Chapter edited.
Kuroko no Basuke hanya milik Fujimaki Tadatoshi seorang.
Cerita ini hanya milik saya seorang.
Warning: AU, Nice & not-so-perfect! Akashi, brotherly love! a lot of it I think, cuteness ahead(?), alur kecepetan, half-assed chapter, OOC, typo, DLDR!
pengingat mulai chapter ini:
Seijuurou = 16 tahun
Shintarou = 13 tahun
Atsushi = 12 tahun
Ryouta = 10 tahun
Daiki = 9 tahun
Tetsuya= 5 tahun
Enjoy!
Bonus
"Terima kasih banyak!" seru tim basket SMA Rakuzan sembari membungkuk sembilan puluh derajat ke arah pelatih dan manajer mereka setelah keduanya berkata 'kerja bagus' pada mereka semua. Sepertinya sama sekali tak memedulikan berbagai macam tatapan yang dilemparkan orang-orang di sekitar stasiun tempat mereka berada.
Ya, stasiun. Tim basket SMA Rakuzan yang terkenal itu baru saja turun di stasiun setelah berhasil memenangkan Inter High sekaligus menyelesaikan training camp musim panas mereka. Setelah hampir sebulan penuh tidak bisa bertemu dengan keluarga, akhirnya anggota tim basket tersebut bisa menghela napas lega.
"Sekarang kalian boleh pulang," ucap Shirogane Eiji, sang pelatih, sembari menyilangkan tangan di depan dada.
Tanpa menunggu disuruh untuk yang kedua kalinya, semua anggota tim basket tersebut menegakkan tubuh dan berjalan keluar dari stasiun tersebut menuju rumah masing-masing. Ada beberapa yang berjalan berkelompok sembari membicarakan makanan apa yang akan dimakan mereka sesampainya di rumah, ada juga yang berjalan pulang sendirian, dan sisanya masih berdiri di depan stasiun.
Salah satu anggota tim basket tersebut yang masih berdiri di depan stasiun adalah Akashi Seijuurou. Kapten tim basket tersebut menunduk menatap jam tangannya yang menunjukkan pukul tujuh malam dan beralih pada empat orang teman setimnya yang tengah bercengkerama dengan satu-satunya perempuan di tim mereka.
Dengan langkah santai, Seijuurou melangkahkan kakinya menuju ke arah teman-temannya yang tanpa sadar telah membentuk lingkaran.
"Hei," sapa Seijuurou sembari menepuk bahu anggota mereka yang paling enerjik; Hayama Kotarou. Yang ditepuk bahunya langsung menoleh dan memasang senyum lebarnya. Gigi taringnya yang sedikit lebih maju dari yang lain terlihat.
"Hei, Akashi! Belum pulang?" sapa Hayama dengan sama ramahnya. Di sekelilingnya, Mibuchi, Nebuya, Mayuzumi, dan Momoi tersenyum dan beberapa di antara mereka melambaikan tangan pada Seijuurou dalam bentuk menyapa.
"Sebenarnya berhubung rumahku dekat, aku ingin mengundang kalian mampir dan makan malam di rumahku," jawab Seijuurou. Senyuman lembut terpatri di wajahnya yang tampan. Mibuchi dan Mayuzumi saling pandang, sepertinya memikirkan jawaban mereka. Momoi mengangkat alis. "Bagaimana?"
"Aku ikut!" seru Hayama langsung tanpa berpikir. Lagi pula siapa yang akan menolak makanan gratis?
Nebuya di sampingnya juga mengiyakan ajakan Seijuurou. Pemuda berkulit hitam tersebut juga tidak akan menolak jika ditawari makanan gratis. Mibuchi menggeleng-gelengkan kepala dan menggumamkan 'dasar' tetapi ia juga ikut mengiyakan. Mayuzumi hanya mengangguk.
Pandangan kelimanya beralih pada Momoi seorang yang belum menjawab.
"Bagaimana denganmu, Momoi?" tanya Seijuurou. Hayama ikut membujuk gadis itu dengan mengatakan 'ikutlah' sembari menarik ujung jaket gadis tersebut. Mibuchi mengangguk mengiyakan kata-kata Hayama.
"Eh, aku juga diajak?" tanya Momoi yang disambut oleh senyum lembut dari Akashi, dan tawa renyah dari Hayama dan Mibuchi. Momoi jadi salah tingkah sekaligus heran kenapa teman-temannya tertawa. Memangnya ada yang lucu?
"Tentu saja," jawab Seijuurou.
Momoi menggumam pelan sembari mengetuk-ngetukkan jari di dagu tanda berpikir. Di sampingnya Hayama terus menarik-narik lengan jaket gadis itu untuk membujuknya ikut. Hayama terlihat persis seperti anak-anak yang minta dibelikan permen oleh ibunya dan ibunya sedang mempertimbangkan akan membelikannya permen atau tidak.
"Kalau kau khawatir tentang pulang, aku akan mengantarmu," tambah Seijuurou lagi. Berusaha meyakinkan satu-satunya perempuan di tim mereka untuk ikut makan malam bersama keluarga Akashi.
"Kami juga akan mengantar," Mibuchi menimpali yang diiyakan oleh Hayama tapi disambut tatapan tajam dari Nebuya dan Mayuzumi. Pemuda berbadan besar dan pemuda berambut kelabu di sampingnya tersebut malas ikut kelakuan teman mereka yang menurutnya sok gentleman.
Merasa tidak punya pilihan lain lagi dan ia juga mulai luluh karena teman-teman setimnya terus memaksanya untuk ikut, maka akhirnya Momoi menganggukkan kepalanya. Dan mulailah mereka berenam berjalan bersama dari stasiun menuju ke rumah keluarga Akashi.
Hayama, Momoi, dan Seijuurou berjalan bersisian di depan sedangkan Mibuchi, Mayuzumi, dan Nebuya mengikuti di belakang. Tapi setelah agak jauh dari stasiun, diam-diam Hayama berjalan lebih lambat. Membiarkan Momoi dan Akashi berjalan berdua di depan sembari mengobrol sedangkan ia bergabung dengan teman seangkatannya.
"Hei, Sei-chan bisa marah kalau ia sadar nanti," Mibuchi memperingati.
"Hei, hei, bukankah ini hebat?" kata Hayama dengan volume suara yang ia usahakan sekecil mungkin. Ia mendekatkan diri pada Mibuchi dan sebelah tangannya ia gunakan untuk menutupi sisi mulutnya.
Mibuchi yang kesal karena sempat diacuhkan menjawab dengan ketus, "apanya?"
Hayama kembali menegakkan tubuhnya dan menatap Mibuchi seakan pemuda flamboyan itu baru saja menumbuhkan dua kepala. Mibuchi justru mengerutkan alis menatap kelakuan teman setimnya yang paling enerjik tersebut.
"Kau tidak pernah dengar?" Mibuchi mendengus dan Hayama menganggapnya sebagai 'tidak'. Nebuya dan Mayuzumi –yang tiba-tiba tertarik dengan pembicaraan kedua temannya—ikut menggeleng menjawab pertanyaan sang pemuda berambut oranye. Hayama makin menatap ketiganya dengan heran. "Bagaimana bisa kalian tidak tahu?"
Hayama buru-buru mengatupkan bibir begitu ia sadar ia tanpa sengaja telah menaikkan volume suaranya. Setelah memastikan Seijuurou masih sibuk berbincang dengan Momoi sekitar dua meter di depan mereka, ia melanjutkan. "Ada rumor yang beredar di sekolah yang mengatakan kalau sebenarnya Akashi itu orang super kaya!"
Mibuchi, Mayuzumi, dan Nebuya saling pandang. Alis ketiganya terangkat tinggi. Itu bukan rumor yang hebat. Lagi pula bukankah keluarga Akashi memang terkenal? Dengar-dengar, mereka punya perusahaan taraf nasional yang kabarnya akan mengembangkan sayap hingga ke luar negeri dan lagi keluarga Akashi dirumorkan memiliki banyak aset.
"Bukan cuma itu!" sambung Hayama lagi. Seakan ia bisa membaca pikiran teman-temannya. Sebelah telunjuknya teracung. "Kalian pernah dengar kalau ayah Akashi sudah meninggal dua tahun lalu bukan?"
"Ya, lalu?" jawab Mibuchi sambil lalu. Sebelah tangannya membetulkan posisi tasnya yang disampirkan di bahu. Nebuya terlihat mulai bosan dengan pembicaraan ini.
"Katanya, sejak itu, ia bekerja paruh waktu di perusahaan keluarganya. Dan lagi, ia harus mengurus adik-adiknya sendirian!" kata Hayama. Kali ini ia puas karena mendapat reaksi yang diinginkan. Ketiga temannya terkejut dengan kata-kata Hayama.
"Sei-chan punya adik?" gumam Mibuchi lebih kepada dirinya sendiri. Setelah dua tahun berteman dengan sang Akashi, baru kali ini ia mendengar kalau temannya yang berambut merah tersebut ternyata memiliki adik. Terlebih, dari kata-kata Hayama tadi, adik Seijuurou lebih dari satu orang.
"Aku tidak tahu ia punya adik. Kukira Akashi anak tunggal," timpal Nebuya yang perhatiannya tertarik kembali ke pembicaraan. Mayuzumi yang berjalan di sampingnya mengiyakan. Hayama yang berjalan bersama mereka mengaitkan kedua tangan di belakang kepala.
"Aku juga baru tahu," sahut Hayama sembari tersenyum lebar. Mata hijau pemuda itu melirik Momoi yang baru saja melambatkan langkahnya dan bergabung dengan mereka berempat. Seijuurou masih setia berjalan duluan di depan menunjukkan jalan. "Hei, Momoi, kau satu SMP dengan Akashi, kan?"
Yang ditanya mengangkat alis karena terkejut tiba-tiba ditanya seperti itu. "Eh, iya, kenapa memangnya, Senior?"
Hayama mencondongkan tubuhnya mendekat pada sang manajer sedangkan sang manajer mencondongkan tubuhnya menjauh. "Kau pasti pernah ke rumahnya, kan? Pernah bertemu adiknya?"
"Eh, ini pertama kalinya aku ke rumahnya," jawab Momoi setengah kikuk setengah risih dengan seniornya yang menurutnya terlalu dekat. "Tapi aku pernah bertemu adiknya."
Perhatian keempat senior Momoi teralihkan sepenuhnya pada gadis tesebut. Pertama karena mereka tidak mengira kalau sang manajer tidak pernah ke rumah Seijuurou sebelumnya dan kedua karena sang manajer pernah bertemu dengan adik kapten mereka.
"Aku dengar sikap Akashi akan berubah lembut kalau di depan adiknya, apa itu benar?" seru Hayama dengan begitu semangatnya hingga ia lupa kalau percakapan mereka tak seharusnya didengar pemuda berambut merah yang tengah berjalan di depan mereka.
Telinga Seijuurou berkedut mendengar namanya disebut Hayama keras-keras. Yah bukannya ia tidak mendengar percakapan keempat seniornya sejak tadi, hanya saja sebutan namanya barusan mau tak mau sepenuhnya mencuri perhatiannya.
Untuk beberapa saat tak terdengar suara apa pun. Seijuurou menebak itu karena teman-temannya tengah membayangkan seorang Akashi Seijuurou memeluk dan mencium seorang anak. Kemudian bisa terdengar suara Mibuchi yang mengatakan 'tidak mungkin!' hampir sama kerasnya dengan Hayama. Sepertinya orang-orang di belakangnya telah begitu tenggelam dalam percakapan kecil mereka hingga lupa untuk menahan volume suara mereka.
Akashi tersenyum simpul.
"Aku pulang," seru Seijuurou sembari membuka pintu di hadapannya. Keempat senior pemuda berambut merah tersebut sepertinya sedikit kecewa karena rumah Seijuurou ternyata tidak sebesar yang mereka bayangkan. Sebenarnya salah mereka juga mereka kecewa sekarang ini. Mereka membayangkan rumah Seijuurou sebesar istana, mana mungkin itu benar, bukan?
"Kak Seijuuroucchiiiiiii!" terdengar suara anak-anak dari arah dalam rumah. Sekelebat warna kuning memasuki penglihatan kelima teman Seijuurou sebelum tiba-tiba saja Seijuurou terdorong satu langkah ke belakang. "Aku kaaangeeeeeen-ssuuuu!"
Seijuurou terkekeh pelan. Sebelah tangannya melingkari badan anak di hadapannya sedangkan yang lainnya mengelus kepala berambut kuning anak tersebut dengan lembut, "Kakak juga kangen Ryouta."
Hayama, Mibuchi, Mayuzumi, dan Nebuya membuka mulut mereka tanpa sadar karena terkejut. Sosok berambut merah yang tengah mengelus rambut anak berambut kuning itu apa benar Akashi Seijuurou? Akashi Seijuurou kapten basket mereka?
Siapa pemuda berambut merah ini? Ia pasti bukan Akashi Seijuurou! Ini pasti bohong! Akashi Seijuurou alias kapten tim basket mereka orang yang tegas dan berwibawa. Kata 'lembut' dan 'Akashi Seijuurou' itu tidak cocok. Ralat, sama sekali tidak cocok.
Keempat pemuda itu terus menyangkal.
Mata anak berambut pirang di pelukan Seijuurou membuka dan mata cokelat keemasannya langsung terpaku pada sosok Momoi yang berdiri di belakang Seijuurou. Mata anak itu membulat dan ia melepaskan pelukannya pada sang kapten basket.
"Kak Momoicchi!" serunya tak kalah keras dengan ketika ia memanggil Seijuurou. Dengan segera ia menghambur memeluk Momoi. Yang dipeluk justru kikuk karena dipeluk di depan umum dan ditatapi keempat orang seniornya dengan tatapan seakan Momoi baru saja mengatakan kalau ia sebenarnya laki-laki.
"Halo, Ryou-chan," sapa Momoi yang akhirnya balas memeluk anak tersebut; Ryouta. Masih risih karena ditatapi oleh keempat seniornya. Setelahnya mereka berbincang tentang sesuatu yang tak lagi dipedulikan oleh keempat senior Seijuurou.
Hayama, Mibuchi, Mayuzumi, dan Nebuya langsung sadar. Mungkin anak ini yang tadi disebut Momoi sebagai adik Seijuurou yang pernah ditemuinya. Mereka berempat kembali mengalihkan perhatian mereka kepada pemuda berambut merah yang kini berusaha melepas sepatunya.
Tiba-tiba saja seorang anak yang sepertinya masih duduk di taman kanak-kanak dengan rambut biru muda lembut sudah berada di hadapan Seijuurou yang masih menunduk melepaskan ikatan tali sepatunya.
Ini anak siapa? Pikir keempat orang senior Seijuurou secara bersamaan. Jika rambut merah Seijuurou merupakan turunan dari misalnya saja ibunya, maka rambut kuning adik Seijuurou yang bernama Ryouta tadi pasti turunan dari ayahnya.
Nah, jadi rambut biru muda anak ini turunan siapa?
Apa jangan-jangan ayah Seijuurou dulu melakukan poligami?
"Halo Tetsuya, rindu Kakak?" sapa Seijuurou setelah meletakkan sepatunya dalam rak tak jauh darinya. Ia mengangkat anak berambut biru muda tadi dan mencium pipi kanannya lembut. Anak berambut biru muda itu tersipu sembari menganggukkan kepalanya. Seijuurou menggendong anak itu dan menatapnya tepat di mata.
Tatapan Seijuurou saat itu... penuh dengan kelembutan dan kasih sayang.
"Tetsuya rindu," jawab anak itu –Tetsuya—sembari melingkarkan tangan mungilnya di sekeliling leher Seijuurou. Seijuurou tertawa kecil sebelum menggosokkan ujung hidung mereka lantas mencium pipi kiri anak tersebut dengan lembut. Senyum anak tersebut semakin lebar.
Ini ilusi! Demi Eiji yang rambutnya akan memutih sepenuhnya dua tahun lagi, Akashi Seijuurou yang ini adalah ilusi! Akashi Seijuurou yang Mibuchi, Hayama, Mayuzumi, dan Nebuya kenal tidak seperti ini! Seijuurou yang mereka kenal tidak dekat dengan anak-anak!
Lalu, seakan takdir masih belum puas mempermainkan keempat senior Seijuurou, muncul seorang anak berambut biru tua yang sepertinya baru kelas empat atau lima sekolah dasar dari dalam diikuti oleh anak berambut hijau lumut dan anak lainnya yang berambut ungu panjang.
Ini anak siapa lagi?
Kalau ayah Seijuurou memang benar melakukan poligami maka... berapa banyak perempuan yang sudah dinikahinya?
"Halo Daiki, Shintarou, Atsushi," sapa Seijuurou sembari memeluk si anak berambut hijau dan yang berambut ungu panjang dengan satu tangan karena sebelah tangannya yang lain menyangga si bungsu. Tetsuya masih berada di gendongannya dan sepertinya masih belum mau melepaskan pelukan kecilnya pada leher sang kakak.
"Daiki tidak mau pelukan? Tidak rindu Kakak?" Seijuurou menatap anak lelaki berkulit gelap di hadapannya yang sejak tadi tampak enggan menatapnya. Seijuurou menghela napas pelan melihat kelakuan adiknya yang menjadi lebih dingin sejak ia tak datang saat pementasan Daiki. Akhirnya Seijuurou menyodorkan kepalan tangan kanannya. "Bro fist?"
Meski Daiki sedikit menunduk, Hayama, Mibuchi, Mayuzumi, Nebuya, Momoi, dan Seijuurou bisa melihat kalau anak itu tengah cemberut sekarang ini. Tapi perlahan dan dengan ragu, sebelah tangan anak itu terangkat dan ia benturkan dengan tinju Seijuurou.
Senyum simpul si sulung Akashi kembali. Dengan cepat ia mengacak rambut Daiki yang kelihatannya ingin protes tapi diam saja.
Setelah selesai menyapa adiknya satu per satu barulah Seijuurou sadar kalau ia tanpa sengaja telah mengacuhkan tamu-tamunya. Ia membalikkan badan seratus delapan puluh derajat dan berkata, "Ah, maafkan aku, silahkan masuk. Makanannya sudah siap."
Masih dirundung shock, keempat orang pemuda di belakang Seijuurou menurut dan melangkahkan kaki mengikuti sang tuan rumah. Seruan senang Ryouta karena Momoi akan ikut makan malam bersama mereka sama sekali tak masuk ke telinga keempat senior tersebut.
Makan malam dengan keluarga Akashi... bisa dibilang tak terasa seperti makan dengan keluarga Akashi bagi keempat orang senior Seijuurou. Ketika di stasiun Seijuurou berkata ia mengundang mereka untuk makan malam, Hayama, Mibuchi, Nebuya, dan Mayuzumi mengira mereka akan dikelilingi oleh anak-anak berambut merah atau paling tidak berwajah mirip dengan Seijuurou, berpiring-piring makanan mewah akan tersaji di hadapan mereka, dan mereka akan makan dengan khidmat.
Tapi kenyataannya tidak seperti itu.
Hayama, Mibuchi, Nebuya, Mayuzumi, dan Momoi kini tengah duduk melingkari meja makan panjang bersama anggota keluarga Akashi lainnya. Menu makan malam mereka hari itu adalah sup tahu yang kebetulan adalah makanan kesukaan si sulung.
Makanan mewah? Silang.
Adik-adik Seijuurou yang warna rambutnya persis seperti pelangi jika dijejerkan, apalagi dengan adanya Hayama, Momoi, dan Mayuzumi yang melengkapi barisan warna tersebut, sama sekali tidak mirip dengan Seijuurou.
Adik-adik berambut merah? Jangankan memiliki rambut yang sama dengan Seijuurou, mirip saja tidak.
Tepat di hadapan Hayama, duduk seorang anak berambut ungu panjang bertubuh tinggi besar tengah memerhatikan satu buah tahu putih yang menggenang dalam mangkuk milik pemuda berambut oranye tersebut.
"Kau akan makan itu?" tanya anak tadi –Atsushi—sembari menunjuk tahunya dengan sumpit di tangan. Hayama mencibir dan mendekatkan mangkuk hitam berisi sup tahu itu ke dadanya protektif. Di ujung meja, terdengar suara Seijuurou yang mengingatkan Atsushi untuk memanggil Hayama dengan sebutan 'kakak' karena pemuda itu jelas jauh lebih tua.
Atsushi merengut sebelum ia menceritakan pada si sulung kalau menu makan malam hari ini adalah hasil buatannya dibantu oleh Masako; yang diasumsikan teman-teman Seijuurou sebagai pengurus rumah keluarga Akashi. Si pemuda berambut merah mendengarkan dengan antusias sambil sesekali menyuapkan sepotong tahu ke dalam mulutnya.
Seorang wanita berambut hitam panjang masuk membawa satu poci air mineral. Seijuurou memintanya untuk mendekat dan sesaat kemudian ia berbisik menanyakan sesuatu pada wanita itu sembari melirik ke arah Atsushi sesekali. Wanita itu mengangguk dan menjelaskan sesuatu sebelum pergi meninggalkan mereka.
Karena tempat duduk Mibuchi yang kebetulan bersebelahan dengan Seijuurou, ia bisa mendengar jelas apa yang ditanyakan Seijuurou. Tentu saja ia sama sekali tak bermaksud untuk menguping. Tapi pertanyaan Seijuurou –yang berisi apakah Masako membiarkan Atsushi menggunakan pisau saat memasak atau tidak—membuat Mibuchi mau tak mau mendengarkan.
Mibuchi mendengus. Jika Seijuurou terus memperlakukan adiknya yang tinggi besar seperti itu, pemuda berambut hitam panjang itu yakin kalau kapten tim basketnya akan mendapat masalah suatu hari nanti. Pada akhirnya, Mibuchi memutuskan untuk diam saja dan melanjutkan makan.
Di samping Momoi, duduk Ryouta dengan sejuta ceritanya. Sejak mereka menjatuhkan diri di kursi, anak tersebut terus saja bercerita entah apa dengan Momoi yang hebatnya mendengarkan anak tersebut dengan perhatian penuh. Anak berambut pirang itu tak mengindahkan seruan si sulung untuk memelankan suaranya dan berhenti mengganggu Momoi yang sedang mencoba untuk makan. Atau mungkin anak itu hanya tidak mendengarkan seruan kakaknya. Secara harfiah.
Suasana makan malam yang khidmat? Sepertinya tidak perlu ditanya lagi.
"Hei, Kak Seijuuroucchi! Mana hadiahku?" tanya Ryouta dengan semangat sembari menangkupkan kedua tangannya begitu ia selesai menyesap kuah sup tahunya hingga kering. Semua yang ada di meja langsung hening begitu mendengar kata-katanya.
"Hadiah apa?" tanya Seijuurou dengan sebelah alis terangkat. Ia menyuapkan sepotong tahu ke dalam mulutnya lalu mengunyahnya perlahan. Ryouta menatapnya dengan tatapan tidak percaya. Seakan Seijuurou baru saja melupakan hari ulang tahunnya.
"Hadiah ulang tahunku!"
Momoi menatap Seijuurou dengan sebelah alis terangkat. Seakan diam-diam bertanya 'benarkah ia baru berulang tahun?' pada Seijuurou. Si pemuda berambut merah hanya menggeleng kecil ke arah satu-satunya perempuan di sana dengan sebelah alis terangkat. Dalam diam berkata 'jangan percaya pada setan kecil ini'.
Seijuurou mengambil serbet dan menyeka sisi bibirnya. Menutupi bibirnya yang melengkung membentuk senyuman geli. "Seingat Kakak, Kakak dan yang lainnya sudah memberikan kado padamu tepat di hari ulang tahunmu. Dan ulang tahunmu itu sebulan yang lalu, Ryouta."
Ryouta mencibir sedangkan adik-adik Seijuurou yang lain tertawa atau tersenyum. Tentu saja Daiki adalah pengecualian. Entah kenapa ia jadi jarang sekali tersenyum sekarang ini. Anak berambut pirang berkilah dengan mengatakan kalau seharusnya ia mendapat hadiah kedua. Seijuurou hanya tersenyum dalam diam dan akhirnya Ryouta mengaku kalah. Anak berambut pirang itu menggumamkan 'kakak payah' dengan pelan.
"Oh benarkah? Wah sayang sekali, padahal Kakak tadi mau memberikan kalian semua oleh-oleh tapi karena Ryouta baru saja bilang Kakak payah jadi apa boleh buat," kata Seijuurou dengan nada bercanda. Tapi kalimat tadi berhasil membuat adik-adik Seijuurou yang lain melemparkan tatapan tajam ke arah Ryouta. Si anak berambut pirang mengerut ditatap tajam seperti itu.
Melihat adik-adik Seijuurou yang sepertinya begitu menyayangi kakak mereka yang berambut merah itu membuat Hayama jadi ingin ikut permainan kecil Seijuurou dan menggoda mereka semua. Mata hijau gelap Hayama menatap Seijuurou dengan pandangan iseng dan cengiran lebar. Yang ditatap balas menatap.
"Wah, sayang sekali ya. Hei, Akashi, bagaimana kalau oleh-olehnya buat kami saja?" kata Hayama tiba-tiba sembari menunjuk dirinya sendiri. Tatapan semua orang yang ada di meja langsung beralih pada pemuda berambut oranye tersebut. Teman-teman setimnya yang lain ikut menatap Hayama dengan pandangan yang berbeda-beda.
Mibuchi menatapnya dengan pandangan horor. Nebuya menatapnya dengan pandangan seakan Hayama orang paling jenius sedunia dan ia bersedia ikut dalam permainan pemuda tersebut sedangkan Mayuzumi menatapnya dengan pandangan datar, tapi rekan-rekan setimnya tahu kalau pemuda berambut kelabu itu tengah mengutuki Hayama sebagai orang gila dalam hati.
Seijuurou menatap seniornya dengan pandangan yang sulit dijelaskan. Sederhananya, Seijuurou tengah menatap mata hijau tua Hayama dengan pandangan jenaka. Sepertinya si sulung senang Hayama sedikit memanas-manasi adik-adiknya.
"Ide bagus. Setelah ini aku akan membagikan oleh-oleh yang kubeli kemarin pada kalian."
Lima buah wajah serentak merengut ke arah Hayama. Bahkan si kecil Tetsuya yang biasanya berwajah datar ikut –terang-terangan—merengut ke arah si pemuda berambut oranye. Dihadiahi rengutan membuat Hayama semakin gemas dengan adik-adik Seijuurou. Cengiran pemuda itu makin lebar.
Ah, mereka manis sekali.
"Eh, Akashi, mochi isi kacang merah yang kau beli kemarin itu untukku ya," sahut Nebuya yang akhirnya memutuskan untuk ikut dalam permainan. Alis Seijuurou terangkat dan matanya melebar. Kelihatannya ia sama sekali tidak menyangka kalau Nebuya juga akan ikut dalam permainan kecil mereka.
"Boleh."
Shintarou melemparkan tatapan tajam terbaik yang ia miliki pada pemuda berkulit gelap bernama Nebuya itu. Ia sama sekali tidak rela –dan tidak ikhlas!—mochi kesukaannya diberikan pada orang asing yang –menurutnya—sudah kebanyakan makan.
Nebuya menggigit bibir susah payah untuk menahan tawa karena puas sudah mendapat reaksi yang diinginkannya.
"Adikmu benar-benar tidak manis, ya, Akashi," Hayama masih belum puas menggoda adik-adik kaptennya. Lima buah kepala berwarna seperti pelangi menoleh cepat ke arah Hayama hingga pemuda itu yakin jika sedikit lebih cepat lagi mungkin leher mereka akan patah. "Bisa-bisanya mereka mengatakan kau payah."
Mulut lima anak dengan rambut yang kontras satu sama lain itu membuka sedikit dan alis mereka mengerut. Tidak terima dibilang tidak manis. Lagi pula, astaga, yang mengatakan Seijuurou itu payah hanya Ryouta seorang! Jadi yang tidak manis itu seharusnya hanya Ryouta!
Kenapa mereka jadi ikut terkena?
"Lebih baik kau jadi kakak kami saja, Akashi!" usulan Hayama tersebut mendapat protes keras dari adik-adik Seijuurou. Mereka semua menyerukan 'tidak boleh!' sedangkan dua dari lima di antara mereka menggebrak meja. Seijuurou mengerutkan alis tak suka melihat kelakuan Ryouta dan Daiki yang baru saja menggebrak meja di hadapan tamu-tamu mereka. Kelimanya memberikan tatapan tajam terbaik mereka pada rekan sang kakak.
Mibuchi dan Mayuzumi menatap Hayama dengan tatapan horor.
"Ryouta, Daiki, jaga sikap kalian."
Hayama perlu menggigit bibir dan mencubit pahanya sendiri untuk menahan diri agar tidak tertawa keras-keras. Saat tawa tertahan Hayama keluar dari mulutnya, Nebuya menyikut pemuda itu. Tapi Nebuya sendiri tidak bisa tidak menyunggingkan cengiran lebar. Adik Seijuurou benar-benar menyenangkan untuk digoda!
Si bungsu Tetsuya melompat turun dari kursinya dan naik ke pangkuan Seijuurou. Sama sekali tak mengindahkan panggilan memeringatkan dari Seijuurou untuknya. Anak berambut biru muda lembut itu melingkarkan lengannya protektif di leher sang kakak dan menatap Hayama dengan tatapan yang seakan mendeklarasikan kalau Hayama sekarang adalah musuh baru yang harus dibasmi.
"Kak Seijuurou itu kakak Tetsuya," Tetsuya membuat sebuah deklarasi yang disambut anggukan pasti tanda setuju oleh keempat kakaknya yang lain. Shintarou, Atsushi, Ryouta, dan Daiki menoleh cepat ke arah si bungsu begitu kesadaran menghantam mereka. Jadi hanya Seijuurou yang diakui Tetsuya sebagai kakaknya? Mereka bagaimana?
"Eh, maksudnya, kakak kami," koreksi si bungsu begitu mendapat tatapan 'lalu kami bagaimana?' dari kakak-kakaknya yang lain.
Rekan-rekan Seijuurou tertawa melihat kepolosan si bungsu.
Setelah makan malam berakhir, Seijuurou kesulitan meyakinkan adik-adiknya kalau teman-teman setimnya hanya bercanda saat makan malam tadi. Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam dan teman-teman setim Seijuurou masih berdiri di pintu depan rumah keluarga Akashi karena adik-adik si pemuda berambut merah tak membiarkan Seijuurou mengantar Hayama, Mibuchi, Nebuya, Mayuzumi, dan Momoi pulang.
Mereka takut kakak mereka diambil katanya. Mereka takut kakak mereka tidak kembali lagi katanya. Butuh waktu cukup lama, kata-kata bujukan sekaligus beberapa cemilan untuk meyakinkan adik-adik Seijuurou. Yang mengejutkan, yang paling susah diyakinkan justru adalah Tetsuya yang biasanya berpikiran dewasa.
Melihat Seijuurou mengelus kepala berambut biru muda adik bungsunya –yang tak mau melepaskan genggaman tangannya pada tangan si sulung—sembari membisikkan 'tenanglah, Kakak akan tetap jadi kakak kalian' dan 'tidak perlu khawatir, Kakak pasti akan pulang' di pintu depan membuat Hayama tertawa terbahak-bahak.
"Sepertinya semuanya berjalan sesuai rencanamu, Akashi-kun?" gumam Momoi sembari melambaikan tangannya pada Hayama yang balas melambaikan tangannya di ujung jalan. Begitu sosok pemuda berambut oranye itu menghilang dari penglihatan, gadis berambut merah jambu itu menoleh ke arah sang kapten.
"Rencana apa?" tanya Seijuurou.
Momoi mendengus.
"Sejak awal kau memang sudah berencana mengundang kami makan malam. Itu sebabnya begitu kita sampai di rumahmu, makanan sudah siap," Momoi mengaitkan kedua tangannya di belakang punggung dan tersenyum manis pada sang pemuda di sebelahnya yang tengah mengangkat alis. "Apa aku salah?"
Senyum tipis mengembang di wajah tampan Seijuurou. Siapa yang ia bohongi? Semua kata-kata manajer tim basketnya seratus persen benar. Memang tidak salah dulu ia mengundang Momoi langsung menjadi manajer tim basket SMP mereka.
Mereka berdua berjalan dalam diam. Seperti yang sudah dijanjikan Seijuurou di stasiun tadi, ia kini tengah melangkah sejajar dengan perempuan itu dalam rangka mengantarkannya pulang. Janji senior-seniornya untuk ikut Seijuurou mengantar Momoi tadi ternyata hanya sebuah janji manis.
Karena kenyataannya, begitu mereka sampai di perempatan tak jauh dari rumah Seijuurou, mereka semua berpencar menuju arah rumah masing-masing. Sejuta alasan mereka lontarkan pada sang kapten basket dan manajer mereka. Janji untuk mengantar manajer mereka pulang terlupakan sudah.
Atau mungkin mereka melakukannya untuk tujuan lain. Entahlah.
"Oh iya," Momoi terkesiap di samping Seijuurou tiba-tiba. Sebelah tangan gadis itu merogoh tasnya selama beberapa saat. Setelah menemukan apa yang dicarinya, ia menariknya keluar. "Ini dia pesananmu. Aku lupa memberikannya kemarin."
Seijuurou menerimanya dengan tangan terbuka beserta seulas senyum tipis khasnya. Benda mungil yang diterimanya dari Momoi ia masukkan ke dalam saku celananya. "Terima kasih banyak. Maaf aku selalu merepotkanmu. Begitu libur musim panas berakhir akan kukembalikan."
Momoi mengangguk satu kali dan sembari mengangkat bahu ia berkata, "Tidak masalah. Itulah gunanya teman."
Mereka kembali berjalan dalam diam. Sama sekali tidak tahu harus mengatakan apa. Lagi pula mereka juga tidak merasa risih dengan keheningan yang ada. Di sepanjang jalan yang sudah sepi kendaraan tersebut, hanya suara langkah kaki mereka yang terdengar.
Satu belokan dan tiga rumah lagi maka mereka akan sampai, Momoi memperhitungkan perjalanan mereka dalam hati.
Merasa perjalanan mereka terlalu sepi, Momoi akhirnya memutuskan untuk membuka mulut," Adik-adikmu manis. Kukira adikmu hanya Ryou-chan dan Tetsu-kun."
Mata merah Seijuurou melirik gadis berambut merah jambu lembut di sampingnya. Ternyata diam-diam gadis itu juga tertarik dengan pembicaraan senior mereka di perjalanan menuju rumah keluarga Akashi tadi.
"Tidak, adikku ada lima. Tapi mereka semua adik angkat. Sebenarnya aku anak tunggal," jelas Seijuurou tanpa diminta. Ia paham kalau tadi rekan-rekan setimnya sempat kebingungan melihat adik-adiknya yang begitu penuh warna. Jujur saja sebenarnya Seijuurou ingin terkekeh melihat raut shock para seniornya begitu melihat adik-adiknya.
"Mereka benar-benar tidak menyangka Akashi-kun akan berubah lembut seperti itu di depan anak-anak. Terutama di depan Tetsu-kun," jelas Momoi lagi. Kali ini gadis itu terkekeh dan sebelah tangannya terangkat menutup mulutnya. "Kami selalu berpikir Akashi-kun tidak dekat dengan anak-anak."
"Kau juga berpikir begitu?" tanya Seijuurou dengan sebelah alis terangkat. Sama sekali tidak menyangka kalau manjernya termasuk orang yang menganggap dirinya tidak dekat dengan anak-anak. Apa ia terlihat seperti itu di sekolah?
"Dulu. Sebelum aku bertemu dengan Tetsu-kun tiga tahun lalu," jawab Momoi. Tangannya yang tadi dipakai untuk menutup mulutnya kini terjatuh lemas di sisi tubuhnya. Mereka berdua baru saja berbelok dan rumah Momoi hanya tinggal tiga rumah dari tempat mereka sekarang. "Tapi aku suka Akashi-kun yang lembut seperti itu."
Mata merah muda gelap milik Momoi membulat tepat ketika mereka berhenti di depan rumah gadis itu. Sesaat kemudian wajahnya merona hebat. Ia tidak benar-benar berpikir ketika mengatakan ia suka Seijuurou. Astaga, apa yang baru saja ia katakan?!
Takut-takut, Momoi melirik temannya yang berambut merah. Ia kelihatan tenang-tenang saja. Tubuhnya sama sekali tidak kaku. Mata merahnya sama sekali tidak melebar. Alisnya bahkan tidak terangkat. Ia sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda kalau ia terkejut!
Momoi sempat menghela napas lega dalam hati. Sepertinya Seijuurou sama sekali tidak mendengar omongannya yang sembarangan tadi.
"Aku juga suka Momoi ketika sedang bekerja keras."
Eh?
Momoi diam saja. Ia tidak tahu harus berkata apa. Mulutnya hanya bisa membuka dan menutup tanpa bisa benar-benar mengeluarkan kata-kata apa pun. Warna wajahnya sudah senada dengan warna rambut gadis itu.
"Baiklah, hari sudah malam. Sebaiknya aku pulang. Selamat mala—" kata-kata Seijuurou terputus begitu gadis itu berlari masuk rumah dan menutup pintu dengan cepat sebelum ia selesai mengucapkan selamat malam.
Seijuurou sama sekali tidak mengerti.
Selama dua minggu setelah libur musim panas berakhir, Momoi selalu absen latihan. Ketika mereka berpapasan di koridor juga gadis itu langsung kabur sebelum si sulung Akashi sempat menyapa gadis itu. Jangankan untuk mengembalikan barang yang diberikan Momoi waktu itu, menyapa gadis itu saja ia tidak bisa. Terakhir mereka benar-benar bertemu dan bicara adalah ketika Seijuurou mengantarnya pulang selepas makan malam di rumahnya.
Apa ia mengatakan sesuatu yang salah?
Apa mengatakan ia suka Momoi yang bekerja keras itu salah? Bukankah menyukai teman itu sesuatu yang normal? Toh ia juga suka Mibuchi yang penyayang dan sedikit keibuan. Seijuurou juga menyukai Mayuzumi yang pendiam dan dewasa, juga Nebuya yang kuat dan sangat berguna bagi tim. Seijuurou bahkan menyukai Hayama yang meski pun berisik tapi pandai memecahkan kekakuan tim basket mereka.
Ketika beberapa hari kemudian Mibuchi bertanya kenapa Momoi menjauhi Seijuurou seperti virus penyakit dan pemuda berambut merah itu menjawab, seniornya tertawa keras dan mengatakan Seijuurou bodoh sekali.
Jadi ia memang salah ya?
Udah lama banget ya rasanya sejak terakhir kali update cepet hehehe ehembanggaehem
Masalahnya Daiki dipending dulu hohoho aku mau biarkan dia berkembang(?)
Ini emang bonus chap tapi sebenernya ada dua scene di chap ini yang ada hubungannya sama masalah selanjutnya. Bisa tebak yang mana?
Makasih buat reviewnya yang manis-maniiis, aku senyum-senyum deh bacanya hahaha. Tadinya pundung gara-gara hari yang lumayan nyebelin eh begitu baca review kalian jadi senyum-senyum kayak orang gila haha makasih yaaa #bighug
Special thanks to: Harumia Risa, UchiHarunoKid, Shiraume. machida, Shintarou Arisa-chan, Rin rina, devi no kaze, owlkitty06, Nabila Hana BTL, V. Yuki-chan, Keys13th, Ritsu Syalalalala, hinamorilita-chan.
Review?
