Kuroko no Basuke hanya milik Fujimaki Tadatoshi seorang.
Cerita ini hanya milik saya seorang.
Warning: AU, Nice not-so-perfect! Akashi, brotherly love! a lot of it I think, cuteness ahead(?), alur kecepetan, half-assed chapter, OOC, typo, DLDR!
pengingat mulai chapter ini:
Seijuurou = 28 tahun
Shintarou = 25 tahun
Atsushi = 24 tahun
Ryouta = 22 tahun
Daiki = 21 tahun
Tetsuya= 17 tahun
Enjoy!
Chapter 25: Facing the Truth
Tetsuya bimbang.
Sekali lagi malam itu, sembari rebahan di atas kasur, Tetsuya memutar-mutar secarik kertas di tangannya. Matanya terpaku pada sebaris nomor yang tertera di sana. Nomor yang dituliskan ibunya sebelum mereka berpisah akhir pekan lalu.
"Aku tidak berharap Tetsuya akan mau menemuiku tapi setidaknya kalau Tetsuya berkenan, terima ini. Aku harap Tetsuya bersedia menghubungiku."
Begitulah yang wanita itu katakan pada Tetsuya setelah Tetsuya kembali tenang dan bisa berdiri lagi. Lantas wanita itu mengambil secarik kertas dari dalam tasnya dan menuliskan nomor.
Sudah seminggu sejak pertemuan mereka di rumah sakit dan belum sekali pun Tetsuya mencoba menelepon nomor tersebut.
Sejujurnya, banyak sekali yang ingin Tetsuya katakan pada wanita itu. Sejujurnya, ia selalu membayangkan bertemu dengan ibunya dan menanyakan kebenaran padanya seperti kenapa waktu itu ia meninggalkan Tetsuya sendirian? Apa ia meninggalkan Tetsuya untuk mati? Ke mana ia selama ini? Kenapa ia bersikap begitu baik pada Tetsuya sekarang?
Tapi kenyataannya, tak satu pun pertanyaan di atas sanggup Tetsuya lontarkan.
Apa sebaiknya ia mengambil kesempatan ini untuk menanyakan itu pada ibunya? Apa sebaiknya ia menghubungi wanita itu dan meminta bertemu?
Atau sebaiknya ia memberitahu kakak-kakaknya tentang pertemuannya dengan wanita itu lalu baru mengambil keputusan?
Alis Tetsuya mengerut. Tidak, tidak. Ia tidak bisa memberitahu kakak-kakaknya. Mereka pasti akan melarangnya menemui wanita itu. Mereka tak pernah mengatakannya, tapi jelas terlihat dari sikap mereka yang tak bersahabat tiap kali membicarakan ibu Tetsuya kalau mereka sama sekali tak menyukai wanita itu.
Sekali lagi Tetsuya memutar kertas di tangannya.
Telepon atau tidak telepon? Minta bertemu atau tidak?
Empat belas tahun Tetsuya berpisah dengan ibunya. Empat belas tahun ia tidak merasakan kasih sayang khas seorang ibu. Empat belas tahun ia pikir terjadi sesuatu pada ibunya.
Salahkah kalau sekarang ia ingin mencari tahu?
Tidak… kan?
Tetsuya bangkit dari tempat tidurnya, mengambil ponsel. Ia memasukkan nomor dalam kertas tersebut ke dalam ponselnya.
Saat akan menekan simbol telepon berwarna hijau, Tetsuya bimbang.
Apa ini sesuatu yang benar? Apa tidak apa-apa melakukan ini?
Setelah menimbang-nimbang opsi yang bermunculan di kepalanya, Tetsuya akhirnya memutuskan untuk mencoba.
Tetsuya menekan simbol telepon hijau dan menempelkan ponselnya di telinga. Tiga kali nada tunggu dan telepon pun diangkat.
Tetsuya menelan ludah, memersiapkan nyali.
"Halo?"
"Maaf, aku tidak jadi berkunjung akhir pekan lalu, Paman," kata Seijuurou pada Teppei. Pria dua puluh delapan tahun itu berdiri membelakangi Teppei. Ia menghadap sebuah cermin setinggi tubuh dan kedua tangannya sibuk memasang sebuah dasi kupu-kupu.
"Aku sudah dengar. Tidak masalah. Kouki hanya jadi agak rewel begitu tahu kau tidak jadi datang," kata Teppei. Pria itu terdiam sebentar mendengar suara tawa para keponakan dan cucunya dari lantai bawah. "Bagaimana Daiki?"
Seijuurou menarik ujung dasi kupu-kupunya. Oke, sempurna.
"Ia baik-baik saja. Siang tadi jahitan di perutnya sudah dilepas," jawab Seijuurou. Pria itu kini meluruskan kemeja putihnya dan membetulkan ujung lengan kemeja.
"Baguslah kalau begitu," Teppei mengambil tuksedo yang tersampir di punggung kursi yang ia duduki dan menyerahkannya pada Seijuurou. Seijuurou menggumamkan terima kasihnya. "Jadi, kenapa kau berpakaian seperti ini?"
Seijuurou kembali menghadap cermin. "Aku akan ke pernikahan Mibuchi."
Dari cermin, Seijuurou bisa melihat pamannya terkejut. "Mibuchi temanmu? Mibuchi yang itu?"
"Seingatku aku hanya kenal satu Mibuchi jadi ya, Mibuchi yang itu," jawab Seijuurou. Ia tersenyum ketika pamannya merengut mendengar jawabannya yang sedikit berputar-putar. Ia memakai tuksedonya dan sekali lagi memastikan penampilan.
"Aku tidak menyangka ia akan menikah, kupikir ia… kau tahu, menyimpang," kata pamannya.
Seijuurou tertawa. Yah, ia tidak bisa menyangkal kalau ia dulu juga sempat berpikir begitu. Walau bagaimana pun, sulit menganggap Mibuchi 'lurus' kalau ia bersikap gemulai seperti itu. Terlebih ia terkenal senang menggoda Junpei tiap kali mereka bertemu di pertandingan basket saat SMA.
Dari ekspresi lucu yang pamannya tunjukkan, Seijuurou tahu kalau pamannya tengah mengingat saat-saat di mana Mibuchi menggoda Junpei. Di tengah lapangan basket. Di pertandingan resmi.
"Yah, ternyata tidak," jawab Seijuurou sambil lalu.
Teppei bergumam panjang. Mata cokelat kayunya menyiratkan kalau ia puas dengan penampilan Seijuurou.
"Nah, Mibuchi yang seperti itu saja menikah, Seijuurou. Kapan kau akan menyusulnya?"
Otomatis, Seijuurou mengembuskan napas panjang. Pria dua puluh delapan tahun itu menarik lengan tuksedonya, melihat jam.
Jam menunjukkan pukul sepuluh tiga puluh pagi. Masih ada tiga puluh menit sebelum pesta pernikahan Mibuchi dimulai, tapi ia sudah berjanji akan menjemput Momoi dan pergi bersama.
Syukurlah, ia jadi punya alasan untuk menghindar dari pertanyaan terkutuk pamannya.
"Maaf, Paman. Aku harus pergi sekarang," kata Seijuurou, tersenyum sedikit lebih lebar dari biasanya ketika pamannya menghela napas dan mengibaskan tangan, isyarat kalau ia menyerah dan agar Seijuurou segera pergi.
Seijuurou menekan bel apartemen Momoi dan menunggu.
Ia tidak benar-benar berharap wanita itu akan segera membuka pintu karena walau bagaimana pun, wanita terkenal dengan lamanya mereka berdandan. Kalau pun pintu di hadapannya terbuka sekarang, ia maklum seandainya Momoi mengatakan ia belum siap dan tolong tunggu sebentar.
Tapi tidak sampai semenit kemudian, pintu di hadapannya terbuka.
Apa yang Seijuurou temukan di balik pintu itu tidak sesuai dengan bayangannya.
Di hadapannya berdiri Momoi dengan gaun off-shoulder berwarna biru selutut yang membuat orang-orang bisa bebas melihat tulang selangkanya. Belahan gaun tersebut cukup rendah, tapi tak cukup untuk masuk kategori vulgar. Gaun tersebut memeluk tubuh bagian atasnya dengan sempurna dan mengembang mulai dari pinggang ke bawah.
Khusus untuk hari ini, rambut merah jambunya yang biasanya digerai, digulung membentuk chignon tapi ia membiarkan beberapa helai rambut tertinggal untuk membingkai wajah. Khusus untuk hari ini pula, wajahnya -yang biasanya sudah cantik—dipulas sedikit make up.
Singkat kata, Momoi terlihat canti—tidak, menakjubkan.
"Hai, Akashi-kun. Uh, sebentar, aku akan ambil mantelku," kata Momoi lantas menghilang lagi. Sayup-sayup dari dalam Seijuurou mendengar Momoi menyuruhnya untuk masuk sebentar. Tak sampai lima menit, Momoi sudah muncul lagi di ambang pintu. Kali ini tubuhnya tertutup mantel biru tua.
Ada sedikit rasa kecewa menelusup dalam hati Seijuurou.
"Uh, apa aku terlihat aneh?" tanya Momoi. Pandangannya ia alihkan ke arah lain selain wajah Seijuurou. Pipinya memerah, sedikit lebih merah dari ketika ia baru membuka pintu, bukti kalau wanita itu memang memerah wajahnya karena malu bukan karena riasan.
Tangan kanan Momoi terangkat, hendak menyelipkan rambutnya ke belakang telinga. Kebiasaan ketika wanita itu gugup.
Tepat saat itu Seijuurou tersenyum. Sebelum tangan Momoi sempat menyapu ujung rambutnya, Seijuurou mengambil tangan itu dan mencium buku jarinya.
"Tidak, kau terlihat menakjubkan," jawab Seijuurou sambil tersenyum lembut guna meyakinkan pasangannya hari ini. Momoi tertawa. "Kau tahu, mungkin sebaiknya kau ke kantor seperti ini tiap hari. Kau kelihatan lebih cantik begini."
Pipi Momoi kembali memerah dan wanita itu tertawa lagi. Seijuurou suka melihat reaksinya.
"Terima kasih, tapi itu merepotkan," Momoi diam sejenak. Senyum simpul masih menghiasi wajahnya, "tapi kita lihat saja nanti."
Momoi bergegas menutup pintu apartemen dan menguncinya. Ketika wanita itu membalikkan badan ke arah Seijuurou, pria itu menawarkan lengan kanannya pada Momoi.
"Kita pergi sekarang?"
Momoi mengangguk, mengalungkan lengannya sendiri ke lengan Seijuurou. Mereka berjalan seperti itu hingga ke mobil Seijuurou. "Mungkin sudah ada yang mengatakannya padamu, tapi kau terlihat sangat tampan."
Seijuurou tersenyum, "terima kasih."
"Kenapa aku tidak melihat pasangan kalian?"
Seijuurou dan Momoi tersenyum sembari saling bertatapan penuh arti ketika Mibuchi menanyai mereka tepat setelah mereka menyelamatinya. Sang mempelai pria mengerutkan dahi melihat dua teman SMA-nya bertukar pandang seperti itu dan bukan menjawab.
Atau…?
Seijuurou dan Momoi mengalihkan pandangan mereka lagi pada Mibuchi.
"Kau sedang melihatnya, Senior Mibuchi," kata Seijuurou. Momoi mengangguk mengiyakan. Mereka berdua masih tersenyum misterius.
Alis hitam Mibuchi terangkat tapi ia tidak berkomentar.
"Bagaimana denganmu? Mana mempelai perempuannya?" tanya Momoi sembari melihat ke balik bahu Mibuchi, mencari-cari sosok mempelai wanita.
"Oh, ia sedang menyambut teman-temannya," jawab Mibuchi sambil lalu. Ia menunjuk ke serombongan perempuan yang berdiri di sisi lain aula. Mata hitam pria flamboyan itu lalu kembali terpaku pada sosok Seijuurou dan Momoi di hadapannya yang tertawa melihat sang mempelai wanita sibuk berfoto bersama teman-temannya dengan pose-pose aneh.
"Ah, ngomong-ngomong, kau terlihat tampan sekali hari ini, Senior," puji Momoi.
Mibuchi tersenyum lantas mengambil tangan kanan Momoi, mencium buku jarinya. Momoi tersipu.
"Kau sendiri terlihat cantik sekali hari ini, Momoi. Apa sudah ada yang mengatakannya?" goda Mibuchi. Ia mengedip pada Momoi dan merah di pipi Momoi menjalar hingga ke telinga. Ketika wanita itu menggumamkan terima kasih, Mibuchi tertawa.
"Whoa, kau cantik sekali, Momoi."
Seijuurou, Momoi, dan Mibuchi menoleh begitu mendengar seruan tak jauh dari mereka. Tak lama, Hayama serta Nebuya muncul, di belakang mereka Mayuzumi dan istrinya -mengejutkan? Memang—mengikuti.
Seijuurou mengucapkan 'halo' pada senior-seniornya di SMA dan mengangguk singkat pada istri Mayuzumi.
Meski sudah tiga tahun, sampai hari ini Seijuurou masih sulit percaya kalau dari mereka berenam, Mayuzumi lah orang yang pertama menikah, lalu sekarang disusul Mibuchi. Entah siapa yang akan menyusul selanjutnya.
"Terima kasih, Senior Hayama," kata Momoi, masih dengan malu-malu. Mereka bertukar pujian dan kabar untuk beberapa saat sebelum akhirnya Momoi berbincang seru dengan istri Mayuzumi.
Setelah beberapa saat mengobrol, Hayama akhirnya menculik Momoi ke lantai dansa bersama dengan Mayuzumi dan istrinya sedangkan Nebuya pergi melihat-lihat meja makanan. Pada akhirnya, Seijuurou ditinggalkan bersama Mibuchi.
Seorang pelayan yang membawa sampanye lewat di hadapan mereka. Mibuchi mengambil dua gelas.
"Sampanye, Sei-chan?" tawar Mibuchi. Seijuurou menerimanya.
Mereka berdua menyesap sampanye dalam diam sembari melihat orang-orang yang tengah berdansa tak jauh dari mereka. Mempelai wanita kini tengah berdansa dengan entah siapa dan di samping kanannya, Momoi tertawa renyah pada lelucon apa pun yang Hayama lontarkan sembari mereka berdansa.
"Kau tidak akan berdansa dengan istrimu?" tanya Seijuurou. Gelas sampanyenya didekatkan kembali ke bibir.
"Aku dan istriku yang membuka lantai dansanya, Sayang," jawab Mibuchi, memimik gerakan Seijuurou. "Katakan, apa sekarang kau dan Momoi bersama?"
Seijuurou mengangkat sebelah alis. Ia tak bisa menahan senyum. Ia tahu seniornya akan menanyainya cepat atau lambat.
"Untuk hari ini, ya," jawab Seijuurou sejujurnya dan sekenanya. "Karena kau mewajibkan kami membawa pasangan."
Mibuchi yang tadinya mengerutkan dahi memikirkan maksud Seijuurou langsung mengerang begitu mendengar tambahan juniornya itu. Tanpa terasa gelas sampanyenya sudah kosong. Dengan santai Ia meletakkan gelas kosongnya di atas nampan pelayan yang lewat di hadapan mereka.
"Kalau kau merasa dicurangi karena tamu lainnya tidak diwajibkan, kau harus tahu kalau Nebuya dan Hayama juga kuwajibkan membawa pasangan," jelas Mibuchi. Pria berambut hitam tersebut mengedarkan pandangannya sesaat di tengah keramaian tamu. Tak lama, ia menunjuk dua orang wanita yang tengah berbincang di dekat meja makanan, "itu pasangan mereka."
Seijuurou hanya menggumam tanda ia mengerti.
"Tapi kau tahu, Sei-chan, kau sebaiknya mulai memikirkan kemungkinan kau dengan Momoi," Seijuurou yang tengah menyesap sampanyenya nyaris tersedak. Apa? "kau lajang, Momoi juga. Kalian terlihat serasi, jadi kenapa tidak kau coba?"
Seijuurou mengerutkan alis tidak setuju.
Oke, seniornya sudah keterlaluan.
Seijuurou tidak begitu peduli -oke, mungkin ia sedikit terganggu—kalau Mibuchi terus-terusan mengganggunya dengan pertanyaan terkutuk itu. Ia juga tidak masalah kalau Mibuchi mencoba mengenalkannya pada wanita-wanita lajang kenalannya tanpa persetujuan Seijuurou terlebih dulu.
Tapi Seijuurou sangat, sangat risih mendengar saran Mibuchi karena pria itu menyarankan ia dan Momoi ketika wanita yang bersangkutan berjarak hanya sekitar sepuluh meter dari mereka. Terlebih pria itu bicara tanpa memikirkan perasaan Momoi sama sekali.
Bagaimana kalau Momoi dengar? Bagaimana kalau ternyata Momoi punya orang yang disukai? Lagi pula tahu dari mana Mibuchi kalau Momoi tidak punya pacar? Seijuurou yang teman dekatnya dan atasannya saja tidak tahu…
"Senior Mibuchi, kurasa kau sudah keterlaluan," kata Seijuurou, berusaha untuk jujur, "jangan libatkan Momoi dalam masalah statusku."
Mibuchi kelihatannya tidak benar-benar menangkap keseriusan Seijuurou karena ia mengangkat bahu tak acuh. "Tapi aku sungguh-sungguh ingin kau memikirkannya, Sei-chan. Maksudku, kalian dekat. Kau mengenalnya dengan baik begitu juga sebaliknya. Kalian selalu terlihat bersama dan kau bahkan terlihat tersiksa sekali waktu ia menghilang tanpa kabar bertahun-tahun. Jangan coba menyangkal, aku tahu, Sei-chan."
Seijuurou yang tadinya hendak menyangkal langsung mengurungkan niatnya.
"Kurasa kau menyukainya, hanya saja kau tidak menyadarinya atau kau tidak mau mengakuinya."
Melihat kalau ia tidak mungkin memenangkan adu pendapat ini, Seijuurou memilih diam. Meski tak ingin, pria itu memikirkan kata-kata Mibuchi barusan. Ia, Akashi Seijuurou, dengan Momoi Satsuki?
Sejujurnya, nama mereka berdua disandingkan tak terdengar aneh untuk Seijuurou, tak ingin membuatnya tertawa. Rasanya justru familiar, tapi di saat yang sama juga terasa asing.
Mata merah Seijuurou mengikuti figur Momoi yang kini tengah berputar mengikuti irama. Melihat sosok Momoi, yang terkekeh ketika Hayama menangkapnya dalam sebuah dekapan longgar, membuat Seijuurou kembali berpikir.
Ia dengan Momoi? Apa mungkin?
Seijuurou tahu kalau Mibuchi tengah meliriknya yang tengah memerhatikan Momoi. Karena ingin menghindari tatapan menyelidik Mibuchi, ketika Momoi kembali bersama Hayama yang tertawa-tawa, Seijuurou langsung mengajaknya berdansa.
"Kau tahu, kupikir kau akan menjadi best man dalam pernikahan Senior Mibuchi," kata Momoi sembari mengangkat bahu tak acuh ketika mereka masuk ke mobil Seijuurou, "atau paling tidak jadi salah satu groomsmen."
Seijuurou tersenyum, tangannya sibuk memasang sabuk pengaman setelah menyalakan pemanas. "Tidak. Senior memang melibatkanku untuk perencanaan, tapi kurasa ia berpikir aku sebaiknya tidak dilibatkan ketika acara agar aku bisa bebas mencari perempuan lajang untuk dikencani."
Momoi tertawa mendengar kata-kata Seijuurou. Memimik gerakan pria di sebelahnya, ia juga memasang sabuk pengaman.
Seijuurou menginjak pedal gas dan mobil pun melaju membelah jalanan kota Tokyo yang untungnya tak begitu ramai hari ini. Perhatian pria tersebut terfokus pada jalanan di hadapannya. Matanya terpaku pada jalanan sedangkan tangannya menempel pada setir.
"Apa terjadi sesuatu tadi?" tanya Momoi tiba-tiba ketika mereka berhenti di salah satu lampu merah.
Seijuurou mengangkat alis. "Kenapa kau bertanya begitu?"
Mengambil kesempatan saat mobil sedang berhenti, Seijuurou menoleh ke arah Momoi. Wanita itu ternyata sama sekali tidak melihatnya dan justru melihat lurus ke mobil sedan perak di hadapan mereka. Senyum tipis terpatri di wajahnya.
"Berarti benar terjadi sesuatu," kata Momoi. Seijuurou diam. "karena kau selalu berkata begitu kalau pertanyaanku benar."
Ah, harusnya Seijuurou belajar kalau ia tidak bisa menyembunyikan apa pun dari wanita ini. Lihat saja, enam belas tahun mereka saling mengenal dan tidak pernah satu kali pun Seijuurou bisa menutupi sesuatu darinya.
Dasar, wanita.
Sebelah tangan Seijuurou terangkat dari setir, mengusap rambutnya yang memang sejatinya berantakan. "Tidak ada apa-apa. Senior Mibuchi hanya bersikap seperti biasanya."
Dari sudut penglihatannya, ia bisa melihat alis Momoi mengerut. "Ia bertanya kapan kau akan menikah lagi?"
Tidak, ia mengusulkan agar aku mengajakmu berpacaran, sebenarnya Seijuurou ingin menjawab begitu. Tapi rasanya aneh sekali kalau ia mengatakannya jadi Seijuurou memilih diam sejenak. Kebetulan lampu merah berubah hijau dan Seijuurou memfokuskan perhatiannya kembali ke jalan.
"Begitulah kira-kira. Aku mulai lelah mendengarnya."
Berbeda dari yang Seijuurou kira, Momoi justru terkekeh. Kenapa Momoi tertawa? Apa ada yang lucu?
Seijuurou berusaha mengingat-ingat hal apa yang barusan ia katakan yang sekiranya bisa membuat Momoi terkekeh seperti itu. Tapi hasilnya nihil.
"Aku mengerti. Awalnya memang terasa menyebalkan, tapi lama-lama kau akan terbiasa," kata Momoi setelah kekehannya mereda. Kedua tangannya terangkat ke belakang kepala, melepas jepit-jepit yang ia gunakan untuk menyangga tatanan rambutnya hingga akhirnya rambutnya terurai seperti biasa. "Maksudku terbiasa dengan pertanyaan menikah itu."
Seijuurou tadinya hendak menyuarakan protesnya mengenai keputusan Momoi mengurai rambut tapi ia justru berganti haluan, "bagaimana kau tahu?"
Momoi mengumpulkan jepit-jepit di pangkuannya dan memasukkannya dalam tas tangan yang ia bawa. "Oh aku selalu mendapat pertanyaan itu selama dua tahun terakhir. Awalnya juga aku muak, tapi sekarang sudah terbiasa."
Dua tahun? Dahi Seijuurou mengernyit. Kenapa Momoi mendapat pertanyaan itu ketika ia baru dua puluh enam? Seijuurou baru mendapat pertanyaan itu akhir-akhir ini karena ulang tahunnya yang ke-dua puluh delapan baru saja lewat.
Kesadaran menghantam Seijuurou.
Rata-rata pria Jepang menikah pada usia dua puluh delapan, tapi wanita rata-rata menikah pada umur dua puluh enam. Itu sebabnya Seijuurou baru mendapat pertanyaannya sekarang sedangkan Momoi sudah mendapatkannya selama dua tahun belakangan.
Seijuurou jadi sedikit malu pada Momoi.
"Maaf, kukira kau tidak mendapat pertanyaan seperti itu," kata Seijuurou. Ia terlalu fokus memandang jalanan sehingga tidak bisa melihat reaksi Momoi.
Momoi melambaikan sebelah tangannya tak acuh. "Tidak apa, tidak usah dipikirkan."
Mereka diam sejenak. Mobil terus melaju hingga mereka sampai di lampu merah kedua.
"Tapi jujur, aku juga heran melihatmu, Akashi-kun," Seijuurou bisa merasakan tatapan Momoi padanya. Seijuurou juga bisa melihat wanita itu menjilat bibir sesaat, "maksudku, kau tampan, pintar, mapan, dan baik. Bagaimana bisa kau masih lajang?"
Entah kenapa Seijuurou terkekeh mendengar pernyataan Momoi. Tidakkah rasanya pujian Momoi berlebihan? Seijuurou tidak mungkin seperti itu. Pujian Momoi membuatnya terkesan… sempurna.
Tidak, tidak mungkin Seijuurou sesempurna itu.
"Bagaimana denganmu? Kau cantik, pintar, bisa dibilang mapan juga, pintar mengatur berbagai hal, dan pengertian. Bagaimana bisa kau masih lajang?" Seijuurou bertanya balik. Ia menoleh ke arah Momoi, menantang wanita itu dengan tersenyum simpul.
Untuk alasan yang tidak diketahui Seijuurou, Momoi tiba-tiba tersipu dan mulai bicara dengan gagap. "I-itu…"
"Jangan bilang kau lajang karena sedang menunggu seseorang?" sejujurnya, Seijuurou bertanya begitu hanya untuk menggoda Momoi. Tapi reaksi wanita itu sepertinya membenarkan godaannya.
Wanita itu mengalihkan wajahnya dari Seijuurou, tapi pria itu tetap bisa melihat kalau wajahnya sedikit memerah.
Jadi benar? Momoi sedang menunggu seseorang? Siapa kira-kira?
Bayangan tentang Momoi bersama dengan laki-laki lain terasa sedikit mengganggu Seijuurou. Aneh, tidak familiar. Mungkin karena selama belasan tahun ini, laki-laki yang berada di dekat Momoi hanya Seijuurou dan teman-teman dalam grup kecil mereka. Tidak pernah Seijuurou lihat ada laki-laki selain mereka yang dekat dengan Momoi. Bahkan di kantor pun tidak ada.
Mencoba menepis pikiran itu jauh-jauh, Seijuurou mencoba mengorek ingatannya mengenai rumor-rumor yang pernah mengelilingi Momoi. Otaknya hanya berhasil mengingat satu momen ketika mereka SMA di mana sempat terlintas rumor kalau ada orang di klub basket mereka yang Momoi sukai. Tapi sampai sekarang tidak ada yang tahu siapa laki-laki beruntung itu.
"Kau sedang menunggu orang yang kau sukai saat kita SMA dulu?" tanya Seijuurou. Ia tidak benar-benar bermaksud ikut campur kehidupan pribadi Momoi. Hanya saja ia sedikit heran ia baru tahu soal ini padahal sudah enam belas tahun mereka berteman dekat.
Momoi menggumam. Jemarinya mengetuk dagu, memasang pose berpikir. Hilang sudah perilaku malu-malunya barusan.
"Entahlah..."
Lampu merah berubah hijau. Mobil mereka kembali melaju.
"Jadi rumor itu benar? Rumor yang bilang kau menyukai seseorang di klub basket saat kita SMA?" Seijuurou tidak bisa bilang ia tidak terkejut.
Momoi mengangkat bahu sembari tersenyum penuh arti tapi tidak menjawab.
Di salah satu sudut hati Seijuurou, ia merasa tersinggung. Rasanya sama seperti ketika Momoi menghilang tanpa kabar bertahun-tahun lalu. Seijuurou merasa ditinggalkan karena wanita itu tak pernah mengatakan apa-apa padanya. Meski pada akhirnya pun ia bercerita, tapi Seijuurou tetap merasa wanita itu bersikap sedikit tidak adil padanya.
Momoi selalu menyembunyikan sesuatu, sedangkan Seijuurou di sini selalu jujur padanya, meski kadang memang karena Seijuurou tak punya pilihan. Tapi karena itu Seijuurou merasa dekat dengan Momoi dan menganggap Momoi sebagai salah satu teman terdekatnya.
Sayangnya, sepertinya wanita itu tidak menganggap Seijuurou teman dekatnya juga.
Berusaha menepis perasaan negatif itu jauh-jauh, Seijuurou melanjutkan, "siapa?"
"Kau tidak pernah memberitahuku siapa gadis yang kau sukai, kenapa aku harus memberitahumu?" protes Momoi. Protesnya lebih berkesan menantang. Sama sekali tidak terdengar defensif dan justru lebih condong ke kesan ia berusaha mengalihkan pembicaraan pada Seijuurou.
Melihat wanita itu menyilangkan tangan di depan dada, menantangnya, Seijuurou terkekeh. "Karena memang tidak ada gadis yang kusukai. Sekarang, siapa laki-laki beruntung itu?"
"Coba tebak."
Seijuurou mengetuk-ngetukkan telunjuknya pada roda setir. "Senior Hayama?"
Tebakan Seijuurou bukan tanpa alasan. Walau bagaimana pun, mereka berdua terlihat sangat dekat dulu mau pun sekarang. Lihat saja saat mereka berdansa tadi. Hayama berhasil membuat Momoi tertawa sepanjang dansa.
Momoi mendengus. Sebelah tangannya mengibas sambil lalu. "Apa? Bukan. Lagi pula ia sudah punya pacar."
"Sungguh?" Seijuurou terkejut. Tapi setelah dipikir-pikir lagi, tidak heran kalau Hayama punya pacar, walau bagaimana pun, ia salah satu orang paling sosial di antara mereka.
Momoi mengangguk. "Ya, pasangannya hari ini itu pacarnya."
Mereka diam sejenak.
"Salah seorang pemain inti? Reguler yang selalu turun main?" tanya Seijuurou, menolak untuk menyerah dari topik pembicaraan sebelumnya dan mencoba mencari petunjuk lebih. Momoi mengangguk. Seijuurou kembali berpikir, "Senior Mibuchi?"
Momoi tertawa, "tentu saja bukan!"
"Senior Nebuya?"
"Kau bercanda?" tanya Momoi. Sebelah alisnya terangkat tinggi. Matanya berbinar senang. Ujung-ujung bibirnya berkedut dalam usahanya menahan tawa. "Tapi ia juga sudah punya. Um, paling tidak, ia sedang berusaha mendekati seseorang."
Tunggu, kalau Hayama dan Nebuya sudah punya, berarti hanya tinggal Seijuurou seorang dari kelompok kecil mereka yang lajang dan tidak berusaha untuk mendekati siapa pun? Pantas saja Mibuchi gigih sekali memasangkannya dengan seseorang.
Seijuurou kembali berpikir. Pemain inti dan selalu turun main hanya mereka berlima. Tidak mungkin orang itu Seijuurou jadi hanya tersisa empat orang lagi. Momoi sudah bilang bukan Hayama, Mibuchi, juga Nebuya. Kalau begitu, berarti hanya tinggal—
"Senior Mayuzumi? Aku tidak tahu kau suka tipe pendiam seperti itu," kata Seijuurou.
Momoi mendengus lagi. "Itu karena memang aku tidak suka Senior Mayuzumi."
Dahi Seijuurou mengernyit. Sebentar lagi mereka sampai di apartemen Momoi. Kaki Seijuurou menginjak pedal rem dan mobil pun berhenti. Sekali lagi mereka menunggu lampu merah berubah hijau.
Seijuurou menggunakan kesempatan itu untuk menatap Momoi. "Kalau begitu siapa? Tidak ada lagi pemain inti yang selalu turun main kecuali aku—"
"Benar."
Apa?
Alis Seijuurou terangkat tinggi. Apa ia baru saja mendengar Momoi mengiyakan kata-katanya?
Tidak, tidak, ia pasti salah dengar.
Momoi menoleh, membalas tatapan Seijuurou lurus-lurus. Matanya sama sekali tidak menyorotkan binar jenaka yang mana berarti ia tidak sedang bercanda. Matanya justru memancarkan kelembutan -dan… mungkin kesedihan?—saat ini.
"Benar. Aku suka padamu."
Seijuurou terdiam.
Lampu merah di hadapan mereka berubah hijau.
Tetsuya merasa seperti ia tengah melakukan kencan diam-diam. Atau sedang melakukan suatu transaksi barang haram.
Sejak keluar dari rumah, ia tak henti-hentinya melirik sekeliling, memastikan tidak ada orang yang melihatnya pergi. Ia benar-benar khawatir ada orang yang melihatnya menemui wanita itu lantas melaporkannya pada kakak-kakaknya.
Tekad Tetsuya untuk menemui ibunya melemah bersamaan dengan tiap langkah yang ia ambil menjauh dari rumah. Tetsuya sungguh tak perlu orang lain untuk meruntuhkan tekadnya.
Karena tak ingin bertemu dengan wanita itu di tempat yang asing, Tetsuya meminta mereka bertemu di restoran cepat saji yang biasa ia datangi; Maji Burger. Restoran itu tak terlalu jauh dari rumah dan yang terpenting, restoran itu familiar untuknya, memberikan semacam penguatan pada Tetsuya yang merasa tak nyaman karena akan bertemu orang yang terasa asing.
Asing. Tiap kali Tetsuya memikirkan wanita itu, ia tak bisa tak merasa kalau wanita itu sangat asing baginya. Tapi di saat yang sama, Tetsuya merasa aneh ketika berpikir sosok wanita itu terasa asing karena -hei—seharusnya wanita itu adalah sosok terdekatnya dalam hidup. Wanita itu seharusnya menjadi penopangnya saat ia lemah, menjadi perawatnya saat ia sakit, menjadi sosok yang memercayainya ketika tak ada seorang pun yang percaya padanya.
Tapi kalau dipikir lagi, wanita itu tak ada untuk menyaksikan Tetsuya tumbuh jadi meski pun ia berkata ia ibu kandung Tetsuya, Tetsuya tak benar-benar bisa menganggapnya begitu.
Restoran burger tersebut tidak ramai hari ini meski sedang weekend. Mungkin karena sekarang baru pukul sepuluh tiga puluh, belum masuk jam makan siang. Oleh karena itu, tidak sulit bagi Tetsuya untuk mengedarkan pandangan, mencari puncak kepala berwarna biru langit seperti miliknya. Ketika tak berhasil menemukannya, ia mencari tempat duduk kosong untuk dua orang di samping jendela dan melepas mantel.
Sepuluh menit menunggu, pintu kaca restoran terbuka, membunyikan bel di atas pintu, dan muncul lah sosok yang ditunggu Tetsuya. Wanita itu berdiri di sana, mengedarkan pandangan sejenak hingga ia menangkap tatapan Tetsuya di sisi lain ruangan. Wajah wanita itu -yang sebelumnya terlihat agak cemas—langsung berubah cerah begitu melihat Tetsuya.
Tetsuya berusaha untuk tidak meringis melihat betapa sumringah wajah wanita itu ketika melihatnya. Ia sedikit merasa bersalah karena ia bahkan tak tahu sebaiknya merasa seperti apa ketika melihat wanita itu.
"Maaf, terlambat. Tetsuya sudah menunggu lama?" tanya wanita itu basa-basi. Ia menjatuhkan diri di tempat duduk di hadapan Tetsuya setelah memesan. Nampan berisi segelas sodanya diletakkan di atas meja di hadapan gelas vanilla shake Tetsuya.
Tetsuya hanya mengangguk lantas menyesap vanilla shake-nya.
"Aku senang sekali Tetsuya mau menghubungiku," katanya lagi, wajahnya kelihatan begitu senang, Tetsuya merasa sedikit tidak enak. Walau bagaimana pun ia mengajak wanita itu bertemu semata-mata karena ia ingin rasa ingintahunya terpuaskan.
"Terima kasih sudah datang, um…" Tetsuya ragu sebaiknya memanggilnya apa. 'Ibu' terdengar aneh di telinganya.
Wanita itu cepat-cepat menjawab, "panggil aku Sora."
Sedikit lega karena wanita itu tak memintanya untuk memanggilnya 'ibu', Tetsuya meneruskan, "terima kasih sudah datang, Sora-san."
Wanita itu -Sora—mengangguk satu kali. Senyumnya melebar. Ia menyesap soda miliknya.
Setelah itu mereka berdua diam. Tetsuya ingin segera bertanya, tapi ia merasa agak tak sopan kalau bertanya begitu saja. Lagi pula ia tidak tahu bagaimana harus memulai. Maka dari itu ia berpikir ia akan membiarkan Sora bicara lebih dulu. Tapi sepertinya Sora pun menunggu Tetsuya bicara.
Akhirnya Sora mengalah dengan berdeham.
"Aku…" ia berhenti bicara. Matanya ia alihkan ke arah lain sedangkan tangannya sibuk mengaduk-aduk soda dengan sedotan. "aku mengerti kalau apa yang kulakukan pada Tetsuya belasan tahun lalu tidak bisa dimaafkan dan aku tidak yakin Tetsuya akan bersedia memaafkanku. Meski begitu, aku minta maaf. Aku benar-benar ibu yang buruk."
Tetsuya terdiam. Bagaimana seharusnya ia menanggapi itu?
Tetsuya tidak tahu harus bagaimana jadi ia diam saja. Ia tidak tahu bagaimana perasaannya pada wanita itu? Marahkah? Sedih? Tetsuya tidak yakin.
Tetsuya juga tidak yakin kalau ia memaafkan apa yang telah wanita itu lakukan bertahun-tahun silam. Maka dari itu ia tidak berbohong dan mengatakan kalau ia memaafkan Sora hanya supaya wanita itu merasa lebih baik.
Tidak nyaman dengan atmosfer di sekeliling mereka, pemuda itu mengepalkan tinjunya di bawah meja.
"Seandainya… seandainya saja ada hal yang bisa kulakukan untuk memperbaiki hubungan kita. Aku akan melakukannya. Aku akan melakukan apa pun."
Kali ini, Tetsuya hanya mengendurkan lalu mengepalkan tinjunya lagi. Berusaha agar tak terlalu terlihat kalau ia sebenarnya gugup dan risih.
"Ada beberapa hal yang ingin kutanyakan…" kata Tetsuya. Pemuda itu berusaha keras mengabaikan atmosfer berat yang menyelimuti mereka beberapa menit belakangan. Ia juga menepis rasa bersalah dalam hatinya ketika melihat Sora dengan cepat mengangkat wajahnya dan menatapnya.
"Tanyakan saja."
"Kenapa…" Tetsuya meragu, "kenapa waktu itu kau meninggalkanku sendiri? Selama ini kau ke mana?"
Apa kau benar-benar menyesal telah meninggalkanku? Kenapa tidak pernah mencariku? Kenapa baru menemuiku sekarang? Setelah empat belas tahun?
Pertanyaan-pertanyaan di atas sebenarnya berputar di kepala Tetsuya, menunggu untuk dilontarkan. Tapi Tetsuya berpikir sebaiknya tidak terburu-buru dan menunggu wanita itu menjawab dua pertanyaan pertamanya.
Sora memegang gelas kertas sodanya dengan kedua tangan, menggosokkan tangannya naik-turun di sisi gelas kertas tersebut. Ia terdiam, mungkin berpikir sejenak. Menyusun kata.
"Aku… aku meninggalkan Tetsuya karena aku tidak tahan dengan tekanan hidup. Aku tahu ini pembenaran diri tapi saat itu kehidupanku sangat sulit. Saat aku menikah dengan ayah Tetsuya, keluargaku tidak setuju dan orangtuaku membuangku. Setelah menikah pun kehidupanku tidak membaik, ayah Tetsuya sakit parah, dan aku hamil Tetsuya saat keadaan sangat sulit seperti itu. Saat Tetsuya lahir, keadaan bertambah buruk. Kita –aku—sangat miskin, orangtuaku meninggal mendadak ketika Tetsuya setahun, dan ayah Tetsuya meninggal tahun berikutnya. Aku benar-benar terpukul. Maksudku, ayah Tetsuya satu-satunya orang yang mengerti aku tapi ia pergi begitu saja.
"Aku depresi, aku merasa butuh orang untuk disalahkan atas semua hal buruk yang terjadi. Waktu itu hanya ada Tetsuya… waktu itu kupikir keadaan menjadi sangat buruk sejak Tetsuya lahir, kupikir Tetsuya adalah pembawa sial. Oleh karena itu aku menyiksa Tetsuya sedemikian rupa, mengatakan Tetsuya anak pembawa sial dan semacamnya. Suatu hari saat Tetsuya tiga tahun, aku tidak tahan lagi. Aku sempat berpikir untuk bunuh diri tapi aku terlalu takut melakukannya, lalu kupikir kalau memang Tetsuya yang membawa semua sial ini padaku, maka aku pasti tidak akan sial lagi jika meninggalkan Tetsuya."
Hati Tetsuya serasa ditusuk berkali-kali mendengarnya. Hanya karena itu ia ditinggal?
Salah satu sudut hatinya membenci Sora. Salah satu sudut hatinya menyuruhnya untuk mencemooh wanita di hadapannya karena sudah berhasil membuktikan kalau teorinya empat belas tahun lalu benar karena lihatlah penampilan wanita itu sekarang. Ia tidak terlihat seperti tengah mengalami kesulitan finansial sama sekali.
"Setelahnya aku pergi ke tempat seorang teman di Chiba. Aku tidak sanggup terus ada di kota ini. Setelah beberapa saat menenangkan diri, aku mencoba melamar pekerjaan sebagai perawat. Setelah itu keadaan finansialku membaik, keadaan mentalku juga, terlebih setelah aku bertemu dengan salah seorang dokter di sana dan menikah lagi dengannya. Bekerja di rumah sakit membuatku bertemu banyak anak-anak dan itu membuatku mengingat Tetsuya. Setelah itu aku kembali ke sini, mencoba mencari Tetsuya. Kalau tidak salah waktu itu sudah lewat tiga tahun sejak aku meninggalkan Tetsuya. Aku mencoba mendatangi apartemen lama kita dan bertanya pada pemilik apartemen. Ia bilang Tetsuya sudah diadopsi seseorang bermarga Akashi."
Sora berhenti sejenak, menyesap sodanya.
"Akashi-san teman baik ayah Tetsuya dulu dan aku tahu ia orang yang baik meski keras. Ia juga tidak kesulitan finansial jadi kupikir hidup Tetsuya akan lebih baik dengannya. Aku pernah berpikir untuk mendatangi Tetsuya sekali tapi aku merasa aku tidak diperlukan dalam hidup Tetsuya. Aku semakin yakin soal itu ketika beberapa tahun kemudian Tetsuya muncul di koran, memegang tropi kemenangan kejuaraan basket nasional tingkat SMP bersama teman-teman."
Wajah Sora seketika berubah sedih. Wanita itu kelihatannya tengah berusaha keras menahan tangis. Setelah mengerjap beberapa kali dan tidak berhasil mengusir air mata di matanya, ia buru-buru merogoh tas dan mengeluarkan tisu. Disapunya air mata yang mulai jatuh.
"Aku sangat, sangat menyesal atas apa yang telah kulakukan pada Tetsuya. Apa lagi setelah Tuhan menghukumku karena mengabaikan Tetsuya malam itu begitu saja. Setelah aku menikah dengan dokter itu, kami pindah ke Tokyo, membangun rumah sakit tempat kita bertemu. Waktu itu aku sangat bahagia karena aku punya semua yang kuinginkan tapi setelahnya aku terkena kanker rahim, cukup parah hingga membuat rahimku diangkat. Aku tidak bisa punya anak lagi meski ingin. Sejak saat itu aku tidak bisa menahan keinginan untuk bertemu dengan Tetsuya, untuk memberitahu Tetsuya kalau aku ibu Tetsuya."
Seandainya saja orang lain yang bercerita dan Tetsuya tidak masuk dalam cerita itu, maka Tetsuya pasti sudah tersentuh hatinya. Sayangnya Tetsuya memiliki peran dalam cerita itu dan orang yang menceritakannya adalah orang yang telah membuangnya.
"Karena itu, aku ingin, ingin sekali memperbaiki hubungan ibu-anak ini. Aku tidak meminta Tetsuya untuk tinggal bersamaku tapi aku berharap aku boleh menghubungi Tetsuya sesekali. Aku tahu aku sangat egois, tapi kumohon beri aku kesempatan," bujuk Sora. Wanita itu terlihat sangat menyedihkan dengan wajah yang penuh air mata dan sorot mata yang kelihatan putus asa.
Tetsuya boleh jadi tidak menyukai apa yang sudah dikatakan wanita ini, tapi pada dasarnya Seijuurou tak pernah membesarkannya untuk jadi laki-laki berhati kejam. Seijuurou juga tak pernah mengajarinya untuk menjadi laki-laki yang melukai hati wanita jadi bagaimana bisa ia melukai hati wanita ini dengan menolak permintaannya yang begitu sederhana?
Toh ia hanya ingin menghubungi Tetsuya sesekali…
Dan sejujurnya, Tetsuya sudah lama ingin tahu bagaimana rasanya punya ibu.
Meski tidak ingin mengakuinya, tapi ketika ibunya sekarang sudah datang, ia tak ingin membuang kesempatan merasakan kehadiran seorang ibu meski berada bersama sang ibu terasa aneh, meski terasa asing.
Oleh karena itu, Tetsuya mengangguk.
Seijuurou tak bisa berhenti memikirkan kata-kata Momoi saat hari pernikahan Mibuchi di mobilnya. Hari itu terasa surreal, terasa tidak nyata. Sulit bagi Seijuurou untuk percaya kalau Momoi, yang selama ini selalu ada di sisinya, yang selalu bersikap biasa terhadapnya, ternyata menyukainya sedemikian rupa. Bertahun-tahun pula.
Meski di satu sisi Seijuurou merasa Momoi tidak mungkin menyukainya, di sisi lain Seijuurou jadi mengerti sikap-sikap Momoi selama ini. Sekarang Seijuurou mengerti kenapa senyum Momoi terlihat sedikit lebih lebar ketika bersamanya, sekarang ia mengerti kenapa wajah Momoi sedikit terlihat lebih cerah ketika bersamanya, sekarang ia mengerti kenapa saat musim panas kelas dua SMA Momoi salah tingkah ketika ia bilang ia suka Momoi yang bekerja keras, ia juga akhirnya mengerti kenapa pipi Momoi memerah ketika ia bilang hanya ia dan Momoi yang tahu mengenai keberadaan dan di mana video pementasan Daiki disimpan; secara tidak langsung ia mengatakan kalau ada rahasia yang hanya mereka yang tahu.
Terkadang Seijuurou bahkan berpikir hari itu, hari pernikahan Mibuchi, hanya mimpi. Tapi bukti kalau semua itu bukan mimpi tergeletak di lacinya dalam bentuk sebuah undangan pernikahan yang tanggalnya sudah lewat. Selain itu, bukti lainnya kini ada di hadapannya, sedang menggigit sandwich telur sembari mengecek jadwal Seijuurou siang itu.
Bukan, bukan kenyataan Momoi duduk di hadapannya yang membuat Seijuurou berpikir hari pernikahan Mibuchi bukan mimpi tapi fakta bahwa Momoi duduk di hadapannya dengan wajah dipulas riasan tipis dan rambut digulung membentuk chignon yang membuat Seijuurou yakin hari itu bukan mimpi karena Seijuurou ingat sekali hari itu ia menyarankan Momoi berdandan seperti itu tiap ke kantor.
Seijuurou menusuk sosis dalam kotak bekalnya lantas memasukkannya ke mulut. Sudah beberapa hari makan siangnya tidak diselingi obrolan ringan seperti biasa.
Bukan karena Momoi tidak mengajaknya bicara, tapi lebih karena Seijuurou tidak tahu bagaimana harus merespon.
Walau bagaimana pun, Momoi mengaku suka padanya tepat setelah Seijuurou berkata tidak ada gadis yang ia sukai. Bukankah itu menyakiti hati Momoi?
Seijuurou jadi tidak enak hati.
Momoi menyuruh Seijuurou untuk tidak memikirkannya, Momoi juga mengatakan perasaannya pada akhirnya akan menghilang juga dan Seijuurou tidak perlu merasa bersalah karena tidak membalas perasaannya tapi sungguh, pernyataan Momoi saat itu tak kunjung bisa berhenti menghantui pikiran Seijuurou.
Selain itu, setelah Momoi menyatakan perasaannya, Seijuurou terus berpikir bagaimana perasaannya sendiri terhadap Momoi. Apa ia menyukai wanita itu? Apa ia benar-benar tidak menyukai wanita itu dalam artian yang seperti itu?
Sebenarnya menyukai seseorang itu rasanya bagaimana? Bagaimana kau bisa tahu saat kau menyukai seseorang? Seijuurou tidak tahu dan tidak mengerti.
"Baiklah, aku sudah mengecek jadwalmu. Siang ini tidak ada rapat. Kau hanya perlu menandatangani dokumen, Akashi-kun," kata Momoi. Matanya tetap tak lepas dari buku agenda di tangannya, mungkin ia berusaha mengecek ulang. Wanita itu kembali menggigit sandwich telurnya.
Seijuurou menelan sosisnya. Ia mengangguk dan mengucapkan terima kasih.
Beberapa hari ini Seijuurou berpikir, apa sebaiknya ia mengajak Momoi berpacaran? Apa sebaiknya ia mencoba? Seperti kata Mibuchi?
Lagi pula, ia benar-benar merasa tidak enak dengan Momoi. Setelah semua bantuan yang telah dilakukan wanita itu untuknya dan keluarganya, setidaknya Seijuurou ingin melakukan sesuatu untuknya.
Seijuurou tidak tahu bagaimana cara membalas kebaikan Momoi. Momoi tak pernah meminta bantuan apa pun dari siapa pun, jadi bagaimana ia bisa membantu? Momoi juga tidak pernah mengatakan keinginannya pada siapa pun. Sekarang secara tidak langsung Momoi mengatakan keinginannya, keinginan untuk memiliki hubungan lebih dengan Seijuurou, jadi setidaknya Seijuurou ingin mengabulkan keinginan itu.
Ia tidak menjamin mereka akan bertahan kalau pun mereka mencoba tapi seandainya mereka tidak bertahan pun, paling tidak Momoi sudah pernah merasakan bagaimana menjadi pacar seorang Akashi Seijuurou. Paling tidak Momoi pernah merasakan bagaimana kalau keinginannya terkabul.
Lagi pula jika hubungan mereka pada akhirnya berhasil, mereka bisa melanjutkannya ke tahap berikutnya dan Shintarou jadi tak perlu menunggu lama untuk menikah.
Bukankah dengan begitu Seijuurou bisa mencapai dua hal sekaligus? Ia bisa mengabulkan keinginan Momoi sekaligus Shintarou.
"Momoi?" panggil Seijuurou.
"Ya?" sahut Momoi tanpa mengangkat pandangannya dari buku agenda di tangan.
Mungkin rasa berutang budi yang membuatnya mengatakannya, atau mungkin keinginannya untuk cepat mengabulkan keinginan Shintarou yang membuatnya mengatakannya, atau mungkin juga gagasan Mibuchi yang membuatnya mengatakannya, atau mungkin ia hanya gila tapi ia berkata, "Momoi, kau ingin pacaran denganku?"
Momoi berhenti mengunyah sandwich telurnya. Wanita itu akhirnya menatap Seijuurou lekat-lekat dengan dahi mengernyit. Ekspresinya seakan mengatakan 'kau sudah gila?'. Sesaat kemudian gadis itu mengerjap dan menggeleng kecil.
"Akashi-kun, aku rasa aku salah dengar, jadi bisakah kau—"
"Tidak, kau tidak salah dengar. Aku tanya, kau mau pacaran denganku?" ulang Seijuurou, meyakinkan wanita itu.
Momoi diam lagi dan semakin lama Seijuurou semakin menyesali keputusannya. Reaksinya beberapa detik kemudian mengejutkan Seijuurou.
Wanita itu tersenyum lembut dan dengan mantap berkata, "tidak."
Seijuurou terkejut, tentu saja. Dahinya berkerut. "Bukankah kau bilang kau—"
Momoi meletakkan buku agendanya lantas mengambil sandwich telurnya yang kedua. "Karena, Akashi-kun, kau tidak mengatakannya karena kau suka padaku, tapi lebih karena kau merasa tak enak tak melakukan sesuatu untukku."
Seijuurou mengernyitkan dahi. Ia sama sekali tidak mengerti jalan pikiran perempuan satu ini. Bukankah kalau kau menyukai seseorang kau jadi ingin berpacaran dengannya? Jadi ingin memonopolinya? Sekarang ia memberikan Momoi kesempatan itu, jadi kenapa wanita itu malah menolak?
Sepertinya Momoi tahu kalau Seijuurou bingung karena wanita itu menghela napas panjang. Wanita itu menyilangkan tangan di atas meja dan mencondongkan badannya maju.
"Akashi-kun," Momoi meletakkan sandwich telurnya lagi, "aku memang menyukaimu tapi kau tahu kenapa aku tidak pernah mengatakannya?"
Seijuurou diam.
"Pertama, aku tidak punya keberanian, tentu saja," kata Momoi, salah satu tangannya terangkat dan telunjuknya teracung. Jari tengahnya menyusul kemudian, "kedua, aku tahu kalau kau akan merasa berkewajiban untuk membalas perasaanku atau paling tidak, melakukan sesuatu untukku, sesuatu seperti ini."
Momoi merentangkan tangannya, mengisyaratkan maksud dari kata 'sesuatu seperti ini' yang baru saja ia ucapkan.
Wajah Momoi berubah sedih sekarang dan ia memain-mainkan plastik pembungkus sandwich telurnya. Sekali lagi ia menghela napas.
"Aku memang suka padamu. Jujur aku ingin jadi pacarmu dan senang kau bertanya begitu tapi," Momoi menekankan bagian 'tapi', "aku akan setuju jika dan hanya jika kau memang punya perasaan yang sama terhadapku. Jika tidak, aku akan menolak. Aku tidak ingin mengikatmu dalam hubungan satu arah seperti itu, Akashi-kun. Lagi pula, bagaimana kalau akhirnya kau suka perempuan lain? Apa kau akan tega memutuskanku saat itu? Aku tidak ingin Akashi-kun mengorbankan diri demi aku."
Seijuurou mengerti maksud Momoi. Ia bahkan kagum dengan pendirian wanita itu. Selama ini Seijuurou selalu berpikir Momoi sangat tidak egois dan kata-kata wanita tadi baru saja membuktikannya. Ia bersedia mengesampingkan perasaannya seperti itu demi Seijuurou juga.
Tapi tetap saja ia ingin melakukan sesuatu, apa pun, untuk wanita itu.
"Tapi aku—"
"Tidak."
"Momoi, aku benar-benar—"
"Tidak, Akashi-kun."
Mereka diam sejenak. Tapi setelah sekitar sepuluh detik, Seijuurou kembali buka suara, "Momoi, tidak bisakah—"
"Kau benar-benar keras kepala…"
Seijuurou tersenyum, "Nah, kau tahu itu. Makanya—"
Momoi mengangkat tangan, sukses menghentikan Seijuurou seketika. Senyum Seijuurou melebar sedikit.
"Kau sepertinya tidak akan menyerah sampai kau bisa melakukan sesuatu untukku."
"Memang tidak," jawab Seijuurou jujur. Sudut-sudut bibirnya berkedut, tak tahan ingin tersenyum. Ia bersikap tenang tapi ia bisa melihat kalau ketenangannya justru membuat Momoi kesal.
"Baiklah, kalau kau benar-benar ingin melakukan sesuatu untukku, bagaimana kalau begini saja. Kita pergi kencan akhir minggu ini," Seijuurou hendak mengatakan terima kasih, "satu kali. Hanya satu kali dan aku yang akan tentukan apa yang akan kita lakukan. Lalu sudah. Setelah itu kau tak boleh mengatakan omong kosong seperti ini lagi."
Seijuurou berpikir sejenak. Kencan satu kali untuk membalas semua jasa Momoi tentu saja tidak cukup. Kencan satu kali juga terlalu singkat untuk bisa membuat Momoi merasakan bagaimana rasanya jadi pacar seorang Akashi Seijuurou. Oleh karena itu, Seijuurou ingin sekali menolak.
Tapi melihat ekspresi Momoi yang seakan mengatakan 'terima atau tinggalkan' membuat Seijuurou berpikir lagi.
Sepertinya ia tidak punya pilihan lain. Kalau begitu ia akan mengiyakan lantas mencari cara lain untuk membalas jasa Momoi. Toh, paling tidak ia sudah memberikan kesempatan pada Momoi untuk merasakan bagaimana kalau keinginannya jadi nyata.
"Baiklah."
Momoi tersenyum tapi sedetik kemudian ia mengusap pangkal hidungnya.
"Kau tahu, aku mulai menyesal menyatakan perasaanku padamu. Seandainya saja aku tidak mendapat dorongan sesaat itu waktu itu…"
Seijuurou tersenyum tipis, dalam diam meminta maaf. Sedikit tak enak hati tapi ia tak membatalkan kesepakatan mereka.
Tetsuya menatap layar ponselnya. Terdapat sebaris pesan di sana. Tepatnya, sebuah pesan berisi ajakan untuk makan malam bersama hari Sabtu nanti sekaligus mengobrol santai agar bisa mengenal Tetsuya lebih dekat.
Nama Sora tertulis sebagai pengirim pesan.
Tetsuya belum membalas pesan itu. Selain ia masih tak tahu jawaban apa yang ingin ia sampaikan, ia juga tak tahu bagaimana sebaiknya ia membalas pesan tersebut. Apa sebaiknya mengiyakan? Atau menolak? Balasannya apakah harus formal seperti ketika ia membalas pesan guru? Atau sebaiknya membalasnya seperti membalas pesan dari seorang teman?
Kalau Tetsuya menolak, alasan apa yang sebaiknya ia berikan untuk Sora? Kalau ia mengiyakan, alasan apa yang harus ia karang untuk kakak-kakaknya?
Keluarga Akashi mungkin tidak lagi sering menghabiskan waktu bersama. Makan malam bersama pun sudah jarang. Seijuurou masih berusaha meluangkan waktunya tiap malam untuk ikut, tapi ia tak selalu bisa melakukan itu. Shintarou hanya bisa melakukan itu beberapa hari dalam seminggu, itu pun kalau ia tak janji makan malam di luar dengan teman atau pacarnya. Sesekali Ryouta pergi makan dengan teman dan pacarnya kalau ia sedang punya pacar. Daiki kadang tidak ikut makan karena ada latihan ekstra.
Yang masih rajin makan bersama tiap malam tanpa absen hanya Atsushi dan Tetsuya saja. Itu pun Atsushi lakukan karena ialah yang memasakkan makan malam.
Tapi bukankah akan aneh seandainya Tetsuya bilang pada Atsushi kalau ia tidak makan malam di rumah setelah sebelumnya tak pernah absen?
Kalau ia izin makan di luar, bukankah kakak-kakaknya yang lain akan bertanya ada apa? Atsushi, Shintarou, dan Daiki mungkin akan menerima saja tanpa banyak tanya tapi Seijuurou dan Ryouta mustahil dibohongi. Mereka berdua adalah detektor kebohongan berjalan keluarga mereka.
Tetsuya menghela napas. Bagaimana ini?
Ia ingin mengiyakan, ia ingin mengenal ibunya. Ia ingin melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana ibunya dan apakah ibunya benar-benar sudah berubah seperti yang wanita itu katakan tapi ia tak ingin ada seorang pun yang tahu.
Tetsuya takut akan dihentikan seandainya ada yang tahu ia mulai menemui ibu kandungnya sesekali.
"Wah, ajakan dari pacar, Tetsuyacchi?"
Pertanyaan dari balik bahunya itu membuat Tetsuya terkesiap. Refleks, ia mendekapkan ponselnya ke dada. Melihat reaksinya, Ryouta di belakangnya tertawa.
Seijuurou, yang duduk di sofa di sisi lain ruangan sembari membaca buku, menegur Ryouta karena sudah mengagetkan Tetsuya.
"Bukan, bukan dari pacar," jawab Tetsuya setelah sukses menormalkan kembali debaran jantungnya.
"Sungguh-ssu?" tanya Ryouta, nadanya menggoda. Mata cokelat keemasan pria itu disipitkan, berpura-pura kalau ia curiga. "Tidak apa, kok, kalau Tetsuyacchi punya pacar-ssu. Aku sudah pacaran waktu seusiamu-ssu."
Percakapan dua orang itu ternyata berhasil menarik perhatian yang lain yang ada di ruang keluarga.
"Apa? Tetsuya punya pacar?" tanya Seijuurou. Alis pria itu terangkat, terlihat sekali kalau ia terkejut. Reaksinya sama dengan Daiki.
Atsushi yang tidur-tiduran di sofa tiga orang sembari mengunyah keripik kentang hanya melirik Tetsuya sekali lalu kembali memfokuskan perhatiannya pada televisi. Yah, pada dasarnya pria berambut ungu itu memang cuek.
"Sepertinya begitu-ssu," mata Ryouta berbinar jahil. Sebelah tangan pria itu terangkat menutup mulut yang terkekeh meledek. "Cepatlah cari pacar, Kak Seijuuroucchi. Lihat, Kakak sudah dikalahkan Tetsuyacchi-ssu."
Seijuurou tersenyum lantas mendengus. Ia memilih untuk tidak membalas.
Daiki, di sisi lain ruangan, justru membela Seijuurou dengan mata memicing mencemooh Ryouta karena sudah berani mengangkat topik sensitif itu. Tapi tak lama, pria berkulit gelap itu mendesis lalu memalingkan wajah ke arah televisi.
"Bukan, aku tidak punya pacar," tampik Tetsuya. Ia diam sejenak, memformulasi sebuah kebohongan dalam benak, "ini dari temanku."
"Tapi perempuan, kan-ssu?" goda Ryouta lagi. Binar jenaka belum menghilang dari matanya.
Tetsuya menyerah. Kalau Ryouta sedang dalam mood untuk menggoda orang, ia tidak akan berhenti sampai ia puas. Tak peduli sekuat apa pun sanggahan yang dilontarkan si korban ejekan.
Tunggu, mungkin malah akan lebih mudah untuk menyelinap keluar rumah sesekali kalau ia berkata ia punya pacar –atau setidaknya jika ia berkata sedang mendekati seorang gadis. Kakak-kakaknya akan merasa wajar karena memang Tetsuya sudah memasuki usia itu.
Ejekan Ryouta terus berlanjut, tapi tidak seperti sebelumnya, Tetsuya justru kali ini menyetujui secara halus implikasi yang terdapat dalam ejekan Ryouta. Ia membalas positif pesan dari Sora lantas meminta izin pada kakak-kakaknya untuk tidak ikut makan malam Sabtu ini.
Agar tidak ditanyai macam-macam, Tetsuya berkata ia akan makan malam dengan seorang gadis.
Tepat seperti dugaannya, kakak-kakaknya hanya mengiyakan. Oke, mungkin Seijuurou sempat memandanginya dengan tatapan skeptis, seakan ia tidak percaya kalau adiknya tengah mendekati seorang gadis –atau mungkin ia malah tidak percaya adiknya sudah mulai tertarik pada hal-hal seperti itu—tapi pada akhirnya ia mengiyakan juga.
Tetsuya diam-diam menghela napas lega.
Maaf, Romance memang bukan keahlianku tapi aku pengen ceritanya begitu jadi ya apa boleh buat hehe.
Btw, gak terasa udah sebulan, karena kuliahku mulai sebentar lagi, jadilah aku apdet sebentar lagi dan kalo lancar, mulai dari sekarang, apdet bakal lebih teratur, soalnya aku udah nabung chap! Tinggal chap terakhir aja yang belom kutulis hehe. Semoga aku bisa cepet apdet ya.
Special thanks to: Natalie Howard, Len Crimson, Erucchin, Ai and August 19, Iftiyan Herliani253, Jooxxy, VT Lian, Aizawa Ren, ainkyu, VolumeKubus13, UchiHarunoKid, Seraphina Vedis, Kirigaya Shiina, Dewi729, Wako d'author, Yuu Yukimura, Kavyana, EmperorVer, Ayuni Yuukinojo, 27aquarrow72, sinaoisora, Lusy Jaeger Ackerman, murochan, WhiteIceCream, Sayounara Watashi, Lisette Lykouleon, Kaito Akahime, dan ShirShira.
Seperti biasa, makasih banget ya buat yang udah read, review, fav, dan alert fic ini! Segala bentuk support dari kalian sekaan jadi pengingat buatku wkwkwk.
Akhir kata, review please?
