Kuroko no Basuke hanya milik Fujimaki Tadatoshi. Lirik lagu di sini milik Robert Lopez dan istrinya. DDR juga bukan punyaku.
Cerita ini hanya milik saya seorang.
Warning: AU, Real&Nice! Akashi, brotherly love! a lot of them I think, cuteness ahead(?), alur kecepetan, half-assed chapter, OOC, typo, DLDR!
pengingat mulai dari chapter ini:
Seijuurou = 16 tahun
Shintarou = 13 tahun
Atsushi = 12 tahun
Ryouta = 10 tahun
Daiki = 9 tahun
Tetsuya = 5 tahun
Enjoy!
Chapter 8: As Teen, Mad
Pernahkah kau merasakan saat di mana kau sangat ingin melupakan sesuatu, namun akhirnya yang kau lupakan justru hal yang berkaitan dengan sesuatu itu dan bukannya hal itu sendiri? Misalnya saja ketika kau kehilangan ponselmu dan kau ingin melupakan peristiwa itu sepenuhnya, tapi yang justru kau lupakan adalah ponselmu, bukannya peristiwa di mana kau kehilangannya?
Hal yang sama persis terjadi pada Kise Ryouta, atau mungkin yang sekarang lebih akrab disapa dengan Akashi Ryouta.
Ketika usianya enam tahun, Ryouta kehilangan ibunya dalam peristiwa pencurian. Ibunya dibunuh pencuri tersebut karena telah menjadi saksi pencurian di rumah mereka. Kejadian itu... katakanlah membuat Ryouta kecil begitu shock. Bagaimana tidak? Ryouta melihat sendiri saat ibunya tergeletak tak bernyawa di lantai dingin dapurnya, dengan darah yang menggenang di bawah tubuh ibunya sendiri.
Tanpa sadar, Ryouta berkata pada dirinya sendiri, menghipnotis dirinya sendiri, kalau kejadian itu hanya mimpi, tidak benar-benar terjadi. Kalau pun benar terjadi, maka lupakan. Semuanya sudah menjadi masa lalu. Bukan sesuatu yang baik untuk diingat-ingat.
Tapi, efeknya justru tidak seperti yang diharapkan anak berambut kuning tersebut. Bukannya bisa melupakan pemandangan ibunya tergeletak di atas genangan darahnya sendiri, Ryouta justru melupakan ibunya.
Seperti apa wajah ibunya, bagaimana kepribadian ibunya, apa keahlian ibunya, apa hal favorit ibunya, apa yang sering mereka lakukan dulu, semuanya tak ada yang bisa Ryouta ingat. Ia hanya tahu kalau ibunya memiliki paras yang cantik dan dulunya pernah bekerja sebagai model. Paling tidak sampai orangtuanya bertengkar karena ayah Ryouta ingin ibunya berhenti berprofesi sebagai model dan lebih memerhatikan Ryouta di rumah.
Hanya itu.
Karena itulah, ia kini tengah dilanda dilemma.
Apa yang harus ia tulis tentang ibunya untuk karangan Hari Ibu sedangkan ia sendiri tak bisa ingat bagaimana ibunya?
Decit pintu terdengar ketika Ryouta mendorong pintu kayu putih di hadapannya. Kepala bersurai kuningnya mengintip ke dalam ruangan yang luas tersebut. Matanya memindai isi ruangan tersebut hingga akhirnya terpaku pada tempat tidur yang berada di salah satu ruangan.
Atau lebih tepatnya, pada buntalan yang berada di atas tempat tidur king size tersebut.
Ryouta melangkah masuk ketika di saat yang bersamaan satu-dua suara batuk tertahan terdengar. Ryouta meringis sesaat ketika mendengar suara batuk yang keluar dari seorang anak bersurai biru langit yang menyembul dari permukaan selimut di atas tempat tidur.
"Tetsuyacchi, masih sakit-ssu?" tanya Ryouta sesampainya ia di samping tempat tidur. Sepasang mata biru yang besar dan polos menatapnya saksama namun dengan datar sebelum si pemilik mata menjawab.
"Sudah sedikit baikan."
Ryouta terdiam. Ia menyilangkan kedua tangan di atas sisi tempat tidur yang ditempati Tetsuya. Kepala kuningnya ia letakkan di atas tumpukan tangannya tadi dengan sedikit dimiringkan ke satu sisi. Kedua matanya melontarkan pandangan penuh kekhawatiran disertai dengan kelembutan di dalamnya.
Matanya seakan bertanya 'kenapa Tetsuyacchi bisa sampai sakit begini?' dalam diam. Tetsuya balas menatap kakaknya tepat di mata, dan seakan mengerti apa yang ingin dikatakan kakaknya, Tetsuya menghela napas dan berkata, "sepertinya Tetsuya sakit karena kemarin minum soda."
Sudah menjadi rahasia umum kalau tubuh anak bungsu keluarga Akashi tersebut lemah. Tapi siapa yang sangka kalau ternyata meminum soda saja Tetsuya tidak bisa? Sepertinya tubuh si bungsu Akashi lebih rapuh dari pada yang mereka kira.
Ryouta menggumamkan 'hmm' panjang. Masih dalam posisi yang sama di tepi ranjang dan ekspresi khawatir yang sama melekat. Sesaat kemudian, Ryouta tiba-tiba saja melompat berdiri hingga membuat Tetsuya berjengit kaget.
"Kak Ryouta?"
"Fufufu jangan bersedih! Tetsuyacchi sebentar lagi akan sembuh! Apalagi aku, si ranger kuning sudah ada di sini untuk menyelamatkan hari Tetsuyacchi-ssu!" seru Ryouta tiba-tiba dengan suara nyaring sembari menunjuk dirinya sendiri dengan ibu jari. Tetsuya terdiam melihat tingkah laku kakaknya yang tiba-tiba berubah seperti seorang chuunibyou.
"Tapi!" Ryouta mengangkat jari telunjuknya, "Agar bisa cepat sembuh, Tetsuyacchi harus melupakan kalau Tetsuyacchi sedang sakit! Lalu Tetsuyacchi juga harus membantuku dalam sebuah misi-ssu!"
Tetsuya merasa ingin tertawa sekaligus memberikan tatapan aneh melihat tingkah kakaknya yang tiba-tiba saja jadi tidak jelas. Ya, bukannya Ryouta tidak sering berbuat aneh di rumah, hanya saja, kali ini keanehannya datang dengan terlalu tiba-tiba. Anak kelas lima SD itu –yang penampilan fisiknya terlihat seperti dua tahun lebih tua—kini terlihat persis seperti anak umur lima tahun.
Tapi tak bisa dipungkiri kalau Tetsuya yang memang sedang menyenangi acara televisi Power Ranger jadi terhibur ketika melihat tingkah kakaknya. Lagipula jujur saja, Tetsuya sudah bosan berbaring di ranjang hampir sepanjang hari ini hanya dengan Masako-san dan televisi tiga puluh dua inci menemani. Sedikit bergerak tidak akan membuatnya makin sakit bukan?
Ryouta membungkus tangan kecil adiknya dalam tangannya sendiri. Dengan begitu antusias, ia menarik tangan adiknya hingga turun dari ranjang.
"Ayo-ssu!"
"Ranger kuning siap-ssu!"
"Ranger hitam... siap?"
"Kau ini apa-apaan sih, Ryouta?"
Komentar sarat akan sarkasme itu merusak momen keren Power Ranger mereka begitu saja. Ryouta yang kedua tangannya terangkat tinggi ke samping langsung menjatuhkannya ketika mendengar komentar sarkastik dari adiknya yang berkulit hitam. Bagai gelas retak yang hancur berkeping-keping, atmosfer menyenangkan di sekitar mereka langsung runtuh ketika komentar sarkastik tadi keluar. Siapa lagi pelakunya kalau bukan Daiki?
Daiki menghela napas keras. Kedua mata birunya menolak untuk dipertemukan dengan sepasang mata coklat keemasan kakaknya. Sebelah tangannya menggenggam gulungan kertas yang diperkirakan merupakan gulungan kertas naskahnya. Terbukti dari banyaknya barisan huruf dan coretan stabilo di sana-sini. Ryouta memasang wajah kesal; mata disipitkan dan mulut mendesis tak suka.
Sesaat kemudian, sebelah tangan Ryouta bergerak menjitak puncak kepala adiknya yang sebenarnya tak begitu jauh beda tingginya dengan dirinya sendiri. Tetsuya mendengus menahan tawa melihat pemandangan yang sebenarnya sudah biasa terjadi di rumah mereka tersebut.
Daiki memegang kepalanya dan mendesis, "Apa sih, Ryouta? Setelah menyeret orang ke mari untuk berpose tidak jelas, sekarang kau malah memukulku?"
Tangan Daiki yang berisi gulungan kertas, bergerak membalas pukulan sayang dari Ryouta. Persis seperti tempat di mana Ryouta memukulnya. Ryouta meringis ketika dipukul adiknya, namun ia tak membalas pukulan adiknya.
"Serius itu boleh, tapi jangan lupa untuk santai sedikit-ssu!" seru Ryouta dengan sedikit keras setelah sakit di kepalanya menghilang sedikit. Kedua tangan anak itu masih memegangi puncak kepalanya, "makanya itu aku menyeretmu ke mari, untuk main sebentar sama-sama-ssu!"
Ryouta menarik ujung kerah Daiki dan menariknya mendekat. Setelah menurut Ryouta cukup dekat, anak berambut kuning tersebut mendekatkan bibirnya ke telinga Daiki dan bicara dalam volume yang begitu pelan untuk memastikan adik mereka, Tetsuya, tidak mendengarkan.
"Ayolah, kasihan Tetsuyacchi dari tadi tidak bisa ke mana-mana karena sakit. Dia pasti bosan, makanya ayo kita hibur dia sedikit-ssu," bujuk Ryouta. Sesaat kemudian ia menjauhkan wajahnya dari telinga Daiki.
Kedua mata Daiki melebar. Terkejut mendengar kata-kata kakaknya. Merupakan hal yang sangat luar biasa melihat Ryouta yang begitu peka terhadap perasaan Tetsuya saat ini mengingat betapa gigihnya ia dengan begitu tidak pekanya mengajak Seijuurou berkumpul bersama mereka tanpa memedulikan perasaan si sulung.
Daiki terdiam. Benar kata Ryouta. Seharian ini Tetsuya harus beristirahat di rumah karena sakit ketika mereka semua pergi ke sekolah masing-masing dan bersenang-senang. Pasti bosan rasanya hanya duduk diam di atas ranjang sambil menonton televisi seharian.
Daiki mendengus. Tangan hitam anak itu terangkat untuk kemudian melemparkan naskah yang ada di tangannya ke meja kopi di tengah ruang keluarga. Bingo! Seperti lemparan-lemparan Daiki biasanya, selalu tepat sasaran. Naskah itu mendarat tepat di atas meja kopi. Daiki berbalik dan dengan senyuman lebar serta kedua tangan di pinggang ia berkata.
"Ranger biru siap melindungi dunia!"
"Atas nama keadilan, kuperintahkan kau untuk berhenti! Ciu, ciu!" seru Daiki sembari menirukan suara laser dengan sebelah tangan yang terarah lurus ke depan. Berpura-pura menembakkan laser dari punggung tangannya seperti dalam film-film. Entah sejak kapan anak berambut biru tersebut sudah sangat menghayati permainan yang awalnya ia tolak mentah-mentah tersebut.
"Aaaah, aku tidak akan berhentiiiii," jawab sosok yang dikejar Daiki dengan wajah datar dan nada tanpa minat. Ia tetap berlari menjauh dari Daiki yang masih sibuk berpura-pura menembakkan lasernya ke arah sosok tersebut. Oke, mungkin sosok itu tidak benar-benar bisa dikatakan tengah 'berlari' karena kakinya yang panjang membuatnya tak perlu capek-capek berlari menjauh dari Daiki.
Siapa sosok itu pasti sudah bisa ditebak. Yap, Atsushi.
"Tunggu-ssuuuuuu!" tiba-tiba saja Ryouta melompat masuk ke dalam tempat kejadian perkara dari arah belakang Daiki dan ikut mengejar Atsushi yang kini melangkah lebar menuju ruang keluarga mereka.
"Tidak akaaaaan," jawab Atsushi lagi dengan nada malas khasnya. Bagaimana ia bisa ikut adik-adiknya memainkan permainan kekanakan tersebut masih menjadi sebuah rahasia ilahi. Tapi kemungkinan besar itu ada hubungannya dengan laci kamarnya yang tidak bisa ditutup karena dipenuhi dengan begitu banyak makanan ringan.
Shintarou yang sedang menonton televisi di ruang keluarga tersebut langsung menoleh ketika Atsushi melangkah masuk dengan langkah besarnya. Tentu saja semua percakapan tadi terdengar telinga anak berambut hijau lumut tersebut.
"Bodoh, mana ada penjahat yang akan menunggu?" gumam anak berkacamata tersebut sembari menahan tawanya meski akhirnya ia gagal menutupi sebuah senyum simpul. Matanya memang terfokus pada layar televisi di hadapannya, namun sebenarnya sepasang telinga Shintarou kini tengah sibuk menguping adu kata adik-adiknya.
Ia terlalu fokus mendengarkan adik-adiknya bermain hingga lupa dengan peraturan rumah yang selalu ditekankan Seijuurou; jangan berlarian di dalam rumah.
Tiba-tiba saja, Tetsuya –entah datang dari mana—muncul begitu saja di hadapan Atsushi. Kedua tangannya teracung ke depan membentuk sebuah pistol imajiner. Wajah anak tersebut terlihat datar, tapi Atsushi dan Shintarou berani taruhan kalau ada binar senang memancar dari kedua permata biru langit adiknya.
"Berhenti –uhuk—bergerak. Kakak sudah dikepung," kata Tetsuya dengan intonasi yang begitu imut sekaligus datar. Batuk tetap terselip di antara kalimatnya meski sudah berusaha sekuat tenaga ia tahan. Meski datar, tapi kedua alisnya sesekali bertaut di tengah-tengah. Kelihatannya ia tengah berusaha untuk tidak kelihatan serius saat memainkan permainan mereka ini.
Shintarou kembali menahan tawanya. Maksudnya, sejak kapan seorang pembela kebenaran menggunakan 'kakak' untuk memanggil penjahatnya? Ia terlalu sopan pada lawannya...
Ryouta –lagi-lagi—melompat masuk ke tempat kejadian sembari meneriakkan, "Ya! Menyerahlah-ssu!"
Daiki mengikuti di belakangnya. Masih dengan mata yang dipicingkan dan sebelah tangan terulur ke depan, seakan ia adalah polisi yang tengah bersiap untuk menembak Atsushi dengan laser di tangannya kalau saja Atsushi berani mencoba untuk kabur dari pengawasan mereka bertiga.
Tepat ketika kaki berbalut kaos kaki Ryouta mendarat, Ryouta tergelincir lantai marmer ruang keluarga mereka yang memang licin. Anak berambut kuning tersebut kehilangan keseimbangan. Kedua tangannya berusaha menggapai sesuatu untuk dipegang namun hasilnya nihil. Akhirnya ia mendarat bokong duluan ke lantai dengan sebelah kaki yang terjulur lurus ke samping.
Sayangnya, sebelah kaki itu tak sengaja menendang altar di hadapan Ryouta dan menyebabkan altar tersebut bergoyang. Bagai reaksi berantai, goyangnya altar tersebut membuat guci abu kremasi serta foto ayah mereka kehilangan keseimbangan dan terjatuh mencium lantai marmer yang dingin.
Suara nyaring barang pecah berkeping-keping terdengar tajam di telinga kelima anak yang menghuni ruangan tersebut. Memecahkan kegaduhan yang sempat ditimbulkan dari aksi kejar-kejaran singkat mereka berempat. Kegaduhan yang baru berlangsung sekitar tiga detik yang lalu.
Seketika semua yang ada di ruangan tersebut terdiam.
"Aku pulang," kata Seijuurou pelan sembari melonggarkan dasinya, memberikan lehernya sedikit ruang untuk bernapas. Setelah melepaskan sepatunya dan meletakkannya dengan rapi dalam rak sepatu, Seijuurou menoleh ke lorong di hadapannya.
Benak si sulung bertanya-tanya, kenapa rumah begitu sepi? Biasanya akan ada suara-suara yang berasal dari ruang keluarga atau pun dari kamar adik-adiknya. Entah itu suara teriakan Daiki yang kesal dengan ulah Ryouta, atau seruan Shintarou mengingatkan adik-adiknya. Yang pasti, rumah keluarga Akashi akan selalu memantulkan suara-suara penghuninya.
Seijuurou heran. Ia melirik jam tangannya. Tepat pukul tujuh malam. Ia sempat mengira jam tangannya rusak atau apa yang mengakibatkan ia salah mengira waktu. Jam segini adik-adiknya pasti sudah di rumah, mungkin ada yang baru selesai mandi atau sedang turun ke bawah bersiap untuk makan malam.
Tapi kenapa tidak ada suara sedikit pun? Bahkan suara langkah kaki pun tidak terdengar...
"Aku pulaang," kata Seijuurou lagi, mencoba mengeraskan suaranya kali ini. Dalam hati kecilnya tersembul harapan kalau Ryouta atau Daiki atau bahkan Shintarou datang tergesa-gesa menghampirinya, entah untuk memeluknya atau untuk sekadar melaporkan apa yang terjadi pada hari itu.
Menyadari kalau ia tak akan mendapatkan apa pun jika ia terus berdiam diri di pintu depan, Seijuurou akhirnya melangkahkan kaki masuk ke dalam rumahnya yang begitu luas. Hal pertama yang melintas di dalam benaknya adalah jangan-jangan telah terjadi sesuatu pada adik-adiknya dan sekarang ia harus mengecek ruangan di rumah satu per satu.
Seijuurou berjalan pelan-pelan di koridor rumahnya yang panjang, berharap tidak menimbulkan suara apa pun agar tak mengejutkan siapa pun itu yang mungkin tengah berada dalam rumahnya. Masih dengan setelan seragam lengkap beserta tas yang dijinjing di sebelah tangan, Seijuurou melirik ruang tamu. Nihil. Tidak ada siapa-siapa.
Seijuurou kembali berjalan. Kali ini ia menuju ke ruang keluarga. Kepala berambut merahnya adalah yang pertama memasuki ruangan luas tersebut dan betapa leganya ia melihat adik-adiknya lengkap berkumpul di sana. Atau lebih tepatnya, mereka berkumpul tepat di depan altar ayah mereka.
Seijuurou melangkah masuk dengan perlahan dan menyandarkan tasnya di sisi dinding. Diam-diam memerhatikan apa yang dilakukan adik-adiknya di depan altar ayah mereka. Terutama Shintarou yang kini tengah berjongkok di depan altar tersebut dan tengah melakukan entah apa itu dengan tangannya. Adik-adiknya yang lain tengah mengerubunginya seperti semut mengerubungi gula.
Bosan menunggu kehadirannya disadari kelima adiknya, Seijuurou memutuskan untuk berdeham dan menyadarkan mereka semua dan berdehamlah ia.
"Ehem."
Kelima adiknya berjengit di saat yang bersamaan. Perlahan tapi pasti, mereka menoleh ke belakang dengan tatapan horor di mana Seijuurou dengan sosoknya yang entah kenapa jadi terasa tinggi menjulang tengah menunggu mereka semua. Seakan Seijuurou adalah makhluk halus yang baru saja memanggil nama mereka berlima.
"Eh, Kakak..." Shintarou yang pertama kali berhasil membuka suara dan bicara, "baru pulang?"
Seijuurou terdiam, menatapi adik-adiknya satu per satu dengan tatapan penuh selidik. Ia mencoba untuk melongok ke balik sosok adiknya yang tertua namun hasilnya nihil. Kepala Seijuurou dimiringkan dan kedua tangan si sulung tergerak menyilang di depan dada.
"Apa yang kalian sembunyikan di sana?" tanya Seijuurou dengan nada seperti polisi tengah menginterogasi penjahat. Dagunya bergerak menunjuk apa yang berusaha disembunyikan adik-adiknya.
Kelima adiknya saling pandang. Seakan tengah berkomunikasi lewat pikiran mengenai apa yang sebaiknya dilakukan. Memberitahu kakak mereka atau justru tetap diam? Tapi sepertinya pilihan kedua sangat mendekati mustahil.
Karena sejujurnya, hingga saat ini, belum ada yang bisa membodohi kakaknya mau pun lari dari tatapan menyelidik si sulung Akashi.
Kelima adik Seijuurou menatap Shintarou yang berada di tengah dan mereka mengangguk bersamaan. Shintarou membelalakkan matanya sekilas sebelum menelan ludah dan menunjukkan apa yang kini ada di tangannya; pecahan kaca.
Sikap dingin Seijuurou langsung meleleh melihat pecahan kaca yang kini ada di tangan Shintarou. Rasa khawatir membanjiri hati si sulung Akashi. Dengan cepat ia melangkah mendekati adiknya, mengambil pecahan kaca tersebut dan membuangnya ke tempat sampah terdekat sebelum memeriksa jikalau ada luka di tangan adiknya yang paling tua.
"Kenapa bisa ada pecahan kaca? Apa yang kalian lakukan?" tanya Seijuurou. Matanya terpaku pada telapak tangan Shintarou dan jari-jari si sulung bergerak menelusuri telapak tangan adiknya tersebut, memeriksa jika ada pecahan kaca halus yang masih tersisa. Mulut Seijuurou tak henti menggumamkan 'astaga', "Daiki, tolong ambilkan Kakak beberapa lembar tisu. Jangan lupa dibasahi."
Daiki melesat keluar dari ruang keluarga yang kini terasa begitu mencekam suasananya. Yang lainnya tetap terpaku di tempat. Beberapa dari mereka bahkan tengah tertunduk karena merasa bersalah. Shintarou sendiri diam saja selagi kakaknya sibuk memeriksa tangannya. Sebelah tangannya yang bebas menaikkan gagang kacamatanya yang sebenarnya baik-baik saja.
Sesaat kemudian, Daiki kembali dengan beberapa lembar tisu basah di tangan. Dengan cepat, ia memberikan tisu-tisu itu pada kakak sulungnya yang menerimanya dengan tangan tersbuka.
"Aku yakin kalian bisa menjelaskan apa yang terjadi bukan?" tuntut Seijuurou yang kini sibuk mengelap telapak tangan adiknya yang tertua agar pecahan-pecahan halus yang mungkin ada di tangan adiknya menempel ke tisu basah tersebut.
Semuanya diam saja. Seijuurou menaikkan sebelah alisnya. Tidak biasanya adik-adiknya diam saja ketika ditanya seperti ini. Seakan-akan yang berada dengannya saat ini bukanlah adik-adiknya yang sebenarnya dan justru orang lain.
"Aah, i-ini semua salah Ryouta-ssu... Tadi Ryouta jatuh dan ti-tidak sengaja menabrak altarnya..."
Seijuurou menoleh ke arah asal suara yang mana adalah adiknya yang berambut kuning, Akashi Ryouta. Beberapa kepala yang ada di sana juga melakukan hal yang sama dengan Seijuurou. Setelah beberapa saat, akhirnya mereka menggangguk dan secara bersamaan semuanya mengambil satu langkah ke samping. Menunjukkan apa yang sedari tadi mereka sembunyikan.
Satu guci yang tak lagi jelas bentuknya bersama dengan bingkai foto yang terbaring terbalik di lantai kini memasuki penglihatan mata heterokrom Seijuurou. Abu yang bisa dipastikan merupakan abu kremasi berserakan di sekeliling guci yang tak lagi berbentuk tadi.
Kini Seijuurou yang terdiam melihat apa yang ada di hadapannya dengan mata yang melebar.
"Ta-tadi Tetsuyacchi sakit, jadi Ryouta berpikir untuk me-mengajak Tetsuyacchi main—"
"Main apa?" tanya Seijuurou yang kini sudah menunduk dengan sebelah tangan memijat pelipis yang terasa mulai berdenyut. Ada nada menggigit dalam caranya berbicara tadi.
Ryouta tersentak, tapi dengan suara yang bergetar karena mungkin tengah berusaha menahan tangis ketakutan, anak berambut kuning itu melanjutkan, "... main jadi Power Ranger dan kejar-kejaran..."
"Apa yang sudah Kakak katakan tentang berlarian dalam rumah?" potong Seijuurou. Kali ini nadanya lebih menggigit dari yang tadi. Kerutan di sekitar matanya bertambah ketika si sulung mencoba untuk memejamkan matanya erat-erat dalam rangka menenangkan emosinya yang sepertinya kian memanas.
Ryouta terdiam. Mulutnya bergerak menutup dan membuka, seperti ingin menjawab pertanyaan Seijuurou tapi di saat yang sama juga urung melakukannya. Akhirnya setelah mengumpulkan keberanian dan yakin meski ia diam pun ia juga akan dimarahi pada akhirnya, ia menjawab dengan sangat lirih, "Dilarang berlarian dalam rumah..."
Seijuurou mengangkat wajahnya dan menatap Ryouta tepat di mata. Alisnya berkerut menahan kekesalan yang mungkin tengah berusaha sekuat tenaga ia bendung dalam dirinya.
"Tepat." Seijuurou menghela napas dalam-dalam dan panjang. Ia menelan ludah. Astaga, kenapa rasanya sulit sekali menahan rasa kesal ahir-akhir ini? Sulit sekali rasanya untuk tidak langsung memarahi Ryouta di tempat ini sekarang juga atas apa yang telah anak itu perbuat karena astaga, sudah jelas di rumah Akashi ada peraturan tak tertulis yang berbunyi 'dilarang berlarian dalam rumah' tapi kenapa anak itu masih juga melakukannya?
Apalagi ia sampai memecahkan bingkai foto lengkap dengan guci abu kremasi ayah mereka.
"Kakak bisa melihat kalau Ryouta mengerti aturan tersebut," Seijuurou kembali menghela napas keras. Rahang si sulung menegang. Jelas terdengar kalau ia tengah mencoba menahan sesuatu untuk tidak keluar dari dalam dirinya, "lantas, kenapa masih dilanggar?"
Ryouta bergerak membuka mulutnya, menawarkan sebuah penjelasan. Tapi diurungkannya begitu sadar kalau kakaknya belum selesai bicara dan sebenarnya pertanyaan tadi hanyalah sebuah pertanyaan retoris yang tak benar-benar memerlukan jawaban.
"Ryouta, Kakak mengerti Ryouta ingin menghibur Tetsuya karena Tetsuya sedang sakit. Tapi masih ada banyak cara untuk melakukannya, kan? Maksudnya... selain ini," Seijuurou membentangkan tangannya ke depan, mengisyaratkan pada kekacauan yang terhampar di hadapannya kini.
Seijuurou kembali memijat pelipisnya yang berdenyut hebat, "Astaga, Ryouta, kenapa akhir-akhir ini Ryouta jadi nakal sekali?"
Satu pertanyaan terakhir dari Seijuurou memberikan sebuah serangan fatal pada Ryouta. Karena sebelumnya, selama empat tahun kebersamaan mereka, tak pernah sekali pun Seijuurou menggunakan kata 'nakal' untuk adik-adiknya meski pun mereka sulit diatur.
Setelahnya Seijuurou melangkah pergi dari tempat kejadian. Meninggalkan Ryouta dan adik-adiknya di sana setelah memastikan tidak ada luka di tangan Shintarou. Tidak diketahui oleh Seijuurou kalau Ryouta sedang bersusah payah membuat alisnya tak berkerut di tengah, berusaha untuk membuat matanya tidak mengeluarkan air mata meski kedua matanya sudah sangat panas.
Kakak bahkan tidak menanyakan apa aku terluka atau tidak...
Pintu kamar Ryouta berdecit seiring dengan dorongan yang diberikan seseorang di baliknya. Ryouta yang tadi sedang menundukkan kepalanya, kini mengangkat kepalanya dan menatap ke arah pintu dari tempatnya duduk di sisi tempat tidur.
Adiknya Daiki tampak sedang mengintip dari balik pintu bercat putih tersebut. Kini ia tengah memandang kakaknya yang berambut kuning dengan pandangan antara bersimpati dan merasa bersalah.
Entahlah. Ryouta juga tidak terlalu peduli sekarang.
Daiki tidak menunggu Ryouta mempersilahkannya masuk. Anak berkulit hitam itu langsung saja melangkahkan kakinya dengan perlahan meski ia ragu-ragu. Lagi pula, kenapa harus menuggu izin dari Ryouta? Toh mereka tak pernah melakukannya sebelumnya. Semua yang ada di rumah ini milik bersama. Tidak perlu meminta izin.
Begitu Daiki sampai di depan Ryouta, ia menjulurkan tangannya sesaat, sebelum bertatap mata dengan mata coklat keemasan Ryouta. Ryouta tak mengatakan apa-apa tapi tatapannya membuat Daiki meragu. Akhirnya ia kembali menurunkan tangannya dan memutuskan untuk duduk di samping Ryouta. Tidak benar-benar 'di sampingnya'. Ada jarak sekitar setengah meter di antara mereka.
Pandangan Ryouta terus mengikuti sosok Daiki hingga anak berambut biru tua itu duduk di bersamanya di atas tempat tidur besar miliknya.
Daiki menundukkan kepalanya, tapi ia bergeser, mendekat ke Ryouta. Ryouta diam.
Daiki kembali menggeser duduknya. Kini mereka hanya berjarak sekitar dua puluh sentimeter. Ryouta melihat ke bawah, ke arah tangan Daiki yang terus berkedut, sepertinya ingin melakukan sesuatu tapi tidak yakin akhirnya tidak dilakukannya.
Daiki bergeser sekali lagi dan Ryouta tersenyum simpul. Senyum pahit sebenarnya karena hatinya masih belum sepenuhnya terobati.
Ryouta meraih bahu Daiki dan merengkuhnya mendekat.
"A-apa yang kau lakukan?" seru Daiki terkejut. Ada semburat merah muda di pipinya. Tentu saja hal itu tidak lepas dari pengamatan Ryouta.
Ryouta diam. Ia hanya mengeratkan cengkeramannya di sekitar bahu Daiki. Anak berambut emas tersebut menelan ludah. Berusaha untuk tidak langsung memeluk adiknya dan menangis di sana. Mengeluarkan semua yang sudah dibendungnya selama dua minggu belakangan.
Semuanya itu termasuk tentang ibunya, tentang Seijuurou, tentang alasannya mengganggu Seijuurou selama ini, soal Hara, tentang kegelisahannya, dan soal Hari Ibu.
Tapi Ryouta tidak bisa.
Ia merasa ini bukan waktu yang tepat.
Atau mungkin memang waktunya tidak akan pernah tepat.
Daiki melirik kakaknya yang sulit dimengerti itu. Sesaat kemudian ia memejamkan mata biru tua miliknya.
"Ugh..."
Astaga, mata Daiki mulai terasa panas dan dadanya mulai dipenuhi rasa bersalah sekaligus empati untuk Ryouta. Dalam hati anak berkulit hitam itu terus menggumamkan 'aku sudah besar, tidak pantas lagi menangis' berkali-kali.
"Maaf," lirih Daiki berkata setelah beberapa saat, "seharusnya yang dimarahi tadi bukan cuma kau saja. Harusnya aku juga..."
Suara Daiki bergetar dan Ryouta mendengus.
Sudah jadi rahasia umum kalau adiknya satu itu adalah anak yang cengeng. Ini bukan kali pertama anak itu menangis karena hal sepele. Hal seperti terjatuh saja bisa membuatnya meneteskan air mata.
Tangan Ryouta berpindah ke kepala Daiki dan mengelusnya lembut, "sudahlah-ssu..."
Daiki terdiam. Tapi sesekali suara sesenggukannya bisa terdengar.
Sekali lagi, pintu kamar Ryouta berdecit dan muncullah Shintarou. Mengintip ke dalam dan hanya kepalanya saja yang terlihat dari sudut pandang Ryouta dan Daiki.
"Boleh masuk?" tanyanya dengan pandangan datar. Tapi Ryouta tahu lebih baik dari itu. Anak itu sedang merasa bersalah sekaligus khawatir. Alasannya mengunjungi Ryouta malam ini pasti sama dengan Daiki.
Maka itu, Ryouta mengangguk.
Shintarou melangkah masuk dan berdiri tepat di depan Ryouta, sebelah tangan anak berambut hijau lumut itu bergerak naik dan mengusap tengkuknya dengan canggung. Maklum, anak itu sama sekali tak pandai dalam hal emosional semacam ini.
"Uh..."Shintarou bergumam. Matanya yang senada dengan warna rambutnya tak kunjung ia pertemukan dengan Ryouta.
"Aku... uh, seharusnya aku menghentikan kalian waktu kalian mulai berlarian di dalam rumah. Aku bertanggung jawab atas kalian ketika Kakak tidak di rumah. Tapi aku diam saja. Ini semua salahku." pipi Shintarou bersemu merah. Ia benar-benar tidak terbiasa dengan ini semua.
Tapi setidaknya sekarang ia sudah bisa menatap Ryouta sesekali. Hanya sesekali.
Meski sebenarnya Shintarou ke sini untuk meminta maaf, tapi entah kenapa mulutnya sulit sekali untuk mengeluarkan kata 'maaf' tersebut. Padahal kata itu sudah berada di ujung lidahnya.
Ryouta kembali mendengus dan memasang senyum simpul. Senyum yang masih berlukiskan kesedihan. Senyum yang tak berhasil meyakinkan Shintarou kali ini. Lagi pula, siapa yang akan memakan kebohongan Ryouta kali ini jika alisnya berkerut dan matanya merah serta berair ketika ia tersenyum?
Oh, persetan dengan harga diri dan rasa malu, adiknya membutuhkannya sekarang.
Shintarou menjatuhkan diri di sisi Ryouta yang lain dan mengelus punggung adiknya. Sebenarnya niat awalnya adalah memeluk adiknya, tapi Shintarou masih terlalu malu untuk melakukannya.
"Tapi aku juga ingin kau mengerti, Ryouta. Kakak seperti itu untuk kebaikan kita juga –oke, mungkin ia agak berlebihan di sana—tapi mungkin ia sedang stress makanya ia tidak sebaik biasanya. Tapi ketahuilah, apa pun yang dilakukan Kakak, itu semua untuk kita."
Ryouta tahu itu. Ryouta sangat tahu.
"Kakak bekerja keras di kantor hingga stress seperti itu karena ia perlu uang..."
"Kenapa perlu uang-ssu? Sebutuh itukah-ssu?" potong Ryouta cepat. Nada sedih, kecewa, dan tidak percaya bercampur di dalam kalimatnya tadi namun kepalanya justru menunduk. Sepertinya saat ini lantai berkarpet di bawah kaki mereka terlihat lebih menarik bagi anak itu.
Sejujurnya, Shintarou bukan tipe orang yang senang ketika kalimatnya dipotong orang lain, tapi sekali ini... mungkin tidak apa. Shintarou akan membiarkannya. Kali ini saja.
"Karena... seluruh gaji Kakak itu... untuk kebutuhan kita, uang saku kita," Shintarou melihat lurus ke depan tapi ia tahu kalau kedua adiknya baru saja menolehkan kepala mereka dengan cepat ke arahnya. Sangat cepat hingga untuk sesaat, Shintarou mengira kepala mereka bisa putus karenanya, "memang, Paman memberikan sebagian gajinya untuk kita. Tapi itu cuma cukup untuk membiayai kebutuhan sehari-hari. Uang saku kita seluruhnya hasil gaji Kakak.
"Mungkin kalian tidak mengira kalau gaji Kakak sekecil itu. Kakak mungkin pemilik sah perusahaan, tapi ia di sana tetap bekerja sebagai karyawan magang. Karyawan tidak resmi. Jadi tentu saja gajinya tidak besar."
Shintarou kembali mengelus punggung Ryouta pelan tapi kaku. Entah sejak kapan ia sudah berhenti mengelus punggung adiknya itu. Daiki menghirup udara dalam-dalam melalui hidungnya untuk mencegah air dalam hidungnya menetes keluar dan Ryouta mendengus sebelum mengambilkan anak itu selembar tisu.
Dalam hati Shintarou berharap keadaan ini cepat selesai karena ya Tuhan, Shintarou tidak terbiasa melakukan ini. Tidakkah Ryouta sadar kalau sejak tadi jari-jarinya terus berkedut tidak karuan di punggung anak itu karena tidak nyaman?
"Kakak bisa stress seperti itu karena kita juga. Jadi... tolong maklum. Jangan tersinggung dengan perilakunya tadi. Mengerti?"
Kedua adiknya mengangguk serempak.
Shintarou tersenyum sangat tipis sebelum menghela napas panjang dan menatap kedua mata adiknya dengan pandangan menerawang.
Bersabarlah, kurasa sebentar lagi Kakak akan kembali seperti semula. Kita hanya perlu menunggu sebentar lagi saja...
Ryouta melingkarkan tangannya di sekeliling tubuh Shintarou singkat sebelum melepaskannya. Namun meski singkat, anak berambut keemasan tersebut bisa merasakan kalau tubuh kakaknya satu itu sempat menegang beberapa saat itu.
"Terima kasih-ssu..."
Shintarou mengangguk singkat lantas bergumam menyetujui. Senyuman simpul kembali menghiasi bibir anak berambut hijau lumut tersebut. Adiknya membalasnya dengan senyuman pula. Senyuman yang lebih jujur kali ini meski masih ada sedikit rasa sakit terlihat di sana.
Sebelah tangan Ryouta terangkat menyentuh lengan atas Shintarou. Shintarou mengalihkan pandangannya, menatap tangan Ryouta di lengan atasnya sebelum beralih menatap mata Ryouta kembali.
Sulit bagi Shintarou menjelaskan, tapi ada semacam... determinasi, keinginan kuat, terpancar di mata adiknya meski matanya masih sedikit memerah karena menahan tangis tadi.
"Kak, kalau boleh tahu, berapa gaji Kak Seijuuroucchi sehari-ssu?"
Ryouta menghela napas. Matanya menyipit ketika otaknya kembali memutar rekaman kejadian kemarin malam ketika Seijuurou mengetahui kalau ia memecahkan guci abu kremasi beserta bingkai foto ayah mereka.
Shintarou dan Daiki memang sudah berusaha menghiburnya semalam. Tapi ia masih saja mengingat kata-kata Seijuurou dengan jelas. Dan kata-kata itu juga masih terasa sakit.
Kedua tangan Ryouta sibuk memasukkan beberapa bukunya ke dalam laci lantas mengeluarkan apa pun perlengkapan yang akan ia butuhkan di periode berikutnya. Setelah selesai, ia meraih kotak jus yang sempat tergeletak di atas mejanya dan menyesap isinya dalam-dalam.
Mata coklat keemasannya menerawang. Jiwanya tak benar-benar ada di sana.
"Astaga, Ryouta, kenapa akhir-akhir ini Ryouta jadi nakal sekali?"
Ryouta memejamkan mata dan kembali menghela napas untuk mengusir bayang-bayang kejadian semalam. Siapa yang sangka kalau ternyata akhirnya kakaknya melabeli dirinya sebagai anak nakal?
"Yo!" sebuah tangan tiba-tiba saja sudah mengalung di sekitar leher Ryouta. Kepala berambut kuning Ryouta menoleh ke asal suara dan ia melihat sebaris poni yang menutupi sepasang mata seorang anak lelaki. Sebuah cengiran lebar dengan sebatang lolipop terselip di antara giginya tertempel di wajah anak lelaki tersebut.
Kedua kelopak mata Ryouta segera saja turun hingga menutupi sebagian mata coklat keemasannya. Dengan kata lain, ia memandangi anak itu dengan tatapan tanpa minat.
"Ah, Hara..."
Ryouta mengalihkan kepalanya ke arah lain dan tanpa sepengetahuan Hara, ia memutar bola matanya. Dalam hati anak bersurai keemasan itu mengutuk-ngutuk dirinya sendiri yang bisa sampai terlibat dengan anak berandal tersebut.
Sungguh, hari ini Ryouta sedang malas berurusan dengan siapa pun...
"Ya, bisa kulihat kau sedang... hmm, memikirkan sesuatu," kata Hara dengan tangannya yang mengerat di sekitar leher Ryouta, setengah memeluknya dengan 'sayang'. Anak dengan poni panjang itu mengakhiri kalimatnya dengan senyuman. Tapi bukan senyuman senang atau senyuman tulus. Lebih tepat jika dikatakan itu adalah senyuman mengejek.
Senyuman yang sangat dibenci Ryouta.
Dalam hati Ryouta mendesis tak suka.
"Biar kutebak," Hara mengeluarkan lolipop dari mulutnya hingga mengeluarkan bunyi 'pop' yang khas sebelum memasukkannya kembali ke dalam mulutnya.
Ryouta diam-diam bertanya-tanya kenapa anak itu memakan lolipop hari ini dan bukannya permen karet seperti yang biasa dimakannya.
Tapi tentu saja, Ryouta tak akan menanyakannya. Karena itu bukan urusannya.
Dan memang ia tak benar-benar peduli.
"Kau pasti," sebelah tangan Hara menunjuk Ryouta dengan jari telunjuknya, "sedang bermasalah dengan kakakmu. Benar, kan?
Ryouta kembali memutar matanya. Kali ini alisnya dan bagian bawah matanya mengerut karena tak suka.
Astaga, kenapa anak ini begitu suka ikut campur urusan orang lain?
Alis Ryouta berkerut makin dalam. Sedikit demi sedikit, ingatannya tentang beberapa minggu ini kembali membayanginya. Ingatan-ingatan yang sama sekali tidak menyenangkan. Ingatan di mana kakaknya menolaknya.
Gawat. Perasaan hatinya sedang tidak begitu menyenangkan. Jika Hara terus menanyainya seperti ini, bisa-bisa ia akan menunjukkan sisi gelapnya yang susah payah ia kubur dalam-dalam. Jika itu sampai terjadi...
Entah apa yang akan dilakukan Ryouta kali ini.
Mungkin sesuatu yang buruk. Sangat buruk. Hingga label yang diberikan kakaknya semalam akan benar-benar menjadi kenyataan.
Ryouta mengeraskan rahangnya sebagai upaya menahan diri. Dengan satu kibasan tangan, ia menepis tangan Hara yang sedari tadi mengalung di lehernya dan anak berambut keemasan itu berjalan menjauh.
Meski tak melihat ke belakang, tapi Ryouta tahu kalau Hara sangat terkejut dengan apa yang dilakukannya tadi.
"Heh, sepertinya benar dugaanku," Hara mendengus setelah beberapa saat terdiam. Kini kedua tangan anak itu tersilang di depan dadanya, "aku tidak mengerti, kenapa kau bisa terlihat begitu... sedih? –Entahlah, aku tidak bisa menemukan kata yang tepat untukmu—hanya karena kau semalam bertengkar dengan kakakmu..."
"Kakak bisa melihat kalau Ryouta mengerti aturan tersebut. Lantas, kenapa masih dilanggar?"
Rahang Ryouta semakin mengeras.
Anak berambut keemasan itu kembali melakukan kebiasaan lamanya; menghipnotis dirinya sendiri ketika hal tak menyenangkan terjadi.
Anak itu menelan ludah dan dalam hati merapalkan 'lupakan, lupakan, lupakan, tadi malam Kakak tidak benar-benar serius mengatakannya, ia hanya stress, lupakan, lupakan, lupakan' berkali-kali. Setiap kali ia mengulang kalimat itu, tubuhnya bertambah tegang. Keringat dingin mulai meluncur di pelipisnya.
Ryouta menggigit bibir. Keras.
Kenapa ini tidak berhasil? Bukannya tenang ia justru malah semakin tegang dibuatnya...
Alis Ryouta bertaut tajam di tengah. Ia berusaha untuk konsentrasi dan menutup matanya.
'Lupakan, lupakan, lupakan'
"Kau ini... jangan-jangan seorang brocon ya, Ryouta? Tapi kalau kakakmu orang yang benar-benar hebat seperti katamu, aku bisa mengerti, tapi sungguh, sebenarnya di mana kerennya kakakmu itu?"
Ryouta menoleh ke belakang. Telinganya berdenging ketika mendengar Hara mengucapkan kalimat terakhirnya. Apa yang baru saja dikatakan anak itu?
Sosok Hara yang tengah merentangkan kedua tangannya ke samping dengan bahu terangkat dan kepala yang menggeleng-geleng tak emgerti masuk dalam cakupan penglihatan Ryouta. Sejujurnya, tatapan Ryouta sekarang ini sangat... berbahaya.
"Sejauh yang kulihat, kakakmu itu pendek, warna rambutnya juga aneh."
Hentikan.
"Kau bilang ia sangat keren saat bermain basket, tapi kemarin aku lihat dia biasa saja. Ia bahkan tidak melakukan satu shoot pun. Ia hanya terus-terus melakukan assist."
Hentikan.
"Ia juga kelihatannya payah. Tidak berani mengambil keputusan besar."
Hentikan!
Alis Ryouta berkerut dalam tanda tak suka. Ia benci mendengar kata-kata buruk Hara tentang kakaknya. Ia benci Hara. Ia benci sikap kakaknya yang lebih kasar semalam. Ia benci. Ia benci. Ia benci.
"Astaga, Ryouta, kenapa akhir-akhir ini Ryouta jadi nakal sekali?"
Napas Ryouta mulai tidak beraturan. Semua emosi yang sejak dua minggu belakangan ini ditahannya mulai menjebol pertahanannya sedikit demi sedikit. Seperti bendungan yang mulai retak dan hanya tinggal menunggu bendungan tersebut hancur.
"Dan yang terpenting, kau bilang dia menyayangimu, tidak pernah bertengkar denganmu, tapi kenyataan yang kulihat sekarang," Hara membentangkan tangannya ke depan. Mengisyaratkan pada sosok Ryouta yang masih memandangnya dengan tatapan penuh emosi, "ia tidak menyayangimu sebesar yang kau katakan padaku. Ia benar-benar kakak yang terburuk."
Cukup. That's it.
Ryouta berbalik cepat.
Sebuah tinju melayang dan suara hantaman keras terdengar.
"Kerja bagus, Kapten," kata Momoi dengan senyum manis terlukis di wajahnya. Sebotol minuman dingin disodorkannya tak jauh dari wajah sang kapten basket.
Seijuurou tersenyum simpul sembari mengulurkan tangannya dan menerima minuman dingin tersebut. Kapten bernomor punggung empat tersebut meneguk habis minumnya dalam beberapa kali tegukan. Sebuah desahan senang keluar dari mulutnya begitu mulut botol tersebut menjauh dari bibirnya.
Momoi berjalan memutar sebelum duduk tak jauh dari Seijuurou di sebuah bench di sisi lapangan indoor mereka. Dari sudut matanya, gadis itu memerhatikan kaptennya yang kini tengah menyeka keringatnya dengan handuk kecil yang tergantung di lehernya.
"Ada sesuatu di wajahku, Momoi?" tanya Seijuurou tiba-tiba, membuat Momoi berjengit karena terkejut.
"Eh, ah, tidak, tidak ada apa-apa..." sahut Momoi cepat dan sedikit kikuk. Canggung sekaligus malu ketika dirinya ketahuan tengah memerhatikan pemuda berambut merah tersebut.
Mata merah muda gelapnya lantas ia alihkan ke bawah, ke sepatu dalam ruangannya yang berwarna putih dengan ujung merah.
Sebenarnya ada yang ingin Momoi tanyakan dan katakan. Tapi rasanya kalau Momoi benar-benar mengatakannya, ia akan terlihat begitu... mencampuri urusan orang lain. Di sisi lain, Momoi juga tidak tega untuk tidak membantu Ryouta memperbaiki hubungannya dengan Seijuurou.
Jadi... apa yang sebaiknya dilakukan Momoi sekarang ini?
"Hei, Momoi," kata Seijuurou tiba-tiba tanpa melihat ke arah Momoi dan justru melihat ke tengah lapangan basket di mana anak-anak kelas satu tengah mengepel lantai sambil bercanda ria.
Momoi menoleh cepat ke arah sang kapten. Kedua alisnya terangkat tinggi, "ya?"
"Menurutmu..." Seijuurou memutar-mutar botol kosong di tangannya. Mata heterokromnya beralih ke botol sesaat sebelum kembali fokus ke lapangan. Ia tersenyum simpul ketika melihat ada adik kelasnya dimarahi karena tak sengaja menumpahkan air kotor bekas mengepel, "kenapa seorang anak tiba-tiba bersikap begitu nakal? Misalnya... tiba-tiba jadi tidak mau mendengarkanmu?"
Mata Momoi melebar ketika mendengarnya. Apa mungkin Seijuurou sekarang ini tengah membicarakan tentang Ryouta?
Momoi mengatupkan bibirnya dan menggumam cukup keras tanda berpikir, "Hmm, tergantung. Bisa jadi ia memang benar-benar dalam masa di mana nakal itu wajar."
Seijuurou menghela napas diam-diam. Tapi tentu saja itu tidak luput dari pengamatan tajam manager klub basket tersebut. Diam-diam, gadis berambut merah muda panjang itu melirik sosok kaptennya dari samping.
"Tapi," Seijuurou kembali mengangkat kepalanya dan menatap Momoi yang kini justru sibuk mengamati adik-adik kelas mereka merapikan peralatan kebersihan setelah selesai mengepel lapangan, "bisa jadi akhir-akhir ini orang yang disayanginya terlalu sibuk, hingga anak itu mencoba menarik perhatian dengan cara 'menjadi nakal'."
Seijuurou terdiam. Matanya terlihat melebar sedikit saja tapi Momoi bisa melihat kalau sesuatu dalam kalimat Momoi tadi telah menghantamnya keras di kepala hingga ia terdiam.
Momoi menoleh ke arah sang kapten dan ekspresinya melembut.
"Tentang Ryouta, bukan?"
Seijuurou menolehkan kepalanya. Untuk kali pertama, ia kurang suka ketika wajah dan kedua mata Momoi memancarkan binar yang seakan mengatakan 'aku tahu segalanya, percuma membohongiku'. Seijuurou sendiri bingung, kenapa sedikit rasa tak suka itu bisa terbersit di hatinya kini.
Tapi itulah manager klub mereka, Momoi Satsuki. Jika ia tidak memiliki kemampuan mengamati seperti itu, gadis itu tidak akan duduk dan bicara bersamanya di bench hari ini.
Seijuurou baru akan membuka mulutnya ketika sebuah dering telepon berbunyi. Seijuurou menoleh ke asal suara yang ternyata adalah tasnya sendiri. Seijuurou mengangkat tasnya dari lantai tepat di samping bench yang mereka duduki dan membuka flip ponselnya.
Alis Seijuurou berkerut ketika melihat nomor telepon rumahnya tertulis di sana. Meski bingung, Seijuurou memutuskan untuk menekan tombol hijau di ponselnya dan menempelkan ponsel merah tersebut ke telinganya.
"Halo, dengan Seijuurou. Ada perlu apa?" kata Seijuurou cepat bahkan sebelum orang di ujung sambungan sempat berkata apa-apa. Anak sulung keluarga Akashi tersebut menjawab dengan nada yang begitu profesional. Bisa dibilang, ia seperti seorang operator telepon.
Suara Masako terdengar di ujung sambungan dan dari intonasinya ketika mengucapkan 'halo', Seijuurou tahu kalau kepala pelayan tersebut akan memperdengarkan kabar buruk kepadanya.
"Tolong didik anak itu dengan benar, Akashi-san! Lihat apa yang ia perbuat pada Hara!" seru seorang wanita paruh baya yang kini tengah duduk di samping Hara sembari mengelus punggung anak itu dengan sayang. Bisa dipastikan wanita itu adalah ibu Hara.
Seijuurou membungkukkan badannya sembilan puluh derajat sempurna, "Maafkan saya dan adik saya. Saya akan menasehatinya setelah kami sampai di rumah nanti. Mohon Anda tenang saja."
Ryouta yang diam saja disampingnya ikut membungkukkan tubuhnya seperti yang dilakukan si sulung, meski tidak sesempurna yang dilakukan kakaknya.
Wanita paruh baya itu mendesis sebelum menuntun Hara –yang masih memegang pipinya yang mulai bengkak—keluar dari ruang kepala sekolah. Seijuurou kembali menegakkan tubuhnya kembali dan menatap pintu yang dibanting tertutup di hadapannya dalam diam.
"Anda sudah mendengarnya, Akashi-san, tapi saya benar-benar berharap Ryouta diajari dengan lebih di rumah agar kejadian semacam ini tidak akan terulang kembali," kata seorang pria tua yang terduduk di balik meja dengan tulisan 'kepala sekolah' berdiri di atasnya.
Seijuurou membungkuk ke arah pria tersebut dan berkata, "akan saya pastikan. Terima kasih atas waktu Anda. Maaf telah merepotkan."
Setelahnya Seijuurou berjalan ke luar sekolah yang sudah mulai sepi tersebut karena memang sudah jam pulang sekolah dalam diam. Ryouta dengan patuh mengikuti si pemuda berambut merah di belakangnya. Anak itu sama sekali tak berani menatap kakaknya yang sepertinya sedang emosi sekaligus kecewa dengan perilakunya kali ini.
Kini terduduk di bangku penumpang belakang mobil pribadi keluarga Akashi, Seijuurou memandang lurus ke depan, meski ia sadar yang bisa dilihatnya kini hanya sandaran kepala supir di depannya namun ia tidak peduli. Kedua tangannya ia silangkan di depan dada.
Kedua alis merah pewaris keluarga Akashi tersebut bertemu di tengah dan tatapan matanya begitu tajam hingga jika tatapan bisa melubangi benda, mungkin sandaran kepala di hadapannya sudah berlubang bersama dengan kepala sang supir.
Di samping Seijuurou –oke, tidak benar-benar di sampingnya sebenarnya—terduduk Akashi Ryouta yang tengah menunduk menatapi kedua tangannya yang mengepal membentuk tinju di atas kedua pahanya yang bergetar. Helai-helai rambut kuningnya menutupi matanya hingga si sulung tak bisa melihat ekspresi apa yang tengah ditunjukkan mata coklat keemasan Ryouta saat ini.
"Kak..." lirih Ryouta bergumam hingga Seijuurou tak begitu jelas mendengar adiknya memanggilnya.
Seijuurou diam saja. Mental Ryouta kembali ciut.
Si sulung Akashi sepertinya masih belum bisa diajak bicara. Walau bagaimana pun, Ryouta sudah melakukan kesalahan besar hari ini. Label yang diberikan kakaknya semalam padanya kini benar-benar pantas untuknya. Wajar. Sangat wajar kalau si sulung Akashi marah padanya sekarang.
Ia memang seorang anak nakal sekarang.
Untuk pertama kalinya, Ryouta tidak bisa menahan emosinya dan lepas kendali. Ia marah dan meninju Hara di kelas tadi hingga anak itu mimisan dan jatuh terduduk di lantai kelas sembari memegangi sebelah pipinya yang ditinju Ryouta. Anak berponi panjang itu sepertinya begitu terpana dengan aksi yang diambil Ryouta tadi hingga otaknya lambat memproses apa yang terjadi.
Begitu Hara sadar apa yang terjadi, ia hanya meringis kesakitan dan tak lama kemudian para guru datang untuk mencegah Ryouta mendaratkan tinjunya lagi ke wajah Hara. Setelah itu... Ryouta hanya ingat ia dan Hara dibawa ke ruang kepala sekolah, lalu kakaknya muncul, si sulung Akashi dinasehati kepala sekolah lantas mereka meminta maaf pada Hara dan keluarganya yang juga dipanggil ke sekolah.
Tapi sungguh anak itu yang salah! Hara yang mulai duluan! Seandainya saja ia tidak memprovokasi Ryouta, Ryouta pasti tidak akan meninjunya!
Itu yang sebenarnya ingin dan coba Ryouta lakukan sejak kakaknya datang menjemputnya di ruang kepala sekolah. Tapi melihat ekspresi kakaknya yang begitu datar dan... gelap ketika kakaknya dinasehati oleh kepala sekolah untuk dapat mengajari Ryouta lebih baik, Ryouta jadi urung mengemukakannya.
Mobil sedan hitam itu bergerak pelan memasuki pekarangan rumah keluarga Akashi dan berhenti mulus di depan pintu rumah mereka. Seijuurou cepat membuka pintu dan melangkah masuk ke dalam setelah mengucapkan terima kasih kepada supir pribadi keluarga mereka.
Ryouta cepat-cepat membuka pintu dan mengikuti kakaknya.
"Kak."
Seijuurou membuka sepatunya dan meletakkannya di dalam rak sepatu. Tak sekali pun ia menoleh ke arah Ryouta.
Ryouta menelan ludah. Mata coklat keemasannya mengikuti sosok kakaknya yang terus berjalan menjauhinya tanpa menghiraukan panggilannya sama sekali.
Alis Ryouta berkerut. Matanya yang biasanya memancarkan keceriaan kini justru memancarkan kesedihan dan keputusasaan. Mulutnya setengah terbuka ketika kakaknya sama sekali mengacuhkannya.
Ryouta memasukkan sepatunya sembarangan ke dalam rak sepatu dan berjalan cepat menyusul kakaknya. Ia menoleh ke arah si sulung Akashi.
"Kak Seijuuroucchi! Maafkan aku, aku tahu aku salah," Ryouta mulai benar-benar merasa putus asa sekarang, melihat kakaknya tetap tak mau melihat ke arahnya, "tapi tolong dengarkan aku dulu-ssu..."
Tangan Ryouta terangkat. Sesaat ia berpikir untuk meraih lengan kakaknya dan menghentikan langkah tegasnya. Tapi ia ragu. Akhirnya ia menurunkan lagi tangannya, tapi kakinya masih berusaha untuk menyamakan langkahnya dengan langkah kakaknya yang pendek tapi cepat.
"Kak, kumohon, dengarkan aku dulu-ssu... Aku benar-benar minta maaf. Aku—aku tadi lepas kendali dan—dan..."
"Kak... aku tahu Kakak marah. Maaf-ssu... Katakanlah sesuatu, marahi aku, pukul aku... apa saja, lakukan apa pun asalkan Kakak tidak mengacuhkanku-ssu..."
Seiring dengan volume suaranya yang semakin mengecil, langkah kaki Ryouta semakin pelan hingga akhirnya ia berhenti.
Meski begitu Seijuurou tak kunjung berhenti. Bahkan kini ia sudah menjejakkan kakinya di anak tangga pertama.
"Kak Seijuuroucchi!" Ryouta setengah berteriak sekarang. Ia sudah benar-benar putus asa. Napas anak berambut kuning tersebut menjadi pendek-pendek akibat menahan emosi. Tidak, lebih tepatnya, menahan rasa sesal, bersalah, sekaligus putus asa yang membendung dalam hatinya.
Tidak bisakah kakaknya berhenti dan mendengarkannya? Sebentar saja?
Kali ini usaha Ryouta berhasil.
Seijuurou berhenti sebelum ia menjejakkan kaki di anak tangga berikutnya. Tapi ia hanya berhenti dan tidak menoleh ke arah Ryouta. Bahu si sulung yang kelihatan begitu tegang kini melemas sedikit. Mungkin anak itu juga tengah berusaha menahan emosinya.
Seijuurou menghela napas dalam dan panjang.
Bahu Ryouta melemas. Senyum mulai menarik sisi wajahnya. Harapan mulai terpancar di wajahnya.
Seijuurou menolehkan kepalanya beberapa derajat, tapi tetap tidak cukup bagi Ryouta untuk bisa melihat matanya mau pun hidungnya. Hanya lekuk tulang pipi si sulung yang bisa dilihat sang adik.
"Ryouta, Kakak sedang... tidak ingin mendengarkan apa pun..." Ryouta menahan napasnya tanpa sadar. Kedua matanya membulat, "... nanti kita bicarakan lagi."
Dan dengan itu, si sulung Akashi melanjutkan perjalanannya menuju kamarnya di lantai atas dan meninggalkan adiknya sendiri di bawah. Adiknya yang masih terlalu membeku untuk bisa bergerak dan melepaskan tatapannya dari punggung si sulung.
Suara sesenggukan sesekali terdengar dari kamar Seijuurou.
Ryouta menoleh ke sekelilingnya sesekali untuk memastikan kakaknya tidak berada di sana. Seharusnya Seijuurou sedang mandi sekarang ini. Di tangannya kini terdapat sebuah ponsel merah milik kakaknya. Ia menimang-nimang ponsel merah tersebut di tangannya sebelum membuka flipnya dan mencari-cari sebuah kontak.
Di tangannya yang lain terdapat sebuah ponsel berwarna kuning. Ponsel yang beberapa waktu lalu diberikan Seijuurou untuknya agar ia bisa menghubungi si sulung ketika situasi tak diinginkan terjadi. Tapi Ryouta belum diperbolehkan membawa ponsel itu ke sekolah oleh kakak sulungnya.
Setelah menemukan apa yang dicarinya, ia mencatatnya di ponselnya sendiri, menutup flip ponsel Seijuurou dan meletakkannya ke tempat semula; di nakas samping tempat tidur.
Setelah memastikan tidak ada yang memerhatikan, Ryouta keluar kamar Seijuurou diam-diam dan kembali ke kamarnya.
Suara sesenggukan masih bisa terdengar keluar dari mulut anak itu. Jika dilihat lebih teliti, di pipi anak itu ada bekas aliran air mata samar. Samar karena sudah dihapus oleh si pemilik pipi.
Ryouta mengunci kamarnya dan menelusup masuk ke dalam selimut. Flip ponselnya masih terbuka. Cahaya yang berpendar dari ponsel tersebut adalah satu-satunya sumber cahaya yang menerangi dalam kamar yang seutuhnya gelap tersebut.
Ryouta menatap sebaris nomor di layar ponselnya selama beberapa menit.
Sebutir air mata menetes, kembali mengaliri wajah tampannya. Kemudian dua, lantas tiga, dan empat hingga akhirnya air mata itu tak terhitung lagi jumlahnya.
Ryouta sudah tidak bisa berpikir lagi.
Ibu jari Ryouta menekan tombol hijau di ponselnya dengan ragu lantas menempelkan ponsel kuning tersebut ke telinganya.
"Halo?" sebuah suara perempuan yang sarat nada ragu terdengar dari ujung sambungan telepon. Sapaan ragu namun lembut tersebut hanya dibalas Ryouta dengan sesenggukan dari dasar tenggorokannya.
"Kak... Momoicchi... menurut Kakak, kalau Kak Seijuurou –hiks—sudah tak mau lagi mendengarkanku –hiks—dan mengacuhkanku –hiks—apa artinya-ssu?"
Holaaaa~~ gak terasa udah dua bulan setengah aku absen ya hahaha, rencana pas awal libu atau sebelum natal mau update eeeh gak taunya... keasikan nonton Avatar Korra hahahaha
Maafkan daku karena absen begitu lama! Semoga ini bisa mengobati kekecewaan kalian ya! Rencana sebelum masuk sekolah mau update lagi, doakan aja gak ada yang menghalangi.
Oke, sudah miripkah karakternya sama karakter mereka di animanga? Apa Kise udah cukup keliatan sisi gelapnya? Apa Aomine keliatan cengengnya? Haha aku juga baru tau kalo Aomine waktu kecil itu cengeng. Tapi itu emang official, jadi kubuat Aomine jadi begini di sini, hehehe
BTW, KUROKO NO BASKET EXTRA GAME UDAH RILIS! AKASHINYA... pendek ya... (digunting Akashi) wkwkwkwk sejujurnya, pas liat halaman terakhir KnB Extra Game, aku ngebayangin Akashi dan adik-adiknya udah pada gede di sini dan Akashi yang sulung justru jadi keliatan kayak anak SMP begitu berdiri bareng adik-adiknya terutama kalo dia udah berdiri di samping Aomine atau Midorima wkwkwkwkwk
Maaf gak bisa bales review satu-satu kayak dulu ya, maaf banget, tapi review, fav, dan alert kalian yang selalu bikin aku semangat lagi nulis lho! Makashi banget banget banget ya!
Review please?
