Kuroko no Basuke hanya milik Fujimaki Tadatoshi seorang.
Cerita ini hanya milik saya seorang.
Warning: AU, Nice & not-so-perfect! Akashi, brotherly love! a lot of it I think, cuteness ahead(?), alur kecepetan, half-assed chapter, OOC, typo, DLDR!
pengingat mulai chapter ini:
Seijuurou = 16 tahun
Shintarou = 13 tahun
Atsushi = 12 tahun
Ryouta = 10 tahun
Daiki = 9 tahun
Tetsuya= 5 tahun
Enjoy!
Chapter 16: As Man, Fixes His Mistakes
Shintarou melirik Atsushi tajam. Anak berambut hijau lumut tersebut memang tidak pernah benar-benar bisa akur dengan sang adik berambut ungu. Hanya saja kelakuan adiknya satu itu akhir-akhir ini membuat Shintarou semakin muak melihatnya.
Terlebih setelah ia mengatakan pada semua anggota tim kalau ia tidak mau ikut latihan lagi.
Mungkin seorang Akashi Atsushi tidak sadar, tapi karena pernyataannya yang terkenal itu, Akashi Shintarou lah yang terkena dampaknya sekarang. Kapten tim mereka, Ootsubou memang tak benar-benar menampakkannya, tapi Shintarou tahu kalau sesekali Ootsubou meliriknya saat latihan, entah karena apa. Lalu senior mereka, Miyaji Kiyoshi, juga sesekali melirik Shintarou, sepertinya ingin mengatakan sesuatu, tapi enggan.
Shintarou kembali melirik Ryouta dan Daiki yang tengah berdebat mengenai mana yang lebih menarik, drama atau anime, untuk sesaat sebelum sepasang mata hijau lumut miliknya mengamati Atsushi yang tengah mengulum sebatang es loli rasa vanilla.
Siang tadi selesai latihan Ootsubou sudah menitipkan pesan padanya untuk disampaikan pada Atsushi. Meski biasanya hal-hal seperti ini dipercayakan pada Himuro, tapi karena hubungan mereka tengah penuh dengan ketegangan, maka terpaksa tugas tersebut dipindahtangankan pada Shintarou.
Tapi Shintarou sendiri juga bingung bagaimana harus menyampaikan pesan titipan Ootsubou tersebut pada adiknya. Masalahnya ia sendiri sama sekali tidak dekat dengan adiknya! Percakapan paling panjang yang pernah terjadi antara dirinya dan Atsushi seingatnya hanya 'Atsushi, ayo bangun' atau mungkin 'Atsushi, sudah waktunya makan', itu pun hanya dibalas sang adik dengan gerutuan.
Hanya itu.
Setelah memikirkan panjang lebar mengenai bagaimana sebaiknya memulai percakapan dengan sang adik sebelum menyampaikan pesan Ootsubou, Shintarou menghela napas panjang dan menyerah. Pada akhirnya ia memutuskan untuk mengatakannya langsung tanpa basa-basi seperti yang biasa ia lakukan.
"Atsushi," panggil Shintarou. Nada panggilannya sarat akan keraguan.
Atsushi hanya menggumam untuk memberitahu Shintarou kalau ia mendengarkan. Mata ungu anak tersebut masih terpaku pada layar televisi sedangkan mulutnya tetap sibuk mengulum es loli yang tadi diambilnya dari kulkas setelah makan malam.
"Besok pagi kau harus datang latihan," kata Shintarou tegas.
Atsushi mengerang. Kini perhatiannya telah tercuri sepenuhnya berkat kalimat singkat namun tegas yang dilontarkan Shintarou tadi. Kepala berambut ungu panjang milik anak tersebut menoleh ke arah Shintarou.
"Besok pelatih akan mengawasi langsung latihan kita. Kalau kau tidak mau dikeluarkan dari tim, datanglah."
Atsushi mendecakkan lidah karena kesal tapi tak ada satu pun kalimat bantahan lolos dari bibirnya.
Shintarou menghela napas lega. Akhirnya pesan Ootsubou tersampaikan. Meski Atsushi tidak menjawab kalau ia akan datang besok, tapi Shintarou yakin anak itu akan datang. Mungkin adiknya satu itu memang membolos latihan dan terlihat enggan bermain beberapa hari ini, tapi dalam hati anak itu pasti sebenarnya masih ingin bermain bersama tim.
Jam yang tergantung di salah satu sisi dinding gym SMP Teikou menunjukkan pukul enam pagi. Masih terlalu pagi untuk memulai kegiatan di hari Minggu seperti ini. Terlebih lagi awan mendung yang sudah menggantung membawa hawa malas bagi banyak orang.
Tapi sepertinya hal itu tak berlaku untuk Miyaji Kiyoshi.
Meski lebih cepat satu jam dari jadwal latihan yang seharusnya, suara pantulan bola basket sudah menggema di seluruh gym satu SMP Teikou. Setelah dirasanya cukup, ia menangkap bola itu di depan dada dan memasang kuda-kuda untuk mengangkat tangan dan menembakkan bola oranye di tangannya ke dalam ring.
Meski gerakannya terlihat mulus, namun mata anak kelas tiga tersebut terlihat tidak fokus. Pandangan matanya terlihat kosong menandakan bahwa pikirannya tengah tidak berada bersamanya di SMP Teikou.
"Miyaji."
Mendengar namanya disebut, Miyaji yang sebelumnya tengah termenung langsung berjengit. Kedua tangannya yang baru akan melempar bola kehilangan tenaga di saat-saat terakhir. Alhasil, bola yang ditembakkan anak berambut coklat tersebut tidak mencapai ring.
Miyaji menolehkan kepalanya ke pintu masuk gym dan sepasang matanya mendapati sosok Ootsubou Taisuke yang tengah berjalan ke arahnya dengan tas tersampir di salah satu bahu. Miyaji mengalihkan pandangannya dan berlari kecil menuju bola basket yang tadi dilemparkannya.
Ootsubou menjatuhkan tasnya di pinggir lapangan dan segera memulai pemanasannya dengan berlari-lari kecil mengelilingi lapangan. Miyaji yang berdiri di area tiga angka setelah berhasil memungut bola basketnya kembali memantul-mantulkan bola di tangannya dan bersiap menembak lagi.
"Maaf."
Gumaman lirih dari Miyaji hampir tidak terdengar oleh Ootsubou jika saja kapten tim basket SMP Teikou tersebut tidak tengah berlari di belakang ring yang menjadi sasaran tembakan Miyaji. Perlahan lari Ootsubou melambat hingga ia berhenti sempurna. Kepala kapten tim basket tersebut tak sedetik pun teralih dari Miyaji yang masih menolak memandangnya.
Miyaji melepaskan tembakannya yang dengan sukses membuat bola basket tersebut masuk ke dalam ring. Kedua tangan Miyaji terjatuh lemas di sisi badannya dan barulah ia menoleh ke arah sang kapten.
"Aku seharusnya tidak langsung marah-marah dan membentakmu waktu itu," Miyaji tidak memberikan detail mengenai 'waktu itu' yang dimaksudnya, tapi Ootsubou mengerti apa yang dimaksud temannya tersebut, "mungkin waktu itu dia tidak berbohong."
Sebuah senyuman lembut tertempel di wajah Ootsubou. Senyum yang sangat jarang ditunjukkannya di depan orang lain. Kakinya ia langkahkan ke arah temannya tersebut dan sebelah tangannya yang mengepal ia julurkan ke arah Miyaji.
Memimik apa yang dilakukan Ootsubou, Miyaji memasang sebuah senyuman tipis lantas menjulurkan tinjunya untuk menyambut tinju Ootsubou.
"Tapi bukan berarti kita tidak perlu mencari tahu kebenaran kata-katanya. Menurutku kata-katanya masih sulit dipercaya," Miyaji menarik tangannya. Suara langkah kaki kembali terdengar dari arah pintu masuk gym dan sosok anak berambut hijau lumut muncul. Kontan, Ootsubou dan Miyaji menolehkan kepala ke arah adik kelas mereka tersebut, "jadi sebaiknya kita tanyakan kebenarannya pada orang yang bisa memberikannya."
Sulit menjelaskan perasaan Shintarou ketika di Minggu pagi yang mendung itu tiba-tiba saja ia dihampiri dua orang seniornya. Terkejut bukan satu-satunya perasaan yang dirasakan Shintarou ketika dua orang seniornya mengerubunginya dengan hawa-hawa menakutkan.
Anak berambut hijau lumut tersebut berpikir, apa mungkin seniornya ingin memastikan kalau ia sudah menyampaikan pesan sang kapten? Tapi kalau hanya ingin memastikan itu, sang kapten dan senior Shintarou tidak perlu menguarkan hawa seram seperti itu.
Apa mungkin mereka ingin memarahinya karena ulah adiknya? Hmm, sepertinya opsi yang ini lebih memungkinkan.
Apa pun itu yang akan dilontarkan sang senior membuat Shintarou secara insting mengambil satu langkah mundur mendekati dinding gym.
Mata hijau lumut Shintarou mengerjap beberapa kali ketika para seniornya hanya memandanginya dalam diam meski sudah beberapa saat berlalu. Duh, di saat seperti ini apa yang sebaiknya Shintarou lakukan? Ada desakan kuat untuk meminta maaf tapi Shintarou tidak tahu apa masalahnya...
"Uh, selamat pagi, Senior Ootsubou, Senior Miyaji..." sapa Shintarou dengan penuh keraguan. Ia sungguh tidak tahu apa lagi yang harus dikatakannya.
Sebelah tangan Ootsubou terangkat mencengkeram bahu Shintarou. "Ada yang ingin kami bicarakan denganmu, Akashi."
Sebelah alis Shintarou terangkat selagi Ootsubou dan Miyaji membimbingnya menuju bench di sisi lapangan indoor SMP Teikou tempat mereka berada. Setelah mendudukkan diri di salah satu bench yang terdapat di sana, Ootsubou kembali buka mulut.
"Ini soal adikmu."
"Aku sudah menyampaikan pesanmu. Aku yakin ia pasti akan datang latihan," sela Shintarou cepat. Setelah beberapa saat ia menambahkan, "walau mungkin akan agak terlambat."
"Tidak, bukan masalah itu," sahut Miyaji yang sebelumnya hanya diam mendengarkan.
Shintarou mengangkat sebelah alis sebagai pengganti kata 'jadi?'.
"Kau tahu kalau beberapa hari yang lalu ketika aku bertanya padanya kenapa ia selalu pulang lebih cepat saat latihan ia menjawab ia diberi batas jam pulang," Ootsubou berhenti sejenak untuk menarik napas sedangkan tanda tanya berputar di kepala Shintarou, "apa itu benar?"
Ah, jadi mereka ingin mengecek kebenaran kata-kata Atsushi, batin Shintarou. Ia pikir ada apa...
Shintarou menumpukan sikunya di paha dan menautkan kesepuluh jarinya. Pandangannya ia arahkan ke arah lapangan kosong yang terbentang di hadapan mereka. Shintarou yakin apa yang akan dikatakannya ini akan terdengar tidak masuk akal dan mungkin kedua seniornya tidak akan percaya –itulah alasannya ia tidak berusaha memberitahukan kebenarannya pada para seniornya—tapi karena sekarang mereka yang meminta jadi apa boleh buat.
"Itu benar, Senior," Shintarou membenarkan setelah beberapa saat terdiam. Miyaji refleks mencondongkan badan ke depan dan mulut anak berambut coklat tersebut terbuka. Shintarou yakin ia pasti akan menanyakan alasan kenapa batas jam pulang seawal itu bisa diterapkan untuk Atsushi yang sepertinya tidak memerlukannya, "kakak kami memang memberlakukan itu padanya. Pada kami semua sebenarnya."
Lalu semuanya meluncur dari mulut Shintarou. Semua tentang kriminalitas di Tokyo yang meningkat, tentang Seijuurou yang khawatir, tentang pemberlakuan batas jam pulang, dan akhirnya tentang batas jam pulang Atsushi yang sedikit istimewa karena Atsushi berbeda.
Awalnya anak kedua keluarga Akashi tersebut tidak berniat menjelaskan semuanya pada kedua seniornya, tapi sekarang Shintarou merasa jika memang mereka ingin menuntaskan masalah, maka sebaiknya menuntaskannya hingga ke akarnya.
Shintarou sudah muak menjadi sasaran tatapan tajam seniornya ketika adiknya yang berulah. Sudah saatnya benang-benang kusut ini diluruskan.
"Mungkin apa yang baru saja kukatakan benar-benar sulit dipercaya, tapi itu semua benar," kata Shintarou menutup penjelasan panjangnya tentang keadaan keluarganya.
Mata hijau lumut Shintarou melirik kedua seniornya. Ootsubou terlihat bernapas lega karena sekarang ia benar-benar mengerti permasalahannya. Seniornya yang berambut hitam tersebut menoleh ke arah teman seangkatannya seakan bertanya "sekarang kau puas?" dalam diam.
Sedangkan Miyaji terlihat menunduk. Tapi Shintarou masih dapat melihat dengan jelas kalau dalam sepasang mata Miyaji menggenang perasaan bersalah.
Atsushi mendecakkan lidah kesal sembari tangannya bergerak melemparkan handuk kecil, selembar kaus, dan celana pendek ke dalam tas. Pemuda berambut ungu tersebut kesal lantaran harus bangun pagi meski pun hari itu adalah hari Minggu. Mendung yang menggelayut juga seakan merayu Atsushi untuk tetap tinggal di dalam kamar.
Seandainya saja pelatihnya tidak datang mengawasi latihan mereka hari ini, seandainya saja Ootsubou tidak mengancamnya langsung dengan keberadaan pelatih, seandainya saja kemarin Jason tidak berkata kalau ia jadi lebih lemah, Atsushi tidak akan bangkit dari kasurnya sepagi ini di hari Minggu.
Dengan langkah lebar yang terkesan malas, Atsushi mengayunkan kakinya menuruni anak tangga menuju ke dapur. Di sana sudah duduk Ryouta dengan Daiki. Keduanya tengah memperebutkan selai cokelat di atas meja. Setelah melakukan suit beberapa kali, Ryouta akhirnya berhasil mendapatkan selai cokelat tersebut dan dengan penuh kebanggaan ia mengoleskan selai cokelat tersebut ke atas rotinya. Daiki di sampingnya hanya bisa merengut menunggu Ryouta selesai.
Tidak terlihat tanda-tanda adanya Shintarou, Tetsuya mau pun Seijuurou. Shintarou sudah pasti sudah berada di sekolah sekarang. Tetsuya mungkin sudah siap sarapan dan tengah menonton kartun Minggu pagi di televisi di ruang keluarga.
Kalau Seijuurou... entahlah, Atsushi juga tidak terlalu peduli. Paling-paling Seijuurou sedang lari pagi keliling area perumahan seperti biasa.
Anak berambut ungu tersebut justru bersyukur karena tidak perlu bertemu muka dengan kakaknya sepagi ini. Ia yakin seratus persen kalau ia bertemu dengan kakak sulungnya pagi ini, mereka pasti hanya akan bertengkar. Mood-nya pagi ini sudah cukup buruk, jadi ia tidak perlu Seijuurou untuk memperburuk suasana hatinya.
Ryouta yang baru saja selesai mengoleskan selai cokelat di rotinya mendorong botol selai cokelat tersebut ke arah Daiki. Anak berambut pirang tersebut tengah membuka mulut dan siap memasukkan rotinya ke dalam mulut ketika Atsushi dengan cepat merebut roti milik Ryouta dan segera berlalu ke pintu depan.
Erangan Ryouta yang kesal meminta Atsushi mengembalikan rotinya dan suara tawa Daiki yang puas sekali menertawakan sang kakak sama sekali tak digubris oleh Atsushi. Setelah anak berambut ungu tersebut selesai mengikat tali sepatunya, ia membuka pintu depan dan mulai melangkah menuju SMP Teikou.
Berkali-kali Atsushi merapalkan motivasinya berangkat pagi hari ini. Pertama adalah karena ia malas bertemu muka dengan Seijuurou, kedua adalah karena pelatihnya akan datang mengawasi latihan hari ini dan ia malas kena marah sang pelatih jika ia ketahuan sering sekali membolos, ketiga –dan merupakan alasan terpenting—adalah karena Jason bilang ia melemah.
Hal yang paling dibenci oleh seorang Akashi Atsushi adalah diperintah oleh orang yang menurutnya lebih lemah darinya atau tidak berhak.
Dan hal kedua yang paling dibenci seorang Akashi Atsushi adalah dibilang lemah.
Sambil menahan kantuk yang gigih menggelayuti matanya, Atsushi mengayunkan langkahnya dengan enggan menuju SMP Teikou.
Sejak tadi malam, malam di mana Alex mengumumkan keputusannya, semua yang ada di sekitar Himuro Tatsuya terasa tak lagi benar. Ia tidak tahu apakah semua ini ada hubungannya dengan kata-kata Alex semalam atau tidak, tapi yang pasti suasana hatinya sejak itu jadi sedikit memburuk dan pikirannya berkabut.
Sejak detik di mana Himuro membuka mata di pagi yang mendung itu, Himuro sudah merasa suasana hatinya buruk. Rasanya pagi itu ia tidak ingin turun dari tempat tidur, ia hanya ingin menggulung dalam selimut seharian dan membolos latihan basket pagi ini.
Padahal biasanya ia akan langsung meloncat dari tempat tidur dengan bersemangat ketika ada latihan pagi.
Semua yang terjadi sejak ia terbangun terasa salah. Roti panggang yang dimakannya pagi ini sedikit gosong hingga terasa agak pahit di lidah, saat Himuro beranjak untuk cuci muka, air kerannya terasa begitu dingin hingga otot-otot wajah Himuro terasa kaku dibuatnya, ketika akan berangkat, ia hampir saja keluar dengan memakai sandal rumah.
Sebelah tangan Himuro terangkat guna mengusap wajahnya. Ada apa dengannya? Tidak biasanya ia seperti ini...
Himuro melangkah masuk ke gym SMP Teikou yang pintunya terbuka lebar. Dengan segera anak berambut hitam tersebut menjatuhkan tasnya di sekitar tas-tas anggota tim basket lain yang sudah datang dan memulai pemanasan ringan.
Setelah keluar dari ruang ganti, barulah Himuro mengedarkan pandangannya ke sekeliling lapangan indoor SMP Teikou tersebut. Tepat saat itu mata kelabu milik Himuro berhasil menangkap sosok seorang anak jangkung berambut ungu yang tengah memantul-mantulkan bola dengan malas di tengah-tengah lapangan.
Ootsubou dan Miyaji yang terlihat memasang ekspresi bersalah berdiri di hadapan anak berambut ungu tersebut. Mereka bertiga terlihat sedang membicarakan sesuatu. Tak berapa lama kemudian Atsushi mengangguk malas. Ootsubou mengatakan satu hal lagi lantas berlalu.
Dari tampang Atsushi ketika Ootsubou mengatakan satu hal terakhir padanya, Himuro bisa menebak kalau anak berambut ungu tersebut sama sekali tidak mendengarkan apa pun itu yang dikatakan oleh sang kapten tim.
Himuro memejamkan matanya erat dan menarik napas dalam. Untuk yang kedua kalinya hari itu, kedua tangan Himuro terangkat untuk mengusap wajah.
Bagus, entah kenapa setelah melihat sosok Atsushi berdiri di lapangan membuat Himuro mendapat firasat buruk.
Jujur saja, ia masih belum bisa menerima perlakuan Atsushi padanya tempo hari. Maka dari itu, Himuro berpikir, sebaiknya ia menjauh dari Atsushi jika ia tidak ingin ada pertengkaran terjadi di hari Minggu kelabu tersebut.
Akashi Atsushi mendecakkan lidah kesal.
Setelah anak berambut ungu tersebut susah payah memaksa dirinya untuk bangkit dari tempat tidurnya yang hangat dan nyaman demi latihan basket Minggu pagi itu, ia justru dikecewakan karena setelah satu jam berlatih sang pelatih tidak kunjung datang. Atsushi tidak tahu alasannya tapi apa pun alasannya berhasil membuat separuh dari anggota tim basket SMP Teikou menggerutu.
Langkah Atsushi terhenti tepat ketika Ootsubou yang menjadi lawan latih tandingnya hari ini mengambil posisi di antara ring dan Atsushi, berusaha mencegah anak berambut ungu tersebut untuk mencetak skor. Mata ungu Atsushi membalas tatapan tajam penuh konsentrasi yang dilontarkan Ootsubou sementara sebelah tangan anak tersebut memantul-mantulkan bola.
Tak perlu waktu lama baginya untuk memikirkan cara melewati Ootsubou, hanya dengan satu gerakan tipuan dan langkah cepat, ia sudah berhasil melewati sang kapten. Tanpa benar-benar perlu melompat, Atsushi memasukkan bola di tangannya ke dalam ring.
Dengan berlari-lari kecil, Atsushi meninggalkan Ootsubou yang masih berdiri mematung di bawah ring.
Atsushi kembali mendecakkan lidah.
Selain absennya sang pelatih, lemahnya lawan mainnya membuat Atsushi naik darah. Awalnya ia berusaha bersabar, berkali-kali ia berusaha mengingatkan dirinya kalau dengan latihan ini ia bisa bertambah kuat dan tidak akan kehilangan muka di depan Jason, tapi pada akhirnya ia tidak tahan lagi.
Melawan teman-teman setimnya kini terasa terlalu mudah baginya sampai-sampai latih tanding ini tidak terasa seperti latihan! Ini hanya seperti permainan anak-anak baginya.
Untungnya sebelum emosi Atsushi semakin berada di luar kendali, Ootsubou meneriakkan 'istirahat lima belas menit' pada mereka. Dengan langkah diseret malas, Atsushi berjalan menuju bench dan menjatuhkan diri.
Anak berambut ungu tersebut menerima botol air minum yang diberikan padanya oleh manajer tim mereka dan menghabiskannya dalam sekali teguk. Setelah mengaduk-aduk tasnya untuk beberapa saat, ia berhasil menemukan selembar handuk kecil yang tadi pagi dijejalkannya asal ke dalam tas dan menjatuhkan benda tipis itu begitu saja di atas matanya yang tertutup.
Di tengah-tengah usahanya mengatur napasnya yang sedikit memburu, Atsushi mendengar suara Ootsubou yang berteriak memberitahu mereka kalau waktu istirahat mereka telah habis.
Atsushi menghela napas panjang. Ia benar-benar sudah malas ikut latihan.
Latihan itu seharusnya untuk meningkatkan kemampuan, jadi apa gunanya Atsushi latihan jika kemampuannya sama sekali tidak meningkat?
"Sudah cukup. Aku berhenti latihan," kata Atsushi dengan suara agak keras agar semua orang di gym dapat mendengarnya.
Kontan, semua anggota tim basket yang hadir di hari Minggu kelabu itu menoleh ke arah Atsushi setelah mendengar pernyataan yang dikeluarkan anak berambut ungu tersebut.
"Apa kau bilang?" tanya Miyaji. Raut kaget masih menghiasi wajahnya. Terlihat sekali kalau Miyaji tengah berusaha menahan diri agar tak mengerutkan alis.
Atsushi mengangkat handuk yang menutupi penglihatannya sedikit lantas melirik Miyaji melalui sudut matanya. "Sudah kubilang, aku berhenti latihan."
Pandangan tajam serta hawa mengerikan yang menguar dari Miyaji sama sekali tak menggoyahkan Atsushi. Anak berambut ungu tersebut justru balas menatap Miyaji dengan pandangan tidak suka. Ia merasa ialah yang terkuat di tim ini dan karena itulah ia sama sekali tidak merasa takut.
"Jangan bercanda! Apa maksudmu?!"
Anak-anak lain –selain Shintarou, Himuro, dan Ootsubou—memandang kedua orang yang tengah bertengkar tersebut dalam diam. Pandangan bingung terlontar dari mata mereka. Apakah mereka bingung harus melakukan apa atau bingung kenapa Atsushi berkata seperti itu, tidak ada yang mengetahuinya secara pasti.
Sebelum Miyaji dapat merangsek maju dan menghajar adik kelasnya, Ootsubou berjalan perlahan menuju ke depan sang Akashi junior. Otomatis pandangan Atsushi yang sebelumnya terarah pada Miyaji kini terfokus pada sang sosok sang kapten yang berdiri tegak menjulang di hadapannya.
"Atsushi, jika kau berhenti latihan, kau akan dijadikan pemain cadangan selama Winter Cup," ancam Ootsubou dengan jelas dan tegas. Ada nada final dalam kalimatnya yang secara tak langsung menandakan kalau Atsushi tidak akan bisa bernegosiasi dengannya dalam masalah ini.
Yah, bukannya Atsushi ingin bernegosiasi dengannya juga.
Menjadi pemain cadangan berarti ia masih akan bermain dalam pertandingan, bukan? Menurut Atsushi itu sama sekali bukan hal buruk. Justru itu menguntungkan karena dengan begitu Atsushi tak perlu membuang-buang tenaganya untuk melawan orang-orang lemah selama babak penyisihan.
Tujuan seorang Akashi Atsushi dalam turnamen musim dingin ini hanyalah melawan Jason Silver dan mengalahkannya agar anak itu tak bisa menyombongkan diri lagi di hadapannya. Dan Atsushi yakin kalau timnya dan tim Jason akan bertemu di final lagi nanti.
Saat itu tiba, satu-satunya orang yang bisa menahan Jason adalah dirinya dan mau tak mau pelatih mereka pasti akan menurunkan Atsushi.
Atsushi justru akan mendapat dua keuntungan jika ia dicadangkan.
Selama dirinya tidak dikeluarkan dari tim atau tidak diperbolehkan ikut pertandingan, Atsushi sama sekali tidak akan protes.
Karena Atsushi yang diam saja, Ootsubou menambahkan, "apa kau tidak keberatan dengan hal itu?"
"Ya," jawab Atsushi enteng. "Dicadangkan, kan, bukan berarti tidak akan diturunkan sama sekali. Lagi pula dengan begitu aku bisa menghemat tenagaku sampai di final nanti."
Dengan mata ungunya, Atsushi bisa melihat mata hitam Ootsubou yang melebar disusul dengan rahang Ootsubou yang mengeras, kemungkinan karena menahan kesal. Tangan sang kapten basket terlihat mengepal dan sedikit terangkat.
Atsushi mendengus dalam hati. Silakan saja kalau ingin memukulnya, toh ia bisa menahannya hanya dengan satu tanga—
Tiba-tiba saja ada sesuatu yang membuat kontak dengan pipi kiri Atsushi dan wajah sang Akashi junior terasa terdorong kuat oleh sesuatu itu. Untuk sesaat semuanya terasa bergoyang bagi Atsushi. Suara serta raut wajah penghuni gym yang terkesiap kaget menjadi hal yang disadari Atsushi pertama kali setelah semuanya kembali stabil dalam penglihatannya.
Hal kedua yang disadarinya adalah Ootsubou yang terkejut berdiri di belakang Himuro yang telah berdiri di antara Ootsubou dan dirinya dengan bahu tegang, tangan terkepal menjadi tinju, dan napas tersengal menahan emosi.
"Apa kau tidak keberatan dengan hal itu?"
Himuro mencoba untuk meredakan amarah yang kian mendidih dalam dirinya. Tangan anak itu terkepal membentuk tinju sebelum melemas kembali. Mata kelabu Himuro terpejam erat dan bibir bawahnya ia gigit kuat-kuat –jika bibirnya berdarah setelah ini maka Himuro tidak akan heran—demi menahan diri agar tak merangsek maju menuju teman seangkatannya itu.
"Ya," jawaban enteng Atsushi membuat mata kelabu Himuro sontak terbuka lebar, "dicadangkan, kan, bukan berarti tidak akan diturunkan sama sekali. Lagi pula dengan begitu aku bisa menghemat tenagaku sampai di final nanti."
Jawaban enteng dan cuek yang dilontarkan Atsushi telah berhasil memutuskan tali kesabaran terakhir yang dimiliki Himuro. Anak berambut hitam tersebut merangsek maju, awalnya dengan langkah pendek yang lama-lama semakin lebar.
Dari sudut penglihatannya Himuro bisa melihat kalau Shintarou menyadari pergerakannya dan sudah mengangkat tangannya untuk menghentikan Himuro namun sayang sekali anak itu terlalu lambat.
Berbagai emosi yang terpendam dalam dada Himuro beberapa hari ini kini meledak begitu saja. Persis seperti bendungan yang jebol, Himuro sama sekali tidak bisa –dan tidak berusaha—untuk meredam emosinya yang kini kacau.
Tiba-tiba saja Himuro sudah berada di antara Ootsubou dan Atsushi, napas tersengal dan tinju kanannya terasa sedikit nyeri. Mata kelabu anak tersebut bisa melihat ekspresi terkejut yang ditampilkan oleh Atsushi sebelum ekspresi itu tersapu bersih digantikan ekspresi setengah tidak peduli setengah kesal.
Himuro sudah tidak peduli lagi. Meski pun seorang Akashi Atsushi memasang ekspresi seperti anak anjing yang baru ditendang keluar, Himuro tidak akan peduli.
Himuro Tatsuya muak melihat kelakuan brengsek temannya satu ini.
Semuanya terasa berjalan secara otomatis. Kakinya yang berjalan maju ke arah Atsushi, tangannya yang mengepal dan meninju pipi kiri Atsushi, dan pandangannya yang seakan menyalak ke arah temannya tersebut tak ada yang benar-benar dilakukannya dengan kesadaran penuh. Semuanya terjadi begitu saja.
Himuro tahu ia tak seharusnya membiarkan emosinya mengendalikan dirinya seperti ini tapi di saat yang sama juga ia tidak bisa menghentikan tangannya untuk tidak meraih kerah kaus yang dikenakan Atsushi dan berteriak di depan wajah anak berambut ungu tersebut.
"Sudah cukup, Atsushi!" Himuro sendiri terkejut mendengar suaranya yang terasa begitu... bukan dirinya, "Sebentar lagi Winter Cup dimulai. Jangan main-main!"
Atsushi mendecakkan lidah kesal tapi ekspresinya dibuat tetap datar, "Aku tidak main-main. Kalian saja yang lemah hingga membuatku terlihat main-main saat berlatih dengan kalian," sekarang alis Atsushi mulai terlihat berkerut. "dan apa-apaan kau, Muro-chin? Melampiaskan kekesalanmu dengan meninjuku seperti itu. Kau pikir kau siapa?"
Bukan kalimat 'kau pikir kau siapa?' yang dilemparkan Atsushi dengan keras ke wajahnya yang membuat Himuro membelalakkan mata dan tersadar sepenuhnya akan apa yang dilakukannya. Sebaris kalimat 'melampiaskan kekesalanmu dengan meninjuku' itulah yang seakan meninju Himuro tepat di ulu hati.
Himuro yakin Atsushi tidak tahu tentang pergolakan hatinya akhir-akhir ini. Tentang keputusan Alex untuk pindah ke Amerika, tentang ketakutannya untuk kembali ke Amerika, dan tentang kekesalannya akan sikap Atsushi.
"Kau bukan kapten tim ini dan kau tidak lebih kuat dariku jadi kau tidak berhak memerintahku," lanjut Atsushi. Mata ungu anak tersebut tak kalah garang membalas tatapan Himuro. "Lagi pula, jujur saja ya, aku kesal melihatmu berusaha begitu keras tapi kemampuanmu tidak bertambah. Daripada menceramahiku, lebih baik kau berlatih. Dibanding aku, kau lebih tidak berdaya saat final Inter High kemarin."
Mata Himuro melebar kaget mendengar pernyataan tajam dari Atsushi. Secercah hal yang selama ini Himuro pendam dalam-dalam kini tersembul ke permukaan.
Sepanjang pertemanan Himuro dan Atsushi, ada satu hal yang selalu disembunyikan oleh Himuro. Sesuatu yang menurutnya tidak sepantasnya ditunjukkan karena itu hanya akan menghancurkan pertemanannya dengan Atsushi. Sejak bertemu dan menyaksikan kemampuan Atsushi awal musim semi lalu, Himuro berusaha menyimpan hal tersebut rapat-rapat dalam hatinya.
Hal itu sederhana. Suatu hal yang jika ditangani dengan benar akan bisa membuat seseorang berkembang namun jika ditangani dengan salah justru akan menghancurkan diri seseorang.
Hal itu tak lain tak bukan adalah rasa iri.
Tidak hanya di bidang basket. Ia iri pada Atsushi hampir dalam segala hal.
Ia iri melihat Atsushi yang punya kemampuan lebih dalam basket. Ia iri melihat Atsushi yang langsung bisa masuk menjadi pemain lapis pertama tim basket mereka sedangkan Himuro baru bisa selevel dengannya setelah dua bulan. Ia iri melihat Atsushi yang bisa hidup bahagia sekarang meski memiliki masa lalu yang kelam seperti yang dimilikinya. Ia iri melihat Atsushi yang tidak perlu berusaha memupuk semuanya dari nol ketika bergabung dengan keluaga barunya. Ia iri melihat Atsushi yang dapat dengan mulus bergabung dengan keluarga barunya tanpa pernah mendapat cemoohan atau tatapan sinis atau sindiran kasar. Ia iri melihat Atsushi yang memiliki keluarga yang meski tidak lagi utuh namun terlihat begitu sempurna. Ia iri melihat Atsushi yang tak perlu resah memikirkan apakah esok ia akan dipaksa menghadapi ketakutannya.
Dan yang terpenting, ia iri melihat Atsushi yang begitu diberkahi dengan talenta basket yang sepertinya tanpa batas. Talenta yang tak akan mungkin bisa disaingi oleh Himuro meski sudah bertahun-tahun latihan.
Semua hal yang diinginkan Himuro, hal-hal yang tak pernah dan mungkin tak akan pernah digapainya tersebut, disia-siakan oleh Atsushi...
Himuro benar-benar tidak mengerti dengan dirinya sendiri. Entah bagaimana rasanya hari ini ia sama sekali tidak punya pengendalian diri.
Sedetik yang lalu ia merasa begitu kesal hingga meninju teman dekatnya, sedetik kemudian ia diserang perasaan bersalah ketika ia menyadari aksinya, dan sekarang –berkat kata-kata terakhir Atsushi yang begitu menohoknya—ia merasa begitu putus asa.
Kepala Himuro menunduk. Dengan lirih ia berkata, "aku tahu. Aku tahu kalau kemampuanku masih jauh di bawahmu. Aku tahu kalau seberapa keras pun aku berusaha aku tidak akan bisa bermain sebagus kau. Kau tahu, aku... selalu iri padamu. Kau memiliki apa yang dari dulu kuinginkan," Himuro memejamkan matanya yang mulai terasa panas di bagian ini. Anak berambut hitam tersebut sadar kalau kata-katanya mulai terdengar bergetar.
Tidak ada yang tahu kalau maksud dari kalimat terakhir Himuro bermakna lebih luas.
Himuro menarik napas yang tercampur dengan isakan halus, "Tapi kau malah menyia-nyiakan itu semua..."
Setetes cairan bening mulai mengalir menuruni pipi Himuro dan menetes ke pipi Atsushi. Setetes cairan bening yang mengandung semua rasa frustrasi dan perasaan terpendam yang selama ini disembunyikan Himuro.
Himuro mengangkat wajahnya dan seulas senyum kecil namun terkesan pahit terbit di sana. "Kau membuatku gila..."
Atsushi berjalan perlahan membelah ramainya trotoar kota Tokyo di hari Minggu kelabu itu. Entah bagaimana meski hawa-hawa malas menggelayut di seluruh penjuru ibukota Jepang tersebut, orang-orang tetap bersikeras menikmati hari.
Sebelah tangan anak berambut ungu tersebut mencengkeram tas yang disampirkan di bahu sedangkan yang lainnya dimasukkan dalam saku celana. Sepasang mata ungu milik Atsushi diarahkan ke bawah, menatap kelabunya trotoar tersebut yang terlihat sebelas-dua belas dengan mata milik Himuro.
Himuro...
Masih jelas di benak Atsushi ketika air mata mulai jatuh dari mata kelabu milik Himuro. Seakan kejadian itu baru berlangsung sedetik yang lalu, Atsushi masih bisa mengingat dengan jelas apa yang dikatakan Himuro tadi.
Meski ia tidak menunjukkannya sama sekali, tapi kata-kata Himuro tadi terasa seperti sebuah tombak yang sekarang menancap di hatinya, tersangkut, dan seseorang tengah mengoyak-ngoyak hatinya agar tercipta lubang lebih besar sehingga tombak itu bisa ditarik.
Hatinya terasa aneh. Sesak.
Sebelah tangan Atsushi yang sebelumnya dijejalkan dalam saku kini terangkat ke dada. Perasaan apa ini? Setelah melihat Himuro menangis tadi, ia merasa menjadi orang paling jahat sedunia. Perasaan ini juga sering menghantuinya setelah ia bertengkar dengan Seijuurou. Apa ini yang namanya perasaan bersalah? Rasanya ia ingin minta maaf tadi karena sudah mengatakan hal yang mungkin telah begitu menyinggung Himuro, tapi seperti biasa, lidahnya mendadak terasa begitu kelu.
Pada akhirnya ia hanya menyuruh Himuro melepaskan cengkeraman tangannya dari kerah kaus yang ia kenakan dan setelah si anak berambut hitam tersebut melepaskan cengkeramannya, Atsushi langsung menyandang tasnya dan berlalu.
Dan lagi, bersamaan dengan munculnya perasaan bersalah, muncul satu lagi perasaan aneh yang mengganggu Atsushi sejak melihat Himuro menangis tadi. Daripada perasaan, mungkin akan lebih tepat jika dikatakan firasat.
Dan firasatnya mengatakan ada yang salah dengan Himuro. Hari ini emosi anak itu terlihat seperti roller-coaster. Dalam sedetik membawa Himuro ke puncak dan sedetik kemudian sudah meluncur drastis ke bawah. Saat baru datang Himuro terlihat tenang –meski Atsushi akui kalau tenang yang menguar dari Himuro adalah tipe tenang sebelum badai—lalu tiba-tiba saja emosinya memuncak hingga ia memukul Atsushi, lalu dengan hanya beberapa potong kalimat, Himuro sudah berhasil dibuat menangis.
Himuro Tatsuya biasanya tidak bersikap seperti itu. Ia bukan tipe orang yang emosinya seperti roller-coaster. Ia lebih seperti orang yang emosinya tenang seperti air danau. Seperti Seijuurou.
Sesuatu telah terjadi. Sesuatu yang buruk, yang berusaha dipendam Himuro sendiri.
Terlalu tenggelam dalam pikirannya sendiri, Atsushi sama sekali tidak sadar kalau ia telah berjalan sampai ke taman tempat ia biasa bermain basket dengan Jason. Ia baru sadar ketika matanya menangkap tanah lapangan yang sudah begitu dikenalnya.
Kepala berambut ungu milik Atsushi menoleh ke arah jam yang berada tak jauh dari lapangan basket jalanan tempatnya berada, jam masih menunjukkan pukul sepuluh sedangkan janjinya bertemu Jason adalah jam setengah sebelas. Ia datang terlalu cepat.
Tapi tak apa, ia masih bisa bermain basket sendiri sembari menunggu temannya satu itu datang.
Atsushi berjalan ke arah bangku taman di sisi lapangan dan menjatuhkan tasnya bersamaan dengan dirinya. Dibukanya retsleting tasnya dan menemukan kalau tasnya hanya berisi handuk kecil, botol minum, dan baju yang dipakainya pagi ini untuk pergi latihan ke sekolah.
Sama sekali tidak ada bola basket.
Atsushi mengerang. Ia pasti lupa memasukkannya tadi pagi. Oh baiklah, sepertinya ia tidak punya pilihan selain pulang dan mengambilnya.
Atsushi bangkit dan kembali menyampirkan tasnya di bahu. Dalam hati ia berharap semoga ia tidak bertemu dengan Seijuurou di rumah nanti.
"Kemarin Tetsuya menyanyikan 'Twinkle Twinkle Little Star' di TK!" seru Tetsuya dengan bersemangat. Kedua tangan kecilnya memegang sisi meja makan sedangkan kedua kakinya berjinjit-jinjit karena bersemangat. Karena badannya tidak terlalu tinggi, hanya ujung kepala hingga hidungnya yang menyembul dari bawah meja.
Tapi sesaat kemudian gerak-gerak kecil tanda antusiasme itu reda dengan sendirinya.
Di sampingnya, terduduk di atas kursi, adalah Seijuurou yang tengah mengoleskan mentega ke atas rotinya sebelum ia merah selai cokelat dan kacang di tengah meja. Seulas senyum kecil terpampang di wajahnya yang memerah setelah berlari keliling area perumahan.
"Begitukah? Apa Tetsuya menyanyi dengan baik?" sahut Seijuurou setengah sambil lalu. Sebelah tangannya mengembalikan botol selai kacang ke tengah meja sedangkan tangannya yang lain memasukkan roti yang baru selesai diolesi selai ke dalam mulutnya.
Kepala berambut merah milik Seijuurou beralih ke arah sang adik yang masih menatapnya dengan mata besar polosnya. Alis biru langit milik adik bungsunya berkerut, sepertinya karena menahan kesal karena pertanyaan kakaknya yang dirasa sedikit menyinggung.
Jika Seijuurou tidak ingat kalau ia tengah mengunyah roti, mungkin ia sudah terkekeh melihat ekspresi geram-tapi-ditahan yang tengah dipasang si bungsu.
Sebelah tangan Seijuurou yang tidak memegang roti bergerak mencubit pipi adiknya gemas.
"Tentu saja Tetsuya menyanyi dengan baik," jawab Tetsuya, masih berusaha untuk tidak mengerucutkan bibir di hadapan si sulung. "Kakak tidak percaya?"
Seijuurou menelan potongan rotinya lantas ia menggumamkan 'hm' panjang. Sepasang mata merah kembar miliknya memutar pura-pura berpikir. "Bagaimana ya?"
Akhirnya tangan Tetsuya terangkat, menggenggam tangan Seijuurou dan menariknya pelan. Seijuurou bangkit, mengikuti saja apa kemauan adiknya. Dengan tangannya yang bebas, Seijuurou memasukkan sisa roti ke dalam mulutnya.
"Kalau begitu ayo Tetsuya tunjukkan," kata Tetsuya setelah berhasil menarik kakaknya ke depan sebuah piano tua milik keluarga Akashi yang teronggok di salah satu sudut ruang keluarga. Piano yang dulu sering dimainkan olehnya dan Shintarou kini telah beralih fungsi menjadi pengumpul debu.
Tetsuya mengisyaratkan Seijuurou untuk duduk sedangkan ia sendiri mengambil posisi di samping piano. Seijuurou menurut lantas membuka penutup piano. Kepala merah miliknya menoleh ke arah adiknya sesaat sebelum jemarinya mulai menekan tuts memainkan 'Twinkle Twinkle Little Star' diikuti oleh nyanyian Tetsuya.
Seijuurou menarik tangannya setelah selesai memainkan lagu itu dengan piano dan mengelus kepala si bungsu. "Ternyata adik Kakak pandai menyanyikannya."
Si bungsu tersenyum. Mulutnya baru membuka hendak mengatakan sesuatu ketika suara pintu depan terbuka tertangkap teling si sulung dan si bungsu.
Langkah kaki yang terdengar berat terdengar dari arah pintu depan hingga ke tangga. Seijuurou menebak kalau itu Shintarou atau Atsushi karena tadi malam adiknya yang berambut hijau lumut melapor kalau di Minggu pagi mereka ada latihan basket. Tapi kalau dari suara langkah kakinya, sudah bisa dipastikan kalau yang datang adalah Atsushi.
Seijuurou bangkit dari tempat duduknya. Tangannya mengelus puncak kepala biru langit Tetsuya sekali lagi sambil lalu. Setelah menggumamkan pernyataan maaf karena ia harus pergi pada si bungsu, Seijuurou mengambil langkah lebar menyusul sang adik yang berambut ungu.
Ia ingin meluruskan beberapa hal dengan Atsushi. Terutama masalah nilai anak itu. Oh, ia juga ingin merevisi beberapa aturan yang ia tekankan pada adiknya satu itu.
Seijuurou memang berniat menghampiri adiknya untuk memperbaiki beberapa hal sekaligus menambal hubungan mereka yang kian renggang, tapi entah kenapa tiap langkah yang diambilnya mendekat menuju sang adik membuat perasaan buruk dalam hatinya kian besar. Rintik hujan yang sepertinya mulai turun sama sekali tak membantu menenangkan perasaan Seijuurou.
Mencoba menepis perasaan buruk itu jauh-jauh, Seijuurou melebarkan langkahnya.
Benar tebakan Seijuurou tadi. Bisa dilihatnya pintu kamar Atsushi yang tadi pagi tertutup kini terbuka. Tak perlu waktu lama, si sulung kini telah berdiri di pintu depan. Sepasang mata merah kembarnya menangkap sosok Atsushi berdiri membelakanginya, tengah sibuk memasukkan sebuah bola oranye ke dalam tas.
Seijuurou menarik napas dalam dan sekali lagi menahan gejolak perasaan yang kian liar dalam hatinya.
"Atsushi," sepertinya anak itu sama sekali tidak menyadari keberadaan Seijuurou. Terbukti dari bahunya yang terlonjak kaget ketika mendengar si sulung menyebutkan namanya. "ada yang ingin Kakak bicarakan denganmu."
Atsushi masih diam seribu bahasa tapi tangannya sibuk merapatkan tasnya yang terbuka lantas menyampirkan tas tersebut di bahu. Dilihat dari gerak-geriknya, anak itu sudah mau meninggalkan rumah lagi.
Seijuurou tersenyum pahit. Akhir-akhir ini adiknya satu itu tidak betah berlama-lama di rumah dan kemungkinan besar alasannya tidak betah itu adalah Seijuurou sendiri.
"Ini soal nilaimu," lanjut Seijuurou, sedikit berharap kalau ia bisa menahan kepergian sang adik dan mereka bisa bicara baik-baik kali ini.
Sayangnya harapan Seijuurou hanyalah harapan. Begitu mendengar kata 'nilai' disebut, bahu Atsushi tampak menegang dan itu jelas bukan pertanda baik. Sesaat kemudian ia berbalik dan Seijuurou bisa melihat jelas kerutan tidak senang mencoreng wajah sang adik. Ia terlihat siap melontarkan omongan pedas dan mulai berperang dengan Seijuurou.
"Apa? Nilaiku jelek? Lalu kenapa? Kakak mau memarahiku?" balas Atsushi. Belum apa-apa dan anak berambut ungu itu sudah menarik urat. Pandangannya begitu tajam membalas tatapan tenang Seijuurou.
Fokus Seijuurou teralihkan ketika ia menyadari kalau pipi kiri adiknya terlihat memerah. Hanya pipi kiri. Sikap tenang Seijuurou langsung menguap. Sebelum Seijuurou sempat menanyakan apa yang terjadi di sekolah tadi pada Atsushi, sang adik sudah berjalan melewati Seijuurou, dalam prosesnya menyenggol bahu sang kakak yang lebih pendek darinya.
"Atsushi! Tunggu, dengarkan Kakak dulu," panggil Seijuurou ketika adiknya berlalu begitu saja melewatinya dan tak kunjung berhenti, "dan apa yang terjadi dengan pipimu?"
Atsushi terus berjalan menuju pintu depan diikuti oleh Seijuurou. Mungkin hanya perasaan Seijuurou saja, tapi ia merasa mendengar Atsushi mengatakan 'bukan urusan Kakak'. Rasa sakit menusuk hati Seijuurou, tapi sekali lagi ia tepis perasaan itu jauh-jauh.
Skenario yang sudah begitu sering diulang dalam rumah keluarga Akashi tersebut kini kembali terulang. Sosok Atsushi yang berjalan cepat serta lebar diikuti oleh Seijuurou yang berusaha susah-payah mengejarnya.
Mulai merasa frustrasi karena omongannya tak kunjung didengar, Seijuurou memperlebar langkah dan menggapai sebelah tangan Atsushi. Ketika akhirnya tangannya berhasil menggapai dan mencengkeram siku sang adik, ia menariknya dengan terlalu kuat, dengan kasar.
"Dengarkan aku ketika aku bicara padamu, Atsushi!" seru Seijuurou, tanpa sadar menaikkan volume suaranya dan mengeratkan cengkeramannya pada siku Atsushi.
Atsushi berhenti lantas berbalik dan menatap sang kakak dengan tatapan penuh kebencian. Seijuurou balas menatapnya dengan tatapan yang sama tajamnya. Tanpa si sulung Akashi sadari, ia telah membuat api pemberontakan yang susah-payah ditahan Atsushi dalam diri kini membara hebat.
Sepasang alis ungu milik Atsushi berkerut begitu dalam hingga tidak akan aneh seandainya alis itu akan tercetak permanen di dahinya. Dengan sekali sentak, Atsushi menarik kembali sikunya dari cengkeraman tangan Seijuurou.
Seijuurou menarik napas lega ketika dilihatnya Atsushi yang tak melanjutkan perjalanannya menuju pintu depan meski si sulung telah melepaskan cengkeraman tangannya. Akhirnya adiknya satu itu mau berhenti sejenak untuk mendengarkan apa yang harus dikatakannya. Seulas senyum yang amat sangat tipis menarik sudut-sudut bibir Seijuurou.
"Begi—"
"Bukankah sudah kubilang ini bukan urusan Kakak? Baik nilaiku mau pun apa pun itu yang berhubungan denganku, itu bukan urusanmu!"
Seijuurou terdiam. Lengkung senyum yang sempat terbentuk di wajahnya kini seakan tertarik kembali oleh gravitasi. Ia menarik napas cepat ketika mendengar nada beracun adiknya ketika berbicara barusan. Anak itu berbicara sedikit lebih keras, tapi tidak cukup keras hingga bisa dikategorikan sebagai berteriak. Nada malas yang biasa menggelayut dalam nada bicara sang adik kini hilang sudah, digantikan dengan nada tajam seakan dipenuhi pisau.
"Aku muak diatur-atur olehmu! Kau pikir kau siapa hingga bisa memberitahuku apa yang boleh dan tidak boleh kulakukan?" Seijuurou berdiri mematung menatap adiknya yang masih terus melanjutkan lontaran kata-kata beracunnya tanpa sedikit pun peduli pada apa yang dirasakan Seijuurou.
Penggunaan kata 'kau' untuk memanggil Seijuurou sama sekali tak dipermasalahkan baik oleh Atsushi mau pun oleh Seijuurou. Atsushi terlalu tenggelam dalam pengeluaran segala kejengkelannya yang terpendam selama ini sedangkan Seijuurou terlalu terkejut dengan apa yang dikatakan adiknya.
"Kau sungguh tidak berhak mengaturku! Selama ini aku membiarkanmu mengaturku karena kupikir kau lebih tau apa yang baik untukku tapi sekarang jalan pikiranmu lebih payah dariku! Kau bukan ayahku, kau bukan ibuku, kau bukan kakak kandungku, kau bukan siapa-siapaku jadi jangan sekali-kali mengaturku! Aku tidak sudi diatur olehmu!"
Sangat sulit menjelaskan apa yang dirasakan oleh Seijuurou saat ini terlebih ketika kalimat terakhir Atsushi memasuki liang pendengaran si sulung. Sekadar kata 'sakit' saja rasanya tidak cukup untuk menjelaskan bagaimana perasaan Seijuurou sekarang.
Sebuah emosi berkelebat sesaat di mata Seijuurou. Sepasang tangan Seijuurou berkedut. Tapi selebihnya sang pemuda berambut merah tak melakukan apa pun. Ia masih terdiam, mematung, tak tahu harus melakukan apa, tak tahu harus mengatakan apa.
Rasanya seluruh sarafnya mati saat ini hingga ia tak bisa menggerakkan anggota tubuhnya. Seijuurou juga sama sekali tak dapat menemukan suaranya di mana pun. Meski ia sudah memaksa otaknya untuk melakukan sesuatu, untuk mengatakan sesuatu, tapi tetap saja tak ada hasil.
Napas Atsushi terdengar memburu setelah ia mengeluarkan yang ingin dikatakannya. Setelah itu ia berbalik dan kembali berjalan menuju pintu depan. Hujan yang terdengar deras menghunjam bumi di luar sama sekali tak dipedulikannya.
Ketika tangan Atsushi menjangkau kenop pintu, barulah Seijuurou berhasil mengambil kendali atas tubuhnya lagi.
"Atsushi! Di luar hujan!" Atsushi memutar kenop dan menarik pintu depan terbuka. Kata-kata Seijuurou sama sekali tak memasuki otaknya.
Persetan dengan debat panas mereka tadi. Persetan dengan rasa sakit yang membuat hati Seijuurou serasa mengalami pendarahan hebat. Yang terpenting sekarang adalah adiknya. Ia harus mencegah adiknya melakukan hal yang kemungkinan besar akan berakibat buruk pada dirinya sendiri.
"Atsushi! Ini musim dingin dan di luar hujan! Jangan keluar dengan pakaian setipis itu!" Atsushi masih menolak untuk memedulikan Seijuurou. Tangannya bergerak menutup pintu. "Atsushi! Paling tidak—"
Sayang sekali, pintu sudah terlanjur ditutup. Dengan kasar.
Tanpa peduli dengan keadaan sekitar, Atsushi berjalan dengan santai, di bawah guyuran hujan di tengah musim dingin tanpa payung dan mantel tebal alih-alih syal. Gigitan hawa dingin sama sekali tak menghentikan niatnya untuk sampai ke lapangan tempatnya biasa bermain dengan Jason. Sama sekali tak terlintas di pikirannya kalau mungkin saja lawan mainnya yang berambut silver dan berkulit hitam itu tak datang ke lapangan karena hujan ini.
Tapi meski pun ia tak datang, Atsushi rasa Atsushi tetap akan pergi. Demi bisa menjauh dari rumah dan menjauh dari kakaknya.
Atsushi tidak ingin mengakuinya. Benar-benar tidak ingin mengakui kalau rasa bersalah semakin menggigit-gigit hatinya. Terlebih ketika ia melontarkan kata-kata beracun tadi.
Jujur saja, ia sama sekali tidak mengerti kenapa ia bisa melontarkan kata-kata setajam itu. Awalnya ia merasa begitu kesal ketika kakaknya berkata ingin bicara soal nilai. Pasti kakaknya akan menceramahinya panjang lebar seperti biasa dilakukannya. Seperti yang dilakukan Himuro.
Jadi sebelum kakaknya sempat menceramahinya panjang lebar, Atsushi buka mulut lebih dulu lantas melarikan diri dari tempat kejadian perkara. Dan ketika kakaknya menaikkan volume suaranya, kejengkelan yang berusaha Atsushi kekang, lepas begitu saja.
Kata-kata Jason kemarin tentang kakaknya yang sesungguhnya tidak berhak membatasinya menggema kembali dalam tempurung kepala Atsushi. Lalu sebelum Atsushi sendiri sadar akan apa yang tengah dipikirkannya, mulutnya sudah bertindak cepat dan mengatakan apa yang menggema dalam otaknya.
Dada Atsushi terasa sesak ketika ia selesai mengeluarkan apa yang terlintas di pikirannya. Semakin sesak ketika dilihatnya Seijuurou hanya terdiam, dengan mata yang melebar dan mulut sedikit terbuka. Ia tidak membalas apa yang dikatakannya dengan nada lebih tegas seperti biasa.
Dan jika Atsushi tidak salah lihat, ekspresi Seijuurou justru berkerut menampilkan rasa sakit meski hanya sepersekian detik.
Atsushi mengembuskan napas panjang yang bertransformasi menjadi uap putih. Setelah berjalan sedikit di bawah hujan musim dingin ini, sedikit-banyak pikirannya yang kusut kini terurai kembali. Emosinya yang tadi berkobar tak terkendali kini sudah mereda. Hujan sudah membantunya membersihkan kepalanya yang tadi sempat berkabut.
Begitu sampai di lapangan basket di taman tempat perjanjian, tanpa memedulikan hujan yang turun semakin deras, Atsushi mengeluarkan bola basketnya dan mulai memantul-mantulkannya keliling lapangan sebagai pemanasan ringan.
Dalam kurang dari lima menit, Atsushi bisa mendengar satu-satunya suara langkah kaki mendekat menuju lapangan tempatnya berada. Bola basket yang tadinya akan ia angkat dan lemparkan ke dalam ring kini tertahan di atas kepala. Pose triple threat yang tadinya ia lakukan perlahan lenyap.
Manik ungu milik Atsushi memerhatikan pintu masuk lapangan dan tak lama kemudian sepasang mata ungu miliknya menangkap sosok seseorang berbadan tinggi besar, berkulit hitam, dan berambut silver; Jason Silver.
Sebuah tanda tanya besar berputar di kepala Atsushi ketika melihat gerak-gerik anak itu. Sembari mencengkeram erat tas yang disampirkan di bahu, Jason yang memakai jaket hitam dengan hoodie terpasang menoleh ke kanan dan kiri, seakan ia baru saja mencuri barang berharga dari suatu tempat dan tengah memastikan kalau tak ada seorang pun yang melihat apa yang baru saja dilakukannya.
Setelah mungkin dirasanya aman, Jason berlari kecil menuju Atsushi di tengah lapangan. Jujur saja, Atsushi masih sulit percaya kalau Jason benar-benar datang di cuaca buruk seperti ini. "Aku tidak menyangka kau akan datang di tengah hujan begini."
"Harusnya aku yang bilang begitu," sahut Jason. Tiap kata yang keluar dari mulut anak itu selalu diikuti dengan uap putih.
Untuk yang kedua kalinya, Jason menoleh ke sekeliling. Tatapan penuh tanda tanya yang dilontarkan Atsushi sama sekali tak digubrisnya. Setelah perhatian anak berkulit hitam tersebut kembali pada Atsushi, ia merangkul bahu Atsushi dan menuntun –setengah memaksa sebenarnya—si anak berambut ungu untuk ikut duduk dengannya di kursi taman di pinggir lapangan.
"Aku menepati janjiku. Di dalam tas ini, ada rahasia kekuatanku, Atsushi," kata Jason sembari sebelah tangannya menepuk tas yang kini diposisikan di antara si anak berkulit hitam dan Atsushi. Lantas Jason menarik retsleting tasnya dan mengaduk-aduk tas tersebut, "orang lain tidak boleh tahu soal ini makanya aku benar-benar bersyukur hujan turun karena dengan begini, tidak akan ada orang yang melintas di taman ini."
Kalimat-kalimat yang terselip keluar dari bibir Jason begitu lirih hingga hampir kalah dengan suara deru hujan di sekeliling mereka. Tapi untungnya Atsushi masih bisa mendengar apa yang dikatakan Jason dan itu membuat sepasang alis Atsushi berkerut dalam.
Kenapa... rasanya Jason mulai bertingkah mencurigakan?
Entah dari mana datangnya, firasat buruk menghantui hati Atsushi. Ralat, firasat yang benar-benar buruk.
Setelah beberapa saat sibuk sendiri mengaduk-aduk tasnya untuk menemukan 'rahasia' yang berusaha sekuat tenaga ia sembunyikan, akhirnya Jason berhasil menemukannya. Raut gusar yang sempat bergelayut di wajah hitam anak tersebut kini berganti dengan senyum sumringah.
Tangan hitam anak tersebut terangkat ke udara dan bersamaan dengannya, terangkat pula satu buah kaleng.
"Ini dia. Sederhana bukan?" tanya Jason. Atsushi mengambil kaleng di tangan Jason dan mengamati beda tersebut dengan saksama. Ini benar-benar rahasia kekuatan Jason? Benda sehari-hari seperti ini? Rasanya benar-benar sulit dipercaya...
"Kopi?" tanya Atsushi dengan sebelah alis terangkat tinggi dan nada bicara yang sarat akan keraguan. Kedua tangan anak berambut ungu tersebut memutar-mutar kaleng di tangannya untuk memastikan kalau ada sesuatu yang 'khusus' yang bisa menjadikan seorang Jason Silver lebih kuat.
Jason mengangguk mantap, "lebih tepatnya kafein."
Atsushi masih tidak mengerti bagaimana zat yang bisa ditemukan di salah satu kabinet dapur rumahnya bisa digunakan untuk menambah kekuatan seseorang. Sebuah pandangan yang seakan mengatakan 'kau serius?' dilemparkan Atsushi pada Jason.
Seketika itu juga Jason merebut kaleng kopi di tangan Atsushi.
"Dasar monyet, hal begini saja tidak tahu. Dengar, kalau kau minum ini seperti biasa memang tidak akan ada efeknya. Tapi, kalau kau meminumnya sekitar empat gelas sebelum pertandingan, kau akan merasakan efeknya! Tubuhmu tidak akan cepat lelah meski kau sudah berlari keliling lapangan berkali-kali," jelas Jason sembari sesekali mendorong kaleng kopi di tangannya ke wajah Atsushi hingga si anak berambut ungu perlu sesekali menjauhkan wajahnya.
Penjelasan panjang Jason tidak dapat menepis pandangan skeptis yang dilontarkan Atsushi. Pada akhirnya Jason menyerah dan mendesis kesal. Memang tidak mudah menjelaskan hal-hal seperti ini pada orang awam.
Masih dengan ekspresi gusar yang menggelayut setelah Atsushi tetap bersikeras tak percaya padanya, Jason kembali mengaduk-aduk isi tasnya dan mengeluarkan sebuah bungkusan hitam. Bungkusan hitam itu diletakkan di pangkuan Jason dan sepasang tangan hitam anak itu membuka ikatan yang menyegel apa pun itu yang berada di dalamnya.
Atsushi setia menyaksikan apa yang dilakukan oleh teman berkulit hitamnya tersebut dengan pandangan penuh keingintahuan. Tanpa sadar anak itu menjulurkan lehernya demi bisa melihat bungkusan hitam di pangkuan Jason.
Begitu ikatan bungkus tersebut terbuka, sepasang mata ungu Atsushi dapat melihat jelas apa yang tadinya disembunyikan oleh bungkusan hitam tadi. Kini di pangkuan Jason tergeletak satu plastik hitam yang di dalamnya terdapat satu plastik bening berisikan tablet-tablet kecil berwarna putih.
"Huh, monyet sepertimu memang tidak akan bisa mengerti omongan dewa sepertiku. Terserah kalau kau tidak mau percaya pada kata-kataku soal kafein tadi," Jason mengangkat kepalanya yang sempat tertunduk ketika membuka bungkusan di pangkuannya, "ada satu hal lagi yang menjadi rahasia kekuatanku. Ini dia."
"Apa ini?" tanya Atsushi. Sebelah tangannya menjangkau plastik bening berisikan tablet-tablet putih tadi dan mengangkatnya hingga sejajar dengan mata ungunya. Untuk beberapa saat ia memutar-mutar plastik tersebut.
"Namanya amfetamin," terang Jason.
Seketika mata Atsushi membulat.
"Punya efek lebih kuat dari kafein. Kalau kau mau, kau bisa mengambilnya. Aku masih punya banyak di rumah."
Jason masih tidak menyadari kalau Atsushi masih mematung meski beberapa saat telah berlalu. Anak berkulit hitam tersebut sibuk memasukkan barang-barangnya kembali ke dalam tas dan bersiap main basket dengan Atsushi. Hujan deras yang menaungi mereka sama sekali tak ia pedulikan.
Atsushi sendiri terdiam karena begitu nama 'amfetamin' disebut, salah satu gembok yang mengunci memorinya terbuka dan kini bayang-bayang malam di mana Seijuurou memberikan penjelasan mengenai narkoba dan doping kembali terputar dalam benak sang anak berambut ungu.
Saat itu ia tidak benar-benar memerhatikan penjelasan Seijuurou karena jujur saja, penjelasan si sulung waktu itu begitu membosankan. Tapi perhatiannya sedikit tertarik ketika dari mulut si sulung terlontar beberapa kata seperti 'obat ini dapat meningkatkan performa atlet', 'tetapi efeknya terlalu besar', dan 'dapat menyebabkan ketergantungan'.
Akashi Atsushi mungkin memang tidak sepintar anak-anak lainnya, tapi ia pun tahu kalau benda putih yang sekarang ia pegang benar-benar berbahaya. Benar-benar bukan merupakan hal yang pantas disentuh meski memang tablet-tablet putih ini dapat memberikan keuntungan besar.
Dan seorang Akashi Atsushi juga mengerti, kalau menggunakan obat ini sebelum petandingan berarti curang. Tidak sulit bagi Atsushi untuk merangkai informasi tersirat yang diberikan oleh Jason.
Jika seorang Jason Silver menggunakan obat ini atau kafein tadi sebelum bertanding... maka itu artinya teman Atsushi yang berkulit hitam itu telah menggunakan doping hanya demi satu gelar kemenangan. Singkat kata, ia berbuat curang. Seorang Jason Silver telah melakukan hal ilegal...
Jason sudah berdiri dan kesabarannya hampir habis melihat Atsushi yang tak kunjung berdiri. Atsushi tahu karena dari sudut matanya ia bisa melihat sebelah kaki anak tersebut menghentak-hentak tanah lapangan tempat mereka berpijak dengan tak sabar.
Akhirnya Atsushi mengangkat wajahnya dan menatap Jason dengan pandangan setengah ragu setengah tak percaya. "Bukankah ini termasuk doping?"
Mata Jason melebar. Entah karena terkejut Atsushi tahu istilah 'doping' atau karena ekspresi Atsushi tidak sesuai dengan harapannya. Tidak ada yang tahu. Tapi yang pasti, untuk beberapa saat, hanya suara hujan menghujam bumi yang mengisi kekosongan dialog di antara mereka.
Alis Atsushi kian mengkerut. Tanpa sadar anak berambut ungu tersebut tegang sendiri menunggu jawaban dari kawan sekaligus lawan di depannya. Kenapa Jason butuh begitu banyak waktu hanya untuk menjawab pertanyaannya? Apa anak berambut silver itu tengah merangkai kebohongan di dalam kepalanya?
Setelah diam yang terasa begitu lama, akhirnya Jason membuka mulut, "memang itu doping. Lalu kenapa?"
Meski hujan siang itu sama sekali tak datang bersama dengan petir, tapi Atsushi merasa sekujur tubuhnya baru disambar petir ketika mendengar jawaban Jason. Nada bicara anak itu seakan mengisyaratkan bahwa doping sama saja dengan ponsel yang kau bawa di tasmu setiap hari. Dengan kata lain, merupakan suatu hal yang wajar.
Horror menggenang di mata Atsushi. Jadi selama ini, ia tidak bisa menang dari Jason karena ini? Jadi selama ini ia mengagumi Jason dan menuruti kata-kata Jason tanpa tahu kalau sebenarnya Jason mungkin lebih lemah darinya?
Tanpa berpikir panjang, Atsushi berdiri dan mendorong plastik berisi amfetamin di tangannya ke depan wajah Jason. Jason mengerutkan alis tak suka melihat apa yang dilakukan Atsushi.
"Kau tanya kenapa? Ini doping!" seru Atsushi setengah berteriak. Fakta bahwa anak di hadapannya menggunakan obat terlarang demi meningkatkan kemampuan sungguh mengganggu Atsushi. Sedangkan Jason sendiri mengerutkan alisnya semakin dalam ketika mendengar nada bicara Atsushi.
"Aku tahu itu doping," Jason menggeram pelan. "Lalu kenapa kalau aku menggunakan doping?!"
Jason yang sepertinya tidak terima dengan kata-kata serta nada bicara yang digunakan Atsushi, mengambil satu langkah maju dengan dada membusung dan dagu terangkat tinggi, seakan tengah menantang Atsushi untuk meneruskan apa pun itu yang ingin dikatakan mau pun dilakukannya.
Sayangnya, Atsushi sama sekali tidak menyadari tatapan mengintimidasi yang dilontarkan Jason. Atsushi tidak terima dibentak Jason yang tidak mau mengakui kalau dirinya salah, menyerang balik dengan sama ganasnya, "Itu berarti kau curang! Selama ini kau tidak menggunakan kekuatanmu sendiri! Apanya yang dewa? Kau hanya anak lema—"
Tiba-tiba saja dunia di sekeliling Atsushi terasa seperti berputar. Begitu semuanya kembali stabil, hal pertama yang berhasil diproses otak Atsushi adalah pipinya yang tadi ditinju Himuro saat latihan pagi terasa kembali berdenyut. Hal kedua yang disadarinya adalah ia telah tergeletak di tanah lapangan diserbu rintik hujan.
"Atas dasar apa kau bilang aku lemah? Aku hanya memakai obat itu saat akan bertanding!" Jason berjalan mendekati Atsushi yang masih terduduk di pinggir lapangan. Sebelum anak berambut ungu itu berhasil membalas kata-kata Jason tadi, Jason sudah menghadiahinya satu lagi pukulan manis yang berhasil membuat kepala berambut ungu anak tersebut membentur permukaan tanah lapangan yang keras. "Selama kau bermain denganku di lapangan ini, aku 'bersih'! Jangan bicara hal kalau kau tidak tahu apa-apa!"
Di tengah derasnya hujan musim dingin yang mengguyur Tokyo hari itu, kedua anak tersebut bergumul. Berusaha untuk mengalahkan satu sama lain dalam hal kekuatan. Tinju demi tinju dilayangkan. Makian demi makian dilontarkan.
Baru saat itulah Atsushi sadar kalau ia telah memilih teman yang salah. Tidak, ia bahkan tidak bisa membedakan mana orang yang baik dan yang jahat.
Momen ketika ia bertukar tinju dengan Jason itulah, barulah seorang Akashi Atsushi mengerti sepenuhnya alasan di balik kekhawatiran seorang Akashi Seijuurou. Barulah ia mengerti kenapa selama ini si sulung begitu mengekangnya. Semata-mata hanya karena si sulung tak ingin hal seperti ini terjadi...
Atsushi berusaha sekuat tenaga membalas pukulan demi pukulan yang dilontarkan Jason padanya. Tapi tetap saja mustahil. Badan Jason jelas lebih besar darinya dan anak itu ternyata jauh lebih kuat dari yang dikira Atsushi. Saat ini saja anak berkulit hitam tersebut telah berhasil menduduki Atsushi dan melayangkan tinjunya bertubi-tubi ke wajah Atsushi sembari meneriakkan hal-hal yang tidak lagi dapat dimengerti Atsushi.
Tunggu, sekarang ini ia memang benar-benar kuat... atau hanya dalam pengaruh obat?
Atsushi bisa merasakan wajahnya berteriak kesakitan setiap satu pukulan berhasil didaratkan Jason, ia bisa merasakan darah mengalir dari berbagai sisi wajahnya, ia bisa merasakan kesadaran perlahan-lahan semakin mengalir menjauhi raganya. Tapi tak ada yang bisa dilakukan Atsushi di momen itu.
Rasa sakit yang bersarang di wajahnya begitu luar biasa hingga butuh seluruh kekuatan yang ia miliki untuk bisa menahan rasa sakit tersebut. Atsushi benar-benar tak punya kekuatan lagi, tangannya bahkan tak mau terangkat lagi sejak beberapa saat lalu. Kini ia hanya bisa menerima pukulan demi pukulan yang dilayangkan Jason dengan suka rela.
Ketika penglihatan Atsushi mulai terasa mengabur dan mulai muncul bintik-bintik warna menodai sudut-sudut penglihatannya, Atsushi teringat kembali wajah Himuro, ketika anak berambut hitam tersebut meninjunya, menangis di hadapannya, dan mengutarakan isi hatinya selama ini tadi pagi.
Kini Atsushi merasa dirinya adalah orang paling bodoh sedunia dan ia menyesal. Ia menyesal karena tak cukup menghargai Himuro selama ini. Ia menyesal sudah mengikuti kata-kata Jason hingga hubungannya dengan Himuro kini tak lagi mulus bahkan mungkin Himuro membencinya sekarang.
Ia menyesal karena tak bisa melihat bahwa jelas Himuro selalu mengusahakan yang terbaik untuknya, bahwa Himuro adalah teman sejatinya, dan ia tak pernah menghargai itu...
Lantas muncullah wajah Seijuurou ketika kesadaran Atsushi semakin tipis. Lebih tepatnya wajah Seijuurou yang sempat dilirik Atsushi ketika ia menutup pintu depan rumah beberapa puluh menit lalu.
Wajah kakak sulungnya satu itu dipenuhi dengan rasa tak percaya, khawatir, takut, dan berbagai emosi lainnya. Tapi Atsushi ingat satu hal; marah bukan salah satu emosi yang tercantum dalam daftar emosi yang berkelebat di wajah Seijuurou kala itu.
Rasa bersalah kian menggunung dalam dada Atsushi. Baru sekarang ia menyadari maksud baik Seijuurou. Atsushi bertanya-tanya, bagaimana bisa ia tidak melihat maksud baik Seijuurou lebih awal? Bagaimana bisa ia termakan omongan Jason dan... dan... bagaimana bisa ia melawan kakaknya padahal jelas-jelas kakaknya satu itu hanya menginginkan yang terbaik untuknya?
Apa yang dipikirkannya waktu itu?
Sebutir air mata mengalir jatuh dari sudut mata Atsushi yang kemudian terkamuflase oleh tetesan air hujan, lantas air mata itu muncul lagi, lagi, dan lagi. Itu bukan air mata yang muncul akibat menahan rasa sakit –Jason masih meninjunya meski ia sudah tidak lagi berdaya. Ya Tuhan, ia bahkan bisa merasakan darah menggenang dalam mulutnya—air mata itu timbul akibat sesak yang tak tertahankan dalam dada Atsushi.
Bayang-bayang Seijuurou berkelebat dalam pikiran Atsushi. Bayang-bayang Seijuurou yang menerimanya dengan tangan terbuka ketika ia baru bergabung dengan keluarga Akashi, bayang-bayang Seijuurou yang berjalan di sampingnya sembari menggandeng tangannya ketika Atsushi masih TK dan mereka pulang bersama, bayang-bayang Seijuurou yang memeluknya erat serta membisikkan kata-kata menenangkan ketika ayah mereka meninggal, bayang-bayang Seijuurou dengan mata berkantung dan pipi tirus dengan sabar mengelus punggungnya serta mengangkat rambutnya di toilet ketika ia muntah-muntah di tengah malam, bayang-bayang Seijuurou yang jelas-jelas lelah tapi tetap memilih untuk menjaganya sepanjang malam ketika ia sakit, bayang-bayang Seijuurou yang tersenyum lembut ketika ia berkata ia masih tidak mengerti suatu materi pelajaran meski sudah Seijuurou jelaskan tiga kali, bayang-bayang Seijuurou yang jelas-jelas terluka karena kata-kata yang ia lontarkan tapi sampai detik terakhir masih memikirkan yang terbaik untuknya...
Di detik-detik terakhir ia sadar, satu keinginan terbit dalam dada Atsushi. Keinginan untuk menemui Seijuurou. Atsushi ingin memeluk kakak sulungnya itu, menangis minta maaf bahkan mencium kakinya jika perlu. Saat ini juga.
Ketika benang terakhir kesadaran Atsushi terlepas, satu hal terakhir yang terlintas dalam pikirannya adalah 'Kak Sei-chin'.
Kafein termasuk doping itu bener. Tapi dalam kadat tertentu dan sebenernya juga gak berbahaya-berbahaya amat jadi atlet yang mau tanding juga masih boleh minum kopi. Tapi ya kalo ada yang salah, mohon beritahu aku supaya bisa dibetulin...
Special Thanks to: lisette. kizakura, momonpoi, Hatsune 01, lydiasyafira, Yukiko Arashi, Zhyeekyu, Chen Chen Lie, YunDaiChan, alvirajn, CassieFujho, FrogKeeper, Crying Stone, love akashi-kun, TheOneWhoHopeForTheBest, Sparkle Thanato, Kurotori Rei, sweetkookie60, damdimdum, Yamashita Riko, Vivinetaria, Kira Mourir, vanilla2tte, Rafiz Sterna, chae121, J'TrimFle, XL-SasuHinaGaa, siucchi, Shinju Hatsune, akuro. terojima, Mtomatjeruk, Nia Shintarou, Plincess-silent reader, arajelquin, rifa. nurfauziah. 37, ChocoLiney, Ayuni Yuukinojo, yukiai4796, EmperorVer, Minako-chan Namikaze, Rini desu, ShirShira, Oto Ichiiyan, Dhia484, Neemuresu Piero, itsalwaysbeme, Kutoka Mekuto, Seita-Kun, Arthena yuu, Zhang Fei, kou412, petite. hope, roliepolie124, Adnida KIA, shiuferz, lisabluebeery544, shinyuika, Fiyah407, avindaDC, Irine Haruka, Snow Skylark78, Fukuzatsuna Ai, Aya Nadyaa, hasyim. musthofa. 1, Fujouri, deagitap, Akhmad Fahrurozi, Dhia484, Guest, hyori Sagi, ikin, wako, rizkyanne, Yukishiro Seiran, Cute Bee, Guest (2), VT Lian, CeiiCuya, Kaito Akahime, WhiteIceCream, Erucchin, Guest (3), yuu-chan, Harumia Risa, Skyblue, Asahina Julie, tn, KamisoraInazumi-chan, Ariellin, Im Elle Yuya, Kise Kairi, May Angelf, AoKeisatsukan, Fryllabrille201, UchiHarunoKid, DyoKung-Stoick, Asahina Yuuhi.
Halo aku kembali seminggu sebelum UTS ahaha, tolong jangan geplak aku... btw aku kapok ngerapel special thanks dari chap 15 wkwkwkwk. But I love you guys so I don't mind! Dan makasih juga buat yang udah ngingetin sampe ngePM segala wkwkwk. Untung diPM, kalo gak, mungkin ini fic baru update Juli ntar wkwkwkwk.
Reviewnya mungkin bakal dibales besok. Mungkin...
Last, Review please?
