Kuroko no Basuke hanya milik Fujimaki Tadatoshi seorang.

Cerita ini hanya milik saya seorang.

Warning: AU, Nice¬-so-perfect! Akashi, brotherly love! a lot of it I think, cuteness ahead(?), alur kecepetan, half-assed chapter, OOC, typo, DLDR!

pengingat mulai chapter ini:

Seijuurou = 16 tahun

Shintaoru = 13 tahun

Atsushi = 12 tahun

Ryouta = 10 tahun

Daiki = 9 tahun

Tetsuya= 5 tahun

Enjoy!


Chapter 10: As Mom, Fully Understands


Daiki berdiri kaku di depan cermin. Sekilas ia terlihat seperti prajurit yang tengah ditatapi komandannya; berdiri tegak tapi terlalu kaku. Jemarinya yang berada di sisi tubuh anak berkulit hitam tersebut menggulung menutup dan membuka beberapa kali.

Mulut anak itu membuka tapi yang keluar hanyalah suara tertahan yang terdengar seperti orang tercekik. Erangan yang sepertinya merupakan campuran antara kesal, frustrasi, dan putus asa keluar dari dalam tenggorokannya.

Untuk pertama kalinya seorang Akashi Daiki merasa gugup luar biasa.

Dalam pikiran anak itu kini tengah berputar kalimat-kalimat semacam 'apa aku bisa melakukannya?', 'jangan-jangan saat di panggung nanti aku malah tidak bisa bicara', dan 'aaah, aku harus bagaimana?'.

Untuk sepersekian detik, Daiki ingin menggulung dirinya menjadi bola lantas sembunyi di bawah tempat tidur hingga matahari terbenam. Hanya agar ia tak perlu menghadapi sumber kegugupannya; tak lain tak bukan adalah berdiri di atas panggung dan memerankan tokoh utama Ubasuteyama.

Tepat saat itu, dua buah tangan menepuk sepasang bahunya pelan tapi tegas dan sosok berkepala kuning dengan senyum lebar muncul dari balik bahunya. Senyum anak itu –yang Daiki kenal sebagai kakak angkatnya, Akashi Ryouta—begitu lebar hingga membuat Daiki ingin melayangkan tinjunya ke sana.

Karena, tolong, ia sedang gugup, jangan diberi senyuman super lebar seperti itu! Tidak bisakah Ryouta membaca suasana hatinya sekarang?

Senyuman seratus watt milik Ryouta itu justru membuat hati Daiki makin kelam dan anak berambut biru tersebut diam-diam merutuki kakaknya dalam hati.

"Tenanglah. Kau sudah berlatih keras, jadi pasti nanti akan sukses-ssu!" bisik Ryouta dari belakang. Meski kalimat Ryouta diucapkan dengan lirih, Daiki masih bisa mendengarnya dengan baik. Tanpa sadar sang adik menahan napas. Terkejut dengan kata-kata kakaknya.

Sesaat kemudian Ryouta mendengus lantas menepuk dada, "apalagi kau punya guru yang hebat sepertiku-ssu!"

Mata biru tua Daiki langsung menyipit dan perasaan senang sekaligus bangga dengan kakaknya –karena momen di mana Ryouta mengatakan sesuatu yang bagus itu langka—langsung menguap bersama udara.

Dalam hati anak berambut biru tua tersebut menyesal sempat senang tadi.

Tawa renyah Ryouta terdengar. Ia melangkah ke samping Daiki dan berdiri bersisian dengan adiknya. Mata keemasannya menatap adiknya lewat cermin di hadapannya sedangkan sebelah tangan anak itu masih setia bertengger di salah satu bahu adiknya.

"Bercanda-ssu," Ryouta mengangguk pasti, "dramanya pasti akan sukses. Karena yang memainkannya itu adikku yang sudah berusaha keras-ssu!"

Tangan Ryouta mengacak rambut biru adiknya keras. Menuai protes dari si empunya kepala. Bisa terdengar kalimat 'hei! Hentikan!' dan 'Ryouta, kau merusak rambutku!' terdengar dari mulut Daiki. Tapi bukan Akashi Ryouta namanya jika ia berhenti hanya karena adiknya menyuruhnya melakukan itu.

Tangan Ryouta justru semakin kencang mengacak rambut Daiki dan senyuman Ryouta makin lebar hingga ke titik di mana ia perlu menggigit bibir bawahnya supaya ia tak berteriak seperti orang gila karena rasa senang yang begitu membuncah dalam hati.

Ia merasa begitu senang pagi itu karena pertama, hari ini adalah hari di mana segala usahanya dan adiknya selama beberapa hari terakhir akan terbayar –Ryouta benar-benar tak sabar ingin melihat penampilan Daiki nanti!—dan kedua, si sulung Akashi akan meluangkan waktu untuknya siang ini!

Yah, meski pun kedatangan Seijuurou nanti belum pasti, tapi kakak sulungnya itu sudah berjanji akan datang dan melihatnya membacakan karangannya nanti.

"Hei, jam berapa pertunjukanmu nanti-ssu?" tanya alis kuningnya terangkat. Baru teringat kalau adiknya hanya akan melakukan pertunjukannya satu kali siang ini.

Mata biru tua Daiki melirik ke samping dan di saat yang sama sepasang alisnya berkerut hingga bertemu di tengah, berpikir. Bibirnya dikatupkan hingga membentuk satu garis tipis dan sebuah 'hmm' panjang namun pelan menelusup keluar dari bibirnya.

"Mungkin sehabis makan siang. Entahlah," jawab Daiki. Nada ragu terdengar kental dalam kalimatnya barusan. Anak berkulit hitam itu ingat kalau kemarin gurunya telah memberitahukan jam main mereka namun anak itu tak bisa mengingat jam pastinya.

Alis Ryouta mengerut, sepertinya anak itu teringat sesuatu. Tepat ketika ia membuka mulutnya dan akan bicara, suara Shintarou terdengar dari bawah. Memanggil mereka untuk turun dan segera sarapan.

Alhasil, apa pun itu yang ingin Ryouta katakan terpaksa tertahan di tenggorokan dan sayangnya, begitu mereka selesai makan dan beranjak ke sekolah, Ryouta sudah lupa apa yang akan ia katakan.


Seijuurou merapalkan jadwal kegiatannya berulang kali hari ini dalam kepala agar ia ingat betul apa-apa saja yang perlu ia lakukan. Bahkan ia merapalkannya ketika sarapan pagi ini, ketika sedang belajar di sekolah serta ketika ia melangkahkan kakinya menuju gym SMA Rakuzan.

Pertama pergi ke sekolah, begitu pulang sekitar jam dua belas –mereka pulang cepat hari ini karena Rakuzan begitu menghargai Hari Ibu—ia akan minta izin pada pelatih untuk mangkir dari latihan hari ini dan langsung pergi ke sekolah Daiki dan Ryouta untuk menonton mereka berdua.

Dalam hati Seijuurou berharap semoga tidak akan ada yang akan merusak jadwal yang sudah ia rancang dengan sempurna sejak tadi malam.

Sayangnya, si sulung Akashi melupakan satu hal, yaitu fakta bahwa takdir senang sekali mengacaukan rencana orang. Dan beberapa momen lagi, takdir bahkan akan tertawa keras-keras di depan wajah si sulung karena telah berhasil mengacaukan rencana 'sempurna' seorang Akashi Seijuurou.

Tepat ketika bel pulang berbunyi siang itu, Seijuurou cepat mengangkat tasnya dan bergegas pergi ke gym SMA Rakuzan. Tanpa menghiraukan tatapan bingung teman-teman setimnya karena kapten tim basket mereka kini tengah duduk di pinggir lapangan dengan kemeja lengkap dengan dasinya dan bukannya ikut lari keliling lapangan dengan baju basket lengkap.

"Kau mau izin tidak latihan?" respon sang pelatih dengan sebelah alis terangkat seraya mengalihkan pandangannya dari data-data yang tertempel pada papan jalan di tangannya. Dari tulisan tangannya, Seijuurou yakin seratus persen kalau itu adalah hasil karya manajer mereka; Momoi Satsuki.

Entah kebetulan atau tidak, manajer mereka hari itu sama sekali tak bisa ditemukan di mana pun. Padahal sang pemuda berambut merah yakin, dengan rambut merah muda lembut miliknya, tak akan sulit menemukan sang manajer meski pun mereka tengah berada di tengah-tengah persimpangan Shibuya.

"Ya, Pelatih," jawab Seijuurou mantap. Wajahnya tenang meski ia sebenarnya ia sudah gatal ingin meninggalkan tempat itu sekarang juga. Karena jika tidak, ia mungkin akan terlambat menghadiri pertunjukan adik-adiknya! Apa pelatih tidak sadar kalau ia tengah terburu-buru? Apa pelatihnya tidak melihat betapa cepatnya ia bangkit dari bench yang didudukinya ketika sang pelatih memasuki ruangan?

"Kenapa?" mata tajam sang pelatih, Shirogane Eiji, kembali beralih pada data yang ada di tangannya. Entah bagaimana, sepertinya kumpulan data itu lebih menarik dari pada kapten tim basket Rakuzan. Sesekali, tangannya bergerak mengangkat kertas-kertas data tersebut.

Mata merah Seijuurou bergerak ke samping sesaat. Tanpa pemuda itu sadari, ia menyipitkan matanya sedikit, "Ada urusan yang perlu saya tangani..."

"Akashi mau pergi juga? Kenapa Momoi dan Akashi pergi di saat yang tak jauh berbeda? Sepuluh menit lalu Momoi baru minta izin," seru Hayama dari tengah-tengah lapangan. Entah kenapa Seijuurou merasa kalau seniornya itu sedang kecewa. Dan meski Hayama sedang melakukan pemanasan dengan lari beberapa putaran mengelilingi lapangan, napasnya tidak tampak tersengal.

Sesaat kemudian, sepasang mata senior Seijuurou itu melebar dan ia terlihat seperti telah dihantam suatu kenyataan. Mulutnya bergerak membentuk lengkungan kecil dan telunjuknya teracung sementara sepasang kakinya masih setia mengitari lapangan, "Ah, aku tahu! Kalian berdua mau kencan, kan?"

Respon Akashi hanya berupa kedua alis yang terangkat. Heran kenapa seniornya bisa sampai berpikir seperti itu. Tidak ada rona merah sama sekali di pipinya ketika Hayama menggodanya. Bahkan ketika teman setimnya yang lain, Nebuya Eikichi mulai bersiul menimpali Hayama dan Mibuchi Reo mengacungkan satu jempolnya ke arah sang kapten tanda setuju dengan teman mereka yang berambut oranye.

Sesaat kemudian Seijuurou mendengus dan sebuah senyum tipis mengembang di wajahnya. Dengan santai ia membantah, "Tidak, hubungan kami tidak seperti itu."

Suara desahan panjang keluar dari sela-sela bibir Eiji. Membuat Seijuurou kembali memfokuskan perhatiannya ke arah sang pelatih, "Hayama benar, Momoi sudah absen hari ini. Bagaimana bisa kau mau absen juga? Tim ini tidak akan bisa berlatih dengan benar jika kalian berdua absen di saat yang bersamaan. Maaf Akashi, tapi kau tidak bisa pergi sekarang. Tidak ada tapi. Kita akan berlatih sebentar saja."

Alhasil, Seijuurou kembali mengatupkan bibirnya tepat ketika sang pelatih berkata 'tidak ada tapi'. Sedikit susah payah, Seijuurou menahan keinginan untuk berargumen dengan pelatihnya tersebut. Si sulung Akashi hanya bisa berharap, semoga 'sebentar' menurut Eiji sama dengan 'sebentar' menurut Seijuurou.


Keringat dingin tak henti-hentinya mengalir dari pelipis Daiki. Tegang memikirkan pementasannya yang dimulai kurang dari satu jam lagi, tepat setelah makan siang. Terlalu tegangnya ia hingga seluruh wajahnya mulai memucat dan sekelilingnya terasa dingin. Beberapa teman Daiki bahkan ada yang tertawa ketika melihat wajah hitamnya mulai kehilangan warna, namun semua ledekan tersebut bisa ditanganinya dengan tatapan tajam ke arah teman-temannya.

Tapi seiring dengan berdetiknya jam dinding di sisi kelas, Daiki merasa dirinya semakin tak bisa berpikir lurus. Perutnya terasa mual, telapak tangannya berkeringat, dan apakah ini perasaan Daiki saja atau memang semakin lama temperatur udara semakin dingin? Terakhir kali Daiki memeriksa kalender, sekarang ini musim semi, bukan musim dingin jadi bagaimana bisa di sini terasa begitu dingin?!

Dan kenapa pikiran-pikiran buruk terus melintas dalam pikirannya? Seperti, bagaimana kalau ia begitu gugup saat pentas nanti hingga tak bisa mengucapkan satu dialog pun? Bagaimana jika di tengah pementasan ada properti yang rusak atau ia jatuh tersandung properti hingga pementasannya tidak sempurna? Bagaimana kalau ia terjatuh ketika adegan sang pemeran utama menggendong ibunya ke hutan?

Bagaimana jika Seijuurou tidak datang?

Daiki memejamkan mata. Ia menghirup napas dalam-dalam, memenjarakan udara sebentar dalam paru-parunya sebelum ia embuskan kembali perlahan. Dengan susah payah Daiki menelan ludahnya sendiri.

Semua akan baik-baik saja, semua akan baik-baik saja, semua akan baik-baik saja.

Daiki terus merapalkan kalimat tersebut berkali-kali dalam pikirannya.

"Hei, Akashi," panggil salah satu teman sekelas Daiki; seorang perempuan dengan wajah oriental khas orang Jepang pada umumnya. Sebelah tangan anak perempuan itu melambai ke arahnya. Mengisyaratkannya untuk mendekat. Daiki menoleh, "sudah waktunya ganti baju."

Ketika sebuah senyum tipis penuh pengertian tergores di wajah temannya, sang Akashi tahu kalau wajah hitam miliknya kembali memucat. Dengan satu gerakan kepala, teman sekelas Daiki tersebut kembali mengajak Daiki untuk segera bergerak.

Bahu Daiki terangkat ketika ia kembali menghirup napas dalam.

Semoga semuanya berjalan lancar.


Kepala bersurai kuning milik Akashi Ryouta tak henti-hentinya bergerak gelisah. Sesekali –oke, tidak sesekali sebenarnya—menoleh ke bagian belakang kelas, di mana para orangtua sudah mulai berdatangan dan berdiri berjejer searah dengan dinding. Hampir semua orangtua teman-teman sekelas Ryouta sudah datang dan mereka mulai berbincang-bincang satu sama lain.

Mata coklat keemasan Ryouta bisa melihat beberapa pasang ibu yang bercakap-cakap sembari sesekali tertawa. Ada juga seorang ayah yang sejak tadi sibuk sekali memotret isi kelas; atau mungkin lebih tepatnya memotret anaknya. Ada juga beberapa orangtua yang sibuk dengan ponselnya dan ada yang sejak tadi hanya memindai seisi kelas, mencari sesuatu yang menarik untuk dilihat.

Tapi dari sekian banyaknya orang yang berdatangan, mata Ryouta tak menangkap adanya helaian rambut merah dengan warna mata yang senada.

Akashi Seijuurou belum juga datang.

Ryouta kembali menoleh ke belakang kelas untuk yang ketiga kalinya dalam satu menit terakhir dari kursinya yang ditempatkan di barisan ketiga. Matanya kini memindai jam, memerhatikan tangan-tangan waktu terus bergerak seakan tak peduli dengan sang anak berambut kuning yang kini tengah gelisah memandangnya.

Waktu sudah menunjukkan pukul satu siang dan jika ingatan Ryouta benar –dan ingatan Ryouta memang selalu benar—semalam Seijuurou berkata kalau sekolahnya akan selesai lebih cepat hari ini yaitu sekitar jam dua belas. Setelahnya ia akan izin tidak latihan basket dan bergegas pergi ke sekolah Ryouta dan Daiki.

Jadi di mana ia sekarang? Apa yang menghadangnya hingga jam segini ia belum datang?

Menyadari kalau lagi-lagi tak ada tanda-tanda Seijuurou sudah muncul, Ryouta memutar tubuhnya menghadap ke depan. Mata coklat keemasannya bergerak ke samping dan bibir tipis anak itu mengeluarkan sebuah desahan kecewa. Prasangka negatif terus bertelur dalam kepalanya tak peduli seberapa keras ia berusaha untuk tak menghiraukan prasangka tersebut.

Seijuurou pasti datang. Pasti. Datang.

Pintu geser di sisi depan kelas terbuka dan masuklah wali kelas Ryouta. Setelah ia wanita itu berdiri di podium depan dan menyapa wali murid di bagian belakang, satu per satu nama anak-anak di kelas tersebut dipanggil.

Acara pun dimulai.

Ryouta menggigit bibir dengan gelisah.


Jam di salah satu sisi gym SMA Rakuzan menunjukkan pukul setengah dua siang ketika Shirogane Eiji dengan lantang mengumumkan bahwa latihan siang ini sudah cukup dan semua anggota tim basket diperbolehkan pulang.

Tepat setelah Seijuurou mengatakan 'terima kasih banyak' serentak dengan teman setimnya yang lain, ia bergegas –dan yang dimaksud bergegas itu adalah setengah berlari—menuju ruang loker dan menukar bajunya kembali dengan kemeja, celana kain panjang lengkap beserta dasinya.

Pikiran Seijuurou seakan dihantam badai kala itu. Semuanya berantakan. Jadwal sempurna yang sudah ia susun sejak tadi malam berantakan hanya karena pelatihnya tak mengizinkannya pulang lebih awal hari ini. Eiji memang berkata kalau latihannya hanya 'sebentar' tapi ternyata definisi sebentar menurut Eiji adalah satu setengah jam. Dan sekarang si sulung Akashi hanya bisa berharap Ryouta belum membacakan karangannya dan Daiki belum naik panggung.

Setelah selesai mengganti baju, dengan terburu-buru tangan Seijuurou menyambar tas dan melesat keluar dari gym. Seruan Hayama yang mengingatkannya kalau dasinya miring sama sekali tak masuk ke telinga Seijuurou. Sapaan Mibuchi juga tidak digubrisnya. Satu-satunya hal yang ada di kepalanya kini adalah ia harus sampai di sekolah adiknya. Sekarang.

Sempat terbersit dalam pikiran Seijuurou untuk berlari sekencang-kencangnya hingga ke depan gerbang sekolah di mana mobil milik keluarga Akashi sudah setia menunggunya, tapi untuk bisa mencapai gerbang, dari gym ia harus masuk ke gedung sekolah, keluar dari pintu depan sekolah dan barulah ia sampai di lapangan.

Sayangnya, SMA Rakuzan –semua sekolah di Jepang sebenarnya—memiliki peraturan yang melarang keras anak-anak didik untuk berlari di sepanjang koridor sekolah. Sebenarnya ia bisa saja melanggar aturan tersebut. Tapi ia seorang Akashi dan Akashi diharuskan untuk sempurna dalam setiap keadaan. Melanggar peraturan jelas bukan sesuatu yang dilakukan seorang Akashi dan ide untuk melakukan pelanggaran bahkan tak seharusnya melintas dalam pikiran seorang Akashi.

Seijuurou menggigit bibirnya. Berusaha untuk menahan emosi yang kian memuncak dalam dirinya. Bahkan mata kiri Seijuurou perlahan berubah menjadi oranye. Namun sebelum mata sang pemuda benar-benar berubah menjadi kuning pekat, ia buru-buru menarik napas dalam dalam usahanya untuk menenangkan diri.

Agak sulit sebenarnya untuk bisa meredam emosi saat diri sedang dihantam pubertas. Bagi Seijuurou, pubertas benar-benar melakukan hal-hal menakjubkan pada dirinya. Menakjubkan dalam artian baik mau pun buruk.

Seorang Akashi tak seharusnya kehilangan kendali akan dirinya, Seijuurou memejamkan mata dan mengingatkan dirinya sendiri. Ia pasti bisa mengatasi ini. Setelah beberapa kali melakukan pengaturan napas, akhirnya emosi Seijuurou kembali normal. Mata kiri Seijuurou perlahan kembali menjadi merah.

Pemuda berambut merah itu melepaskan gigitan pada bibir bawahnya. Bibirnya kini justru berubah hingga membentuk sebuah garis tipis. Kilatan tekad terpancar dari kedua matanya yang berwarna merah.

Begitu kakinya menginjak tanah lapangan, Seijuurou segera memaksa kakinya untuk berlari secepat mungkin menuju mobil hitam yang telah terparkir di depan gerbang sekolah.


Entah untuk yang keberapa kalinya dalam lima menit terakhir, Daiki menarik-narik ujung yukata-nya yang ia rasa terlalu pendek. Beberapa tambalan bisa terlihat di beberapa sisi di baju tersebut. Bahkan sekilas baju tersebut terlihat seperti beberapa kain lap yang dijahit menjadi satu.

Inilah baju orang miskin zaman dahulu jadi Daiki tidak benar-benar bisa berkomentar mengenai itu. Lagi pula kalau ia berkomentar bajunya jelek, teman-teman perempuannya pasti akan memburunya dan melemparinya dengan properti drama.

"Ugh," Daiki mengerang sedikit ketika wali kelasnya mengoleskan sesuatu yang terlihat seperti semir sepatu ke pipi Daiki yang sebenarnya sudah hitam. Untuk mengadakan kesan lusuh katanya. Jadi si anak berambut biru tua itu hanya bisa diam dan terima saja ketika sang guru mulai mengolesi benda hitam seperti semir sepatu tadi ke dahi, tangan, baju hingga kakinya.

Setelah selesai 'merias' Daiki, wali kelas Daiki bangkit dan menghampiri anak perempuan yang akan berperan menjadi ibu Daiki nanti. Sama seperti Daiki, anak perempuan itu juga sudah berganti pakaian dan siap 'dirias'.

Lagi-lagi mata biru Daiki melirik ke arah jam dan lagi-lagi ia hanya bisa mendesah kecewa. Ada perasaan seperti ada lubang hitam terbuka dan melebar di hatinya. Rasanya sesak dan menyedihkan. Tanpa Daiki sadari, sudut mata anak itu mulai berair dan matanya terasa panas.

Begitu menyadari kalau ia hampir menangis, dengan cepat Daiki menggeleng-gelengkan kepalanya. Daiki tidak boleh menangis, Daiki tidak boleh cengeng lagi, Daiki mengingatkan dirinya sendiri dalam hati. Sebelah tangan Daiki terangkat menghapus tanda-tanda air mata yang menggenang di sudut matanya.

"Baiklah, ayo berkumpul semuanya!" seru wali kelas Daiki yang kini tengah berdiri seraya menepukkan tangannya berkali-kali untuk mendapatkan perhatian anak-anak didiknya. Daiki beserta teman-temannya yang lain berjalan menghampirinya dan bersama-sama mereka digiring untuk berkumpul di bagian belakang panggung. Tepat di belakang sebuah tirai merah besar yang berfungsi untuk menutupi panggung saat pergantian adegan.

Daiki menelan ludah.

"Ibu mengucapkan terima kasih pada kalian semua yang sudah berlatih dan bekerja keras untuk satu hari ini. Ibu bangga pada kalian semua," mata wali kelas Daiki memindai wajah semua anggota kelas satu per satu dengan sebuah senyum lembut tersungging di bibirnya.

"Ibu yakin kalian semua tegang," sebelah tangan wanita paruh baya tersebut menyentuh bahu Daiki yang tegang dengan lembut. Ia tertawa ketika sang anak berambut biru tua itu berjengit resah, "tapi tidak perlu khawatir, karena pementasan kita pasti akan sukses!"

Anak-anak yang tadinya tegang kini bisa sedikit menyunggingkan senyuman. Dengan serentak, mereka semua mengangkat tinju ke udara dan meneriakkan 'Ossu! Kelas 4-4 bisa!' keras-keras tanda setuju dengan wali kelas mereka.

Setelahnya, mereka berbaris memanjang di belakang panggung sedangkan beberapa dari mereka bersiap-siap dengan membuka tirai merah lebar di hadapan mereka. Satu per satu tangan anak-anak kelas 4-4 yang berdiri di atas panggung mulai bertaut.

Tirai pun tersibak. Menampakkan sejumlah orang tua yang duduk rapi menatap mereka yang berada di atas panggung dengan binar yang merupakan campuran dari senang, kagum, tertarik, dan bangga. Sepasang mata biru tua milik Daiki memindai warna rambut serta mata para wali murid di hadapannya satu per satu.

Begitu tirai terbuka penuh, secara serentak semua anak yang berdiri di atas panggung membungkukkan badan sembilan puluh derajat kepada para penonton dalam rangka memberi salam.

Kesempatan itu digunakan Daiki untuk memejamkan mata dan menghirup napas dalam. Berusaha sekali lagi untuk menahan rasa kecewa dan putus asa yang kian detik kian dalam menggerogoti hatinya.

Momen sekejap yang digunakan Daiki untuk menangkap helaian rambut merah dengan penglihatannya ternyata sia-sia.

Waktu menunjukkan pukul dua kurang lima belas menit dan Seijuurou belum datang.


Kaki panjang Ryouta mengentak-ngentak lantai dengan gelisah. Beberapa kali anak berambut kuning tersebut mendapat tatapan tak senang dari wali murid yang merasa hentakan kakinya begitu mengganggu tapi nampaknya anak itu sama sekali tak peduli dengan apa yang dipikirkan orang lain.

Kedua tangan anak angkat keluarga Akashi tersebut menggulung membentuk tinju di atas pahanya yang ikut begerak-gerak gelisah. Dalam hati Ryouta sebenarnya ingin sekali berlari keluar dari ruangan itu dan mencari Seijuurou.

Lima menit lagi pukul dua lewat lima belas menit dan hampir semua teman sekelas Ryouta sudah membacakan karangan mereka. Semuanya kecuali si ketua kelas Hayakawa dan dirinya. Tidak, hanya tinggal dirinya seorang. Baru saja Ryouta mendengar nama Hayakawa Mitsuhiro dipanggil oleh wali kelas mereka. Lantas suara decitan kursi yang digeser terdengar dan suara Hayakawa yang tidak bisa membedakan antara L dengan R dapat terdengar.

Keringat dingin bergulir di pelipis Ryouta. Kedua alis Ryouta bertaut di tengah. Anak bermata coklat keemasan tersebut sebenarnya tak ingin mengakuinya tapi ia mulai mengalah pada rasa putus asa yang telah berhasil membuat lubang sedemikian besar di hatinya.

Mungkin kakaknya memang tidak bisa datang hari ini. Mungkin ada urusan mendadak yang harus ditanganinya atau mungkin ia sedang menghadiri pementasan Daiki jadi ya apa boleh buat? Ryouta berusaha menenangkan dirinya sendiri. Berusaha membuat berbagai alasan dengan mengatakan kakak sibuk dan ia sebagai kakak Daiki dan juga Tetsuya seharusnya mengerti.

Tapi seberapa pun kerasnya usaha Ryouta berdamai dengan dirinya sendiri, rasa kecewa, marah dan sedih itu tetap ada di sana. Bersikeras untuk tetap tinggal dan bersarang di hati Ryouta.

Suara tawa wali murid yang berada di bagian belakang kelas dapat terdengar begitu Hayakawa selesai membacakan karangannya. Sebuah kalimat 'haha itu anakku!' yang sepertinya dilontarkan dengan begitu bangganya oleh ayah Hayakawa membuat hati Ryouta mau tak mau menjadi iri.

Hanya ia yang tidak dihadiri siapa pun hari ini jadi tidak akan ada siapa pun yang akan meneriakinya seperti itu.

"Baiklah, berikutnya, Akashi Ryouta," panggil wanita berusia tiga puluh yang juga dikenal sebagai wali kelas Ryouta.

Dengan kepala tertunduk dan ekspresi datar, Ryouta berdiri. Mendorong kursi hingga berderit dalam prosesnya. Ryouta menutup mata dan menghela napas dalam. Ia kembali meyakinkan dirinya sendiri kalau membacakan karangan bukanlah hal yang penting dan tak seharusnya ia bersedih hanya karena kakaknya tak datang untuk melihatnya.

Bibir tipis Ryouta terbuka dan rangkaian kata mulai terlontar.

"Nama saya Akashi Ryouta. Saya akan membacakan karangan saya," Ryouta menelan ludah, "Ibu kandung saya..."


Seijuurou melangkah cepat melalui koridor sekolah Daiki dan Ryouta. Mata merah miliknya memindai setiap papan nama ruangan yang menempel tepat di atas setiap pintu. Mencari-cari satu pintu dengan papan bertuliskan kelas 5-3 di atasnya. Kelas Ryouta.

Setelah beberapa kali bertanya pada guru mau pun anak-anak yang berpapasan dengannya, akhirnya Seijuurou berhasil menemukan pintu kelas yang dicarinya. Sayup-sayup telinga Seijuurou dapat mendengar suara Ryouta dari dalam.

Sial, aku terlambat, Seijuurou mengutuk dalam hati. Sebelah tangannya meraih pintu dan menggesernya. Alhasil seluruh tatapan orang yang berada di kelas tersebut tertuju padanya. Termasuk Ryouta yang kini menghentikan bacaannya demi menoleh ke belakang.

Tanpa memedulikan penampilannya yang berantakan –rambut merah yang lebih liar dari biasanya kemeja yang sedikit kusut, dan dasi yang miring— serta pandangan bertanya dari para penghuni kelas, Seijuurou melangkah masuk. Bibirnya menggumamkan 'permisi' dengan lirih.

Setelah menemukan tempat berdiri yang pas bersandingan dengan para wali murid lainnya, Seijuurou mengalihkan pandangannya pada adiknya yang berambut kuning yang sepertinya masih belum bisa percaya dengan indra penglihatannya sendiri.

Meski lelah setelah berlari di sepanjang lapangan sekolah dasar yang luas hingga masuk ke gedung sekolah, Seijuurou merasa semuanya pantas dilakukan ketika ia bisa melihat binar senang terpancar di sepasang mata coklat keemasan milik adiknya. Senyuman yang perlahan berubah menjadi cengiran merayap di bibir adiknya.

Seijuurou tersenyum lembut dan mengangguk ke arah adiknya. Seakan untuk meyakinkan anak berambut pirang tersebut kalau ya, ia nyata. Akashi Seijuurou memang sudah datang.


"Ibu... aku akan membuangmu ke hutan!" seru Daiki dengan lantang tapi intonasinya sarat akan ketidakrelaan. Alis anak itu berkerut dan kedua mata biru tuanya menyipit. Pancaran bingung, ragu, dan sedih terpancar di sana ketika ia menatap 'sang ibu' yang kini tengah duduk di hadapannya dengan mulut terbuka namun tak mengatakan apa-apa.

Daiki menggigit bibirnya.

Suara 'ooh' dari penonton yang terkesima melihat sandiwara sang Akashi terdengar.

Dengan satu gerakan cepat, Daiki memutar badannya memunggungi sang ibu, "Besok pagi kita akan pergi. Bersiaplah, Bu."

Bahu Daiki menegang dan bergetar, seakan ia akan menangis karena menyesal atas apa yang telah ia katakan pada ibunya tapi ia tak bisa melakukan apa-apa. Perlahan ia berjalan menuju samping panggung.

Seluruh orang yang hadir menonton drama Ubasuteyama tersebut berhasil dihipnotis Daiki untuk ikut merasakan apa yang dirasakan sang anak. Ketika berada di tengah panggung tadi, Daiki berhasil mencuri pandang ke bangku penonton dan melihat kalau sandiwara mereka menuai reaksi positif. Bahkan ada penonton yang alisnya berkerut menahan emosi. Usahanya selama beberapa minggu terakhir tidaklah sia-sia.

Tapi bagi Daiki, usahanya sia-sia karena satu orang terpenting tidak hadir menonton pementasannya.


Senyum yang mulai menyebar di wajah Ryouta membuat pipi anak itu terasa sakit. Bagaimana tidak, senyumnya sekarang ini begitu lebar. Dan astaga, dada anak itu terasa begitu sesak karena terlalu senang. Semua itu hanya karena kedatangan satu orang berambut merah. Lucu rasanya melihat bagaimana perasaan bisa berubah sedrastis itu hanya karena satu orang.

Ryouta kembali menghadap ke depan. Jika tadi wajahnya seakan ditutupi awan badai, maka sekarang wajahnya seperti hari yang cerah tanpa awan. Ia menarik napas dalam dan mulai kembali membaca karangannya, "Nama saya Akashi Ryouta. Saya akan membacakan karangan saya."

Seijuurou tersenyum mendengar adiknya mengulang lagi dari awal sementara para orangtua lainnya dibuat kebingungan. Tapi ketika beberapa dari mereka melihat ke arah Seijuurou, kesadaran datang menghantam mereka.

"Ibu kandung saya meninggal saat umur saya enam tahun. Saya tidak begitu ingat bagaimana wajahnya atau orang yang seperti apa ibu kandung saya itu. Jadi saya akan menceritakan tentang ibu saya yang lain, yang baru saya temukan dua tahun lalu, yang sebelumnya hanya saya anggap sebagai kakak. Dia bukan seperti ibu pada umumnya. Tapi seseorang pernah bilang pada saya kalau ibu bukan cuma sebatas orang yang melahirkan kita tapi lebih dari itu."

Ryouta mengambil jeda untuk menghela napas sejenak. Setelah menelan ludah untuk membasahi tenggorokannya yang sedikit kering, ia melanjutkan.

"Dia masih muda, umurnya cuma berbeda enam tahun dari saya. Tapi dia sangat dewasa. Waktu ayah kami meninggal dua tahun lalu, tanpa ragu dia mengambil posisi sebagai kepala keluarga. Dia juga harus mengurus kami, adik-adiknya, yang semuanya ada lima orang. Padahal teman-teman seumurannya sedang nakal-nakalnya dan cuma tahu bersenang-senang. Tapi dia bahkan hampir tidak punya waktu untuk menjadi nakal. Sejak hari itu, dia menjadi kakak kami, ibu kami, ayah kami serta sahabat kami.

"Dia selalu jadi orang yang bangun paling pagi, pulang paling lambat, dan kembali ke tempat tidur paling terakhir. Tiap pagi dia membangunkan kami, memastikan kami cuci muka tanpa tertidur lagi, mengingatkan barang-barang kami, melerai kami kalau kami bertengkar karena hal sepele, setelah itu mengantar kami sampai di ujung jalan. Begitu dia pulang, kami akan makan malam bersama lalu berkumpul di ruang keluarga. Dia akan selalu bertanya 'bagaimana hari kalian?' dan tertawa tiap kali kami berebut bercerita padanya. Dia selalu mendengarkan kami dengan antusias seperti sedang mendengar cerita petualangan yang seru. Kalau kami punya PR, dia akan menemani kami menyelesaikannya walau pun sampai tengah malam. Dia orang yang sabar, dia bahkan tak marah pada saya waktu saya benar-benar lambat mengerti soal pecahan. Dia justru tersenyum dan berkata 'ayo coba lagi'.

"Kalau saya atau saudara saya demam, dia akan menunggui kami sepanjang malam sampai demam kami turun walau pun saya yakin dia pasti capek setelah sekolah, latihan basket, dan kerja. Kalau kami sakit perut, dia akan jadi orang yang berada di samping kami, mengelus perut kami dengan sayang. Kalau kami masuk angin dan muntah, dia akan jadi orang yang berdiri di samping kami di toilet, mengelus punggung dan leher kami lalu membersihkan wajah kami."

Senyum simpul tergambar di wajah Ryouta ketika memori tentang bagaimana kakaknya mengusap perut Atsushi sepanjang malam sembari membisikkan kata-kata yang menenangkan karena anak itu terlalu sakit perut akibat kebanyakan makan muncul dalam benaknya dan juga ketika Shintarou sakit berbarengan dengan dirinya masuk angin hebat.

"Dia orang yang berani mengesampingkan kebahagiaannya demi kami. Dia rela membuang masa mudanya demi kami. Saya yakin yang ada di pikirannya cuma kami dan kami saja. Dia bahkan mungkin hampir tidak pernah memikirkan tentang dirinya sendiri. Bukankah itu ciri-ciri seorang ibu? Anak akan selalu jadi prioritas nomor satu seorang ibu. Seorang ibu akan berjuang agar anaknya makan nasi meski pun dia sendiri cuma bisa makan batu."

Ryouta kembali mengambil jeda. Suasana kelas yang anehnya begitu diam sama sekali tak masuk ke pikiran Ryouta saat ini karena satu-satunya hal yang ada di benaknya adalah kakaknya yang tengah berdiri di belakang sana tengah mendengarkannya membaca karangan. Mata coklat keemasan Ryouta mungkin tidak bisa melihatnya tapi ia tahu.

"Dia benar-benar mengagumkan. Saya berharap suatu hari saya bisa seperti dia. Tapi sayangnya beberapa hari ini dia sedang pergi jauh dan saya tidak tahu kapan dia akan kembali. Saya harap ketika saya membaca karangan ini dia akan kembali pada kami. Saya benar-benar kangen padanya."

"Orang mengagumkan itu, orang yang saya anggap ibu itu adalah..." Ryouta meletakkan kertas karangannya di atas meja dan berputar seratus delapan puluh derajat untuk menatap mata merah di bagian belakang kelas secara langsung. Ada banyak emosi terpancar dalam sepasang mata indah milik anak berambut kuning tersebut. Sebuah senyum penuh kepercayaan diri melekat di wajahnya dan ia melanjutkan, "Akashi Seijuurou."


Daiki berlutut di hadapan sang 'ibu'. Otaknya masih belum dapat memproses apa yang dikatakan ibunya dengan sempurna. Sang 'ibu' sendiri sedang menatap Daiki dengan pandangan penuh sayang. Melihat sepertinya putranya belum benar-benar mengerti apa yang ia katakan, ia mengulanginya, "Kamu tidak perlu takut lupa jalan. Ibu sudah menjatuhkan potongan ranting sepanjang jalan tadi. Ikutilah itu."

Beberapa kali mulut Daiki terbuka dan menutup seperti ikan yang kehabisan udara. Ia ingin mengatakan sesuatu tapi tidak bisa. Akhirnya, mata Daiki menyipit, bibir bawahnya ia gigit dan satu demi satu tetes air mata jatuh. Suara sesenggukan pun mulai terdengar keluar dari mulut anak itu.

Dengan cepat ia memeluk ibunya. Meluapkan perasaannya yang kini bercampur antara sedih dan malu. Sang 'ibu' balas melingkarkan tangannya di punggung Daiki, mengelusnya dengan sayang. Karena tidak terbiasa berada di bawah sentuhan wanita, punggung Daiki menegang begitu telapak tangan teman perempuannya menyentuh punggungnya.

Perlahan sepasang tangan hitam Daiki melepaskan diri dari sosok di hadapannya. Sisa-sisa air mata yang ada di pipinya ia seka dengan asal dengan ujung bajunya. Masih sesenggukan, Daiki bicara, "Maafkan aku, Ibu. Aku benar-benar bodoh. Sekarang... mari kita pulang."

Daiki berbalik memunggungi sosok itu. Dalam diam ia mengisyaratkan pada sang ibu untuk naik ke atas punggungnya agar ia bisa membawa mereka pulang kembali ke rumah. Dengan perlahan, anak perempuan lawan main Daiki merangkak naik.

Tangan hitam anak itu menyangga kokoh sosok di punggungnya dan dengan sekali hentak, Daiki berdiri. Dengan langkah yang sedikit bergetar karena menahan beban berat di punggungnya, Daiki mulai menggerakkan kakinya dan melangkah ke sisi panggung. Membiarkan narator mengambil alih panggung tersebut selanjutnya.

Tidak ada yang tahu, kalau tangis Daiki tadi bukan hanya sandiwara.


Ryouta tersenyum hingga kedua matanya menyipit membentuk selengkung garis tipis. Kedua pipinya merona karena begitu senang ketika melihat kakaknya di belakang sana tengah menatapnya dengan mata melebar. Sepertinya pemuda itu sama sekali tidak menyangka kalau namanya akan disebut sang anak berambut pirang di akhir karangan.

Sebenarnya Ryouta sangat ingin berlari ke belakang sana dan memeluk kakaknya seperti yang dulu sering dilakukannya ketika ia baru masuk menjadi anggota keluarga Akashi. Tapi mengingat mereka sedang berada di tempat umum, anak berambut pirang itu mengurungkan niat.

Para wali murid yang berdiri di bagian belakang terdiam. Antara tidak tahu harus berkata apa dan bingung karena nama yang disebutkan anak tadi merupakan nama seorang lelaki. Tapi tak bisa dipungkiri kalau hari itu, semua wali murid yang hadir dibuat terkesima oleh sosok Akashi Seijuurou yang dijelaskan Ryouta tadi.

Perlahan tapi pasti, satu per satu wali murid mulai bertepuk tangan. Meski mereka tidak benar-benar yakin mereka bertepuk tangan karena apa.

Ryouta tidak peduli akan semua itu. Satu-satunya hal yang dipedulikannya hari itu hanyalah fakta kalau akhirnya ia telah mampu melepaskan beban dengan mengatakan apa yang selama ini ingin dikatakannya pada si sulung.

Di bagian belakang kelas sana, Seijuurou mendengus lantas memasang senyum tipis khasnya.


Daiki berdiri di tengah panggung dengan kedua bahu yang lemas. Mata biru gelapnya terlihat kosong saat memandang barisan kursi kosong di depannya. Pementasan kelas 4-4 telah selesai beberapa saat lalu dan para orangtua sudah mengosongkan kelas –yang dirombak menjadi panggung dadakan—tersebut.

Sesaat kemudian, telinganya menangkap satu, tidak, dua buah suara yang sepertinya berasal dari koridor tepat di samping kelasnya. Daiki mengenal kedua suara itu. Tentu saja ia mengenalnya, suara itu ia dengar setiap hari jadi bagaimana ia bisa lupa?

Kepala berambut biru tuanya menoleh ke samping. Dari jendela sisi kelas –yang tersambung dengan koridor—yang sengaja dibiarkan terbuka, ia bisa melihat sosok dua orang berjalan di koridor. Sosok yang satu memiliki rambut merah dengan mata yang senada sedangkan sosok di sampingnya memiliki rambut kuning dan mata cokelat keemasan.

Keduanya berjalan sembari membicarakan sesuatu yang tak tertangkap jelas oleh telinga Daiki. Tapi Daiki bisa tebak mereka tengah membicarakan sesuatu yang menyenangkan karena sebuah senyum tertempel di wajah mereka dan tak lama kemudian sosok berambut merah mengelus rambut kuning sosok di sampingnya.

Mereka berdua tertawa lirih.

"Cih," desis Daiki. Tiba-tiba saja sebuah gumpalan sebesar batu cincin terasa menyumpal tenggorokannya. Susah payah ia menelan ludah setelah menyaksikan kedua orang tadi bercengkerama. Mata biru Daiki menyipit dan mulai terasa seperti terbakar. Sesenggukan halus mulai menyusup keluar dari tenggorokannya.

Selalu saja Ryouta...

Memori tentang bagaimana kakak sulung mereka lebih banyak menghabiskan waktu dengan Ryouta dan memanjakannya terputar kembali dalam benak Daiki. Mulai dari ketika kakaknya berbicara panjang lebar dengan anak berambut pirang tersebut, ketika dua tahun lalu Seijuurou berjanji untuk menemani Ryouta tidur jika Ryouta memeberikan posisinya saat itu untuk Shintarou, hingga ke momen yang baru saja terjadi.

Daiki menggigit bibir sembari berusaha menenangkan dirinya sendiri. Sayangnya, apa pun usahanya tidak ada yang berhasil karena perlahan sebutir air mata mulai melaju menuruni pipi hitamnya. Satu butir, kemudian dua lantas tiga.

Tak ingin wajahnya dilihat kedua orang tadi –yang sudah hampir sampai di pintu kelas—Daiki cepat menutup kedua matanya dengan sebelah lengan. Sesenggukan halus di tenggorokannya serta hidungnya yang berair mulai terasa mengganggu dan susah payah ia tahan. Dengan satu gerakan cepat ia memutar badannya dan berjalan ke sisi panggung yang tertutup tirai merah.

"Sial..."


Ahaha udah berapa lama ya kita gak ketemu? Tolong jangan timpuk aku...

Rencananya mau update dulu baru hiatus eh gak taunya kena WB. Akhirnya ya udah deeeh hiatus aja. Kupikir begitu lolos snmptn udah nyantai eh gak taunya malah makin sibuk ngurus ini itu, haduh...

Special thanks too: KakaknyaKurokoTetsuya, Keys13th, Antares Kuga, , Harumia Risa, S. Hanabi, Kurotori Rei, Harpgirl, UchiHarunoKid, Shiro-chan1827, nganu-nganu, Anon, sakazuki123, scarletjacket, Akaba Shinra, b, ArvexioRen, Noir-Alvarez, Guest, Yuki-chan, shizuka clytaemnestra, beta, Nabila Hana BTL, Andhrie Seijuurou, HanaHanami69, HoshiKirari, Kuroyuuki Tetsuya, Ryuuhi Akira, Schnee-Neige, Sheriacchi, Shintaro Arisa-chan, TheopilaMax, V. Yuki-chan, ai selai strawberry, babyqo, gifha aulia, kashitaru, voldemrot, IzumiTetsuya, Skipper Chen, mochiizuki, momoi ryuchi, ringo usami.

btw, aku pengen makein cerita ini cover, ada yang punya usulan gambar? kalo ada tolong kasih link-nya ya xD

maaf gak bsia bales review satu-satu. Aku gak bisa janji tapi aku usahakan update berikutnya lebih cepet.

Review?