Kuroko no Basuke hanya milik Fujimaki Tadatoshi seorang.

Cerita ini hanya milik saya seorang.

Warning: AU, Nice & not-so-perfect! Akashi, brotherly love! a lot of it I think, cuteness ahead(?), alur kecepetan, half-assed chapter, OOC, typo, DLDR!

pengingat mulai chapter ini:

Seijuurou = 23 tahun

Shintarou = 20 tahun

Atsushi = 19 tahun

Ryouta = 17 tahun

Daiki = 16 tahun

Tetsuya= 12 tahun

Enjoy!


Chapter 22: As a Human, Gets Some Help


Dengan susah payah, Daiki menggendong Tetsuya ke rumah. Meski letak lapangan basket tempat mereka bermain hanya di sebelah rumah, tapi perjalanan pulang itu terasa seperti setahun dan bukan lima menit. Setelah berusaha beberapa kali, akhirnya ia berhasil membuka pintu depan rumah.

Jantung Daiki berdebar keras. Begitu keras hingga rasanya ia bisa mendengar debaran jantungnya sendiri. Ia panik. Terlebih lagi Tetsuya di punggungnya tak memberikan respon apa pun, bersuara tidak, bergerak sedikit pun tidak. Ada apa dengan adiknya? Apa adiknya baik-baik saja?

Daiki tidak tahu.

Tepat ketika Daiki melangkah masuk rumah, Atsushi tengah berjalan menuju ruang keluarga.

"Kak Atsushi! Tetsu…"

Atsushi menoleh. Alis ungunya berkerut, mungkin karena bingung melihat ekspresi Daiki yang begitu kacau dan Tetsuya yang lemas tak bergerak di punggungnya. Wajahnya yang sebelumnya santai sekarang berubah was-was. "Ada apa ini?"

Tanpa membuang banyak waktu, Atsushi langsung menghampiri Daiki dan mengambil Tetsuya dari punggungnya. Dengan badannya yang besar, dengan mudah ia menggendong Tetsuya. Mereka berdua berjalan cepat menuju ruang keluarga lantas membaringkan sosok lemah Tetsuya di sofa.

"Aku akan panggil Kak Sei-chin, Dai-chin tetap di sini dan jaga Tetsu-chin, mengerti?" Setelah mendapat jawaban berupa anggukan dari sang adik, Atsushi bergegas bangkit.

Daiki tidak tahu apa yang harus dilakukannya sekarang. Dalam pikirannya ia berusaha untuk menggali-gali ingatan, apa yang tadi ia lakukan? Apa yang tadi Tetsuya lakukan hingga bisa seperti ini? Apa anak itu kelelahan? Tapi kalau memang kelelahan, harusnya sudah terlihat tanda-tandanya. Saat keluar rumah pagi ini Tetsuya terlihat segar bugar. Lagi pula kalau memang tidak enak badan, harusnya Tetsuya bilang sejak awal agar mereka tidak usah latihan pagi itu.

Ah, bagaimana ini?

Daiki berusaha untuk menenangkan diri tapi mustahil. Berkali-kali ia menghela napas, mengusap wajah, tapi tak ada satu pun dari cara itu yang berhasil.

Tak berapa lama kemudian, terdengar suara derap langkah kaki dan muncullah Seijuurou. Atsushi berada tak jauh di belakangnya lalu Ryouta pun menyusul. Dengan segera pria itu berlutut di samping Daiki. Wajah Seijuurou terlihat pucat, seakan darah di wajahnya disedot ke suatu tempat.

"Ada apa dengan Tetsuya?" tanya Seijuurou yang jelas sekali ditegas-tegaskan. Mungkin si sulung tengah merasakan hal yang sama dengan Daiki sekarang; melawan kepanikan. Tak sampai sepersekian detik, pria berambut merah tersebut sudah berlutut di samping sofa bersama Daiki.

"Aku tidak tahu. Tadi kami main basket seperti biasa lalu bicara sesuatu lalu tiba-tiba saja Tetsu…" Daiki berusaha menjelaskan sejelas yang ia bisa. Tapi Daiki sendiri tak tahu apa yang Ia bicarakan jadi ia berhenti. Semoga saja Seijuurou mengerti kalau ia sama tidak mengertinya dengan Seijuurou sendiri.

Seijuurou mengangguk paham. Sebelah tangan pria itu bergerak ke leher Tetsuya. Dengan dua jari ia menyentuh bagian samping leher putih pucat si bungsu, tepat di bawah garis rahang. Daiki hanya tahu kalau si sulung tengah mengecek denyut nadi sang adik.

"Aku rasa Tetsuya baik-baik saja, tapi sebaiknya kita panggil dokter."

Tepat ketika itu mata Tetsuya yang sebelumnya tertutup, berkedut. Empat orang yang ada di sekitarnya terdiam, tanpa sadar bahkan menahan napas. Kelopak mata Tetsuya bergerak membuka perlahan, menampakkan mata biru langit indah. Di saat yang bersamaan, empat orang yang tadi menahan napas secara serempak melepaskan napas yang mereka tahan.

"Tetsuyacchi! Tetsuyacchi baik-baik saja?" tanya Ryouta, yang pertama kali berhasil buka mulut.

Tetsuya tersenyum tipis. Anak berambut biru langit tersebut berusaha mengubah posisi menjadi duduk. Daiki yang melihat usahanya langsung bergerak membantunya.

"Aku baik-baik saja. Maaf sudah membuat kalian khawatir," jawab Tetsuya. Atsushi lantas keluar sebentar. Ketika kembali, segelas air putih ada di tangannya. Dengan senang hati, Tetsuya menerima segelas air tersebut.

"Walau pun Tetsuya bilang begitu, sebaiknya kita tetap panggil dokter," kata Seijuurou. Pria tersebut menoleh, memberikan instruksi pada Ryouta. Dengan segera, Ryouta berlari ke telepon terdekat dan memanggil dokter keluarga mereka. Saat telepon tersambung dan Ryouta bicara pada dokter, Seijuurou mengalihkan pandangannya pada Tetsuya lagi. "Daiki bilang Tetsuya tiba-tiba tumbang, benarkah?"

Sebelah tangan Seijuurou tersebut terulur, menjangkau salah satu tangan Tetsuya dan mengelusnya lembut. Pertanyaan itu sebenarnya tidak hanya ditujukan untuk Tetsuya seorang tapi juga untuk Daiki.

"Iya…" jawab Tetsuya lemah. Untuk alasan entah apa, anak tersebut mengalihkan pandangannya dari Seijuurou.

"Tetsuya kelelahan?" tanya Seijuurou lagi. Daiki hanya bisa memerhatikan interaksi kakak dan adiknya tanpa bisa berkata apa-apa. Amarahnya pada si sulung sama sekali tak terbersit dalam hatinya saat ini. Yang terpenting di momen ini adalah Tetsuya.

Tetsuya menggeleng.

"Tetsuya sakit?"

Tetsuya menggeleng lagi. "Bukan…"

"Kalau begitu kenapa?" tanya Seijuurou dengan sabar.

"Tetsuya baik-baik saja. Itu biasa terjadi," jawab Tetsuya.

Sekarang alis Daiki, Seijuurou, dan Atsushi terangkat tinggi. Biasa terjadi? Tidak mungkin, ini pertama kalinya terjadi dan mereka bertiga yakin akan hal tersebut.

Apa jangan-jangan sebenarnya hal seperti ini memang sudah sering terjadi tapi tidak pernah terjadi di hadapan mereka?

"Maksud Tetsuya?" tanya Seijuurou lagi, mencoba menyamakan pemikiran mereka.

Tetsuya mengangkat gelas di tangannya dengan sebelah tangannya yang bebas, menyisip isinya sedikt. Anak berambut biru muda tersebut terlihat enggan mengatakan apa yang ada di pikirannya. Seijuurou kembali mengelus punggung tangan Tetsuya dengan ibu jari.

"Kalau Tetsuya emosi berlebihan, Tetsuya akan tumbang seperti itu," jelas Tetsuya. "Makanya Tetsuya selalu berusaha supaya tidak banyak tertawa, tidak menangis, tidak marah-marah."

Seijuurou dan yang lainnya tidak sempat merespon karena tepat saat itu Ryouta masuk lagi ke ruang keluarga dan mengatakan pada mereka kalau dokter akan datang kurang dari lima menit. Setelah Ryouta selesai mengabarkan mereka pun tak ada yang mengungkit hal tersebut lagi hingga dokter datang dan memeriksa Tetsuya.


Seijuurou tengah menimang-nimang ponselnya kala itu. Ia baru saja mengirimkan sebuah pesan berisikan ajakan makan siang besok pada Momoi. Ya, pada Momoi. Setelah bertemu lagi dengan wanita itu tempo hari di depan sekolah Daiki, Seijuurou hanya sempat menanyakan kabar wanita itu dan bertukar nomor ponsel. Pekerjaan di kantor memanggil dan ia tak bisa meninggalkannya lebih lama.

Momoi juga berkata ia akan menjelaskan alasan ia menghilang selama ini saat mereka bertemu lagi, karena itulah Seijuurou langsung meminta nomor ponselnya. Makan siang ia jadikan alasan agar dapat menemui wanita itu lagi dan mendengarkan penjelasannya.

Lalu pintu kamar Seijuurou diketuk dua kali. Sebelum Seijuurou sempat mempersilakan si pengetuk untuk masuk, pintu kamarnya sudah terbuka, Atsushi berdiri di baliknya. Darah terlihat minim di wajahnya dan melihat wajahnya membuat Seijuurou was-was.

Adiknya yang berambut ungu tersebut hanya menyebut nama Tetsuya tapi Seijuurou langsung bisa menangkap kalau ada yang salah dengan si bungsu. Tanpa membuang waktu, si sulung Akashi langsung bangkit dari posisi duduknya di depan meja kerja. Berusaha untuk mematuhi aturan yang ia buat sendiri, Seijuurou mengatur kecepatan berjalannya agar cukup cepat tapi tidak termasuk berlari.

Tetsuya yang lemas tidak bergerak di atas sofa, bangunnya Tetsuya, dan penjelasan dari adiknya membuat Seijuurou merasa seolah hari itu ia baru saja melakukan olahraga jantung. Benarkah Tetsuya mengalami itu? Sejak kapan? Kenapa ia baru tahu sekarang?

Penjelasan dari dokter yang datang dan memeriksa Tetsuya tak lama setelahnya kembali membuat Seijuurou terkejut.

"Kalau melihat tanda-tandanya dan kalau cerita Tetsuya benar, saya rasa Tetsuya mengidap Katapleksi," itulah kata dokter beberapa puluh menit yang lalu. Sekarang dokter keluarga Akashi tersebut sudah pulang dan hanya ada Seijuurou dan Tetsuya di ruang keluarga.

Katapleksi. Sebuah kelainan di mana penderitanya mengalami lemas otot mendadak ketika merasakan ledakan emosi. Lemas otot tersebut memang hanya terjadi selama beberapa saat jadi tidak bisa dikatakan berbahaya tapi tidak dapat dikontrol.

Itulah penjelasan yang diberikan oleh dokter ketika Seijuurou mengajaknya bicara lebih lanjut berdua. Dokter juga mengatakan kalau kelainan ini bawaan lahir dan bukan kelainan yang berawal dari kebiasaan atau semacamnya.

Itu berarti sejak sebelum menjadi bagian keluarga Akashi, Tetsuya sudah mengalami ini. Tapi kenapa Seijuurou tidak pernah tahu? Kenapa Tetsuya tidak pernah bilang apa-apa?

"Tetsuya," panggil Seijuurou. Tetsuya yang tadinya tengah memfokuskan perhatian pada film di televisi langsung menoleh. Sepasang alis biru langit milik anak tersebut terangkat tinggi dan itu cukup untuk menjadi tanda kalau si bungsu mendengarkan. "Sejak kapan Tetsuya tahu kalau Tetsuya akan lemas kalau emosi berlebihan?"

Tetsuya berjengit terkejut.

"Sejak ayah Tetsuya meninggal," tanpa diberi penjelasan pun Seijuurou mengerti kalau yang dimaksud Tetsuya adalah ayah kandungnya. "Tetsuya tidak benar-benar bisa ingat tapi kalau tidak salah waktu itu Tetsuya sedih, menangis lalu tumbang. Sepertinya ibu sudah membawa Tetsuya ke dokter waktu itu. Tetsuya sebenarnya takut, tapi ibu selalu bilang Tetsuya merepotkan karena sering tumbang tiba-tiba jadi Tetsuya pikir dokter bilang yang dialami Tetsuya tidak berbahaya. Tetsuya… tidak ingin merepotkan ibu, makanya sejak saat itu Tetsuya selalu berusaha supaya tidak tumbang lagi."

Sekarang ganti Seijuurou yang berjengit. Pada dasarnya si sulung tidak pernah suka kalau sosok ibu kandung Tetsuya diungkit. Pria berambut merah tersebut hanya tidak suka dengan keputusan yang diambil sang ibu setelah melukai Tetsuya secara fisik seperti itu.

"Karena itu Tetsuya sampai tidak banyak berekspresi?" tanya Seijuurou.

Bayang-bayang di mana Tetsuya menepis tangannya atau tangan adik-adiknya yang lain setiap kali mereka berusaha menggelitiknya, bayang-bayang di mana Tetsuya selalu berusaha menahan tangis meski ia baru jatuh atau ia tengah sedih, dan bayang-bayang wajah datar Tetsuya memenuhi pikiran Seijuurou.

Tetsuya mengangguk.

"Apa sebelumnya ini pernah terjadi? Maksud Kakak, setelah Tetsuya jadi bagian dari keluarga ini…"

Mata biru langit Tetsuya berputar, kelihatannya anak itu tengah berpikir, mengingat-ingat. Kata "ah" keluar dari mulutnya ketika kemungkinan ia telah berhasil mengingat. "Pernah. Waktu ayah meninggal dan waktu hari pertama aku masuk daycare."

Seijuurou menggali-gali ingatannya, berusaha mengingat-ingat dua hari itu.

Tetsuya, sebagai yang paling kecil dan anggota baru keluarga mereka, digendong Seijuurou dengan tangan kanannya, dagu anak itu bertumpu pada bahu Seijuurou dan tangan kecilnya melingkari leher Seijuurou. Ia terlihat tenang, mungkin ia sudah tertidur karena kelelahan menangis.

Ah ya, ada saat di mana Tetsuya lemas di gendongan Seijuurou saat upacara pemakaman. Tapi waktu itu Seijuurou pikir ia tertidur karena kelelahan menangis…

Dengan sebelah tangannya yang bebas dari menggendong Tetsuya –yang sepertinya sangat gugup karena akan bertemu banyak orang hingga lemas saja sejak tadi atau mungkin ia tertidur?—Seijuurou mendorong terbuka pintu pagar besi di hadapannya dan manik merahnya segera memindai halaman bangunan tersebut untuk mencari tanda-tanda keberadaan sesosok gadis berambut merah muda yang sebaya dengannya.

Benar. Saat-saat di mana Tetsuya lemas memang ada. Tapi Seijuurou tidak pernah menyadarinya karena Tetsuya selalu bisa mengendalikan emosinya dengan baik dan kalau pun tumbang, Tetsuya selalu jatuh lemas di saat ia berada dalam gendongan Seijuurou sehingga si sulung tidak tahu kalau sebenarnya Tetsuya bukan tertidur tapi memang tak bisa bergerak.

Sebelah tangan Seijuurou terangkat mengusap wajah. Seketika ia merasa gagal sebagai seorang kakak. Bagaimana bisa ia tak pernah menyadari ini?

"Memang dokter bilang apa?" tanya Tetsuya. Seijuurou mengangkat wajahnya lagi. Ia baru teringat kalau dokter menjelaskan kelainannya secara pribadi di hadapan Seijuurou. "Tetsuya tidak sakit parah atau apa, kan?"

Bagaimana mengatakannya? Apa tidak apa-apa kalau mengatakannya secara langsung? Tapi selama ini Tetsuya tahu kalau ia akan jatuh lemas tiap emosi berlebihan dan ia bisa mengatasinya dengan baik. Jadi tidak masalah, kan, kalau Seijuurou mengatakan dengan jujur sekarang ini?

"Tetsuya…" Seijuurou menelan ludah. "Dokter bilang Tetsuya mengidap Katapleksi."

"Katapleksi?" Tetsuya membeo. Sepasang mata birunya melebar. "Apa itu penyakit? Apa berbahaya?"

Seijuurou berusaha memasang senyum tipis. "Tidak. Katapleksi itu kelainan. Kelainan yang membuat otot penderitanya lemas ketika mengalami ledakan emosi. Seperti yang Tetsuya rasakan selama ini. Hanya itu. Tidak berbahaya, hanya tidak bisa dikontrol."

Tubuh Tetsuya berjengit ketika mendengar kata "kelainan". Ekspresi wajahnya berubah, seakan ia tak nyaman, untuk sepersekian detik sebelum kembali ke semula. Seijuurou menyadari perubahan itu tapi memutuskan untuk tidak ambil pusing untuk saat ini. Lagi pula wajar menurutnya kalau Tetsuya merasa risih mendengar kata itu.


Sembari berjalan cepat, Seijuurou sedikit mengendurkan ikatan dasi di lehernya dan menggulung lengan kemeja abu-abu yang ia pakai. Jas yang biasa ia pakai di kantor telah ia tanggalkan dan ia sampirkan di belakang sandaran jok mobilnya. Karena akan bertemu seorang teman lama, pria berusia dua puluh tiga tahun tersebut tak ingin terlihat terlalu formal.

Dalam hati ia sedikit merutuki kecerobohannya sendiri. Masalah dengan Daiki dan sekarang Tetsuya tak henti-hentinya mengonsumsi ruang pikirannya, bahkan ketika ia sedang ada di kantor sekali pun. Begitu ia sadar dari pikirannya, waktu sudah menunjukkan pukul sebelas empat puluh lima menit, hanya lima belas menit waktu yang ia punya untuk pergi ke Maji Burger dan menepati janjinya dengan Momoi. Meski lokasi Maji Burger tidak benar-benar jauh, tapi di jam makan siang seperti ini jalanan kota Tokyo akan lebih padat dari biasanya dan itu akan memperlambat Seijuurou.

Di depan pintu masuk Maji Burger, sosok Momoi Satsuki yang mengangkat sebelah tangan tanda menyapa memasuki pandangan Seijuurou. Senyum simpul yang tersungging di wajah wanita tersebut menular padanya. Seijuurou menganggukkan kepala guna membalas salam.

"Maaf terlambat. Menunggu lama?" tanya Seijuurou basa-basi. Mereka berdua mulai melangkah masuk. Refleks, Seijuurou membuka pintu dan menahannya untuk Momoi. Momoi menggeleng lantas menggumamkan terima kasihnya. Seijuurou hanya membalasnya dengan sebuah senyum dan anggukan kepala.

Melihat Maji Burger yang cukup penuh, Seijuurou menyarankan agar Momoi duduk saja dan Seijuurou mengantre. Momoi setuju. Setelah sekitar tiga puluh menit, Seijuurou meletakkan nampan berisi pesanan mereka di atas meja dan wanita di hadapannya mulai membuka pembicaraan.

"Apa kabar, Akashi-kun? Maaf baru sempat menanyakan kabarmu sekarang," tanya Momoi. Sebelah tangannya bergerak mengambil sepotong kentang goreng. "Kudengar kau sudah menjadi direktur perusahaan keluargamu. Benarkah?"

Seijuurou menelan potongan burger teriyakinya. "Kabarku baik. Yah, bisa dibilang begitu. Dari mana kau tahu?"

"Dari Ryou-chan beberapa minggu lalu. Wah, aku merasa tersanjung karena pemimpin perusahaan berskala sebesar itu bersedia meluangkan waktu untuk mengobrol dengan orang tidak penting sepertiku," sahut Momoi. Wanita itu terkekeh perlahan. "Pasti ada banyak wanita di luar sana yang iri padaku sekarang."

Menanggapi gurauan Momoi, Seijuurou tersenyum. "Kau ini bicara apa. Aku tidak seterkenal itu."

Momoi tersenyum lebar. Untuk sesaat, Seijuurou merasa mereka kembali ke masa SMP. Saat mereka berdua masih berupa anak-anak yang kekhawatiran terbesarnya adalah nilai ujian. "Kau masih berhutang cerita padaku."

Momoi menyesap soda miliknya lantas menyelipkan sejumput rambut ke belakang telinga. "Ah ya. Soal itu ya. Tidak ada cerita besar. Di bulan-bulan terakhir kita di SMA, ayahku mendapat surat mutasi. Tapi karena menurut ayahku akan merepotkan mengurus surat pindah sekolahku, jadi ia berpikir untuk membiarkanku dan ibuku tetap di Tokyo sampai aku lulus."

Seijuurou berhenti menyesap soda. "Kenapa tidak pernah bilang apa-apa pada kami?"

Momoi tersenyum sedih. "Kupikir akan lebih baik kalau aku memberitahu kalian tepat di hari kelulusan. Maaf."

Seijuurou diam, mempersilakan Momoi meneruskan ceritanya. Sejujurnya, ada sedikit rasa sakit seakan ditusuk jarum di hati Seijuurou ketika mengingat Momoi yang tidak pernah mengatakan apa-apa soal kepindahannya ini pada mereka. Pada Seijuurou terutama. Padahal Seijuurou pikir mereka teman baik.

Wanita berambut sewarna sakura tersebut menangkap maksud Seijuurou dan kembali bercerita. "Lalu ternyata rencana pindah kami sedikit dimajukan. Awalnya aku diberi waktu sedikit oleh ibuku untuk mengucapkan salam perpisahan pada kalian bahkan untuk berfoto bersama juga, tapi ternyata karena satu dan lain hal kami harus pindah tepat ketika upacara kelulusan selesai.

"Tadinya aku berencana untuk menghubungi kalian setibanya aku di sana, tapi aku terlibat kecelakaan kecil," Seijuurou hendak memotong Momoi -kemungkinan besar untuk bertanya apa ia baik-baik saja—tapi wanita itu mengangkat sebelah tangannya, "ponselku hancur. Maksudku, benar-benar hancur. Karena itu aku kehilangan semua kontakku."

"Kenapa tidak berusaha menghubungi kami dengan cara lain?" tanya Seijuurou. Alisnya berkerut, mungkin masih merasa sedikit tidak suka dengan keputusan Momoi memutus semua kontak dengan mereka.

"Maksud Akashi-kun seperti lewat media sosial?" Momoi balas bertanya, "tapi seingatku kalian tidak suka menggunakan media sosial. Aku tahu kalian punya, tapi kalian tidak pernah memakainya lagi sejak SMP, bukan? Aku sendiri juga sudah meninggalkan beberapa media sosial seperti Facebook."

Seijuurou terdiam. Walau bagaimana pun, kata-kata Momoi ada benarnya. Wanita itu tidak sepenuhnya bisa disalahkan dalam hal ini. Satu-satunya media sosial yang Seijuurou punya hanya aplikasi chatting yang ia pakai untuk menghubungi adik-adiknya, tapi itu pun baru ia gunakan ketika Ryouta memaksanya.

Empat seniornya yang lain juga sama dengannya. Yang sedikit lebih "sosial" di antara mereka adalah Mibuchi dan Hayama, itu pun mereka baru mulai menggunakan media sosial sekitar dua tahun yang lalu.

"Ah, jadi selama ini kau ada di mana?" tanya Seijuurou, berusaha sedikit melencengkan arah pembicaraan mereka.

"Aku selama ini tinggal di Nagoya." Jemari lentik Momoi kini meraih sebungkus burger dan mulai membuka bungkusnya. Kini ganti Seijuurou yang mengambil sepotong kentang goreng. "Tapi sekarang tentu saja sudah kembali ke sini."

"Oh ya? Berarti kau kuliah di Nagoya?" Momoi mengangguk sekali, "kau mengambil jurusan apa?"

Momoi mengangkat bahu, menjawab pertanyaan Seijuurou dengan sebuah senyum tipis. "Manajemen. Itu yang paling bisa kulakukan."

Seijuurou terkekeh, teringat masa-masa di mana Momoi menjadi manajer tim basket sekolah. "Benar."

"Bagaimana dengan Akashi-kun? Akashi-kun juga harus menceritakan kehidupan Akashi-kun selama beberapa tahun belakangan ini. Jangan aku saja yang cerita," Momoi balas bertanya.

Seijuurou menyandarkan punggungnya pada punggung kursi. Mulutnya mengunyah burger sembari otaknya berputar, memikirkan apa kira-kira hal mengesankan yang bisa dijadikan bahan obrolan dengan wanita di hadapannya.

"Tidak ada yang istimewa. Setelah lulus SMA, aku kuliah manajemen di Todai—"

"Tidak ingin jauh-jauh dari keluarga ya? Tipikal Akashi-kun," kata Momoi sambil lalu sembari jarinya memain-mainkan kentang goreng terakhir miliknya. Ada kesan nostalgia di mata merah muda gelap wanita itu.

Seijuurou tersenyum tipis. "Begitulah."

"Lalu begitu lulus kuliah, kau langsung jadi direktur perusahaan keluargamu?" tanya Momoi. Wanita itu menarik putus kentang goreng di tangannya sebelum mencelupkannya dalam saus tomat.

"Tentu saja tidak. Pamanku memberiku masa percobaan tiga bulan," jawab Seijuurou. Tak terasa ia sudah bicara cukup banyak hingga tenggorokannya kering. Diminumnya sodanya yang tak lagi benar-benar dingin.

Momoi menggumamkan "hmm" pelan. Sebelah tangannya memasukkan setengah potongan kentang goreng berlumur saus tomatnya ke dalam mulut. "Ah ya, bagaimana kabar adik-adikmu? Mereka sehat?"

Seijuurou menurunkan ujung sedotan dari bibirnya. "Mereka sehat. Dua adikku yang tertua sudah kuliah dan yang lainnya masih sekolah," tepat saat itu Seijuurou tersadar akan sesuatu, "ah ya, ngomong-ngomong, kenapa kau bisa ada di SMA Touou waktu kita bertemu?"

Momoi mengalihkan pandangannya ke sisa potongan kentang goreng miliknya. Meski kentang tersebut sudah dilumuri saus tomat sebelumnya, Momoi sekali lagi mencelupkan kentang tersebut ke dalam saus. Bibirnya bergerak menggumamkan "Ah, Dai-chan," yang begitu lirih tapi masih bisa didengar Seijuurou.

Benak Seijuurou bertanya-tanya. "Dai-chan"? Sejak kapan Momoi begitu akrab dengan Daiki hingga bisa memanggilnya seperti itu? Seingatnya Momoi hanya dekat dengan Ryouta saja, tidak dengan Daiki. Apa terjadi sesuatu yang Seijuurou tidak tahu?

"Aku bekerja di sekolah Dai-chan sejak awal tahun ajaran ini," alis Seijuurou terangkat tinggi, "aku membantu pamanku di sana menjadi asisten pelatih tim basket. Hanya sampai aku dapat pekerjaan tetap di sini. Karena itu aku sudah bertemu dengan Ryou-chan dan Dai-chan."

"Pekerjaan tetap?" Seijuurou mengulang, memutuskan untuk tidak mengungkit soal Ryouta yang sudah bertemu Momoi tapi tidak pernah bilang apa-apa padanya. "Jadi sekarang kau sedang mencari pekerjaan?"

Momoi mengangguk lemah. Ia mengangkat kedua bahunya sambil lalu. Kedua telapak tangannya memeluk gelas sodanya. "Sebenarnya aku sudah dapat pekerjaan sebelumnya dengan kontrak tiga tahun. Tapi ternyata baru setahun aku bekerja aku dipecat karena perusahaan tempatku bekerja mengalami kesulitan finansial dan harus memecat beberapa pegawainya."

Seijuurou diam. Untuk beberapa saat mereka berdua hanya duduk tanpa saling bicara. Seijuurou berkedip beberapa kali, seperti tengah memikirkan sesuatu sedangkan Momoi menggosok-gosokkan tangannya pada sisi gelas kertas sodanya.

"Momoi," panggil Seijuurou. Momoi mengangkat kepalanya dan menatap mata teman lamanya itu. "bagaimana kalau kau mencoba melamar pekerjaan di perusahaanku? Kebetulan sedang ada satu posisi kosong."


Katapleksi. Kata itu terus berputar di kepala Tetsuya sejak Seijuurou menyebutkannya. Seijuurou bilang itu berarti kelainan di mana penderitanya jatuh lemas ketika emosi berlebihan. Tidak berbahaya tapi tidak bisa dikontrol.

Kelainan adalah kata lainnya yang terus muncul dalam kepala Tetsuya. Tetsuya memiliki kelainan. Bukankah itu berarti Tetsuya berbeda? Tetsuya lain? Ah, apa ini berarti memang Tuhan menakdirkan Tetsuya berbeda sejak lahir?

Tetsuya memantulkan bola di tangannya beberapa kali ke lantai. Suara dukduk bola dipantulkan bergema berkali-kali lebih keras di seluruh penjuru ruangan karena begitu sepi. Di gym ketiga SMP Teikou malam itu hanya ada dirinya, bola, dan ring basket. Kagami tidak masuk karena sakit sehingga Tetsuya berlatih tanpa teman.

Tangan Tetsuya terangkat lantas menembakkan bola. Bola oranye tersebut bahkan tidak menyentuh bibir ring. Perlahan, tangan si bungsu Akashi terkulai di sisi tubuhnya.

Apakah dirinya memang ditakdirkan berbeda?

Tetsuya memutuskan latihan malam itu sudah cukup. Oleh karena itu anak berambut biru langit tersebut memungut bola yang tadi ia pakai latihan, memasukkannya dalam keranjang basket lantas bersiap pulang. Setelah mematikan lampu dan mengunci pintu, anak tersebut menitipkan kunci pada penjaga sekolah dan pulang.

Setelah kata-kata Seijuurou menginvasi pikirannya, sekarang ganti kata-kata Matsuoka yang terputar ulang. "Klub kita mustahil untukmu" katanya waktu itu. Awalnya Tetsuya tak terlalu ambil pusing soal itu. Ia berpikir persetan apa kata Matsuoka ia akan tetap berusaha.

Tapi setelah itu datang Kagami, yang dengan wajah berseri-seri mengatakan ia berhasil lolos masuk tim lapis pertama. Lalu ada Daiki yang kata-katanya menusuk secara tidak langsung. Semua itu membuat Tetsuya berpikir betapa lemahnya ia, betapa usahanya beberapa bulan terakhir tidak berhasil sama sekali.

Tetsuya melangkahkan kaki perlahan. Karena ia sedang tidak fokus, beberapa kali ia menyenggol bahu orang lain. Jika ini Tetsuya yang biasanya, maka ia akan berbalik sejenak, mengangguk sembari meminta maaf. Tapi Tetsuya sedang tidak sepenuhnya menjadi Tetsuya. Anak tersebut hanya menggumamkan permintaan maafnya dan terus berjalan.

Kata-kata Matsuoka makin keras bergema di telinganya.

Ponsel di saku celana Tetsuya bergetar. Anak tersebut berhenti, menepi ke pinggir trotoar agar tidak tertabrak orang lain. Nama Ogiwara Shigehiro tertera di atas sebuah pesan. Alis biru langit Tetsuya terangkat. Ibu jari anak tersebut menekan layar.

Isi pesan tersebut membuat hati Tetsuya semakin remuk. Buru-buru Tetsuya mencari tempat duduk, khawatir kalau perasaannya yang tengah tidak stabil itu akan membuatnya kembali tumbang seperti kemarin. Setelah berhasil menemukan sebuah bangku taman, anak itu mendudukinya dan diam.

Isinya sederhana. Hanya satu kalimat yang semua hurufnya diketik dalam huruf kapital.

AKU BERHASIL JADI PEMAIN STARTER, AKASHI!

Tapi satu kalimat itu berhasil membuat rasa iri sekaligus rendah diri menguasai hati kecil Tetsuya. Kenapa orang-orangnya selalu berhasil tapi ia tidak?

Sekuat tenaga Tetsuya menahan tangis. Sekuat tenaga ia menahan emosinya agar tidak meluap. Kepala berambut biru langitnya disandarkan pada sandaran bangku taman dan terangkat, matanya menatap langit malam yang cerah; kontras dengan perasaannya yang kian berawan. Helaan napas panjang keluar dari celah bibirnya.

"Berhenti saja ya…"


Sudah beberapa minggu berlalu sejak latih tanding antara Kaijou dan Touou, itu berarti sudah beberapa minggu berlalu sejak Daiki marah besar pada Ryouta. Beberapa minggu dirasa Ryouta merupakan waktu yang cukup panjang untuk digunakan Daiki berpikir.

Oleh karena itu, sekarang Ryouta ada di sini, di depan kamar Daiki, menimbang-nimbang pilihan antara masuk dan tidak masuk.

Pada akhirnya pilihan untuk masuk menang dalam peran batin Ryouta dan pemuda berambut pirang tersebut memutar kenop pintu, seperti biasa ia tak membiarkan dirinya mengetuk pintu terlebih dulu, memikirkannya pun tidak.

Ryouta menemukan Daiki tengah rebahan di atas kasurnya, seperti biasa, dengan tangan terentang lebar dan mata kosong menatap langit-langit kamar. Seakan sudah tahu -atau mungkin tidak peduli—Daiki sama sekali tidak menoleh atau pun melirik Ryouta.

Dengan perlahan, Ryouta menutup pintu di belakangnya. Pemuda berambut pirang tersebut sama sekali tidak beranjak dari tempatnya berdiri di depan pintu. Setelah beberapa saat diam, akhirnya Ryouta mengambil beberapa langkah maju dan membuka mulut.

"Daikicchi…"

Daiki menggumamkan "hm" pendek sebagai tanda kalau ia mendengarkan. Meski terlihat tidak niat, tapi Ryouta merasa keluarnya respon dari Daiki saja sudah merupakan suatu keajaiban, mengingat betapa kerasnya usaha anak itu untuk menghindari Ryouta beberapa minggu belakangan.

"Kau masih marah-ssu?" tanya Ryouta lirih. Pemuda itu memberanikan diri untuk lebih mendekat. Ketika Daiki sama sekali tidak merespon, bahkan tidak bergerak dari tempatnya rebahan sekarang ini, Ryouta menganggap anak itu tidak masalah dengan keberadaan Ryouta. "Dengar-ssu, aku melakukannya dengan alasan."

Ryouta mengira Daiki akan bangkit dari posisinya lalu dengan mata nyalang ia akan marah-marah pada Ryouta, berusaha menolak apa pun yang Ryouta katakan padanya. Tapi ternyata kenyataan berbanding terbalik dengan apa yang Ryouta pikirkan.

Daiki tetap diam.

Ryouta mengambil tempat untuk duduk di sisi ranjang Daiki. Memunggungi adiknya.

"Kau ingat nasihatku padamu waktu kau baru masuk SMP-ssu?"

"Nasihatmu yang berbunyi aku hanya perlu berusaha semampuku saja saat ujian penempatan? Nasihatmu yang bunyinya masuk tim lapis kedua pun sudah bagus?" tanya Daiki lirih. Begitu terkejutnya Ryouta mendengar Daiki menjawab hingga pemuda itu tersentak.

"Ah, ya-ssu," jawab Ryouta ketika ia berhasil mengatasi kekagetannya. "Kau tahu kenapa-ssu?"

Pertanyaan retoris dan Daiki tahu itu. Maka dari itu, adik Ryouta satu itu tidak mengatakan apa-apa. Ryouta saling menautkan jemarinya di atas paha dan mulai bicara lagi.

"Kau tahu, dulu aku bisa masuk tim lapis pertama dengan mudah hingga membuat semua orang terkejut-ssu. Awalnya mereka kagum, tapi setelah melihat perkembanganku tidak berhenti sampai di sana, mereka mulai takut-ssu. Mereka mulai mencemoohku hanya supaya mereka merasa lebih baik-ssu."

Daiki masih tidak bergerak sesenti pun dari posisinya.

"Saat itu aku langsung teringat Daikicchi. Aku selalu tahu Daikicchi punya bakat basket besar-ssu. Lalu aku berpikir bagaimana kalau Daikicchi juga diperlakukan seperti aku-ssu? Aku khawatir, makanya aku selalu berusaha menekan kemampuan Daikicchi. Aku mengalah supaya Daikicchi tidak berusaha lebih keras dari sekarang, agar perbedaan kemampuan antara Daikicchi dan teman-teman Daikicchi tidak terlihat jelas, supaya… supaya Daikicchi tidak mengalami apa yang kualami semasa SMP dulu-ssu."

Ryouta mendengar gemerisik bunyi seprai bergesek dan ia langsung tahu kalau Daiki bangkit dari posisinya. Meski ia dalam posisi memunggungi Daiki, ia bisa membayangkan posisi Daiki sekarang, bahkan ekspresi wajah adiknya itu tercetak jelas dalam benaknya.

"Kenapa—"

"Kenapa aku tidak pernah bilang padamu begitu-ssu?" potong Ryouta, ia menoleh sedikit hingga Daiki dapat melihat ujung matanya. "Karena aku tahu kalau kau tahu, kau pasti akan marah-ssu."

Daiki terhenyak. Mungkin ia teringat pada tindakannya di gym SMA Kaijou beberapa minggu lalu. Mulut pemuda berkulit hitam tersebut membuka sedikit, dengan lirih ia mengatakan, "Aku…" tapi pemuda berkulit hitam itu tak pernah menyelesaikan kata-katanya.

Ryouta tersenyum, benaknya tahu apa yang sebenarnya ingin adiknya katakan. Adiknya pasti ingin minta maaf, tapi ia segan dan di sisi lain ia merasa ia tidak sepenuhnya salah. Tipikal Daikicchi, ia membatin. Ryouta memutar posisinya dan beringsut mendekati Daiki di tengah tempat tidur.

"Aku mengerti, tidak apa-apa-ssu," kata Ryouta. Sebelah tangan pemuda itu terangkat, menunjukkan tinjunya pada sang adik. Daiki ikut mengangkat tinjunya, membeturkannya lembut dengan tinju Ryouta. Sebelum tangan hitam Daiki sempat menjauh, Ryouta mencengkeram pergelangan tangannya dan menariknya. Sebelah tangan Ryouta yang lain memeluk Daiki sesaat. "Tapi lain kali, dengarkanlah orang lain-ssu. Mereka melakukan sesuatu pasti ada alasannya-ssu."

Ryouta melepaskan Daiki dan bangkit. Ia berbalik, menghadap Daiki yang masih terduduk di atas tempat tidur dengan tampang bodoh tidak mengerti. "Kau juga sebaiknya cepat selesaikan masalahmu dengan Kak Seijuuroucchi. Tujuh tahun itu waktu yang terlalu lama untuk memendam kemarahan-ssu."

"Tapi—"

"Kak Seijuuroucchi juga tidak akan tahu maumu kalau kau tidak mengatakannya-ssu," potong Ryouta dan kata-katanya berhasil mendiamkan Daiki dengan efektif. Pemuda berambut pirang itu kembali tersenyum dan menjulurkan tangannya. "Ayo turun, kita makan malam-ssu."


Sebelah tangan Kagami terangkat ke depan mulut, mencoba menutup batuk-batuk kecil yang keluar dari sana. Matanya tetap ia arahkan pada temannya yang berambut biru langit yang tengah berjalan di sampingnya. Harus Kagami akui, beberapa hari belakangan temannya satu ini terlihat aneh. Tidak, mungkin lebih tepat jika dikatakan sejak Senin kemarin sikap temannya satu itu berubah. Apa sesuatu terjadi di akhir pekan?

Entahlah, mungkin hanya perasaan Kagami saja tapi sepertinya terkadang Tetsuya menjaga jarak darinya. Ada saat di mana ia tidak mau didekati Kagami, tapi ada juga saat di mana ia menawarkan diri menemani Kagami.

Seperti sekarang ini misalnya. Mereka berdua berjalan pulang ketika hari masih cukup terang karena Kagami tidak ikut latihan karena belum sembuh benar dari sakit dan Tetsuya bersikeras menemaninya pulang.

"Kau yakin tidak mau ikut latihan, Akashi?" tanya Kagami tadi ketika mereka masih ada di halaman sekolah. Ketika itu Tetsuya memalingkan wajahnya dari Kagami lalu menghela napas, kebiasaan yang Kagami tahu dilakukan Tetsuya ketika ia berbohong atau akan berbohong.

"Tidak, Kagami-kun lebih penting."

Tapi ini bukan kali pertama Tetsuya membolos latihan minggu ini. Tunggu, setelah Kagami pikir-pikir lagi, sepertinya Tetsuya hanya datang latihan hari Senin saja meski alasannya tidak selalu mengantar Kagami pulang. Apa yang sebenarnya terjadi?

Sebentar lagi mereka sampai di rumah Kagami, dan kesadaran itu membuat Kagami panik. Anak berambut sewarna api itu menoleh dan membuka mulutnya tanpa pikir panjang.

"Akashi," panggil Kagami. Tanpa anak itu sadari, alisnya berkerut sedikit. Tetsuya menoleh.

"Apa?" dengan wajah datar khasnya, Tetsuya menjawab.

Sekarang justru Kagami yang bingung. Ia tahu ada yang salah di sini dan ia sangat ingin bertanya. Tapi apakah tidak akan aneh jika tiba-tiba ia bertanya "kau baik-baik saja?" begitu tanpa aba-aba apa pun sebelumnya? Ah, ia sama sekali tidak pandai bicara seperti ini.

Setelah beberapa lama melakukan perdebatan internal, Kagami akhirnya memutuskan untuk bertanya. "Akashi, kau baik-baik saja?"

Tetsuya berkedip beberapa kali, jelas tidak mengira Kagami akan bertanya hal itu. Anak berambut biru langit tersebut sampai berhenti dan memandangi Kagami beberapa saat sebelum akhirnya melanjutkan berjalan dan menjawab.

"Tentu saja. Kenapa Kagami-kun bertanya begitu?"

Sekarang giliran Kagami yang terdiam sejenak. "Tidak, hanya saja kau… aku lihat kau membolos latihan."

Tetsuya diam. Benar-benar diam jadi saat Kagami merasa Tetsuya memang tidak berniat menjawab, ia berkata lagi, "apa terjadi sesuatu?"

Tanpa terasa mereka sudah sampai di depan rumah Kagami. Kagami membuka pagar dan masuk. Pagar rumah keluarga Kagami memang hanya setinggi dada, jadi anak berambut api tersebut masih bisa berbicara dengan Tetsuya.

Mata merah api miliknya memandang tajam Tetsuya, dalam diam ia meminta temannya itu menjawab dengan jujur.

"Tidak ada apa-apa," Kagami membuka mulut, hendak membantah pernyataan Tetsuya, "aku hanya berhenti dari klub basket. Aku belum membuat surat pengunduran resmi, sih. Itu saja, Kagami-kun. Kau tidak perlu khawatir."

Ketika Tetsuya berkata Ia berhenti dari klub basket, Kagami merasa dirinya seperti tersambar petir di sore hari yang cerah itu. Tetsuya? Berhenti dari klub basket? Ia tidak salah dengar, kan?

Kagami tadi begitu terkejut hingga ia tidak bisa berkata-kata. Bahkan ketika Tetsuya pamit dan mengucapkan "sampai besok" pun Kagami masih tidak bisa mengatakan apa pun. Setelah mungkin sepuluh menit berdiri diam di balik pagar, Kagami akhirnya menemukan kesadarannya kembali.

Pasti ada sesuatu. Ya, pasti ada sesuatu yang terjadi dan Kagami tidak tahu. Tidak mungkin Tetsuya yang begitu menyukai basket bisa begitu saja meninggalkan klub basket. Kagami berusaha berpikir keras, mencari-cari alasan yang cukup kuat yang sekiranya bisa membuat Tetsuya memutuskan keluar dari klub basket. Satu-satunya hal yang terlintas di kepalanya adalah adanya sesuatu yang terjadi antara Tetsuya dan Ogiwara.

Begitu pintu depan rumahnya menutup dan Kagami mengucapkan "aku pulang" dengan asal, anak berambut api itu langsung merogoh saku, mengeluarkan ponsel dan mencari kontak dengan nama Ogiwara di sana. Begitu menemukannya, ia langsung menekan tombol telepon. Sembari satu tangannya memegang ponsel, tangannya yang lain berusaha melepaskan sepatu dan kaus kakinya.

Setelah beberapa saat, akhirnya Ogiwara menjawab. "Halo? Tumben kau menelpon, Kagami. Ada apa?"

Tanpa basa-basi terlebih dahulu, bahkan tanpa menyebutkan "halo" sebagai pembuka percakapan, Kagami langsung bertanya, "apa terjadi sesuatu antara kau dan Akashi?"

Respon yang didapat Kagami hanya sebuah "hah?" heran dari seberang telepon. Wajar karena tanpa penjelasan apa pun tiba-tiba saja ia bertanya seperti itu. Samar-samar Kagami mendengar Ogiwara menghela napas panjang lantas menggumamkan "hm" panjang.

"Kupikir malah kau yang bermasalah dengan Akashi," jawaban Ogiwara membuat Kagami tercengang. Apa? "balasan pesannya akhir-akhir ini terasa aneh. Tidak benar-benar aneh tapi… bagaimana mengatakannya ya? Ah, pokoknya kalau kau melihat balasan pesannya, kau pasti berpikiran sama denganku, Kagami."

Setelah mengobrol beberapa saat, memperbarui kabar masing-masing, Kagami menutup sambungan teleponnya. Sembari berjalan ke kamarnya, Kagami berusaha untuk berpikir. Pertama, jelas ada apa-apa dengan Tetsuya, dan kedua, jelas kalau Tetsuya tidak ingin mengatakannya padanya.

Tapi kalau sesuatu itu bisa membuat Tetsuya berhenti dari klub basket -padahal ia sangat suka basket—berarti sesuatu itu pasti serius, kan? Apa yang sebaiknya Kagami lakukan? Kalau Tetsuya tidak mau cerita juga Kagami tidak akan bisa membantu…

Suatu ide masuk ke dalam benak Kagami. Buru-buru ia membuka daftar kontak ponselnya lagi, mencari satu nama yang ia rasa akan bisa membantunya.


Setelah menimbang-nimbang beberapa saat, Momoi akhirnya bersedia untuk mencoba melamar di perusahaan keluarga Seijuurou. Tentu saja Momoi tetap harus melalui prosedur pelamaran kerja biasa, seperti pemeriksaan berkas dan tes wawancara. Tapi untungnya wanita tersebut berhasil lolos.

Masih terbayang di benak Momoi bagaimana ekspresi asisten pribadi sementara Seijuurou ketika mendengar ia akan dikembalikan ke posisinya sebelumnya. Pria berambut hitam itu menjabat tangan Momoi erat dengan ekspresi seakan Momoi baru saja menyelamatkan hidupnya. Meski Seijuurou sudah mengatakan padanya kalau Momoi harus melalui masa percobaan tiga bulan jadi belum berarti Momoi akan menggantikan posisinya secara permanen, pria itu kelihatannya tidak peduli.

Setelah jam makan siang hari itu, ia langsung memberikan Momoi instruksi dan jadwal-jadwal Seijuurou.

Maka dari itu, di sinilah Momoi berada, di dalam ruangan Seijuurou. Niat awalnya adalah memberitahu Seijuurou kalau sekarang sudah jam makan siang -meski bagi Momoi ini terkesan lucu, karena hei, ini hanya makan siang, rasanya tidak benar-benar perlu mengingatkan Seijuurou makan siang—tapi sekarang ia justru duduk di kursi persis di hadapan Seijuurou, memandangi sosok teman lamanya yang sepertinya tengah melamun.

Pria berambut merah tersebut duduk diam, matanya menatap layar laptopnya dengan pandangan kosong. Sesekali sebelah tangannya akan terangkat dan menyentuh dagu. Sekilas ia terlihat seperti pekerja kantoran yang tengah memikirkan pekerjaan, tapi Momoi tahu lebih baik dari itu.

Apa pun itu yang tengah menguasai pikiran Seijuurou sama sekali tak ada dalam laptopnya.

Momoi tersenyum, teringat masa-masa sekolah mereka. Wanita tersebut mencondongkan badannya, melipat tangannya di atas meja, dan menunggu sembari memakan sebungkus sandwich yang dibelinya sebelum datang ke kantor pagi ini. Lima menit, sepuluh menit berlalu tapi Seijuurou tak kunjung sadar dari lamunannya. Meski Momoi mengakui kalau melihat wajah Seijuurou yang sedang serius seperti ini sangat menyegarkan mata, tapi waktu makan siang mereka terus menipis dan Seijuurou butuh makan.

"Akashi-kun," panggil Momoi akhirnya. Seijuurou tetap diam. Senyum tipis tergambar di bibir Momoi. "Akashi-kun, sudah jam makan siang."

Kali ini Seijuurou tersentak kaget. Ia mengangkat kepalanya yang tadinya terfokus diarahkan pada laptop. Pancaran heran tergambar dalam matanya ketika ia menatap Momoi. Mungkin pria itu bepikir bagaimana Momoi bisa muncul begitu saja di hadapannya. Perlu usaha keras bagi Momoi untuk tidak menertawai bosnya.

"Aku sudah mengetuk pintu, tapi tidak ada jawaban," Momoi menjawab pertanyaan yang tak disuarakan Seijuurou. "Ah" pelan keluar dari mulut pria tersebut kemudian ia menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. Sebelah tangannya terangkat memijat pangkal hidung. "Lima belas menit lagi makan siang selesai, Akashi-kun. Cepatlah makan."

"Terima kasih, Momoi," ujar Seijuurou. Pria tersebut membungkuk, meraih tasnya dan mengeluarkan kotak bekal dari sana. "Bagaimana denganmu?"

Momoi mengangkat sebelah tangannya dan mengibaskannya sambil lalu. "Aku sudah makan sandwich sambil melihatmu tadi."

Seijuurou tersenyum, senyum malu karena Momoi bisa melihat pipinya disapu sedikit warna merah muda.

"Ada masalah, Akashi-kun?" tanya Momoi santai, membuka obrolan kecil sembari menemani bosnya makan siang. Toh ia tidak ada kerjaan lain dan Seijuurou juga sepertinya tidak keberatan dengan keberadaannya.

Seijuurou mengangkat kepalanya, alisnya terangkat. "Kenapa bertanya begitu?"

Momoi mengangkat bahu dan mengalihkan pandangannya ke arah lain. "Entahlah, kau tadi melamun."

Alis Seijuurou kini berkerut dan Momoi mengerti kalau kata-katanya tadi tidak terdengar masuk akal. Wanita itu buru-buru menambahkan, "maksudku, dulu Akashi-kun selalu melamun kalau ada sesuatu. Tapi entahlah, mungkin Akashi-kun sudah berubah dalam beberapa tahun ini."

Seijuurou memandangnya, berkedip beberapa kali sebelum tersenyum lembut. Momoi jadi sedikit salah tingkah diperlihatkan senyum seperti itu. Wanita itu cepat-cepat mengalihkan pandangannya ke arah foto keluarga Akashi yang dipajang di sudut meja kerja Seijuurou. "Maaf, aku terlalu ikut campur. Kau memang melarangku untuk bersikap formal tapi aku tidak seharusnya—"

"Tidak, kau benar," potong Seijuurou. "Memang ada sesuatu yang mengganggu pikiranku. Tidak perlu minta maaf, Momoi."

Pria berambut merah tersebut menyuap sepotong sosis berbentuk gurita ke dalam mulutnya. Momoi memerhatikannya tanpa berkedip. Benak wanita tersebut menimbang-nimbang antara bertanya lebih lanjut dan tidak. Apakah ia akan dianggap melanggar batasan kalau bertanya?

Momoi memutuskan untuk bertanya karena menurutnya, Seijuurou adalah teman lamanya dulu baru bosnya. "Jadi?"

Seijuurou kembali mengangkat kepalanya. Senyum terkembang di wajahnya meski mulutnya penuh. Melihatnya membuat Momoi mau tak mau ikut tersenyum. Setelah Seijuurou berhasil menyelesaikan makannya dalam lima menit dan minum, pria tersebut menyilangkan tangan di atas meja, "apa kita akan mengulang kebiasaan lama?"

Momoi terkekeh. "Tapi aku sama sekali tidak memaksa. Bilang saja kalau Akashi-kun tidak suka dengan sikapku."

Seijuurou menggeleng lembut. "Tidak, tidak apa. Kalau denganmu kurasa tidak apa."

Momoi diam, mempersilakan Seijuurou untuk memulai ceritanya.

"Menurutmu…" Momoi mengangguk satu kali. "apa yang sekiranya bisa membuat seseorang marah padamu hingga bertahun-tahun?"

Momoi tersentak. Marah hingga bertahun-tahun? Kalau begitu pasti penyebabnya bukan sesuatu yang enteng. Sebelah tangan wanita itu terangkat mengetuk dagu. Gumaman "hmm" panjang keluar dari bibirnya.

"Tunggu, bagaimana awalnya orang ini bisa marah padamu?" tanya Momoi setelah berpikir beberapa saat dan masih tidak menemukan titik terang. "Pasti ada awalnya, kan?"

Seijuurou menarik napas. Dari wajahnya, Momoi mengira pria itu tengah berpikir bagaimana baiknya menjelaskannya. Setelah beberapa saat, akhirnya Seijuurou menjawab, "awalnya ia baik-baik saja padaku. Lalu ada suatu saat di mana aku berjanji akan datang pada hari pentingnya tapi karena ada acara mendadak lain yang muncul, aku jadi tidak dapat datang. Aku tidak mengira ia akan begitu marah padaku hingga menolak terbuka padaku lagi."

Satu nama muncul begitu saja dalam benak Momoi ketika mendengar cerita Seijuurou. "Apa ini tentang Dai-chan?"

Seijuurou memasang tampang terkejut untuk beberapa saat, sebelum realisasi menghantamnya. "Ah ya, aku lupa kalau kau tahu. Iya, ini tentang Daiki."

Momoi terdiam lagi, berpikir. "Menurutku, Akashi-kun. Hari itu ia tidak hanya ingin 'dilihat' olehmu. Mungkin ada sesuatu yang ingin ditunjukkannya khusus untukmu, mungkin ia ingin membuktikan sesuatu, tapi kau tidak datang makanya ia kecewa sekali. Aku rasa ia sudah tidak benar-benar marah lagi sekarang, tapi entahlah."

"Begitu ya," gumam Seijuurou. Matanya langsung mengarah ke depan laptopnya lagi, kali ini mata merah kembar itu memancarkan kesenduan. Lirih sekali, ia menghela napas panjang.

"Ia masih menjaga jarak darimu?" tanya Momoi pelan, sedikit hati-hati ia bertanya.

Seijuurou mengangguk. "Akhir-akhir ini memburuk. Sepertinya terjadi sesuatu di sekolahnya yang membuatnya jadi semakin emosional."

Momoi menggumam. Kepalanya mengangguk-angguk paham. Untuk beberapa saat keduanya terdiam. Momoi melirik pergelangan tangan Seijuurou yang dilingkari sebuah jam tangan hitam. Waktu menunjukkan pukul dua belas empat puluh lima menit. Sebentar lagi istirahat mereka berakhir.

"Akashi-kun," panggil Momoi pelan, tapi tetap berhasil mengambil perhatian Seijuurou. "Kau pernah menjelaskan pada Dai-chan yang sebenarnya? Maksudku, keseluruhan ceritanya?"

Seijuurou diam sesaat. "Tidak… Kupikir tidak ada gunanya juga memberitahunya. Aku rasa aku mengatakannya pun tidak akan membuat perasaannya terhadapku membaik."

Momoi mengulum bibirnya. Jika ada satu hal yang tidak disukai Momoi dari Seijuurou adalah kebiasaannya tidak mengatakan hal yang menurutnya tak perlu. Pria itu menganggap orang lain pada akhirnya akan mengerti maksudnya juga. Tapi, meski kebanyakan orang pada akhirnya mengerti maksud Seijuurou, tetap saja akan ada orang-orang yang tidak dapat mengerti. Seperti Daiki misalnya.

Momoi merasa ia bisa meraba-raba dasar dari perubahan sikap Daiki terhadap Seijuurou dan Momoi merasa itu karena Seijuurou tidak mengatakan semua yang seharusnya dikatakan.


Sejujurnya, Seijuurou sedikit terkejut ketika ia menerima pesan dari Kagami karena biasanya ialah yang menghubungi Kagami. Itu pun biasanya untuk menanyakan keberadaan Tetsuya. Alarm tanda bahaya dalam kepalanya langsung berdering nyaring. Firasatnya langsung berubah buruk. Benaknya dipenuhi kemungkinan sesuatu yang buruk telah terjadi pada Tetsuya.

Terlebih ketika pesan tersebut berisikan permintaan untuk bertemu, berdua saja karena ada yang ingin Kagami bicarakan mengenai si bungsu.

Seijuurou langsung mengiyakan dan meminta Kagami bertemu dengannya di akhir pekan karena ia hanya punya waktu luang pada saat itu. Oleh karena itu, duduklah Seijuurou -untuk yang kedua kalinya minggu ini—di Maji Burger dengan Kagami di hadapannya, tengah menyesap soda yang dibelikan Seijuurou.

Meski sudah kenal lama dengan Seijuurou, tapi sepertinya anak tersebut masih takut-takut berhadapan dengan kakak tertua Tetsuya itu. Seijuurou dengan sabar menunggu Kagami berbicara. Setelah menunggu beberapa detik, akhirnya anak berambut sewarna api itu berdeham canggung.

"Um, maaf mengganggu, Akashi-san. Tapi ini tentang Akashi," Alis Kagami mengernyit ketika menyebut "Akashi" di akhir kalimat. Mungkin rasanya aneh baginya memanggil Tetsuya dengan "Akashi" di depan seorang Akashi juga.

Seijuurou mengulum senyum. "Santai saja, Kagami."

Bahu Kagami turun perlahan mendengar kata-kata Seijuurou. "Jadi begini… um, sejak hari Senin kemarin sikap Akashi jadi aneh. Ia bahkan bilang padaku dua hari lalu kalau ia akan berhenti dari klub basket," alis Seijuurou terangkat tinggi di sini, "aku jadi berpikir apa sudah terjadi sesuatu padanya."

Oke, jadi masalah Tetsuya tidak sesederhana kelihatannya. Ternyata sikap aneh Tetsuya selama beberapa bulan terakhir memiliki akar yang jauh lebih dalam dari yang diperkirakan Seijuurou. Seijuurou berusaha untuk tidak menggumam panjang dan mengusap dagu di hadapan Kagami.

"Kagami sudah minta Tetsuya bercerita?"

"Aku sudah tanya tapi Akashi tidak mau mengatakan apa-apa padaku."

Jadi ini sebabnya Kagami mengiriminya pesan meminta bertemu. Anak ini pasti berpikir jika ia tidak bisa membujuk Tetsuya bicara, maka Seijuurou akan bisa melakukannya. Padahal Seijuurou sendiri juga bingung sejak beberapa minggu lalu. Ia bahkan tidak tahu apa yang mungkin bisa membuat Tetsuya jadi seperti ini.

Karena Seijuurou tidak kunjung bicara, Kagami memutuskan untuk melahap burger teriyakinya. Seijuurou kini mengetuk-ngetuk permukaan meja dengan telunjuknya, berpikir.

"Menurut Kagami," Kagami berhenti mengunyah dan langsung menelan makanannya, "sebelum Tetsuya mengatakan akan keluar dari klub basket, jauh sebelum itu, bagaimana keadaannya? Apa ada sesuatu terjadi padanya?"

Kagami diam. Sebelah tangannya meraih gelas sodanya dan menyeruput isinya sedikit. "Hmm, ada."

Jeda sejenak.

"Akashi sedikit murung karena ia kesulitan dengan latihan klub basket. Ia berlatih sangat keras, aku tahu, tapi ia tidak kunjung naik ke lapis kedua. Mungkin itu membebaninya, apalagi aku dan ia sudah janji pada Ogiwara untuk bertemu di laga resmi."

Oke, ini menarik. Sedikit demi sedikit mulai terbentuk gambaran di kepala Seijuurou. Gambaran hal-hal yang mungkin dapat menjadi dasar dari perilaku Tetsuya.

"Baiklah, lalu?" tanya Seijuurou, mendorong Kagami untuk terus bicara.

"Lalu, entahlah, sepertinya ada sesuatu yang terjadi antara ia dan pelatih. Aku lihat pelatih mengajaknya bicara saat tes kenaikan tingkat kemarin. Mungkin pelatih membawa kabar tidak baik karena setelah itu kulihat wajah Akashi tidak gembira sama sekali."

Kagami kembali menyeruput sodanya. Sedikit lucu melihatnya mengerut di hadapan Seijuurou seperti ini padahal ia memiliki badan yang cukup besar.

Seijuurou rasa ia sudah bisa mengerti gambaran besar permasalahan Tetsuya. Kalau melihat gestur-gestur yang diperlihatkan Tetsuya beberapa bulan belakangan dan dari cerita Kagami maka…

"Baiklah, aku mengerti. Jadi Kagami ingin aku bicara pada Tetsuya dan membantunya?" tanya Seijuurou, sekadar berbasa-basi.

Kagami mengangguk cepat. "Maaf merepotkanmu, Akashi-san."

"Kagami ini bicara apa. Kagami sama sekali tidak merepotkanku. Aku justru senang karena ada yang begitu memerhatikan adikku," Sebelah tangan Seijuurou terangkat dan mengelus lembut puncak kepala Kagami, "terima kasih, Kagami."

Jadi, sekarang Seijuurou sudah mengetahui inti permasalahan yang dihadapi Tetsuya, apa yang sebaiknya ia lakukan? Langsung menemui Tetsuya dan bertanya padanya? Atau justru memancingnya agar mengatakannya langsung padanya?

Seijuurou berpikir sembari menyesap soda miliknya.


Daiki bosan.

Dulu Daiki sempat berpikir diskors selama seminggu akan terasa menyenangkan karena itu berarti ia bisa membolos pelajaran selama seminggu. Tapi kenyataannya tidak juga. Ingin main keluar juga ia harus berpikir ulang. Kalau ia keluar pada jam sekolah, bisa-bisa ia dicurigai dan diamankan polisi. Masalah akan jadi makin runyam kalau sampai itu terjadi.

Makanya ketika akhir pekan datang, Daiki benar-benar memanfaatkannya. Pemuda berkulit hitam tersebut pergi berjalan-jalan. Ia tidak benar-benar memiliki tujuan, tapi ia tidak peduli. Yang penting adalah ia bisa segera keluar dari rumah, mencari udara segar guna membersihkan pikirannya.

Akhir-akhir ini ia terus memikirkan Tetsuya dan Seijuurou. Meski ia tahu Tetsuya baik-baik saja -Seijuurou memberitahu keadaan Tetsuya pada mereka semua—tapi akhirnya ia tetap saja khawatir, ia tetap merasa tumbangnya Tetsuya waktu itu adalah salahnya juga. Sedangkan untuk Seijuurou… setelah bicara dengan Ryouta beberapa hari lalu, Daiki mulai mempertanyakan sikapnya sendiri dan motif Seijuurou.

Bagaimana kalau Ryouta benar? Bagaimana kalau sebenarnya apa yang dikatakan Seijuurou, permintaan maaf Seijuurou padanya dulu memiliki arti lebih? Bukankah Seijuurou memang orang yang seperti itu? Ia enggan mengatakan seluruh kenyataan kecuali jika ditanya.

Sakit hatinya, pendiriannya untuk menjaga jarak dari Seijuurou, kini mulai goyah.

Daiki berjalan melewati sebuah minimarket dan baru ketika itu ia teringat. Majalah langganannya edisi bulan ini sudah terbit. Ah, melihat-lihat foto model favoritnya pasti dapat membersihkan pikirannya yang berantakan saat ini. Sebelah tangan Daiki masuk ke dalam saku, memeriksa apakah ada uang di sana. Pemuda itu menghela napas lega, untung saja ia sempat menjejalkan uang ke sakunya sebelum pergi.

Cepat Daiki merubah haluan berjalannya. Bunyi klining ketika pintu minimarket dibuka beserta ucapan selamat datang dari pegawai minimarket menyambut Daiki ketika ia masuk. Tanpa memandang rak-rak lain, pemuda itu langsung berjalan menuju rak majalah dan koran. Majalah yang ia inginkan ia ambil dan ia buka-buka sambil berdiri.

Benar dugaannya, melihat model-model cantik dalam majalah tersebut memang membuat pikirannya jadi sedikit lebih baik.

"Eh, Dai-chan?"

Daiki menoleh dan mendapati asisten pelatihnya tengah berdiri di sampingnya, tengah menengok ke arahnya memerhatikannya. "Wah, ternyata benar."

Apa yang perempuan itu lakukan di sini?

Daiki memutuskan untuk diam saja karena ia yakin jika ia membuka mulut, pasti perdebatan panjang akan mulai terjadi antara ia dan wanita itu. Daiki memfokuskan kembali pandangannya pada majalah yang terbuka di tangannya.

"Sedang apa di sini?" tanya Momoi.

Daiki memutar matanya. "Menjernihkan pikiran."

Meski tidak menoleh ke arah Momoi, tapi pemuda itu tahu kalau Momoi tengah diam, dengan bibir sedikit dimajukan dan ada "hmm" panjang keluar dari bibirnya. "Berarti sedang ada masalah ya?"

"Siapa yang bilang begitu?" kata Daiki sedikit ketus. Entah kenapa, meski tidak benar-benar bermaksud, pada akhirnya Daiki selalu berbicara sedikit ketus padanya, seperti ketika ia bicara dengan Ryouta. Ah, mungkin karena pada dasarnya kepribadian wanita ini dan Ryouta mirip.

"Kau bilang kau sedang menjernihkan pikiran, berarti sekarang pikiranmu keruh," terang Momoi. Perempuan itu kini mengalihkan pandangannya pada deretan majalah di hadapannya. Sebelah tangannya terangkat mengambil sebuah majalah fashion dan mulai membolak-baliknya.

Daiki diam karena Momoi benar.

"Apa masalahmu berhubungan dengan kakakmu?" tanya Momoi tiba-tiba. Pertanyaan itu berhasil mengagetkan Daiki hingga ia menolehkan kepalanya dalam kecepatan kilat ke arah wanita itu. Bagaimana wanita itu bisa tahu?

"Aku punya sumber," kata Momoi lagi tanpa diminta. Kedua bahunya terangkat tinggi. "Bicaralah dengan kakakmu. Ia bukan cenayang, Dai-chan. Ia tidak akan mengerti apa maumu kalau kau tidak bilang padanya dengan jelas."

Tepat saat itu, urat kemarahan Daiki serasa baru saja digunting. Memangnya tahu apa wanita ini?

Tangan hitam Daiki mulai membolak-balik halaman majalah yang ia pegang dengan kasar.

"Itu bukan urusanmu. Mudah buatmu bilang begitu."

Setelah itu Daiki berusaha menulikan telinganya dan kembali menikmati majalah di tangannya. Momoi juga sepertinya cukup terkejut dengan kata-katanya yang jadi lebih ketus karena setelahnya perempuan itu tidak bicara lagi.

Tapi perkiraan Daiki salah, perempuan itu diam karena tengah menyusun kata. Bukan karena ia kaget dengan cara bicara Daiki.

"Lagi pula, kenapa kau begitu marah karena ia tidak bisa datang ke pementasanmu tujuh tahun lalu?" tanya Momoi tiba-tiba dan pertanyaan ini membuat perasaan Daiki campur aduk. Di satu sisi ia heran bukan kepalang karena seharusnya hanya keluarganya yang tahu soal itu, di sisi lain ia merasa kesal dengan Momoi yang menganggap enteng perasaannya.

Mungkin bagi Momoi hal seperti itu bukan hal besar.

"Memangnya kau tahu apa? Kau, kan, tidak tahu bagaimana rasanya sudah berusaha keras untuk membuat orang bangga tapi ternyata orang yang ingin kau buat bangga justru dengan mudahnya melanggar janji dan tidak melihat usahamu. Tidak menghargai usahamu. Rasanya seperti orang bodoh, asal kau tahu saja."

"Ooh, jadi begitu."

Ah, sial. Karena kesal, tanpa sadar Daiki bicara tanpa berpikir. Niat awalnya adalah ia ingin membuat Momoi diam dengan menyindirnya keras. Ia sama sekali tidak berpikir kalau kata-katanya tadi justru membuka alasan kenapa ia kesal.

Momoi menutup majalah di tangannya. "Tapi bagaimana kalau sebenarnya sejak awal ia sudah bangga padamu?"

Daiki mendesis meremehkan. Memangnya apa yang ada dalam diri Daiki hingga Seijuurou bangga padanya?

"Dan percayalah, sebenarnya ia menghargai setiap usahamu, Dai-chan. Ia hanya tidak pandai mengeskpresikannya."

Hah, wanita ini bicara apa sih. Bagaimana bisa ia menasihati Daiki ini-itu padahal Daiki sendiri ragu ia tahu sebenarnya siapa kakak Daiki yang tengah mereka bicarakan. Sedikit jengkel dengan sikap Momoi tersebut, Daiki menyuarakan pikirannya.

"Hah, kalau kau pikir kakakku yang kumaksud adalah Ryouta, kau salah besar."

Momoi mendesis kesal. "Aku tahu itu. Aku tahu kau sedang membicarakan Akashi-kun. Akashi Seijuurou. Makanya aku bisa bicara begini."

Daiki diam. Mati kutu.

Siapa sangka kalau ia ternyata kenal Seijuurou? Sebenarnya hubungan pertemanan antara keluarganya dan wanita ini berjalan seberapa dalam? Daiki benar-benar ingin tahu.

Sebelah tangan wanita tersebut terangkat, mengetuk dagu. "Baiklah, mungkin kau tidak akan percaya kalau tidak kuberi bukti kalau Akashi-kun sebenarnya sangat menghargaimu..."


Aku sudah gila.

Kira-kira itulah yang terlintas di benak Daiki saat ini. Ia benar-benar sudah gila. Tapi ia menyalahkan wanita bernama Momoi Satsuki seratus persen atas kegilaan yang akan dilakukannya.

"Kalau ia masih Akashi-kun yang sama, coba buka laptopnya. Laptop pribadi bukan laptop kerjanya. Buka Disk D, folder berlabelkan "keluarga" dalam laptopnya dan kau akan menemukan sesuatu yang menarik yang akan membuktikan pemikiranmu selama tujuh tahun belakangan ini salah."

Begitulah kira-kira kata-kata Momoi tadi siang. Kata-kata itu terus terngiang di telinga Daiki sejak Momoi mengucapkannya. Ia sudah mencoba mengalihkan perhatiannya pada hal lain selama beberapa jam terakhir. Tapi hasilnya nihil. Pikirannya tetap saja memutar ulang kata-kata Momoi. Lagi dan lagi.

Ia penasaran.

Sangat penasaran.

Apa sekiranya yang Seijuurou simpan dalam laptopnya? Sesuatu yang bisa membuktikan kalau anggapan Daiki selama ini salah?

Dengan gugup, Daiki mengetuk kamar Seijuurou. Setelah terdengar jawaban dari dalam, Daiki membuka pintu, tapi tak benar-benar berani melangkahkan kaki ke dalam. Ia berdiri canggung di bibir pintu.

Seijuurou ternyata tengah duduk di hadapan meja kerjanya. Sebelah tangannya memegang mug yang Daiki rasa berisi kopi dan tangannya yang lain berada di atas keyboard laptop yang Daiki tahu merupakan laptop kerjanya.

"Ada apa, Daiki?" tanya Seijuurou. "Masuklah."

Tapi Daiki bersikeras untuk tetap berada di sana. Ia merasa aneh mendatangi kakaknya secara pribadi seperti ini setelah bertahun-tahun tidak melakukannya. Refleks, sebelah tangannya bergerak mengusap tengkuk.

"Uh, boleh aku pinjam laptop Kakak? Laptopku sedikit bermasalah dan aku punya tugas yang harus kuselesaikan sebelum sekolah lagi besok…"

Bohong. Bohong besar. Laptop Daiki baik-baik saja dan ia tidak punya tugas sekolah yang harus dikerjakan malam itu juga.

Dalam hati Daiki mengutuk Momoi karena perempuan itu telah membuatnya berbohong. Sebenarnya Daiki tidak suka berbohong. Tapi sekali ini Daiki mengesampingkan hal itu.

Seijuurou menatapnya. Hanya menatapnya dan Daiki sungguh, sungguh berharap Seijuurou tidak melihat kebohongannya. Kalau pun melihat, ia berharap kakaknya itu akan mengabaikannya.

Sebelah alis Seijuurou terangkat sedikit, membuat jantung Daiki serasa mau berhenti. Tapi kemudian Seijuurou berkata, "baiklah."

Melihat adiknya yang enggan beranjak dari depan pintu, Seijuurou berinisiatif untuk membawakan laptopnya pada adiknya. Daiki menerimanya, menggumamkan terima kasihnya pelan. Tapi ketika Daiki ingin melesat pergi, Seijuurou menahannya.

"Daiki… kalau memang ada sesuatu di sekolah, tidak, kalau ada sesuatu yang mengganggu Daiki, ceritakan pada Kakak, oke?" kata Seijuurou. Pandangannya menyiratkan betapa kakak sulungnya itu begitu khawatir padanya dan itu membuat Daiki kembali memikirkan tindakannya pada Seijuurou.

Daiki hanya mengangguk lalu cepat-cepat kembali ke kamarnya. Setelah menyingkirkan barang-barang yang tergeletak berantakan di atas meja belajarnya agar ada ruang untuk meletakkan laptop kakaknya, Daiki buru-buru menyalakannya.

Rasa penasarannya tak terbendung lagi.

Menunggu boot laptop yang sebenarnya hanya beberapa detik itu jadi terasa seperti beberapa tahun bagi Daiki. Semuanya terasa sangat lama. Ah, sial, kenapa laptop ini tidak bisa menyala lebih cepat?

Begitu laptop itu menyala sempurna, Daiki cepat menerapkan kata-kata Momoi tadi. Begitu ia membuka Disk D di laptop Seijuurou seperti perintah Momoi, ia disambut deretan folder. Folder bernama "keluarga" menyita langsung perhatiannya. Cepat ia buka folder tersebut. Terdapat banyak video di dalamnya, sepertinya dinamai sesuai dengan tanggal dimasukkannya file tersebut karena ketika Daiki membuka video terbaru yang berlabelkan "040120xx" muncul video Tetsuya di hari pertamanya masuk SMP.

Ada begitu banyak video. Apa ini semua berisi video keluarga mereka? Lalu kenapa ini bisa membuat pemikiran Daiki menjadi salah?

Daiki melihat-lihat tanggal yang tertera pada tiap video. Terlintas dalam benak Daiki, sejak kapan kakaknya ini mengabadikan momen mereka seperti ini?

Daiki pun melihat hingga video terakhir. Video yang pertama kali dimasukkan dalam folder tersebut. Penasaran dengan isi video pertama, Daiki menekan file tersebut dua kali.

Dan alangkah terkejutnya Daiki ketika melihat isi video tersebut.


Karena mengejar update bulan ini (lagi), jadi chap ini dipublish tanpa proofread sebelumnya (lagi). I will update the A/N and reply your reviews in the morning. Btw chap depan itu chap terakhir untuk arc(?) ini abis itu kita akan pindah ke arc terakhir yeeey.

Btw Dee bukan anak kedokteran, jadi maafkan kalo misalnya ada definisi katapleksinya salah hehe.

Special thanks to: Zha Jayo, yohey57, ExileZee, Lilium E. Midford, Raniah94, LNaruSasu, Newbie Kepo, Fujita Mari, Z0E the Queen, Shiro, arudachan, draay, Oto Ichiiyan, AkaHan, Park RinHyun-Uchiha, ainkyu, Jooxxy, Jasmine DaisynoYuki, lateliv, ryo, UchiHarunoKid, VolumeKubus13, Miharu Aina, Ai and August 19, VT Lian, Ayuni Yuukinojo, Wako P, 27aquarrow72, lydiasyafira, EmperorVer, deagitap, Sayounara Watashi, Iftiyan Herliani253, Dewi729.

Balesan buat yang gak login:

ryo: alasannya udah dibilang di atas yaa hehe. Makasih reviewnya :)

lateliv: Makasih udah nyempetin diri buat review hehehe. Pertanyaanmu udah dijawab di sini ya hehe.

Shiro: makasih supportnya. Kan udah kubilang bakal update tiap bulan hehe :v

Tapi Dee seneng banget waktu baca review kalian, liat fav dan follow kalian karena Dee jadi tahu masih banyak yang setia bertahan baca fic ini. Makasih guys. LOVE YOOOOU~

Review please?