Kuroko no Basuke hanya milik Fujimaki Tadatoshi seorang.

Cerita ini hanya milik saya seorang.

Warning: AU, Nice & not-so-perfect! Akashi, brotherly love! a lot of it I think, cuteness ahead(?), alur kecepetan, half-assed chapter, OOC, typo, DLDR!

pengingat mulai chapter ini:

Seijuurou = 23 tahun

Shintarou = 20 tahun

Atsushi = 19 tahun

Ryouta = 17 tahun

Daiki = 16 tahun

Tetsuya= 12 tahun

Enjoy!


Chapter 21: Despair


Mendengar hentakan sepatu, Wakamatsu yang baru saja menerima operan dari Imayoshi menoleh kearah pintu gym. Sosok Momoi yang berjalan cepat ke dalam gedung menyapa penglihatannya. Beberapa saat setelah wanita berusia dua puluh tiga tersebut masuk, Wakamatsu masih memerhatikan pintu. Sayangnya ia harus dikecewakan fakta kalau saat itu hanya Momoi yang memasuki gym SMA Touou.

"Akashi mana, Momoi-san?" sebelum Wakamatsu sempat buka mulut, Imayoshi sudah mendahuluinya.

Wanita berambut merah jambu tersebut menoleh. Ia kontan menghentikan aktifitasnya mengambil kumpulan data pemain Touou dan mengalihkan fokusnya pada kapten tim basket SMA Touou tersebut. Mata merah jambu gelapnya beralih ke samping lantas ia menghela napas sesaat sebelum tersenyum lemah dan menggeleng.

Reaksi itu sudah cukup untuk Imayoshi dan Wakamatsu.

Wakamatsu otomatis mendesis tak senang. Sudah berapa kali anak berkulit hitam itu membolos latihan? Tanpa alasan pula? Anak itu kira tim basket ini milik keluarganya hingga ia bisa seenaknya membolos? Kalau ada satu hal yang paling Wakamatsu tidak suka di dunia ini, mungkin adalah orang yang suka bertindak seenaknya. Seperti Akashi Daiki.

Imayoshi, mendeteksi perubahan mood temannya satu itu, langsung menengahi, "jangan kaku begitu, Wakamatsu. Mungkin anak itu sedang jenuh."

Wakamatsu melirik kapten tim basket mereka sembari mencibir. Kenapa pula temannya ini bisa begitu santai?

Memang, Daiki adalah ace tim mereka dan anak itu dijadikan ace bukan tanpa alasan, tapi bukan berarti ia bisa menganggap dirinya begitu hebat lantas bolos latihan, bukan? Bukankah orang jenius sekali pun butuh yang namanya latihan?

"Aku rasa Daiki-kun sedang butuh waktu sendiri jadi kita biarkan dulu saja beberapa saat," timpal Momoi. Wanita itu menyelipkan rambutnya di belakang telinga sebelum mengalihkan perhatiannya pada latihan yang tengah berlangsung dan mulai membagikan tips serta perintah secara personal pada tiap pemain.

Wakamatsu mendesis sekali lagi. Yah, meski ia tak suka, kalau asisten pelatih sudah berkata begitu, ia bisa apa?

Pemuda berambut pirang terang tersebut berusaha untuk kembali fokus pada latihan. Tapi raut tak suka masih tercetak jelas di wajahnya.


Seijuurou menghela napas pelan. Pria berambut merah tersebut menyandarkan punggungnya pada punggung kursi. Begitu punggungnya menyentuh sandaran kursi, persendian tulang belakangnya meronta. Untuk sesaat tubuh Seijuurou berubah kaku, sebelum akhirnya persendiannya berhenti meronta dan ia mulai merilekskan badan.

Sepasang mata merahnya bergerak menutup lantas sebelah tangannya terangkat memijat pangkal hidung. Dua jam duduk diam mengurus pekerjaan tetap saja merupakan hal yang melelahkan. Meski sudah bertahun-tahun melakukannya setiap hari tanpa absen, pria tersebut masih belum terbiasa. Sebaiknya ia istirahat sejenak sebelum melanjutkan pekerjaannya.

Dalam pikirannya, Seijuurou membuka daftar hal yang harus dilakukannya malam itu. Memastikan adik-adiknya sudah di rumah, sudah. Makan malam bersama, sudah. Memastikan adik-adiknya mengerjakan tugas sekolah masing-masing, hmm sudah. Meneruskan pekerjaan, sedang dilakukan.

Bibir Seijuurou mengatup rapat. Apa lagi yang belum ia kerjakan? Sepertinya ia sudah mengerjakan semua yang perlu dikerjakan malam ini, tapi kenapa rasanya ada yang terlupa…

Seijuurou membuka mata, menatap lekat-lekat meja kerjanya yang hampir tak lagi bisa dilihat permukaannya. Begitu banyak barang memenuhi mejanya mulai dari buku bacaan yang ringan hingga berat, dokumen kerja, laptop, ponsel…

Tatapan Seijuurou seketika tertambat pada ponselnya. Ah ya, Seijuurou baru ingat. Ia belum menelepon Shintarou malam ini.

Segera ia ambil ponselnya. Setelah berkutat beberapa saat dengan ponselnya, akhirnya ponsel tersebut ditempelkan ke telinga. Nada sambung monoton memasuki pendengaran Seijuurou tiga kali sebelum akhirnya telepon tersebut diangkat.

"Kukira Kakak tidak akan meneleponku malam ini." Seijuurou yang sudah bersiap melontarkan sapaan standar kembali mengatupkan bibirnya lantas terkekeh.

"Maaf, ada hal yang harus diurus, Kakak jadi lupa kalau belum meneleponmu." Dalam pikirannya, terbayang jelas sosok Shintarou dengan raut kurang senang sedang duduk di depan meja belajar, laptop menyala menampilkan skripsi yang masih cukup jauh dari kata rampung.

Helaan napas panjang terdengar dari seberang sambungan yang kemudian disusul dengan gumamam samar-samar. Seijuurou tersenyum tipis, sudah tahu apa yang akan disampaikan adiknya tepat setelah ini. Adiknya satu ini pasti akan mulai menasihatinya.

"Kakak tahu, Kakak harus lebih santai sedikit." Benar, kan?

"Baik, Dokter Shintarou. Ada lagi yang perlu kulakukan?" sahut Seijuurou, bergurau tentu saja. Tidak ada jawaban dari seberang sambungan dan Seijuurou langsung tahu kalau adiknya tengah kesal padanya. "Iya, aku mengerti. Terima kasih sudah khawatir. Ngomong-ngomong, bagaimana kuliahmu?"

"Belum ada banyak hal yang perlu kulakukan, masih cenderung santai. Mungkin karena baru satu bulan semester baru mulai," jawab Shintarou. Nadanya terdengar sambil lalu. Mungkin sembari mengobrol dengan Seijuurou, anak itu melakukan hal lain.

Seijuurou menggumam paham. "Kau makan cukup di sana? Cukup istirahat?"

"Lihat siapa yang bertanya," Shintarou menjawab sarkastik. "Kakak bagaimana? Cukup tidur, kan?"

Seijuurou menaruh sebelah tangannya di atas laptopnya di meja, menggambar pola-pola imajiner di atas gawai tersebut. "Tentu saja. Tidak perlu khawatir, aku menjaga diri dengan baik."

Seijuurou seratus persen yakin adiknya sama sekali tidak memercayai kata-katanya. Tapi pemuda -atau sekarang sudah bisa disebut pria?—berambut hijau lumut di seberang sambungan memilih untuk tidak mengungkit hal tersebut.

"Bagaimana dengan yang lainnya? Mereka baik-baik saja?"

Di sini Seijuurou terdiam. Telunjuknya yang sebelumnya menarik garis imajiner di atas laptop kini terhenti dan berganti jadi mengetuk-ngetuk permukaan laptop. "Atsushi baik-baik saja. Ia terlihat sangat bersemangat malah akhir-akhir ini. Tempo hari anak itu bilang ia ingin membuka toko kue kalau sudah lulus."

Gumaman memasuki pendengaran Seijuurou. Kata "baguslah" menyusul setelahnya. Seijuurou memejamkan mata. Benar, baguslah. Baguslah akhirnya Atsushi tahu apa yang ingin ia lakukan. Setelah usahanya beberapa tahun terakhir untuk membantu Atsushi fokus pada bidang-bidang yang ia sukai dan kuasai, akhirnya usaha tersebut membuahkan hasil. Diawali dengan masuk sekolah pastri, hingga akhirnya memutuskan untuk membuka toko miliknya sendiri.

"Ryouta dan Daiki juga baik-baik saja. Sekolah mereka sedang bersiap untuk Inter-High jadi mereka sering pulang telat karena latihan," sambung Seijuurou. Dengan nada seakan tengah menerawang, Shintarou terdengar mengatakan "Inter-High ya…".

Seijuurou berani taruhan adiknya itu pasti tengah mengenang masa sekolah menengahnya.

Sekarang sampai ke bagian Tetsuya. Bagaimana sebaiknya memulainya?

"Kak?" panggil Shintarou, memutuskan pikiran Seijuurou. "Kakak baik-baik saja? Bagaimana dengan Tetsuya?"

"Ah, ya…" Seijuurou kembali diam, menimbang-nimbang. "Shintarou."

Shintarou tidak menjawab selama beberapa saat sebelum akhirnya menjawab, "ya?"

"Menurutmu, kenapa seseorang tidak mau menjelaskan sesuatu dengan jujur?" tanya Seijuurou. Berusaha untuk memutar arah pembicaraan sedikit. Ia tengah menjawab pertanyaan Shintarou tadi, hanya saja secara tidak langsung.

"Kak, aku belajar untuk jadi dokter, bukan psikolog…"

Seijuurou tidak menjawab. Pria berambut merah tersebut benar-benar serius bertanya pada Shintarou. Sambungan telepon kembali senyap. Mungkin di Hokkaidou sana Shintarou tengah memikirkan jawaban terbaik yang bisa ia pikirkan.

"Entahlah. Tiap orang punya alasannya sendiri-sendiri. Kenapa? Tetsuya seperti itu?"

Seijuurou mengangguk perlahan. Setelah mengangguk, baru ia ingat kalau Shintarou tidak ada di hadapannya untuk melihat anggukannya. Maka pria berambut merah tersebut buru-buru menambahkan, "Ya… Anak itu kelihatan seperti sedang kesulitan. Tapi ia tidak mau membicarakannya denganku."

"Bukankah itu wajar? Maksudku, setiap anak punya masa di mana mereka lebih suka menyimpan semuanya sendiri."

"Seperti Daiki?"

Shintarou terdiam. "Menurutku 'masa diam' Daiki sudah terlalu lama…"

Seijuurou tersenyum lemah, "kau juga berpikir begitu?"

Shintarou menggumam mengiyakan.

Seijuurou menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. Matanya kembali terpejam erat dan sebelah tangannya terangkat mengacak-acak poni. "tapi aku tidak tahu lagi apa yang sebaiknya kulakukan… Menurutmu, apa yang sebaiknya kulakukan, Shintarou?"

Shintarou diam saja. Reaksinya yang sudah bisa ditebak Seijuurou.

"Kakak… pernah menanyakan alasan ia bersikap begitu?"

Seijuurou berhenti mengacak poninya. "Sudah… minta maaf juga sudah. Tapi ia tidak pernah mau bilang apa-apa tentang itu. Membaik juga tidak."

Mata merah Seijuurou melirik jam dinding. Pria berambut merah tersebut sedikit terkejut melihat Ia sudah menelepon adiknya sepuluh menit lebih lama dari biasanya. Mungkin sebaiknya ia akhiri saja pembicaraan ini, malam sudah larut, Shintarou perlu istirahat. Lagi pula ia juga harus kembali memerhatikan pekerjaannya.

"Aku tidak tahu apa yang harus Kakak lakukan, tapi…" Seijuurou baru hendak membuka mulut ketika Shintarou memotong. Alhasil pria tersebut mengatupkan kembali bibirnya, "tapi aku senang Kakak mau terbuka padaku."

Mendengar kalimat itu Seijuurou mengerutkan alis. "Bukankah selama ini aku selalu terbuka pada kalian?"

Shintarou diam. Seijuurou entah mengapa punya firasat kalau adiknya yang tertua itu tengah tersenyum di Hokkaidou sana. "Intinya aku senang Kakak mau bercerita padaku tentang hal yang mengganggu Kakak dan…"

Seijuurou diam, dengan sabar menunggu lanjutan kata-kata Shintarou.

"… aku rasa Kakak perlu lebih memerhatikan Daiki."


Shintarou menjauhkan ponselnya dari telinga. Selama beberapa saat ia hanya diam menatapi layar ponselnya yang menampilkan layar hijau beserta nomor pribadi Seijuurou sebelum akhirnya berubah merah dan ponselnya kembali menampilkan gambar pemandangan desa Shirakawa di tengah salju.

Pemuda berusia dua puluh tersebut menghela napas panjang. Ia yakin Seijuurou menangkap pesannya, tapi ia tidak yakin Seijuurou sepenuhnya memercayai pesan Shintarou. Mungkin pria tersebut kini tengah kebingungan karena kata-katanya tadi.

Shintarou meminta Seijuurou lebih memerhatikan Daiki bukan tanpa alasan. Beberapa hari yang lalu Ryouta mengirim pesan singkat padanya, menanyakan pertanyaan-pertanyaan aneh. Meski awalnya enggan bercerita, akhirnya Ryouta menceritakan apa yang terjadi, tentangnya, tentang Daiki, tentang keputusan yang ia ambil, dan tentang Daiki yang akhirnya salah paham dan tidak mau mendengarkan Ryouta lagi.

Shintarou sempat terkejut. Jujur saja ia sendiri juga tidak tahu apa yang harus dilakukan. Maka dari itu ia menyuruh Ryouta meminta saran Seijuurou, tapi adiknya satu itu menolak keras. Aku tidak mau merepotkan Kak Seijuuroucchi, katanya. Lagi pula Kak Seijuuroucchi sendiri punya masalah pribadi dengan Daikicchi yang tidak kunjung selesai, katanya.

Shintarou berusaha membantu Ryouta semampunya. Pemuda berambut hijau lumut itu mengatakan pada Ryouta untuk meninggalkan Daiki beberapa saat karena mungkin adik mereka itu butuh waktu sendiri. Tapi ini sudah hampir seminggu dan keadaan Daiki tidak kunjung membaik.

Nah, ini sudah benar-benar di luar lingkup pemahaman Shintarou. Kalau sudah begini, Shintarou sendiri angkat tangan.

Karena itu, Shintarou memberi peringatan pada Seijuurou. Mewanti-wanti Seijuurou adalah hal terakhir yang bisa ia lakukan.

Shintarou meletakkan ponselnya di atas meja belajar. Pandangannya ia alihkan pada jalanan Sapporo yang dipenuhi kelap-kelip lampu jalan. Kenapa di saat keluarganya sepertinya butuh bantuan seperti itu ia justru tidak ada untuk membantu?

Di saat-saat seperti inilah rasa menyesal menendang memasuki pikiran Shintarou. Pemuda itu mulai bertanya-tanya, kenapa dulu ia memilih untuk mengejar gelar dokter di sini dan bukannya di Tokyo saja?

Ah ya, karena kedokteran di Hokkaidou, khususnya Sapporo, dinilai sebagai yang terbaik seantero Jepang, itu dia.

Shintarou menghela napas sekali lagi.

Sejak tujuh tahun lalu, sejak Seijuurou, Ryouta, dan Daiki pulang bersama hari itu dan Daiki kelihatan seperti baru saja menangis, Shintarou selalu merasa Daiki seperti bom waktu yang tengah menunggu waktu yang tepat untuk meledak. Tapi tujuh tahun berlalu dan mereka masih baik-baik saja, jadi Shintarou mengira semua itu hanya perasaannya belaka.

Sayangnya, cerita Ryouta tempo hari membuktikan sebaliknya.

Apa akhirnya Daiki memutuskan untuk meledak sekarang?


Daiki menguap lebar hingga setitik air mata menyembul di sudut matanya. Sebelah tangannya mengusap bagian belakang kepala. Jelas sekali kalau pemuda berkulit hitam itu baru saja menghabiskan seluruh siangnya untuk tidur.

Dengan langkah gontai, ia berjalan menuju gym SMA Touou. Jangan salah paham, ia ke sana bukan karena ia merasa perlu latihan, tapi lebih karena ia tidak tahu lagi harus melakukan apa untuk menghabiskan sore ini. Maka dari itu ia lebih memilih untuk pergi latihan.

"Ossu," sapanya setengah hati pada siapa pun itu yang ada di dalam gym. Semua orang yang ada di dalam gym tersebur terbuyarkan fokusnya dan langsung menatap pemuda tersebut. Tapi pemuda itu seakan tidak ambil pusing, ia langsung berjalan acuh tak acuh menuju bench, meletakkan tasnya, melepaskan dasi, lantas membuka kancing kemeja satu per satu.

"Daiki-kun, letakkan barangmu dengan benar!" seruan feminin khas perempuan memasuki telinga Daiki, membuatnya berdecak kesal. Kenapa perempuan ini selalu mengganggunya?

"Akashi-kun… maaf, kupikir kau sakit, em, maaf, jadi tadi tidak masuk sekolah…" kata Sakurai, seorang teman setimnya yang hobi meminta maaf. Dengan takut-takut pemuda itu mendekati Daiki, mengamati apakah Daiki cukup sehat untuk bisa ikut latihan.

Daiki mendelik ke arahnya seakan dalam diam mengatakan "kau ini bicara apa". Meski sempat mengerut di bawah tatapan Daiki, Sakurai menghela napas lega. Kalau bisa mendelik seperti itu ke arahnya, maka Daiki seratus persen sehat.

"Kau membolos pelajaran?" sahut Momoi dengan nada setengah tidak percaya. Daiki menoleh ke arah perempuan tersebut, perempuan itu sendiri tengah berjalan mengelilingi lapangan, membantu para manajer memunguti handuk bekas pakai yang berserakan.

"Kau bukan ibuku," sahut Daiki ketus. Satu kalimat tersebut dengan tegas menerangkan maksud Daiki. Perempuan bernama Momoi Satsuki itu bukan ibu seorang Akashi Daiki, jadi ia sama sekali tidak berhak menceramahi Daiki mengenai keputusan apa pun yang Daiki ambil.

Momoi terdiam dan Daiki menatapnya puas. Tanpa mengatakan apa pun lebih jauh, perempuan itu menghampiri para manajer dan bersama mereka pergi keluar gym. Daiki mendengus melihat kepergiannya sebelum melanjutkan kegiatannya melepaskan baju.

"Kalian akrab ya," Daiki menoleh. Tiba-tiba saja kapten tim mereka, Imayoshi, sudah berdiri di sampingnya. Senyum menyebalkan terpampang di wajahnya. Daiki kembali mendelik. "Dan Akashi, kau tidak sebaiknya buka baju -walaupun aku tahu kau pakai kaus di balik kemejamu—di depan perempuan, mereka bisa kena serangan jantung melihatmu."

Daiki menahan diri untuk tidak melempari kaptennya dengan kemeja serta blazer. Melihat reaksi Daiki membuat Imayoshi terkekeh puas. Sebelum Daiki sempat melemparinya atau bahkan membalas candaannya, Imayoshi cepat-cepat kabur.

"Oi, Akashi," Daiki kembali mengerang. Siapa lagi sekarang? "Ke mana saja kau selama ini?"

Wakamatsu berdiri tak jauh darinya. Pemuda berambut pirang terang itu berdiri menjulang, seakan menantang Daiki. Tatapannya seakan berkata ia sedang tak ingin main-main.

Setelah Momoi, sekarang muncul lagi satu orang merepotkan lainnya? Kenapa sepertinya orang-orang cerewet seperti ini senang sekali berkumpul di sekeliling Daiki?

Daiki menghentikan kegiatannya melepas buah baju. Mata biru gelapnya ia alihkan ke samping, berpikir. "Ah… ada tes?"

Jawaban Daiki yang setengah hati justru membuat Wakamatsu semakin kesal. Alisnya yang sebelumnya sudah mengerut kini mengerut semakin dalam. Rahangnya mengeras.

"Jangan bohong! Ini bukan musim ujian, lagi pula Sakurai yang sekelas denganmu tetap bisa datang!" seru Wakamatsu. Pemuda satu itu memang terkenal karena ketidakmampuannya menahan diri. Sepasang tinjunya terkepal erat di sisi badan.

Daiki mengerang. "Siapa peduli kalau aku bohong? Aku sudah menyebutkan alasanku, lagi pula kalau kau marah-marah sekarang memangnya masa lalu bisa berubah? Yang sudah lewat ya sudah lewat."

Buah baju terakhir kemejanya akhirnya terbuka. Dengan sedikit malas, Daiki menggerakkan tangannya, menjatuhkan kemejanya lalu meletakkannya asal di atas tumpukan barangnya yang lain. Setengah hati pemuda berkulit hitam tersebut berjalan ke pinggir lapangan dan mulai dengan asal melakukan pemanasan.

Wakamatsu merangsek maju, bersiap adu mulut atau bahkan melayangkan tinju pada teman satu timnya itu. Sayangnya tepat saat itu Imayoshi datang dan menahan bahunya kuat-kuat. Sekuat apa pun Wakamatsu menggerakkan bahunya agar tangan Imayoshi terlepas, usahanya mustahil. Imayoshi mencengkeram bahunya begitu erat.

Wakamatsu menoleh dan memberikan tatapan tajam terbaik yang ia punya, berharap dengan begitu Imayoshi akan melepaskannya. Tapi tatapannya justru dipertemukan dengan senyum aneh nan mencurigakan khas Imayoshi.

"Biarkan saja. Lagi pula Akashi tidak datang latihan beberapa kali pun, ia tetap hebat," kata Imayoshi. Mungkin sebenarnya pemuda itu berniat untuk menenangkan Wakamatsu dengan kata-katanya, tapi efek yang ditimbulkan justru sebaliknya. "Tenanglah, Wakamatsu."

"Tapi meski anak itu sudah hebat, ia tetap perlu latihan!" Wakamatsu memutar tubuhnya. Kini pemuda berambut pirang terang lembut tersebut memfokuskan pehatiannya pada kapten tim basket mereka.

Ketika dirasa Wakamatsu tidak akan mengejar Daiki lagi, Imayoshi melepaskan tangannya. Imayoshi memiringkan kepalanya sedikit. Kedua bahunya terangkat dan masih dengan senyum aneh di wajah, ia berkata "maksudmu ia perlu berlatih untuk menguatkan kerja sama tim?"

Wakamatsu mengalihkan pandangan dan mengangguk.

Imayoshi terkekeh, "Kau harusnya tahu tim kita tidak terlalu bagus dalam hal itu."

"Tapi…" Wakamatsu masih belum bersedia melepaskan Daiki begitu saja tanpa hukuman.

"Biarkan saja." Imayoshi berkata lagi, kali ini dengan sedikit penekanan lebih.

Wakamatsu akhirnya menyerah. Masih dengan alis mengerut dan mata menatap tajam, Wakamatsu berlari kecil kembali ke lapangan. Tepat saat itu Momoi kembali dan mulai meneriakkan menu latihan mereka.

Untuk saat ini Wakamatsu akan mengalah, tapi mungkin lain kali tidak.


Kagami membaca paragraf terakhir dari pesan elektronik yang dikirimkan Ogiwara untuknya sembari menyeka butir keringat yang bermunculan di dahi. Senyum tipis menghias wajah anak berusia dua belas tahun tersebut. Di satu sisi, anak berambut merah api tersebut bersyukur atas pencapaian teman masa kecilnya itu, tapi di sisi lain rasa iri membakar semangatnya untuk berusaha lebih, untuk bisa menyusul Ogiwara musim panas ini.

Ah, ngomong-ngomong soal menyusul Ogiwara…

Kagami menoleh, memerhatikan sisi lain lapangan indoor SMP Teikou yang dibagi untuk latihan tim lapis ketiga. Anak berambut biru langit langsung tertangkap matanya, sejujurnya memang tidak sulit melihatnya karena warna rambut itu begitu mencolok di antara lautan kepala berambut cokelat atau hitam. Anak berambut biru langit itu berlari, seperti yang lainnya, mengitari setengah lapangan sebelum melompat dan menembakkan bola ke ring. Tapi tidak seperti yang lainnya, anak itu terlihat begitu kesusahan mengontrol bola alih-alih memasukkannya ke ring.

Anak itu, Tetsuya, juga sama sepertinya, berniat menyusul Ogiwara, melawannya dalam laga resmi nanti.

Tapi Kagami tidak begitu yakin mereka bisa menyusul Ogiwara tepat waktu. Tes penempatan di Teikou sangat sulit dan setelah berhasil naik ke tingkat satu pun, seorang pemain tidak bisa langsung turun main dalam pertandingan. Persaingan di sini sangat ketat dan itu rasaya nyaris mencekik Kagami.

Lalu ada Tetsuya yang masih tertinggal sedikit di belakangnya.

Kagami mematikan ponselnya dan menjejalkannya di saku celana pendeknya. Entahlah, Kagami tidak yakin. Sebelum tes kenaikan tingkat kemarin Kagami masih yakin mereka berdua akan bisa menyusul Ogiwara tepat waktu. Tapi sekarang… Kagami tidak begitu yakin.

Tidak, lebih tepat jika dikatakan, Kagami yakin dengan kemampuannya. Anak berambut merah api tersebut cukup yakin bisa lolos ke tim lapis pertama sebelum musim panas dan paling tidak menjadi pemain cadangan. Kalau sudah berhasil menjadi pemain cadangan, ada harapan ia diturunkan saat pertandingan, bukan?

Tapi Kagami tidak yakin Tetsuya akan dapat maju bersama dengannya dan ia tidak mau meninggalkan Tetsuya sendirian di belakang. Kagami tidak mau berhadapan dengan Ogiwara sendiri. Ia ingin melakukannya dengan Tetsuya. Jika mereka memang akan bertemu di pertandingan, ia ingin mereka bertiga bertemu tanpa ada yang ditinggalkan. Seperti dulu.

Keinginan yang egois, Kagami tahu itu.

Tapi Kagami tidak tega melihat Tetsuya terseok di belakangnya. Tidak tega setelah melihat ekspresi yang dibuat Tetsuya ketika hasil tes diumumkan tempo hari.

Karena itu, sampai musim panas tiba, Kagami akan berusaha untuk membantu Tetsuya semampunya. Tidak peduli apa yang terjadi, Kagami tidak akan turun main musim panas nanti jika Tetsuya tidak bersamanya.

Kagami menyeka keringatnya sekali lagi. Anak berambut merah api tersebut bangkit, berlari menuju lapangan dan melanjutkan kembali latihan harian sore itu.


Daiki menghela napas berat. Sebelah tangannya terangkat melonggarkan kerah seragam. Dalam hati ia mengutuki matahari yang bersinar begitu terik. Demi Tuhan, ini baru akhir bulan Mei, tapi matahari sudah seterik ini. Begitu teriknya hingga terasa seakan musim panas dipercepat setengah bulan.

Setelah melewati perjalanan yang terasa begitu panjang dari stasiun, Daiki akhirnya melangkahkan kaki di depan rumah. Dengan cepat anak berkulit hitam tersebut membuka pintu dan dengan asal menendang sepatunya lepas. Setelah meletakkannya di dalam rak sepatu, anak tersebut merebahkan tubuhnya di lantai genkan, kedua tangan terentang lebar.

"Panas…" erang Daiki. Sebelah tangannya terangkat mengipasi leher hitam bermandikan keringat.

"Eh, Dai-chin? Sudah pulang?"

Daiki melirik lorong tanpa mengubah posisinya sama sekali. Sesosok pemuda tinggi besar berambut ungu balas meliriknya. Dari melihatnya saja, Daiki tahu kakaknya itu terkejut. Jarum jam baru menunjukkan pukul lima dan Daiki sudah sampai di rumah. Jam kepulangannya terasa janggal jika melihat sebelumnya ia selalu pulang di atas jam tujuh malam.

"Kak Atsushi tidak kuliah?" Daiki mengalihkan pembicaraan dari dirinya dan justru balas bertanya karena aneh juga kakaknya itu sudah pulang hari ini jam segini. Pemuda tersebut membalikkan badannya hingga kini ia terbaring tengkurap di genkan.

Atsushi menggeleng. Rambut ungunya bergoyang seirama gerakan kepalanya. "Dosenku tiba-tiba bilang dia ada urusan, jadi kelas diliburkan."

Daiki menggumam panjang tanda mengerti. Sejenak kesenyapan mengisi atmosfer di antara mereka berdua. Setelah beberapa lama diam, Atsushi akhirnya memutuskan untuk mengakhiri ketenangan tersebut.

"Kenapa Dai-chin sudah pulang? Tidak latihan basket?"

Ah, kenapa kakaknya bersikeras bertanya?

Daiki mengalihkan pandangannya ke samping. Ke mana saja asal bukan ke Atsushi. Dengan suara lirih pemuda berkulit gelap tersebut berkata, "Ah, tidak. Pelatih bilang latihan hari ini diliburkan dulu…"

Akhirnya Daiki berbohong. Seandainya saja kakaknya satu itu tidak terus-terusan bertanya ia, kan, jadi tidak perlu berbohong seperti ini. Tunggu, kenapa ia bohong? Ah iya, ia tidak mau orang rumah tahu masalahnya. Toh, mereka juga tidak akan mengerti.

Atsushi terdiam. Daiki meliriknya dari ujung mata. Kenapa Atsushi tidak bereaksi sama sekali? Mengangguk tidak, menggumam pun tidak…

Apa Atsushi tahu ia berbohong? Seharusnya tidak, Atsushi tidak sepandai itu dalam mendeteksi kebohongan. Lagi pula pemuda berambut ungu itu tidak pernah benar-benar peduli pada gestur-gestur kecil yang dilakukan lawan bicaranya…

"Hmm, begitu?" ketika Atsushi memberikan respon tersebut, Daiki mengembuskan napas yang tanpa sadar ia tahan sejak tadi. "Dai-chin mau es krim? Kelihatannya Dai-chin kepanasan…"

Daiki mengangguk. Buru-buru pemuda itu bangkit, memungut tasnya, dan berjalan mengikuti Atsushi hingga ke dapur.


Seijuurou menunduk, memasang sepatu pantofelnya. Setelah diketukkan pada lantai beberapa kali untuk memastikan sepatu hitam mengilat itu terpasang dengan benar, pria berambut merah tersebut membalikkan badan. Senyum lembut mengiringi gerakan tangannya menerima kotak bekal dari Atsushi.

"Jangan lupa makan siang, Kak," kata Atsushi ketika si sulung tengah menyisipkan kotak bekal tersebut ke dalam tas. Wajah pemuda berambut ungu tersebut mengerut, terlihat tak suka dengan arti kata-kata yang ia lontarkan sendiri.

Ketika tasnya menutup menghasilkan bunyi 'klik' halus, Seijuurou mengangkat wajahnya. Pria berusia dua puluh tiga tahun tersebut terlihat seperti tengah menahan kekehan geli.

"Sadar, tidak, kalau Atsushi tengah bertingkah sepertiku tujuh tahun lalu?" tanya Seijuurou tanpa mengiyakan mau pun menolak kata-kata Atsushi sebelumnya. Atsushi merengut tapi tidak membalas pertanyaan Seijuurou. Sepertinya pemuda tersebut menyadari kalau kata-kata Seijuurou ada benarnya sehingga ia tak dapat bicara banyak.

Dalam hati, pria berambut merah tersebut sebenarnya sangat ingin mengangkat tangan dan mengelus puncak kepalanya, tapi pria tersebut sadar kalau adiknya satu itu memiliki tinggi jauh melebihinya. Tidak mungkin Seijuurou bisa mencapai puncak kepalanya tanpa berjinjit.

"Baiklah, kalau begitu aku berangkat dulu."

Seijuurou baru membalikkan badan dan menjangkau kenop pintu ketika suara Atsushi terdengar samar di telinganya. "Kak…"

"Ya?" Seijuurou mengurungkan niatan untuk memutar kenop dan membukanya. Pria tersebut menoleh.

"Aku merasa Da-chin perlu perhatian lebih…"

Mata merah Seijuurou melebar. Sebelah tangannya yang sebelumnya menempel di kenop pintu, terlepas.

Sudah dua orang adiknya yang memperingatkannya soal Daiki. Salah satunya bahkan biasa dilabeli sebagai orang yang paling tidak perhatian di rumah. Kalau bahkan sampai Atsushi mengatakan ia perlu lebih memperhatikan Daiki, maka sudah bisa dipastikan Daiki memang perlu perhatian lebih.

Seijuurou terpekur. Bingung harus bagaimana membalas kata-kata Atsushi.


Seijuurou tidak pernah bermaksud untuk menyisihkan Daiki, sungguh.

Seijuurou berusaha, benar-benar berusaha, untuk bisa mendekatkan diri dengan Daiki. Sejujurnya, Seijuurou bahkan tidak pernah benar-benar mengerti kenapa Daiki menjauh. Dulu anak berambut biru tua tersebut senang bersamanya, sering bermanja-manja padanya bahkan tidak segan meminta kontak fisik.

Setelah dipikir lagi, Seijuurou berpikir mungkin awal mula semua ini adalah ketika Seijuurou melanggar janjinya untuk datang menonton pertunjukan Daiki tujuh tahun lalu. Pria berambut merah tersebut sudah berjanji akan datang, tapi pada akhirnya karena pertunjukan Daiki berbarengan dengan pertunjukan Ryouta.

Tapi Seijuurou punya alasan sendiri kenapa ia lebih memilih untuk menghadiri pertunjukan Ryouta. Seandainya saja Daiki bersedia mendengarkannya…

Sayangnya anak berkulit gelap tersebut tidak sudi mendengarkan apa pun yang ingin Seijuurou katakan. Sejak itu ia tidak mau berlama-lama bertukar kata dengan Seijuurou. Tidak ada lagi bermanja-manja dengan Seijuurou, tidak ada lagi kontak fisik jika tidak terpaksa.

Pada awalnya Seijuurou berpikir mungkin Daiki hanya butuh waktu sendiri dan jika sudah dibiarkan beberapa lama anak itu akan kembali jadi dirinya sendiri. Tapi sudah tujuh tahun, dan anak itu tidak kunjung membaik.

Seijuurou sudah tidak tahu lagi apa yang sebaiknya ia lakukan. Untuk pertama kalinya pria berambut merah tersebut mati langkah.

Lalu sekarang Shintarou dan Atsushi memperingatinya soal Daiki. Kemungkinan besar Daiki sedang ada masalah di sekolahnya dan entah siapa yang memberitahu mereka soal itu. Tapi kalau Seijuurou tahu pun, apa yang bisa Seijuurou lakukan?

Tidak, lebih tepat jika dikatakan apakah Daiki akan membiarkannya membantu? Apa Daiki bahkan akan sudi memberitahu Seijuurou?

Seijuurou sama sekali tidak yakin.

Jangan salah sangka, Seijuurou ingin sekali membantu adik-adiknya, tanpa terkecuali. Tapi pertama ia perlu tahu masalahnya dan melihat sifat Daiki yang begitu tertutup, Seijuurou tidak yakin ia akan bisa mendapatkan jawaban. Bertanya ke sana ke mari juga pasti tidak akan membuahkan hasil mengingat Daiki juga pasti tak akan menceritakan masalahnya pada teman-temannya.

Berbeda dengan kasus Shintarou dulu, sekarang Seijuurou bahkan tak bisa menebak sama sekali apa sekiranya yang menjadi masalah Daiki.

Kalau ia bertanya pada Daiki, bagaimana ia harus memulai? Apa pertama-tama ia harus berkata "Daiki, apa kabar? Bisa ceritakan masalahmu?" begitu? Bukankah akan terasa canggung?

Seijuurou menghela napas. Sebelah tangannya bergerak mengusap wajah.

"Kau baik-baik saja, Akashi?"

Dengan kecepatan yang mungkin mampu mematahkan leher, Seijuurou mengangkat kepalanya. Mata merah pria tersebut menangkap sosok asisten pribadi sementaranya tengah menatapnya dengan pandangan penuh tanda tanya. Mungkin untuk memastikan, pria berambut hitam tersebut mencondongkan badannya sedikit ke arah Seijuurou.

"Ah, ya…"

Melihat atasannya merespon, pria tersebut, Nijimura, menegakkan badannya kembali dan menghela napas lega. "Jadi, kenapa memanggilku?"

Seijuurou berkedip beberapa kali. Perlahan tapi pasti sepasang alisnya mengerut dan mulai bertemu di tengah, berusaha mengingat-ngingat. "Ah, aku hanya ingin memberitahu kalau kau bisa menghapus jadwal pertemuan besok dengan pimpinan perusahaan mitra kita."

Sekarang ganti Nijimura yang mengerutkan alis dalam. Pria berambut hitam itu tidak mengerti sama sekali kenapa tiba-tiba pimpinannya menyuruhnya menghapus pertemuan penting itu dari jadwal. Pria tersebut diam, menunggu Seijuurou memberikan penjelasan lebih tapi atasannya itu tidak bicara lebih lanjut.

Nijimura menatap mata Seijuurou lekat. Pria berambut merah tersebut hanya tersenyum lantas berkata, "lakukan saja, Nijimura-san. Ah, dan kau tidak perlu repot-repot menghubungi mereka karena mereka yang akan membatalkan."

Akan? Berarti mereka belum membatalkan? Pikir Nijimura.

Nijimura menghela napas panjang, mengalah meski ia masih tidak bisa memahami maksud dari perintah yang diturunkan Seijuurou. Kalau memang mau membatalkan janji pertemuan, bukankah harusnya menghubungi pihak yang rencananya akan ditemui? Lagi pula, bukankah seharusnya Seijuurou mengutarakan alasan di balik perintahnya?

Pria berambut hitam tersebut mengeluarkan buku catatannya dari dalam saku jas lantas mencoret sebaris kalimat dari sana.

"Ada lagi, Yang Mulia?" tanya Nijimura. Sebelah tangannya bergerak memasukkan kembali buku catatan tersebut ke dalam saku.

Seijuurou memasang seulas senyum puas. Dengan santai ia menggeleng, "terima kasih banyak, Nijimura-san."

"Baiklah kalau begitu. Aku mau pergi makan siang dulu. Mau titip sesuatu, Akashi?" tanya Nijimura. Nada pria itu terdengar begitu monoton, hampir menyerupai mesin penjawab telepon karena sudah begitu seringnya melafalkan pertanyaan tersebut untuk Seijuurou.

Sekali lagi, Seijuurou menggeleng.

Melihat respon atasannya, Nijimura menatap Seijuurou dengan mata disipitkan. Tapi tak lama kemudian pria itu menyerah, mengangkat bahu lantas berbalik dan meninggalkan ruangan Seijuurou.


"Untuk tes penempatan bulan Juni, tidak ada yang lolos ke tingkat dua," mata biru langit Tetsuya melebar, "aku ingin kalian introspeksi diri. Itu saja."

Seluruh anggota tim lapis ketiga terdiam di tempat. Untuk beberapa saat, tidak ada yang mau bergerak dari posisi masing-masing. Sepertinya masih terlalu terkejut untuk dapat membubarkan diri. Terlebih Tetsuya. Berkali-kali ia menelan ludah.

Tidak apa, masih ada tahun depan. Tidak, masih ada Winter Cup. Bukankah tidak ada yang mengatakan kalau janji mereka harus ditepati di Inter-High tahun ini? Kesempatan masih terbuka lebar. Tetsuya masih punya kesempatan untuk mengejar Ogiwara dan Kagami.

Ah, setelah sampai di rumah nanti, ia harus mengirim pesan pada Ogiwara. Memberitahu temannya kalau ia tak bisa menepati janji mereka di Inter-High tahun ini sekaligus meminta maaf karena harus mengundur janji.

Akhirnya Tetsuya menemukan kekuatan untuk menggerakkan kaki lagi. Anak berambut biru langit tersebut membalikkan badan dan mulai melangkah ke pinggir lapangan.

Tapi sebelum ia sampai di pinggir lapangan, sebuah tangan menepuk bahunya. Tetsuya menoleh dan mendapati sosok pelatihnya tengah menatapnya. "Akashi, ke sini sebentar."

Tetsuya menjauh dari kerumunan anak-anak di pinggir lapangan. Ia mengikuti Matsuoka menuju sisi lain lapangan yang sepi. Begitu sampai di sisi lapangan yang sekiranya cukup jauh dari anak lain hingga mereka tak akan bisa mendengar apa pun itu yang akan dikatakan Matsuoka, pelatih tim lapis ketiga tersebut buka suara.

"Aku akan mengatakannya langsung padamu," Matsuoka memulai dengan wajah serius hingga Tetsuya harus menahan diri untuk bergerak-gerak gelisah di hadapannya, "klub kita mustahil untukmu."

"Eh" merupakan satu-satunya kata yang dapat keluar dari mulut Tetsuya.

Tapi Matsuoka tidak mendengarkan, menolak untuk melihat ekspresi penuh horor Tetsuya. "Aku tahu kau sudah berusaha keras hingga sekarang. Tapi kemampuanmu sama sekali tidak bertambah."

Tetsuya terdiam. Dua kali menerima kabar mengejutkan seperti ini ternyata sangat sulit. Anak berambut biru langit tersebut perlu usaha keras untuk menetralkan emosinya.

Barulah pada saat itu ekspresi Matsuoka yang sebelumnya serius, melunak. "Ini bukan perintah. Keputusan ada di tanganmu. Tapi kau harus tahu kalau hampir mustahil bagimu untuk turun di pertandingan."

Alis Tetsuya mengerut dalam. Tetsuya tidak tahu lagi harus merasakan apa sekarang. Marah karena Matsuoka sudah dengan tega mengatakan itu? Sedih karena kata-kata Matsuoka mungkin ada benarnya? Tetsuya tidak tahu lagi… benar-benar tidak tahu lagi…

Tetsuya tidak benar-benar bisa berpikir setelahnya. Pikirannya sangat kacau kala itu. Kesadaran anak berambut biru langit tersebut terasa seperti dipotong-potong setelah Matsuoka mencecokinya dengan kenyataan pahit.

Tetsuya sadar kalau setelah itu Kagami berlari ke arahnya, merangkul bahunya, dan berkata dengan begitu gembira kalau ia akhirnya lolos ke tim lapis pertama. Tapi Tetsuya tidak tahu apakah ia berhasil mengucapkan selamat pada Kagami dengan benar. Otak dan tubuhnya benar-benar sedang tidak sinkron.

Sakit rasanya harus mendapat kabar kalau Kagami berhasil lolos ke tingkat pertama, hanya tinggal sejengkal lagi dari menyusul Ogiwara di saat ia baru saja diberitahu kalau hampir mustahil -atau mungkin memang mustahil?—baginya untuk dapat menggapai mimpi sederhana mereka.

Sakit, tapi Tetsuya tidak bisa menangis.


Tetsuya menghentikan langkah. Mata biru langit anak tersebut melebar sedikit, terkejut. Di hadapannya, di trotoar di salah satu sudut Tokyo yang mengarah ke rumah mereka, berdiri Daiki masih dengan seragam sekolah lengkap dan tas yang disandang di satu bahu. Pemuda berkulit hitam tersebut menghadap Tetsuya dan dengan santai ia mengangkat sebelah tangan. Sebuah cengiran lebar terpampang di wajah.

"Yo, Tetsu."

Cengiran lebarnya bukan cengiran yang biasa ia tunjukkan.

Tetsuya tak membalas sapaan kakaknya. Anak itu justru sibuk meneliti Daiki dari ujung kepala hingga ujung kaki. Kakaknya satu itu terlihat sedang mengantuk, tidak, lebih tepat jika dikatakan seperti baru bangun tidur, padahal ini baru pukul setengah sembilan malam. Mata biru langit Tetsuya beralih ke pelipis dan leher kakaknya dan anak itu sama sekali tak menemukan ada bulir keringat atau bekas-bekas keringat di sana. Tanda-tanda kalau ia lelah juga tidak tampak sama sekali.

Aneh. Aneh sekali. Kenapa kakaknya ada di sini jam segini? Bukankah biasanya kakaknya masih latihan basket? Mengingat Inter-High sudah dekat, tidak mungkin tim basket SMA-nya bersantai ria. Tempo hari ia selalu pulang sekitar jam sembilan malam jadi kenapa sekarang ia sudah berkeliaran di jalanan kota Tokyo?

"Ada yang salah, Tetsu?" tanya Daiki. Sebelah tangannya yang tadi terangkat untuk menyapa Tetsuya, kini diturunkan sedikit. Ia terlihat kikuk di bawah pengawasan Tetsuya.

Tersadar dari lamunannya, Tetsuya berkedip beberapa kali.

"Ah tidak. Kakak baru pulang latihan?" tanya Tetsuya, membuka topik untuk diobrolkan. Anak berambut biru langit tersebut kembali berjalan hingga ia sejajar dengan Daiki. Kedua kakak-beradik tersebut berjalan beriringan menuju rumah.

Tetsuya melirik Daiki dari sudut matanya dan anak itu mendapati kakaknya tengah membuang muka, ke mana pun asal sosoknya tak terlihat oleh sang adik. Tetsuya mencatat perilaku ini. Terdapat jeda beberapa saat sebelum akhirnya Daiki membuka mulut.

"Ya, begitulah."

Daiki bohong. Tetsuya tahu.

Tetsuya menggumamkan "begitu" dengan lirih. Daiki diam. Suara mobil yang berlalu-lalang di samping mereka serta suara sepatu mereka bergesekan dengan aspal mengisi sepinya perjalanan mereka.

"Baru pulang latihan, Tetsu?" tanya Daiki, basa-basi. Kali ini pemuda berkulit hitam tersebut memasukkan tangannya dalam saku dan menolehkan kepalanya ke arah sang adik.

Tetsuya mengangguk.

"Malam sekali…" gumam Daiki.

"Sebenarnya latihannya sudah selesai sejak jam tujuh. Tapi aku dan Kagami-kun berinisiatif untuk latihan lebih," terang Tetsuya. Daiki di sampingnya mengangkat alisnya tinggi-tinggi dan mengangguk-angguk mengerti.

"Kenapa berlatih sampai seperti itu?" tanya Daiki.

"Aku dan Kagami-kun ingin masuk tim lapis pertama sebelum Inter-High berlangsung. Kami sudah janji dengan Ogiwara-kun untuk bertemu di sana jadi sebelum itu kami harus jadi pemain reguler di tim lapis pertama."

"Oh, begitu…" respon Daiki. Entah hanya perasaan Tetsuya saja atau memang nyata, Daiki terlihat sedikit sedih saat mendengar alasannya berusaha begitu keras. Tapi ekspresi itu menghilang secepat kilat, tanpa bekas. "Aku yakin kalian akan berhasil."

Daiki mengangkat sebelah tangannya dan mengacak-acak rambut Tetsuya. Senyum lebar terpasang di wajahnya. Tetsuya menepis tangan hitam kakaknya sedangkan sang kakak tertawa melihat kelakuan sang adik. "Terima kasih."

Tetsuya ingin menganggap hal yang baru saja terjadi sebagai sesuatu yang berasal dari imajinasinya saja, tapi rasanya sulit sekali. Intuisi Tetsuya mengatakan ada yang salah dengan kakaknya meski ia tidak tahu apa itu dan kenapa.

"Bagaimana latihan basketnya?" tanya Tetsuya, mencoba membuka celah agar apa yang Daiki benar-benar rasakan dapat terlihat. Anak itu menoleh ke arah Daiki dan mendapati mata kakaknya melebar sesaat.

"Ah, berjalan seperti biasa…"

"Pelatih Kakak ada urusan penting ya hingga latihannya sudah dibubarkan?" sambung Tetsuya.

Daiki diam sesaat. "Ya…"

Tetsuya mungkin tidak sepandai Seijuurou dalam membaca orang lain, ia juga tidak sepeka Ryouta. Tapi satu hal yang Tetsuya tahu pasti adalah Daiki baru saja berbohong padanya dan dilihat dari reaksinya, mungkin ada hubungannya dengan basket.


"Kau harus hentikan itu."

Seijuurou mengangkat kepalanya. Alisnya terangkat tinggi. Setelah menelan makanan yang ada di mulutnya, pria berambut merah tersebut bertanya, "Maksud Nijimura-san menghentikan apa? Makan?"

Nijimura menatap Seijuurou dari sisi lain meja kerjanya. Pria berambut hitam tersebut entah sejak kapan menghentikan kegiatan makannya dan menatap Seijuurou dengan tatapan lelah. Seijuurou sendiri masih menunggu Nijimura menjelaskan maksud kata-katanya yang tiba-tiba itu.

"Menyuruh orang melakukan sesuatu tanpa menjelaskan maksudmu," jelas Nijimura. Tangan pria tersebut bergerak menyumpit ramen instan yang belum lama ia seduh. Kini gantian Seijuurou yang menghentikan kegiatan makannya. Pria tersebut meletakkan kembali tomat ceri yang sebelumnya hendak ia masukkan mulut.

Kepala berambut merah milik si sulung Akashi dimiringkan sedikit. Ia masih belum benar-benar menangkap maksud kata-kata Nijimura. Lagi pula, kenapa Nijimura tiba-tiba bicara dengan teki-teki seperti perempuan segala?

"Kemarin kau tidak menjelaskan maksudmu saat kau menyuruhku mencoret pertemuan dengan pimpinan perusahaan mitra kita dari jadwal. Baru tadi pagi aku mengerti kenapa kau menyuruhku melakukannya."

Kata "ah" pelan keluar dari mulut Seijuurou. Jadi itu yang dimaksud Nijimura. Aish, kenapa tidak dikatakan langsung saja sejak awal?

Yah, kemarin Seijuurou tidak mengatakan alasannya pada Nijimura karena berpikir pada akhirnya pria itu akan tahu juga. Pria berambut merah tersebut tahu kalau paling tidak, pagi ini perusahaan mitra mereka akan membatalkan janji bertemu. Dari mana Seijuurou tahu? Pamannya memberi tahu Seijuurou kalau pimpinan perusahaan mitra mereka memiliki urusan pribadi mendadak yang tidak bisa diganggu gugat. Sesuatu tentang anggota keluarga yang meninggal atau semacamnya dan karena pimpinan perusahaan mitra mereka itu adalah orang yang sangat menyayangi keluarga, jadilh ia mengosongkan jadwalnya satu hari penuh untuk itu. Ya sebenarnya Seijuurou tidak terlalu ambil pusing juga.

Seijuurou bergerak menjepit kembali tomat ceri yang tadi ia letakkan. "Tapi Nijimura-san akhirnya tahu juga, kan? Jadi bukankah tidak apa-apa meski pun aku tidak menjelaskan maksudku?"

Nijimura merengut. Pria berambut hitam itu batal memasukkan ramen ke mulutnya. Ia meletakkan sumpitnya dengan dengan sebal menjelaskan, "dengar ya, Akashi. Tidak semua orang senang dan bersedia disuruh melakukan sesuatu tanpa tahu apa yang mereka lakukan. Dan kau sering sekali melakukan itu"

Seijuurou buka mulut tapi cepat menutupnya kembali ketika dilihatnya Nijimura belum selesai mengomel.

"Bagaimana bisa orang percaya padamu kalau menjelaskan seperti itu saja pada mereka kau tak mau?"

"Bukannya aku tidak mau, Nijimura-san," Seijuurou, meniru gerakan Nijimura sebelumnya, meletakkan sumpitnya. "Hanya saja kupikir mereka akan mengerti nantinya."

Nijimura menarik napas panjang. Mulutnya terlihat bergerak-gerak tapi tak benar-benar bersuara. Mungkin pria itu tengah mengutuki Seijuurou. Seijuurou tersenyum melihat kelakuan seniornya. Pria berusia dua puluh tiga tahun tersebut sadar maksud baik Nijimura tapi ia merasa ia tak perlu mengubah cara kerjanya selama ini.

Tapi kata-kata Nijimura selanjutny berhasil membuat Seijuurou terdiam.

"Tapi tidak semua orang akan mengerti pada akhirnya, Akashi."


Sakurai memandangi kursi kosong di bagian depan barisannya dengan tatapan yang merupakan campuran antara pandangan bersalah dan cemas. Ia merasa bersalah karena tidak tahu keberadaan si pemilik kursi sama sekali dan merasa cemas karena ini sudah kelima kalinya minggu ini pemilik kursi itu bolos jam pertama pelajaran.

Wali kelas mereka, yang merupakan lelaki paruh baya berambut hitam berkacamata, berdiri di podium depan kelas sembari mengacak-acak rambutnya frustrasi. Sebelah tangannya memegang buku berisikan nama-nama anak asuhnya. Tanda silang merah berbaris rapi di samping salah satu nama anak asuhnya.

"Tidak ada yang tahu ke mana Akashi pergi?" tanya pria tersebut. Ia mengangkat kepalanya dan memindai isi seluruh kelas dengan matanya. Sesaat kemudian mata hitam pria tersebut terpaku pada Sakurai yang tengah mengerut di mejanya sendiri.

Merasakan tatapan tajam sang wali kelas, Sakurai menggeleng lemah. Pemuda itu benar-benar takut dimarahi hingga ia tak bisa memercayai mulutnya untuk bersuara.

"Kalau anak itu tidak mengubah kelakuannya, Bapak akan memanggil keluarganya. Lihat saja," gerutu sang wali kelas, lebih pada dirinya sendiri. Pria itu menutup buku absen dengan satu tangan sebelum berlalu dari ruangan tersebut karena jam wali kelas baru saja berakhir.

Sakurai kontan menghela napas lega. Wali kelasnya memang benar-benar menyeramkan kalau sudah marah. Tapi wajar kalau ia marah. Apa yang dilakukan Daiki sudah keterlaluan. Lima kali itu baru jumlah ia membolos jam pertama, belum terhitung jumlah ia absen di jam pelajaran yang lain.

Meski satu klub dengan anak berkulit hitam tersebut, Sakurai sama sekali tidak mengerti jalan pikirannya. Sering membolos pelajaran, nilai pas-pasan bahkan sering merah, dan akhir-akhir ini di klub juga ia tidak menunjukkan ketertarikan sama sekali.

Sebenarnya apa maunya anak ini?

Sakurai menjulurkan tangan ke kolong meja, meraba-raba. Sesaat kemudian ia menarik keluar ponselnya dan dengan cepat ia menuliskan sebaris pesan.

Akashi-kun di mana? Jam pelajaran sudah dimulai…

Maaf aku terlalu ikut campur urusan Akashi-kun…

Dengan satu helaan napas, ibu jari Sakurai menekan send.


Bagaimana sebaiknya memulai percakapan dengan Daiki? Katakan apa kabar? Tunggu, memangnya mereka teman yang sudah beberapa lama tidak berjumpa? Ah, mungkin menanyakan sekolahnya dulu lebih baik. Tapi lalu bagaimana? Apa Seijuurou harus langsung ke inti percakapan? Bukankah akan terasa aneh?

Dengan gelisah, mata Seijuurou melirik jam dinding. Jarum pendek jam tersebut menunjuk angka delapan sedangkan jarum panjangnya menunjuk angka dua. Kira-kira Seijuurou masih punya waktu lima puluh menit lagi sebelum Daiki membuka pintu depan rumah.

"Kakak kelihatan gelisah," ujar Atsushi. Seijuurou menoleh cepat. Entah sejak kapan anak berambut ungu tersebut sudah duduk di sampingnya.

"Ah, kelihatan ya?" tanya Seijuurou yang kemudian dibalas dengan anggukan singkat oleh Atsushi. Seijuurou mengubah posisi duduknya hingga ia menghadap Atsushi. Tanpa diminta, ia menjelaskan, "Kakak hanya ingin mengajak Daiki bicara tapi bingung bagaimana harus memulai."

Gumaman "ah" pelan menelusup keluar dari bibir Atsushi.

"Ya, tinggal ajak bicara saja, kan," kata Atsushi sambil lalu. Pemuda berambut ungu tersebut menjangkau kotak biskuit yang tegeletak di atas meja kopi di hadapan mereka dan mengambil isinya satu.

Seijuurou tersenyum lemah ke arah adiknya satu itu. Seandainya saja bisa semudah itu…

"Kenapa harus basa-basi? Dai-chin juga bukan orang yang suka basa-basi, kan."

Ya, Atsushi benar. Daiki bukan orang yang suka basa-basi jadi kenapa ia mempersulit diri sendiri dengan ini?

"Atsushi benar," Seijuurou menyuarakan isi pikirannya lantas mengusap bahu adiknya satu itu. Sang adik mengangkat bahu sejenak sebelum kembali mengambil satu potong biskuit dari kotaknya.

Sekarang tinggal menunggu anak itu pulang, makan malam, lalu Seijuurou akan mengajaknya bicara.

Seijuurou melirik jam sekali lagi. Baru lima menit berlalu sejak terakhir kali ia melihat jam. Empat puluh lima menit lagi. Lama sekali…

"Tenanglah, Kak. Sebentar lagi Dai-chin pasti sampai di rumah," Atsushi tiba-tiba buka suara. Kalimatnya mengundang tanya di benak Seijuurou. Apa maksud Atsushi? Daiki seharusnya pulang paling cepat empat puluh lima menit lagi. Paling cepat.

Belum sempat Seijuurou membuka mulut untuk bertanya, pintu depan rumah mereka terbuka dan sesaat kemudian terdengar suara berat khas Daiki menyerukan "aku pulang" dari arah sana. Alis Seijuurou mengerut. Daiki sudah pulang? Jam segini? Di saat mereka seharusnya berlatih ekstra untuk Inter-High?

Seijuurou menatap Atsushi dengan pandangan serius. "Dari kalimatmu tadi, Kakak rasa ini bukan pertama kalinya Daiki pulang lebih cepat?"

"Memang. Dai-chin bahkan pernah pulang lebih cepat dari ini," jawab Atsushi sambil lalu. Fokusnya tidak tertambat pada Seijuurou tetapi pada chocochip yang ada di biskuitnya. Anak itu sedikit menggerutu ketika melihat chocochip di biskuitnya sangat sedikit.

Oke, sesuatu memang salah di sini.


Daiki kesal. Hal yang sama lagi-lagi terjadi. Kali ini ada yang membicarakannya di belakang karena ia sudah beberapa kali tidak ikut latihan dan mereka sepertinya kesal karena melihat Daiki muncul hari ini.

Ketika Daiki rajin berlatih lalu kemampuannya meningkat, mereka bilang Daiki monster. Lalu sekarang saat Daiki malas latihan, mereka bilang Daiki berkepala besar. Mereka bilang Daiki merasa sudah begitu kuat hingga bisa sesuka hati muncul untuk latihan.

Sebenarnya apa mau mereka? Mereka pikir Daiki tidak bisa dengar kata-kata mereka?

Mereka risih karena melihat perkembangan Daiki jika Daiki berlatih keras. Tapi saat Daiki malas latihan mereka masih tidak mau menghargainya dan justru menyalahkannya? Mengatakan kalau Daiki besar kepala dan semacamnya?

Daiki mengerang kesal. Sebelah tangannya ia gunakan untuk menutupi mata.

Persetan dengan mereka semua. Kalau mereka memang tidak mau menghargai apa pun yang dilakukan Daiki, ya sudah, Daiki akan benar-benar berbuat sesuka hati. Kalau perlu datang latihan cukup dua minggu sekali saja. Persetan dengan apa yang akan dikatakan Wakamatsu yang cerewet itu, pokoknya Daiki tidak akan mau datang sering-sering lagi.

Daiki menyingkirkan tangannya dari atas mata dan dengan gontai merentangkannya.

Pintu diketuk dua kali. Daiki menoleh. Benak pemuda tersebut bertanya-tanya, siapa yang sekiranya bertamu ke kamarnya? Ryouta? Tapi seharusnya kakaknya itu belum pulang.

Sembari mengubah posisinya yang sebelumnya rebahan di atas kasur menjadi duduk, Daiki menjawab, "masuk."

Pintu kamar Daiki membuka dan tampaklah sosok Seijuurou berdiri di baliknya dengan tangan memegang kenop. Kontan Daiki mengalihkan pandangannya dari mulut pintu. Satu kata "ah" menyusup dari bibir Daiki. Ekspresi anak berkulit hitam tersebut menggelap.

Entah kenapa kalau melihat Seijuurou mendatanginya secara pribadi seperti ini, Daiki langsung merasa kakak sulungnya itu akan menceramahinya tentang sesuatu. Dan mungkin memang benar pria itu datang untuk menceramahinya. Mungkin wali kelasnya yang kolot itu sudah melapor pada Seijuurou perihal dirinya yang sering membolos pelajaran.

"Ada apa?"

Seijuurou menutup pintu lantas mendekati tempat tidur, tempat Daiki berada. "Daiki ada waktu?"

Daiki tidak menjawab.

Seijuurou bergerak mengambil posisi di sebelahnya. Cukup dekat dengan adiknya tapi cukup jauh agar tak membuat Daiki merasa ruang pribadinya terinvasi.

"Bagaimana sekolah?" tanya Seijuurou dan Daiki tahu pertanyaan itu hanya sekadar basa-basi belaka. Hal yang benar-benar ingin Seijuurou tahu bukanlah ini.

"Biasa saja."

Jujur, Daiki tidak benar-benar menaruh dendam pada Seijuurou karena janji yang dilanggarnya bertahun-tahun lalu. Hanya saja luka yang Seijuurou torehkan di hati Daiki begitu dalam hingga rasanya luka itu tak pernah benar-benar mengering. Daiki tak benar-benar bisa mendeskripsikan perasaannya, tapi yang pasti ia masih enggan dekat-dekat dengan Seijuurou.

Kini Seijuurou diam. Mata merahnya menatap sosok Daiki dalam. Seakan tengah mencari-cari sesuatu darinya. Daiki, yang sedikit merasa risih dipandangi seperti itu, berusaha keras terus mengalihkan pandangannya ke arah lain, ke jam dinding, ke bola basket yang tergeletak di dekat kakinya, ke poster atlet basket hingga pemusik yang tertempel di dinding kamarnya, ke mana saja asalkan bukan ke Seijuurou.

Sekuat tenaga, Daiki menjaga ekspresinya agar tetap datar. Sekuat tenaga pemuda itu berusaha agar isi hatinya sedikit pun tak terlihat.

"Bagaimana dengan klubnya? Kalian sedang latihan untuk Inter-High, kan?" tanya Seijuurou lagi. Dari sudut mata, Daiki bisa melihat kakak sulungnya menyatukan jemarinya di atas paha. Sebuah tanda kalau Seijuurou gelisah.

"Ya. Kegiatan klubku lancar," jawab Daiki acuh tak acuh.

"Apa…" Seijuurou meragu sesaat, "apa Daiki ada masalah di sekolah?"

Daiki diam sejenak. "… Tidak."

Tanpa dikatakan pun, Daiki tahu kalau ia sekarang sudah menyulitkan kakaknya. Daiki juga tahu kalau kakaknya menyadari perubahan tingkah lakunya dan hanya ingin membantu. Tapi Daiki tidak ingin memberitahukan masalahnya padanya karena… karena apa peduli Seijuurou?

"Daiki," panggil Seijuurou akhirnya dengan suara tegas tapi di saat yang sama juga lembut. Nada yang Daiki kenal betul. Itu adalah nada yang biasa digunakan Seijuurou ketika Ia ingin menegaskan sesuatu pada adik-adiknya tanpa terkesan terlalu keras. "Mungkin Daiki tidak mau menceritakan masalah Daiki pada Kakak sekarang. Tapi seandainya Daiki ingin bercerita, Kakak ingin Daiki tahu kalau Kakak ada di sini, mengerti? Jangan sembunyikan semuanya sendiri. Kalau Daiki ingin sesuatu, jelaskan supaya Kakak mengerti."

Mungkin karena mood Daiki jelek hari itu atau mungkin juga karena Daiki tak sanggup lagi menahan seluruh rasa frustrasi yang ia pendam selama ini atau mungkin juga karena hal lain, tapi begitu mendengar kata-kata Seijuurou, satu benang emosi milik Daiki yang tersisa putus dan seluruh emosinya meluap. Detik itu juga Daiki tak dapat menghentikan mulutnya dari berkata, "aku tidak mau mendengar itu dari orang yang bahkan tidak bersedia hadir satu detik pun di pementasan dramaku tujuh tahun lalu."

Daiki melihat mata Seijuurou melebar terkejut. Tapi Daiki tidak membiarkan Seijuurou membalas kata-katanya karena ia belum selesai.

"Dan aku juga tidak mau mendengar itu dari orang yang tidak pernah menjelaskan apa yang ia lakukan pada orang lain," jeda sejenak. Daiki menelan ludah. Tangannya mengepal menjadi tinju dan kepalanya menoleh ke arah lain selain Seijuurou. "kenapa tiba-tiba peduli? Sebelumnya Kakak tidak pernah begitu peduli padaku. Sebelumnya Kakak tidak pernah tidak mau tahu apa yang aku lakukan, tidak mau tahu usahaku.

"Kenapa baru sekarang peduli?"

Seijuurou hanya diam saja. Daiki tidak tahu apakah pria tersebut terdiam karena terkejut atau karena kata-kata Daiki begitu menusuknya hingga ia kehilangan kata-kata. Tapi mau yang mana pun Daiki tidak peduli.

Daiki tersengal. Kenapa? Kenapa Seijuurou baru peduli sekarang? Ke mana saja Seijuurou selama ini?

"Keluar dari kamarku," kata Daiki lirih namun tegas. Kepalanya tertunduk. Sebelah tangannya bergerak memijat pangkal hidung. Pemuda itu bisa melihat kalau kakaknya baru saja mengangkat tangan -entah untuk apa. Mungkin untuk meraih tangannya atau apa—tapi urung.

Daiki merasa Seijuurou akan mengganggunya dengan berbagai pertanyaan jika ia dibiarkan di sana. Maka dari itu, pemuda berkulit hitam itu merasa lebih baik kakak sulungnya keluar saat ini.

"Daiki, Kakak—"

"Keluar."

Seijuurou bangkit. Pria berambut merah tersebut terdiam, hanya menatapnya dengan pandangan yang sulit untuk Daiki jelaskan. Lalu, "Kakak mengerti Daiki butuh waktu sendiri tapi kalau seandainya Daiki butuh Kakak, Kakak ada di sini."

Si sulung Akashi lantas berbalik dan pergi. Daiki melirik punggungnya yang menghilang di balik daun pintu dari sudut matanya. Pemuda berkulit hitam tersebut kembali menjatuhkan punggungnya di atas kasur empuk miliknya. Sebelah tangannya terangkat menutupi mata dan rahangnya mengeras.

"Omong kosong."


Mood Daiki kacau sejak berbicara dengan Seijuurou. Rasa frustrasi yang telah lama ia pendam meletus begitu saja dan sekarang pikirannya berkabut karenanya. Pemuda berkulit hitam tersebut tak dapat berpikir lurus. Akhirnya pemuda itu memutuskan untuk membolos pelajaran. Lagi.

Daiki berjalan malas menyusuri koridor. Pandangannya terlihat tak fokus pada lantai di hadapannya. Pemuda itu terus berjalan hingga akhirnya ia keluar dari gedung sekolah dan menyusuri lorong yang menghubungkan gedung utama sekolah dengan gym.

Di saat pikirannya tidak terorganisir seperti ini, basket adalah satu-satunya hal yang sekiranya dapat membuat perasaannya membaik. Oleh karena itu, meski tadi malam ia baru memutuskan untuk tidak akan sering menyambangi gym, ia sekarang justru tengah mengayunkan kaki ke arah tempat tersebut.

Jam menunjukkan pukul lima kurang lima belas menit. Dengan kata lain, ia sudah terlambat tiga puluh menit ke latihan. Sudah bisa dipastikan Momoi dan Wakamatsu akan marah-marah padanya tapi Daiki sama sekali tidak peduli soal itu.

Ia ingin main basket hari itu. Persetan dengan orang-orang cerewet itu.

Daiki menggeser pintu gym terbuka dan sebuah salam malas berbunyi "ossu" keluar dari mulutnya. Kontan kedatangannya berhasil menarik perhatian seluruh penghuni gym tersebut.

Seperti dugaan Daiki sebelumnya, setelah lolos dari kekagetannya, Momoi segera berderap menuju ke arahnya. Ekspresi kesal terpancar di wajah wanita tersebut. Kedua tangannya mengepal di sisi tubuh dan mulutnya sepertinya sudah siap memuntahkan segala macam omelan.

Sayangnya wanita berambut sewarna sakura itu kalah cepat dengan Wakamatsu. Baru satu langkah memasuki gym, Wakamatsu langsung menghadangnya dengan wajah garang. Tanpa basa-basi, senior Daiki satu itu langsung dengan galak berkata, "Kau…"

Daiki memutar mata dengan malas. "Apa?"

Sebelah tangan Wakamatsu terangkat, menggenggam kerah baju Daiki dengan kasar. "Berhenti bersikap setengah-setengah seperti itu dan latihanlah dengan benar atau keluar!"

Helaan napas panjang lolos dari bibir Daiki. Kenapa ia harus menghadapi ini saat mood-nya sedang tidak baik? Ia benar-benar sedang tidak mood untuk melakukan ini…

"Aku akan memaafkanmu sekali ini jadi lepaskan aku."

Kata-kata Daiki justru membuat Wakamatsu semakin kesal. Pemuda berambut pirang tersebut justru mengeratkan kepalan tangannya di kerah kemeja Daiki lantas menariknya kasar. Momoi yang mendeteksi tanda-tanda akan dimulainya perkelahian bergegas mengajak Imayoshi untuk melerai keduanya.

Daiki mendesis. Tanpa disangka-sangka pemuda berkulit hitam tersebut mencengkeram bahu Wakamatsu, menariknya sembari kakinya bergerak menendang perut seniornya itu dengan lutut. Cukup keras untuk membuat badan besar Wakamatsu membungkuk kesakitan hingga melepaskan cengkeramannya di kerah kemeja Daiki.

"Akashi!" refleks, Imayoshi memanggil nama Daiki. Daiki menoleh tapi tak memberikan respon lebih selain menatap Imayoshi dalam diam.

Semua yang berada di gym terdiam, terkejut. Momoi dan Imayoshi yang tadinya bergerak hendak memisahkan mereka pun bukan pengecualian. Salah seorang anggota klub basket bergegas keluar mencari guru sebelum Daiki -mungkin—mulai memukuli Wakamatsu lagi.

Merasa akan sangat merepotkan jika harus menjelaskan, Daiki membalikkan badan. Keinginannya untuk main basket demi menghilangkan mood buruknya menguap sudah. Sekarang ia justru ingin cepat-cepat pergi dari gym. Membetulkan letak tasnya yang tersampir di bahu satu kali, Daiki langsung melesat keluar gym tanpa menghiraukan teriakan memanggil dari Imayoshi dan Momoi.


Alis Seijuurou berkerut dalam. Kurang dari sejam yang lalu ia mendapat panggilan dari wali kelas Daiki. Sama seperti ketika ia mendapat panggilan dari sekolah Shintarou dulu, wali kelas Daiki tidak mau menjelaskan lebih lanjut via telepon. Pria paruh baya tersebut langsung meminta Seijuurou untuk datang pukul sepuluh tepat.

Tanpa memberitahu Daiki, Seijuurou menyambangi sekolah adiknya satu itu. Kepalanya berusaha menyusun skenario mengenai alasan dipanggilnya ia ke sekolah. Apa yang dilakukan Daiki? Apa yang sekiranya cukup buruk hingga bisa membuatnya dipanggil?

Pikirannya berkecamuk. Kata-kata Shintarou dan Atsushi benar. Astaga, kenapa Seijuurou tidak memerhatikan adiknya satu itu lebih awal?

Akhirnya Seijuurou sampai di depan pintu dengan tulisan "ruang guru" di atasnya. Setelah merapikan kemejanya sedikit, pria tersebut menggeser pintu di hadapannya dan menggumamkan permisi. Setelah bertanya kepada seorang guru di sana, akhirnya Seijuurou duduk bertatap muka dengan wali kelas Daiki.

"Terima kasih sudah datang, Akashi-san," kata wali kelas Daiki datar. Untuk alasan yang tidak diketahui Seijuurou, raut wajah pria paruh baya di hadapannya terlihat tidak menyenangkan. "Anda tahu alasan Anda dipanggil ke sini?"

Seijuurou mengedip beberapa kali. "Tidak."

Wali kelas Daiki menghela napas dalam. Kepalanya tertunduk. Sebelah tangannya terangkat memijit pangkal hidung. Gerak-gerik pria paruh baya tersebut membuat pikiran Seijuurou semakin kacau. Intuisi si sulung Akashi mengatakan kalau apa pun yang akan dikatakan wali kelas Daiki adalah sesuatu yang buruk.

Tiba-tiba pintu ruang guru tersebut membuka dan dari sana muncul sosok Daiki dengan seragam tidak rapi dan tas yang disampirkan asal di satu bahu. Adik Seijuurou satu itu melangkah masuk dengan malas. Ia melangkah menghampiri Seijuurou dan wali kelasnya. Begitu sampai di dekat Seijuurou, pemuda itu menarik kursi dari meja sebelah dan duduk di atasnya.

"Akashi-san dipanggil hari ini karena Daiki-kun," wali kelas Daiki mengalihkan pandangannya dari Seijuurou ke Daiki. Seijuurou melirik Daiki dan mendapati adiknya tengah membuang pandangannya ke arah mug yang terletak di atas meja wali kelasnya. "telah berulah."

"Berulah bagaimana maksud Anda?" tanya Seijuurou. Kedua alisnya berkerut makin dalam.

"Daiki-kun di sini sudah sering membolos dan kemarin ia berkelahi dengan seniornya."

Seijuurou berusaha keras untuk tidak melayangkan pandangan penuh tanda tanya pada Daiki. Pria tersebut tidak ingin percaya kalau adiknya satu itu berkelahi dengan seorang senior dan membolos ketika orang yang bersangkutan terlihat sangat santai. Ia benar-benar terlihat tidak bersalah.

"Karena tindakan yang sudah ia lakukan tadi, sekolah memutuskan menskors Daiki-kun selama seminggu. Saya memanggil Akashi-san hari ini untuk memberitahu Anda untuk lebih keras mendidik Daiki-kun…"

Setelah itu tidak ada kata-kata wali kelas Daiki yang benar-benar memasuki telinga Seijuurou. Pria tersebut diam sepanjang ceramah wali kelas Daiki. Sesekali mata merahnya melirik Daiki, mencoba mendeteksi tanda-tanda kalau pemuda itu merasa bersalah.

Tapi hasilnya nihil.

Setelah sekitar satu jam, mungkin karena kesal melihat absennya tanggapan dari Seijuurou, akhirnya wali kelas Daiki menyelesaikan ceramah panjangnya mengenai kelakuan Daiki. Setelah mengucapkan terima kasih dan maaf karena telah merepotkan pada wali kelas Daiki, Seijuurou pamit undur diri. Daiki yang mendapat skors dari pihak sekolah pun diminta untuk pulang.

Sebelah tangan Seijuurou bergerak menutup pintu ruang guru ketika Daiki melangkah menjauh dari si sulung Akashi.

"Daiki," panggil Seijuurou, tapi sayangnya adiknya satu itu tidak memberikan respon. Menoleh pun tidak. Pemuda itu terus saja berjalan, memunggunginya menjauh.

Padahal Seijuurou ingin mengajak adiknya satu itu bicara. Pria berambut merah itu ingin sekali bertanya apakah benar Daiki sampai melakukan hal yang tadi dikatakan waii kelasnya, kenapa Daiki melakukannya, dan apa yang sebenarnya terjadi padanya. Seijuurou tahu Daiki bukan anak yang akan melakukan sesuatu tanpa alasan.

Akashi Daiki bisa jadi anak yang sulit diatur, tapi bukan berarti ia melakukan hal seperti itu hanya karena ia ingin. Pasti ada alasannya.

Lagi-lagi si sulung Akashi hanya bisa membiarkan Daiki sendiri. Lagi-lagi ia harus menelan bulat-bulat rasa penasarannya. Ah, sudahlah. Ia akan menanyai Daiki lagi di rumah nanti. Sekarang ia harus kembali ke kantor dan bekerja.

Dengan langkah lebih gontai dari biasanya, Seijuurou menyusuri koridor mengikuti rute datangnya ia tadi. Tepat ketika ia sampai di pintu depan sekolah dan baru akan menginjakkan kaki pada tanah lapangan, telinganya menangkap sebuah suara.

"Akashi-kun?"

Seijuurou menoleh. Mata merahnya berkedip beberapa kali guna memastikan sosok di hadapannya nyata.


Alis biru langit Tetsuya berkerut ketika matanya melihat Daiki di sisi lain lapangan. Tubuhnya yang sebelumnya sedikit membungkuk kini ia tegakkan. Keinginan anak berambut biru langit tersebut untuk meneruskan permainan ini sirna sudah. Dengan mudah, kedua tangan Tetsuya menangkap bola basket yang memantul lemah ke arahnya.

Jelas sekali kalau pikiran Daiki tengah berada di tempat lain sekarang ini jadi apa gunanya meneruskan permainan?

Menyadari adiknya tak kunjung bergerak dari posisinya, Daiki akhirnya mengangkat kepalanya yang sebelumnya sedikit tertunduk. Mata biru gelap pemuda tersebut bertemu dengan mata biru langit milik Tetsuya. Pandangan yang seakan mengatakan "aku tidak mengerti" Tetsuya lontarkan pada kakaknya yang berkulit hitam tersebut.

"Kenapa, Tetsu?" Daiki ikut menegakkan tubuhnya. Pemuda berkulit hitam tersebut berjalan mendekati sang adik.

"Aku yang harusnya tanya," kata Tetsuya. Si bungsu Akashi masih belum mau bergerak dari tempatnya berdiri. Ia bisa melihat jelas alis biru gelap Daiki mengerut. Kakaknya hendak buka mulut, tapi Tetsuya memotong, "dan jangan coba berbohong padaku, aku tahu."

Selama beberapa saat, mereka berdua hanya saling tatap. Seakan keduanya tengah bertanding siapa yang paling keras kepala. Akhirnya Daiki menyerah.

"Aku…" Daiki menutup mulutnya lagi. Sebelah tangannya terangkat mengusap tengkuk dan akhirnya mata biru gelapnya dialihkan ke arah lain. "Aku tidak ingin serius main basket lagi, Tetsu."

Akashi Daiki tak ingin main basket dengan serius? Ada apa ini? Mendengar pernyataan seperti itu dari Akashi Daiki rasanya sama seperti tersambar petir di siang hari cerah. Mengagetkan karena begitu tidak terduga.

Tetsuya berusaha mencari-cari pancaran jenaka di mata biru gelap kakaknya. Bisa jadi ini semua Cuma lelucon, kan? Toh, Daiki memang suka bercanda.

Sayangnya tak ada setitik pun pancaran jenaka dapat Tetsuya temukan di mata kakaknya, tak peduli seberapa keras pun ia mencari.

Berusaha untuk tak terlalu menunjukkan kekagetannya, Tetsuya bertanya, "Kenapa?"

Pandangan Daiki berubah sendu, sama seperti ketika Tetsuya berjalan pulang bersamanya.

Daiki mengangkat bahu acuh tak acuh. Tetsuya menjaga mulutnya untuk tak bersuara agar kakaknya tetap melanjutkan ceritanya.

"Tidak, sebenarnya aku tidak ingin serius dalam hal apa pun lagi. Saat aku benar-benar berusaha, orang-orang justru bilang aku monster dan saat aku tidak benar-benar giat mereka akan memarahiku. Aku lelah diperlakukan seperti itu. Untuk apa aku serius? Tidak ada yang menghargai usahaku"

Hati Tetsuya mencelos. Di hadapannya kini berdiri seseorang yang karena begitu hebat akhirnya dicemooh. Dan karena cemoohan itu orang ini berpikir untuk berhenti berusaha. Lalu ada Tetsuya, ada dirinya, yang karena berbeda, yang gagal untuk menggapai hal yang paling ia inginkan meski berusaha keras ketika orang lain berhasil dengan berusaha sekadarnya.

Tetsuya bahkan diberitahu untuk berhenti saja.

Dunia tidak adil, pemikiran itu sempat terlintas di benak Tetsuya ketika mendengar kata-kata Daiki. Iri, amarah, rasa putus asa bercampur jadi satu dalam hatinya hingga ia tak tahu lagi emosi apa yang tengah ia rasakan saat ini. Tapi sebisa mungkin anak berambut biru langit tersebut menahannya.

Daiki tidak punya hubungan dengan penyebab ia merasa seperti itu jadi ia tidak boleh melampiaskan emosinya pada kakaknya. Apalagi di saat kakaknya itu tengah terpuruk seperti ini.

"Kenapa harus memedulikan apa kata orang?" Tetsuya mengeluarkan pertanyaan retoris. "Kalau Kakak memang suka main basket, ingin jadi yang terbaik, kenapa harus mendengarkan kata orang? Kenapa Kakak justru menyerah untuk berusaha hanya karena beberapa orang tidak menghargai usaha Kakak? Masih ada orang yang menghargai usaha Kakak. Bukankah yang terpenting itu adalah tetap adanya pengakuan?"

Niat Tetsuya adalah menohok Daiki dengan kata-katanya agar pemuda itu sadar kalau ia tidak perlu memedulikan apa kata orang karena Tetsuya yakin ada orang yang masih menghargai usaha Daiki, yang masih mengagumi Daiki karena kemampuan yang ia dapat berkat usaha keras bertahun-tahun dipadu dengan bakat. Contohnya saja Tetsuya.

"Tetsu tidak mengerti—"

Emosi Tetsuya naik mendengarnya. Untuk pertama kalinya, dengan kejengkelan yang terlihat cukup jelas, Tetsuya membalas, "Aku mengerti. Karena aku—"

Sayangnya, bukan hanya Tetsuya yang emosinya naik. Tangan Daiki mengepal membentuk tinju. Rahangnya mengeras. Dengan suara lirih namun cukup keras untuk didengar Tetsuya, Daiki berkata, "Apanya yang Tetsu mengerti? Tetsu yang usahanya selalu dihargai mengerti apa?"

Dari jakun yang bergerak naik turun, Tetsuya tahu Daiki tengah menelan ludah, mempersiapkan diri untuk melontarkan hal lain yang ia pendam dalam hati. Volume suaranya yang awalnya kecil, lambat laun menjadi besar, hingga nyaris berteriak.

"Katakan padaku, apa Tetsu tahu rasanya berusaha keras, berlatih siang malam supaya bisa mengesankan seseorang lalu ternyata akhirnya orang itu tidak melihat hasil usaha Tetsu? Apa Tetsuya tahu rasanya berlatih siang malam karena ingin menang dari seseorang secara adil, tapi ternyata orang itu mengalah pada Tetsu? Apa Tetsu tahu? Rasanya seperti orang bodoh…"

Rahang Tetsuya ikut mengeras. Oke, mungkin Tetsuya tidak tahu rasanya berlatih siang malam supaya bisa mengesankan seseorang lalu ternyata akhirnya orang itu tidak melihat hasil usahanya. Mungkin Tetsuya juga tidak tahu rasanya berlatih siang malam karena ingin menang dari seseorang secara adil, tapi ternyata orang itu mengalah padanya. Tapi apakah pantas karena itu Daiki menutup mata dari fakta bahwa ada orang yang sebenarnya masih menghargai usahanya? Apakah pantas bagi Daiki untuk berhenti berusaha karena itu?

Sebelum merasa seperti itu, Daiki harusnya tahu dulu bagaimana rasanya menjadi berbeda dari orang lain. Daiki harus tahu dulu bagaimana rasanya melihat orang lain sukses setelah berusaha keras sedangkan ia sendiri gagal, tak peduli seberapa pun usaha yang dicurahkan agar dapat berhasil. Daiki harus tahu dulu rasanya disuruh berhenti berusaha. Daiki harus tahu dulu… harus tahu…

Tetsuya membuka mulut, hendak membalas kata-kata Daiki. Amarahnya begitu menggelegak hingga ia tak benar-benar bisa berpikir. Ia ingin membalas kata-kata Daiki agar pemuda itu bisa berpikir lagi mengenai keputusannya. Agar pemuda itu tak seenaknya berkata seperti itu sebelum tahu apa yang dirasakan orang-orang seperti Tetsuya.

Namun tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulut Tetsuya. Mata biru langit anak tersebut melebar ketika ia merasa otaknya kehilangan kendali atas tubuhnya dan sekujur tubuhnya melemas begitu saja.

Amarah yang tadi sempat menguasai Daiki menguap begitu saja ketika melihat sosok sang adik tumbang tanpa aba-aba apa pun. Begitu melihat kaki adiknya berhenti menopang tubuh sang adik, ia bergegas memegang bahu adiknya.

"Tetsu! Kau kenapa? Oi, Tetsu!"

Daiki berusaha memanggil-manggil Tetsuya. Panik menghantuinya. Sayangnya, Tetsuya tidak sedang bisa merespon.


Karena mengejar update bulan Maret, jadi ini dipost tanpa proofread, maaf kalo ada typo.

WAYOLO ITU SI KUROKO KENAPA. Ya tunggu update selanjutnya buat tahu wkwkwkwk /ditampol. Maaf ya karena baru bisa update jam 23.58 di tanggal 31 Maret hiks, sempet keteteran soalnya Dee lagi musim UTS tapi sekarang semua udah lewat kok haha.

Special thanks to: pinkeut, Hinamori Hikari, ichin nightbour, aster-bunny-bee, Kleinn, faizi, Rikasasa, raisha ikaari, L7980, Femme Taiga, Sayaka Minamoto, Hinamori Yoichi, Fuuyuki Azuka, Just Person, arudachan, Oto Ichiiyan, VolumeKubus13, Kazerin Namikaze, ELLE HANA, Park RinHyun-Uchiha, Lupa password, Sheila-ela, Jasmine DaisynoYuki, Reiran kateshiro, Seraphina Vedis, draay, ainkyu, UchiHarunoKid, melur0985, Anitayei, Ai and August 19.

Balesan review buat yang gak login

Lupa password: Iya, kasian ya hiks. Mereka cuma bisa kasih support biasa, gak bias bantuin langsung sayangnya hiks. Soalnya waktu ketemu Momoi kan dia masih kecil dan mereka cuma sekali ketemu hehe. Wah makasih ya buat supportnya, Dee bakal berjuang! Makasih reviewnya yaa.

Just Person: Soalnya aku buat mereka gitu yeyeyey. Tuh Momoi udah kubuat reunian sama Akashi, tapi baru dikasih liat sesaat sih ekekek. Hayo gimana wkwkwkwk. Ini gak aku gantungin kan? Bakal kuusahakan update terus kok, pokoknya tahun ini harus tamat! Hehe, makasih lo buat reviewnya.

Thanks for everything everyone! Love youuu!

Thanks for review and review please?