Kuroko no Basuke hanya milik Fujimaki Tadatoshi seorang.
Cerita ini hanya milik saya seorang.
Warning: AU, Nice & not-so-perfect! Akashi, brotherly love! a lot of it I think, cuteness ahead(?), alur kecepetan, half-assed chapter, OOC, typo, DLDR!
pengingat mulai chapter ini:
Seijuurou = 23 tahun
Shintarou = 20 tahun
Atsushi = 19 tahun
Ryouta = 17 tahun
Daiki = 16 tahun
Tetsuya= 12 tahun
Enjoy!
Chapter 20: What He Really Wants
Otak Akashi Daiki berputar, berusaha mengingat-ingat siapa wanita yang kini menolehkan kepala setelah dipanggil Ryouta. Sekelebat warna kuning melesat melewatinya dan sekejap kemudian Daiki sudah melihat sosok Ryouta berdiri menjulang di hadapan wanita tersebut.
Mereka berdua mengobrol seru, melemparkan pertanyaan basa-basi mengenai kabar dan apa yang telah dilakukan selama tidak bertemu. Tipikal orang yang sudah bertahun-tahun tidak berjumpa. Ryouta terlihat heboh sekali membombardir wanita tersebut dengan berbagai pertanyaan hingga membuat Daiki pusing mendengarnya.
Tiga puluh detik sudah lewat sejak Ryouta memanggil wanita berambut merah jambu tadi dan selama itu pula Daiki mengais memori otaknya demi mendapatkan bayangan apa pun mengenai seorang perempuan berambut merah jambu. Tapi hasilnya nihil.
Aneh sekali.
Daiki hampir seratus persen yakin ia mengenal perempuan itu, pernah melihat paling tidak. Tapi ia sama sekali tidak ingat di mana ia pernah melihatnya. Jika perempuan itu salah seorang teman Ryouta, ia pasti tahu berhubung ia dan Ryouta selalu bersama.
Lagipula kenapa ia berdiri di antara pelatih SMA Touou dan Imayoshi? Kalau ia memang teman Ryouta seharusnya, paling tidak, ia berdiri bersama anak-anak SMA Kaijou, bukan Touou.
… Kecuali jika perempuan itu salah seorang rekan kerja Ryouta di dunia model.
Daiki tertegun. Itu cukup masuk akal. Kalau memang wanita itu berprofesi sebagai model, tidak heran Daiki mengenalnya. Bukan rahasia lagi kalau seorang Akashi Daiki merupakan fans berat model serta idola Jepang, terutama model majalah dewasa.
Mata biru gelap Daiki memerhatikan wanita tersebut dari ujung kepala hingga ujung kaki. Perlu Daiki akui kalau ia punya tubuh yang bagus dan cocok menjadi model. Model majalah dewasa apalagi.
Hm, mungkin dugaan Daiki benar. Wanita itu model. Model yang merupakan kenalan Ryouta juga Imayoshi atau Harasawa.
Tunggu, kenapa ia justru pusing sendiri memikirkan ini? Siapa wanita itu, kan, bukan urusannya.
Merasa bodoh sendiri, Daiki lantas berjalan setengah malas menuju tempat teman-teman setimnya berkumpul. Daiki tak lagi mengacuhkan kekehan riang Ryouta dan wanita berambut merah jambu tersebut. Paling tidak ia berusaha untuk beberapa menit sebelum rasa penasaran kembali muncul.
Pemuda berkulit hitam tersebut tengah membuka jaket yang menutupi jersey hitam khas tim SMA-nya ketika ia mendapati Susa Yoshinori, teman setimnya, tengah menatapi wanita berambut merah jambu tersebut.
"Siapa perempuan itu?" bisik Daiki, sedikit memanjangkan leher ke arah teman setimnya tersebut agar tidak ada yang mendengar ia bertanya.
"Momoi Satsuki, asisten pelatih," jawab Susa tanpa memalingkan pandangannya sedikit dari wanita bernama Momoi Satsuki tersebut, "cantik ya."
Daiki hanya mendengus meski dalam hati pemuda berkulit hitam tersebut mengiyakan. Diam-diam mata biru gelapnya masih memerhatikan kakaknya yang masih betah mengobrol dengan wanita tersebut. Daiki sendiri heran, apa yang mereka perbincangkan hingga memakan waktu begitu lama?
Tiba-tiba saja wanita bernama Momoi itu melebarkan matanya, terkejut, ia mengatakan sesuatu lantas Ryouta menoleh ke arah Daiki dan menunjuknya. Daiki langsung memalingkan wajah. Pura-pura tidak memerhatikan mereka sejak tadi. Tapi sepertinya pemuda berambut pirang tersebut menunjuknya hanya untuk mengenalkannya pada perempuan itu, bukan untuk menyuruhnya mendekat.
Setelah menanti cukup lama, akhirnya Ryouta dan perempuan bernama Momoi itu memutuskan obrolan. Lebih karena Momoi dipanggil oleh Harasawa dan bukan karena mereka kehabisan bahan obrolan. Mereka memutar badan lantas menghampiri tim masing-masing.
Alis Daiki masih berkerut, berusaha mengingat-ingat perempuan bernama Momoi Satsuki itu. Ingatan Daiki memang jelek, tapi ia tak pernah begini kesulitan mengingat wajah orang, apalagi jika orang itu dikenal sebegitu baik oleh Ryouta.
Sesi latih tanding antara SMA Kaijou dan SMA Touou hari itu dimulai setelah sesi pemanasan selesai. Setiap pemain yang turun main hari itu bergerak mengambil posisi, termasuk Daiki. Untuk saat ini, pertanyaan mengenai siapa Momoi sirna sempurna dari dalam pikiran anak berkulit hitam tersebut. Mata biru gelapnya terfokus pada Ryouta, dan hanya Ryouta seorang, yang tengah mengambil posisi di sisi lain lapangan.
Tujuan latih tanding kali ini kembali merasuki Daiki, memenuhi pikirannya hingga tak bersisa ruang untuk hal lain. Daiki datang untuk mengasah kemampuan sekaligus membuktikan hasil latihan kerasnya sejak Winter Cup.
Daiki datang hari ini untuk menang.
"Baiklah, Nijimura-san, aku mohon bantuannya mulai hari ini."
"Akashi, kau tahu aku tidak cocok dengan pekerjaan semacam ini," sahut Nijimura tanpa perlu repot-repot berbasa-basi. Pria berambut hitam tersebut menatap Seijuurou seakan ia baru saja mencetuskan kalau sapi bertelur.
Seijuurou menanggapi protes dari pria yang lebih tua darinya tersebut dengan sebuah senyum tipis. Ia tidak menyangkal kalau ia tahu itu. Tapi hanya karena ia tahu bukan berarti ia bisa melakukan sesuatu tentang itu,bukan? Seijuurou tidak punya pilihan lain, di seantero kantor yang dipimpin seorang Akashi Seijuurou, hanya Nijimura-lah yang dirasa Seijuurou cukup cocok untuk diamanahkan pekerjaan ini.
"Kembalikan aku ke posisi general manager," pinta Nijimura. Belum apa-apa, pria tersebut sudah minta dikembalikan.
"Mohon bantuannya, Nijimura-san," kata Seijuurou sekali lagi, kali ini dengan penekanan lebih pada dua kata pertama. "Tenang saja, ini baru masa percobaan. Kalau Nijimura-san memang tidak cocok dengan pekerjaan ini, aku akan mengembalikanmu ke posisi general manager."
Cengiran lebar mulai membentuk di wajah Nijimura. Cengiran itu, kurang lebih, sudah bisa memberitahu Seijuurou isi pikiran pria berusia tiga puluhan itu.
"Bukan berarti kau bisa melalaikan tugas, Nijimura-san," Seijuurou memperingatkan dan cengiran Nijimura langsung jatuh bebas. Bibir pria tersebut mengerucut, terlihat tidak senang dengan promosi ini, tapi Seijuurou tahu betul kalau pria tersebut akan tetap menjalankan tugas sebaik-baiknya.
Telinga Seijuurou mendengar kata "perlu" dan "buku catatan" sesaat sebelum pria berambut hitam tersebut kembali menatapnya.
"Baiklah kalau begitu, aku akan pergi makan siang dulu. Kau mau titip sesuatu?" tanya Nijimura. Tubuh pria tersebut sudah setengah menghadap pintu keluar. Detik itu Seijuurou baru sadar sekarang sudah jam makan siang.
Hm, mungkin Nijimura cocok untuk jadi sekretaris pribadi Seijuurou. Lihat saja apa yang baru saja Nijimura lakukan, kurang dari sepuluh menit diangkat ia sudah dapat menjalaskan tugasnya; mengingatkan Seijuurou akan jadwalnya, termasuk makan siang.
Membicarakan makan membuat Seijuurou teringat si bungsu dan percakapan mereka kemarin malam di Maji Burger. Bagaimana Tetsuya saat itu berusaha menyembunyikan sesuatu darinya. Tetsuya bahkan memasang satu senyum yang Seijuurou tahu dimaksudkan untuk membuat pikirannya tenang.
Seijuurou jadi bertanya-tanya, dari mana Tetsuya belajar untuk tersenyum seperti itu?
Sayangnya Tetsuya masih terlalu belia untuk bisa menguasai seni berbohong. Anak berambut biru langit itu belum selihai Seijuurou dalam menutupi berbagai hal. Kata-kata dan perilakunya tidak tersinkronisasi dengan baik.
Ah, apa yang sedang dilakukan Tetsuya sekarang? Apa ia sedang melakukan apa pun itu yang ia sembunyikan dari Seijuurou?
Seandainya saja si bungsu punya ponsel, Seijuurou bisa segera mengiriminya pesan sekarang. Meski tindakan tersebut dilakukan hanya untuk membuat batinnya lebih tenang. Setelah dipikir lagi, Tetsuya sekarang sudah dua belas tahun, mungkin sudah waktunya ia punya ponsel sendiri. Walau bagaimana pun, dulu Ryouta sudah punya ponsel bahkan ketika ia baru kelas lima SD.
Hanya karena anak seusia Tetsuya menggunakan ponsel untuk mengakses situs yang tidak-tidak –seperti Daiki yang ketahuan membuka situs yang tidak-tidak ketika ia masih SMP—bukan berarti Tetsuya akan melakukannya juga, kan? Walau bagaimana pun, Tetsuya lebih bijak dari anak-anak seumurannya.
Ya, mungkin pulang kantor nanti, Seijuuurou bisa mampir sebentar untuk membelikan Tetsuya telepon pintar miliknya sendiri.
"Halo, Akashi. Kau mau kubelikan apa untuk makan siang?" Nijimura menjentikkan jari di depan wajah Seijuurou. Tindakannya tidak benar-benar pantas, mengingat Seijuurou sekarang adalah atasannya, tapi karena mereka berteman cukup dekat sejak Seijuurou diminta menangani kasus Haizaki saat SMA dulu, Seijuurou sama sekali tidak mempermasalahkan tindakan kurang sopan Nijimura.
Seijuurou mengerjap terkejut. Rantai lamunannya terputus begitu saja. Setelah beberapa kali mengedipkan mata, ia kembali ke realita, kembali mengingat pertanyaan yang tadi diajukan Nijimura. Pria berambut merah tersebut tersenyum, "Ah, aku titip sandwich telur dari mini market saja."
Nijimura mengangkat sebelah alisnya. "Kau yakin?"
Seijuurou mengangguk pasti. Alis Nijimura terangkat makin tinggi.
"Kau yakin kau mendapat cukup makan? Aku tidak mau bosku kekurangan gizi," gurau Nijimura, sebelah tangannya sudah menggapai gagang pintu. Pria berambut hitam tersebut berusaha untuk tidak menunjukkan kekhawatirannya tapi Seijuurou masih bisa melihatnya. Terkadang Seijuurou merasa Nijimura seperti kakak laki-laki yang tak pernah Seijuurou miliki.
"Tenang saja, aku makan banyak di rumah, Nijimura-san," Seijuurou berusaha meyakinkan Nijimura.
Nijimura mengangkat bahu, "baiklah kalau begitu," katanya lantas membuka pintu dan pergi.
Sepeninggal Nijimura, Seijuurou menghela napas panjang. Sebelah tangannya mengetuk-ngetuk mejanya dalam rangka berpikir. Tindak-tanduk Tetsuya mengganggu pikirannya tapi, apa yang bisa ia lakukan?
Seijuurou menggumamkan "hmm" panjang.
Daiki berlari sekuat tenaga, sebelah tangannya sibuk memantulkan bola oranye ke lantai. Tujuh meter lagi dan ia akan sampai dalam posisi yang cukup menguntungkan untuk menembak.
Napas Daiki memburu. Mata biru gelapnya bergerak sesaat, melirik papan skor yang terletak di pinggir lapangan. 100-101 dengan SMA Kaijou unggul. Mata biru Daiki kembali bergerak, kali ini melirik detik yang kian berkurang. Timnya hanya punya sisa waktu kurang dari satu menit untuk membalikkan keadaan.
Jika Daiki tidak berhasil mencetak skor dengan bola di tangannya sekarang, maka mereka akan kalah.
Daiki terus berlari, mempersempit jarak antara dirinya dan ring. Tapi sayangnya, kaki Daiki harus mengerem tiba-tiba karena bayangan kuning berkelebat di depannya lantas mewujud menjadi sosok Ryouta. Daiki menjauhkan bola dari Ryouta, berusaha untuk menghindari kemungkinan Ryouta merebut bola.
Alis Ryouta terlihat berkerut, menandakan betapa seriusnya pemuda berambut pirang tersebut menghadapi Daiki. Mata cokelat keemasannya terpaku pada Daiki dan Daiki saja. Pemuda berambut pirang tersebut seakan siap menerima serangan mau pun trik macam apa pun dari Daiki.
Mereka berdua terdiam beberapa saat. Daiki memikirkan bagaimana cara terbaik melewati Ryouta sedangkan Ryouta bersiap mengantisipasi gerakan yang akan dilakukan Daiki.
Tak berapa lama kemudian, Daiki mengubah posisinya. Pemuda berambut biru gelap tersebut memantulkan bola di tangan kanannya ke tangan kiri dengan gerakan sambil lalu. Tanpa aba-aba Daiki mendorong bola di tangannya kuat-kuat ke arah Wakamatsu yang berdiri jauh di pinggir lapangan.
Tapi, di luar ekspektasi semua orang yang berada di gym SMA Kaijou, Daiki tidak mengoper bola pada Wakamatsu. Pemuda berambut biru gelap tersebut melepaskan cengkeramannya dari bola dan berputar dengan cepat untuk mengecoh sang kakak ke arah kanan.
Sesuai yang diharapkan Daiki, Ryouta bereaksi dengan bergeser ke kanan untuk menghalaunya. Dengan sigap, tangan Daiki mengoper bola dari tangan kiri ke tangan kanannya. Dalam prosesnya berhasil berpindah ke sisi kiri.
Sebelum Ryouta sempat bereaksi, Daiki sudah berada di sampingnya, siap berderap menuju ring masih dengan bola di tangan.
Daiki tersenyum satu trik yang ia sempurnakan selama berminggu-minggu belakangan akhirnya bisa ia terapkan dan berhasil.
Namun, tentu saja, tidak akan semudah itu mengalahkan Ryouta. Kurang dari sedetik dan Ryouta sudah kembali menjulang di hadapan Daiki, menghalanginya menembus teritori Kaijou lebih jauh. Meski merasa agak kecewa karena tipuan kecilnya gagal, sejujurnya Daiki memang berharap Ryouta sulit dikalahkan.
Walau bagaimana pun, tidak seru, kan, kalau bisa menang mudah dari kakaknya satu itu? Lagi pula orang yang pernah mengalahkan Daiki tak mungkin selemah ini.
Mengetahui kakaknya satu itu tidak akan mudah dikalahkan, Daiki tentu sudah menyiapkan trik lainnya. Ia menarik satu langkah mundur, satu seringaian puas menghiasi wajah Daiki. Sedikit rasa puas menelusup dalam hati Daiki ketika melihat mata cokelat keemasan Ryouta melebar terkejut. Daiki bersiap menembak, memegang bola dengan satu tangan lantas melontarkannya.
Wajah memang memasang cengiran lebar namun sebenarnya Daiki tegang, ia tidak yakin tembakannya ini akan berhasil. Trik Daiki satu ini sangat beresiko. Ia sama sekali tidak mengikuti aturan dasar dalam menembak, tidak memasang kuda-kuda dengan benar, tidak menggunakan kedua tangan, dan ia menembak dalam posisi lutut tertekuk serta badan disejajarkan dengan tanah. Kemungkinan bola tersebut masuk ke dalam ring sangat kecil.
Bola yang dilontarkan Daiki melambung menuju ring. Daiki menduga Ryouta akan melompat sembari mengangkat sebelah tangannya, mengusahakan apa pun untuk mencegah bola oranye tersebut menembus ring milik tim SMA Kaijou.
Tapi kenyataannya Ryouta hanya terdiam. Wajahnya bahkan tidak terlalu terkejut ketika mendengar peluit ditiup dan angka untuk SMA Touou bertambah. Daiki bahkan hampir bisa melihat binar puas di mata cokelat keemasan kakaknya ketika peluit tanda berakhirnya laith tanding hari itu dibunyikan.
Daiki kembali menapakkan kaki di tanah. Pemuda berkulit hitam tersebut berdiri terdiam menatapi Ryouta dengan mata membelalak. Sorakan senang dari teman-teman setimnya sama sekali tidak ia pedulikan.
Ryouta tidak melakukan apa pun untuk menghalangi bolanya masuk. Ia tidak bisa? Tidak, tidak, Daiki yakin Ryouta bisa menghalaunya seandainya ia benar-benar ingin. Tapi pemuda berambut pirang itu tidak mengusahakan apa pun tadi, berusaha menyentuh bola agar lintasan lambung bolanya berubah pun tidak.
Apa maksudnya ini? Apa ini berarti Ryouta tidak mau melawannya dengan sungguh-sungguh? Apa Ryouta sengaja membiarkannya menang? Kenapa?
Ekspresi Daiki mengeras. Tinjunya mengepal di sisi tubuh. Dengan penuh amarah pemuda itu mendesis. "Apa maksudmu?"
Ryouta, yang sebelumnya hendak berjalan ke sisi lapangan, bergabung dengan teman-teman setimnya untuk istirahat, menghentikan langkahnya. Pemuda berambut pirang tersebut menoleh ke arah Daiki. Sepasang alis pirangnya berkerut ragu. "Apa maksudku? Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan-ssu,"
Daiki mengambil dua langkah maju. Jarak di antara dua kakak-beradik tersebut menipis hingga Daiki bisa menyentuh Ryouta hanya dengan mengangkat tangan. Riuh rendah sorak sorai anak-anak SMA Touou tidak lagi memasuki telinga mereka. Suara-suara tersebut hanya terasa seperti musik latar.
"Kau tidak berusaha menghentikanku saat menembak tadi. Kau…" Daiki terdiam sesaat, sedikit takut kalau kata yang diucapkan berikutnya akan diiyakan Ryouta. "… kau mengalah padaku."
Mata cokelat keemasan Ryouta melebar. Apa ia terkejut mendengar pernyataan Daiki yang tak terduga atau ia terkejut karena Daiki menyadari tingkahnya, Daiki tidak tahu. Sesaat kemudian mata cokelat keemasan di hadapan Daiki beralih ke samping, lari dari mata biru gelap Daiki yang kini terkesan mengintimidasi.
"Apa maksudmu? Aku tidak begitu-ssu… aku tidak menghentikanmu karena memang aku tidak bisa-ssu" lirih Ryouta berkata. Pemuda berambut pirang itu menyangkal, tapi aksinya sekarang berteriak mengiyakan pernyataan Daiki.
Hati Daiki mencelos. Apa-apaan ini? "Kenapa?"
Ryouta juga…
Akhirnya Ryouta kembali menatap Daiki, dengan sengit kali ini. "Sudah kubilang aku tidak bisa-ssu. Aku tidak tahu bagaimana cara menghentikan tembakan yang tidak mengaturi peraturan dasar menembak-ssu."
Daiki mencengkeram kerah jersey Ryouta. Pemuda berkulit hitam tersebut berbisik dengan penuh penekanan. "Aku tahu kau bohong, Ryouta. Meski pun kau tidak bisa menghentikanku menembak, kau bisa mencegah bola itu masuk dengan menyentuhnya. Tapi kau bahkan tidak mau repot-repot mengangkat tangan."
Akashi Ryouta menatap Daiki lamat-lamat. Alis pirangnya mengerut dalam. Tatapannya sengit, seakan ia tak mau kalah dari Daiki, seakan ia mengatakan kalau kata-kata Daiki salah besar. Tapi pada akhirnya tatapan Ryouta perlahan berubah sendu. Lirih ia berbisik, "aku akan jelaskan nanti, di rumah-ssu."
Daiki awalnya berharap agar Ryouta berhenti keras kepala dan mengakui tindakannya. Tapi ketika kakaknya itu mengaku, Daiki justru merasa tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Tangan berkulit hitam miliknya melepas cengkeraman di kerah jersey Ryouta.
Daiki menatap Ryouta sesaat dengan pandangan seolah Ryouta baru saja menusuknya dari belakang. Sepersekian detik kemudian pemuda berkulit hitam tersebut berjalan cepat menuju ruang ganti, menyambar tasnya di bench samping lapangan dalam perjalanannya menuju ke sana. Teriakan dari Wakamatsu yang menyuruhnya untuk berjajar bersama mereka dan menyalami anggota Kaijou sama sekali tak ia gubris.
Setelah memakai jaket jersey serta celananya, Daiki menyampirkan tas di bahu lantas berderap ke pintu keluar. Pemuda berkulit hitam tersebut melesat keluar tanpa menoleh ke belakang sekali lagi.
Gerbong kereta yang ditumpangi Daiki bergoyang, menyebabkan penumpang di dalamnya bergoyang sedikit. Kereta di akhir pekan itu terkesan kosong sehingga Daiki bisa dengan santai memilih tempat duduk. Pemuda berkulit hitam tersebut duduk meluruskan kaki di tempat duduk di pojok gerbong, mengambil alih tempat duduk yang sebenarnya cukup untuk tiga orang tersebut.
Pikirannya melayang ke perkataan Ryouta tadi. Kenapa kakaknya melakukan itu? Memang Ryouta tidak secara gamblang mengiyakan kata-kata Daiki, tapi orang sebodoh Daiki pun mengerti kalau tadi Ryouta akhirnya mengakui perbuatannya.
Kenapa Ryouta sengaja mengalah? Apa karena Ryouta takut Daiki akan menangis kalau kalah lagi? Tapi sosok Daiki yang cengeng itu sudah hilang ditelan waktu bertahun-tahun yang lalu. Buktinya mata Daiki sama sekali tak basah saat Kaijou mengalahkan Touou di Winter Cup lalu. Lantas bagaimana bisa Ryouta menganggap Daiki masih selemah itu?
Tidak tahukah Ryouta kalau Daiki berusaha keras untuk hari ini? Tidak tahukah Ryouta kalau ia berlatih beberapa jam lebih lama demi bisa mengalahkan Ryouta, demi merebut kembali gelar pemenang yang Ryouta rebut? Tidak tahukah Ryouta kalau yang Daiki inginkan adalah menang dalam pertandingan yang dilakukan dengan sepenuh hati? Jika Daiki menang hanya karena Ryouta mengasihaninya, Daiki tidak akan menerima kemenangan tersebut.
Kemenangan yang seperti itu justru terasa hampa. Kemenangan yang diperoleh atas belas kasih seperti itu justru membuat Daiki merasa harga dirinya diinjak-injak.
Dan yang terpenting, sikap Ryouta yang seperti itu, yang sengaja mengalah untuknya, yang tidak melawannya dengan segenap kemampuan, membuat Daiki merasa usahanya tidak dihargai, membuat Daiki merasa dirinya tidak dihargai.
Rahang Daiki mengeras memikirkannya. Matanya menyipit menahan pedih.
Padahal dulu Daiki berpikir jika ada satu orang di dunia ini yang akan selalu menghargainya, maka orang itu adalah Akashi Ryouta. Tapi ternyata pemikirannya salah.
Ryouta sekali pun tak bisa melihat usahanya. Ryouta sekali pun tak menghargai kerja kerasnya.
Kenapa rasanya orang-orang di sekitar Daiki selalu seperti ini? Pertama Seijuurou, lalu teman-temannya, dan sekarang Ryouta?
Benak Daiki membawanya kembali ke masa di mana pemuda tersebut lima puluh senti lebih pendek dan tujuh tahun lebih muda. Masa di mana ia masih seorang anak kecil berkulit hitam yang polos, yang keinginan terbesarnya adalah membanggakan orang yang paling ia sayangi.
Saat itu ia begitu ingin membanggakan Seijuurou hingga tanpa pikir panjang mengiyakan tawaran gurunya untuk menjadi pemeran utama sebuah pementasan drama meski sebenarnya ia sama sekali tak memahami seni peran.
Sayangnya ketika Daiki akhirnya berhasil menaklukkan seni peran dalam genggamannya, ia harus menelan kecewa bulat-bulat karena Seijuurou, orang yang paling ia harapkan menontonnya, justru baru terlihat batang hidungnya ketika pementasan selesai dan panggung tengah dibereskan.
Saat itu Daiki benar-benar sakit hati sampai titik di mana ia bahkan tidak bisa menerima alasan apa pun yang dikemukakan Seijuurou. Saat itu Daiki benar-benar merasa usahanya dianggap tidak lebih berharga, tidak lebih sulit dari pada menarik napas. Saat itu Daiki benar-benar merasa dirinya tidak seberharga itu hingga Seijuurou tak benar-benar bersedia meluangkan waktu barang sejenak untuk menonton hasil usahanya.
Yang diinginkan Daiki waktu itu, sesungguhnya hanya Seijuurou menontonnya. Kalau pun waktu itu Seijuurou hanya datang lima menit lantas pergi untuk melihat Ryouta, tidak mengapa. Meski hanya lima menit, Daiki sudah senang.
Bahkan hanya sedetik pun tak apa, yang penting Seijuurou melihatnya.
Padahal Seijuurou tahu persis bagaimana kerasnya Daiki berusaha waktu itu. Padahal Seijuurou melihat setiap hari Daiki berlatih keras, melihat kertas naskah hampir selalu ada di tangan hitamnya. Padahal tiap hari Seijuurou mendengar Daiki melatih dialognya di kamar.
Tapi sepertinya bagi si sulung usahanya bukan apa-apa. Ia lebih memilih untuk datang menyaksikan Ryouta dari awal hingga akhir dan melewatkan pertunjukan Daiki.
Jujur sebenarnya dulu ia sempat marah, sempat iri pada Ryouta karena rasanya seakan kakaknya itu merebut dan mengeksploitasi si sulung. Tapi entahlah, mungkin karena mereka selalu bersama, tapi rasanya Ryouta seperti punya sihir yang membuat Daiki tak pernah bisa benar-benar marah padanya. Pemuda berkulit hitam tersebut benci mengakui tapi ia tak tahan kalau harus berpisah dari Ryouta terlalu lama. Pengampunan akan selalu Daiki berikan dengan sukarela jika menyangkut Ryouta.
Sebegitu berharganya Ryouta untuknya, dan ini yang Ryouta lakukan padanya.
Daiki merasa terkhianati.
Alis biru gelap Daiki mengerut makin dalam. Helaan napas panjang dan dalam menelusup keluar dari bibirnya seiring dengan posisi duduknya yang sedikit merosot. Pemuda berkulit gelap itu menundukkan kepala, malas menatap dunia yang sekarang terasa seperti sedang membalikkan badan darinya. Mata biru gelapnya menatap sepatu Air Jordan bututnya lekat-lekat. Seandainya saja tatapan bisa mengeluarkan laser, ia pasti sudah kehilangan kaki sekarang ini.
Entahlah, Daiki mulai berpikir, jika orang-orang tak menghargai usahanya, untuk apa ia berusaha?
Saat Daiki melesat pergi dari gym SMA Kaijou tanpa mengatakan apa pun, bahkan tanpa melakukan salam sesudah pertandingan, perasaan bersalah memukul Ryouta tepat di ulu hati. Karenanya, setelah membungkukkan badan dan berterima kasih pada tim Touou karena telah bersedia berlatih bersama mereka, Ryouta minta izin pada pelatih SMA Kaijou untuk pulang lebih dulu.
Seruan teman-teman timnya tidak Ryouta acuhkan. Pemuda berambut kuning tersebut berlari ke pinggir lapangan, melapisi jersey yang dipakainya dengan jaket jersey tim basket SMA Kaijou, menyampirkan tas di bahu, lantas berlari cepat-cepat keluar.
Ryouta pikir jika ia berlari secepat-cepatnya, ia masih bisa menyusul Daiki di stasiun. Sayangnya, begitu Ryouta sampai di stasiun, Daiki sudah tidak ada. Dicari ke seluruh penjuru stasiun pun tetap tidak bisa ditemukan.
Rumah merupakan satu-satunya tempat yang mungkin menjadi kunci keberadaan Daiki saat ini. Maka dari itu, Ryouta cepat-cepat pulang, cepat-cepat menaiki kereta dan berlari sekuatnya menuju rumah. Pemuda berambut kuning tersebut tak peduli kalau dadanya serasa terbakar. Pemuda itu tak peduli kalau ia sudah seperti ikan yang megap-megap saat dibawa ke daratan.
Satu-satunya hal yang ada di benak Akashi Ryouta adalah Daiki dan bagaimana caranya menjelaskan pada adiknya satu itu.
Bagaimana caranya menjelaskan kalau Ryouta hanya berusaha untuk melindungi Daiki? Bagaimana caranya menjelaskan kalau Ryouta hanya ingin agar Daiki tak merasakan apa yang ia alami? Bagaimana caranya?
Dengan napas putus-putus, Ryouta membuka pintu depan dengan kasar, mengagetkan Masako yang baru saja selesai membersihkan lorong dan tengah beranjak untuk meletakkan alat-alat yang ia pakai untuk membersihkan rumah. Omelan wanita itu sama sekali tak digubris Ryouta.
Hal pertama yang Ryouta lakukan adalah melihat rak sepatu dan pemuda itu tak menemukan sepatu Air Jordan hitam butut milik Daiki di sana. Sembari mencoba mengatur napas, otak Ryouta berputar keras. Ke mana Daiki pergi? Kalau adiknya itu memang pulang, ia seharusnya sudah ada di rumah sekarang…
Mungkin Daiki perlu waktu untuk sendiri, untuk menjernihkan pikiran, pikir Ryouta. Maka pemuda berambut pirang tersebut memutuskan untuk menunggu adiknya itu pulang. Tapi sejujurnya, hati Ryouta sedikit lega karena ini berarti ia punya lebih banyak waktu untuk berpikir, untuk merangkai kata untuk disampaikan pada Daiki.
Matahari sudah condong ke barat ketika Daiki akhirnya melangkahkan kaki masuk rumah. Ryouta yang sudah menunggu seharian di ruang keluarga –yang memang dekat posisinya dengan pintu depan—langsung berdiri begitu mendnegar pintu terbuka dan ada gumaman "aku pulang" yang terdengar serak khas Daiki.
"Daikicchi, selamat datang-ssu. Aku—" belum selesai Ryouta bicara, Daiki sudah berjalan melewatinya. Tanpa melambatkan langkah mau pun menolehkan kepala, pemuda berkulit gelap itu menaiki tangga menuju kamar.
Ryouta berbalik, mencoba mengejar sang adik, "Daikicchi, tunggu-ssu."
Daiki tetap tak bergeming. Pemuda berkulit hitam tersebut terus melanjutkan langkahnya menuju kamar. Ryouta ingin menarik tangan adiknya, menghentikannya, memutar badannya, tapi pemuda berambut pirang tersebut mengurungkan niat.
Aura Daiki yang seakan dengan jelas dan tegas mengatakan "jangan sentuh aku" membuat Ryouta ragu ingin mengajaknya bicara. Jangankan mengajaknya bicara, menatapnya saja sudah membuat Ryouta merasa sangat bersalah hingga rasanya enggan berkata-kata.
Akhirnya mereka sampai di depan kamar Daiki. Masih diam seribu bahasa, Daiki memasuki kamarnya dan tanpa memandang Ryouta sedikit pun langsung menutup pintu kamar tepat di depan muka Ryouta. Pemuda berkulit gelap itu meninggalkan sang kakak di lorong, terdiam tanpa dapat menjelaskan apa pun.
Tangan Ryouta yang tadinya terangkat untuk menahan Daiki kini terjatuh lemas di sisi tubuhnya. Mata cokelat keemasan pemuda tersebut terpaku pada pintu kayu di hadapannya yang balas menatapnya dalam diam.
Ah, Ryouta tahu kalau Daiki membutuhkan banyak waktu untuk menyendiri sekarang ini. Ryouta bisa menerka bagaimana kira-kira perasaan Daiki saat ini; terkhianati. Tapi, dalam dada Ryouta terasa seakan-akan ada lubang hitam besar menganga, menyesap segala perasaan senang yang ia rasakan hingga akhirnya hanya menyisakan rasa sesak.
"Nomor empat belas, Shimada Shunsuke," seru Matsuoka Daigo, pelatih tim lapis ketiga. Pria paruh baya tersebut menurunkan papan jalan berisi daftar nama dan melirik anak-anak asuhnya. "Itu saja yang naik ke lapis kedua."
Terdengar sorakan gembira dari anak yang diduga bernama Shimada Shunsuke tadi. Di saat yang sama, terdengar desahan kecewa dari anak-anak yang tidak dipanggil namanya tadi. Sayangnya, Tetsuya termasuk ke dalam daftar orang yang namanya tidak dipanggil Matsuoka Daigo.
Beberapa kalimat yang diawali kata 'seandainya' memenuhi pendengaran Tetsuya. Anak berambut biru langit tersebut mengusap peluh di dahi. Alisnya mengerut, matanya menyipit, dan rahangnya mengeras. Hatinya terasa dipenuhi kabut bernama kekecewaan.
Apa ia benar-benar tidak bisa menyusul Ogiwara tepat waktu?
Tetsuya memejamkan mata kuat-kuat.
Tidak, tidak, masih ada waktu satu bulan lagi. Satu bulan untuk mengejar Ogiwara. Jika dalam kurun waktu tersebut ia masih tidak bisa menyusul temannya satu itu, maka terpaksa impian mereka untuk bertemu di laga resmi diundur hingga enam bulan lagi.
Mata biru langit Tetsuya membuka. Determinasi memancar darinya. Tetsuya tidak berhasil pasti karena usahanya masih kurang. Ia harus melakukan sesuatu, sesuatu yang lebih. Seperti kata pepatah, "go the extra mile", berusaha lebih untuk mencapai hasil yang diinginkan.
"Pertemuan kali ini sampai di sini. Kalian yang tidak berhasil naik ke lapis kedua, harus berusaha lebih giat lagi supaya bisa naik di tes bulan depan," nasihat Matsuoka. Dengan satu lambaian tangan sambil lalu, Matsuoka membubarkan barisan anak-anak di hadapannya.
Menunggu hingga yang lainnya menyingkir, Tetsuya melangkah maju mendekati Matsuoka yang telah membelakangi lapangan, bersiap untuk pergi.
"Permisi, Pak," Tetsuya mengawali. Bisa Tetsuya lihat pria paruh baya tersebut berjengit kaget. Matsuoka menoleh. Mata hitamnya melebar ketika penglihatannya menangkap sosok Tetsuya yang berdiri canggung di dekatnya.
"Ada apa?" Matsuoka tidak memanggil namanya. Tetsuya yakin karena pria tersebut tak bisa mengingatnya. Tetsuya maklum, mengingat banyaknya jumlah anak yang datang dan pergi dalam tim lapis ketiga tersebut.
"Saya Akashi Tetsuya. Jika boleh, saya ingin meminjam kunci gym ini untuk latihan ekstra setelah latihan selesai."
Matsuoka menatap Tetsuya lamat-lamat. Mungkin pria itu keheranan karena tidak banyak anak yang melakukan latihan ekstra di klub ini. Tetsuya balas menatapnya dengan pandangan datar andalannya. Samar-samar Tetsuya bisa mendengar langkah kaki dari belakang. Dari suaranya Tetsuya tahu kalau pemilik langkah kaki tersebut adalah Kagami.
"Latihan ekstra? Aku tidak keberatan meminjamkan kuncinya tapi…" Matsuoka membalikkan badan, mengambil tasnya. Pria paruh baya tersebut mulai merogoh-rogoh tas kerja tersebut, mencari serenteng kunci dari dalamnya. "Pastikan kau mengembalikan kuncinya dan pulang paling lambat jam sembilan."
Tak lama, Matsuoka menyodorkan kunci-kunci gym tersebut pada Tetsuya. Pelatih tim lapis ketiga tersebut menyempatkan diri untuk tersenyum singkat ketika Tetsuya membungkukkan badan dan berterimakasih sebelum pria tersebut pamit undur diri.
"Ada apa, Akashi?" sebuah tangan menepuk bahu Tetsuya. Anak berambut biru langit tersebut menoleh dan seperti yang sudah Tetsuya duga, ia mendapati Kagami tengah berdiri tepat di belakangnya. Tasnya disampirkan di bahu dan dari wajahnya yang masih penuh peluh, ia sendiri baru selesai latihan.
Tetsuya menggeleng. Sebuah senyum terkulum di bibirnya. Secercah harapan mekar dalam hatinya karena di tangannya kini tergenggam benda yang bisa membantunya menyusul Ogiwara. Tetsuya mengangkat tangannya, menunjukkan sederet kunci yang bergemerincing berisik.
"Tidak ada, aku hanya meminjam kunci gym ini dari pelatih."
Kagami memandang kunci tersebut dengan takjub. Ekspresinya terlihat seperti ia baru melihat sepeti harta karun. Tapi tiba-tiba ekspresinya berubah, seperti ia baru menyadari sesuatu. "Kenapa tiba-tiba kau pinjam kunci gym?"
Tetsuya memasukkan kunci tersebut dalam saku celana pendek yang ia kenakan. "Aku ingin berlatih ekstra."
Kagami mengangguk-angguk tanda mengerti. Tetsuya mulai berjalan menuju pinggir lapangan dengan Kagami mengikutinya. Dua anak tersebut mendudukkan diri di bench pinggir lapangan. "Bagaimana dengan tes penempatanmu hari ini? Berjalan baik?"
Tetsuya yang tadinya akan meneguk air langsung menjeda gerakannya sesaat. Ekspresinya berubah mendung, hanya sesaat saja. "Aku tidak berhasil naik ke tim lapis kedua," Tetsuya meneguk airnya, "Kagami-kun bagaimana?"
Kagami menggumam panjang. Ketika Tetsuya meliriknya, Tetsuya melihat anak berambut sewarna api tersebut tengahmemejamkan mata erat, bibir terkatup rapat, dan kedua tangan disilangkan di depan dada. Ah, paling-paling Kagami lolos masuk tim lapis pertama. Ia, kan, hebat.
Di luar dugaan, Kagami justru menoleh ke arahnya, cengiran lebar nan bodoh menghiasi wajah Kagami. Sekilas anak tersebut mengingatkan Tetsuya akan Daiki, hanya saja dengan warna kulit, rambut serta usia yang berbeda.
"Wah, kita sama! Aku juga belum lulus tesnya," kata Kagami. Mungkin bagi orang-orang yang tidak mengenalnya, anak tersebut akan terlihat sama bersemangatnya seperti biasa, tapi Tetsuya tahu lebih baik. Anak berambut biru langit tersebut bisa melihat kekecewaan dan kesedihan yang terpancar dalam mata merah api Kagami.
Tiba-tiba Kagami mengubah posisi duduknya hingga ia menghadap Tetsuya. Tetsuya menoleh, memberikan Kagami fokus penuhnya. "Hei, Akashi, karena kita sama-sama tidak lulus, bagaimana kalau kita berlatih ekstra sama-sama?"
Kagami tidak mengatakannya, tapi Tetsuya tahu motif Kagami mengajaknya latihan bersama. Selain merasa latihan selama ini masih kurang, Kagami pasti tahu betapa kerasnya usaha Tetsuya selama sebulan terakhir ini untuk bisa naik tingkat. Kagami tahu betapa frustrasinya Tetsuya karena merasa tidak lebih baik dari kemarin. Tetsuya tahu diam-diam Kagami memerhatikannya dari sisi lain lapangan.
Ini adalah bentuk perhatian Kagami padanya. Bentuk pertolongan yang diulurkan Kagami padanya dan Tetsuya berterimakasih untuk itu.
"Kenapa baru pulang, Tetsuya?"
Tetsuya mengangkat kepala. Tangan anak tersebut yang sebelumnya berusaha melepaskan sepatu, terhenti. Sosok Seijuurou yang tengah berdiri di depannya dengan tangan menyilang di depan dada menyambut penglihatan Tetsuya. Seijuurou tidak mengatakannya, tapi Tetsuya tahu Seijuurou sangat khawatir.
Sekarang sudah jam sembilan malam, lewat dua jam dari jam pulang Tetsuya biasanya. Wajar kalau Seijuurou khawatir. Terakhir kali ada anggota keluarga Akashi yang pulang terlambat, sebuah telepon sampai di kediaman keluarga Akashi, menyampaikan kabar yang tak mengenakkan. Pada akhirnya, Seijuurou harus pergi menjemputnya.
Tetsuya menegakkan badan. Tangannya bergerak meletakkan sepatu dalam rak. Matanya ia pertemukan dengan Seijuurou dan Tetsuya bisa lihat kalau kelegaan menyapu pria awal dua puluhan itu. Tidak satu pun teguran keluar dari mulut Seijuurou dan Tetsuya tahu pria tersebut tak benar-benar bisa marah karena Tetsuya juga tidak benar-benar bisa memberinya kabar kalau ia akan pulang terlambat. Tetsuya tidak punya ponsel, ingat?
"Tadi Tetsuya latihan ekstra dengan Kagami-kun. Mendadak, makanya tidak memberitahu Kakak dulu," Tetsuya membetulkan letak tali tasnya yang tersampir di satu bahu lantas melangkah masuk, mensejajarkan diri dengan Seijuurou yang kini juga melangkah ke dalam bersamanya.
"Makanlah dulu lalu mandi. Makan malam Tetsuya sudah Kakak simpankan dalam lemari di dapur," kata Seijuurou. Di depan tangga mereka berpisah, Tetsuya berjalan menuju dapur sedangkan Seijuurou menaiki tangga menuju kamarnya.
Jujur Tetsuya merasa sedikit bingung. Tumben kakaknya tidak menanyainya lebih lanjut. Biasanya ada saja yang ditanyakan si sulung pada adik-adiknya. Misalnya saja bagaimana hari mereka, bagaimana pelajaran di sekolah, apa kabar teman-teman mereka, dan daftar pertanyaan Seijuurou akan jadi lebih panjang jika ada hal khusus terjadi hari itu.
Karena hari ini adalah hari tes kenaikan tingkat, dan Seijuurou tahu itu, seharusnya Seijuurou menanyai Tetsuya panjang-panjang tentang itu.
Ah, tapi mungkin si sulung Akashi sedang lelah.
Tetsuya baru saja akan menyuap suapan nasi pertama ketika Seijuurou masuk ke dapur. Ya, dapur, karena Tetsuya makan sendirian malam itu, ia merasa tidak perlu mengeluarkan makanannya ke ruang makan dan makan di sana. Anak berambut biru muda tersebut memutuskan untuk makan saja di konter dapur.
Seijuurou mengambil satu kursi bar yang dan meletakkannya di samping Tetsuya.
"Kakak punya hadiah untuk Tetsuya," kata Seijuurou dengan wajah berbinar. Tangan pria tersebut meletakkan satu kardus berukuran sedang di atas konter, tepat di samping mangkuk sup miso Tetsuya. Tetsuya memasukkan nasi ke dalam mulut, mengunyahnya dan menelannya lantas bicara.
"Terima kasih, Kak. Tapi apa ini?"
"Anggap saja hadiah masuk SMP," kata Seijuurou. Pria tersebut menyangga dagunya pada satu tangan yang ditumpukan di konter. Mata merah lembutnya menatap Tetsuya yang kini tengah menyesap sup misonya. Mata biru langit Tetsuya memerhatikan kotak di atas meja tersebut.
Tetsuya meletakkan sup misonya. "Boleh Tetsuya buka?"
Seijuurou tidak mengatakan apa pun, hanya memberikan isyarat pada Tetsuya dengan tangannya.
Tetsuya menggeser kotak tersebut ke hadapannya. Kotak tersebut berwarna cokelat polos, benar-benar polos tanpa tulisan mau pun gambar apa pun hingga tanpa dibungkus pun Tetsuya tak bisa menebak apa isinya. Ada desakan untuk mengangkat kotak tersebut dan menggoyangkannya di samping telinga, tapi Tetsuya memutuskan untuk tidak melakukan itu.
Siapa tahu isinya suatu barang yang rapuh yang tidak boleh diguncangkan?
Lelah dengan spekulasi sendiri, Tetsuya memutuskan untuk membuka kotak tersebut. Dilihat dari ukuran kotaknya, Tetsuya menduga isi kotak tersebut adalah flashdisk. Apa lagi Tetsuya ingat beberapa hari lalu ia memang mengatakan ia butuh itu.
Tapi yang Tetsuya dapati begitu membuka kotak bukan sebuah flashdisk melainkan sebuah ponsel. Ponsel pintar, yang meski bukan keluaran terbaru, tapi tidak kalah keren dengan milik teman-teman Tetsuya di sekolah.
Tetsuya menolehkan kepalanya ke arah Seijuurou, yang masih setia memerhatikannya dengan pandangan lembut khasnya.
"Terima kasih, Kak," kata Tetsuya tulus. Sebuah senyum tipis menghiasi wajah anak dua belas tahun tersebut. Seijuurou hanya mengangguk dan mengusap puncak kepala Tetsuya sesaat.
Pria berambut merah tersebut lantas mengubah posisi duduknya yang awalnya menyamping menghadap Tetsuya menjadi menghadap ke depan. Kedua tangannya ia lipat di atas konter, badannya ia condongkan ke depan, tetapi wajahnya tetap ia arahkan pada si bungsu.
"Bagaimana hari Tetsuya? Menyenangkan seperti biasa?" dimulailah sesi tanya jawab yang rutin Seijuurou lakukan tiap hari. Tetsuya hendak mengangguk tapi urung. Setelah menimbang-nimbang jawabannya, akhirnya anak tersebut mengangguk ragu.
Tentu saja gestur tersebut tidak luput dari penglihatan Seijuurou dan Tetsuya yakin benak kakaknya satu itu kini tengah berisi berbagai tanda tanya.
"Hari ini tes kenaikan tingkat, bukan? Tetsuya lulus?"
Tangan Tetsuya yang terangkat menyuap nasi ke dalam mulut terhenti, hanya sesaat sebelum ia meneruskan kembali gerakannya. Mata biru langit miliknya ia jauhkan sejauh-jauhnya dari pandangan menyelidik Seijuurou.
"Kemampuan Tetsuya masih kurang," jawab Tetsuya, lebih lirih dari pada biasanya.
"Jadi itu alasan Tetsuya latihan ekstra dengan Kagami?" tanya Seijuurou setelah diam beberapa saat.
Tetsuya mengangguk. Mungkin karena Seijuurou mendeteksi atmosfer yang terasa lebih berat sejak ia mengungkit soal tes kenaikan tingkat, tapi si sulung Akashi tidak mencoba memancing pembicaraan lagi setelahnya.
Kakak-beradik Akashi tersebut akhirnya hanya duduk diam hingga Tetsuya menghabiskan makan malamnya.
Bel pulang sekolah berbunyi lebih dari satu jam yang lalu, tapi Akashi Daiki masih tidak memiliki niatan untuk bergerak sesenti pun dari tempatnya sekarang. Pemuda berkulit hitam tersebut justru berguling, mengubah posisi tidurnya jadi menyamping, berusaha menghalangi sinar mentari yang mulai terasa menusuk kelopak matanya.
Pemikiran gelap yang mampir dalam kepala Daiki saat dalam kereta tempo hari akhirnya benar-benar melekat dalam benak pemuda tersebut. Pemikiran itu begitu menghantuinya, begitu merasuk dalam otaknya hingga ia benar-benar merasa sia-sia saja berusaha. Dalam hal apa pun.
Tidak peduli itu basket, sekolah, hubungan sosial, atau apa pun, Daiki tidak akan lagi berusaha maksimal.
Dengan pemikiran seperti itu akhirnya pemuda tersebut memutuskan untuk membolos saja dua jam pelajaran terakhir.
Ah ya, Daiki baru teringat kalau sepulang sekolah ada latihan basket rutin. Mata biru tua milik Daiki membuka sedikit. Benaknya menimbang-nimbang, bolos atau tidak? Kalau ia tidak bolos, ia pasti akan digunjingi teman-temannya lagi, teman-teman yang tidak tahu cara menghargai. Kalau ia bolos, telinga dan pikirannya akan terbebas dari segala hal tadi. Lagi pula kalau ia bolos latihan sekarang tidak akan membuat perbedaan berarti pada kemampuannya.
Baiklah, Daiki memutuskan untuk bolos saja.
Kelopak mata pemuda tersebut kembali menutup. Ia akan tidur satu jam lagi sebelum turun dan pulang.
"Sudah kuduga kau ada di sini."
Mata biru gelap Daiki otomatis membuka. Alisnya berkerut. Rasanya tadi ia mendengar suara perempuan. Tapi sepengetahuan Daiki, ia hanya sendirian di atas atap sekolah.
Ah, mungkin hanya perasaannya saja. Kelopak mata Daiki kembali bergerak menutup.
"Sampai kapan mau tidur di sana? Ayo latihan!"
Oke, sepertinya suara perempuan itu memang benar-benar ada dan suara itu benar-benar mengganggu. Dengan malas Daiki bangkit dari posisinya. Tatapan mematikan terbaiknya ia arahkan pada sosok perempuan yang hanya terlihat kepalanya. Perempuan tersebut berpegangan pada tangga dan naik hanya sampai kepalanya bisa melihat apa yang ada di atas atap, tepat di atas pintu yang menghubungkan atap dengan tangga menuju ke bagian dalam sekolah.
Untuk sesaat, alis Daiki berkerut dalam, mengingat-ingat siapa perempuan ini. Butuh beberapa saat hingga ia ingat kalau perempuan itu adalah Momoi Satsuki, asisten pelatih yang baru. Satu kata "ah" pelan keluar dari bibirnya.
Setelah menatap Momoi dengan malas, Daiki kembali merebahkan badan.
"Hei!"
Demi Tuhan, perempuan ini berisik sekali. Apa ia tidak bisa lihat kalau Daiki sama sekali tidak ada niatan untuk pergi latihan?
Berusaha untuk mengabaikan perempuan itu sebisanya, Daiki menutup mata. Pemuda itu benar-benar berharap perempuan itu tidak seperti Masako, yang akan bersikeras membuatnya bergerak dan tidak segan mengomelinya sekaligus menarik-nariknya untuk bangun.
Sayangnya, harapan Daiki hanya tinggal harapan. Momoi masih di sana, bersikeras untuk tetap tinggal dan membujuk Daiki untuk ikut latihan. Perempuan itu menaiki tangga lantas duduk di samping Daiki, mulai mengguncangkan bahunya.
"Ayo latihan."
Sebelah mata Daiki terbuka. Benak Daiki mulai bertanya-tanya, apa semua perempuan semenyebalkan ini?
Daiki berguling hingga posisinya kini menyamping ke kiri, membelakangi Momoi. Selama beberapa menit kemudian, hanya desir angin yang memasuki lingkup pendengaran Daiki. Dirasa aman untuk kembali ke posisi tidurnya semula, Daiki kembali berguling.
Pemuda berambut biru tua tersebut mengerang ketika mendapati Momoi masih ada di sana, masih duduk di posisi yang persis sama, dan tengah menatapnya dengan pandangan campuran antara tak berminat dan kesal.
"Bagaimana kau bisa tahu aku di sini?" tanya Daiki akhirnya. Pemuda itu masih tidak mau ikut latihan, tentu saja, jadi ia berusaha mengulur sedikit waktu sebelum ia menolak lagi.
Senyum yang anehnya mirip sekali dengan Seijuurou terkembang di wajah perempuan itu. "Aku tahu dari Sakurai-kun kalau tasmu masih ada di kelas."
Alis biru tua Daiki terangkat tinggi. Perempuan ini bisa tahu ia ada di sini hanya dari informasi itu?
"Aku pernah enam tahun jadi manajer klub basket. Aku sudah biasa memburu anggota-anggota yang suka membolos sepertimu," tambah Momoi bangga tanpa Daiki menyuarakan pertanyaan dalam benaknya. Alis Daiki terangkat makin tinggi.
Kemampuan perempuan ini membaca pikiran sangat mirip dengan Seijuurou… dan sangat mengerikan.
"Ayo, bangun! Latihan!" seru Momoi akhirnya. Perempuan berambut sewarna sakura itu mulai menarik-narik ujung blazer Daiki.
Daiki menepis tangan perempuan itu. Tidak cukup keras hingga melukai, tapi cukup untuk membuat perempuan itu melepaskan pegangannya.
"Aku akan latihan lain kali," kata Daiki sambil lalu, sebelah matanya menutup. Dengan gerakan tangan mengusir, Daiki bicara lagi, "pergi sana."
Mungkin perempuan itu berpikir tak apa membiarkan Daiki bolos kali ini karena setelah Daiki mengusirnya tadi, pemuda itu dapat mendengar suara langkah kaki menjauh. Sayup-sayup gerutuan masuk ke dalam telinga Daiki. Pemuda itu tidak benar-benar yakin, tapi sepertinya ia mendengar kalimat "pokoknya besok harus latihan!" dan "tidak mirip dengan Akashi-kun".
Hah, persetan dengan semua itu. Daiki sedang tidak dalam mood untuk bersabar mendengar ucapan-ucapan tak tahu terima kasih yang akan dilontarkan teman-teman satu timnya. Ah, lagi pula menurut teman-temannya ia sudah cukup "kuat", jadi bolos latihan sedikit tidak apa, kan?
Matsuoka Daigo mengamati pergerakan seorang anak berambut biru langit dari pinggir lapangan. Kalau tidak salah namanya Akashi Tetsuya. Pria paruh baya tersebut lantas menundukkan kepala, memindai papan jalan yang ditempeli kertas berisi data perkembangan anak-anak asuhnya. Nama-nama berbaris secara vertikal dalam kertas tersebut, diurutkan berdasarkan perkembangan terbanyak hingga terendah. Nama Akashi Tetsuya ada di sana, di urutan terbawah.
Alis pria paruh baya tersebut sedikit mengerut. Seingatnya ada lima orang bermarga Akashi yang pernah masuk tim basket SMP Teikou sebelum Tetsuya. Apa mungkin mereka bersaudara? Tapi lima anak itu sangat berbakat dalam basket sedangkan Tetsuya…
"Sepertinya akhir-akhir ini anak itu sudah tidak muntah lagi…"
Perhatian Matsuoka tercubit. Pria paruh baya tersebut menoleh, mendapati dua orang anak asuhnya tengah berdiri di pinggir lapangan tak jauh darinya dengan sebotol air mineral di tangan. Kedua anak itu menatapi anak yang sama dengan yang Matsuoka perhatikan tadi.
"Eh, siapa namanya? Akashi-san?"
"Iya, dengan fisik seperti itu luar biasa sekali dia tak mengeluh," timpal teman sang anak.
Matsuoka harus mengakui, ia sependapat dengan anak-anak itu. Tekad Tetsuya memang patut dikagumi. Dengan kemampuan fisiknya yang jauh di bawah rata-rata, Tetsuya sama sekali tidak menyerah. Anak berambut biru langit itu bahkan mendatangi Matsuoka untuk meminjam kunci gym agar bisa berlatih ekstra.
Sayangnya, perkembangan anak tersebut tidak sejalan dengan besar usahanya.
Matsuoka memandang kertas berisi data perkembangan anak asuhnya sekali lagi. Satu-satunya yang berkembang dari seorang Akashi Tetsuya adalah stamina. Itu pun tidak berkembang banyak, hanya cukup sampai Tetsuya tidak lagi muntah saat latihan.
Dengan perkembangan seperti ini, jangankan naik tingkat, menurunkan Tetsuya dalam latih tanding mingguan saja tak akan Matsuoka lakukan.
Apa masih ada harapan untuk anak itu?
Matsuoka tergoda sekali untuk menggelengkan kepalanya jika diberi pertanyaan seperti itu. Tapi rasanya terlalu cepat untuk berasumsi tidak ada harapan untuk Tetsuya. Matsuoka menimbang-nimbang. Jika setelah latihan ekstra ini Tetsuya tidak juga berhasil meningkatkan kemampuan, maka setelah tes kenaikan tingkat bulan depan Matsuoka akan meminta Tetsuya untuk berhenti saja.
Selain tim mereka yang memang memerlukan pemain-pemain kuat atau paling tidak berpotensi untuk jadi kuat, akan lebih baik jika anak itu memusatkan perhatiannya pada bidang lain. Mungkin ia tidak berhasil dalam basket karena bakatnya ada di bidang lain. Mungkin saja, kan?
Lagi pula bukankah sebaiknya anak itu tidak berlama-lama di klub ini jika keberadaannya di sini hanya menyakiti dirinya sendiri?
Kagami Taiga meletakkan traffic cone terakhir di ujung lapangan basket indoor SMP Teikou. Di ujung lain lapangan basket tersebut, berdiri Akashi Tetsuya dengan bola basket di tangan. Kagami memberikan seringai lebar khasnyan lantas merogoh saku, mengeluarkan sebuah ponsel pintar. Layar ponsel tersebut menunjukkan aplikasi stopwatch.
"Siap?" tanya Kagami, setengah berteriak dari ujung lapangan. Dari ujung lainnya, Tetsuya menganggukkan kepala satu kali dengan tegas.
Dengan seringai khas masih terpampang di wajahnya, ibu jari Kagami menyentuh layar ponsel pintarnya bersamaan dengan Tetsuya yang menendang tanah di ujung sana.
Dengan sedikit kepayahan, karena harus mengontrol bola di tangannya sembari berlari, Tetsuya melewati traffic cone yang sudah disusun oleh Kagami sebelumnya. Anak berambut biru langit tersebut berlari secara zig-zag, melewati traffic cone satu per satu.
Kagami tidak mengalihkan pandangannya sama sekali sejak ibu jarinya menyentuh layar ponsel pintarnya. Anak berambut merah api itu juga tidak mengatakan apa pun. Ia hanya berdiri diam, menatapi layar ponselnya. Decitan sepatu Tetsuya, suara bola memantul, dan napas Tetsuya yang tersengal-sengal adalah satu-satunya suara yang memenuhi gym ketiga SMP Teikou tersebut.
Setelah beberapa lama, Tetsuya akhirnya sampai di hadapan Kagami. Bertepatan dengan itu, Kagami menekan layar ponselnya lagi. Tetsuya membungkuk dengan tangan menumpu lutut. Sembari mengatur napas dan sesekali menelan ludah, anak berambut biru langit itu berkata, "bagaimana?"
Alis Kagami mengerut. Untuk beberapa saat anak berambut api tersebut terdiam.
Jantung Tetsuya berdegup kencang. Sedikit berharap sekaligus takut akan apa yang mungkin akan Kagami katakan. Setelah penantian yang terasa begitu lama, akhirnya Kagami bersuara. Anak itu menggumamkan "hmmm" panjang.
"Ada sedikit perkembangan dari sebelumnya. Kau lebih cepat kali ini," Kagami mengangkat bahu. Sebuah senyum terbit di wajah Tetsuya, "tapi kau masih perlu banyak berlatih, Akashi."
Tetsuya menelan ludah. Anak berambut biru langit tersebut mengangguk mantap sebagai pengganti jawaban. Binar semangat yang beberapa minggu belakangan sempat hilang dari mata Tetsuya kini telah kembali.
Meski Kagami tidak memberitahu sejauh apa perkembangan Tetsuya, berapa detik Tetsuya lebih cepat tadi, Tetsuya sama sekali tidak peduli. Satu detik lebih cepat pun tak apa, yang penting ada perubahan baik. Jika Tetsuya terus berusaha, ia pasti bisa. Itu saja yang perlu Tetsuya pegang teguh.
Kagami tersenyum melihat teman baiknya.
"Hari ini sampai di sini dulu saja. Ayo pulang sebelum makin larut, Akashi," kata Kagami sembari meraih tasnya. Setelah membereskan barang-barang mereka, mengunci pintu dan mengembalikan kuncinya, kedua anak itu berjalan beriringan menuju rumah. Jam sudah menunjukkan pukul setengah sembilan kala itu.
"Cepat mandi lalu makan," kata Masako begitu melihat Tetsuya melepaskan sepatu di genkan. Anak berambut biru langit tersebut terlihat seperti tengah mandi peluh; bajunya benar-benar basah. Tetsuya mengangguk paham, masih belum bisa bicara banyak karena napas masih tersengal. Maklum, hari itu hari Minggu dan ia baru saja main basket dengan Daiki di lapangan samping rumah.
Wanita paruh baya tersebut menghilang sesaat sebelum kembali muncul dengan selembar handuk di tangan. Ia memberikan handuk tersebut pada Tetsuya dan berkata, "Oh ya, ada surat untuk Tetsuya."
Satu kalimat tersebut berhasil membuat perhatian Tetsuya tertarik. Anak itu menerima handuk dari Masako dengan kepala terangkat tinggi dan mata melebar. Masako yang mengerti kalau Tetsuya masih berusaha mengatur napas, tersenyum lembut dan mengacak rambut Tetsuya. "Akan kuberikan kalau Tetsuya sudah mandi."
Dengan semangat Tetsuya berjalan cepat ke kamar mandi. Dalam waktu kurang dari sepuluh menit, si bungsu Akashi tersebut sudah duduk di salah satu kursi yang mengelilingi meja makan dengan titik-titik air yang menetes dari ujung rambutnya. Sebungkus roti dan sebotol selai cokelat tergeletak di hadapannya.
Masako masuk ke ruang makan saat itu, sepucuk surat di tangan. Wanita tersebut mendesis ketika melihat rambut Tetsuya yang tidak dikeringkan dengan benar. Ia meletakkan suratnya di atas meja, tepat di samping bungkusan roti sebelum mengambil handuk yang terkalung di leher Tetsuya dan mulai menggosok kepala anak berambut biru langit tersebut.
Tetsuya meraih bungkusan roti,mengambil satu lembar lantas meraih botol selai cokelat dan mengoleskannya di atas roti tersebut. Dengan mulutnya Tetsuya menjepit roti tersebut, tak mengacuhkan Masako yang menggerutu tentang mengeringkan rambut dengan benar di belakangnya lantas mulai membuka amplop.
Nama yang tertera di bagian pengirim masih sama dengan surat-surat yang diterima Tetsuya sebelum-sebelumnya jadi ia tak repot-repot memeriksa identitas pengirim. Dibukanya surat yang telah dilipat tiga tersebut, lamat-lamat membaca isinya sembari mengunyah roti selai cokelatnya.
Awal surat itu masih seperti biasa, berisi basa-basi mengenai kabar Ogiwara di sisi lain Jepang, yang syukurnya baik-baik saja, lantas pertanyaan mengenai kabar Tetsuya dan keluarga. Tapi bukan itu bagian yang Tetsuya ingin baca sekarang. Dengan tak sabar, Tetsuya melompati bagian basa-basi tersebut dan langsung menuju inti surat.
Inti surat tersebut dibuka dengan pertanyaan untuk mengkonfirmasi tanggal ujian kenaikan tingkat Tetsuya. Tetsuya ingat kalau ia menceritakan tentang tes masuk klub basket SMP Teikou yang sulit dan kemudian dibalas Ogiwara dengan kalimat yang menyiratkan betapa terkejutnya anak itu karena ia pikir tes penempatan yang katanya sangat sulit tersebut hanya rumor.
Berbagai kalimat balasan telah berputar dalam benak Tetsuya tapi ia hanya meneruskan membaca. Ini dia bagian yang ditunggu-tunggu Tetsuya. Bagian di mana Ogiwara menceritakan sepotong kejadian yang terjadi padanya akhir-akhir ini.
Seperti halnya bagian awal surat yang selalu sama, perasaan Tetsuya ketika membaca isi surat Ogiwara pun selalu sama. Anak berambut biru langit tersebut selalu dibuat terkejut sekaligus sangat iri tiap kali membaca perkembangan Ogiwara dalam rentang waktu relatif singkat.
Jika kemarin surat Ogiwara datang dengan membawa kabar bahwa anak itu sudah berhasil diangkat menjadi pemain cadangan, maka sekarang surat tersebut membawa kabar mengenai diangkatnya Ogiwara menjadi pemain yang akan turun main dalam babak penyisihan Inter-High nanti. Belum menjadi starter, tapi paling tidak sudah dipastikan ia akan turun main. Meski dalam surat dikatakan kalau hal tersebut terjadi semata-mata karena ada salah seorang senior Ogiwara yang cedera saat latihan kemarin dan bukan karena kemampuannya begitu menakjubkan atau apa, tapi tetap saja hal itu membuat Tetsuya iri.
Karena lihatlah, Ogiwara sekarang hanya berjarak satu langkah dari janji sekaligus impian mereka, sedangkan Tetsuya terpuruk ratusan kilometer dari tujuan yang sama.
Tetsuya tahu seharusnya sebagai teman yang baik ia merasa senang dengan keberhasilan Ogiwara, tapi kenyataannya sekarang rasa senang tersebut dikalahkan oleh perasaan buruk bernama iri hati.
Roti yang baru setengah ia makan, kembali ia dekatkan ke mulut dan dengan sedikit enggan ia gigit. Tetsuya benar-benar bersyukur Masako pergi tepat setelah mengeringkan rambutnya jadi wanita pengurus rumah tersebut tak perlu melihat wajah Tetsuya sekarang.
Wajah Tetsuya mengerut. Alisnya menyatu di tengah, matanya menyipit, dan ia menggigit bibir.
Kenapa semakin ia berusaha, mimpinya justru terasa semakin jauh darinya? Kenapa semua yang Tetsuya lakukan tidak pernah mendapat hasil maksimal? Dulu Tetsuya berusaha untuk bisa mendapat nilai bagus seperti Shintarou dan Seijuurou, tapi pada akhirnya nilai yang Tetsuya dapatkan tidak pernah jauh-jauh dari nilai standar kelulusan. Dulu Tetsuya pernah mencoba untuk belajar memasak dari Atsushi, tapi pada akhirnya ia hanya bisa membuat masakan standar.
Apa sekarang pun akan sama seperti sebelum-sebelumnya? Apa dalam basket yang sangat ia sukai pun ia tetap tak akan bisa benar-benar menguasainya?
Sekuat tenaga Tetsuya mengingatkan diri untuk tidak meremas surat di tangannya.
Special thanks to: FirlieEzz891, Hoshina Aika, Lutfiah369, Reiran kateshiro, Nia Shintarou, Noir Lumina, TimiyPark, RinRiku, melur0985, Revennon, Stary Alette, imboredignoreme, Dhia484, ELLE HANA, Oto Ichiiyan, Guest, ainkyu, draay, Sayounara Watashi, VT Lian, arudachan, UchiHarunoKid, lydiasyafira, Ai and August 19.
Guest: waah makasih ya buat review dan ucapan selamatnya. Ini udah mulai serius masuk masalah Daiki sedangkan untuk apdet akan kuusahakan sebulan sekali. Silakan dibaca :)
Kejutaan! Dee datang dengan chapter baru dalam rentang waktu sekitar sebulan haha (ketawa bangga). Karena Dee pengen namatin fic ini tahun ini (sampe dijadiin resolusi tahun ini wkwkwk) jadi Dee bakal berusaha untuk apdet tiap bulan. Tungguin yaw hehe.
Thanks for all your support. Makasih udah baca fic ini, udah nge-fav, udah follow, dan segala macem. Love you guys muah(?)
Let me hear your opinion please?
