Kuroko no Basuke hanya milik Fujimaki Tadatoshi seorang.
Cerita ini hanya milik saya seorang.
Warning: AU, Nice & not-so-perfect! Akashi, brotherly love! a lot of it I think, cuteness ahead(?), alur kecepetan, half-assed chapter, OOC, typo, DLDR!
pengingat mulai chapter ini:
Seijuurou = 16 tahun
Shintarou = 13 tahun
Atsushi = 12 tahun
Ryouta = 10 tahun
Daiki = 9 tahun
Tetsuya= 5 tahun
Enjoy!
Chapter 11: As Dad, Makes Rules
"Telah terjadi kasus perampokan di..."
Alis merah seorang pemuda dengan warna rambut yang senada berkerut dalam mendengar berita yang tengah dituturkan di televisi. Apa ini perasaan Seijuurou saja atau memang berita kriminal –mulai dari kasus ringan seperti pemalakan sampai kasus perampokan yang berat—semakin hari semakin sering tersiar di televisi? Dan lagi, bukankah tempat yang disebutkan penyiar berita tadi hanya berjarak beberapa blok dari rumahnya?
Tokyo akhir-akhir ini sepertinya semakin tidak aman...
Tanpa menyadari kakak sulung mereka yang tengah berpikir keras, kelima adiknya nampak acuh tak acuh dengan apa pun itu yang tengah ditonton kakak mereka. Shintarou tengah sibuk menekan layar ponsel pintarnya, sepertinya sedang mengirim pesan pada seseorang –kemungkinan besar Takao atau adiknya Takao—, Atsushi sibuk memakan keripik kentangnya sembari memerhatikan Ryouta, Daiki, dan Tetsuya yang sedang sibuk main kartu remi.
Bisa terdengar suara 'haha makanlah semua kartu itu! Aku ikhlas memberikan ini semua padamu, Ryouta!', 'sial! Setelah ini aku tidak akan kalah lagi-ssu!', dan 'Kak Ryouta belum puas makan malam ya makanya sekarang makan banyak kartu?' lalu terdengar suara erangan keras dan kalimat 'jangan Tetsuyacchi juga!'. Tentu bisa ditebak siapa saja yang mengatakan itu semua.
Begitu menekan tombol 'send', Shintarou menurunkan ponselnya dan mengalihkan mata hijau lumut miliknya pada sang kakak yang menatap televisi dengan sebelah tangan yang menumpu kepala. Tapi jelas perhatian pemuda itu ada di tempat lain.
"Kak?" panggil Shintarou dengan sebelah alis terangkat dan hal itu sukses memanggil kembali pikiran Seijuurou yang sempat meninggalkan tubuhnya. Pemuda berambut merah itu tersentak sedikit lantas menoleh ke arah sang adik.
"Ya?"
"Ada apa?" tanya Shintarou lagi langsung ke inti. Ia memang bukan tipe orang yang senang berbasa-basi lagi pula ia juga yakin kakaknya akan langsung mengerti apa yang ia maksud.
Seijuurou menyilangkan tangan di depan dada dan pandangannya kembali menatap layar televisi yang kini menampilkan iklan sebuah minuman isotonik. Kepala bersurai merah milik pemuda itu dimiringkan ke kanan sedikit dan sepasang alisnya berkerut dalam. Sekilas ia terlihat seperti tidak setuju dengan kalimat 'isotonik terbaik!' yang dikatakan narator iklan minuman isotonik yang ditayangkan di televisi.
"Aku khawatir. Kejahatan di Tokyo sepertinya semakin banyak..." adik-adik Seijuurou yang tadinya sibuk dengan kegiatan masing-masing kini mengalihkan pandangan mereka semua ke arah sang kakak sulung begitu mereka mendengar kata 'aku khawatir'. Terlebih karena kalimat itu berlapiskan nada khawatir yang begitu kental. Bahkan Ryouta yang akan melempar kartu miliknya ke hadapan Daiki langsung menghentikan gerakannya.
Shintarou berkedip beberapa kali. Sepertinya ia tahu arah pembicaraan ini.
"Karena itu, aku merasa batas jam pulang itu perlu," Seijuurou memutar posisi tubuhnya yang sebelumnya menghadap televisi, kini ia menghadap adik-adiknya. Matanya terlihat begitu tajam dan dari wajahnya jelas terlihat kalau kalimat yang akan ia katakan adalah absolut. "Shintarou, kau harus pulang sebelum jam setengah tujuh."
Shintarou mengangguk paham satu kali. Ia menggumamkan 'baiklah' sembari memperbaiki letak kacamatanya. Tepat ketika itu ponsel di genggamannya bergetar tanda ada pesan masuk dan ia kembali sibuk dengan ponselnya. Samar-samar, salah satu sudut bibir anak itu berkedut.
Seijuurou mengalihkan pandangannya pada ketiga adiknya yang termuda, "kalian harus pulang sebelum jam lima, mengerti?"
Ryouta dan Tetsuya mengangguk sekaligus mengatakan 'ya!' dengan lantang. Sedangkan Daiki hanya bergumam sebelum kembali berkutat dengan empat lembar kartu yang tersisa di tangannya. Segera, ketiga anak tadi kembali tenggelam dalam permainan kecil mereka. Tawa mereka kembali terdengar ketika Daiki kalah cepat menepuk kartu.
"Dan Atsushi," Seijuurou menatap adiknya yang berambut ungu tepat di mata, "harus pulang sebelum jam setengah enam."
Seijuurou memberikan sedikit tekanan pada kata 'setengah enam' agar adiknya yang menurutnya paling sulit diatur tersebut mengerti kalau ia tengah 'benar-benar' serius dan si sulung Akashi tidak mau dan tidak akan menerima penolakan dalam bentuk apa pun. Sekali ini, ia akan menerapkan ketegasan dan prinsip kata-kataku-absolut di rumah.
Atsushi memasukkan beberapa potong keripik kentang ke dalam mulutnya sembari menggumamkan 'hmm' panjang. Sebelah tangannya yang panjang meraih remote control di atas meja kopi sementara tangannya yang lain memeluk bungkus keripik kentang. Anak berambut ungu panjang itu menekan salah tombol dan saluran televisi pun terganti dari yang semula merupakan acara berita menjadi acara demo masak.
Shintarou diam-diam melirik kakak sulung dan adiknya. Dalam hati ia bersyukur adiknya yang tak begitu akrab dengannya itu menurut saja dengan kata-kata Seijuurou, tapi di sisi lain, ia berpikir anak itu tidak akan menurut lama. Tebakan Shintarou, anak itu hanya akan menuruti Seijuurou paling lama dua minggu.
Sebenarnya kalau boleh jujur, Shintarou sedikit keberatan dengan jam yang dibebankan si sulung pada Atsushi. Sekolah mereka –SMP Teikou—yang begitu terkenal dengan klub basketnya, pasti akan mengadakan latihan basket lebih lama dari biasanya berhubung sebentar lagi Winter Cup dimulai.
Pelatih mereka akan mengawasi jalannya latihan hingga pukul lima dan setelahnya semua tergantung pada para anggota klub. Tapi karena dirinya dan Atsushi merupakan pemain utama klub tersebut, bisa dipastikan latihan bagi mereka akan berlangsung lebih lama. Tahun lalu saja Shintarou selalu pulang hampir bersamaan dengan pulangnya Seijuurou; pukul tujuh ke atas.
Dengan diadakannya jam pulang yang begitu cepat untuk Atsushi, klub mereka pasti akan mengalami sedikit kekacauan. Akan ada anggota klub basket yang tidak mau mengerti situasi dan kondisi Atsushi. Mereka akan berpikir Atsushi egois karena tidak mau latihan lantas mereka akan mulai mengambil tindakan.
Jika sudah begitu, berapa lama Atsushi akan bertahan dan menuruti Seijuurou?
Jam dinding sudah menunjukkan pukul dua belas malam ketika Seijuurou memutuskan untuk berjalan mengelilingi rumahnya yang bisa dibilang cukup besar. Pemuda berambut merah tersebut tidak benar-benar bisa memejamkan mata setelah selesai membaca secara detail setumpuk tinggi dokumen perusahaan yang akan ditandatangani pamannya besok. Oleh karena itu, ia memutuskan untuk memastikan keadaan adik-adiknya sebelum ia memaksakan dirinya sendiri untuk tidur.
Kamar pertama yang disambanginya adalah kamar Ryouta. Ya, kini bukan lagi kamar Ryouta dan Daiki. Sejak anak berambut pirang itu menginjak kelas lima, ia tak lagi mau tidur bersama dengan Daiki. Tidur bersama dalam satu kamar itu hanya untuk anak-anak katanya. Karena Daiki juga tidak memiliki masalah dengan itu dan masih terdapat banyak kamar kosong di rumah mereka, jadilah mereka tidur sendiri-sendiri sekarang.
Seijuurou memutar kenop pintu selembut yang ia bisa, berusaha sekuat tenaga untuk tidak membuat terlalu banyak suara yang dapat membangunkan adiknya yang ceria tersebut. Kepalanya yang berhiaskan rambut merah melongok ke dalam, memastikan kalau adiknya sudah terlelap sebelum ia memasuki kamar tersebut.
Seijuurou berjalan hati-hati dalam gelap. Ia sengaja tidak menekan saklar lampu agar cahaya lampu di langit-langit tidak menusuk mata adiknya lantas membuat adiknya terbangun. Begitu ia terduduk di sisi ranjang sang anak, ia menyalakan lampu di samping nakas yang cahayanya tak seterang lampu langit-langit.
Anak berambut pirang tersebut berjengit sedikit dan mengerang tapi ia tak membuka matanya. Ryouta menaikkan selimutnya hingga sebatas mata, berusaha menutupi akses cahaya menuju matanya. Sekali lagi anak itu mengerang sebelum kembali diam.
Seijuurou mendengus. Sepasang mata merah miliknya melembut melihat wajah polos adiknya yang tertidur. Sesaat kemudian sebelah tangannya terulur mengusap helaian rambut yang menutupi kepala anak tersebut dengan penuh sayang.
Ia menyingkirkan helai rambut kuning yang menutupi dahi Ryouta dan memberikan dahi anak itu sebuah kecupan selamat malam. "Mimpi indah, Ryouta."
Ryouta menurunkan selimutnya hingga hanya sebatas leher. Seijuurou kembali mengelus kepala anak tersebut. Mengupayakan agar anak itu tertidur kembali jika ia memang sempat terbangun. Mata anak itu terpejam tapi seulas senyum mengembang di wajahnya yang tampan dan ia menggumam.
Senyum Ryouta menular pada Seijuurou. Terbukti dari senyum si pemuda berambut merah yang melebar. Dalam hati si sulung bertanya-tanya, apa dirinya memang memiliki tempat khusus di hati adik-adiknya hingga satu ciuman selamat malam darinya bisa mengembangkan senyum di wajah adiknya meski mereka sedang tertidur?
Dengan satu gerakan lambat, Seijuurou menarik pintu di belakangnya hingga menutup sempurna. Tentu saja setelah ia menghadiahkan satu pandangan lembut pada Ryouta sekali lagi. Perjalanan singkat Seijuurou malam itu kembali dilanjutkan.
Kali ini kamar Daiki yang menjadi tujuannya. Kamar anak itu dengan Ryouta memang bersebelahan. Sengaja karena Seijuurou tahu meski Ryouta tak lagi ingin sekamar berdua dengan Daiki, ia tak benar-benar ingin berpisah dengan anak itu. Hal yang sama tentu berlaku pula untuk Daiki.
Begitu ia membuka pintu, ruangan yang remang-remang karena hanya diterangi cahaya lampu nakas memasuki ruang lingkup penglihatan Seijuurou. Daiki tidur dengan posisi memunggunginya. Seijuurou tahu ini tidak mungkin dan ini hanya suatu kebetulan, tapi ia tetap merasa adiknya itu begitu membenci dirinya hingga dalam tidurnya pun ia masih memunggungi Seijuurou. Tak ingin bertemu muka dengan sang kakak.
Seijuurou berjalan mendekati punggung anak tersebut dan mengusapnya pelan. Sedikit berharap usapannya akan membuat anak itu berbalik menghadapnya. Tapi hasilnya nihil. Daiki hanya menggerakkan bahunya sedikit seakan ia ingin tangan sang kakak yang berada di punggungnya menghilang.
Pandangan Seijuurou berubah sendu.
Apa Daiki benar-benar marah padanya? Tapi kenapa?
Seijuurou tahu jelas kalau ia memang yang salah. Ia sudah melanggar janjinya dengan Daiki. Pemuda berambut merah itu sudah berjanji untuk menonton sang adik, tapi kenyataannya dirinya baru muncul justru ketika panggung sudah kosong dan tirai tengah dicabut. Dan begitu ia berhasil menemukan Daiki di balik panggung, Daiki justru memunggunginya dan tak mengatakan apa-apa padanya.
Kala itu anak itu hanya diam tapi Seijuurou bisa melihat bekas air mata di pipinya yang dihapus asal, rahangnya yang sedikit mengeras, dan ekspresi wajahnya yang lebih... tidak bersahabat, katakanlah seperti itu.
Saat itu Seijuurou mencoba untuk menyentuh bahu anak itu, tapi ia tidak berbalik dan menatapnya. Ia hanya memutar bahu di mana tangan Seijuurou berada. Dalam diamnya ia mengatakan pada kakaknya untuk melepaskan bahunya. Diamnya Daiki justru lebih menakutkan dari pada teriakan marah Ryouta.
Berbeda dengan Ryouta yang akan secara terbuka marah-marah padanya, berkata kalau anak berambut pirang itu membencinya, bahkan mungkin berteriak di wajahnya, Daiki justru memilih untuk diam dan memendam semuanya sendiri. Daiki meneriakkan kemarahannya dengan cara menjauh dari sang kakak, menjaga jarak, tak lagi menerima berbagai bentuk kasih sayang; ia tak mau lagi dicium, dipeluk, bahkan dielus.
Seijuurou mencoba untuk berjongkok di hadapannya waktu itu, memegang kedua tangan hitamnya, memintanya menatap mata merahnya, mencoba memberikan penjelasan, dan meminta maaf. Seijuurou berpikir ia akan mengerti. Tapi ternyata anak itu justru menolak menatap Seijuurou. Tirai merah yang tengah dicabut oleh teman-temannya jauh lebih menarik baginya saat itu.
Ia sama sekali tidak mendengar. Tak peduli berapa kali Seijuurou meminta maaf. Tak peduli seberapa jelas si sulung tersiksa akibat diamnya ia.
Kala itu Seijuurou berpikir, mungkin Daiki masih penuh emosi. Mungkin anak berambut biru tua itu perlu sedikit waktu untuk menenangkan diri dan berpikir. Mungkin anak itu akan kembali seperti semula dalam waktu beberapa bulan.
Tapi ternyata Seijuurou salah. Sudah setengah tahun lebih sejak saat itu dan sikap Daiki tak kunjung berubah.
Seijuurou memindahkan tangannya dari punggung Daiki ke kepala anak itu. Jujur sebenarnya ia ingin sekali memegang bahu Daiki dan memaksanya membalikkan badan, paling tidak merubah posisinya menjadi telentang tapi Seijuurou tahu jika ia berbuat demikian, maka adiknya akan terbangun.
Jadi Seijuurou hanya diam dan mengelus kepala adiknya beberapa kali lagi dan mendaratkan ciuman selamat malam di salah satu pelipis Daiki.
"Selamat malam, Daiki. Mimpi indah dan maafkan Kakak."
Seijuurou menatap punggung Daiki sekali lagi dengan pandangan sendu sebelum beralih ke kamar selanjutnya.
Ia mengulangi hal yang sama di kamar Tetsuya. Ya, anak itu sekarang tak lagi tidur sekamar dengan Seijuurou. Ia sudah besar, katanya. Tetsuya sudah tidak takut lagi tidur sendiri, katanya. Maka jadilah ia dihadiahkan satu kamar untuknya sendiri di awal musim gugur tahun ini.
Di kamar Shintarou, Seijuurou mendapat kejutan. Shintarou berada di tempat tidur –sama seperti yang lainnya—dengan posisi memunggungi pintu kamarnya. Tubuhnya sudah dibalut piyama lengkap dan kacamatanya juga sudah bertengger di samping nakas. Tapi –ya, ada tapinya—anak itu sama sekali tidak terbang ke alam mimpi. Ia justru sibuk mengetik sesuatu di layar ponselnya.
Begitu seriusnya ia hingga tidak menyadari kehadiran Seijuurou. Si sulung sampai harus berdeham di ambang pintu cukup keras untuk memberitahukan kehadirannya pada sang adik.
Ekspresi anak itu ketika ia tahu Seijuurou telah menangkap basah dirinya belum tidur saat malam telah larut membuat Seijuurou ingin tertawa. Wajahnya memerah hingga ke ujung telinga karena menahan malu. Cepat-cepat ia masuk selimut dan memejamkan matanya. Sepertinya anak itu agak takut akan dimarahi Seijuurou.
Meski Seijuurou tidak bertanya, Seijuurou tahu kalau adiknya baru saja mengirim pesan. Dan Seijuurou tahu siapa yang dikiriminya pesan. Isi pesannya sebenarnya tidak terlalu penting. Paling-paling hanya menanyakan apa 'orang itu' punya barang khusus yang akan menjadi lucky item Shintarou besok. Tidak lebih. Tidak pernah lebih.
Bagaimana Seijuurou tahu? Karena Seijuurou pernah membuka ponsel Shintarou yang baru menerima pesan–awalnya ia tidak berniat untuk membacanya, sungguh!—dan membacanya. Tanpa sepengetahuan Shintarou tentu saja. Rasa penasaran Seijuurou tercubit waktu itu ketika melihat nama kontak yang begitu mendominasi kotak masuk ponsel adiknya.
Dasar remaja kasmaran...
Seijuurou hanya tertawa dan mengingatkan adiknya yang tertua kalau sekarang sudah waktunya tidur dan jika sepuluh menit lagi Seijuurou menangkap basah anak itu masih memegang ponselnya, si sulung mengancam akan membajak ponsel pintar miliknya lantas memberitahukan hal-hal memalukan yang dilakukan oleh Shintarou pada 'orang itu'.
Shintarou langsung terduduk di atas ranjang. Wajahnya makin memerah dan ia berusaha mengelak dengan mengatakan 'orang itu siapa?' dan 'Kakak jangan mengada-ada'. Tapi setelahnya ia buru-buru mematikan lampu, membaringkan diri, dan memejamkan mata. Sepertinya ia benar-benar tidak ingin adik Takao tahu hal-hal memalukan tentang dirinya.
Ups, sekarang terbongkar sudah siapa 'orang itu'.
Seijuurou masih tersenyum geli ketika ia menarik kenop pintu kamar Shintarou hingga menutup. Kini ia berjalan menuju destinasi terakhirnya; kamar milik adiknya yang kedua, Akashi Atsushi. Untuk yang kelima kalinya malam itu, Seijuurou memutar kenop pintu kamar adiknya dan mendorongnya perlahan. Memastikan pintu itu tak berdecit terlalu keras ketika dibuka.
Sosok Atsushi yang bertubuh tinggi besar terhampar dengan selimut yang jatuh di salah satu sisi tempat tidur bersama dengan beberapa bungkus keripik kentang menyapa penglihatan Seijuurou begitu si pemuda berambut merah melongokkan kepalanya ke dalam.
Seijuurou ingin menghela napas melihat kelakuan adiknya yang satu ini. Dalam hati ia merasa setengah kesal setengah putus asa dengan adiknya yang berambut ungu panjang ini. Kesal karena lagi-lagi sang adik tak mematuhi larangannya untuk tak makan cemilan lagi sesudah menyikat gigi. Putus asa karena dari sepuluh kali Seijuurou mengingatkannya, hanya sekitar lima kali anak itu menurut.
Seijuurou tak mau membayangkan bagaimana jadinya nanti ketika anak itu memasuki masa-masa pemberontakan. Tuhan, mungkin itu akan jadi masa paling berat bagi Seijuurou.
Jujur sebenarnya Seijuurou merasa kalau titahnya saat mereka berkumpul di ruang tengah tadi hanya akan dituruti sang adik kurang lebih satu minggu. Setelah itu ia akan menunjukkan tanda-tanda pembangkangan dan Seijuurou harus benar-benar menahan emosinya agar tak memarahi anak itu.
Tidak. Mengingat Atsushi mulai memasuki masa-masa pubertas, mungkin hanya sekitar empat atau lima hari ia akan menurut. Tapi sungguh, ini semua Seijuurou lakukan demi kebaikan anak itu sendiri. Dari kelima orang adiknya, Atsushi lah yang paling Seijuurou khawatirkan saat ini. Dengan keadaan Atsushi, si sulung khawatir adiknya satu itu akan menjadi sasaran empuk para penjahat.
Tubuh boleh besar, tapi pikiran Atsushi... katakanlah tidak berkembang secepat tubuhnya. Bukan berarti Seijuurou mengatakan ia mengalami keterbelakangan mental. Sama sekali bukan. Hanya saja... dari kelima adik Seijuurou yang lain, Atsushi lah yang paling... kurang pintar.
Maksudnya, saat pertama diangkat menjadi anak keluarga Akashi ia bahkan tidak bisa mengingat Seijuurou dan Shintarou dengan benar. Setelah dua minggu, baru ia bisa mengingat kalau anak berambut merah dengan warna mata senada adalah kakak sulungnya sedangkan anak berambut hijau lumut yang kepribadiannya bertentangan dengan dirinya adalah kakaknya yang kedua.
Saat Atsushi dimasukkan ke TK yang tak jauh dari rumah, ia tak pernah dibiarkan pergi dan pulang sendiri karena di usianya yang menginjak lima tahun, ia tidak ingat jalan dari rumah ke TK mau pun sebaliknya meski pun jarak dari TK ke rumah kurang dari tiga ratus meter. Seijuurou atau Shintarou selalu bergiliran mengantar dan menjemput adik mereka tersebut.
Hingga kelas tiga sekolah dasar, Atsushi tak bisa mengingat teman-temannya. Ia bahkan pernah kebingungan ketika ada salah seorang teman sekelasnya duduk di sebelahnya dan mengajaknya mengobrol di jam olahraga lalu akhirnya anak itu tersinggung ketika di akhir pembicaraan Atsushi bertanya ia siapa.
Nilai anak itu juga kebanyakan merah. Hanya di pelajaran tertentu seperti matematika, IPA, dan olahraga yang berada jauh di atas rata-rata. Oh, dan PKK. Nilai anak itu juga bagus di PKK. Tetapi selain itu nilainya berada di kisaran tujuh ke bawah. Tak peduli berapa kali pun Seijuurou mengajarinya, nilai tertinggi yang bisa didapatkannya hanya nilai standar.
Dan Seijuurou berani bertaruh, meski sebentar lagi Atsushi akan naik ke kelas dua SMP, anak itu tidak akan bisa mengenali siapa saja teman sekelasnya dan siapa saja teman setimnya di klub basket jika ditanya.
Jangankan untuk membedakan mana orang yang baik dan mana yang jahat, mengenali orang di sekitarnya dengan benar saja Atsushi kesulitan!
Jadi, dengan keadaan yang seperti itu, apa salah jika sekarang ini Seijuurou mengkhawatirkan Atsushi?
Seijuurou dengan cekatan memungut bungkus-bungkus makanan kecil yang berserakan di lantai dan membuangnya ke tong sampah. Diambilnya selimut yang juga tergeletak tak berdaya di lantai setelah menjadi korban tendangan adiknya dan ia hamparkan di atas tubuh sang adik yang kini tingginya sudah melampaui Seijuurou.
Atsushi bergerak sedikit dalam tidurnya ketika selimut yang hangat menyentuh tubuhnya yang tadi sempat meringkuk karena kedinginan.
Karena Atsushi tidak patuh mungkin sebaiknya ia kuberi hukuman sedikit, pikir Seijuurou ketika melihat adiknya berganti posisi tidur. Seijuurou membuka laci nakas dan mengosongkannya dari segala jenis cemilan. Perhatiannya kemudian beralih pada kolong tempat tidur Atsushi dan lagi-lagi ia menemukan banyak benda serupa tergeletak di sana.
Seijuurou bergegas menuju dapur dan tak lama kemudian ia kembali dengan satu kantong plastik hitam besar. Dengan cepat namun hati-hati agar tak menimbulkan suara, ia memasukkan 'harta karun' yang baru saja ditemukannya ke dalam kantong plastik. Lantas ia menyapu rambut Atsushi yang menutupi dahi dan menciumnya lembut.
"Semoga Atsushi tidak lagi jadi pembangkang dan mimpi indah, Atsushi."
Atsushi tengah melompat untuk menerima lemparan bola dari teman setimnya yang bernama Himuro Tatsuya ketika pelatih kepala di klub basket mereka memanggil para anggota klub basket untuk berkumpul di pinggir lapangan. Sepertinya akan ada pengumuman baru dari pria tiga puluhan tersebut.
"Winter Cup akan dilaksanakan kurang dari sebulan lagi. Jadi mulai hari ini, jam latihan kalian semua akan ditambah," terdengar erangan dari beberapa anak tim reguler karena mereka yakin mereka akan mendapat jam latihan jauh lebih ekstra. "mulai sekarang, tim reguler akan berlatih hingga jam setengah tujuh malam."
Kontan lebih dari setengah penghuni tim reguler klub basket mengerang lantas mengeluh. Anak-anak dari tim kedua dan ketiga menjulurkan lidah ke arah mereka dan tertawa jahat. Puas karena tidak akan dapat jam latihan tambahan karena yang bermain di Winter Cup nanti bisa dipastikan hanya tim reguler saja.
Shintarou diam-diam melirik Atsushi yang tengah melamun. Terlihat dari pandangannya yang terlihat tak fokus ke arah depan. Kontras dengan teman seangkatannya, Himuro Tatsuya, yang justru tengah memerhatikan dengan serius. Anak berambut hitam di sebelah Atsushi terlihat begitu bersemangat begitu sang pelatih menyebutkan jam pulang mereka.
"Bukankah itu menyenangkan, Atsushi?" tanya Himuro sembari menyikut lengan anak berambut ungu tersebut untuk mendapatkan perhatiannya. Atsushi kembali dari lamunannya dan dengan malas ia mengiyakan ucapan Himuro dengan gumaman malas khas miliknya.
Shintarou berani bertaruh kalau sebenarnya anak itu tidak tahu hal apa yang dimaksudkan oleh temannya, tapi agar bisa mendiamkan Himuro, ia mengiyakan saja.
Shintarou menghela napas.
Jam menunjukkan pukul jam setengah enam sore kurang lima menit ketika Shintarou memanggil nama Atsushi dari pinggir lapangan basket indoor SMP Teikou. Anak berambut hijau tersebut melirik jam dinding yang tergantung di salah satu sisi gym sembari menyeka ujung bibirnya yang basah akibat kegiatan minumnya barusan.
Sang adik berambut ungu menoleh ke arahnya. Bola basket di tangan, lututnya ditekuk, dan ia sepertinya baru saja akan melompat memasukkan bola basket di tangannya ke dalam ring secara langsung.
Shintarou mengetukkan jari telunjuknya ke pergelangan tangan dua kali sebagai isyarat bagi adiknya untuk melihat jam. Pandangan mata dan diamnya anak berambut hijau tersebut seolah mengatakan 'lihat jam, sudah waktumu pulang!' pada sang adik. Tak bisa dipungkiri Shintarou kesal karena sejak tadi ia sudah berkali-kali mengingatkan Atsushi tapi adiknya tak kunjung mendengarkan.
Jujur, terkadang ia muak dengan sikap pembangkang adiknya. Astaga, Bagaimana Seijuurou bisa tahan menghadapi anak ini?
Atsushi mengalihkan pandangannya dari sang kakak kedua. Dari pinggir lapangan mata hijau Shintarou bisa melihat bibir anak itu mengerucut dan sepertinya ia mengeluarkan desisan pendek. Ia melanjutkan hal yang sebelumnya sempat terhenti karena Shintarou.
Atsushi melompat dan melakukan dunk sempurna. Himuro yang berada tak jauh darinya berlari kecil menghampiri anak tersebut dan menepuk punggungnya sebagai ucapan kerja bagus. Senyum simpul terpatri di wajah anak berambut hitam tersebut.
Mata kelabu Himuro membelalak heran ketika ia melihat temannya yang bertubuh tinggi besar itu berjalan lemas ke arah bench setelah ia beri tepukan di punggung dan memunguti barang-barangnya yang tercecer di sana. Tak berapa lama kemudian, anak itu sudah memanggul tasnya dan berjalan ke arah pintu keluar gym.
"Atsushi!" panggilan Himuro membuat seluruh anggota tim basket yang hadir saat itu menoleh ke arah mereka berdua. Reaksi yang ditunjukkan anggota tim basket tersebut ketika melihat Atsushi hanya berjarak dua meter dari pintu keluar kurang lebih sama dengan reaksi yang dimiliki Himuro tadi. "Latihan belum selesai, kau mau ke mana?"
Mulut Himuro sebenarnya sudah gatal ingin mengatakan 'jangan bilang kau mau bolos latihan' pada temannya. Tapi ia mengurungkan niatan itu. Karena Himuro percaya kalau Atsushi pasti punya alasan untuk pulang lebih awal di saat sebentar lagi mereka menghadapi Winter Cup. Ya, anak itu pasti punya alasan jadi tak benar bagi Himuro untuk berpikir yang tidak-tidak mengenai anak itu.
Atsushi menurunkan kembali maiubou yang tadinya hendak dimasukkan ke mulut. Dengan malas ia menjawab, "mau pulang. Sudah ya."
Dengan itu, si anak berambut ungu panjang melenggang pergi sembari mengunyah cemilan kesukaannya. Meninggalkan teman-teman setim termasuk senior-seniornya yang melihat kepergiannya dengan mata membelalak dan mulut sedikit menganga.
Memangnya anak itu pikir klub ini punya nenek moyangnya hingga ia bisa pergi dan pulang sesuka hati?
Himuro baru akan mengejar anak itu ketika ia merasa ada satu tangan hinggap di bahu kirinya untuk menahannya dari melakukan apa pun itu yang hendak dilakukannya. Himuro menoleh dan mendapati sosok kapten tim mereka; Ootsubo Taisuke. Sosok anak kelas tiga tersebut menggeleng pelan ke arah Himuro. Dalam gelengannya ia mengatakan pada Himuro untuk membiarkan anak itu pergi.
Mereka semua sudah hapal tabiat adik Shintarou satu itu. Sulit diatur. Tidak ada yang benar-benar bisa mengaturnya. Ia tidak benar-benar mau mendengarkan kata-kata orang lain Orang yang bisa –atau lebih tepat jika dikatakan ia perbolehkan—mendekatinya hanya kakaknya, Akashi Shintarou, dan Himuro Tatsuya.
Bahkan anak itu sesekali menuruti Ootsubo juga bisa dianggap sebuah keajaiban mengingat betapa pembangkangnya anak itu. Tapi semua orang tahu, anak berambut ungu itu hanya menahan diri dari membangkang pada Ootsubo karena ia tahu ia tidak akan bisa menang dari sang kapten.
Dan semua orang juga tahu, kalau hanya masalah waktu saja hingga kekuatan dan kemampuan anak itu bertambah hingga melampaui Ootsubo. Setelahnya, bisa dipastikan tak akan ada lagi yang bisa mengatur anak itu karena orang terkuat dalam tim mereka saat ini hanyalah sang kapten.
Meski sebenarnya rasa dongkol bersarang dalam hati sang kapten berambut hitam ketika ada adik kelasnya pulang sesuka hati tanpa meminta izin padanya terlebih dahulu, ia tak benar-benar bisa mengatakan apa-apa.
Tak mau berburuk sangka terhadap anak asuhnya, sang kapten hanya bisa yakin kalau Akashi junior pasti punya alasan yang bagus untuk itu dan ia tidak akan mengulangi aksinya hari ini di kemudian hari.
Ya, pasti begitu.
"K,u, ku, e, kue," eja Tetsuya dengan pandangan yang begitu serius. Di hadapannya terdapat meja kopi di mana terhampar buku kecil yang terdiri atas sebuah gambar kue tart stroberi dan di bawahnya terdapat tulisan yang baru saja dieja oleh anak berusia lima tahun tersebut.
Tetsuya mendongak menatap kakak-kakaknya yang berkumpul mengelilinginya dan memberikan senyuman malu-malu miliknya. Tersirat binaran bangga karena dirinya sudah mulai bisa membaca ketika ia tersenyum ke arah kakak-kakaknya.
Reaksi yang ditimbulkan oleh kakak-kakaknya rata-rata seragam. Mata membulat dan berbinar, mulut terbuka sedikit karena terkejut melihat adik bungsu mereka sudah mulai lancar membaca lantas tersenyum lebar pada sang adik yang berusia lima tahun.
"Tetsuyacchi sudah pandai membaca-ssu!" Ryouta meneriakkan hal yang sudah jelas.
Daiki yang biasanya langsung melirik tajam pada sang rival abadi kini memilih untuk mengacuhkannya. Sebelah tangan hitam anak itu merangkul adiknya dengan sayang sedangkan yang lainnya menggosokkan tinjunya di puncak kepala sang adik. Tetsuya terkekeh.
"Kau pintar, Tetsu! Biar aku traktir kau vanilla shake besok!"
Shintarou tersenyum tipis tanpa mengomentari apa-apa. Atsushi masih sibuk mengunyah keripik kentangnya. Meski sekilas ia terlihat tidak peduli, tapi jika dilihat dengan seksama maka akan terlihat binar bangga yang ia tujukan pada sang adik bungsu.
Tapi dari mereka semua, tentu saja yang terlihat paling bangga adalah Seijuurou. Sekarang ia memang hanya menatap Tetsuya yang duduk di pangkuannya tanpa mengatakan apa-apa. Tapi rasa bangga membuncah dalam hatinya tiap kali kakak-kakak si bungsu meminta Tetsuya membaca kata lain dan Tetsuya mengejanya.
Semakin banyak kata semakin lancar.
Seijuurou mengeratkan kungkungan tangannya di tubuh sang adik bungsu. Ujung dagunya ia tumpukan pada puncak kepala sang adik. Tetsuya sendiri tak kelihatan terganggu dengan aksi si sulung dan terus membuat kakak-kakaknya kagum.
Ketika menyadari Tetsuya yang mulai lemas di pangkuannya karena –kemungkinan besar—sudah mengantuk, Seijuurou melirik jam di salah satu sudut ruang keluarga. Jarum jam menunjukkan pukul setengah sepuluh. Sudah larut. Sudah waktunya untuk mereka tidur.
"Baiklah, Kakak rasa hari ini sampai di sini dulu," Seijuurou menjulurkan tangannya dan menutup buku belajar membaca milik Tetsuya. Ryouta mengerang protes tapi anak itu tetap berdiri dan berlomba dengan Daiki menuju kamar. Yang terakhir sampai di kamar adalah telur busuk! Katanya sembari menjulurkan lidahnya pada sang adik.
Seijuurou merampas bungkus keripik kentang Atsushi sebelum anak itu benar-benar berdiri tegak. Kepala berambut ungu anak tersebut langsung menoleh ke arah si sulung dan mereka bertemu tatap. Pandangan 'apa yang Kakak lakukan?' dan pandangan 'ingat laranganku? Kata-kataku absolut' bertemu.
Atsushi memutuskan untuk mengalah dan merusak kontak mata mereka sebelum mendesis dan pergi menuju kamarnya. Samar-samar Seijuurou bisa mendengar anak itu menggumam 'aku masih punya banyak cemilan' dan 'Kakak tidak akan bsia menghentikanku'. Seijuurou tersenyum geli. Anak itu rupanya belum tahu kalau kamarnya sekarang ini sudah bersih dari segala bentuk cemilan.
Tetsuya bangkit dari pangkuan Seijuurou. Mata merah si sulung bertemu dengan mata biru langit si bungsu. Seijuurou tersenyum lembut. Sebelah tangannya terangkat mengelus rambut biru milik adiknya.
"Tetsuya pandai sekali, sudah pandai mengeja. Kakak bangga. Tapi besok latihan lagi, oke?" puji serta ajak Seijuurou. Anak berusia lima tahun itu mengangguk pasti. Setelahnya tangan kurus –ya, tak peduli berapa banyak asupan makanan ia cerna ia tetap kurus—milik Tetsuya melingkar di sekitar leher Seijuurou. Caranya untuk mengatakan terima kasih dalam diam.
Seijuurou mengecup kening anak itu lembut lantas menggosokkan ujung hidung mereka untuk beberapa saat sembari memejamkan mata dan tersenyum. Suatu kebiasaan yang mereka mulai ketika Tetsuya melihat iklan susu formula di televisi dan berkata ingin mencobanya.
Tetsuya mencium kedua pipi dan dahi Seijuurou dan mengecup pipi Shintarou satu kali sebelum melesat pergi menuju kamarnya sendiri. Meninggalkan Seijuurou dan Shintarou yang kini duduk berhadapan dan hanya dibatasi sebuah meja kopi. Televisi menjadi satu-satunya hal yang mengeluarkan suara di ruangan tersebut.
Seijuurou baru akan bangkit menuju tempat tidur ketika sebuah papan shogi diletakkan di atas meja oleh tangan adiknya yang tertua. Mata merahnya beralih untuk dipertemukan dengan mata hijau sang adik. "Shogi satu ronde?"
Sepasang alis Seijuurou terangkat. Jika Shintarou sudah mengeluarkan shogi, biasanya itu artinya ada hal yang ingin diceritakannya hanya pada Seijuurou seorang. Apa ada sesuatu yang terjadi pada anak itu di sekolah? Atau ia akan mengeluh –dengan cara yang benar-benar tsundere—tentang Takao yang tidak satu SMP dengannya? Atau tentang adiknya Takao lagi?
Seijuurou kembali menjatuhkan diri di atas lantai. Kedua kakinya disilangkan. Kalau boleh jujur, sebenarnya ia sangat lelah hari ini dan kepalanya terasa sedikit berdenyut. Keinginan terbesar seorang Akashi Seijuurou di momen ini adalah menjatuhkan diri di atas kasur luas miliknya yang empuk.
Tapi, tentu saja, Shintarou tidak perlu tahu itu, bukan?
Seijuurou memasang senyum simpul, kontras dengan keinginannya untuk meringis karena ketika ia mendudukkan diri, semuanya terasa berputar untuk sesaat. Mata merah kembar milik Seijuurou memejam sesaat dan ia mengangguk dengan anggun.
"Baiklah."
Setelah mereka berdua selesai menyusun biji-biji shogi di atas papan, Seijuurou mempersilahkan sang adik untuk mulai duluan. Shintarou menggerakkan pion miliknya dan mulai membuka jalur. Wajah Seijuurou tampak tertunduk melihat papan shogi beserta barisan pionnya di atas meja, namun sebenarnya sesekali ia melirik sang adik.
Ketika adiknya tak kunjung memulai pembicaraan meski telah sekitar sepuluh menit mereka bermain, si sulung memutuskan untuk membuka mulut.
"Ada yang ingin kau bicarakan, Shintarou?"
Shintarou mengangkat wajahnya dan menatap kakaknya tepat di mata. Kedua alis anak itu berkerut sedikit seakan ia tak suka dengan sesuatu yang dikatakan sang kakak padanya.
"Aku berpikir, kenapa Atsushi diberikan batas jam pulang lebih cepat dari pada aku?" kata Shintarou. Kepalanya kembali tertunduk menatap papan shogi di depannya. Gumaman lirih terdengar keluar dari tenggorokannya. Sepertinya anak itu tengah berpikir, langkah apa yang sebaiknya dilakukan?
Seijuurou mengangkat pion jenderal emas miliknya dan meletakkannya tak jauh dari raja milik Shintarou. Shintarou menelan ludah dan untuk sesaat, ekspresi anak itu berubah masam. Ia hampir terpojok.
"Hmm," gumam Seijuurou dengan mulut terkatup rapat. Ia tengah menimbang-nimbang dalam hati. Memberitahu adiknya atau tidak memberitahu adiknya? Mana yang lebih bagus?
Seijuurou baru akan membuka mulut ketika Shintarou sudah mendahului. "Jangan bilang Kakak tidak percaya aku bisa menjaganya?"
Seijuurou mengangkat kedua alisnya dan menatap sang adik yang tengah berpikir dengan pandangan setengah heran setengah terkejut. Ia tidak habis pikir, dari mana adiknya dapat pemikiran seperti itu? Ia tidak pernah berpikir seperti itu!
"Bukan begitu. Aku hanya ingin ia pulang lebih cepat," jawab Seijuurou dengan sabar. Senyum kecil terkembang di wajah si sulung ketika melihat sang adik ingin mengambil pion benteng miliknya untuk memakan jenderal emas sang kakak tapi tak jadi ketika melihat pion menteri milik Seijuurou sudah berjaga-jaga.
"Tapi ia bisa pulang bersamaku jam setengah tujuh."
"Lalu membiarkan kalian sampai di rumah jam tujuh atau lebih?" tanya Seijuurou. Sesaat kemudian ia menggelengkan kepalanya. Rambut merahnya yang sudah mulai panjang bergoyang seiring dengan gerakan kepalanya. Caranya untuk mengatakan 'aku rasa tidak' tanpa benar-benar menyuarakannya.
Shintarou mengerutkan alis tidak mengerti. Jika Seijuurou menyuruh mereka pulang jam setengah tujuh malam, maka ia akan benar-benar pulang pada jam yang telah dikatakan sang kakak. Ia bukan tipe orang pembangkang seperti Atsushi!
"Kakak menyuruhnya pulang jam setengah enam karena Kakak tahu anak itu pasti akan mampir ke sana ke mari di perjalanan pulangnya. Kakak ingin ia pulang sebelum benar-benar gelap. Jika Kakak membuat kalian pulang bersama," Shintarou menggerakkan pion jenderal perak miliknya maju mendekati teritori Seijuurou, "Atsushi pasti akan ingin mampir dulu, lalu Shintarou akan marah-marah padanya. Kalian akan bertengkar. Kemungkinan besar kalian akan berpisah setelahnya. Kau akan meninggalkan Atsushi karena muak dengan kelakuannya."
Sang adik tertua mengerti maksud Seijuurou. Sebentar lagi Jepang dan teritori bumi bagian utara akan memasuki musim dingin. Dan itu artinya siang semakin hari akan semakin pendek. Matahari akan terbenam lebih cepat dari biasanya. Sekarang saja matahari sudah terbenam pukul setengah enam sore.
Shintarou mengalihkan pandangannya ke arah buku belajar membaca milik Tetsuya yang kini tergeletak lemas di atas sofa setelah ia kesampingkan untuk meletakkan papan shogi tadi. Meski Shintarou sudah sangat mahir membaca, entah kenapa buku itu sekarang terasa jauh lebih menarik dari pada permainan shogi di hadapannya. Dari sudut matanya, ia dapat melihat senyum aku-mengerti-semuanya mulai terkembang di wajah tampan si sulung.
Dalam hati Shintarou meringis. Kakaknya itu benar.
Terkadang Shintarou menyesal memiliki kakak yang begitu mengenal adik-adiknya. Contohnya saja seperti saat ini.
Seijuurou menggerakkan pion menteri miliknya yang sudah dipromosikan –karena berhasil melewati teritori lawan—menjadi kuda naga hingga berjarak dua baris dari pion raja milik Shintarou. Dekat tapi tak dapat benar-benar menekan pion raja Shintarou hingga dapat menghasilkan check mate.
"Kalau Shintarou ingin membantu Kakak," Shintarou memindai papan dan terhenyak ketika mendapati ia sudah dikepung oleh Seijuurou. Melangkah ke mana pun rajanya tetap akan terancam. Seijuurou menyilangkan tangan di depan dada setelah mengeksekusi langkah terakhirnya, "pastikan saja ia pulang dari sekolah jam setengah enam, mengerti?"
Shintarou merengut. Kenapa ia tak pernah bisa menang dari kakaknya tiap kali mereka main shogi?
Tapi kepala hijau lumut anak itu tetap mengangguk tanda ia mengerti.
Aku lagi-lagi ngelakuin kesalahan perhitungan. Umur mereka di sini kuganti balik. MOHON MAAF SEBESAR-BESARNYA.
Jadii, update kali ini gak secepet sebelumnya karena idenya macet hahaha. Ngejelasin dikit, aku mau masuk masalah Murasakibara dulu. Masalah Daiki baru deh habis ini hehe. Dan untuk permainan shogi Akashi sama Midorima di atas, aku coba liat-liat wikipedi tentang shogi. Semoga aja betul ya.
DAN APA CUMA AKU AJA YANG MIKIR AKASHI SEBELUM DAPET EMPEROR EYE ITU NORMAL BANGET? MAKSUDNYA, PLEASE, DIA KAYAK COWOK NORMAL BIASA DAN EKSPRESINYA ITU GAK CUMA DATAR DOANG #abaikan
Bales review anon:
kichan: request fic apaaa? Tapi aku gak bikin fic yaoi loh ya x3
el cierto: aku juga seneng bisa ngeliat kamu lagi haha kamu juga nice~ sayangnya interaksi mereka ditunda dulu ya haha, sebenernya Daiki gak cuma pengen itu. Ada sesuatu yang lebih, tapi itu ya bakal dijelasin kalo udah masuk masalah Daiki hehe. Uwaaah makasih! Ini dia next chappienya! Semoga suka ya!
Special thanks to: ellexleene, eviyo1120, Fryllabrille201, Oreshi x Bokushi, VilettaOnyxLV, Erucchin, PinKrystal, May Angelf, Kagami Tania, scarletjacket, UchiHarunoKid, Shiraume. machida, Keys13th, Shiro-chan1827, kichan, el cierto, Indrikyu88, Akari Kareina, Shintaro Arisa-chan, sakazuki123, Harumia Risa dan SuhoAquatics22.
Rasanya susah percaya kalo 2 fav lagi, cerita ini bakal punya 100 fav. WOW... Aku gak nyangka cerita ini bakal segitu diminatinya! MAKASIH, MAKASIH BANGET BUAT YANG UDAH BACA, FAV, TERUTAMA YANG REVIEW, APALAGI PARA REVIEWER SETIA! CERITA INI MUNGKIN GAK AKAN LANJUT JIKA BUKAN KARENA KALIAN!
Btw, review?
