Kuroko no Basuke hanya milik Fujimaki Tadatoshi seorang.

Cerita ini hanya milik saya seorang.

Warning: AU, Nice not-so-perfect! Akashi, brotherly love! a lot of it I think, cuteness ahead(?), alur kecepetan, half-assed chapter, OOC, typo, DLDR! ROMANCE AHEAD!

pengingat mulai chapter ini:

Seijuurou = 28 tahun

Shintarou = 25 tahun

Atsushi = 24 tahun

Ryouta = 22 tahun

Daiki = 21 tahun

Tetsuya= 17 tahun

Enjoy!


Chapter 26: The Date


Seijuurou melilitkan syal hitam di lehernya lantas kembali mematut diri di depan cermin. Pria itu langsung merasa beberapa tahun lebih muda, seperti kembali ke masa-masa ia kuliah dulu.

Melihat dirinya sendiri berpakaian kasual seperti ini sedikit terasa aneh baginya karena hampir setiap kali ia melihat cermin, ia akan melihat bayangannya memakai kemeja kerja atau pakaian formal lainnya. Tapi tidak mungkin juga ia memakai pakaian formal untuk pergi kencan, kan?

Momoi juga sudah berpesan padanya untuk memakai pakaian santai yang hangat. Wanita itu bahkan dengan sengaja mengingatkan Seijuurou soal itu berkali-kali. Ini awal Januari, kau akan sakit kalau tidak memakai pakaian hangat di luar rumah, begitu katanya kemarin.

Oleh karena itu, untuk kencan pertamanya, Seijuurou memakai kemeja, sweater v-neck hitam tanpa lengan dibalut mantel serta celana jeans panjang. Momoi sama sekali tidak memberitahunya ke mana mereka akan pergi atau kencan ini akan berjalan berapa lama jadi Seijuurou sendiri bingung sebaiknya berpakaian seperti apa.

Meski masih merasa aneh karena hanya membawa diri untuk kencan pertamanya, Seijuurou akhirnya menyerah dan menuju pintu depan.

"Tumben berpakaian seperti itu."

Seijuurou berjengit terkejut tapi tidak menghentikan kegiatannya mengikat tali sepatu. Ia langsung tahu kalau yang tengah berdiri di belakangnya adalah Shintarou.

"Mau ke mana?" tanya Shintarou ketika Seijuurou tidak merespon.

Setelah memastikan tali sepatunya terikat kuat, pria itu berdiri dan mengetukkan ujung sepatunya pada tanah beberapa kali. Ia berbalik, menatap mata Shintarou lurus-lurus dengan binar menggoda. "Pergi kencan."

Shintarou yang jelas terkejut membuat Seijuurou ingin tertawa. Sebelum adiknya bisa menanyainya macam-macam -ia tidak ingin adiknya benar-benar berharap dulu saat ini—pria itu menggumamkan "aku pergi dulu" lantas keluar rumah.

Momoi benar, udara memang dingin. Bahkan meski ini sudah siang dan ia sudah membalut diri dengan mantel, hari itu masih terasa dingin. Seijuurou mengeratkan lilitan syalnya dan terus berjalan melewati kompleks perumahan.

Seijuurou menimbang-nimbang dalam benak, apakah sebaiknya ia membelikan Momoi bunga atau semacamnya sebelum pergi ke tempat pertemuan mereka. Ia sungguh ingin membawakan wanita itu sesuatu tapi wanita itu keras sekali melarangnya kemarin.

Seijuurou bahkan tidak diperbolehkan membawa mobil dan menjemputnya khusus untuk hari ini. Oleh karena itu, kini Seijuurou berjalan santai menuju stasiun.

Pada akhirnya, Seijuurou memutuskan untuk tidak membelikan wanita itu apa-apa karena tak ingin wanita itu marah dan berubah pikiran mengenai rencana mereka hari ini.

Dalam hati mengutuk kecerobohannya karena lupa memakai sarung tangan, Seijuurou memasukkan tangannya ke dalam saku mantel. Percaya atau tidak, untuk pertama kalinya dalam hidup, Seijuurou merasa sangat gugup. Tak pernah sebelumnya Seijuurou merasa segugup ini ketika akan berhadapan dengan lawan jenis.

Padahal ia bahkan tidak pergi kencan betulan dengan pacar. Padahal ia hanya akan pergi dengan Momoi Satsuki, teman dekatnya selama enam belas tahun terakhir. Padahal rencana hari ini tak ubahnya pergi jalan-jalan biasa.

Kenapa ia merasa begitu gugup, ia sendiri pun tidak mengerti.

Mungkin karena ini kencannya yang pertama yang ia rencanakan sendiri dan bukan jebakan temannya. Ia hanya takut mengacaukan kencan ini karena ini pengalamannya yang pertama. Ya, pasti begitu.

Begitu tiba di pintu masuk stasiun, Seijuurou berdiri, menunggu. Masih ada sepuluh menit sampai waktu janjian mereka.

Masih ada sepuluh menit untuk menenangkan hati.


Shintarou masih tidak bisa memercayai pendengarannya. Padahal Shintarou yakin telinganya baik-baik saja dan tidak sedang dalam keadaan tersumbat.

Seijuurou akan pergi kencan? Seijuurou yang itu?

Masih tidak bisa pulih dari keterkejutannya, Shintarou berjalan ke arah ruang keluarga dengan segelas kopi di tangan. Di sana ternyata sudah ada Ryouta yang tengah menonton acara jalan-jalan khas akhir pekan sambil menyemil biskuit.

Pikiran Shintarou masih begitu terpaku pada kata-kata Seijuurou tadi hingga ia tak begitu memerhatikan jalan dan tak sengaja menyenggol ujung meja kopi. Gelas di tangannya bergoyang, nyaris menumpahkan isinya. Untung saja refleksnya terlatih berkat latihan basket bertahun-tahun sehingga ia tak mempermalukan diri sendiri dengan jatuh di hadapan Ryouta.

"Whoa, santai, Kak Shintaroucchi," kata Ryouta. Tubuh adiknya itu sudah bergerak, siap menadahi tubuh Shintarou seandainya saja ia benar-benar jatuh. "Kak Shintaroucchi baik-baik saja-ssu?"

Shintarou menaikkan gagang kacamatanya yang sempat merosot. Pria itu buru-buru mengambil duduk di sofa di sebelah sofa yang diduduki Ryouta. "Ah, ya. Hanya sedikit terguncang."

Alis Ryouta naik satu. "Terguncang-ssu? Terguncang kenapa-ssu?"

"Kak Seijuurou pergi kencan," jawab Shintarou singkat. Baru menyadari maksud dari kata-katanya setelah beberapa saat, senyum tipis mulai mengembang di bibirnya.

Seijuurou pergi kencan? Bukankah itu berarti kakaknya mulai serius mencari pasangan? Bukankah ini berarti kemajuan? Apa Shintarou boleh berharap kalau ia tak perlu menunda pernikahannya terlalu lama?

Ryouta mendengus, membuyarkan lamunan Shintarou yang mulai menjalar ke mana-mana.

"Kak Seijuuroucchi pergi kencan-ssu? Yang benar saja…" kata Ryouta setengah meledek. "Bercandamu tidak lucu, Kak Shintaroucchi."

Shintarou cemberut. Ia tidak sedang bercanda…

"Aku melihatnya keluar rumah tadi. Ia juga bilang sendiri."

Ryouta meletakkan kaleng biskuit yang tadinya ia peluk di atas meja kopi. Sebelah tangannya yang baru saja mengambil satu biskuit baru dari dalam kaleng ia acungkan ke Shintarou, "paling-paling Kak Seijuuroucchi pergi berdua dengan teman lalu ia jadikan itu bahan candaan-ssu. Sebelum ini juga ia pernah bilang ia akan pergi kencan tapi ternyata ia justru pergi bertemu mitra kerja-ssu."

Shintarou berpikir kata-kata Ryouta ada benarnya juga. Dan lagi, memang benar ada saat di mana Seijuurou bilang akan pergi kencan -ia juga mengatakannya dengan binar menggoda di mata, sama seperti tadi—tapi ternyata ia hanya pergi bertemu mitra kerja atau temannya.

Karena ia tadi memakai pakaian kasual, jadi mungkin ia hanya akan pergi menemui temannya.

Harapan Shintarou mengempis.

Benar, paling-paling Seijuurou hanya pergi main dengan teman. Tidak lebih.

"Jangan terlalu berharap Kak Seijuuroucchi akan segera menikah, Kak Shintaroucchi," kata Ryouta. "ia terlalu sibuk mengurus kita dan bekerja-ssu. Sekarang ini aku bahkan tidak akan kaget kalau ia bilang ia aseksual-ssu."

Benar, semua yang Ryouta katakan benar. Shintarou jadi merasa bodoh sendiri karena sudah berharap besar.


"Menunggu lama, Akashi-kun?"

Seijuurou menoleh ke asal suara dan dua kali dalam rentang waktu kurang dari dua minggu Seijuurou dibuat terkagum-kagum oleh penampilan Momoi. Wanita itu berdiri kira-kira dua meter darinya, mereka hampir bisa dibilang seragam karena Momoi juga memakai kemeja, sweater, dan mantel. Hanya saja , Momoi memakai sweater berkerah renda warna abu-abu di atas kemejanya, rok pendek warna peach lembut, dan mantel biru tua. Agar kaki jenjangnya tidak digigit hawa dingin, ia memakai legging hitam dan sepatu bot. Wajahnya dipulas make up natural.

Seijuurou tak pernah melihat Momoi berpakaian seperti ini. Kalau dipikir-pikir lagi, sepertinya Seijuurou hanya pernah melihat wanita itu memakai seragam sekolah, pakaian olahraga -yang biasanya terdiri dari jaket dan legging hitam tiga per empat—ketika mereka pergi latihan basket di luar sekolah, dan pakaian kerja. Selain itu, sepanjang Seijuurou mengenalnya, ia baru dua kali melihat wanita itu memakai make up dan menata rambutnya, yaitu ketika pernikahan Mayuzumi dan Mibuchi.

Singkat kata, ia terlihat berbeda dari biasanya dan bukan dalam artian yang buruk.

Sejujurnya, wanita itu terlihat lebih cantik dalam pakaian kasual. Dan harus Seijuurou katakan kalau ia suka melihatnya. Ada perasaan aneh, perasaan geli menyenangkan, yang menggelitik perutnya ketika ia berpikir Momoi berdandan begitu cantik hari ini karena akan pergi kencan dengannya, dengan kata lain berdandan untuknya.

Seketika Seijuurou merasa… istimewa.

Dan entah bagaimana, begitu melihat sosok Momoi yang familiar, rasa gugup dalam hatinya menguap begitu saja.

Seijuurou menggeleng. Memenuhi tata krama sekaligus mengutarakan secara jujur tentang pemikirannya, Seijuurou berkata, "kau terlihat cantik, Momoi."

Wajah Momoi yang semula memang sudah memerah karena hawa dingin, kini semakin merah. Wanita itu menggumamkan terima kasih dengan malu-malu.

"Baiklah, kalau begitu ayo kita pergi," kata Momoi. Wanita itu lantas berjalan begitu saja melewati Seijuurou memasuki stasiun.

Seijuurou tersenyum geli. Padahal wanita itu sendiri yang menyarankan mereka kencan satu kali, tapi ia justru bersikap seakan mereka sedang pergi main biasa, bukan seperti sedang kencan. Maka dari itu, Seijuurou mengambil inisiatif, pria itu menyusul Momoi lantas menggenggam tangannya. Hanya sebuah pegangan tangan biasa, tidak sampai menautkan jemari karena Seijuurou khawatir itu akan terkesan terlalu intim dan akan membuat Momoi risih.

Tindakan Seijuurou sukses memperlambat laju langkah Momoi.

"Katanya kita akan pergi kencan? Kalau begitu kita lakukan apa yang orang-orang lakukan saat kencan," bisik Seijuurou di telinga wanita itu. Wanita itu kontan terdiam dan menunduk.

Dari sudut penglihatannya, ia bisa melihat wajah Momoi memerah hingga ke ujung telinga.

Manis sekali.

Seijuurou tak bisa menahan diri untuk tidak terkekeh melihatnya. Sekali lagi, dalam rentang waktu kurang dari lima menit, sensasi geli yang menyenangkan menggelitik perutnya lagi.

"Baiklah, kita akan ke mana?"


Daiki mengerutkan alis dalam-dalam ketika melihat puncak kepala berambut merah dan merah jambu di sisi lain lapangan yang digunakan untuk pertandingan final turnamen basket jalanan. Ia semakin terheran-heran -dan sedikit kesal juga—ketika melihat kedua orang di sisi lain lapangan itu bercengkerama akrab. Keduanya melempar pandang menantang dan tertawa sesekali.

Tidak bisa menahan rasa ingin tahunya sekaligus kekesalannya, Daiki berusaha berjalan memutari lapangan, ke tempat dua orang itu berada. Ia sama sekali tak memedulikan teman-teman SMA-nya yang berteriak bertanya ia mau ke mana. Daiki tidak menjawab, dan setelah mengerang protes pada Daiki, teman-temannya mengikutinya.

Dengan susah payah, akhirnya ia berhasil menyibak kerumunan. Tapi pria berkulit gelap itu hanya berdiri di belakang sosok berambut merah dan merah jambu tadi, menonton mereka.

"Kemampuan analisismu sepertinya berkarat, Nona Manajer," kata sosok pria berambut merah. Nadanya sedikit mengejek, rasanya agak aneh di telinga Daiki karena sepengetahuannya, kenalannya tak pernah mengeluarkan nada itu pada orang lain selain keluarga. "Tim yang kau yakin akan menang itu baru kecurian poin lagi."

Si wanita berambut merah jambu tertawa. "Kau lihat saja nanti. Mereka pasti akan membalas. Jangan remehkan kemampuanku, Kapten. Asal tahu saja, aku masih setajam dulu."

Alis Daiki terangkat satu. Sejak kapan wanita itu bicara dengan nada semanis itu? Ia selalu galak pada Daiki. Dengan Ryouta yang ia kenal lebih lama pun ia tidak bicara semanis itu.

Dua sosok di hadapan Daiki terus bicara, menantang satu sama lain, berdebat mengenai tim mana yang akan menang, pemain mana yang berhak mendapat gelar pemain terbaik, dan sesekali meledek satu sama lain ketika analisis mereka terbukti salah. Bahkan boleh dikatakan, nada bicara mereka mendekati seduktif.

Apa mereka tengah menggoda satu sama lain?

Ew, Daiki nyaris merinding.

Tidak mungkin. Tidak mungkin begitu. Kalau mereka memang menggoda satu sama lain, maka ia pasti salah orang. Orang yang Daiki kenal memang dekat, tapi tidak mungkin saling menggoda seperti ini.

Tapi suara mereka persis kenalan Daiki.

"Maaf, tapi bukankah itu Momoi-san?" tanya Sakurai, berbisik di telinga Daiki. Ia kelihatannya sama herannya dengan Wakamatsu dan yang lainnya yang berdiri sedikit di belakang.

Daiki hanya mengangkat bahu. Ia yakin itu Momoi dan Seijuurou, tapi ia tidak bisa mengatakan secara pasti karena belum melihat wajah mereka dengan jelas dari dekat. Selain itu, ia tidak yakin dua orang itu benar-benar Momoi dan Seijuurou karena mereka memang dekat tapi setahu Daiki, hubungan mereka tidak seintim itu.

Tepat saat itu, peluit tanda pertandingan berakhir berbunyi. Analisis si wanita terbukti benar karena tim yang dijagokan olehnya menang. Wanita itu menyilangkan tangan di depan dada, memutar tubuhnya hingga ia menghadap si pria. "Lihat? Sudah kubilang kemampuan analisisku masih setajam dulu."

Pria di sampingnya terkekeh. "Baiklah, maafkan aku karena sudah meremehkanmu, Nona Manajer. Tidak salah aku memilihmu jadi manajer dulu."

Sebelah tangan pria berambut merah itu terangkat, mengusap puncak kepala si wanita dengan lembut. Kelembutan yang rasanya familiar bagi Daiki.

Si wanita mengerang, berusaha menjauhkan tangan si pria dari puncak kepalanya. "Akashi-kun, kau merusak rambutku!"

Si pria menjauhkan tangannya dan keduanya tertawa.

Akashi-kun?

Dahi Daiki mengernyit makin dalam. Ternyata ia tidak salah orang.

Dua sosok di hadapannya berbalik, sepertinya hendak meninggalkan lapangan tersebut. Begitu melihat Daiki berdiri di belakang mereka dengan tangan terbenam dalam saku mantel dan pandangan datar menuntut penjelasan, mereka berdua terdiam.

"Aku sama sekali tidak menyangka akan bertemu dengan Daiki di sini," Seijuurou berkata dengan sangat, sangat santai setelah mengatakan 'halo'. Ia bersikap seakan apa yang baru saja ia lakukan dengan Momoi adalah hal paling lumrah sedunia. Daiki jadi semakin heran.

Seijuurou tidak merasa perlu menjelaskan apa pun?

Momoi di sebelah Seijuurou yang justru salah tingkah. Yah, memang seharusnya ia begitu karena ia masih punya utang penjelasan dengan Daiki.

Satu per satu teman-teman SMA Daiki menyapa Momoi, yang mana hanya dijawab sekenanya oleh Momoi disertai sebuah senyum malu. Jujur saja, wanita itu seperti anak yang ketahuan mencuri kue tepat sebelum jam makan siang.

"Ini teman-teman Daiki?" tanya Seijuurou ramah. Teman-teman Daiki mengangguk. Dalam waktu singkat, Seijuurou sudah mengobrol dengan teman-teman Daiki mengenai jalannya pertandingan barusan.

Menggunakan kesempatan itu, Daiki menarik siku Momoi, menjauh sedikit dari kerumunan.

"Jadi kau membatalkan janji denganku dan Ryouta menonton final ini untuk kencan dengan kakakku?" tanya Daiki. Jelas sekali kalau pria berkulit gelap itu kesal.

Daiki bukannya tidak suka Momoi pergi kencan dengan kakaknya, ia hanya tidak suka Momoi membatalkan rencana mereka untuk nonton final turnamen basket jalanan dengan mendadak dan tidak menjelaskan karena apa. Ryouta yang mendengar Momoi membatalkan janjinya lantas membatalkan janjinya juga dengan alasan ingin pergi kencan dengan pacarnya. Akhirnya Daiki pergi menonton final turnamen basket jalanan ini dengan teman-teman SMA-nya.

Dulu Daiki pernah bertanya-tanya sendiri seberapa dalam hubungan pertemanan keluarganya dan Momoi sebenarnya dan bagaimana keluarganya bisa mengenal Momoi, dulu Daiki selalu merasa Momoi adalah wanita menyebalkan yang senang ikut campur urusan orang, tapi setelah Momoi secara tak langsung membantunya memperbaiki hubungan dengan Seijuurou lima tahun lalu, ia mulai menghormati Momoi.

Dan sekarang ia bisa lihat kenapa Ryouta begitu dekat dengan wanita itu, bahkan sudah menganggap Momoi seperti kakak satu koma lima mereka.

Kenapa satu koma lima? Karena menurut Ryouta, Momoi itu seperti kakak yang lebih muda dari Seijuurou tapi lebih tua dari Shintarou.

Daiki tidak benar-benar ingin mengakui, tapi sekali ini ia setuju dengan kakaknya satu itu.

Dan harus Daiki akui, wanita itu teman bicara -dan berdebat—yang menyenangkan. Tidak seperti perempuan kebanyakan yang hanya tertarik pada baju dan riasan wajah, Momoi menyukai dan mengerti banyak hal. Momoi juga mengerti Daiki tanpa Daiki perlu menjelaskan banyak hal dan yang terpenting, ia bisa bertanya pada wanita itu mengenai sikap wanita yang tidak bisa ia tanyakan pada Masako. Masako terlalu menyeramkan, ia pasti akan marah-marah duluan sebelum Daiki benar-benar bertanya.

Awalnya mereka hanya bertemu sesekali ketika Ryouta mengajak mereka pergi bersama, entah untuk sekadar jalan-jalan atau untuk menemaninya pergi membeli sesuatu. Tapi lama-lama ia merasa cukup nyaman bersama wanita itu hingga tak masalah sekali pun mereka pergi berdua tanpa Ryouta.

"Bukan begitu. Sejujurnya aku juga ingin nonton dengan kalian tapi Akashi-kun—"

"Aku baru tahu kau punya hubungan seperti itu dengan kakakku," potong Daiki. Ia seakan tidak mendengar apa yang dikatakan Momoi sama sekali.

Momoi mengerang, kelihatannya wanita itu frustrasi. "Itu karena aku memang tidak punya hubungan seperti itu dengan kakakmu!"

Daiki makin tidak mengerti.

Kalau memang hubungan mereka tidak seperti itu, lantas yang Daiki lihat tadi itu apa? Lagi pula apa yang mereka lakukan di sini? Daiki tidak pernah lihat Momoi pergi berdua saja dengan Seijuurou sebelumnya, paling tidak, tidak untuk pergi main-main belaka.

Sekalinya mereka pergi berdua, mereka pasti memakai pakaian kerja dan pergi ke pertemuan penting.

"Oke, aku sebenarnya tidak begitu peduli kalau kau punya hubungan dengan kakakku tapi sebaiknya lain kali kau membatalkan janji, kau memberitahu kami sejak lama—"

Alis wanita itu mengerut tajam. Kedua tangannya tersilang di depan dada. Oh, tidak, pertanda buruk.

"Kau seharusnya berkaca, Dai-chan. Baru dua minggu lalu kau membatalkan janji untuk nonton babak penyisihan denganku lima belas menit sebelum pertandingannya dimulai karena kena tusuk perampok—"

"Kena gores. Tusuk dan gores itu berbeda—"

"Terserah. Tapi intinya, kau membatalkan rencana kita lebih mendadak dariku. Lagi pula, orang bodoh mana yang menghentikan perampok yang mungkin bersenjata dengan tangan kosong? Kau tahu, kau membuatku kesal dan takut saat itu—"

Daiki mengerang. Ia mulai lagi. Kalau wanita ini sudah mengomel seperti ini, rasanya Daiki ingin mengubur diri saja. Ia tidak tahan dengan ocehan panjang menceramahi. Apa lagi dari wanita.

Lagi pula, tanpa perlu diingatkan pun, ia ingat kalau ia sudah benar-benar menakuti Momoi waktu itu dan Momoi juga sudah memerlihatkan rasa takutnya dengan sangat jelas karena dalam kurun waktu satu jam saat Tetsuya pergi makan di kantin rumah sakit, Momoi menghambur masuk ke ruangannya dan mengomel panjang lebar dengan mata berair menahan tangis.

Daiki tidak bisa lupa wajah Seijuurou yang tersenyum dan Ryouta yang jelas-jelas menahan tawa melihatnya tak berkutik diomeli Momoi.

Terkutuklah Seijuurou karena mengajarinya untuk tidak kasar pada wanita. Tidak kasar dari segi fisik mau pun verbal.

Dan terkutuklah Momoi karena membuatnya tak tega menyakitinya bahkan secara verbal.

"Baiklah, pokoknya aku minta maaf karena sudah membatalkan janji mendadak. Aku janji akan mentraktirmu burger minggu depan," kata Momoi. Wanita itu melirik Seijuurou yang sepertinya sudah selesai berbincang dengan teman-teman Daiki dan tengah dengan sabar menunggunya.

Daiki membuka mulut, hendak berkata ia akan memaafkan Momoi jika wanita itu mentraktirnya burger sepuasnya dan membelikannya majalah model favoritnya bulan ini tapi ia tak sempat mengatakan apa pun karena Momoi mengalahkannya.

"Ya, kau boleh makan burger sepuasmu dan aku akan membelikan majalah itu. Sepakat?" kata Momoi, membaca pikirannya.

Daiki mengangkat bahu.

"Dan jangan katakan apa pun pada Ryou-chan!" seru Momoi sembari menunjuk wajah Daiki, berusaha menegaskan kalau ia tidak sedang main-main.

Daiki tidak benar-benar mengerti kenapa Momoi berpikir ia akan memberitahu Ryouta. Ia juga tidak benar-benar mengerti kenapa Momoi tidak ingin Ryouta tahu kalau ia pergi berdua dengan kakak sulung mereka.

Tapi Daiki memutuskan untuk mengangguk agar semuanya cepat selesai. "Baiklah, terserah."

Momoi tersenyum, dalam diam berterimakasih. Wanita itu lalu berbalik, berjalan menghampiri Seijuurou yang menyambutnya dengan senyum lembut. Daiki masih diam di tempatnya, memerhatikan interaksi mereka berdua. Seijuurou mengatakan sesuatu -atau mungkin menanyakan sesuatu—pada Momoi yang mana dijawab oleh Momoi dengan senyuman. Mereka berdua pamit pada Daiki dan yang lainnya sebelum pergi.

Daiki mengerti maksud kata-kata Momoi kalau mereka tidak berkencan ketika ia melihat Momoi berbalik lantas berjalan cepat melewati Seijuurou.

Tapi Daiki kembali mengerutkan alis ketika ia melihat Seijuurou mendengus lantas menyusul Momoi dan menggenggam tangannya.

Sebenarnya apa yang mereka berdua lakukan?

Daiki benar-benar tidak mengerti.


"Baiklah, sekarang kita ke mana?" tanya Seijuurou sebelum meniup-niup takoyaki-nya. Jajanan itu masih begitu panas hingga terlihat uap mengepul dari atasnya. Setelah dirasanya cukup dingin, Seijuurou memasukkan satu ke dalam mulut.

Hm, rasanya tidak buruk.

Momoi menelan takoyaki-nya sebelum menjawab. "ada tempat yang ingin Akashi-kun kunjungi?"

Seijuurou berpikir sejenak sembari mengunyah. Apa ada tempat yang ingin ia kunjungi? Selama ini tempat seperti apa yang biasanya ia kunjungi?

Seijuurou terkejut sendiri ketika menyadari kalau tak ada satu pun tempat yang terlintas di pikirannya. Kalau dipikir-pikir, selama ini tempat yang ia kunjungi tiap kali ia pergi jalan-jalan adalah tempat-tempat yang ingin dikunjungi adik-adiknya atau teman-temannya, bukan tempat yang ingin ia kunjungi.

Tunggu, apa ia bahkan pernah ingin pergi ke suatu tempat? Sepertinya tidak.

Aneh. Setelah dipikir lagi, Seijuurou tidak ingat kapan terakhir kali ia menginginkan sesuatu untuk dirinya sendiri.

Ah, tapi pada dasarnya Seijuurou memang bukan orang dengan banyak keinginan, jadi ia memutuskan untuk tidak terlalu ambil pusing.

Pria itu menggeleng dan menjawab sebelum memasukkan satu lagi takoyaki dalam mulutnya. "Tidak ada tempat yang ingin aku kunjungi."

Momoi mengerutkan alis. Tangannya, yang sudah siap memasukkan satu bola takoyaki ke dalam mulut, berhenti. "Sungguh? Tidak ada satu pun tempat yang ingin kau kunjungi?"

Seijuurou mengangguk.

Lagi pula, hari ini harusnya tentang Momoi jadi biarkan wanita itu yang mengatur semuanya.

Seijuurou menelan takoyaki dalam mulutnya. "Momoi, hari ini harusnya jadi harimu jadi kita lakukan semua yang kau mau."

Momoi meletakkan kotak berisi takoyaki-nya di pangkuan. "Aku tidak ingin kencan yang seperti itu, Akashi-kun. Aku juga ingin memenuhi keinginanmu—"

Seijuurou mengambil satu tangan Momoi dan meremasnya lembut, meyakinkannya. "Tapi sungguh tidak ada tempat yang ingin kukunjungi."

Meski kelihatannya Momoi masih ingin membantah, wanita itu akhirnya mengangguk dan menggumamkan 'baiklah' dengan lemah.

"Jadi, kau akan membawaku ke mana?" tanya Seijuurou lagi setelah mereka diam beberapa saat, menghabiskan takoyaki masing-masing. Pria itu menutup kotak takoyaki-nya dan memasukkannya ke dalam tong sampah di samping bangku taman yang mereka duduki.

Momoi menggumam, pipinya menggembung karena takoyaki yang ia kunyah. Matanya berkeliaran, menatap langit sore yang mulai berubah keunguan. Dalam beberapa puluh menit, malam akan menyelimuti mereka.

"Ada satu tempat yang terlintas di kepalaku," jawab Momoi setelah menelan takoyaki dalam mulutnya.

Momoi menyelesaikan takoyaki miliknya dan membuang kotaknya. Ia menjilat sudut bibir, menggenggam tangan Seijuurou lantas berdiri. "Ayo!"

Seijuurou tertawa melihat tingkah kekanakannya -jarang-jarang Momoi seperti ini, kan?—tapi tidak menghentikan wanita itu menyeretnya pergi.

Mereka pergi ke stasiun dan membeli dua tiket. Momoi tidak memberitahunya sama sekali tujuan mereka hari itu. Wanita itu bahkan menyuruhnya menunggu selagi ia membeli tiket mereka agar Seijuurou tidak bisa melihat tempat tujuan mereka. Supaya jadi kejutan, katanya.

Seijuurou hanya bisa menggeleng dan tersenyum.

Kereta sore itu cukup penuh hingga hanya Momoi yang bisa duduk. Seijuurou berdiri di hadapannya. Sesekali pria itu mengajak Momoi mengobrol, mencoba untuk memancing wanita itu untuk membuat kesalahan dan mengatakan ke mana sebenarnya mereka akan pergi. Tapi wanita itu hanya tersenyum simpul dan menjawab sekenanya. Bahkan setelah beberapa kali, Momoi hanya tersenyum simpul.

Mereka berganti kereta dua kali sebelum turun di sebuah stasiun. Dari pemberitahuan yang bergema di gerbong sebelum mereka turun dan dari pemandangan yang terlihat di luar, Seijuurou tahu kalau mereka turun di stasiun Gotanda.

Seijuurou menggumam paham. Ia rasa ia mengerti tujuan mereka sekarang.

Pria berambut merah itu mengedarkan pandangannya pada langit yang sekarang sudah berubah gelap. Ya, ia rasa ia mengerti maksud Momoi membawanya ke sini.

Begitu mereka keluar dari stasiun, mereka langsung disambut oleh pemandangan pohon-pohon indah berselimut cahaya merah jambu di jalan di pinggiran sungai. Cahaya merah jambu yang terpancar dari lampu-lampu LED pada pohon memberikan kesan seakan pohon-pohon tersebut adalah pohon sakura yang bunganya tengah bermekaran.

Seijuurou tersenyum. Ia sudah pernah mendengar tentang ini. Megurogawa Minna no Illumination. Setiap pergantian tahun, pohon-pohon sepanjang jalan antara stasiun Gotanda dan Osaki akan dihias sedemikian rupa dengan lampu-lampu LED untuk memperindah pinggiran sungai sekaligus memberikan kesan romantis. Seijuurou tidak mengerti kenapa tapi dari sedemikian banyaknya pertunjukan cahaya di Tokyo, tempat inilah yang paling sedikit didatangi orang. Sekarang pun hanya ada beberapa muda-mudi yang lewat.

"Aku selalu ingin berjalan santai di antara pohon-pohon indah ini sambil mengobrol dengan pacarku suatu hari nanti," kata Momoi lirih di sampingnya.

Seijuurou tertawa dan membalas, "maksudmu denganku?"

"Tidak juga. Kan, tidak ada jaminan kau akan jadi pacarku," ledek Momoi. Sesaat kemudian wanita itu terkekeh, geli dengan balasannya sendiri yang terdengar tidak mau kalah dan kekanakan. "Tapi aku sangat ingin melihatnya hari ini, jadi meski kau bukan pacarku tidak apa."

Seperti yang selalu ia lakukan hari ini, Momoi berjalan melewati Seijuurou. Seijuurou menghela napas. Ia sama sekali tidak mengerti. Padahal mereka seharusnya pergi kencan hari ini tapi kenapa Momoi sepertinya bersikeras untuk membuat ini semua terkesan seperti jalan-jalan antar-teman biasa?

Seijuurou melangkah cepat. Pria itu menggunakan langkahnya yang lebih panjang dari Momoi untuk menyusul wanita tersebut. Begitu ia berhasil menyusul, ia mengangkat tangan Momoi dan melilitkannya di lengan kanannya.

Momoi tidak protes. Seijuurou lega.

Agar jalan-jalan mereka sepanjang bantaran sungai itu tak cepat berakhir, mereka berdua melangkah dengan lambat. Seijuurou berusaha berjalan lebih lambat lagi agar bisa menyamakan ritme langkahnya dengan Momoi yang lebih pendek.

"Hei, Momoi," panggil Seijuurou. Begitu Momoi menggumam tanda mendengarkan, ia menyambung, "apa kau berencana membawa kita makan di luar?"

Momoi mengetuk dagunya, "kalau Akashi-kun mau. Kalau tidak, kita bisa langsung pulang begitu sampai di stasiun Osaki."

Seijuurou menimbang-nimbang. Bukankah biasanya orang pergi makan malam saat kencan? Mungkin sebaiknya mereka pergi makan malam di luar.

Setelah membuat keputusan, Seijuurou meminta izin pada Momoi untuk menelepon. Momoi mengangguk dan Seijuurou mengeluarkan ponselnya. Ia menelepon Atsushi, memberitahu anak itu untuk tidak memasak terlalu banyak karena ia tidak makan di rumah malam ini. Begitu sambungan telepon terputus, Seijuurou kembali menyelipkan ponselnya ke dalam saku.

"Akashi-kun, kau benar-benar dekat dengan adik-adikmu, ya," celetuk Momoi.

Seijuurou mengangkat bahu. "Mereka –dan pamanku—adalah satu-satunya keluargaku. Aku tidak punya siapa-siapa lagi selain mereka."

Momoi menggumam paham. "Kau sebenarnya anak tunggal, kan? Bagaimana mereka bisa jadi adikmu?"

Merasa pertanyaannya berkesan terlalu menyinggung privasi, Momoi buru-buru menambahkan. "Kalau kau tidak keberatan bercerita, tentu saja."

Sembari tersenyum dan dengan nada penuh kelembutan, Seijuurou mulai bercerita, "Ayah adik-adikku adalah teman baik ayahku. Ayahku bilang mereka membuat janji untuk mengadopsi anak masing-masing jika sesuatu terjadi pada mereka karena ada salah seorang dari mereka yang ingin menikah tapi takut akan meninggalkan istri dan anaknya selamanya karena ia sakit parah. Ayahku dan teman-temannya membuat janji itu untuk menenangkan temannya yang sakit itu dengan mengatakan kalau mereka siap menampung anaknya. Lalu saat adik-adikku masih kecil, orangtua mereka meninggal dan mereka tidak punya kerabat. Orangtua mereka meninggal karena kecelakaan, bunuh diri, mau pun sakit. Setelah itu mereka diadopsi ayahku."

Momoi menggumam paham lagi. Seijuurou tidak menatap Momoi, ia terlalu sibuk mengagumi keindahan cahaya lampu yang dipantulkan air sungai, tapi ia bisa mendengar Momoi menggumamkan 'kasihan sekali' dengan sangat lirih.

"Adikmu yang tertua datang saat kau berusia berapa?"

Tanpa perlu jeda untuk mengingat-ingat, Seijuurou menjawab, "enam. Shintarou datang saat aku enam tahun. Waktu itu aku agak bingung, kenapa ayahku membawa pulang seorang anak laki-laki yang tiga tahun lebih muda dariku."

Rasanya seakan semua kejadian itu baru terjadi kemarin. Seijuurou terkekeh sendiri mengingat dirinya saat itu. Tapi ia juga ingat kalau ia merasakan dorongan melindungi yang kuat ketika ayahnya mengatakan padanya kalau mulai hari itu Shintarou akan jadi adiknya. Dorongan itu lebih kuat lagi menghantam Seijuurou ketika malamnya, ketika ia hanya berdua dengan sang ayah, ayahnya menjelaskan padanya apa yang sebenarnya terjadi pada Shintarou.

Sejak saat itu, dorongan untuk melindungi tersebut datang dan selalu jadi lebih kuat tiap kali ayahnya pulang membawa satu anggota baru dalam keluarga mereka.

"Tapi ayahku menjelaskan semuanya. Ayahku menjelaskan kisah mereka semua padaku dan aku… mungkin karena aku kesepian juga, aku langsung bisa menerima mereka," aku Seijuurou. "Aku malah bertekad akan melindungi mereka apa pun yang terjadi setelah mendengar apa yang sudah mereka lalui."

Seijuurou merasakan lilitan tangan Momoi di lengannya menguat sedikit, "kau berhasil membuktikan tekadmu."

Seijuurou mengangguk. Bohong seandainya ia bilang ia tak merasakan sedikit kebanggan pada dirinya sendiri karena berhasil membuktikan tekadnya dengan membesarkan adik-adiknya sendirian selama empat belas tahun belakangan.

"Bagaimana dengan Ryou-chan dan Dai-chan? Mereka datang saat umurmu berapa?"

"Dua belas," jawab Seijuurou. "Kurasa sebaiknya kau tahu. Orangtua Daiki meninggal karena perampok. Ibu Ryouta juga. Ryouta masuk rumah setelah perampok itu membunuh ibunya. Melihat ada orang lain masuk, perampok itu panik lalu berusaha kabur dengan melompat pagar ke rumah sebelah, rumah Daiki. Tapi di rumah sebelah juga ada orang. Mungkin karena merasa tidak ada jalan lain selain membunuh agar bisa kabur, perampok itu membunuh orangtua Daiki juga, Daiki selamat karena sempat disembunyikan ibunya. Perampok itu membunuh ibu Ryouta juga kemungkinan besar karena panik."

Momoi terkesiap, sebelah tangannya yang tidak melilit lengan Seijuurou ia gunakan untuk menutup mulut.

Kisah mereka menyedihkan, Seijuurou tahu. Sejujurnya, latar belakang adik-adik Seijuurou tidak ada yang menggembirakan. Tapi kalau latar belakang mereka tidak seperti itu, mungkin mereka tidak akan jadi keluarga sekarang.

"Sejak saat itu Daiki tidak bisa menahan diri tiap kali melihat perampok. Ia akan melakukan apa pun untuk menghentikan mereka. Tolong maklumi tindakan cerobohnya dua minggu lalu, ya, Momoi," pesan Seijuurou.

Momoi mengangguk pelan. "Maaf, aku tidak tahu. Aku seharusnya tidak mengomelinya begitu…"

Seijuurou mendengus dan tersenyum, "Tidak, anak itu memang pantas dimarahi. Ia memang tidak seharusnya bertindak seceroboh itu. Berkali-kali kami dibuat khawatir olehnya tapi biasanya ia lebih beruntung dari itu."

Mereka kembali berjalan dalam diam. Masing-masing mengagumi pemandangan yang tersuguh di hadapan mereka. Romantisme yang diciptakan keindahan pemandangan di sekeliling mereka anehnya tidak membuat mereka canggung, justru membuat mereka lebih rileks.

"Lalu bagaimana dengan ayah Ryou-chan?" tanya Momoi setelah beberapa saat.

"Ia meninggal karena kecelakaan. Pesawat yang ia kemudikan mengalami kesalahan teknis dan meledak di landasan pacu ketika hendak mendarat."

Momoi diam lagi. Seijuurou jadi merasa bersalah karena sudah membawa topik yang suram seperti ini di kencan sederhana mereka yang seharusnya menyenangkan.

"Maaf, mungkin seharusnya aku tidak mengiyakan saat kau memintaku bercerita tentang adik-adikku—"

"Tidak," potong Momoi, "aku justru senang, aku jadi lebih tahu mengenai adik-adikmu dan dengan begitu, keluargamu, Akashi-kun."

Seijuurou tersenyum. Satu hal yang ia sukai dari Momoi adalah perempuan ini pengertian, sangat pengertian. Ia tidak meminta macam-macam dan ia tidak masalah jika sesuatu tidak berjalan sesuai dengan yang seharusnya. Lihat saja, sejak tadi ia tidak menuntut macam-macam dari Seijuurou, ia tidak meminta Seijuurou membawanya ke tempat-tempat mahal seperti kebanyakan perempuan lain, ia melarang keras Seijuurou membelikannya sesuatu, dan ia sama sekali tak keberatan membicarakan hal suram seperti ini dalam kencan mereka. Malah ia senang karena bisa lebih dalam mengetahui latar belakang Seijuurou.

Kalau perempuan lain mungkin sudah meninggalkan Seijuurou sejak awal kencan.

Bagaimana Momoi bisa begitu tak mementingkan diri sendiri merupakan misteri bagi Seijuurou.

"Cukup tentangku. Sekarang giliranku bertanya padamu," kata Seijuurou.

"Silakan," sahut Momoi santai. Wanita itu sudah begitu rileks hingga tanpa sadar ia menyandarkan kepalanya pada bahu Seijuurou.

Seijuurou tersenyum lembut melihatnya. Ternyata memang pada dasarnya wanita itu ingin bermanja padanya tapi menahan diri.

"Bagaimana kau bisa suka padaku? Maaf, tapi aku penasaran."

Bahkan melalui tebalnya baju berlapis yang ia pakai, Seijuurou masih bisa merasakan hangat yang menguar dari wajah dan telinga Momoi yang disandarkan di bahunya ketika ia bertanya begitu.

"Seperti yang kubilang, kau tampan, mapan, pintar, dan baik. Siapa yang tidak akan menyukaimu?"

Bahkan tanpa harus berpikir pun Seijuurou tahu jawaban Momoi tidak serius.

"Momoi," panggil Seijuurou dengan nada memeringatkan. Nadanya persis seperti nada yang ia gunakan pada Atsushi jika sudah beberapa kali diberitahu tapi tetap tidak mau mendengar.

Wanita itu menghela napas dan Seijuurou tahu ia sudah berhasil membuat wanita itu menyerah.

"Mungkin kau tidak ingat, tapi saat kita SMP dulu, kau pernah meminjamkan jaket jerseymu padaku untuk menutupi noda darah di rokku," jawab Momoi, dari suaranya, Seijuurou tahu kalau ia tengah tersenyum geli.

Ah itu, Seijuurou ingat itu. Waktu itu, ketika mereka sedang latihan basket, tidak sengaja Seijuurou melihat noda merah gelap di belakang rok Momoi. Rok seragam SMP Teikou berwarna hitam, jadi noda itu tidak benar-benar kelihatan. Seijuurou, yang mengerti cara kerja tubuh perempuan, langsung mengerti itu noda apa.

Tanpa membuang waktu, Seijuurou langsung mengikatkan jaket jerseynya di sekeliling pinggang Momoi dan menyuruhnya pulang saat itu juga. Seijuurou menolak memberitahu Momoi karena tidak mau mempermalukannya di tempat umum. Momoi waktu itu sempat bingung, tapi menurut saja karena Seijuurou sangat gigih membujuknya pulang. Bahkan Seijuurou sampai berkata ia akan memintakan izin untuk Momoi pada pelatih agar perempuan itu bisa langsung pulang.

Momoi menyempatkan diri untuk bertanya ada apa sebenarnya tapi Seijuurou hanya berkata pada Momoi untuk melihat cermin saat sampai di rumah nanti. Betapa kaget dan malunya Momoi ketika ia sampai di rumah dan melihat apa yang sebenarnya berusaha ditutupi Seijuurou dengan jaket jerseynya.

Selama seminggu penuh setelahnya, Momoi tidak bisa melihat Seijuurou tepat di mata.

Tapi berkat kejadian itu, Momoi jadi melihat kalau kapten tim basket Teikou yang terkenal tiran itu sebenarnya sangat baik.

"Sejujurnya, itu pengalaman pertamaku. Waktu itu rasanya aku malu sekali karena dilihat Akashi-kun," kata Momoi, kemudian ia terkekeh menertawakan dirinya saat itu, "tapi berkat itu aku bisa melihat kalau kau sebenarnya sangat baik. Aku rasa sejak itu aku menyukaimu."

Mengikuti Momoi, Seijuurou juga terkekeh. Ia sendiri ingat betapa malunya ia melihat noda itu. Wajahnya waktu itu terasa panas sekali. Panasnya bahkan menjalar hingga ke ujung telinga. Ia pasti terlihat seperti orang demam tinggi saat itu.

Ternyata alasan Momoi menyukainya sesederhana itu.

"Lalu kenapa kau tidak pernah berusaha memerlihatkan rasa sukamu padaku?" tanya Seijuurou. Karena sejujurnya, ia tak bisa berhenti berhenti memikirkan berbagai kemungkinan. Kemungkinan kalau mungkin perasaannya sudah berubah sekarang kalau seandainya Momoi mengutarakan perasaannya sejak dulu. Kemungkinan kalau mungkin mereka akan berada di sini sebagai sepasang kekasih betulan seandainya Momoi mengutarakan perasaannya sejak dulu.

"Saat kita SMP, aku berusaha, tapi tak ingin terlihat terlalu jelas," ungkap Momoi.

"Lalu kenapa berhenti?"

"Saat kita kelas tiga SMP, tak lama setelah ayahmu meninggal, kau memintaku menolongmu mencarikan daycare untuk Tetsu-kun. Waktu itu aku melihat bagaimana sikapmu pada Tetsu-kun, aku melihat bagaimana caramu bicara pada Tetsu-kun, dan aku langsung tahu kalau kau sudah mencurahkan semua perhatianmu, semua kasih sayangmu pada adikmu."

Dengan mata menerawang, Momoi melanjutkan, "pikiranku terbukti setelah aku bertemu Ryou-chan. Waktu ia menceritakan masalah kalian padaku, aku jadi semakin berpikir tidak akan ada ruang untuk percintaan remeh dalam kehidupanmu. Maksudku, kau harus mengurus perusahaanmu, mengurus adikmu juga, dan lagi kau kapten sekaligus ketua OSIS di sekolah jadi kupikir otakmu sudah pusing dengan itu semua. Rasanya egois sekali kalau aku tetap memaksamu untuk menyadari perasaanku."

Seijuurou bertanya-tanya dalam benak, seberapa tak egoisnya Momoi ini?

"Setelah itu kupikir dari pada fokus membuatmu menyadari perasaanku, lebih baik aku fokus membantumu melalui masalahmu," kata Momoi. Wanita itu menutup penjelasannya dengan sebuah senyum manis.

"Tapi sepertinya aku tak sepintar itu dalam menutupi perasaan," tambah Momoi. "Buktinya aku tetap mengikutimu masuk SMA Rakuzan. Senior-senior juga tahu aku menyimpan rasa padamu."

Nah, sekarang Seijuurou terkejut. Jadi dalam kelompok kecil mereka, hanya Seijuurou yang tidak tahu?

"Sejak kapan mereka tahu? Bagaimana mereka tahu?" tanya Seijuurou.

Momoi mengangkat bahu. "Senior Mibuchi tahu saat kita kelas dua SMA. Setelah musim panas waktu kita makan malam di rumahmu sepulang training camp itu. Aku juga tidak tahu bagaimana ia bisa tahu. Untuk yang lainnya… entahlah, mungkin perasaanku benar-benar kelihatan…"

Seijuurou ingat waktu itu ia bercerita pada Mibuchi tentang apa yang ia lakukan sebelum Momoi menghindarinya seperti virus penyakit. Waktu mendengar kalau Momoi kabur dan mulai menghindarinya setelah Seijuurou berkata ia suka Momoi yang bekerja keras, Mibuchi tertawa dan bilang Seijuurou bodoh sekali.

Apa mungkin saat itu Mibuchi mengerti?

Seijuurou jadi merasa bodoh sendiri. Bagaimana bisa ia tidak menyadari perasaan Momoi ketika Hayama dan bahkan Nebuya menyadarinya?

Mereka terus berjalan hingga tak terasa mereka telah menghabiskan jarak dua kilometer antara stasiun Gotanda dan Osaki. Tepat di depan pintu masuk stasiun, mereka berdua berhenti. Seijuurou tidak tahu bagaimana dengan Momoi, tapi ia merasa sedikit kecewa karena jalan-jalan santainya telah selesai.

Sejujurnya, Seijuurou tidak ingat kapan terakhir kali ia merasa sesantai itu, kapan terakhir kali ia berjalan-jalan, melihat-lihat pemandangan tanpa benar-benar punya maksud dan tujuan. Hanya untuk bersantai.

"Baiklah, kau mau makan apa?" tanya Momoi. Ia melepaskan lilitan tangannya di lengan Seijuurou dan mulai melihat-lihat restoran yang berjejer di sekitar stasiun.

Seijuurou berpikir, selain untuk menjawab pertanyaan Momoi, ia juga berusaha menepis rasa kehilangan ketika Momoi melepaskan tangannya, "sebenarnya aku ingin makan sesuatu yang hangat. Sesuatu yang berkuah mungkin enak untuk hari yang dingin seperti ini."

Momoi menoleh, menatapnya dengan pandangan heran. "Berikan aku jawaban yang lebih spesifik, Akashi-kun."

Seijuurou balas menatapnya, lurus-lurus. "Tapi aku hanya ingin makan makanan berkuah sekarang, Momoi. Tidak masalah makanannya apa."

Untuk alasan yang tidak Seijuurou mengerti, Momoi menghela napas. Ia tiba-tiba terlihat lelah. Seijuurou jadi merasa bersalah. Apa ia mengatakan sesuatu yang salah?

"Baiklah, bagaimana kalau ramen? Ramen berkuah dan aku tahu restoran ramen yang enak di dekat sini."

Seijuurou mengangguk. "Boleh."


Di sisi lain kota Tokyo, Tetsuya duduk di sebuah restoran keluarga yang tak pernah ia kunjungi sebelumnya. Selama lima belas menit semenjak kedatangannya, Tetsuya berusaha untuk menenangkan hatinya yang gelisah.

Tetsuya melirik jam yang terpasang di salah satu sudut ruangan. Jam menunjukkan pukul tujuh. Waktu bertemu Tetsuya dan Sora.

Tepat ketika jarum detik berada di angka dua belas, pintu masuk restoran terbuka, membunyikan lonceng kecil di atasnya. Seperti yang Tetsuya lakukan selama lima belas menit terakhir, ia melirik pintu masuk. Matanya langsung disambut sosok wanita yang berparas persis sepertinya.

Sama seperti minggu lalu, ketika mereka bertemu di Maji Burger, wanita itu mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru restoran dan begitu matanya bertemu mata Tetsuya, wajahnya langsung berbinar cerah.

Tetsuya refleks meremas tangannya sendiri di bawah meja.

"Halo, Tetsuya. Menunggu lama?" tanya Sora basa-basi. Sama seperti di Maji Burger kemarin, ia menempati tempat duduk di seberang Tetsuya lantas melepas mantel.

Tetsuya menggeleng sekenanya.

"Sudah memesan?" Tetsuya menggeleng lagi. Sora lantas mengangkat tangan, meminta buku menu pada pelayan.

Buku menu datang dan Tetsuya terkejut melihat harga makanan yang tertera. Ia tidak mungkin bisa makan di sini tanpa Seijuurou, Shintarou atau Atsushi yang sudah bekerja. Makanan-makanan ini terlalu mahal untuk ukuran kantong anak SMA seperti Tetsuya.

"Pesanlah sepuasmu, aku yang akan bayar," kata Sora. Tetsuya menurunkan buku menu dari wajahnya dan mendapati wanita itu tengah menatapnya lembut.

"Tapi—"

"Pesanlah, biarkan aku yang bayar. Biarkan aku melakukan sesuatu untuk Tetsuya," bujuk Sora lagi dan melihat matanya yang memohon pada Tetsuya membuatnya tak sanggup menolak.

Tetsuya mengangguk. Pada akhirnya ia memesan makanan paling murah yang ada di sana.

Begitu pelayan meninggalkan meja mereka dengan pesanan sudah tercatat, Sora mulai bicara, berusaha untuk meleburkan kekakuan di antara mereka.

"Bagaimana Tetsuya ke sini?"

"Dengan kereta," jawab Tetsuya sekenanya.

"Aku juga. Stasiun ramai sekali malam ini, bukan? Mungkin karena ini malam minggu jadi banyak anak muda yang pergi keluar. Aku tertabrak terus di stasiun tadi," kata Sora. Jujur saja, Tetsuya sedikit terkejut melihat kalau wanita di hadapannya ternyata senang bicara. Dalam ingatannya, ibunya merupakan orang yang pendiam, yang akan mengeluarkan kata-kata kasar begitu mulutnya terbuka, "aku tidak benar-benar bisa menyalahkan orang juga karena pada dasarnya hawa keberadaanku tipis."

Tetsuya, yang tadinya menunduk, langsung mengangkat kepalanya. "Sora-san juga punya hawa keberadaan yang tipis?"

"Oh, jadi Tetsuya juga? Maaf, Tetsuya menuruninya dariku. Pasti sulit bagi Tetsuya," kata Sora, bersimpati.

Tetsuya mengangkat bahu acuh tak acuh. "Tidak juga, aku hanya agak tidak suka tiap kali orang berjengit tiap aku menyapa mereka."

Sora tersenyum lemah, "aku juga mengalami itu. Sering malah. Tapi aku belajar beradaptasi dan menggunakannya untuk keuntunganku. Saat aku kecil, aku sering menggunakaan hawa keberadaanku untuk mencuri buah tetangga atau mengagetkan orang. Tidak pernah ketahuan."

Sora terkekeh geli, mengingat kenakalannya semasa kecil. Mengetahui wanita di hadapannya, yang terlihat seperti wanita kaya yang anggun, ternyata pernah mencuri buah dari rumah tetangga mau tak mau membuat Tetsuya tersenyum juga.

"Bagaimana dengan Tetsuya? Apa Tetsuya sepertiku juga? Pernah menggunakannya untuk hal yang tidak seharusnya?"

Sora meletakkan lengannya di atas meja dan mencondongkan badan. Wanita itu terlihat begitu tak sabar untuk mendengar cerita Tetsuya.

"Kalau menggunakannya dalam pertandingan termasuk dalam hal yang tidak seharusnya, berarti ya, aku juga seperti Sora-san," jawab Tetsuya.

Pelayan datang mengantarkan pesanan mereka. Tetsuya mengambil gelas milkshake miliknya dan menyesap isinya perlahan. Matanya tak lepas dari sosok Sora yang terkekeh pelan di hadapannya.

"Oh, aku melihatnya! Aku menonton semua pertandingan Tetsuya. Tapi kadang aku tidak bisa datang karena harus pergi ke tempat lain hingga harus minta orang lain merekamkannya untukku. Tapi aku tidak pernah melewatkannya. Aku tidak mau melewatkan saat-saat penting Tetsuya."

Kata-kata Sora membuat Tetsuya terdiam. Bukankah ia terdengar persis seperti Seijuurou?

Seijuurou juga pernah berkata begitu ketika Tetsuya bertanya padanya satu kali mengenai alasannya suka merekam momen-momen penting seperti hari pertama masuk sekolah. Agar aku tidak melewatkan pertumbuhan kalian, katanya waktu itu.

Melihat wanita di hadapannya sekarang ini membuat Tetsuya berpikir tidak mungkin ia orang yang sama dengan yang telah meninggalkannya bertahun-tahun lalu.

Sora terlihat terlalu… terlalu keibuan.

Sora terlihat sangat, sangat menyayanginya sekarang hingga rasanya tak mungkin pikiran untuk meninggalkan Tetsuya sendirian pernah melintas dalam benak wanita itu.

Ia terdengar terlalu… terlalu mirip dengan Seijuurou…

Tetsuya berusaha menepis pikiran itu jauh-jauh.

Sora bisa jadi sudah berubah. Sora bisa jadi sangat menyayanginya sekarang dan bersedia melakukan apa pun untuknya guna membayar apa yang sudah ia lakukan bertahun-tahun lalu. Tapi bukan berarti dosa yang ia lakukan terhapus begitu saja.

Tetsuya tidak boleh lupa kalau wanita itu telah membuangnya dan ia hanya setuju untuk menemui Sora karena ia ingin tahu sosok ibunya lebih dalam. Hanya itu.

"Tetsuya tahu, aku kagum sekali ketika menonton pertandingan pertama Tetsuya di babak penyisihan Inter-High lima tahun lalu. Tetsuya berhasil membelokkan jalur bola tepat di wajah lawan! Hebat sekali!" puji Sora tanpa malu-malu. Dengan tangannya, ia memeragakan bagaimana Tetsuya membelokkan jalur bola waktu itu.

Tetsuya menggumamkan 'terima kasih' lalu kembali menyesap milkshake-nya. Ia mengambil piring steak-nya dan mulai makan, diam-diam berusaha untuk menundukkan kepalanya agar Sora tak melihat lengkungan yang mulai terbentuk di bibirnya atau semburat malu di pipinya.

Tetsuya tahu kalau ia tak semestinya jadi terlalu dekat dengan Sora. Tetsuya tahu ia harusnya membenci wanita itu dengan sepenuh hati. Meski begitu, ia tak bisa menepis jauh-jauh perasaan senang ketika melihat Sora bercerita dengan wajah yang begitu bangga. Bangga padanya.


Seijuurou menghentikan langkah. Momoi di sebelahnya, mengikuti. Mereka sudah sampai di depan pintu apartemen Momoi.

Kencan satu hari mereka sudah selesai.

Tapi tangan mereka masih bertaut.

"Terima kasih sudah mengantarku pulang. Sebenarnya tidak masalah kalau kita berpisah di depan stasiun tadi," kata Momoi, mengangkat bahu tak acuh. Senyum simpul menghiasi wajahnya. Dari sudut penglihatannya, Seijuurou bisa melihat tangan Momoi yang bebas memain-mainkan tali tasnya.

Seijuurou menggeleng. Ekspresinya memimik ekspresi Momoi. "Lelaki macam apa aku kalau tidak mengantarkan wanita pulang hingga ke rumah?"

Momoi tertawa. Ketika tawanya berhenti, wanita itu memandang Seijuurou lurus-lurus, "nah, setelah ini, kau tidak boleh lagi minta yang aneh-aneh seperti ini untukku, Akashi-kun. Aku sungguh tidak mengharapkan balasan."

Senyum Seijuurou memudar. Bagaimana bisa wanita ini berkata ia tidak mengharapkan balasan? Baiklah, mungkin ia memang tidak menginginkan balasan apa pun, tapi Seijuurou ingin sekali membalas kebaikannya.

Mengabulkan keinginannya adalah satu-satunya cara untuknya membalas jasa Momoi karena ia tak tahu cara apa lagi yang bisa ia gunakan. Momoi pasti akan marah jika ia membelikan wanita itu macam-macam dan Seijuurou juga tidak bisa membantu wanita itu karena tak pernah sekali pun ia meminta bantuan Seijuurou mau pun kelihatan butuh bantuan.

Jadi bagaimana lagi ia bisa membalas Momoi jika bukan dengan ini?

Begitu tenggelamnya Seijuurou dalam lamunan hingga ia tak sadar Momoi sudah berjinjit di sampingnya. Momen berikutnya, ia merasakan bibir Momoi yang dingin menyentuh pipinya sesaat sebelum menarik diri.

Begitu bibir Momoi meninggalkan pipinya, refleks, Seijuurou menoleh.

Jarak wajah mereka sekarang sangat dekat. Ujung hidung mereka bersentuhan. Pandangan Seijuurou beralih ke bibir Momoi yang masih sedikit membuka setelah mencium pipinya. Mereka sangat dekat, begitu dekat hingga Seijuurou bisa merasakan napas mereka bertaut.

Pada momen itu, Seijuurou merasa Momoi terlihat sangat cantik, dengan baju kasualnya, dengan rambutnya yang tergerai, dengan lampu kota bersinar di belakangnya, dengan bibirnya yang sedikit terbuka yang terkesan mengundang.

Seijuurou tidak mengerti, ia bahkan tidak sadar apa yang ia lakukan. Yang terlintas di pikirannya hanya kata jika.

Jika salah satu di antara mereka mengambil inisiatif dan maju sedikit saja…

Jika Seijuurou maju, mereka pasti—

"Aku tahu apa yang kau pikirkan," kata Momoi tiba-tiba. Wanita itu tersenyum.

Seijuurou menghentikan kepalanya yang bergerak maju. Baru saat itu Seijuurou sadar kalau tanpa ia sadari, ia telah menjulurkan kepalanya sepersekian mili. Seijuurou langsung mengalihkan pandangannya lagi ke mata wanita itu.

"Jangan lakukan itu, Akashi-kun."

Momoi mundur, memberikan cukup ruang pribadi untuk mereka berdua.

"Kenapa?" tanya Seijuurou hampir secara otomatis.

Seijuurou sungguh tidak mengerti wanita di hadapannya. Bukankah katanya ia menyukai Seijuurou? Bukankah kalau kau menyukai seseorang kau selalu ingin berada di dekatnya, ingin menyentuhnya? Seijuurou memberikan Momoi kesempatan itu seharian ini, tapi wanita itu hanya benar-benar menggunakannya satu kali, saat ia menyandarkan kepala ke bahu Seijuurou ketika mereka berjalan di sepanjang jalan antara stasiun Gotanda dan Osaki.

Hanya itu.

Sisanya adalah hasil inisiatif Seijuurou. Ia yang selalu berinisiatif menggenggam tangan Momoi, ia yang berinisiatif mengelus kepala Momoi, ia yang selalu berinisiatif untuk melakukan kontak fisik. Bahkan barusan pun, ia yang berinisiatif untuk memotong jarak di antara mereka berdua. Itu pun Momoi tolak.

Kenapa wanita ini sepertinya gigih sekali mengingatkan kalau hubungan mereka tidak seperti itu? Kenapa ia gigih memertahankan jarak di antara mereka? Kenapa wanita itu tidak bisa berpura-pura seperti Seijuurou? Hanya untuk hari ini saja?

"Karena kalau kau melakukannya, aku tidak akan bisa melupakannya," jawab Momoi sejujurnya dan sekenanya. Wanita itu terkekeh sesaat. "Aku akan berharap, Akashi-kun."

Seijuurou mengerutkan dahi tapi tidak berkomentar. Kalau Momoi bersikeras seperti itu, maka ia bisa apa?

Satu helaan napas keluar dari bibir Seijuurou. Sebelah tangannya yang tadinya ia masukkan dalam saku mantel ia keluarkan dan ia letakkan di puncak kepala Momoi, mengusapnya satu kali, "baiklah, kalau kau tidak mau begitu, begini saja."

Seijuurou mengecup puncak kepala Momoi.

"Kau merusak rambutku, Akashi-kun," kata Momoi lirih ketika bibir Seijuurou meninggalkan puncak kepalanya.

"Mungkin kau satu-satunya perempuan di dunia ini yang berkata begitu ketika dicium kepalanya, Momoi," balas Seijuurou, sama lirihnya. Pria itu mundur dan menatap Momoi, memasukkan penampilannya hari ini dalam memori. Untuk yang terakhir kali, pikirnya. Toh Momoi tak akan berdandan seperti ini lagi untuknya.

Momoi melepaskan tangan Seijuurou. Detik itu barulah Seijuurou sadar kalau kencan mereka benar-benar berakhir. Besok mereka sudah kembali seperti semula. Mereka akan kembali menjadi Akashi Seijuurou dan Momoi Satsuki, sang atasan dan bawahan, sepasang teman satu alumni.

Detik itu juga, Seijuurou sadar kalau ia tidak ingin semua ini berakhir. Ia menikmati tiap menit yang ia habiskan dengan Momoi. Ia menikmati pertandingan final turnamen basket jalanan yang mereka tonton siang ini, ia menikmati takoyaki yang mereka beli di pinggir jalan, ia menikmati refleksi lampu-lampu indah di sepanjang sungai yang mereka lewati, ia menikmati ramen yang ia makan bersama Momoi, ia menikmati sensasi geli menyenangkan di perutnya tiap mereka bersentuhan atau tiap Momoi melakukan sesuatu yang berbeda dari biasanya khusus untuknya, dan yang terpenting, ia menikmati setiap obrolan singkat nan remeh di antara mereka.

Singkat kata, ia menikmati jalan-jalan singkat mereka hari ini. Sangat malah.

Ini pertama kalinya ia merasa begitu nyaman pergi seharian berdua bersama seorang perempuan dan bukan untuk urusan bisnis.

Seijuurou menatap Momoi tepat di mata.

Apakah egois jika ia mengatakan kalau ia tak ingin ini berakhir? Apakah egois seandainya ia mengatakan kalau ia tidak ingin ini jadi kencan mereka yang terakhir? Egoiskah kalau ia bilang ia ingin menghabiskan waktu lebih banyak dengan Momoi?

Seijuurou membuka mulut, hendak mengatakan apa yang hatinya inginkan.

"Terima kasih untuk hari ini, Akashi-kun. Aku senang sekali bisa menjadi teman kencanmu untuk sehari," kata Momoi.

Kata-kata Momoi membuat Seijuurou menelan kembali apa yang ingin ia katakan. Sejak awal, Momoi sudah dengan jelas mengatakan kalau ia hanya bersedia melakukan ini dengan Seijuurou satu kali. Satu kali saja.

Sejak awal Momoi jelas mengatakan kalau ia tak ingin apa yang mereka lakukan hari ini diulangi lagi.

Maka dari itu, ketika Momoi berbalik dan memasuki apartemennya, Seijuurou hanya bisa mengucapkan selamat malam.


Hai, Dee di sini! Kembali setelah sebulan bermeditasi hehe. DAN MAKASIH BANYAK BANGET GAIS, GAK TERASA FAV-NYA UDAH NYENTUH 300, AKU TERHARU :')

Jadi, kalo kita kesampingin romance-nya, sebenernya yang mau kusampein di sini itu gimana Akashi gak bisa nyampein keinginannya sendiri selain dia gak punya banyak keinginan. Sebenernya, aku masukkin romance di sini juga supaya ngeluarin sisi Akashi yang ini, yang agak kesusahan ngutarain apa yang dia pengen. Apa udah keliatan? Atau masih terlalu tersirat?

Balesan review yang gak login

KurooTetsurouFans: wah aku seneng banget bisa bikin emosimu keaduk-aduk hehe. Ya ampun angin surga wkwkwkwk iya aku juga sebenernya ngarep lebih banyak yang nulis fic straight pair sih hehe. Wah kalo soal itu, kita liat aja nanti ya. Makasih dukungan dan reviewnya :)

Yuu Yukimura: Makasih banyak karena mau bertahan baca fic ini, aku terharu banget :') Wah, kalo soal itu kita liat aja gimana lanjutannya ya hehe. Makasih banyak buat review dan dukungannya ya :)

sinaoisora: Aku berusaha buat gak banyak romance-nya, tapi aku gak bisa janji hehe :') Makasih review dan dukungannya :)

Special thanks to: GreenPsycho, Faudiaaulia1234, Namira Digtha, arissasonoda, lixyana, kyokohikari, Jasmine DaisynoYuki, WhiteIceCream, Sayaka Minamoto, ainkyu, EmperorVer, 27aquarrow72, VolumeKubus13, Yose Hyuann, sinaoisora, Yuu Yukimura, KurooTetsurouFans, Ai and August 19, Erucchin, Dewi729, gajah cantik, UchiHarunoKid, Kavyana.

Sekali lagi, makasih ya gais. Please review?