Kuroko no Basuke hanya milik Fujimaki Tadatoshi seorang.

Cerita ini hanya milik saya seorang.

Warning: AU, Nice & not-so-perfect! Akashi, brotherly love! a lot of it I think, cuteness ahead(?), alur kecepetan, half-assed chapter, OOC, typo, DLDR!

pengingat mulai chapter ini:

Seijuurou = 23 tahun

Shintarou = 20 tahun

Atsushi = 19 tahun

Ryouta = 17 tahun

Daiki = 16 tahun

Tetsuya= 12 tahun

Enjoy!


Chapter 18: As Parent, Cherishes Their Big Moments


"Apa Kakak benar-benar harus merekam ini?" tanya seorang anak berambut biru langit. Meski pertanyaannya barusan memberikan kesan kalau ia enggan menjadi fokus kamera sang kakak, sudut bibirnya tetap tertarik ke atas. Tubuh berbalut seragam kebesarannya terlihat canggung di bawah lensa kamera sang kakak.

Pria berambut merah yang berdiri di hadapan anak berambut biru muda tersebut menurunkan kameranya lantas tersenyum tipis. "Tidak apa-apa, kan? Tahun lalu juga Daiki direkam saat hari pertamanya masuk SMA."

"Tapi Kak Daiki menutupi lensa kameranya dengan tangan sepanjang waktu," protes si anak –Tetsuya—dengan sebelah alis terangkat dan bibir yang –masih—tertarik di sudut-sudutnya.

Si pria berambut merah –Seijuurou—hanya diam sembari memasang sebuah senyum penuh arti. Seijuurou membuka mulut, hendak membalas protes yang baru saja dilontarkan si bungsu, namun seorang pemuda berambut kuning mengalahkannya.

"Kalau Tetsuyacchi tidak mau, biar aku saja yang direkam, Kak Seijuuroucchi!" si pemuda berambut kuning yang baru saja muncul menginterupsi pembicaraan si sulung dan si bungsu. Sebelah tangannya mengalung di leher si bungsu.

Seijuurou terkekeh ketika sang adik yang kini sudah berusia tujuh belas tahun mulai berpose seakan-akan ialah bintang hari ini. "Sekarang giliran Tetsuya, Ryouta. Lagi pula kau, kan, bisa bebas bergaya di depan kamera saat bekerja."

Bibir Ryouta mengerucut tapi ia menurut. Badannya yang sebelumnya memasang pose-pose aneh kini diam berganti bibirnya yang tertarik lebar.

"Tetsuyacchi! Selamat hari pertama masuk SMP-ssu!" seru Ryouta dengan penuh semangat lantas sebuah tangan mengacak-acak surai biru langit Tetsuya. Sang anak berambut biru langit hanya terkekeh sesaat sebelum menjauhkan tangan sang kakak dari rambutnya sembari menggumamkan "Terima kasih, Kak Ryouta."

Si pria berambut merah –Akashi Seijuurou—hanya diam ketika kedua adiknya bertukar kata di hadapannya hingga ia menyadari sesuatu. Kamera yang sejak tadi ia pegang dengan tangan kini ia kalungkan di leher. Kakinya yang panjang mengambil langkah mendekati sang adik bungsu.

"Dasimu miring, Tetsuya," kata Seijuurou yang kemudian disambut tawa meledek dari Ryouta begitu anak tersebut melihat keadaan dasi sang adik. Meski si bungsu diam saja ketika diledek Ryouta dan ikatan dasinya dibongkar si sulung, bisa terlihat kalau di pipinya terdapat semburat merah muda.

"Tetsu-chin, ini bekalmu," dari dapur muncul sesosok pemuda tinggi besar berambut ungu. Di tangannya terdapat kotak makan yang dibungkus sapu tangan biru langit, "Selamat hari pertama masuk SMP, Tetsu-chin. Semoga harimu menyenangkan."

Tetsuya menggumamkan ucapan terima kasihnya. Untuk yang kedua kalinya hari itu, rambut biru langit si bungsu diacak-acak saang kakak. Pemuda berambut ungu tersebut –Akashi Atsushi—hanya mengangkat sebelah tangannya sembari tersenyum tanpa menghentikan langkahnya kembali ke dapur.

Tepat ketika sosok besar Atsushi menghilang di balik pintu, ponsel di saku celana kain Seijuurou bergetar. Setelah memberikan satu tarikan lagi untuk memastikan dasi adiknya telah terpasang rapi, si pria berambut merah merogoh sakunya.

Senyum geli otomatis terpasang di wajahnya begitu mata merah kembarnya menangkap nama penelepon yang tertera di bagian atas layar ponsel pintarnya. Setelah mengusap layar ponselnya dengan satu ibu jari, ponsel tersebut ia dekatkan ke telinga.

"Halo, Shintarou. Tumben kau meneleponku duluan," sapa Seijuurou. Kekehan singkat tak bisa tak lolos dari celah bibirnya ketika ia mendengar respon yang dilontarkan lawan bicaranya.

Begitu mendengar nama kakak kedua mereka disebut, Ryouta dan Tetsuya langsung teralihkan perhatiannya pada Seijuurou, "Ya, ya, kau menelepon hanya untuk menanyakan keadaan kamarmu. Meyakinkan sekali. Ini, Tetsuya."

Seijuurou menyerahkan telepon pintarnya pada si bungsu. Tetsuya memang selalu berwajah datar, tapi sepanjang pagi ini –terutama ketika ia tahu kalau kakaknya yang kedua menelepon—senyum tipis tak pernah hilang dari wajahnya.

"Halo, Kak Shintarou," sapa si bungsu begitu telepon pintar Seijuurou tertempel di telinganya.

"Halo,Tetsuya. Selamat hari pertama masuk SMP," suara berat khas Akashi Shintarou terdengar dari sisi seberang. Meski Tetsuya tidak bisa melihat lawan bicaranya –yang kini tengah berada di Hokkaidou—si bungsu tahu dari nada bicara sang kakak kalau ia baru saja tersenyum.

"Ah, terima kasih. Apa kabar, Kakak? Tetsuya dan yang lainnya baik-baik saja."

"Aku baik-baik saja, hanya sedikit sibuk karena mulai menyusun skripsi," terang Shintarou. Tetsuya bisa membayangkan kakaknya satu itu baru saja memijit pangkal hidungnya ketika kata skripsi diucapkan.

"Begitukah? Semoga pengerjaan skripsinya lancar," kata Tetsuya. Ia mulai bingung harus berbasa-basi seperti apa lagi dengan kakaknya satu itu karena pada dasarnya ia tidak begitu dekat dengan Shintarou dan Shintarou memang tidak pandai bicara.

"Terima kasih."

Tetsuya mengembalikan teleponnya pada Seijuurou. Si pria berambut merah menerima ponsel pintarnya lantas mengapitnya di antara bahu dan telinganya sementara kedua tangannya sibuk merapikan kerah Ryouta yang kusut.

"Apa kabar, Mahasiswa Kedokteran Tahun Ketiga?" sapa Seijuurou. Si sulung terkekeh ketika mendengar respon kurang bersahabat dari seberang sambungan telepon. "Semoga sukses dengan skripsimu, Shintarou. Pulanglah musim panas nanti."

Mata merah Seijuurou menangkap angka tujuh dan tiga puluh di sudut kanan atas layar ponsel pintarnya. Kepala pria tersebut terangkat lantas ia berkata, "Di mana Daiki?" ketika hanya bahu terangkat Ryouta yang menjadi jawaban, ia kembali berkata, "Ryouta, bisa tolong bangunkan dia? Nanti kalian bisa terlambat ke sekolah."

Tepat ketika Seijuurou menekan tombol merah guna memutus sambungan, suara kaki menjejak tangga terdengar. Sosok pemuda berambut biru gelap muncul menuruni tangga dengan mata setengah tertutup.

Pemuda itu menguap, lantas berkata, "kenapa pagi-pagi berisik sekali?"

Ketika mata si bungsu dan pemuda berambut biru tua itu bertemu, si pemuda membuka mulut, "ah, selamat hari pertama masuk SMP, Tetsu."

"Terima kasih, Kak Daiki."

Sekali lagi pagi itu, Atsushi keluar dari dapur. Di tangannya terdapat beberapa kotak bekal yang tiap buahnya diikat sapu tangan berbeda warna. Satu per satu kotak bekal tersebut berpindah tangan lantas dimasukkan dalam tas masing-masing.

Seakan baru saja teringat sesuatu, Seijuurou menggumamkan "ah" pelan. Namun satu kata tak berarti tersebut berhasil menarik perhatian adik-adiknya. "Malam ini aku akan makan di luar, jadi kalian tidak perlu menungguku pulang."

Jelas terlihat kalau adik-adiknya kaget mendengar pernyataan sang kakak, terbukti dari empat pasang mata yang melebar ketika Seijuurou selesai melontarkan pernyataannya. Si sulung Akashi sangat jarang makan malam di luar. Ia selalu mengutamakan kebersamaan keluarga lebih dari yang lain. Apa mungkin?

Sebagai yang paling vokal menyaurakan isi pikirannya, Ryouta angkat bicara.

"Hee, Kak Seijuuroucchi mau kencan ya-ssu?" goda anak berambut pirang tersebut. Wajah anak berambut pirang tersebut terlihat seakan ia tengah menahan kekehan geli.

Seijuurou balas menatap adiknya dengan sebelah alis terangkat. Ekspresinya seakan berkata "kenapa bisa sampai berpikiran begitu?". Namun akhirnya ia hanya mendengus geli lantas menjawab jujur, "tidak. Malam ini aku akan reuni dengan teman-teman SMA-ku. Bukan kencan."

Ryouta menghela napas kecewa. Ia berjalan lunglai menjauh dari si sulung guna mengambil tasnya yang tadi ia letakkan begitu saja di ruang keluarga. Mulutnya menggumamkan sesuatu. Seijuurou tidak begitu dapat mendengar apa yang ia katakan, tapi samar-samar ia mendengar "dua puluh tiga", "tapi", dan sesuatu tentang menikah.

Setelah agenda pembagian bekal oleh Atsushi selesai dan Tetsuya serta Ryouta pamit pada si sulung, tiga orang putra keluarga Akashi yang masih duduk di bangku sekolah bergegas berangkat. Bunga sakura yang bermekaran di sisi trotoar dan jalanan ramai kota Tokyo menjadi latar belakang perjalanan tiga bersaudara tersebut.

"Tetsuyacchi sudah tahu mau masuk klub apa-ssu?" tanya Ryouta, membuka pembicaraan di antara mereka. Daiki yang sebelumnya menguap lebar di sampingnya melirik si bungsu sesaat. Kelihatannya anak berambut biru tua tersebut cukup tertarik untuk mendengar pilihan klub sang adik.

Sudut bibir Tetsuya kembali tertarik. Mata biru langit miliknya terlihat datar namun berbinar. Dengan mantap ia menjawab, "Sudah."

Daiki membuka mulut, hendak bertanya. Namun apa pun itu yang hendak ia katakan atau tanyakan teredam demi menganggukkan kepala dan mengucapkan "selamat pagi" pada tetangga mereka yang tengah berjalan-jalan bersama anjingnya.

Setelah tetangga mereka berjalan melewati mereka, perhatian Daiki dan Ryouta kembali terfokus pada si bungsu.

"Tetsuyacchi mau masuk klub a—astaga, sudah di persimpangan? Cepat sekali," Ryouta tersentak kaget ketika ia baru menyadari mereka sudah sampai di persimpangan dan itu artinya ia dan Daiki sudah harus berpisah jalan dengan adik bungsu mereka. Sayang sekali arah ke SMP Teikou dan stasiun kereta berbeda. "Kalau begitu, sampai jumpa di rumah nanti, Tetsuyacchi! Ayo, Daikicchi."

"Selamat bersenang-senang di sekolah, Tetsu!" kata Daiki sembari mengacak-acak surai biru langit adiknya. Setelahnya, ia berlari kecil menyusul Ryouta yang sudah lebih dulu menyeberang jalan menuju stasiun.

Tetsuya mengikuti punggung kedua kakaknya dengan matanya hingga mereka hilang tertelan kumpulan orang yang juga menyusuri jalanan kota Tokyo pagi itu sebelum ia sendiri mulai melangkahkan kaki kembali menuju sekolah barunya.

Sebelah tangannya merogoh saku blazernya lantas mengeluarkan sepucuk kertas dari sana. Dilihat dari kondisinya, kertas tersebut sudah berkali-kali dibaca dan dilipat. Perlahan, Tetsuya membuka kertas tersebut dan menatap barisan huruf yang tertera di dalamnya. Anak berambut biru muda tersebut seakan tidak peduli akan kemungkinan ia jatuh tersandung karena tidak memfokuskan perhatian pada jalanan di depan.

Entah untuk yang keberapa kali sejak kertas tersebut sampai di tangannya, Tetsuya membaca kata-kata yang tergores tidak rapi dalam kertas tersebut sekali lagi. Kertas tersebut nyatanya hanya sebuah surat berisikan basa-basi seperti pertanyaan tentang kabar yang lantas dilanjutkan dengan pertanyaan apakah si penerima surat sudah masuk suatu klub. Di bagian akhir surat itu tercantum bahwa si penulis sudah bergabung dengan klub basket. Sebuah ajakan untuk berjuang bersama sehingga bisa bertemu di gym yang sama sebagai lawan menjadi penutup surat tersebut.

Isi surat itu biasa saja, sungguh. Yang membuatnya istimewa di mata Tetsuya hanyalah fakta bahwa yang mengirim surat itu adalah seseorang bernama Ogiwara Shigehiro. Temannya sejak masih di daycare dulu hingga sekarang. Sayangnya anak berambut coklat tersebut harus pindah ke kota lain karena ayahnya dimutasi.

Berkat saran Seijuurou, kini mereka saling berkirim surat. Cara yang tergolong kuno memang, mengingat teknologi sekarang sudah sangat canggih hingga bisa membuat jarak tak lagi berarti. Namun, karena si sulung masih enggan memberikan ponsel pada si bungsu, jadilah si bungsu dan Ogiwara harus puas dengan metode komunikasi mereka sekarang.

Senyum Tetsuya melebar tepat ketika matanya sekali lagi menyapu kalimat "Apa kau sudah bergabung dengan klub?".

Dengan lirih, ia menggumamkan jawabannya, "Tentu saja aku juga akan bergabung dengan klub basket."


Daiki menguap lebar hingga air mata muncul di sudut-sudut matanya. Ia mengantuk. Sangat. Hal yang paling diinginkannya adalah melanjutkan tidur tanpa diganggu siapa pun. Tapi di saat yang sama ia juga tak mau melewatkan latihan rutin klub basket sekolahnya.

Harasawa Katsunori, pelatih klub basket SMA Touou, berjalan memasuki gym. Keanggunan tak pernah lepas dari sosoknya. Meski ia tak membuka mulutnya sama sekali, buru-buru anggota klub basket SMA Touou, termasuk Daiki, berbaris rapi di hadapannya.

"Dalam waktu tiga bulan Inter High akan dimulai. Karena itu, mulai hari ini kalian akan berlatih ekstra," erangan terdengar di sana-sini. Harasawa melipat lengannya di depan dada mendengar erangan enggan anak-anak asuhnya, "atau kalian bersedia gelar kalian direbut SMA Kaijou lagi?"

Momen ketika Kasamatsu Yukio, Akashi Ryouta, dan teman-temannya mengangkat tropi kemenangan di Winter Cup yang lalu dengan senyum lebar di wajah merangsek masuk ke dalam pikiran seluruh anggota tim basket Touou. Tanpa sadar mereka semua meringis.

Gelar pemenang direbut setelah kalah tipis dari lawan ternyata terasa begitu menyebalkan.

Terutama bagi sang ace SMA Touou, Akashi Daiki.

Fakta bahwa ia selalu menang dari Ryouta selama ini membuat kekalahan mereka di Winter Cup kemarin terasa semakin menyebalkan. Sejak itu ia bertekad tidak akan membiarkan Ryouta dan timnya menang di Inter High.

Karena itulah ketika teman-temannya mengerang enggan tadi ia hanya berdiri diam. Sekilas terlihat tak tertarik meski sebenarnya tekad sudah berkobar di hati.

Dengan satu kalimat penyemangat lagi dari Harasawa, latihan tim basket SMA Touou hari itu dimulai.


Setelah berkeliling sekolah, akhirnya Tetsuya berhasil menemukan gym tempat berkumpulnya anggota baru tim basket SMP Teikou. Bukan berita besar kalau klub basket SMP Teikou begitu besar hingga memerlukan tiga gym agar seluruh anggotanya bisa berlatih, tapi itu membuat anak-anak baru kesulitan mencari tempat berkumpul perdana mereka.

Tim basket SMP ini memiliki anggota yang banyak bukan berita baru lagi bagi Tetsuya, toh ia sudah pernah mendengarnya bahkan sejak Seijuurou masih SMP, tapi melihat betapa banyak anak baru berkumpul untuk menjalani tes penempatan hari ini tetap berhasil membuatnya terkejut.

Tiba-tiba sebuah tangan menepuk bahu Tetsuya. Anak berambut biru langit tersebut menoleh dan sosok temannya yang berambut merah api menyapa penglihatannya. Sebuah cengiran lebar menghiasi wajah anak berambut api tersebut.

"Yo, Akashi."

"Halo, Kagami-kun," respon Tetsuya sembari menganggukkan kepalanya satu kali. Bertahun-tahun bersama Kagami tidak membuatnya bisa berhenti bersikap sopan di hadapan anakberambut api tersebut.

"Sudah siap untuk ujian penempatan?" tanya Kagami berbasa-basi. Tetsuya dan Kagami baru saja mengganti baju demi tes penempatan yang akan berlangsung sebentar lagi. Tetsuya yang berjalan beriringan dengannya mengangguk satu kali.

Determinasi terlihat terpancar dari kedua mata biru langitnya.

"Aku ingin bisa masuk tim lapis pertama tapi kudengar tes penempatannya sangat sulit. Bisa masuk tim lapis kedua saja sudah beruntung," sambung Kagami yang kemudian dilanjutkan dengan helaan napas panjang. Sepertinya anak tersebut khawatir ia bahkan tidak akan lolos tes untuk jadi anggota tim lapis kedua alih-alih menjadi anggota tim lapis pertama.

Tetsuya tersenyum tipis. "Aku yakin Kagami-kun setidaknya akan jadi anggota tim lapis kedua. Maka dari itu, jangan menyerah dulu."

Kagami memberikan cengiran terlebar miliknya. Sebelah tinju anak berambut api tersebut terangkat dan kemudian disambut oleh tinju milik Tetsuya. "Kau benar. Ayo berjuang, Akashi."

Dua orang pria paruh baya muncul dari pintu gym. Seorang pria berambut coklat berkacamata dan seorang lagi berambut hitam. Kedatangan mereka berdua berhasil merebut perhatian seluruh anak baru yang tadinya berkumpul dan berbincang satu sama lain. Langkah mereka berdua terhenti di pinggir lapangan.

Setelah memperkenalkan diri –pria berambut coklat berkacamata adalah kepala pelatih sekaligus pelatih tim lapis pertama, Sanada Naoto, sedangkan pria berambut hitam adalah pelatih tim lapis ketiga, Matsuoka Daigo—dan menjelaskan sistem yang ada di tim tersebut, tes penempatan pun dimulai.


"Ah, harusnya aku bisa lebih baik dari itu. Sial," rutuk Kagami. Tes untuk anak tersebut sudah lama berakhir tapi sejak tadi ia tak henti-hentinya mengutuk diri sendiri karena menurutnya ia tidak menjalani tesnya dengan cukup baik.

Tetsuya di sampingnya menepuk punggungnya, menghibur.

Jika boleh jujur, Tetsuya sendiri ingin seperti Kagami, merutuk diri sendiri karena merasa tak bisa menjalani tes dengan baik. Tapi karena ia bukan tipe orang seperti itu dan anak berambut biru tersebut berpikir merutuk pun tak akan dapat merubah hasil tesnya nanti, maka ia memutuskan berdiam diri saja.

Sudah tiga puluh menit sejak tes penempatan berakhir dan seharusnya sekarang adalah waktunya kepala pelatih mengumumkan hasil tes mereka. Namun sang kepala pelatih dan pelatih tim lapis ketiga yang tadi menjadi penilai dalam tes mereka masih belum menunjukkan tanda-tanda akan muncul.

Tetsuya harap-harap cemas. Jantung anak berambut biru langit tersebut berdetak kencang. Sedikit cemas menanti hasil tes. Hati kecilnya berharap ia dapat masuk tim lapis kedua namun logikanya menyangkal keras.

Tepat ketika Kagami membuka mulut –hendak melontarkan komplain pada diri sendiri sekali lagi sepertinya—Sanada Naoto dan Matsuoka Daigo muncul. Sama seperti saat mereka masuk gym tadi, mereka berdiri di pinggir lapangan dengan anak-anak baru yang berbaris di hadapan mereka. Bedanya kali ini adalah Matsuoka Daigo mengambil jarak cukup jauh dari sang kepala pelatih.

"Sekarang akan kuumumkan hasil tesnya," Matsuoka mengangkat papan jalan berisi hasil tes di tangannya, "kita mulai dari tim lapis ketiga. Mereka yang namanya dipanggil, berbarislah di depan pelatih lapis ketiga."

Matsuoka mengambil alih dan mulai menyebutkan nama.

"Nomor dua, Saitou Nobuo. Nomor empat…" nama-nama dipanggil satu per satu. Beberapa anak menghela napas kecewa ketika nama mereka meluncur dari mulut sang pelatih sedangkan sebagian lainnya bersorak karena nama mereka tidak dipanggil.

"Nomor dua puluh delapan, Shimada Shunsuke…"

Mata Kagami melebar. Tak percaya ketika namanya dilewati. Sesaat kemudian ia sudah mengangkat tinjunya tinggi-tinggi. Teriakan senang yang tertahan menyusup keluar dari tenggorokannya.

Tetsuya tersenyum melihat wajah teman akrabnya satu itu. Sayangnya ia belum bisa bergabung dalam kegembiraan yang dirasakan Kagami karena gilirannya belum sampai.

Semoga tidak disebut, semoga tidak disebut, semoga tidak disebut, kalimat tersebut diulang berkali-kali oleh Tetsuya dalam hati seolah-olah kalimat tersebut adalah mantra.

"Nomor dua puluh sembilan, Tanaka Jun, dan terakhir," Tetsuya memejamkan mata erat-erat. Di satu sisi ia berharap waktu berhenti saja agar ia tak perlu mendengar hasil yang akan disebutkan tapi di sisi lain ia penasaran dan ingin mendengar. Tetsuya menggigit bibir bawahnya, semoga—"nomor tiga puluh satu, Akashi Tetsuya. Mereka yang namanya tidak disebut akan masuk tim lapis kedua."

Mata Tetsuya spontan terbuka.

Harapannya tidak terkabul…

Masih sulit rasanya menerima kenyataan kalau Kagami masuk tim lapis kedua sedangkan untuk saat ini ia harus puas terdampar di tim lapis ketiga. Kekecewaan menggenang dalam hatinya membuat buruk mood-nya hari ini. Alis Tetsuya mengerut.

Untuk saat ini. Kalimat tersebut melintas dalam kepala Tetsuya. Benar, masih ada harapan untuknya. Jika Tetsuya berlatih keras mulai sekarang, ia bisa naik ke tim lapis kedua sebelum Inter High nanti.

Harapan-harapan pembesar hati Tetsuya masukkan ke dalam pikirannya guna menghibur diri. Diam-diam ia menarik napas dalam-dalam sebelum mengembuskannya lagi. Begitu berkali-kali hingga ia merasa lebih tenang dan kekecewaan berhasil ia usir sedikit demi sedikit dari dalam hatinya.

Ingat, tidak boleh terlalu emosional.

Seulas senyum tipis mulai menarik sudut-sudut bibirnya. Ya, ia masih bisa berusaha. Menjadi anggota tim lapis ketiga bukan akhir segalanya.

Isi surat Ogiwara kembali terbayang dalam benaknya terutama di bagian Ogiwara masuk menjadi anggota tim basket sekolahnya.

Seketika kesadaran menghantamnya dan determinasi kembali menyala dalam dirinya.

Jika ia punya waktu untuk bersedih, sebaiknya ia gunakan waktu itu untuk berlatih. Walau bagaimana pun ia harus memenuhi ajakan Ogiwara untuk bertemu sebagai lawan di pertandingan nanti.

Dengan mantap, Tetsuya mulai melangkahkan kakinya ke hadapan pelatih tim lapis ketiga.


Seijuurou berdiri di hadapan pintu apartemen bernomor 1723, mematung. Sebelah tangannya menggenggam telepon pintarnya. Layar telepon pintar tersebut menampilkan pesan yang dikirimkan seniornya di SMA, Mibuchi Reo, satu bulan yang lalu.

Pesan tersebut berisi ajakan untuk mengadakan reuni kecil serta alamat rumahnya, tempat akan diselenggarakannya reuni kecil-kecilan mereka. Setelah memastikan kalau ia berdiri di hadapan pintu apartemen yang tepat, Seijuurou kembali mengarahkan pandangannya pada layar ponselnya.

Ibu jarinya bergerak mengusap layar ponselnya yang merupakan ponsel layar sentuh. Sesaat kemudian layar ponsel tersebut telah menampilkan folder pesan terkirim. Sebuah nama mendominasi folder pesan tersebut. Satu nama milik seorang perempuan.

Perempuan yang sudah lima tahun lebih menghilang tak berjejak bagai asap. Tidak, bahkan asap sekali pun masih meninggalkan jejak sebelum benar-benar menghilang. Mungkin lebih tepat dikatakan ia hilang ditelan bumi karena sejak Seijuurou lulus, ia tak pernah lagi mendapat kabar mengenai perempuan itu dan tak ada seorang pun teman sekolah Seijuurou dulu yang bisa mengontak perempuan tersebut.

Perempuan itu tidak pernah membalas pesan. Ditelepon pun tak bisa. Media sosial ia tak punya. Rumahnya kosong setelah Seijuurou lulus dari SMA. Reuni akbar SMA Rakuzan pun ia tak datang.

Rumor mengatakan ia pindah ke kota lain karena ayahnya dimutasi. Ada juga yang mengatakan keluarganya dikejar utang hingga memaksanya lari ke kota lain. Bahkan ada rumor yang mengatakan kalau perempuan itu sengaja pergi dari Tokyo guna lari dari sesuatu yang buruk –atau lebih tepatnya dari seseorang. Siapakah orang itu tidak ada yang tahu pasti.

Tapi rumor hanyalah rumor. Seijuurou menolak memercayai informasi simpang siur seperti itu. Oleh sebab itulah, Seijuurou –juga teman-temannya yang lain—khawatir.

Sudah lima tahun… dan masih belum ada setitik pun kabar darinya.

Sejujurnya, harapan sedikit meletup dalam dada Seijuurou ketika membaca pesan dari Mibuchi sebulan yang lalu. Pria berambut merah tersebut yakin Mibuchi pasti mengundang perempuan itu juga dalam reuni kecil mereka. Walau bagaimana pun, meski ia tidak benar-benar terjun langsung, mereka telah menganggap perempuan itu sebagai bagian dari tim mereka.

Siapa tahu perempuan itu datang hari ini meski hanya demi memuaskan keinginan bertemu teman lama.

Perempuan itu, tak lain tak bukan, adalah Momoi Satsuki.

Seijuurou memutuskan untuk menyimpan ponselnya kembali ke saku dan menekan bel. Dari pada ia sibuk bergulat dengan pikirannya sendiri di depan pintu apartemen Mibuchi, lebih baik ia bertindak. Setelah menunggu beberapa saat, suara Mibuchi terdengar dari interkom.

"Siapa?"

"Ini aku," jawab Seijuurou simpel. Suara kunci diputar terdengar dan tanpa perlu menunggu lama, pintu apartemen Mibuchi terbuka, menampilkan sosok si pemilik apartemen. Sosoknya masih sama dengan terakhir Seijuurou lihat dan Seijuurou terakhir melihatnya setahun lalu di reuni akbar klub basket. Hanya saja sekarang rambutnya lebih pendek, hanya menyentuh bagian atas tengkuk.

"Sei-chan! Ayo, masuk. Yang lainnya sudah menunggu di dalam." Mibuchi menggeser posisinya agar Seijuurou dapat masuk.

Jujur saja, mendengar dua kata "yang lainnya" membuat api harapan kembali meletup dalam hati Seijuurou. Semoga saja harapannya terkabul.

Sembari menggumamkan "permisi" Seijuurou membungkuk melepaskan sepatu pantofelnya. Dengan rapi ia menata sepatunya di genkan apartemen Mibuchi. Melihatnya membuat Mibuchi tertawa. Seijuurou memang tak pernah berubah. Masih merupakan orang yang rapi, tertata.

"Ah, Akashi!" Hayama Koutarou mengalihkan perhatiannya dari televisi yang tengah menayangkan acara komedi. Senyum lebar berhiaskan gigi taring maju khasnya ia lontarkan pada adik kelasnya semasa SMA dulu. Pria berambut oranye tersebut menggeser tempat duduknya di salah satu sisi meja kopi demi memberikan ruang Seijuurou duduk.

Sapaan Hayama sukses mengalihkan perhatian dua orang lainnya yang juga tengah berkumpul mengelilingi meja kopi dari televisi. Namun berbeda dengan Hayama, dua orang tersebut –Nebuya dan Mayuzumi—hanya melirik Seijuurou dari sudut mata dan menganggukkan kepala.

Mata merah Seijuurou memindai seisi ruangan. Tidak ada tanda-tanda kehadiran seorang perempuan berambut sewarna sakura. Ah, sayang sekali, Seijuurou harus menelan pahitnya harapan yang pupus karena sepertinya malam ini pun perempuan tersebut masih memutuskan untuk menghilang dari permukaan bumi.

"Apa kabar, Akashi? Lama tidak bertemu ya," seru Hayama memulai pembicaraan ketika Seijuurou mengambil tempat di sampingnya. Setelah mengantar Seijuurou ke ruang keluarga tempat Hayama berada, Mibuchi undur diri dengan alasan menyiapkan makanan ringan untuk reuni kecil mereka.

"Baik. Senior Hayama sendiri apa kabar?" balas Seijuurou sopan. Pria berambut merah tersebut melepaskan jas kerjanya dan menyampirkannya pada pegangan sofa.

"Aku baru dapat promosi!"pamer Hayama sembari menunjuk hidungnya sendiri. Nebuya dan Mayuzumi yang sebelumnya tidak tertarik untuk bergabung dengan obrolan kecil mereka kali ini menolehkan kepala ke arah Seijuurou dan Hayama.

"Pasti ada kesalahan. Bagaimana bisa orang sepertimu naik jabatan?" ledek Nebuya. Meski kata-katanya sekilas terdengar pedas, senyum yang menempel di bibirnya berkata sebaliknya.

"Aku tidak mengerti apa yang dipikirkan bosmu," sambung Mayuzumi. Senyum tipis menghias wajah pria berambut kelabu tersebut.

Entah kenapa dua orang tersebut kompak hari ini. Kompak menjahili Hayama. Hayama mengerutkan alis dan mengerucutkan bibir mendengar tanggapan dua orang temannya. Seijuurou hanya terkekeh.

Tepat saat itu, Mibuchi datang dari dapur membawa semangkuk besar makanan ringan, sebotol sake dan lima gelas kecil. "Nebuya dan Mayuzumi benar. Bosmu pasti akan menyesal sebentar lagi karena telah membuatmu naik jabatan."

Hayama yang tadinya hendak bersorak melihat sake di tangan Mibuchi seketika membatalkan niatnya dan ganti melempar tatapan mematikan ke arah pria flamboyan tersebut. Hanya Seijuurou satu-satunya orang di ruangan tersebut yang justru memberikan ucapan selamat pada Hayama dan bukannya meledeknya.

Mibuchi memaksa Nebuya menggeser duduknya agar ia sendiri bisa mengambil tepat di salah satu sisi meja kopi. Nebuya mengerang namun ia menurut. Dengan cekatan, Mibuchi meletakkan gelas kecil yang ia bawa tadi di hadapan teman-teman SMA-nya. Satu per satu ia tuangkan sake. Tepat ketika ia hendak menuangkan sake ke gelas Seijuurou, pria berambut merah tersebut mengangkat sebelah tangannya.

"Maaf, tapi aku tidak bisa minum malam ini," tolak Seijuurou dengan sopan.

Mibuchi menurunkan botol sake di tangannya. Nebuya, Hayama, dan Mayuzumi menatap Seijuurou dengan sebelah alis terangkat.

"Kau tidak kuat minum, Sei-chan?" tanya Mibuchi. Ia bukannya tidak senang karena Seijuurou menolak sakenya, ia menghormati keputusan Seijuurou dan tak akan memaksanya minum, sungguh, ia hanya penasaran.

Tatapan Seijuurou melembut. Seulas senyum tipis menarik sudut bibirnya. "Bukan begitu, aku masih harus menyetir untuk pulang. Lagi pula, aku masih punya adik kecil di rumah. Aku akan menjadi contoh yang buruk kalau aku pulang dalam keadaan mabuk."

Penjelasan Seijuurou membawa senyum pada wajah senior-seniornya. Mereka semua menggelengkan kepala pelan sembari menggumam bagaimana tujuh tahun telah berlalu tapi Seijuurou masih saja sama. Sama sekali tidak berubah.

Mibuchi lantas berdiri dari duduknya dan mengambil kembali gelas kecil khusus minum di hadapan Seijuurou. Punggung pria berambut hitam tersebut menghilang di balik dapur sebelum akhirnya muncul lagi dengan segelas teh dingin.

"Sei-chan selalu sayang adik, ya," celetuk Mibuchi ketika ia meletakkan gelas berisi teh tersebut di hadapan Seijuurou. Seijuurou menggumamkan "begitukah?" sebelum menyesap tehnya. Hmm, Teh Oolong, dalam hati Seijuurou berkomentar.

"Iya. Ingat tidak waktu dulu kita baru pulang dari training camp musim panas kita?" Nebuya mengarahkan pandangannya ke langit-langit, berusaha mengingat-ingat. Mayuzumi menggumamkan "ah" pelan.

"Ya. Waktu kita makan malam di rumah Akashi itu, kan? Waktu itu Akashi terasa seperti bukan Akashi," sahut Hayama. Ia mengangkat gelas sakenya dan menghabiskan isinya dalam sekali teguk. Begitu cairan alkohol tersebut menghangatkan tenggorokannya, pria berambut oranye tersebut mendesah senang. Persis orang tua yang minum sake setelah lelah bekerja seharian.

Seijuurou terkekeh ketika memori kala itu terputar kembali dalam pikirannya. Lucu mengingat ekspresi kaget senior-seniornya ketika melihat sisi lain seorang Akashi Seijuurou dan ketika kenyataan tidak sesuai dengan ekspektasi mereka.

"Siapa yang sangka kalau ternyata kapten tim kita ternyata punya sisi lembut?" Mayuzumi melontarkan pertanyaan tersebut acuh tak acuh. Teman-temannya yang lain –minus Seijuurou tentu saja—menganggukkan kepala tanda setuju.

"Tapi bukan itu saja yang membuat kita terkejut hari itu, kan?" seru Hayama. Meski kini sudah menginjak usia dua puluh empat, pemuda itu tetap sukses menjadi pencair suasana dalam grup kecil mereka.

Nebuya tertawa, "Iya, ternyata rumor-rumor tentang Akashi tidak ada yang benar."

Mibuchi mengerucutkan bibir, menunjukkan tanda tidak setuju dengan pernyataan Nebuya, "tidak semua. Rumor tentang Sei-chan punya adik dan ia benar-benar sayang adiknya itu benar."

Nebuya kembali mengalihkan tatapannya ke langit-langit. Benar ada rumor seperti itu ya?

"Tapi bukan hanya kita yang terkejut. Momoi yang satu SMP dengan Akashi pun terkejut hari itu," gumam Mayuzumi. Gumaman pria berambut kelabu tersebut berhasil mengalihkan perhatian teman-temannya sekaligus topik pembicaraan.

Sosok perempuan berambut sewarna sakura yang dulu merupakan manajer mereka melintas dalam benak masing-masing. Seketika atmosfer dalam ruangan itu menjadi berat. Bukan lagi berita besar kalau seorang Momoi Satsuki telah menghilang selama lima tahun belakangan tanpa kabar.

Tentu saja, hal tersebut membuat mereka, yang pernah diasuh Momoi semasa SMA dulu, khawatir.

"Momoi… bagaimana kabarnya sekarang ya?" gumam Hayama. Mata hijaunya menatap lampu yang tergantung tepat di atas meja kopi tempat mereka duduk berkeliling, menerawang.

"Sei-chan… sama sekali tidak tahu kabar mengenai Momoi?" tanya Mibuchi hati-hati. Seijuurou yang namanya dipanggil menoleh ke arah Mibuchi. Mempertemukan mata mereka. Kekhawatiran jelas menggantung di sepasang mata hitam pria flamboyan tersebut.

Mibuchi mengalihkan pandangan matanya dari mata merah Seijuurou. Pria berambut merah tersebut tidak mengatakan apa-apa memang, tapi dari pertemuan mata mereka sepersekian detik barusan Mibuchi sadar kalau Seijuurou pun sama dengan mereka; sama-sama tidak tahu.

Hening. Semuanya sibuk dengan pikiran masing-masing. Tepatnya pikiran masing-masing mengenai seorang perempuan yang sama. Selalu begini setiap kali membicarakan Momoi.

"Ah, waktu itu… Waktu itu kita menjahili adik-adik Akashi, ya?" kenang Mibuchi, berusaha untuk mengalihkan topik pembicaraan dan menghidupkan lagi suasana yang sempat mati. Mengikuti aksi Hayama, pria tersebut meneguk habis sakenya.

Mayuzumi merengut, "kalian saja. Aku tidak ikut-ikutan."

Hayama tertawa meledek, "kau memang dari dulu tidak seru, Mayuzumi."

Perlahan atmosfer di antara mereka kembali menghangat dan Seijuurou bersyukur karenanya.

Mayuzumi meliriknya sebal tapi memutuskan untuk diam saja dan meneguk sakenya sendiri.

Melihat sake di gelas tamu-tamunya habis, Mibuchi kembali mengisi penuh gelas-gelas mereka. Hanya Seijuurou yang gelasnya masih tiga per empat penuh. "Ah iya, adik-adikmu apa kabar, Sei-chan?"

Seijuurou menciptakan jarak antara bibirnya dan bibir gelas. Teh Oolong yang tadi disesapnya ia letakkan di atas meja. "Mereka baik. Adikku yang paling tua sekarang sudah kuliah tingkat tiga sedangkan si bungsu hari ini masuk SMP."

Nebuya terkekeh ketika memori di mana ia meledek adik tertua Seijuurou muncul ke permukaan pikirannya. Adik Seijuurou satu itu lucu sekali. Cocok untuk dijadikan bahan ledekan.

"Ah, mereka sudah besar ya," gumam Mibuchi. Tatapan matanya melembut sedangkan tangannya masih sibuk mengisi ulang gelas sake tamu-tamunya. Gumaman Mibuchi menyadarkan Seijuurou kalau pria itu benar, adik-adiknya sudah besar. Mungkin sebentar lagi ia harus mempersiapkan diri melepas mereka satu per satu.

Hening sesaat. Beberapa dari mereka masih agak tidak percaya kalau waktu berlalu begitu cepat. Usia mereka kini sudah di awal kepala dua dan adik bungsu Seijuurou yang waktu itu baru berusia lima tahun kini sudah masuk SMP.

Topik demi topik mereka bahas silih berganti. Mulai dari topik tidak penting seperti cuaca akhir-akhir ini hingga yang berat seperti nasib tim basket Jepang di turnamen internasional selanjutnya. Namun mereka semua sama. Sepanjang malam itu, pikiran mereka semua masih tersangkut pada satu nama; Momoi Satsuki.


Special thanks to: Kazerin Namikaze, rahma12desti, Red Kalyca, Damonenprinz, chocolate 13215, JongTakGu88, deerwinds947, HyunMinCho137, nanamikiyuri22, Zohsan46, Yamada Haru, Mhion Michaelis, RedDamone, HelenAngusFlos, VolumeKubus13, Fujimaki Hirano, Coklat Merah, elvi0415, Akafans, UchiHarunoKid, Holy, naelfatih, AlviaKR, , Guest, Ai Selai, Cute Bee, Anna505, WhiteIceCream, Oto Ichiiyan, Jooxxy, Kiraracchi, Wako P, Jasmine DaisynoYuki, deagitap, Otaku Sesat 45667, murochan, Erucchin, VT Lian, gifha aulia, Keys13th, rizkyanne, Harumia.

Halo, ketemu lagi sama Dee! Semoga pembaca semua bisa nikmatin ch pembuka masalah Aomine sama Kuroko ini ya!

Maaf banget fic ini kutinggal satu semester tapi aku punya alasan kok wkwkwwk. Jadi sebenernya chapter ini udah selesai dari agustus kemaren, tapi Dee pikir sebaiknya selesaiin dulu masalah Daiki baru Dee upload, biar kalian gak nunggu lama juga. Eh pas ngetik ch 19, laptop Dee mati... dan data ilang semua. Data fic ini juga, dari prolog sampe 18 ilang semua. Dan jujur Dee orang yang ingatannya buruk banget, jadi susah banget buat inget isi ch ini secara detail karena Dee selalu cuma bayangin garis besar suatu chapter dan pas ngetik itulah detail-detail kecil kayak apa yang dilakuin satu karakter disatu scene tercipta. Dan jujur menurut Dee ini pun rasanya masih kalah kualitasnya sama ch 18 yang ilang di laptop Dee yang rusak...

Alah, kok jadi curcol. Intinya, maafin Dee yang apdetnya ngaret-ngaret gini... semoga reader sekalian mau memaklumi /pernahketemusalahsatureaderficinidannyarisdirajamkarenajarangapdetwakakaakak/

Dan maaf, reviewer gak login belom bisa Dee bales reviewnya di sini tapi review kalian Dee baca satu-satu dan Dee suka semuanya. Makasih guys, love you all, terutama yang ngingetin Dee kalo Dee masih punya pembaca yang setia nungguin fic ini /tebarcium/

Akhir kata, review?