Kuroko no Basuke hanya milik Fujimaki Tadatoshi seorang.
Cerita ini hanya milik saya seorang.
Warning: AU, Nice & not-so-perfect! Akashi, brotherly love! a lot of it I think, cuteness ahead(?), alur kecepetan, half-assed chapter, OOC, typo, DLDR!
pengingat mulai chapter ini:
Seijuurou = 16 tahun
Shintarou = 13 tahun
Atsushi = 12 tahun
Ryouta = 10 tahun
Daiki = 9 tahun
Tetsuya= 5 tahun
Enjoy!
Chapter 13: As Mom, Worrying
"Jadi," seorang pemuda berambut hijau lumut berdiri tegak di hadapan adik kelasnya yang berambut hitam. Tatapan mata hijau milik sang senior bergerak memindai seluruh tubuh sang adik kelas. "ada perlu apa denganku?"
Sang adik kelas –yang diketahui bernama Himuro Tatsuya—hanya diam sembari balas menatap tatapan tajam senior di hadapannya. Tak berapa lama kemudian, sebelah tangannya terangkat dan masuk ke dalam saku celana kain panjang yang ia kenakan.
Ketika gumpalan kertas yaang sudah remuk keluar dari saku celana panjang Himuro, sang senior –Akashi Shintarou—kontan mengerutkan alis. Ada apa dengan kertas-kertas itu dan kenapa Himuro memperlihatkannya padanya?
Dengan dua tangan, Himuro meluruskan kembali kertas-kertas tersebut. Ya, ternyata setelah diperhatikan lagi, kertas yang dipegang adik kelas Shintarou satu itu bukan hanya selembar. Dan setelah beberapa kali melirik kertas-kertas yang tengah diluruskan satu per satu oleh Himuro tersebut, Shintarou menyadari ada banyak sekali tinta merah dalam bentuk centang mencoreng kertas putih tersebut.
Setelah beberapa detik bertanya-tanya, akhirnya barulah Shintarou mengerti alasan di balik keinginan sang adik kelas menemuinya secara pribadi. Shintarou baru mengerti tepat ketika sepasang mata hijau yang ditutupi lensa miliknya menangkap sebaris nama di bagian atas kertas tersebut dan kumpulan angka yang ditorehkan dengan warna merah.
Akashi Atsushi.
Itulah nama yang tertera di kolom nama tersebut ditemani dengan berbagai angka yang rata-rata berupa angka lima puluh ke bawah.
Dalam hati Shintarou menghela napas.
Setelah semua kertas di tangannya sudah kembali lurus –meski masih terdapat kerutan di sana-sini—Himuro menyodorkan kertas-kertas tersebut ke dada sang senior. Pandangan mata hijau Shintarou yang semula tajam kini berubah sedikit... sendu? Lelah?
Jujur sebenarnya tidak benar-benar ada kata yang bisa mendeskripsikan pandangan mata Shintarou saat ini.
"Maaf, aku tahu tidak seharusnya aku mencampuri urusan nilai Atsushi seperti ini. Tapi..." kata Himuro dengan wajah sedikit tertunduk. Mungkin anak berambut hitam tersebut sedikit tidak enak karena mencampuri urusan yang menurutnya cukup pribadi ini.
Detik itu juga Shintarou mendengar kalimat yang tidak bisa diucapkan oleh Himuro. Aku ingin sekali ia belajar lebih banyak, sebentar lagi ujian semester dan Winter Cup dimulai dan tim basket Teikou tidak dapat bermain tanpa Atsushi, karena itulah mohon bantuannya. Kira-kira begitulah kalimat yang tak dapat dikatakan oleh adik kelas Shintarou yang berambut hitam itu.
Shintarou mengerti betul perasaan anak itu karena meski pun si anak berambut hijau lumut tersebut kurang menyukai sang adik berambut ungu, tapi ia sendiri tidak dapat memungkiri kalau tim basket Teikou tidak bisa bermain tanpa Atsushi.
Oke, koreksi, mereka tetap bisa bermain di Winter Cup dengan atau tanpa Atsushi karena hei, tim basket mereka adalah tim basket SMP terkuat se-Jepang dan masih ada beberapa orang yang bisa menggantikan Atsushi. Contoh paling mudahnya adalah kapten tim mereka, Ootsubou Taisuke.
Tapi sepembangkang apa pun anak itu, ia tetaplah bagian dari keluarga besar tim basket Teikou dan tanpanya tim tidak akan terasa lengkap; paling tidak begitulah menurut Himuro. Karena sebab itulah Himuro berdiri di sini, di hadapan Shintarou dan, dengan sedikit ragu tapi tegas, menyeberangi suatu batasan bernama privasi.
Untuk sepersekian detik, Shintarou bertanya-tanya dalam hati, sadarkah adiknya kalau ia memiliki teman sebaik ini? Sadarkah ia kalau ia beruntung memiliki seorang teman bernama Himuro Tatsuya yang begitu sabar menghadapi kelakuannya bahkan di saat anak berambut ungu itu bersikap begitu menyebalkan?
Shintarou mengambil kertas-kertas hasil ulangan tersebut dari tangan Himuro dan melipatnya dengan rapi. Setelah menyimpannya di saku baju dan membuat catatan mental untuk mengabari Seijuurou nanti malam, Shintarou membuka mulut, "Terima kasih, Himuro. Aku benar-benar menghargai usahamu. Mulai dari sini, biar kami yang menangani."
Atsushi berjongkok sembari sedikit membungkukkan badan bagian atasnya agar tubuh tingginya bisa tersembunyi dengan sempurna di balik semak-semak. Kedua tangannya sibuk membuka retsleting tas miliknya sedangkan mulutnya sibuk mengemut sebatang es loli rasa vanilla. Tak lama kemudian, sebelah tangannya sudah mengangkat sebuah bola basket berwarna oranye terang.
Sore ini, Atsushi benar-benar bertekad akan membalas perbuatan Jason Silver padanya. Sudah dua kali berturut-turut Atsushi melewati taman tempatnya bertemu Jason sepulang sekolah dan sudah dua kali pula kepalanya dilempari bola basket oleh anak berambut perak yang congkak itu.
Atsushi menyeringai jahat ketika gambaran Jason yang mengerang kesakitan sembari marah-marah muncul dalam benaknya.
Hah, anak itu akan merasakan sakitnya dilempari bola basket!
Setelah dua hari berturut-turut di jam yang sama tak sengaja bertemu anak tersebut, Atsushi cukup yakin kalau Jason akan berada di taman ini saat ini. Lebih tepatnya, anak berambut ungu itu yakin kalau orang-gila-yang-mengaku-dewa itu akan berada di lapangan basket tengah bermain basket sendirian.
Atsushi mengendap-endap di antara semak-semak yang tertanam di seluruh penjuru taman agar Jason tak bisa melihatnya sehingga rencana brilian miliknya –atau rencana menimpuk Jason miliknya—dapat berhasil dengan sempurna.
Seperti yang diperkirakan Atsushi, Jason Silver memang berada di taman. Tapi tidak sepeerti dugaan Atsushi, anak berambut perak tersebut tidak tengah menembakkan bola basket ke arah ring atau menggiring bola mengelilingi lapangan street basketball di taman tersebut melainkan ia tengah duduk di kursi taman yang diduduki Atsushi tepat ketika mereka bertemu pertama kali. Atau mungkin kedua kalinya jika kata-kata Jason saat itu memang benar.
Seringai jahat kembali muncul di wajah Atsushi. Posisi Jason yang kini tengah duduk membelakanginya membuat anak sombong itu menjadi sebuah sasaran empuk. Menimpuk ubun-ubun anak itu benar-benar perkara mudah.
Atushi mengangkat sebelah tangannya yang tengah mengangkat bola basket, bersiap untuk melepaskan bola basket di tangannya sekuat tenaga ke arah kepala berambut perak yang tengah diam di hadapannya.
"Berisik! Aku akan latihan kapan pun aku mau!"
Ketika kalimat tersebut memasuki pendengaran Atsushi, anak berambut ungu tersebut menghentikan gerakan tangannya yang sudah siap melontarkan bola. Bola oranye di tangannya kini justru ia pegang erat di kedua tangan.
Rencana awalnya untuk balas menimpuk kepala Jason terlupakan sudah.
Sebelah tangan berkulit hitam milik Jason bergerak mengusap rambut perak miliknya dan satu erangan kesal terdengar dari anak tersebut. "Dengar ya, aku ini dewa jadi aku tidak memerlukan latihan seperti kalian! Aku bisa menang meski tanpa latihan!"
Atsushi baru sadar kalau di sebelah tangan Jason terdapat satu ponsel berwarna perak yang ditempelkan ke telinga dan kini ia tengah berbicara dengan siapa pun itu di ujung sambungan sana. Dari jawaban Jason tadi, Atsushi menebak kalau lawan bicara anak berkulit hitam tersebut adalah teman setimnya.
Jeda sejenak.
"Kekalahan kita di Inter High itu karena kalian tidak becus mengawal yang lain! Di pertarungan antar center, aku menang melawan Akashi Atsushi," ujung telinga Atsushi berkedut begitu mendengar namanya disebut, "jika ada yang butuh latihan, maka itu adalah kalian. Aku tidak mau latihan dan kau tidak akan bisa memaksaku."
Jason menjauhkan telinganya dari ponsel dan menekan tombol dengan simbol telepon berwarna merah dengan kekuatan yang sedikit berlebihan. Untuk beberapa detik, Jason hanya diam memerhatikan ponselnya seakan benda itu adalah benda pembawa sial menjijikkan yang harus cepat dibuang.
Atsushi berani taruhan kalau anak berkulit hitam itu tengah menatap tajam ke arah ponselnya.
"Monyet sepertimu tidak akan bisa menimpuk kepala dewa sepertiku," refleks, Atsushi melemparkan bola di tangannya ke arah sang anak berambut perak. Tentu saja karena terkejut dan tidak siap, lemparan Atsushi terkesan setengah hati dan sama sekali tak mengenai Jason.
Astaga, Jason bahkan tidak perlu menghindar untuk bisa lolos dari lemparan Atsushi.
Desisan kesal –mungkin dampak dari percakapan telepon yang tak menyenangkan barusan—dapat terdengar keluar dari bibir Jason ketika anak itu menoleh untuk menatap Atsushi tajam, "Apa ibumu tidak pernah memberitahumu kalau menguping itu tidak sopan?"
Atsushi terdiam dengan mulut setengah terbuka. Jika saja anak berambut ungu tersebut tidak ingat kalau ia tengah mengemut sebatang es loli, ia pasti sudah membuka mulutnya lebih lebar ketika mendengar kalimat Jason.
Jadi anak ini tahu sopan santun? Apa Atsushi harus bertepuk tangan sekarang?
"Apa ibumu tidak pernah memberitahumu kalau melempari orang dengan bola basket dan memanggil mereka dengan sebutan monyet itu tidak sopan?" balas Atsushi dengan penuh sarkasme.
Sepertinya bertahun-tahun tinggal dengan Shintarou dan Seijuurou membuat sifat sarkastik mereka menular padanya.
Kini giliran Jason yang terbuka mulutnya ketika mendengar jawaban penuh sarkasme yang dilontarkan Atsushi. Lelah berdiri seperti orang bodoh di tengah semak-semak, Atsushi akhirnya memutuskan untuk berjalan memutar dan duduk di samping Jason. Sama sekali tidak peduli dengan kemungkinan Jason akan menimpuknya dan mengusirnya.
Tapi di luar dugaan Atsushi, anak berkulit hitam dan berambut perak itu justru tertawa keras hingga beberapa orang yang tengah bermain-main di taman tersebut menoleh ke arah kedua anak tersebut. Perlu usaha besar bagi Atsushi untuk tidak memukul kepala perak Jason agar anak itu sadar dengan keadaan sekitar mereka.
"Heh, ternyata kau anak yang menarik," Anak berkulit hitam tersebut menunduk dan mengambil bola yang tergeletak tak jauh dari kakinya lantas menoleh ke arah Atsushi dengan satu seringai menempel di wajah, "mau main?"
Araki Masako menatap pintu depan rumah keluarga Akashi dengan tatapan sedikit tajam. Kedua tangan wanita berusia tiga puluhan tersebut tersilang di depan dada kedua kakinya terbuka sedikit lebar. Sekilas ia terlihat seperti preman yang tengah menjaga daerah kekuasaannya. Tapi tidak, ia sebenarnya tengah cemas menunggu kepulangan salah satu tuan mudanya yang seharusnya sudah duduk manis di rumah sejak jam setengah enam sore tadi.
Di samping Araki Masako –yang kini mulai menghentakkan kakinya karena gelisah—berdiri Akashi Shintarou. Anak berambut hijau lumut tersebut berdiri tegak dengan kedua tangan rapat di samping tubuh. Jika Masako tengah menatap pintu di hadapannya dengan pandangan tajam tapi dipenuhi kekhawatiran, maka Shintarou justru menatap pintu kayu di hadapannya dengan tatapan mematikan.
Mood Shintarou sudah cukup buruk setelah lucky item miliknya disita oleh guru, latihan basket yang tidak lagi semenyenangkan sebelumnya, dan nilai-nilai Atsushi yang merah. Tapi ketika lima belas menit yang lalu ia menginjakkan kaki di pintu depan dan mendapati Masako tengah cemas setengah mati –bagi orang luar Masako hanya akan terlihat seperti wanita yang tengah kesal karena ditinggal pacar tapi Shintarou mengenal wanita paruh baya itu lebih baik—menunggui Atsushi yang tak kunjung pulang, mood buruk Shintarou memuncak.
Hari sudah menunjukkan pukul setengah tujuh malam lewat lima belas menit dan kira-kira sudah hampir dua jam sejak terbenamnya matahari di ufuk barat tapi batang hidung Atsushi tak juga nampak.
Rahang Shintarou mengeras.
Anak itu ternyata menipunya.
Jam setengah enam tadi anak itu menyandang tasnya dan berjalankeluar dari pintu kembar gym SMP Teikou tapi kenapa hingga jam segini ia belum sampai di rumah? Ke mana anak itu? Apa ia sama sekali tidak sadar kalau hari di luar sana sudah gelap gulita?
Apa yang sebenarnya ada di kepala ungu anak itu? Dan lagi, sudah berapa lama Atsushi menipunya seperti ini?
Shintarou benar-benar tidak mengerti, di mana sulitnya mematuhi sebuah peraturan rumah sederhana yang ditekankan Seijuurou? Di mana letak sulitnya pulang tepat jam setengah enam sore? Di mana?
Mata hijau Shintarou melirik wanita paruh baya di sampingnya. Mungkin karena sudah bertahun-tahun tinggal dengan Masako, Shintarou jadi tahu kalau wanita itu benar-benar khawatir hingga sebentar lagi, mungkin wanita berambut hitam panjang itu akan mengambil tongkat kendo-nya dan mulai mengayunkannya ke sembarang arah untuk menghilangkan kecemasan.
Atau mungkin, melihat bagaimana jemari lentik milik Masako terus berkedut, wanita bermata biru itu akan mulai menggigiti kukunya.
Desisan kesal keluar dari dasar tenggorokan Shintarou. Kenapa Atsushi senang sekali membuat masalah? Sebentar lagi Seijuurou akan pulang –jika ia tidak lembur—dan kalau kepala keluarga mereka menemukan Atsushi belum pulang juga, apa yang harus dikatakan Shintarou? Bagaimana reaksi Seijuurou?
Si sulung pasti kecewa berat padanya apalagi setelah tempo hari Shintarou menawarkan bantuan untuk 'mengekang' Atsushi. Kakak mereka satu itu akan berpikir Shintarou payah karena menjaga adik mereka satu itu saja Shintarou tidak bisa.
Ketika tempo hari ia menawarkan bantuan, Shintarou sungguh-sungguh ingin membantu si sulung. Anak berambut hijau lumut tersebut ingin Seijuurou fokus pada rutinitas yang sudah dijalaninya selama dua tahun terakhir tanpa terbebani masalah lain lagi.
Menurut Shintarou, Seijuurou sudah terlalu lelah menghadapi rutinitasnya, sudah punya terlalu banyak masalah untuk dihadapinya, terlalu banyak hal untuk dipikirkan dan dikhawatirkan olehnya. Pemuda berambut merah tersebut tidak perlu lagi tambahan masalah seperti ini!
Suara detik jam terdengar begitu jelas dan suara itu membuat pikiran Shintarou semakin kacau. Semakin membebani mentalnya. Bayangan Atsushi yang terkapar tak berdaya di suatu gang gelap dalam keadaan tak sadarkan diri, dan wajah lelah yang dicoreng ekspresi kecewa sekaligus panik milik Seijuurou ketika pulang nanti jika ia tahu Atsushi pulang terlambat terus berputar di benak Shintarou.
Anak kedua keluarga Akashi itu sebenarnya enggan, tapi ia mengakui sekarang kalau rasa khawatir yang dirasakan Masako mulai menular padanya. Semakin Shintarou menunggu semakin ia khawatir dan gelisah. Khawatir telah terjadi sesuatu pada adiknya dan khawatir si sulung mengetahui hal ini.
Ketika jam menunjukkan pukul tujuh kurang sepuluh menit, Shintarou menyipitkan mata. Oke, cukup. Jika Atsushi tidak mau pulang, maka Shintarou akan pergi dan menyeretnya kembali.
Masako tersentak kaget ketika lemari sepatu di dekat pintu dibanting terbuka. Mata biru gelap wanita paruh baya tersebut menelusuri sosok Shintarou yang kini tengah mengeluarkan sepasang sepatu miliknya dan mengenakannya dengan terburu-buru sembari berdiri hingga anak itu melompat-lompat kecil beberapa kali demi menjaga keseimbangan.
Sebelum wanita berambut hitam panjang tersebut sempat melontarkan pertanyaan mengenai apa yang tengah dilakukan sang anak kedua keluarga Akashi, Shintarou sudah mengalahkannya, "aku akan mencari Atsushi. Masako-san tunggu di rumah saja. Kalau Kakak pulang, katakan padanya aku dan Atsushi pergi ke minimarket."
Masako mengangguk perlahan. Wanita tersebut sepertinya masih terlalu terkejut dengan perubahan perilaku Shintarou dari tenang menjadi panik secara tiba-tiba. Namun Masako kelihatan lebih terkejut lagi ketika sepasang mata biru gelapnya menangkap sosok anak berambut ungu tinggi besar yang tengah menguyah sebatang maiubou tepat setelah Shintarou membanting pintu depan terbuka.
Terkejut, kesal, khawatir, dan lega bercampur aduk hingga menghasilkan gemuruh aneh dalam dada Shintarou. Penampakan adiknya di depan pintu dengan wajah polos dan tubuh yang kotor sembari memeluk bola basket di pinggangnya membuat Shintarou benar-benar kehilangan kata-kata.
Tapi, ya Tuhan, betapa inginnya Shintarou meninju wajah polos adiknya satu ini hanya agar adiknya itu sadar kalau ia nyaris saja membuat dirinya dan Masako terkena serangan jantung karena begitu khawatir.
Tapi syukurlah ia menemukan adiknya di depan pintu rumah dengan keadaan tak kurang suatu apa pun dan bukannya di sebuah gang kecil nan gelap dengan keadaan tubuh berlumuran darah atau wajah yang membiru di sana-sini serta tak sadarkan diri.
"Eh, kenapa kalian terlihat begitu tegang?" Shintarou merapatkan bibirnya hingga membentuk satu garis tipis ketika adiknya –dengan begitu polosnya—bertanya padanya dan Masako –yang masih terdiam dengan mulut sedikit terbuka, mungkin karena bingung harus merasakan apa sekarang ini—lantas anak berambut ungu tersebut berjalan melewati mereka begitu saja seakan ia sama sekali tidak membuat kesalahan dengan pulang SATU JAM lebih lambat dari yang seharusnya.
Jika ini adegan dalam komik, di pelipis Shintarou pasti sudah muncul tiga siku-siku yang menandakan kalau ia benar-benar kesal.
Apa keinginan Shintarou untuk mencengkeram bahu adiknya dan menggoyangkannya sekuat tenaga agar adiknya itu sadar sudah disebutkan di atas?
Atsushi terlambat satu jam, Bung. SATU JAM. Apa anak itu sama sekali tidak merasa bersalah? Sama sekali tidak merasa kalau ia sudah melanggar peraturan rumah? Tidak merasa perlu meminta maaf? Tidak merasa perlu menjelaskan sesuatu?
Shintarou memejamkan mata seerat yang ia bisa. Perlu usaha besar bagi dirinya untuk menahan seluruh emosinya dan tak mengeluarkannya dengan cara yang kasar. Berkali-kali Shintarou mengatakan pada dirinya sendiri untuk tenang, hirup napas perlahan lalu embuskan.
Ketika akhirnya Shintarou berhasil menenangkan diri, ia menjangkau kenop pintu dan mendorongnya perlahan hingga menutup sempurna. Shintarou berbalik, menelan ludahnya, dan berjalan melewati Masako yang sepertinya sudah lebih tenang.
Sembari menahan desakan untuk mengusap wajahnya dengan kedua tangan karena frustrasi, Shintarou berkata, "Tolong jangan katakan apa pun pada Kakak, Masako-san."
Mata merah Seijuurou meneliti barisan huruf di layar laptopnya untuk yang entah keberapa kalinya malam itu lantas memijat batang hidungnya. Tak dapat si sulung pungkiri kalau ia lelah, mengantuk, matanya terasa seperti akan meloncat keluar dari kepalanya, dan sensasi berdenyut di pelipisnya sama sekali tidak membuat keadaan jadi lebih baik.
Ketika Seijuurou sadar ia perlu sedikit istirahat, pemuda berambut merah tersebut menghela napas lantas menyandarkan punggungnya yang terasa begitu kaku di sandaran kursinya yang empuk. Apa ini perasaan Seijuurou saja atau memang sandaran kursinya terasa lebih empuk akhir-akhir ini? Si sulung sama sekali tidak mengira kalau kursinya seempuk ini.
Seijuurou hampir saja terlelap di kursinya ketika ia mendengar suara pintu kamarnya dibuka. Sesosok wanita paruh baya yang sudah mengabdi pada keluarga Akashi selama belasan tahun muncul dari balik pintu dengan satu nampan dan segelas air putih di tangan. Sekilas ekspresi wanita itu terlihat datar, tapi Seijuurou sudah cukup terlatih untuk melihat hal-hal tersembunyi hingga pemuda berambut merah tersebut tahu kalau di balik ekspresi datarnya sebenarnya wanita paruh baya tersebut tengah khawatir.
Dan kemungkinan besar, objek kekhawatiran wanita tersebut adalah dirinya.
"Hai, Masako-san. Bagaimana harimu? Adik-adikku tidak membuat masalah, bukan?" sapa Seijuurou sembari menegakkan kembali posisi duduknya yang tadi sempat merosot. Sebisa mungkin, kepala keluarga Akashi tersebut tak ingin Masako tahu kalau sekarang ini ia tengah sakit kepala.
Araki Masako sudah punya daftar panjang hal untuk dikhawatirkan dan Seijuurou tak perlu menambah panjang daftar tersebut. Tapi ketika air muka Masako mengeras begitu wajah sang tuan muda tertangkap mata biru gelapnya, Seijuurou tahu usahanya gagal.
Bukan hanya Seijuurou yang bisa membaca hal yang disembunyikan orang lain. Masako juga bisa.
"Tidak usah berbasa-basi padaku, Tuan," kata Masako dengan sedikit tajam. Tentu Seijuurou tahu kalau itu merupakan tanda sayang seorang Araki Masako. Sama seperti Shintarou, wanita paruh baya di hadapannya ini juga memiliki sedikit masalah dalam mengekspresikan diri.
Setelah meletakkan nampan di tangannya di atas meja kerja Seijuurou, sebelah tangan wanita tersebut masuk ke dalam saku dan sesaat kemudian Seijuurou bisa melihat beberapa bungkus obat dikeluarkan dari dalamnya. Terima kasih kepada sakit kepala yang bersikeras mengganggunya, Seijuurou perlu menyipitkan mata agar bisa melihat tulisan yang tertera di bungkusan obat tersebut.
Aspirin.
Oh, betapa inginnya Seijuurou memeluk kepala pengurus rumah mereka. Bagaimana bisa Masako tahu ia tengah sakit kepala? Beruntung sekali seorang Akashi Seijuurou karena bisa memiliki seorang kepala pengurus rumah sebaik dan seperhatian Araki Masako.
Tunggu. Ada sebungkus obat lagi di tangan wanita paruh baya tersebut. Tulisan di bungkusannya terbaca... parasetamol?
Kenapa Masako membawa obat demam?
Seijuurou tanpa sadar mendengus dan dengan pandangan jenaka, ia mendongak menatap sang kepala pengurus rumah mereka. Dengan kepala dimiringkan sedikit dan senyum tipis menahan tawa, Seijuurou berkata, "Masako-san? Terima kasih karena sudah pengertian tapi sungguh, aku tidak dem—"
Kontan Seijuurou langsung terdiam ketika sebelah telapak tangan Masako menempel di keningnya. Telapak tangan Masako terasa seperti sebongkah es batu baru saja ditempelkan di kepalanya yang mana artinya, ia memang demam. Suhu badannya beberapa derajat lebih tinggi dari suhu normal manusia.
Jujur saja, Seijuurou terkejut. Ia sama sekali tidak menyadari kalau ia demam. Mungkin ini efek dari begadang beberapa hari di minggu ini.
Dalam hati Seijuurou meringis karena baru menyadari kebodohannya.
Mata merah Seijuurou memerhatikan sosok Masako yang –setelah dengan efektif mendiamkan sang tuan muda—tengah meletakkan dua bungkus obat tadi di samping semangkuk sup ayam. Seijuurou juga baru menyadari kalau ada mangkuk kecil di atas nampan bersanding dengan segelas penuh air putih. Dalam hati Seijuurou mempersiapkan diri untuk ledekan atau senyum penuh kemenangan yang ia yakini akan datang sebentar lagi karena Masako telah berhasil membuatnya terdiam.
Tapi ekspresi Masako tetap datar dan bibir wanita itu tetap terkatup rapat.
Entah datang dari mana, Seijuurou langsung merasa ada yang salah dengan Masako hari ini. Pemuda berambut merah tersebut merasa ada sesuatu yang ingin dikatakan Masako tapi ia urung. Ada sesuatu yang ingin dikatakan wanita itu. Sesuatu yang sepertinya sudah seharusnya diketahui Seijuurou tapi di saat yang sama tak perlu diketahui Seijuurou.
Setelah meletakkan mangkuk serta gelas air putih di atas meja kerja Seijuurou –tak begitu jauh dari laptop milik si sulung yang masih menampilkan hasil pekerjaannya tadi, Masako memeluk nampannya di depan dada lantas memutar posisi hingga menghadap Seijuurou sepenuhnya.
Mata biru gelap Masako tidak memandang Seijuurou dan justru memandang layar laptop Seijuurou yang tengah menampilkan suatu dokumen presentasi. Sepertinya wanita berambut hitam panjang tersebut tengah menimang-nimang pilihan terbaik. Memberitahu atau tidak memberitahu.
Dengan setia Seijuurou menunggu apa pun itu yang ingin diutarakan Masako.
Masako membuka mulut sedangkan Seijuurou –tanpa sadar—menahan napas. Entahlah, mungkin karena sang kepala keluarga Akashi merasa kabar apa pun yang akan terlontar dari mulut Masako akan menjadi kabar buruk.
Alis Masako bertemu di tengah dan mulut wanita tersebut kembali menutup. Sepertinya ia benar-benar sudah menentukan pilihan dan pilihan tersebut membuat Seijuurou tak akan dapat mengetahui apa pun dari wanita di hadapannya.
"Makan supnya, minum obatnya, lalu cepatlah tidur, Tuan. Selamat malam," kata Masako dengan lirih dan terkesan terburu-buru. Seijuurou memberinya satu tatapan inspeksi sebelum akhirnya mengangguk tegas satu kali.
Setelah pintu kamarnya tertutup sempurna dengan suara 'klik' lembut, barulah Seijuurou menyadari kalau sakit kepalanya semakin menjadi hingga membuatnya perlu menunduk dan memijat pelipisnya guna meredakan denyutan mengganggu di kepalanya.
Dalam hati Seijuurou berpikir, seharusnya ia mendengarkan baik-baik nasihat pamannya beberapa bulan terakhir untuk tidak tidur terlalu larut dalam interval yang terlalu sering. Karena, lihatlah akibatnya karena tidak mendengarkan pamannya.
Seijuurou terkena insomnia.
Pemuda berambut merah itu sekarang tidak lagi bisa tidur sebelum jam besar di ruang keluarga mereka berdentang dua belas kali kecuali ketika ia benar-benar lelah, sedang sakit, atau sedang di bawah pengaruh obat.
Tapi sepertinya pengecualian ketiga tidak lagi berlaku karena meski pun ia sudah minum obat yang diberikan oleh Masako, ia tidak kunjung mengantuk. Bahkan setelah lebih dari setengah jam berguling di tempat tidurnya, kantuk yang begitu dinantikan tak kunjung datang. Seijuurou juga sudah mencoba menenggak segelas susu hangat dari dapur karena menurut orang-orang, susu hangat akan membuatmu mengantuk, tapi sekali lagi, semuanya sia-sia saja.
Tapi sisi positifnya, meski obat-obatan yang diberikan Masako tidak berhasil membuatnya terlelap, obat itu berhasil menghilangkan sakit kepalanya dan menurunkan demamnya.
Akhirnya menyerah, Seijuurou bangkit dari tempat tidurnya yang empuk, dan memutuskan untuk mengecek keadaan adik-adiknya sembari menunggu tengah malam datang. Tengah malam hanya berjarak tiga puluh menit lagi dan dari pada ia hanya berbaring di tempat tidurnya menunggu, lebih baik ia melakukan hal lain.
Sembari memutar kenop pintu kamarnya, dalam hati Seijuurou membuat catatan untuk lebih mendengarkan pamannya mulai dari sekarang.
Pemuda berambut merah tersebut malam ini memutuskan untuk mengambil rute yang berbeda dari yang biasanya ia ambil. Jika sebelumnya ia biasa mengunjungi kamar Tetsuya pertama kali, maka sekarang ia akan mengecek kamar Shintarou terlebih dahulu. Berhubung kamar adiknya yang tertua itu adalah yang terdekat dan dalam inspeksi sebelumnya, Seijuurou mendapati adiknya yang berambut hijau lumut tersebut belum tidur meski malam sudah larut.
Berniat membuat kejutan seperti tempo hari, Seijuurou memutar kenop pintu kamar adiknya yang tertua dengan perlahan lantas melongok ke dalam kamar terlebih dahulu untuk memastikan. Ketika mata merah kembar milik si sulung mendapati kalau kamar adiknya masih terang benderang, serta ranjang di kamar adiknya tersebut hanya diisi satu buah guling yang ditutupi selimut dan masih rapi, Seijuurou kontan menahan desakan untuk menghela napas.
Apa sekarang adiknya berniat untuk bersembunyi darinya agar tidak ketahuan lagi? Jika adiknya benar-benar berpikir bisa menipunya hanya dengan satu bantal guling yang diselipkan di bawah selimut, maka anak itu benar-benar salah.
Tidak ada yang bisa menipu seorang Akashi Seijuurou. Tidak. Ada.
Sebelah tangan Seijuurou yang masih bertengger di kenop pintu memberikan pintu tersebut dorongan lembut hingga benda berbentuk persegi panjang tersebut membuka sempurna. Kaki Seijuurou membawa pemuda berambut merah tersebut masuk dan sepasang mata merah sang pemuda langsung menginspeksi isi kamar tersebut.
Ternyata Seijuurou salah paham.
Shintarou sudah terlelap, hanya saja ia tidak terlelap di tempat tidur melainkan di atas kursi meja belajarnya. Kepala berambut hijau lumut miliknya tergeletak di atas meja, sebelah tangannya memegang beberapa lembar kertas yang sudah remuk, sedangkan tangannya yang lain terkulai lemas di samping kepalanya.
Seijuurou hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan adiknya tetapi sebuah senyum mencoreng wajah tampang si sulung. Dengan lembut serta hati-hati, Seijuurou melepaskan kacamata yang masih bertengger di batang hidung adiknya, melipatnya, dan meletakkannya di atas meja.
Sekali lagi, mata merah Seijuurou meneliti wajah adiknya. Sekarang bagaimana caranya memindahkan Shintarou ke atas tempat tidur? Tidak mungkin Seijuurou menggendongnya sampai ke matras. Shintarou sudah terlalu besar untuk bisa Seijuurou gendong seperti Tetsuya. Tanpa sadar Seijuurou menggumam sembari berpikir.
Tepat ketika ia tengah memikirkan cara memindahkan adiknya tanpa membangunkannya, mata merah kembar Seijuurou menangkap kertas-kertas di genggaman adiknya. Penasaran akan apa yang tertulis di kertas itu hingga membuat adiknya jatuh tertidur di atas kursi, Seijuurou pelan-pelan membuka jemari Shintarou yang menggulung di sekeliling kertas tersebut satu per satu.
Hal yang pertama kali menangkap perhatian Seijuurou adalah tanda centang berwarna merah yang begitu mendominasi di setiap kertas yang mana berarti ada begitu banyak jawaban salah dalam kertas tersebut. Hal kedua yang menangkap perhatian si sulung adalah kertas itu adalah kertas ulangan harian.
Bagaimana bisa Shintarou mendapat nilai merah sebanyak ini? Dan lagi, semuanya di bawah lima puluh? Sepanjang sepuluh tahun Seijuurou hidup bersama Shintarou, tak pernah sekali pun Shintarou mendapat nilai merah separah dan sebanyak ini.
Adiknya yang berambut hijau lumut ini tidak bodoh. Lagi pula jika ada materi pelajaran yang tidak ia mengerti, Shintarou pasti akan mendatangi guru atau Seijuurou untuk minta bantuan. Tidak bermaksud untuk menyombong, tapi meski Shintarou tidak sepintar dirinya, Shintarou anak yang rajin hingga bisa selalu berada di peringkat teratas kelas.
Beberapa kemungkinan berputar di otak Seijuurou. Apa minus adiknya bertambah hingga ia kesulitan mengikuti pelajaran? Atau mungkin sudah terjadi suatu kesalahan ketika sang guru menilai kertas ini?
Seijuurou menolak untuk percaya dan akhirnya memindai kertas-kertas di tangannya sekali lagi.
Ketika ia mengecek kolom nama, barulah Seijuurou mengerti. Pantas saja nilai-nilai yang tertera di kertas-kertas tersebut merah semua. Kertas-kertas ini tak lain tak bukan adalah milik Atsushi.
Di satu sisi Seijuurou lega karena dugaannya mengenai Shintarou di sisi lain, Seijuurou bingung harus merasa bagaimana ketika mengetahui kalau kertas-kertas dengan nilai merah di tangannya adalah milik Atsushi.
Mungkin karena sudah terlalu terbiasa melihat nilai merah dan nama Akashi Atsushi bersanding, Seijuurou jadi tak lagi bertanya-tanya kenapa adiknya bisa dapat nilai yang ditulis dengan tinta sewarna rambut si sulung. Ia tak lagi meringis dalam hati tiap kali melihat nilai Atsushi rendah, meski nilainya di bawah sepuluh sekali pun.
Biasanya Seijuurou akan senang ketika dirinya cepat terbiasa dengan suatu hal. Ia bangga malah akan kemampuan beradaptasinya. Tapi kali ini, ia justru tidak ingin terbiasa dengan nilai merah Atsushi. Ia bahkan kesal pada dirinya sendiri yang secara otomatis mulai beradaptasi dengan hal ini.
Tuhan, apa dirinya sudah terlalu lelah hingga ia hanya bisa mengucapkan 'oh' dalam hati ketika melihat angka lima bertengger di kolom nilai ulangan bahasa Inggris Atsushi?
Memang, di Jepang nilai bukan sesuatu yang dijadikan acuan untuk bisa naik kelas. Bahkan isi otak hanya benar-benar diperlukan ketika ujian masuk SMA dan universitas saja. Tapi lantas, bukan berarti Seijuurou bisa bersikap acuh tak acuh mengenai hal ini. Terlebih, Atsushi bersekolah di almamater Seijuurou; SMP Teikou. SMP Teikou tidak hanya terkenal akan ekstrakulikulernya saja tapi juga karena nilai anak-anak didiknya.
Nilai merah Atsushi mulai jadi masalah serius dan Seijuurou berani bertaruh kalau ia membiarkan keadaan sebagaimana adanya lebih lama lagi, maka akan ada surat panggilan orangtua yang dilayangkan oleh pihak sekolah.
Maka sebelum itu terjadi, Seijuurou harus mulai melakukan sesuatu.
"Nngh... Kakak?" Mata merah Seijuurou melebar mendengar dirinya dipanggil. Dengan kecepatan yang sedikit lagi mungkin bisa mematahkan leher, pemuda berambut merah tersebut menolehkan kepalanya pada sang adik yang kini tengah mengusap matanya yang masih tertutup.
Dengan cepat, Seijuurou melipat kertas-kertas di tangannya dan memasukkannya dalam saku depan piyama yang dikenakannya. "Ya?"
Shintarou menolehkan kepalanya ke kanan dan kiri beberapa kali dan setelah menemukan jam, anak berambut hijau tersebut mengeluarkan 'eh' pelan. Sepertinya ia heran sendiri ketika melihat jam hampir menunjukkan pukul dua belas tengah malam. Mungkin ia tidak ingat kalau ia tadi sempat jatuh tertidur.
Tidak diragukan lagi, anak ini masih benar-benar mengantuk.
"Shintarou ketiduran di meja tadi, Kakak baru akan membangunkanmu," jelas Seijuurou tanpa diminta. Shintarou mengangguk satu kali, masih dengan mata yang memicing karena digelayuti kantuk. Anak berambut hijau lumut tersebut hanya menggumam sebagai pengganti 'oh'.
Dengan bantuan Seijuurou, akhirnya Shintarou berhasil mencapai tempat tidur dan langsung menjatuhkan diri di atasnya. Tanpa menunggu waktu lama, Shintarou sudah kembali terlelap. Begitu nyenyaknya anak itu tidur hingga dengkuran halus bisa terdengar dari dasar tenggorokannya.
Sejujurnya, Seijuurou iri melihat betapa mudahnya Shintarou tertidur.
Setelah membetulkan posisi selimut adiknya hingga benar-benar menutupi adiknya yang tertua tersebut, Seijuurou mematikan lampu lantas berjalan keluar dari kamar sembari meraba-raba dinding agar tidak menabrak barang.
Setelah kunjungannya ke kamar Shintarou, Seijuurou berubah pikiran. Memikirkan cara untuk mengeluarkan Atsushi dari jeratan nilai merah kini lebih penting dari pada menunggu tengah malam datang sembari berjalan-jalan mengitari rumahnya.
Begitu seriusnya ia menanggapi nilai-nilai Atsushi hingga sama sekali tak terpikirkan oleh Seijuurou kenapa adiknya yang tertua bisa memegang kertas-kertas ulangan milik adiknya.
Ootsubou Taisuke melirik teman seangkatannya, Miyaji Kiyoshi, lalu kembali ke arah adik kelasnya, Akashi Atsushi, begitu terus berkali-kali selama kira-kira sepuluh menit hingga akhirnya sang kapten basket SMP Teikou menyerah dan mulai menghampiri adik kelasnya yang sering membuat masalah tersebut.
Jika Ootsubou tidak menghampiri adik kelasnya tersebut dan mengajaknya bicara sekarang, maka Miyaji akan dengan senang hati menggantikan dirinya bicara dengan Atsushi dan semua orang tahu kalau definisi 'bicara' kebanyakan orang berbeda dengan definisi 'bicara' milik Miyaji.
Definisi bicara milik Miyaji selalu mengikutsertakan urat dan sedikit intonasi tinggi.
Mengingat sekarang sudah hari ketiga sejak Miyaji mengatakan kalau ia akan bicara dengan Atsushi jika Ootsubou tak kunjung bicara, maka semua orang di klub basket SMP Teikou yakin kalau pemuda berambut cokelat muda tersebut akan menggunakan urat lebih banyak dan intonasi yang jauh lebih tinggi.
Dan itu berarti satu hal; gawat.
Atsushi tengah mengatur napasnya yang tersengal setelah melakukan latih tanding ketika Ootsubou menghampirinya. Anak berambut ungu itu menoleh ke arah sang kapten dan telinga Ootsubou bisa mendengar gumaman 'Hm?' pelan yang keluar dari tenggorokan anak tersebut ketika anak itu menyeka keringat yang ada di dagunya dengan kerah baju.
Ootsubou terdiam. Bicara bukanlah keahliannya. Itulah sebabnya sekarang ia tengah dilanda kebingungan. Bagaimana caranya memulai percakapan dengan Atsushi? Ah, ini semua jadi terasa semakin sulit karena Atsushi tidak seperti Himuro yang lebih banyak bicara.
"Ada sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu, Akashi," Ootsubou membuka pembicaraan. Dengan satu gerakan dagu, ia mengisyaratkan pada adik kelasnya yang berambut ungu tersebut untuk mengikutinya ke pinggir lapangan di mana terdapat bench kosong di sana. Ootsubou duduk di ujung bench sedangkan Atsushi mengikuti dengan duduk di ujung lainnya.
"Apa?"
Melihat kapten tim basket dan salah satu anggota tim terduduk di bench dengan napas yang sedikit memburu dan keringat yang mengalir jelas, manajer tim mereka buru-buru memberikan dua anak tersebut selembar handuk dan sebotol minuman. Ootsubou menerimanya sembari mengucapkan terima kasih sedangkan Atsushi menerimanya dalam diam. Tanpa basa-basi, Atsushi menenggak habis isi botol di tangannya.
"Kau sadar dengan tindakanmu akhir-akhir ini?" tanya Ootsubou dengan sedikit ragu karena ia tidak yakin ini adalah awal yang baik untuk memulai pembicaraan.
Ootsubou bukan tipe orang yang suka bicara berputar-putar, maka dari itulah ketika Atsushi sama sekali tidak memberikan respon apa pun, ia memutuskan untuk langsung saja ke intinya.
"Kau membolos latihan setiap hari—"
"Aku tidak membolos," potong Atsushi. Ootsubou menoleh ke arah anak berambut ungu tersebut. Dengan pandangan lurus ke depan, anak itu melanjutkan, "aku hanya pulang lebih cepat. Itu berbeda."
Dengan susah payah, Ootsubou berhasil menahan desakan kuat dalam dirinya untuk menghela napas frustrasi setelah mendengar jawaban Akashi junior di sampingnya. Tidak bisakah anak itu diam dan mendengarkan apa yang harus Ootsubou katakan?
Ootsubou menelan ludah sesaat, "Baiklah, kau pulang lebih cepat. Kenapa?"
Dalam hati Ootsubou merasa usahanya untuk berbincang dengan Atsushi akan sia-sia saja mengingat bagaimana cueknya anak di sampingnya ini. Atsushi adalah tipe orang yang tidak akan menjawab jika ia memang tidak mau menjawab.
Dan Ootsubou rasa saat ini adalah momen di mana Atsushi tidak menjawab ketika ia memang tidak mau.
"Karena aku mau pulang lebih cepat," jawab Atsushi acuh tak acuh.
Baiklah, dugaan Ootsubou tadi terbukti salah, tapi tetap saja, jawaban anak berambut ungu tersebut benar-benar tidak membantu. Justru jawaban Atsushi membuat Ootsubou semakin kehilangan kesabarannya. Ya Tuhan, jika saja Ootsubou bukan orang yang sabar, mungkin ia sudah meninju wajah polos-cenderung-bodoh juniornya ini.
"Aku tahu kau bohong, Akashi. Jawab dengan benar." Jujur saja Ootsubou sendiri terkejut mendengar nada tajam dalam kalimat yang dilontarkannya barusan. Ia tidak bermaksud untuk bicara setajam itu, tapi karena kata-kata tadi sudah terlanjur meluncur keluar dari mulutnya jadi ya apa boleh buat.
Kali ini perhatian Atsushi berhasil teralihkan pada sang kapten basket. Pandangan mereka berdua bertemu. Hitam bertemu ungu. Kerutan tajam dapat Ootsubou lihat jelas di tengah pertemuan antar alis Atsushi tapi sang pemuda berambut hitam tersebut berani bertaruh kalau ia juga tengah memasang ekspresi yang persis sama.
Entah di bagian mana tapi Ootsubou yakin kalimatnya tadi membuat Atsushi tersinggung. Tapi Ootsubou tidak peduli. Pemuda berambut hitam tersebut sudah mulai kehilangan kesabaran dan ia tidak akan membiarkan Atsushi memegang kontrol atas dirinya lagi.
Kali ini ia yang akan memegang kontrol atas Atsushi.
Sepertinya kali ini Ootsubou memenangkan kontes menatap tajam ini karena setelah beberapa detik, Atsushi mengalihkan pandangannya kembali lurus ke arah teman-teman setim mereka yang tengah berlatih dan mendesis.
Dengan enggan, anak itu menggumamkan jawabannya dengan bibir mengerucut, "Kakakku memberikan batas jam pulang."
Meski sedikit, tapi Ootsubou mengerti maksud Atsushi. Atsushi harus pulang lebih cepat –yaitu sekitar jam setengah enam—karena ia tidak diperbolehkan untuk pulang malam oleh kakaknya. Astaga, ternyata akar permasalahannya sederhana sekali. Seandainya saja Atsushi mengatakan yang sebenarnya lebih awal, keributan serta ketegangan yang sudah menghiasi atmosfer latihan tim basket SMP Teikou tidak perlu sampai terjadi.
Tapi Ootsubou mengerti. Anak itu pasti malu mengatakan pada yang lainnya kalau ia masih dikenakan jam pulang yang begitu cepat meski ia sudah masuk SMP karena itulah ia tidak mengatakan apa pun.
Ootsubou menahan desakan untuk tidak tersenyum geli agar adik kelas di sampingnya tidak salah paham lantas ngambek.
Ketika Ootsubou melayangkan pandangannya pada jam dinding di salah satu sisi gym SMP Teikou dan mendapati bahwa jam tersebut sudah menunjukkan pukul setengah enam kurang lima menit, Ootsubou bergeser mendekati Atsushi dan menepuk bahu anak tersebut.
Atsushi menoleh dan menatap wajah lembut kaptennya dengan pandangan bertanya.
"Baiklah, aku mengerti. Aku mengizinkanmu untuk pulang lebih cepat sekarang tapi setelah ujian nanti, kau harus bicara dengan kakakmu agar diperbolehkan mengikuti latihan seperti yang lain, mengerti?"
Ootsubou memutuskan untuk bersikap sedikit tegas. Ia hanya membolehkan Atsushi pulang lebih cepat untuk sementara saja. Karena jika ia membiarkan Atsushi terus pulang lebih cepat, orang-orang di klub akan berpikir ia menganakemaskan Atsushi.
Anak berambut ungu tersebut mengangguk malas lantas bangkit dan berjalan menuju ke ruang ganti dengan tas tersampir di satu bahu.
Miyaji tersenyum puas ketika melihat teman dekatnya akhirnya punya nyali –oke, koreksi, bersedia—menghampiri Atsushi dan bicara dengannya perihal perilakunya beberapa hari belakangan ini.
Tapi senyuman itu luntur ketika dilihatnya Atsushi bangkit mengambil tasnya dan berjalan perlahan menuju ruang ganti gym mereka setelah bahunya ditepuk oleh Ootsubou. Dan ekspresinya berubah melongo ketika dilihatnya Atsushi berjalan keluar dari gym tersebut.
Kenapa jadi begini?
Miyaji membiarkan Ootsubou menangani ini bukan agar Atsushi semakin bisa pulang seenaknya! Ia melakukannya agar Ootsubou bisa memeringatkan Atsushi sebelum ia sendiri yang turun tangan dan memeringatkan anak itu dengan cara yang lebih mengerikan.
Kesal karena sepertinya sang kapten basket tak menangkap maksud Miyaji, pemuda berambut cokelat muda tersebut melemparkan bola yang semula ia pegang sejajar dada dengan kasar ke sembarang arah. Dengan geram, ia berderap menuju tempat Ootsubou duduk sekarang.
Ootsubou yang tadinya tengah berbicara dengan salah seorang anggota tim basket mereka kontan teralihkan perhatiannya ketika ia merasakan ada cengkeraman yang terlalu kencang pada bahunya. Ketika sang kapten menoleh, ia mendapati Miyaji dengan wajah yang benar-benar tidak bersahabat.
Melihat Miyaji yang begitu garang, anak yang tadinya tengah berbincang dengan Ootsubou langsung mundur teratur. Mungkin takut ketika ia merasakan aura menyeramkan serta tegang yang tiba-tiba memenuhi atmosfer di sekitar mereka.
"Ootsubou, apa maksudnya ini?"
Melihat keadaan Miyaji yang sepertinya sedang benar-benar tidak bisa diajak bercanda, Ootsubou memutuskan untuk tidak pura-pura bodoh dan menanyakan maksud Miyaji.
"Seperti yang kubilang waktu itu, Miyaji. Ia memang punya alasan," jawab Ootsubou sembari berdiri.
Semua anggota tim basket menghentikan apa pun itu yang tadinya tengah mereka lakukan dan menonton drama antara dua anggota tim basket tersebut. Semua orang yang ada di sana terkesiap tertahan ketika Miyaji menggulung jemarinya menjadi tinju.
Semua yang ada di sana menahan napas. Bersiap untuk pendaratan tinju yang mungkin sebentar lagi akan terjadi.
"Baiklah, apa alasannya?"
Anak-anak anggota tim basket mengembuskan napas lega ketika apa yang mereka perkirakan sama sekali tidak terjadi.
"Ia bilang padaku ia harus pulang cepat karena kakaknya memberikannya jam pulang," jawab Ootsubou sembari mengangkat bahu sebagai pengganti kalimat 'jadi apa boleh buat' yang tidak dilontarkannya tadi.
Miyaji menatap Ootsubou dengan kedua mata membulat dan mulut sedikit terbuka. Tak lupa kedua alisnya pun berkerut dalam. Kata 'hah?' yang begitu lirih terdengar keluar dari mulut senior tersebut.
Sesaat kemudian Miyaji tertawa. Keras.
Ootsubou mengangkat kedua alisnya tinggi. Ketika tadi ia memikirkan reaksi apa yang akan dikeluarkan Miyaji ketika mendengar alasan Atsushi, tertawa sama sekali tak masuk ke dalam daftar reaksinya.
Ini benar-benar... mengejutkan.
Tapi jika didengar lebih seksama, tawa yang Miiyaji keluarkan saat ini sama sekali tidak terdengar seperti tawa senang ketika mendengar suatu lelucon yang lucu. Tawa pemuda berambut cokelat itu terdengar lebih seperti... tawa yang dikeluarkan untuk meledek dan terkesan dipaksakan.
Ootsubou baru akan membuka mulut ketika tiba-tiba saja kerah bajunya ditarik begitu cepat hingga membuatnya terkejut setengah mati. Pelakunya tentu saja tak lain dan tak bukan adalah Miyaji Kiyoshi. Dari jarak sedekat ini, Ootsubou bisa melihat begitu jelas –bahkan bisa menghitung—kerutan yang ditimbulkan alis cokelat milik Miyaji.
"Jam pulang? Jangan membuatku tertawa!" kata Miyaji dengan intonasi tinggi. Meski Ootsubou adalah seorang pecinta damai dan sama sekali tak suka ketika ada orang berteriak di wajahnya persis seperti yang tengah dilakukan Miyaji sekarang ini, Ootsubou tahu lebih baik diam saja.
Miyaji mendesis kesal.
"Anak itu sudah SMP, Ootsubou! Dan lihat badan dan kekuatannya! Anak itu tidak akan diberi posisi sebagai center kalau dia tidak seperti itu!" Miyaji mulai menunjuk-nunjuk pintu keluar gym yang tadi dilalui Atsushi. "Dia pulang jam sepuluh sekali pun, tidak akan ada yang berani mengganggunya. Dia membohongimu, Ootsubou, dan kau... astaga, bagaimana bisa kau termakan kebohongannya?"
Ekspresi Ootsubou yang semula datar, kini berubah-ubah antara sendu, kesal, dan datar. Mungkin sebagian dirinya ingin membalas Miyaji, tapi sebagian yang lain merasa kalau Miyaji ada benarnya, dan sebagian kecil yang lain dari dirinya merasa bersalah.
Melihat Ootsubou yang sama sekali tidak bereaksi –astaga, membuka mulut saja tidak—Miyaji mendesis kesal sekali lagi dan melepaskan cengkeramannya di kerah Ootsubou dengan kasar. Sembari sebelah tangannya mengusap bagian belakang kepala, Miyaji berjalan menjauh.
Sudah cukup. Miyaji Kiyoshi sudah tidak mau tahu lagi.
Jason Silver mengerutkan keningnya melihat kelakuan Atsushi hari ini. Kemarin Jason mengira mereka sudah menandatangani pernyataan damai dan anak berkulit hitam itu mengira sekarang mereka sudah menjadi teman-cenderung-rival. Jason berpikir seperti itu karena kemarin mereka sudah bermain street basketball bersama hingga setengah tujuh malam.
Jadi, kenapa sekarang anak itu bersikap kasar dengannya seperti saat mereka belum berteman?
Memang, mereka tengah bermain basket bersama sekarang di taman tempat mereka biasa bertemu. Tentu saja bola yang mereka gunakan adalah bola milik Jason, karena Atsushi berpikir membawa-bawa bola itu terlalu merepotkan. Mereka juga main one-on-one sama seperti kemarin.
Tapi hari ini, tembakan Atsushi sepertinya menggunakan kekuatan yang sedikit lebih besar dari seharusnya hingga ia terus-terusan meleset ketika menembak, lompatan Atsushi terkesan setengah hati hingga ia bisa jatuh dengan mudah ketika berebut bola dengan Jason di bawah ring.
Jika anak berambut ungu itu bermain seperti ini, basket jadi terasa tidak menyenangkan!
Jason mendesis ketika ia membawa sampai di depan ring yang dijaga Atsushi. Di hadapannya telah berdiri Atsushi yang berdiri dengan kuda-kuda bertahan. Tangan anak itu terentang lebar seakan tengah mengundang Jason untuk mendekat.
Dan wajahnya... wajah anak anak itu terlihat seperti tengah mengajak Jason bertengkar.
Jason menghentikan larinya dan sesaat kemudian ia telah melemparkan bola di tangannya tepat mengenai wajah Atsushi. Anak ketiga keluarga Akashi tersebut mengerang kesakitan sembari mengusap-usap hidungnya.
Lihat? Bahkan lemparan yang muda ditahan seperti itu saja tidak bisa Atsushi tahan apaa lagi hindari!
"Apa masalahmu?" tanya Atsushi galak sembari mendelik ke arah anak berkulit hitam di hadapannya. Sebelah tangannya masih sibuk mengusap ujung hidungnya yang sekarang mulai kelihatan merah. Sejujurnya, hampir seluruh wajahnya terlihat merah akibat terkena lemparan bola tadi.
Jason balas menatap tajam Atsushi.
"Harusnya aku yang bertanya seperti itu! Apa masalahmu? Kau bermain payah!" seru Jason tak kalah garang dengan Atsushi tadi. Hah, Jason bukan tipe orang yang akan terima begitu saja ketika diteriaki oleh orang lain. Jason Silver adalah tipe orang yang akan berteriak balik ketika diteriaki orang.
Atsushi terdiam. Mungkin anak itu menyadari kalau Jason benar. Anak itu mengalihkan mata ungu miliknya ke hal lain selain Jason yang tengah berdiri di hadapannya dengan ekspresi masam. Tak berapa lama kemudian, kata 'maaf' lirih terdengar keluar dari mulut Atsushi.
Jason mendengus.
Anak berambut perak tersebut memungut bola basket yang tadi digunakannya untuk melempari Atsushi dan berjalan menuju ke pinggir lapangan.
"Hei, kau mau ke mana?" seru Atsushi. Meski hidung anak itu sama sekali tak mengeluarkan darah, tangan Atsushi masih tetap setia bertengger pada hidungnya.
Jason memutar mata. Ia tidak melempari Atsushi sekeras itu, pastinya hidungnya sudah tak lagi terasa sakit sekarang tapi anak itu tetap bersikeras memegangi hidungnya seakan jika tidak dipegangi maka hidungnya akan lepas dan jatuh.
Dasar anak manja, pikir Jason.
Jason menjatuhkan diri di atas kursi taman di sisi lapangan basket –tempat di mana tas-tas mereka tergeletak terlupakan—dan mulai merogoh tasnya. Setelah beberapa saat mencari, tangan hitam anak itu mengeluarkan satu botol plastik berisi air dan menenggaknya.
"Aku malas main. Permainanmu hari ini lebih parah dari monyet."
Atsushi menggeram tapi itu sama sekali tak menggoyahkan nyali Jason. Anak berkulit hitam itu hanya menyeka sisi bibirnya yang basah sehabis menenggak minum. Sebelah tangan hitam anak keturunan Amerika tersebut menggoyangkan botol minumnya. "Jadi... apa yang mengganggumu?"
Atsushi menoleh ke arah Jason. Wajah anak berambut ungu itu menampilkan ekspresi jijik. Detik itu juga, Jason benar-benar ingin membenamkan tinjunya di wajah menyebalkan Atsushi. Sebenarnya, Jason bukan tipe pendengar yang baik, jadi ketika ia menawarkan untuk mendengarkan masalah orang lain, lebih baik orang itu menghargainya!
Jason menggeram dari dasar tenggorokannya dan kembali mengangkat botol minumnya. "Kalau tidak mau ya sudah. Dasar, monyet tidak tahu terima kasih!"
Atsushi mendengus menahan tawa dan hal itu sukses menghentikan Jason yang hendak menenggak isi botol minumnya lagi. Kelopak matanya jatuh hingga menutupi sebagian mata ungu miliknya.
"Sebentar lagi Winter Cup dimulai—"
"Dan aku akan mengalahkanmu lagi saat itu," Atsushi melemparkan tatapan tajam terbaiknya pada Jason. Jason memutar bola matanya, "oke, baiklah, lanjutkan."
"dan orang-orang jadi semakin mengekangku, dan menyuruhku ini-itu," Atsushi mengalihkan pandangannya pada tanah di bawah kakinya. Tanpa sadar anak itu menyipitkan matanya dan memandang tajam tanah tersebut hingga jika tatapan bisa melubangi benda, pastilah tanah di bawahnya sudah berlubang.
Jason tertawa keras tiba-tiba. Sama seperti kemarin, Atsushi ingin sekali memukul ubun-ubun kepala anak berkulit hitam tersebut karena sudah membuat mereka berdua menjadi pusat perhatian dadakan.
"Itulah bedanya dewa sepertiku," Jason menunjuk dirinya sendiri dengan dagu terangkat lalu telunjuknya beralih pada Atsushi, "dengan monyet sepertimu."
Jika sejak tadi Jason lah yang memutar bola matanya, maka sekarang giliran Atsushi yang melakukannya. Jason anak yang menyenangkan untuk diajak main basket one-on-one, sungguh. Hanya saja kesombongan dan kenarsisannya lama-lama membuat perut Atsushi mual.
Anak keturunan Amerika di samping Atsushi ini benar-benar perlu memperbaiki hal itu.
"Dewa sepertiku, tidak mendengarkan perintah orang lain, tidak membiarkan orang lain mengekangku. Dan karena aku sedang berbaik hati," Jason menangkap leher Atsushi dalam satu rangkulan erat, "biar kuberitahu kau satu hal. Kau kuat, Atsushi. Jadi jangan biarkan orang lain yang lebih lemah darimu memerintahmu sesuka mereka."
"Kau ini terlalu baik, Atsushi. Melawanlah sedikit."
Jason melepaskan rangkulannya di bahu Atsushi dan bergeser sedikit menjauh dari sang anak berambut ungu yang tengah terdiam. Selanjutnya sepasang telinga Atsushi tak lagi mendengarkan ocehan Jason mengenai hari yang terasa begitu panas meski sekarang sudah mau musim dingin.
Oke, Atsushi tidak pernah memikirkan hal yang dikatakan Jason sebelumnya. Jangan dengarkan orang lain dan melawan, ya? Kedengarannya bagus juga...
"Katakan, Masako-san, apa kemarin pertama kalinya Atsushi pulang terlambat?" tanya Shintarou. Masako meletakkan segelas air putih dingin di atas meja di hadapan anak berambut hijau lumut tersebut dan langsung disambut dengan senang hati oleh Shintarou. Dalam beberapa kali tegukan, air dingin dalam gelas bening yang diberikan Masako tadi langsung habis.
Shintarou baru saja pulang dan karena haus yang teramat sangat, ia bergegas menuju ke dapur. Tak disangka ia menemukan sang kepala pengurus rumah yang tengah memasak untuk makan malam mereka hari ini; hamburger.
Setelah mengambil tempat duduk tepat di seberang konter, Shintarou memutuskan untuk menanyakan hal yang membuatnya sengaja pulang cepat hari ini pada Masako.
Wanita paruh baya tersebut beranjak mengambil satu lap basah dan mulai mengelap permukaan kompor gas yang tadi digunakannya untuk memasak hamburger. Tanpa membalikkan badannya untuk menghadap anak kedua keluarga Akashi tersebut, ia menjawab.
"Anak itu selalu pulang terlambat. Tapi tidak pernah selambat kemarin," jawab Masako setelah beberapa saat diam. Wanita paruh baya tersebut berpikir, tidak ada gunanya juga ia berbohong di hadapan Shintarou. Toh, Shintarou sudah melihat sendiri kemarin.
Shintarou diam. Sebelah tangannya terangkat mendorong gagang kacamatanya yang sebenarnya baik-baik saja
Selama ini, Atsushi selalu pulang ke rumah tepat jam setengah enam petang dari sekolah meski anak itu selalu pergi dengan enggan. Jadi bagaimana bisa ia sampai di rumah begitu terlambat? Shintarou kembali teringat kata-kata Seijuurou ketika mereka main shogi bersama tempo hari di mana Seijuurou berkata ia yakin Atsushi pasti akan mampir dulu sebelum pulang.
Kata-kata kakaknya waktu itu terbukti benar. Tapi yang jadi permasalahan sekarang adalah anak berambut ungu itu mampir ke mana hingga perjalanan pulangnya memakan waktu satu jam lebih? Memangnya ia pergi ke kota sebelah hingga bisa pulang selambat itu?
"Kenapa Masako-san tidak pernah mengatakan pada kami kalau ia selalu pulang terlambat?" tanya Shintarou. Sebelah tangannya ia gunakan untuk memutar-mutar bibir gelas yang tadi dipakai sebagai wadah air putih yang diminumnya sedangkan tangannya yang lain terlipat di atas permukaan konter dapur.
"Karena aku tidak mau membuat kalian khawatir..." jawab Masako. Gerakan tangannya yang tengah mengelap tempat memasaknya tadi pun terhenti. Ia menoleh sedikit ke arah Shintarou tapi tak cukup untuk membuat Shintarou bisa melihat batang hidung wanita itu. Sesaat kemudian ia beralih ke bak cuci piring dan mencuci lap yang tadi digunakannya.
Sedikit-banyak, Shintarou bisa mengerti alasan Masako. Jika ia ada di posisi Masako sekarang ini mungkin ia juga tidak akan memberitahu yang lain. Terlebih pada Seijuurou.
Ah ya, Seijuurou.
Apa pun yang terjadi si sulung tidak boleh mengetahui apa pun soal ini. Ia tak boleh tahu kalau adiknya yang berambut ungu itu sudah benar-benar jadi pembangkang. Tak peduli bagaimana sulitnya, Shintarou sudah bertekad akan menyelesaikan masalah ini sendiri. Ia bertekad ia akan meringankan beban kakaknya. Shintarou memutuskan, ia dan adik-adik Seijuurou yang lain sudah cukup menyita kebahagiaan Seijuurou, jadi mereka tidak perlu lagi memberatkan kakak sulung mereka.
Seijuurou sudah punya sekolah, pekerjaan, dan rumah untuk dikhawatirkan. Adik yang pembangkang tidak seharusnya masuk dalam daftar hal yang perlu dipikirkan olehnya. Jika Seijuurou sampai tahu hal ini, bisa-bisa insomnianya bertambah parah karena khawatir juga karena ia memikirkan cara agar Atsushi lebih patuh.
"Aku mengerti," sahut Shintarou. Sekali lagi, Masako menghentikan pekerjaannya untuk tersenyum lembut ke arah tuannya sesaat sebelum kembali melanjutkan pekerjaannya. "Ah ya, Masako-san, tolong, apa pun yang terjadi, jangan sampai Kakak tahu soal ini. Aku ingin menyelesaikannya sendiri. Dan, uh, ngomong-ngomong, apa Masako-san melihat kertas-kertas ulangan yang ada di mejaku?"
"Apa yang tidak boleh kuketahui dan apa yang ingin kau selesaikan sendiri, Shintarou?" Shintarou menahan napas ketika suara yang begitu dikenalnya itu memasuki pendengarannya. Darah anak berambut hijau lumut tersebut terasa seperti membeku detik itu juga. "Dan jika yang kau maksud adalah kertas ulangan Atsushi, semuanya ada pada Kakak."
Oh, Tuhan, kenapa dari tiga ratus enam puluh lima hari yang ada dalam setahun, kakaknya memutuskan untuk pulang cepat hari ini?
"Kak, apa terjadi sesuatu?"
Pertanyaan yang dipenuhi nada khawatir yang dilontarkan Tetsuya membuat Seijuurou tersentak dari lamunannya. Pemuda berambut merah tersebut mengangkat dagunya karena terkejut mendengar pertanyaan Tetsuya sebelum ujung hidungnya ia benamkan kembali di rambut biru lembut si bungsu.
"Hmm, kenapa Tetsuya berpikir telah terjadi sesuatu?" tanya Seijuurou lantas menumpukan dagunya di puncak kepala sang adik termuda. Tetsuya melepaskan diri dari pelukan si sulung dan membalikkan badan.
Mata biru muda bulat miliknya menatap Seijuurou tepat di mata dan entah kenapa Seijuurou jadi merasa tengah diinterogasi oleh petugas keamanan. Tapi bedanya, jika petugas keamanan menginterogasinya langsung dengan kata-kata, maka adiknya melakukannya dengan tatapan semata.
Alis biru muda anak itu mengerut hingga bertemu di tengah. Salah satu cara anak tersebut untuk mengekspresikan ketidaksukaannya.
"Karena Kakak sama sekali tidak merespon ketika Tetsuyacchi bercerita-ssu," sahut Ryouta yang tengah terkapar dengan posisi telentang di atas sofa untuk tiga orang tak jauh dari posisi si bungsu dan si sulung. Sesaat kemudian anak berambut kuning tersebut berguling hingga kini ia berbaring di atas perutnya dan menatap Seijuurou yang menatap adik-adiknya bergantian dengan alis terangkat.
Benarkah ia melakukan itu?
"Kakak tidak akan mengacuhkan kami seperti itu kecuali kalau Kakak sedang ada pikiran-ssu. Betul, kan, Daikicchi?" tanya Ryouta sembari menolehkan kepalanya pada Daiki yang tengah berbaring di atas sofa untuk dua orang dengan posisi kepala bersandar di sandaran tangan dan kaki menggantung di sisi lainnya karena badannya sudah terlalu panjang untuk bisa muat di sofa tersebut.
Daiki sama sekali tidak menanggapi Ryouta dan justru fokus mengagumi sekelompok perempuan –atau yang dikenal sebagai idol group—bernyanyi dan berpose di layar kaca. Ryouta hanya bisa ngambek dan berkata 'berhenti mengacuhkanku, Daikicchi!' karena ada meja kopi membatas mereka tepat di tengah. Jika tidak ada meja kop, tangan Ryouta pasti sudah melayang ke arah sang adik.
Kali ini Daiki hanya menggumam. Ryouta pun menyerah.
Anak berambut kuning tersebut kembali mengalihkan perhatiannya pada si sulung yang sejak tadi menjadi penonton bisu interaksi mereka berdua.
"Jadi, apa yang sedang mengganggumu, Kak Seijuuroucchi?" tanya Ryouta. Sebelah tangan anak itu mengalasi dagunya dari sofa sedangkan tangannya yang lain menggantung ke lantai. Tetsuya mengangguk mengiyakan kata-kata sang kakak berambut kuning.
Dalam keadaan normal, Seijuurou akan merasa sangat tersentuh melihat betapa pedulinya adik-adiknya padanya. Tapi sekarang bukan keadaan normal. Hah, bagaimana keadaan ini bisa dikatakan normal? Sekarang sudah jam tujuh lewat, dan Atsushi sama sekali belum pulang!
Tidak ada pesan singkat mau pun telepon yang bisa menunjukkan Seijuurou di mana anak itu berada sekarang. Teman-teman setimnya tidak ada yang tahu adiknya yang berambut ungu itu pergi ke mana –mereka bilang Atsushi sudah pulang sejak jam setengah enam tadi—, Himuro juga sama sekali tidak bisa membantu karena ia sama tidak tahunya dengan Seijuurou sendiri.
Lalu, ketika ia baru pulang tadi, ia mendengar pembicaraan Shintarou dan Masako di dapur dan setelah membujuk –atau lebih tepatnya memaksa—mereka untuk bercerita, Seijuurou akhirnya tahu kalau selama ini, Atsushi hanya mematuhi peraturannya selama dua hari lantas anak itu menjadi pembangkang.
Khawatir tak lagi bisa mendeskripsikan apa yang dirasakan Seijuurou saat ini karena memang bukan hanya emosi itu saja yang dirasakan si sulung. Cemas, takut, kesal, dan bingung sudah bercampur menjadi satu campuran aneh yang menggelayut di dadanya hingga menciptakan suatu perasaan berat.
Ya Tuhan, ia pulang ke rumah lebih cepat hari ini tujuannya adalah untuk bisa mengajari Atsushi materi-materi yang tidak dimengerti anak itu, tapi kenapa justru ini yang didapatkannya?
Sekarang adik-adiknya bertanya apa ada yang salah dan jujur Seijuurou tidak tahu harus menjawab apa. Oke, perbaikan, ia bukannya tidak tahu harus menjawab apa. Akan lebih tepat jika dikatakan kalau ia tidak mau mendeskripsikan apa yang tengah ia rasakan di momen ini.
Ia merasa yang perlu adik-adiknya lakukan adalah bermain, bersenang-senang, dan belajar. Intinya si pemuda berambut merah ingin adik-adiknya menikmati masa kecil mereka semaksimal mungkin. Adik-adiknya tidak perlu tahu apa yang harus dihadapi Seijuurou hanya agar mereka bisa menjalani kehidupan yang mereka rasakan sekarang ini.
Tentunya mereka juga tidak perlu tahu betapa lelahnya fisik dan batin Seijuurou akibat mengurus mereka semua sekaligus hanya dengan bantuan Masako dan Teppei.
Seijuurou mendengus untuk menggantikan helaan napas panjang yang tadinya akan keluar dari mulutnya. Ia memutuskan untuk tidak jujur pada adik-adiknya. Lagi.
Anak sulung keluarga Akashi tersebut menggeleng lantas memeluk Tetsuya sekali lagi hingga punggung kecil anak usia lima tahun tersebut bertemu dengan dadanya dan mata merah kembar berbinar lembut miliknya bertemu dengan mata berbinar penasaran milik Ryouta.
"Kakak tidak apa-apa, sungguh. Terima kasih karena sudah khawatir," ketika pandangan skeptis diterimanya dari Ryouta, Seijuurou terkekeh dan mengulurkan sebelah tangannya guna mengusap kepala Ryouta lembut, "Kakak tadi hanya memikirkan tugas sekolah yang tadi siang diberikan guru Kakak. Tugasnya sedikit rumit."
Ryouta mengembuskan napas keras melalui hidung, mengangkat bahu lantas memutar posisi tubuhnya lagi hingga anak itu kini telentang kembali di atas sofa. Tak butuh waktu lama bagi anak itu untuk bertengkar lagi dengan Daiki karena saluran televisi.
Ketika Seijuurou menyadari tubuh Tetsuya terasa kaku di pelukannya, si sulung sadar kalau Tetsuya masih belum percaya dengan alasan setengah hati yang dilontarkannya. Jadi Seijuurou mengeratkan pelukannya di pinggang anak itu dan mencium ubun-ubun kepalanya. Seijuurou menolak untuk menjauhkan kepalanya dari puncak kepala sang adik dan kesempatan itu justru ia gunakan untuk menghirup aroma shampoo anak yang digunakan Tetsuya.
"Kakak tidak bohong, Tetsuya."
Maaf Kakak bohong.
"Jadi, tadi Tetsuya sedang menceritakan apa? Bisa tolong ulangi?"
Tetsuya terdiam sesaat sebelum akhirnya menghela napas –Seijuurou heran, bagaimana bisa di usianya yang baru lima tahun, Tetsuya terkadang bisa terkesan begitu dewasa?—dan mengulangi ceritanya mengenai bagaimana ia tadi pagi belajar mengenai pelangi di TK.
Untunglah adik-adiknya sukses tertipu karena jika tidak, Seijuurou tidak tahu harus mengatakan apa lagi.
Perlahan-lahan, suara cempreng Tetsuya tak lagi memasuki lubang telinga Seijuurou. Tak peduli seberapa besar usahanya untuk mengusir rasa cemas dalam hatinya, perasaan itu tetap bersikeras untuk menetap dan mengakar di hati Seijuurou.
Padahal biasanya bercengkerama dengan adik-adiknya bisa membantu mengusir segala lelah serta perasaan negatif dari diri Seijuurou, padahal biasanya memeluk Tetsuya seperti sekarang ini bisa membantu menenangkannya, padahal biasanya mendengar Ryouta dan Daiki adu mulut karena hal kecil justru bisa membuatnya rileks, tapi sekarang semua hal tadi tidak memberi efek positif apa pun pada Seijuurou.
Diam-diam mata merah Seijuurou melirik jam. Sudah jam tujuh lewat sepuluh dan Shintarou –yang sekarang tengah bersama Masako dan tengah sibuk menelepon ke sana ke mari demi mencari tahu keberadaan Atsushi—belum juga menghampirinya dan memberinya kabar baik.
Seijuurou bersumpah kalau lima menit lagi Atsushi belum pulang juga, Seijuurou akan—
"Aku pulaaang."
Mata merah Seijuurou membulat dan tanpa sadar pemuda berambut merah itu menahan napas. Sepasang telinga Seijuurou menangkap suara langkah kaki yang berat serta suara rahang yang tengah mengunyah lantas pemuda berambut merah itu pun menolehkan kepalanya ke arah pintu ruang keluarga.
Rambut ungu adalah hal pertama yang disadari Seijuurou lalu tubuh tinggi dan yang terakhir disadari Seijuurou adalah wajah polos sang adik yang tengah mengunyah sebungkus keripik kentang. Anak ketiga keluarga Akashi tersebut seakan sama sekali tak sadar kalau ia telah membuat kedua kakak serta kepala pengurus rumah mereka cemas setengah mati.
Seijuurou membuka mulut, hendak mengatakan sesuatu. Tapi tak ada satu kata pun keluar dari bibirnya. Barulah Seijuurou sadar, ia sama sekali tidak tahu harus berkata apa.
Astaga, Seijuurou bahkan tak tahu harus merasa bagaimana ketika melihat adiknya satu itu. Lega? Jelas. Tapi di saat yang sama ada perasaan buruk yang mengetuk-ngetuk pintu hati Seijuurou. Di momen itu, Seijuurou terlalu terpaku melihat adiknya hingga sama sekali tak menggubris perasaan buruk tersebut.
Pernahkah kalian merasa begitu cemas, begitu panik, hingga tanpa sadar emosi kalian jadi tak terkendali? Begitu takutnya kalian sesuatu yang buruk akan terjadi hingga lama-kelamaan tanpa sadar rasa takut itu kalian alihkan menjadi amarah?
Itulah yang kini dirasakan Seijuurou. Marah adalah perasaan buruk yang tengah mengetuk-ngetuk pintu hati Seijuurou. Begitu menyadari amarah tengah berusaha menguasai hatinya, sekuat tenaga, si sulung berusaha untuk merantai kemarahan tersebut agar tak sampai menyelimuti hatinya.
"Eh, Kakak sudah pulang?"
Dan satu pertanyaan polos itu membuat pertahanan Seijuurou runtuh. Rantai yang digunakannya untuk mengekang kemarahannya hancur menjadi debu dan tertiup angin. Dengan tenang –tapi tenang yang mencekam seperti tenang sebelum badai—Seijuurou berbisik di telinga Tetsuya untuk duduk di dekat Ryouta.
Merasakan aura berbahaya keluar dari si sulung, si bungsu pun menurut dan segera beranjak.
Seijuurou berdiri menghadap Atsushi, dan menatap sang adik kedua dengan dagu terangkat. Perbedaan tinggi mereka sama sekali tak mengganggu Seijuurou. Pandangan mata merah pemuda tersebut terlihat begitu berbahaya hingga Daiki menelan ludah karena tegang sekaligus takut.
"Kenapa jam segini baru pulang, Atsushi?" tanya Seijuurou dengan nada berbahaya. Seakan ia tengah mencoba untuk tak marah-marah dan mengomeli Atsushi tepat di sana sekarang juga.
Ryouta menyadari tangan si sulung yang mengepal begitu erat di kedua sisi tubuhnya hingga telapak tangan Seijuurou berubah putih. Tanpa sadar si anak berambut kuning meraih Tetsuya di sampingnya dan memeluknya erat karena takut.
Sepanjang mereka hidup seatap dengan Seijuurou, baru kali ini mereka melihat Seijuurou marah seperti ini.
Dalam hati, ketiga adik Seijuurou yang termuda tersebut membuat catatan untuk tidak membuat kakak sulung mereka marah.
Atsushi mengalihkan matanya dari Seijuurou dan justru menatap satu foto besar yang menggambarkan mereka berenam tengah tersenyum yang dipajang di salah satu dinding ruang keluarga. Atsushi sama sekali tidak menjawab.
"Lihat aku ketika aku bicara padamu, Atsushi," Butuh usaha keras bagi Seijuurou untuk tidak menaikkan intonasinya ketika sang adik kelihatan sama sekali tak ingin merespon. "Bisa lihat jam? Jam berapa sekarang? Jawab. Aku."
Atsushi, masih tidak ingin bertemu pandang dengan Seijuurou, akhirnya buka mulut, "jam tujuh lewat tiga belas menit?"
"Dan jam berapa Kakak menyuruhmu pulang kemarin?"
Mendengar jawaban adiknya membuat Seijuurou melembut sedikit. Seijuurou yang awalnya menggunakan 'aku' sebagai kata ganti orang pertama, kini mengubahnya kembali menjadi 'kakak' seperti yang biasa ia gunakan.
Atsushi diam seribu bahasa. Seijuurou merasa mungkin anak itu sedikit merasa bersalah juga.
"Atsushi, Kakak memintamu untuk pulang jam setengah enam BUKAN jam tujuh lewat seperti ini—"
"Aku sudah besar, Kak," potong Atsushi dengan nada sama berbahayanya dengan Seijuurou. Anak berambut ungu tersebut sukses mendiamkan si sulung. "Kalau Kak Shintarou dibolehkan pulang jam setengah tujuh lebih, aku juga mau jam pulang yang sama sepertinya."
Kali ini Atsushi meniru apa yang dilakukan Seijuurou, mengangkat dagu dan menatap Seijuurou seakan sang kakak adalah orang rendahan yang tak pantas mengatur dirinya. Bagi orang lain, mungkin Atsushi terlihat menakutkan, tapi Seijuurou sama sekali tidak melihat itu.
Kemarahan Seijuurou memuncak. Jika ada hal yang tidak disukai Seijuurou, maka hal itu adalah dibantah.
"Jangan bercanda. Mana mungkin akan kuizinkan itu," jawab Seijuurou dengan alis berkerut dalam.
Tepat ketika itu Shintarou muncul di depan pintu. Anak berambut hijau lumut itu baru saja akan menanyai adiknya yang berambut ungu ketika dilihatnya sang kakak berambut merah tengah menatap Atsushi dengan tatapan mematikan.
Shintarou akhirnya hanya terdiam dengan sebelah tangan memegang kusen pintu.
Atsushi mendesis mendengar jawaban sang kakak. Alis ungunya berkerut dalam. Lagi-lagi sama seperti si sulung. Ekspresi wajah anak itu berubah dari merendahkan menjadi menantang. Sesaat kemudian, kedua mata anak tersebut menyipit.
Anak berambut ungu itu memutuskan kontak mata dengan Seijuurou, lantas ia berbalik dan berjalan menjauh dari si sulung. Shintarou bergeser satu langkah ke samping untuk memberikan ruang bagi adiknya untuk lewat.
Seijuurou baru membuka mulut untuk menahan Atsushi ketika anak itu berhenti di depan pintu.
"Aku tidak mau mendegarkan orang yang sering pulang telat ke rumah. Aku akan pulang kapan pun aku mau."
Masa pemberontakan! Yay or nay? maaf ya ini chap panjang banget (9.700 words!), aku kebablasan...
Btw, APPY PUBLISH(?)DAY Multi-Roled Brother! Gak terasa fic ini umurnya udah setahun hehehe dari jaman aku gak tidur lagi abis sahur karena takut telat bangun buat sekolah sampe sekarang aku libur berbulan-bulan nunggu ajaran baru mulai dan tentu aja terima kasih buat kalian para reader, reviewer, juga yang udah nge-fav dan nge-alert fic ini karena kalian udah setia nemenin aku selama setahun penuh!
berhubung ada yang nanya (lagi), jadi bakal aku tegasin (lagi) kalo di fic ini, pembacaku sayang, GAK ADA BL-nya dan masalah Daiki itu dipending, sekarang keliatannya emang baik-baik aja tapi nanti PASTI bakal diungkit lagi. Thanks untuk pengertiannya.
balesan review buat yang gak login:
Kise Kairi:: Thank you very much! I can't say I won't let you down but I'll try! :)
Chae121:: Yap, gak apa-apa kok, yang penting kamu baca dan mendukung. Benarkah begitu? Ah, aku tersanjung, makasih atas pujiannya!
Guest:: seperti yang kubilang di atas, di sini gak ada sho-ai, makasih :)
BerharapTinggi:: Kyaaa aku seneng banget deh dapet pujian darimu! Aku langsung gak berenti senyum. Itu gantung karena belom selesai, beb, nanti bakal diungkit lagi kok, tenang aja! Hahaha di chap ini dia makin nyebelin tuh :))
PenggemarFanficmu:: Masa sih segitu bagusnya? Awww, aku seneng banget! Thank you very much! GBU too :D
Asahina Julie:: sabar-sabar aja ya kalo sama aku, soalnya aku mah gitu orangnya(?) update-nya suka-suka hahaha. Btw kalian lucu banget lo hahaha aku sampe ketawa-ketawa gak jelas baca review dari kalian! Makasih reviewnya ya!
Guest yang review tanggal 7 Juni:: ini udah lanjut ;)
buat user, seperti biasa, balesannyaa di inbox masing-masing ;)
Special thanks to: Fryllabrille201, Harumia Risa, Keys13th, Guest, devi no kaze, PinKrystal, sakazuki123, Eqa Skylight, tetsuya kurosaki, Caesar704, Asahina Yuuhi, DyoKyung-Stoick, momonpoi, Asahina Julie, Noir-Alvarez, WhiteIceCream, KamisoraInazumi-chan, PenggemarFanficmu, BerharapTinggi, Guest, Akashi Reru, Chae121, kim. ariellink, AoKeisatsukan, Kise Kairi, HaniHaniko19, yuri. sweetyoja, Plum Fox, Choi Chinatsu, Uchiha Adis, eunheeya, lisette. kizakura, Saaya. RKN27, exodshun.
Sekali lagi, Happy PublishDay Multi-Roled Brother! And please review?
