Kuroko no Basuke hanya milik Fujimaki Tadatoshi.
Cerita ini hanya milik saya seorang.
Warning: AU, Real&Nice! Akashi, brotherly love! a lot of them I think, cuteness ahead(?), alur kecepetan, half-assed chapter, OOC, typo, DLDR!
pengingat mulai dari chapter ini:
Seijuurou = 16 tahun
Shintarou = 13 tahun
Atsushi = 12 tahun
Ryouta = 10 tahun
Daiki = 9 tahun
Tetsuya = 5 tahun
Enjoy!
Chapter 9: As a Man, Apologizing
"Maafkan aku, Ibu. Aku benar-benar bodoh. Sekarang... mari kita pulang," kata Daiki lirih sembari melepaskan pelukannya pada sosok seseorang yang tengah terduduk di hadapannya. Ia sendiri tengah berlutut di depan sosok itu sekarang. Alis biru tuanya berkerut menunjukkan kalau ia benar-benar sedih dan menyesal.
Dengan sekali gerak, Daiki membalikkan badan dan berjongkok di depan 'sosok itu'. Secara tidak langsung meminta sosok itu merangkak naik ke punggungnya agar Daiki bisa menggendongnya pulang ke rumah mereka di bawah gunung.
Sosok itu naik ke punggung Daiki. Tangan hitam anak itu menyangga kokoh sosok di punggungnya dan dengan sekali hentak, Daiki berdiri. Dengan langkah yang sedikit bergetar karena menahan beban berat di punggungnya, Daiki melangkah.
"Yak! Setelah itu pementasan selesai-ssu! Tinggal menurunkanku dan –oof!" sosok itu yang tak lain tak bukan adalah Akashi Ryouta tak dapat menyelesaikan kalimatnya karena tubuhnya dijatuhkan begitu saja ke atas kasur empuk di kamar Daiki.
Daiki mengangkat kedua tangannya di udara. Wajahnya kelihatan tidak begitu senang ketika melihat Ryouta yang tengah bangkit dan duduk di atas tempat tidur. Meski Ryouta tetap bisa melihat kalau alis anak berkulit hitam itu berkedut karena tegang.
"Jadi?"
Ryouta mengulum sebuah senyum meledek. Sengaja ia menahan jawabannya agar Daiki semakin 'panas'. Karena walau bagaimana pun, meledek adiknya yang satu itu memang terasa sangat menyenangkan bagi Ryouta.
"Wah, bagaimana yaa," kata Ryouta. Mata coklat keemasan anak itu diputar sedemikian rupa sedangkan kedua tangannya ia gunakan untuk menopang tubuhnya.
Ujung bibir Daiki semakin tertarik ke bawah. Kesal melihat kelakuan kakaknya yang –astaga—masih sempat meledeknya di saat seperti ini.
Ngomong-ngomong, saat seperti ini itu maksudnya adalah dua hari sebelum pementasan.
Tidak ada waktu untuk melakukan ini!
"Ryouta..." Daiki 'hampir' memasang wajah memelasnya. Ia kesal sebenarnya tapi tak benar juga rasanya kalau ia memarahi Ryouta hanya karena hal kecil seperti itu. Apalagi Ryouta-lah yang telah mengajari seni peran selama beberapa hari belakangan ini.
Ryouta memejamkan matanya dan mendesah pelan. Sesaat kemudian, ia membuka sebelah matanya sembari menganggukkan kepalanya dan berkata, "Bagus, bagus-ssu."
"Tapi aku rasa akan lebih bagus lagi kalau kau menangis waktu si pemeran utama memeluk ibunya dan minta maaf-ssu," tambah Ryouta sembari mengangkat sebelah jari telunjuknya. Memberikan sedikit sarannya pada anak asuhnya itu.
Tangan Daiki melemas dan bahunya langsung jatuh begitu mendengar saran dari kakaknya yang berambut pirang itu.
"Aku tidak bisa menangis kalau tidak sedang sedih." Entah disadari anak berkulit hitam itu atau tidak, tapi salah satu sudut matanya baru saja berkedut. Mungkin dalam hati ia menganggap ide itu adalah ide terkonyol yang pernah dilontarkan Ryouta.
Ryouta memiringkan kepalanya, "cobalah dulu. Mau bagus atau tidak-ssu?"
Pertanyaan bernada sarkastik dari Ryouta membuat Daiki makin kesal. Karena, bukankah jawabannya sudah jelas? Tentu saja ia ingin hasilnya lebih bagus! Tapi... tidak adakah cara lain?
Ryouta memandang wajah Daiki yang kini ekspresi wajahnya berganti-ganti dari bingung menjadi kesal lalu berubah lagi menjadi ragu-ragu. Ryouta sampai mendengus menahan tawa melihat wajah Daiki yang sekarang kelihatan aneh.
Tapi perlu Ryouta akui, Ryouta sangat terkesan dengan perkembangan adiknya selama beberapa hari belakangan ini. Awalnya sangat sulit bahkan Ryouta sempat berpikir mengajari Daiki seni peran itu mustahil. Tapi anak berambut biru gelap itu berhasil membuktikan kalau ia memang ingin, ia akan berhasil melakukannya.
Pada hari-hari pertama mereka belajar, wajah Daiki tidak bisa berhenti berkedut di sana-sini. Anak berambut hitam itu juga sempat frustrasi karena tidak bisa melakukan satu adegan dengan benar hingga ia melemparkan naskahnya ke sembarang arah lantas membenamkan diri di atas kasur.
Tentu saja waktu itu Ryouta langsung memungut naskahnya dan memukul kepala Daiki dengan itu. Maksud awalnya adalah untuk membuat sedikit kesadaran menembus tebalnya tengkorak Daiki, tapi hasilnya justru tidak seperti yang diharapkan. Daiki malah kesal, merebut naskahnya dari tangan Ryouta dan balas memukul Ryouta dengan itu.
Akhirnya bukannya latihan, mereka justru asyik berperang.
Hari-hari selanjutnya, Daiki sudah bisa memerankan perannya dengan cukup baik... hingga ke adegan ia harus memeluk ibunya dan minta maaf.
Seperti sebelum-sebelumnya, Ryouta memberikan contoh yang kemudian akan dijadikan patokan oleh adiknya. Contoh dari Ryouta adalah begitu sang ibu mengatakan 'Nak, tinggalkanlah Ibu di sini. Kamu tak perlu takut lupa jalan, Ibu sudah menjatuhkan potongan ranting sepanjang jalan agar kau bisa pulang dengan patokan ranting itu', si pemeran utama akan terpana dengan kata-kata ibunya. Kemudian si pemeran utama akan mencengkeram lengan atas ibunya lalu menariknya ke dalam sebuah pelukan.
Mula-mula Daiki mengeluh kenapa adegan itu harus dilakukan seperti itu. Lalu setelah Ryouta menjelaskan panjang lebar alasannya, Daiki baru mau mulai berlatih. Namun, masalah sepertinya masih belum mau meninggalkan mereka.
Karena ketika mereka sampai di bagian Daiki harus mencengkeram lengan atas Ryouta –yang berpura-pura menjadi si 'Ibu'—tangan hitam Daiki hanya bisa mencapai lima sentimeter dari lengan Ryouta sebelum ia menjauh dan mengeluh kembali.
Perlu berkali-kali Ryouta meyakinkan sang adik untuk menahan rasa malu serta gengsi agar dapat melakukan persis seperti yang dicontohkan Ryouta padanya.
Latihan pun dilanjutkan. Daiki akhirnya berhasil mencengkeram lengan atas Ryouta tanpa wajah yang berkedut atau badan yang berpaling ke arah lain. Tapi rupanya masalah masih juga bersikeras tak ingin meninggalkan mereka.
Ketika Daiki mencondongkan badannya dan akan melingkarkan kedua tangan hitamnya di sekeliling Ryouta, Daiki justru tertawa dan adegan itu pun gagal total. Mereka berdua saling menjauh dan Daiki berkata 'melihat wajahmu dari dekat membuatku ingin tertawa'.
Bahu Ryouta melemas kala itu. Lelah hati dan badannya mengajari adiknya satu itu tentang dunia seni peran. Terlalu lelah bahkan untuk memarahi anak itu saja rasanya tidak bisa.
Pertama-tama, Daiki sangat buruk dalam melakukannya, lalu ketika sandiwara anak itu sudah membaik, anak berambut biru tua itu justru kurang bisa memerankan bagian yang sedikit sentimentil. Sekarang, setelah Ryouta berhasil meyakinkan anak itu untuk melakukannya, ia malah tak bisa menahan diri untuk tidak tertawa? Karena Daiki bilang ia ingin tertawa ketika melihat wajah Ryouta, haruskah Ryouta memakai topeng setiap kali membantu anak itu berlatih? Yang benar saja!
Kira-kira begitulah yang dipikirkan Ryouta kala itu.
Akhirnya setelah memutar otak mencari cara untuk membuat Daiki tidak tertawa lagi di tengah latihan, Ryouta menemukan satu cara; merubah bagian di mana Daiki mencengkeram bahunya baru kemudian memeluknya.
Jika kemarin Ryouta mencontohkan bagian itu dengan 'terpana, mencengkeram bahu, lantas memeluk cepat', maka sekarang Ryouta kembali mencontohkannya namun bagian 'mencengkeram bahu' itu dicoret dari daftar alias tidak lagi dilakukan. Untungnya revisi itu sukses besar karena jika tidak... entahlah, anak berambut pirang itu sudah tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan.
Tepat ketika itu, pintu kamar Daiki diketuk dua kali dari luar. Daiki yang sedang berusaha mengeluarkan air matanya langsung menoleh ke pintu. Begitu pun dengan Ryouta yang berusaha melongok dari balik sosok Daiki yang tengah berdiri di hadapannya.
"Waktunya makan malam, Daiki, Ryouta. Cepat turun ke bawah." Terdengar suara Shintarou memanggil dari balik pintu. Setelah beberapa saat, hanya suara langkah kaki menjauh yang terdengar. Menandakan kalau si pemilik suara sudah melangkah pergi.
Daiki meletakkan gulungan naskahnya di nakas samping tempat tidur dan melangkah keluar kamar. Ketika tangan hitamnya memutar kenop pintu, sang anak berambut biru baru menyadari kalau kakaknya yang berambut pirang masih terduduk diam di atas tempat tidurnya.
"Kau tidak ikut? Kak Shintarou sudah memanggil untuk makan malam..." kata Daiki lirih. Kepalanya digerakkan menunjuk keluar pintu. Mata biru tuanya menatap kakaknya dengan tatapan kebingungan.
"Aah, aku rasa aku akan pass malam ini-ssu," jawab Ryouta dengan senyum menyesal. Sebelah tangannya terangkat dan dikibaskan di depan wajahnya.
Daiki mendengus mendengar jawaban kakaknya. Tangannya masih setia bertengger pada kenop pintu. Sedangkan ekspresinya seolah mengatakan kalau kakaknya baru saja mengatakan hal paling tidak masuk akal sedunia.
"Kau diet?"
Senyum di wajah Ryouta langsung menukik turun.
"Bukan-ssu! Pokoknya aku akan makan malam nanti, kalian duluan saja. Ada... tugas yang harus kulakukan-ssu..." kata Ryouta memprotes gurauan Daiki barusan.
Entah kenapa ketika menanggapi gurauan adiknya, Ryouta tidak mau menatap adiknya dan lebih memilih untuk menatap tangannya yang diletakkan di samping tubuhnya.
Daiki mengangkat bahu dan bergumam 'terserah' dan 'kau yang rugi' sebelum menutup pintu dan berjalan cepat menuju ke ruang makan.
Empat orang yang sudah duduk di meja makan menatap Daiki yang baru datang dengan tatapan bingung. Ke mana satu orang lagi yang tadi bersama Daiki di kamarnya? Si anak berambut kuning yang biasanya berisik itu.
Empat pasang mata mengikuti gerakan tubuh Daiki yang menarik kursi dan duduk di atasnya. Menyadari ia sedang ditatapi oleh saudara-saudaranya, Daiki mengangkat kepalanya dan menatap balik.
"Apa?" tanya Daiki dengan alis terangkat.
"Mana Ryouta, Daiki?" tanya Seijuurou yang duduk di ujung meja makan. Sepasang alis merahnya berkerut. Bukan dalam artian yang jelek, lebih seperti berkerut karena bingung dan... kecewa? Entahlah, ekspresi Seijuurou saat ini sulit dijelaskan.
Daiki menarik kursinya maju dan mengambil sumpit di samping mangkuk di hadapannya. Setelah mengucapkan 'itadakimasu' dengan tangan tertempel tepat di depan dada, anak berambut biru itu menatap si sulung. Kedua bahunya terangkat, dan ia berkata, "Aaah, soal itu, katanya ia punya tugas."
Daiki menjepit ramen –menu makan malam mereka malam itu—dengan sumpitnya dan langsung memasukkannya dalam mulut. Hal itu sukses membuat lidahnya terbakar akibat ramen yang masih panas. Seperti ikan yang dibawa ke daratan, Daiki megap-megap menghilangkan panas dalam mulutnya.
Setelah beberapa saat, akhirnya Daiki mengunyah jalinan ramen tersebut dan menelannya. Segelas air putih dingin segera didorong Seijuurou mendekati adiknya satu itu yang langsung disambut dengan tangan terbuka.
Isi gelas tersebut habis dalam sekali teguk.
"Begitulah akibatnya kalau rakus," celetuk Shintarou dari sisi meja. Tanpa memandang Daiki yang kini tengah memasang cengiran lebar-tapi-terlihat-konyol di wajahnya, Shintarou mengambil sumpit dan memasukkan beberapa ramen ke dalam mulutnya. Tentu saja setelah ditiup beberapa kali terlebih dahulu.
"Jadi? Ryouta punya tugas apa?" tanya Seijuurou lagi. Masih belum menyerah dalam mendapatkan informasi mengenai kenapa si adik yang berambut pirang tidak ikut mereka makan malam hari ini.
Tidak. Sebenarnya bukan hanya itu alasan si sulung gigih bertanya pada adiknya. Sebenarnya si sulung merasa sangat bersalah ketika Ryouta memanggilnya berkali-kali kemarin, menuntut si sulung untuk mendengarkan alasan yang ia miliki, ia justru tidak mau mendengar dan pergi begitu saja.
Rencananya ia akan meminta maaf pada Ryouta hari ini. Melakukan apa yang tidak dilakukan si sulung kemarin; mendengarkan apa pun yang perlu dikatakan adiknya. Menjalin lagi hubungan mereka yang sepertinya mulai retak.
Atau memang sudah retak?
Sejujurnya, saat itu Seijuurou hanya... tidak bisa berpikir lurus. Kecewa, kesal sekaligus bingung bercampur menjadi kabut yang menutupi akal sehatnya. Pikirannya terlalu kacau untuk bisa mendengarkan apa yang Ryouta ingin katakan padanya. Terlalu kacau untuk bisa memandang suatu masalah dengan jelas.
Maklum, baru sekali ini adiknya berulah di sekolah. Oke, mungkin adiknya sudah sering berulah di sekolah seperti Daiki yang sering tertidur di kelas atau Atsushi yang sering sekali membuat gurunya marah karena anak berambut ungu itu selalu tidak mengindahkan larangan gurunya untuk tidak makan kudapan di tengah pelajaran.
Namun, ulah adik-adiknya tadi tidak ada yang benar-benar serius. Setidaknya, tidak mengganggu mau pun menyakiti anak lain.
Sedangkan ulah Ryouta? Ulah Ryouta kali ini sangat serius. Maksudnya... ia memukul temannya! Bahkan anak itu –siapa namanya? Hara?—baru berhenti mimisan setelah beberapa menit. Ah, dari kelihatannya, ada kemungkinan hidungnya patah.
Seijuurou benar-benar kecewa pada sikap Ryouta. Ryouta yang ia kenal adalah Ryouta yang selalu bersikap manis dan manja meski kadang juga menyebalkan. Ia sudah sering bertengkar dengan Daiki, tapi tak pernah sekali pun ia mengambil tindakan se-ekstrem itu. Paling-paling ia hanya akan mendiamkan Daiki atau mencubit pipinya berkali-kali atau... apa pun itu yang tidak menimbulkan luka serius pada adiknya.
Kepala si sulung tidak berfungsi dengan baik waktu itu dan menurutnya Ryouta memang salah dan tidak perlu lagi ada alasan. Salah tetap salah. Apa pun alasannya. Karena itulah Seijuurou memilih untuk tidak berbicara dengan adiknya terlebih dahulu. Ia khawatir pikirannya yang tengah berkabut akan mempengaruhi kebijakannya nanti. Ia khawatir ia akan marah-marah dan –mungkin—membentak adiknya.
Setelah berpisah dengan Ryouta di tangga dan merenung di kamarnya, pikiran Seijuurou baru bersih kembali. Sayangnya ketika Seijuurou ingin minta maaf dan bersedia mendengarkan apa yang Ryouta ingin sampaikan padanya, Ryouta yang justru sepertinya tidak ingin mengatakannya.
Anak itu selalu berdalih agar bisa tidak berjumpa muka dengan si sulung. Pagi tadi, Ryouta berdalih ia ada tugas piket, jadi ia sarapan lebih dulu dan pergi ke sekolah ketika saudara-saudaranya yang lain masih sarapan. Lalu sekarang, ia berdalih ada tugas? Sebegitu penting dan banyakkah tugasnya hingga bergabung makan malam saja tidak bisa?
Daiki lagi-lagi mengangkat bahu tanda tak tahu. Tangan hitamnya kembali mengambil beberapa ramen dan meniupnya, "Entahlah. Sepertinya ia dapat tugas sulit untuk Hari Ibu nanti. Kulihat ia sudah hampir seminggu duduk di depan meja belajar di kamarnya dengan kertas yang masih kosong. Aah entahlah, ia tidak mau mengatakannya padaku."
Alis Seijuurou berkerut makin dalam.
"Kalau memang sulit, kenapa tidak minta bantuan Kakak?" gumam Seijuurou lebih pada dirinya sendiri. Kepalanya menunduk sedikit dan tangannya memegang dagu. Sebuah tanda kalau ia tengah beerpikir. Lebih tepatnya, menebak tugas apa yang kira-kira tengah dikerjakan Ryouta dan kenapa adiknya satu itu tidak mau meminta bantuan padanya.
Shintarou, Atsushi, Daiki, dan Tetsuya saling bertukar pandang. Mereka tahu pasti jawaban atas hal itu.
Bukannya Ryouta tidak mau minta tolong pada kakak sulung mereka. Hanya saja sepertinya mustahil mencoba untuk meminta bantuan si sulung. Mengingat betapa sibuknya si pemuda berambut merah itu akhir-akhir ini.
Keempat bersaudara itu diam-diam sepakat untuk tidak mengatakan apa pun dan membiarkan si sulung menebak-nebak.
Malam itu, meja makan keluarga Akashi terasa begitu sepi tanpa si anak berambut kuning yang biasa membuat keributan.
Nijimura Shuuzou memeriksa dokumen dalam laptopnya beberapa kali. Menaik-turunkannya untuk melihat jikalau ada pekerjaan yang belum selesai dikerjakannya. Setelah memastikan beberapa kali, mata hitamnya membulat dan badannya dicondongkan ke depan. Seakan tidak percaya akan apa yang dilihatnya sekarang ini.
"Baiklah. Pekerjaan kita sudah selesai," kata Nijimura dengan wajah berbinar dan sudut bibir yang terangkat sedikit dalam bentuk sebuah senyuman tipis. Bahunya yang tadi sempat tegang kini melemas sedangkan punggungnya ia pertemukan dengan sandaran kursi yang empuk.
Laptop di hadapannya ditutup dan beberapa lembar kertas yang berserakan di atas meja kerjanya dibereskan. Duduk tak begitu jauh darinya adalah Akashi Seijuurou –yang tadi juga memindai layar laptop bersama Nijimura dan tersenyum—beserta seorang pemuda berambut abu-abu yang berwajah tidak tertarik.
Dari nametag yang disematkan di dadanya, bisa diketahui kalau nama pemuda berambut abu-abu tersebut adalah Haizaki Shougo. Biang keladi dari kekacauan keuangan yang terjadi di perusahaan keluarga Akashi.
Sekaligus penyebab dari sakit kepala yang kerap dialami Nijimura dan Seijuurou selama beberapa hari terakhir.
Nijimura memandang jam di salah satu sudut kubikel kerjanya. Jarum jam tersebut menunjuk tepat pukul lima sore. Pekerjaan mereka selesai bertepatan dengan jam pulang kerja. Kebetulan yang begitu menyenangkan karena entah kenapa pemuda berambut hitam tersebut merasakan desakan yang begitu kuat untuk segera beristirahat.
Nijimura membalikkan badannya dan tepat ketika ia baru akan membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu, suara telepon berdering masuk ke liang pendengaran mereka bertiga. Mengejutkan ketiganya.
Seijuurou tersenyum canggung ke arah senior-seniornya sesaat sebelum merogoh saku seragam sekolahnya dan mengeluarkan sebuah ponsel merah yang masih bergetar. Bisa dipastikan ada sebuah telepon masuk.
"Permisi," kata Seijuurou sebentar dengan sebelah telunjuk terangkat sebelum menjauh dari Nijimura dan Haizaki dan mengangkat telepon tersebut.
Setelah dirasa cukup jauh, dengan satu sentakan flip ponsel Seijuurou terbuka. Manik merah Seijuurou memindai layar teleponnya dan di sana tertulis 'Paman Teppei memanggil'. Setelah menekan tombol hijau di sisi kiri ponselnya, ia menempelkannya ke telinga.
"Halo? Akashi Seijuurou di sini," gumam Seijuurou hampir dengan otomatis. Manik merahnya melirik ke samping.
"Seijuurou? Pekerjaanmu sudah selesai?" suara Teppei terdengar dari ujung sambungan. Mendengar pertanyaan pamannya membuat Seijuurou tanpa sadar mengangguk.
"Ah, ya, Paman. Baru saja selesai. Ada apa tiba-tiba menelepon?" balas Seijuurou begitu sadar pamannya tidak akan bisa melihat anggukannya dari sana.
"Begini, ada yang ingin Paman bicarakan denganmu." Meski tidak bisa melihat wajah pamannya secara langsung, dari nada suaranya Seijuurou bisa tahu kalau sekarang tengah ada sebuah senyuman simpul tertempel di wajahnya.
"Oh, kebetulan sekali. Rencananya memang aku akan pergi ke rumah Paman sepulang kerja hari ini. Paman sudah keluar dari rumah sakit, bukan?" tanya Seijuurouu. Sebelah alisnya terangkat dan manik merahnya melirik telepon di telinganya. Nada khawatir sekaligus curiga terdengar samar dalam suaranya barusan.
"Tentu saja sudah. Paman tunggu di rumah, oke?" suara pamannya yang ramah kembali terdengar. Kali ini suaranya terdengar seperti tengah berusaha menahan cengiran lebar. Cengiran senang yang mungkin muncul karena perhatian yang baru ditunjukkan oleh keponakan kesayangannya.
"Baiklah." Seijuurou tanpa sadar tersenyum simpul mendengar sepertinya pamannya baik-baik saja dan cedera lutut –yang ia dapatkan setelah terperangkap dalam sebuah kecelakaan—sudah sembuh sekarang.
Setelah mengucapkan 'sampai nanti' Seijuurou menekan tombol merah di ponselnya, menutp flip-nya dan memasukkannya kembali ke dalam saku bajunya. Kaki jenjangnya membawanya kembali ke tempat di mana Nijimura dan Haizaki masih menunggu dirinya.
Tepat ketika Seijuurou berada dalam ruang penglihatan Nijimura, pemuda berambut hitam tersebut berkata, "berhubung pekerjaan berat kita –terima kasih pada Haizaki—telah selesai, bagaimana kalau sekarang kita pergi merayakannya?"
Nijimura bangkit dan mengambil mantelnya yang ia sampirkan di sandaran kursinya. Haizaki ikut bangkit mengikuti seniornya. Ekspresi wajah anak berambut kelabu tersebut tampak tak senang dan ingin menolak tawaran seniornya. Mungkin pemuda itu punya firasat buruk mengenai apa yang akan terjadi nanti.
Tapi ia lebih takut pada amarah Nijimura sehingga ia lebih memilih diam dan ikut saja dengan apa pun itu yang direncanakan si atasan berambut hitam. Diam-diam ia melirik seniornya itu dengan tajam.
Nijimura yang sadar sepenuhnya kalau ia tengah dilirik tajam oleh juniornya, hanya membalas lirikan Haizaki dengan sebuah ekspresi menggoda. Bibirnya menyunggingkan sebuah senyuman mencurigakan.
"Tenang saja, Akashi, Haizaki yang akan bayar." Nijimura mengalihkan tatapannya pada Seijuurou. Seringai lebar sekarang menggantikan senyum yang tadi menempel di bibir pemuda berambut hitam tersebut. Ibu jarinya kini ia gunakan untuk menunjuk Haizaki yang terkejut dan memasang wajah yang seakan mengatakan 'kau pasti bercanda'.
"Apa-apaan? Aku sedang tidak punya uang!" tolak Haizaki dengan 'sopan' pada seniornya. Volume suaranya naik beberapa tingkat. Beberapa orang yang masih berada di ruangan tersebut bahkan sempat teralihkan perhatiannya akibat suara Haizaki yang oh-so-loud itu.
"Kau sudah menyusahkan kami! Jadi paling tidak kau harus membalas budi," balas Nijimura, tak mau kalah dengan juniornya yang berambut sewarna awan mendung tersebut. Entah pemuda itu sadar atau tidak, dagunya telah terangkat hingga sosoknya kini terlihat begitu berkuasa.
Seijuurou mengulum senyum melihat tingkah rekan kerjanya selama beberapa pekan terakhir. Tapi jujur, Seijuurou benar-benar kagum dengan Nijimura yang mampu mengendalikan Haizaki. Yah, meski cara mengendalikannya adalah dengan sedikit menaburkan ancaman di sana-sini.
Seijuurou mengangkat tangannya, "maaf, tapi aku rasa aku akan menolak tawaran tersebut."
Perhatian kedua orang yang tadinya sedang adu tatap di hadapan Seijuurou langsung teralihkan pada si sulung Akashi. Sebelah alis Nijimura terangkat heran sedangkan Haizaki berusaha tampak tidak peduli walau pun salah satu ujung bibirnya kini tengah berkedut, memberontak ingin naik.
Mungkin anak itu senang karena jika Seijuurou tidak ikut, sejumlah lembaran uang dalam dompetnya akan dapat terselamatkan.
"Kenapa, Akashi? Ayolah! Kapan lagi kita bisa makan gratis dibayari Haizaki?" gigih Nijimura mengajak. Sebelah tangannya tahu-tahu sudah merangkul Haizaki. Yang dirangkul melirik tangan yang bertengger di bahunya dengan tatapan tidak suka.
Seijuurou mendengus. Senyuman tipis masih setia menghiasi bibirnya. Si pemuda berambut merah membungkuk dan mengambil tasnya sebelum disampirkannya di satu bahu.
"Maaf, tapi aku ada perlu dengan direktur setelah ini," kata Seijuurou sembari membetulkan letak tali tas di bahunya, "mungkin lain kali, Nijimura-san, Haizaki-san."
Nijimura mengangkat bahu, "baiklah kalau begitu. Titip salam dan ucapan semoga cepat sembuh untuk direktur, ya, Akashi."
Seijuurou mengangguk pasti. Tubuhnya berbalik seratus delapan puluh derajat. Sayup-sayup ia bisa mendengar Haizaki berkata 'berarti tidak jadi aku traktir, kan?' dan Nijimura yang menjawab 'tentu saja jadi' serta 'kau masih berhutang padaku'. Pemuda berambut merah itu berderap cepat menuju lift yang kebetulan sedang terbuka. Dengan setengah berlari, Seijuurou masuk ke dalam lift tersebut.
Begitu pintu besi lift tertutup dan bunyi 'ting' khas terdengar, jemari Seijuurou menekan tombol bertuliskan G di tengahnya dan lift pun bergerak turun.
Tidak sabar rasanya Seijuurou sampai di rumah dan berkumpul dengan adik-adiknya seperti dulu lagi.
Tepat ketika Seijuurou baru akan mengetuk pintu ruang baca di rumah pamannya, Teppei sudah mendahului keponakannya dan membuka pintu tersebut. Senyum lebar terpampang ketika melihat keponakannya yang berambut merah sudah berdiri tegak di balik pintu.
"Sudah datang rupanya. Ayo, masuk, Seijuurou," undang Teppei ramah sembari bergeser satu langkah untuk memberi Seijuurou akses masuk.
Riko yang sedari tadi mendampingi Seijuurou kini berbalik. Sebelum wanita itu benar-benar pergi, ia sempat berkata kepada sepasang paman dan keponakan tersebut, "Bibi akan ada di dapur jika kalian butuh apa-apa."
Teppei sempat mengatakan 'jangan memaksakan diri, Riko. Kau tidak harus membuatkan kami apa-apa' dengan sedikit keras pada istrinya sebelum menutup pintu. Mungkin untuk mengantisipasi Riko yang berbalik dan memarahinya.
"Bagaimana lutut Paman? Nijimura-san titip salam juga ucapan semoga cepat sembuh," kata Seijuurou sembari tangannya meletakkan sebuah kotak kue bertuliskan sebuah nama toko kue yang cukup ternama di atas meja. Setelahnya, Seijuurou duduk di sebuah kursi yang terletak tepat di depan meja tersebut.
Begitu pintu tertutup, Teppei berjalan menuju kursi kerja yang terletak di seberang meja. Tepat di hadapan Seijuurou. Hal pertama yang dilakukan Teppei adalah membuka isi kotak yang dibawakan keponakannya dan melihat apa yang kiranya dibawakan keponakan kesayangannya tersebut.
Ternyata isinya adalah dorayaki. Makanan kesukaan Teppei.
Teppei tersenyum lebar dan matanya berbinar begitu beberapa bungkus dorayaki dalam kotak berwarna putih tersebut memasuki penglihatannya. Tanpa menunggu lagi, Teppei meraih satu, membuka bungkusnya, dan melahapnya langsung.
Gumaman tertahan keluar dari mulut Teppei. Kebahagiaan seakan memancar dari pria paruh baya tersebut begitu ia menggigit makanan kesukaannya.
Rupanya senyum yang kini melekat pada pamannya menular pada Seijuurou yang kini jadi ikut tersenyum. Senang melihat pamannya menyukai apa yang dibawanya.
Setelah menelan potongan dorayaki dalam mulutnya, dengan gaya acuh tak acuh Teppei berkata, "baikan. Tapi Paman dilarang melakukan aktivitas berat. Jika terasa sakit lagi, kemungkinan besar akan dioperasi. Katakan padanya terima kasih."
Senyum Seijuurou langsung sirna. Ekspresi senang di wajahnya langsung terbenam, digantikan wajah yang penuh kekhawatiran.
Teppei yang menyadari perubahan wajah si sulung Akashi segera saja menambahkan.
"Tidak perlu khawatir, Seijuurou. Paman baik-baik saja. Ngomong-ngomong Seijuurou, terima kasih dorayaki-nya ya. Kau tahu saja makanan kesukaan Paman." Teppei kembali melakukan kebiasaan lamanya. Tersenyum bodoh agar orang-orang di sekitarnya tidak khawatir. Sebelah tangannya mengangkat dorayaki di tangannya sedikit lebih tinggi.
Seijuurou hanya mengangguk sekali dan menggumamkan 'tentu'. Jemarinya kini terpaut satu sama lain di atas pahanya. Pemuda berambut merah itu sepertinya sudah mulai penasaran akan apa pun yang ingin dikatakan pamannya padanya.
"Na, Seijuurou," panggil Teppei setelah berhasil menghabiskan sepotong dorayaki, "bagaimana rasanya menangani masalah seperti itu? Pusing?"
Teppei tersenyum menggoda. Ada binar jenaka sekaligus senang di mata coklat kayu miliknya. Seijuurou mendengus sebelum membalas senyuman pamannya.
"Tentu saja. Baru pertama kali aku mengalami ini. Apa yang Paman harapkan?" tanya Seijuurou, seperempat sarkastis tiga per empat bercanda. Kepala bersurai merah miliknya dimiringkan sedikit. Pria paruh baya di hadapannya tertawa renyah.
Setelah tawanya mereda, Teppei menatap keponakannya dengan lembut, "Paman tahu. Pekerjaan ini akan sulit bagimu. Tapi di saat yang sama Paman juga percaya kau akan bisa mengatasi ini."
Suara Teppei ketika mengatakannya terdengar begitu tegas. Seakan sebelum kata-katanya benar terjadi pun, Teppei yakin –dan tahu—kalau keponakannya satu itu akan bisa memenuhi keyakinannya.
Seijuurou hanya tersenyum lembut ke arah pamannya. Ia merasa masih ada yang ingin dikatakan pria berambut coklat tersebut.
"Maka dari itu, sebagai semacam hadiah karena sudah berhasil menyelesaikan masalah itu tanpa bantuan Paman sama sekali, kau akan mendapat promosi. Paman tidak pernah memberitahumu, tapi sebenarnya selama ini Riko masih melakukan beberapa tugasmu. Nah, mulai sekarang kau akan mengerjakan semuanya sendiri. Singkat kata, kau akan 'sepenuhnya' menjadi asisten pribadi Paman. Tentu saja bayarannya juga bertambah. Kau akan digaji seperti layaknya pegawai tetap."
Mata Seijuurou melebar. Ia tidak menyangka kalau ternyata semua yang dilakukannya selama ini baru sebagian dari keseluruhan tugasnya sebagai asisten pribadi pamannya. Berarti pekerjaannya lebih berat lagi mulai dari sekarang?
"Kau setuju bukan?"
Tersadar dari lamunannya, Seijuurou –tanpa sadar sudah mencondongkan tubuhnya sedikit. Amat sangat sedikit—menjawab, "Tentu saja, Paman. Terima kasih."
"Kurasa kau dan Nijimura juga pantas mendapatkan bonus," sambung Teppei lagi dengan jemari yang membungkus dagu dan mata yang menutup tanda berpikir. Seijuurou mendengus menahan tawa melihat tingkah pamannya yang pura-pura terlihat serius.
Sayangnya sandiwara pamannya untuk serius gagal total karena tak lama setelahnya tawanya yang renyah kembali terdengar. Pria paruh baya tersebut berdiri, berjalan memutari meja dan mengacak-acak rambut keponakan kesayangannya.
Seijuurou tak bisa lagi menahan rasa geli dalam dirinya dan tersenyum. Sedikit banyak ia menikmati dan menghargai curahan kasih sayang yang didapatkannya dari sang paman. Sesuatu yang jarang Seijuurou dapatkan mengingat di rumah keluarga Akashi ialah yang selalu memberikannya.
"Ngomong-ngomong Seijuurou, warna matamu berubah jadi kekuningan. Kau stress sekali ya?" tanya Teppei setelah menghentikan tangannya yang tadinya sibuk mengacak rambut Seijuurou. Seijuurou mendongak menatap pamannya dengan kedua alis terangkat.
"Apa hubungannya aku stress dengan warna mataku, Paman?" Seijuurou tak bisa menahan diri dan mendengus. Menurutnya kata-kata pamannya tadi sangat tidak berhubungan. Memangnya tingkatan stress bisa dilihat dari warna mata?
Teppei menarik sebuah kursi tak jauh darinya dan duduk di samping Seijuurou. Sebelah tangannya ia gunakan untuk merangkul leher pemuda berambut merah tersebut.
"Kau tahu, kalau kau stress warna matamu akan berubah. Dalam kasusmu, merah berubah jadi agak kuning," jawab Teppei. Telunjuknya menunjuk mata Seijuurou.
Si sulung Akashi mengangkat alisnya. Sedikit tidak menduga kalau hal seperti itu benar-benar ada. Lagi pula, benarkah sebelah matanya berubah menjadi kekuningan? Kalau iya, kenapa Seijuurou sama sekali tidak menyadarinya? Pemuda berambut merah tersebut merasakan desakan hebat untuk melihat kaca sekarang.
"Itu jarang terjadi padamu tentu saja. Terakhir terjadi waktu Shintarou baru diadopsi ke keluarga Akashi. Mungkin kau sedikit stress karena perubahan struktur keluarga dan pelajaran-pelajaran tanpa henti yang diberikan ayahmu," lanjut Teppei seraya mengangkat bahu.
"Waktu itu kau jadi bersikap lebih dingin. Lebih... hmm, katakanlah anti-sosial? Entahlah. Pokoknya kau tidak seperti Seijuurou. Shintarou bahkan sempat takut padamu. Mulutmu jadi tajam dan semua orang terkena dampaknya. Meski mereka tidak ada hubungannya sama sekali dengan penyebab stressmu," Teppei terkekeh.
Entah kenapa semburat merah mulai muncul di kedua pipi Seijuurou. Malu rasanya ketika masa kecilnya diungkit-ungkit seperti itu. Benarkah ia bersikap seperti itu? Kenapa ia sama sekali tidak ingat?
Teppei melepaskan rangkulannya di bahu Seijuurou dan meraih kotak kue berwarna putih di atas meja. Sekali lagi ia mengambil sebungkus dorayaki dan membukanya. Setelah menawarkan satu gigitan pada Seijuurou –yang tentu saja ditolak oleh anak itu—Teppei mengambil satu gigitan besar.
"Baru ketika Paman dan Riko kasihan padamu dan meminta kau diberi libur, stressmu berkurang. Lalu kau kembali seperti normal," Teppei mengunyah dorayaki dalam mulutnya dan menggumam senang ketika giginya menembus kulit dorayaki dan menggigit kacang merah di dalamnya.
Jakun Teppei bergerak naik-turun ketika dorayaki yang sudah halus itu tertelan. Lantas Teppei membuka mulutnya, "Paman berharap kali ini kau tidak bersikap seperti itu lagi, Seijuurou, karena sekarang kau sudah dewasa. Sudah bisa membedakan masalah. Mungkin kau sudah tahu tapi Paman akan tetap mengingatkan. Jika kau ada masalah di luar, jangan kau bersikap dingin di rumah. Ketika ada masalah di rumah, jangan kau bawa ke luar."
Manik merah Seijuurou menghindari tatapan pamannya. Dialihkannya tatapannya pada lantai di bawah kakinya. Entah mengapa lantai dingin itu terasa lebih menarik sekarang dibandingkan wajah lucu pamannya yang makan dorayaki seperti anak-anak.
Suatu rasa tidak menyenangkan mulai mengumpul dalam hati kecil Seijuurou. Membuat dada anak itu sesak seakan terganjal sesuatu. Harapan pamannya tak sepenuhnya ia penuhi. Kenyataannya ia tak sedewasa yang dipikirkan pamannya.
Karena beberapa minggu terakhir, si sulung Akashi melakukan apa yang baru saja dilarang pamannya; mencampuradukkan masalah antara masalah rumah dan masalah luar.
Ryouta melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah dengan malas. Mata coklat keemasannya menatap lurus ke depan tapi tatapannya terlihat kosong. Pikirannya tak difokuskannya pada koridor di hadapannya. Kepala kuning anak kelas lima SD tersebut terisi penuh dengan hal-hal yang sekiranya bisa dijadikan alasan untuk tidak makan malam hari ini.
Apa sebaiknya nanti ia bilang ada tugas? Tidak, sepertinya alasan itu tidak akan masuk akal. Lagi pula ia tak mau berbohong kalau soal tugas. Kemarin ia memang benar-benar ada tugas, tapi tugas itu sudah selesai dan sudah dikumpulkan pagi tadi. Kalau begitu, apa sebaiknya ia berkata kalau ia sakit perut? Tidak, tidak, itu ide paling buruk yang pernah ada.
Ryouta menggelengkan kepalanya.
Kalau ia mengatakan itu, pasti kakaknya akan khawatir dan datang ke kamarnya untuk merawatnya secara langsung, seperti dulu ketika Atsushi pernah sakit perut karena salah makan.
Anak berambut kuning itu tidak membenci kakaknya, sungguh. Ia hanya... sedang tidak ingin bertemu si sulung untuk beberapa saat terlebih dulu. Mungkin itulah kalimat yang tepat untuk menggambarkan isi hatinya sekarang.
Ryouta berjalan memasuki kamarnya dan melemparkan tas punggung berwarna hitamnya begitu saja ke atas tempat tidur sebelum menutup pintu dan melangkah ke kamar sebelah. Kamar Daiki. Hari ini adalah hari terakhirnya mengajari Daiki seni peran. Besok adalah harinya Daiki unjuk gigi.
Tanpa Ryouta sadari besok sudah pertengahan bulan Mei. Tepatnya satu hari sebelum Hari Ibu.
Pintu kamar Daiki dibanting terbuka dan tampaklah sosok anak berkulit gelap dan berambut biru tua sedang memelototi kertas di hadapannya dengan mulut yang sibuk mengunyah satu burger teriyaki.
"Kertasnya tidak akan ke mana-mana, jadi tidak perlu dipelototi-ssu," ledek Ryouta. Ia berbalik dan menutup pintu. Lantas kakinya melangkah mendekati Daiki yang terduduk di sisi ranjang. Kini anak kelas empat sekolah dasar itu tengah menggaruk belakang kepalanya karena frustrasi.
"Aku bukannya memelototi kertasnya. Aku hanya..." Daiki mengeluarkan erangan frustrasi dari dasar tenggorokannya," mencoba untuk... menangis di bagian 'itu'."
Daiki mengalihkan pandangannya ke samping seraya menunduk. Pipi hitamnya perlahan berubah warna menjadi kemerahan meski samar-samar. Anak kelas empat sekolah dasar itu mengantisipasi ledekan yang akan keluar dari mulut kakaknya sebentar lagi.
Bukan ledekan tajam atau pun suara tawa yang ia dapatkan, justru suara sesuatu yang berat dijatuhkan di sampingnya yang terdengar. Daiki menoleh dan disambut oleh wajah serius Ryouta. Alis pirang kakaknya berkerut hingga bertemu di tengah.
"Apa?"
"Ah, bukan apa-apa. Ayo mulai latihan-ssu," balas Ryouta atas pertanyaan adiknya. Anak itu bangkit berdiri dan berjalan ke tengah kamar di mana ada lebih banyak ruang untuk bergerak. Daiki bangkit dan menyusulnya.
Naskah yang tadi dipegangnya dilemparkan begitu saja ke lantai tak jauh dari kakinya.
"Bagaimana kalau langsung ke bagian memeluknya saja? Aku sudah mahir di bagian lainnya," tawar Daiki sembari mengangkat kedua bahunya. Tanpa anak itu sadari, ia sudah menyombongkan dirinya. Sesaat kemudian, ia telah berlutut di hadapan Ryouta yang terduduk di lantai.
Kata 'terserah-ssu' memasuki liang pendengaran Daiki dan anak itu mulai merubah ekspresinya dari datar menjadi serius. Satu embusan napas panjang kemudian, alis Daiki sudah berkerut dan binar di matanya berubah menjadi suatu binar yang merupakan campuran antara kesedihan dan rasa tidak percaya.
Sebelah tangan hitam anak itu terangkat perlahan sebelum akhirnya sampai di bahu kanan Ryouta. Napas Daiki tertahan sesaat dan mulutnya membuka seakan ingin mengatakan sesuatu tapi urung. Dengan satu sentakan cepat, Ryouta sudah berada dalam pelukan adiknya. Pelukan yang erat dan penuh rasa bersalah.
Ryouta tahu, pelukan ini bukan pelukan yang ditujukan untuk meredakan rasa kecewa yang ada di hatinya sejak sekitar dua hari lalu. Tapi anak berambut pirang tersebut tetap memejamkan matanya dan menikmati momen itu seakan pelukan itu memang untuknya dan bukannya untuk karakter 'Ibu' dalam suatu kisah klasik Jepang.
Sepasang tangan Ryouta yang tergeletak begitu saja di lantai berkedut. Berusaha keras untuk menahan diri dan tidak ikut melingkarkan tangannya di sekitar bahu Daiki dalam rangka membalas pelukan tersebut.
Samar-samar Ryouta bisa mendengar napas Daiki yang tadi ditahan kini dilepas. Seakan napas adiknya adalah sebuah tanda, mata coklat keemasan milik anak kelas lima sekolah dasar itu perlahan bergerak membuka.
Tiba-tiba saja lilitan tangan hitam di sekeliling Ryouta mengerat.
"Aku dengar kau memukul temanmu –siapa namanya? Hara?—apa itu benar?" bisik Daiki pelan di telinga Ryouta sembari menjaga tangannya yang berada di sekeliling Ryouta untuk tidak mengendur agar kakaknya satu itu tidak bisa kabur.
Mata coklat keemasan milik sang kakak berubah sendu. Ini bukan dialog yang seharusnya Daiki ucapkan.
"Kenapa tiba-tiba bertanya-ssu?" tanya Ryouta yang menyerah dan ikut saja apa mau adiknya. Ia masih bertahan di posisi yang sama karena ia tahu, ia tidak akan bisa lepas dari cengkeraman adiknya meski ia mau. Senyuman pahit merayap di wajahnya.
"Kenapa?" tanya sang anak berkulit hitam. Kelihatannya ia sama sekali tidak peduli dengan usaha apa pun yang kakaknya lakukan untuk mengalihkan arah pembicaraan mereka. Pelukan erat anak itu perlahan terlepas dan tubuh hitam sang adik perlahan menjauh. Berganti menjadi cengkeraman tangan di kedua bahu sang kakak.
Mata biru tua Daiki memandang manik coklat keemasan kakaknya dengan tajam. Menuntut kejelasan.
Sulit bagi anak berambut biru tua tersebut untuk percaya kalau kakaknya telah berbuat hal sejauh itu.
"Anak itu mengejek teman dekatku, jelas saja aku marah-ssu," jawab Ryouta. Manik coklat keemasannya dipertemukan dengan Daiki dalam usaha meyakinkan anak itu. Tapi mungkin pandangan Ryouta terlihat bergetar atau apa sehingga tatapan adiknya justru menajam, "baiklah, baiklah. Sebenarnya ia mengejekku dan aku tidak suka-ssu."
"Kenapa?" kali ini nada penekanan dalam kata itu terdengar begitu jelas. Ternyata anak itu sama sekali tak membeli kebohongan Ryouta. Membuat sang anak berambut pirang dibuat tak bisa berkutik lagi.
Diam menjadi pilihan Ryouta. Tubuhnya tidak bergerak. Matanya dialihkan ke samping agar tak dapat bertemu pandang lebih lama dengan manik milik adiknya. Mulutnya terkatup rapat membentuk sebuah garis tipis yang cenderung melengkung ke bawah.
Daiki menggoyang bahu Ryouta sedikit.
"Dengar, Ryouta. Aku yakin kau pasti punya alasan untuk itu. Aku juga tahu kalau kau sudah berusaha menghindari Kak Sei beberapa hari terakhir. Tapi sungguh, sampai kapan kau mau menghindari Kakak?" tanya Daiki yang kini mulai memiringkan kepalanya agar dapat melihat manik coklat keemasan kakaknya.
"Aku... aku tidak pandai membaca seseorang tapi aku yakin Kakak punya alasannya sendiri saat ia tidak mau mendengarkanmu kemarin –ya aku tahu, jangan coba menipuku—cobalah untuk bicara dengannya. Ia ingin minta maaf."
Mata Daiki menyipit. Dari melihatnya saja Ryouta tahu ada banyak hal yang ingin dikatakan anak itu tapi ia tidak tahu bagaimana cara menyampaikannya dengan tepat. Meski ia tidak seburuk Shintarou dalam berkomunikasi, ia tetap bukan yang terbaik di keluarga mereka.
"Menghipnotis dan berusaha melupakan bukan jalan terbaik menyelesaikan masalah. Berhentilah lari dari masalahmu, Ryouta."
"Aku pulang," gumam Seijuurou pelan. Dibungkukkan badannya dan satu per satu dilepaskannya sepatunya. Setelah meletakkan sepatunya di rak sepatu, tangan si sulung Akashi beralih ke dasi di lehernya dan melonggarkannya. Membiarkan sedikit udara masuk.
"Selamat datang," sambut Shintarou yang berjalan dari arah ruang tengah. Tiba-tiba saja mata anak itu melebar sedikit. Langkahnya pun melambat hingga akhirnya berhenti. Sesaat kemudian, sebuah senyum mungil terbit di wajahnya.
"Ada apa?" tanya Seijuurou. Kedua alisnya terangkat ketika ia sudah berada di samping adiknya.
Manik hijau lumut Shintarou melembut. Kepalanya digelengkan pelan, "tidak ada. Hanya saja, sepertinya kakak sedang cukup senang hari ini?"
Senyum simpul Shintarou rupanya menular. Kini telah berpindah ke wajah Seijuurou juga. Si sulung tak lagi menutup-nutupi perasaan senang yang tersembul dalam hatinya. Sang pemuda berambut merah membuka mulut dan berkata dengan lembut.
"Aku dapat bonus dari Paman. Cepat berkumpul di ruang keluarga. Kalian akan dapat uang saku lebih cepat minggu ini."
Lima orang berkepala bak pelangi berdiri berjajar di ruang tengah. Dari kiri berdiri Shintarou, Atsushi, Daiki, Tetsuya, dan yang terakhir Ryouta. Empat dari lima orang yang berdiri tersebut tampak antusias. Oke mungkin Atsushi dan Tetsuya pandai menyembunyikan ekspresi mereka. Tapi binar senang jelas terpancar dari mata mereka.
Tak jauh dari mereka berdiri Seijuurou, beberapa lembar uang berada di tangannya. Sebuah senyum tipis terlukis di wajahnya. Senyum yang sepertinya merupakan campuran antara senang dan puas. Kakiknya melangkah mendekati Shintarou sementara jemarinya sibuk menghitung serta memisahkan beberapa lembar uang.
Setelah selesai menghitungnya, tangan Seijuurou terangkat ke hadapan adiknya yang tertua. Ada beberapa lembar yen di sana. Tangan sang adik terangkat menyambut lembaran uang di tangan Seijuurou.
Namun sebelum tangan Shintarou sempat menyentuh lembaran tersebut, Seijuurou menarik tangannya. Kedua alis Shintarou terangkat. Begitu ia mengangkat kepala, senyum Seijuurou menyambutnya.
"Jangan langsung dihabiskan untuk membeli lucky item, Shintarou," yang disebut namanya hanya tersenyum canggung, "lebih baik uangnya untuk... hmm, entahlah, mentraktir adik Takao mungkin?"
Senyum Shintarou langsung menukik turun. Semburat merah terang bisa terlihat menjalar di pipi anak berambut hijau lumut tersebut. Bahkan sekarang telinganya pun ikut memerah dan mulutnya terbuka lantas menutup kembali seperti ikan.
Seijuurou memindahtangankan uang di tangannya tepat ketika Shintarou dengan tergagap berkata 'Ma-maksud Kakak apa?' dan segera ia bergeser ke adiknya yang kedua. Lima lembar uang seribu yen di tangan.
Untuk beberapa giliran selanjutnya, Seijuurou tak banyak berkomentar mau pun mendapatkan komentar.
Akhirnya Seijuurou tiba pada adiknya yang berdiri paling akhir. Adiknya yang selama dua hari belakangan menghindarinya. Astaga, melihatnya tengah berdiri di hadapan Seijuurou sekarang saja rasanya hampir seperti melihat keajaiban.
Sengaja Seijuurou diam di hadapan Ryouta. Si sulung membiarkan mata coklat keemasan Ryouta menatapi ujung kaki Seijuurou yang bersentuhan langsung dengan lantai marmer di bawahnya. Tubuh anak berambut pirang tersebut bergerak risih. Seakan ia ingin lari dari tempat itu sekarang juga tapi menahan diri.
"Ryouta," panggil Seijuurou lirih. Lembut namun tetap tegas.
Kepala Ryouta tak kunjung terangkat. Justru tubuhnya terlihat semakin gelisah, semakin terlihat ingin balik kanan dan lari sejauh-jauhnya.
Seijuurou menghirup napas dalam dan mengembuskannya lewat hidung. Sesaat kemudian ia sudah berlutut di hadapan adiknya. Menatap adiknya dengan mata yang seolah meminta, memohon adiknya untuk menatapnya tepat di mata.
Sebelah tangan Seijuurou yang tak memegang uang digunakan si sulung untuk meraih tangan adiknya. Salah satu isyarat tubuh yang seakan meminta adiknya untuk berhenti menundukkan kepalanya.
Perlahan tapi pasti Ryouta mengangkat kepalanya. Coklat keemasan bertemu merah menyala. Kali ini kedua manik itu berwarna merah. Tidak lagi berwarna kekuningan.
Seijuurou membalik tangan Ryouta hingga kini telapak tangan anak itu berada di atas. Sejumlah uang yang tadi masih di tangan sang pemuda berambut merah, kini telah berpindah tangan seluruhnya. Tangannya yang kini sudah bebas meraih tangan Ryouta yang lain.
Tatapan Seijuurou yang melembut bertemu dengan tatapan ragu dari Ryouta.
"Ini untuk Ryouta, ada sedikit tambahan di sana," Seijuurou menunjuk lembaran uang itu dengan dagunya, "dan maafkan Kakak. Bukannya Kakak benci padamu. Sungguh bukan. Kemarin Kakak kecewa dengan sikap Ryouta. Karena Ryouta yang Kakak kenal tidak akan melakukan itu."
Mata Ryouta berpendar sendu. Ia seakan sedang mengatakan 'Kakak berpikir seperti itu?' melalui matanya. Seijuurou kembali melanjutkan. Tanpa sadar kedua ibu jari Seijuurou sudah mengelus punggung tangan Ryouta. Menggambar lingkaran-lingkaran khayal di atasnya.
"Waktu itu, Kakak khawatir jika Kakak bicara padamu saat itu juga Kakak akan memarahimu, mungkin membentakmu. Tapi sekarang Kakak sadar, Ryouta pasti punya alasan untuk itu dan apa pun itu pantas didengarkan."
Seijuurou menyentakkan tangan Ryouta dengan lembut satu kali. Mencoba meyakinkan Ryouta kalau ia benar-benar bersungguh-sungguh dengan kata-katanya. Mereka berdua terdiam. Tidak, lebih tepat kalau dikatakan semua yang ada di sana terdiam.
Seijuurou diam menunggu Ryouta bereaksi sedangkan Ryouta terdiam atau mungkin akan lebih tepat dikatakan kalau anak itu membeku di tempat. Menyadari adiknya yang sepertinya masih terpaku, Seijuurou mengambil inisiatif dan membuka mulut.
"Karena itu, maukah Ryouta memaafkan Kakak dan mulai menceritakan apa pun yang sedang Ryouta rasakan saat ini supaya Kakak mengerti?"
Ryouta mengerjap beberapa kali. Ia menarik kedua tangannya dari rengkuhan tangan sang kakak. Untuk sesaat matanya bergerak ke sana ke mari seperti orang linglung. Sadar kalau di tangannya sudah terdapat beberapa lembar uang, Ryouta mulai menghitungnya.
Dari posisinya yang berlutut di hadapan sang adik, Seijuurou tahu kalau anak bermabut kuning itu baru saja menelan ludahnya. Tangan anak itu bergetar tapi ia tetap menyodorkan kembali uang yang tadi diberikan Seijuurou. Seluruhnya.
Alis Seijuurou terangkat dan matanya melebar sedikit. Si sulung baru saja hendak bertanya ketika adiknya mendahuluinya.
"Kalau... kalau begitu, terimalah uang ini-ssu," alis merah Seijuurou berkerut dalam. Tidak mengerti apa maksud semua ini, "lalu berikan aku satu hari –tidak—beberapa jam saja besok. Aku... ingin Kakak datang ke sekolah. Kakak akan mengerti jika Kakak datang. Uang ini... untuk menggantikan tiap jam yang Kakak berikan padaku-ssu."
Seijuurou tidak mengerti kenapa adiknya bisa berpikiran seperti itu. Ia juga tidak mengerti dari mana ia bisa mendapatkan pikiran seperti itu. Berpikiran untuk 'membeli' Seijuurou agar si sulung bisa memberikan beberapa jam miliknya esok dan datang ke sekolah. Sejujurnya, itu konyol. Jika Ryouta memang ingin Seijuurou datang, ia hanya perlu meminta.
Apakah ia takut ia akan mengganggu pekerjaan Seijuurou dan membuat si sulung kembali marah padanya? Apa mungkin seperti itu?
Seijuurou mengangkat tangannya. Empat jemari Ryouta yang tadinya lurus menunjukkan apa yang ada di tangannya kini Seijuurou gulung hingga tangan yang lebih kecil darinya itu menggenggam uang di tangannya. Tanpa melepaskan pegangan tangannya, Seijuurou berkata, "Simpan saja. Katakan jam berapa Ryouta mau Kakak datang dan Kakak akan datang."
Senyum dan sorot mata Seijuurou yang begitu absolut berhasil meyakinkan Ryouta. Sebuah senyum lebar yang terkesan lega merekah di wajah sang anak berambut kuning disertai dengan bahu ayng terlihat melemas rileks. Entah sejak kapan, air sudah menggenang di pelupuk mata anak tersebut.
Ryouta langsung memeluk kakaknya. Begitu erat dan tiba-tiba hingga jika Seijuurou tidak cepat tanggap, mungkin mereka sudah akan terjengkang di lantai. Bahu adiknya bergetar. Getaran yang tak diketahui Seijuurou apakah itu dari rasa senang atau justru karena sedih.
Kakak telah kembali...
Seijuurou mendengus sebelum melingkarkan tangannya di sekeliling adiknya. Matanya terpejam dalam upaya menikmati momen tersebut. Dapat didengarnya suara Ryouta berbisik tepat di samping telinganya, "I love you-ssu."
"I love you too," balas Seijuurou dengan pasti namun lembut. Pengucapannya begitu sempurna hingga adik-adiknya yang lain –kecuali Tetsuya yang belum mengerti bahasa Inggris—meringis mendengar betapa sempurnanya kalimat itu meluncur dari mulut kakak mereka.
"I love you more-ssu," balas Ryouta tak mau kalah. Pelukannya di sekitar leher sang kakak mengerat.
Mengerti maksud sang adik, Seijuurou terkekeh pelan. Sebelah tangan si sulung terangkat mengelus kumpulan rambut kuning milik adiknya. Adiknya yang satu itu memang sangat senang menonton film, terutama film luar negeri. Tidak heran kalau sekarang ini ia tengah mengambil salah satu quote dari film-film tersebut.
"I love you most."
Seijuurou menutup pintu kamarnya dengan sebelah tangan. Tangannya yang lain menggenggam ponsel flip merah miliknya. Lincah ibu jarinya menekan keypad poselnya. Mencari sebuah nama di antara daftar kontaknya. Setelah beberapa saat ia mencari, Seijuurou menekan tombol hijau lantas menempelkan ponsel itu di telinga.
Selagi nada monoton terdengar, Seijuurou melangkah dan duduk di sisi tempat tidurnya. Mata merahnya melirik ke sana ke mari, mencari suatu objek yang menarik untuk dilihat.
Kata 'halo' terdengar dari ujung sambungan telepon.
"Halo, ini—" Seijuurou terdiam lantas mendengus. Senyum simpul merekah di wajahnya, "ya, tidak perlu berkata sinis begitu bukan? Ah, Junpei, besok sekolahmu merayakan Hari Ibu?"
Telinga Seijuurou setia mendengarkan apa yang dikatakan lawan bicaranya sementara matanya menatap ujung kakinya yang berbalut kaus kaki. Lawan bicaranya –Junpei—terdiam dan di situlah Seijuurou sadar kalau inilah saatnya ia kembali bicara.
"Ah, tidak, sebenarnya aku ingin minta tolong padamu besok..."
Setelah bertukar kata beberapa kali lagi, Seijuurou mengucapkan kata 'terima kasih' dan 'sampai nanti' pada sepupunya tersebut sebelum memutus sambungan telepon. Dengan sekali sentakan jari, Seijuurou menutup flip ponselnya.
Si sulung Akashi menghela napas panjang.
Sepertinya besok akan menjadi hari yang panjang.
Seharusnya ini chap terakhir buat masalah Ryouta, tapi kalo aku terusin kok kayaknya bakal nyampe 10000 words, jadi aku potong sampe sini aja. Chap selanjutnya yang terakhir, terus kemungkinan bonus chap dulu, baru masuk masalah baru. Tapi kayaknya abis chap depan bakal hiatus deh. Soalnya... skill nulis aku nambah jelek kayaknya dan butuh waktu untuk bikin itu bagus lagi. Mungkin pas di tengah-tengah KnB S3 tayang baru ada lagi mood nulisnya haha.
Special thanks to: Shiro-chan1827, tama. daidouji, Antares Kuga, S. Hanabi, aya. komichi. 9, araya. faiqo, 11th Autumn, Letty-Chan19, madeh18, Z-ya14, Nana Lambert, Taiyo Akarui, Aterbury, Ritsu Natsuki, ristia15, Chio'No'Akuma, Harumia Risa, Kaito Akahime, aeon zealot lucifer, Shizuka Miyuki, YuuRein, affsaini, Indrikyu88, AzuraLunatique, sakazuki123, killie. sungie, Keys13th, 27aquarrow72, azmisama, takukai, outofblue, Aprilia Echizen, Nakazawa Ayumu, VandQ, UchiHarunoKid, Rune Of Darkness, devi no kaze, Kise-nyan, Arvexio Renn, el Cierto, Shiraume. machida, Jasmine DaisynoYuki, Noir-Alvarez, Nigou-i, Akaba Shinra, Harpgirl, Guest, Angelalfiction, Anon.
Bales Review~:
Aterbury: mungkin karena fic ini terkubur setelah lama gak diupdate wkwkwkwk Makasih pemberian semangatnya! Hmm, kita liat aja gimana ke depannya ff ini oke? /gantung
Harumia Risa: BENERAN? Kukira ini chap ini bakal mengecewakan. Syukurlah Risa sukaaa, btw keluarin aja kalo mau nangis! Menahan nangis itu gak sehat(?) Apa ini udah cukup cepat? Btwm thanks reviewnya!
Keys 13th: nih /dorong Ryouta/ apa ini lama? Thanks reviewnya ya! XD
Shiraume. machida: karena eh karena berjudi itu haram(?) /nahlo?/ Kise gitu looh, dia kan tegaaar, apalagi waktu di anime yang pas lawan Haizaki wkwkwk S3 udah apdet loh! Udah nonton belom? Btw, thanks ya reviewnya! X3
Akaba Shinra: Selamat datang kembali! /bukatanganlebar-lebar/ aku juga bingung gimana mau ngucapin terima kasih sama kamyuuu /jiahalaynyakeluar/ ini udah update, makasih dukungannya! Tapi di extra game Akashi jadi kayak anak SMP yang belagu wkwkwkwkwkwk. Thanks for your revieeew~
sakazuki123: ini silakan tisunya /nyodorintisu/ ini udah lanjut. Thanks reviewnya ya! X3
Harpgirl: hehe kemaren lagi liburan yaaa? Oleh-olehnya dong /plak/ iya, kasihan, tapi aku suka bikin dia kayak gitu wkwkwkwk /ehjahatnihorang/ ini lanjutannya dan makasih reviewnya! XD
Guest: aku juga speechless ngeliat Guest yang suka banget sama fic ini terutama chap itu! Aku beneran tersanjung deh! Ini dia updatenya! Makasih reviewnya ya! XD
Angelalfiction: ini udah update loh! Beneran! /eh?/ Makasih pujian dan reviewnya! X3
Anon: Akhirnya dirimu datang jugaaaaa /bersorak(?)/ abisnya kemaren-kemaren dirimu gak nongol sih. Seperti biasa reviewmu sangat bermanfaat! Aku usahain bakal lebih baik di chap selanjutnya! Sejujurnya aku juga gak puas nih sama chap kemaren dan chap ini juga, aku berusaha buat bikin chap ini lebih bagus tapi kayaknya yaa masih jelek ya? Btw, makasih banyak ya Anon! XD
S. Hanabi: Yoroshiku! Asli dirimu keren sekali wkwkwkwk review untuk chap pertama sampe chap ini diborong langsung wkwkwkwk. Dirimu lucu sekaliii! Thanks ya reviewnya dan ini lanjutannya!
Antares Kuga: aku juga suka banget dirimu! /eh/ Hati-hati! Nanti dirimu keilangan banyak darah dan anemia gara-gara mimisan! /hah?/ ini lanjutannya! Makasih banyak dukungannya!
Noir-Alvarez: nangis lah Alvarez-san! Bahuku selalu siap menerimamu kok /eh?/ chap kemaren sekitar 8-9 ribu words loooh, kalo gitu kayaknya chap ini bakal gak memuaskan deh ya, maaf ya. Aku potong chap ini soalnya aku pengen chap depan lebih panjang supaya lebih ngena feelsnya /elah/ serius gak ada? Aku gak begitu ngecek soalnya mataku udah agak sakit harus mantengis layar lappie wkwkwkwk apa ini cukup cepet? Btw, thanks reviewnya ya!
Ada banyak hal yang pengen aku bilang ke kalian tapi gak bisa /eleh/ satu yang pasti aku bakal hiatus sampe yah mungkin setengah dari season 3 KnB tayang soalnya imajinasi mulai tersendat dan nulis pas imajinasi tersendat itu rasanya gak enak. Tapi aku bakal nyelesain masalah Kise dulu kok baru hiatus! Jadi tenang aja! Chap selanjutnya mungkin baru nongol paling cepat dalam dua minggu, tolong bersabar ya...
Btw, KnB season 3 rilis! Akashi dapet screen time lebih banyak! Pas endingnya, Kuroko... perkembangan Kuroko dari bayi sampe SD adaa! Lucuuuu! Udah nonton kah kalian? XDDD
Ada yang bisa nebak asal quote yang dipake di chap ini?
Review please?
