no Basuke hanya milik Fujimaki Tadatoshi. Lirik lagu di sini milik Robert Lopez dan istrinya. DDR juga bukan punyaku.
Cerita ini hanya milik saya seorang.
Warning: AU, Real&Nice! Akashi, brotherly love! a lot of them I think, cuteness ahead(?), alur kecepetan, OOC, typo, DLDR!
pengingat mulai dari chapter ini:
Seijuurou = 16 tahun
Shintarou = 13 tahun
Atsushi = 12 tahun
Ryouta = 10 tahun
Daiki = 9 tahun
Tetsuya = 5 tahun
Enjoy! Important Note below?
Chapter 7: As Teen, Oblivious
Darah.
Darah merembes. Darah menggenang. Darah mengering dan menghitam. Darah yang menggumpal.
Darah. Darah. Darah.
Lautan merah darah adalah spektrum warna yang memenuhi penglihatan Ryouta kini. Begitu banyaknya warna tersebut hingga cairan tersebut menggenangi kaki jenjang Ryouta hingga sebatas kaki. Beserta sosok seseorang yang berdiri tak jauh darinya dengan kedua tangan terpaut di belakang tubuh.
Namun meski Ryouta berdiri tak terlalu jauh dari sosok tersebut, mata keemasan Ryouta sama sekali tak bisa melihat jelas rupa dari sosok tersebut. Hanya seulas senyum lembut yang bisa ditangkap samar-samar oleh sepasang mata Ryouta.
Tak peduli seberapa bagus matanya. Tak peduli seberapa banyak Ryouta menyipitkan mata dan mencondongkan kepala, sosok itu tak pernah terlihat jelas.
Sejak empat tahun yang lalu.
Ryouta mulai gelisah. Keringat dingin mulai mengaliri pelipis Ryouta dan jatuh. Bercampur dengan genangan di kakinya. Anak berambut pirang tersebut berusaha keras untuk tak bernapas terlalu cepat dan membuat kepalanya pusing. Ada rasa aneh menggenang dalam perutnya yang Ryouta tak ketahui apa.
Sebelah tangan Ryouta terangkat ke udara. Seakan berusaha untuk menggapai sosok tersebut dan menariknya mendekat agar Ryouta bisa melihatnya lebih jelas.
Yang terjadi justru sebaliknya.
Sosok tersebut semakin mengabur. Sebelah kaki Ryouta mengambil langkah pendek mendekat dan sosok itu justru mengambil satu langkah menjauh. Seakan-akan sosok itu adalah bayangan Ryouta dalam cermin.
Mulut Ryouta terbuka. Tanpa sadar mengisap begitu banyak udara untuk dilepaskan sekaligus setelahnya. Namun suara Ryouta tak kunjung keluar. Sementara sosok di hadapannya terus menjauh.
Tepat ketika itu, Mata keemasan Ryouta membelalak terbuka.
Dan hal pertama yang masuk ke dalam pikirannya adalah apa yang dilihatnya barusan hanyalah mimpi belaka dan kini ia tengah berada di kamarnya. Terduduk di atas kursi di hadapan meja belajar dengan kepala yang diletakkan di atas kedua tangan yang menjadi bantal darurat serta napas yang tersengal.
Satu buah buku tulis yang masih putih tanpa terisi angka-angka matematika–tapi ada sedikit bercak gelap karena basah oleh cairan yang kalian tahu apa—terbentang di bawah kepala Ryouta.
Kepala bersurai kuning tersebut terangkat perlahan. Mencoba mengingat kembali apa yang dilakukannya sebelum ini hingga bagaimana ia bisa berakhir tertidur di atas meja belajarnya. Sebelah tangan Ryouta terangkat dan mengusap wajahnya dalam aksi frustrasi.
Erangan yang terdengar putus asa terdengar lolos dari kurungan mulut bocah kelas lima sekolah dasar tersebut.
Ternyata aku memang tidak bisa...
Daiki melemparkan tasnya di atas tempat tidur double-nya dengan gerakan yang terlihat jelas kalau ia tengah sedikit gusar. Dengan sekali lompat, ia telah berada di atas tempat tidurnya yang berderit ketika harus menanggung beban anak tersebut.
Ia memejamkan mata biru tuanya dan menghela napas panjang.
Kenapa menghapal dan memerankan sebuah tokoh saja rasanya sulit sekali?
Mungkin sudah ada lima puluh kali ia harus mengulang hanya agar bisa mengucapkan satu baris dialog dengan sempurna di telinga gurunya yang merangkap sebagai pelatih mereka. Menurut guru Daiki, kata-kata yang diucapkan Daiki jadi terasa tak bermakna karena Daiki tak mengatakannya dalam intonasi yang tepat, atau Daiki tak mencurahkan segala perasaannya ke dalam tokoh yang diperankan dan berbagai kritikan lainnya yang tak begitu masuk ke telinga Daiki.
Namun karena melihat Daiki yang telah frustrasi dan garuk-garuk kepala ketika disuruh mengulang dialog yang sebenarnya hanya berisikan kalimat 'Ibu, aku akan membuangmu ke hutan!', akhirnya guru tersebut hanya geleng-geleng kepala dan menyuruh Daiki pulang.
Tentu saja Daiki tetap harus berlatih di rumah. Di depan cermin atau di depan saudaranya tentu saja.
Daiki menoleh ke arah tasnya yang tergeletak begitu saja dengan jarak sejangkauan tangan darinya. Bibir tipis anak itu merapat hingga membentuk satu garis datar. Ia sebenarnya malas melakukan ini. Namun apa boleh buat? Ini semua demi terwujudnya apa yang diinginkannya.
Satu-satunya alasan ia menerima peran berat tersebut adalah karena gurunya mengatakan kalau Daiki akan membuat keluarganya bangga jika bisa –dan bersedia—memerankan peran sebagai tokoh utama.
Karena Daiki sangat jarang membuat keluarganya bangga –terutama membuat kakak sulungnya bangga—maka Daiki langsung saja menerima tawaran tersebut meski sebenarnya ia melakukannya setengah hati.
Mungkin memang Daiki tak menunjukkannya secara terang-terangan, tapi ia sebenarnya sangat ingin memberikan suatu kebanggaan pada seluruh kakaknya dan Tetsuya karena telah memiliki seorang saudara seperti dirinya.
Dan Daiki sadar betul kalau dalam empat tahun terakhir ia belum membuahkan hasil apa pun.
Dengan malas dan tanpa bangkit dari tempat tidur, Daiki menarik tasnya mendekat, membuka kait tas tersebut dan merogoh isi dalamnya untuk menemukan sekumpulan kertas berisikan dialog-dialog dalam drama kelasnya.
Setelah tangannya berhasil menggapai dan menarik kertas tersebut, Daiki memindai kertas tersebut dengan mata biru tuanya. Lebih tepatnya, memindai baris-baris kata yang ditandai dengan stabilo kuning terang. Tanda kalau itulah dialog milik Daiki.
Daiki mengangkat punggungnya hingga kini ia duduk di atas ranjangnya. Mulutnya bergerak-gerak merapal dialog yang sudah berubah menjadi semacam mantra bagi Daiki. Sesekali matanya berputar untuk mengingat kalimat tersebut.
Tanpa sadar, sebelah tangan Daiki yang tak memegang kertas naskah tersebut terangkat dan Daiki melompat turun dari tempat tidurnya. Daiki terus memerankan perannya hingga sampailah ia di dialog terkutuk tadi.
"Ibu, aku akan membuangmu ke hutan!" seru Daiki sekeras mungkin sembari menunjuk udara di hadapannya. Sebisa mungkin ia mengerutkan alisnya namun kedua alisnya justru berkedut aneh. Sudut bibirnya yang sebisa mungkin ia lengkungkan ke bawah, justru mulai memberontak dan melengkung ke atas dalam usaha gagal untuk menahan diri dari menertawakan diri sendiri.
Sial.
Ada sesuatu yang kurang dalam dialog itu. Meski bodoh dan buta dalam seni peran, tapi Daiki tahu kalau intonasi yang ia gunakan tadi salah. Seharusnya ada nada tegas yang bergetar dengan kesedihan dan rasa tak tega. Yang ia perankan ini pemeran utama Ubasuteyama, anak yang kasar dan bertanggung jawab serta sangat menyayangi ibunya namun terpaksa membuang ibunya karena terikat tradisi.
Tapi Daiki selalu mengatakannya dengan datar; atau mendekati datar.
Daiki menatap kertas dialog di tangannya dengan pandangan kesal. Mulutnya mendesis pelan. Sesaat kemudian ia meremas rambutnya sendiri dengan kepala mendongak ke langit-langit karena frustrasi.
"Aaaah! Sulit sekaliiiiii!" teriak Daiki tanpa sadar kalau suaranya bisa terdengar ke kamar sebelah dengan cukup jelas. Jika saja ini bukan demi keluarganya, ia pasti sudah membuang kertas itu ke tanah dan menginjak-injaknya karena geram.
Terkutuklah Ubasuteyama dan ibunya. Terkutuklah drama.
Lagi pula siapa yang pertama kali menciptakan drama? Drama benar-benar merepotkan!
Daiki nyaris melemparkan naskahnya ke udara jika saja suara pintu dibanting terbuka tidak mendahului aksinya. Daiki menoleh ke belakang dan sosok kakaknya yang berambut pirang dan kekanakan memasuki penglihatannya.
Mood Daiki bertambah buruk.
"Daikicchi! Main, yuk-ssu!" seru kakaknya yang kelihatannya sama sekali tidak bisa membaca situasi. Terlihat saja dari wajahnya yang kelihatan begitu berseri padahal baru saja membanting pintu kamar orang sesuka hati tanpa peduli si empunya kamar sedang apa.
Untung saja Daiki tidak sedang ganti baju tadi. Kalau tidak?
Daiki kembali mengutuk dalam hati. Ia benar-benar berharap untuk sekali ini saja, kakaknya bisa memahami situasi orang lain dan tak seenak hatinya meminta orang lain melakukan apa yang diinginkannya.
"Aku sibuk! Tidak bisa lihat?" kata Daiki pedas. Lebih pedas dari biasanya. Ia kembali memunggungi kakaknya yang terdiam di mulut pintu. Sebelah tangan kakaknya bahkan masih belum meninggalkan kenop pintu tersebut. Dan meski Daiki tak bisa melihat apa yang dilakukan kakaknya, anak berkulit hitam tersebut bisa merasakan tatapan kakaknya pada punggungnya.
"Sedang apa-ssu?" tanya Ryouta –kini dengan volume suara yang lebih pelan—sembari menutup pintu dan berjalan ke arah tempat tidur Daiki dan tanpa seizin si empunya kasur, langsung menjatuhkan tubuhnya di atas kasur empuk tersebut. Daiki hanya meliriknya dari sudut matanya sebelum kembali fokus pada dialognya.
"Sedang latihan drama," jawab Daiki ketus. Sebelah tangannya kembali menggaruk sisi kepalanya hingga Ryouta berpikir mungkin Daiki menggaruk kepalanya bukan karena ia pusing dan frustrasi tapi karena kepalanya memang gatal.
Ryouta memerhatikan apa yang dilakukan Daiki –bicara keras tidak jelas sembari menggerak-gerakkan tangan dan kaki—di tengah kamarnya yang luas. Mata Ryouta menatap Daiki yang bergerak setengah hati dengan binar senang.
Lucu melihat sandiwara Daiki yang benar-benar... terlihat amatir. Jika dilihat dari dekat, semburat merah muda akan terlihat samar-samar tersapu di kedua belah pipi Daiki. Mungkin ia malu karena tiba-tiba mendapat penonton tak diundang.
"Ibu, aku akan membuangmu ke hutan!" Daiki sekali lagi mengulang dialog tersebut dan alis pirang Ryouta berkerut mendengar intonasinya yang terdengar janggal. Intonasi yang berada di tengah garis yang membatasi tegas dan ragu.
Ryouta mendengus menahan tawa ketika Daiki meliriknya ragu-ragu. Berusaha mengintip reaksi Ryouta setelah mendengar kalimat tersebut dibacakan tapi berusaha untuk tak diketahui yang diintip.
Ryouta bangkit dari kasur Daiki dan merebut kertas di tangan adiknya cepat. Masih dengan tawa kecil yang keluar dari bibir tipisnya.
"Kemarikan kertas itu-ssu! Akan kutunjukkan bagaimana itu dikatakan-ssu!" Senyum lebar yang mirip seringaian menghiasi wajah tampan anak tersebut, "Lihat dan amati-ssu."
Meski kesal, tapi Daiki menuruti kakaknya. Ia mundur teratur dan membiarkan kakaknya mencoba membacakan dialognya keras-keras. Dalam hati anak berambut hitam tersebut sebenarnya pesimis kalau kakaknya akan bisa memerankannya dengan lebih baik mengingat ia tak pernah melihat kakaknya bersandiwara.
Daiki duduk menggantikan posisi Ryouta dengan kedua tangan bersilang di depan dada. Mata biru tuanya menatap sosok Ryouta yang berdiri tak jauh dari hadapannya yang tengah menarik napas dan memindai kertas naskah di tangannya saksama.
"Ibu," kata Ryouta tegas pada udara di hadapannya. Tatapannya fokus meski hanya ada udara di sana. Binar matanya berganti antara ragu dan tak tega. Kedua tangan anak tersebut terkepal. Di samping rubuhnya. Ryouta menutup matanya rapat-rapat lantas menelan ludahnya sebelum ia melanjutkan, "aku akan membuangmu ke hutan!"
Intonasi Ryouta berusaha ditegas-tegaskan namun jelas di sana kalau yang bicara tengah merasakan konflik batin. Antara berusaha tegas dengan tak tega mengatakannya. Suaranya yang agak bergetar di akhir, tubuhnya yang bergetar terutama di bagian tangan yang terkepal di bawah dan kedua bahu yang begitu tegang.
Mata biru tua Daiki melebar. Siapa yang sangka kalau ternyata Ryouta bisa melakukan seni peran dengan baik?
Tubuhnya yang seakan berusaha menolak apa yang dikatakannya. Kata-katanya yang seakan mengucapkan dialog terselip yang berbunyi 'maaf Ibu, aku sama sekali tak bermaksud mengatakannya. Tolong mengertilah' pada sang ibu imajiner.
Singkat kata, inilah yang sejak tadi berusaha Daiki dapatkan namun tak kunjung berhasil.
Tanpa sadar dan entah sejak kapan, mulut Daiki sudah terbuka. Ryouta menghela napas dan membalikkan badannya ke arah Daiki di tempat tidur. Senyum lebar masih setia bertengger di bibirnya yang tipis. Senyum sedikit sombong lebih tepatnya.
"Begitu cara memerankannya-ssu!"
Daiki tidak mau mengakuinya, tapi setelah ini, pemeranan Ryouta tadi akan ia jadikan acuan untuk ke depannya. Bibirnya mengerucut dan matanya menolak untuk menatap Ryouta tepat di mata. Ia menggumam pelan. Sangat pelan hingga Ryouta tak bisa mendengarnya.
Ryouta mencondongkan badannya ke depan agar bisa mendengar gumaman Daiki lebih jelas. Namun tak berhasil, "Kau bilang apa tadi, Daikicchi?"
Daiki memandang kesal kakaknya dan cepat-cepat mendorong kakaknya menjauh. Anak berkulit hitam itu berputar ke punggung kakaknya dan mendorongnya ke arah pintu.
"Sudah, aku mau latihan! Main sama yang lain saja sana!"
Ryouta menggerutu. Alisnya bertemu dan bibirnya dikerucutkan. Tentu saja anak berambut pirang itu tak akan semudah itu menyerah mencapai apa yang diinginkannya. Ia berbalik dan kini menawarkan diri.
"Bagaimana kalau aku bantu Daikicchi latihan-ssu?"
Sukses. Daiki sama sekali tidak menolak ketika Ryouta menawarkan diri menjadi pelatih pribadinya. Meski harga diri sama sekali tak terima –hei, ia selalu menang dari Ryouta! Sekarang ia justru kalah dan harus rela belajar dari kakaknya tersebut—ia tetap menurut dan memerhatikan setiap gerak Ryouta ketika memberikan contoh.
Anak berambut biru tua tersebut tahu betul kalau ia tak begitu bisa membanggakan kakaknya –terutama si sulung—selama empat tahun ia tinggal di rumah tersebut. Maka dari itu, ketika kini kesempatan itu datang, Daiki sama sekali tak bersedia melewatkan kesempatan tersebut.
Kali ini, pasti, ia akan membuat kakak sulungnya cukup bangga dengannya hingga bisa mengatakan 'inilah adikku, Daiki' dengan senyum puas dan bangga pada orang-orang yang ia kenal, tidak, pada dunia.
Satu yang Daiki tidak tahu, kalau sebenarnya saat mengucapkan kalimat tadi, tangan Ryouta yang bergetar bukanlah sebuah sandiwara.
Ryouta berjalan meniti tangga dengan sebelah tangan yang tersangkut dalam saku celananya. Di depannya tengah berjalan Daiki. Mereka berdua sama-sama tengah menuju ruang makan setelah beberapa menit yang lalu kakak mereka, Atsushi, memanggil mereka untuk turun dan ikut makan malam.
"Daikicchi hebat. Baru beberapa hari latihan tapi sudah meningkat banyak-ssu," puji Ryouta. Mulutnya memuji tapi matanya fokus melihat tangga di bawahnya. Daiki menoleh tiba-tiba dan menghentikan langkahnya hingga Ryouta berdiri di sampingnya. Sesaat kemudian kedua pipinya memerah dan matanya bergerak liar ke arah lain selain Ryouta.
Ryouta tersenyum. Sebuah senyum tulus yang tak diperlihatkan anak itu ke sembarang orang. Sebelah tangan anak berambut pirang tersebut terangkat dan mengusap kepala adiknya lembut tapi cepat hingga tanpa sadar Daiki merendahkan kepalanya.
"Hebat, tapi tetap tidak sehebat aku-ssu," kata Ryouta sebelum mengusap kepala adiknya lebih keras lantas melompati dua tangga terakhir di depannya dan berlari menuju ruang makan meninggalkan Daiki yang hanya bisa berseru 'hei!' di belakangnya.
Cepat-cepat Ryouta menarik salah satu kursi kosong yang berada di sebelah kiri dan melompat duduk di atasnya. Tak berapa lama kemudian, Daiki datang dengan langkah pelan namun wajahnya ditekuk tak suka. Tak henti-hentinya anak berkulit hitam itu melirik sebal ke arah kakaknya yang pura-pura tak tahu apa-apa dengan menyesap sup gratinnya dalam diam.
Setelah Daiki duduk di kursi kosong tepat di seberang Ryouta, mata keemasan Ryouta yang tadinya melirik sosok adiknya tersebut berpindah fokus menjadi ke arah kakak sulungnya yang sekilas terlihat seperti biasa. Diam, tenang namun tetap berwibawa.
Tapi bukan Ryouta namanya jika tak peka bukan?
Sejak mereka berdua pergi saat Golden Week yang lalu, kakaknya berubah sedikit demi sedikit. Ia kelihatan tertekan, stress. Penampilannya yang selalu rapi kini sedikit berantakan, terutama di bagian rambut. Yah, untuk standar orang biasa mungkin penampilan si sulung Akashi tetap dikatakan sangat rapi.
Kemudian, entah kenapa, kian hari mata kiri Seijuurou kian menguning. Kini warnanya tak lagi merah kembar namun justru merupakan campuran tiga per empat merah dan seperempat kuning. Hal yang baru namun aneh jika dilihat dari sudut pandang Ryouta.
Lalu, Seijuurou tak lagi menghabiskan waktu luangnya bersama mereka. Tentu Seijuurou masih melakukan tugas-tugasnya di pagi hari semacam membangunkan mereka semua, memastikan barang-barang mereka tak ada yang terlupa, dan menjadi yang terakhir pergi ke sekolah.
Namun Seijuurou tak lagi pernah hadir ketika mereka melakukan ritual sehabis makan malam yang mereka lakukan setiap hari; berkumpul di ruang keluarga. Sebuah ritual yang empat tahun lalu mereka mulai atas kata-kata Seijuurou.
Mereka boleh melakukan apa pun; mulai dari bermain, nonton televisi, mengerjakan tugas atau hanya berbicara sekali pun. Asal mereka tetap bersama setiap malam di satu ruangan itu, berbagi cerita tentang hari yang telah terlewati dengan satu sama lain agar mereka lebih mengerti diri saudara mereka sendiri.
Sekarang si pencetus idelah yang justru melanggarnya.
Dan alasannya selalu sama; ada pekerjaan.
Ryouta mendengus kecewa setelah menurunkan mangkuk berisi sup gratin dari bibirnya. Kedua kelopak matanya bergerak menutup hingga kini hanya terbuka setengahnya. Kedua mata coklat keemasannya berbinar sendu.
Padahal jika keadaan mental Seijuurou malam ini terlihat lebih baik, rencananya Ryouta akan memberitahu Seijuurou tentang sekolahnya dan Daiki yang akan membuka sekolah untuk umum dan wali murid diundang untuk melihat siswa-siswa menampilkan karya mereka untuk Hari Ibu.
Ia sungguh berharap Seijuurou bisa datang sebagai walinya dan melihatnya membacakan karangannya nanti di kelas.
Tapi jika dilihat dari aura tertekan, arogan, serta aura yang terasa seperti mengatakan 'jangan macam-macam atau aku akan marah' yang dikeluarkan Seijuurou sejak tadi, mungkin... mungkin... Ryouta akan minta Paman Teppei atau Bibi Riko atau bahkan mungkin Kak Junpei saja yang datang minggu depan.
Ryouta menggigit bibir sebagai ungkapan menahan diri agar ia tak mengatakan apa pun. Sebelah tangannya yang mengapit sumpit ia gerakkan menyuapkan satu gulung telur ke dalam mulut. Dan ia pun melanjutkan makan malamnya.
Daiki menghela napas dalam-dalam seraya memejamkan kedua mata biru tuanya lantas mengembuskannya pelan-pelan melewati mulut. Kini ia tengah berdiri tegak di depan pintu kamar si sulung Akashi. Bulir-bulir air hangat sisa mandinya barusan masih terlihat di beberapa tempat di tubuhnya, bercampur dengan beberapa bulir keringat yang muncul karena gugup.
Mulut anak berkulit hitam tersebut bergerak terbuka namun sesaat kemudian tertutup kembali. Tangan kanan anak tersebut terangkat namun sebelum buku jarinya sempat menyentuh kayu pintu di hadapannya, ia sudah menghentikannya di udara.
Daiki mungkin tidak sepeka Ryouta. Namun anak berambut biru tua tersebut juga tahu kalau akhir-akhir ini kakak sulungnya tengah sangat sibuk dan tak bisa diganggu.
Tapi hal yang ingin disampaikannya pada kakaknya kali ini sudah mengganggunya selama tiga hari penuh. Dan kini ia tak tahan lagi untuk tak mengatakannya pada figur kepala keluarga di rumah mereka.
Alhasil, setelah menyelesaikan perang batin dalam dirinya, Daiki berhasil mempertemukan buku jarinya dengan kayu pintu dan menghasilkan suara ketukan lembut namun tegas. Tak berapa lama kemudian, terdengar helaan napas frustrasi yang nyaris membuat Daiki patah semangat.
"Ryouta, sudah Kakak bilang Kakak sibuk. Kakak janji akan main denganmu lain kali, mengerti?"
Mendengar intonasi Seijuurou membuat Daiki nyaris bisa menggambarkan apa yang tengah dilakukan Seijuurou di dalam. Mungkin ia tengah duduk di depan meja belajarnya, dengan tangan yang memijat pelipis dan rahang yang tegang menahan kesal.
Sejujurnya, menurut Daiki, wajar jika Seijuurou kesal.
Bagaimana tidak? Kakak Daiki yang berambut pirang, Ryouta, tak berhenti mengetuk pintu Seijuurou setiap malam hanya untuk meminta si sulung ikut berkumpul bersama mereka di bawah. Tanpa peduli kalau pekerjaan apa pun yang tengah dilakukan Seijuurou sebenarnya belum selesai.
Menelan rasa kecewa sekaligus takut bulat-bulat, Daiki membuka mulutnya, "... ini Daiki."
Hening sesaat. Namun tak lama datang respons dari kakaknya, "Masuk."
Daiki memutar kenop pintu dan medorongnya perlahan. Muncullah sosok kakaknya yang persis sama dengan yang dibayangkan Daiki tadi. Kepala merah tertunduk ditopang sebelah tangan yang jari-jarinya kini tengah memijat pelipisnya yang kini mungkin tengah berdenyut hebat.
"Ada apa, Daiki?"
Jika dulu Seijuurou sering berkata dengan nada lembut namun ditegas-tegaskan kepada kelima adiknya, maka kini yang terdengar di telinga Daiki justru kebalikannya. Nada tegas cenderung kesal yang dilembut-lembutkan.
Dan asal tahu saja, nada itu memberikan efek yang jauh berbeda bagi Daiki.
"Ah..." Daiki berjalan ke samping meja belajar kakaknya yang dipenuhi berbagai kertas dengan angka-angka yang berderet enam bahkan tujuh ke belakang. Daiki sempat melirik kertas-kertas tersebut sesaat sebelum kembali memfokuskan pandangannya pada si sulung seorang.
Baru beberapa detik berada di bawah pandangan mata kakaknya, Daiki sudah merasa tak nyaman. Alhasil Daiki menundukkan kepalanya dan menjatuhkan pandangannya pada kedua tangan yang bertengger di sisi meja Seijuurou.
"Minggu depan," Daiki menjilat bibirnya, menghilangkan kering yang melanda sekaligus meringankan rasa gugup, "sekolah Daiki dan Ryouta akan dibuka untuk umum. Wali murid diundang. Kakak kan tahu kalau Daiki main drama nanti, jadi aku... ingin Kakak datang menonton Daiki nanti."
Seijuurou terdiam. Membuat Daiki justru semakin gugup. Buru-buru anak itu menambahkan, "tapi kalau Kakak sangat sibuk tidak datang juga tidak apa-apa. Daiki... mengerti."
Seijuurou mendengus. Untuk sesaat, Daiki mengira kalau dirinya akan dimarahi habis-habisan oleh kakaknya karena telah mengganggunya hanya untuk mengatakan hal tak penting seperti itu, namun perkiraannya salah karena sedetik kemudian, ia bisa merasakan sebuah tangan besar di atas kepalanya yang mengusap puncak kepalanya lembut.
Daiki mendongak dan mempertemukan matanya yang kontras dengan warna mata kakaknya. Senyum simpul terkembang di bibir kakaknya.
"Kalau Kakak sempat, Kakak pasti akan datang menonton," jawab Seijuurou lembut dengan anggukan kecil namun tetap ada. Kali ini nada itu benar-benar tulus keluar dari sela bibir Seijuurou dan bukannya nada tegas yang dilembutkan.
Saat itu juga, Daiki merasa seakan diri kakaknya yang dulu telah kembali setelah menghilang selama lebih dari seminggu belakangan.
Kata-kata singkat dari Seijuurou mampu membawa senyum cerah ke wajah hitam Daiki. Matanya merekah dan memancarkan sinar kegembiraan. Sesuatu yang sudah lama tak dilihat Seijuurou.
Dada Daiki sesak karena dipenuhi begitu banyak rasa bahagia. Amat sesak hingga ia harus mengatur napasnya terlebih dahulu sebelum bisa membuka mulutnya.
Akhirnya... akhirnya kakak akan melihatku yang berusaha membuatnya bangga.
"Janji?" Daiki mengangkat sebelah tangannya dengan kelingking yang teracung. Nada suaranya digantungi terdengar begitu senang. Seijuurou terkekeh melihat adiknya yang meski sudah kelas lima ternyata masih juga kekanakan.
"Janji."
Dengan itu, Seijuurou melingkarkan jari kelingkingnya dengan kelingking Daiki. Mengunci janji mereka hari itu dengan sebuah pautan jari terpendek mereka.
"Maaf mengganggu Kakak malam-malam begini hanya untuk menanyakan itu," kata Daiki ketika pautan jemari mereka telah terlepas. Ia meminta maaf tapi sepertinya tak benar-benar menyesal.
Detik itu juga Seijuurou berpikir dengan mata yang memutar ke atas, sesibuk dan segalak itukah dirinya belakangan ini hingga adiknya merasa perlu minta maaf hanya untuk memintanya datang ke pertunjukannya minggu depan?
"Tidak apa. Asal kalian tak terlalu menggangguku, tak apa," kata Seijuurou lembut.
Dan ketika suara pintu menutup memasuki lingkup pendengaran Seijuurou sekaligus figur Daiki menghilang di balik pintu, Seijuurou duduk bersandar di kursinya dengan jemari yang mengetuk-ngetuk permukaan meja.
Ia jadi semakin berpikir untuk cepat-cepat menyelesaikan masalah di perusahaannya ini demi adik-adiknya.
Seijuurou berjalan cepat membelah ramainya perusahaan keluarganya. Blazernya terlihat kusut dan penampilannya sedikit acak-acakan jika dibandingkan dengan biasanya. Namun pemuda itu sama sekali tak memedulikannya.
Ia berderap menuju ke sebuah lift yang di dalamnya telah terisi beberapa orang. Pintu besi lift tersebut hampir menutup ketika Seijuurou masih beberapa langkah darinya. Langkah kaki Seijuurou pun diperlebar.
Dengan sedikit usaha lebih, pemuda berambut merah tersebut akhirnya berhasil memasuki lift sebelum pintunya menutup. Di dalam lift tersebut, Seijuurou mengembuskan napas lega. Sebelah tangannya yang tak ia pakai untuk membawa tas sekolahnya ia gunakan untuk membetulkan posisi dasinya yang sedikit miring.
Angka-angka di atas pintu lift terus bergerak naik hingga sampailah lift besi tersebut ke lantai yang ingin dikunjungi Seijuurou. Dengan bunyi 'ting' lembut, pintu besi di depan si sulug Akashi terbuka dan sekali lagi, Seijuurou melangkah lebar keluar darinya.
Ia sudah terlambat lima menit untuk bertemu dengan Nijimura dan Haizaki. Lagi-lagi membahas masalah manajemen keuangan perusahaan yang sedikit berantakan. Semua ucapan terima kasih atas kekacauan itu tentu saja bisa diserahkan pada Haizaki.
Sejujurnya, masalah ini bisa saja selesai hanya dalam beberapa hari. Namun sekali lagi, semuanya terima kasih kepada Haizaki, sehingga pekerjaan mendata ulang ini tak kunjung selesai meski sudah hampir dua minggu.
Seijuurou mendorong sebuah pintu kaca di hadapannya dengan satu gerakan cepat. Sepasang iris merahnya yang kini tak lagi benar-benar kembar menjelajahi seluruh ruangan untuk mencari satu kepala berambut hitam yang dipotong rapi ke samping kiri.
Ketika matanya akhirnya berhasil menemukannya, ia bergegas duduk di samping sosok berambut hitam tadi, yang tak lain tak bukan adalah Nijimura.
Nijimura masih seperti biasanya, rapi dengan setelan kantornya; kemeja, dasi, dan celana panjang. Agak kontras rasanya jika dibandingkan dengan penampilan Seijuurou yang sedikit acak-acakan. Maklum, ia baru selesai latihan basket ketika harus bergegas pergi ke kantor.
Tanpa sadar, Seijuurou merapikan blazer serta kemejanya sebelum mengeluarkan segala hal yang akan diperlukannya nanti ketika mendata ulang bersama dengan Nijimura dan Haizaki. Mata hitam Nijimura mengikuti segala pergerakan Seijuurou yang tengah mengeluarkan segala laporan yang sudah ditelitinya semalam.
Sebelah tangan pemuda yang lebih tua itu melingkar di pinggir mug berisi kopi di mejanya dan mengangkatnya hingga sejajar dengan wajah Seijuurou. Berhasil mengalihkan perhatian si sulung Akashi dari tumpukan kertas putih di depannya, Nijimura berkata, "Kopi?"
Seijuurou tersenyum simpul sebelum menolak dengan lembut. Setelah mengeluarkan semua yang mungkin akan diperlukannya, Seijuurou mulai membahas apa-apa saja yang sudah ditelitinya dan bagian mana lagi yang harus mereka diskusikan dengan Haizaki.
Dalam diam, Nijimura menyesap kopinya pelan. Mata hitamnya sesekali bergerak dari kertas ke Seijuurou dan begitu juga sebaliknya. Beberapa pikiran melintas di kepala hitam Nijimura, seperti mungkin Seijuurou akan menjadi pemimpin yang baik kelak, namun entah kenapa, akhir-akhir ini Nijimura merasa ada yang berbeda –dalam artian buruk—dari diri pemuda SMA di hadapannya.
"Nijimura-san, kau mendengarkan?" kata Seijuurou lembut namun tegas. Matanya yang mulai berbeda warna melirik Nijimura dengan pandangan penuh tanya. Sebelah tangannya memegang pena merah yang mungkin baru saja dicoretkan ke atas kertas di tangannya yang lain. Terbukti dari satu lingkaran merah pada satu kotak kosong pada kertas itu.
Sepasang iris hitam Nijimura melebar. Tanpa sadar, ia sudah melamun tadi dan melewatkan penjelasan apa pun itu yang dikemukakan oleh Seijuurou. Sebelah tangan Nijimura yang tadi digunakannya untuk mengangkat mug, kini ia ia turunkan dan diletakkannya mug tersebut di atas meja kerjanya.
"Ah, ya, maaf. Mari kuperiksa kertasnya."
Seijuurou memindahkan kertasnya ke tangan Nijimura dan pemuda yang lebih tua itu mulai memindai kertas di hadapannya. Menilai hasil kerja Seijuurou.
"Bagus. Jika begini terus, ini bisa selesai dalam waktu kurang dari tiga hari," lirih Nijimura berkata. Seijuurou menghela napas lega. Akhirnya ia bisa kembali berkumpul dengan adik-adiknya, "sekarang kita hanya perlu menunggu kedatangan Haizaki—"
"Jadi kalian menunggu Haizaki?" kata salah seorang karyawan –yang mungkin merupakan teman Nijimura juga— yang kini tengah menatap mereka dari atas kubikel yang membatasi area kerja Nijimura dan area kerjanya. Kedua tangan karyawan itu disilangkan di atas sisi pembatas kubikel Nijimura, "dia sudah pulang. Sejak jam makan siang tadi. Kalian tidak tahu?"
Sebuah urat muncul di pelipis Nijimura sedangkan Seijuurou bisa merasakan rasa panas di dadanya yang menjalar dan membuat pikirannya terasa sedikit berkabut. Dengan kata lain, Seijuurou tengah merasa jengkel. Jengkel yang mulai menumpuk di hatinya sejak seminggu terakhir.
Suara ketukan pintu kembali terdengar. Entah sudah untuk yang keberapa kali pintu itu diketuk dalam sepuluh menit terakhir. Seijuurou memejamkan mata dan memijat pangkal hidungnya dalam aksi mengalihkan rasa kesal.
"Kak Seijuuroucchi, ayo main-ssu!" seru suara di balik pintu. Suara yang sama dengan suara yang telah memanggil namanya selama sepuluh menit terakhir. Suara cempreng milik adiknya yang ketiga sekaligus yang paling cerewet.
Rahang Seijuurou mengeras.
Sejujurnya, ia hanya seorang remaja normal yang kini tengah menjalani titik tertinggi dalam masa pubertas. Itu artinya ia hanyalah remaja lelaki normal yang keadaan mentalnya juga kurang stabil selama masa-masa tersebut. Terlebih hari ini tak bisa dikategorikan hari terbaik dalam hidupnya. Kenapa adiknya tidak mau mengerti? Bahkan setelah ia pulang ke rumah dengan aura yang lebih menyeramkan dari sebelumnya?
Emosi Seijuurou jadi semakin labil karena ia lelah setelah beraktivitas seharian ini, terlebih lagi Haizaki benar-benar tidak kembali meski sudah ditelepon berkali-kali dan secara tak langsung meninggalkannya dengan Nijimura untuk membereskan kekacauan yang sebenarnya ialah yang membuatnya.
Lalu sekarang, saat Seijuurou tengah sibuk menyelesaikan kekacauan Haizaki itu, adiknya tak mau mengerti dan terus-terusan mengetuk pintu kamarnya hingga konsentrasinya pecah berkeping-keping.
"Kakak sibuk, Ryouta."
Masih jawaban yang sama yang dikeluarkan Seijuurou dengan jawaban yang ia berikan pada adiknya sepuluh menit lalu. Setelah menarik napas dalam lantas mengeluarkannya, Seijuurou berkata dengan suara yang diusahakannya lembut, namun justru terdengar lebih seperti suara orang yang sudah putus asa.
"Lain kali, oke? Kakak akan main denganmu lain kali... Kakak mohon..."
Suara pintu yang kini terdengar begitu menyebalkan sekarang di telinga Seijuurou kembali menggema di seluruh penjuru kamarnya. Bahu Seijuurou melemas sebentar sebelum kembali menegang. Bahkan sedikit bergetar.
Ia benar-benar telah berusaha menahan kemarahannya.
Namun sekarang ini Ryouta sudah keterlaluan. Bukankah Seijuurou sudah berkata kalau ia sibuk selama sepuluh menit terakhir? Kenapa anak itu tetap bersikeras mengajaknya bermain?
Seijuurou menggigit bibir dan beranjak dari kursinya. Dengan langkah tegas ia berjalan ke arah pintu dan dengan tenaga yang sedikit berlebihan, Seijuurou menggenggam kenop pintu tersebut dan menariknya terbuka.
Tampaklah sosok pelaku yang telah menyebabkan ia tidak bisa berkonsentrasi mengerjakan tugas-tugasnya –mulai dari tugas perusahaan sampai tugas sekolah—selama beberapa menit, tidak, selama beberapa minggu terakhir yang kini mulutnya terbuka. Sudah bisa ditebak kalau anak itu baru saja bersiap untuk memanggil Seijuurou lagi.
"Ryouta, bukankah Kakak sudah bilang kalau Kakak sibuk? Kalau Kakak tidak sibuk, Kakak pasti akan main denganmu," ucap Seijuurou. Tanpa sadar nada bicaranya terdengar sedikit menggigit. Seijuurou tahu itu. Sangat tahu malah, tapi entah kenapa ia kini tak bisa menahan lidahnya untuk berkata sekasar itu.
Mulutnya bekerja lebih cepat dari otaknya.
Ryouta menunduk. Kedua tangannya kini ia simpan di belakang punggung.
"Maaf, tapi sebenarnya ada yang ingin kutanyakan—"
"Itu bisa menunggu, bukan?"
Ryouta mendongak, tapi sebelum anak berambut pirang tersebut sempat mengutarakan apa pun itu yang ingin ia ucapkan, pintu putih di depannya telah menutup. Meninggalkan Ryouta yang berdiri sendiri di depannya dengan ekspresi kecewa.
Pintu kayu putih yang menghubungkan lorong dengan kamar Shintarou terbuka perlahan sebelum kepala berambut kuning menyembul dari baliknya. Tanpa sadar, Shintarou menghentikan laju pensilnya yang sejak tadi terus menari di atas kertas dalam usaha menyelesaikan pekerjaan rumah.
Kepalanya ia arahkan kepada sang adik yang seakan menunggu izinnya untuk masuk.
Mungkin Shintarou bukanlah anak yang paling peka di rumah keluarga Akashi. Namun jika dilihat dengan teliti, orang setumpul Shintarou juga bisa tahu kalau sekarang adiknya, Ryouta, tengah berdiri gelisah di pintu kamarnya, seakan ingin cepat-cepat mengatakan sesuatu yang tengah mengganggunya.
"Masuk," kata Shintarou pelan seraya sebelah tangannya menaikkan gagang kacamatanya.
Ryouta pun masuk dan menutup pintu kayu putih tersebut dengan perlahan. Dengan langkah yang jauh lebih lembut dari biasanya, ia berjalan ke arah kakaknya yang berambut hijau lembut tersebut. Selama perjalanannya dari pintu ke meja belajar Shintarou, Ryouta tak kunjung mengangkat kepalanya.
Ada yang salah, batin Shintarou.
"Emm, Kak, aku mau tanya-ssu..." Ryouta menggerak-gerakkan kaki berbalut kaus kakinya di lantai, menggambar pola-pola abstrak dengan jari-jarinya di lantai marmer kamar Shintarou.
"Apa?"
Ryouta mendekat ke maja belajar Shintarou dan kedua tangannya menggenggam ujung meja belajar tersebut. Sepasang mata coklat kekuningannya menatap mata Shintarou yang balas menatapnya. "Kakak pernah disuruh membuat karangan tentang ibu, kan-ssu?"
Sebelah alis Shintarou naik. Ada apa dengan pertanyaan aneh yang tiba-tiba ini?
"Tentu saja pernah," jawab Shintarou. Kepalanya ia palingkan sedikit dari adiknya namun matanya tetap setia memandangi sosok adiknya yang jangkung tersebut. Lagi-lagi sebelah tangannya menaikkan gagang kacamatanya yang sebenarnya baik-baik saja.
"Apa yang Kakak tuliskan waktu itu-ssu?" tanya Ryouta. Dagunya ia letakkan di atas meja.
Perhatian Shintarou kini tertuju penuh ke arah adiknya. Sepasang mata hijau milik anak berkacamata tersebut menatap adiknya dengan tatapan yang seakan mengatakan 'kau bercanda, bukan?'
Karena bukankah jawabannya sudah jelas?
"Tentu saja tentang ibu. Namanya saja karangan tentang 'ibu'. Dasar bodoh." Shintarou memberikan penekanan di bagian 'ibu'.
"Tapi kita kan sudah tidak punya ibu. Lalu bagaimana-ssu?" tanya Ryouta. Kedua alis pirangnya berkerut samar. Mata coklat keemasannya membuat Shintarou merasa kalau ada cerita yang sengaja ditahannya, meski sebenarnya sudah ada di ujung lidah. Hanya perlu sedikit dorongan untuk bisa dikeluarkan.
"Kenapa tiba-tiba bertanya begitu?" pancing Shintarou.
"Tidak ada. Aku hanya kepikiran-ssu." Ryouta balik kanan dengan kepala tertunduk dan mulai berjalan menuju pintu keluar. Ekspresi wajahnya seakan melukiskan kalau jiwanya atau mungkin pikirannya tak tengah berada di situ saat ini.
Namun sebelum Ryouta benar-benar keluar dari kamarnya, telinga Shintarou berhasil menangkap satu baris kalimat yang terucap sangat lirih dari celah bibir Ryouta hingga ia hampir tak bisa mendengarnya jika tak pasang telinga baik-baik.
"Sebenarnya 'ibu' itu apa?"
"Yo, Ryouta!" sesosok anak lelaki dengan mata tertutup poni melambai ke arah Ryouta dari tangga. Kepala bersurai kuning Ryouta menoleh dan tangan Ryouta yang tadinya tengah menarik sepasang sepatu khusus di luar ruangannya kini terhenti.
Anak lelaki tersebut –Hara Kazuya—berlari kecil ke arah Ryouta yang kini melanjutkan kembali apa yang tengah dilakukannya; memakai sepatu dan pulang ke rumah. Dengan terburu-buru, Hara membuka lokernya, menjatuhkan sepatunya sekaligus memasukkan sepatu khusus di dalam ruangan miliknya dengan sembarangan dan segera mengejar Ryouta yang mulai berjalan keluar dari pintu.
"Yo!" sapa Hara sekali lagi, kali ini ditambah dengan sebuah tepukan di bahu Ryouta.
Ryouta menatap Hara dengan pandangan jengah sesaat. Sepersekian detik sebelum menghilang dan pandangannya kembali menjadi pandangan di antara datar dan bersemangat. Bibirnya melengkung memalsukan sebuah senyuman.
"Yo, Hara-ssu."
"Aku sedang bosan di rumah, bagaimana kalau kita mengambil jalan sedikit memutar?" tawar Hara dengan jempol yang menunjuk ke arah jalan di luar gerbang sekolah mereka.
Ryouta tertegun mendengar tawaran temannya tersebut. Sepasang mata coklat keemasannya memutar dalam rangka berpikir. Ia sedang ada masalah sekarang ini, namun satu-satunya orang yang bisa membantunya mengalihkan pikirannya dari masalah tersebut tengah sibuk bahkan hingga tak mau memandangnya, jadi... mungkin ini bukan ide yang buruk?
Lagi pula tak ada salahnya berjalan-jalan sedikit keliling kota sebelum pergi menjemput Tetsuya bukan?
Dengan mantap, Ryouta menganggukkan kepalanya menyetujui.
"Hee, jadi ini sekolah kakakmu, Ryouta?" tanya Hara. Kepalanya mendongak menatap bangunan megah berlabelkan SMA Rakuzan di hadapannya sedangkan tangannya menutupi matanya dari cahaya matahari sore yang cenderung menyilaukan.. Mulut anak berponi panjang itu masih sibuk mengunyah perment karet rasa mint yang tadi dibelinya bersama Ryouta di sebuah mini market.
Ryouta berdiri tegak di es loli tergenggam di salah satu tangan Ryouta.
Ah, ingin sekali rasanya Ryouta melangkahkan kaki pergi dari sana. Pergi jauh-jauh tanpa menoleh ke belakang. Astaga, tujuan awalnya menerima penawaran Hara adalah untuk mengalihkan pikirannya, tapi kenapa mereka justru pergi ke tempat yang bisa membuat pikirannya bertambah keruh?
"Argh..." tanpa sadar Ryouta menggumam. Kedua matanya yang cantik menyipit tanda tak suka.
Seakan tak menyadari –atau mungkin pura-pura tak menyadari—perasaan Ryouta saat ini, Hara melangkah memasuki pekarangan SMA Rakuzan tanpa peduli pada pandangan beberapa anak SMA Rakuzan yang keheranan melihat ke arahnya.
"Oi, Hara!" seru Ryouta dengan tangan terangkat. Mencoba untuk menahan Hara untuk tetap di sana, namun tentu saja tangannya tak berhasil menggapai bahu Hara yang sudah terlanjur menjauh.
"Selagi kita di sini, lebih baik kita lihat kakakmu bermain basket, Ryouta!"
Ryouta mengerang keras. Anak kelas lima sekolah dasar itu berusaha begitu keras untuk tak memedulikan pandangan aneh yang lagi-lagi dilontarkan siswa-siswa SMA Rakuzan yang lalu lalang di sekitar mereka. Maklum, sekarang sudah jam pulang sekolah.
Ryouta berlari kecil ke arah Hara yang terus saja melangkah maju. Kepala anak itu menoleh ke kanan dan kiri, mencari-cari di mana kira-kira gym berada. Sesekali mulutnya meniup permen karet yang tengah dikunyahnya menjadi balon-balon kecil.
"Hei, pulang saja yuk! Atau pergi ke tempat lain," ajak Ryouta setelah ia berhasil meyamakan langkah dengan Hara, berusaha sebisa mungkin untuk tak langsung saja menarik lengan temannya, kalau perlu menyeretnya, pergi dari sana. Alarm dalam kepala Ryouta mulai menggonggong keras. Meneriakinya untuk segera pergi dari sana sebelum Seijuurou melihat.
Hara sama sekali tak menggubrisnya dan terus berjalan. Ryouta lagi-lagi mengerang menahan kesal. Apa ia benar-benar harus menyeret Hara pergi dari sana? Sebisa mungkin Ryouta tak ingin memakai kekuatannya. Tapi jika Hara sudah menutup telinganya rapat-rapat seperti ini, maka sepertinya tidak ada pilihan lain bagi Ryouta.
Ryouta baru saja akan menarik lengan atas Hara jika saja Hara tak terlanjur berlari menjauhinya menuju ke sebuah gedung beratap melengkung menyerupai setengah lingkaran. Mau tak mau Ryouta segera mengejarnya karena jika tidak, bisa-bisa ia akan benar-benar masuk ke sana.
Sudah bisa terbayang oleh Ryouta bagaimana kalau Seijuurou melihat mereka berada di SMA Rakuzan. Ia pasti akan marah besar dan makin tak mau bicara pada Ryouta. Tentu saja hal itu merupakan hal terakhir yang diinginkan Ryouta saat ini.
Untungnya, Hara tak benar-benar masuk ke dalam dan hanya menempelkan wajahnya di salah satu jendela yang terletak di sisi gym tersebut. Meski tak dapat melihat keseluruhan lapangan di dalamnya, namun tetap cukup untuk membuat kedua anak tersebut bisa melihat aktivitas yang dilakukan di dalam bangunan tersebut.
Ryouta sebenarnya benci mengakui ini, namun tepat ketika ia melihat Hara menempelkan wajahnya di jendela dengan antusias, ia jadi ikut penasaran dan ingin bergabung dengan Hara mengintip apa yang tengah terjadi di dalam sana.
Jadi, bergabunglah ia, berdiri di samping Hara dan ikut melongok. Bisa dilihat di dalam sana kalau kakaknya yang paling tua tersebut tengah menjalani latih tanding dan kini tengah memberikan assist pada teman-temannya dengan pass yang begitu ajaib menurut Ryouta. Karena timing pass itu selalu tepat.
Ketika tengah sibuk memerhatikan aksi kakak sulungnya di dalam sana dengan kedua mata berbinar, Ryouta dikejutkan dengan suara helaan napas yang terdengar kecewa yang tak lain tak bukan berasal dari teman sekelasnya. Kepala kuning Ryouta menoleh ke asal suara dan tampaklah sosok Hara yang kini telah menjauhkan wajahnya dari jendela dengan kedua tangan di sisi pinggang.
"Karena kau selalu menyombongkan kakakmu di depan kami, kukira ia begitu hebat. Tapi ternyata ia biasa saja," Hara menyunggingkan sebuah seringai. Seringai meledek lebih tepatnya. Hara mendengus kecewa dan dengan kedua bahu terangkat ia melanjutkan, "sejak tadi ia hanya memberi pass."
Dada Ryouta terasa panas. Ia tidak terima. Tidak masalah jika Hara mau mengejeknya yang tidak bisa merayakan Hari Ibu karena tak lagi punya ibu, tentang ia yang tak bisa mengarang karangan tentang ibu karena ia tak lagi ingat seperti apa ibunya, tentang keluarganya yang tak sempurna karena tak tercantum ayah dan ibu di dalamnya, atau tentang dirinya yang mungkin pembawa sial karena orangtuanya yang selalu gugur sejak ia berusia lima tahun, tapi Ryouta tidak bisa terima jika sosok yang begitu disayanginya diejek Hara seperti itu!
Bagi Ryouta, Seijuurou itu adalah orang nomor satu saat ini dalam hidupnya. Empat tahun yang lalu, Seijuurou menerimanya dan Daiki dengan tangan terbuka lebar, bahkan menganggapnya seakan adik sendiri. Seijuurou... rela membuang kehidupan remajanya demi adik-adiknya, demi Ryouta. Seijuurou... selalu menyempatkan diri mendengarkan keluh kesah Ryouta, merawat Ryouta saat sakit bahkan menjelaskan materi-materi pelajaran pada Ryouta dengan begitu sabar.
Bagi Ryouta, Seijuurou sudah bagaikan sosok orangtua yang tak lagi bisa berada di samping Ryouta...
Karena itulah, menurut Ryouta, Seijuurou itu hebat! Sangat hebat hingga tak ada seorang pun yang bisa mengalahkan Seijuurou hingga detik ini. Amat sangat hebat hingga Seijuurou tak menonjolkan diri dan lebih memilih untuk memberikan dorongan pada orang lain. Terlalu hebat hingga kini Seijuurou lupa akan keluarganya sendiri...
Tapi meski begitu, Seijuurou tetap sosok nomor satu saat ini dan Ryouta tidak terima kakaknya diejek seperti itu.
Tinju Ryouta terkepal kuat di sisi tubuhnya. Begitu kuat hingga buku jarinya memutih dan tangannya bergetar hebat. Hanya tinggal menunggu otaknya memberikan sinyal dan kepalan tinju itu akan segera bersarang di wajah Hara.
Ryouta menggigit bibirnya. Mencoba menahan kesal terhadap anak lelaki berponi panjang di hadapannya satu ini. Menahan kesal yang sudah menggunung selama seminggu terakhir. Perasaan kesal yang telah dipendamnya bersama perasaan gelisah yang menhantuinya.
Ryouta memejamkan mata. Tinjunya bergerak menutup dan terbuka, terus seperti itu berkali-kali. Seakan tengah menimang-nimang dalam diri antara untuk meninju salah satu pipi anak lelaki di hadapannya atau tidak.
Pada akhirnya, sisi baik Ryouta lah yang menang dalam perang batin yang berlangsung dalam diri Ryouta. Dengan sedikit tak rela, kepalan tangan Ryouta mengendur perlahan hingga akhirnya benar-benar terbuka sempurna dan terkulai lemas di sisi tubuh anak tersebut. Mata Ryouta yang sejak tadi terkatup rapat, kini terbuka kembali.
Mulut Ryouta bergerak membuka.
"Hara, kurasa aku harus pergi sekarang-ssu..."
Ryouta menendang kerikil-kerikil di hadapannya dengan tak bersemangat. Cahaya keemasan matahari sore yang belum kehilangan kehangatannya membanjiri Ryouta yang tengah berjalan di sisi trotoar. Namun dengan segala pikiran yang berputar dalam kepalanya, Ryouta sama sekali tak menggubris rasa hangat tersebut.
Ia mencoba untuk melupakan apa yang dikatakan Hara padanya tadi. Tapi ternyata sulit sekali.
"Karena kau selalu menyombongkan kakakmu di depan kami, kukira ia begitu hebat. Tapi ternyata ia biasa saja."
Ryouta menggelengkan kepalanya beberapa kali guna menghilangkan sebaris kalimat Hara yang sempat singgah di pikirannya. Sudah sepuluh menit ia berusaha menghilangkan kalimat itu dari pikirannya namun hasilnya tetap nihil.
Dan sudah selama sepuluh menit pula Ryouta meyakinkan dirinya sendiri kalau kakaknya, Seijuurou, bukanlah orang yang seperti itu. Seijuurou itu hebat, dan akan selalu begitu dalam hati mau pun pikiran Ryouta.
"Ryou-chan?"
Ryouta menolehkan kepalanya cepat ke asal suara dan sesosok perempuan berambut merah muda panjang tergerai tengah melihat Ryouta dengan pandangan ragu yang jelas terpancar di kedua bola matanya yang besar.
"Ah, Kak Mamoicchi," gumam Ryouta, baru tersadar dari lamunannya.
Gadis berambut panjang tersebut berjalan perlahan menuju Ryouta sebelum akhirnya berjalan beriringan bersama dengan anak lelaki tersebut. Kedua tangan gadis itu terkait di belakang tubuhnya.
"Sedang apa di sini-ssu?" tanya Ryouta basa-basi dengan kepala menoleh ke arah gadis tersebut.
"Pergi menjemput Kagami-kun di TK, anak angkat kenalanku. Kalau Ryou-chan?" tanya Momoi ramah pada anak lelaki di sampingnya yang terlihat seakan jiwanya tengah berada di tempat lain sekarang ini.
"Sama, aku pergi menjemput adikku, Tetsuyacchi-ssu."
Sepi mengisi atmosfer di sekitar mereka dan es mulai terbentuk di sekitar mereka. Sesekali mata merah muda gelap Momoi melirik sosok Ryouta yang tengah berjalan di sampingnya dengan mata yang sendu dan tampak menerawang.
Jelas ada yang tengah mengganggu pikiran anak tersebut.
Momoi membuka mulutnya, bersiap mengatakan sesuatu pada Ryouta. Namun Ryouta terlanjur mengalahkannya.
"Kak, menurut Kakak, ibu itu apa-ssu?"
Sepasang mata Momoi melebar. Jujur saja, ini bukan pertanyaan yang biasanya dilontarkan anak-anak seumuran Ryouta pada gadis seumuran Momoi. Tapi kalau mengingat kondisi keluarga Akashi sekarang ini, maka pertanyaan Ryouta bisa dimaklumi.
Momoi meletakkan telunjuknya di dagu dan mulai menggumam. Kedua bola mata pink gelapnya diputarnya ke atas.
"Apa ibu itu cuma terbatas sebagai orang yang sudah melahirkan kita-ssu?" tanya Ryouta lagi. Sepasang mata coklat keemasannya menatap Momoi penuh harap. Momoi tak bisa tak berpikir kalau mungkin ini ada hubungannya dengan masalah yang menjadi pikiran Ryouta tadi.
Setelah beberapa saat berpikir, Momoi akhirnya mendengus, "aku rasa tidak. Misalnya saja, dalam bahasa Inggris, kata 'mother' dan 'mom' memiliki arti yang berbeda meski keduanya sama-sama berarti 'ibu'. 'Mother' berarti orang yang melahirkan kita, sedangkan 'mom' adalah orang yang bersedia memberikan hidupnya untuk membesarkan kita, seseorang yang bersedia menanggung beban, kewajiban, rasa sakit serta bahagianya membesarkan kita"
"Nah, jadi menurutku, kata 'ibu' memiliki arti yang luas. Tidak hanya terbatas pada 'orang yang melahirkan kita' saja," jelas Momoi panjang lebar dengan sebelah telunjuk teracung. Di bibir gadis itu tersungging sebuah senyum simpul yang lembut.
Sedangkan Ryouta memandang Momoi yang baru saja selesai menjelaskan dengan kedua mata melebar. Mulut Ryouta membuka membentuk celah tipis. Mungkin terpana mendengar penjelasan dari Momoi.
Perjalanan mereka menuju ke TK dilanjutkan dengan percakapan-percakapan kecil. Sejak Momoi selesai menjelaskan arti kata 'ibu', Ryouta tak ada lagi menyinggung persoalan tersebut, namun tanpa sepengetahuan Momoi, ia baru saja mengangkat sedikit rasa gelisah yang telah bersarang cukup lama dalam diri Ryouta.
Tetsuya yang telah berpakaian piyama lengkap berjinjit di depan pintu kayu putih di hadapannya. Kedua tangan kecilnya meraih kenop pintu dan memutarnya perlahan. Sembari menjaga keseimbangan tubuhnya agar ia tak jatuh setelah pintu terbuka, Tetsuya perlahan melepaskan pegangannya pada kenop pintu dan melangkah masuk. Tak lupa anak tersebut menutup pintu perlahan.
Setelah terdengar bunyi 'klik' yang halus, Tetsuya membalikkan badan dan sosok si sulung Akashi yang tengah duduk kaku di depan meja belajarnya dengan berlembar-lembar kertas berserakan di hadapannya memasuki ruang penglihatan Tetsuya.
Anak TK tersebut berjalan perlahan ke arah kakaknya. Beberapa kali bahu kecilnya berguncang menahan batuk yang mengancam keluar dari celah mulut kecilnya. Napasnya yang sedikit memburu juga berusaha ia sembunyikan.
Sesampainya di samping sosok Seijuurou, tanpa meminta izin si sulung, si bungsu mulai memanjat kursi dan duduk di pangkuan kakaknya. Kursi beroda tersebut berderit sedikit ketika beban yang harus ditanggungnya bertambah.
Dengan tenang dan wajah seakan tanpa dosa, Tetsuya duduk dengan tenang di pangkuan kakaknya dan memerhatikan kertas-kertas bertuliskan hal-hal yang tak bisa dimengerti oleh otak anak TK. Seijuurou sendiri terlihat tak merasa terganggu sama sekali dan justru mengistirahatkan dagunya di puncak kepala Tetsuya.
"Hmmm," gumam Tetsuya, lagi-lagi berusaha sebisa mungkin menutupi batuk yang hampir keluar dari bibirnya.
"Ada apa, Tetsuya?" tanya Seijuurou, masih dengan posisi dagu bertumpu di atas kepala sang bungsu. Kedua tangannya masih menarikan pensil di atas kertas-kertas di atas meja.
"Hmm, tidak ada. Tetsuya tidak enak badan, jadi mau tidur dengan Kakak," jawab Tetsuya. Sebenarnya si bungsu tengah memberikan semacam 'kode' pada sang kakak kalau dirinya kini sedang tak enak badan dan ingin bermanja-manja dengan kakaknya.
"Ya sudah, masuklah ke dalam selimut, nanti Kakak menyusul." Seijuurou dengan sukses mematahkan harapan Tetsuya untuk bisa bermanja-manja dengannya. Tetsuya menggerakkan kepalanya dan Seijuurou melihat itu sebagai kode untuk menyingkirkan dagunya dari puncak kepala Tetsuya.
Tetsuya mendongak dan dengan ekspresi datar berkata, "Temani Tetsuya?"
Seijuurou balas menatap tatapan datar si bungsu sesaat sebelum dirinya menghela napas, "Maaf Tetsuya, tidak bisa. Kakak ada pekerjaan. Tetsuya tidur saja duluan. Nanti Kakak akan menyusul. Janji."
Tetsuya menatap kakaknya untuk beberapa detik sebelum akhirnya menyerah dan memalingkan wajahnya dari kakaknya.
Ternyata benar apa yang dikatakan Kak Ryouta...
Tetsuya mengalah. Walau bagaimana pun, Tetsuya tidak boleh mengganggu kakaknya dengan bersikap kekanak-kanakkan. Lagi pula, dulu Tetsuya memutuskan untuk tidur sendiri karena Tetsuya merasa sudah besar dan tidak boleh merepotkan kakaknya lagi. Tetsuya harus berpegang teguh dengan prinsipnya sendiri.
Dengan lesu, Tetsuya melompat turun dari kursi dan berjalan perlahan ke arah tempat tidur yang berada tepat di belakang Seijuurou.
Batuk-batuk kecil kembali mengguncang tubuh kecil Tetsuya. Lantas, dengan sedikit tak rela, Tetsuya melompat ke atas tempat tidur dan membungkus dirinya dalam selimut putih tebal milik kakaknya.
Sebelum Tetsuya benar-benar merebahkan diri dan memejamkan mata di atas tempat tidur luas tersebut, mata biru muda Tetsuya sempat melihat punggung Seijuurou yang menghadapnya. Pandangan kecewa ia layangkan pada punggung yang telah mengacuhkannya tersebut.
Dan dengan itu, Tetsuya menjatuhkan punggungnya ke atas kasur dan memejamkan mata.
Hai hai! Lama gak ketemu ya! Dua bulan lebih dua hari ya? haha maaf yaa, sekolah terlalu sayang sama aku sampe gak ngebolehin aku kencan sama laptop buat nulis ini haha lagian juga ide agak mampet yeye.
Maaf ya gak bisa bales review satu-satu haha aku lagi pusing banget, pancaroba bikin gak enak badan yeye. Tapi intinya, aku minta maaf banget baru bisa apdet sekarang dan gini, sedikit penjelasan yaa, kayak yang disebut di atas, Ryouta sama sekali gak bisa inget ibunya, makanya dia selalu gelisah kalo masalah tentang ortu (terutama ibu) diangkat, sedangkan dia sekarang disuruh buat karangan tentang ibu, tentu kalian bisa nebak dong perasaan dia sekarang kayak gimana. Dia harus nulis apa coba? Di saat lagi gelisah gitu, dia biasanya dateng ke Seijuurou yang bener-bener dia anggep sebagai sosok yang bisa nenangin perasaannya meski Ryouta gak bilang apa-apa.
Tapiii, Seijuurou lagi stress banget sampe kepribadiannya agak berubah. Di sini gak ada emperor eye, niatnya sih begitu haha. Dan satu info lagi buat minna-san, penelitian membuktikan kalo stres, warna mata kita bisa berubah lo! Hebat kan? Jadi ya, mata Seijuurou berubah itu lambang dia stres. Lagian dia itu masih di puncak masa remajanya dan taraaa dia kesusahan ngendaliin emosinya dan hasilnya dia jadi sering marah ke Ryouta.
Di sini aku pengen nunjukin kalo Seijuurou mulai belajar untuk gak ngelupain keluarga meski sibuk dan bekerja secara profesional dengan gak nyampurin masalah rumah dan kerjaan, begitulaaaah. Pasti pada gak ngerti ya? wakakakak
Satu lagi, MOMOI GAK AKAN DENGAN RYOUTA KOK TENANG AJA. Banyak banget yang nanyain, jadi kujawab aja deh ya.
Chapter depan rencananya bakal jadi puncaknya, tapi kabar gembira(?)nya aku gak tau kapan bisa apdet lagi. Kelas tiga itu bikin tugas jadi menggunung huhuhu.
Special thanks to: Yuuki Hanami, UchiHarunoKid, Hana Kijimuta, scarletjacket, biyachan, yaoiHunhan, Harpgirl, midoaka, Shiraume. machida, Aka Shagatta, Tsukkika Fleur, Eqa Skylight, mamitsu27, VandQ, Akashi Sorata, Noir-Alvarez, eva. azizah. 58, giovina. fr, kiaara, setmefreeeeeee, midnightpuncher.
Apalah aku ini tanpa kalian semuaaa, makasih banget buat supportnya! Apalagi buat yang udah nungguin cerita yang gak seberapa ini TAT
Review please?
