Kuroko no Basuke hanya milik Fujimaki Tadatoshi seorang.
Cerita ini hanya milik saya seorang.
Warning: AU, Nice & not-so-perfect! Akashi, brotherly love! a lot of it I think, cuteness ahead(?), alur kecepetan, half-assed chapter, OOC, typo, DLDR!
pengingat mulai chapter ini:
Seijuurou = 23 tahun
Shintarou = 20 tahun
Atsushi = 19 tahun
Ryouta = 17 tahun
Daiki = 16 tahun
Tetsuya= 12 tahun
Enjoy!
Chapter 19: As Parent, Suspects
Seijuurou sama sekali tidak terkejut ketika hanya kegelapan serta keheningan yang menyambut kepulangannya malam itu. Yah, mau bagaimana lagi. Tangan-tangan waktu kini telah menunjuk ruang antara angka dua belas dan satu. Ia justru akan terkejut –dan memberi tatapan menyelidik—kalau masih ada salah seorang adiknya yang berkeliaran jam segini.
Oleh sebab itulah, Seijuurou tidak mengucapkan "aku pulang" seperti biasa ketika ia membuka pintu depan. Untuk apa? Toh tidak akan ada yang menjawab salamnya juga. Masako-san sekarang sudah terlalu tua untuk menungguinya hingga larut malam seperti ini. Lagi pula ia juga akan menegur Masako-san kalau wanita tersebut terjaga menungguinya.
Seijuurou membungkukkan badan, sebelah tangan berusaha melepaskan sepatu pantofelnya sedangkan tangan yang lainnya meraba-raba rak sepatu. Maklum, lampu-lampu di sekitar rumahnya sudah dimatikan dan saklar untuk lampu yang menerangi bagian genkan berada sekitar lima langkah dari genkan itu sendiri.
"Tumben Kakak tidak mengucapkan salam saat masuk rumah."
Tiba-tiba lampu genkan menyala bersamaan dengan seseorang bicara. Pernyataan orang itu sukses membuat Seijuurou berjengit terkejut. Seandainya ia tidak menyadari pemilik suara itu, mungkin bulu kuduknya sudah berdiri sekarang.
Tepat lima langkah darinya, berdiri Tetsuya yang tengah menatapnya dengan sebelah tangan terangkat menekan saklar.
Entah ini hanya perasaan Seijuurou atau memang benar, Seijuurou merasa adiknya satu ini punya hawa kehadiran yang lemah. Sejak awal memang hawa kehadiran Tetsuya sudah lemah, tapi akhir-akhir ini hawa keberadaannya semakin tipis.
Tidak hanya kali ini dan bukan hanya Seijuurou saja, semakin hari semakin banyak orang yang terkejut karena "kemunculan tiba-tiba" Tetsuya.
Setelah berhasil meletakkan sepatunya dalam rak, Seijuurou menegakkan tubuhnya. Mata merah kembarnya bertemu mata biru langit si bungsu. Tatapan pria berambut merah tersebut seakan menyusup ke dalam pikiran si bungsu demi mencari jawaban atas kehadiran si bungsu di genkan tengah malam seperti ini.
"Kenapa Tetsuya masih bangun?" Seijuurou menyuarakan pertanyaannya ketika Tetsuya tidak mengalihkan pandangannya dan tidak berusaha menjelaskan apa pun pada si sulung. Kaki Seijuurou melangkah menuju sang adik dan tepat ketika ia berada di samping si bungsu, ia merangkul bahu adiknya dan menuntunnya masuk bersama.
"Tetsuya hanya… tidak bisa tidur," terang Tetsuya. Kepala anak berambut biru tersebut teralih ke arah dinding yang berada di sisi koridor dan helaan napas –sangat—pelan terdengar lolos dari celah bibirnya. Tentu saja hal ini tidak lolos dari pengamatan Akashi Seijuurou. Bertahun-tahun hidup bersama –atau lebih tepat jika dibilang membesarkan?—Tetsuya membuat seorang Seijuurou tahu alasan di balik setiap aksi Tetsuya. "Bagaimana reuninya? Menyenangkan?"
Dan satu hal yang diketahui Seijuurou di luar kepala adalah jika Tetsuya memalingkan pandangannya dari lawan bicara dan menghela napas, berarti anak itu berbohong atau ada sesuatu yang ia sembunyikan.
"Mhmm," Seijuurou menggumamkan jawabannya. "Tapi sayangnya Kakak tidak bisa ikut minum-minum."
Tetsuya menggumamkan "hee" tapi tidak menanyakan alasan kenapa kakaknya tidak ikut minum-minum malam ini. Si bungsu dan adik-adik Seijuurou yang lain paham betul kenapa pria berambut merah tersebut berusaha sekuat tenaga menjauhkan diri dari minuman beralkohol meski sudah tiga tahun ia tergolong dewasa.
Bahkan seingat dan sepengetahuan Tetsuya, Seijuurou hanya pernah minum satu kali yaitu di malam ia resmi menjadi seorang yang dianggap dewasa oleh pemerintah Jepang.
"Bagaimana hari pertamamu? Menyenangkan?" tanya Seijuurou. Kesannya seakan ia tak ambil pusing lagi mengenai alasan adiknya masih terjaga jam segini, tapi sebenarnya pria tersebut tengah berusaha untuk menggali informasi tanpa benar-benar terlihat.
"Menyenangkan." mata biru langit Tetsuya kembali bergerak menjauhi Seijuurou. Alis Seijuurou mengerut melihatnya.
Hening sesaat. Seijuurou diam saja karena ia kira Tetsuya masih akan mengatakan sesuatu. Ketika si bungsu tak kunjung menyambung kata-katanya tadi, Seijuurou memutuskan ia yang akan menyambung obrolan mereka.
"Tetsuya masuk klub?"
Tetsuya mengangguk kalem. "Klub basket."
Seijuurou menggumamkan "hm" panjang. Kembali terbayang di benaknya bagaimana sebelas tahun yang lalu ia memutuskan ikut klub yang sama dengan yang diikuti Tetsuya sekarang. Masih segar di ingatannya bagaimana sulitnya tes penempatan yang diadakan klub basket SMP-nya tersebut. "Bagaimana tesnya?"
"Sulit," Seijuurou mengangguk maklum, "Tetsuya hanya sanggup masuk tim lapis ketiga."
Jadi ini yang Tetsuya sembunyikan darinya.
Dengan fisik seperti itu memang akan sulit bagi Tetsuya untuk bisa berada di tim lapis kedua atau pertama, pikir Seijuurou. Tentu saja pria berambut merah tersebut tidak menyuarakan isi pikirannya. Khawatir kalau akan menyakiti perasaan si bungsu.
Akhirnya mereka berdua sampai di depan pintu kamar Tetsuya.
"Jangan sedih begitu, tim lapis ketiga itu tidak buruk," Seijuurou mengusap puncak kepala adiknya dengan lembut. Pandangan pria berusia dua puluh tiga tahun tersebut ikut melembut. "lagi pula Tetsuya masih bisa naik ke lapis berikutnya bulan depan. Tesnya diadakan tiap bulan, bukan?"
Tetsuya mengangguk. Anak bungsu keluarga Akashi tersebut sempat terkejut karena Seijuurou tahu kalau ia tengah dirundung kecewa. Tapi ini Seijuurou, kakaknya yang sudah membesarkannya sejak ia berusia tiga tahun jadi tidak mengherankan Seijuurou tahu.
Tapi mata biru langitnya masih terlihat redup.
Seijuurou mendengus pelan. Kedua tangannya merengkuh Tetsuya dalam pelukan. "Bersemangatlah. Kakak yakin Tetsuya bisa naik ke tim lapis kedua segera."
Tetsuya menganggukan kepalanya satu kali dan itu menjadi tanda bagi Seijuurou untuk melepaskan pelukannya. Sekali lagi malam itu sebelah tangan si sulung terangkat lantas mengusap puncak kepala si bungsu dengan penuh sayang. "Tidurlah. Sudah larut, Tetsuya bisa terlambat bangun besok pagi."
Tetsuya menganggukkan jawabannya lantas masuk ke kamar.
Seijuurou tak melepaskan pandangannya dari pintu kamar Tetsuya hingga pintu kayu tersebut benar-benar menutup. Pria berambut merah tersebut menghela napas lelah lantas melanjutkan perjalanannya ke kamarnya sendiri.
Satu orang, dua orang terlewati. Satu tipuan dan satu orang lainnya kembali terlewati. Daiki melompat, melakukan fade-away dan dalam sepersekian detik bola di tangan anak berkulit hitam tersebut sudah melayang masuk menembus ring dengan mulus.
Daiki mendarat dengan sempurna. Cengiran lebar menghiasi bibirnya. Tanpa membuang waktu –bahkan untuk sekadar melihat tembakannya berhasil masuk sekali pun—Daiki bergegas ke sisi lain lapangan guna mempertahankan bagian lapangannya.
Tim lawan mainnya hari itu memulai serangan balik. Kapten tim lawannya memantulkan bola di tangan sembari meneriakkan perintah pada teman-temannya. Telunjuknya mengacung menunjuk posisi-posisi yang perlu ditempati teman-temannya sebelum ia memulai serangan.
Daiki berhenti tepat di bawah ring milik timnya. Mata biru gelapnya terus mengawasi pergerakan pemain yang membawa bola.
Ketika teman-teman setimnya dirasa telah menempati posisi yang pas, kapten tim lawan memulai serangannya. Tim Daiki dan tim lawan yang sama-sama terdiri dari tiga orang memulai aksi masing-masing. Tim Daiki bergerak mempertahankan sedangkan tim lawan bergerak menyerang.
Sang kapten tim lawan mengoper bola di tangannya pada temannya yang berdiri di sisi kanan lapangan. Tanpa membuang waktu pemuda tersebut merangsek maju menembus pertahanan tim Daiki. Satu orang dapat dilewati dengan mudah. Pemain berikutnya hanya perlu diberi tipuan sedikit dan ia sudah tak lagi menjadi masalah.
Lalu ada Daiki.
Mereka kini berdiri berhadapan. Lawan Daiki menghentikan serangannya, memilih untuk diam sejenak dengan tangan masih memantulkan bola. Tubuhnya memasang pose triple threat sembari otaknya memikirkan rute terbaik untuk dapat melewati ace SMA Touou tersebut.
Daiki sendiri memfokuskan perhatiannya pada lawan di hadapannya. Tak sedetik pun pandangannya lepas dari sosok pemuda berambut hitam di hadapannya.
Pemuda tersebut menggeser kaki kirinya, mencoba mengecoh Daiki. Ketika mata biru tua Daiki bergeser mengikuti pergeseran kaki lawan, senyum menggores wajahnya. Ia menjadikan kaki kirinya sebagai tumpuan dan mencoba memutari Daiki.
Sayangnya, Daiki dapat dengan cepat –terlalu cepat malah—bereaksi mengikuti pergerakan lawannya.
Sebelum lawannya berhasil melewati Daiki sepenuhnya, Daiki telah berhasil mencuri bola oranye tersebut dari tangan sang lawan. Selagi lawannya sibuk menatap Daiki dengan mata terbuka lebar, pemuda berkulit hitam tersebut berlari menggiring bola di tangannya menuju ring lawan sekali lagi.
Melihat bola berhasil dicuri dari tangan temannya, kapten tim lawan bergegas mencegat Daiki. Terpaksa Daiki berbelok menghindari kapten lawan. Seakan bisa membaca pikiran Daiki, kapten tim lawan menggeser posisinya, menghalangi rute Daiki menuju ring.
Daiki mendesis.
Karena sepertinya ia tak punya pilihan lain lagi, pemuda berambut biru tua tersebut memutuskan untuk menembak dari posisinya sekarang dengan persiapan seadanya. Posisi dan timing yang kurang menguntungkan membuat Daiki tak bisa berbuat banyak untuk mempersiapkan tembakannya-dia bahkan tak sempat membuat kuda-kuda menembak yang benar—namun mau tak mau Daiki harus menembak sekarang.
Jika tidak, kapten tim lawan akan menggagalkannya atau bahkan merebut bola darinya. Kesempatan untuk mengoper pun Daiki tak punya, teman-teman setimnya tidak sedang berada dalam jarak yang cukup agar bisa menerima operannya. Kalau pun ia memaksa mengoper, lawan bisa saja memotong operannya sewaktu-waktu.
Setelah membulatkan keputusan, pemuda tersebut melompat lantas melakukan fade-away untuk yang kedua kalinya hari itu dengan sedikit keraguan menyelimuti hati.
Jika tidak masuk pun tidak heran, toh ia tidak punya cukup waktu untuk mempersiapkan diri. Melakukan pose triple threat saja ia tak punya waktu.
Namun bola tersebut meluncur mulus melalui jaring ring.
Terkejut sendiri karena ia sempat skeptis tembakannya tidak masuk, Daiki butuh beberapa detik untuk meyakinkan diri kalau bola yang ia lepaskan tadi memang benar-benar mencetak skor. Sebelah tangan Daiki mengepal membentuk tinju yang kemudian ditarik kuat-kuat. Teriakan gembira keluar dari bibirnya.
Pemuda berkulit hitam tersebut sama sekali tidak menyadari teman-temannya yang memandangi ring tidak percaya. Ia masih berseru kegirangan sambil berlari-lari kecil kembali ke ring milik timnya.
Bisik-bisik mulai terdengar. Baik dari pemain yang berada di satu lapangan yang sama dengan Daiki mau pun dari penonton yang sejak awal mengawasi jalannya latih tanding sore itu.
"Dia hebat bisa menembak dari posisi seperti itu…"
"Sejak awal masuk klub dia memang sudah hebat, bukan? Tapi dia memang jadi lebih hebat, terutama sejak jam latihan kita ditambah pelatih…"
"Dia bahkan tidak membutuhkan bantuan teman-teman setimnya kali ini…"
"Perkembangannya mengerikan…"
"Itu artinya dia berbakat…"
"Orang berbakat tidak semengerikan ini perkembangannya. Menurutku dia lebih seperti…"
"… Monster…"
Daiki memejamkan mata erat ketika kalimat terakhir memasuki pendengarannya. Ia berusaha untuk tidak mendengar komentar-komentar orang mengenainya akhir-akhir ini. Tapi tentu saja, sesuatu lebih mudah dikatakan dari pada dilakukan.
Untungnya tepat ketika itu Harasawa Katsunori melangkah memasuki gym, cukup untuk mendiamkan komentar-komentar menyebalkan tadi.
Monster? Apa aku benar-benar terlihat seperti itu? Tapi aku hanya…
Daiki memain-mainkan sendoknya. Menyendok sup tomat di mangkuknya, menuangkannya kembali. Menyendok, menuangkan kembali.
Tubuhnya tengah berada di meja makan, bersama anggota keluarganya yang lain, tapi pikirannya masih tersangkut pada kejadian sore tadi. Kejadian di mana telinganya menangkap kata "monster" terselip di antara komentar-komentar orang yang menonton latih tandingnya.
Daiki benar-benar tidak habis pikir. Dengan niat mengalahkan SMA Kaijou, Daiki berlatih keras. Bukankah perkembangannya itu menandakan berhasilnya usahanya selama seminggu terakhir? Bukankah itu bagus? Toh Daiki juga melakukannya demi tim. Kenapa teman-teman setimnya justru menyebutnya seperti itu…
Daiki mengembuskan napas melalui mulut.
Kelakuannya, yang aneh sejak sebelum makan malam, berhasil menarik perhatian sang kakak berambut kuning. Ryouta menoleh, memerhatikan sang adik yang sibuk memain-mainkan sup tomatnya dengan alis berkerut dalam.
"Daikicchi, alismu mengerut-ssu," bisik Ryouta sembari mencondongkan tubuhnya ke arah sang adik. Ketika hanya gumaman tidak jelas yang keluar dari mulut Daiki, Ryouta menghentikan kegiatan makannya, "kau kenapa-ssu? Tiba-tiba tidak suka sup tomat-ssu?"
Daiki mendelik ke arah Ryouta. Kenapa kakaknya satu itu tidak bisa diam? Tidak bisa lihat kalau sekarang Daiki sedang tidak dalam mood untuk mengobrol?
"Aku tidak apa-apa, makan saja supmu," balas Daiki dengan pedas. Hanya agar kakaknya itu yakin ia baik-baik saja, Daiki mulai memakan sup tomatnya.
Sempat terlintas di benak Daiki berapa lama ia memain-mainkan sup tomatnya? Karena begitu sup tersebut menyentuh bibirnya, pemuda berambut biru tua tersebut baru sadar kalau supnya sudah tak lagi menyisakan sedikit pun kehangatan.
Ryouta mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Mata kuning keemasannya melirik Daiki dengan pandangan skeptis. Tenggorokannya mengeluarkan "hm" panjang sebelum akhirnya menyerah dan kembali menekuni makan malamnya.
Menyerah di sini maksudnya adalah menyerah dari menanyai sang adik apa ia baik-baik saja, bukan menyerah untuk membuka topik percakapan karena sepersekian detik setelahnya pemuda berambut pirang tersebut sudah membuka mulutnya lagi.
"Hei, hei, Daikicchi! Sudah dengar kalau akhir bulan ini kita akan latih tanding-ssu?" tanya Ryouta. Begitu bersemangatnya pemuda itu hingga ia –secara harfiah—berguncang di kursinya. Prospek dirinya dan Daiki bertemu lagi di satu lapangan yang sama sebagai lawan untuk unjuk kemampuan membuat pemuda tersebut bersemangat bukan main.
Daiki menghentikan gerakan tangannya yang hendak mempertemukan bibirnya dan bibir mangkuk supnya. Pemuda berkulit hitam tersebut memandang kakaknya seolah kakaknya itu baru saja muntah pelangi. "Aku sama sekali tidak dengar soal itu."
Ryouta berhenti berguncang di atas kursinya. Mata kuning keemasan milik pemuda tersebut menatap Daiki seakan ia tengah berkata "kau serius?".
"Ada berita bagus?" tanya Seijuurou, menginterupsi dari ujung meja.
Ryouta dan Daiki yang sebelumnya asyik berdebat baru sadar kembali kalau bukan hanya mereka berdua yang ada di meja makan. Kedua remaja tersebut mengalihkan pandangan dan mendapati tidak hanya Seijuurou, tapi juga Tetsuya dan Atsushi, tengah memerhatikan mereka.
"Ah, tidak, kami hanya membicarakan soal sekolah kami akan mengadakan latih tanding akhir bulan ini, Kak Seijuuroucchi," jawab Ryouta akhirnya. Senyum lebar terpampang di wajah sembari sebelah tangannya terangkat, mengusap tengkuknya.
Sebuah "ah" pelan keluar dari bibir Seijuurou. Pria berambut merah tersebut mengangkat mangkuk sup tomatnya hingga sejajar dada, "Latihan sebelum Inter-High?"
Daiki diam saja, membiarkan Ryouta mengambil alih percakapan untuknya.
Ryouta mengangguk cepat.
Tetsuya, dari tempat duduknya di samping Seijuurou, menggumam paham. Atsushi yang sudah tidak tertarik dengan topik pembicaraan tersebut kembali menyuapkan nasi ke mulut.
"Semoga beruntung," ucap Seijuurou dengan sebuah senyum. Si sulung mengangkat mangkuk sup tomatnya, menyesap isi mangkuk tersebut.
Ryouta mengerang, "Kakak tidak mendukungku-ssu?"
"Kakak tidak mau memihak, Ryouta," balas Seijuurou tenang. Mangkuk sup menutupi sebagian wajah pria tersebut, tapi semua yang ada di meja makan tahu kalau pria tersebut menyisipkan senyum dalam jawabannya.
Ryouta merengut sesaat lantas tertawa. Pemuda berambut pirang tersebut menggumamkan sesuatu yang terdengar seperti "tipikal Kak Seijuuroucchi" tapi Daiki tidak begitu yakin karena ia tak benar-benar memerhatikan.
Daiki mendengus.
"Tidak mau memihak" katanya…
Pemuda berkulit hitam tersebut sibuk menggali-gali ingatannya. Kalau memang kata-kata Ryouta benar, seharusnya pelatihnya memberitahunya soal itu hari ini. Tapi ia sama sekali tidak ingat apa pun mengenai pelatihnya menyebut-nyebut soal latih tanding dengan SMA Kaijou akhir bulan ini.
Oh, atau mungkin Harasawa mengatakannya tapi Daiki tidak mendengarkan? Walau bagaimana pun ada momen di mana Daiki tidak mendengarkan apa pun karena komentar-komentar tersebut begitu memenuhi kepalanya.
Ah, setelah diingat-ingat lagi, memang tadi Harasawa masuk ke dalam gym dan sepertinya memberikan suatu pengumuman sebelum membubarkan mereka.
Daiki mengatupkan bibir rapat-rapat.
Bodohnya ia, membiarkan komentar-komentar tidak penting seperti itu mengambil alih pikirannya hingga tak mendengar pengumuman sepenting itu.
"Ah, ya, Tetsuyacchi, bagaimana tes penempatannya-ssu?" tanya Ryouta mencoba menggali topik yang lain untuk diperbincangkan. Mata biru gelap Daiki beralih pada si bungsu yang terlihat seakan sedang mengerut di kursinya sekarang.
"Tetsuya masuk tim lapis ketiga…" jawabnya lirih. Anak itu berusaha sebisa mungkin terlihat tak acuh seperti biasanya tapi Daiki bisa lihat kalau adiknya satu-satunya itu tengah kecewa dan tatapannya menyiratkan kalau ada perasaan bersalah terselip dalam hatinya. Merasa bersalah karena apa Daiki tidak mengerti.
Sepertinya untuk menghindari keharusan menjawab, Tetsuya kembali menyuapkan nasi ke mulutnya. Tapi tentu saja, Ryouta tidak menyadarinya dan terus bicara.
"Tidak perlu sedih begitu, Tetsuyacchi! Bulan depan, kan, masih bisa naik ke lapis kedua-ssu," hibur Ryouta. Daiki heran bagaimana kakaknya itu bisa paham kalau Tetsuya sedih tapi tak paham kalau anak berambut biru langit itu tidak ingin diajak bicara mengenai itu lebih jauh.
Daiki memutuskan tidak lagi ambil pusing. Pemuda berkulit hitam tersebut menyuap nasi ke dalam mulut, melanjutkan makan sembari tak mengacuhkan suara serta percakapan di sekelilingnya. Tak mengacuhkan semua, termasuk pandangan skeptis yang sesekali Ryouta lontarkan ke arahnya.
"Jadi, ada apa-ssu?" tanya Ryouta. Ia berdiri bersandar pada mulut pintu dengan tangan bersilang di depan dada. Pintu kamar Daiki lebih tepatnya. Keriangan yang biasanya terpancar di mata kuning keemasannya kini lenyap tak berbekas.
Daiki, yang tengah merebahkan diri di atas kasur mengangkat kepalanya untuk melihat sosok sang kakak. Wajah serius Ryouta –yang sangat, sangat jarang pemuda itu tampakkan—sama sekali tak memberikan efek pada Daiki. Pemuda berkulit gelap tersebut memilih untuk menjatuhkan kepalanya kembali ke kasurnya yang empuk dan diam seribu bahasa.
Ryouta mengizinkan dirinya sendiri untuk masuk. Untuk apa ia minta izin? Toh selama ini mereka tak pernah melakukan formalitas semacam itu.
Pemuda berambut pirang tersebut menepuk kaki Daiki yang bergelantung di sisi ranjang, menyuruhnya untuk bergeser agar ia bisa duduk. Daiki menurut, dengan malas ia menggeser kaki panjangnya.
"Kalau kau berpikir bisa membohongiku, lupakan saja-ssu," tegas Ryouta tanpa menghadap Daiki sama sekali. Tapi pemuda berambut pirang itu yakin kalau maksud ucapannya sudah sangat jelas meski tanpa bantuan tatapan mata.
Hening. Ryouta sempat ragu adiknya masih terjaga, tapi keraguan itu menghilang ketika telinganya mendengar sang adik mengucapkan "ah" pelan, seakan ia ingin mengatakan sesuatu pada Ryouta tapi masih tidak yakin bagaimana menyampaikannya.
"Tidak ada… aku hanya mendengar beberapa komentar kurang mengenakkan saat latihan tadi. Itu saja."
Ryouta menautkan jemarinya. Pandangannya yang sebelumnya terpaku pada karpet di bawah kakinya kini teralih pada kaki Daiki yang bergantung di sisi ranjang tepat di sampingnya.
Jika "komentar tidak menyenangkan" itu bisa sampai mengambil alih pikiran Daiki seperti ini, maka isinya bukan sesuatu yang biasa.
"Komentar seperti apa-ssu?"
Daiki diam. Mungkin menimang-nimang pilihan antara memberitahu atau tidak memberi tahu. Tapi Ryouta berani taruhan kalau pilihan "tidak memberi tahu" akan menang pada akhirnya.
Mungkinkah kemungkinan terburuk yang Ryouta pikirkan dulu menjadi kenyataan sekarang?
Kemungkinan terburuk yang coba Ryouta cegah sejak Daiki masuk SMP.
Kemungkinan di mana kemampuan Daiki yang sebenarnya bangkit, membuatnya dipandang sebagai sesuatu yang mengerikan oleh anak-anak di sekitarnya.
Ryouta menyadari, selalu menyadari, kalau adiknya satu ini memiliki kemampuan luar biasa dalam basket. Sebutlah itu bakat atau apa Ryouta tidak peduli. Kemampuan Daiki tidak benar-benar terlihat dan Ryouta berharap tidak akan terlihat hingga ada lawan yang bisa menyaingi kemampuannya.
Karena itu, Ryouta berusaha untuk menekan kemampuan Daiki sejak adiknya tersebut masuk SMP. Ia melakukannya dengan berbagai cara, mulai dari meyakinkan adiknya untuk berusaha "semampunya" saja ketika tes penempatan, mengatakan pada adiknya ia punya teman setim yang bisa ia andalkan jadi ia cukup santai saja, mengajaknya pulang bersama sehingga ia tak pernah tinggal di sekolah lebih lama untuk latihan hingga berusaha meyakinkan pelatih mereka kalau SMP Teikou sudah terlalu kuat dan tidak benar-benar memerlukan jam latihan tambahan.
Ryouta melakukannya karena Ryouta tahu bagaimana rasanya diperlakukan seperti itu. Menyakitkan sekali rasanya ketika kau berjuang sungguh-sungguh, demi dirimu sendiri juga demi orang lain, tapi ketika kau mulai menuai hasil kerja kerasmu, orang lain justru tidak menghargai usahamu dan memandangmu seakan kau alien menakutkan penakluk bumi yang patut dibenci.
Sebelum Daiki masuk SMP, Ryouta sempat merasakannya. Ia ditakuti dan dipandang tidak mengenakkan hanya karena ia bisa masuk tim lapis pertama dengan mudah.
Ryouta hanya tidak ingin Daiki merasakan hal yang sama dengannya.
Tapi tentu saja, Ryouta tak selalu bisa membuat segalanya berjalan sesuai yang ia inginkan.
Ryouta memutuskan untuk meneruskan pendidikannya di SMA Kaijou sedangkan Daiki memutuskan untuk ke SMA Touou. Ryouta sama sekali tak bisa meyakinkan Daiki untuk mengubah keputusannya. Adiknya satu itu malah tertawa sambil berkata "bukankah menyenangkan kalau kita bisa bertanding di laga resmi sebagai lawan?"
Ryouta akui memang menyenangkan. Mengingatkan mereka akan masa-masa ketika segalanya masih terasa normal, masa-masa di mana mereka masih polos dan masih memiliki keluarga utuh. Tapi kesenangan itu terkadang membuatnya lupa kalau ia seharusnya membiarkan Daiki menang dalam pertandingan, membuatnya lupa kalau ia seharusnya membiarkan Daiki berpikir ia sudah cukup kuat jadi tak perlu lagi menjajal kemampuan.
Saat Inter-High tahun lalu, Ryouta masih dapat mengendalikan dirinya, tak benar-benar mengeluarkan kemampuannya seluruhnya sehingga tim Daiki bisa menang. Tapi tangisan kapten –mantan kapten, Ryouta membenarkan dalam hati—timnya, Kasamatsu Yukio, membuatnya tak tega.
Inter-High dan Winter Cup kemarin adalah pertandingan resmi terakhir bagi Kasamatsu dan beberapa teman setim Ryouta yang lain. Cukup wajar kalau mereka ingin memenangkan kedua –atau paling tidak salah satu—turnamen ini. Namun Daiki muncul sebagai wajah berbakat baru di Inter-High tahun lalu dan ia berhasil membawa timnya menduduki tahta kemenangan.
Mendapati salah satu seniornya, Kasamatsu Yukio, menangisi kekalahan mereka diam-diam di ruang ganti setelah yang lainnya keluar membuat Ryouta merasa iba. Jadilah, untuk pertama kalinya, Ryouta mengesampingkan sang adik demi menyenangkan senior-seniornya yang sebentar lagi akan menapaki jalan baru dalam hidup.
Siapa yang sangka, kalau satu keputusan Ryouta bisa berbuntut panjang hingga berdampak seperti ini?
Ryouta sempat mendengar kalau SMA Touou memperpanjang jam latihan guna mempersiapkan diri untuk Inter-High mendatang dan Ryouta sangat yakin Daiki berjuang keras dalam latihan tambahan tersebut guna menjajal kemampuan agar dapat mengalahkannya.
Bagaimana Ryouta tahu? Karena hari itu Ryouta melihatnya. Melihat bara api dalam mata biru tua sang adik. Melihat tekad yang menyala terang dalam diri adiknya. Melihat janji pada diri sendiri untuk mengalahkan Ryouta di turnamen berikutnya ketika si pemuda berambut pirang serta teman-temannya mengangkat tropi kemenangan dan berbahagia.
Dan Ryouta yakin seratus persen kalau yang ia lihat hari itu bukan trik cahaya lampu stadion.
"Aku sudah bilang aku tidak apa-apa, kan? Jadi cepat keluar dari kamarku," seruan ketus Daiki membuyarkan lamunan Ryouta. Dorongan kaki Daiki di punggungnya memaksa si pemuda berambut pirang itu untuk bangkit dari tempat tidur jika tidak ingin ditendang hingga jatuh.
Ryouta memberikan tatapan mematikan terbaik yang ia punya pada adiknya. Tapi Daiki, bertingkah seperti Daiki, sama sekali tak mengacuhkannya dan justru berguling hingga ia memunggungi sang kakak. Ryouta berdiri diam, memandangi sang adik selagi berharap ia akan lebih terbuka padanya.
Kenapa adiknya ini sulit sekali membuka diri dan mengatakan masalahnya pada orang lain? Apa ia pikir dengan bertingkah seperti ini, menyimpan semuanya sendiri, membuatnya terlihat lebih dewasa? Astaga…
Ketika Ryouta sadar adiknya tak akan angkat bicara, ia menyerah. Helaan napas panjang keluar disusul dengan sosok Ryouta yang meninggalkan kamar sang adik. Suara halus pintu menutup terdengar tak lama kemudian.
Biarlah Daiki sendiri dulu. Mungkin akan datang saatnya ketika Daiki tak tahan lagi dan mulai bergantung pada orang lain. Kapan saat itu datang, Ryouta tak tahu.
Akashi Tetsuya menumpukan tangannya di lutut dan berusaha mengatur napasnya yang memburu. Keringat mengalir deras di pelipisnya. Anak-anak kelas satu lainnya yang berdiri di sekitar Tetsuya berada dalam keadaan yang sama, berkeringat dan dengan rakus mengisi paru-paru dengan udara.
Mereka baru berlatih ball-handling tapi Tetsuya merasa seakan ia baru saja disuruh berlari mengelilingi sekolah lima puluh putaran…
"Istirahat semenitnya sudah selesai! Sekarang kita akan lakukan Three Man Weave!" Pelatih tim lapis ketiga, Matsuoka Daigo, meneriakkan perintah yang langsung disambut jawaban lantang anak-anak asuhnya.
Sudah harus berlatih lagi? Tetsuya membelalakkan mata. Padahal anak berambut biru muda tersebut masih belum bisa mengatur napasnya dan paru-parunya masih terasa seperti terbakar. Melihat anak-anak lain sudah mulai berlari mengambil posisi untuk porsi latihan berikutnya membuat Tetsuya memaksakan dirinya berlari kecil mengikuti anak-anak lainnya.
"Lari!" seru Matsuoka galak dari pinggir lapangan ketika matanya menangkap satu-dua sosok anak yang tidak melakukan sesuai perintahnya. "Pass!"
Setelah menyelesaikan gilirannya, dengan napas tersengal Tetsuya berlari ke belakang, mengantre gilirannya lagi. Sekilas anak bermabut biru langit tersebut terlihat seperti ikan yang dibawa ke daratan, berusaha menghirup udara segar dengan rakus.
Tiba-tiba cairan panas –yang Tetsuya duga kuat sebagai menu makan siangnya tadi—merambat naik ke tenggorokan. Tetsuya kontan mengatupkan mulut rapat-rapat, mencoba menahan cairan tersebut agar tak meninggalkan tubuhnya. Desakan cairan tersebut semakin kuat. Tetsuya mengangkat sebelah tangannya, berharap tangan tersebut dapat membantu menutup mulut.
Sayang, cairan itu lebih gigih dari yang Tetsuya duga. Dalam sekejapTetsuya sudah berlutut di pinggir lapangan, mengeluarkan makan siangnya hari ini.
"Hei, jangan muntah di sini…" Tetsuya mendengar seorang anak yang sama-sama berada di tim lapis ketiga dengannya berkata.
"Um… kau!" Tetsuya tersengal setelah mengeluarkan isi perutnya, "Pergilah ke kamar mandi dan istirahat." Suara yang Tetsuya kenali milik kapten tim lapis ketiga menasehatinya.
Manajer tim mereka dengan cepat memberikan Tetsuya sebotol air mineral lantas mengalungkan handuk kecil ke leher anak berambut biru muda tersebut. Sebuah ucapan "istirahatlah"dan "jangan memaksakan diri" dilontarkan sang manajer sebagai tambahan.
Tetsuya menurut. Masih berusaha mengatur napas, ia bangkit dan dengan kepala sedikit tertunduk mulai berjalan menuju kamar mandi. Sekuat tenaga ia menahan malu dan tak mengacuhkan tatapan jijik dari anak-anak tim lapis ketiga lainnya. Beberapa dari anak-anak tersebut bahkan dengan sengaja menyuruhnya untuk tidak lupa membersihkan "hasil usahanya" nanti dengan suara keras.
Sebelah tangan Tetsuya mengangkat salah satu ujung handuk, mengusap wajah. Diam-diam berusaha menyamarkan tindakannya menutupi wajahnya yang memerah malu.
Decitan sepatu, teriakan perintah dari pelatih, sesekali suara anak-anak mengeluh, dan suara bola basket memantul di lantai mengisi ruang pendengaran Tetsuya. Anak berambut biru muda tersebut menoleh ke setengah sisi lain lapangan yang dipakai berlatih anak tim lapis kedua.
Terlihat Kagami tengah melakukan 1-on-1 drill dengan seorang anak tim lapis kedua lainnya. Anak berambut api tersebut terlihat seakan bersinar di tengah lapangan. Wajahnya yang berseri –dengan sebuah cengiran lebar—seakan meneriakkan kalau ia sangat, sangat menikmati ini. Meski pun ia harus melewati anak di depannya, ia terlihat sama sekali tidak terganggu karenanya.
Kagami memantul-mantulkan bola di tangannya beberapa kali. Anak berambut api itu sepertinya tengah memikirkan langkah terbaik untuk melewati lawan. Seringai menantang ia pasang guna menutupi fakta ia sebenarnya tengah berpikir keras.
Tanpa aba-aba, Kagami melakukan tipuan, berlagak seakan-akan ia berencana melewati lawan dari kiri namun setelah lawannya termakan umpannya ia menggunakan kaki kirinya sebagai tumpuan dan berputar melewati lawan dari kanan.
Pandangan mata biru langit Tetsuya meredup. Betapa Kagami terlihat begitu alami di tengah lapangan itu. Betapa Kagami terlihat begitu menikmati latihan ini, seakan-akan semua yang ia lakukan hanya main-main belaka. Betapa mudah Kagami melewati lawannya barusan hingga rasanya hanya masalah waktu saja hingga anak itu naik tingkat.
Lalu ada Tetsuya yang masih di sini, di tim lapis ketiga. Terjebak dengan latihan yang sudah terasa begitu berat, begitu sulit meski hanya latihan dasar.
Mencuri satu tatapan lagi ke arah tim lapis kedua yang tengah berlatih –lebih tepatnya pada Kagami—Tetsuya melanjutkan perjalanannya menuju kamar mandi. Dalam hati mengingatkan diri kalau ia harus fokus pada latihannya sendiri dan tentu saja, ia masih harus membersihkan "ulah"nya tadi.
Dengan satu hentakan pena, dokumen penting terakhir hari itu selesai Seijuurou tandatangani. Pria berambut merah tersebut meletakkan dokumen tersebut di atas tumpukan dokumen penting lainnya lantas meletakkan pena di atas meja.
Seijuurou melirik jam tangannya. Masih pukul setengah tujuh, jika ia pulang sekarang masih sempat untuk makan malam bersama yang lain.
Sembari membayangkan adik-adiknya di rumah, dengan cepat Seijuurou membereskan mejanya. Tepat ketika itu ponsel Seijuurou, yang sengaja ia letakkan di atas meja, bergetar menandakan adanya pesan masuk. Layar ponsel pintar tersebut menyala otomatis, menampilkan notifikasi berupa preview pesan yang baru saja diterima.
Seijuurou menghentikan kegiatan beres-beresnya dan mengambil ponselnya. Setelah menekan layar, pesan yang diterima Seijuurou langsung terbuka, menampilkan group chat keluarga Akashi. Group chat yang sengaja dibuat Ryouta dengan alasan ini akan memudahkan mereka berkomunikasi.
Ada empat buah pesan baru, dikirim satu per satu sejak jam empat sore tadi.
Seijuurou mengusap layar ponselnya, melihat pesan-pesan yang dikirimkan adik-adiknya.
Ryouta tidak bisa makan malam di rumah hari ini karena rekan kerjanya di agensi mengajaknya makan bersama di luar, Daiki hanya mengirim satu kata "latihan" tapi Seijuurou sudah mengerti maksudnya, Atsushi mengatakan ia terjebak dalam kelas tambahan yang diadakan mendadak oleh dosennya jadi sekarang ia tengah dipaksa membuat satu makanan penutup dan belum bisa pulang, dan terakhir ada pesan dari Shintarou yang hanya berisi tiga buah titik.
Seijuurou menghela napas kecewa. Padahal ia sangat ingin pulang dan makan malam bersama adik-adiknya lalu bersama-sama menghabiskan waktu hingga sebelum tidur, seperti dulu. Seijuurou lupa kalau adik-adiknya sekarang sudah besar dan si sulung bukan lagi pusat dunia mereka. Mereka sudah punya dunia masing-masing, dan terkadang Seijuurou bukan merupakan bagian dari dunia tersebut.
Seijuurou kembali mengusap ibu jarinya pada layar ponsel, sekali lagi memerhatikan pesan-pesan yang dikirimkan adik-adiknya. Baru ia sadar kalau masih ada Tetsuya. Anak itu belum punya ponsel sehingga belum dapat berkirim pesan.
Secercah harapan berkembang di hatinya.
Yah, menghabiskan waktu dengan Tetsuya seorang juga tidak apa.
Pria berusia dua puluh tiga tahun tersebut menyandarkan punggungnya pada kursi empuk yang ia duduki. Ponsel pintarnya ia tempelkan ke dagu, berpikir sesaat. Karena hanya berdua mungkin sebaiknya mereka makan di luar saja, sekali-sekali.
Seijuurou menggumam. Tetsuya juga kelihatannya sedang murung akhir-akhir ini, mungkin sebaiknya mereka makan di restoran cepat saji kesukaan Tetsuya itu.
Ya, Tetsuya pasti akan lebih bersemangat kalau ia ajak makan di sana..
"Seijuurou."
Seijuurou otomatis menolehkan kepalanya. Pemandangan berupa sang paman yang tengah menatapnya dengan pandangan kesal dan kepala ditumpukan pada satu tangan menyambut penglihatannya. Sepasang alis Seijuurou terangkat bingung.
"Ya?"
Teppei menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. "Aku memanggilmu berkali-kali tapi kau malah sibuk memelototi layar ponselmu," Pria paruh baya yang duduk di mejanya, tak jauh dari meja Seijuurou, memanjangkan leher ke arahnya, "dari pacar ya?"
Tak pernah sebelumnya Seijuurou merasa terganggu karena senyum pamannya. Tapi seperti kata pepatah, selalu ada yang pertama, bukan?
"Bukan, Paman. Paman harusnya tahu aku tidak punya pacar," jawab Seijuurou, mencoba menepis pertanyaan konyol pamannya dengan sebuah senyum tipis.
"Paman, kan,hanya bercanda, Seijuurou," Teppei menggerutu dengan bibir mengerucut.
Seijuurou membulatkan keputusan. Ia akan pulang dulu untuk menunggu Tetsuya pulang dari latihan lalu mereka akan sama-sama pergi ke restoran cepat saji tersebut. Yah, semoga saja harapannya tidak benar-benar pupus.
Seijuurou memasukkan ponselnya ke saku celana.
"Seijuurou."
"Ya, Paman?" sahut Seijuurou sembari kembali membereskan barang-barangnya.
"Kau tidak mendengarkanku lagi," pria paruh baya tersebut menggerutu. Ia mendengus ketika melihat Seijuurou melontarkan senyum, meminta maaf. "kau harus mempertimbangkan saranku, Seijuurou."
Saran? Seijuurou mengingat-ingat sesaat. Ada begitu banyak saran yang ia terima dari sang paman. Alis pria berambut merah tersebut mengerut, berusaha keras menggali-gali ingatannya mengenai saran yang dimaksud sang paman.
Ah, Seijuurou ingat sekarang. "aku belum benar-benar butuh sekretaris, Paman."
Seijuurou tersenyum simpul ke arah sang paman, berharap pamannya akan menyerah dan tidak mengusulkan hal itu lagi untuk beberapa tahun ke depan. Tapi yang ia dapat justru pemandangan pamannya yang balas menatapnya dengan pandangan skeptis.
"Kau hampir melewatkan rapat penting minggu lalu," Teppei mengangkat sebelah tangan yang jari telunjuknya sudah teracung tinggi, "kau hampir menumpuk dua pertemuan dalam satu hari –satu jam yang sama—jika tidak kuingatkan tiga hari lalu," sekarang telunjuk Teppei ikut terangkat menemani telunjuk, "dan aku berani taruhan kau lupa menyelipkan makan siang dalam jadwal kerjamu yang padat karena kulihat kau tidak makan apa-apa siang tadi."
Bibir Seijuurou yang tadi membentuk senyum tipis perlahan membentuk senyum kaku setiap mendengar kata-kata sang paman, merasa tertohok. Sayangnya Seijuurou tidak bisa menangkis argumentasi sang paman karena semuanya fakta.
"Baiklah, mungkin aku memang perlu. Tapi aku punya Paman," balas Seijuurou. Kegiatannya membereskan meja terlupakan sudah untuk membahas ini.
Teppei balas menatap Seijuurou. Tatapannya yang biasanya terlihat ramah dan jenaka kali ini terlihat serius. Seijuurou bisa merasakan aura keseriusan pamannya. Pamannya benar-benar tidak ingin bercanda kali ini.
"Tapi kau tahu sendiri Paman tidak selalu bisa mendampingimu sekarang. Kau tahu kondisi Paman," ujar Teppei. Kedua tangannya disilangkan di atas meja. Seijuurou mengerti maksud sang paman. Kecelekaan lalu lintas kira-kira tujuh tahun lalu merusak lututnya. Memang pamannya satu itu sudah menjalani serangkaian terapi penyembuhan tapi beberapa tahun belakangan kondisi lututnya kembali memburuk. Dokter bahkan menyarankan pamannya berhenti bekerja dan lebih banyak beristirahat. Mungkin usia menjadi salah satu faktornya.
Seijuurou menghela napas.
Sejujurnya, Seijuurou bukannya tidak ingin membiarkan pamannya pensiun lebih cepat dan istirahat dengan tenang. Tapi ia masih belum bisa menemukan orang yang benar-benar tepat untuk posisi tersebut. Satu-satunya orang yang mendekati standar Seijuurou hanya Nijimura tapi si sulung Akashi masih merasa ada yang kurang dari rekan kerjanya satu itu.
"Baiklah. Akan kupertimbangkan."
Sepasang alis merah Seijuurou terangkat tinggi. Heran sekaligus terkejut.
Ketika ia sampai di rumah, ia melihat sepasang sepatu milik Tetsuya tersusun rapi dalam rak sepatu yang ada di genkan. Seijuurou melirik jam tangannya. Tepat jam tujuh malam. Pria berambut merah tersebut melirik isi genkan sekali lagi lalu jam tangannya. Memastikan.
Seandainya alis Seijuurou bisa terangkat lebih tinggi lagi maka alis pria tersebut mungkin sudah menyentuh batas rambutnya.
Sekarang baru jam tujuh. Kenapa Tetsuya sudah ada di rumah? Bukankah seharusnya Tetsuya baru dalam perjalanan pulang setelah latihan? Saat Seijuurou SMP dulu, ia takkan bisa menginjakkan kaki keluar gym jika belum jam tujuh tepat. Bahkan jika pelatihnya tengah ingin berlaku kejam, Seijuurou dan teman-temannya bisa baru keluar dari gym jam sembilan malam. Itu baru keluar dari gym dan belum termasuk waktu yang terpakai untuk sampai ke rumah.
Seijuurou mengatupkan bibir.
Tapi sudah sembilan tahun sejak Seijuurou menginjak jenjang sekolah menengah pertama. Mungkin saja peraturannya sudah diganti. Walau bagaimana pun sembilan tahun bukan masa yang sebentar, jika ada perubahan dalam jangka waktu itu wajar saja.
Ya, pasti begitu. Tetsuya pasti sudah di rumah jam segini karena aturan klub basket yang sudah berubah, bukan karena terjadi sesuatu di klub.
Ah, tapi bagaimana kalau adik kecilnya itu sakit dan harus dipulangkan lebih dulu karenanya?
Kemungkinan tersebut memasuki pikiran Seijuurou, membuat pria tersebut membeku di tempat. Ia mengucapkan salam lantas bergegas menuju kamar si bungsu.
Setelah mengetuk pintu kayu di hadapannya dan memanggil nama sang adik, pintu kayu tersebut terbuka. Terlihatlah sosok Tetsuya dalam balutan kaus dan celana panjang berdiri di sisi lain pintu kayu tersebut.
"Ah, Kakak sudah pulang… Ada apa?" tanya Tetsuya dengan wajah datar khasnya. Tapi Seijuurou tahu kalau anak berambut biru langit tersebut heran melihat kehadirannya di depan pintu kamar.
Anak berambut biru langit tersebut terlihat sedikit lebih pucat dari biasanya tapi wajah dan gerak-geriknya sama sekali tidak menunjukkan kalau ia sedang tidak sehat.
Lega membanjiri relung hati Seijuurou. Syukurlah pemikiran kalau adiknya sakit tadi tidak terbukti.
"Yang lainnya tidak akan pulang untuk makan malam," jelas Seijuurou. Tetsuya di sisi lain hanya mengangguk paham. Tapi Seijuurou masih bisa melihat kalau Tetsuya masih mempertanyakan keberadaannya. "Mau makan malam berdua dengan Kakak di Maji Burger?"
Tetsuya mengangguk kalem, "Boleh. Aku ganti baju dulu. Kakak masuk saja."
Sosok Tetsuya bergerak menjauh dari daun pintu. Seijuurou mempersilakan dirinya sendiri masuk dan duduk di tepian ranjang adiknya. Mata merah kembarnya tak lepas dari sosok Tetsuya yang kini tengah melepaskan kausnya.
Seijuurou tak bisa tak menyadari kalau adiknya tengah murung.
"Bagaimana sekolahnya hari ini? Ada yang menarik?" tanya Seijuurou, mencoba membuka obrolan di antara mereka. Pertanyaan Seijuurou menghentikan gerakan tangan Tetsuya yang tengah membuka bungkus burger.
Anak berambut biru langit tersebut terdiam sejenak sebelum kembali menggerakkan tangannya. Seijuurou berani taruhan kalau Tetsuya sekarang sedang memilah-milah kata untuk diucapkan.
Mata biru langit besar Tetsuya menatap Seijuurou dan si sulung langsung mengangkat alisnya, dalam diam membujuk sang adik untuk mengeluarkan apa pun itu yang ingin ia katakan. Sebelah tangan pria tersebut mengangkat gelas sodanya dan menyeruput isinya.
"Tadi ada ulangan mendadak," Seijuurou menggumam, mengisyaratkan pada adiknya kalau ia mendengarkan. "Ulangannya sulit, tapi Tetsuya rasa nilai Tetsuya nanti akan melewati nilai rata-rata kelas."
Seijuurou menggumamkan "begitukah?" pelan sebelum mengambil satu gigitan burgernya. Aksinya diikuti Tetsuya. Kakak-beradik tersebut diam beberapa saat, sibuk menghaluskan makanan dalam mulut. Diam-diam si pria berambut merah berprasangka; apa jangan-jangan adiknya ditindas di sekolah?
Penindasan di lingkungan sekolah Jepang sudah bukan menjadi hal baru. Bahkan hal ini hampir bisa dibilang merupakan tradisi. Setiap tahun, setiap angkatan terdapat paling tidak satu anak yang dikucilkan dan diperlakukan semena-mena oleh anak lain untuk alasan yang terkadang sangat remeh. Efek yang ditimbulkan kegiatan ini beragam, yang paling parah adalah tindakan bunuh diri yang ditindas agar dapat cepat terlepas dari penindasan.
Seijuurou sama sekali tidak ingin hal seperti itu terjadi pada Tetsuya, tentu saja. Maka dari itu, seandainya Tetsuya benar-benar ditindas, Seijuurou ingin Tetsuya tanpa merasa malu membicarakannya dengannya.
Sayangnya anak seumuran Tetsuya kebanyakan berpikir kalau penindasan merupakan aib yang tidak seharusnya dibeberkan pada keluarga. Mereka berpikir keluarga akan malu seandainya punya anak yang ditindas di sekolah sehingga kebanyakan dari mereka diam saja.
Seandainya itu yang sedang dipikirkan Tetsuya sekarang maka…
Seijuurou buru-buru menepis pemikiran-pemikiran negatif dari dalam kepalanya. Pria berambut merah tersebut menelan burgernya. "Bagaimana dengan teman-teman Tetsuya?"
Tetsuya menelan burgernya dan menyesap vanilla milkshake. Begitu ujung sedotan berpisah dengan bibirnya, ia menjawab, "Tetsuya berteman dengan baik di sekolah dan ada Kagami-kun."
Hening sesaat.
"Tetsuya tahu kalau Tetsuya tidak perlu menyembunyikan apa pun dari Kakak, kan? Kakak akan selalu ada untuk Tetsuya."
Sesaat kemudian Tetsuya memandang Seijuurou dengan tatapan seakan ia mengerti apa yang sedang ada di kepala Seijuurou. Bibirnya melengkung membentuk sebuah senyum tipis, senyum yang seakan mencoba meyakinkan Seijuurou semua baik-baik saja.
"Kalau Kakak khawatir aku diperlakukan buruk di sekolah, Kakak tidak perlu khawatir. Mereka semua baik, hanya sedikit kesulitan menyadari keberadaanku."
Seijuurou tersenyum lembut. Sebelah tangannya terangkat mengusap puncak kepala Tetsuya. Sepertinya tidak hanya Seijuurou yang bisa membaca isi pikiran adik-adiknya, adik-adiknya mungkin juga bisa. Atau mungkin Tetsuya bisa.
Setelah itu mereka melanjutkan makan malam dengan tenang. Pembicaraan dengan topik menyinggung sekolah Tetsuya ditinggalkan sepenuhnya. Kakak-beradik Akashi tersebut lebih memilih mengganti obrolan mereka menjadi sesuatu yang lebih ringan.
Tapi segelintir pertanyaan masih berputar di kepala Seijuurou. Kalau memang tidak ada masalah di sekolah, lantas apa yang mengganggu Tetsuya?
Tetsuya mengusap peluh yang bertengger tepat di atas alisnya dengan sebelah tangan. Tangannya yang lain memantul-mantulkan bola. Setelah beberapa kali memantulkan bola di tangannya ke tanah, anak berambut biru langit tersebut berlari ke arah ring dan menembakkan bola tersebut.
Bola tersebut mengenai papan belakang ring dan memantul kembali ke arah Tetsuya.
Kontan Tetsuya menunduk. Alis biru langit anak berusia dua belas tahun tersebut mengerut dalam dan rahangnya mengeras. Kedua tangan anak tersebut mengepal membentuk beberapa menit Tetsuya hanya berdiri diam di depan tiang ring dengan suara bola memantul-mantul di lapangan semen tersebut yang menjadi latar belakang.
Tidak ada waktu, tidak ada waktu, tidak ada waktu.
Ujian kenaikan tingkat akan dilaksanakan minggu depan dan kemampuan Tetsuya sama sekali tidak bertambah. Tetsuya hanya punya tiga kesempatan untuk bisa naik ke tim lapis pertama dan menjadi pemain reguler sebelum Inter-High tahun ini. Memang ia masih punya satu kesempatan lagi untuk naik ke tingkat dua jika di ujian minggu depan ia gagal, tapi…
Tapi untuk bisa menjadi pemain reguler sangat sulit dan Tetsuya yakin akan makan banyak waktu. Jika Tetsuya tidak lulus tes ini apa ia masih bisa menepati janjinya dengan Ogiwara untuk bertemu di Inter-High nanti?
Terbayang kembali di benak Tetsuya isi surat yang diterimanya dari Ogiwara kemarin. Basa-basi mengenai kabar adik-adik Ogiwara, pertanyaan mengenai kabar keluarga Akashi, lalu yang terpenting, yang paling menarik perhatian Tetsuya, pemberitahuan kalau Ogiwara telah berhasil menjadi pemain cadangan. Hanya tinggal masalah waktu hingga ia menjadi pemain inti.
Kedua tangan Tetsuya terangkat menekan kedua matanya. Erangan frustrasi menelusup lirih dari celah bibirnya.
Tenanglah, tenanglah, tenanglah… Tidak boleh emosi berlebihan, ingat? Lagipula masih ada waktu beberapa hari. Masih ada waktu…
Tetsuya mengingatkan diri sendiri dalam hati. Setelah dirasanya emosinya sudah cukup stabil, Tetsuya menurunkan kedua tangannya dan kembali mengangkat kepala. Anak itu berbalik, berjalan pelan membelah lapangan menuju bola yang tadi sempat ia telantarkan.
Tapi sepasang tangan berkulit hitam mendahuluinya mengambil bola. Tetsuya menghentikan langkah. Mata biru langit Tetsuya melebar sedikit, terkejut. Mata si bungsu menelusuri lengan hitam tersebut, terus ke atas hingga akhirnya matanya bertemu dengan mata biru tua si pemilik tangan.
"Kak Daiki," lirih Tetsuya berkata. Kakinya kembali melangkah mendekati Daiki. Kedua tangan putih pucat Tetsuya terulur ke depan, dalam diam meminta bola yang ada di tangan sang kakak. "Kenapa masih ada di sini? Bukankah Kakak harus siap-siap sebelum latih tanding dengan Kak Ryouta?"
Daiki menjauhkan bola basket di tangannya dari Tetsuya. Dalam sekejap anak berkulit hitam tersebut sudah berlari menuju ring dan melompat menembakkan bola tersebut. Seperti tembakan-tembakan Daiki lainnya, tembakan ini pun menembus ring dengan mulus.
Setelah kakinya kembali menginjak semen lapangan, pemuda berkulit hitam tersebut membalikkan badan, kembali menghadap sang adik yang terdiam memerhatikannya dari tempatnya berdiri tadi.
"Aku masih punya waktu dua jam sebelum latih tanding dengan Ryouta," Daiki menangkap bola basket yang memantul-mantul di dekatnya. Ia mengangkat bola oranye tersebut sejajar dada lantas dengan kuat melontarkan bola tersebut pada Tetsuya. "Mau main denganku, Tetsu?"
Sekali ini Tetsuya berhasil menangkap pass dengan sempurna.
Melihat adiknya yang tatapannya terikat pada bola di tangannya, Daiki meneruskan, "Aku butuh teman latihan. Kau mau menemaniku?"
Tetsuya mengangkat kepalanya dan mata sewarna langitnya yang besar menatap Daiki. Seakan mencoba melihat ke dalam pikiran Daiki untuk tahu maksud sebenarnya pemuda berkulit hitam tersebut. Daiki melangkahkan kakinya mendekati Tetsuya.
"Maksudku latihan setiap hari, bukan hari ini saja," Tetsuya masih diam saja, "kalau kau mau berlatih bersamaku mungkin aku bisa mengajarimu beberapa trik," tambah Daiki lagi sembari mengangkat sebelah bahu acuh tak acuh sebelum Tetsuya sempat menjawab tapi senyum tipis terlihat jelas di sana.
Tawaran Daiki berhasil menarik minat Tetsuya. "Kakak bisa mengajariku beberapa trik?"
"Kalau kau mau berlatih bersamaku tiap hari," jawab Daiki santai. Kedua tangannya ia jejalkan dalam saku celana training-nya.
Tetsuya mengangguk bersemangat. Anak berambut biru langit tersebut tak akan melewatkan kesempatan ini.
Ryouta mendelik sebal ke arah Daiki yang duduk di sampingnya dengan majalah bergambar wanita cantik berbusana minim terbuka di tangannya. Beberapa orang di gerbong yang mereka naiki melihat Daiki –atau lebih tepatnya majalahnya—dengan tatapan risih tapi pemuda berkulit hitam tersebut sama sekali tidak peduli.
Karena Daiki keasyikan main dengan Tetsuya di lapangan basket samping rumah, sekarang mereka akan terlambat sampai di sekolah, membuat yang lainnya menunggu, menunda latih tanding, dan tentu saja akan membuat Ryouta dan Daiki sendiri terkena ceramah panjang dari pelatih masing-masing.
Jangan salah sangka, Ryouta sama sekali tidak menyalahkan Tetsuya. Toh anak itu sama sekali tidak tahu mengenai agenda antar-sekolah mereka ini. Yang patut disalahkan di sini adalah Daiki dan hanya Daiki seorang.
Ketika kereta sampai di stasiun tempat Ryouta dan Daiki harus turun, Ryouta meraih pergelangan tangan Daiki dan langsung menariknya menuju pintu. Erangan kesal dapat Ryouta dengar dari belakangnya tapi pemuda berambut pirang tersebut memutuskan untuk mengacuhkannya.
"Tidak perlu terburu-buru begitu, kan," gerutu Daiki ketika mereka berhasil keluar dari stasiun yang luar biasa ramai hari itu. Pemuda berkulit hitam tersebut menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena sebal. Sesaat kemudian ia sibuk menjejalkan majalah yang tadi ia baca di kereta ke dalam tasnya. Samar-samar Ryouta mendengar gumaman seperti "hampir saja majalah Mai-chan-ku yang berharga jatuh…"
"Salah sendiri main basket sampai lupa waktu-ssu," balas Ryouta sama sebalnya.
Tidak ingin terlambat lebih dari ini, Ryouta memaksa adiknya untuk berlari sepanjang jalan ke sekolah Ryouta. Hitung-hitung pemanasan, katanya. Betapa leganya Ryouta ketika mata coklat keemasannya menangkap bangunan sekolahnya setelah kira-kira lima menit berlari tanpa henti.
"Maaf terlambat-ssu," kata Ryouta dengan napas tersengal-sengal. Sebelah tangan pemuda berambut pirang tersebut mencengkeram pintu gym yang baru saja ia geser terbuka. Daiki di belakangnya berada dalam keadaan yang tidak lebih baik.
Semua orang yang berada dalam gym tersebut mengalihkan pandangan dan menghentikan aktivitas demi melihat mereka berdua. Beberapa dari mereka mendelik sebal. Mencoba untuk tidak mengacuhkan perhatian mendadak yang diterimanya, Ryouta berjalan memasuki gym. Dalam hati anak berambut pirang tersebut bersyukur karena Kasamatsu Yukio sudah lulus karena jika tidak, ia pasti sudah menerima tendangan penuh sayang dari mantan kaptennya tersebut.
Ryouta menghentikan langkahnya di tepi lapangan, berniat memberi Daiki satu tepukan di bahu sebelum berpisah jalan dengannya untuk bergabung dengan timnya sendiri. Namun tepat ketika ia mengangkat tangannya sembari menoleh ke arah Daiki, matanya menangkap sesuatu yang lain.
Ada seorang perempuan –wanita, Ryouta membetulkan diri sendiri—yang berdiri dengan pelatih SMA Touou di sisi kiri dan seorang pemuda berwajah seperti rubah berambut hitam yang Ryouta kenali sebagai kapten SMA Touou di sisi kanan. Di tangannya terdapat sebuah papan jalan dan wanita tersebut mengetuk-ngetuk papan tersebut dengan penanya beberapa kali, sepertinya mencoba menegaskan poin dalam kata-katanya dengan menjadikan apa pun itu yang ada di papannya sebagai alat bantu penjelasan.
Wanita itu masih sama dengan sosok wanita yang ada dalam ingatan Ryouta. Seakan waktu beberapa tahun yang telah berlalu sama sekali tak memberi efek apa pun padanya. Jika ada hal yang berubah mungkin hanya rambutnya yang sewarna sakura kini sedikit lebih panjang.
Tapi kenapa ia ada di sini? Di Kaijou? Bersama dengan orang-orang SMA Touou? Apa… apa wanita itu bahkan benar orang yang ia pikirkan?
Ryouta mengerjap beberapa kali. Mencoba meyakinkan diri kalau ia tidak salah mengenali orang. Tapi tak peduli berapa kali ia berkedip, sosok wanita yang berdiri kira-kira sepuluh meter darinya di sisi lapangan itu masih sama.
Tanpa sadar mulut Ryouta membuka, "… Kak Momoicchi?"
Wanita yang berdiri sepuluh meter dari Ryouta di sisi lapangan tersebut menoleh.
Halo, ketemu lagi sama Dee di bulan pertama tahun baru. Lumayan cepet kan apdetnya? Hehe.
Soo, apa udah cukup jelas kalo Kuroko nyimpen sesuatu? Dan masalah Aomine, meski pun keliatannya gak ada hubungannya sama Akashi, tapi nanti ada sangkut pautnya kok. Doain aja Dee bisa cepet apdet lagi hehehe.
Waktu mau ngetik balesan review buat yang gak login, aku baru sadar kalo chap kemaren gak ada review dari guest, wow. Maaf ya, karena kemaren-kemaren Dee apdetnya curi-curi waktu, jadi gak sempet nulis balesan review buat yang gak login, bukan berarti Dee gak suka sama reviewer yang gak login. Dee suka semua review kok!
Dan buat yang login, silakan cek inbox masing-masing ya /kedipkedipgenit
Special thanks to: Kaito Akahime, Zhang Fei, Brown Earth Girl, WhiteIceCream, VT Lian, ai and august 19, ainkyu, sora98, Prince'ss218, Wako P, VolumeKubus13, UchiHarunoKid, Oto Ichiiyan, Cute Bee, Fadhisyalala, Mhion Michaelis, AngelFoxes, Sayounara Watashi, 7Shafa's DiFA, EuriHani Uchiha, Sseumersan, Gizi Seimbang, draay.
Thanks for your reviews and review please?
