Kuroko no Basuke hanya milik Fujimaki Tadatoshi seorang.
Cerita ini hanya milik saya seorang.
Warning: AU, Nice & not-so-perfect! Akashi, brotherly love! a lot of it I think, cuteness ahead(?), alur kecepetan, half-assed chapter, OOC, typo, DLDR!
pengingat mulai chapter ini:
Seijuurou = 16 tahun
Shintarou = 13 tahun
Atsushi = 12 tahun
Ryouta = 10 tahun
Daiki = 9 tahun
Tetsuya= 5 tahun
Enjoy!
Chapter 14: As a Teen, Heartbroken
Ibu jari Himuro menyapu layar ponsel pintarnya guna bisa melihat pesan yang baru diterimanya hingga selesai. Mata kelabu miliknya meneliti isi pesan tersebut dan tanpa sadar bibir anak itu melepaskan satu embusan napas lega.
Pesan yang baru saja diterimanya adalah dari Seijuurou, kakak Atsushi, yang kurang dari sejam lalu menanyakan keberadaan Atsushi padanya dan mengatakan pada sang anak berambut hitam kalau Atsushi belum juga sampai di rumah.
Jika isi pesan yang sebelumnya berisi kekhawatiran, maka pesan yang baru dibaca Himuro berisikan kelegaan karena tersebut di sana kalau Atsushi sudah sampai di rumah dalam keadaan sehat tanpa kurang suatu apa pun dan Himuro tidak perlu khawatir. Tak lupa kakak Atsushi yang berambut merah itu menyebutkan rasa terima kasihnya pada Himuro karena anak berambut hitam tersebut sudah bersedia diganggu ketika tengah latihan basket.
Himuro memasukkan ponselnya ke saku celana dan memutar kenop pintu depan apartemen yang ditinggalinya bersama Alex.
"Aku pulang," seru Himuro bersamaan dengan terbukanya pintu di hadapannya. Mata kelabu anak itu melebar ketika dilihatnya apartemennya gelap gulita. Malam sama sekali belum larut jadi tidak mungkin Alex sudah tidur. Apa Alex belum pulang? Atau sedang pergi?
Begitu sepinya apartemen tersebut hingga membuat Himuro was-was. Apa jangan-jangan ada pencuri masuk? Apa terjadi sesuatu dengan Alex?
Himuro merapatkan tubuhnya ke dinding dan berjalan merayap mengikuti dinding sembari meraba-raba dinding guna menemukan saklar. Setelah ia menemukan saklar tersebut dan menekannya hingga lorong depan dibanjiri cahaya, Himuro menjauhkan tubuhnya dari dinding dan mulai berjalan normal.
"Alex?" panggilnya lirih, takut kalau benar-benar ada pencuri yang telah menerobos masuk apartemen kecil mereka. Sebelah tangan Himuro terangkat dan mencengkeram tali tas yang disandangnya erat.
Kepala berambut hitam miliknya menengok ke kiri dan kanan, memerhatikan tanda-tanda keberadaan manusia tapi hasilnya nihil.
Ketika di ujung lorong ia berbelok ke kanan dan memasuki dapur, perasaan lega Himuro ketika sepasang mata miliknya menangkap sosok Alex tidak dapat dijelaskan. Wanita paruh baya tersebut tengah duduk di salah satu kursi meja makan dengan wajah berada di atas meja; kelihatannya tengah tertidur. Sebotol sake dan satu gelas kecil khusus untuk minum alkohol menemani wanita berambut pirang tersebut.
Sejujurnya itu membuat Himuro khawatir. Alex sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk berhenti minum agar bisa menjadi contoh yang baik bagi Himuro atau paling tidak ia tidak akan minum terang-terangan di hadapan anak angkatnya. Jadi sekarang ini pasti sesuatu yang buruk sudah terjadi.
"Alex?" panggil Himuro untuk yang kedua kalinya petang itu sembari mengguncangkan tubuh Alex untuk membangunkan wanita tersebut. Ketika guncangan darinya tak berhasil membangunkan sang wanita berambut pirang, Himuro menguatkan guncangannya hingga kepala Alex tersentak karena sadar.
Dengan cepat –mungkin karena terkejut—kepala Alex terangkat. Mata hijau cantik miliknya bertemu dengan mata gelap milk Himuro. Terang bertemu gelap. Himuro langsung menyadari kalau mata cantik serta pipi ibu angkatnya itu basah dan perasaan khawatir yang merayap di hatinya pun membesar.
"Alex? Ada apa?" tanya Himuro lembut sembari mendekat dan menghapus jejak air mata di wajah Alex.
"Tatsuya, apa yang harus kulakukan?" tanya wanita itu dengan suara pecah di akhir pertanyaannya. Himuro menghela napas perlahan dan melingkarkan kedua tangannya di leher Alex dan menariknya mendekat hingga kepala Alex bertemu dengan tubuhnya. "Ayahku... ayahku sakit parah. Ibu bilang mungkin umur Ayah sudah tidak lama lagi dan ia menyuruhku pulang ke Amerika."
Sebelah tangan Himuro terangkat dan mulai mengelus rambut pirang Alex dengan sayang agar wanita paruh baya tersebut lebih tenang. Mata kelabu milik Himuro bergerak menutup dan ia mengembuskan napas panjang sepelan mungkin selagi Alex menangis dalam pelukannya.
Bayang-bayang kejadian beberapa tahun lalu kembali terngiang di balik pelupuk mata Himuro yang tertutup. Pembajakan bus, pistol, kedua orangtua Himuro terkapar, dan bayangan Alex dipukul dari belakang dengan benda tumpul dengan sangat keras oleh teroris akibat melindungi Himuro.
Himuro memejamkan matanya kian erat. Bayang-bayang masa lalunya kembali menghampiri dan justru kini terlihat semakin jelas.
Alex yang kian hari kian kehilangan penglihatannya, pernyataan pemberhentian Alex dari dunia basket profesional, Alex yang mengulurkan tangan padanya dan menerimanya, kecaman keluarga Alex...
Himuro membuka matanya perlahan. Tatapan mata kelabu miliknya berubah sendu.
Bertahun-tahun lalu Alex memutuskan untuk meninggalkan Amerika agar bisa hidup dengan tenang berdua dengan Himuro, untuk lari dari masalah yang menyerang mereka tanpa henti. Tapi sekarang mereka harus kembali ke sana dan itu sama saja artinya dengan menghadapi apa yang sudah mereka hindari selama bertahun-tahun.
Kembali ke Amerika adalah mimpi buruk bagi Himuro...
Setelah sebuah pembajakan bus oleh sekawanan teroris merenggut nyawa kedua orangtua Himuro, Alex –yang waktu itu terluka karena menyelamatkan Himuro—menerimanya dengan tangan terbuka namun sikap Alex ditentang seratus persen oleh keluarganya.
Kenapa repot-repot mengurus anak yang telah secara tak langsung merenggut karir cemerlangmu? Kira-kira seperti itulah reaksi keluarga Alex ketika Alex memperkenalkan Himuro pada keluarga besarnya.
Setelah bertahan di bawah tekanan keluarga Alex selama setahun penuh, akhirnya Alex sendiri tidak tahan dan memutuskan untuk pergi ke Jepang bersama dengan Himuro. Di negeri matahari terbit tersebut mereka membangun hidup mereka dari awal lagi.
Jika bagi Himuro Amerika adalah tempat di mana mimpi buruk bermula, maka bagi Alex, Amerika adalah tempat di mana mimpinya menjadi nyata lantas dihancurkan sehancur-hancurnya.
Bayangkan bagaimana rasanya harus kembali ke tempat di mana mimpi yang sudah susah payah kau bangun bertahun-tahun dihancurkan sehancur-hancurnya.
"Sekarang istirahat dan tenangkan dirimu dulu. Kalau sudah tenang, pikirkan masak-masak," kata Himuro sembari melepaskan diri dari Alex. Kedua tangannya menangkup pipi wanita paruh baya tersebut dan memaksanya untuk mendongak menatapnya, "aku akan mengikuti apa pun keputusanmu."
Mata kelabu milik Himuro bertemu dengan mata hijau emerald milik Alex dan momen itu juga Alex sadar kalau Himuro tengah memberikan tatapan yang seakan berkata 'aku serius jadi jangan membantahku'.
"Terima kasih..."
Bibir Alex melengkung membentuk sebuah senyuman yang dibalas oleh Himuro. Tapi jika senyuman Alex terkesan tulus, senyuman Himuro hanyalah bentuk kurva yang dihasilkan oleh urat-urat di sekitar bibirnya tanpa melibatkan emosi apa pun.
Dalam hati Himuro bertanya-tanya, seharusnya ia senang setelah berhasil menenangkan Alex, tapi setelah melihat senyuman wanita itu, kenapa justru dadanya terasa sesak dengan rasa takut?
Seijuurou tahu –sangat tahu malah—kalau yang ia rasakan saat ini sangatlah konyol.
"Pagi, Ryouta, Daiki. Daiki, cepat cuci muka lagi," sapa sekaligus seru Seijuurou dari ujung meja makan. Sebelah tangannya menjangkau mentega di tengah meja sedangkan pandangannya fokus menatap sang adik berambut biru tua yang berdiri menghalangi pintu dengan mata setengah terbuka dan sebelah tangan menggosok mata.
Sangat jelas terlihat kalau anak tersebut masih mencoba melawan kantuk tetapi ia sama sekali tidak menuruti saran sang kakak yang mungkin dapat membantunya. Tepat ketika Tetsuya berjalan melewati Daiki, anak berambut biru tua tersebut tersentak lantas menengok ke kanan dan kiri, seakan bingung kenapa ia bisa berdiri di tempatnya berada sekarang.
Melihat kalau adiknya sepertinya tidak akan bisa sampai di kamar mandi dengan selamat sendiri, Seijuurou meletakkan selembar roti yang baru akan diolesi mentega di atas piring dan ia bangkit, mendorong kursi yang tadi didudukinya ke belakang dalam prosesnya.
"Pagi, Tetsuya," sapa Seijuurou sambil lalu. Kedua tangan si sulung terselip di bawah ketiak si bungsu dan dengan cepat ia mendudukkan si bungsu di atas kursi meja makan yang cukup tinggi untuk anak seumuran Tetsuya. Tak lupa tangan besarnya mengelus lembut kepala si bungsu.
Seijuurou lantas mengambil langkah lebar ke arah Daiki. Sebelah tangannya mencengkeram lembut salah satu bahu anak tersebut. Dengan perlahan, si sulung membimbing adiknya menyusuri lorong rumah mereka yang panjang menuju ke kamar mandi.
"Ayo, cuci muka lagi sampai kantuknya hilang," dengan satu dorongan lembut di punggung dari Seijuurou, Daiki masuk ke kamar mandi sembari menguap lebar. Mata biru tua anak tersebut mengerjap beberapa kali sebelum akhirnya ia menyalakan keran dan mulai membasuh wajah.
Yakin adiknya akan baik-baik saja setelah selesai cuci muka, Seijuurou berniat untuk kembali ke meja makan dan melanjutkan sarapannya yang sempat tertunda. Namun langkahnya terhenti ketika ia teringat kalau ada satu anggota keluarga mereka yang belum juga menampakkan diri meski matahari sudah merangkak naik.
Si sulung Akashi berdiri terdiam. Seijuurou tahu kalau ia harus ke kamar Atsushi dan membangunkan adiknya satu itu tapi setelah kejadian semalam, si sulung enggan untuk bertemu muka dengan sang adik.
Jika boleh jujur, hatinya masih berdenyut nyeri tiap kali ia mengingat apa yang dikatakan Atsushi tadi malam tepat sebelum anak berambut ungu tersebut berlalu menuju kamar dan tak lagi keluar.
Seharusnya ini bukan sesuatu yang memerlukan pertimbangan dan Seijuurou tahu persis itu. Namun hatinya yang masih berdenyut nyeri menghalanginya untuk bertindak sesuai dengan yang seharusnya.
Helaan napas panjang terselip keluar dari sela-sela bibirnya. Dengan satu putaran cepat, pemuda berambut merah tersebut membalikkan badan dan berjalan cepat menuju kamar sang adik kedua. Sepanjang koridor yang dilewatinya ia terus menggumam pada dirinya sendiri kalau ia sangat konyol jika ia sakit hati hanya karena kata-kata Atsushi semalam.
Sebelah tangan Seijuurou memutar kenop pintu dan mendorongnya. Sepasang mata Seijuurou langsung disuguhi pemandangan Atsushi yang masih tertidur pulas bagai mayat di atas tempat tidurnya yang luas. Dengkuran halus bisa terdengar dari tempat Seijuurou berdiri.
Pemuda berambut merah tersebut mendengus maklum lantas mengambil langkah ke sisi tempat tidur sang adik. Seijuurou duduk di sisi tempat tidur dan mulai bekerja dengan mengguncangkan bahu sang adik.
"Atsushi, bangun, sudah pagi."
Badan besar adik Seijuurou tersebut sama sekali tidak bergerak. Bahu Seijuurou melemas melihatnya.
Seijuurou menghela napas lagi. Jujur, si sulung sempat berharap hari ini akan menjadi salah satu hari langka di mana Atsushi mudah dibangunkan namun sepertinya membangunkan adiknya satu itu pagi ini akan sama sulitnya dengan hari-hari biasa.
"Atsushi, ayo bangun, nanti kesiangan," Seijuurou mencoba sekali lagi.
Kali ini badan Atsushi bergerak, terlihat dari selimut yang terlihat bergeser. Selanjutnya erangan keras terdengar keluar dari dasar tenggorokan sang anak berambut ungu.
Sayangnya, sang adik berambut ungu hanya menggumamkan "lima menit lagi," lantas menaikkan selimut hingga menutupi kepala. Anak itu berusaha sebisa mungkin untuk menghalau suara Seijuurou dan kembali ke alam mimpi.
"Atsushi! Bangun sekarang atau Kakak akan..." kini Seijuurou menaikkan volume suaranya ketika memanggil nama sang adik dan nada setengah mengancam ia coba aplikasikan dalam kalimatnya. Mencoba untuk menakuti sang adik dengan menunjukkan kalau kesabarannya sudah hampir mencapai batas.
Selimut yang menutupi wajah Atsushi kembali bergerak turun dan kini wajah Atsushi yang memasang ekspresi kesal dapat terlihat jelas oleh sepasang mata merah milik Seijuurou. Dari matanya yang terpicing dan alis yang berkerut, Seijuurou tahu kalau Atsushi sama sekali tidak suka dengan apa yang terjadi barusan.
"Sudah kubilang lima menit lagi!" seru Atsushi dengan volume suara yang tak kalah keras dengan yang dikeluarkan Seijuurou barusan. Matanya menatap Seijuurou dengan rasa kesal yang begitu kental, "atau Kakak akan melakukan apa? Menyiramku dengan air?"
Terkejut adalah hal pertama yang dirasakan Seijuurou ketika mendengar adiknya berani membalas kata-katanya. Geram menjadi hal kedua yang melintas dalam benaknya sepersekian detik kemudian.
Seorang Akashi tidak menunjukkan kelemahan, begitu kata ayah Seijuurou semasa ia masih hidup dulu. Dan karena menunjukkan emosi adalah kelemahan bagi keluarga terpandang tersebut, Seijuurou berusaha mempertahankan ekspresinya yang datar. Meski pun alisnya kini mengerut dalam, itu bukan karena geram yang tengah menggenggam hatinya, namun agar Atsushi dapat melihat kalau kelakuannya tadi bukanlah hal yang sopan dan Seijuurou tidak menyukainya.
Seijuurou menarik paksa selimut Atsushi hingga seluruh tubuh besar anak tersebut dapat terlihat. Atsushi kembali mengerang kesal sembari menutupi matanya dengan tangan karena matanya tidak lagi terlindungi dari sinar matahari yang merembes masuk.
Seijuurou bangkit dari posisi duduknya di sisi ranjang Atsushi. "Cepat cuci muka sekarang dan pergi sarapan. Dengar, Kakak akan melihatmu duduk manis di meja makan lima menit lagi, kalau tidak, tidak ada uang jajan untukmu minggu ini, Atsushi."
Setelah mengucapkan peringatannya dengan nada final yang sama sekali tak menerima bantahan, Seijuurou meninggalkan Atsushi yang menatap si sulung dengan tatapan seakan sang kakak merupakan musuh bebuyutan.
"Himuro!"
Himuro tersentak dari lamunannya begitu ia mendengar panggilan dari Ootsubou. Tepat ketika Himuro menoleh ke arah sang kapten basket SMP Teikou, bola basket menutupi pandangannya dan menghantam anak berambut hitam tersebut tepat di wajah.
Himuro meringis. Bintang-bintang terasa seperti berputar di kepalanya dan memenuhi penglihatannya. Untuk sesaat, Himuro Tatsuya lupa ia sedang berada di mana dan sedang melakukan apa hingga ia melihat sepasang kaki dan lantai licin mengilat khas gym Teikou di hadapannya.
Himuro mengerjap beberapa kali hingga bintang-bintang di dalam penglihatannya menghilang, lantas diangkatnya kepala hingga tatapan mata kelabu miliknya bertemu dengan tatapan khawatir sekaligus kesal milik Ootsubou Taisuke.
Ootsubou mengulurkan tangannya dan ketika itulah Himuro sadar kalau ia sudah berlutut di tengah gym. Sebelah tangan Himuro menyambut uluran tangan Ootsubou dan dengan sigap sang kapten basket menarik adik kelasnya hingga berdiri tegap.
"Apa yang kau pikirkan? Kita sedang latihan jadi singkirkan dulu apa pun itu yang ada di pikiranmu dan konsentrasi," nasihat Ootsubou. Himuro mengangguk sembari menggumamkan 'baik' dan 'maaf' dengan sangat lirih.
Ootsubou melirik adik kelasnya itu sekilas sebelum berlari untuk mengambil kembali posisinya di bawah ring. Setelah punggung lebar milik Ootsubou sudah berada sekitar lima meter dari tempat Himuro berdiri, anak berambut hitam tersebut membalikkan badan dan bersiap.
Namun sesosok anak bertubuh tinggi menjulang serta berambut ungu telah berdiri tegap di hadapan Himuro. Sosok itu tak lain tak bukan adalah Akashi Atsushi.
Kepala berhiaskan rambut hitam Himuro mendongak demi bisa menatap wajah anak ketiga keluarga Akashi dengan lebih jelas. Namun bukannya pandangan khawatir seperti milik Ootsubou tadi yang didapatnya dari anak berambut ungu di hadapannya melainkan tatapan kesal.
Sepasang alis Atsushi berkerut hingga bertemu di tengah dahinya, matanya mengobarkan emosi kesal, dan rahang anak tersebut mengeras.
Himuro hanya bisa bertanya-tanya dalam hati, apa yang dilakukannya hingga Atsushi sampai berwajah seperti itu.
"Bermainlah dengan lebih serius, Muro-chin! Kalau tidak ingin serius, pulang saja sana!"
Himuro tersentak kaget dengan mata terbuka lebar. Ia sama sekali tidak mengira Atsushi akan berkata seperti itu padanya.
Dalam sekejap, semua kepala yang ada di dalam gym pertama SMP Teikou menoleh ke arah Himuro dan Atsushi. Emosi negatif yang diradiasikan Atsushi membuat seluruh gym terasa mencekam secara tiba-tiba. Tanpa sadar orang yang menonton kedua anak tersebut menahan napas mereka.
Alis Himuro berkerut dalam.
Oke, ia akui ia memang bermain tidak bagus hari ini. Ia akui kalau ia terlalu memikirkan kata-kata Alex semalam hingga kehilangan konsentrasinya dan terkena lemparan bola tepat di wajah, tapi apa perlu Atsushi membentaknya seperti itu hanya karena melakukan sedikit kesalahan?
Atsushi pikir dirinya siapa hingga merasa bisa membentak Himuro seperti itu?
Astaga, bahkan Ootsubou Taisuke yang merupakan kapten tim –dan merupakan orang terpenting dalam tim—mereka saja sama sekali tidak marah dan hanya menegur Himuro –dan tidak membentaknya tentu saja!
Jika Himuro boleh jujur, yang lebih pantas dibentak sekarang ini adalah Atsushi karena anak itu sudah berkali-kali pulang lebih cepat dari latihan tanpa alasan yang jelas. Apa anak berambut ungu satu itu tidak sadar diri?
Hati Himuro yang kala itu tengah tak stabil mengambil alih pikiran sang anak berambut hitam. Emosi yang jarang dirasakannya –sebut saja kesal dan marah—bercampur menjadi awan kelam yang menutupi akal sehatnya.
Kedua tangan Himuro yang tadinya menggantung lemas di sisi tubuhnya kini mengepal erat. Ekspresi Himuro yang biasanya lembut kini berubah sangar. Anak berambut hitam tersebut seakan siap adu mulut –dan adu tinju jika perlu—dengan Atsushi yang kini tengah berdiri menjulang sembari menatap Himuro dengan dagu terangkat tinggi.
Himuro hampir saja menampakkan taringnya jika saja Ootsubou tidak datang dan berdiri di tengah-tengah Himuro dan Atsushi. Himuro yang baru akan merangsek maju langsung menghentikan niatnya lantas mundur setengah langkah.
Tangan kiri Ootsubou terangkat, menghalangi akses Himuro menuju Atsushi. Mata hitam sang kapten basket menatap tajam Atsushi di hadapannya yang sama terkejutnya dengan Himuro. Begitu terkejutnya anak berambut ungu tersebut hingga ia menjatuhkan dagunya yang sebelumnya ia angkat tinggi-tinggi.
"Cukup sampai di situ. Kembalilah berlatih!"
Atsushi mendesis tanda tak suka dengan tindakan Ootsubou yang menghalangi. Tapi karena setelah dipikir-pikir bertengkar di sini akan merepotkan, maka anak ketiga keluarga Akashi tersebut memilih untuk mengalah dan berbalik.
Di balik punggung Ootsubou, Himuro masih menatap punggung Atsushi yang kian jauh dengan tatapan penuh rasa tidak suka.
Anak berambut ungu itu mungkin berpikir ia bisa berlaku semena-mena pada Himuro hanya karena anak berambut hitam tersebut terus bersikap lembut selama ini tapi sungguh, kesabaran seorang Himuro Tatsuya juga ada batasnya.
Kalimat-kalimat berselimut nada sok berkuasa yang dilontarkan Seijuurou tadi malam dan pagi ini kembali terngiang di telinga Atsushi, bergema hingga ke dalam rongga tengkorak anak berambut ungu tersebut.
Menyebalkan adalah satu kata yang paling tepat untuk mendeskripsikan si sulung Akashi saat ini. Bagi Atsushi, tentu saja.
Atsushi benar-benar tidak habis pikir. Apa yang membuat kakak sulungnya begitu keras terhadapnya. Atsushi sudah genap berusia dua belas tahun sejak Oktober kemarin dan itu artinya ia sudah secara resmi berbeda setahun saja dari Shintarou, tapi kenapa? Kenapa Seijuurou begitu membedakan dirinya dengan Shintarou?
Apa yang salah?
Kenapa Shintarou diperbolehkan pulang lebih malam? Kenapa Shintarou sudah diperbolehkan melakukan hal-hal 'berbahaya' seperti menyalakan kompor, menggunakan pisau, dan pulang bersama teman-teman ketika kakaknya yang berambut hijau lumut itu menginjak jenjang SMP?
Kenapa seorang Akashi Atsushi harus begitu dikekang?
Atsushi mendesis ketika salah seorang anak kelas tiga muncul di hadapannya. Sebelah tangan anak kelas tiga tersebut terangkat tinggi mencoba menggapai bola berwarna oranye hasil rebound yang kini tengah berada dalam cengkeraman Atsushi. Sepertinya setelah teman setim senior Atsushi tersebut gagal memasukkan bola, ia berinisiatif untuk memasukkan bola tersebut sendiri.
Tapi maaf saja ya, seorang Akashi Atsushi tidak akan pernah membiarkan seseorang menjebol ring yang ia jaga.
Dengan satu gerakan cepat, bola yang tadinya Atsushi cengkeram dengan satu tangan, kini ia pegang dengan kedua tangan tepat di depan dada agar sang senior tidak bisa merebutnya. Dengan cepat, gravitasi menarik mereka kembali ke permukaan tanah dan pertarungan mereka di udara pun berakhir.
Atsushi menatap seniornya yang berdiri tak jauh darinya dengan mata disipitkan. Untuk yang kesekian kalinya hari itu, Atsushi mendesis.
Kenapa begitu banyak hal tidak berjalan sesuai keinginannya sejak kemarin? Pertama Seijuurou, lalu Himuro yang bermain asal-asalan, sekarang teman-teman setimnya yang tak lagi bisa memberinya 'tantangan'. Apa dunia tengah berkomplot untuk memperburuk keadaan hati seorang Akashi Atsushi?
Atsushi muak.
Anak berambut ungu tersebut melempar bola basket yang ada di tangannya ke sembarang arah hingga bola oranye tersebut memantul dan menggelinding di gym SMP Teikou yang luas tersebut. Sekali lagi hari itu, Atsushi menjadi pusat perhatian klub basket SMP Teikou.
Sayangnya, pusat perhatian dalam artian yang buruk.
Selama beberapa saat, hanya suara pantulan bola basket yang tadi dilempar Atsushi yang dapat terdengar.
"Sudah cukup. Aku tidak mau latihan lagi."
Berpasang-pasang mata yang ada di ruangan tersebut kontan melebar begitu mendengar pernyataan Atsushi.
"Aku tidak akan mengizinkan itu! Kau pikir kau mau ke mana, Akashi?" seru Ootsubou yang kini telah berjalan meninggalkan posisinya di bawah ring. Dari caranya berjalan dan tangannya terkepal, jelas terlihat kalau senior Atsushi dan Himuro tersebut tengah mengalami perang batin.
Perang batin yang memengaruhi keputusannya untuk memukul Atsushi tepat di sana sekarang juga atau tidak.
Shintarou yang baru saja dilewati sang kapten terlalu membeku di tempat untuk bisa menahan sang kapten. Anak kedua keluarga Akashi tersebut terlalu terkejut mendengar pernyataan egois yang baru saja dikeluarkan sang adik.
Apa-apaan ini?
"Meski aku tetap tinggal dan berlatih pun tidak ada gunanya. Kalian semua tidak sebanding denganku dan aku tidak akan bisa bertambah kuat jika terus melawan orang yang lebih lemah dariku," jawab Atsushi begitu Ootsubou hanya berjarak sekitar dua meter darinya.
Mata ungu anak tersebut membalas tatapan tajam Ootsubou dengan tatapan yang persis sama. Sepertinya anak berambut ungu tersebut sudah tidak peduli lagi kalau sekarang ini ia tengah melawan orang berkedudukan tertinggi –karena pelatih sedang tidak ada—dalam klub.
Ootsubou menghentikan langkahnya tiba-tiba. Kata-kata Atsushi benar-benar menusuk sang kapten basket.
Benar-benar menusuk karena kata-kata anak itu ada benarnya.
Melihat kapten basket SMP Teikou terdiam, Atsushi merasa seperti berada di atas angin. Ini artinya, secara tak langsung Ootsubou sudah mengibarkan bendera putih tanda menyerah di hadapan Atsushi.
Atsushi membalikkan badan dan berjalan dengan malas ke pinggir lapangan di mana seragam dan tas sekolahnya tergeletak, "aku tidak peduli kalian ingin mengatakan apa tapi yang jelas aku tidak mau datang latihan lagi."
Anak berambut ungu tersebut meraih tali tasnya, menyampirkannya di bahu, lantas berlalu.
"Kenapa baru pulang jam segini? Bukankah sudah Kakak bilang berkali-kali jam malammu itu jam setengah enam?"
Derap langkah kaki terdengar dari arah lorong.
"Bukankah sudah kubilang aku akan pulang kapan pun aku mau?!"
Shintarou menutup mata erat-erat. Tanpa mengeluarkan sepatah kata, Shintarou mendorong punggung Ryouta lembut satu kali lantas menggandeng tangan Daiki dan Tetsuya, dalam diam mengajak adik-adiknya menjauh dari keributan yang kian hari kian sering terjadi di rumah mereka.
"Atsushi! Ayah tidak pernah mengajarkanmu bicara seperti itu, bukan? Bicaralah dengan sopan pada orang yang lebih tua darimu."
Tak ada satu pun kata terdengar untuk membalas ucapan yang –pasti—tadi dilontarkan si sulung Akashi. Hanya derap langkah kaki di lorong yang dapat ditangkap sepasang telinga Shintarou.
Kepala bersurai biru langit milik Tetsuya menoleh ke sumber keributan tadi namun dengan cepat, Shintarou mengalihkan kepala adik bungsunya tersebut ke arah lain.
Anak-anak –khususnya seumur Tetsuya—tidak sebaiknya mendengar adu mulut seperti ini.
"Atsushi! Dengarkan aku saat aku bicara padamu!"
Sekuat tenaga Shintarou berusaha agar tidak mendesis kesal mendengar adu mulut saudara angkatnya tersebut. Kenapa adiknya satu itu benar-benar tak bisa menurut? Shintarou sama sekali tak habis pikir, apa susahnya menurut pada kakak mereka? Terlebih anak itu telah benar-benar menguji kesabaran sang kakak hingga sedemikian rupa...
"Atsu—"
Suara pintu dibanting terdengar begitu nyaring hingga membuat Shintarou, Daiki, Ryouta, dan Tetsuya serentak menolehkan kepala ke arah lantai dua yang merupakan sumber suara tersebut. Mata keempatnya terbelalak lebar mendengar pintu yang dibanting tersebut.
Ini pertama kalinya ada orang yang berani membanting pintu di depan wajah seorang Akashi Seijuurou.
Bagaimana mereka tahu kalau Atsushi baru saja membanting pintu tepat di depan wajah si sulung? Mereka bisa membayangkan setiap adegan yang berjalan selagi adu mulut tadi mengambil tempat. Pasti tadi Seijuurou berada tepat di belakang Atsushi, berusaha untuk mendapatkan penjelasan sekaligus menceramahi anak tersebut. Alhasil, Atsushi yang kesal membanting pintu di depan hidung Seijuurou.
Langkah kaki –yang kini terdengar lebih pelan dari sebelumnya—kembali terdengar dari arah lantai dua. Sedetik kemudian terlihat Seijuurou menapaki anak-anak tangga tersebut dengan sebelah tangan menggenggam lemas pegangan tangga. Kepala si sulung yang biasanya tegak dengan wajah yang diwarnai rasa percaya diri, ketegasan, namun juga kelembutan kini telah sirna, digantikan kepala yang tertunduk lesu dengan ekspresi yang sulit dijelaskan.
Tepat ketika kaki Seijuurou menginjak lantai tingkat pertama rumah mereka, pemuda berambut merah tersebut mengangkat kepala. Otomatis mempertemukan mata merah miliknya dengan empat pasang mata adik-adiknya.
Untuk sesaat, sepasang mata merah milik si sulung melebar melihat adik-adiknya berdiri mematung di ambang pintu ruang keluarga. Jakun Seijuurou samar-samar terlihat bergerak naik-turun. Mulut Seijuurou sempat terbuka beberapa detik namun apa pun itu yang hendak dikatakannya ditelannya kembali. Sepersekian detik kemudian, ekspresinya berubah melembut.
"Maaf membuat kalian menunggu. Kalian pasti sudah lapar, kan? Ayo kita makan malam."
Seijuurou membimbing adik-adiknya menuju ruang makan dan selama makan malam, si sulung terus mengajak adik-adiknya mengobrol. Sesekali tertawa ketika mendengar kisah petualangan adik-adiknya hari itu.
Shintarou menatap sup miso dalam mangkuknya dengan mata disipitkan saat tawa yang terkesan kaku keluar dari mulut sang kakak.
Ia mungkin bukan target kekasaran perilaku Atsushi hari ini, tapi Shintarou bisa merasakan sakit yang dialami Seijuurou saat ini. Sakit di lubuk hati yang denyut nyerinya sangat sulit hilang meski sudah berjam-jam, sakit yang membuat hatimu terasa hampa, sakit yang kini tengah coba Seijuurou sembunyikan rapat-rapat.
Mungkin Seijuurou pikir sandiwara yang tengah ia mainkan sekarang ini berhasil, tapi Shintarou, Ryouta, Daiki bahkan Tetsuya bisa tahu, tahu dari lesunya Seijuurou ketika menuruni tangga, tahu dari lemasnya bahu Seijuurou yang biasanya tegap, tahu dari kepala Seijuurou yang tertunduk beberapa derajat, tahu dari senyum Seijuurou yang terkesan dipaksakan, tahu dari reaksi-reaksi Seijuurou yang terkesan tumpul, tahu dari sepasang mata merah Seijuurou yang seakan tengah berteriak pada mereka, kalau seorang Akashi Seijuurou tengah sakit hati sekaligus kecewa luar biasa.
Mata kelabu milik Tatsuya menatap jam dinding yang tergantung di salah satu dinding dapur dengan saksama, seakan-akan jika sedetik saja Tatsuya mengalihkan pandangan, maka jam tersebut akan lompat dan lari keluar dari apartemennya dan Alex.
Jarum pendek jam yang menunjukkan detik menginjak angka dua belas. Tatsuya mendengus bersamaan dengan kedua bahunya yang melesak turun. Sebelah tangannya meletakkan sepiring ikan bakar di atas meja makan sedangkan tangannya yang lain menarik kursi yang lalu dipakainya duduk.
Dengan bergeraknya jarum detik jam di angka dua belas, berarti satu hari penuh telah terlewati sejak Alex membagi dilemma yang menyerangnya. Satu hari telah terlewati sejak Alex mengisyaratkan kemungkinan bahwa mereka akan kembali ke Amerika. Satu hari terlewati sejak ketakutan serta rasa gundah kembali menjajah relung hati seorang Himuro Tatsuya.
Menurut Tatsuya, satu hari merupakan waktu yang cukup lama untuk Alex gunakan berpikir.
Suara kenop pintu diputar dan engsel pintu berdecit ketika dibuka membuat Himuro mengangkat wajahnya. Kalimat "aku pulaang," yang terdengar dari pintu depan membuktikan kalau dugaan Himuro benar. Tanpa berdiri dari kursinya, Himuro menunggu sosok Alex muncul di pintu dapur sebelum berkata, "selamat datang. Ayo, makan."
"Hai, Tatsuya," sapa Alex dengan sebuah senyum lebar menempel di wajah. Mata hijau emerald milik wanita tersebut berbinar ketika melihat semangkuk nasi, ikan bakar, dan lauk pauk lainnya sudah siap di atas meja dan tengah menunggu untuk disantap.
Tanpa basa-basi, Alex menarik kursi tepat di hadapan Himuro, menjatuhkan diri, dan mengatupkan kedua tangan di depan dada.
"Selamat makan," dengan terucapnya kalimat tersebut, Alex membelah sumpitnya dengan semangat dan mulai menyuapkan nasi ke dalam mulut. Himuro di hadapannya memimik gerakan sang wanita berambut pirang.
"Bagaimana harimu, Tatsuya?" tanya Alex setengah sambil lalu. Sebelah tangannya menjangkau bagian tengah meja untuk mengambil daging ikan bakar yang tersaji. Begitu sepotong daging ikan bakar tersebut masuk ke mulutnya, Alex mendesah gembira sembari menggumamkan, "enaknyaa."
"Baik, seperti biasa," jawab Himuro dengan tenang. Sepotong selada yang tadinya digunakan sebagai penghias ikan bakar buatannya kini telah berpindah dari piring ke mulut Himuro.
Bukan jawaban yang sepenuhnya benar, memang. Tapi Alex tidak benar-benar perlu tahu yang sebenarnya, bukan? Alex tidak perlu tahu kalau harinya tidak berjalan begitu baik karena beban pikiran yang menghantuinya sejak semalam dan pertengkarannya dengan Atsushi.
Jadi apa keputusanmu? Adalah pertanyaan yang sudah gatal ingin Tatsuya tanyakan pada Alex. Otaknya ingin cepat tahu hasil berpikir Alex selama sehari penuh, namun hatinya memberontak ingin keadaan terus seperti ini.
Alex terlihat menghirup napas dalam. Mangkuk nasinya yang masih setengah penuh diletakkannya dengan perlahan di atas meja beserta sumpit yang kemudian diletakkan secara horizontal di atas bibir mangkuk.
Ini dia, pikir Tatsuya.
Entah bagaimana, nasi yang tadi dikunyah Tatsuya tiba-tiba terasa seperti batu, begitu sulit untuk ditelan.
"Tatsuya, aku sudah memutuskan." jantung Tatsuya berdegup tak karuan. Keringat dingin mulai menuruni pelipis anak berambut hitam tersebut. Dalam hati ia terus berdoa agar Alex mengatakan hal yang ingin didengarnya.
"Kupikir sebaiknya kita pulang ke Amerika..."
Dunia terasa berhenti berputar detik itu juga. Segala ketakutan dan kecemasan yang selama ini disembunyikan rapat-rapat oleh Tatsuya kini terpersonifikasi dan melayang-layang di sekitar meja makan, menertawakan wajah Tatsuya yang memucat ketika mendengar kalimat terakhir yang dikatakan oleh wanita berambut pirang di hadapannya.
Jika ada satu hal yang tidak disukai Ryouta, maka hal itu adalah tidak diperhatikan.
Dan ironisnya, kakak sulungnya tengah melakukan itu padanya.
Ryouta merengut menatap sosok sang kakak yang kepalanya kini bergerak naik-turun. Sekilas, ia terlihat seperti seorang remaja yang tengah menikmati alunan musik. Hanya saja tak ada sepasang earphone menempel di telinganya dan mata Seijuurou nampak terpejam.
Ryouta mengembuskan napas lewat mulut dengan keras hingga ujung poni pirangnya melambai terkena angin yang diembusnya sendiri.
Dengan perlahan, Ryouta melipat kedua tangannya di atas meja kopi dan menumpukan dagunya di sana. Sepasang mata coklat madu miliknya menyipit dan bibirnya semakin mengerucut.
Ia sungguh mengerti kalau kakak sulungnya satu itu kelelahan, tapi kakaknya bisa bilang tadi kalau ia kelelahan dan ingin istirahat dan bukannya justru menyanggupi permintaan Ryouta untuk menemani mereka nonton televisi sembari mendengarkan cerita...
Mata coklat madu Ryouta mengikuti arah gerak Tetsuya yang berjalan mendekati mereka. Tanpa khawatir akan membangunkan si sulung, si bungsu menjatuhkan diri di antara kaki Seijuurou yang terbuka dan menjadikan kakak sulung mereka sebagai sandaran.
Aksi Tetsuya berhasil membangunkan Seijuurou. Sepasang bahu milik remaja berambut merah tersebut tersentak. Ia menoleh ke kiri dan kanan untuk beberapa saat, sepertinya karena kebingungan akan kenapa ia bisa berada di sana dan apa yang sebelumnya ia lakukan. Setelah sadar kalau ia tengah berada di ruang keluarga, Seijuurou mengusap pucuk kepala si bungsu dengan sayang dan mengalihkan pandangannya pada Ryouta.
Sekali lihat dan Ryouta langsung tahu kalau sekarang ini Seijuurou tengah berusaha untuk tidak menguap di hadapannya.
"Maaf tadi Kakak tertidur. Ryouta tadi sedang bercerita, kan? Bisa dilanjutkan?"
Bibir Ryouta yang tadinya akan mengerucut, kini justru terbuka mendengar kata-kata kakaknya barusan. Perasaan bersalah mencengkeram hati Ryouta karena sempat berpikiran buruk dan egois beberapa saat yang lalu.
Mata coklat madu Ryouta dialihkan ke arah televisi yang tengah menampilkan acara komedi. Setelah berpikir beberapa saat, Ryouta membuka mulut. "Tidak apa. Sebaiknya Kakak istirahat saja. Kakak terlihat lela—"
Pintu depan terdengar berbunyi lantas disusul dengan suara langkah kaki yang terkesan berat serta suara renyah keripik dikunyah. Tanpa perlu ditanya, semua yang berada di rumah ini akan langsung tahu siapa yang baru saja pulang.
Tanpa sadar, sepasang mata coklat madu milik Ryouta otomatis melirik Seijuurou begitu telinga anak itu menangkap tanda-tanda kepulangan sang kakak berambut ungu, berhubung beberapa waktu lalu –dan beberapa waktu lalu itu bisa diartikan sebagai tadi pagi—baru saja bertengkar. Tidak, frekuensi mereka bertengkar kini meningkat.
Hati Ryouta lagi-lagi terasa seperti dicengkeram kuat-kuat ketika ia melihat ekspresi yang ditampilkan oleh sang kakak.
Seulas senyum tipis menempel di wajah Seijuurou, namun sepasang mata merahnya berkata lain.
Jika ada satu hal yang paling tidak disukai Ryouta, maka hal itu adalah melihat kakak sulungnya bersedih.
"Seijuurou."
Seijuurou tersentak kaget lantas mengedipkan matanya beberapa kali. Tanpa ia sadari ia baru saja melamun.
Anak sulung keluarga Akashi tersebut menoleh ke kiri dan terlihatlah sang paman yang tengah menatapnya dengan pandangan kecewa, heran, dan maklum bercampur menjadi satu. Melihat ekspresi yang dikeluarkan sang paman, sebuah tanda tanya besar kini mencuat dalam kepala Seijuurou.
Kenapa pamannya berekspresi seperti itu? Apa ada yang salah?
"Sial, aku tidak akan kalah! Majuuuuuu!"
Suara Daiki yang terdengar kesal sekaligus bersemangat dilatarbelakangi sorak sorai Ryouta, Tetsuya, sang bibi serta suara latar belakang musik sebuah game membuat Seijuurou tersadar kalau sekarang ini ia tengah berada di rumah sang paman karena Teppei mengundang mereka semua untuk makan malam di kediaman Kiyoshi.
"Ah, ada apa, Paman?" tanya Seijuurou ketika ia sudah tersadar betul akan keadaan di sekelilingnya. Ditempelnya senyum terbaik yang ia miliki.
Teppei menghela napas singkat sebelum mengisyaratkan Seijuurou untuk mengikutinya dengan telunjuknya. Sepasang mata merah kembar Seijuurou melebar untuk sepersekian detik.
Anak sulung keluarga Akashi tersebut menoleh sejenak ke belakang, menimang-nimang apakah ia bisa meninggalkan adik-adiknya sebentar. Setelah yakin adik-adiknya tengah terlalu asyik bermain playstation dengan Junpei untuk menyadari kalau ia telah menghilang, Seijuurouu berjalan perlahan mengikuti sang paman menembus lorong rumah keluarga Kiyoshi.
Teppei menuntunnya menuju ruang kerja miliknya. Setelah Seijuurou masuk dan menutup pintu di belakangnya, Teppei –yang sudah mengambil posisi nyaman di kursi di balik meja. Dengan satu isyarat tangan, Teppei mempersilahkan keponakannya duduk di kursi di hadapannya. Meja kerja menjadi satu-satunya penghalang di antara paman dan keponakan tersebut.
"Sedang ada masalah dengan Atsushi?" tanya Teppei sembari menautkan jemarinya di depan dagu. Mata coklat kayu miliknya menatap Seijuurou dengan pandangan aku-sudah-tahu yang juga dimiliki oleh Seijuurou. Mungkin pandangan itu memang menurun di keluarga mereka.
Seijuurou terdiam. Tanpa anak berambut merah tersebut sadari, ia memiringkan kepalanya sedikit yang mana sudah menjadi jawaban yang cukup bagi Teppei.
Jika seorang Akashi Seijuurou memiringkan kepalanya, itu tanda bahwa ia tengah berpikir dan menurut Teppei, pertanyaannya tadi bukanlah jawaban yang perlu dipikir terlebih dahulu sebelum dijawab.
Kesimpulannya, Seijuurou memang ada masalah dengan Atsushi dan barusan ia menimang-nimang apakah sebaiknya ia berbohong pada pamannya dengan mengatakan tidak ada apa-apa atau tidak.
Teppei memejamkan mata sejenak dan menghela napas. Perhatian Seijuurou yang sempat teralihkan kini terpusat kembali pada sang paman.
"Paman melihatnya, sejak kalian datang tadi," sorot bingung tampak memancar dari sepasang mata merah milik Seijuurou. Teppei tersenyum tipis, melepaskan tautan jemari di bawah dagunya, dan melanjutkan, "kau selalu memalingkan pandanganmu dari Atsushi."
Teppei mengangkat telunjuknya.
"Sejak menginjakkan kaki di rumah ini, kau tidak menegur Atsushi ketika ia lupa mengucapkan 'selamat makan' di meja makan tadi hingga Riko yang mengingatkan," jari tengah Teppei naik menemani telunjuk yang sudah lebih dulu terangkat, "saat di ruang keluarga tadi, tepat di samping Atsushi kosong, tapi kau malah memilih untuk duduk di sampingku. Dirimu yang biasanya tidak akan melakukan itu."
Seijuurou tanpa sadar menggigit bibir bawahnya sedikit. Anak sulung keluarga Akashi tersebut sama sekali tidak menyangka kalau pamannya akan menyadari gerak-gerik sederhananya tadi.
Untuk sesaat, Seijuurou berpikir, seandainya ibunya masih hidup, apa ibunya akan sepeka Teppei?
"Ceritalah, Seijuurou. Mungkin Paman bisa membantu. Lagi pula, bukankah Paman sudah katakan dulu kalau kau diperbolehkan mengurus keluarga Akashi sendiri tapi dengan syarat kau harus membiarkan Paman membantu jika ada masalah?" bujuk Teppei.
Kedua tangan Teppei kini terlipat di atas meja dan badan besarnya ia condongkan sedikit ke depan. Ekspresi wajah pria tersebut seakan memohon pada Seijuurou untuk lebih mengandalkannya sedikit karena walau bagaimana pun, ia adalah paman anak itu.
Alis Seijuurou mengerut dan pandangannya berubah sendu. Ia sadar sepenuhnya ia sudah tidak punya pilihan lain. Jika ia memaksa diri untuk tidak bercerita, pamannya pasti akan merasa sedih dan ia sungguh tak mau itu terjadi.
"Aku tidak mengerti, Paman..." jawab Seijuurou akhirnya dengan lirih. Anak berambut merah tersebut masih enggan mempertemukan pandangannya dengan pandangan milik sang paman. Baginya sekarang, foto keluarga Kiyoshi yang dipajang menghadap ke arahnya di sudut meja kerja Teppei terasa lebih menarik.
Teppei hanya diam. Diamnya ia seakan menjadi isyarat bagi Seijuurou untuk melanjutkan kata-katanya.
"Aku hanya ingin yang terbaik untuk adik-adikku, aku hanya ingin melindungi mereka... tapi kenapa mereka sepertinya tidak bisa mengerti itu?" pandangan Seijuurou masih kokoh terkunci pada foto di atas meja kerja Teppei, tapi untuk sepersekian detik, Teppei bisa menangkap kilatan rasa sakit terpancar di mata merah kembar milik keponakannya sebelum kilatan tersebut menghilang.
Tanda tanya mengenai apa yang sebenarnya telah terjadi antara Seijuurou dengan adik-adiknya masih terus berputar dalam benak Teppei. "Ada apa sebenarnya?"
Lantas Seijuurou menceritakan semuanya pada Teppei, bagaimana ia bersikap lebih protektif kepada adik-adiknya dengan menetapkan jam pulang karena akhir-akhir ini Tokyo sedang tidak aman, bagaimana ia memberi Atsushi jam pulang khusus serta aturan-aturan khusus yang ia buat demi adiknya yang kedua itu, bagaimana Shintarou dan Masako tidak memberitahunya kalau Atsushi sudah melanggar aturan yang ia buat, dan bagaimana Atsushi semakin terang-terangan memberontak padanya sejak Seijuurou menangkap basah anak itu pulang terlambat.
Teppei mendengarkan dengan saksama sembari sesekali mengangguk sebagai tanda kalau ia mengerti poin yang ingin disampaikan Seijuurou sekaligus tanda kalau ia masih setia mendengarkan cerita keponakannya.
Setelah Seijuurou selesai bercerita, Teppei kembali menegakkan punggungnya dan tersenyum.
"Sejujurnya, Seijuurou, kalau Paman menjadi Atsushi, Paman juga akan berontak," Seijuurou mengangkat kepalanya yang tadinya sempat tertunduk sedikit. Mata merahnya terlihat melebar karena kaget sekaligus bingung, "yaa, meski pun tidak akan separah anak itu."
Teppei menyandarkan punggungnya pada bantalan kursi empuk yang ia duduki lantas mengusap bagian belakang kepalanya sebentar sembari merangkai kata-kata di dalam kepalanya agar kata-kata yang ia lontarkan nanti tidak menyakiti perasaan keponakannya lebih jauh. Setelah menemukan susunan kata yang menurutnya tepat, Teppei meletakkan kedua tangannya di atas meja dan memajukan badannya.
"Sekarang, Seijuurou, kenapa kau begitu mengekang Atsushi?" Seijuurou hendak membuka mulut dan memprotes penggunaan kata sang paman yang menurutnya berlebihan, namun setelah melihat tatapan Teppei, si sulung Akashi memilih untuk tidak mempermasalahkannya.
Seijuurou menelusuri serat-serat kayu yang ada di meja kerja sang paman dengan matanya sebelum menjawab, "Paman tahu kalau Atsushi tidak sepandai anak seumurannya, bukan?"
Teppei mengangguk.
"Aku hanya khawatir kalau ia melakukan hal-hal yang kularang, ia akan terluka. Bagaimana kalau saat ia memasak ia lupa mematikan kompor, atau melakukan kecerobohan hingga ia melukai dirinya sendiri? Kalau ia kuizinkan pulang malam, bagaimana kalau di tengah jalan ia diserang orang jahat? Aku yakin Paman tahu kalau akhir-akhir ini Tokyo tidak aman," jelas Seijuurou lagi. Tanpa sadar pemuda berambut merah tersebut sudah mencondongkan badannya ke depan, seakan tengah menekankan maksud kata-katanya barusan.
Seijuurou memejamkan mata dan menghela napas pelan. Dengan perlahan, ia kembali menyandarkan punggungnya pada punggung kursi.
Senyum lebar yang seakan mengatakan 'aku tahu semuanya' kini tengah tersungging di bibir Teppei. Untuk sejenak, senyum di wajah Teppei itu membuat Seijuruou berpikir, apakah senyum seperti itu memang menurun di keluarga mereka?
"Tapi, Seijuurou, tidakkah kau pikir Atsushi sekarang sudah cukup besar untuk melakukan hal-hal yang kau larang itu?" tanya Teppei. Pertanyaan tersebut berhasil mengeluarkan ekspresi tidak percaya dari Seijuurou, "maksud Paman, sebelum kau melarangnya menggunakan kompor dan pisau tanpa pengawasan, ia sudah memasak sendiri dan apa ia pernah sekali pun membakar rumah? Apa ia pernah melukai dirinya sendiri? Lalu, kau melarangnya pulang malam, tapi Paman yakin ia tidak akan pulang sendiri dan lagi, kalau pun, ia pulang sendiri, Seijuurou, badan Atsushi lebih besar dari kebanyakan anak, Paman rasa tidak akan ada yang berani mengganggu anak itu."
Seijuurou masih memandang Teppei yang kini terangkat telunjuknya dengan pandangan skeptis namun sang paman tahu kalau pertanyaannya barusan terasa seperti pukulan telak di perut bagi Seijuurou. "Tapi—"
"Seijuurou, Paman mengerti kalau kau ingin yang terbaik untuk adik-adikmu. Paman juga mengerti kalau kau ingin mereka selamat tanpa kurang suatu apa pun, tapi bukan berarti kau harus mengekang mereka. Berikan mereka sedikit kepercayaan."
Sepasang alis merah Seijuurou masih mengerut dan matanya menatap sepasang mata coklat kayu milik Teppei masih dengan tatapan yang mengisyaratkan kalau ia tidak setuju dengan sang paman.
"Waktu kau seumuran Atsushi, ayahmu membiarkanmu memasak di dapur, membiarkanmu pulang malam—"
"Tapi aku—"
"Tapi apa? Kau ingin bilang kau berbeda dengan Atsushi?" Teppei mencondongkan badannya, menumpukan satu sikunya di atas meja, dan menunjuk wajah Seijuurou, "hanya karena ia sedikit berbeda, bukan berarti kau tidak bisa memberikannya kepercayaan dan kesempatan yang sama denganmu, Seijuurou."
Meski Teppei tahu kalau meyakinkan keponakannya satu ini tidak akan mudah, tapi ia tetap mendengus untuk menenangkan diri dan berkata dengan sabar.
"Kau dulu percaya kalau ia akan baik-baik saja saat memasak dan membiarkannya. Sekarang lihat apa yang bisa dilakukannya," Sekali lihat dan Teppei tahu kalau Seijuurou sudah mengerti poin dalam pembicaraan mereka ini, "percayalah padanya sedikit, Seijuurou."
Teppei menegakkan posisi dudukunya yang sebelumnya bersandar santai di kursinya yang nyaman. Dapat dilihatnya sosok keponakannya yang masih mengerutkan alis dan mengalihkan pandangan ke arah lain.
"Untuk masalah nilainya, Seijuurou, tidak usah memaksanya untuk mendapat nilai yang sangat bagus, cukup buat dia mendapat nilai standar di bidang yang tidak ia sukai. Fokus saja pada mata pelajaran yang benar-benar ia kuasai."
Seijuurou terlihat begitu ingin menolak semua argumen yang baru saja disuguhkan sang paman, namun entah karena ia berpikir pamannya benar atau karena ia berpikir melawan pamannya akan sia-sia saja, pemuda berambut merah tersebut hanya terdiam dengan pandangan yang diarahkan ke bawah.
Seijuurou menghabiskan waktu semalam suntuk untuk memikirkan apa yang dikatakan sang paman mengenai Atsushi, sikap Seijuurou pada Atsushi, dan bagaimana sebaiknya sikap Seijuurou tersebut diubah karena menurut sang paman, adiknya satu itu pantas mendapat kesempatan.
Sang pemuda berambut merah tahu kalau kata-kata sang paman ada benarnya, hanya saja ia, sebagai remaja enam belas tahun yang masih dalam masa pubertas, tidak ingin memercayai kata-kata Teppei. Pikiran seorang remaja yang ia miliki menghalanginya untuk mengakui kalau Teppei memang benar.
Tapi keesokan paginya, Seijuurou memutuskan bahwa ia telah bersikap konyol. Walau bagaimana pun, Seijuurou adalah seorang Akashi, dan meski pun ia bersikeras tak ingin mengakui kalau pamannya benar, fakta bahwa ia adalah seorang Akashi membuatnya harus berpikir rasional dan mau tak mau ia harus mengakui saran sang paman.
Sebelah tangan Seijuurou memutar kenop pintu dan mendorongnya perlahan. Penampakan kamar seorang anak lelaki yang baru akan memasuki masa remaja disuguhkan di hadapan Seijuurou. Selimut yang terhempas di lantai, laci nakas samping tempat tidur yang terbuka dan isinya yang tercecer di mana-mana, kertas-kertas –mulai dari yang masih rapi hingga yang sudah diremukkan menjadi bola—berserakan di sekeliling tempat sampah dan di atas meja belajar.
Keadaan kamar Atsushi yang seperti kapal pecah membuat Seijuurou mau tak mau mendengus pelan. Pemuda berusia enam belas tahun tersebut berjalan perlahan memasuki kamar dan mulai melakukan hal yang telah diniatkannya sejak tadi; membantu Masako membereskan rumah di hari Sabtu yang cerah ini.
Karena ini hari Sabtu, sekolah dipulangkan lebih cepat, perusahaan keluarganya libur, dan entah apa yang merasuki Shirogane Eiji tapi pria pelatih tim basket SMA Rakuzan tersebut meliburkan latihan mereka hari ini.
Kegiatan bersih-bersih Seijuurou hari itu dimulai dengan kamar Atsushi karena ia yakin kamar adiknya satu itu merupakan kamar paling berantakan. Tentu saja dugaannya benar.
Seijuurou menunduk memungut selimut yang tergeletak lemas di samping tempat tidur, merapikan tempat tidur adiknya, merapikan –atau mungkin lebih tepatnya membuang—isi laci nakas samping tempat tidur adiknya yang isinya didominasi oleh berbungkus-bungkus makanan ringan, dan mengosongkan tempat sampah.
Pekerjaan Seijuurou sekarang hanya tinggal memilah isi meja belajar adiknya yang berambut ungu itu.
Sebelah tangan Seijuurou menarik punggung kursi dan ia pun menjatuhkan diri di atasnya. Dengan segera, ia memulai pekerjaan terakhirnya di kamar itu. Satu per satu kertas yang berserakan tak menentu di atas meja kayu tersebut dibuka, dilihat isinya dan dipilah, buku-buku disusun berdasarkan abjad awal judulnya masing-masing.
Ketika semua buku sudah tersusun rapi kembali di salah satu sudut meja, Seijuurou meluruskan lima lembar kertas yang tersisa. Dari konten kertas tersebut, bisa ditebak kalau kertas tersebut adalah hasil-hasil ulangan harian Atsushi. Dilihat dari tanggalnya, sepertinya anak berambut ungu tersebut baru mendapatkan hasilnya beberapa hari yang lalu.
Sebelah tangan Seijuurou menjejerkan kertas-kertas tersebut di atas meja di hadapannya dan sepasang mata merahnya mulai meneliti coretan angka di kotak di sudut kanan atas masing-masing kertas.
Seijuurou tersenyum pahit melihat kumpulan nilai adiknya. Tiga puluh untuk bahasa Jepang, empat puluh lima untuk bahasa Inggris, empat puluh satu untuk ilmu sosial, enam puluh untuk matematika –Seijuurou menggumam, adiknya tidak terlalu buruk dalam matematika ternyata—dan delapan puluh delapan untuk ilmu alam.
Tunggu, delapan puluh delapan?
Jujur saja, Seijuurou terkejut melihat dua angka kembar yang bersanding manis di kotak nilai kertas ulangan harian milik adiknya. Mata merah Seijuurou meneliti nama mata pelajaran dan pertanyaan-pertanyaan yang tertera dalam kertas ulangan tersebut.
Ilmu Alam.
Air raksa memiliki massa jenis sebesar 13.600 kg/meter kubik . Volume dari 500 gram air raksa adalah...
Ini... fisika.
Masih dengan rasa tidak percaya, Seijuurou meneliti isi kertas tersebut sekali lagi dan ia bisa melihat kalau sekitar delapan puluh persen pertanyaan yang tertera dalam kertas tersebut adalah fisika, sisanya terbagi menjadi kimia dan biologi. Semua soal fisika beserta satu buah soal kimia dan biologi yang terdapat di sana ditandai dengan lingkaran sedangkan sisanya ditandai dengan tanda centang merah.
Apakah ini mimpi?
Atsushi mendapat nilai sebagus ini? Dan untuk pelajaran ilmu alam yang terkenal sulit?
Mata merah Seijuurou beralih ke sebuah folder yang penuh berisikan berbagai kertas. Kertas-kertas ulangan Atsushi lebih tepatnya. Seijiro dulu memang membuat peraturan untuk mengarsipkan setiap hasil ulangan yang didapat anak-anaknya dan itu berlaku pada semua anaknya, kandung mau pun angkat. Agar bisa tahu perkembangan diri sendiri, begitu katanya dulu.
Seijuurou mengambil folder tersebut dan mulai membuka-buka kertas-kertas hasil ulangan ilmu alam yang berada di bagian atas tumpukan. Hasil ulangan ilmu alam Atsushi mulai dari musim semi tahun ini diperiksanya kembali.
Kertas-kertas ulangan yang beberapa terlihat sedikit remuk dijejerkan di atas kertas-kertas ulangan Atsushi yang sebelumnya sudah berada di sana.
Tangan kiri Seijuurou terangkat hingga di depan bibir selagi ia meneliti nilai-nilai serta pertanyaan-pertanyaan yang tertera dalam kertas-kertas tersebut.
Tujuh puluh lima, empat puluh, delapan puluh dua, tiga puluh satu, lima puluh empat, sembilan puluh tiga.
Tidak semua kertas tersebut mengandung nilai yang baik tapi berkat kertas-kertas tersebut, Seijuurou berhasil menarik satu kesimpulan berarti. Satu hal yang selama ini ia lewatkan dari adiknya yang berambut ungu tersebut.
Semua nilai tinggi yang diraih Atsushi tercantum dalam kertas ulangan berbahan mata pelajaran fisika.
Itu berarti satu hal; adiknya, Atsushi, memiliki kelebihan dalam bidang fisika.
Seketika itu juga, kata-kata Kiyoshi Teppei kembali terngiang dalam otak Seijuurou.
"Untuk masalah nilainya, Seijuurou, tidak usah memaksanya untuk mendapat nilai yang sangat bagus, cukup buat dia mendapat nilai standar di bidang yang tidak ia sukai. Fokus saja pada mata pelajaran yang benar-benar ia kuasai."
Seijuurou pun termenung.
Jason merengut melihat sosok Atsushi yang kini tengah memasang posisi defensif di hadapannya. Anak berambut ungu tersebut terlihat tersengal-sengal, kontras dengan Jason yang masih bisa bernapas dengan normal. Sebelah tangan Jason memantulkan bola.
Semakin lama ia memandang sosok Atsushi, semakin tak karuan suasana hati Jason. Tak karuan dalam artian rasa kesal, kecewa, dan bingung bercampur menjadi satu.
Ketika dua hari lalu Atsushi memberitahunya kalau ia kini memberontak terhadap orang-orang yang selama ini mengekangnya –maksudnya dari Himuro, dari Ootsubou, dari Seijuurou—Jason merasa sedikit bangga pada anak itu.
Tapi sekarang, ia justru menelan kembali rasa bangga itu.
Sejak Atsushi berhenti berlatih basket dengan timnya, anak berambut ungu itu jadi lebih lemah dari biasanya.
Dengan kesal, Jason menangkap bola yang kini memantul ke atas dan melemparkannya ke arah wajah Atsushi dengan satu tangan. Meski sedikit terkejut dengan lemparan Jason yang begitu tiba-tiba, tapi Atsushi berhasil menghentikan bola oranye tersebut sebelum bola itu membuat kontak dengan hidungnya.
"Apa-apaan kau?" tanya Atsushi, setengah heran, setengah kesal.
Jason memasukkan tangannya ke dalam saku celana dan berjalan menuju sisi lapangan di mana tas-tas mereka tergeletak tak berdaya. Atsushi mencoba menyusul Jason dengan langkah lebarnya.
"Kau payah. Setelah kau berhenti latihan dengan timmu kau malah jadi lebih lemah!" ungkap Jason. Anak berambut perak tersebut menjatuhkan diri di atas kursi taman yang tersedia di sisi lapangan dan mulai mengaduk-aduk tas miliknya demi sebotol air mineral.
Atsushi yang berdiri di hadapan Jason merengut mendengar kata-kata teman-tapi-bukan-temannya tersebut. Anak berambut ungu tersebut memimik apa yang dilakukan Jason dan menjatuhkan diri di samping anak berambut silver tersebut. Bola oranye di tangannya ia putar-putar dengan sebelah tangan.
"Aku jadi lebih lemah karena tidak ada lawan yang seimbang," gerutu Atsushi masih dengan tangan yang sibuk memutar-mutar bola.
Jason memutar bola matanya dan mendesis mendengar alasan Atsushi yang jelas dibuat-buat.
Anak itu bilang ia tidak punya lawan yang seimbang? Ha, seorang Jason Silver sudah lebih dari cukup untuk jadi lawan main seekor monyet seperti Akashi Atsushi.
Apalagi sejak mereka memulai kegiatan rutin mereka –bermain basket satu lawan satu—di taman setiap sore, anak berambut ungu itu tidak pernah bisa menjebol pertahanan absolut yang dimiliki Jason. Menurut Jason, ia adalah lawan yang cocok untuk mengembangkan kemampuan Akashi Atsushi.
Kalau bertanya pada Jason kenapa permainan Atsushi menjadi semakin buruk akhir-akhir ini, maka mungkin Jason akan mengatakan suasana hati Atsushi yang buruk sebagai alasannya. Anak itu tidak pernah bermain benar saat suasana hatinya tidak baik. Itulah sebabnya saat Inter High dulu Atsushi tidak menang melawannya.
Karena dulu, Jason memanas-manasinya di tengah pertandingan, memperkeruh suasana hati Atsushi hingga ia tidak bisa berpikir lurus, melakukan kesalahan-kesalahan kecil, dan akhirnya kesulitan menghalau serangan-serangan tim Jason seorang diri.
Jason kembali mendengus. Seandainya dulu, senior Atsushi yang bernama Ootsubou Taisuke tidak ada, maka sudah bisa dipastikan piala Inter High tengah berdiri manis di rak piala di sekolahnya sekarang ini dan bukannya di SMP Teikou.
"Permainanmu payah karena suasana hatimu sedang buruk," kata-kata Jason bukan sebuah pertanyaan melainkan pernyataan, "terjadi sesuatu?"
Alis ungu Atsushi mengerut semakin dalam disusul bibirnya yang mengerucut.
"Bertengkar dengan kakakku semalam," jawab Atsushi singkat dan padat.
Meski anak berambut ungu di sampingnya tidak memberikan detil pertengkarannya tadi malam, Jason bisa menghubungkan keping-keping informasi dari Atsushi dengan baik. Terlebih karena Atsushi pernah bercerita, dulu, tentang bagaimana keluarganya, terutama kakak sulungnya.
Untuk yang kesekian kalinya hari itu Jason mendengus.
Anak berkulit hitam tersebut sudah bisa menebak kalau kakak yang dimaksud Atsushi adalah kakak sulungnya. Tanpa diberitahu, Jason sudah bisa menebak kalau semalam Atsushi dan kakak sulungnya bertengkar lagi karena hal yang sama.
Kakak sulung Atsushi berusaha menyuruh Atsushi melakukan berbagai hal yang tidak disukai anak tersebut, mengekang Atsushi. Atsushi tidak suka disuruh melakukan hal yang tidak disukainya apalagi dikekang.
Kelanjutan cerita di atas tentu sudah bisa ditebak.
Jason menggumam untuk sesaat. "Aku sungguh tidak mengerti dengan keadaan keluargamu. Padahal kakakmu itu bukan kakak kandungmu tapi ia begitu mengekangmu."
Atsushi mengalihkan pandangan penuh kekesalannya ke samping.
"Ia tidak berhak mengekangmu seperti itu karena ia bukan ayahmu, bukan ibumu, bukan kakak kandungmu, bukan siapa-siapamu."
Atsushi terdiam tapi tak lama kemudian menggumamkan persetujuannya dengan lirih.
Setelah itu keheningan mengisi atmosfer yang menyelimuti kedua anak tersebut. Hanya suara tawa, obrolan ringan, serta hiruk pikuk taman tempat mereka berada yang menjadi pengisi suara dalam atmosfer mereka sekarang. Pembicaraan mengenai kondisi Atsushi dan keluarganya terselesaikan sudah.
Sepertinya mereka berdua sudah tenggelam dalam pikiran mereka yang berbeda karena tak lama kemudian, lebih kepada dirinya sendiri, Atsushi menggumam, "Aku sudah berlatih. Seharusnya aku setara denganmu sekarang. Tapi kenapa aku tidak pernah bisa menang melawanmu?"
Mendengar gumaman anak berambut ungu di sampingnya, Jason melirik Atsushi dari sudut matanya. Mungkin Atsushi tidak mengharapkan jawaban, tapi Jason tidak keberatan menjawab pertanyaan sambil lalunya tadi, "itu karena kau seorang monyet payah."
Jason mengangkat botol air mineral di tangannya –yang akhirnya berhasil ia temukan dari dalam tasnya—dan menenggak isinya. Atsushi menoleh ke arahnya dengan bibir mengerucut dan alis bertaut, kelihatannya tidak terima mendengar jawaban asal Jason.
Jason menurunkan botol di tangannya dari bibirnya. Digoyang-goyangkannya botol tersebut hingga sisa air di dalamnya ikut bergerak membentuk gelombang di dalam botol. Dari alis peraknya yang bertemu di tengah, bisa ketahuan kalau anak berambut perak berkulit hitam tersebut tengah menimang-nimang sesuatu.
Gerakan tangan hitam milik Jason berhenti. "Kau tidak bisa menang melawanku karena aku punya satu rahasia."
Atsushi yang sebelumnya tengah memerhatikan para pejalan kaki di balik pagar pembatas lapangan tempat mereka bermain basket tadi, kini mengalihkan perhatiannya pada Jason. Sepasang mata ungu miliknya melebar. Kelihatannya anak tersebut sama sekali tak menduga kalau ternyata selama ini Jason memiliki satu rahasia di balik keunggulannya.
"Keunggulanku selama ini bukan hanya berkat latihan keras," Jason menggoyangkan botol di tangannya sekali lagi. "aku punya sebuah minuman yang hampir selalu kuminum setiap sebelum aku bermain."
"Semacam minuman isotonik? Seperti yang biasa kita minum sesudah pertandingan?" tanya Atsushi polos.
"Bisa dibilang begitu," Jason berkedip beberapa kali sebelum melanjutkan, "hanya saja minuman ini lebih cepat memulihkan tenagaku dari pada minuman isotonik biasanya atau pun lemon madu. Karena aku yang hebat ini kasihan melihatmu berusaha begitu keras seperti orang bodoh, akan kubawakan minuman itu besok, itu kalau kau mau mencobanya."
Atsushi mengangguk cepat. Ketertarikan terpancar jelas dari mata ungunya yang terlihat polos.
Siapa yang akan menolak tawaran seperti itu?
Halo, semuanya! Setelah ngilang selama 7 bulan tanpa kabar, akhirnya kita bisa ketemu lagi ahaha... tolong jangan bunuh aku...
Btw, chap depan itu rencananya chap terakhir buat masalahnya Atsushi, so please look forward to it!
Kali ini aku gak bisa ngoceh panjang lebar kayak biasanya soalnya koneksi lagi susah dan lappie berubah lemot, maaf juga karena alasan yang sama aku belom bisa balesin review kalian satu-satu kayak biasanya. Tapi kalian harus tahu kalo aku suka review kalian dan buatku setiap review itu berharga! Review kalian itu jadi semacam pengingat sekaligus penyemangat buatku nerusin cerita ini. Makasih juga buat kalian yang udah ngefav dan follow cerita ini! Aku bukan apa-apa tanpa kalian!
Please, review?
