Kuroko no Basuke hanya milik Fujimaki Tadatoshi seorang.

Cerita ini hanya milik saya seorang.

Warning: AU, Nice & not-so-perfect! Akashi, brotherly love! a lot of it I think, cuteness ahead(?), alur kecepetan, half-assed chapter, OOC, typo, DLDR!

pengingat mulai chapter ini:

Seijuurou = 16 tahun

Shintarou = 13 tahun

Atsushi = 12 tahun

Ryouta = 10 tahun

Daiki = 9 tahun

Tetsuya= 5 tahun

Enjoy!


Chapter 12: As Dad, Educating


Seijuurou, Hayama, Mibuchi, dan Nebuya menjatuhkan diri di salah satu bench yang tersedia di pinggir lapangan indoor SMA Rakuzan. Mereka baru saja menyelesaikan lari lima putaran mengelilingi sekolah –SMA Rakuzan benar-benar luas— ketika angin dingin menusuk berembus di luar, lalu lari mengelilingi lapangan indoor dua puluh putaran dilanjutkan dengan latih tanding.

Hayama mendongakkan kepalanya ke arah langit-langit dengan mulut terbuka. Napas pemuda berambut oranye itu tersengal. Keadaan Mibuchi di samping kirinya juga tidak jauh berbeda. Nebuya bukanlah pengecualian, ia tengah menyeka keringatnya dengan kerah baju. Sedangkan Mayuzumi tengah tergeletak lemas di lantai di samping bench yang diduduki rekan setimnya.

Dengan sigap, Momoi memberikan anak-anak asuhnya selembar handuk dan sebotol air mineral sembari mengatakan 'terima kasih atas kerja kerasnya' dan seulas senyum manis. Hayama dengan antusias merebut botol tersebut dari tangan sang manajer dan menenggaknya dengan senang hati.

Ia mendesah bahagia begitu isi botol di tangannya habis. Persis seperti seorang pria paruh baya yang baru saja menenggak sebotol sake sepulang bekerja.

Seijuurou tersenyum simpul melilhat kelakuan senior di sampingnya. Setelah mengucapkan terima kasih pada sang manajer, ia menenggak isi botol tersebut dengan lebih menawan. Mata merahnya kembali melirik rekan-rekan setimnya dari sudut mata ketika Mibuchi mencoba membuka sebuah topik pembicaraan di antara mereka.

"Kalian tahu doping?" tanya Mibuchi sembari menyeka sisi-sisi wajahnya dengan handuk yang baru saja diberikan Momoi. Entah dari mana datangnya topik pembicaraan itu.

"Apa? Dolphin?" tanya Hayama dengan polos bahkan cenderung bodoh. Suaranya tak begitu jelas terdengar akibat kegiatannya saat ini; menyeka wajahnya menggunakan handuk dengan begitu cepat. Begitu mendengar ada kata dalam bahasa Inggris disebut-sebut, Nebuya dan Mayuzumi –yang kini sudah bangkit dari keletihannya—memandang Hayama.

Seijuurou menahan tawa sedangkan Mibuchi melirik Hayama dongkol.

"Bukan. Doping," kata Mibuchi lagi dengan penekanan pada kata 'doping'. Berharap dengan sedikit nada menggigit dalam intonasinya, temannya yang berkepala sedikit kosong itu bisa mengerti. Hayama menggumamkan 'ooh' pelan sembari mengangkat wajahnya dari handuk di tangannya. Nebuya dan Mayuzumi diam saja.

"Ada apa dengan doping?" tanya Seijuurou. Berusaha untuk menimpali dan membuat percakapan mereka menjadi lebih panjang.

Setahu Seijuurou, doping adalah obat-obatan yang dapat menambah performa seorang atlet tetapi memiliki resiko tinggi dan menodai sportifitas dalam olahraga, sehingga obat-obatan tersebut dilarang. Ada banyak jenis doping dan kalau Seijuurou tidak salah ingat, beberapa jenis narkoba termasuk di dalamnya.

"Kalian belum dengar? SMA Kirisaki Dai Ichi katanya terbukti memakai doping," sahut Mibuchi yang kini menoleh ke arah rekan-rekan setimnya terutama pada Seijuurou yang tengah mengangkat alis karena terkejut mendengar itu. Meski sebenarnya SMA Kirisaki Dai Ichi melakukan perbuatan curang itu bukan lagi berita baru. "jadi sekarang mereka dilarang mengikuti pertandingan selama beberapa waktu."

Hayama manggut-manggut dengan mata terpejam dan mulut mengurucut mendengar kata-kata Mibuchi. Tampaknya ia benar-benar paham dengan apa yang dibicarakan saat ini, begitulah pikir teman-temannya. Sayangnya, kesan tersebut harus hancur ketika Hayama membuka mulut.

"Eh, doping itu apa?"

Mibuchi tak segan-segan untuk menepuk dahinya ketika kalimat itu terlontar dengan polosnya dari mulut teman seangkatannya yang berambut oranye. Nebuya di sampingnya mengangguk mengiyakan kata-kata Hayama dan Mayuzumi mendengus melihat kebodohan teman-temannya sedangkan Seijuurou mendengus geli. Sebuah senyum tak bisa tak menyebar di wajah si sulung Akashi.

Mibuchi menurunkan tangannya dari wajah dan menatap Seijuurou dengan pandangan yang seolah mengatakan 'tolong jelaskan pada orang-orang bodoh ini' dan 'sungguh aku tidak sanggup'. Menangkap sinyal dari seniornya, Seijuurou menggeser posisi duduknya hingga sedikit menyamping menghadap rekan-rekannya.

"Begini, doping adalah obat-obatan yang meningkatkan performa seorang atlet. Misalnya saja membuat atlet pulih lebih cepat, meningkatkan denyut jantung, menghilangkan rasa sakit, dan sebagainya. Tapi menggunakan obat itu sama dengan berbuat curang dan cepat atau lambat akan merusak tubuh si pengguna. Maka dari itu penggunaan doping dilarang secara internasional," Seijuurou menjelaskan dengan sabar.

Hayama mengangguk-angguk. Dari binaran yang terpancar di matanya sepertinya ia sudah benar-benar mengerti sekarang. Begitu juga Nebuya yang menggumamkan 'ooh' pelan di samping Mibuchi. Seijuurou tersenyum puas karena berhasil membuat mereka mengerti tentang doping.

Tepat ketika Seijuurou akan bertanya lebih jauh mengenai berita yang menjadi topik awal pembicaraan mereka, pelatih mereka –Shirogane Eiji—yang berwajah tegas memasuki gym. Di belakangnya terlihat Momoi yang tengah membawa satu tas laptop dan satu tas lagi yang sepertinya berisi satu proyektor.

Dua kali tepukan tangan dari sang pelatih dan semua anggota tim basket SMA Rakuzan langsung berjalan lantas duduk mengerubunginya seperti semut mengerubungi gula. Mereka semua sudah tahu jika sang pelatih sudah menepukkan tangan seperti itu untuk menarik perhatian mereka, maka akan ada pengumuman penting.

Eiji menyilangkan tangannya di depan dada dan sepasang matanya menatap tajam anak didiknya satu per satu tepat di mata. Beberapa orang dari tim basket tersebut berdiri bulu romanya ketika ditatap Eiji. Tak lama kemudian, pria paruh baya tersebut berdeham.

"Kalian pasti sudah dengar mengenai SMA Kirisaki Dai Ichi yang sekarang dilarang mengikuti pertandingan sebagai sanksi karena telah menggunakan doping," jelas Eiji. Masih dengan mata yang memindai satu per satu anak muridnya. Untuk sesaat, pandangannya jatuh pada sang kapten yang tengah memerhatikannya dengan perhatian penuh.

Beberapa alis anggota tim basket SMA Rakuzan terangkat karena terkejut mendengar berita tersebut. Beberapa yang lain melihat Eiji dengan pandangan tak tertarik. Tak lama kemudian suara bisik-bisik tanda para anggota tim tengah berbicara satu sama lain berdengung dalam gym tersebut sebelum Eiji kembali berdeham. Dalam sekejap semuanya terdiam dan gym tersebut kembali sunyi senyap.

"Jadi untuk menambah pengetahuan kalian tentang doping supaya kalian tidak menggunakan doping, Bapak akan menjelaskannya di sini," kata Eiji lagi sembari memberikan isyarat pada asistennya pada hari itu –Momoi Satsuki—untuk mulai menyiapkan keperluan yang dibutuhkan untuk presentasi mereka mengenai obat-obatan terlarang. Dengan sigap, Seijuurou berdiri dan membantu gadis itu mengeluarkan serta menyalakan proyektor.

Setelah beberapa kali membuka folder dan mencari-cari, akhirnya mereka menemukan satu file yang bertuliskan 'bahaya doping' di bagian bawahnya. Seijuurou –yang memutuskan untuk menjadi asisten Eiji dan menyuruh Momoi untuk duduk saja—menekan mouse dua kali dan terbukalah file tersebut.

Melihat serta mendengar penjelasan dari Eiji mengenai doping membuat Seijuurou merasa ia juga perlu mengedukasi adik-adiknya mengenai doping dan jenis-jenis obat-obatan terlarang lainnya. Meski pun sekarang ini narkoba bukan topik utama berita kriminal yang menghiasi layar kaca, tapi tak ada salahnya berjaga-jaga bukan? Lagi pula bukankah ada pepatah yang mengatakan better safe than sorry?

Si sulung Akashi merasa menjelaskan soal narkoba dan doping merupakan sebuah keharusan untuk Shintarou dan Atsushi yang mengikuti jejaknya untuk terjun ke dunia basket. Terutama pada Atsushi. Salah-salah ia bisa mengira ganja kering itu daun teh kering yang bisa dimakan.

Dalam hati Seijuurou membuat catatan mental untuk mencetak beberapa gambar tentang doping untuk menjadi alat bantu peraga di rumah nanti.


Himuro Tatsuya, seorang remaja berusia dua belas tahun berwajah tampan dengan rambut hitam panjang yang menutupi mata kirinya, kini tengah mengerutkan dahi sedangkan matanya menatap lurus koridor panjang SMP Teikou yang mengarah ke gym; tujuannya saat ini. Tatapannya yang sedikit tajam membuatnya seakan tengah mencoba untuk melubangi lantai di depannya melalui tatapan matanya. Tapi, tentu saja, itu tidak berhasil.

Suara renyah kudapan tengah dikunyah memasuki liang pendengaran Himuro sejak tadi tapi ia berusaha untuk tak memedulikannya. Mood anak itu sedang kurang baik. Alasan utamanya adalah anak berambut ungu panjang yang tengah berjalan di sampingnya sembari mengunyah sebungkus keripik kentang yang ada di pelukannya.

Begitu Atsushi meninggalkan gym sekolah mereka kemarin sore, Himuro menjadi sasaran tatapan tajam dari seluruh anggota tim basket SMP Teikou. Begitu juga dengan kapten mereka, Ootsubo Taisuke, dan saudara Atsushi, Akashi Shintarou.

Mereka, sebagai orang yang dekat dengan Atsushi, dituding telah terlalu memanjakan Atsushi dengan membiarkan anak itu pergi begitu saja. Salah satu rekan setim itu adalah Miyaji Kiyoshi. Salah seorang siswa kelas tiga yang cukup dekat dengan Ootsubo. Ia tidak berhenti marah-marah kemarin hingga latihan selesai.

Sasaran utama kemarahan senior tersebut –untungnya—adalah sang Akashi senior. Ia terus-terusan berkata tajam pada senior Himuro yang berambut hijau lumut tersebut dalam keadaan apa pun. Himuro yakin sebenarnya Shintarou tidak suka diperlakukan seperti itu tapi ia tak benar-benar bisa berbuat banyak.

Terkadang Himuro berpikir, sepertinya Miyaji memang sedikit sentimen pada duo bersaudara Akashi tersebut dan bolosnya Atsushi dijadikannya sebagai alasan untuk memarahi sang Akashi. Mungkin.

Himuro diam-diam menghela napas. Ia memang berteman dengan Atsushi; ia mengakui itu, sungguh. Ia malah bisa dengan bangga mengatakan kalau ia adalah teman dekat Atsushi. Tapi setelah hampir setahun berteman dekat dengan anak itu, bukan berarti Atsushi selalu bisa meninggalkan kekacauan yang telah dibuatnya untuk dibereskan oleh Himuro, bukan?

"Hei, Muro-chin, sudah ulangan bahasa Inggris?" tanya Atsushi, sepertinya tak mendengar helaan napas pelan dari pemuda yang berjalan di sampingnya. Sebelah tangan anak berambut ungu tersebut menggoyang-goyangkan bungkus makanan ringan di tangannya dalam posisi terbalik untuk memastikan isinya benar-benar sudah kosong.

Bibir anak itu mengerucut ketika hanya remah-remah keripik kentang yang berjatuhan dari dalam bungkus makanan di tangannya. Himuro meliriknya dari sudut mata. Kedua alis hitam anak itu terangkat tinggi. Sepersekian detik kemudian pandangannya kembali teralih pada gedung gym yang hanya tinggal berjarak sepuluh meter dari mereka.

Himuro mengangguk perlahan tapi tak membuka mulutnya sama sekali sedangkan Atsushi membuang bungkus kosong makanan ringan di tangannya ke tempat sampah yang baru saja mereka lewati.

"Dapat berapa?"

Mata kelabu milik Himuro berputar sesaat tanda mengingat-ingat dan sebuah gumaman keluar dari dasar tenggorokannya. "Hmm, sembilan puluh. Aku salah dua. Bagaimana denganmu?"

Kini kepala bersurai hitam milik Himuro sudah teralih pada temannya yang berambut ungu panjang. Memberikan perhatian penuhnya pada Atsushi.

Sebagai orang yang diajari tata krama –meski yang mengajari Himuro tidak mencontohkannya dengan baik—Himuro tahu kalau tak menatap lawan bicara ketika bicara itu tidak sopan. Tapi sepertinya prinsip yang sama tidak berlaku bagi seorang Akashi Atsushi. Sekarang anak itu justru menyipitkan matanya pada lorong di hadapan mereka dan bibirnya mengerucut sedikit.

"Biar kutebak. Dapat lima puluh?" tanya Himuro akhirnya karena tak kunjung mendapat jawaban dari si anak besar yang berjalan bersamanya. Saat tak mendapat jawaban juga, si anak berambut hitam kembali buka mulut, "hmm, tiga puluh? Sepuluh?"

Himuro menatap Atsushi lekat-lekat. Mengatakan 'ayo beritahu aku' tanpa benar-benar mengatakannya pada Atsushi. Mata ungu milik Atsushi beralih ke sudut matanya dan menatap sepasang anak kelas dua yang tengah bermesraan tak jauh dari mereka.

"Lima," gumam Atsushi dengan sangat lirih. Jika saja Himuro tak tengah berdiri di dekatnya dan tak memasang telinga baik-baik, mungkin anak berambut hitam itu tak akan mendengarnya. Sesaat kemudian terdengar gumaman Atsushi lagi. "Kakak akan marah tidak ya? Ah, lebih baik kertas ulangannya kusembunyikan saja."

Dalam hati Himuro bermonolog dengan dirinya sendiri. Dapat lima untuk ulangan bahasa Inggris artinya dari dua puluh soal pilihan ganda, Atsushi hanya betul satu. Padahal menurut Himuro, soal ulangan kemarin cukup mudah. Oke, Himuro pernah tinggal di Amerika beberapa tahun dengan Alex dan itu membuatnya pandai bahasa Inggris tapi serius, soal kemarin memang mudah. Jadi bagaimana bisa temannya dapat lima? Untuk –kalau Himuro tidak salah—yang ketiga kalinya?

Dan Atsushi masih bertanya apa kakaknya akan marah?

Tidak perlu ditanya juga seharusnya sudah tahu jawabannya, bukan?

Himuro pernah bertemu dengan kakak Atsushi beberapa bulan lalu ketika ia main ke rumah teman besarnya itu. Bukan, kakak Atsushi yang dimaksud bukan Shintarou, tapi yang berambut merah dengan mata senada itu. Siapa namanya? Seijuurou?

Dari sudut pandang Himuro, Seijuurou itu kakak yang baik dan sangat sabar –terlalu sabar malah—dalam menghadapi Atsushi. Tapi kalau dapat lima dalam ulangan bahasa Inggris tiga kali berturut-turut, apa kakak Atsushi masih akan tetap sabar? Bukankah orang sering bilang sabar juga ada batasnya?

Berusaha untuk mengalihkan hal-hal yang menurut Himuro bukan merupakan urusannya, anak itu mencoba untuk mengalihkan topik pembicaraan mereka ke hal lain. Terutama hal yang mengganggunya sejak kemarin.

"Ah ya, Atsushi, kenapa kemarin kau pergi begitu saja?" tanya Himuro begitu mereka sampai di depan pintu yang membatasi mereka dengan lapangan indoor SMP Teikou. Sebelah tangan anak itu menggeser daun pintu di hadapannya untuk mereka berdua.

Atsushi melangkah masuk terlebih dahulu. Tanpa basa-basi, ia langsung meletakkan tasnya di salah satu bench kosong yang ada di sisi lapangan tak jauh dari pintu mereka masuk tadi. Dibukanya tas miliknya dan dikeluarkannya satu kaus lengan pendek warna hitam beserta celana pendek. Himuro mengikuti di sampingnya.

"Ya karena aku mau pulang," jawab Atsushi sambil lalu seakan jawaban pertanyaan itu sudah sangat jelas dan Himuro bodoh karena sudah bertanya. Sepasang tangannya menggerak membuka bungkus lolipop di tangannya dan memasukkan lolipop rasa cokelat itu ke dalam mulutnya. Terdengar bunyi 'plop' halus ketika ia mulut itu bertemu dengan indra pengecap sang anak.

Salah satu sudut mata Himuro berkedut begitu jawaban Atsushi memasuki gendang telinganya. Anak itu meninggalkan gym hanya karena alasan itu? Hanya karena 'itu'?

Halo, apa anak itu tidak sadar sebentar lagi Winter Cup dimulai? Apa perlu Himuro mengingatkan kalau sekolah mereka memilik motto 'Selalu Menang' agar anak itu mengerti kalau mereka harus rajin berlatih dan tidak mencoreng motto sekolah mereka?

Terkadang seorang Himuro Tatsuya bertanya pada dirinya sendiri, kenapa ia bisa berteman dekat dengan orang seperti Akashi Atsushi?

Anak berambut hitam tersebut menyampirkan pakaian yang akan dipakainya ketika latihan nanti di salah satu lengannya dan mulai berjalan santai menuju ke ruang ganti. Atsushi berjalan mengikutinya tak jauh di belakang. Masih sibuk mengemut batang lolipop di mulutnya.

Himuro berusaha mati-matian untuk menahan desakan tiba-tiba untuk memijat pelipisnya. Entah bagaimana kepalanya langsung berdenyut begitu mendengar jawaban teman seangkatannya tadi. Untuk mengalihkan desakan tersebut, si anak berambut hitam mencoba untuk memperpanjang percakapan mereka barusan.

"Kau tidak akan mengulanginya nanti, kan?" tanya Himuro ketika mereka sudah sampai di ruang ganti dan hendak mengganti baju. Pertama si anak berambut hitam tersebut melepaskan blazer putih SMP Teikou lantas membuka kancing kemeja biru yang melekat di tubuhnya satu per satu.

Saat Atsushi sama sekali tidak menjawab –mungkin karena memikirkan hal lain atau mungkin ia memang malas untuk menjawab—sekali lagi hari itu, Himuro bertanya pada dirinya sendiri.

Apa yang membuat dirinya bisa dekat dengan Atsushi?


Atsushi menekuk kedua lututnya, bersiap melompat dan melakukan block ketika dilihatnya Himuro –yang menjadi lawan latih tandingnya hari itu—telah mengangkat bola dan melakukan triple threat lima meter jauhnya dari posisi Atsushi berada. Himuro mengangkat bolanya sejajar dada lantas menekuk lututnya. Berpikir Himuro akan menembak, refleks Atsushi melompat.

Sang anak berambut hitam menyeringai melihat teman besarnya telah melompat untuk memblokir tembakan yang akan dibuatnya. Tapi sayangnya, sejak awal Himuro tidak berniat menembakkan bola di tangannya. Begitu kaki Atsushi tak lagi bersentuhan dengan tanah, dengan cepat Himuro berlari ke depan, hendak menerjang masuk dan mencetak dua poin dengan lay up.

Alangkah terkejutnya anak berambut hitam tersebut ketika tiba-tiba saja tangan besar Atsushi berada tepat di hadapannya, menghalangi aksesnya untuk sampai ke pinggir ring dan mencetak angka. Ia sama sekali tidak mengira kalau temannya bisa menghalanginya setelah termakan tipuannya tadi. Lagi pula, sejak kapan Atsushi jadi secepat ini?

Jika sudah sedekat ini, melakukan tembakan pun tidak akan berhasil. Otak Himuro bergerak cepat. Ketika dari sudut matanya ia menangkap sosok Shintarou yang berdiri di luar garis three-point, ia mengoper bolanya ke arah seniornya tersebut. Meski cukup terkejut dengan pass yang datang tiba-tiba, tapi Shintarou berhasil mencetaknya menjadi skor tiga poin.

Atsushi mendesis sembari menyeka dagunya dengan kerah baju sedangkan Himuro berlari kecil ke arah Shintarou. Himuro tersenyum kecil sembari mengangkat sebelah tangannya dan disambut oleh Shintarou dengan tangannya. Tak lupa sebuah 'nice pass' terlontar dari bibir sang shooting guard.

Ketika jarak Himuro sudah agak jauh dengan Shintarou, anak berambut hijau itu berbalik, menatap tajam wajah adik angkatnya yang sepertinya sadar sedang ditatapi tapi lebih memilih untuk terlihat tidak peduli. Mata hijau Shintarou makin menyipit melihat kelakuan adiknya.

Anak nakal itu...

"Atsushi," panggil Shintarou setengah berbisik. Kedua alis anak itu berkerut hingga bertemu di tengah-tengah dan sama seperti tempo hari, anak itu mengetukkan jarinya di pergelangan tangan. Mengingatkan adiknya kalau ini sudah waktunya pulang.

Meski Atsushi tidak melihat lurus ke arahnya, tapi Shintarou yakin adiknya itu menangkap pesan darinya karena sedetik kemudian, mata ungu adiknya menyipit dan mulutnya mendesis tak suka. Mulut anak itu bergerak-gerak menggumamkan sesuatu –yang Shintarou tebak berbunyi 'cerewet' dan 'menyebalkan'—yang tak benar-benar bisa ditangkap telinga Akashi senior. Di lain pihak, Shintarou tengah menahan dirinya untuk tak meggeram pada adiknya.

Dengan langkah gontai, Atsushi berjalan menuju bench dan mengambil seragam sekolahnya yang tadi ia hamparkan sembarangan di atas tas sekolahnya. Tanpa mengucap sepatah kata apa pun, anak berambut ungu itu pergi ke ruang ganti dan menuju ke pintu keluar begitu ia selesai menukar pakaiannya.

Teman-teman setimnya, lagi-lagi seperti tempo hari, hanya bisa terdiam melihat punggung anak itu yang kian menjauh dari pintu keluar gym. Begitu sosok tinggi besar anak itu tak lagi terlihat, pandangan seluruh anggota tim basket beralih pada tiga orang; Shintarou, Himuro, dan Ootsubo.

Ketiganya hanya bisa diam dan pura-pura tidak menyadari berbagai tatapan yang dilontarkan teman-teman mereka.


Jalanan kota Tokyo hari itu ramai dilewati orang-orang meski pun matahari sudah hilang ditelan malam dan sekarang sudah masuk bulan November, yang mana berarti udara semakin dingin mengingat kurang dari sebulan lagi musim dingin akan menghampiri wilayah Jepang. Salah satu di antara orang-orang yang masih berlalu-lalang tersebut adalah Akashi Atsushi.

Dengan sebuah maiubou yang baru dibelinya di sebelah tangan dan tangan yang lain memegangi tasnya, anak itu mengambil langkah panjang membelah trotoar berwarna ambigu untuk dapat sampai ke rumah. Meski jam sudah menunjukkan kalau sepuluh menit lagi jam enam, anak berambut ungu tersebut sama sekali tidak tampak terburu-buru.

Toh meski pun ia pulang jam setengah tujuh, kakak sulungnya tidak akan tahu. Bagaimana mungkin ia tahu kalau si sulung sendiri selalu sampai di rumah jam tujuh? Kepala pengurus rumah tangga mereka, Araki Masako, terlalu sibuk mengurus rumah hingga tak benar-benar memerhatikan tuan-tuannya.

Adik-adiknya? Mereka akan terlalu sibuk bermain sedangkan Shintarou masih akan berada di sekolah hingga jam setengah tujuh.

Jadi jika ia 'sedikit' terlambat sampai di rumah, tidak apa-apa, bukan?

Atsushi memutuskan untuk mengambil sedikit jalan memutar dan beristirahat di taman yang dilewatinya sembari memerhatikan orang-orang berinteraksi. Ketika menyadari maiubou miliknya sudah berpindah ke dalam perutnya sepenuhnya, kedua tangan anak itu bergerak membentuk bungkusannya menjadi bola dan melemparkannya ke tong sampah terdekat.

Anak ketiga keluarga Akashi tersebut baru saja akan menarik kembali maiubou ketiganya dari dalam tas ketika satu buah bola basket berwarna oranye melayang dengan cukup cepat dan menghantamnya tepat di kepala.

Untuk beberapa saat, dunia terasa seperti berputar. Bahkan bola basket yang memantul kecil di dekat kakinya terlihat seperti berbayang tiga. Atsushi menggelengkan kepalanya sedikit hingga pandangannya jernih kembali. Tatapan tajam terbaik yang ia miliki terpasang di wajahnya dengan niat untuk menakuti orang yang berani menghantamkan bola basket tadi ke kepalanya.

Oh, betapa inginnya Atsushi menghancurkan orang itu tepat saat ini juga agar orang itu tahu betapa tidak menyenangkan rasanya ketika bola basket yang melaju kencang berbenturan dengan kepalamu. Atsushi mengangkat kepalanya dan geraman halus terdengar dari dasar tenggorokannya.

Seorang anak, sedikit lebih besar dari Atsushi dan berkulit hitam serta berambut perak berjalan santai dari dalam lapangan basket jalanan yang berada tepat di seberang kursi taman yang diduduki Atsushi. Melihat tidak ada lagi orang selain mereka yang berada di sekitar sana, Atsushi menebak anak itulah yang baru saja melemparinya dengan bola basket. Sengaja mau pun tidak sengaja.

Kekesalan Atsushi kian memuncak ketika seringai mengejak yang diterimanya dan bukannya tatapan canggung atau permintaan maaf dari anak berkulit hitam itu. Atsushi jadi semakin ingin membenamkan telapak tangannya di kepala anak itu tanpa peduli kalau sebenarnya anak itu lebih tinggi darinya.

Mulut Atsushi baru terbuka dan siap melontarkan apa pun itu yang sudah menghuni mulutnya sejak tadi ketika anak itu mendengus mengejek dan mengalahkan Atsushi.

"Eh, maaf, kukira tadi ada monyet yang lepas dari kebun binatang, makanya kutimpuk monyetnya dengan bola basket. Tapi sepertinya aku salah."

Rahang Atsushi mengeras. Setelah menimpa kepalanya dengan bola basket, sekarang anak itu dengan mudahnya mengejeknya 'monyet'? Orang tua anak ini tidak pernah mengajarinya sopan santun di rumah?

Yah, Atsushi tahu kalau ia sendiri juga tidak benar-benar berprilaku baik, tapi Atsushi tahu kalau menghina orang dengan memanggil mereka 'monyet' dan melempari kepala mereka dengan bola basket itu tidak sopan.

Atsushi mendesis dalam usaha menahan emosinya agar ia tak langsung menerjang anak berkulit hitam tersebut.

"Hei, kau pikir kau siapa hingga bisa menghinaku seperti itu setelah melempariku dengan bola basket?" seru Atsushi. Nada kesal sekaligus geram terdengar tebal menghiasi setiap kata yang terlontar. Sebuah geraman halus bisa terdengar keluar dari dasar tenggorokannya.

Kedua alis perak anak itu terangkat tinggi. Entah kenapa ia sepertinya terkejut. Mungkin karena Atsushi berani menyerangnya balik dengan kata-kata meski anak berambut perak itu memiliki badan yang jelas lebih besar dari pada Atsushi dan kemungkinan besar bisa mengalahkan Atsushi kapan saja ia mau.

Ah, Atsushi tidak peduli. Memangnya Atsushi peduli soal badan besar? Hanya karena badannya besar, bukan berarti Atsushi tidak bisa mengalahkannya, bukan? Satu-satunya hal yang kini berputar di otak Atsushi adalah kalimat 'hancurkan anak ini!'. Tapi karena perkelahian itu melelahkan dan anak berambut ungu itu sedang lelah, maka ia dengan sedikit tak rela mengesampingkan pemikiran tadi.

"Oh? Sepertinya kau tidak mengenaliku? Yah, wajar saja kalau monyet tidak bisa ingat dewa sepertiku," kata anak itu lagi sembari mengangkat bahu. Ekspresi jijik otomatis terpatri di wajah Atsushi begitu kata 'dewa' memasuki liang pendengarannya.

Astaga, sepertinya Atsushi terlibat dengan orang gila yang narsis.

Apa ini hukuman karena tidak mematuhi perintah kakaknya?

Meski tahu kalau meladeni anak gila narsis di hadapannya adalah hal yang sia-sia, Atsushi tetap menjawab sembari mengalihkan pandangannya pada beberapa anak yang tengah bermain ayunan di salah satu sudut taman tempat mereka berada. Desisan pelan terdengar menyusup keluar dari celah bibir anak berambut ungu tersebut.

"Kau pikir kau siapa?"

Anak itu memutar bola matanya. Sepertinya jengah dengan perilaku Atsushi.

"Kita pernah bertanding di Inter High musim panas kemarin. Timmu menang, tapi di pertarungan antar center, kau kalah."

Atsushi diam tapi ia mencoba menggali-gali memorinya demi mencari sesosok anak gila dan narsis berkulit hitam berambut perak yang mungkin dijumpainya di salah satu pertandingan Inter High. Nihil. Atsushi sama sekali tidak ingat. Lagi pula, tolonglah, pertandingan Inter High ada banyak! Apa anak ini pikir pertandingan di Inter High hanya ada satu?

Ketika Atsushi tak kunjung buka suara, anak berkulit hitam itu menganggap diamnya Atsushi sebagai pernyataan kalau anak berambut ungu itu sama sekali tak mengingat dirinya. Ia mendesis kesal dan menatap Atsushi dengan mata yang disipitkan. Sebelah telunjuknya teracung tepat di depan hidung Atsushi.

"Cih, setidaknya ingatlah nama dewa yang telah mengalahkanmu. Namaku Jason. Jason Silver."


Seijuurou berdiri kaku tepat setelah berhasil melepaskan sepatu sekolahnya dan meletakkannya di rak. Bibir tipis pemuda berambut merah tersebut terbuka sedikit ketika mata merahnya menangkap sesosok tubuh anak berpakaian biru muda khas TK dengan warna rambut senada berdiri di hadapannya.

Tidak salah lagi, itu adik bungsunya, Tetsuya. Tapi yang membuat Seijuurou kehilangan kata-katanya adalah ketika ia melihat sekujur tubuh adiknya itu dipenuhi dengan debu, bajunya juga kotor di sana-sini. Seijuurou mengedipkan matanya beberapa kali dan bertanya-tanya dalam hati apa yang sudah dilakukan adiknya bisa kotor seperti ini.

Seakan tidak menyadari kekakuan sang kakak, si bungsu menyambut Seijuurou dengan seulas senyum tipis dan kedua tangan yang terangkat. Berusaha mengirimkan sebuah sinyal minta digendong atau setidaknya dipeluk. Ketika Seijuurou tidak bereaksi sama sekali, jemari kurus tapi menggemaskan milik anak lima tahun tersebut bergerak menggulung dan membuka.

Seijuurou menggelengkan kepalanya. Sebelah telunjuknya ia acungkan tepat di depan hidung mungil sang adik, "Tetsuya tidak akan dapat pelukan atau gendongan sampai Tetsuya bersih, mengerti?"

Tetsuya mengerang protes dengan wajah datarnya hingga membuat Seijuurou bertanya apa adiknya itu benar-benar niat protes padanya karena jika iya, wajahnya sama sekali tidak mendukung protesnya. Alasan kenapa adik bungsunya satu itu selalu berusaha untuk membuat wajahnya datar juga masih menjadi sebuah misteri bagi Seijuurou.

Seijuurou mencubit ujung hidung adiknya gemas yang menghasilkan sebuah sebuah suara hidung lucu dari sang adik. Si sulung tersenyum simpul sebelum membungkus tangan adiknya yang lebih kecil dan menuntunnya ke dalam.

"Kenapa Tetsuya bisa sekotor ini?" tanya Seijuurou ketika mereka sampai di kamar mandi dalam kamar pribadi adiknya. Kedua tangan Seijuurou bergerak perlahan membuka baju sang adik yang sudah siap dengan kedua tangan mengarah ke atas.

"Tadi main dengan Kak Daiki di halaman belakang," jelas Tetsuya. Ia mengisyaratkan Seijuurou dengan tangannya untuk keluar dari kamar mandi karena –menurutnya—ia sudah besar dan bisa mandi sendiri. Seijuurou memutar bola matanya melihat kelakuan sang adik yang 'sok besar' tapi sebuah senyum tak bisa tak merayap di bibirnya.

"Dan berguling-guling di halaman?" tanya Seijuurou setengah sarkastik setengah bercanda ketika ia melangkahkan kaki keluar dan menutup pintu geser yang menjadi penghalang antara dirinya dengan kamar mandi tempat adiknya berada.

Suara gumaman 'mmhm' hampir tidak terdengar karena disusul oleh suara terkesiap tertahan dan keras sesuatu yang besar tercebur ke dalam bak mandi penuh air. Sepasang alis Seijuurou terangkat tinggi. Apa adiknya baik-baik saja di dalam sana?

"Tetsuya baik-baik saja?" tanya Seijuurou sedikit keras sembari menempelkan sebelah telinganya ke pintu untuk menangkap suara apa pun yang bisa ditangkap telinganya. Berusaha untuk tidak langsung membuka pintu geser di hadapannya dan melihat langsung ke dalam. Sesaat kemudian terdengar suara seperti sesuatu muncul dari air secara tiba-tiba dan langsung menghirup udara banyak-banyak.

"Tetsuya baik-baik saja! Tadi sedikit terpeleset," terdengar suara adiknya dari dalam. Seijuurou mendesah dalam hati. Setelah rasa khawatir menyusup pergi dari dalam hatinya, kepala merah Seijuurou sedikit dijauhkan dari pintu di hadapannya.

"Lebih berhati-hati lagi. Kakak punya hadiah untuk Tetsuya, jadi cepat selesaikan mandinya," seru Seijuurou lagi sebelum berlalu dari depan pintu kamar mandi. Kata 'baiiiik' terdengar menggema dari balik pintu diikuti suara cepat sabun digosokkan.

Seijuurou memungut tasnya yang tadi sempat ia tinggalkan di pintu depan dan meneruskan kembali perjalanannya menuju ke kamar. Melihat waktu yang ditunjukkan jam yang tergantung di salah satu dinding, Seijuurou berasumsi semua adiknya sudah makan malam meninggalkan dirinya. Sekarang sudah jam delapan malam dan mereka semua membuat peraturan makan malam dimulai jam tujuh.

Bukan salahnya ia pulang terlambat hari ini. Dokumen yang perlu diselesaikan benar-benar menggunung tadi dan ketika Seijuurou selesai menelitinya satu per satu, Teppei mengajaknya mengobrol sebentar dan pergi mencari sesuatu untuk menyumpal perut yang mulai keroncongan.

Seijuurou memutar kenop pintu begitu ia sampai di depan pintu kamarnya. Setelah meraba-raba sisi dinding beberapa saat, sebelah tangannya ia gunakan untuk menekan saklar. Cahaya putih kontan berebut memenuhi setiap sudut ruangan luas yang merupakan kamar si sulung.

Si pemuda berambut merah menjatuhkan dirinya ke atas kasurnya yang empuk dan membawa tasnya ke dalam pangkuannya. Setelah memindai beberapa judul kertas yang tersimpan dalam tas sekolahnya tersebut, akhirnya Seijuurou berhasil menemukan satu map bertuliskan 'doping dan napza' di dalamnya. Isi map tersebutlah yang akan menjadi alat bantu presentasinya nanti di depan adik-adiknya.

Seijuurou tahu kalau di zaman yang sudah canggih sekarang ini, ada satu benda bernama laptop yang akan memudahkan orang untuk presentasi. Tidak, Seijuurou tidak gagap teknologi. Ia pandai menggunakan teknologi semacam itu. Hanya saja, menurutnya akan lebih baik menjelaskannya langsung sembari memegang contoh gambar yang akan dipresentasikannya. Maka dari itu, ia lebih memilih menggunakan kertas dari pada laptop.

Ia mengeluarkan map tersebut dan satu buah plastik hitam tebal berisikan sesuatu yang kemungkinan besar adalah hadiah yang tadi ia katakan akan ia berikan pada Tetsuya. Tak berapa lama kemudian, satu bola basket oranye yang kelihatannya masih baru ia keluarkan dari bawah tempat tidurnya.

Sebelah kakinya memain-mainkan bola basket itu dengan menggulingkannya ke depan dan ke belakang sementara kedua matanya terfokus pada kertas-kertas di tangannya yang bergambar berbagai macam doping dan napza. Memindai apakah ada yang kurang ataukah sudah lengkap.

Tepat ketika Seijuurou yakin kertas di tangannya sudah lengkap dan pemuda berambut merah itu berdiri, perutnya langsung mengeluarkan protes. Seijuurou baru sadar, nasi sama sekali belum masuk dalam perutnya sejak makan siang di sekolah tadi. Si sulung Akashi terlalu sibuk mengurus ini dan itu untuk menyadari kalau ia bahkan belum makan.

Teppei sebenarnya sudah mengajaknya untuk makan malam bersama tadi, tapi karena Seijuurou menolak dengan halus –karena Masako pasti sudah masak banyak di rumah dan berbagai macam omelan akan menyambutnya jika wanita itu tahu Seijuurou makan di luar tiba-tiba—akhirnya Teppei menyerah dan mereka hanya makan kue seperti dorayaki untuk menambal lapar.

Setelah menimbang-nimbang beberapa saat, Seijuurou memutuskan untuk pergi ke dapur dan mencari sesuatu untuk dimakan. Jika Seijuurou beruntung, bagian makan malamnya akan dapat ia temukan terbungkus plastik bening di atas konter tapi jika pemuda berambut merah itu tidak beruntung, Atsushi sudah memakan bagiannya dan ia –terpaksa—harus mencari sesuatu yang bisa dimakan dalam kulkas.

Oh, atau mungkin ia harus memasak satu ramen instan. Ramen instan kedengarannya tidak buruk juga. Ah, Seijuurou terlalu lapar untuk bisa memikirkan apa yang sebaiknya dimakan.

Sosok anak berambut ungu dengan tinggi seratus delapan puluh enam senti tertangkap mata merah Seijuurou ketika anak itu sampai di pintu dapur. Melihat adanya kentang, wortel, susu, mentega, tepung, dan keju, Seijuurou bisa menebak kalau adiknya satu itu tengah memasak cream stew.

Dan membayangkan cream stew buatan Atsushi –jangan salah, anak itu pandai memasak—sudah bisa membuat mulut Seijuurou berair.

Seijuurou terus menatap kegiatan yang tengah dilakukan adiknya dalam diam sembari menyandarkan diri di bingkai pintu. Tapi begitu sebuah pisau terangkat oleh sebelah tangan adiknya, jantung Seijuurou langsung berhenti dan matanya membelalak lebar. Refleks, kaki-kaki Seijuurou membawa pemuda itu ke tempat di mana sang adik berdiri dengan cepat. Sepersekian detik kemudian, pisau di tangan Atsushi sudah berpindahtangan ke Seijuurou.

Atsushi terlalu terkejut untuk bisa berkata apa-apa. Anak itu bahkan hanya bisa memandang kakaknya dengan pandangan bodoh. Seakan kakaknya baru saja muncul begitu saja di hadapannya. Yang mana menurut Atsushi itu benar karena sedetik yang lalu kakaknya tidak di sana.

"Atsushi, apa yang Kakak katakan soal menggunakan pisau?" tanya Seijuurou tegas. Ia mengingatkan dirinya sendiri untuk meletakkan pisau di tempatnya dan tidak mengacungkan pisau itu di hadapan Atsushi sembari menasihatinya.

Untuk beberapa detik, Atsushi hanya bisa berdiri kaku dengan mata berkedip dan mulut sedikit terbuka. Otaknya agak sedikit lambat memproses hal yang baru saja terjadi di hadapannya. Ketika ia berhasil menggenggam kembali kesadarannya, anak itu buka mulut.

"Aaah, jangan menggunakan pisau?" tanyanya ragu. Ragu karena ia sama sekali tidak melihat alasan kenapa kakaknya begitu panik. Ya ampun, kakaknya terlihat seperti baru menangkap basah Atsushi tengah menyulut api untuk membakar seluruh rumah meski pada kenyataannya ia hanya akan memotong kentang dan wortel!

Atsushi mengerang pelan dan memutar bola matanya. Kakaknya berlebihan lagi.

"Kakak bisa lihat Atsushi mengerti. Jadi JANGAN diulangi lagi, mengerti?" kata Seijuurou dengan penuh penekanan pada kata 'jangan'. Rasa lapar yang tadi sempat menendang perutnya kini terlupakan sudah.

Seijuurou menghela napas pelan dan mengambil pisau yang tadi ia letakkan. Sebelah tangannya yang lain ia gunakan untuk menarik wortel dan kentang yang masih utuh di hadapan Atsushi. "Jadi, Atsushi mau potong seperti apa kentang dan wortel ini? Biar Kakak yang potongkan."

Atsushi diam-diam memutar bola matanya tapi tetap menjawab pertanyaan kakaknya tadi. Sesaat kemudian, kedua bersaudara tersebut telah sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Atsushi menumis bawang dalam panci dan menambahkan potongan ayam sedangkan Seijuurou mengupas kentang dan wortel dan memotongnya hingga membentuk kubus untuk kentang dan segitiga untuk wortel.

Ketika ayam dalam panci yang dipegang Atsushi sudah berubah warna menjadi cokelat, Seijuurou bergerak memasukkan kentang dengan perlahan. Atsushi memasukkan kaldu ayam serta air. Keduanya menunggu hingga isi panci mendidih.

Meski keduanya selalu makan masakan buatan Masako, tapi bukan berarti mereka sama sekali tidak bisa memasak. Kenyataannya, kedua bersaudara Akashi itu sangat pandai di pelajaran masak-memasak di sekolah. Untuk memasak makanan yang sulit, mereka belum bisa, tapi kalau hanya sekedar cream stew, kedua anak itu bisa karena sudah pernah mempraktekkannya di sekolah.

"Ah ya, satu lagi, Atsushi. Jangan gunakan api ketika tidak ada Masako-san, Kakak atau Shintarou mengawasi. Atsushi dengar Kakak?" kata Seijuurou lagi. Nadanya sedikit ditegaskan di bagian akhir kalimat karena sang adik terlihat seperti tengah melamun.

Untuk yang kedua kalinya, Atsushi mengerang.


Kontras dengan saudara-saudaranya yang terlihat tengah tersenyum ketika Tetsuya berterima kasih atas buku cerita bergambarnya pada si sulung sembari memeluknya, Atsushi justru terduduk diam sembari merengut. Kejadian saat di dapur tadi terulang kembali dalam benak anak berambut ungu tersebut. Terutama di bagian ketika Seijuurou menghambur masuk ke dapur untuk merebut pisau di tangannya dan melarangnya untuk memakai pisau dapur dan api.

Demi Tuhan, Atsushi sudah bukan lagi anak sekolah dasar! Atsushi sudah kelas satu SMP. SATU SMP. Sudah cukup besar untuk melakukan hal-hal seperti memasak 'dengan' api, memotong sayuran 'dengan' pisau, DAN pulang lebih dari jam enam petang.

Jadi kenapa sang kepala keluarga, Akashi Seijuurou, memutuskan kalau Atsushi belum bisa melakukan hal-hal yang disebutkan di atas? Apa yang kurang dari dirinya hingga Seijuurou menganggapnya tidak mampu?

Diam-diam Atsushi melirik si sulung yang baru saja menyuap sepotong ayam dari cream stew buatan mereka berdua. Mulutnya sibuk mengunyah tapi bibirnya tak lupa tersenyum terlebih ketika Tetsuya membuka buku bergambar pemberian darinya dan mulai membaca-baca serta mengagumi isinya. Kemudian pandangannya beralih pada saudara-saudaranya yang lain yang begitu mengagumi sosok si sulung. Meski pun Daiki tidak terlalu menunjukkannya, tapi anak berkulit hitam itu bukanlah pengecualian.

Atsushi mendengus dan dalam prosesnya, berhasil meniup beberapa helaian rambut ungu panjangnya. Mereka semua berpikir Seijuurou baik meski pada kenyataannya, pemuda berambut merah itu tak lebih dari seorang diktator menyebalkan.

Atsushi benci Seijuurou yang diktator. Yang melarangnya untuk pergi terlalu jauh dari rumah, yang melarangnya pulang terlalu malam, yang melarangnya untuk menggunakan pisau dan api tanpa pengawasan, yang melarangnya untuk bepergian bersama teman-temannya ke mini market dekat sekolah sehabis latihan basket karena menurut si sulung, teman-temannya bisa saja menjerumuskannya atau menyesatkannya atau melakukan hal-hal yang tak dapat dideskripsikan tapi anehnya Himuro adalah pengecualian.

Tapi Atsushi lebih benci pada dirinya sendiri yang entah kenapa tak ingin melawan si sulung. Atau mungkin ia tak cukup kesal untuk bisa membalikkan kata-kata sang kakak.

Ngomong-ngomong soal membalikkan kata-kata, Atsushi jadi teringat pada Ootsubo.

Belakangan ini Atsushi merasa ia jadi lebih kuat, lebih cepat. Cukup untuk bisa menahan tubuh Ootsubo saat rebound dan mengantisipasi tipuan dari Himuro. Baginya sekarang, Ootsubo bukan lagi tandingannya. Jadi mungkin, ia tak perlu lagi menurut kata-kata kapten basketnya itu lagi. Karena Atsushi memiliki satu prinsip; ia tidak akan mematuhi orang yang lebih lemah dari dirinya.

"Oh ya, Kakak juga punya hadiah untuk Daiki," kata Seijuurou setelah menelan potongan ayam yang tadi disuapnya ke dalam mulut. Atsushi tahu karena melihat jakun kakaknya yang bergerak naik turun beberapa saat lalu. Seijuurou bergerak mengambil bola basket yang sejak tadi ditahannya dengan kaki dan melemparkannya pada Daiki. "hadiah karena berhasil dapat seratus di ulangan matematika kemarin."

Jika Daiki senang, anak itu tidak benar-benar menampakkannya. Anak itu menggumamkan terima kasih tanpa melihat lurus ke arah sang kakak yang hanya tersenyum maklum melihat kelakuannya. Kedua alis anak berambut biru tua tersebut berkerut karena –sepertinya—heran. Bagaimana bisa kakaknya tahu ia sedang ingin bola basket baru? Mungkin itu yang ada di kepala berambut biru tuanya.

Setelah Seijuurou menyesap habis krim dalam mangkuknya dan meneguk air guna membasahi kerongkongannya yang kering karena pekatnya krim dari cream stew tadi, Seijuurou memutuskan untuk memulai apa yang ingin dilakukannya sejak tadi.

Sebelah tangan pemuda tadi meraih map berisi kertas-kertas yang tergeletak tak jauh dari mangkuk cream stew miliknya di atas meja kopi dan mulai mengeluarkan seluruh isinya. Setelah meneliti apa gambar-gambar –yang mana salah satunya sepertinya merupakan gambar daun singkong dan sebatang rokok, menurut Atsushi—Seijuurou berdeham satu kali guna menarik perhatian adik-adiknya.

Dengan sebelah tangan menopang dagu, Atsushi memerhatikan apa yang akan dikatakan si sulung.

"Kalian tahu narkoba?" tanya Seijuurou. Mencoba untuk mengawali edukasinya malam itu. Mata merah pemuda tersebut berkeliling. Memerhatikan satu per satu adik-adiknya. Ketika tidak ada yang menjawab, Seijuurou melanjutkan. "Narkoba itu sebenarnya adalah obat-obatan. Tapi obat yang tidak baik."

"Kenapa tidak baik?" tanya Tetsuya dengan polosnya. Kepalanya dimiringkan ke satu sisi dan mata bulat besarnya berbinar heran. Buku bergambar yang tadi dibelikan oleh Seijuurou tergeletak lemas di pangkuannya.

"Karena kalau Tetsuya sampai memakannya," jelas Seijuurou sembari mengulurkan tangannya lantas menggerakkan jemarinya dari leher Tetsuya hingga ke perut. "obat itu akan merusak tubuh Tetsuya."

Ia sedikit menggelitik Tetsuya ketika jemarinya sampai di perut anak tersebut. Tetsuya terkekeh sesaat namun cepat-cepat tangannya menepis tangan Seijuurou menjauh.

"Nah, narkoba itu ada banyak. Ada yang namanya ganja," Seijuurou berkutat dengan kertas-kertas di tangannya dan sesaat kemudian, menarik gambar yang tadi sempat dikira Atsushi sebagai daun singkong dan sebatang rokok dengan daun-daun teh kering di sekelilingnya. Pemuda berambut merah itu membentuk lingkaran imajiner dengan sebelah tangannya sementara tangannya yang lain menegakkan kertas tersebut. "ada juga yang namanya morfin, kokain, dan lain sebagainya."

Beberapa gambar diperlihatkan kepada mata-mata penasaran milik adik-adik Seijuurou. Satu di antaranya adalah satu buah sendok dengan serbuk putih di atasnya. Di bagian bawah gambar tersebut terdapat tulisan heroin berwarna merah tebal. Adik-adik Seijuurou mengangguk-angguk melihat gambar-gambar tersebut.

"Jadi, Kakak ingin kalian menolak dengan tegas kalau ada orang yang menawarkan kalian benda-benda ini, mengerti? Obat-obat ini tidak seperti obat-obat biasanya. Obat yang ini JAHAT. Kakak tegaskan ini terutama pada Atsushi. Semua yang ada di gambar ini," Seijuurou kembali membuat lingkaran imajiner dengan satu tangannya dan memusatkan perhatiannya pada sang adik kedua. Menegaskan gambar di tangannya pada Atsushi."BUKAN makanan."

Atsushi mengerang untuk entah yang keberapa kalinya hari itu. Kenapa kakaknya selalu khawatir berlebihan tentang dirinya? Atsushi bisa jaga diri sendiri! Jika kakaknya lupa, ia akan dengan senang hati mengingatkan kakaknya kalau sekarang ia sudah kelas satu SMP. SATU SMP. Lebih baik kakaknya mengkhawatirkan Ryouta, Daiki, dan Tetsuya yang masih kecil saja.

Atsushi mengalihkan pandangannya ke samping. Lanjutan penjelasan kakaknya tentang doping tak lagi benar-benar memasuki lubang telinganya.


Himuro Tatsuya memerhatikan helaian-helaian kertas ulangan di tangannya yang total ada lima. Dari kelimanya, hanya matematika yang tidak bercoretkan tinta merah. Hanya matematika yang bertuliskan '80' dan bukannya '40' atau '30'. Setengah tidak percaya, Himuro memindai satu per satu kertas di tangannya sekali lagi.

"Atsushi, kenapa nilaimu merah semua?" tanya Himuro dengan alis berkerut tidak percaya. Nada suaranya hampir terdengar seakan ia tengah panik. Butuh sedikit usaha bagi anak berambut hitam tersebut untuk memerintahkan kakinya tetap menyusuri koridor panjang di hadapannya.

Atau mungkin, anak berambut hitam itu memang panik.

Sebentar lagi Winter Cup dimulai dan sebelum Winter Cup, ada ujian tengah semester. Jika teman besarnya –yang tengah berjalan di sampingnya dengan acuh tak acuh—terus mendapatkan nilai merah seperti ini, kemungkinan besar anak berambut ungu itu akan masuk peringkat seratus terakhir di sekolah.

Dan peringkat seratus terakhir di sekolah tidak akan diperbolehkan mengikuti pertandingan klub.

Satu kata untuk situasi ini; gawat.

Akashi Atsushi adalah salah satu ace yang diunggulkan sekolah mereka di Winter Cup nanti. Jika anak itu bahkan tidak bisa menjejakkan kaki di lapangan, bagaimana jadinya pertandingan nanti? Apalagi di musim semi kemarin ada satu anak pindahan luar negeri yang menjadi batu penghalang terbesar mereka di Inter High tahun ini.

Jika Atsushi tidak bisa turun ke lapangan, kemungkinan besar tahun ini, motto kebanggaan sekolah mereka akan benar-benar dipermalukan.

Atsushi mengemut lolipop di mulutnya hingga batangnya bergerak naik turun. Setelah terdiam beberapa saat, anak berambut ungu tersebut mengeluarkan sebuah protes.

"Matematikaku tidak merah," sahut anak itu. Tampaknya ia benar-benar tidak terima karena sudah dituduh mendapat nilai merah di semua pelajaran meski pada kenyataannya tidak seperti itu. Lagi pula bukankah kita seharusnya fokus pada hal-hal yang baik dan melepaskan hal-hal yang buruk? Jadi seharusnya Himuro fokus saja pada angka delapan puluh yang ada di kertas ulangan matematika miliknya.

Tanpa sadar, Atsushi telah menyuarakan isi pikirannya karena Himuro di sampingnya tampak mengerutkan pangkal hidungnya dalam bentuk protes dalam diam tak lama setelah Atsushi mengatakan nilai matematikanya tidak merah. Sepersekian detik kemudian, Himuro menggelengkan kepalanya perlahan dan wajah manisnya dipenuhi pertidaksetujuan.

Kepala berambut hitam milik Himuro menoleh sepenuhnya ke arah temannya. Langkah Himuro seketika itu juga berhenti. Wajah anak kelas satu SMP tersebut terlihat begitu serius hingga untuk sekilas, Himuro terlihat seperti Seijuurou.

"Muro-chin?"

"Jika kau terus seperti ini, kau tidak akan bisa ikut Winter Cup," Himuro mengangkat tangannya dan mengibaskan kelima lembar kertas hasil ulangan Atsushi untuk menegaskan maksud dari kalimat 'terus seperti ini'. Atsushi mengerutkan pangkal hidungnya. "kau harus belajar, Atsushi."

Atsushi berdecak kesal begitu empat kata terakhir didengarnya. Kedua mata anak berambut ungu tersebut menyipit dan pandangannya ia arahkan ke arah lain.

"Kau pikir kau siapa memerintahku seperti itu?" tanya Atsushi dengan nada yang berbahaya. Entah sengaja atau tidak, tapi anak itu mengangkat dagunya tinggi hingga sosoknya yang memang sudah tinggi besar menjadi lebih besar lagi di mata Himuro.

Sepasang mata kelabu milik Himuro membulat ketika matanya menangkap reaksi yang dikeluarkan temannya. Bulu kuduk Himuro meremang untuk sesaat melihat sosok temannya yang tiba-tiba begitu menyeramkan.

Himuro menimbang-nimbang dua opsi yang muncul begitu Atsushi bersikap seolah siap menelannya bulat-bulat.

Hadapi Atsushi dengan kepala dingin atau dengan kepala panas? Mengalah atau melawan?

Di satu sisi, jujur saja sebenarnya Himuro sudah mulai muak dengan kelakuan teman besarnya satu itu. Anak berambut ungu di hadapannya ini terlalu egois. Terlalu memikirkan kesenangan dirinya sendiri hingga melupakan kalau ia hidup di dunia ini tidak sendiri. Ada kalanya –seperti saat ini misalnya—ia ingin membenamkan tinjunya ke wajah anak itu dan meneriakinya untuk tidak egois.

Tapi di sisi lain, bertengkar benar-benar bukan hal yang disukai Himuro. Apalagi jika bertengkarnya dilakukan dengan seorang teman.

Sebisa mungkin, Himuro ingin menghindari hal tersebut.

Himuro beradu pandang dengan Atsushi. Tatapan Atsushi kini dipenuhi dengan kemarahan. Seakan-akan Himuro baru saja menginjak sebuah batasan yang tak seharusnya dilewati. Dari tatapan matanya, Himuro tahu kalau Atsushi tidak akan mundur dan akan terus melawannya.

Setelah menimang-nimang beberapa saat, Himuro memutuskan untuk mengalah. Tatapan tajam yang dilontarkan anak itu pelan-pelan memudar seiring dengan matanya yang tertutup. Helaan napas panjang keluar dari mulut Himuro sebagai tanda kalau ia menyerah.

"Maaf, aku tidak bermaksud memerintahmu. Hanya saja kau benar-benar perlu mulai belajar. Kalau sampai di ujian tengah semester nanti nilaimu masih banyak yang merah, kau tidak akan bisa ikut Winter Cup. Kau mau latihanmu selama ini sia-sia?"

Kelihatannya alasan Himuro dianggap cukup masuk akal oleh Atsushi karena sesaat kemudian, mata ungunya yang berbinar tajam berubah menjadi binar malas seperti biasanya. Sebuah gumaman malas keluar dari mulut anak itu. Mungkin gumaman tersebut adalah tanda kalau ia mengakui kata-kata Himuro ada benarnya.

Kaki mereka yang tadi sempat terhenti kini bergerak kembali.

Diam-diam, Himuro memasukkan kertas-kertas hasil ulangan Atsushi yang remuk ke dalam saku celana panjangnya. Karena kelihatannya ia tidak bisa membantu menyelesaikan yang satu ini –salah satunya karena ia sudah mulai muak dengan kelakuan Atsushi—mungkin ia akan menyerahkan masalah ini pada Shintarou dan kakak sulung Atsushi yang berambut merah itu saja.

Dalam kepalanya, Himuro menyusun rencana untuk memberikan kertas-kertas di saku celananya pada Shintarou saat latihan basket nanti. Tentunya tanpa sepengetahuan Atsushi.


Miyaji Kiyoshi menatap punggung adik kelasnya yang menjauh dengan tatapan tidak percaya. Terlebih lagi ketika diliriknya teman seangkatannya –Ootsubo Taisuke—diam saja seakan-akan sang adik kelas tidak bolos latihan untuk yang –kalau Miyaji tidak salah menghitung—kelima kalinya minggu ini.

Menunjukkan pada teman-teman setimnya kalau reputasinya sebagai orang paling tempramen di klub itu memang benar, Miyaji memberikan umpan pada salah satu adik kelasnya dengan kekuatan yang sedikit lebih besar dari yang seharusnya. Tanpa sadar membuat sang adik kelas meringis sedikit ketika ia berhasil menangkap umpan dari Miyaji.

Tapi Miyaji tidak peduli dengan adik kelasnya yang sudah secara tak sengaja ia sakiti. Persetan dengan semua orang di klub yang memerhatikannya dengan pandangan takut.

Pemuda berambut cokelat muda tersebut berjalan cepat ke arah sang kapten basket yang tengah berlatih one-on-one dengan Himuro Tatsuya. Himuro yang terkesiap ketika melihat ekspresi Miyaji yang kelihatan siap untuk menelan orang itu tak dihiraukannya. Fokus seorang Miyaji Kiyoshi sekarang hanya tertuju pada Ootsubo dan Ootsubo saja.

Himuro yang tadinya tengah memantulkan bola basket di tangannya kini berhenti dan mengangkat bola basket di tangannya sejajar dada dengan dua tangan. Mata kelabu anak itu hanya bisa memerhatikan Miyaji yang sebentar lagi akan membuat pertunjukan gratis bagi seluruh anak tim basket.

Melihat Himuro berhenti memantulkan bola basket di tangannya dan justru berdiri kaku, Ootsubo pun ikut menegakkan badannya yang semula sedikit membungkuk mempersiapkan diri untuk aksi Himuro selanjutnya. Mata hitam kapten tim basket SMP Teikou tersebut mengikuti arah mata Himuro.

Ketika ia menoleh ke samping, tiba-tiba saja ia merasakan kerah bajunya ditarik lantas wajah Miyaji memenuhi hampir seluruh lingkup penglihatan Ootsubo. Miyaji kelihatan begitu marah hingga alisnya berkerut di tengah dan wajahnya terlihat sedikit memerah.

Dan Ootsubo tahu betul alasan kenapa Miyaji bisa semarah itu.

"Kenapa kau biarkan anak itu pergi, Ootsubo?" tanya Miyaji dengan suara yang begitu pelan hampir mendekati bisikan. Jika saja wajah Miyaji kala itu tidak tengah menunjukkan amarah yang amat sangat, mungkin tidak akan ada yang menyadari kalau ia tengah marah.

Ootsubo memutuskan untuk diam seribu bahasa. Ia begitu mengenal seorang Miyaji Kiyoshi, terlalu mengenalnya malah, hingga seorang Ootsubo Taisuke tahu kalau pertanyaan Miyaji barusan hanya pertanyaan retoris dan pemuda berambut cokelat muda di hadapannya tak benar-benar menginginkan sebuah jawaban.

Tapi lain Ootsubo lain pula dengan Himuro. Anak kelas satu itu tidak mengenal Miyaji dengan baik. Ia khawatir seniornya yang tempramen itu akan benar-benar mendaratkan satu pukulan keras di salah satu pipi sang kapten basket hingga ketika Ootsubo tidak menjawab, jadi Himuro memutuskan untuk membelanya.

"Miyaji-san, tenangkan diri dulu. Ootsubo-san pasti punya alasan untuk itu."

"Aku tidak bicara padamu!" seru Miyaji dengan tajam. Pandangannya yang seperti belati yang baru diasah kini diarahkan pada adik kelasnya yang berambut hitam. Himuro mengambil satu langkah pendek setelahnya. Dari jakun Himuro yang naik-turun sesaat, jelas anak itu baru saja menelan ludah.

Perhatian Miyaji kembali difokuskan pada Ootsubo yang ekspresinya sama sekali tak berubah sejak tadi. Masih tetap tenang, tetap datar, seakan-akan Miyaji tidak sedang menarik kerah bajunya dan siap meneriakinya kapan saja.

Sadar kalau Miyaji menuntut sebuah alasan darinya, Ootsubo akhirnya buka mulut.

"Anak itu pasti punya alasannya sendiri, Miyaji. Dia pasti akan mengatakannya nanti. Atau mungkin dia ada urusan hingga merasa perlu membolos latihan. Kalau urusannya sudah selesai, dia pasti akan berlatih seperti biasa."

Miyaji mengadakan kontes tatap-menatap dengan Ootsubo setelah mendengarkan alasan sang kapten. Meski diserang terus menerus dengan tatapan setajam belati milik Miyaji, tatapan yakin Ootsubo tetap tidak runtuh sama sekali.

Miyaji menggeram sesaat ketika ia sadar Ootsubo tidak akan merubah pendiriannya untuk menunggu Atsushi bicara. Jadi pemuda berambut cokelat muda tersebut melepaskan cengkeramannya pada kerah baju Ootsubo dengan kasar dan melangkah menjauh dari sang kapten.

"Tiga hari," kata Miyaji masih dengan suara yang pelan namun berbahaya. Pandangannya berubah-ubah, dari Ootsubo ke Himuro, dan yang terakhir pada Shintarou, "jika dalam tiga hari anak itu tidak juga bicara, aku yang akan tegaskan padanya kalau ia tidak bisa semena-mena di sini."


Maaf aku gak bisa update lebih cepet. Ide mampet, dan ada beberapa urusan. Maaf tapi aku gak bisa bales review satu-satu sekarang soalnya buat update ini aja bener-bener nyolong-nyolong waktu. Untuk yang user, aku balesin nanti kok. Silahkan tunggu balesannya dengan sabar di inbox masing-masing ;)

kichan: wah, liat dulu ya, kalo ada ide nanti langsung aku tulis, oke? Thanks banget buat reviewnya ya!

Asahina Julie: apa ini temennya Asahina Yuuhi? Soalnya nama kalian sama hehe aku kan gak hamilin kamu kenapa aku harus tanggung jawab? /loh/ cupcupcup jangan nangiiis, kalo mau nangis, ntar aja hahaha makasih banget buat review dan pujiannya, tapi sayangnya belom bisa update cepet nih...

Special thanks to: scarletjacket, Harumia Risa, Erucchin, PinKrystal, kichan, Fryllabille201, lateliv98, Dae Uchiha, DyoKyung-Stoick, Tsukkika Fleur, Nabila Hana BTL, tetsuya kurosaki, Shintaro Arisa-chan, Shiraume. machida, Jasmine DaisynoYuki, Asahina Yuuhi, Asahina Julie, S. Hanabi, annoy, Vanilla Tetsuya, crimxson, ichinoseshiro, Eamaki ShionIta Devy, WhiteIceCream, hanachan1303, kokoronokagi21.

TAPI KALIAN HARUS TAU KALO REVIEW KALIAN ITU MANIS-MANIS BANGET. KALIAN BIKIN AKU GAK BISA BERENTI NGETIK FIC INI DAN GAK BISA BERENTI AKU KETAWA KAYAK ORANG GILA. DAN WOW, FAV-NYA UDAH TEMBUS SERATUS DAN REVIEWNYA 4 LAGI JADI SERATUS I REALLY DON'T KNOW WHAT TO SAY. THANK YOU SO MUCH MY LOVELY READER, I'M NOTHING WITHOUT YOU.