Kuroko no Basuke hanya milik Fujimaki Tadatoshi seorang.
Cerita ini hanya milik saya seorang.
Warning: AU, Nice & not-so-perfect! Akashi, brotherly love! a lot of it I think, cuteness ahead(?), alur kecepetan, half-assed chapter, OOC, typo, DLDR!
pengingat mulai chapter ini:
Seijuurou = 23 tahun
Shintarou = 20 tahun
Atsushi = 19 tahun
Ryouta = 17 tahun
Daiki = 16 tahun
Tetsuya= 12 tahun
Enjoy!
Chapter 23: Communication Is Key
Kamera melakukan zoom in hingga bingkai kamera yang tadinya menunjukkan sisi-sisi kelas yang tidak tertutup panggung kini hanya menunjukkan panggung. Dari dengungan obrolan di sana-sini, kemungkinan besar rekaman ini diambil beberapa saat sebelum pementasan apa pun itu dimulai. Tak lama kemudian, sebuah suara terdengar, mengumumkan bahwa pementasan drama kelas 4-4 akan segera dimulai dan pemberitahuan tersebut dengan efektif membuat ruangan menjadi sunyi.
Meski Daiki tidak memiliki ingatan yang benar-benar kuat, tapi ia berani bertaruh kalau yang mengumumkan dimulainya pementasan tadi adalah wali kelasnya ketika ia kelas empat SD dulu.
Tirai merah penutup panggung dibuka, memunculkan sebaris anak-anak berdiri gugup di atasnya, saling bergandengan tangan. Mereka semua menunduk sembilan puluh derajat memberi salam sebelum tirai sekali lagi menutup dan narator mulai mengisahkan pembukaan cerita.
Dalam waktu sekian detik ketika tirai dibuka dan anak-anak menunduk, Daiki langsung bisa menemukan yang mana dirinya di antara belasan anak yang berjejer di atas panggung.
Lagi pula, mana mungkin Daiki tidak melihat sosok satu-satunya anak berkulit gelap berambut biru tua yang terlihat begitu gelisah hingga menggenggam tangan temannya sedikit terlalu kencang?
Tirai merah di panggung kembali terbuka, kali ini menampakkan panggung yang sudah diberi beberapa latar belakang sebuah ruangan dalam rumah kumuh dan properti-properti seperti kursi reyot. Seorang anak perempuan berpakaian lusuh dan kotor memasuki panggung dan mulai memainkan perannya. Tak berapa lama kemudian Daiki masuk, dengan wajah gelisah -yang bukan buatan—mengatakan kalau ia akan membuang si anak perempuan ke hutan mengikuti tradisi.
Pementasan tersebut berjalan sekitar tiga puluh menit dan sepanjang pementasan, Daiki yang berusia enam belas tahun bisa melihat betapa gelisah dan sedihnya Daiki yang berada di dalam layar. Masih segar di ingatannya sakit hati yang dirasakan Daiki dalam layar hingga ia menangis sungguhan di adegan terakhir.
Setelah sekali lagi anak-anak kelas 4-4 membungkuk memberi salam pada para penonton dan tirai merah ditutup, layar laptop Seijuurou berubah hitam dengan logo aplikasi pemutar rekaman di tengahnya.
Daiki diam, beberapa saat, berusaha memproses apa yang baru saja dilihatnya.
Tidak salah lagi, ini adalah rekaman pementasannya tujuh tahun lalu. Pementasan yang membuat kepercayaan serta rasa hormatnya pada Seijuurou hilang.
Tapi, Daiki ingat betul kalau hari itu mata birunya sama sekali tidak menangkap sehelai pun rambut merah di antara barisan para penonton. Lantas, bagaimana rekaman ini bisa ada? Daiki juga tidak ingat pernah melihat wajah-wajah familiar di jajaran kursi penonton saat pementasan tersebut. Dan lagi, setelah menonton ini, bagaimana seharusnya ia bersikap pada Seijuurou? Apa rekaman ini bukti nyata kalau selama ini Daiki salah menilai?
Selama dua menit yang terasa begitu panjang, Daiki berusaha untuk memikirkan bagaimana rekaman itu ada sekaligus memikirkan apa artinya semua ini. Sayangnya, Daiki bukanlah seorang pemikir, tidak, seorang Akashi Daiki tidak pernah menjadi seorang pemikir.
Oleh karena itu, ketika ia sudah tidak tahan lagi, ketika ia tak kunjung mendapatkan jawaban atas pertanyaan yang terus bermunculan sejak ia menonton rekaman itu, ia berdiri, menyambar laptop Seijuurou, dan berjalan cepat menuju kamar si sulung.
Tepat di depan pintu kamar Seijuurou, Daiki berhasil mengingatkan diri untuk mengetuk tapi ia tak menunggu izin dari Seijuurou untuk masuk. Seijuurou masih berada di posisi yang sama dengan ketika Daiki masuk ke kamarnya kira-kira tiga puluh menit lalu; di depan meja kerja dengan sebelah tangan memegang mug berisi kopi dan tangan lainnya berada di atas keyboard laptop kerjanya.
Kepala berambut merah Seijuurou menoleh ke arah pintu. Alisnya terangkat tinggi dan matanya melebar melihat siapa pengunjungnya malam ini. Daiki tahu kalau kakaknya terheran-heran melihatnya karena malam ini ia sudah berkunjung dua kali, lebih banyak dari pada jumlah kunjungannya ke kamar sang kakak dalam enam bulan terakhir, atau bahkan mungkin setahun terakhir.
"Ada apa, Daiki? Apa ada masalah?" khawatir langsung membasahi wajah Seijuurou, tipikal si sulung. Dalam keadaan normal, mungkin Daiki akan meringis melihat reaksi sang kakak karena secara tidak langsung, kakaknya mengasosiasikan dirinya dengan masalah. Tapi saat ini Daiki tidak memedulikan itu.
"Apa maksudnya ini?" tanya Daiki sembari mengambil satu langkah maju. Pemuda tersebut sempat ragu untuk mengangkat sebelah kakinya, tapi akhirnya ia menjejakkan kakinya di dalam kamar sang kakak.
Alis merah Seijuurou bertaut tapi tubuhnya terlihat lebih rileks ketika menyadari kalau tidak ada masalah serius yang perlu penanganan segera. Kelihatannya pria itu berusaha untuk mengingat-ingat pembicaraan apa yang mereka lakukan sebelumnya yang mungkin bisa dijadikan referensi untuk pertanyaan Daiki, dan ia gagal menemukannya. Sebelum si sulung sempat membuka mulutnya untuk bertanya, Daiki menunjukkan layar laptop Seijuurou yang telah Daiki buat agar memutar ulang rekaman pementasannya.
Daiki sama sekali mengesampingkan kemungkinan kakaknya akan marah karena Daiki telah seenaknya membuka-buka file di laptop pribadinya tanpa izin. Tapi untungnya, Seijuurou tidak menyadari itu. Atau mungkin pria tersebut menyadari tapi tak benar-benar peduli.
Satu kata "ah" pelan menyusup keluar dari bibir tipis Seijuurou. Telunjuk Daiki menekan tombol spasi hingga rekaman di layar berhenti berputar. Melihat reaksi sang kakak yang begitu datar, Daiki nyaris menggeram tak sabar. "Seperti yang Daiki lihat, itu pementasan Daiki tujuh tahun yang lalu."
Daiki berusaha mengingatkan diri bahwa ia sedang memegang laptop sang kakak, karena kalau tidak, mungkin kedua tangannya akan terangkat menjambak rambut akibat frustrasi. Tanpa Seijuurou jelaskan pun Daiki tahu, benar-benar tahu dan sadar, kalau rekaman yang baru saja ia putar adalah rekamannya ketika ia kelas empat SD dulu. "Apa maksudnya ini? Kenapa tidak pernah mengatakan apa-apa padaku kalau… kalau Kakak punya ini?"
Daiki menyadari tangan kakaknya berjengit di sisi tubuhnya. "Kakak pikir penjelasan Kakak tidak akan penting bagi Daiki," Daiki buka mulut, hendak menyela tapi terpotong, "karena Kakak ingat hari itu jelas Daiki bilang Daiki ingin Kakak datang dan menonton pementasan Daiki."
Daiki diam. Alisnya berkerut. Pemuda itu tahu hari yang dimaksud Seijuurou adalah hari ketika ia masuk ke kamar ini, dengan takut-takut meminta Seijuurou menontonnya bermain peran tapi ia tidak ingat persis kata-katanya sendiri. Benarkah ia berkata dengan spesifik kalau ia ingin Seijuurou datang? Tapi kalau pun ia memang berkata begitu, ia tidak benar-benar bisa disalahkan karena ia tidak tahu Seijuurou punya kamera sehingga bisa merekam pementasannya untuk ditonton lain waktu.
"Tapi Kakak tidak bisa datang waktu itu karena waktu pementasan Daiki dan Ryouta bertabrakan, Kakak memilih untuk datang ke pembacaan karangan Ryouta karena Kakak pikir Ryouta lebih membutuhkan Kakak waktu itu. Tapi Kakak tidak mau -tidak, tidak bisa—melewatkan pementasan Daiki begitu saja. Itu hari penting Daiki, Kakak tahu, jadi Kakak meminta orang lain untuk datang dan merekamkannya untuk Kakak."
Sepanjang penjelasannya, Seijuurou menatap Daiki tepat di mata. Untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun, Daiki saling memandang dengan kakaknya, berbicara dengan jelas langsung ke wajah masing-masing. Tidak ada lagi tatapan yang dilarikan ke arah lain, tidak ada lagi kata-kata yang diutarakan dalam bisikan.
Untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun terakhir, Seijuurou menunjukkan kepada Daiki ekspresi lain selain lelah dan frustrasi. Rasa sakit dan putus asa bisa dibilang adalah ekspresi yang tergambar di hampir keseluruhan wajahnya.
"Saat pembacaan karangan Ryouta selesai, ternyata pementasan Daiki juga sudah selesai. Kakak berusaha menjelaskan kenapa Kakak tidak bisa datang tepat waktu, tapi Daiki terlalu marah—"
"Tapi Kakak tidak pernah menjelaskan kalau Kakak tidak benar-benar melewatkan pementasanku," potong Daiki, tanpa sadar volume suara pemuda itu meninggi. Untungnya, Seijuurou terlihat sama sekali tak terganggu karenanya.
"Melihat Daiki marah membuat Kakak berpikir kalau yang Daiki inginkan adalah kehadiran Kakak hari itu, bukan fakta kalau Kakak tidak benar-benar melewatkan pementasan Daiki."
Kata-kata Seijuurou membuat Daiki merasa seperti tersambar petir, hanya saja petir yang menyambarnya bernama petir kesadaran. Astaga, betapa sesungguhnya masalah mereka begitu sederhana, begitu simpel hingga rasanya Daiki ingin tertawa, menertawakan kebodohan mereka sendiri.
Karena sesungguhnya, inti semua ini hanyalah miskomunikasi. Daiki tidak memberitahu dengan jelas bahwa sesungguhnya, ia hanya ingin Seijuurou melihatnya, tidak peduli kalau tidak hari itu juga, tidak peduli dengan cara apa, sedangkan Seijuurou berpikir kalau yang Daiki inginkan adalah kedatangannya hari itu sehingga ia berpikir tak akan ada gunanya menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi karena menurutnya, penjelasannya tidak akan mengubah fakta kalau hari itu ia tidak hadir.
Kini dalam benak Daiki berputar berbagai kata "seandainya" dengan berbagai embel-embelnya.
Seandainya saja hari itu Daiki mengatakan keinginannya dengan jelas. Seandainya ia menjelaskan pada Seijuurou kenapa ia marah. Seandainya saja hari itu Seijuurou menjelaskan apa yang sebenarnya ia rencanakan. Seandainya saja mereka berdua tidak berspekulasi sendiri.
Seandainya saja mereka bicara lebih cepat, maka tidak perlu ada jarak tercipta di antara mereka selama tujuh tahun ini.
Melihat ekspresi di wajah Seijuurou sudah berubah menjadi ekspresi penuh keraguan, Daiki tersadar dari pikirannya sendiri. Barulah ia sadar kalau ia telah terdiam beberapa saat terlalu lama. Sekali lagi mengingatkan diri kalau ia masih memegang laptop sang kakak, Daiki menahan diri untuk mengusap kepalanya dengan sebelah tangan. Pemuda berkulit gelap tersebut meletakkan laptop sang kakak -yang kini memasuki mode sleep—di atas meja kerjanya.
"Aku…" Daiki, dengan tangan yang kini telah bebas—mengangkat sebelah tangannya dan mengusap kepalanya. "sebenarnya aku…"
Daiki tidak tahu bagaimana harus memulai. Sejujurnya Daiki tidak pernah pandai memulai atau melakukan pembicaraan seperti ini. Ia hanya pernah melakukan hal semacam ini dengan Ryouta, tapi waktu itu pun ia hanya meminta -atau mungkin menginterogasi?—Ryouta untuk bicara lebih jujur mengenai insiden pemukulan teman sekelas Ryouta dulu.
Ryouta yang waktu itu bicara dengan jujur, bukan Daiki. Daiki hanya jadi pendengar dan pembujuk agar Ryouta mau bicara.
"Ah, bodoh sekali," Daiki mengusap wajahnya frustrasi setelah beberapa saat gagal mengeluarkan sepatah kata pun.
"Daiki masih marah?" akhirnya Seijuurou angkat bicara ketika melihat adiknya tak kunjung berhasil menemukan kata-kata yang tepat untuk diucapkan tapi jelas terlihat kalau ia masih ingin mengatakan sesuatu. "Maksud Kakak, tentang pementasan itu."
Setelah mengetahui yang sebenarnya, apa Daiki masih bisa marah pada Seijuurou? Apakah masih berhak? Meski memang Seijuurou tidak datang menonton hari itu, toh Seijuurou repot-repot meminta tolong pada seseorang untuk datang dan merekamkan pertunjukan itu untuknya. Lagi pula, setelah apa yang ia lakukan hari itu, ia masih tidak marah pada Daiki karena mendiamkannya untuk alasan yang tak benar-benar jelas untuknya. Padahal, setelah mendengarkan penjelasannya tadi, Daiki sadar kalau kakaknya punya hak untuk marah padanya.
Tapi Seijuurou tidak melakukannya.
"Aku…" Daiki memulai, tapi tak bisa melanjutkan. Di satu sisi ia ingin mengatakan dengan jujur apa yang ia rasakan, tapi di sisi lain egonya melarangnya melakukan itu. Akhirnya Daiki hanya berkata, "Tidak… tidak lagi. Hanya saja… lain kali katakan semua yang terjadi, oke?"
Daiki sadar kalau ia membuat Seijuurou bingung karena ia bisa melihat sebelah alis sang kakak terangkat sedikit dan kepalanya sedikit dimiringkan.
Daiki menghela napas panjang. Tidak adil rasanya -dan ia juga akan dihantui rasa bersalah nantinya—jika ia tidak mengatakan sedikit saja sebenarnya apa yang ia inginkan. "Waktu itu aku hanya ingin Kakak menontonku. Tidak masalah dengan cara bagaimana atau kapan. Aku hanya… ingin Kakak melihatku dan…"
Daiki menelan ludah. Seijuurou mengangkat kedua alisnya.
"dan bangga melihatku," saat itu juga pipi Daiki memanas. Ya Tuhan, malu sekali rasanya. Cepat-cepat Daiki mengalihkan pandangannya ke arah lain dan berkata, "Kupikir, Kakak tidak punya kamera waktu itu jadi tidak bisa merekam pementasanku dan satu-satunya cara Kakak bisa melihatku adalah dengan datang. Seandainya saja Kakak bilang sejak awal kalau Kakak sebenarnya menonton, aku…"
Seijuurou tidak mengeluarkan reaksi apa pun selain melebarkan mata. Keheningan yang terasa begitu canggung menyelimuti mereka, begitu pekat rasanya hingga Daiki nyaris merasa ingin memohon pada kakaknya untuk mengatakan sesuatu, apa pun itu.
Tepat sesaat sebelum Daiki memutar tubuhnya dan berjalan keluar, Seijuurou menemukan kembali suaranya. "Maaf, selain karena Kakak pikir Daiki hanya ingin Kakak datang hari itu, Kakak juga berpikir Daiki tahu kalau Kakak tidak akan melewatkan hari besar Daiki begitu saja jadi…"
Dalam benaknya, Daiki mulai bertanya-tanya, apa kesalahpahaman selama tujuh tahun belakangan ini benar-benar telah berhasil menggali jurang yang begitu dalam di antara mereka hingga membuat mereka kelihatan ingin sekali menjaga jarak dari diri masing-masing. Padahal dulu Daiki ingat sekali kalau dulu pernah ada saat ketika ia tak ingin jauh-jauh dari Seijuurou hingga tak mengacuhkan kemungkinan ia akan tertular sakit Seijuurou asalkan bisa berdekatan dengan sang kakak.
Benar kata orang-orang, waktu melakukan hal-hal aneh pada apa pun dan siapa pun. Mereka dan hubungan mereka salah satunya.
Daiki merasa ia sendiri perlu meminta maaf pada Seijuurou karena walau bagaimanapun, kesalahpahaman yang berlarut-larut ini tidak mungkin tercipta kalau hanya Seijuurou yang punya andil, bukan? Tapi harga diri Daiki begitu keras kepala, ia menolak untuk menggumamkan salah satu dari tiga kata ajaib tersebut.
Dan karena Daiki bukan orang yang biasa mengalah pada ego, alhasil pemuda tersebut memilih untuk diam saja dengan alasan ia yakin Seijuurou pasti mengerti.
Dengan langkah pelan, ia berjalan menuju pintu. Begitu tangannya menempel di kenop, ia berhenti sesaat dan berkata, "tidak apa-apa. Lain kali jelaskan semuanya. Aku bodoh, Kak, jadi tidak akan mengerti kalau Kakak tidak akan mengatakannya padaku."
Ketika gumaman "baik" dan "maaf" dari Seijuurou sampai di telinganya, Daiki menggumamkan ucapan selamat malam dan pergi.
Malam itu juga, Daiki meminta nomor Momoi dari Ryouta -yang untungnya sempat bertukar nomor ponsel dengan Momoi saat mereka latih tanding dulu, tapi ia perlu kesabaran ekstra agar tidak memukul Ryouta yang bersikeras bertanya untuk apa—dan mengirimi wanita itu sebaris pesan.
Ini Akashi Daiki. Bagaimana kau bisa tahu?
Balasan Momoi datang dengan sangat cepat tapi sangat singkat.
Intuisi wanita ;)
Daiki mendesis kesal. Ia baru akan mengetikkan balasannya ketika ada lagi satu pesan masuk. Satu pesan yang sangat panjang.
Tapi kau harus tahu, Akashi-kun sangat bangga padamu. Kami pernah menonton video itu bersama saat kami SMA dulu dan kau tahu apa yang Akashi-kun bilang? Waktu itu ia menunjukmu dan bilang "Lihat, itu adikku. Ia hebat, bukan?" dengan wajah lembut. Kau harusnya lihat.
Jadi jangan bilang ia tidak melihatmu, tidak menghargaimu, karena itulah yang selama ini ia lakukan, Dai-chan :)
Daiki tertegun menatap layar ponsel pintarnya. Ia menelan ludah. Jadi selama ini…
Satu lagi pesan masuk ke kotak masuk Daiki.
Maaf, seharusnya Akashi-kun yang mengatakan itu padamu, tapi kalian laki-laki dan kupikir laki-laki tidak akan mengatakan hal sentimentil seperti itu. Kupikir sebaiknya aku mengatakannya.
Aku sama sekali tidak berbohong.
Tanda tanya muncul dalam kepala Seijuurou ketika malam itu Daiki datang ke kamarnya. Lebih banyak lagi tanda tanya bermunculan ketika pemuda itu meminjam laptopnya untuk mengerjakan pekerjaan rumah karena pertama, Daiki tidak pernah benar-benar peduli dengan tugasnya lagi pula ia sedang menjalani skors dan Seijuurou tahu kalau adiknya satu itu adalah tipe yang menganggap skors sama artinya dengan libur sekolah -yang mana berarti tidak ada pekerjaan rumah—dan kedua, sejak kapan Daiki sudi meminjam laptopnya? Ryouta akan selalu menjadi pilihan pertamanya dalam mencari bantuan.
Dan Seijuurou tahu kalau laptop Ryouta baik-baik saja, tidak sedang dipakai karena pemuda itu tengah bersantai di ruang keluarga, terbahak-bahak menonton sebuah acara komedi. Lagipula biasanya anak itu hanya menggunakan laptopnya untuk menonton film. Kenyataan yang menyedihkan, memang.
Tapi kemudian dilihatnya wajah Daiki, dilihatnya wajah yang penuh keraguan, seakan ia sendiri tak tahu apa yang tengah dan akan ia lakukan, dan Seijuurou tahu lebih baik tidak bertanya. Intuisinya mengatakan adiknya satu itu sepertinya ingin mengetahui sesuatu dengan meminjam laptopnya -meski ia tak tahu apa—dan ia hanya perlu menunggu untuk Daiki memberitahunya.
Benar saja, hanya perlu waktu kira-kira setengah jam untuknya muncul di depan pintu kamar Seijuurou. Wajahnya lebih bingung dari sebelumnya. Dengan sebelah tangan masih memegang laptop milik Seijuurou, ia menuntut penjelasan.
Keluarlah semua yang Seijuurou sembunyikan darinya selama ini.
Seijuurou mengira Daiki akan tetap marah, sampai berteriak mungkin, guna meluapkan rasa frustrasinya akan sang kakak selama tujuh tahun terakhir. Seijuurou menunggu, untuk saat di mana Daiki mengatakan apa yang selama ini ia ingin katakan, yang selama ini ia rasakan.
Tapi Daiki justru hanya berdiri, diam, meletakkan laptop Seijuurou di atas meja sebelum akhirnya mengangkat tangan dan mengusap wajah. Adiknya satu itu seperti kehilangan kata-kata sampai akhirnya ia menggumamkan sesuatu yang terdengar seperti "bodoh" di telinga Seijuurou lalu ia mengusap wajah.
Paling tidak tebakan awal Seijuurou benar; Daiki mengatakan apa yang sebenarnya ia inginkan. Meski anak itu hanya mengatakan sepotong demi sepotong, tapi ia bisa membuat kesimpulan dari kata-kata Daiki. Bohong seandainya Seijuurou bilang ia tidak malu karena telah membuat asumsi sendiri selama tujuh tahun belakangan ini.
Bodoh sekali.
Sepanjang interaksi mereka malam itu, tak sedetik pun Daiki mengatakan maaf. Tapi, yah, walau bagaimana pun ini Daiki. Dengan ego sebesar itu, justru akan terasa aneh seandainya Daiki mengucapkan maaf.
Dan satu yang Seijuurou syukuri dari sikap Daiki adalah ia merupakan anak yang sederhana, selalu begitu. Saat ia bertengkar dengan seseorang, meski ia tak meminta maaf atas kesalahannya, asalkan pertengkaran itu diselesaikan, ia tidak akan mengungkit-ngungkitnya lagi dan akan bersikap seperti biasa. Anak itu tak akan menunjukkan tanda-tanda kalau masalahnya bahkan pernah ada. Hanya saja ia akan berusaha untuk tidak mengulanginya lagi.
Tapi bukan berarti mereka bisa kembali begitu saja ke masa di mana Daiki begitu mengaguminya, begitu lengket dengannya.
Masalah mereka membuktikan kalau waktu bisa membuat retakan besar dalam sebuah hubungan, begitu besar hingga sikap mereka -yang berusaha untuk bersikap seperti biasa— serta ucapan maaf saja tidak cukup untuk menutupnya. Tapi paling tidak, Daiki bersikap lebih baik padanya pagi ini. Pemuda itu memberi ucapan selamat pagi dan sebaris 'aku pergi dulu' ketika ia muncul di meja makan dan ketika ia akan berangkat sekolah.
Untuk itu saja, Seijuurou sudah sangat bersyukur.
Hanya saja ada satu pertanyaan tersisa di benak Seijuurou.
Dan satu pertanyaan terakhir tersebut terjawab pagi itu juga ketika ia tiba di kantor.
"Pagi, Akashi-kun," sapa sekretarisnya yang baru. Senyum cerah menghiasi wajah cantik wanita itu begitu mereka berpapasan di lobi. Seijuurou membalas sapaannya lengkap dengan sebuah senyum tipis sembari mereka berdua berjalan menuju lift. "Kulihat mood-mu lebih baik pagi ini. Sesuatu yang menarik terjadi kemarin?"
Karena ketika terakhir kali melihat cermin Seijuurou masih melihat ekspresi yang biasa ia kenakan tiap pagi ketika ke kantor, pikirannya langsung menangkap arti lain pertanyaan Momoi. Pria itu tidak menjawab, toh ia yakin Momoi tahu. Setelah masuk lift dan memastikan tidak ada orang lain lagi yang akan masuk, Seijuurou menekan tombol untuk menutup pintu lift dan menekan tombol lantai yang mereka tuju.
Momoi berdiri di sebelahnya dengan tatapan lurus ke depan. Kalau dipikir-pikir, wanita itu sama sekali tidak menatapnya selain ketika ia menggumamkan salamnya di lobi tadi. Seijuurou menatapnya lurus-lurus, sedikit berharap wanita itu akan mengerti maksudnya dan mulai menjelaskan, tapi memang dasar wanita itu keras kepala, ia justru mulai menggumamkan sebuah lagu.
Seijuurou mendengus dan tersenyum.
"Bagaimana kau tahu?" tanya Seijuurou, meski sebenarnya ia sudah tahu jawaban Momoi. "Jangan bilang kalau kau yang memberitahunya."
Kata-kata Seijuurou berhasil menarik perhatian wanita itu. Dari refleksi mereka di pintu lift, Seijuurou bisa melihat sebelah alis serta salah satu sudut bibirnya terangkat dalam bentuk sebuah senyum menantang. "Memberitahu apa pada siapa?"
Seijuurou kembali mendengus dan tersenyum.
"Kau yang memberitahu Daiki tentang rekaman itu," kata Seijuurou, mengalah. Tapi ia menyerah untuk bertanya, dan justru memberikan pernyataan. "Tidak ada yang tahu tentang rekaman itu dan di mana persisnya rekaman itu kusimpan kecuali aku dan kau, Momoi."
Denting halus lift menandakan mereka sudah tiba di lantai yang dituju. Pintu lift terbuka dan Seijuurou membiarkan Momoi keluar lebih dulu. Karena kurangnya respons dari Momoi, Seijuurou sempat mengira wanita itu tidak ingin bicara lebih lanjut, tapi ternyata ia salah. Setelah beberapa saat, wanita itu berkata, "wah, aku merasa tersanjung mengetahuinya."
Alis Seijuurou terangkat tinggi ketika ia melihat pipi Momoi lebih merah dari biasanya. Hm, mungkin wanita itu mencoba riasan wajah yang berbeda dari biasanya, yang membuat pipinya terlihat merona sedikit lebih merah.
Mereka sampai di depan meja Momoi. Momoi meletakkan barang-barangnya di atas meja dan duduk. Ketika dilihatnya Seijuurou tidak melanjutkan perjalanannya menuju ruangannya sendiri, Momoi mengangkat alis.
"Bagaimana kau tahu?" tanya Seijuurou. Alis Momoi langsung mengerut. "Maksudku, bagaimana kau tahu apa yang sebenarnya Daiki inginkan?"
Aku berusaha mencari tahu selama tujuh tahun dan tidak berhasil adalah kata-kata yang tidak diucapkan Seijuurou tapi terlintas di benaknya. Momoi tersenyum sombong -senyum menyebalkan itu, pikir Seijuurou— lantas menautkan jemarinya di depan dagu. "Intuisi wanita."
Seijuurou menghela napas untuk yang ketiga kalinya pagi itu. Momoi tertawa. "Aku melihatnya langsung saat pementasannya dulu. Bagaimana keinginannya tergambar di wajahnya. Lalu ada penjelasan darimu, dari sana aku menyimpulkan sesuatu. Setelah itu aku hanya perlu 'menusuk'nya sedikit di sini dan di sana lalu aku tahu apa yang sebenarnya ia inginkan."
Seijuurou mengerutkan dahi. Terkadang Momoi suka bicara dalam teka-teki yang bahkan Seijuurou pun tidak mengerti. Yah, mungkin memang begitulah wanita. Ada bagian dari mereka yang tak akan pernah dimengerti laki-laki.
Seijuurou yakin Momoi bisa melihat kebingungan di wajahnya karena wanita itu tertawa lagi.
"Sudahlah, tidak usah dipikirkan, Akashi-kun," kata Momoi sembari mengibaskan sebelah tangannya sambil lalu. Ekspresi Seijuurou kembali normal, "kalau begitu, hubunganmu dengan adikmu itu sudah membaik?"
Seijuurou mengangguk mantap satu kali. "Berkatmu. Terima kasih banyak, Momoi."
Ekspresi wanita itu berubah lembut, senyum tipis dan tulus terentang di wajahnya. "Syukurlah kalau begitu. Senang bisa membantu, Akashi-kun."
"Aku berhutang banyak padamu. Seandainya ada yang bisa kubantu, katakan saja, Momoi." Dengan itu, Seijuurou berjalan menuju ruangan pribadinya.
Dalam hati ia menghitung. Satu masalah sudah selesai, satu masalah lagi.
Daiki berjalan gontai menuju gym SMA Touou. Rasanya sudah lama sekali ia tidak ke sana padahal sebenarnya hanya seminggu ia menghilang dari latihan. Sejujurnya, ia sempat merasa ragu pergi ke sana apalagi setelah seminggu ini berpikir, Daiki jadi sedikit merasa bersalah pada Wakamatsu.
Daiki akui seniornya satu itu memang menyebalkan, tapi waktu itu Daiki memukulnya juga karena keadaan hatinya sedang buruk. Yang membuat perasaan hatinya buruk pun bukan Wakamatsu. Jadi setelah dipikir-pikir lagi, rasanya tidak adil sekali bagi seniornya satu itu untuk menerima pukulan darinya.
Sebelah tangan Daiki terangkat mengusap kepala, frustrasi.
Semakin dipikirkan, rasanya Daiki semakin bingung. Datang latihan atau tidak? Menuruti keinginannya atau menuruti egonya?
Tentu saja yang memenangkan pertarungan batin dalam diri pemuda berkulit gelap tersebut adalah si keinginan, maka dari itu ia tetap melanjutkan langkahnya menuju gym. Meski ia sendiri tak bisa memungkiri kalau suasana di gym nanti mungkin akan jadi sangat canggung dengan kehadirannya.
Daiki menggeser pintu gym membuka. Sama seperti yang terjadi sebelum-sebelumnya, ketika pintu tersebut membuka, semua mata langsung tertuju padanya.
Tapi tatapan-tatapan tersebut hanya bertahan selama sesaat, sebelum akhirnya fokus kembali pada apa pun yang sebelumnya mereka perhatikan. Hanya ada empat pasang mata yang bertahan memerhatikan sosoknya yang berdiri -sedikit—ragu di depan pintu. Empat pasang mata milik teman-temannya sesama pemain tetap.
Yang pertama menghampirinya -mengejutkannya—adalah Wakamatsu, lengkap dengan omelan khasnya.
"Kau terlambat, Akashi! Setelah seminggu diskors, kau masih belum belajar juga? Sialan, kau sepertinya memang mengajakku bertengkar, ya?"
Meski berkata begitu, ekspresi Wakamatsu tidak terlihat seakan ia benar-benar kesal pada Daiki karena telah memukulnya seminggu yang lalu. Kemudian datang Sakurai dan Susa, orang-orang baik dalam tim mereka.
"Maaf karena aku tidak menghubungimu sama sekali mengenai pelajaran selama kau diskors, Akashi-kun. Maafkan aku, maaf!"
"Ayo cepat pemanasan, Akashi. Latihannya sudah dimulai."
Daiki terdiam. Ia setengah berpikir ia akan menerima cacian dan sindiran begitu ia memutuskan untuk menampakkan diri di gym, seperti yang biasa terjadi. Ia mengira akan mendengar kata-kata seperti "lihat si jenius sudah kembali", "si jenius congkak", "kemampuannya pasti tidak berkurang walau tidak latihan seminggu" atau semacam itu. Ia sama sekali tidak mengira akan mendapat sambutan seperti ini.
Daiki berjalan menuju pinggir lapangan, tepatnya menuju ke salah satu bench tempat para anggota tim meletakkan barang-barang mereka. Daiki menjatuhkan tasnya dan mulai menanggalkan kemeja. Baru ia sadar Imayoshi berdiri di sampingnya, memerhatikan anak-anak lain yang sedang pemanasan dengan senyum mirip rubah khasnya.
"Aku tahu kau mengira akan mendengar sesuatu yang menyebalkan begitu masuk ke sini."
Daiki melirik kapten timnya tersebut. Imayoshi benar tapi Daiki tidak punya niatan untuk mengiyakan pernyataan pemuda itu karena kalau ia mengiyakan, senyum rubah menyebalkan di wajahnya pasti akan melebar.
"Aku tahu kau tidak suka mendengarnya. Aku dan Momoi-san sebenarnya," kata Imayoshi sembari mengangkat bahu, tidak peduli sama sekali kalau Daiki tak memberikan respons, "walau bagaimana pun, kau berubah tepat ketika omongan-omongan menyebalkan itu ada."
Kata-kata Imayoshi selanjutnya keluar dalam bentuk gumaman tapi Daiki masih bisa mendengar jelas seniornya mengatakan "anak-anak kurang ajar itu" dengan nada yang terdengar seperti sedang mengutuk.
Daiki menggumamkan "hm" pendek serak yang ambigu.
Imayoshi menghela napas, ia hampir terdengar kecewa. "Padahal dulu kau semangat sekali latihan. Kau terlihat lucu saat itu."
Daiki mendelik ke arah kapten timnya. Tangannya yang sebelumnya tengah membuka ikat pinggang langsung berhenti.
Imayoshi mengangkat kedua tangan. "Kau tahu aku bercanda."
Daiki menggumam kesal dengan pelan agar kapten timnya tidak mendengar.
Tapi ia tidak bisa tidak mencegah rasa terima kasih membuncah di hatinya untuk Imayoshi dan Momoi. Terlebih untuk Momoi.
Imayoshi tertawa melihat reaksi Daiki sebelum berjalan menuju ke tengah lapangan untuk memulai latihan. Baru dua langkah ia berjalan, pemuda itu berhenti lantas menoleh. Masih dengan senyum rubahnya -yang entah kenapa tak lagi terlihat menyebalkan tapi lebih menenangkan—ia berkata, "tapi aku bisa jamin kau tak akan mendengarnya lagi. Dan satu lagi, kau tidak perlu mendengar komentar itu, fokus saja kalau pelatih, aku, bahkan Wakamatsu di sana itu senang dengan perkembanganmu."
Daiki mengerutkan kening. Ia tak bisa memungkiri kalau ada rasa senang menggelembung dalam hatinya mendengar penghargaan tersirat atas usahanya dari Imayoshi tapi kalau Imayoshi berpikir ia akan mengungkapkan terima kasihnya secara verbal maka pemuda itu salah besar.
Seakan bisa membaca isi pikiran Daiki, Imayoshi berkata lagi, "aku tidak melakukannya untukmu. Aku melakukannya untuk tim. Walau bagaimana pun, kau adalah aset berharga tim. Kalau sampai performamu menurun dan kita kalah di pertandingan nanti, tim kita juga yang akan rugi. Sebagai kapten, aku harus mencegah itu."
Surat pengunduran diri sudah ditulis, sudah dimasukkan dalam amplop, siap diberikan. Satu-satunya yang belum Tetsuya persiapkan adalah keberanian. Ia tak kunjung menemukan keberanian untuk memberikannya pada sang pelatih. Di satu sisi ia tahu tak ada yang bisa ia lakukan, kalau hanya sampai sinilah kemampuannya, tapi di sisi lain, jauh di dalam hatinya, ia ingin tetap bermain basket dengan harapan yang dikatakan orang lain tentangnya salah.
Satu menit penuh Tetsuya habiskan sore itu untuk menatap surat pengunduran dirinya dari klub dan mengumpulkan keberanian. Namun gagal total.
Dengan satu helaan napas, Tetsuya memasukkan surat itu kembali ke dalam tasnya dan mulai berjalan keluar kelas. Sudah beberapa lama ia menghindari Kagami karena malas mendengar temannya itu bertanya ini-itu padanya. Hari ini ada latihan ekstra karena Inter-High sudah semakin dekat, jadi anak berambut api tersebut tak akan bisa menghadang Tetsuya di jalan pulang.
Lagi pula Tetsuya tak ingin niat yang sudah susah-payah ia bangun dalam hatinya runtuh karena sebaris kata dari Kagami.
Tetsuya baru menutup pintu kelasnya ketika ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari Seijuurou.
Isinya membuat kening Tetsuya berkerut karena seharusnya kakaknya tidak punya waktu untuk ini. Pikiran Tetsuya masih berusaha menebak-nebak maksud Seijuurou mengiriminya sebuah ajakan untuk pulang bersama, dengan berjalan kaki.
Berpikir kalau mungkin kakaknya tak akan datang tepat waktu untuk bisa pulang bersamanya, ia melanjutkan langkah dengan santai. Ia sungguh sedang ingin sendiri, takut kalau ada orang lain bersamanya dan membicarakan basket akan membuat niatnya untuk mundur runtuh.
Sayangnya dugaan Tetsuya salah. Ketika ia sampai di pintu gerbang sekolah, ia melihatnya. Seijuurou. Berdiri bersandar di dinding pagar sekolah sembari memerhatikan anak-anak yang berjalan melewatinya dengan pandangan penuh nostalgia. Pandangan bertanya yang dilemparkan anak-anak padanya sama sekali tak ia hiraukan. Melihat Kakaknya hanya mengenakan kemeja yang digulung di siku tanpa jas dan tanpa menenteng tas kerja, Tetsuya tahu kalau kakaknya itu sempat pulang ke rumah meletakkan barang. Dengan kata lain, ajakan pulang bersama itu hanya kedok belaka. Kakaknya pasti punya sesuatu yang lain dalam kepala.
Begitu melihat Tetsuya berdiri di pintu masuk sekolah, Seijuurou mengangkat sebelah tangannya, tidak terlalu tinggi tapi sudah cukup untuk menarik perhatian Tetsuya seandainya pun Tetsuya tidak memerhatikan gerbang sekolah.
Tetsuya menghampiri sang kakak dan bertanya, "Kakak sudah pulang bekerja?"
Seijuurou mengangguk. Senyumnya entah kenapa terlihat lebih lembut dari biasanya. Bersama mereka mulai berjalan meninggalkan area SMP Teikou.
"Kenapa tiba-tiba menjemput Tetsuya?" tanya Tetsuya, satu pandangan datar menilai dilemparkannya pada Seijuurou.
"Tidak boleh? Tetsuya tidak suka Kakak jemput?" Seijuurou balas bertanya. Pertanyaan yang sukses membuat Tetsuya merasa sedikit bersalah. Ia sama sekali tidak bermaksud membuat pertanyaan terkesan seperti itu.
"Bukan begitu…" jawab Tetsuya pelan. Diam beberapa saat. "Kakak takut Tetsuya jatuh lemas di sekolah?"
Apa kakaknya berpikir ia tidak sanggup menjaga diri sendiri di sekolah? Apa setelah mendengar testimoni dokter tempo hari ia sekarang berpikir kalau Tetsuya aneh sehingga harus diawasi?
"Tidak, tidak. Kakak tahu Tetsuya bisa menjaga diri sendiri," jawab Seijuurou santai. Mereka masih berjalan membelah ramainya trotoar kota Tokyo. Sesekali Seijuurou menoleh, mengagumi etalase-etalase toko yang mereka lewati.
Alis Tetsuya mengerut samar. Kalau begitu kenapa? Aneh sekali tiba-tiba Seijuurou menawarkan diri menjemputnya. Ia tidak pernah menjemput adik-adiknya sebelumnya.
"Tetsuya tidak latihan basket hari ini?" tanya Seijuurou tepat ketika mereka melewati sebuah toko sepatu yang memajang sepatu olahraga di etalasenya. Detik itu juga tubuh Tetsuya membatu.
"Tidak. Tetsuya berencana berhenti," gumam Tetsuya. Reaksi Seijuurou hanya berupa "hmm" pelan dan itu membuat Tetsuya bingung. Ia ingin bertanya kenapa kakaknya tidak bertanya lebih lanjut tapi urung karena pertanyaan itu justru akan membuat kakaknya benar-benar bertanya. Tetsuya sedang tidak ingin ditanyai hal seperti itu.
"Kenapa Tetsuya berencana berhenti?" tanya Seijuurou setelah beberapa lama diam. Kali ini kakaknya satu itu menoleh, menatap wajah Tetsuya lurus-lurus. Ketika Tetsuya balas menatapnya, ia mengangkat bahu, "Kakak tidak melarangmu berhenti. Kakak hanya ingin tahu."
Salahkan tekanan yang ia rasakan karena berada dalam keluarga yang penuh dengan bakat basket, salahkan teman-temannya yang lebih sukses dalam basket dibanding dirinya, salahkan saran Matsuoka yang terus memenuhi pikirannya, salahkan pikiran gelap yang membuatnya berpikir ia aneh dan berbeda dari orang lain dan itulah sebabnya ia tak bisa sukses di bidang-bidang yang orang lain sukses di dalamnya. Tetsuya melakukan semua hal di atas -menyalahkan berbagai hal—ketika ia menemukan dirinya membuka mulut.
"Karena aku tidak akan berhasil."
Sebelah alis Seijuurou terangkat. "Kenapa Tetsuya berpikir begitu?"
"Karena memang begitu kenyataannya. Tetsuya sudah berusaha keras, tapi tidak berhasil. Berbeda dengan Kagami-kun dan Ogiwara-kun, dengan Kakak dan Kak Shintarou, dengan Kak Ryouta dan Kak Daiki, atau bahkan dengan Kak Atsushi."
Tepat ketika itu mereka melewati sebuah toko buku. Seijuurou menghentikan langkahnya. "Ah, boleh kita mampir sebentar? Ada buku yang ingin kubeli."
Mereka berdua berjalan memasuki toko dan bau buku baru memasuki penciuman keduanya. Biasanya kunjungan singkat ke toko buku dan bau buku baru bisa membuat Tetsuya merasa lebih baik, tapi ternyata hari itu pengecualian. Ia tak menemukan dirinya merasa lebih baik bahkan ketika ia berjalan melewati rak literatur kesukaannya.
"Tunggu, tadi Tetsuya bilang Tetsuya sudah berusaha keras," kata Seijuurou. Matanya menelusuri jajaran punggung buku. Ia berhenti di salah satu rak, rak berisi buku-buku yang berhubungan dengan hobi. Sebelah tangannya terangkat, jemarinya menelusuri salah satu punggung buku sebelum menarik buku itu keluar dan membuka-bukanya. "Usaha seperti apa?"
Tetsuya menatap Seijuurou lurus-lurus. Berpikir apakah kakaknya itu sedang bercanda atau tidak. "Tentu saja dengan berlatih. Tetsuya berlatih sedikit lebih keras dari yang lain, bahkan sudah dibantu Kagami-kun. Tapi tetap saja Tetsuya tidak bisa naik tingkat. Pelatih bahkan sudah menyarankan Tetsuya untuk mundur saja…"
Tetsuya bisa melihat ekspresi kakaknya mengeras dan jemarinya memegang buku lebih erat. Tapi ia diam saja.
"Tetsuya pikir, Tetsuya tidak akan bisa seperti Kakak dan yang lainnya, bahkan tidak akan bisa seperti Ogiwara-kun dan Kagami-kun. Lagi pula, Tetsuya berbeda dengan yang lain, maksudnya dengan kondisi fisik seperti ini," kedua tangan Tetsuya terangkat sedikit sebelum jatuh lagi ke sisi tubuhnya, "Selain itu, dalam hidup akan ada saat di mana kita tidak akan berhasil meski sudah mencoba, kan? Maka dari itu—"
Seijuurou menutup buku di tangannya hingga muncul bunyi 'tap' khas. Kepalanya yang tadinya menunduk untuk melihat-lihat isi buku kini terangkat dan matanya kembali menatap Tetsuya lurus-lurus. Pria itu menghela napas.
"Tetsuya, kalau yang Tetsuya maksud dengan kondisi fisik Tetsuya adalah keadaan katapleksi Tetsuya, asal Tetsuya tahu saja, katapleksi tidak membuat Tetsuya kelihatan berbeda di mata Kakak—"
Seijuurou tidak mengerti, begitulah pikir Tetsuya. Fakta bahwa ia mengidap kelainan saja sudah jelas membuatnya berbeda dari yang lain. Jika pada dasarnya saja ia sudah berbeda, bukankah itu berarti kesempatannya untuk meraih sesuatu pun berbeda dengan orang lain?
Tetsuya ingin sekali berkata "Kakak tidak mengerti" tapi rasa sayang dan hormatnya pada Seijuurou menghalanginya untuk melakukan itu. Sebagai gantinya, ia hanya menunduk dan tidak membalas.
"Tetsuya, satu hal yang perlu Tetsuya sadari adalah tidak ada orang yang sama di dunia ini. Semua orang punya kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Orang yang berhasil," Seijuurou meletakkan buku di tangannya dan mencabut buku lain dari rak, "adalah orang yang tahu dan bisa memanfaatkan kekurangannya dan menjadikannya kelebihan. Mengerti maksud Kakak?"
Tetsuya menggeleng perlahan.
"Tetsuya tidak akan bisa berhasil dalam sesuatu kalau Tetsuya mengikuti cara orang untuk berhasil dalam bidang itu. Coba lihat keluarga kita. Shintarou pintar di bagian akademik dengan belajar tapi apa Atsushi juga bisa dipaksa untuk pintar dalam bidang yang sama dengan cara yang sama?
"Aku cukup pintar dalam basket, Daiki juga. Tapi apa itu benar-benar berarti aku dan ia berhasil di bidang yang sama? Tidak. Aku berhasil dengan posisi point guard sedangkan Daiki berhasil dengan posisi power forward. Lihat? Bahkan di bidang yang sama, orang berhasil dengan cara yang berbeda."
Tetsuya mengerutkan alisnya sedikit. Apa yang sebenarnya ingin kakaknya satu ini katakan? Tetsuya tidak sedang dalam mood untuk bicara berbelit-belit.
"Sebelum Tetsuya benar-benar memberikan surat pengunduran diri, Kakak ingin Tetsuya mengubah cara pandang Tetsuya terlebih dulu," kata Seijuurou. Sebelah tangannya terulur ke arah Tetsuya, tangannya yang memegang sebuah buku. Tetsuya mengambil buku tersebut. Teknik untuk Mengelabui Pandangan. "Kakak lihat Tetsuya punya aura keberadaan yang lemah -jangan tersinggung—bagaimana kalau Tetsuya memanfaatkan itu?"
Tentu saja Tetsuya sangsi mendengar gagasan gila Seijuurou. Buku yang kakaknya ulurkan dan kata-katanya sudah cukup untuk membuat Tetsuya mengerti maksudnya. Secara tidak langsung pria itu mengatakan untuk memanfaatkan kemampuan Tetsuya untuk mengelabui pandangan.
Tapi bukankah teknik seperti itu lebih cocok untuk sulap? Apa kakaknya lupa kalau mereka sedang membicarakan basket, bukan sulap?
Alis Tetsuya berkerut semakin dalam.
"Aku rasa Kakak salah mengerti, kita sedang membicarakan basket—"
Pandangan Seijuurou tidak berubah sedikit pun. Tetap mantap menatap Tetsuya. "Kakak tahu itu."
Sesuatu yang terasa seperti kemarahan menggelembung dalam dada Tetsuya. Kenapa kakaknya tidak mengerti kalau ia memang tidak cocok untuk ini? Kenapa kakaknya tidak bisa menerima saja kenyataan kalau ia beda dan sekarang justru menyarankan ide gila padanya?
Tetsuya sudah memikirkannya. Maksudnya, tentang kelainannya. Saat ia tidak tahu apa yang ia idap, semuanya terasa normal, ia tidak merasa lebih berbeda dari yang lain. Tapi setelah Tetsuya tahu, semuanya terasa berbeda. Pikiran-pikiran yang sebelumnya tak pernah sampai di otaknya sekarang mulai bermunculan.
Katapleksi. Keadaan di mana penderita kehilangan kontrol akan tubuhnya setiap ia merasakan emosi berlebihan.
Lalu, coba pikirkan satu contoh mudah. Dengan keadaan seperti itu, bagaimana kalau sebelum pertandingan ia merasa begitu tegang, begitu gelisah, hingga jatuh lemas?
Bukankah ia jadi tidak berguna kalau ia justru lemas bahkan sebelum pertandingan dimulai? Apa yang akan dipikirkan teman-temannya saat melihatnya jatuh lemas? Apa yang akan dipikirkan Kagami kalau ia melihat Tetsuya jatuh begitu saja tanpa ada apa-apa sebelumnya? Apa Kagami akan menatapnya dengan pandangan aneh, apa ia tetap ingin berteman dengan Tetsuya saat itu?
Tetsuya sudah memikirkan banyak hal dan anak itu sudah mencoba untuk menerima keadaannya, tapi kenapa justru orang-orang di sekitarnya terus menanyainya macam-macam, membujuknya untuk berubah pikiran?
"Kakak tidak mengerti, pada dasarnya Tetsuya berbeda—"
Alis Seijuurou mengerut. "Kakak sudah katakan kalau satu kelainan tidak akan membuat Tetsuya jadi berbeda di mata Kakak—"
"Tapi bagaimana dengan orang lain? Bagaimana -misalnya—dengan Kagami-kun?"
"Kagami sama sekali—"
Tetsuya tidak membiarkan Seijuurou menyelesaikan kalimatnya. Bendungan yang selama ini menampung rasa frustrasi Tetsuya hancur sudah. Kenapa kakaknya tidak bisa mengerti?
"Dengar, aku sudah mencoba, Kak. Dan gagal. Karena itu aku menyerah dan berpikir sebaiknya melakukan hal lain. Tidak selamanya orang bisa berhasil di bidang yang ia tekuni," Tetsuya menelan ludah. Pikirannya seakan berlari dalam kecepatan ratusan kilometer per jam, begitu pun dengan mulutnya. Ia tak benar-benar bisa memikirkan kata-kata yang ia lontarkan terlebih dulu dan Seijuurou berdiri saja di hadapannya, menerima, "lagi pula, katakanlah aku berhasil, lalu apa? Dengan kondisi seperti ini, bagaimana kalau aku terlalu tegang sebelum pertandingan atau aku merasa sangat tertekan dengan jalannya pertandingan, lalu jatuh begitu saja? Teman-temanku—"
Ah, ini dia. Kondisinya menendang masuk. Lihat? Jika dengan begini saja ia sudah jatuh, bagaimana jika harus bertahan melawan tekanan pertandingan? Bagaimana jika ia harus menahan tekanan tatapan dari teman-temannya?
Tetsuya kehilangan kontrol mulutnya dan, di saat yang sama, tubuhnya. Buku yang tadi ia pegang jatuh ke tanah dan tubuhnya mulai limbung ke depan tapi tak pernah menyentuh tanah. Dengan sigap, seakan sudah tahu kalau ini akan terjadi, Seijuurou melingkarkan kedua tangannya tepat di bawah ketiak Tetsuya, menyangga agar bukan tanah yang menyangganya.
"Bagaimana kalau Tetsuya jatuh? Maka Kakak akan menangkapmu, seperti ini," jelas Seijuurou, mengeratkan pelukannya sedikit. Jelas pria itu memanfaatkan keadaan Tetsuya yang tidak bisa bicara sekarang, "Bagaimana kalau Tetsuya sedang dalam pertandingan dan Kakak tidak bisa ada di sana? Ada Kagami. Anak itu yang akan menangkapmu seperti ini."
Tetsuya mendengar Seijuurou menghela napas. "Tetsuya tahu, Tetsuya sudah membuat Kagami dan -secara tidak langsung—Ogiwara sangat khawatir. Kagami menceritakan semuanya pada Kakak dan Kakak juga sudah memberitahu Kagami tentang keadaan Tetsuya."
Rasa bersalah sedikit menghantui benak Tetsuya.
"Tetsuya tahu apa yang Kagami katakan waktu Kakak menceritakan keadaan Tetsuya? Pertama, ia bertanya apa Tetsuya baik-baik saja dan bertanya apakah itu berarti Tetsuya terkena penyakit mematikan. Lalu saat Kakak meyakinkannya Tetsuya baik-baik saja dan menjelaskan segala kemungkinan yang mungkin datang di kemudian hari -termasuk kemungkinan Tetsuya kambuh sebelum, di tengah, dan sesudah pertandingan—Kagami bilang 'kalau begitu aku akan menangkapnya dan memastikan ia tenang lagi, Akashi-san. Aku tidak akan membiarkan Akashi jatuh' dengan wajah penuh determinasi.
"Seharusnya Tetsuya lihat bagaimana ekspresi Kagami waktu itu. Percayalah, Tetsuya punya teman-teman yang sangat baik."
Setelah mendengar kata-kata Seijuurou, Tetsuya menemukan dirinya sudah kembali tenang dan kekuatan kembali mengaliri tubuhnya. Tetsuya mengambil pijakan dan melepaskan diri dari pelukan Seijuurou. Anak itu mendongak dan mendapati sang kakak menatapnya dengan pandangan teduh, seperti biasa.
Yang mana justru membuat Tetsuya ingin menangis.
"Dengar, cobalah saran Kakak. Kalau memang tidak berhasil juga, maka pilihan ada pada Tetsuya. Kalau setelah mencoba pun Tetsuya masih ingin berhenti, Kakak tidak akan menghentikan Tetsuya."
Seijuurou membungkuk, mengambil buku Teknik untuk Mengelabui Pandangan yang tadi dijatuhkan Tetsuya dan sekali lagi menyerahkannya.
Tetsuya mengangguk lantas mengambil buku di tangan Seijuurou. Tak sanggup menatap mata kakaknya lagi karena merasa bersalah, ia ganti menatap ujung sepatunya.
Tetsuya bisa mendengar Seijuurou mendengus -Tetsuya bisa membayangkan pria itu tengah tersenyum tipis—lalu kaki Seijuurou bergerak hingga ujung sepatu mereka berjarak kurang dari lima senti. Sesaat kemudian ia bisa merasakan dahi sang kakak membentur dahinya.
"Tetsuya, percayalah kalau Kakak bilang Kakak akan selalu ada untukmu," ucap Seijuurou dengan sangat lirih, hampir seperti bisikan. "Dengar, Kakak pernah tidak memercayai kemampuan adik Kakak satu kali dan lihatlah bagaimana akhirnya. Atsushi pulang dalam keadaan babak belur. Kakak tidak ingin melakukan kesalahan yang sama lagi. Kakak percaya Tetsuya bisa berhasil kali ini jadi, tolong, cobalah saran Kakak tadi. Sekali saja, oke?"
Tetsuya memejamkan matanya erat dan mengangguk.
Tetsuya membolak-balik buku Teknik Mengelabui Pandangan yang ia dan Seijuurou jumpai di toko buku. Buku itu menarik, Tetsuya akui, tapi ia masih tidak mengerti kenapa Seijuurou memberikan buku itu padanya. Pastinya si sulung memberikan buku itu untuk Tetsuya jadikan petunjuk.
Setelah berjam-jam berkutat dengan buku itu dan hanya berhasil mendapatkan teknik bagaimana mengelabui pandangan orang tanpa mengerti apa untungnya menerapkannya pada basket, Tetsuya menyerah dan berpikir sebaiknya ia tidur saja.
Tepat saat ia menutup buku, Daiki masuk ke ruang keluarga lantas menjatuhkan diri di sofa tepat sebelahnya. Di tangan pemuda itu terdapat segelas susu dingin. Tetsuya melirik sang kakak, sadar kalau pemuda itu sempat ragu sepersekian detik sebelum menjatuhkan diri di sebelahnya.
"Tidak bisa tidur, Tetsu?" tanya Daiki santai, seperti biasa. Rasanya seperti pertengkaran mereka tempo hari tidak pernah terjadi. Ia mengangkat gelas susu di tangannya dan minum.
"Tidak, aku baru mau tidur," jawab Tetsuya. Anak itu melirik susu dingin di tangan sang kakak yang kini tinggal setengah, "Kakak tidak bisa tidur?"
Daiki menggumam mengiyakan lalu diam.
Suara televisi menjadi pengisi kekosongan suara mereka. Tetsuya yang sebelumnya hendak beranjak ke tempat tidur kini mengurungkan niatnya dan bertahan di sofa. Teknik Mengelabui Pandangan yang dipegangnya diletakkan di atas meja kopi.
Daiki berdeham. Tetsuya melirik.
"Kau marah padaku, Tetsu?" tanpa perlu penjelasan, Tetsuya mengerti maksud Daiki, "aku bodoh sekali. Padahal aku tidak tahu keadaanmu tapi seenaknya bicara."
Sembilan tahun tinggal bersama membuat Tetsuya mengerti kalau itulah permintaan maaf dari Daiki.
"Aku tidak marah. Maaf, aku juga bicara seenaknya tanpa tahu keadaan Kak Daiki."
Daiki tersenyum tipis tapi tidak memperpanjang pembahasan itu. Ia kembali menenggak susunya, kali ini hingga habis.
"Kakak tahu, kalau tidak bisa tidur sebaiknya minum susu hangat bukan susu dingin," kata Tetsuya sambil lalu dengan nada datar. Daiki tersedak.
"Benarkah? Wah sial, kupikir yang penting minum susu, makanya aku ambil susu yang ada di kulkas," kata Daiki sembari menyeka kumis putih yang tercipta di atas bibirnya setelah minum susu. Matanya menyipit dan dari tampangnya, ia nyaris mengerang.
Tetsuya tersenyum tipis. "Tapi pada dasarnya susu memang membantu untuk tidur, kok."
Daiki meletakkan gelas susunya di atas meja kopi. Pada saat itu pandangannya jatuh pada buku Teknik Mengelabui Pandangan. Pemuda berkulit gelap tersebut menggumam 'hmm' panjang.
"Tertarik dengan sulap, Tetsu?" tanyanya sembari menunjuk buku tersebut.
"Ah, tidak," lalu Tetsuya menjelaskan bagaimana ia mendapatkan buku tersebut, minus bagian ia sedikit berargumen dengan Seijuurou. "Menurut Kakak bagaimana? Apa yang sekiranya bisa aku lakukan?"
Daiki kembali menggumamkan 'hmm' panjang. Sebelah tangannya mengusap dagu dan matanya memandang langit-langit. "Entahlah. Tinggalkan bagian itu, kita fokus saja ke penjelasan Kak Sei yang satunya. Kak Sei bilang tiap orang mahir di bidangnya masing-masing, kan? Menurut Tetsu, dalam bidang basket, Tetsu paling bisa apa?"
Mengesampingkan kesadaran kalau Daiki baru saja memanggil Seijuurou dengan sebutan 'Kak Sei' seperti dulu, Tetsuya berpikir. Satu hal yang anak itu tahu pasti adalah ia tidak cepat dan tembakannya terlalu lemah bahkan untuk mencapai ring. Badannya juga terlalu kecil untuk menahan lawan. Itu berarti hanya tinggal satu aspek dalam basket yang tersisa. "Aku rasa aku paling bisa mengoper."
"Hmm, kalau begitu kita harus membuat operanmu istimewa," kata Daiki. Pemuda berkulit gelap tersebut kembali tampak berpikir. Ia terlihat cukup antusias, tapi walau bagaimana pun, mereka sedang membicarakan basket, hobinya, jadi rasanya tidak aneh.
Tapi apa yang bisa dilakukannya untuk membuat operannya istimewa? Bukankah operan hanya sekadar memberikan bola pada teman setimmu? Apa yang bisa membuat sebuah operan berbeda?
"Bagaimana caranya membuat sebuah operan berbeda dengan operan yang lain?" tanya Tetsuya.
"Kau bisa fokus membuat operan yang sangat bagus. Maksudnya sebuah operan yang bisa sesuai dengan ritme tiap pemain yang menerimanya," jawab Daiki. "Tapi itu spesialisasi Kak Sei dan itu sangat sulit dilakukan. Butuh kemampuan yang besar untuk bisa melakukan itu."
Mengabaikan komentar lanjutan Daiki tentang bagaimana dan kenapa operan Seijuurou sangat bagus, Tetsuya kembali berpikir. Kalau begitu ia tidak bisa melakukan itu. Mungkin tidak sekarang. Kalau begitu apa? Apa yang bisa membuat operannya menonjol?
"Aku tidak menyarankanmu melakukannya, Tetsu, tapi kalau bicara tentang operan, sejujurnya aku selalu ingin ada operan yang bisa berbelok tajam," kata Daiki tiba-tiba. Cengiran lebar khas anak laki-laki yang sudah lama tidak terlihat di wajahnya kini terpasang di wajahnya, "Maksudku, keren, kan, kalau di tengah pertandingan, operanmu bisa berbelok sekehendakmu? Apalagi kalau operanmu berbelok tepat di muka lawanmu. Operan seperti itu akan membuat bermain jadi lebih praktis juga."
Daiki menggerak-gerakkan tangannya, memeragakan 'operan yang berbelok tajam'. Pemuda itu tidak menyadari kalau Tetsuya terdiam dengan mata membelalak lebar. Kesadaran menghantamnya seperti truk berkecepatan tinggi menghantam pembatas jalan raya.
Otaknya menghubungkan keinginan Daiki dan saran dari Seijuurou hingga terciptalah satu ide gila tetapi patut dicoba.
Tetsuya tidak pernah mengira ia akan sampai di sini. Tidak, mungkin akan lebih tepat dikatakan jika ada orang yang mengatakan ia akan berada di titik ini sebulan yang lalu, Tetsuya akan menatapnya seakan orang itu baru saja menumbuhkan satu kepala ekstra. Tapi ia benar-benar berada di sini, di Stadium Tokyo.
Pertandingan final Inter-High tingkat SMP baru saja dilaksanakan dan SMP Teikou keluar sebagai pemenang. Tetsuya memandang berkeliling stadium, meresapi sorakan dari para penonton. Di salah satu sisi stadium, ia bisa melihat sosok kakak-kakaknya minus Ryouta dan Daiki yang akan bertanding sebentar lagi. Di belakangnya ada teman-temannya yang tengah bersorak bahagia merayakan kemenangan mereka.
Masih sulit rasanya memercayai kalau Tetsuya tengah berdiri di tengah stadium Tokyo, baru saja membantu teman-temannya untuk meraih gelar juara kalau ia mengingat kira-kira sebulan yang lalu ia berargumen dengan Seijuurou mengenai keputusannya mengundurkan diri dari klub basket serta alasannya.
Rasa terima kasih membuncah dalam hati Tetsuya. Seandainya saja Seijuurou tidak memercayainya, tidak memaksanya untuk mencoba sekali lagi waktu itu, anak berambut biru langit tersebut tidak akan berada di tempatnya sekarang ini. Mungkin ia justru akan berada di atas sana, bersama kakak-kakaknya yang lain, menunggu giliran Ryouta dan Daiki bertanding.
Awalnya rasanya mustahil mengikuti saran Seijuurou sekaligus menerapkan keinginan Daiki. Tapi setelah berusaha keras, ia akhirnya berhasil menciptakan satu teknik di mana ia mengalihkan operan temannya sembari mengelabui pandangan lawan sehingga operan tersebut terlihat seakan berbelok.
Sadar kemampuannya tidak akan berguna jika ia hanya sendiri, ia menggandeng Kagami untuk bekerja sama dengannya. Selain Kagami merupakan temannya, tak lama setelah naik ke tingkat pertama, ia menjadi pemain reguler dan dijuluki permata tim. Siapa lagi yang lebih cocok untuk dijadikan partner kalau bukan Kagami? Beberapa minggu menyempurnakan kemampuan uniknya bersama Kagami dan Tetsuya langsung dijadwalkan untuk turun main.
"Hei, Akashi," panggil Kagami, sebelah tangannya menepuk bahu Tetsuya. Mata anak itu terlihat berair, mungkin terharu atas kemenangannya, "akhirnya kita berhasil sampai di sini ya."
Tetsuya mengangguk. Anak itu tak memercayai suaranya karena takut suaranya pecah dan ia akan menangis saat itu juga. Di belakang Kagami, Ogiwara, lawan mereka di final ini, berlari kecil ke arah mereka. Mata Ogiwara sama berairnya dengan Kagami, tapi kalau Kagami lebih karena terharu, maka Ogiwara lebih karena sedih.
"Selamat, Akashi, Kagami. Kalian hebat," kata Ogiwara sembari menjabat tangan keduanya. "Tapi lihat saja, akhir tahun nanti aku akan membalas kalian."
Ogiwara memberikan cengiran lebar yang dibalas oleh Kagami. Kagami langsung membalas dengan mengatakan kalau mereka menantikan saat itu dan tentu saja, mereka tak akan membiarkan Ogiwara menang mudah. Ogiwara bersungut-sungut mendengarnya tapi tidak tinggal diam.
Tawa renyah keluar begitu saja dari mulut Tetsuya melihat adu mulut kedua temannya. Anak berambut biru langit tersebut terlihat begitu bahagia.
Detik itu juga, seluruh tubuh Tetsuya limbung, tawanya mati bersamaan dengan kontrolnya akan tubuhnya.
Tapi dua pasang tangan menangkapnya sebelum ia mencium tanah.
"Whoa, santai, Akashi," kata Ogiwara, tapi anak itu tidak melepaskan pegangannya pada lengan Tetsuya.
Setelah Kagami diberitahu Seijuurou mengenai kelainan Tetsuya, ternyata ia memberitahu Ogiwara juga. Tidak adil kalau aku tidak memberitahunya, kata Kagami ketika mengatakannya pada Tetsuya. Maka dari itu sekarang anak berambut coklat itu bisa menangani keadaan Tetsuya dengan santai.
Dengan kedua tangan Tetsuya tergantung di bahu masing-masing, Ogiwara dan Kagami membawa Tetsuya ke bench. Setelah mendudukkannya di bench dan memegang bahu Tetsuya agar ia tak jatuh, mereka menunggu Tetsuya mendapatkan kembali kontrol tubuhnya.
Meski ini bukan pertama kalinya bagi Kagami menghadapi Tetsuya yang seperti ini, Kagami tetap saja memasang ekspresi khawatir di wajahnya. Tetsuya bisa mendengar Kagami menggumamkan "Tenang, Akashi. Aku memegangmu, aku tidak akan membiarkanmu jatuh. Tenang saja."
Ogiwara meledek Kagami yang khawatir berlebihan, yang mana dibalas Kagami dengan tatapan sebal.
Seandainya saja Tetsuya bisa menggerakan badannya, maka sudut-sudut bibirnya pasti sudah terangkat.
Seijuurou benar, ia punya teman-teman yang mengagumkan.
Momoi tersenyum melihat sosok Seijuurou yang berdiri di sampingnya, tersenyum sembari menonton pertandingan final Inter-High SMA antara SMA Kaijou dan SMA Touou. Mereka berdua berada di bagian paling atas stadium karena kehabisan bangku penonton. Beberapa saat yang lalu dua adik Seijuurou yang lain berada bersama mereka tapi mereka berdua izin keluar sebentar. Adik Seijuurou yang berambut hijau lumut berkata ingin ke toilet sedangkan yang berambut ungu berkata ingin mencari cemilan.
Momoi kembali mengalihkan pandangannya ke arah pertandingan, memfokuskan pikirannya pada pertandingan yang tengah berlangsung.
"Kau benar."
Mendengar Seijuurou bicara, Momoi menoleh. Kedua alisnya terangkat tinggi. "Tentang?"
"Aku seharusnya mengatakan semua yang harusnya dikatakan," kata Seijuurou, tanpa sedetik pun mengalihkan pandangan dari kedua adiknya yang sedang bertanding. "Bodoh sekali aku karena mengira orang lain akan mengerti apa yang kumaksud tanpa memberikan penjelasan lebih. Sebenarnya Nijimura-san -sekretarisku sebelummu—sudah mengatakannya padaku tapi aku tidak benar-benar mendengar. Seandainya kata-katamu tidak langsung terbukti juga mungkin aku tidak akan mendengarnya."
Momoi hanya tersenyum mendengarnya. Kepala wanita tersebut kembali terarah pada pertandingan di bawah. Perilaku itu tipikal laki-laki.
Mereka berdua kembali diam. Sorak-sorai penonton mengisi atmosfer di antara mereka.
Kira-kira sebulan yang lalu Seijuurou bertanya padanya bagaimana ia bisa menebak apa yang Daiki inginkan, dan Momoi menjawab dengan jujur. Perlahan pikirannya kembali ke saat-saat itu, ke tujuh tahun lalu.
Momoi tengah membaca buku di atas tempat tidurnya ketika ponselnya berdering. Bukan sebuah pesan masuk, tapi telepon. Dengan alis mengernyit memikirkan siapa yang kira-kira meneleponnya saat jam hampir menunjukkan tengah malam, Momoi meraih ponselnya di atas nakas.
Alisnya terangkat tinggi ketika menemukan nama Seijuurou tercantum sebagai nama peneleponnya.
"Halo, Akashi-kun. Ada apa?" tanyanya setelah menekan tombol dan menempelkan ponsel ke telinga.
"Malam, Momoi. Maaf sebelumnya karena meneleponmu semalam ini. Tapi aku ingin minta tolong, kalau kau tidak keberatan tentu saja."
"Minta tolong apa?" tanya Momoi lagi. Apa terjadi sesuatu pada Seijuurou hingga membuatnya menelepon semalam ini?
Seijuurou menjelaskan masalahnya. Bagaimana besok adalah hari ibu dan Ryouta serta satu orang lagi adiknya ingin ia hadir besok karena mereka ingin menunjukkan sesuatu tapi jam pertunjukan mereka sama dan tidak mungkin Seijuurou menghadiri keduanya. Penjelasan Seijuurou ditutup dengan sebuah pertanyaan, "bisakah kau menolongku dengan menggantikanku pergi ke salah satu pertunjukan dan merekamkannya untukku? Aku sudah meminta tolong sepupuku tapi sekolahnya tidak pulang lebih cepat besok sedangkan paman dan bibiku sibuk."
Momoi bertanya kira-kira pukul berapa pertunjukannya dimulai. Seijuurou menjawab sesudah makan siang.
Gadis berambut merah jambu tersebut menggigit bibir, berpikir. Sekolah sudah selesai, tapi masih ada latihan basket. Eiji pasti tak akan meliburkan latihan hanya karena satu hari Ibu.
Hm, mungkin tidak apa-apa kalau sesekali Momoi membolos.
"Baiklah."
Momoi tidak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum ketika ia mendengar senyum Seijuurou di seberang sambungan telepon. "Terima kasih banyak. Aku akan memberimu kameraku besok tapi aku belum sempat memindahkan isi kartu memorinya, jadi bisakah—"
"Pakai kartu memoriku dulu saja, Akashi-kun. Nanti aku akan memberikanmu file-nya."
Setelah sekali lagi mengatakan terima kasih dan maaf mengganggu, sambungan telepon terputus.
…
Sekali lihat dan Momoi bisa menebak yang mana adik Seijuurou. Dari balik lensa kamera yang dipasang dalam setting zoom-in, Momoi bisa melihat kalau seorang anak berkulit gelap berambut biru gelap tengah mencari-cari orang di barisan penonton. Tidak seperti anak lainnya yang pada akhirnya berhasil menemukan orang yang mereka cari, pandangan anak itu tidak berhenti mengedar di sela-sela acting-nya, bahkan ketika pertunjukan sudah setengah jalan.
Ketika drama tersebut sampai di bagian akhir, sepertinya anak itu sudah menyerah mencari. Wajahnya terlihat putus asa sekaligus sedih.
Ketika si anak berkulit gelap memeluk pemeran ibu dan meminta maaf sambil menangis, Momoi berani taruhan kalau tangisannya bukan buatan.
…
Seijuurou dan Momoi berjalan menembus gelapnya malam. Setelah makan malam di rumah keluarga Akashi, Seijuurou menepati janjinya mengantar Momoi pulang di saat teman-temannya yang lain kabur begitu saja.
Tak ada dari mereka yang berusaha untuk memecahkan keheningan. Lebih karena mereka berdua cukup nyaman dengan keberadaan masing-masing tanpa perlu adanya percakapan di antara mereka.
Sampai Momoi teringat sesuatu. Gadis itu terkesiap.
"Oh iya," gadis itu merogoh tas, mengeluarkan sebuah kartu memori, dan memberikannya pada Seijuurou. "Ini dia pesananmu. Maaf aku lupa memberikannya kemarin."
Seijuurou tersenyum tipis lantas memasukkan kartu memori tersebut ke saku celana. "Terima kasih banyak. Maaf aku selalu merepotkanmu. Begitu libur musim panas berakhir aku akan mengembalikannya."
Momoi sedikit merasa bersalah karena terus lupa memberikan kartu memori berisi rekaman pertunjukan adik Seijuurou padanya selama dua bulan terakhir ini. Seharusnya Seijuurou kesal pada Momoi karena tak begitu bisa diandalkan.
Tapi Momoi memutuskan untuk mengabaikan rasa bersalahnya dan justru menjawab, "Tidak masalah. Itulah gunanya teman."
…
Satu kali Momoi mendapati Seijuurou berkutat dengan laptopnya, menonton sesuatu dengan menggunakan earphone agar tak mengganggu yang lain. Hari itu mereka memang perlu membawa laptop untuk mempresentasikan tugas masing-masing.
Rasa penasaran Momoi tercubit melihat temannya satu itu tersenyum lembut sembari menonton. Tidak bermaksud untuk tidak sopan, Momoi melirik apa yang tengah Seijuurou tonton dari balik bahu pemuda itu.
"Rekaman pementasan adikmu?" tanya Momoi.
Sepertinya Seijuurou tak memasang volumenya dengan keras karena pemuda itu menoleh. Ia melepaskan earphone yang terpasang di telinganya dan tersenyum pada Momoi. "Ya, kau mau melihatnya lagi?"
Meski sudah melihat pertunjukan itu secara langsung, Momoi tak menolak tawaran Seijuurou. Gadis itu bergerak ke samping Seijuurou dan memasang sebelah earphone yang ditawarkan pemuda itu di telinganya.
Seijuurou memutar kembali rekaman tersebut.
"Yang mana adikmu?" Momoi tak bisa tak bertanya. Ia punya asumsi, tapi apa bagusnya asumsi kalau tak sesuai dengan kenyataan?
Seijuurou diam sebentar hingga seorang anak berkulit gelap berambut biru gelap memasuki panggung. Telunjuk Seijuurou terangkat, menunjuk anak tersebut. "Lihat, itu adikku."
Anak lelaki dalam rekaman mengatakan kalau ia akan mengusir ibunya dan senyum Seijuurou sedikit melebar. "Ia hebat, bukan?"
Momoi melirik Seijuurou dari sudut matanya. Ekspresi pemuda itu berubah menjadi sangat lembut, ekspresi yang selalu ia gunakan kalau sudah membicarakan keluarganya atau ketika ia berinteraksi dengan keluarga. Sosoknya saat ini berbeda sekali dengan sosok Akashi Seijuurou si kapten tim basket SMP Teikou.
Mau tak mau, Momoi ikut tersenyum. Ekspresinya ikut melembut, terutama ketika Seijuurou menggumam, "aku bangga sekali padanya."
Halo, Dee di sini. Cuma mau minta maaf karena telat up hehe. Ujian semester sama tugas sebelum ujian numpuk banget, jadi susah nyuri waktu buat ngetik fic ini apalagi idenya sempet mandek hehe. Maaf juga kalo chap ini terasa maksa banget karena ya itu, idenya mandek di tengah jalan. Maaf ya, dan makasih buat yang udah mengingatkan mau pun yang bersabar menunggu. Buat yang mengingatkan, aku gak lupa kok tenang :v
Maaf karena belom bisa bales review, Dee lagi di tempat yang gak ber-wifi dan Dee miskin kuota hiks. Tapi nanti diusahakan dibales satu-satu kok.
THANKS A LOT GUYS, LOVE YOUUU.
Review, please?
