Kuroko no Basuke hanya milik Fujimaki Tadatoshi seorang.
Cerita ini hanya milik saya seorang.
Warning: AU, Nice & not-so-perfect! Akashi, brotherly love! a lot of it I think, cuteness ahead(?), alur kecepetan, half-assed chapter, OOC, typo, DLDR!
pengingat mulai chapter ini:
Seijuurou = 16 tahun
Shintarou = 13 tahun
Atsushi = 12 tahun
Ryouta = 10 tahun
Daiki = 9 tahun
Tetsuya= 5 tahun
Enjoy!
Chapter 17: Family Forgives Each Other
Dengan mata terpejam, seorang Himuro Tatsuya berjalan membelah derasnya hujan hari itu tanpa ada apa pun yang membatasi antara dirinya dan rintik hujan. Sesaat kemudian uap putih berembus keluar dari mulutnya sebagai reaksi atas aksinya menghela napas.
Di benaknya kembali terputar kejadian satu jam yang lalu, ketika ia meninju teman baiknya, Akashi Atsushi, tepat di wajah lantas meneriakinya kemudian menangis.
Sepasang alis hitam milik Himuro berkerut ketika ia mengingat momen di mana ia menangis di depan Atsushi. Kenapa rasanya ia tidak punya pengendalian diri hari ini? Biasanya ia selalu memegang kontrol penuh atas emosinya dan tidak mudah menunjukkannya pada orang lain.
Dan sepertinya Ootsubou juga memikirkan hal yang sama sehingga setelah satu jam latihan, sang kapten tim basket SMP Teikou tersebut menyuruh Himuro untuk pulang saja.
Sayangnya Himuro tidak ingin pulang. Anak berambut hitam tersebut merasa apartemen kecil yang ditinggalinya bersama Alex tidak lagi dapat memberinya ketenangan. Ia merasa mengambil jalan memutar dan membiarkan dirinya dihantam hujan lebih menenangkan daripada langsung menuju ke rumah.
Himuro membuka mata dan kembali menghela napas.
Begitu ia melihat sekeliling, tanpa sadar ia sudah berada di taman yang berada di salah satu sudut kota. Tepat ketika ia berjalan di dekat sebuah lapangan basket jalanan yang ada di taman tersebut, telinganya berjengit.
Bersaing dengan deru hujan, terdapat sebuah suara yang terdengar seperti suatu benda tengah dipukul keras-keras berkali-kali.
Mata Himuro melebar. Apa yang dilakukan orang di tengah hujan seperti ini? Dan lagi, apa yang tengah dilakukan orang itu hingga terdengar seperti bunyi sesuatu dipukul? Atau ia hanya salah dengar? Apa yang sebaiknya ia lakukan?
Lima menit sudah Himuro berdiri mematung di tengah hujan memikirkan apa yang sebaiknya dilakukannya dan dalam kurun waktu lima menit tersebut perasaan buruk semakin lekat menempel dalam hatinya. Entah kenapa intuisinya berkata ia harus pergi mengecek.
Himuro menggigit bibirnya sejenak dan menimang-nimang apa yang sebaiknya ia lakukan. Intuisinya memenangkan perang dengan logikanya dan anak berambut hitam tersebut mengambil satu langkah pelan maju mendekati lapangan basket jalanan asal suara mencurigakan tersebut.
Tiba-tiba seorang anak berjaket hitam melesat keluar dari lapangan tersebut. Tepat setelah ia menginjakkan kaki keluar lapangan, anak berjaket hitam tersebut mengangkat hoodie-nya hingga menutupi kepala. Meski melihat hanya sekilas, tapi Himuro tahu kalau suasana hati anak tersebut sepertinya sedang buruk. Himuro juga tahu kalau di pipi anak tersebut ada bekas seperti dipukul.
Sepertinya intuisi Himuro benar. Ada hal buruk yang terjadi di sini. Mungkin suara-suara aneh tadi berasal dari perkelahian anak tersebut dengan entah siapa.
Dan jika anak tersebut bisa melesat keluar dari tempat kejadian perkara seperti itu, maka pasti lawannya tadi sekarang tengah terkapar tidak berdaya.
Tanpa membuang waktu lagi, Himuro berlari ke lapangan tersebut dan udara serasa dirampas darinya. Bukan fakta bahwa lawan anak tadi tengah terbaring di bawah hujan di tengah lapangan yang membuatnya kaget bukan kepalang, tapi fakta bahwa yang terbaring beberapa meter di hadapannya memiliki rambut berwarna ungu dan merupakan seseorang yang dikenalnya dengan sangat baik lah yang membuatnya serasa lupa cara bernapas.
"Atsushi!" Tanpa sadar Himuro meneriakkan nama anak berambut ungu tersebut. Tanpa pikir panjang ia berlari ke sisi teman baiknya.
Kekesalannya pada Atsushi satu jam yang lalu kini terlupakan sepenuhnya. Persetan dengan pertengkaran kecil mereka, hal yang penting sekarang ini adalah memastikan keadaan teman baiknya terlebih dahulu!
Dalam posisi berlutut di samping Atsushi, Himuro memindai keadaan teman baiknya dengan matanya. Tanpa melihat pun sebenarnya Himuro tahu kalau keadaan Atsushi buruk dan mungkin melihat keadaan Atsushi bukan ide yang bagus, maksudnya melihat lebam di hampir seluruh wajah, kelopak mata yang mulai menghitam, dan darah menetes dari hidung anak berambut ungu tersebut membuat pikiran Himuro semakin berkabut.
Ditepuk-tepuknya beberapa kali pipi anak tersebut sembari memanggil-manggil namanya agar anak berambut ungu tersebut membuka mata dan memberinya paling tidak erangan sebagai respon. Tapi seberapa banyak pun ia menepuk wajah Atsushi, anak tersebut tidak memberikan apa yang ia harapkan.
Otak Himuro terasa seperti berlari dalam kecepatan seratus delapan puluh kilometer per jam. Begitu kencang hingga ia tidak benar-benar bisa berpikir lagi. Begitu banyak pertanyaan berputar dalam kepalanya.
Tapi satu pertanyaan terpenting yang terus berputar dalam kepalanya adalah apa yang sebaiknya dilakukannya sekarang?
Tetsuya menjulurkan kepalanya dari balik pintu ruang keluarga. Kekhawatiran menyelimuti sosok kecil anak berumur lima tahun tersebut ketika si sulung mengelus kepalanya dan meminta maaf karena ia harus pergi lalu kekhawatiran tersebut memuncak ketika ia mendengar bentakan dan teriakan dari arah lantai atas hingga ke pintu depan.
Dengan perlahan, kaki-kaki kecilnya membawanya menuju pintu depan. Tepat di sana berdirilah si sulung menghadap pintu depan, dengan kedua bahu yang terlihat lemas. Sosoknya yang biasanya terlihat begitu besar dan kuat di mata si bungsu kini terlihat begitu kecil dan rapuh, seakan-akan satu sapuan angin dapat menumbangkan sosoknya.
Tiba-tiba kepala Seijuurou menunduk dan Tetsuya yang berdiri di belakangnya bisa melihat kalau ia tengah mengatur napasnya yang tak beraturan. Awalnya si bungsu mengira kalau Seijuurou akan menangis –setelah mencuri dengar pertengkaran kedua kakaknya tadi, Tetsuya tidak akan heran jika Seijuurou menangis, ia saja ingin menangis rasanya meski bukan ia yang menjadi sasaran kata-kata kejam Atsushi—tapi nyatanya pemuda itu hanya memejamkan matanya erat sesekali –seperti tengah mengusir pikiran buruk dari dalam kepalanya—sembari mengatur napasnya yang tak kunjung teratur.
Setelah lima belas menit berlalu dan sepertinya apa pun yang Seijuurou usahakan tidak berhasil, Tetsuya mengambil langkah maju dan menarik pelan celana olahraga yang dikenakan si sulung demi menarik perhatiannya.
"Kak?" panggil Tetsuya lirih ketika keberadaannya tak kunjung menarik perhatian si sulung.
Seijuurou tersentak dan membalikkan badan. Ekspresinya seketika berubah dari terpukul menjadi lembut. Bagaimana si sulung selalu bisa menyembunyikan perasaannya yang sebenarnya dalam sepersekian detik sungguh tak bisa dimengerti Tetsuya.
Tetsuya meraih tangan si sulung dan menggenggamnya erat. Seijuurou yang merasa ada yang salah dengan sang adik langsung berjongkok di depan sang adik dan menatap si bungsu dengan pandangan menyelidik. Tangan Seijuurou balas menggenggam tangan Tetsuya dan menggoyangkannya sedikit seakan bertanya 'ada apa?' tanpa harus benar-benar mengatakannya.
Menyakitkan bagi Tetsuya melihat Seijuurou seperti ini. Padahal jelas terlihat kalau tak sampai lima menit lalu ia merasa begitu tersakiti tapi sekarang ia berlagak seakan dunianya tak baru dihancurkan oleh kata-kata penuh racun yang dilemparkan Atsushi.
Tetsuya memeluk leher Seijuurou dengan erat. Seijuurou sempat hampir terjengkang kaget tapi dengan cepat ia dapat menguasai diri dan balas melingkarkan tangannya di sekeliling tubuh kecil si bungsu. Telapak tangannya dengan lembut mengelus punggung anak usia lima tahun tersebut.
"Kemarin teman-teman di TK bicara tentang hantu dan sekarang Tetsuya takut sendirian. Tetsuya mau Kakak temani Tetsuya," kata Tetsuya lirih tepat di telinga si sulung. Tak berapa lama kemudian Tetsuya bisa mendengar Seijuurou mendengus dan ia tahu kalau si sulung sekarang tengah mengulum senyum meski si bungsu tak melihatnya.
"Oke, baiklah," jawab Seijuurou dan sesaat kemudian Tetsuya sudah berada dalam gendongan si sulung. "Kakak akan temani Tetsuya. Nah, sekarang Tetsuya mau melakukan apa?"
Sembari Tetsuya menjawab pertanyaan Seijuurou, terlintas di benak Tetsuya apa yang dikatakan ibu gurunya di TK. Bu guru bilang berbohong itu tidak baik. Tapi menurut Tetsuya terkadang berbohong itu perlu.
Di saat seperti ini contohnya.
Seijuurou tidak bisa fokus. Sama sekali tidak bisa fokus.
Layar televisi di depannya tengah menampilkan film animasi tentang seorang anak dan seekor naga –film favoritnya dan Tetsuya—tapi ia sama sekali tidak bisa fokus alih-alih menikmatinya.
Sejujurnya ia sudah seperti ini sejak momen Atsushi menutup pintu depan rumah dengan keras, menembus hujan musim dingin yang masih bersikeras menghujam bumi hanya dengan selembar kaus tipis dan celana.
Di mana adiknya sekarang? Apa yang sedang dilakukannya? Apa ia tidak kedinginan di luar sana? Ia pasti kehujanan... Oh betapa Seijuurou ingin berlari keluar dan mencari adiknya lantas membawanya kembali menuju hangatnya rumah mereka.
Tapi di sisi lain, Seijuurou yakin anak itu butuh waktu sendiri dan tidak ingin melihatnya sementara waktu dan itulah alasan terkuat kenapa ia tak menahan kepergian Atsushi dan alasan itu pula yang menahannya untuk tetap berada di rumah, tak beranjak mencari sang adik.
Dering telepon rumah membuat Seijuurou tersentak. Si sulung lantas berdiri –setelah mengelus puncak kepala si bungsu—dan sebelum telepon tersebut mencapai dering ketiga, si sulung telah mengangkat telepon tersebut.
"Halo, dengan keluarga Akashi."
Apa yang didengar Seijuurou setelah itu sungguh di luar dugaan. Otaknya dapat memroses apa yang dikatakan lawan bicaranya dengan baik, tapi lidahnya kelu dan ia merasa seakan ia baru saja kehilangan kendali atas tubuhnya, untung saja ia masih ingat caranya berdiri. Pernapasannya yang sempat teratur setelah interaksinya dengan si bungsu kini kembali seperti semula; berantakan.
Begitu pembicaraan telepon tersebut selesai, Seijuurou cepat-cepat menutup telepon, mengambil apa pun yang muncul dalam otaknya sebelum melesat ke luar rumah.
Seijuurou tidak peduli kalau ia keluar rumah hanya dalam balutan kaus tipis dan celana olahraga panjang. Seijuurou juga tidak peduli kalau ia hanya terpikir untuk mengambil payung dan ponsel sebelum melesat keluar rumah.
Hal yang dipedulikannya sekarang ini hanyalah Akashi Atsushi yang katanya ditemukan tak sadarkan diri dengan wajah penuh luka.
Dengan bantuan beberapa pejalan kaki yang melintas di sekitar taman tersebut, Himuro akhirnya berhasil membawa Atsushi ke apartemennya. Untung saja Alex sedang ada di rumah, jika tidak, Himuro benar-benar tidak akan tahu apa yang harus ia lakukan.
Alex sendiri terkejut bukan kepalang ketika melihat Himuro dan beberapa orang yang tak dikenalnya memapah satu sosok berambut ungu yang ia kenali sebagai Akashi Atsushi, teman sekolah Himuro. Lebih terkejut lagi ketika ia melihat keadaan wajah Atsushi yang penuh dengan lebam dan darah. Wanita berambut pirang tersebut langsung saja mengecek keadaan anak angkatnya, khawatir kalau Atsushi dan Himuro baru saja terlibat perkelahian bersama.
Untung saja Himuro pulang dalam keadaan sempurna sehingga Alex bisa menghela napas lega.
Di hari minggu itu, Himuro benar-benar merasa Alex adalah malaikat penyelamatnya, ya bukannya anak berambut hitam tersebut tidak merasa Alex adalah seorang malaikat penyelamat setelah wanita tersebut menyelamatkannya serta kehidupannya, tapi Himuro benar-benar merasa bersyukur akan keberadaan Alex hari itu karena jika wanita itu tidak ada, ia merasa dirinya benar-benar akan gila karena panik yang tak kunjung mau meninggalkan pikirannya.
Dan sekarang di sinilah ia, di kamarnya, duduk di sisi tempat tidurnya menunggui Atsushi yang masih belum sadarkan diri. Di sisi lain ranjang tersebut duduk Alex yang sibuk membersihkan darah dan kotoran yang menempel di wajah Atsushi akibat ia terbaring di tengah lapangan tadi. Pihak keluarga Atsushi sudah dihubungi dan Himuro yakin kakak Atsushi yang paling tua akan datang sebentar lagi untuk melihat keadaan adiknya.
Kedua tangan Himuro terangkat tanpa sadar dan ia menumpukan wajahnya pada tangan lantas menghela napas panjang. Tindakan tersebut tentu saja menarik perhatian Alex.
"Tatsuya..." panggil wanita tersebut lirih. Mendengar namanya dipanggil, Himuro langsung mengangkat wajahnya dan memeprtemukan mata mereka. "mau cerita padaku? Sepertinya akhir-akhir ini kau banyak masalah."
Himuro cepat-cepat memasang seulas senyum tipis, "itu hanya perasaanmu saja, Alex. Aku baik-baik saja. Aku hanya sedikit lelah karena latihan pagi lalu harus memapah Atsushi sampai ke sini."
Alex memiringkan kepalanya. Ekspresi lembut yang tadi menempel di wajahnya seketika menguap.
"Tatsuya..."
Detik di mana Alex memanggil namanya dengan sedikit penekanan cukup memberitahu Himuro kalau kebohongan kecil yang baru saja dilontarkannya ditangkis mentah-mentah oleh Alex. Oh bodohnya ia karena sempat berpikir bisa membohongi seorang Alexandra Garcia yang notabene adalah ibu angkatnya, yang sudah tinggal bersamanya bertahun-tahun, membesarkannya hingga tahu setiap trik yang ia miliki.
Himuro memutuskan kontak mata dengan Alex.
"Aku..." Tidak peduli berapa keras Himuro berusaha, kata-kata yang begitu ingin dikatakannya beberapa hari ini tak kunjung keluar.
Bagaimana bisa ia mengatakan pada Alex kalau sebenarnya ia tidak ingin kembali ke Amerika? Himuro sudah besar dan ia tahu ia tidak boleh egois...
Himuro menarik napas panjang, berusaha mempertemukan matanya kembali dengan Alex yang tetap setia menatapnya dan menunggu lanjutan kata-katanya. Himuro berharap dengan bertemunya mata mereka akan membuat gembok di mulutnya terbuka dan kata-kata dapat mengalir lancar, tapi nyatanya gembok tersebut justru bertambah dan lidahnya semakin kelu.
Pada akhirnya ia hanya bisa mengembuskan kembali napas yang telah ia hirup dengan kepala tertunduk.
Mata kelabu Himuro hanya bisa menangkap gerakan naik-turun teratur selimutnya yang terhampar di atas sosok Atsushi namun ia tahu kalau wanita berambut pirang di sisi lain ranjang di hadapannya baru saja menghela napas tanpa sekali pun melepaskan tatapan mata hijau zamrudnya dari sosok Himuro sendiri.
"Aku tahu kalau kau tidak ingin kembali ke Amerika."
Satu kalimat tersebut berhasil menarik napas Himuro keluar dari paru-parunya. Mata anak itu membulat dan dengan kecepatan yang dapat mematahkan leher, ia mengangkat wajah.
Jadi Alex tahu?
Rasa takut mulai merayap dalam hati Himuro. Apa yang akan dipikirkan Alex sekarang? Ia pasti akan berpikir Himuro kekanakan dan egois karena tidak mau kembali ke Amerika meski sudah jelas wanita tersebut harus pulang untuk berada di sisi sang ayah.
Himuro baru akan buka mulut dan melontarkan kata maaf ketika Alex menyela.
"Kenapa kau tidak mengatakan padaku kalau kau tidak ingin kembali? Aku tahu kau tidak nyaman berada di lingkungan keluargaku," Himuro hendak membantah, tapi Alex mengangkat tangan untuk menghentikannya, "aku tahu, Tatsuya. Aku juga tidak nyaman berada di dekat keluargaku dulu. Itu sebabnya aku membawamu lari ke Jepang."
Alex berdiri, mendorong kursi yang tadi didudukinya hingga kursi itu berderit karena bergesekan dengan permukaan lantai. Wanita tersebut berjalan memutari ranjang dan berjongkok di sisi Himuro, menatapnya dengan tatapan lembu sekaligus sedih.
Himuro menggeser duduknya hingga ia berhadapan dengan ibu angkatnya tersebut. Sesaat kemudian, Alex meraih kedua tangan Himuro dan membungkusnya dalam kedua tangannya sendiri.
"Aku memang ingin sekali pulang untuk merawat ayahku karena... kau tahu? Orang-orang bilang umurnya sudah tidak banyak lagi dan itu membuatku ingin menghabiskan waktuku dengan keluargaku karena tidak ada yang tahu kapan Tuhan akan mengambil mereka. Karena itu, jika kita benar-benar pergi, mungkin kita tidak akan kembali lagi ke Jepang," Alex mengusap ibu jarinya di punggung tangan Himuro dengan lembut, "tapi aku ingin kau tahu kalau aku tidak ingin membuatmu sedih. Kebahagiaanmu nomor satu untukku. Jika memang kau tidak ingin pindah ke Amerika maka aku tidak akan memaksa, aku tetap akan pulang ke Amerika tapi tidak akan lama, hanya saat liburan misalnya, untuk menengok Ayahku."
Himuro memandang Alex dengan tatapan tidak percaya. Sejauh mana wanita ini akan berkorban demi dirinya?
Mungkin benar kata orang, kasih ibu sepanjang masa sedangkan kasih anak sepanjang galah. Tidak peduli meski ibu itu ibu kandung atau pun ibu angkat.
Absennya keluarga yang sempurna dari hidup Himuro sejak ia masih kecil membuatnya sadar betul akan betapa berharganya keluarga terutama orangtua. Hingga detik ini, tak pernah sehari pun terlewat tanpa Himuro merindukan keberadaan kedua orangtuanya.
Betapa inginnya Himuro bertemu ayah dan ibunya sekali lagi dan berbakti pada keduanya.
Jika ia yang sudah tak lagi memiliki orangtua saja berpikir seperti itu, bagaimana bisa ia menghalangi keinginan Alex untuk kembali ke pelukan keluarganya dan berbakti pada orangtuanya? Terlebih lagi kalau salah seorang dar orangtua tersebut sudah berada di penghujung umurnya.
Himuro sudah merasa kalau ia sudah cukup kejam dengan membuat Alex harus berpisah dengan kedua orangtuanya bertahun-tahun lalu demi dirinya, rasanya Himuro tak bisa bertindak lebih kejam lagi dengan menghalangi Alex untuk pulang.
Karena itulah Himuro membungkuk dan melingkarkan kedua tangannya di sekeliling leher Alex.
"Jujur sebenarnya aku benar-benar tidak ingin kembali," Himuro bisa merasakan tubuh Alex yang menegang di bawah pelukannya, "tapi aku tidak ingin menghalangi keinginanmu untuk merawat ayahmu yang sakit keras. Jika memang kita harus pindah ke Amerika aku akan ikut denganmu tapi jika saat aku masuk SMA kita tidak kembali juga ke Jepang maka aku akan kembali sendiri."
Himuro bisa merasakan kalau Alex akan buka mulut dan membantah kata-katanya, maka anak berambut hitam itu menyela, "aku tidak menerima bantahanmu atau omong kosong apa pun tentang kebahagiaanku nomor satu."
Himuro melonggarkan pelukannya lantas mencengkeram kedua bahu Alex.
"Kebahagiaanku mungkin nomor satu bagimu, tapi bagiku kebahagiaanmu lah yang nomor satu."
Alex tersenyum simpul lantas terkekeh.
"Sebenarnya berapa umurmu? Kadang aku merasa kau jauh lebih tua dariku," Alex kembali merengkuh Himuro dalam pelukannya dan dalam pelukan hangat tersebut, Himuro terkekeh. Tak henti-hentinya Alex mengucapkan terima kasih pada anak angkatnya tersebut karena sudah bersedia mengerti.
"Kalau begitu aku harus mulai mempersiapkan kepindahan kita," Alex melepaskan pelukannya dan mencengkeram bahu Himuro, "dan kau harus mulai mengucapkan perpisahan."
Mata hijau zamrud milik Alex bergeser ke arah sosok Atsushi yang masih memejamkan mata di atas tempat tidur Himuro. Meski wanita tersebut tak langsung mengatakannya tapi Himuro mengerti sepenuhnya apa yang wanita itu maksud.
Ah, bagaimana caranya mengucapkan perpisahan?
Bingung adalah hal pertama yang dirasakan Akashi Atsushi tepat begitu ia sadarkan diri. Ia mencoba untuk membuka mata tapi kelopak matanya terasa begitu berat dan sakit. Kebingungannya bertambah ketika suara Himuro dan seorang wanita yang sudah pasti adalah Alex memasuki pendengarannya.
Seingatnya ia tadi keluar rumah ketika hujan masih turun setelah bertengkar dengan Seijuurou. Lalu ia sampai di lapangan basket yang ada di taman, titik pertemuannya dengan Jason... Ah ya, ia bertengkar dengan Jason Silver karena anak itu memakai cara curang untuk memenangkan pertandingan. Bertengkar hingga beradu tinju dan ia kalah...
Atsushi meyentuh pipinya dengan sebelah tangan.
Jadi itu sebabnya wajahnya sekarang terasa seperti berdenyut...
"Oh, kau sudah sadar."
Atsushi mengalihkan pandangannya ke sisi ranjang tempat suara tadi berasal. Dengan matanya yang setengah terbuka, Atsushi dapat melihat sosok Himuro yang tengah balas menatapnya. Lega terpancar dalam tatapan mata kelabunya dan dari aura yang menguar dari sosok anak berambut hitam tersebut, Atsushi bisa tahu kalau ekspresi lega yang ditunjukkan Himuro benar-benar tulus.
Perasaan bersalah kembali menggenang dalam hati Atsushi.
Padahal tadi pagi ia membuat Himuro menangis dan lihatlah Himuro sekarang, duduk di sampingnya, menungguinya, dan lega melihatnya sadar. Oh bahkan mungkin dialah yang menemukan Atsushi saat ia terkapar tak sadarkan diri di lapangan basket dan membawanya ke tempatnya berada sekarang; yang kemungkinan besar merupakan kamar Himuro sendiri.
"Aku sudah memberitahu kakakmu mengenai keadaanmu dan aku rasa sebentar lagi kakakmu akan datang menjemput," lanjut Himuro ketika anak berambut hitam tersebut sama sekali tidak mendapat respon apa pun dari Atsushi.
Mungkin anak itu menganggap Atsushi masih menaruh rasa sakit hati atas pertengkaran mereka tadi pagi dan sekarang anak berambut ungu tersebut menolak untuk bicara. Alhasil setelah menunggu respon dari Atsushi sekali lagi selama beberapa detik, Himuro berdeham lantas berdiri.
"Uh, aku..." Himuro mengusap-usap tengkuknya dan matanya melarikan diri dari sosok Atsushi.
Atsushi sendiri tengah mengutuki dirinya sendiri yang sebenarnya sangat ingin minta maaf namun lidahnya kelu akibat ego yang terlampau besar.
"Aku... minta maaf atas apa yang terjadi pagi ini. Maafkan aku, aku yang salah. Kau benar, ada hal yang membuatku kesal tapi tidak seharusnya aku melampiaskannya padamu..."
Atsushi tersentak.
Tidak, bukan begini. Seharusnya ia yang minta maaf!
"Uh, aku rasa sekarang kau sebaiknya istirahat," Himuro membalikkan badan, "aku keluar du—"
Refleks, sebelah tangan Atsushi mencengkeram pergelangan tangan Himuro, menahannya untuk tetap berada di tempat.
Bukan hanya Himuro yang terkejut akan apa yang dilakukan Atsushi, tapi si anak berambut ungu sendiri pun terkejut. Menahan kepergian Himuro dengan mencengkeram tangannya tidak masuk dalam daftar hal yang akan ia lakukan. Semuanya murni refleks.
Tapi sebaiknya ia memanfaatkan refleks ini.
"Tidak, aku yang seharusnya minta maaf padamu. Tidak seharusnya aku bersikap kurang ajar seperti itu padamu dan pada yang lainnya. Aku..." Atsushi menghirup napas dalam melalui mulut, "aku minta maaf."
Meminta maaf seperti ini rasanya sama saja seperti mencoreng harga diri bagi seorang Akashi Atsushi. Tapi perkelahiannya dengan seorang Jason Silver membuatnya sadar siapa teman sejati dan Atsushi sama sekali tidak berniat untuk membiarkan teman sejati itu menjauh darinya.
Hell, no. Lebih baik ia kehilangan harga diri dari pada ia harus kehilangan teman baiknya.
Pada awalnya Himuro hanya terdiam, tercengang sejak Atsushi mencengkeram pergelangan tangannya hingga si anak berambut ungu selesai mengutarakan permintaan maafnya. Tapi lambat laun sebuah senyum lembut khas seorang Himuro Tatsuya terkembang di wajahnya.
"Baiklah, jadi kurasa sekarang kita tetap teman baik."
Setelah saling meminta maaf tadi, dua orang teman baik tersebut bercerita mengenai banyak hal. Himuro bahkan menceritakan hal apa yang mengganggunya akhir-akhir ini tapi ada satu hal yang tidak diceritakan anak berambut hitam tersebut; keputusannya dan Alex untuk pindah ke Amerika.
Tidak apa-apa, Atsushi merasa anak berambut hitam itu hanya belum siap mengatakan perpisahan padanya tapi ia pasti akan mengatakannya. Hanya saja tidak sekarang.
Dan ya, Atsushi sempat menguping pembicaraan Alex dan Himuro. Sebenarnya ia terbangun tepat ketika Alex mengatakan kalau ia tahu Himuro tidak ingin kembali ke Amerika, tapi karena ia merasa akan sangat aneh rasanya jika ia membuka matanya tepat saat itu juga, maka ia menahan diri hingga wanita tersebut keluar ruangan.
"Kau tahu, Senior Ootsubou—"
Suara pintu terbuka menghentikan apa pun itu yang akan diceritakan Himuro. Kedua anak yang sedang bercerita tersebut menoleh ke arah pintu kamar dan di sana telah berdiri seorang wanita berambut pirang dan seorang pemuda berambut merah.
Sepasang mata ungu milik Atsushi langsung saja memindai sosok si pemuda berambut merah. Rambutnya berantakan, wajahnya menampilkan beribu emosi yang bercampur aduk. Napas pemuda itu tersengal, seakan-akan pemuda tersebut baru saja berlari sepanjang jalan menuju apartemen tempatnya berada. Baju yang dikenakannya sama persis dengan baju yang ia pakai ketika terakhir Atsushi melihatnya, yaitu selembar kaus dan celana olahraga, hanya saja baju tersebut terlihat sedikit basah dan kusut.
Singkat kata, pemuda berambut merah itu –Seijuurou—tidak terlihat seperti Seijuurou sama sekali.
Seijuurou yang biasanya tidak akan membiarkan dirinya terlihat berantakan di hadapan orang lain. Sempurna adalah motto yang ia junjung dalam berpenampilan. Bahkan tak pernah sebelumnya Atsushi melihat si sulung memakai dasi yang miring alih-alih memakai baju yang... tidak pantas untuk dikenakan ketika berkunjung ke rumah orang lain.
Penampilan Seijuurou mengindikasikan kalau ia mungkin hanya sempat menyambar payung sebelum berlari hingga ke mari.
Alex mohon diri setelah menunjukkan kamar Himuro pada si pemuda berambut merah dan tak lama setelah itu Himuro juga mengundurkan diri dari ruangan tersebut agar kedua saudara angkat tersebut dapat bicara empat mata.
Takut dan perasaan bersalah bercampur dalam hati Atsushi. Di satu sisi ia tahu ia harus meminta maaf pada kakaknya karena sudah kurang ajar selama ini tapi di sisi lain ia takut kalau kakaknya akan memarahinya. Terlebih apa yang dikatakan Seijuurou terbukti benar.
Ah, Atsushi bisa membayangkan seberapa panjang omelan Seijuurou nantinya.
Setelah insiden kecil yang terjadi pada Ryouta beberapa bulan lalu, seluruh anggota keluarga Akashi jadi tahu kalau ternyata seorang Akashi Seijuurou bisa marah juga.
Dan marahnya sungguh menyeramkan.
Tapi ini konsekuensi atas apa yang telah dilakukannya, jadi meski pun takut, ia tetap harus menghadapi sang kakak.
"Kak, aku—"
"Astaga, Atsushi, kau baik-baik saja?" sebelum Atsushi sempat menyelesaikan apa yang akan dikatakannya, Seijuurou sudah berdiri di sisi ranjang dan menginspeksi wajah Atsushi. Kedua tangan pemuda itu menempel di sisi wajah sang anak dan memosisikannya agar ia dapat lebih mudah melihat luka-luka yang ada pada wajah sang adik.
Atsushi tak mendengar kalimat "kau membuatku khawatir!" terlontar dari mulut kakaknya secara langsung tapi dari gerak-gerik si sulung, Atsushi dapat mengira betapa khawatirnya si sulung. "Ayo ke rumah sakit setelah ini."
Hal itu membuat perasaan bersalah Atsushi memuncak.
"Apa yang terjadi? Kenapa kau bisa ditemukan tak sadarkan diri di taman?" Seijuurou memulai interogasinya. Pemuda berambut merah tersebut menarik tangannya ketika ia selesai melihat semua luka-luka di wajah Atsushi –yakin hanya ada luka luar dan tak ada luka dalam—dan sekarang ia tengah menatap adiknya tepat di mata.
Sebelum Atsushi sempat menjawab pertanyaan kakaknya, si sulung sudah menunduk sembari memijit pangkal hidungnya. Pemandangan tersebut menahan jawaban Atsushi.
Oh tidak, Seijuurou sepertinya akan memulai ceramahnya sekarang. Atsushi meringis namun tetap mempersiapkan mental untuk mendengar omelan sang kakak.
Beberapa detik terisi dengan absennya suara dari kakak-beradik tersebut hingga Seijuurou menghela napas dan membuka mulut.
"Maaf, maafkan Kakak. Semua ini tidak akan terjadi seandainya saja Kakak tidak terlalu mengekangmu. Seharusnya Kakak tahu kalau seorang anak akan semakin memberontak jika semakin dikekang—tidak, Kakak tahu itu tapi Kakak mengabaikannya—Seandainya saja Kakak lebih memercayaimu..."
Atsushi terperangah. Omelan, bentakan atau nasihat merupakan hal-hal yang ia kira akan ia dapatkan dari mulut si sulung. Permintaan maaf sama sekali tidak masuk dalam jajaran daftar tersebut.
"Paman sudah mencoba untuk menasihati Kakak. Dia bilang Kakak seharusnya memercayaimu dan membiarkanmu berkembang, seharusnya Kakak fokus saja pada apa yang kau bisa dan tak mengharuskanmu untuk mendapat nilai sempurna untuk hal-hal yang memang merupakan kelemahanmu."
Seijuurou membahas mengenai nilai?
"Atsushi, ada yang ingin Kakak bicarakan denganmu. Ini soal nilaimu."
Mungkinkah hal yang ingin dibicarakan Seijuurou pagi ini adalah ini? Tentang bagaimana Seijuurou akhirnya sadar kalau ia sebaiknya fokus pada keahlian Atsushi dan tak memaksakan sang adik agar dapat nilai sempurna atau nyaris sempurna pada hal yang merupakan kelemahannya?
"Apa? Nilaiku jelek? Lalu kenapa? Kakak mau memarahiku?"
Kenapa ia mengatakan hal seperti itu tadi pagi? Padahal ia sama sekali tidak tahu apa yang ingin dibicarakan si sulung tapi ia justru dengan tak sabar langsung menarik kesimpulan sendiri hingga mengakibatkan pertengkaran yang sebenarnya bisa dihindari seandainya saja ia mau lebih mendengar sang kakak.
Tiba-tiba saja tangan Atsushi telah dipegang sebuah tangan yang lebih kecil dari miliknya. Ibu jari tangan tersebut lantas mengusap-usap punggung tangan milik Atsushi. Ketika mata ungu Atsushi menelusuri asal-muasal tangan tersebut, tampaklah wajah Seijuurou yang menghadap ke arahnya. Pandangan matanya seakan berkata ia tengah berharap dan bibirnya melengkung membentuk sebuah senyum tipis.
"Kakak benar-benar ingin bisa berhubungan dengan Atsushi seperti dulu lagi. Tanpa pertengkaran. Mungkin akan sulit, tapi Kakak akan berusaha untuk lebih mengerti apa yang Atsushi butuhkan," Seijuurou memutuskan kontak mata mereka dan mengalihkannya pada tangan mereka yang masih bertaut. "Kakak... ingin jadi kakak yang lebih baik lagi untuk Atsushi."
Kenapa Seijuurou mengatakannya seolah semua yang telah terjadi adalah salahnya sendiri? Pertengkaran mereka, rusaknya hubungan mereka tidak mungkin terjadi jika hanya ada satu pihak yang terlibat. Mau dilihat dari segi mana pun, ia juga memegang andil dalam merusak hubungan mereka yang dulunya harmonis.
"Itu... yang ingin Kakak katakan pagi ini?" tanya Atsushi pada akhirnya.
Sepasang alis merah Seijuurou terangkat. Sepertinya anak sulung keluarga Akashi tersebut tak menyangka kalau hal itulah yang akan diungkit Atsushi pertama kali.
"Ya. Tapi karena Kakak tak bisa langsung ke poinnya saat berbicara, Atsushi akhirnya malah salah paham dan kita malah bertengkar lagi." Lagi-lagi Seijuurou bicara seakan Atsushi merupakan orang tak bersalah dalam masalah ini.
Anak berambut merah tersebut melirik meja belajar Himuro yang diletakkan tepat di samping tempat tidur. Ia masih tersenyum simpul, tapi senyumnya yang sekarang seakan mengatakan 'betapa bodohnya aku'.
"Atsushi... mau kan berbaikan dengan Kakak?" tanya Seijuurou hati-hati. Agak cemas pemuda itu karena adiknya tak kunjung memberikan tanggapan positif akan tawarannya tadi.
Di satu sisi Atsushi merasakan dorongan yang begitu kuat untuk minta maaf pada kakaknya, tapi di sisi lain ia merasa tak perlu lagi menyuarakan permintaan maafnya karena tanpa melakukannya pun Seijuurou sudah dengan begitu dermawannya memberikannya.
Terkadang Atsushi heran melihat kakaknya satu ini. Apa yang membuat seorang Akashi Seijuurou dapat dengan begitu mudah memberikan maaf? Kenapa ia tak pernah menyalahkan orang lain atas masalah yang timbul? Bertahun-tahun tinggal dengannya tapi tak pernah sekali pun pemuda berambut merah tersebut menyimpan dendam, terutama pada keluarganya.
Tak peduli apa yang orang lakukan padanya, tak peduli betapa besarnya masalah yang telah dibuat orang-orang di sekitarnya, ia tidak pernah mengalami kesulitan dalam memaafkan. Saat ayah mereka meninggal karena kecelakaan, tak pernah sekali pun Seijuurou menampakkan tanda kalau ia menyalahkan orang yang menabrak mobil yang dikendarai ayah mereka dan Tetsuya. Ia justru selalu mengatakan 'memang sudah takdirnya' setiap kali ada orang yang mengungkit kematian ayah mereka.
Begitu juga ketika ada masalah besar di kantor karena ada pegawai yang tak becus bekerja hingga ia harus turun tangan membereskan masalah sendiri, atau saat Shintarou begitu membenci Tetsuya, atau ketika mereka –adik-adiknya—melanggar peraturan yang telah ia buat, ketika Ryouta memecahkan guci abu kremasi sang ayah, ketika Daiki berhenti bersikap seperti Daiki yang biasanya hanya pada si sulung, ia tak pernah menyalahkan siapa pun.
Kesal? Ya. Marah? Ya. Dendam? Tidak.
Karena itu, pada akhirnya Atsushi tidak menyuarakan maafnya. Hingga mereka sampai di rumah pun ia tak mengatakannya. Tidak juga setelah berhari-hari berlalu sejak pertengkaran mereka yang terhebat sekaligus yang terakhir. Egonya membuat otaknya beku dan lidahnya kaku tiap kali ia mencoba mengatakannya.
Lagi pula, sebagian diri Atsushi merasa untuk apa mengatakannya? Toh ia yakin Seijuurou sudah memaafkannya tepat sepersekian detik setelah ia melakukan kesalahan.
Ia tidak begitu mengerti kenapa Seijuurou bisa memaafkannya secepat itu, mungkin karena ia sudah tinggal bersama Seijuurou begitu lama, mungkin karena Seijuurou dan dirinya adalah kakak-beradik, mungkin juga karena hubungan mereka yang telah kuat terjalin.
Atau mungkin... Seijuurou dapat melakukannya karena mereka keluarga.
Ryouta dan Tetsuya langsung berlari ke arah pintu depan ketika mereka mendengar suara pintu dibuka lantas ditutup. Tanpa perlu melihatnya langsung pun mereka tahu kalau yang baru saja pulang adalah si sulung.
"Kak Seijuuroucchi, selamat data—" sambutan Ryouta terhenti tepat ketika mereka melihat dua orang yang tengah membungkuk melepaskan sepatu di genkan. Langkah Ryouta serta Tetsuya langsung saja berhenti ketika sepasang mata mereka melihat keadaan wajah Atsushi yang berbeda dengan saat ia pergi dari rumah pagi ini.
Ryouta yang memang pada dasarnya lebih ekspresif dibanding Tetsuya, langsung menjatuhkan rahangnya dan menyuarakan apa yang terlintas dalam pikirannya.
"A-apa yang terjadi dengan Kak Atsushicchi-ssu?!"
Untuk sepersekian detik, Tetsuya meringis melihat luka-luka di wajah sang kakak yang hanya ditutupi beberapa perekat luka. Dalam hati anak itu bertanya, apa kakaknya baru saja jatuh di jalan beraspal hinga bisa terluka seperti itu? Atau ia terkena begitu banyak sikutan dari rekan setimnya saat latihan basket hingga jadi seperti itu?
Tapi di saat yang sama Tetsuya juga berpikir kalau hidung berdarah Atsushi yang disumpal dengan tisu yang digulung hingga membentuk huruf U itu terlihat seperti sapi yang hidungnya diberi cincin.
Singkat cerita, bagi Tetsuya wajah Atsushi terlihat mengenaskan tapi juga lucu.
Kedua tangan Ryouta terangkat ke udara, jemarinya sesaat membuka lantas menutup. Mata coklat madu milik anak itu memancarkan rasa ingin tahu sekaligus keraguan. Dilihat dari gerak-geriknya, anak itu ingin memegang wajah Atsushi tapi ia takut sentuhannya akan melukai sang kakak.
"Aku pulang—kenapa kalian berkumpul di sini?" tanya Shintarou yang baru saja membuka pintu depan dan heran melihat si sulung dan adik-adik mereka berkumpul di genkan.
Serentak semua yang berdiri di genkan tersebut menolehkan kepala ke arah anggota keluarga mereka yang baru saja pulang. Alhasil si anak berambut hijau pun menjadi orang keempat hari itu yang terkejut melihat keadaan Atsushi.
Sepasang mata hijau miliknya melirik sosok sang kakak. Ia merasa was-was karena menyangka kalau Seijuurou akan memasang wajah khawatir setengah mati dan siap untuk menceramahi Atsushi kapan saja. Tapi kenyataannya pemuda itu justru terlihat tenang-tenang saja.
Apa yang terjadi selama kurun waktu beberapa jam terakhir ini? Shintarou jadi penasaran...
"Aah, aku lapar. Ryou-chin, Tetsu-chin, mau kubuatkan sesuatu?" tanya Atsushi, sepertinya untuk mengalihkan perhatian orang-orang dari keadaan wajahnya.
Ryouta dan Tetsuya langsung berebut menyebutkan apa yang ingin mereka makan. Begitu semangatnya mereka karena tahu kakak mereka satu itu memang pandai memasak. Dalam sekejap, Atsushi, Ryouta, dan Tetsuya sudah berjalan meninggalkan Seijuurou dan Shintarou di genkan. Momen itu langsung digunakan Shintarou untuk buka mulut.
"Kakak tidak akan mengawasi Atsushi? Dia akan memasak..." Shintarou melirik sang kakak ketika tidak menerima respon. "Kupikir Kakak akan menceramahinya dan panik setengah mati begitu melihat keadaan wajahnya..."
Kakaknya sendiri masih memandang punggung tiga orang adiknya –terutama yang berambut ungu—yang berjalan menjauh darinya ke arah dapur dengan pandangan sedih namun senyum tipis justru terpasang di bibirnya.
"Dia tidak pernah membakar rumah atau melukai dirinya sebelum ini jadi Kakak pikir semua akan baik-baik saja," jawab Seijuurou sembari mengangkat kedua bahunya. Mata merahnya balas melirik Shintarou. "Dan Kakak memang panik setengah mati waktu mendengar keadaannya."
Seijuurou terkekeh mengingat bagaimana cerobohnya ia pagi ini. Ia jadi merasa bodoh sendiri.
Tapi untunglah keadaan adiknya tak separah yang ia bayangkan.
"Kakak tidak akan memarahinya?" tak perlu menjelaskan topik mana yang tengah diangkat oleh Shintarou, Seijuurou sudah mengerti. "Dia jadi seperti itu karena tidak mendengarkan Kakak, kan?"
"Ingin memarahinya bagaimana? Walau dipikir bagaimana pun, Kakak punya andil dalam membuatnya jadi seperti itu. Seandainya Kakak tidak mengekangnya begitu kuat, dia pasti tidak akan jadi sepemberontak itu." Seijuurou mulai melangkahkan kaki masuk lebih dalam ke rumah mereka. Shintarou melepaskan sepatunya sebentar lantas mengikuti.
"Kakak sudah memikirkannya... Sepertinya selama ini Kakak terlalu mengekangnya, jadi sekarang Kakak akan membiarkannya sedikit bebas," tanpa memberikan Shintarou kesempatan untuk menyela, Seijuurou melanjutkan, "tapi bebas di sini bukan berarti Kakak akan menghilangkan peraturan. Kakak hanya akan melonggarkannya sedikit saja."
Sepasang alis hijau lumut milik Shintarou terangkat tinggi. Ia tidak mengira kalau sang kakak akan mengatakan hal tersebut. Jujur beberapa saat lalu ia mengira kakaknya justru akan mengeratkan peraturan untuk anak itu karena peraturan yang sudah ada sekarang sudah terbukti tidak efektif.
"Hmm, bagaimana menurutmu kalau Kakak membiarkannya pulang bersamamu?"
"Kita akan menang! Teikou, Fight!" seruan dari Ootsubou langsung disambut oleh rekan-rekan setimnya. Saat ini mereka tengah berkumpul membentuk lingkaran di pinggir lapangan setelah rapat strategi namun sebelum pertandingan benar-benar dimulai. Dari teriakan mereka yang membahana gymnasium Tokyo, semua orang yang berada di sana untuk menyaksikan final Winter Cup bisa tahu kalau api semangat tengah berkobar dalam dada mereka saat ini.
Setelah mengucap salam pada tim lawan, anggota tim basket Teikou memulai pemanasan mereka dengan melakukan beberapa gerakan ringan. Di dalam tim basket tersebut terdapat Akashi Atsushi yang tubuhnya melakukan gerakan lay up tapi pikirannya tengah melayang ke latihan terakhir mereka sebelum Winter Cup dimulai.
"Kau akan pindah ke Amerika?" tanya Miyaji. Kerutan di dahinya mengindikasikan kalau anak itu kesulitan memercayai kata-kata yang baru saja dilontarkan sang adik kelas yang berambut hitam. Kontan semua yang tengah berdiri melingkari dirinya dan sang adik kelas langsung menoleh ke arah adik kelas tersebut.
"Iya, ibuku sudah mengurus berkas-berkasnya, kami hanya tinggal pergi saja sebenarnya," jawab si adik kelas –yang diketahui bernama Himuro Tatsuya—dengan kedua bahu terangkat. Senyum yang diidentifikasi oleh anggota tim reguler klub basket SMP Teikou sebagai senyum tidak ikhlas.
Tepat setelah Himuro selesai menjawab pertanyaan Miyaji, semua anggota tim reguler mengalihkan pandangan mereka ke arah seorang anak berambut ungu yang kini justru tengah memandang keluar pintu gym pertama.
Aneh rasanya karena melihat anak itu justru terlihat biasa saja ketika mendengar teman baiknya akan pindah ke benua seberang. Atau mungkin ia sudah tahu dan sudah menerima kenyataan?
"Tapi kau akan tetap bermain saat Winter Cup, kan?" pertanyaan dari Shintarou membuat anggota tim reguler kembali mengalihkan perhatian mereka pada Himuro. Ketika Himuro mengangguk sambil terkekeh, anak berambut hijau lumut tersebut menaikkan gagang kacamatanya sembari mengalihkan pandangan dan berkata, "Syukurlah kalau begitu. Tim kita tidak akan melemah untuk Winter Cup kali ini."
Tanpa perlu ditanya juga semua orang di sana tahu kalau pertanyaan yang sebenarnya ingin diajukan Shintarou adalah "kau tidak akan langsung pindah besok, kan? Kami, terutama adikku, akan kesepian tanpamu".
Dalam hati semua anggota tim reguler klub basket SMP Teikou menghela napas panjang dalam hati. Kenapa kakak-beradik Akashi itu sama saja? Sama-sama tidak pandai mengungkapkan isi hati mereka dengan benar. Padahal mereka dengar sang Akashi senior dan adiknya tidak memiliki hubungan darah, tapi kenapa mereka bisa mirip?
Mungkin hanya Tuhan yang tahu jawabannya.
Setelahnya berbagai ucapan seperti "jangan lupakan kami, ya, Himuro!", "kau baik-baik di sana, ya, Himuro!", atau "Himuro, rasanya tim basket ini tidak lengkap tanpamu!" bersahut-sahutan memenuhi gym pertama SMP Teikou.
Yang menjadi pusat perhatian hari itu hanya tertawa sembari membalas kata-kata teman-teman setimnya satu per satu.
"Sudah, sudah. Himuro tidak akan pergi besok, jadi kalian jangan berkata seperti itu sekarang!" dalam sekejap gym tersebut langsung hening begitu kata-kata Miyaji menggelegar, "malam makin larut. Cepat bersihkan gym agar kita bisa cepat pulang!"
Beberapa adik kelas Miyaji langsung berkomentar kalau senior mereka satu itu memang kejam dan tidak pandang bulu sembari hendak berbalik untuk mengambil peralatan kebersihan dan membersihkan gym beserta isinya.
"Karena salah satu anggota kita akan pergi meninggalkan kita, sebaiknya kita memberikan kenang-kenangan untuknya! Bagaimana menurut kalian, kalau kita menjadikan kemenangan kita di Winter Cup nanti sebagai kenang-kenangan untuk Himuro?" seru Ootsubou sebelum semua anggota tim reguler berpencar dan mulai bersih-bersih.
Dengan semangat, semua anggota tim reguler mengangkat tinju mereka tinggi-tinggi ke udara dan meneriakkan persetujuan mereka. Semua kecuali Atsushi dan Shintarou tentu saja.
Ketika semua anggota tim reguler menyetujui usulan Ootsubou untuk memenangkan Winter Cup agar kemenangan tersebut menjadi kenangan indah untuk Himuro, Atsushi sadar betul kalau ia sendiri harus berlatih semakin kuat agar timnya bisa menang. Kemenangan tidak akan bisa diraihnya dengan mudah jika kemampuannya tidak bertambah.
Center biasa yang ditemuinya selama babak penyisihan bukanlah masalah. Jason Silver lah masalahnya dan Atsushi yakin, seperti saat Inter High kemarin, mereka pasti akan bertemu lagi. Kemungkinan besar mereka akan bertemu –lagi-lagi—di final.
Selain karena masalah harga diri, Atsushi juga ingin menang dari anak berkulit hitam berambut perak tersebut karena menurutnya, jika kali ini ia kalah lagi dari anak tersebut seperti sebelum-sebelumnya, Teikou tidak akan punya kesempatan untuk memenangkan Winter Cup. Jika mereka kalah, kenangan terakhir yang Himuro miliki tentang Teikou adalah tentang kekalahan.
Benar-benar bukan kenangan yang bagus untuk dibawa ke Amerika.
Ah, Atsushi juga ingin membuktikan pada Jason kalau apa yang dilakukannya selama ini salah. Cara curangnya dengan menggunakan doping itu sudah membuktikan kalau ia lemah. Lebih lemah bahkan dari Atsushi sendiri. Hanya untuk membuktikan hal itu pada Jason, Atsushi sengaja tidak melaporkan anak tersebut ke pihak yang berwajib, ia ingin ia sendiri yang memberikan Jason pelajaran.
Atsushi menatap Jason yang tengah melakukan pemanasan asal-asalan di sisi lain lapangan dengan pandangan penuh tekad.
Untuk hari ini, ia sudah berlatih lebih keras dari sebelumnya. Hanya untuk hari ini, ia bahkan sampai meminta Seijuurou menjadi lawan mainnya.
Meski kakaknya menyandang posisi sebagai point-guard, tapi nama kakaknya begitu terkenal di dunia basket karena begitu bertalenta. Baik ketika ia masih SMP mau pun sekarang. Berlatih dengan Seijuurou menggunakan metode one-on-one sama sekali bukan hal yang jelek menurutnya.
Atsushi kembali memfokuskan pikirannya ketika Miyaji meneriakkan namanya dengan kesal agar anak berambut ungu tersebut cepat-cepat ke tengah lapangan dan melakukan tip-off. Entah kebetulan atau apa tapi Jason lah yang akan menjadi lawannya dalam perebutan bola tersebut.
Begitu Atsushi sampai di tengah lapangan, Jason menyeringai sembari memberikannya tatapan merendahkan. Atsushi sendiri membalas tatapan merendahkan Jason dengan tatapan penuh keseriusan dan determinasi.
Ia akan menang hari ini. Demi semuanya.
Sulit awalnya bagi Seijuurou untuk melonggarkan peraturan-peraturan yang diterapkannya pada Atsushi. Pada minggu-minggu pertama, ia bahkan masih punya desakan kuat untuk menghentikan adiknya untuk melakukan apa pun itu yang sebelumnya termasuk dalam larangan seperti memasak tanpa pengawasan.
Beberapa hari pertama setelah Seijuurou mengeluarkan izin untuk pulang lebih malam, desakan dalam diri si sulung untuk menelepon sang adik dan menanyakan keberadaannya masih tetap ada. Dan terima kasih pada kejadian Atsushi pulang dalam keadaan wajah lebam, kekhawatiran enggan meninggalkan si sulung.
Tapi semuanya mulai terasa lebih mudah setelah beberapa minggu. Terlebih Atsushi bisa membuktikan kalau ia bisa menjaga diri –dan menjaga rumah—ketika memasak dan Shintarou pun menepati kata-katanya dengan selalu pulang bersamaan dengan sang adik.
Ya, tapi terkadang, instingnya sebagai pengasuh sang adik tetap menendang masuk. Contohnya seperti saat ini.
Ketika Seijuurou tahu adiknya sedang memasak, ia langsung saja bergegas menuju dapur. Sembari menyandarkan sisi tubuhnya pada kusen pintu, ia memerhatikan adiknya yang sibuk bergerak ke sana-ke mari dalam dapur.
"Sedang masak apa?" tanyanya setelah beberapa lama memerhatika sang adik dan tak dapat tanggapan apa pun.
Atsushi mencabut sebuah pisau –jujur jemari Seijuurou sempat berkedut melihatnya—dan menggunakannya untuk memotong-motong tahu sebelum memasukkannya ke dalam sebuah panci. "Makanan kesukaan Kakak."
Kontan alis Seijuurou terangkat.
"Kenapa memasak makanan kesukaanku? Ini, kan, hari spesialmu," balas Seijuurou. Hari spesial yang dimaksud Seijuurou di sini adalah hari di mana tim basket Teikou berhasil memenangkan Winter Cup dan karena Atsushi merupakan bagian dari tim basket tersebut, otomatis kemenangan hari ini merupakan kemenangannya juga.
Lawan almamaternya itu hari ini sangatlah berat. Terlebih karena ada anak baru berbakat yang berperan sebagai seorang center. Anak berkulit hitam dengan warna rambut silver yang kalau tidak salah bernama Jason Silver. Dan kalau tidak salah ingat juga, anak itu adalah anak yang benar-benar ingin dikalahkan Atsushi.
Seijuurou tahu anak itu setelah suatu hari Atsushi datang kepadanya, meminta si sulung jadi lawan latih tanding katanya. Tentu saja saat itu Seijuurou menanyakan motif yang ada di balik permintaan sang adik dan adiknya menceritakan semua dengan jujur.
Ketika Atsushi menjelaskan bagian di mana Jason menunjukkan sebungkus amfetamin padanya, darah Seijuurou serasa membeku. Untungnya ia tidak langsung bereaksi dengan memarahi Atsushi saat itu juga dan untungnya nasihat serta wejangannya pada anak itu ada yang menembus tengkorak tebalnya.
Jika tidak, astaga, Seijuurou tidak bisa membayangkan apa yang terjadi pada adiknya.
Setelah mendengar motivasi yang dimiliki sang adik, tentu saja Seijuurou tidak bisa menolak. Alhasil selama beberapa hari sebelum Winter Cup dimulai, Seijuurou menjadi lawan rutin latih tanding Atsushi.
"Apa ini ucapan terima kasih karena sudah bersedia melatihmu?" tanya Seijuurou akhirnya. Begitu sang adik menyebut kalau makanan favoritnya tengah dalam proses pembuatan, Seijuurou jadi tak tahan untuk tak mendekat dan melihat langsung makanan favoritnya dibuat.
Atsushi mengangguk tanpa mengalihkan fokusnya dari sup tahu yang tengah ia masak.
Seijuurou terkekeh. "Tapi Atsushi hari ini menang karena usaha Atsushi sendiri. Kakak hanya membantu sedikit. Ah ya, ngomong-ngomong Atsushi terlihat keren sekali saat melakukan dunk terakhir. Kakak merekam pertandingan kalian, lho, mau lihat rekamannya setelah ini?"
Atsushi mengangkat kepalanya yang sebelumnya terpaku pada isi panci yang tengah diaduknya. Alisnya berkerut dan Seijuurou hampir dapat membaca jelas apa yang tengah melintas dalam kepala berambut ungu milik sang adik.
"Paman memberi Kakak sebuah kamera. Sebenarnya sudah cukup lama Paman memberikannya tapi Kakak baru menggunakannya akhir-akhir ini. Bagaimana kalau kita tonton rekaman final tadi sama-sama, Atsushi?" tawar Seijuurou. Pemuda berambut merah tersebut kini sudah berdiri bersisian dengan sang adik.
Jika boleh jujur, begitu mencium wangi sup tahu kesukaannya, perut Seijuurou langsung aktif menggeram. Tak sabar rasanya ingin makan sup buatan adiknya itu. Ketika supnya sudah matang, tanpa perlu diberitahu, Seijuurou membuka lemari tempat piring dan mangkuk disimpan lantas mengambil dua buah mangkuk dan meletakkannya di dekat Atsushi.
Sulit rasanya bagi Seijuurou untuk percaya kalau ia sekarang tengah berdiri di samping sang adik dengan udara sepanjang sejengkal tangan yang memisahkan mereka. Padahal beberapa minggu lalu mereka beradu argumen hingga menaikkan volume suara. Tapi lihat mereka sekarang, mereka bisa berinteraksi santai di dapur seakan-akan argumen-argumen mereka di masa lalu tak pernah terjadi.
"Ah ya, Kakak baru teringat. Mengenai nilaimu, Atsushi, Kakak memang bilang untuk fokus saja pada kelebihanmu, tapi setidaknya Atsushi juga harus berusaha untuk mendapatkan nilai rata-rata kelas saat ulangan, karena itu mulai minggu depan Atsushi akan mulai belajar dengan Kakak, paham?"
Bibir Atsushi kontan mengerucut dan ketika Atsushi mengiyakan tanpa ada bentuk protes apa pun mengikuti di belakangnya, sebuah senyum tipis merayap di wajah Seijuurou.
Genkan: bagian depan rumah orang Jepang setelah pintu masuk, tempat ngelepas sepatu.
Btw, Dee baru tau kalo nama asli bapak emaknya si Akashi, apa sebaiknya Dee ganti nama bapaknya dari chapter 1 ya? Hmm...
AND HAPPY PUBLISH DAY!
Nggak terasa ya cerita ini umurnya udah 2 tahun aja hahaha apa masih ada yang setia nungguin cerita ini? Maaf ya karena Dee lama apdet dan makasih banget karena udah mau nungguin cerita ini, nge-fav, nge-alert dan ngereview.
Akhirnya masalah Atsushi kelar juga! Rasanya susah banget deskripsiin masalah anak satu ini huft.
Dan untuk menjawab pertanyaan salah satu reader, jadi ya amfetamin itu termasuk narkoba. Kalo dipake, penggunanya bakal jadi hiperaktif, detak jantung meningkat, dan staminanya jadi semacam nambah gitu tapi tentu aja, efek sampingny ada dan itu bahaya. Kalo yang Dee baca di internet, efeknya kira-kira sama aja sama kokain.
Special thanks to: Akakuro dan Bbbfang, Akashi764, Altoire, AnonymousAutumn, Aoi Megumi, Asahina Julie, Azucchi201, Haru A-Fuadhillah, HarukaHi, Hilda9Achillius9Fitra, KeyName, Kim HyeNi, Luki0038, Lune Sonya, MayuyuzumiAsari, MutiahDwi, Rie Lyca, RifdaNS, Wako P, Who Sendja, ainkyu, cho clouda, maple magenta, takanashi misaki, Chicaymonchan123, Ichikei, Otaku Sesat45667, Shiraishi Itsuka, Yamada Haru, rangeralone, zizie-akakuro, xXTheLeaderOfTheInsanestClanXx, Alvia KR, Nia uzumaki, J'TrimFle, kuroyuki, Oto Ichiyan, Zhang Fei, Cute Bee, shawoldita, Harumia Risa, VolumeKubus13, Jasmine DaisynoYuki, deagitap, lydiasyafira, tuyul, VT Lian, ChintyaRosita, Guest, WhiteIceCream, Kaito Akahime, gyumingracle.
Dan bagi yang udah udah gak sabar nunggu masalahnya Aomine sama Kuroko, SELAMAT! MULAI CHAP BERIKUTNYA MASUK MASALAH MEREKA! Penantian kalian berakhir sampai di sini hahaha.
Nah, yang jadi masalah adalah, kapan Dee update? Kapan-kapan hahahha, nggak ding, Dee akan usahakan secepetnya selesain chap berikutnya kok, doain aja yaw hehe.
Akhir kata, REVIEW PLEASE, THANK YOU, AND HAPPY PUBLISH DAY!
